Anda di halaman 1dari 13

1

RINGKASAN
Mengemis atau meminta-minta dalam bahasa Arab disebut dengan tasawwul . Di
dalam Al- Mujam Al-Wasith disebutkan: Tasawwala (bentuk fiil madhy dari tasawwul)
artinya

meminta-minta

atau

meminta pemberian. Di dalam islam memang tidak

diharamkan untuk menjadi pengemis, akan tetapi harus memenuhi tiga syarat unutk menjadi
pengemis yaitu orang fakir yang sangat sengsara (dzi faqr mudqi), orang yang terlilit
utang (dzi ghurm mufzhi), dan orang yang berkewajiban membayar diyat (dzi damm
muuji). (HR Abu Dawud no 1398; Tirmidzi no 590; Ibnu Majah no 2198). (Abdul Qadim
Zallum, Al-Amwal fi Daulah al-Khilafah, hal. 194). Dan orang yang keadaannya ada diluar
ketiga keadaan tersebut haram hukumnya jika mengemis.
Akan tetapi nampaknya hal ini sama sekali tidak dihiraukan oleh para pengemis
profesi. Mereka lebih memilih bermalas-malasan dengan mengadahkan tangan kepada setiap
orang yang merasa iba kepadannya. Memang serang muslim mempunyai kewajiban untuk
menolong sesama yang membutuhkan bantuan tapi bukan berarti setiap orang dapat
memanfaatkan kebaikan itu untuk kepentingan pribadi yang tidak semestinya.
Ketika seorang pengemis profesi beraksi ia tidak hanya sedang melakukan dosa
besar karena telah meminta yang bukan haknya tapi ia juga sedang melakukan dosa karena
terdapat unsur kebohongan di dalamnya, ia telah menipu melalui tingkah laku dan
penampilan hanya untuk sekedar kepentingan pribadinya. Padahal Allah sangat membenci
orangorang yang melakukan kebohongan seperti yang terdapat dalam surat Al-Jatsiyah ayat
7, yang mana artinya Celakalah bagi orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa.
Oleh karena itu, sebagai masyarakat yang cerdas sebaiknya harus mengetahui
indikator pembeda apa saja yang bisa membedakan yang mana pengemis profesi dan yang
mana pengemis yang benar-benar membutuhkan uluran tangan masyarakat dermawan sesuai
dengan gagasan penulis.
Banyak upaya yang telah di tempuh pemerintah untuk mengatasi permasalahan
kesejahteraan ini namun masih belum membuahkan hasil sesuai yang di harapkan karena
upaya apapun yang dilakukan tidak maksimal jika tanpa keterlibatan masyarakat di
dalamnya. Bahkan MUI juga pernah mengeluarkan fatwa haram untuk memberi efek jera
pada masyarakat agar pengemis di kalangan umum tidak menyebar luas. Tapi pada
kenyataannya, hal itu tersebut menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat
sehingga permasalahan kesejahteraan sosial belum mampu tertangani dengan baik. Oleh
karena itu, penulis berusaha menggagas rancangan indikator agar masyarakat dapat
mempraktekkan secara langsung dan dapat membuat perbandingan sendiri bukan berasal
dari anggapan orang sehingga tidak menimbulkan perbedaan pendapat antar sesama.

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Mengemis atau meminta-minta dalam bahasa Arab disebut dengan tasawwul . Di


