Anda di halaman 1dari 12

BAB II

PEMBAHASAN

A. Lambung
Lambung adalah bagian saluran cerna yang paling lebar dan terletak diantara
ujung esophagus dan pangkal usus halus. Bentuk dan posisi lambung dipengaruhi oleh
perubahan didalam rongga abdomen dan oleh isi lambung, tetapi lambung berada
dibawah diafragma, agak ke kiri dari garis tengah. Usai dari kerongkongan makanan akan
didorong kedalam lambung akibat gerakan peristaltic. Lambung diibaratkan seperti
lumbung yang bersifat menyimpan makanan yang ditelan untuk sementara waktu.
Lambung seukuran kepalan tangan, dinding lambung bersifat lentur dapat mengembang
bila berisi makanan dan mengempis apabila kosong.

Gambar 2.1 Anatomi lambung

Dari esophagus, makanan masuk kedalam lambung (ventrikulus atau gaster). Secara
otomatis lambung terdiri atas 3 bagian yaitu bagian atas(kardik) yang berbatasan
langsung dengan esogagus, fundus atau bagian badan(korpus), dan bagian
bawah(pylorus) yang berbatasan dengan usus halus. Pada pylorus, terdapat katub pylorus
disebut juga sfinker pylorus.
Lambung merupkan bagian saluran cerna yang dapat mengembang paling banyak
terutama didaerah epigaster.bagian bagian lambung terdiri dari:
a. Fundus ventrikuli,bagian yang menonjol ke atas terletak disebelah kiri
osteumkardium dan biasanya penuh berisi gas.
b. Korpusventrikuli, setinggiosteumkardium, suatu lekukan pada bagian bawah
kurvatura minor.
c. Antrum pylorus, bagian lambung berbentuk tabung mempunyai otottebal membentuk
spinter pylorus.
d. Kurvatura minor, terdapat sebelah kanan lambung terbentang darosteumkardiak
sampai ke pylorus.
e. Kurvatura mayor, lebih panjang dari kurvatura minor terbentang dari sisi kiri
osteumkardiakum melalui fundus ventrikuli menuju ke kanan sampai ke pylorus
inferior. Ligamentum gastro linealis terbentang dari bagian atas kurvatura mayor.
f. Osteumkardiakum, merupakan tempat dimana esophagus bagian abdomen masuk ke
lambung sampai ke limpa. Pada bagian ini terdapat orifisiumpilorik.
g. Berbentuk seperti huruf J dan mempunyai dua kurvatura. Kurvatura minor
membentuk batas kanan (atau posterior) lambung. Kurvatura mayor diarahkan
terutama ke depan dan bentuk pertama arkus keatas dan ke kiri untuk membentuk
fundus lambung, kemudian berjalan kebawah dan akhirnya memutar kekanan,ketitik
dimana ia bergabung dengan duodenum. Kapasitas lambung orang dewasa kira0kira
1500ml. Lubang bagian atas esofagus disebut orifisium jantung dan serat otot sirkular
esofagus agak lebih tipis pada titik ini dan mengandung otot sfinger yang lemah.
h. Lubang bagian bawah ke dalam duodenum,disebut orifisium pilorus dan dilindungi
oleh sfingter pilorik kuat yang mencegah regurgitasi makanan dari duodenum ke
dalam lambung.
i. Dinding lambung terdiri dari empat lapisan yaitu:
Lapisan serosa luar lapisan viseral peritoneum
Lapisan otot lapisan ini terdiri dari 3 lapisan serat otot halus,bentuk bagian
luar ialah longitudinal,bentuk bagian tengah,sirkular,dan bagian dalam,oblik.
Lapisan sup mukosa terdiri dari jaringan areolar longgar.
Lapisan membran mukosa tampak seperti sarang lebah karena terdapat
kelenjar lambung dan lubang-lubangnya.menbran mukosa mempunyai banyak
lipatan,disebut rugae,yang berjalan secara longitudinal dan yang menjadi rata
ketika lambung penuh.mukus disekresikan oleh sel-sel goblet yang membantu
melumasi makanan.
j. Lambung memiliki fungsi sebagai berikut:

