Anda di halaman 1dari 88

KURIKULUM KTSP

KIMIA
TEKNOLOGI DAN INDUSTRI

SYAHRIAL, S.T
unt
uk
X

SM
K

KATA PENGANTAR
Syukur kehadirat Allah SWT atas segala kekuatan piker dan dzikir sehingga penyusun
dapat menyelesaikan buku Kimia SMK kelas X bidang keahlian Teknologi dan Industri
dengan segala kemudahan-Nya.
Buku Kimia SMK kelas X ini disusun berdasarkan kurikulum KTSP yang berfungsi
membentuk peserta didik supaya memiliki dasar pengetahuan kimia yang luas dan kuat
untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di lingkungan social dan
lingkungan kerja, serta mampu mengembangkan diri sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Buku Kimia SMK kelas X ini berisi materi-materi perubahan materi, lambang unsur, rumus
kimia, konsep mol, struktur atom, sistem periodik dan ikatan kimia.
Penyusunan Buku Kimia SMK kelas X ini didasarkan pada kenyataan bahwa masih
kurangnya sumber belajar pada mata pelajaran kimia bagi siswa kelas X SMK. Untuk itu
penyusun selaku tenaga pengajar di SMK merasa perlu untuk segera memenuhi kebutuhan
siswa tersebut demi kelancaran proses belajar mengajar di sekolah.
Pada kesempatan ini penyusun ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu penyusunan dan penerbitan buku ini. Secara khusus penyusun
ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Sandri Maulani, S.H (istri) atas segala
dukungannya dalam memotivasi penyusun sampai selesainya buku ini.
Akhirnya tegur sapa, kritik dan saran dari kalangan akademisi dan pemakai buku ini sangat
penyusun harapkan demi kemajuan bidang pendidikan.
Manggar, Pebruari 2010
Syahrial, S.T

DESKRIPSI PEMBELAJARAN
STANDAR
KOMPETENSI
1. Memahami
konsep materi
dan
perubahannya

2. Mengidentifikasi
struktur atom
dan sifat-sifat
periodik

KOMPETENSI DASAR

MATERI PEMBELAJARAN

1.1Mengelompokkan
sifat dan jenis
materi
1.2Mengelompokkan
perubahan materi

1.3 Mengklasifikasi
materi

2.1 Mendeskripsikan
perkembangan teori atom.
2.2 Menginterpretasikan data dalam tabel
sistem periodik
-

3. Memahami
terjadinya ikatan
kimia

3.1 Mendeskripsikan
terjadinya ikatan ion
3.2 Mendeskripsikan
terjadinya ikatan
kovalen
3.3 Menjelaskan ikatan logam
3.4 Menjelaskan ikatan van der Walls

Definisi dan deskripsi tentang


materi
Sifat dan jenis materi
Perubahan materi: perubahan
fisika dan perubahan kimia
Klasifikasi materi: tunggal,
campuran homogen dan
campuran heterogen
Unsur dan senyawa
Struktur atom:
Model atom Dalton, Thomson,
Rutherford dan teori atom
modern (kuantum)
Penyusunan dan pengisian
elektron (konfigurasi elektron)
Nomor atom, nomor massa,
simbol atom, isotop
Kesamaan sifat atom
Pengelompokan atom klasik
Sistem periodik:
Perkembangan sistem periodik
unsur kimia
Pemanfaatan tabel periodik
unsur kimia
Sifat logam dan non logam.
Periode dan golongan
Elektron valensi
Keelektronegatifan
Afinitas elektron
Potensial ionisasi
Pembentukan ion
Ikatan Ion
Ikatan kovalen dan kovalen
koordinasi
Ikatan logam
Ikatan van der Walls

STANDAR
KOMPETENSI
4. Memahami
konsep penulisan
lambang unsur,
senyawa dan
bentuk molekul,
persamaan
reaksi dan
hukum-hukum
dasar kimia

5. Memahami
konsep mol dan
stoikiometri

6. Memahami
perkembangan
konsep reaksi
kimia

KOMPETENSI DASAR

MATERI PEMBELAJARAN

4.1 Memahami
lambang unsur,
senyawa dan
bentuk molekul
4.2 Memahami rumus
kimia

Unsur dan senyawa


Bentuk molekul
Gaya antarmolekul

4.3 Menuliskan nama


senyawa kimia

Rumus kimia dan


penyetaraan reaksi kimia
sederhana
Tata nama senyawa
menurut Trivial dan IUPAC

4.4 Memahami hukumhukun dasar kimia

5.2 Memahami
stoikiometri
6.1. Mendeskripsikan
pengertian umum
reaksi kimia

Hukum dasar kimia


Hukum Lavoisier
Hukum Proust
Hukum Dalton
Hukum Gay Lussac
Hukum Avogadro
Konsep mol:
Deskripsi bilangan Avogadro
Mol unsur
Mol senyawa
Mol elektron
Penggunaan konsep mol
dalam penentuan rumus kimia
Stoikiometri dan perhitungan
kimia
Reaksi kimia:
Konsep dasar reaksi kimia
Reaksi asam-basa

6.2. Membedakan
konsep oksidasi,
reduksi dan reaksi
lainnya

Reaksi oksidasi-reduksi
Konsep bilangan oksidasi
Perubahan bilangan oksidasi
Reaksi redoks
Reaksi redoks di sekitar kita

5.1 Memahami konsep


mol sebagai dasar
perhitungan kimia

DAFTAR ISI
Kata Pengantar

.
Deskripsi Pembelajaran

.
Daftar Isi

..
Sifat dan jenis
materi
..
Perubahan materi
BAB I

.
Klasifikasi materi

Perkembangan teori
atom
..
BAB II
Interpretasikan data dalam tabel sistem periodik
.
Ikatan ion

Ikatan kovalen

.
BAB III
Ikatan logam

BAB IV

Ikatan van der Walls

Lambang unsur, senyawa dan bentuk molekul


..
Rumus
kimia ........................................................................................
.................
Nama senyawa kimia

.
Hukum-hukun dasar kimia
.

Konsep
mol ...........................................................................................
...............
Stoikiometri

..
Reaksi
kimia ........................................................................................
..................
BAB VI
Konsep oksidasireduksi ....................................................................................
.
Daftar Pustaka

..
BAB V

BAB I
SIFAT DAN JENIS MATERI
Materi adalah material fisik yang menyusun alam, yang bisa diartikan sebagai segala
sesuatu yang mempunyai massa dan menempati ruang. Materi dapat berbentuk gas, cair,
dan padat.
Contoh: udara, kapur, meja.
Kimia mempelajari komposisi, struktur dan sifat dari materi, serta perubahan kimia yang
terjadi dari materi satu ke yang lainnya. Contoh: kayu terbakar menjadi arang.
Gambar di bawah menunjukkan sebagian permukaan bumi. Unsur aluminium, besi,
oksigen, dan silikon merupakan 88% penyusun permukaan bumi dalam bentuk padatan.
Air pada permukaan bumi dan dalam bentuk gas tersusun dari hidrogen dan oksigen. 99%
udara tersusun dari nitrogen dan oksigen. Hidrogen, oksigen, dan karbon adalah 97%
penyusun tubuh manusia.

Sifat Fisika

Gambar Permukaan bumi dan udara

Sifat yang tidak mengubah sifat kimia suatu materi. Karakteristik fisika bau, kekerasan,
titik didih, wujud materi.
Sifat Kimia
Sifat yang mengubah sifat kimia suatu materi. Menerangkan bagaimana suatu materi
bereaksi dengan materi yang lain membentuk suatu materi baru.

Ciri-ciri yang mengindikasikan adanya perubahan kimia :


Perubahan warna
Perubahan bau
Pembentukan gas
Timbulnya cahaya
Pembentukan endapan baru
Perubahan pH.
Contoh :
Gula adalah senyawa yang mudah terurai (dekomposisi) dengan pemanasan menjadi
senyawa yang lebih sederhana, misalnya karbon hitam (arang), yang tidak dapat terurai
lagi baik secara fisika maupun kimia, tetapi dapat berubah struktur dan sifatnya menjadi
grafit dan intan.

Dekomposisi gula oleh panas

PERUBAHAN MATERI
Perubahan materi adalah perubahan sifat suatu zat atau materi menjadi zat yang lain baik
yang menjadi zat baru maupun tidak. Perubahan materi terbagi menjadi dua macam, yaitu
:
1. Perubahan Materi Secara Fisika atau Fisis
Perubahan fisika adalah perubahan yang merubah suatu zat dalam hal bentuk, wujud atau
ukuran, tetapi tidak merubah zat tersebut menjadi zat baru.
Contoh perubahan fisis :
a. perubahan wujud
- es balok yang mencair menjadi air
- air menguap menjadi uap
- kapur barus menyublim menjadi gas, dsb
b. perubahan bentuk
- gandum yang digiling menjadi tepung terigu
- benang diubah menjadi kain
- batang pohon dipotong-potong jadi kayu balok dan triplek, dll
c. perubahan rasa berdasarkan alat indera
- perubahan suhu
- perubahan rasa, dan lain sebagainya
2. Perubahan Materi Secara Kimia
Adalah perubahan dari suatu zat atau materi yang menyebabkan terbantuknya zat baru.
Perubahan
Contoh perubahan kimia :
a. bensin biodiesel sebagai bahan bakar berubah dari cair menjadi asap knalpot.
b. proses fotosintesis pada tumbuh-tumbuhan yang merubah air, sinar matahari, dan
sebagainya menjadi makanan
c. membuat masakan yang mencampurkan bahan-bahan masakan sesuai resep menjadi
masakan yang dapat dimakan.
d. bom meledak yang merubah benda padat menjadi pecahan dan ledakan

KLASIFIKASI MATERI
Penyusun materi
Materi dapat tersusun dari substansi murni atau tunggal yang terdiri dari satu unsur
atau beberapa unsur yang membentuk suatu senyawa. Materi juga dapat tersusun dari
senyawa campuran, yang tercampur secara homogen atau heterogen.

Skema klasifikasi materi


Substansi murni :
Materi yang mempunyai sifat dan komposisi tertentu.

Unsur :
Substansi murni yang tidak dapat dipisahkan menjadi sesuatu yang lebih sederhana,
baik secara fisika maupun kimia, mengandung satu jenis atom. Contoh: hidrogen, oksigen.
Senyawa :

Terbentuk dari ikatan antara atom penyusunnya, dan dapat dipisahkan secara kimia
menjadi unsur penyusunnya.
Contoh: air (H2O), gula, CaCO3.
Campuran :
Materi yang tersusun dari beberapa substansi murni, sehingga mempunyai sifat dan
komposisi yang bervariasi. Contoh: gula + air menghasilkan larutan gula, mempunyai sifat
manis yang tergantung pada komposisinya.

Campuran homogen :
Mempunyai sifat dan komposisi yang seragam pada setiap bagian campuran, tidak
dapat dibedakan dengan melihat langsung.
Contoh: garam dapur dan air.

Campuran heterogen :
Mempunyai sifat dan komposisi yang bervariasi pada setiap bagian campuran, dapat
dibedakan dengan melihat langsung (secara fisik terpisah).
Contoh: gula dan pasir.

BAB II
PERKEMBANGAN TEORI
ATOM
Pengenalan Dasar Struktur Atom
Proton, neutron dan elektron

massa relatif

proton

muatan relatif

+1

neutron

elektron

1/1836

-1

Nukleus
Nukleus berada di tengah atom; ia mengandung proton dan neutron. Kumpulan proton dan
neutron disebut juga nukleon.
Pada hakekatnya, seluruh massa atom berpusat di nukleus, karena massa elektron sangat
kecil.
Memahami jumlah proton dan neutron
Jumlah proton = NOMOR ATOM dari atom
Nomor atom sering disebut juga nomor proton.
Jumlah proton + Jumlah neutron = NOMOR MASSA dari atom
Nomor massa disebut juga nomor nukleon.
Informasi nomor atom dan nomor massa biasanya disingkat dalam bentuk :

Berapa banyaknya proton dan neutron yang dimiliki oleh atom tersebut di atas?
Nomor atom merupakan jumlah proton (9) dan nomor massa merupakan jumlah proton +
neutron (19). Jika atom terdiri dari 9 proton, maka akan ada 10 neutron sehingga total
keseluruhannya 19.
Nomor atom menandakan posisi dari suatu elemen pada tabel periodik dan karenanya
jumlah proton memberitahukan elemen apa yang kita maksudkan. Jadi, jika atom memiliki
8 proton (nomor atom = 8), ini pasti oksigen. Jika atom memiliki 12 proton (nomor atom=
12), ini pasti magnesium.
Begitu juga, setiap atom klor (nomor atom = 17) memiiki 17 proton, dan setiap atom
uranium (nomor atom = 92) memiliki 92 proton.
Isotop

Banyaknya neutron di dalam sebuah atom bisa bervariasi dalam skala kecil. Sebagai
contoh, ada tiga variasi atom 12C, 13C, 14C. Mereka seluruhnya memiliki jumlah proton yang
sama, tetapi jumlah neutronnya berbeda.

proton

neutron

nomor massa

Karbon-12

12

Karbon-13

13

Karbon-14

14

Atom-atom ini disebut isotop, yaitu atom-atom yang memiliki nomor atom yang sama
tetapi nomor massa yang berbeda. Mereka memiliki jumlah proton yang sama tetapi
jumlah neutron yang berbeda.
Variasi jumlah neutron tidak mengubah reaksi kimia dari karbon.
Elektron
Memahami jumlah elektron
Atom bermuatan netral. Ke-positif-an proton diseimbangkan dengan ke-negatif-an elektron.
Hal ini menunjukkan bahwa di dalam atom netral :
banyaknya elektron = banyaknya proton
Jadi, jika sebuah atom oksigen (nomor atom = memiliki 8 proton, ia pasti memiliki 8
elektron; jika atom klor (nomor atom=17) memiliki 17 proton, ia pasti memiliki 17 elektron.
Susunan dari elektron-elektron
Elektron-elektron berada pada jarak tertentu dari nukleus di dalam suatu rangkaian level
yang disebut dengan level energi. Tiap level energi hanya dapat diisi elektron dalam
jumlah tertentu. Level energi pertama (terdekat dengan nukleus) terdiri dari 2 elekton,
level kedua 8, dan level ketiga juga akan penuh ketika terisi 8 elektron.
Level-level ini berada dalam jarak yang cukup jauh dari nukleus. Elektron-elektron akan
selalu berada pada level energi serendah mungkin selama level tersebut belum terisi
penuh.
Memahami susunan dari sebuah atom
* Lihatlah nomor atom dari tabel periodik. Yakinkan Anda memilih nomor yang benar di
antara dua nomor yang diterakan. Nomor atom selalu lebih kecil dari nomor massa.
* Nomor atom merupakan jumlah proton, dan karenanya nomor atom memberitahukan
kita juga jumlah elektron.