dalam Al- Mujam Al-Wasith disebutkan: Tasawwala (bentuk fiil madhy dari tasawwul)
artinya meminta-minta atau meminta pemberian. Secara global, pengemis adalah orangorang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan
berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. (Anon., 1980).
Dalam Perpu no. 30 tahun 1980 pengemis diartikan sebagai orang-orang yang
mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan berbagai cara dan
alasan untuk mengharapkan belas kasihan orang lain.
Tidak dapat di pungkiri bahwa setiap fenomena yang terjadi di masa lalu akan
mempengaruhi pola pikir generasi berikutnya. Ketika seseorang yang sudah merasa nyaman
dengan suatu kondisi maka tidak menutup kemungkinan ia juga akan menularkannya pada
orang lain dan orang lain tersebut juga bisa saja menularkan pada temantemannya yang lain
seterusnya secara berkesinambungan sehingga fenomena tersebut dapat berpengaruh pada
mental generasi selanjutnya, salah satu fenomena yang banyak menarik perhatian di
kalangan masyarakat saat ini adalah mental untuk memintaminta atau biasa dikenal dengan
istilah pengemis profesi. Karena sudah terbiasa dan merasa ada kenyamanan dengan
kebiasaan memintaminta mereka merasa memiliki hak untuk meminta sebagian dari harta
orang lain meski hidup mereka sebenarnya sudah cukup layak. Mental pengemis yang
apabila diberi, akan semakin keasyikan mencari rejeki dengan jalan mengemis (Miftahul
Huda,2013).
Alkostar (1984) dalam penelitiannya tentang kehidupan gelandangan melihat bahwa
terjadinya gelandangan dan pengemis dapat dibedakan menjadi dua faktor penyebab, yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi sifat-sifat malas, tidak mau
bekerja, mental yang tidak kuat, adanya cacat fisik ataupun cacat psikis. Sedangkan faktor
eksternal meliputi faktor sosial, kultural, ekonomi, pendidikan, lingkungan, agama dan letak
geografis.
Di satu sisi banyak orang yang berkoarkoar untuk membagian sebagian hartanya
pada orang lain bahkan orang yang berilmu tinggi pun membenarkan hal tersebut. Namun di
sisi lain, banyak orang yang memanfaatkan hal itu hanya sebagai modus atas suatu bentuk
penyerahan hidupnya pada takdir. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang bahkan melibatkan
anakanak dan keturunannya untuk menekuni profesi tersebut dengan menyampingkan
pendidikan hanya karena faktor penghasilan yang cukup menjanjikan. Mereka tidak berfikir
jika hal itu terus dilakukan lantas apa yang terjadi pada Indonesia beberapa tahun ke depan
dengan generasi tanpa pendidikan dan mental peminta-minta.
Lantas bagaimana dengan orang kaya dan dermawan yang ingin berbagi pada
sesamanya yang benarbenar memerlukan uluran tangan. Bukankah jika seorang dermawan
tersebut salah langkah dengan memberikan pada orang yang hanya modus belaka justru

akan menimbulkan masalah baru pada mental orang yang di beri karena adanya efek
ketagihan.
Di era yang sekarang ini orang mulai sulit membedakan manakah orang yang benar
benar meminta untuk tetap hidup ataukah orang yang hidup untuk memintaminta. Cara
berpenampilan tidak lagi bisa di jadikan patokan bahwa ia adalah seseorang yang sedang
perlu untuk di kasihani karena bisa saja hal itu merupakan modus dengan beberapa alasan
tertentu. Oleh karena itu di perlukan adanya indikatorindikator yang nantinya dapat di
jadikan parameter sebagai bahan kajian agar orang yang dermawan dapat memberi pada
orang yang berhak serta menyelamatkan bumi ini dari permasalahan sosial seperti
berkembangnya mental pengemis, agar kelak mental untuk berusaha dan menjadi pekarja
keras tetap terjaga.
Oleh karena itu, dengan adanya karya tulis ilmiah ini penulis ingin memberikan
gambaran beberapa indikator yang dapat di jadikan bahan pertimbangan untuk ranah
masyarakat yang ingin bersedekah agar tetap mendapatkan keduanya yakni pahala dari Allah
tanpa harus merusak mental generasi selanjutnya.
Tujuan Penulisan
Tujuan yang hendak dicapai dari penulisan Karya Tulis Ilmiah Kandungan al-Quran
ini adalah sebagai berikut:
1

Mengetahui dampak negatif pada generasi mendatang jika mental pengemis terus di

biarkan menjamur.
Mengetahui bagaimana pandangan Islam tentang perilaku dermawan serta gambaran

orang yang perlu untuk di sedekahi ala Islam.


