Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN

KASUS
FEBRUARI 2015
FISTEL PERIANAL

Disusun Oleh:
Ummu Asma binti Mohd Rosli
C 111 10 877
Pembimbing :
dr. Edwin Ardiansyah
Supervisor :
Dr.dr. Ronald E. Lusikooy, Sp.B-KBD

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
1

2015

LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis kelamin
Tanggal lahir /umur
Alamat
No. Rekam Medis
Masuk rumah sakit
DPJP

: Bakri
:Laki-laki
: 01-07-1968 (46 tahun)
: Lahimbua Konawe Utara
: 692433
: 19-12-2014
:Dr. dr. Ronald E Lusikooy, Sp.B-KBD
Gambar 1. Wajah pasien

ANAMNESIS
Keluhan utama : keluar cairan dari lubang sekitar anus
Anamnesis terpimpin : keluhan dialami sejak 6 tahun yang lalu. Awalnya, ada abses di samping
lubang anus,kemudian abses itu pecah dan mengeluarkan cairan dan nanah. Pasien merasakan
nyeri dan berobat ke puskesmas di kampungnya dan oleh pak mantri, dikasi obat anti nyeri.
Kemudian abses tersebut membaik dan menghilang. 1 tahun terakhir, timbul abses lagi di tempat
yang sama. Abses itu pecah lagi dan mengeluarkan cairan dan nanah, kadang-kadang berbau.
Cairan itu keluar sedikit-sedikit tetapi berterusan, kadang-kadang gatal, dan pasien merasakan
nyeri. Nyeri bertambah saat pasien duduk, tetapi pasien masih bisa beraktifitas seperti biasa.
Pasien berobat ke puskesmas Kendari pada bulan November 2014, dan dirujuk ke Rumah Sakit
Kendari untuk difoto. Pada akhir November 2014, pasien difotodan oleh ahli radiologi di RS
Kendari, pasien didiagnosis dengan fistel perianorektal dan dirujuk ke poliklinik bedah digestif
RS Wahidin Sudirohusodo. Kemudian pasien dirawat inap di Lontara 3 RS Wahidin
Sudirohusodo.
Riwayat demam disangkal, riwayat penyakit Diabetes Mellitus disangkal, riwayat
mengkonsumsi obat steroid disangkal. Riwayat berobat 6 bulan disangkal. Riwayat penyakit lain
disangkal. Riwayat berhubungan seksual melaluilubang dubur disangkal. Riwayat merokok 20
tahun.
Buang air besar dan buang air kecil lancar, tidak pernah keluar darah, lendir, konsistensi dan
frekuensi normal.

STATUS GENERALISATA
Keadaan umum : sakit sedang/ gizi baik/compos mentis

STATUS VITALIS

Tekanan darah : 120/80 mmHg


Nadi : 84 kali/menit
Pernapasan : 20 kali/ menit
Suhu : 37,0C

STATUS LOKALIS
o Regio perianal
Inspeksi : tampak fistel arah jam 1, sebanyak 2 buah,
1 buah ukuran 1 cmx 1 cm sudah mengkerut, 1 buah
ukuran 1,5 cmx 1,5cm mengeluarkan cairan. Kedua-dua
fistel berwarna lebih gelap dari sekitarnya, dengan tepi
menonjol.
Palpasi : nyeri tekan, teraba fistel konsistensi kenyal, rata,
tepi menonjol.
Rectal touchee : spinkter ani mencekik.
Mukosa licin, ampulla kosong, tidak teraba massa interna
Fistel.
Handscoen : feses ada, lendir tidak ada, darah tidak ada.
DIAGNOSIS SEMENTARA
fistula perianal

HASIL PENUNJANG
o Laboratorium (11-12-2014)
WBC : 6,10
PT : 10,4
RBC : 4,70
APTT : 31,3
HGB : 14,5
GDS : 94
HCT : 431
ureum : 23

Albumin : 4,1
asam urat : 9,3
Natrium : 145
kalium : 4,1
3

Gambar 2. Regio
perianal pasien.

