Anda di halaman 1dari 6

TUGAS MATA PELAJARAN

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


Nama

: VIANI ROCHMAH

KELAS

: X IPS 1

CONTOH IJTIHAD
Salah satu contoh ijtihad yang sering dilakukan untuk saat ini adalah tentang penentuan
I Syawal, disini para ulama berkumpul untuk berdiskusi mengeluarkan argumen masingmasing untuk menentukan 1 Syawal, juga penentuan awal Ramadhan. Masing-masing ulama
memiliki dasar hukum dan cara dalam penghitungannya, bila telah ketemu kesepakatan
ditentukanlah 1 Syawal itu.
Contoh lain adalah tentang bayi tabung, pada zamannya Rasulullah bayi tabung belum ada.
Akhir akhir ini bayi tabung dijadikan solusi oleh orang yang memiliki masalah dengan
kesuburan jadi dengan cara ini berharap dapat memenuhi pemecahan masalah agar dapat
memperoleh keturunan.
Para ulama telah merujuk kepada hadist-hadist agar dapat menemukan hukum yang telah
dihasilkan oleh teknologi ini dan menurut MUI menyatakan bahwa bayi tabung dengan
sperma dan ovum suami isteri yang sah hukumnya mubah (boleh) karena hal ini merupakan
Ikhtiar yang berdasarkan agama. Allah sendiri mengajarkan kepada manusia untuk selalu
berusaha dan berdoa.
Sedangkan para ulama melarang penggunaan teknologi bayi tabung dari suami isteri yang
menitipkan ke rahim perempuan lain, jika ada yang demikian maka hal ini memiliki hukum
haram. Alasannya karena akan menimbulkan masalah yang rumit dikemudian hari terutama
soal warisan.
Dalam Islam anak yang berhak mendapat warisan adalah anak kandung, jika demikian
bagaimana status hubungan anak dari hasil titipan tersebut? Dikandung tapi bukan milik
sendiri, jadi hanya sekedar pinjam tempatnya saja, tentu hal ini membuat rumit.

IJMA
A. Pengertian Ijma
Ditinjau dari segi bahas (etimologi), kata ijma merupakan masdar (kata
benda verbal) dari kata
menyepakati

sesuatu.

Ia

juga

yang artinya memutuskan dan


bisa

berarti

kesepakatan

bulat

(konsensus).
B. Syarat-Syarat Ijma
1.
2.
3.
4.
5.

Yang bersepakat adalah para mujtahid


Yang bersepakat adalah seluruh mujtahid
Para mujtahid harus umat Muhammad SAW
Dilakukan setelah wafatnya nabi
Kesepakatan mereka harus berhubungan dengan syariat.

C. Macam-Macam Ijma
1. Ijma Sharih
Dari segi bahasa, sharih berarti jelas. Ijma sharih yaitu ijma yang
memaparkan pendapat banyak ulama secara jelas dan terbuka,
baik dengan ucapan maupun perbuatan. Ijma sharih menempati
peringkat ijma tertinggi. Hukum yang ditetapkan ijma sharih
bersifat qathi atau pasti.
2. Ijma Sukuti
Dari segi bahasa, sukuti berarti diam. Ijma sukuti yaitu sebagian
mujtahid mengeluarkan pendapatnya dan sebagian yang lain diam,
sedang diamnya menunjukkan setuju, bukan karena takut atau
malu. Ijma sukuti bersifat dzan dan tidak mengikat.
D. Contoh-Contoh Ijma
Berikut merupakan beberapa contoh ijma.
1. Diadakannya adzan dua kali dan iqomah untuk sholat jumat, yang
diprakarsai

oleh

sahabat

Utsman

bin

Affan

r.a.

pada

masa

kekhalifahan beliau. Para sahabat lainnya tidak ada yang memprotes


atau menolak ijma Beliau tersebut dan diamnya para sahabat
lainnya adalah tanda menerimanya mereka atas prakarsa tersebut.
Contoh tersebut merupakan ijma sukuti.
2. Saudara-saudara seibu sebapak, baik laki-laki ataupun perempuan
(banu al-ayan wa al- alat) terhalang dari menerima warisan oleh
bapak. Hal ini ditetapkan dengan ijma.