Merumuskan indikator pembeda terhadap pengemis yang menjamur di Indonesia.

Manfaat Penulisan
Manfaat yang ingin diperoleh dari penulisan Karya Tulis Ilmiah Kandungan al-Quran
ini adalah sebagai berikut:
1

Bagi Penulis
Memberikan kesempatan penulis untuk mengembangkan kemampuan menulis karya
tulis ilmiah dengan menjadikan Al Quran sebagai dasar penunjangnya.
Bagi peneliti lain
Sebagai titik awal untuk melakukan penelitian telaah lebih lanjut dan mendalam,
serta sebagi sarana untuk bertukar pikiran dalam pengembang generasi baru yang
peduli pada kehidupan sosial tanpa melupakan Al Quran sebagai kitab wajib bagi

setiap muslim.
Bagi masyarakat:
Sebagi landasan pengetahuan bagi pembaca agar tidak sembarangan memberikan
uluran tangan yang sebenarnya tujuannya baik tapi dampaknya hanya akn menjadi

generasi perusak kehidupan sosial yang hanya akan berujung pada kebaikan semu.
Bagi pemerintah

Karya tulis ini dapat membantu pemerintah menanggulangi masalah yang timbul
akibat semakin menjamurnya pengemis di kalanga masyarakat karena jika setiap
orang selektif sebelum memberikan santunan pada orang yang benar benar
membutuhkan maka sedikit banyak mental pengemis di Indonesia dapat
diminimalisir sehingga lama kelamaan gaya hidup yang menginginkan serba instan
itu sedikit demi sedikit diharapkan akan punah.

GAGASAN
Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan
Pandangan islam terhadap sikap memberi dan meminta - minta
Dalam konteks islam sangat dianjurkan untuk membantu sesama yang
membutuhkan dengan menafkahkan sebagian harta yang di milikinya untuk orang lain yang
lemah dalam perekonomiannya. Apabila suatu masyarakat-bebas tidak dapat membantu
banyak orang yang miskin, masyarakat tersebut akan gagal menyelamatkan sedikit orang
kaya (John F. Kennedy , 1961 ).
Terdapat dalil As-Sunnah sabda Nabi SAW, Barangsiapa memberi makan orang
lapar, Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan surga. Barangsiapa memberi
minuman kepada orang haus, Allah pada Hari Kiamat nanti akan memberinya minuman
surga yang amat lezat (ar-rahiq al-makhtum), dan barangsiapa memberi pakaian orang yang
telanjang, Allah akan memberinya pakaian surga yang berwarna hijau (khudhr al-jannah).
(HR Abu Dawud no 1432; Tirmidzi no 2373).
Dari pemaparan tersebut nampak jelas anjuran untuk menafkahkan serbagian harta
yang dimiliki untuk orang yang membutuhkan.