Menampung makanan, menghancurkan dan menghaluskan makanan oleh


peristaltik lambung dan getah lambung.
Memproduksi cairan dengan massa homogen setengah cair, berkadar asam
tinggi yang berasal dari bolus yang disebut kimus.
Digeti Protein, melalui sekresi tripsin dan asam klorida.
Produksi mucus, mucus yang dihasilkan dari kelenjar membentuk barier
setebal 1 mm untuk melndungi lambung terhadap aksi pencernaan dan
sekresinya sendiri.
Produksi faktor instrinsik, yaitu glikoprotein yang disekresi sel parietal dan
vitamin B12 yang diperoleh dari faktor intrinsik.
Absorbsi, terjadi absorsi terhadap beberapa obat yang larut dalam lemak
(aspirin) dan alkohol (Setiadi, 2007) .
k. Terdapat tiga sel dalam mukosa lambung. Sel mukosa menyekresi lendir yang
melindungi membran mukosa dari kerja asam lambung lain. Sel-sel utama
meneyekresi enzim yang dikenal sebagai pepsinogen dan pada anak-anak menyekresi
enzimyang disebut renin, dan sel-sel oxintik menyekresi asam hidrolorida. Sekresi
getah lambung ini terjadi secara refleks denagn cara yang sama seperti sekresi saliva,
yang menghasilkan banyak cairan sebelum dan selama membawa
makanan. Kelenjar-kelenjar lambungjuga dirangsang oleh sekresi internal atau
hormon yang dihasilkan oleh lambung, disebut gastrin, yang masuk ke dalam
sirkulasi dan ketika mencapai kelenjar lambung meningkatkan produksi getah
lambung.
l. Kandungan getah lambung adalah:
Pepsin, fungsinya memecah putih telur menjadi asam amino (albumin dan
pepton).
Asam garam (HCL), fungsinya mengasamkan makanan sebagai anti septik
dan desinfektan dan membuat suasana asam pada pepsinogen sehingga
menjadi pepsin.
Renin, fungsinya sebagai ragi yang membekukan susu dan membentuk kasein
dari kasinogen (kasinogen dan protein susu).
Lapisan lambung, jumlahnya sedikit yang memecah lemak menjadi asam
lemak yang merangsang getah lambung (Setiadi, 2007).

m. Getah ini membuat makan lebih cair dan asam. Untuk membuat makan menjadi
asam, diperlukan 15-30 menit di ujung kardida lambung, yang bertindak sebagai
reservoar. Amilase saliva melanjutkan kerja pada zat pati yang masak. Ketika
makanan asam, pepsin dan renin bekerja pada protein dan pada kaseinogen. Makanan
denagncepat diasamkan di ujung pilorik lambung, dimana kerja peristaltik sangat

nyata, sehingga ia bekerja seperti penggiling, menggiling makanan dan


mencampurnya denagn getah lambung. Makanan tetap di dalam lambung selama 30
menit sampai 3 jam atau lebih, sesuai dengan sifat makanan dan muskularis lambung
individu. Makanan yang kaya karbohidrat, tetapi mengandung sedikit protein,
seperti teh, roti panggang, dan kue akan tetap meninggalkan lambung dalam setengah
jam makanan yang tercempur baik, seperti makan malam biasa, akan tetap berada di
lambung selama dua atau tiga jam atau lebih, walaupun makann tersebut dapat
meninggalkan lambung lebih dini atau menetap lebih lama sesuai dengan tonus dan
aktifitas lapisan otot.
n. Manfaat getah lambung:

Memberi reaksi asam yang diperlukan oleh enzim lambung

Membunuh bakteri

Mmengontrol pilorus

Menghentikan kerja ptialin

Mengubah pepsinogen menjadi pepsin


o. Dalam kondisi normal, pilorus berkontraksi. Ketika ada makanan di dalam lambung,
getah lambung membuat kandungannya secara bertahap meningkat dan menjadi lebih
asam pada ujung pilorus. Ketika makanan mencapai derajat keasaman tertentu,
pilorus berelaksasi dan sejumlah kecil makanan masuk ke dalam
duodenum. Makanan asam di sini meyebabkan pilorus menutup dan tonus dinding
lambung mengendalikan makanan dari reservoar jantung bercampur dengan makanan
di dalam ujung pilorus, sehingga keasamannya berkurang. Secara bertahap makanan
dalam duodenum dibuat alkalin dan di ujung pilorus lambung menjadi lebih asam
lagi. Hal ini menyebabkan pilorus terbuka kembali.
p. Kerja penggilingan lambung berperan dalam mengemulsikan secara kasar setiap
lemak yang mungkin ada dan yang akan dihancurkan oleh panas tubuh. Kerja ini
mengubah makanan menjadi cairan putih-kehijauan yang disebut kimus.

B. Penggolongan dan mekanisme kerja


C. Gangguan lambung dan pengobatan
Perut kembung

Perut kembung akibat terlampaui banyak gas dalam lambung usus bergejala terus
menerus bertahak dan mengeluarkan angin (kentut flatus). Dalam kebanyakan hal
sebabnya terletak pada cara makan yang kurang tepat, yakni mkan terlalu cepat dengan

akibat banyak udara turut ditelan. Sebab lain adalah terlampau banyak mengunyah
permen karet(chiklet) atau minum-minuan yang berisi gas. Akhirnya dapat pula
disebabkan karena terlalu sering melakukan gerakan menelan secara tak sadar terutama
orang-orang yang sedang sangat tegang dan gugup (nervositas) dengan demikian ditelan
banyak udara, jumlah gas dalam lambungmeningkat dan juga tekanan sfingler
kerongkongan. Gas yang berlebihan itu berusaha keluar melalui jalan ke atas atau
kebawah dan terjadilah bertahak (dan kadang-kadang refluks) atau keluar angin. Sering
kali kentut dapat pula disebabkan oleh aktivitas-aktivitas dari bakteri tertent.
Swamedikasi dilakukan dengan suatu zat yang berkhasiat merendahkan tekanan
permukaan. Dengan demikian gelembung gelembung gas kecil yang berada dalam
jumlah besar dilambung- usus dapat mengalir bersama menjadi satu gelembung besar.
Hal ini berarti bahwa penderita tidak harus kentut lagi berkali kali(sangat menjengkelkan
dan tidak dapat diterima secara sosial), melainkan dengan sekaligus semua angin dapat
dikeluarkan . Yang khusus digunakan adalah dimetikon = dimetil polysiloksan ,
simetikon(airopax, disflatyl), sering terkombinasi dengan antasida (gelusil MPS, Mylanta
, neo gastrolet, dll). Alginet juga memiliki daya kerja yang sama tetapi lebi lemah
daripada metikon.

Gangguan pencernaan (indigesti)

Kadang kala proses pencernaan terganggu karena kurangnya empedu atau enzim
enzim tertentu untuk menguraikan makanan, khususnya pankreatin terutama dari
pankreas. Getah ini mengandung a.l lipase, protease, dan amylase yang berdaya
menguraikan masing masing lemak, protein dan amylum (pati). Kekurangan dapat
diakibatkan oleh berbagai sebab, a.l. radang pankreas atau tersumbatnya pipa
penyaluran getahnya.
Gejalanya dapat berupa perasaan penuh, perut kembung dan juga diare, sedangkan
dalam tinja tampak sisa sia makanan yang tak dicernakan. Sering kali nafsu makan
berkurang dan berat badan menyusut.

Swamedikasi dapat dicoba dengan bermacam-macam preparat untuk pencernaan


digestive, yang dapat dibeli bebas dan kebanyakan terdiri dati enzim-enzim
pankreas(pankreatin), a.l. combizym, cotazym forte, festal, dan pankreon comp.
untuk memperluas kerjanya kadang kala ditambahkan enzim-enzim lain,
seperti(hemi) selulase yang dapat mencernakan (hemi) selulosa dari serat-serat
gizi(combizym),festol dll atau bromelain dengan daya kerja terhadap zat putih telur,
a.l. nutrizym dan benozym.