PLT : 307
CT : 730
BT : 300

kreatinin : 1,10
SGOT : 22
SGPT : 42

klorida : 109
HbsAg : reactive
antiHCV : non reactive

o Foto fistulografi dengan kontras (29-11-2014)


Kontras dimasukkan melalui lubang fistel,
tampak ekstravasasi kontras ke jaringan sekitarnya
dan tampak fistulasi sampai rectum
Kesan : fistel perianorectal

o Foto Thorax PA (11-12-2014)


Cor membesar dengan cardiothoracic index 0.52 aorta normal.
Kesan : slight cardiomegaly

DIAGNOSIS KERJA
Fistel perianorectal
Hepatitis B

PENATALAKSANAAN

Fistuloektomi
Infus ringer laktat 20 tpm
Ceftriakson 1 gram/12 jam/intravena
Ranitidine 50 mg/8 jam/intravena
Ketorolac 30 mg/8 jam/intravena

RESUME MEDIS :

Dari anamnesis, pasien mengeluhkan keluar cairan dari lubang sekitar anus yang dialami
sejak 6 tahun yang lalu. Awalnya, ada abses di samping lubang anus,kemudian abses itu pecah
dan mengeluarkan cairan dan nanah. Pasien merasakan nyeri dan berobat ke puskesmas di
kampungnya dan oleh pak mantri, dikasi obat anti nyeri. Kemudian abses tersebut membaik dan
menghilang. 1 tahun terakhir, timbul abses lagi di tempat yang sama. Abses itu pecah lagi dan
mengeluarkan cairan dan nanah, kadang-kadang berbau. Cairan itu keluar sedikit-sedikit tetapi
berterusan, kadang-kadang gatal, dan pasien merasakan nyeri. Nyeri bertambah saat pasien
duduk, tetapi pasien masih bisa beraktifitas seperti biasa. Pasien berobat ke puskesmas pada
bulan November 2014, dan dirujuk ke Rumah Sakit Kendari untuk difoto. Pada akhir November
2014, pasien difotodan oleh ahli radiologi di RS Kendari, pasien didiagnosis dengan fistel
perianorektal dan dirujuk ke poliklinik bedah digestif RS Wahidin Sudirohusodo. Kemudian
pasien dirawat inap di Lontara 3 RS Wahidin Sudirohusodo. Riwayat merokok 20 tahun.
Pada pemeriksaan fisis, di regio perianal, tampak fistel arah jam 1, sebanyak 2 buah, 1
buah ukuran 1 cmx 1 cm sudah mengkerut, 1 buah ukuran 1,5 cmx 1,5cm mengeluarkan cairan.
Kedua-dua fistel berwarna lebih gelap dari sekitarnya, dengan tepi menonjol. Terdapat nyeri
tekan, teraba fistel konsistensi kenyal, rata, dengan tepi menonjol.

Gambar 3. Regio perianal pasien dengan 2 buah fistel

Dari pemeriksaan laboratorium, ditemukan pemeriksaan HbsAg reactive, pasien


didiagnosis dengan Hepatitis B positif.
Pada pemeriksaan fistulografi dengan kontras, tampak ekstravasasi kontras ke jaringan
sekitarnya dan tampak fistulasi sampai rectum dan didiagnosis dengan fistel perianorektal.

Gambar 4. Foto fistulografi dengan kontras. Tampak ekstravasasi kontras ke jaringan


sekitarnya dan tampak fistulasi sampai rectum.

TINJAUAN PUSTAKA
I.