Namun disisi lain, memberi juga dapat menjadi hal yang batil ketika pengemis itu
tidak termasuk orang yang boleh mengemis (meminta-minta), misalnya bukan orang miskin.
Dalam masalah ini ada dalil khusus yang mengharamkan meminta-minta, kecuali untuk tiga
golongan tertentu. Sabda Nabi SAW,Meminta-minta tidaklah halal kecuali untuk tiga
golongan : orang fakir yang sangat sengsara (dzi faqr mudqi), orang yang terlilit utang (dzi
ghurm mufzhi), dan orang yang berkewajiban membayar diyat (dzi damm muuji). (HR
Abu Dawud no 1398; Tirmidzi no 590; Ibnu Majah no 2198). Dari dalil tersebut dapat
diketahui bahwa apabila seorang pengemis sebenarnya bukan orang miskin, maka haram
baginya meminta-meminta.
Meminta-minta didalam Islam sangatlah tidak dianjurkan. Ia hanya pilihan untuk
kondisi sangat genting. Karena banyaknya keburukan yang didapat dari meminta. Ketika
meminta-minta, orang akan otomatis kehilangan keberkahan harta. Dan sesuai konteks,
meminta itu untuk menyelamatkan diri dari kondisi kepepet, maka harus sedikit saja.
Secukupnya untuk menutupi kekurangan yang ada, tidak boleh untuk memperkaya diri,
karena sama dengan meminta bara api seperti yang diterangkan scara tegas dalam sebuah
hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallah anhu, ia berkata: Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa meminta-minta kepada manusia harta
mereka untuk memperbanyak hartanya, maka sesungguhnya dia hanyalah sedang meminta
bara api.
Ketika seorang pengemis profesi beraksi ia tidak hanya sedang melakukan dosa
besar karena telah meminta yang bukan haknya tapi ia juga sedang melakukan dosa besar
karena terdapat unsur kebohongan di dalamnya, ia telah menipu melalui tingkah laku dan
penampilah hanya untuk sekedar kepentingan pribadinya. Padahal Allah sangat membenci
orang orang yang melakukan kebohongan seperti yang terdapat dalam surat Al-Jatsiyah
ayat 7:


Yang mana artinya Celakalah bagi orang yang banyak berdusta lagi banyak
berdosa.
Imam Shadiq As bersabda untuk menolong pada anak-anak, para wanita, orangorang yang terlantar, orang-orang lemah, orang-orang tua dan melarang memberikan
bantuan kepada orang-orang gila. Dalam riwayat juga disebutkan untuk tidak membantu
orang-orang yang menentang kebenaran atau memenuhi ajakan untuk melakukan pekerjaan
salah dan batil. Dalam hal ini pengemis yang menjadikan memintaminta sebagai profesi
atau hanya sebagai modus belaka merupakan tindakan yang menentang kebenaran dan telah
melakukan pekerjaan yang salah dan batil karena memanfaatkan belas kasihan orang lain
padahal sebenarnya ia cukup mampu.
Demikian pula pemberi sedekah, haram memberikan sedekah kepadanya, jika dia
mengetahuinya. Dalam kondisi ini pemberi sedekah turut melakukan keharaman, karena

dianggap membantu pengemis tersebut berbuat haram. Kaidah fikih menyebutkan : Man
aana ala mashiyyatin fahuwa syariik fi al itsmi (Barangsiapa membantu suatu
kemaksiatan, maka dia telah bersekutu dalam dosa akibat kemaksiatan itu.). (Syarah Ibnu
Bathal, 17/207).
Oleh sebab itu Allah melarang untuk memintaminta karena terdapat keburukan
yang dalamnya sehingga menyebabkan semakin bertambahnya permasalahan sosial di
kalangan masyarakat sehingga sangat diperlukan kejelian masyarakat untuk menyikapi
permasalahan tersebut.
Solusi yang Pernah Ditawarkan Sebelumnya
Selama ini telah banyak usaha yang di lakukan pemerintah mulai dari cara yang
keras dengan di tangai oleh satpol PP hingga dipenjarakan selama satu hari tapi semua itu
bahkan tidak membuat mereka jerah sedikitpun. Menurut Menteri Sosial Salim Segaf AlJufrie pada tahun 2008 Badan Pusat Statistik (BPS) mendata ada kenaikan sebayak 20
persen untuk gepeng di Indonesia, dan jumlah itu bisa saja naik lagi tergantung dari keadaan
ekonomi. Jika musim PHK, bisa naik hingga 40 persen. Jika ekonomi stabil, tumbuh 20
persen per tahun. Istilah gepeng merupakan singkatan dari kata gelandangan dan
pengemis. Menurut Departemen Sosial R.I (1992).
Selain itu MUI juga telah meluncurkan fatwa haram tidak hanya bagi yang
meminta-minta di pinggir jalan tapi juga orang yang memberi (Samsul Maarif,2013). Hal itu
merupakan suatu bentuk kekecewaan terhadap kasus gepeng yang terus mewabah. Fatwa
MUI tersebut bahkan di sambut dengan baik oleh pemprof DKI Jakarta dengan
dimasukkannya dalam Perda Khusus DKI nomor 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum,
Bab VIII terkait Tertib Sosial, pasal 39-40, yang membahas larangan menjadi, menyuruh,
dan atau memberi pada Gepeng/PMKS.
Namun, MUI sendiri menilai bahwa selama ini pelaksanaan Perda tersebut tidak
maksimal, karena masih banyak pengemis bertebaran di perempatan jalan dan mengganggu
ketertiban umum. Selain itu, tidak sedikit pula orang yang kontra dengan fatwa yang telah di
luncurka MUI sehingga semua aturan yang tujuan mulanya adalah agar membuat pengemis
jerah tidak berlaku bagi orang yang kontra dengan fatwa MUI.
Untuk menghindari kesalahan sasaran sangat diperlukan kejelian masyarakat untuk
menyikapi permasalahan sosial. Meski telah banyak dibuat lembaga yang menangani
masalah kesejahteraan sosial tapi disisi lain setiap orang tidak tahu kapan ia akan terpuruk
hingga sampai kapan ia harus meminta pada orang lain. Selain itu juga keterbatasan lembaga
dan yayasan yang menangani permasalahan sosial orangorang fakir yang menyebabkan
tidak semua orang yang membutuhkan terjaring dan memperoleh penghidupan yang layak.
Selain itu tidak sedikit dari orang-orang penyandang kasus kesejahteraan sosial yang
kemudian di pulangkan karena keterbatasan lembaga yang menangani dibanding dengan
jumlah penyandang yang semakin bertambah dimana hal itu tidak menutup kemungkinan