* Susunlah elektron-elektron dalam level-level energi, selalu isi level terdalam sebelum
mengisi level luar.
contoh. mencari susunan dari atom klor
* Tabel periodik memberikan kita nomor atom 17
* Oleh karenanya atom klor terdiri dari 17 proton dan 17 elektron
* Susunan dari elektron-elektron tersebut adalah 2,8,7 ( 2 di level pertama, 8 di level
kedua, dan 7 di level ketiga )
Susunan dari 20 elemen pertama

Setelah 20 elemen pertama ini kita akan memasuki elemen transisi tabel periodik.
Dua hal penting yang perlu diperhatikan
Jika kita melihat susunan dalam tabel periodik:
* Jumlah elektron pada tingkat terluar (atau kulit terluar) sama dengan nomor golongan.
(Kecuali helium yang hanya memiliki 2 elektron. Gas Mulia biasa disebut dengan golongan
O bukan golongan 8). Hal ini berlaku di seluruh golongan elemen pada tabel periodik
(kecuali elemen-elemen transisi).
Jadi, jika kita mengetahui bahwa barium terletak pada golongan 2, berarti ia memiliki 2
elektron pada tingkat terluar; yodium merupakan golongan 7 yang berarti ia memiliki 7
elektron pada tingkat terluar.
* Gas mulia memiliki elektron penuh pada tingkat terluar.
Struktur dan diagram elektron
Dalam kimia dasar kita akan menemukan struktur elektronik dari hidrogen dan karbon,
seperti gambar di bawah ini :

Lingkaran-lingkaran tersebut menggambarkan tingkat energi yang sama dengan


peningkatan jarak dari nukleus. Kita dapat membentangkan lingkaran tersebut dan
menggambar struktur elektron tersebut dalam diagram elektron yang lebih sederhana.

Penelitian-penelitian terbaru menyebabkan teori dan model atom semakin berkembang


dan kebenarannya semakin nyata. Teori dan model atom dimulai dengan penelitian yang
dilakukan oleh John Dalton yang selanjutnya dikembangkan oleh Joseph John Thompson,
Ernest Rutherford, Niels Bohr dan teori atom menggunakan mekanika gelombang.

Model Atom John Dalton


Hukum kekekalan massa yang disampaikan oleh Lavoisier dan hukum perbandingan tetap
yang dijelaskan oleh Proust mendasari John Dalton untuk mengemukakan teori dan model
atomnya pada tahun 1803. John Dalton menjelaskan bahwa atom merupakan partikel
terkecil unsur yang tidak dapat dibagi lagi, kekal dan tidak dapat dimusnahkan demikian
juga tidak dapat diciptakan. Atom-atom dari unsur yang sama mempunyai bentuk yang
sama dan tidak dapat diubah menjadi atom unsur lain.

Model atom John Dalton

Model Atom Joseph John Thompson


Joseph John Thompson merupakan penemu elektron. Thompson mencoba menjelaskan
keberadaan elektron menggunakan teori dan model atomnya. Menurut Thompson, elektron
tersebar secara merata di dalam atom yang dianggap sebagai suatu bola yang bermuatan
positif. Model atom yang dikemukakan oleh Thompson sering disebut sebagai model roti
kismis dengan roti sebagai atom yang bermuatan positif dan kismis sebagai elektron yang
tersebar merata di seluruh bagian roti. Atom secara keseluruhan bersifat netral.

Model atom Joseph John Thompson

Model Atom Ernest Rutherford


Penelitian penembakan sinar alfa pada plat tipis emas membuat Rutherford dapat
mengusulkan teori dan model atom untuk memperbaiki teori dan model atom Thompson.
Menurut Rutherford, atom mempunyai inti yang bermuatan positif dan merupakan pusat
massa atom dan elektron-elektron mengelilinginya.
Rutherford berhasil menemukan bahwa inti atom bermuatan positif dan elektron berada
diluar inti atom. Akan tetapi teori dan model atom yang dikemukakan oleh Rutherford juga

masih mempunyai kelemahan yaitu teori ini tidak dapat menjelaskan fenomena kenapa
elektron tidak dapat jatuh ke inti atom. Padahal menurut fisika klasik, partikel termasuk
elektron yang mengorbit pada lintasannya akan melepas energi dalam bentuk radiasi
sehingga elektron akan mengorbit secara spiral dan akhirnya jatuh ke iti atom.

Model Atom Ernest Rutherford


Model Atom Niels Bohr
Niels Bohr selanjutnya menyempurnakan model atom yang dikemukakan oeh Rutherford.
Penjelasan Bohr didasarkan pada penelitiannya tentang spektrum garis atom hidrogen.
Beberapa hal yang dijelaskan oleh Bohr adalah

Elektron mengorbit pada tingkat energi tertentu yang disebut kulit


Tiap elektron mempunyai energi tertentu yang cocok dengan tingkat energi kulit
Dalam keadaan stasioner, elektron tidak melepas dan menyerap energi
Elektron dapat berpindah posisi dari tingkat energi tinggi menuju tingkat energi
rendah dan sebaliknya dengan menyerap dan melepas energi

Model Atom Niels Bohr

Model Atom Mekanika Gelombang


Perkembangan model atom terbaru dikemukakan oleh model atom berdasarkan mekanika
kuantum. Penjelasan ini berdasarkan tiga teori yaitu

Teori dualisme gelombang partikel elektron yang dikemukakan oleh de Broglie pada
tahun 1924
Azas ketidakpastian yang dikemukakan oeh Heisenberg pada tahun 1927
Teori persamaan gelombang oleh Erwin Schrodinger pada tahun 1926

Menurut model atom ini, elektron tidak mengorbit pada lintasan tertentu sehingga lintasan
yang dikemukakan oleh Bohr bukan suatu kebenaran. Model atom ini menjelaskan bahwa
elektron-elektron berada dalam orbita-orbital dengan tingkat energi tertentu. Orbital
merupakan daerah dengan kemungkinan terbesar untuk menemukan elektron disekitar inti
atom.

Model Atom Mekanika Quantum

Model atom
a. Ukuran atom
Sperti telah disebutkan di bagian sebelumnya, ketakterbagian atom perlahan mulai
dipertanyakan. Pada saat yang sama, perhatian pada struktur atom perlahan menjadi
semakin besar. Bila orang mempelajari struktur atom, ukurannya harus dipertimbangkan.
Telah diketahui bahwa sebagai pendekatan volume atom dapat diperkirakan dengan
membagi volume 1 mol padatan dengan konstanta Avogadro.
Latihan 2.3 Volume satu molekul air
Dengan menganggap molekul air berbentuk kubus, hitung panjang sisi kubusnya. Dengan
menggunakan nilai yang didapat, perkirakan ukuran kira-kira satu atom (nyatakan dengan
notasi saintifik 10x).
Jawab: Volume 1 mol air sekitar 18 cm3. Jadi volume 1 molekul air: v = 18 cm3/6 x 1023 =
310-23 cm3 = 30 x 10-24 cm3. Panjang sisi kubus adalah (30 x 10-24)1/3 cm = 3,1 x 10-8 cm.
Nilai ini mengindikasikan bahwa ukuran atom sekitar 10-8 cm.
Thomson mengasumsikan bahwa atom dengan dimensi sebesar itu adalah bola seragam
bermuatan positif dan elektron-elektron kecil yang bermuatan negatif tersebar di bola
tersebut. Dalam kaitan ini model Thomson sering disebut dengan model bolu kismis,
kismisnya seolah elektron dan bolunya adalah atom.

b. Penemuan inti atom


Setelah melakukan banyak kemajuan dengan mempelajari keradioaktifan, fisikawan Inggris
Ernest Rutherford (1871-1937) menjadi tertarik pada struktur atom, asal radiasi radioaktif.
Ia menembaki lempeng tipis logam (ketebalan 104 atoms) dengan berkas paralel partikel
(di kemudian hari ditemukan bahwa partikel adalah inti atom He). Ia merencanakan
menentukan sudut partikel yang terhambur dengan menghitung jumlah sintilasi di layar
ZnS (Gambar 2.2). Hasilnya sangat menarik. Sebagian besar partikel melalui lempeng
tersebut. Beberapa partikel terpental balik. Untuk menjelaskan hal yang tak terduga ini,
Rutherford mengusulkan adanya inti atom .

Sangat aneh mendapati sebagian besar partikel berbalik, dan beberapa bahkan 180
derajat. Rutherford menyatakan bahwa dalam atom harus ada partikel yang massa cukup
besar sehingga patikel yang memiliki massa sebesar massa atom helium tertolak, dan
yang jari-jarinya sangat kecil.
Menurut ide Rutherford, muatan positif atom terpusat di bagian pusat (dengan jari-jari
terhitung sekitar 10-12 cm) sementara muatan negatifnya terdispersi di seluruh ruang atom.
Partikel kecil di pusat ini disebut dengan inti. Semua model atom sebelumnya sebagai
ruang yang seragam dengan demikian ditolak.
Namun, model atom Rutherford yang terdiri atas inti kecil dengan elektron terdispersi di
sekitarnya tidak dapat menjelaskan semua fenomena yang dikenal. Bila elektron tidak
bergerak, elektron akan bersatu dengan inti karena tarikan elektrostatik (gaya Coulomb).
Hal ini jelas tidak mungkin terjadi sebab atom adalah kesatuan yang stabil. Bila elektron
mengelilingi inti seperti planet dalam pengaruh gravitasi matahari, elektron akan
mengalami percepatan dan akan kehilangan energi melalui radiasi elektromagnetik.
Akibatnya, orbitnya akan semakin dekat ke inti dan akhirnya elektron akan jatuh ke inti.
Dengan demikian, atom akan memancarkan spektrum yang kontinyu. Tetapi faktanya,
atom yang stabil dan diketahui atom memancarkan spektrum garis (spektrum atom Bab
2.3(a) ) bukan spektrum kontinyu. Jelas diperlukan perubahan fundamenatal dalam
pemikiran untuk menjelaskan semua fakta-fakta percobaan ini.

Konfigurasi elektron dari atom


Hubungan antara orbital dengan tabel periodik

Kita akan melihat bagaimana cara menuliskan konfigurasi elektron sampai pada orbital d.
Halaman ini akan menjelaskan konfigurasi berdasarkan tabel periodik sederhana di atas ini
dan selanjutnya pengaplikasiannya pada konfigurasi atom yang lebih besar.
Periode Pertama
Hidrogen hanya memiliki satu elektron pada orbital 1s, kita dapat menuliskannya dengan
1s1 dan helium memiliki dua elektron pada orbital 1s sehingga dapat dituliskan dengan 1s2
Periode kedua
Sekarang kita masuk ke level kedua, yaitu periode kedua. Elektron litium memenuhi orbital
2s karena orbital ini memiliki energi yang lebih rendah daripada orbital 2p. Litium memiliki

konfigurasi elektron 1s22s1. Berilium memiliki elektron kedua pada level yang sama
1s22s2.
Sekarang kita mulai mengisi level 2p. Pada level ini seluruhnya memiliki energi yang sama,
sehingga elektron akan menempati tiap orbital satu persatu.
B
1s22s22px1
C
1s22s22px12py 1
N
1s22s22px12py 12pz1
Elektron selanjutnya akan membentuk sebuah pasangan dengan elektron tunggal yang
sebelumnya menempati orbital.
O
1s22s22px22p y12pz1
F
1s22s22px22py 22pz1
Ne
1s22s22px22py 22pz2
Kita dapat melihat di sini bahwa semakin banyak jumlah elektron, semakin merepotkan
bagi kita untuk menuliskan struktur elektron secara lengkap. Ada dua cara penulisan untuk
mengatasi hal ini dan kita harus terbiasa dengan kedua cara ini.
Cara singkat pertama : Seluruh variasi orbital p dapat dituliskan secara bertumpuk.
Sebagai contoh, flor dapat ditulis sebagai 1s22s22p5, dan neon sebagai 1s22s22p6.
Penulisan ini biasa dilakukan jika elektron berada dalam kulit dalam. Jika elektron berada
dalam keadaan berikatan (di mana elektron berada di luar atom), terkadang ditulis dalam
cara singkat, terkadang dengan cara penuh.
Sebagai contoh, walaupun kita belum membahas konfigurasi elektron dari klor, kita dapat
menuliskannya sebagai 1s22s22p63s23px23p y23pz1.
Perhatikan bahwa elektron-elektron pada orbital 2p bertumpuk satu sama lain sementara
orbital 3p dituliskan secara penuh. Sesungguhnya elektron-elektron pada orbital 3p terlibat
dalam pembentukan ikatan karena berada pada kulit terluar dari atom, sementara
elektron-elektron pada 2p terbenam jauh di dalam atom dan hampir bisa dikatakan tidak
berperan sama sekali.
Cara singkat kedua : Kita dapat menumpukkan seluruh elektron-elektron terdalam
dengan menggunakan, sebagai contoh, simbol [Ne]. Di dalam konteks ini, [Ne] berarti
konfigurasi elektron dari atom neon -dengan kata lain 1s22s22px22py22p z2.
Berdasarkan cara di atas kita dapat menuliskan konfigurasi elektron klor dengan
[Ne]3s23px23py23pz 1.
Periode ketiga
Mulai dari neon, seluruh orbital tingkat kedua telah dipenuhi elekton, selanjutnya kita
harus memulai dari natrium pada periode ketiga. Cara pengisiannya sama dengan periodeperiode sebelumnya, kecuali adalah sekarang semuanya berlangsung pada periode ketiga.
Sebagai contoh :
cara singkat
2
2
6
2
Mg
1s 2s 2p 3s
[Ne]3s2
2
2
6
2
2
1
1
S
1s 2s 2p 3s 3px 3py 3pz
[Ne]3s23px23py13p z1
2
2
6
2
2
2
2
Ar
1s 2s 2p 3s 3px 3py 3pz
[Ne]3s23px23py23p z2
Permulaan periode keempat
Sampai saat ini kita belum mengisi orbital tingkat 3 sampai penuh tingkat 3d belum kita
gunakan. Tetapi kalau kita melihat kembali tingkat energi orbital-orbital, kita dapat melihat
bahwa setelah 3p energi orbital terendah adalah 4s oleh karena itu elektron mengisinya
terlebih dahulu.
K
1s22s22p63s23p6 4s1
Ca
1s22s22p63s23p6 4s2
Bukti kuat tentang hal ini ialah bahwa elemen seperti natrium ( 1s 22s22p63s1 ) dan kalium (
1s22s22p63s23p64s 1 ) memiliki sifat kimia yang mirip.
Elektron terluar menentukan sifat dari suatu elemen. Sifat keduanya tidak akan mirip bila
konfigurasi elektron terluar dari kalium adalah 3d1.