PENDAHULUAN

Fistula perianal adalah saluran abnormal yang dibatasi oleh jaringan granulasi,
yang menghubungkan satu ruang (dari lapisan epitel anus atau rektum) ke ruang lain,
biasanya menuju ke epidermis kulit di dekat anus, tapi bisa juga ke organ lainnya
seperti kemaluan. Pada permukaan kulit bisa terlihat satu atau lebih lubang fistula,
dan dari lubang fistula tersebut dapat keluar nanah atau kotoran saat buang air besar.
Terdapat berbagai jenis fistula, mulai dari yang simple hingga fistula kompleks
yang bercabang-cabang dan melibatkan otot spinkter ani, yaitu otot yang mengatur
proses defekasi.1
Angka kejadian rata-rata per 100.000 populasi sekitar 8,6 kasus, perbandingan
rasio antara pria dan wanita adalah 1,8:1. Sedangkan umur rata-rata pasien berkisar
38,3 tahun.2
Sebagian besar fistula terbentuk dari sebuah abses, tetapi tidak semua abses
menjadi fistula. Fistula perianal juga dapat terjadi pada pasien dengan kondisi
inflamasi berkepanjangan pada usus, seperti Irritable Bowel Syndrome (IBS),
diverticulitis, colitis ulseratif, penyakit Crohn, kanker rectum, tuberculosis usus, HIVAIDS, dan infeksi lain pada daerah anorektal.1,3
Kurang lebih 80% fistula perianal diawali abses perianal.Sebagian besar fistula
memerlukan operasi karena fistula perianal jarang sembuh spontan. Resiko
kekambuhannya cukup tinggi, sekitar 21%.2

II.

III.

HISTOLOGI REGIO ANAL


Daerah batas rektum dan kanalis analis ditandai dengan perubahan jenis epitel.
Rektum dilapisi oleh mukosa glanduler usus sedangkan kanalis analis oleh anoderm yang
merupakan lanjutan epitel berlapis gepeng kulit luar. Kanalis analis dan kulit luar di
sekitarnya kaya akan persyarafan sensoris somatik dan peka terhadap rangsangan nyeri,
sedangkan mukosa rektum mempunyai persyarafan autonom dan tidak peka terhadap
nyeri. Darah vena di atas garis anorektum mengalir melalui sistem porta, sedangkan
yang berasal dari anus dialirkan ke sistem kava melalui V. Iliaka. Sistem limfe dari
rektum mengalirkan isinya melalui pembuluh limfe sepanjang pembuluh hemoroidalis
superior ke arah kelenjar limfe paraaorta melalui kelenjar limfe Iliaka Interna, sedangkan
limfe yang berasal dari kanalis analis mengalir ke arah kelenjar inguinal.4

ANATOMI REGIO ANAL

Kanalis analis berukuran panjang kurang lebih 3 sentimeter. Sumbunya mengarah


ke ventrokranial yaitu mengarah ke umbilikus dan membentuk sudut yang nyata ke dorsal
dengan rektum dalam keadaan istirahat. Pada saat defekasi, sudut ini menjadi lebih besar.
Batas atas kanalis anus disebut garis anorektum, garis mukokutan, linea pektinata atau
linea dentata. Pada daerah ini terdapat kripta anus dan muara kelenjar anus antara
kolumna rektum. Infeksi yang terjadi di sini dapat menimbulkan abses anorektum yang
dapat membentuk fistel. Lekukan antar-sfingter sirkuler dapat diraba di dalam kanalis
analis sewaktu melakukan colok dubur dan menunjukkan batas antara sfingter ekterna
dan sfingter interna (garis Hilton).5
Cincin sfingter anus melingkari kanalis analis dan terdiri dari sfingter interna dan
sfingter eksterna. Sisi posterior dan lateral cincin ini terbentuk dari fusi sfingter interna,
otot longitudinal, bagian tengah dari otot levator (puborektalis) dan komponen m.
sfingter eksternus. M. Sfingter internus terdiri dari serabut otot polos, sedangkan M.
Sfingter eksternus terdiri atas serabut olot lurik.5

Gambar 5. Anatomi rectum dan kanalis analis.5

IV.