bagi penyandang untuk kembali menjalankan kegiatan mengemis karena alasan yang
menguntungkan. Oleh sebab itu, diperlukan indikator yang membedakan sekaligus kejelian
masyarakat untuk membedakan manakah orang yang perlu di belas kasihani ataukah orang
yang hanya modus belaka.
Seberapa Jauh Kondisi Kekinian Gagasan dapat Diperbaiki Melalui Gagasan yang
Diajukan
Melalui rancangan indikator yang gagas penulis diharapkan masyarakat memiliki
gambaran untuk membedakan manakah orang yang perlu untuk di tolong dan orang yang
mengemis bukan atas dasar tidak mampu tapi lebih karena alasan tertentu yang tidak
berdasar. Ketika masyarakan sudah memiliki gambaran maka mereka akan lebih berhati-hati
untuk begitu saja memberikan uluran tangan pada pengemis karena takut apa yang mereka
berikan jatuh pada oknum oknum yang tidak bertanggung jawab. Ketika ruang oknumoknum tidak bertanggung jawab tersebut dipersempit maka mereka akan sedikit demi sedikit
mulai meninngalkan pekerjaan tersebut karen tidak lagi menguntungkan, sehingga masalah
kesejahteraan sosial sedikit demi sedikit dapat tertangani.
Pihak-pihak yang Dipertimbangkan dapat Membantu Mengimplementasikan Gagasan
dan Uraian Peran Masing-masing
Untuk mengimplementasikan rancangan indikator pembeda pada pengemis ini,
diperlukan pihak-pihak yang dapat membantu implementasi gagasan ini, berikut adalah
peran masing-masing elemen atau pihak-pihak yang terkait tersebut, yaitu:
1. Pemerintah
Peran pemerintah disini didasarkan pada UUD45 yang isinya menjelaskan jika
fakir miskin dan orang-orang terlantar dipelihara oleh Negara, jika masih ada
pengemis (yang tidak memepunyai jalan lain selain mengemis) hal itu menunjukkan
jika pemerintah belum melaksanakan kewajibannya dengan optimal. Hal yang bisa
dilakukan pemerintah adalah dengan menegakkan hukum dengan adil, membangun
kesadaran masyarakat agar tidak menyuburkan keberadaan pengemis-pengemis ini.
sehingga secara tidak langsung akan menurunkan jumlah pengemis profesi yang
ada.
2. Dinas Sosial
Dinas sosial disini berperan sebagai lembaga yang agar dapat memberikan
penyuluhan dan melaksanakan program-program pemerintah dalam menangani
masalah pengemis tersebut.
3. Dinas Pendidikan
Dinas pendidikan diharapkan memberikan kesempatan untuk kepada masyarakat
miskin dapat mengakses pendidikan agar dapat mendapatkan pendidikan yang layak