Elemen blok s dan p

Elemen-elemen pada golongan 1 dari tabel periodik memiliki konfigurasi elektron terluar
ns1 (dimana n merupakan nomor antara 2 sampai 7). Seluruh elemen pada golongan 2
memiliki konfigurasi elektron terluar ns2. Elemen-elemen di grup 1 dan 2 dideskripsikan
sebagai elemen-elemen blok s.
Elemen-elemen dari golongan 3 seterusnya hingga gas mulia memiliki elektron terluar
pada orbital p. Oleh karenanya, dideskripsikan dengan elemen-elemen blok p.
Elemen blok d

Perhatikan bahwa orbital 4s memiliki energi lebih rendah dibandingkan dengan orbital 3d
sehingga orbital 4s terisi lebih dahulu. Setelah orbital 3d terisi, elektron selanjutnya akan
mengisi orbital 4p.
Elemen-elemen pada blok d adalah elemen di mana elektron terakhir dari orbitalnya
berada pada orbital d. Periode pertama dari blok d terdiri dari elemen dari skandium
hingga seng, yang umumnya kita sebut dengan elemen transisi atau logam transisi. Istilah
elemen transisi dan elemen blok d sebenarnya tidaklah memiliki arti yang sama, tetapi
dalam perihal ini tidaklah menjadi suatu masalah.
Elektron d hampir selalu dideskripsikan sebagai, sebagai contoh, d5 atau d8 dan bukan
ditulis dalam orbital yang terpisah-pisah. Perhatikan bahwa ada 5 orbital d, dan elektron
akan menempati orbital sendiri sejauh ia mungkin. Setelah 5 elektron menempati orbital
sendiri-sendiri barulah elektron selanjutnya berpasangan.
d5 berarti
d8 berarti
Perhatikan bentuk pengisian orbital pada level 3, terutama pada pengisian atom 3d setelah
4s.
Sc
1s22s22p63s23p6 3d14s2
Ti
1s22s22p63s23p6 3d24s2
V
1s22s22p63s23p6 3d34s2

Cr
1s22s22p63s23p6 3d54s1
Perhatikan bahwa kromium tidak mengikuti keteraturan yang berlaku. Pada kromium
elektron-elektron pada orbital 3d dan 4s ditempati oleh satu elektron. Memang, mudah
untuk diingat jikalau keteraturan ini tidak berantakan tapi sayangnya tidak !
Mn
1s22s22p63s23p6 3d54s2
(kembali ke keteraturan semula)
Fe
1s22s22p63s23p6 3d64s2
Co
1s22s22p63s23p6 3d74s2
Ni
1s22s22p63s23p6 3d84s2
Cu
1s22s22p63s23p6 3d104s1
(perhatikan!)
Zn
1s22s22p63s23p6 3d104s2
Pada elemen seng proses pengisian orbital d selesai.
Pengisian sisa periode 4
Orbital selanjutnya adalah 4p, yang pengisiannya sama seperti 2p atau 3p. Kita sekarang
kembali ke elemen dari galium hingga kripton. Sebagai contoh, Brom, memilki konfigurasi
elektron 1s22s22p63s23p63d104s 24px24py24pz1.
Rangkuman
Menuliskan konfigurasi elektron dari hidrogen sampai kripton
Gunakan tabel periodik untuk mendapatkan nomor atom yang berarti banyaknya
jumlah elektron.
Isilah orbital-orbital dengan urutan 1s, 2s, 2p, 3s, 3p, 4s, 3d, 4p sampai elektronelektron selesai terisi. Cermatilah keteraturan pada orbital 3d ! Isilah orbital p dan d
dengan elektron tunggal sebisa mungkin sebelum berpasangan.
Ingat bahwa kromium dan tembaga memiliki konfigurasi elektron yang tidak sesuai
dengan keteraturan.
Menuliskan struktur elektron elemen-elemen besar pada blok s dan p
Pertama kita berusaha untuk mengetahui jumlah elektron terluar. Jumlah elektron terluar
sama dengan nomor golongan. Sebagai contoh, seluruh elemen pada golongan 3 memiliki
3 elektron pada level terluar. Lalu masukkan elektron-elektron tersebut ke orbital s dan p.
Pada level orbital ke berapa ? Hitunglah periode pada tabel periodik.
Sebagai contoh, Yodium berada pada golongan 7 dan oleh karenanya memiliki 7 elektron
terluar. Yodium berada pada periode 5 dan oleh karenanya elekton mengisi pada orbital 5s
dan 5p. Jadi, Yodium memiliki konfigurasi elektron terluar 5s 25px25py25pz 1.
Bagaimana dengan konfigurasi elektron di dalamnya ? Level 1, 2, dan 3 telah terlebih
dahulu terisi penuh, dan sisanya tinggal 4s, 4p, dan 4d. Sehingga konfigurasi seluruhnya
adalah : 1s22s22p63s23p63d104s 24p64d105s25px25p y25pz1.
Jikalau kita telah menyelesaikannya, hitunglah kembali jumlah seluruh elektron yang ada
apakah sama dengan nomor atom.
Contoh yang kedua, Barium , berada pada golongan 2 dan memiliki 2 elektron terluar.
Barium berada pada periode keenam. Oleh karenanya, Barium memilki konfigurasi elektron
terluar 6s2.
Konfigurasi keseluruhannya adalah : 1s22s22p63s23p63d104s 24p64d105s25p66s2.
Kita mungkin akan terjebak untuk mengisi orbital 5d10 tetapi ingatlah bahwa orbital d
selalu diisi setelah orbital s pada level selanjutnya terisi. Sehingga orbital 5d diisi setelah
6s dan 3d diisi setelah 4s.

ISOBAR, ISOTON DAN ISOTOP


Telah diketahui bahwa penemu sinar x adalah Rontgen. Sinar x terjadi ketika sinar katoda
yang berupa elektron berkecepatan tinggi menumbuk elektroda tembaga. Akibat
tumbukan tersebut, tembaga melepaskan elektron terluarnya dan tempat elektron yang
kosong ini selanjutnya diisi oleh elektron tembaga dari tingkat energi lain yang lebih tinggi.
Pengisian tempat kosong oleh elektron tembaga dari tingkat energi yang lebih tinggi

menyebabkan terjadinya pemancaran radiasi. Radiasi ini oleh Rontgen disebut sebagai
sinar x.
Pemahaman mengenai inti atom selanjutnya dijelaskan oleh percobaan Moseley. Moseley
melakukan penelitian untuk mengukur panjang gelombang sinar x berbagai unsur. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa setiap unsur memancarkan radiasi sinar x dengan panjang
gelombang yang khas. Panjang gelombang yang dihasilkan tergantung pada jumlah ion
positif didalam inti atom. Penelitian juga menunjukkan bahwa inti atom mempunyai
muatan yang berharga kelipatan dari +1,610-9C. Moseley selanjutnya menyebut jumlah
proton dalam atom adalah nomor atom.

Tabung sinar X

Wilhelm Conrad Rontgen

Nomor Atom dan Nomor Massa


Inti atom mengandung proton dan netron. Nomor atom sama dengan jumlah proton
didalam inti atom sedangkan nomor massa sama dengan jumlah proton dan netron
didalam inti atom. Notasi untuk menyatakan susunan inti atom yaitu proton dan netron
dialam inti atom dapat dinyatakan sebagai berikut:

Isotop
Isotop adalah atom unsur sama dengan nomor massa berbeda. Isotop dapat juga
dikatakan sebagai atom unsur yang mempunyai nomor atom sama tetapi mempunyai
nomor massa berbeda karena setiap unsur mempunyai nomor atom yang berbeda. Karbon
merupakan contoh adanya isotop.

Setiap karbon mempunyai nomor atom 6 tetapi nomor massanya berbeda-beda. Dari
contoh tersebut dapat dikatakan bahwa walaupun unsurnya sama belum tentu nomor
massanya sama.
Isobar dan Isoton
Isobar adalah atom unsur yang berbeda tetapi mempunyai nomor massa sama. Isobar
dapat dimengerti dengan melihat contoh berupa
dengan
yang
memiliki nomor massa sebesar 24. Sedangkan isoton adalaha tom unsur yang berbeda
tetapi mempunyai jumlah netron yang sama. Contoh isoton adalah
sama-sama memiliki jumlah neutron 20.

yang

INTERPRETASI DATA DALAM


TABEL SISTEM PERIODIK
PERKEMBANGAN PENGELOMPOKAN UNSUR
Pada awalnya, unsur hanya digolongkan menjadi logam dan nonlogam. Dua puluh
unsur yang dikenal pada masa itu mempunyai sifat yang berbeda satu dengan yang
lainnya. Setelah John Dalton mengemukakan teori atom maka terdapat perkembangan
yang cukup berarti dalam pengelompokan unsur-unsur. Penelitian Dalton tentang atom
menjelaskan bahwa setiap unsur mempunyai atom-atom dengan sifat tertentu yang
berbeda dari atom unsur lain. Hal yang membedakan diantara unsur adalah
massanya.
Pada awalnya massa atom individu belum bisa ditentukan karena atom mempunyai
massa yang amat kecil sehingga digunakan massa atom relatif yaitu perbandingan massa
antar-atom. Berzelius pada tahun 1814 dan P. Dulong dan A. Petit pada tahun 1819
melakukan penentuan massa atom relatif berdasarkan kalor jenis unsur. Massa atom
relatif termasuk sifat khas atom karena setiap unsur mempunyai massa atom relatif
tertentu yang berbeda dari unsur lainnya. Penelitian selanjutnya melibatkan
Dobereiner, Newlands, mendeleev dan Lothar Meyer yang mengelompokkan unsur
berdasarkan massa atom relatif.

Unsur klorin, bromin dan iodin

Triad Dobereiner
Johann Wolfgang Dobereiner pada tahun 1829 menjelaskan hasil penelitiannya yang
menemukan kenyataan bahwa massa atom relatif stronsium berdekatan dengan massa
rata-rata dua unsur lain yang mirip dengan stronsium yaitu kalsium dan barium. Hasil
penelitiannya juga menunjukkan bahwa beberapa unsur yang lain menunjukkan
kecenderungan yang sama. Berdasarkan hasil penelitiannya, Dobereiner

selanjutnya mengelompokkan unsur-unsur dalam kelompok-kelompok tiga unsur yang


lebih dikenal sebagai triad. Triad yang ditunjukkan oleh Dobereiner tidak begitu banyak
sehingga berpengaruh terhadap penggunaannya.

Massa Atom Relatif Unsur Triad Dobereiner

Johann Wolfgang Dobereiner

Triad Dobereiner

Hukum oktaf Newlands


Hukum oktaf ditemukan oleh A. R. Newlands pada tahun 1864. Newlands mengelompokkan unsur berdasarkan kenaikan massa atom relatif unsur. Kemiripan sifat ditunjukkan
oleh unsur yang berseliih satu oktaf yakni unsur ke-1 dan unsur ke-8 serta unsur ke-2
dan unsur ke-9. Daftar unsur yang berhasil dikelompokkan berdasarkan hukum oktaf oleh
Newlands ditunjukkan pada tabel berikut.

John Newlands

Tabel oktaf Newlands

Hukum oktaf Newlands ternyata hanya berlaku untuk unsur-unsur dengan massa
atom relatif sampai 20 (kalsium). Kemiripan sifat terlalu dipaksakan apabila
pengelompokan dilanjutkan.

Sistem Periodik Mendeleev


Dmitri Ivanovich Mendeleev pada tahun 1869 melakukan pengamatan terhadap 63
unsur yang sudah dikenal dan mendapatkan hasil bahwa sifat unsur merupakan fungsi
periodik dari massa atom relatifnya. Sifat tertentu akan berulang secara periodik apabila
unsurunsur disusun berdasarkan kenaikan massa atom relatifnya. Mendeleev
selanjutnya menempatkan unsur-unsur dengan kemiripan sifat pada satu lajur vertikal
yang disebut golongan. Unsur-unsur juga disusun berdasarkan kenaikan massa atom
relatifnya dan ditempatkan dalam satu lajur yang disebut periode. Sistem periodik yang
disusun Mendeleev dapat dilihat pada tabel berikut:

Dmitri Ivanovich Mendeleev

Sistem Periodik Mendeleev

Mendeleev sengaja mengosong-kan beberapa tempat untuk menetapkan


kemiripan sifat dalam golongan. Beberapa kotak juga sengaja dikosongkan karena
Mendeleev yakin masih ada unsur yang belum dikenal karena belum ditemukan. Salah
satu unsur baru yang sesuai dengan ramalan Mendeleev adalah germanium yang
sebelumnya diberi nama ekasilikon oleh Mendeleev.

Sistem Periodik Moseley


Perkembangan terbaru mengenai atom menjelaskan bahwa atom dapat terbagi
menjadi partikel dasar atau partikel subatom. Atom selanjutnya diketahui tersusun
oleh proton, elektron dan netron. Jumlah proton merupakan sifat khas unsur. Setiap
unsur mempunyai jumlah proton tertentu yang berbeda dari unsur lain. Jumlah proton
suatu unsur dinyatakan sebagai nomor atom.
Henry G. Moseley yang merupakan penemu cara menentukan nomor atom pada tahun
1914 kembali menemukan bahwa sifat-sifat unsur merupakan fungsi periodik nomor
atomnya. Pengelompokan yang disusun oleh Mendeleev merupakan susunan yang
berdasarkan kenaikan nomor atomnya. Penyusunan telurium dan iodin yang tidak sesuai
dengan kenaikan massa atom relatifnya ternyata sesuai dengan kenaikan nomor atomnya.

Henry G. Moseley

Periode dan Golongan


Sistem periodik modern tersusun berdasarkan kenaikan nomor atom dan kemiripan
sifat. Lajur horisontal yang disebut periode, tersusun berdasarkan kenaikan nomor atom
sedangkan lajur vertikal yang disebut golongan tersusun berdasarkan kemiripan sifat.
Unsur golongan A disebut golongan utama sedangkan golongan B disebut golongan
transisi. Golongan dapat dieri tanda nomor 1 sampai 18 berurutan dari kiri ke
kanan. Berdasarkan penomoran ini, golongan transisi mempunyai nomor 3 sampai 12.
Sistem periodik modern tersusun atas 7 periode dan 18 golongan yang terbagi menjadi
8 golongan utama atau golongan A dan 8 golongan transisi atau golongan B.