FISIOLOGI REGIO ANAL


Normalnya, kelenjar rektum yang terdapat di kripta antar kolumna rektum
berfungsi sebagai barrier terhadap lewatnya mikroorganisme penyebab infeksi yang
berasal dari lumen usus ke daerah perirektal. Kelenjar ini mengeluarkan semacam
lendir, berguna sebagai pelicin/lubrikasi. Saluran ini memiliki klep satu arah agar
8

produksi bisa keluar tapi feses tidak bisa masuk. Terhalangnya jalan keluar produksi
dari kelenjar ini akibat stasis menyebabkan kuman dan cairan feses masuk ke dalam
kelenjar. Feses yang banyak kumannya berkembang biak ke dalam kelenjar,
membentuk keradangan yang jadi abses. Abses akan mencari jalan keluar dan
membentuk semacam pipa yang menembus kulit. Akibatnya, kulit jadi tampak
seperti bisul lalu pecah. Pecahan ini tidak bisa menutup karena nanah selalu keluar
dan tidak bisa kering karena berhubungan dengan feses. Kondisi ini bisa berlangsung
berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.6
V.

ETIOLOGI
Kebanyakan fistula berawal dari kelenjar dalam di dinding anus atau rektum.
Kadang-kadang fistula merupakan akibat dari pengeluaran nanah pada abses
anorektal. Terdapat sekitar 7-40% pada kasus abses anorektal berlanjut menjadi fistel
perianal. Namun lebih sering penyebabnya tidak dapat diketahui. Organisme yang
biasanya terlibat dalam pembentukan abses adalah Escherichia coli, Enterococcus sp
dan Bacteroides sp.1
Fistula juga sering ditemukan pada penderita dengan penyakit Crohn,
tuberkulosis, divertikulitis, kanker atau cedera anus maupun rektum, aktinomikosis
dan infeksi klamidia. Fistula pada anak-anak biasanya merupakan cacat bawaan.
Fistula yang menghubungkan rektum dan vagina bisa merupakan akibat dari terapi
sinar x, kanker, penyakit Crohn dan cedera pada ibu selama proses persalinan.1

VI.

PATOFISIOLOGI
Hipotesa kriptoglandular menyatakan bahwa infeksi yang pada awalnya
masuk melalui kelenjar anal akan menyebar ke dinding otot sphingter anal
menyebabkan abses anorektal. Abses yang pecah spontan, akhirnya meninggalkan
bekas berupa jaringan granulasi di sepanjang saluran, sehingga menyebabkan gejala
yang berulang.1

VII.

MANIFESTASI KLINIS DAN GEJALA


Manifestasi klinik tergantung pada kekhususan defek. Pus atau feces dapat
bocor secara konstan dari lubang kutaneus. Gejala ini mungkin pasase flatus atau
feces dari vagina atau kandung kemih, tergantung pada saluran fistula. Bisanya fistula
mengeluarkan nanah atau feces, berdarah, ekskoriasi, eritema pada kulit, indurasi,
fluktuasi dan terdapat eksternal opening. Gejala lain yang menyertai berupa diare,
nyeri perut, kehilangan berat badan dan perubahan kebiasaan defekasi. Fistula yang
tidak teratasi dapat menyebabkan infeksi sistemik disertai dengan gejala yang
berhubungan.1,3

VIII.

KLASIFIKASI
Berdasarkan lokasi internal opening, maka fistula dibagi dalam dua kelompok
yaitu fistula letak rendah dimana internal opening fistel ke anus terdapat di bawah
cincin anorektal dan kedua adalah fistula letak tinggi dimana internal opening fistel
ke anus terdapat di atas cincin anorektal. Pentingnya menentukan apakah suatu fistel
adalah letak rendah atau tinggi adalah bahwa fistula letak rendah dapat dibuka tanpa
takut adanya resiko inkontinensia permanen akibat kerusakan bundle anorektal.
Sedangkan pada fistula letak tinggi dilakukan koreksi bertahap dengan prosedur
operasi yang lebih sulit.1
Sistem klasifikasi Parks menjelaskan ada 4 tipe fistula perianal yang terjadi
akibat infeksi kriptoglandular, yaitu1:
1. Interspingterika
Merupakan bentuk fistula yang sering terjadi. Saluran fistel berada di daerah
intersphingterika.
2. Transphingterika
Biasanya disebabkan oleh abses isiorektal. Fistula menghubungkan
intersphingtrerika dengan fosa isiorektal oleh adanya perforasi di sphingter
eksternal dan kemudian ke kulit.
3. Suprapshingterika
Biasanya merupakan hasil dari abses supralevator. Seperti Transphingterika
tapi saluran berada di atas sphingter eksternal dan ada perforasi di muskulus
levator ani.
4. Ekstrasphingterika
Saluran melewati rektum ke lapisan kulit perineum, fossa isiorektal melalui m.
levator ani dan akhirnya ke dalam anus.