untuk meningkatkan kesejahteraannya, sehingga tidak perlu menjadi pengemis guna


memenuhi kebutuhan hidup.
4. LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat)
Organisasi LSM ini dapat membantu pemerintah untuk mengurangi masalah sosial
yang ada di Indonesia dengan visi dan misi LSM yang bertujuan untuk mendidik
manusia agar memiliki rasa tolong-menolong dan solidaritas antar sesama manusia.
Selain itu LSM juga bisa membuka jalan bagi para pengemis yang ingin
meninggalkan pekerjaan meminta-minta dengan memberikan keterampilan yang
telah disesuaikan dengan usia dan kemampuan yang dimiliki.
5. BPS (Badan Penanggulangan Sosial)
BPS sebagai pihak yang memberikan data yang actual tentang kemiskinan agar
dapat diprediksi potensi bertambahnya. Gelandangan dan Pengemis, juga agar
masyarakat miskin tersebut dapat menerima bantuan-bantuan dari pemerintah.
6. Masyarakat
Peran masyarkat disini sangat mendominasi, mengingat para pengemis ini
memperoleh pendapatan dari belas kasihan masyarakat, sehingga masyarakat harus
bersikap lebih selektif saat bersedekah, atau alangkah baiknya jika penyaluran dana
untuk sedekah melalui yayasan atau lembaga-lembaga yang mengurusi sedekah.
Juga dengan mengingatkan kepada orang-orang terdekatnya pentinganya rancangan
indikator yang penulis gagas.
Langkah Strategis agar Tujuan Tercapai Melalui Gagasan yang Diajukan
Implementasi rancangan indikator ini dilakukan sesuai dengan teknis berikut:
(1)Pemerintah dengan pemerintah adalah dengan menegakkan hukum dengan adil,
membangun kesadaran masyarakat agar tidak menyuburkan keberadaan pengemis-pengemis
ini. sehingga secara tidak langsung akan menurunkan jumlah pengemis profesi yang ada. (2)
Dinas Sosial sebagai lembaga yang agar dapat memberikan penyuluhan dan melaksanakan
program-program pemerintah dalam menangani masalah pengemis tersebut. (3) Dinas
Pendidikan sebagai pihak yang memberikan kesempatan kepada para pengemis untuk
mengakses pendidikan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya. (4) LSM sebagai
pembuka jalan bagi para pengemis yang ingin meninggalkan pekerjaan meminta-minta
dengan memberikan keterampilan yang telah disesuaikan dengan usia dan kemampuan yang
dimiliki.(5) BPS memberikan data yang actual tentang kemiskinan agar dapat diprediksi
potensi bertambahnya, sehingga bisa lebih cepat menerima bantuan dari pemerintah. (6)
Masyarakat sebagai pihak yang penyalur dan pembagi informasi tentang rancangan
indikator pembeda pada pengemis sehingga masyarakat bisa bersikap lebih selektif saat
bersedekah.

Untuk mensukseskan gagasan yang diajukan penulis perlu diadakannya sosialisasi


baik secara langsung maupun melalui jejaring sosial di ranah masyarakat luas agar mereka
tau dan faham tentang pentingnya membedakan orang yang benar-benar perlu di tolong
dengan orang malas yang hanya memanjakan kemalasannya dengan cara-cara yang instan.
Pada era sekarang ini, sebagian besar masyarakat Indonesi telah mengerti dan
faham bahkan tergabung dalam jejaring sosial. Oleh karea itu jejaring sosial dapat menjadi
salah satu target untuk menggugah kesadaran masyarakat Indonesia untuk tetap berbagi agar
tidak termasuk orang yang kikir tapi juga dengan pertimbangan yang tepat hingga mampu
memperkecil kesempatan bagi orang yang berniat buruk dengan menjadikan kebohongan
sebagai modus atas kemalasannya sehingga tidak menimbukan masalah kesejahteraan sosial
di kalangan masyarakat.