3.

Upaya pembukuan Al-Quran yang dilakukan pada masa khalifah

4.

Abu Bakar as Shiddiq r.a.


Menjadikan as Sunah sebagai sumber hukum Islam yang kedua
setelah Al Quran. Para mujtahid bahkan seluruh umat Islam sepakat

5.

menetapkan as Sunah sebagai salah satu sumber hukum Islam.


Para mujtahid sepakat bahwa nikah adalah suatu ikatan yang
dianjurkan syariat.
Beliau bersabda : Nikahlah kalian dengan perempuan yang
memberikan banyak anak dan banyak kasih sayang. Karena aku
akan membanggakan banyaknya jumlah umatku kepada para nabi

lainnya di hari kiamat nanti. (H.R. Ahmad)


6. Contoh ijma yang dilakukan pada masa sahabat seperti ijma yang
dilandaskan
tentang

pada

Al-Quran

keharaman

adalah

menikahi

kesepakatan

nenek

dan

cucu

para

ulama

perempuan

berdasarkan QS. An-Nisa ayat 23.


Para ulama sepakat bahwa kata ummahat (para ibu) dalam ayat
tersebut mencakup ibu kandung dan nenek, sedangkan kata banat
(anak-anak wanita) dalam ayat tersebut mencakup anak perempuan
dan cucu perempuan.
7. Kesepakatan ulama atas keharaman minyak babi yang di-qiyaskan
atas keharaman dagingnya.
8. Shalat tarawih adalah shalat dilakukan sesudah sholat isya sampai
waktu fajar. Bilangan rakaatnya yang pernah dilakukan oleh
Rasulullah adalah 8 rakaat. Umar bin Khattab mengerjakannya
sampai 20 rakaat. Amalan Umar bi Khattab ini disepakati oleh ijma.
Ijma ini tergolong ijma fily dari Khulafa Rosyidin.
9. Para ulama Mujtahid sepakat bahwa jual beli dihalalkan, sedangkan
riba diharamkan.
10. Para imam madzhab sepakat atas keharaman Ghasab (merampas
hak orang lain).
11. Jual beli madhamin (jual beli hewan yang masih dalam perut)
menurut

jumhur

ulama

tidak

dibolehkan.

Alasannya

adalah

mengandung unsur gharar (yang belum jelas barangnya).


12. Para sahabat di zaman Umar bin Khattab bersepakat menjadikan
hukuman dera sebanyak 80 kali bagi orang yang meminumminuman keras. Ijma tersebut termasuk dzanni.
13. Ijma sahabat tentang pemerintahan. Wajib hukumnya mengangkat
seorang imam atau khalifah untuk menggantikan Rasulullah dalam
mengurusi urusan Daulah Islamiyah yang menyangkut urusan

agama dan dunia yang disepakati oleh para Sahabat di Saqifah Bani
Saidah.
14. Hak menerima waris atas kakek bersama-sama dengan anak,
apabila seseorang meninggal dunia dan meninggalkan ahli waris
(yakni ) anak dan kakek. Kakek ketika tidak ada bapak bisa
menggantikan posisinya dalam penerimaan warisan, sehingga bisa
menerima

warisan seperenam harta sebagaimana yang diperoleh

bapak, meski terdapat anak dari orang yang meninggal.


15. Para imam madzhab sepakat bahwa antara kerbau dan sapi adalah
sama dalam perhitungan zakatnya.
16. Ulama sepakat tentang dibolehkannya daging dhob karena sahabat
sepakat bahwa diamnya nabi adalah membolehkan.
17. Ijma tentang pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah karena
mengqiyaskan kepada penunjukan Abu Bakar oleh Nabi menjadi
imam shalat ketika Nabi sedang berhalangan.
18. Ulama sepakat tentang kewajiban shalat lima waktu sehari
semalam dan semua rukun Islam.
19. Para ulama sepakat bahwa zakat fitrah adalah wajib.
20. Jumhur ulama sepakat bahwa adil itu hanya dapat dinilai secara
lahiriah saja, tidak secara batiniah.