Gambar 6. Klasifikasi Parks


IX.

PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG


Pada pemeriksaan fisik di daerah anus (dengan pemeriksaan digital/rectal
toucher) ditemukan satu atau lebih eksternal opening fistula atau teraba adanya
10

fistula di bawah permukaan kulit. Eksternal opening fistula tampak sebagai bisul (bila
abses belum pecah) atau tampak sebagai saluran yang dikelilingi oleh jaringan
granulasi. Internal opening fistula dapat dirasakan sebagai daerah indurasi/ nodul di
dinding anus setinggi garis dentata. Terlepas dari jumlah eksternal opening, terdapat
hampir selalu hanya satu internal opening.3
Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk membantu mengidentifikasi jenis
dan anatomi/saluran fistel. Sebab hal ini saat penting bagi penderita, karena
menyangkut cacat fungsional yang mungkin terjadi oleh karena pemilihan prosedur
operasi. Pemeriksaan tersebut antara lain CT Scan, fistulografi, USG endoanal, MRI,
Rektosigmoidoskopi/Kolonoskopi dan Foto Rontgen Thorax.3
CT Scan berguna dalam mengidentifikasi abses anorektal yang dalam, tapi
jarang digunakan dalam evaluasi sebelum operasi fistula in ano. Gambaran CT Scan
yang relatif sedikit mencitrakan resolusi jaringan lunak, M. levator ani dan otot-otot
sfingter
tidak
bisa
mengidentifikasi
kelainan
pada
bagian
aksial.
Sama halnya dengan CT Scan, pada Fistulografi tidak membantu dalam
mendefinisikan hubungan antara saluran fistel ke struktur anatomi normal oleh karena
adanya jaringan granulasi dan materi fistel yang bernanah dapat menciptakan citra
yang palsu.3
USG endoanal memberikan gambaran yang sangat baik dari daerah anus dan
sangat akurat untuk mengidentifikasi cairan fistulous dan saluran. Namun, jarang bisa
mengidentifikasi bukaan internal.3
Magnetic Resonance Imaging (MRI) memiliki resolusi yang baik dalam
mengidentifikasi internal opening dan saluran fistel. Pemeriksaan MRI sangat
berguna dalam membantu mengevaluasi fistula yang kompleks dan berulang.
Walaupun tampak lebih unggul namun penggunaan USG endoanal lebih murah dan
dapat digunakan diruang operasi saat operasi.3
Sigmoidoskopi atau Kolonoskopi dilakukan pada evaluasi awal untuk
membantu menyingkirkan adanya penyakit yang terkait proses dalam rektum.
Foto Rontgen Thorax dilakukan untuk mengevaluasi adanya penyakit lain (TBC)
sebagai penyebab terjadinya fistula.3
Dalam kasus ini, pasien hanya dilakukan pemeriksaan fistulografi dengan
kontras dan foto thoraks. Hal ini mungkin karena alat diagnostik belum ada di daerah
pasien dan pemeriksaan seperti CT Scan dan MRI masih sangat mahal. 3
Dari pemeriksaan fistulografi engan kontras, didapatkan adanya ekstravasasi
kontras ke jaringan sekitarnya dan tampak fistulasi sampai rektum sehingga pasien
didiagnosis dengan fistel perianorektal. Pada pemeriksaan foto thoraks, hanya
didapatkan jantung pasien agak membesar, dan ini dapat menyingkirkan penyakit
tuberculosis sebagai etiologi kasus ini.3
X.