KESIMPULAN
Gagasan yang Diajukan
Adapun indikator yang dapat dirancang penulis adalah sebagai berikut:
N

Rancangan indikator

Rancangan indikator

Dasar acuan

10

o
1

orang yang perlu di tolong orang yang hanya modus


Berwajah melas dan lemah Memiliki tubuh yang sehat Dalam sebuah riwayat, Imam Shadiq As
sehingga hanya dengan

dan cukup kuat untuk

ditanya perihal seorang pengemis yang

melihatnya merasa iba

melakukan pekerjaan yang

datang dan meminta bantuan. Apabila

lain

tidak diketahui yang sebenarnya (apakah


ia benar-benar seorang pengemis atau
berlagak pengemis saja) apa yang harus
dilakukan? Imam Shadiq As menjawab,
Tolonglah orang yang ketika melihatnya

Berusaha sebisa mungkin

Dengan sengaja rela

ada rasa prihatin terhadapnya.


Defenisi Islam untuk orang yang miskin

menutupi kemiskinannya

merombak total

adalah orang yang tidak dapat

dan tidak secara terang-

penampilan agar terdapat

mencukupi kebutuhannya, dan tidak

terangan meminta dan

kesan yang sangat

pernah berfikir untuk diberi sedekah dan

memohon

menyedihkan dalam

tidak mau pergi untuk meminta-minta

dirinya meski pada

kepada orang lain. Dalam hadist buhari

dasarnya bukanlah kondisi

dan muslim dijelaskan :


Dari abu hurairah ra. ia berkata

yang sebenarnya

rasulullah saw bersabda; "bukan


dinamakan orang miskin, orang yang
meminta-minta kemudian ia tidak
memperoleh sesuap dan dua suap
makanan atau tidak memperoleh satu dan
dua buah butir kurma tapi yang
dinamakan orang miskin adalah orang
yang tidak dapat mencukupi
kebutuhannya dan tidak pernah berpikir
untuk diberi sedekah dan ia juga tidak
mau pergi untuk meminta-minta kepada
3

Lebih lapang dada

Terdapat unsur yang

orang lain (HR Bukhari dan Muslim)


Adanya ambisi yang kuat dengan

memberikan kesan

menggantungkan hidupnya dengan

memaksa

meminta secara instan sehingga ia


terdorong untuk mewajibkan orang yang
di temuinya agar memberikan santunan

Tidak pandai merangkai


kata-kata

Pandai bermain kata-kata

kepadanya
Pengemis yang sudah handal akan
melakukan apapun agar tujuannya dapat

11

Terdapat guratan

Justru terlihat damai dan

tercapai
Pada dasarnya ketenangan menunjukkan

ketakutan dan kehawatiran

tenang

adanya kenyamanan di posisi yang di

yang nampak di wajahnya


Tidak memiliki tempat

Selalu menetap pada

tempatinya
Kondisional yang terjadi di lapangan

khusus yang menjadi

tempat yang sama

incaran karena
sesungguhnya ia juga
tidak ingin
menggantungkan hidup
7

pada orang lain


Tidak memiliki jam jam

Ada waktu khusus

Pada dasarnya orang yang sudah terbiasa

tertentu tang di khususkan

(terjadwal)

dengan profesi tersebut telah memiliki


gambaran dan target tertentu yang di rasa
dapat menguntungkan. Misalnya pada
jam jam orang pulang bekerja dan
beraktivitas.