Sistem Periodik Modern


Contoh soal :
Tentukan periode dan golongan unsur X, Y dan Z apabila diketahui konfigurasi
elektronnya adalah
X

= 2, 3

= 2, 8, 4

= 2, 8, 7

Jawab:
Unsur

Periode

Golongan

IIIA

IVA

VIIA

SIFAT PERIODIK UNSUR


Sifat yang berubah secara beraturan menurut kenaikan nomor atom dari kiri ke kanan
dalam satu periode dan dari atas ke bawah dalam satu golongan disebut sifat periodik.
Sifat periodik meliputi jari-jari atom, energi ionisasi, afinitas electron dan
keelektronegatifan.

Jari-jari Atom
Jari-jari atom adalah jarak elektron di kulit terluar dari inti atom. Jari-jari atom sulit untuk
ditentukan apabila unsur berdiri sendiri tanpa bersenyawa dengan unsur lain. Jari-jari atom
secara lazim ditentukan dengan mengukur jarak dua inti atom yang identik yang terikat
secara kovalen. Pada penentuan jari-jari atom ini, jari- jari kovalen adalah setengah jarak
antara inti dua atom identik yang terikat secara kovalen.

Penentuan jari-jari atom

Hubungan jari-jari atom gengan nomor atom

Kurva hubungan jari-jari atom dengan nomor atom memperlihatkan bahwa jari-jari atom
dalam satu golongan akan semakin besar dari atas ke bawah. Hal ini terjadi karena dari
atas ke bawah jumlah kulit bertambah sehingga jari-jari atom juga bertambah.

Jari-jari atom unsur

Unsur-unsur dalam satu periode (dari kiri ke kanan) berjumlah kulit sama tetapi jumlah
proton bertambah sehingga jari-jari atom juga berubah. Karena jumlah proton bertambah
maka muatan inti juga bertambah yang mengakibatkan gaya tarik menarik antara inti
dengan elektron pada kulit terluar semakin kuat. Kekuatan gaya tarik yang semakin
meningkat menyebabkan jari-jari atom semakin kecil. Sehingga untuk unsur dalam satu
periode, jari-jari atom semakin kecil dari kiri ke kanan.
Jari-jari ion digambarkan sebagai berikut:

Perbandingan jari-jari atom dengan jari-jari ion

Energi Ionisasi
Energi minimum yang dibutuhkan untuk melepas elektron atom netral dalam wujud gas
pada kulit terluar dan terikat paling lemah disebut energi ionisasi. Nomor atom dan jari-jari
atom mempengaruhi besarnya energi ionisasi. Semakin besar jari-jari atom maka gaya
tarik antara inti dengan elektron pada kulit terluar semakin lemah. Hal ini berarti elektron
pada kulit terluar semakin mudah lepas dan energi yang dibutuhkan untuk melepaskan
elektron tersebut semakin kecil. Akibatnya, dalam satu golongan, energi ionisasi semakin
kecil dari atas ke bawah. Sedagkan dalam satu periode, energi ionisasi semakin besar dari
kiri ke kanan. Hal ini disebabkan dari kiri ke kanan muatan iti semakin besar yang
mengakibatkan gaya tarik antara inti dengan elektron terluar semakin besar sehingga
dibutuhkan energi yang besar pula untuk melepaskan elektron pada kulit terluar.

Energi ionisasi

Hubungan energi ionisasi dengan nomor atom

Kurva tersebut menunjukkan unsur golongan 8A berada di puncak grafik yang


mengindikasikan bahwa energi ionisasinya besar. Hal sebaliknya terjadi untuk unsur
golongan 1A yang berada di dasar kurva yang menunjukkan bahwa energi ionisasinya
kecil. Atom suatu unsur dapat melepaskan elektronnya lebih dari satu buah. Energi yang
dibutuhkan untuk melepaskan elektron keua disebut energi ionisasi kedua dan tentu saja
diperlukan energi yang lebih besar. Energi ionisasi semakin besar apabila makin banyak
elektron yang dilepaskan oleh suatu atom.

Afinitas Elektron
Afinitas elektron merupakan enegi yang dilepaskan atau diserap oleh atom netral dalam
bentuk gas apabila terjadi penangkapan satu elektron yang ditempatkan pada kulit
terluarnya dan atom menjadi ion negatif. Afinitas elektron dapat berharga positif dan
negatif. Afinitas elektron berharga negatif apabila dalam proses penangkapan satu
elektron, energi dilepaskan. Ion negatif yang terbentuk akibat proses tersebut bersifat
stabil. Hal sebaliknya terjadi apabila dalam proses penangkapan satu elektron, energi
diserap. Penyerapan energi menyebabkan ion yang terbentuk bersifat tidak stabil. Semakin
negatif harga afinitas lektron suatu atom unsur maka ion yang ter bentuk semakin stabil.

Afinitas elektron golongan 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan 7

Gambar menunjukkan bahwa atom unsur golongan 2A dan 8A mempunyai afinitas elektron
yang berharga positif. Hal ini mengindikasikan bahwa unsur golongan 2A dan 8A sulit
menerima elektron. Afinitas elektron terbesar dimiliki oleh unsur golongan halogen karena
unsur golongan ini paling mudah menangkap elektron. Jadi secara umum dapat dikatakan
bahwa afinitas elektron, dalam satu periode, dari kiri ke kanan semakin negatif dan dalam
satu golongan dari atas ke bawah, semakin positif.

Keelektronegatifan
Keelektronegatifan ada-lah skala yang dapat menjelaskan kecenderungan atom suatu
unsur untuk menarik elektron menuju kepadanya dalam suatu ikatan. Keelektronegatifan
secara umum, dalam satu periode, dari kiri ke kanan semakin bertambah dan dalam satu
golongan, dari atas ke bawah keelekrnegatifan semakin berkurang. Hal ini dapat
dimengerti karena dalam satu periode, dari kiri ke kanan, muatan inti atom semakin
bertambah yang mengakibatkan gaya tarik antara inti atom dengan elektron terluar juga
semakin bertambah. Fenomena ini menyebabkan jari-jari atom semakin kecil, energi
ionisasi semakin besar, afinitas elektron makin besar dan makin negatif dan akibatnya
kecenderungan untuk menarik elektron semakin besar.

Elektronegatifitas

Keelektronegatifan skala Pauling

Terlihat dari gambar bahwa untuk unsur gas mulia tidak mempunyai harga
keelektronegatifan karena konfigurasi elektronnya yang stabil. Stabilitas gas mulia
menyebabkan gas mulia sukar untuk menarik dan melepas elektron. Keelektronegatifan
skala pauling memberikan nilai keelektronegatifan untuk gas mulia sebesar nol.

Sifat periodik unsur


ENERGI IONISASI
Energi ionisasi pertama merupakan energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron
terluar (paling mudah lepas) dari satu mol atom dalam wujud gas untuk menghasilkan satu
mol ion gas dengan muatan 1+.
Hal ini lebih mudah dipahami dalam bentuk simbol.
Pada penggambaran di atas, energi ionisasi pertama diartikan sebagai energi yang
dibutuhkan untuk menghasilkan perubahan per mol X.
Yang perlu diperhatikan pada persamaan di atas
Simbol wujud zat (g) penting. Pada saat anda membahas energi ionisasi, unsurnya
harus dalam wujud gas.
Energi ionisasi dinyatakan dalam kJ mol-1 (kilojoules per mole). Nilainya bervariasi dari 381
(yang sangat rendah) hingga 2370 (yang sangat tinggi).
Semua unsur memiliki energi ionisasi pertama bahkan atom yang tidak membentuk ion
positif pada tabung reaksi. Helium (E.I pertama = 2370 kJ mol -1) secara normal tidak
membentuk ion positif karena besarnya energi yang diperlukan untuk melepaskan satu
elektron.
Pola energi ionisasi pertama pada tabel periodik 20 unsur pertama

Energi ionisasi pertama menunjukkanperiodicity. Itu artinya bahwa energi ionisasi


bervarisi dalam suatu pengulangan jika anda bergerak sepanjang tabel periodik. Sebagai
contoh, lihatlah pola dari Li ke Ne, dan kemudian bandingkan dengan pola yang sama dari
Na ke Ar.
Variasi pada energi ionisasi pertama ini dapat dijelaskan melalui struktur dari atom yang
terlibat.
Faktor yang mempengaruhi energi ionisasi
Energi ionisasi merupakan ukuran energi yang diperlukan untuk menarik elektron tertentu
dari tarikan inti. Energi ionisasi yang tinggi menunjukkan tarikan antara elektron dan inti
yang kuat.

Besarnya tarikan dipengaruhi oleh:


Muatan inti
Makin banyak proton dalam inti, makin positif muatan inti, dan makin kuat tarikannya
terhadap elektron.
Jarak elektron dari inti
Jarak dapat mengurangi tarikan inti dengan cepat. Elektron yang dekat dengan inti akan
ditarik lebih kuat daripada yang lebih jauh.
Jumlah elektron yang berada diantara elektron terluar dan inti
Perhatikan atom natrium, dengan struktur elektron 2, 8, 1 (tak ada alasan mengapa anda
tak dapat menggunakan notasi ini jika ini sangat membantu!)
ika elektron terluar mengarah ke inti, tidak akan terlihat oleh inti dengan jelas. Antara
elektron terluar dan inti ada dua lapis elektron pada tingkat pertama dan kedua. Pengaruh
11 proton pada inti natrium berkurang oleh adanya 10 elektron yang lebih dalam. Oleh
karena itu elektron terluar hanya merasakan tarikan bersih kira-kira 1+ dari pusat.
Pengurangan tarikan inti terhadap elektron yang lebih dalam disebut dengan
penyaringan (screening) atau perlindunga (shielding).
Apakah elektron berdiri sendiri dalam suatu orbital atau berpasangan dengan
elektron lain
Dua elektron pada orbital yang sama mengalami sedikit tolakan satu sama lain. Hal ini
mengurangi tarikan inti, sehingga el ektron yang berpasangan dapat dilepaskan dengan
lebih mudah dari yang anda perkirakan.
Menjelaskan pola pada sebagian unsur-unsur pertama
Hidrogen memiliki struktur elektron 1s1. Merupakan atom yang sangat kecil, dan elektron
tunggalnya dekat dengan inti sehingga dapat tertarik dengan kuat. Tidak ada elektron
yang menyaring tarikan dari inti sehingga energi ionisasinya tinggi (1310 kJ mol -1).
Helium memiliki struktur 1s2. Elektron dilepaskan dari orbital yang sama seperti pada
contoh hidrogen. Elektronnya dekat dengan inti dan tidak tersaring. Energi ionisasinya
(2370 kJ mol-1) lebih besar dari hidrogen, karena elektronnya ditarik oleh dua proton pada
inti, bukan satu seperti pada hidrogen.
Litium memiliki struktur 1s22s1. Elektron terluarnya berada pada tingkat energi kedua,
lebih jauh dari inti. Anda mungkin berpendapat akan lebih dekat dengan adanya tambahan
proton pada inti, tetapi elektron tidak mengalami tarikan yang penuh dari inti tersaring
oleh elektron 1s2.

Anda dapat membayangkan elektron seperti merasakan tarikan bersih +1 dari pusat (3
proton dikurangi oleh dua elektron 1s2 electrons).
Jika anda membandingkan litium dengan hidrogen (bukan dengan helium), elektron
hidrogen juga mengalami tarikan 1+ dari inti, tetapi pada litium jaraknya lebih jauh. Energi
ionisasi pertama litium turun menjadi 519 kJ mol-1 sedangkan hidrogen 1310 kJ mol-1.
Pola pada periode 2 dan 3
Membahas 17 atom pada saat bersamaan akan memakan waktu. Kita dapat melakukannya
dengan lebih terarah dengan menjelaskan kecenderungan utama pada dua periode ini,
dan kemudian menjelaskan pengecualian yang ada.

Secara umum pola pada kedua periode sama perbedaannya energi ionisasi periode
ketiga lebih rendah daripada periode kedua.

Menjelaskan kecenderungan umum pada periode 2 dan 3


Kecenderungan yang umum adalah energi ionisasi meningkat dalam satu periode dari kiri
ke kanan.
Pada semua unsur periode 2, elektron terluar berada pada orbital tingkat 2 2s atau 2p.
Semuanya memiliki jarak yang sama dari inti, dan tersaring oleh elektron 1s 2.
Perbedaan pentingnya adalah terjadi kenaikan jumlah proton pada inti dari litium sampai
neon. Hal itu menyebabkan makin kuatnya tarikan inti terhadap elektron sehingga
menaikkan energi ionisasi. Pada kenyataannya kenaikan muatan inti menyebabkan
elektron terluar lebih dekat ke inti. Kenaikan energi ionisasi itu berada dalam satu periode.
Pada periode 3, kecenderungannya sama. Semua elektron yang dilepaskan berada pada
tingkat ketiga dan tersaring oleh elektron 1s22s22p6. Semuanya memiliki lingkungan yang
sama, tetapi muatan intinya makin meningkat.
Mengapa terjadi penurunan antara golongan 2 dan 3 (Be-B dan Mg-Al)?
Penjelasannya didasarkan pada struktur boron dan aluminium. Elektron terluar kedua atom
ini lebih mudah dilepaskan dibandingkan dengan kecenderungan umum pada atom-atom
periode 2 dan 3 lainnya.
Be
1s22s2
E. I. pertama = 900 kJ mol-1
B
1s22s22px1
E. I. pertama = 799 kJ mol-1
Anda mungkin mengharapkan energi ionisasi boron lebih besar dari berilium karena
adanya tambahan proton. Pada kenyataannya elektron terluar boron berada pada orbital
2p bukan pada 2s. Orbital 2p memiliki energi yang sedikit lebih tinggi daripada orbital 2s,
dan elektronnya, rata-rata, berada lebih jauh dari inti. Hal ini memberikan dua pengaruh.
Bertambahnya jarak menghasilkan berkurangnya tarikan inti sehingga mengurangi
energi ionisasi
Orbital 2p tidak hanya disaring oleh elektron 1s2 tetapi, sedikit, juga oleh elektron
2s2. Hal itu juga mengurangi tarikan dari inti sehingga energi ionisasinya lebih
rendah.
Penjelasan terhadap turunnya energi ionisasi antara magnesium dan aluminium sama,
hanya saja terjadi pada tingkat ke-3 bukan tingkat ke-2.
Mg
1s22s22p63s2
E. I. pertama = 736 kJ mol-1
Al
1s22s22p63s23px1
E. I. pertama = 577 kJ mol-1
Elektron 3p pada aluminium sedikit lebih jauh dari inti dibandingkan 3s, dan sebagian
tersaring oleh elektron 3s2 sebagai elektron yang lebih dalam. Kedua faktor ini mengurangi
pengaruh bertambahnya proton.
Mengapa terjadi penurunan diantara golongan 5 dan 6 (N-O dan P-S)?
Sekali lagi, anda mungkin mengharapkan energi ionisasi unsur golongan 6 akan lebih
tinggi daripada golongan 5 karena adanya tambahan proton. Apa yang terjadi?
N
1s22s22px12py12pz1
E. I. pertama = 1400 kJ mol-1
2
2
2
1
1
O
1s 2s 2px 2py 2pz
E. I. Pertama = 1310 kJ mol-1
Penyaringannya sama (oleh 1s2 dan, sedikit, oleh elektron 2s2), dan elektron dilepaskan
dari orbital yang sama.