DIAGNOSIS

11

Diagnosa ditegakkan dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada


kasus-kasus yang sederhana, hukum Goodsall membantu mengantisipasi anatomi
fistula perianal. Hukum ini menyatakan bahwa fistula dengan eksternal opening ke
anterior biasanya memiliki saluran yang berbentuk lurus. Sedangkan fistula dengan
eksternal opening ke posterior atau dorsal biasanya selalu bengkok ke depan karena
radang dan pus terdorong ke anterior di sekitar muskulus puborektal dan dapat
membentuk 1 atau lebih lubang perforasi di sebelah anterior.3
Pada kasus ini, didapatkan fistula dengan eksternal opening ke anterior, dan
salurannya berbentuk lurus.
XI.

TERAPI
Pilihan pengobatan biasanya dengan tindakan operasi. Beberapa pilihan
pengobatan adalah1 :
1. Fistulotomi
pemotongan membuka saluran fistel
2. Fistulektomi
pemotongan menyeluruh dari saluran fistula dan penutupan luka
3. Seton longgar
Memasukkan tali atau karet gelang untuk mencegah infeksi ulang.
longgar berarti usaha drainase.
4. Seton ketat
Memasukkan tali yang memotong melalui otot-otot anus secara bertahap,
ketat berarti usaha pemotongan
5. Plug Penutup Fistula
Memasukkan saluran fistula dengan material komposit yang larut dalam
waktu
6. Pemajuan katup mukosa rectum
Menarik lapisan dalam dari atas untuk menutup pembukaan/lubang dalam
7. LIFT-Ligation of Interspincter Fistula Tract
Prosedur operasi untuk FIA kompleks
8. Pengobatan fistula anus dengan bantuan video (VAAFT-Video Assisted
Anal Fistula Treatment
Tehnik canggih untuk FIA kompleks
9. Kolostomi
Pengaluhan tinja untuk mencegah infeksi
Pembedahan selalu dianjurkan karena beberapa fistula sembuh secara spontan.
Fistulektomi adalah prosedur yang dianjurkan. Fistulektomi merupakan pemotongan
menyeluruh dari saluran fistula dan penutupan luka. Ada 3 bagian dari fistula yang
akan dieksisi.1
1. Bukaan eksterna
Biasanya di sekitar region perianal.
12

2. Traktus fistula
Saluran yang menghubungkan antara bukaan dalam dan luar fistula.
3. Bukaan interna.
Biasanya,methylene blue akan diinjeksi untuk mengindentifikasi bukaan
interna saat operasi
Pertama, pasien diposisikan dalam posisi litotomi. Kemudian,lapangan operasi
dideinfeksi dengan iodine povidone 10%. Setelah itu, lubang fistula dimasukkan
sonde untuk guiding melakukan irisan sesuai arah tract fistula. Untuk menentukan
fistula letak rendah atau letak tinggi, kasa steril dimasukkan dalam lubang anus.
Kemudian, methylene blue diinjeksi melalui fistula. Kemudian kain kasa ditarik dan
diliat sejauh mana methylene blue mewarnai kasa steril yang di dalam lubang anus.
Setelah itu, mukosa / epitel fistula dikerok, kontrol perdarahan dengan elektrokauter.
Setelah fistula dikeluarkan. Tampon kasa yang dibasahi bethadine atau zalf kemicetin
dipasang pada luka operasi yang dibiarkan terbuka.1
Untuk perawatan luka operasi post fistulektomi, luka operasi dibersihkan/
spooling betadin cair setiap hari dan setiap selesai buang air besar, ditampon lagi
sampai luka menutup secara sekunder. Biasanya, masa penyembuhan berkisar 4-6
minggu. Obat antinyeri dan antibiotik akan dibekalkan setelah pasien dipulangkan
untuk mencegah infeksi sekunder.1

Gambar- gambar di bawah adalah foto-foto yang diambil saat operasi


fistulektomi pada pasien dalam kasus ini.

13

Gambar 8. Pertama, pasien diposisikan dalam


posisi litotomi.

Gambar 9. Lubang fistula dimasukkan sonde


untuk guiding melakukan irisan sesuai arah tract
fistula

Gambar 10. Kasa steril dimasukkan dalam lubang


anus.

Gambar 11. Methylene blue diinjeksi melalui


fistula.

Gambar 12. Kasa ditarik dan diliat sejauh mana


methylene blue mewarnai kasa steril yang di dalam
lubang anus.