Sakit ulu hati

Reflux (bah. Lat mengalir kembali) yang sering dinamakan sakit ulu hati
(heartburn) adalah suatu gangguan yang tidak begitu serius. Sebabnya ialah kelebihan
asam lambung yang mengalir ke atas ke kerongkongn(esofagus)n karena otot lingkar
(sfungier) antara kerongkongan dan lambung tidak bekerja dengan baik lagi. Hal ini
dapat diakibatkan oleh a.l.burut sekat ronnga badan (hiatushemia) dan tekanan tinggi
dalam perut. Misalnya karena kehamilan terlalu gemuk, lambung,terus menerus penuh
dengan makanan atau gas, batuk atau sembelit kronis(mengedan!) dan pakaian yang
terlalu ketat. Begitupun produksi asam lambung berlebihan karena banyak merokok atau
makan terlampau banyak.
Gejalanya berupa sepertiterbakar pada kerongkongan yang dirasakan dibelakang
tulang dada., terutama k.l satu jam setelah makan(terlalu banyak) dan bila membungkuk
atau berbaring. Kerapkali terasa nyeri yang menusuk-menusuk dibagian lambung,mual
dan muntah-muntah. Adakalanya keluhan-keluhan ini berkurang sesudah makan, tetati
kadang-kadang justru menghambat. Seringkali penderita terbangun dari tidur karena
perasaan pedih dan adanya sedikit asam dalam mulut. Lazimnya serangan berlangsung
0,5 jam sampai lebih dari 1 jam. Bila tidak diobati dengan tepat,akhirnya dinding
kerongkongan yang berlainan dengan dinding lambung, tidak tahan-tahan asam akan
dirusak mukosanya. Dengan demikian terjadilah dinding kerongkongan ( refluxesufogitis) yang lebih serius.
Swamedikasi. Penderita harus jangan makan terlampau banyak sekaligus dan sebagai
obat, minumlah suatu antacidum bila timbul bila timbul rasa nyeri. Lebih ampuh adalah
asam aiginat( komb.genlusil ll). Yang dibuat dari gangguan halus (algae). Zat ini bereaksi
degan karbonat dari air liur dan membentuk suatu lapisan busa agak kental diatas
buburmakanan. Dengan demikian terjadi rintangan mekanis terhadap refluks.
Suspensi Gelusil juga mengandung antasida untuk menetralisir asam berlebihan dan
harus diminum 3-4x sehari 1 sendok makan 1 jam setelah makan dan sebelum tidur.
Dalam hal-hal yang bandal, dokter masih dapat memberikan resep untuk obat yang
menghambat produksi asam(simetidan Tagamet, ranitidin, Zuntac) atau obat yang
mempercepat gerakan lambung (domperidon: Matilium, atau lebih ampuh lagi cisapride:
Prepulsid)

Radang selaput lendir

Peradangan mukosa lambung (gastritis) dapat disebabkan oelh terlampau banyak


minum alkohol atau obat-obat merangsang seperti asecetosal, obat-obat
antiradang/rema(indometasin,diklofenak,piroksikam,dll). Obat-obat batuk
( ammonium klorida/iodida) dan juga kortikoida (hidrokortison, prednison).
Adakalanya oleh infeksi dengan virus dan bakteri, khususnya Helicobacter Pylori.
Merokok, kopi dan bumbu-bumbu pedaas (cabai, merica) dapat mempercepat dan
memperhebat peradangan ini. Begitupula zat-zat dengan khasiat mengetsa(soda,
asam) yang tertelan secara tak sengaja dapat menimbulkan radang mukosa.