Perbedaannya adalah pada oksigen elektron dilepaskan dari salah satu pasangan 2p x2.
Adanya tolakan antara dua elektron pada orbital yang sama menyebabkan elektron
tersebut lebih mudah dilepaskan dibandingkan yang lain.
Penurunan energi ionisasi pada sulfur dijelaskan dengan cara yang sama.
Kecenderungan turunnya energi ionisasi dalam satu golongan
Jika anda bergerak ke bawah dalam satu golongan pada tabel period ik, energi ionisasi
secara umum akan menurun. Anda telah melihat bukti untuk hal ini bahwa energi ionisasi
pada periode 3 lebih rendah dari periode 2.
Sebagai contoh pada golongan 1:

Mengapa energi ionisasi natrium lebih rendah dari litium?


Pada atom natrium terdapat 11 proton, tetapi pada atom litium hanya 3. Jadi muatan inti
natrium lebih besar. Anda mungkin memperkirakan energi ionisasi natrium lebih besar,
tetapi kenaikan muatan inti tidak dapat mengimbangi jarak elektron dari inti yang makin
jauh dan lebih tersaring.
Li
1s22s1
E. I. pertama = 519 kJ mol-1
Na
1s22s22p63s1
E. I. pertama = 494 kJ mol-1
Elektron terluar litium berada pada tingkat kedua, dan hanya memiliki elektron 1s 2 yang
menyaringnya. Elektron 2s1 mengalami tarikan dari 3 proton dan disaring oleh 2 elektron
tarikan bersih dari pusat adalah +1.
Elektron terluar natrium berada pada tingkat 3, dan terhalangi dari 11 proton pada inti oleh
10 elektron yang berada lebih dalam. Elektron 3s1 juga mengalami tarikan bersih 1+ dari
pusat atom. Faktor yang tersisa hanyalah jarak tambahan antara elektron terluar dan inti
pada natrium. Sehingga energi ionisasi natrium lebih rendah.
Penjelasan yang sama berlaku jika anda bergerak ke bawah pada unsur lain pada golongan
tersebut, atau, pada golongan yang lain.
Kecenderungan energi ionisasi pada golongan transisi

Selain seng pada bagian akhir, energi ionisasi semua unsur relatif sama.
Semua unsur memiliki struktur elektron [Ar]3dn4s2 (or 4s1 pada kromium dan tembaga).
Elektron yang terlepas selalu dari orbital 4s.
Jika anda bergerak dari kiri ke kanan, dari satu atom ke atom lainnya dalam deretan
golongan transisi, jumlah proton pada inti meningkat, elektron pada 3d juga bertambah.
Elektron 3d mengalami beberapa pengaruh penyaringan, proton tambahan dan elektron 3d
tambahan dapat menambah atau mengurangi pengaruh tarikan dari pusat atom yang
diamati.
Kenaikan pada seng mudah untuk dijelaskan.
Cu
[Ar]3d104s1
E. I. pertama = 745 kJ mol-1
10
2
Zn
[Ar]3d 4s
E. I. pertama = 908 kJ mol-1
Pada contoh di atas, elektron yang dilepaskan berasal dari orbital yang sama, dengan
penyaringan yang sama, tetapi seng memiliki satu tambahan proton pada inti sehingga
daya tariknya lebih besar. Pada seng terdapat tolakan antar pasangan elektron orbital 4s,

tetapi pada kasus ini tolakannya tidak cukup untuk mengimbangi pengaruh bertambahnya
proton.
Energi ionisasi dan reaktivitas
Pada energi ionisasi yang lebih rendah, perubahan ini lebih mudah terjadi:
Anda dapat menjelaskan kenaikan reaktivitas logam golongan 1(Li, Na, K, Rb, Cs) dari atas
ke bawah dalam satu golongan karena turunnya energi ionisasi. Bereaksi dengan apapun,
logam-logam tersebut akan membentuk ion positif, dengan energi ionisasi yang lebih
rendah, ion lebih mudah terbentuk.
Bahaya dari pendekatan ini adalah pembentukan ion positif terjadi hanya satu tahap dalam
beberapa langkah proses.
Sebagai contoh, anda tidak mungkin memulai dengan atom gas; tidak juga mengakhirinya
dengan gas ion positif anda akan mengakhiri dengan ion dalam padatan atau larutan.
Perubahan energi pada proses ini juga bervariasi dari satu unsur ke unsur lainnya. Secara
ideal anda perlu mempertimbangkan semua hal dan tidak hanya mengambil sebagian
saja.
Namun demikian, energi ionisasi unsur merupakan faktor utama yang berperan dalam
energi aktivasi suatu reaksi. Ingat bahwa energi aktivasi merupakan energi minimum yang
diperlukan sebelum reaksi berlangsung. Dengan energi aktivasi yang lebih rendah, reaksi
akan lebih cepat tanpa mengabaikan seluruh energi yang berubah pada reaksi tersebut.
Penurunan energi ionisasi dari atas ke bawah dalam satu golongan akan menyebabkan
energi aktivasi lebih rendah dan reaksi menjadi lebih cepat.
AFINITAS ELEKTRON
Halaman ini menjelaskan apa yang dimaksud dengan afinitas elektron, dan mengamati
faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya afinitas elektron. Anda dianggap telah
memahami tentang orbital atom sederhana, dan dapat menuliskan struktur elektronik
untuk atom-atom sederhana.
Afinitas elektron pertama
Energi ionisasi selalu ditekankan pada pembentukan ion positif. Afinitas elektron
ditekankan pada ion negatif, dan keduanya banyak dipakai untuk unsur-unsur pada
golongan 6 dan 7 pada tabel periodik.
Mendefinisikan afinitas elektron pertama
Afinitas elektron pertama adalah energi yang dilepaskan ketika 1 mol atom gas
mendapatkan satu elektron untuk membentuk 1 mol ion gas 1-.
Lebih mudah dipahami dalam bentuk simbol.
Pada penggambaran di atas, afinitas elektron pertama diartikan sebagai energi yang
dilepaskan (per mol X) pada saat perubahan ini terjadi.
Afinitas elektron pertama memiliki harga negatif. Sebagai contoh, afinitas elektron pertama
klor adalah -349 kJ mol-1. Berdasarkan perjanjian, tanda negatif menunjukkan pelepasan
energi.
Afinitas elektron pertama dari unsur-unsur golongan 7
F
-328 kJ mol-1
Cl
-349 kJ mol-1
Br
-324 kJ mol-1
I
-295 kJ mol-1
Apakah ada polanya?
Ya jika anda bergerak dari atas ke bawah dalam satu golongan, afinitas elektron pertama
makin berkurang (artinya energi yang dilepaskan makin berkurang ketika ion negatif
terbentuk). Fluor tidak mengikuti aturan itu, dan akan dijelaskan secara terpisah.
Afinitas elektron dihitung dari tarikan antara elektron yang datang dengan inti tarikan
yang lebih kuat, energi yang dilepaskan makin besar.
Faktor yang mempengaruhi tarikan ini sama dengan faktor yang berpengaruh pada energi
ionisasi muatan inti, jarak dan penyaringan (screening).

Bertambahnya muatan inti dari atas ke bawah dalam satu golongan terkurangi oleh
tambahan penyaringan elektron. Masing-masing elektron terluar mengalami tarikan 7+
dari pusat atom, untuk semua atom golongan 7.
Sebagai contoh, atom fluor memiliki struktur elektron 1s22s22px22py22pz1. Terdapat 9 proton
dalam inti.
Elektron yang datang masuk ke tingkat-2, dan mengalami penyaringan dari inti oleh 2
elektron 1s2 electrons. Oleh karena itu tarikan bersih dari inti adalah 7+ (9 proton dikurangi
2 oleh penyaringan elektron).
Berbeda dengan klor yang memiliki struktur elektron 1s22s22p63s23px23py23pz1. Klor
memiliki 17 proton pada inti.
Tetapi sekali lagi elektron yang masuk merasakan tarikan bersih dari inti 7+ (17 proton
dikurangi 10 oleh penyaringan elektron pada tingkat pertama dan kedua).
Faktor yang menentuka n adalah bertambahnya jarak antara elektron yang datang dengan
inti dari atas ke bawah dalam satu golongan. Makin besar jarak, tarikan berkurang dan
energi yang dilepaskan sebagai afinitas elektron juga berkurang.
Mengapa fluor tidak mengikuti kecenderungan yang ada?
Elektron yang datang, pada fluor akan lebih dekat dengan inti dibandingkan unsur lain,
sehingga anda akan mendapatkan nilai afinitas elektron yang tinggi.
Namun demikian, karena fluor merupakan atom kecil, anda memasukkan elektron baru
pada tempat yang sudah penuh sesak oleh elektron dan ada banyak tolakan. Tolakan ini
mengurangi tarikan yang dirasakan elektron yang datang dan mengurangi afinitas
elektron.
Perubahan yang sama dari kecenderungan yang diharapkan terjadi antara oksigen dan
sulfur pada golongan 6. Afinitas elektron pertama oksigen (-142 kJ mol -1) lebih kecil dari
sulfur (-200 kJ mol-1) untuk alasan yang sama bahwa fluor lebih kecil dari klor.
Membandingkan afinitas elektron golongan 6 dan 7
Seperti yang anda perhatikan, afinitas elektron pertama oksigen (-142 kJ mol -1) lebih
rendah dari fluor (-328 kJ mol-1). Sama dengan sulfur (-200 kJ mol-1) yang lebih rendah dari
klor (-349 kJ mol-1). Mengapa?
Sederhana saja, unsur golongan 6 memiliki 1 proton pada inti yang lebih sedikit daripada
tetangganya, golongan 7. Banyaknya penyaringan pada keduanya sama.
Itu artinya bahwa tarikan bersih dari inti pada golongan 6 lebih sedikit daripada golongan
7, sehingga afinitas elektron lebih rendah.
Afinitas elektron pertama dan reaktivitas
Reaktivitas unsur golongan 7 turun dari atas ke bawah dalam satu golongan fluor
merupakan unsur yang paling reaktif dan iod paling tak reaktif.
Seringkali pada reaksinya unsur-unsur ini membentuk ion negatif. Pada GCSE kadangkadang ditunjukkan penurunan reaktivitas karena tarikan terhadap elektron yang datang
berkurang kekuatannya dari atas ke bawah dalam satu golongan, sehingga pembentukan
ion negatif kurang disukai. Penjelasan itu masih dapat diterima kecuali untuk fluor!
Reaksi keseluruhan terdiri dari banyak tahapan yang berbeda yang semuanya melibatkan
perubahan energi, dan untuk menjelaskan kecenderungan yang ada tidak cukup hanya
dengan mengamati salah satu tahap saja. Fluor lebih reaktif daripada klor (walaupun
afinitas elektronnya lebih rendah) karena energi yang dilepaskan pada salah satu langkah
reaksinya mengurangi energi yang dilepaskan sebagai afinitas elektron.
Afinitas elektron kedua
Anda hanya akan ditunjukkan pada unsur golongan 6, oksigen dan sulfur yang keduanya
membentuk ion 2-.
Mendefinisikan afinitas elektron kedua
Afinitas elektron kedua adalah energi yang diperlukan untuk menambah satu elektron
pada masing-masing ion dari 1 mol ion gas 1- untuk menghasilkan 1 mol ion gas 2-.
Lebih mudah dipahami dalam bentuk simbol.
Pada penggambaran di atas, afinitas elektron kedua diartikan sebagai energi yang
dibutuhkan untuk membawa perubahan per mol X-.
Mengapa untuk melakukannya diperlukan energi?
Anda mendorong elektron ke dalam ion negatif. Hal ini tidak terjadi dengan serta-merta!

EA ke-1 = -142 kJ mol-1


EA ke-2 = +844 kJ mol-1
Tanda positif menunjukkan bahwa anda memerlukan energi untuk terjadinya perubahan
ini. Afinitas elektron kedua oksigen tinggi, karena elektron dipaksa masuk ke dalam ion
yang kecil, elektronnya sangat rapat.

BAB III
IKATAN KIMIA
Ikatan Ion
Ikatan ion adalah ikatan yang terbentuk akibat gaya tarik listrik (gaya Coulomb) antara ion
yang berbeda. Ikatan ion juga dikenal sebagai ikatan elektrovalen.
Pembentukan Ikatan Ion
Telah diketahui sebelumnya bahwa ikatan antara natrium dan klorin dalam narium klorida
terjadi karena adanya serah terima elektron. Natrium merupakan logam dengan reaktivitas
tinggi karena mudah melepas elektron dengan energi ionisasi rendah sedangkan klorin
merupakan nonlogam dengan afinitas atau daya penagkapan elektron yang tinggi. Apabila
terjadi reaksi antara natrium dan klorin maka atom klorin akan menarik satu elektron
natrium. Akibatnya natrium menjadi ion positif dan klorin menjadi ion negatif. Adanya ion

positif dan negatif memungkinkan terjadinya gaya tarik antara atom sehingga terbentuk
natrium klorida. Pembentukan natrium klorida dapat digambarkan menggunakan penulisan
Lewis sebagai berikut:

Pembentukan NaCl

Pembentukan NaCl dengan lambang Lewis

Ikatan ion hanya dapat tebentuk apabila unsur-unsur yang bereaksi mempunyai
perbedaan daya tarik electron (keeelektronegatifan) cukup besar. Perbedaan
keelektronegati-fan yang besar ini memungkinkan terjadinya serah-terima elektron.
Senyawa biner logam alkali dengan golongan halogen semuanya bersifat ionik.
Senyawa logam alkali tanah juga bersifat ionik, kecuali untuk beberapa senyawa yang
terbentuk dari berilium.

Susunan Senyawa Ion


Aturan oktet menjelaskan bahwa dalam pembentukan natrium klorida, natrium akan
melepas satu elektron sedangkan klorin akan menangkap satu elektron. Sehingga
terlihat bahwa satu atom klorin membutuhkan satu atom natrium. Dalam struktur
senyawa ion natrium klorida, ion positif natrium (Na+) tidak hanya berikatan dengan
satu ion negatif klorin (Cl-) tetapi satu ion Na+ dikelilingi oleh 6 ion Cl- demikian juga
sebaliknya. Struktur tiga dimensi natrium klorida dapat digunakan untuk menjelaskan
susunan senyawa ion.