14

Gambar 13. Mukosa / epitel fistula dikerok,


kontrol perdarahan dengan elektrokauter.

Gambar 14. Fistula dikeluarkan.

Gambar 15. Fistula yang sudah dikeluarkan.

Gambar 16. Luka operasi yang dibiarkan


terbuka.Tampon kasa yang dibasahi bethadine atau
zalf kemicetin dipasang pada luka operasi yang
dibiarkan terbuka.

Untuk kasus ini, fistulektomi dipilih karena pada fistulektomi, cabang fistel dari luar dan
dalam dibuang. Menurut teori, fistula dapat kambuh bila lubang dalam tidak turut dibuka atau
dikeluarkan, cabang fistel tidak turut dibuka,atau kulit sudah menutup sebelum jaringan
granulasi menempel permukaan. Jadi, prognosis untuk fistel perianal tidak kambuh lagi dalam
kasus ini akan lebih baik.

15

XII.

KOMPLIKASI
Komplikasi yang bisa dialami adalah infeksi, gangguan fungsi reproduksi,
gangguan dalam berkemih, gangguan dalam defekasi dan ruptur/ perforasi organ yang
terkait.1,3
Komplikasi dapat terjadi langsung setelah operasi atau tertunda. Komplikasi yang
dapat langsung terjadi antara lain1,3 :
1. perdarahan
2. impaksi fecal
3. hemorrhoid

1.

2.

3.
4.

X.

Komplikasi yang tertunda antara lain adalah1,3 :


inkontinensia
Munculnya inkontinensia berkaitan dengan banyaknya otot sfingter yang
terpotong,khususnya pada pasien dengan fistula kompleks seperti letak tinggi dan
letak posterior. drainase dari pemanjangan secara tidak sengaja dapat merusak sarafsaraf kecil dan menimbulkan jaringan parut lebih banyak. Apabila pinggiran
fistulotomi tidak tepat, maka anus tidak dapa rapat menutup, yang mengakibatkan
bocornya gas dan feses. Resiko ini juga menigkat seiring menua da pada wanita.
Rekurens
Terjadi akibat kegagalan dalam mengidentifikasi bukaan primer dan
mengidentifikasi pemanjangan fistula ke atas dan ke samping. Epitelisasi dari bukaan
interna dan esterna lebih dipertimbangkan sebagai penyebab persistennya fistula.
Resiko ini juga meningkat seiring penuaan dan pada wanita.
stenosis analis
Proses penyembuhan menyebabkan fibrosis pada kanalis analis
penyebuhan luka yang lambat
Penyembuhan luka membutuhkan waktu kurang lebih 12 minggu. Kecuali ada
penyakit lain yang menyertai sperti penyakit Crohn.
PROGNOSIS
Fistula dapat kambuh bila lubang dalam tidak turut dibuka atau dikeluarkan,
cabang fistel tidak turut dibuka,atau kulit sudah menutup sebelum jaringan granulasi
menempel permukaan. Setelah operasi, resiko kekambuhan fistula termasuk cukup
tinggi yaitu sekitar 21%, satu dari lima pasien dengan fistula post operasi akan
mengalami kekambuhan.1,3

16

DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat R,de Jong Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC. 2004. Hal : 747-748
2. Juan L Paggio, Fistula-in-ano. 2013. Diakses pada 5 Januari 2015. Diunduh dari :
http://emedicine.medscape.com/article/190234-overview
3. MarkH. Beers et al. The Merck Manual. Edisi ke-18. Noida : Merck &Co., Inc. 2009. Hal
:160-165
17

4. Leslie P.Gartners, James L.Hiatt. Concise Histology. Edisi Pertama. Beijing : Elsevier
Inc. 2011. Hal :254-258
5. Richard L. Drake et al. Grays Anatomy for Students. Edisi ke-2. Canada : Elsevier.,Inc.
2010. Hal : 478-481.
6. John E. Hall, Arthur C. Guyton. Textbook of Medical Physiology.edisi ke-11. USA :
Elsevier.,Inc. 2009. Hal : 455-459

18