Gejala gejalanya kadangkal tidak ada atau berupa keluahan-keluhan tak nyata
dibagian atas perut dengan mual,muntah,rasa penuh dan nyeri bila ditekan, tidak
bernafsu makan, diare disertai keluhan-keluhan umum seperti demam, sakit kepala,
cepat lelah dan lesu, dsb.
Pengobatan. Dalam kebanyakin hal bila penyebabnya dihilangkan,rasa nyeri,dan
mual akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 1-7 hari. Selama waktu itu
sebaiknya hanya minum teh atau kaldu, sesudah gejala-gejalanya hilang baru makanmakanan lembut yang mudah dicernakan(bubur) tanpa lemak, yang lambat laun
ditingkatkan. Gastritis kronis diobati oleh dokter, yang mengarahkan pengobatannya
pada mematikan kuman H. pylori dengan memberikan obat khas.
Bismutsubsitrat(De-Nel). Lihat dibawah nr 7 untuk tindakan-tindakan umum.

Antasida
Antasida (senyawa magnesium, aluminium, dan bismut, hidrotalsit, kalsium karbonat, Nabikarbonat)
Antasida adalah obat yang menetralkan asam lambung sehingga efektifitasnya bergantung pada
kapasitas penetralan dari antasida tersebut. Kapasitas penetralan (dalam miliequivalen) adalah
mEq HCl yang dibutuhkan untuk memepertahankan suspensi antasida pada pH 3,5 selama 10
menit secara in vitro. Peningkatan pH cairan gastric dari 1,3 ke 2,3 terjadi penetralan sebesar
90% dan peningkatan ke pH 3,3 terjadi penetralan sebesar 99% asam lambung.
Antasida ideal adalah yang memiliki kapasitas penetralan yang besar, juga memiliki durasi kerja
yang panjang dan tidak menyebabkan efek lokal maupun sistemik yang merugikan.
Antasida dapat meningkatkan pH cairan lambung sampai pH 4, dan menghambat aktifitas
proteolitik dari pepsin. Antasida tidak melapisi dinding mukosa namun memiliki efek adstringen.
Secara kimia antasida merupakan basa lemah yang bereaksi dengan asam lambung membentuk
garam dan air. Antasida juga dapat menstimulasi sintesis prostaglandin. Secara umum antasida
dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu antasid sistemik dan non sistemik. Seluruh antasida
dapat digunakan untuk terapi tukak duodenum dan terbukti efektif untuk tukak lambung akut.
Antasida sistemik, diabsorpsi dalam usus halus sehingga dapat menyebabkan urin bersifat
alkali. Untuk keadaan pasien dengan gangguan ginjal, dapat terjadi alkalosis metabolik sehingga
saat ini penggunaannya sudah jarang. Contoh antasida sistemik adalah Natrium bikarbonat
(NaHCO3).
Antasida non sistemik, tidak diabsorpsi dalam usus sehingga tidak menimbulkan alkalosis
metabolik. Salah satunya adalah Magnesium [Mg(OH)2], Aluminium [(Al(OH)3], Kalsium
(CaCO3), Magnesium trisilikat (Mg2Si3O8nH2O), Magaldrat.
Mg(OH)2 memiliki efek netralisasi yang lebih lama dibandingkan NaHCO3 atau CaCO3,
sedangakan Magnesium trisilikat, Al(OH)3 dan Aluminium fosfat memiliki aktivitas antasid
yang lemah.
Penggunaannya bermacam-macam, selain pada tukak lambung-usus, juga pada indigesti pada
refluks oesophagitis ringan, dan pada gastritis. Obat ini dapat mengurangi rasa nyeri di lambung
dengan cepat (dalam beberapa menit). Efeknya bertahan 20-60 menit bila diminum pada perut
kosong dan sampai 3 jam bila diminum 1 jam sesudah makan. Makanan dengan daya mengikat
asam (susu) sama efektifnya terhadap nyeri.
Peninggian pH
Garam-garam magnesium dan Na-bikarbonat menaikkan pH isi lambung sampai 6-8, CaCO3
sampai pH 5-6 dan garam-garam aluminium hidroksida sampai maksimal pH 4-5.
Kehamilan dan Laktasi
Wanita hamil sering kali dihinggapi gangguan refluks dan rasa terbakar asam. Antasida dengan
aluminium hidroksida dan magnesiumhidroksida boleh diberikan selama kehamilan dan laktasi.