Struktur kristal kubus NaCl

IKATAN KOVALEN

Ikatan kovalen dapat terjadi karena adanya penggunaan elektron secara bersama.
Apabila ikatan kovalen terjadi maka kedua atom yang berikatan tertarik pada
pasangan elektron yang sama. Molekul hidrogen H2 merupakan contoh pembentukan
ikatan kovalen.

Pembentukan ikatan kovalen atom-atom hidogen


Masing-masing atom hidrogen mempunyai 1 elektron dan untuk mencapai konfigurasi
oktet yang stabil seperti unsur golongan gas mulia maka masing-masing atom hidrogen
memerlukan tambahan 1 elektron. Tambahan 1 elektron untuk masing-masing atom
hidrogen tidak mungkin didapat dengan proses serah terima elektron karena
keelekronegatifan yang sama. Sehingga konfigurasi oktet yang stabil dpat dicapai
dengan pemakaian elektron secara bersama. Proses pemakaian elektron secara
bersama terjadi dengan penyumbangan masing-masing 1 elektron ari atom hidrogen
untuk menjadi pasangan elektron milik bersama. Pasangan elektron bersama ditarik oleh
kedua inti atom hidrogen yang berikatan.

Pembentukan Ikatan Kovalen


Ikatan kovalen biasanya terjadi antar unsur nonlogam yakni antar unsur yang
mempunyai keelektronegatifan relatif besar. Ikata kovalen juga terbentuk karena proses

serah terima elektron tidak mungkin terjadi. Hidrogen klorida merupakan contoh
lazim pembentukan ikatan kovalen dari atom hidrogen dan atom klorin. Hidrogen
dan klorin merupakan unsur nonlogam dengan harga keelektronegatifan masingmasing 2,1 dan 3,0. Konfigurasi elektron atom hidrogen dan atom klorin adalah
H

:1

Cl

:2

8 7

Berdasarkan aturan oktet yang telah diketahui maka atom hidrogen kekurangan 1 elektron
dan atom klorin memerlukan 1 elektron untuk membentuk konfigurasi stabil golongan gas
mulia. Apabila dilihat dari segi keelektronegatifan, klorin mempunyai harga
keelektronegatifan yang lebih besar dari hidrogen tetapi hal ini tidak serta merta
membuat klorin mampu menarik elektron hidrogen karena hidrogen juga mempunyai
harga keelektronegatifan yang tidak kecil. Konfigurasi stabil dapat tercapai
dengan pemakaian elektron bersama. Atom hidrogen dan atom klorin masingmasing menyumbangkan satu elektron untuk membentuk pasangan elektron milik
bersama.

Pembentukan HCl

Ikatan Kovalen Rangkap dan Rangkap Tiga


Dua atom dapat berpasangan dengan mengguna-kan satu pasang, dua pasang atau
tiga pasang elektron yang tergantung pada jenis unsur yang berikatan. Ikatan dengan
sepasang elektron disebut ikatan tunggal sedangkan ikatan yang menggu-nakan dua
pasang elektron disebut ikatan rangkap dan ikatan dengan tiga pasang elektron
disebut ikatan rangkap tiga. Ikatan rangkap misalnya dapat dijumpai pada molekul oksigen
(O2) dan molekul karbondiksida (CO2) sedangkan ikaran rangkap tiga misalnya dapat dilihat
untuk molekul nitrogen (N2) dan etuna (C2H2).

IKATAN LOGAM
Halaman ini memperkenalkan ikatan yang terjadi pada logam. Halaman ini menjelaskan
bagaimana munculnya ikatan logam dan kenapa ikatan tersebut kekuatannya bervariasi
dari logam yang satu dengan logam yang lain.
Apakah ikatan logam itu?
Ikatan logam pada natrium
Logam cenderung memiliki titik leleh dan titik didih yang tinggi sehingga memberikan
kesan kuatnya ikatan yang terjadi antara atom-atomnya. Secara rata-rata logam seperti
natrium (titik leleh 97.8C) meleleh pada suhu yang sangat jauh lebih tinggi dibanding
unsur (neon) yang mendahuluinya pada tabel periodik.
SNatrium memiliki struktur elektronik 1s22s22p63s1. Ketika atom-atom natrium datang
secara bersamaan, elektron pada orbital atom 2s dari satu atom natrium membagi ruang
dengan elektron yang bersesuaian pada atom tetangganya untuk membentuk sebuah
orbital molekul ? kebanyakan sama atau serupa dengan cara pembentukan ikatan kovalen.

Perbedaannya, bagaimanapun, tiap atom natrium tersentuh oleh delapan atom natrium
yang lainnya ? dan terjadi pembagian (sharing) antara atom tengah dan orbital 3s di
semua delapan atom yang lain. Dan tiap atom yang delapan ini disentuh oleh delapan
atom natrium, yang kesemuanya disentuh oleh delapan atom natrium, terus dan terus
sampai kamu memperoleh seluruh atom dalam bongkahan natrium.
Semua orbital 3s dalam semua atom saling tumpang tindih untuk memberikan orbital
molekul dalam jumlah yang sangat banyak yang memeperluas keseluruhan tiap bagian
logam. Terdapat jumlah orbital molekul yang sangat banyak, tentunya, karena tiap orbital
hanya dapat menarik dua elektron.
Elektron dapat bergerak dengan leluasa diantara orbital-orbital molekul tersebut, dan
karena itu tiap elektron manjdi terlepas dari atom induknya. Elektron tersebut disebut
terdelokalisasi. Logam terikat bersamaan melalui kekuatan dayatarik yang kuat antara
inti positif dengan elektron yang terdelokalisasi.

Hal ini kadang-kandang dilukisakan sebagai "susunan inti positif di lautan elektron".
Jika kamu menggunakan tinjauan ini, hati-hati! Apakah logam merupakan atom atau ion?
Jawabannya adalah logam merupakan atom.
Setiap pusat positif pada diagram menggambarkan sisa atom yang terlepas dari elektron
terluar, tetapi elektron tersebut tidak menghilang ini mungkin tidak termasuk tambahan
pada atom yang istimewa, tetapi pusat positif tetap berada dalam struktur. Karena itu
logam natrium ditulis dengan Na bukan Na+.
Ikatan logam pada magnesium
Jika kamu menyusun argumentasi yang sama dengan magnesium, kamu akhirnya akan
memperoleh ikatan yang lebih kuat dan tentunya titik leleh yang lebih tinggi.
Magnesium memiliki struktur elektronik terluar 3s2. Diantara elektro-elektronnya terjadi
delokalisasi, karena itu "lautan" yang ada memiliki kerapatan dua kali lipat daripada yang
terdapat pada natrium. Sisa "ion" juga memiliki muatan dua kali lipat (jika kamu
menggunakan tinjauan ikatan logam) dan tentunya akan terjadi dayatarik yang lebih
banyak antara "ion" dan "lautan". Lebih realistis, tiap atom magnesium memiliki satu
proton lebih banyak pada intinya dibandingkan yang dimiliki oleh natrium, dan karena itu
tidak hanya akan terdapat jumlah elektron yang terdelokalisasi tetapi juga akan terjadi
lebih banyak dayatarik yang terjadi diantara mereka. Atom-atom magnesium memiliki jarijari yang sedikit lebih kecil dibandingkan atom-atom natrium dan karena itu elektron yang
terdelokalisasi lebih dekat ke inti. Tiap atom magnesium juga memiliki 12 atom terdekat
dibandingkan delapan yang dimiliki natrium. Faktor-faktor inilah yang meningkatkan
kekuatan ikatan secara lebih lanjut.
Ikatan logam pada unsur-unsur transisi
Logam transisi cenderung memiliki titik leleh dan titik didih yang tinggi. Alasannya adalah
logam transisi dapat melibatkan elektron 3d yang ada dalam kondisi delokalisasi seperti
elektron pada 4s. Lebih banyak elektron yang dapat kamu libatkan, kecenderungan
dayatarik yang lebih kuat akan kamu peroleh.
Ikatan logam pada leburan logam
Pada leburan logam, ikatan logam tetap ada, meskipun susunan strukturnya telah rusak.
Ikatan logam tidak sepernuhnya putus sampai logam mendidih. Hal ini berarti bahwa titik
didih merupakan penunjuk kekuatan ikatan logam dibandingkan dengan titik leleh. Pada
saat meleleh, ikatan menjadi longgar tetapi tidak putus
Ikatan Van der Waals
Dalam kimia fisik, van der Waals (atau van der Waals interaksi), setelah ilmuwan Belanda
bernama Johannes Diderik van der Waals, adalah menarik atau gaya tolak antara molekul
(atau antara bagian-bagian molekul yang sama) selain dari yang disebabkan oleh kovalen
obligasi atau ke interaksi elektrostatik ion dengan satu sama lain atau dengan molekul
netral. [1] Istilah meliputi:

* Gaya antara dipol permanen dan yang sesuai dipol terinduksi


* Seketika induced induced dipol-dipol (gaya Dispersi London).
Hal ini juga kadang-kadang digunakan secara longgar sebagai sinonim untuk totalitas gaya
antarmolekul. Van der Waals yang relatif lemah dibandingkan dengan ikatan kimia normal,
tapi memainkan peran mendasar dalam bidang yang berbeda seperti supramolekul kimia,
biologi struktural, polimer ilmu pengetahuan, teknologi nano, ilmu permukaan, dan fisika
benda terkondensasi. Van der Waals menentukan sifat kimia banyak senyawa organik.
Mereka juga menentukan kelarutan zat-zat organik di kutub dan non-polar media. Dalam
alkohol berat molekul rendah, sifat gugus hidroksil kutub mendominasi gaya antarmolekul
yang lemah van der Waals. Dalam alkohol berat molekul yang lebih tinggi, sifat rantai
hidrokarbon nonpolar (s) mendominasi dan menentukan kelarutan. Van der Waals tumbuh
dengan panjang nonpolar bagian dari substansi.

BAB IV
LAMBANG UNSUR, SENYAWA
DAN BENTUK MOLEKUL
Alam semesta ini mengandung zat yang jumlahnya tak terhitung. Ternyata semua zat
tersebut tersusun dari zat-zat dasar yang disebut dengan unsur. Unsur merupakan zat
tunggal yang tidak dapat diuraikan lagi menjadi zat-zat lain yang lebih sederhana dengan
reaksi kimia biasa (bukan reaksi nuklir).
Nama unsur
Dilingkungan kita banyak terdapat unsur yang mudah dikenal dan didapatkan. Arang yang
berwarna hitam, biasanya digunakan pensil dan untuk elektroda bateri merupakan unsur
yang diberi nama karbon. Beberapa logam yang ada disekitar anda merupakan unsur,
seperti: emas, besi, perak, aluminium, seng, tembaga. Hingga saat ini sudah ditemukan
110 buah unsur.
Kalau kita perhatikan, nama-nama unsur tersebut sangat menarik. Nama unsur diambil
dari nama suatu daerah, seperti germanium (Jerman), polonium (Polandia), Fransium
(Perancis), europium (Eropa), amerisium (Amerika), kalifornium (Kalifornia), stronsium
(Strontia, Scotlandia).
Beberapa nama diambil dari nama ilmuan, seperti: einstenium (Eistein), curium (Marie dan
Pierre Curie), fermium (Enrico Fermi), nobelium (Alfred Nobel). Beberapa nama diambil dari
astronomi, seperti: uranium (Uranus), plutonium (Pluto), neptunium (Neptunus), helium
(helios= matahari).

Nama unsur mulai nomor 104 menggunakan akar kata yang menyatakan nomor atom,
yaitu:
nil = 0, un = 1, bi = 2, tri = 3, quad =4, pent = 5, hex = 6, sept = 7, okt = 8, enn = 9.
Misalnya unsur dengan nomor 107:
1 = un
0 = nil
7 = sept
107 = un nil sept + ium = unilseptium (Uns)
Lambang Unsur
Untuk memudahkan mengingat dan menuliskan senyawa kimia, pada tahun 1813 Jons
Jacob Berzelius mengusulkan pemberian lambang berupa huruf untuk masing-masing
unsur.
Apakah huruf C, Au, Al, dan O memiliki arti bagi anda? Setiap huruf atau pasangan huruf
tersebut merupakan lambang kimia, yang digunakan untuk menuliskan sebuah unsur
secara singkat. Bahan hitam setelah kayu dibakar adalah karbon, lambangnya C. Emas
yang bayak digunakan sebagai perhiasan mempunyai lambang kimia Au. Beberapa Alat
dapur terbuat dari aluminium yang mempunyai lambang kimia Al.
Lambang unsur terdiri dari satu huruf besar atau satu huruf besar diikuti huruf kecil.
Beberapa lambang unsur diambil dari huruf pertama unsur tersebut, misalnya nitrogen (N),
oksigen (O), hidrogen (H). Mengapa emas diberi lambang Au? Au berasal dari nama latin
dari emas Aurum. Fe merupakan lambang unsur besi yang diambil dari Ferum, Ag
merupakan lambang perak yang diambil dari kata Argentum.

Tabel Unsur-unsur yang sudah ditemukan


Aturan dalam menuliskan lambang unsur:
1. Jika suatu unsur dilambangkan dengan satu huruf, maka harus digunakan huruf kapital,
misalnya oksigen (O), hidrogen (H), karbon (C).
2. Jika suatu unsur dilambangkan lebih satu huruf, maka huruf pertama menggunakan
huruf kapital dan huruf berikutnya menggunakan huruf kecil, misalnya seng (Zn), emas
(Au), tembaga (Cu). Kobalt dilambangkan Co, bukan CO. CO bukan lambang unsur, tetapi
lambang senyawa dari karbon monoksida yang tersusun dari unsur karbon (C) dan oksigen
(O).
Kesimpulan

1. Unsur merupakan zat tunggal yang tidak dapat diuraikan lagi menjadi zat-zat lain yang
lebih sederhana dengan reaksi kimia biasa.
2. Nama ilmiah unsur mempunyai asal usul yang bermacam-macam, misalnya nama
benua, nama tokoh, nama negara dan sebagainya.
3. Lambang unsur ditetapkan oleh International Union of Pure and Applied Chemistry
(IUPAC).