MASLAHAH MURSALAH

1. Pengertian Maslahah
Secara etimologi, Maslahah sama dengan manfaat, baik dari segi lafal maupun makna.
Maslahah juga berarti manfaat atau suatu pekerjaan yang mengandung manfaat.
Sedangkan secara terminologi, terdapat beberapa definisi Maslahah yang di kemukakan
oleh ulama ushul Fiqh, tetapi seluruh definisi tersebut mengandung esesnsi yang sama.
Imam Ghozali mengemukakan bahwa pada prinsipnya Maslahah adalah mengambil
manfaat dan menolak kemdharatan dalam rangka memelihara tujuan-tujuan syara.1[7]
Sama halnya dengan penjelasan dari refrensi buku lain bahwasannya Maslahah mursalah
adalah kebaikan (kemaslahatan yang tidak di singgung-singgung syara secara jelas untuk
mengerjakan atau meninggalkannya, sedangkan apabila dikerjakan akan membawa
manfaat atau menghindari kerusakan atau keburukan, seperti seseorang menghukum
sesuatu yang belum ada ketentuannya oleh agama.2[8] Apakah perbuatan itu haram atau
boleh,

maka

hendaknya

dipandang

kemudharatan

dan

kemanfaatannya.

Bila

kemudharatan lebih banyak dari kemanfaatannya berarti perbuatan itu terlarang, maka
sebaliknya bila kemanfaatanya lebih banyak dibanding dengan kemudharatannya berarti
perbuatan itu dibolehkan oleh agama, karena agama membawa kepada kebaikan. Dalam
praktiknya, mashlahah tidak banyak perbedaan nya dengan ihtihsan. Perbedaan dalam
ihtihsan adalah mengecualikan suatu hukum dari peraturan yang umum yang diterapkan
oleh qiyas, sedangkan maslahah mursalah tidak ada penyimpangan dari qiyas.
2. Dalam maslahah mursalah diharuskan syarat-syarat sebagai berikut:
a.

Hanya berlaku dalam bidang muamalah, karena persoalan ibadah tidak akan
berubah-ubah

b.

Tidak berlawanan dengan maksud syariat atau salah satu dalilnya yang sudah
terkenal (tidak bertentangan dengan nash)

c.

Maslahah ada karena kepentinagan yang nyata dan diperlukan oleh masyarakat
Imam malik adalah seorang faqih yang paling banyak menggunakan maslahah
mursalah ini. Ia beralasan bahwa Tuhan mengutus Rasul-Rasul-Nya untuk
mewujudkan kemaslahatan manusia. Jika ada kemaslahatan, kuatlah dugaan kita
bahwa kemaslahatan itu syara, karena hukum Allah diadalan salah satunya untuk
kepentingan manusia.3[9]

1
2
3

3. Contoh-contoh maslahah mursalah adalah:


a.

Dalam Al-quran dan Sunnah Rasul tidak ada nash yang melarang mengumpulkan
Al-Quran dari hafalan kedalam tulisan, meskipun demikian, para sahabat dizaman
Abu Bakarbersepakat untuk menulis dan mengumpulkannya, karena mengingat
kemaslahatan ummat, yang saat itu sahabat penghafal Al-quran banyak yang
meninggal dunia.

b.

Tatkala Islam masuk ke irak, tanah Irak masih dimiliki oleh para pemilik asalnya
dengan dikenaki pajak (kharaj), karena untuk menjaga kemaslahatan umat islam
umumnya. Seharusnya empat perlima tanah tersebut diberikan kepada orang yang
memerangi peperangan sebagai harta rampasan atau keuntungan perang.

c.

Pencatatan perkawinan dalam surat yang resmi menjadi maslahat untuk sahnya
gugatan dalam perkawinan, nafkah, pembagian harta bersama, waris dan lainnya.