Senyawa magnesium dan aluminium


Keduanya dengan sifat netralisasi baik tanpa diserap usus merupakan pilihan pertama. Karena
garam magnesium bersifat mencahar, maka biasanya dikombinasi dengan senyawa aluminium
(atau kalsium karbonat) yang bersifat obstipasi (dalam perbandingan 1:5). Persenyawaan
molekuler dari Mg dan Al adalah hidrotalsit yang juga sangat efektif.
Natriumbikarbonat dan kalsiumkarbonat
Bekerja kuat dan pesat, tetapi dapat diserap usus dengan menimbulkan alkalosis. Adanya alkali
berlebihan di dalam darah dan jaringan menimbulkan gejala mual, muntah, anoreksia, nyeri
kepala, dan gangguan perilaku. Semula penggunaannya tidak dianjurkan karena terbentuknya
banyak CO2 pada reaksi dengan asam lambung, yang dikira justru mengakibatkan hipersekresi
asam lambung (rebound effect). Tetapi penelitian pada tahun 1996 tidak membenarkan perkiraan
tersebut.
Bismutsubsitrat
Dapat membentuk lapisan pelindung yang menutupi tukak, lagipula berkhasiat bakteriostatik
terhadap Helicobacter pylori. Kini banyak digunakan pada terapi eradikasi tukak, selalu bersama
dua atau tiga obat lain.
Waktu makan obat
Secara umum, keasamaan di lambung menurun segera setelah makan dan mulai naik lagi satu
jam kemudian hingga mencapai konsentrasi tinggi tiga jam sesudah makan. Oleh karena itu,
antasida harus digunakan lebih kurang satu jam sesudah makan dan sebaiknya dalam bentuk
suspensi. Telah dibuktikan bahwa tablet bekerja kurang efektif dan lebih lambat, mungkin karena
proses pengeringan selama pembuatan mengurangi daya netralisasinya.
Pada oesophagitis dan tukak lambung sebaiknya obat diminum 1 jam sesudah makan dan
sebelum tidur. Pada tukak usus 1 dan 3 jam sesudah makan dan sebelum tidur.
Penyebab kegagalan pengobatan dengan antasida dapat terjadi karena frekuensi pengobatan tidak
adekuat, dosis yang diberikan tidak cukup, pemilihan sediaan tidak tepat, dan sekresi asam
lambung sewaktu tidur tidak terkontrol.
Proton Pump Inhibitor (PPI)
Contoh : Omeprazol, lansoprazol, pantoprazol, rabeprazol dan esomeprazol.
Mekanisme kerja
Obat-obat golongan proton pump inhibitor mengurangi sekresi asam lambung dengan jalan
menghambat enzim H+, K+, ATPase (enzim ini dikenal sebagai pompa proton) secara selektif
dalam sel-sel parietal. Enzim pompa proton bekerja memecah KH ATP yang kemudian akan
menghasilkan energi yang digunakan untuk mengeluarkan asam dari kanalikuli sel parietal ke
dalam lumen lambung. Ikatan antara bentuk aktif obat dengan gugus sulfhidril dari enzim ini
yang menyebabkan terjadinya penghambatan terhadap kerja enzim. Kemudian dilanjutkan
dengan terhentinya produksi asam lambung.
Farmakologi
Dosis : 20 mg sehari, kecuali untuk pasien sindrom Zollinger-Ellison yang memerlukan 60-70
mg sehari.
Penghambatan terhadap enzim pompa proton maksimal bertahan selama 4 jam, tetapi produksi