Bentuk-bentuk Molekul dan Ion


Halaman ini menjelaskan bagaimana caranya menyusun bentuk molekul dan ion yang
hanya mengandung ikatan tunggal.
Teori tolakan pasangan elektron
Bentuk molekul dan ion ditentukan oleh penataan pasangan elektron disekeliling atom
pusat. Semua yang kamu butuhkan untuk menyusunnya adalah seberapa banyak
pasanganelektron yang berada pada tingkat ikatan, dan kemudian tertatanya untuk
menghasilkan jumlah tolakan minimum antara pasangan elektron. Kamu juga perlu
memasukkan pasangan elektron ikatan dan pasangan elektron mandiri.
Bagaimana cara menyusun jumlah pasangan elektron
Kamu dapat melakukannya dengan menggambar titik-silang, atau dengan menyusun
atom-atom dengan menggunakan elektron dalam kotak dan mengkhawatirkan tentang
promosi, hibridisasi dan yang lainnya. Akan tetapi hal ini sangat membosankan! Kamu
dapat memperoleh informasi yang sama dengan tepat dengan cara yang lebih mudah dan
cepat untuk contoh-contoh yang akan kamu temukan.
Hal pertama yang perlu kamu susun adalah seberapa banyak elektron yang terdapat pada
sekeliling atom pusat:

Tuliskan jumlah elektron pada tingkat terluar dari atom pusat. Hal ini akan sama
dengan nomor grup pada tabel periodik, kecuali pada kasus gas mulia yang
membentuk senyawa, ketika jumlah elektron terluar menjadi delapan.

Tambahkan satu elektron untuk tiap ikatan yang terbentuk. (Hal ini diperbolehkan
untuk elektron yang berasal dari atom yang lain).

Berikan muatan untuk tiap ion. Sebagai contoh, jika ion memiliki muatan 1-,
tambahkan satu kelebihan elektron. Untuk muatan 1+, hilangkan satu elektron

Sekarang susun seberapa banyak pasangan elektron ikatan dan pasangan elektron mandiri
yang ada:

Dengan membagi dua untuk menemukan jumlah total pasangan elektron


disekeliling atom pusat.

Susun seberapa banyak pasangan ikatan, dan seberapa banyak pasangan elektron
mandiri. Kamu tahu seberapa banyak pasangan elektron ikatan yang ada karena

kamu mengetahui seberapa banyak atom yang lain yang bergabung dengan atom
pusat (dengan asumsi bahwa hanya terbentuk ikatan tunggal).
Sebagai contoh, jika kamu mempunyai 4 pasangan elektron tetapi hanya terdapat 3
ikatan, hal itu harus ada 1 pasangan elektron mandiri selain tiga pasangan elektron
ikatan
Akhirnya, kamu dapat menggunakan informasi ini untuk menyusun bentuk molekul atau
ion:

Susunlah semua pasangan elektron pada jarak yang mengalami tolakan minimum.
Bagaimana caranya melakukan hal ini akan menjadi jelas pada contoh-contoh
berikut.

Dua pasangan elektron disekeliling atom pusat


Kasus yang paling sederhana adalah berilium klorida, BeCl2. Perbedaan elektronegatifitas
antara berilium dan klor tidak cukup untuk menghasilkan pembentukan ion.
Berilium memiliki dua elektron terluar karena terletak pada golongan dua. Berilium
membentuk ikatan kepada dua klor, tiap atom klor menambhkan elektron yang lain ke
tingkat terluar dari berilium. Tidak terdapat muatan ionik yang perlu ditakutkan, karena itu
terdapat 4 elektron yang bersama-sama 2 pasang.
Hal ini membentuk 2 ikatan dan karena itu tidak terdapat pasangan elektron mandiri. Dua
pasangan ikatan tertata dengan sendirinya pada sudut 180o satu sama lain, karena hal ini
sebagai yang paling jauh yang dapat mereka capai. Molekul digambarkan dengan linear.

Tiga pasangan elektron disekeliling atom pusat


Kasus yang paling sederhana adalah BF3 atau BCl3.
Boron terletak pada golongan 3, karena itu dimulai dengan 3 elektron. Tidak terdapat
muatan, karena itu totalnya 6 elektron 3 pasang.
Karena boron membentuk 3 ikatan maka tidak terdapat pasangan elektron mandiri. Tiga
pasang ikatan tertata dengan sendirinya sejauh mungkin. Semuanya terletak dalam suatu
bidang yang memiliki sudut 120 satu sama lain. Susunan seperti ini disebut trigonal
planar.

Pada diagram, elektron yang lain pada fluor dapat dihilangkan karena tidak relevan dengan
ikatan
Empat pasangan elektron disekeliling atom pusat
Terdapat banyak contoh untuk ini. Yang paling sederhana adalah metana, CH4.
Karbon terletak pada golongan 4, dan karena itu memiliki 4 elektron terluar. Karbon
membentuk 4 ikatan dengan hidrogen, penambahan 4 elektron yang lain seluruhnya 8,
dalam 4 pasang. Karena membentuk 4 ikatan, semuanya harus menjadi pasangan ikatan.
Empat pasangan elektron tertata dengan sendirinya pada jarak yang disebut susunan
tetrahedral. Tetrahedron adalah piramida dengan dasar segitiga. Atom karbon terletak di
tengah-tengah dan hidrogen pada empat sudutnya. Semua sudut ikatan adalah 109.5.

Contoh lain dengan empat pasang elektron disekeliling atom pusat


Amonia, NH3
Nitrogen terletak pada golongan 5 dan karena itu memiliki 5 elektron terluar. Tiap-tiap
atom hidrogen yang tiga menambahkan elektron yang lain ke elektron nitrogen pada
tingkat terluar, menjadikannya total 8 elektron dalam 4 pasang. Karena nitrogen hanya
membentuk tiga ikatan, satu pasang harus menjadi pasangan elektron mandiri. Pasangan
elektron tertata dengan sendirinya pada bentuk tetrahedral seperti metana.

Pada kasus ini, Faktor tambahan masuk. Pasangan elektron mandiri terletak pada orbital
yang lebih pendek dan lebih bulat dibandingkan orbital yang ditempati pasangan elektron
ikatan. Karena hal ini, terjadi tolakan yang lebih besar antara pasangan elektron mandiri
dengan pasangan elektron ikatan dibandingkan antara dua pasangan elektron ikatan
Gaya pasangan elektron ikatan tersebut sedikt rapuh ? terjadi reduksi sudut ikatan dari
109.5o menjadi 107o. Ini tidak terlelu banyak, tetapi penguji akan mengharapkan kamu
mengetahuinya
Ingat ini:

Tolakan paling besar

pasangan mandiri pasangan mandiri

pasangan mandiri pasangan ikatan


Tolakan paling kecil

pasangan ikatan pasangan ikatan

Hati-hati ketika kamu menggambarkan bentuk amonia. Meskipun pasangan elektron


tersusun tetrahedral, ketika kamu menggambarkan bentuknya, kamu hanya
memperhatikan atom-atomnya. Amonia adalah piramidal seperti piramida dengan tiga
hidrogen pada bagian dasar dan nitrogen pada bagian puncak.
Air, H2O

Mengikuti logika yang sama dengan sebelumnya, kamu akan menemukan bahwa oksigen
memiliki empat pasang elektron, dua diantaranya adalah pasangan mandiri. Air juga akan
mengambil susunan tetrahedral. Saat ini sudut ikatan lebih sempit dari 104, karena
tolakan dua pasangan mandiri.
Bentuknya tidak dapat digambarkan dengan tetrahedral, karena kita hanya
melihat oksigen dan hidrogen ? bukan pasangan mandiri. Air digambarkan dengan
bengkok atau bentuk V.
Ion amonium, NH4+
Nitrogen memiliki 5 elektron terluar, ditambah 4 elektron dari empat hidrogen ? sehinga
totalnya jadi 9.
Tetapi hati-hati! Ion amonium adalah ion positif. Ion ini memiliki muatan +1 karena
kehilangan satu elektron. Sehingga tinggal 8 elektron pada tingkat terluar nitrogen. Karena
itu menjadi 4 pasangan, yang semuanya berikatan karena adanya empat hidrogen
Ion amonium memiliki bentuk yang sama dengan metana, karena ion amonium memiliki
susunan elektronik yang sama. NH4+ adalah tetrahedral

Metana dan ion amonium dikatakan isoelektronik. Dua spesi (atom, molekul atau ion)
dikatakan isoelektronik jika keduanya memiliki bilangan dan susunan elektron yang sama
(termasuk perbedaan antara pasangan ikatan dan pasangan mandiri).
Ion hidroksonium, H3O+

Oksigen terletak pada golongan 6 karena itu memiliki 6 elektron terluar. Tambahan tiap 1
atom hidrogen, memberikan 9. Ambil satu untuk ion +1, tinggal 8. Hal ini memberikan 4
pasang, 3 diantaranya adalah pasangan ikatan. Ion hidroksonium adalah isoelektronik
dengan amonia, dan memiliki bentuk yang identik piramidal.

Lima pasangan elektron disekeliling atom pusat


Contoh yang sederhana: fosfor(V) fluorida PF5
(Argumen untuk fosfor(V) klorida, PCl5, akan identik)
Fosfor (terletak pada golongan 5) memberikan kontribusi 5 elektron, dan lima fluor
memberikan 5 lagi, memberikan 10 elektron dengan 5 pasang disekeliling atom pusat.
Karena fosfor membentuk lima ikatan, tidak dapat membentuk pasangan mandiri.
Lima pasang elektron disusun dengan menggambarkan bentuk trigonal bipyramid -tiga
fluor terletak pada bidang 120o satu sama lain; dua yang lainnya terletak pada sudut
sebelah kanan bidang. Trigonal bipiramid karena itu memiliki dua sudut yang berbeda
120odan 90o.

Contoh yang rumit, ClF3


Klor terletak pada golongan 7 dan karena itu memiliki 7 elektron terluar. Tiga fluor masingmasing memberikan kontribusi 1 elektron, menghasilkan total 10 dalam 5 pasang. Klor
membentuk tiga ikatan ? meninggalkan 3 elektron ikatan dan 2 pasangan mandiri, yang
akan tersusun dengan sendirinya ke dalam bentuk trigonal bipiramida.
Akan tetapi jangan meloncat ke kesimpulan. Terdapat tiga cara yang dapat kamu lakukan
untuk menyususun 3 pasangan ikatan dan 2 pasangan mandiri menjadi bentuk trigonal
bipiramida. Susunan yang baik akan menjadi menghasilkan satu susunan dengan jumlah
minimum tolakan dan kamu tidak akan dapat menganbil keputusan tanpa
menggambarkannya terlebih dahulu semua kemungkinannya.

Hanya terdapat satu susunan memungkinkan. Sesuatu yang lain mungkin kamu pikirkan
sebagai satu yang sederhana pada perputaran dalam jarak tertentu.
Kita perlu menyusun susunan yang memiliki tolakan minimum diantara berbagai pasangan
elektron.
Aturan yang baru diterapkan pada kasus seperti ini:

Jika kamu mempunyai pasangan elektron lebih dari empat yang


disusun disekeliling atom pusat, kamu dapat mengabaikan tolakan
pada sudut yang lebih besar dari 90o.
Salah satu struktur yang memiliki jumlah tolakan besar yang jelas.

Pada diagram ini, dua pasangan mendiri terletak pada sudut 90o satu sama lain, dimana
pada kasus yang lain keduanya terletak pada sudut lebih besar dari 90 o, dan karena itu
tolakan dapat diabaikan. ClF3 memang tidak dapat disusun melalui bentuk ini karena
tolakan yang sangat kuat antara pasangan mandiri dengan pasangan mandiri.
Untuk memilih salah satu diantara dua, kamu perlu menghitung tolakan yang paling kecil.
Pada gambar berikutnya, tiap pasangan mandiri terletak pada sudut 90o terhadap 3
pasangan mandiri, dan karena itu tiap pasangan mandiri bertanggung jawab terhadap
tolakan 3 pasangan mandiri dengan pasangan ikatan.

Karena terdapat dua pasangan mandiri karena itu terdapat 6 tolakan pasangan mandiripasangan ikatan. Dan itu semuanya. Pasangan ikatan terletak pada sudut 120 o satu sama
lain, dan tolakannya dapat diabaikan.
Sekarang mempertimbangkan struktur akhir.

Tiap pasangan mandiri terletak pada sudut 90o terhadap 2 pasangan mandiri satu diatas
bidang dan yang lainnya dibawah bidang. Hal ini membuat total 4 tolakan pasangan
mandiri-pasangan ikatan ? dibandingkan dengan 6, hal tersebut memiliki tolakan relatif
kuat pada gambar yang terakhir. Fluor yang lain (satu pada bidang) terletak pada sudut
120o, dan merasakan tolakan yang tidak berarti dari pasangan mandiri.
Ikatan ke arah fluor pada bidang adalah 90o ke arah ikatan diatas dan dibawah bidang,
karena itu terdapat total 2 tolakan pasangan ikatan dengan pasangan ikatan.
Struktur dengan jumlah minimum tolakan adalah yang terakhir, karena tolakan pasangan
ikatan dengan pasangan ikatan lebih kecil dibandingkan tolakan pasangan mandiri dengan
pasangan ikatan. ClF3 digambarkan dengan bentuk T.
Enam pasangan elektron disekeliling atom pusat
Sebuah contoh yang sederhana: SF6
6 elektron pada tingkat terluar belerang, ditambah 1 dari masing-masing fluor,
menghasilkan total 12 dalam 6 pasangan. Karena belerang membentuk 6 ikatan,
semuanya adalah pasangan ikatan. Semuanya tertata dengan sendirinya pada sudut 90 o,
pada bentuk yang digambarkan dengan oktahedral.

Dua contoh yang sedikit lebih sulit


XeF4
Xenon dapat membentuk jajaran senyawa, terutama dengan fluor atau oksigen, dan
semuanya khas. Xenon memiliki 8 elektron terluar, ditambah 1 dari masing-masing fluor
menghasilkan 12, dalam 6 pasang. Semuanya akan membentuk empat pasang ikatan
(karena empat fluor) dan 2 pasangan mandiri.

Terdapat dua struktur yang memungkinkan, akan tetapi pada salah satunya terdapat
pasangan mandiri pada 90o. Malahan, beroposisi satu sama lain. XeF4 digambarkan dengan
bentuk square planar.
ClF4Klor terletak pada golongan 7 dan karena itu memiliki 7 elektron terluar. Ditambah 4 dari 4
fluor. Ditambah satu karena memiliki muatan +1. hal ini memberikan total 12 elektron
dalam 6 pasang 4 pasangan ikatan dan 2 pasangan mandiri. Bentuknya akan identik
dengan XeF4.