Disini lapang dada dan tampak tenang memiliki makna yang berbeda.
Masih terdapat beberapa indikator memerlukan dasar yang juga banyaknya
kesalahan yang terjadi karena keterbatasan penulis.

Teknik Implementasi yang Akan Dilakukan


Implementasi rancangan indikator ini dilakukan sesuai dengan teknis berikut:
(1)Pemerintah dengan pemerintah adalah dengan menegakkan hukum dengan adil,
membangun kesadaran masyarakat agar tidak menyuburkan keberadaan pengemis-pengemis
ini. sehingga secara tidak langsung akan menurunkan jumlah pengemis profesi yang ada. (2)
Dinas Sosial sebagai lembaga yang agar dapat memberikan penyuluhan dan melaksanakan
program-program pemerintah dalam menangani masalah pengemis tersebut. (3) Dinas
Pendidikan sebagai pihak yang memberikan kesempatan kepada para pengemis untuk
mengakses pendidikan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya. (4) LSM sebagai
pembuka jalan bagi para pengemis yang ingin meninggalkan pekerjaan meminta-minta
dengan memberikan keterampilan yang telah disesuaikan dengan usia dan kemampuan yang
dimiliki.(5) BPS memberikan data yang actual tentang kemiskinan agar dapat diprediksi
potensi bertambahnya, sehingga bisa lebih cepat menerima bantuan dari pemerintah. (6)
Masyarakat sebagai pihak yang penyalur dan pembagi informasi tentang rancangan

12

indikator pembeda pada pengemis sehingga masyarakat bisa bersikap lebih selektif saat
bersedekah.
Prediksi Hasil yang Akan Diperoleh
Rancangan indikator pembeda terhadap pengemis ini merupakan
salah satu cara yang dapat digunakan guna membedakan mana
pengemis profesi dan mana pengemis sungguhan. Saat sudah diketahui
jika A merupakan seorang pengemis profesi maka akan difikirkan dua kali
untuk memberi sedekah pada A. Ketika para pengemis profesi ini tidak
mendapatkan pemasukkan yang sesuai dengan yang diharapkan, maka
para pengemis tersebut akan mengerjakan pekerjaan awal mereka.
Sehingga jumlah pengemis profesi akan berkurang dengan sendirinya.

DAFTAR PUSTAKA
Alkotsar, Artidjo. 1984. Advokasi Anak Jalanan. Jakarta: Rajawali.
Abdul Qadim Zallum, Al-Amwal fi Daulah al-Khilafah, hal. 194.
Muhammad bin Hasan Hurr al-Amili, Wasil al-Syiah, jil. 9, hal. 415
dan 418, Muassasah Ali al-Bait, 1409 H
Langkarani, Fadhil, Jami al-Masail, jil. 2, hal. 374, Site Hadhrat
Ayatullah Fadhil Langkarani, www.lankarani.ir/fa
Huwaizi, A.A Abdu, 1415 H, Tafsir Nur al-Tsaqalain, jil. 5, hal. 597,
Cetakan Keempat, Intisyarat-e Ismailiyyan.

13

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1988. Kamus Besar


Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
http://jakarta.kompasiana.com/sosial-budaya/2013/10/04/dilemagepeng-dan-perda-dki-nomor-8-598426.html, diakses pada tanggal 19
Oktober 2014.
Surat Keputusan Walikota Yogyakarta No: 1040/KD/1993.
Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 8
Tahun 2007 Tentang Ketertiban Umum
Indonesia, Republik (1992). Peraturan Pemerintah No. 31 Tentang
Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis, dalam Himpunan Peraturan
Perundang-undangan Bidang Tugas Rehabilitasi Sosial. Jakarta.
Anonimus. 1980. Peraturan Pemerintah No. 31/1980 tentang
Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis. Jakarta.
Shohih. HR. Muslim II/720 no.1041, Ibnu Majah I/589 no. 1838, dan
Ahmad II/231 no.7163
Steven J. Stein dan Howard E. Book. Tanpa Tahun. The EQ Edge :
Emotional Intelligence and Your Success hlm : 154.