asam lambat kembali ke jumlah normal (3-5 hari setelah pemakaian dosis tunggal). Kerjanya
panjang akibat akumulasi di sel-sel parietal. Kadar penghambatannya tergantung dosis dan pada
umumnya lebih kuat dari AH2.
Obat-obat golongan ini memiliki digunakan untuk mengobati tukak peptik dan sindrom
Zollinger-Ellison.
Farmakokinetik
Obat-obat golongan ini mempunyai masalah bioavailabilitas karena mengalami aktivitasi di
dalam lambung lalu terikat pada berbagai gugus sulfhidril mukus dan makanan. Oleh karena itu,
sebaiknya diberikan dalam bentuk tablet salut enterik.
Obat-obat golongan ini mengalami metabolisme lengkap. Tidak ditemukan dalam bentuk asal di
urin, 20% dari obat radioaktif yang ditelan ditemukan dalam tinja.
Efek Samping
Penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kenaikan gastrin darah dan dapat menimbulkan
tumor karsinoid pada tikus percobaan. Pada manusia belum dapat dibuktikan.
Interaksi Obat
1. Omeprazol dengan Diazepam terjadi peningkatan kadar Diazepam.
2. Omeprazol dengan Barbiturat memanjangkan waktu tidur yang merupakan efek dari
Barbiturat.
ANALOG PROSTAGLANDIN
Mekanisme kerja
Prostaglandin E2 dan I2 dihasilkan oleh mukosa lambung, menghambat seksresi HCl dan
merangsang seksresi mukus dan bikarbonat (efek sitoprotektif). Defisiensi prostaglandin diduga
terlibat dalam patogenesis ulkus peptikum.
Farmakologi dan farmakokinetik
Misoprostol yaitu analog prostaglandin E digunakan untuk mencegah ulkus lambung yang
disebabkan antiinflamasi non steroid (NSAIDs). Obat ini kurang efektif bila dibandingkan
antagonis H2 untuk pengobatan akut ulkus peptikum.
Efek samping yang sering timbul adalah diare dan mual. Selain itu, menyebabkan kontraksi
uterus dan menjadi kontraindikasi selama kehamilan.
Dosis 200 g 4x sehari atau 400 g 2x sehari
SUKRALFAT
Mekanisme kerja
Mekanisme Sukralfat atau aluminium sukrosa sulfat adalah disakarida sulfat yang digunakan
dalam penyakit ulkus peptik. Mekanisme kerjanya diperkirakan melibatkan ikatan selektif pada
jaringan ulkus yang nekrotik, dimana obat ini bekerja sebagai sawar terhadap asam, pepsin, dan
empedu. Obat ini mempunyai efek perlindungan terhadap mukosa termasuk stimulasi
prostaglandin mukosa. Selain itu, sukralfat dapat langsung mengabsorpsi garam-garam empedu,
aktivitas ini nampaknya terletak didalam seluruh kompleks molekul dan bukan hasil kerja ion
aluminium saja.
Farmakologi dan farmakokinetik
Sukralfat dapat digunakan untuk mengobati ulkus, tetapi lebih utama digunakan dalam

pencegahan stress ulserasi. Diindikasikan untuk penggunaan jangka pendek, dan lebih efektif
pada ulkus usus. Obat ini sukar diabsorpsi secara sistemik (meskipun telah didokumentasikan
adanya peningkatan kadar obat ini dalam darah pada penderita gagal ginjal). Berikatan dengan
protein bebas, dan konsentrasi sukralfat pada bagian ulkus lebih besar daripada pada jaringan
normal. Efek samping yang sering terjadi dari penggunaan obat ini yaitu konstipasi yang
disebabkan karena adanya aluminium. Sekitar 3-5% aluminium dari dosis diabsorpsi dapat
menyebabkan toksisitas aluminium pada penggunaan jangka panjang. Resiko ini meningkat pada
pasien dengan gangguan ginjal. Efek yang jarang terjadi termasuk diare, mual, kesulitan
mencerna, mulut kering, dan mengantuk.
Dosis
Dosis sukralfat adalah 2 g 2 kali sehari (pagi dan sebelum tidur malam) atau 1 g 4 kali sehari
pada waktu lambung kosong (paling kurang 1 jam sebelum makan dan sebelum tidur malam),
diberikan selama 4-6 minggu atau pada kasus yang resisten 12 minggu, maksimal 8 g sehari.
Anak-anak tidak dianjurkan mengkonsumsi obat ini. Profilaksis tukak stress (suspensi), 1 g 6
kali sehari (maksimal 8 g sehari). Saran untuk obat ini yaitu sediaan tablet dapat didispersikan
dalam 10-15 ml air. Obat ini juga diperlukan pH asam untuk diaktifkan dan sehingga tidak boleh
diberikan bersama antasid atau antagonis reseptor H2. Jika digunakan bersama antasida harus
diberikan 30 menit sebelum atau sesudah sukralfat.
Interaksi obat
Sukralfat dapat menurunkan absorpsi siprofloksasin, norfloksasin, ofloksasin, tetrasiklin,
warfarin, fenitoin, ketokonazol, glikosida jantung, dan tiroksin, simetidin, ranitidin dan teofilin.

SENYAWA BISMUT
Mekanisme kerja
Senyawa bismut juga bekerja secara selektif berikatan dengan ulkus, melapisi dan melindungi
ulkus dari asam dan pepsin. Postulat lain mengenai mekanisme kerjanya termasuk penghambatan
aktivitas pepsin, merangsang produksi mukosa, dan meningkatkan sintesis prostaglandin. Obat
ini mungkin juga mempunyai beberapa aktivitas antimikroba terhadap H pylori. Bila
dikombinasi dengan antibiotik seperti metronidazol dan tetrasiklin, kecepatan penyembuhan
ulkus mencapai 98%. Biaya dan potensi toksisitas dari regimen ini dapat membatasi
penggunanya pada ulkus yang serius atau pada penderita yang sering kambuh. Garam bismut
tidak menghambat ataupun menetralisasi asam.
Farmakologi dan farmakokinetik
Bismut subsalisilat (Pepto-Bismol) telah digunakan dalam uji di AS. Ketidaknormalan ginjal
dapat menurunkan eliminasi bismut, sehingga perlu perhatian penggunaannya pada pasien lanjut
usia dan gagal ginjal. Bismut subsalisilat dapat menyebabkan sensitif terhadap salisilat dan
perdarahan, dan perlu perhatian juga pada pasien yang menerima terapi dengan salisilat. Pasien
harus diberitahu bahwa garam bismut dapat menyebabkan warna hitam pada tinja dan lidah (jika
menggunakan sediaan cair). Trikalium disitratobismutat telah diuji secara luas di Eropa dan
memperlihatkan proses penyembuhan ulkus lambung dan ulkus duodenum lebih baik dari
plasebo. Trikalium disitratobismutat memilki masa tinggal lebih panjang jika dinbanding dengan
antagonis reseptor H2, tetapi masih terjadi kambuh dan sekarang telah dikembangkan aturan
pakai regimen yang melibatkan antibiotika. Meskipun kandungan bismutnya rendah, tetapi telah

dilaporkan terjadinya absorpsi. Efek sampingnya yaitu dapat membuat lidah berwarna gelap dan
wajah kehitaman, mual dan muntah, dan belum ada laporan tentang terjadinya ensefalopati pada
pemakaian jangka panjang senyawa bismut lain. Sediaan tablet sama efektifnya dengan sediaan
cair dan lebih enak.
Dosis
Regimen dosis bismut dengan kombinasi 3 obat lain digunakan dalam lini pertama pengobatan
ulkus karena H pylori. Regimen ini terdiri dari antagonis reseptor H2 (omeprazole 40 mg 2 kali
sehari), bismuth subsalisilat 525 mg 4 kali sehari, metronidazol 250-500 mg 4 kali sehari, dan
tetrasiklin 400 mg 4 kali sehari (atau amoksisilin 500 mg 4 kali sehari atau klaritromisin 250-500
mg 4 kali sehari). Jangka waktu pemakaian regimen dosis ini yaitu 14 hari.
Interaksi obat
Trikalium disitratobismutat dapat menurunkan absorpsi tetrasiklin.