RUMUS KIMIA
Rumus kimia adalah rumus yang menyatakan lambang atom dan jumlah atom unsur yang
menyusun senyawa. Rumus kimia disebut juga rumus molekul, karena penggambaran
yang nyata dari jenis dan jumlah atom unsur penyusun senyawa yang bersangkutan.
Berbagai bentuk rumus kimia sebagai berikut:
1. Rumus kimia untuk molekul unsur monoatomik.
Rumus kimia ini merupakan lambang atom unsur itu sendiri.
Contoh :
Fe, Cu, He, Ne, Hg.
2. Rumus kimia untuk molekul unsur diatomik.
Rumus kimia ini merupakan penggabungan dua atom unsur yang sejenis dan saling
berikatan.
Contoh :
H2, O2, N2, Cl2, Br2, I2.
3. Rumus kimia untuk molekul unsur poliatomik.
Rumus kimia ini merupakan penggabungan lebih dari dua atom unsur yang sejenis dan
saling berikatan.
Contoh :
O3, S8, P4.
4. Rumus kimia untuk molekul senyawa ion
Merupakan rumus kimia yang dibentuk dari penggabungan antar atom yang bermuatan
listrik, yaitu ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Ion positif terbentuk karena
terjadinya pelepasan elektron (Na+, K+, Mg2+), sedangkan ion negatif terbentuk karena
penangkapan elektron (Cl-, S2-, SO42-).
Penulisan rumus kimia senyawa ion sebagai berikut.
Penulisan diawali dengan ion positif (kation) diikuti ion negatif (anion).
Pada kation dan anion diberi indeks, sehingga didapatkan senyawa yang bersifat
netral (jumlah muatan (+) = jumlah muatan (-)).
Bentuk umum penulisannya sebagai berikut.

Contoh :
Na+ dengan Cl- membentuk NaCl.
Mg2+ dengan Br- membentuk MgBr2.
Fe2+ dengan SO42- membentuk FeSO4.

5. Rumus kimia untuk senyawa biner nonlogam dengan nonlogam.


Penulisan rumus kimia ini berdasarkan kecenderungan atom yang bermuatan positif
diletakkan di depan, sedangkan kecenderungan atom bermuatan negatif diletakkan di
belakang menurut urutan atom berikut ini.
B Si C S As P- N H S I Br Cl O F
Contoh :
CO2, H2O, NH3.
6. Rumus kimia /rumus molekul senyawa organik.
Rumus ini juga menunjukkan jenis dan jumlah atom penyusun senyawa organik yang
berdasarkan gugus fungsi masing masing senyawa.
Contoh :
CH3COOH
: asam asetat
CH4 : metana (alkana)
C2H5OH
: etanol (alkohol)
7. Rumus kimia untuk senyawa anhidrat.
Anhidrat merupakan sebutan dari garam tanpa air kristal (kehilangan molekul air
kristalnya) atau H2O.
Contoh :
CaCl2 anhidrous atau CaCl2.2H2O.
CuSO4 anhidrous atau CuSO4.5H2O.
8. Rumus kimia untuk senyawa kompleks.
Penulisan rumus senyawa dan ion kompleks ditulis dalam kurung siku [...].
Contoh :
Na2[MnCl4]
[Cu(H2O)4](NO3)2
K4[Fe(CN)6]
RUMUS EMPIRIS
Rumus empiris merupakan rumus kimia yang menyatakan jenis dan perbandingan paling
sederhana (bilangan bulat terkecil) dari atom atom penyusun senyawa.
Contoh :
C12H22O11
(gula)
CH2O
(glukosa)
C2H6O
(alkohol)
CHO2
(asam oksalat)
RUMUS STRUKTUR
Rumus struktur merupakan rumus kimia yang menggambarkan posisi atau kedudukan
atom dan jenis ikatan antar atom pada molekul.
Rumus struktur ikatan.

Rumus struktur secara singkat dituliskan :


CH3CH3 dan CH3COOH
RUMUS BANGUN/BENTUK MOLEKUL
Adalah rumus kimia yang menggambarkan kedudukan atom secara geometri/ tiga dimensi
dari suatu molekul.

Penyetaraan reaksi kimia


Persamaan reaksi mempunyai sifat
1. Jenis unsur-unsur sebelum dan sesudah reaksi selalu sama
2. Jumlah masing-masing atom sebelum dan sesudah reaksi selalu sama
3. Perbandingan koefisien reaksi menyatakan perbandingan mol (khusus yang
berwujud gas perbandingan koefisien juga menyatakan perbandingan volume
asalkan suhu den tekanannya sama)
Contoh: Tentukanlah koefisien reaksi dari
HNO3 (aq) + H2S (g) NO (g) + S (s) + H2O (l)
Cara yang termudah untuk menentukan koefisien reaksinya adalah dengan memisalkan
koefisiennya masing-masing a, b, c, d dan e sehingga:
a HNO3 + b H2S c NO + d S + e H2O
Berdasarkan reaksi di atas maka
atom
atom
atom
atom

N : a = c (sebelum dan sesudah reaksi)


O : 3a = c + e 3a = a + e e = 2a
H : a + 2b = 2e = 2(2a) = 4a 2b = 3a b = 3/2 a
S : b = d = 3/2 a

Maka agar terselesaikan kita ambil sembarang harga misalnya a = 2 berarti: b = d = 3,


dan e = 4 sehingga persamaan reaksinya :
2 HNO3 + 3 H2S 2 NO + 3 S + 4 H2O

NAMA SENYAWA KIMIA


Senyawa ionik dinamai oleh kation diikuti dengan anion. Lihat ion poliatomik untuk daftar
kemungkinan ion.
Untuk kation yang mengambil berbagai tuduhan, tuduhan ini ditulis menggunakan angka
Romawi dalam tanda kurung segera setelah nama elemen) Sebagai contoh, Cu (NO3) 2
adalah tembaga (II) nitrat, karena tuduhan dua ion nitrat (NO3-1) adalah 2 -1 = -2, dan
karena muatan total ion dari senyawa harus nol, ion Cu 2 + charge. Oleh karena itu

senyawa ini tembaga (II) nitrat. Dalam kasus kation dengan bilangan oksidasi 4 +, format
yang dapat diterima untuk angka Romawi IV dan 4 adalah tidak IIII.
Angka Romawi pada kenyataannya menunjukkan bilangan oksidasi, namun dalam senyawa
ionik sederhana (yaitu, bukan kompleks logam) ini akan selalu sama dengan muatan ion
logam. Untuk gambaran sederhana melihat [1], untuk keterangan lebih lanjut lihat
halaman yang dipilih dari aturan penamaan IUPAC senyawa anorganik.
[sunting] Daftar nama-nama ion Common
Monoatomik anion:
Cl-klorida
S2-sulfida
P3-phosphide
Ion poliatomik:
NH4 + amonium
H3O + hydr-oxonium
NO3-nitrat
NO2-nitrit
ClO-hipoklorit
ClO2-klorit
ClO3-chlorate
ClO4-perklorat
SO32-sulfit
SO42-sulfat
HSO3-hidrogen sulfit (atau bisulfit)
HCO3-hidrogen karbonat (atau bikarbonat)
CO32-karbonat
PO43-fosfat
HPO42-hidrogen fosfat
H2PO4-dihidrogen fosfat
CrO42-kromat
Cr2O72-dikromat
BO33-borat
AsO43-arsenate
C2O42-oxalate
CN-sianida
SCN-tiosianat
MnO4-permanganat
Penamaan hydrates
Hydrates adalah senyawa ionik yang telah menyerap air. Mereka diberi nama sebagai
senyawa ionik diikuti oleh angka awalan dan-hidrat. Awalan numerik yang digunakan dapat
dilihat di bawah ini:
1. mono
2. di 3. tri 4. tetra 5. panca 6. heksa 7. hepta 8. Octa -

9. nona 10. deka Sebagai contoh, CuSO4 5H2O adalah "tembaga (II) sulfat pentahydrate".

Penamaan senyawa molekuler


Molekul senyawa anorganik dinamai dengan awalan (lihat daftar di atas) sebelum setiap
elemen. Unsur yang lebih elektronegatif ditulis terakhir dan dengan ide-akhiran. Sebagai
contoh, CO2 adalah karbon dioksida. Meskipun kadang-kadang disebut CCl 4 karbon
tetraklorida di bawah peraturan ini, bukan merupakan molekul anorganik dan lebih tepat
disebut tetrachloromethane. Ada beberapa pengecualian terhadap aturan, namun. Awalan
mono-tidak digunakan dengan elemen pertama misalnya, CO2 adalah karbon dioksida,
bukan "monocarbon dioksida". Kadang-kadang prefiks diperpendek ketika vokal akhir dari
awalan "konflik" dengan vokal awal di kompleks. Hal ini membuat senyawa lebih mudah
untuk bicara, misalnya, CO adalah "karbon monoksida" (sebagai lawan dari "monooxide").

Penamaan asam
Asam diberi nama oleh anion mereka terbentuk ketika dilarutkan dalam air. Jika bentuk
asam anion bernama ___ide, itu bernama hydro___ic asam. Sebagai contoh, asam klorida
membentuk anion klorida. Dengan sulfur Namun, seluruh kata yang disimpan bukan root:
yaitu: hydrosulfuric asam. Kedua, anion dengan akhiran-makan terbentuk ketika asam
dengan akhiran-ic yang terlarut, misalnya chloric asam (HClO3) terdisosiasi menjadi
chlorate anion untuk membentuk garam seperti natrium chlorate (NaClO 3); anion dengan
akhiran-ite terbentuk ketika asam-ous dengan akhiran yang dilarutkan dalam air, misalnya
chlorous asam (HClO2) disassociates ke klorit anion untuk membentuk garam seperti
natrium klorit (NaClO2).

HUKUM DASAR KIMIA


1. HUKUM KEKEKALAN MASSA = HUKUM LAVOISIER
Massa zat-zat sebelum dan sesudah reaksi adalah tetap.
Contoh:
hidrogen + oksigen hidrogen oksida
(4g)
(32g)
(36g)

2. HUKUM PERBANDINGAN TETAP = HUKUM PROUST


Perbandingan massa unsur-unsur dalam tiap-tiap senyawa adalah tetap
Contoh:
a. Pada senyawa NH3 : massa N : massa H
= 1 Ar . N : 3 Ar . H
= 1 (14) : 3 (1) = 14 : 3
b. Pada senyawa SO3 : massa S : massa 0
= 1 Ar . S : 3 Ar . O
= 1 (32) : 3 (16) = 32 : 48 = 2 : 3
Keuntungan dari hukum Proust:
bila diketahui massa suatu senyawa atau massa salah satu unsur yang membentuk
senyawa tersebut make massa unsur lainnya dapat diketahui.
Contoh:
Berapa kadar C dalam 50 gram CaCO3 ? (Ar: C = 12; 0 = 16; Ca=40)
Massa C = (Ar C / Mr CaCO3) x massa CaCO3
= 12/100 x 50 gram = 6 gram
massa C
Kadar C = massa C / massa CaCO3 x 100%
= 6/50 x 100 % = 12%

3. HUKUM PERBANDINGAN BERGANDA = HUKUM DALTON


Bila dua buah unsur dapat membentuk dua atau lebih senyawa untuk massa salah satu
unsur yang sama banyaknya maka perbandingan massa unsur kedua akan berbanding
sebagai bilangan bulat dan sederhana.
Contoh:
Bila unsur Nitrogen den oksigen disenyawakan dapat terbentuk,
NO dimana massa N : 0 = 14 : 16 = 7 : 8
NO2 dimana massa N : 0 = 14 : 32 = 7 : 16
Untuk massa Nitrogen yang same banyaknya maka perbandingan massa Oksigen pada
senyawa NO : NO2 = 8 :16 = 1 : 2
4. HUKUM-HUKUM GAS
Untuk gas ideal berlaku persamaan : PV = nRT
dimana:
P = tekanan gas (atmosfir)
V = volume gas (liter)
n = mol gas
R = tetapan gas universal = 0.082 lt.atm/mol Kelvin
T = suhu mutlak (Kelvin)

Perubahan-perubahan dari P, V dan T dari keadaan 1 ke keadaan 2 dengan kondisi-kondisi


tertentu dicerminkan dengan hukum-hukum berikut:

A. HUKUM BOYLE
Hukum ini diturunkan dari persamaan keadaan gas ideal dengan
n1 = n2 dan T1 = T2 ; sehingga diperoleh : P1 V1 = P2 V2
Contoh:
Berapa tekanan dari 0 5 mol O2 dengan volume 10 liter jika pada temperatur tersebut 0.5
mol NH3 mempunyai volume 5 liter den tekanan 2 atmosfir ?
Jawab:
P1 V1 = P2 V2
2.5 = P2 . 10 / P2 = 1 atmosfir

B. HUKUM GAY-LUSSAC
Volume gas-gas yang bereaksi den volume gas-gas hasil reaksi bile diukur pada suhu dan
tekanan yang sama, akan berbanding sebagai bilangan bulat den sederhana.
Jadi untuk: P1 = P2 dan T1 = T2 berlaku : V1 / V2 = n1 / n2
Contoh:
Hitunglah massa dari 10 liter gas nitrogen (N2 ) jika pd kondisi tersebut 1 liter gas hidrogen
(H2 ) massanya 0.1 g.
Diketahui: Ar untuk H = 1 dan N = 14
Jawab:
V1/V2 = n1/n2
10/1 = (x/28) / (0.1/2)
x = 14 gram
Jadi massa gas nitrogen = 14 gram.

C. HUKUM BOYLE-GAY LUSSAC


Hukum ini merupakan perluasan hukum terdahulu dan diturunkan dengan keadaan harga n
= n2 sehingga diperoleh persamaan:
P1. V1 / T1 = P2 . V2 / T2

D. HUKUM AVOGADRO
Pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas yang volumenya sama mengandung jumlah
mol yang sama. Dari pernyataan ini ditentukan bahwa pada keadaan STP (0o C 1 atm) 1
mol setiap gas volumenya 22.4 liter volume ini disebut sebagai volume molar gas.
Contoh:
Berapa volume 8.5 gram amoniak (NH3) pada suhu 27o C dan tekanan 1 atm ?
(Ar: H = 1 ; N = 14)
Jawab:
85 g amoniak = 17 mol = 0.5 mol
Volume amoniak (STP) = 0.5 x 22.4 = 11.2 liter
Berdasarkan persamaan Boyle-Gay Lussac:
P1 . V1 / T1 = P2 2 . V2 / T2
1 x 112.1 / 273 = 1 x V2 / (273 + 27)
V2 = 12.31 liter

BAB V

KONSEP MOL
Saat kita membeli apel atau daging kita selalu mengatakan kepada penjual berapa
kilogram yang ingin kita beli, demikian pula berapa liter saat kita ingin membeli minyak
tanah. Jarak dinyatakan dalam satuan meter atau kilometer. Ilmu kimia menggunakan
satuan mol untuk menyatakan satuan jumlah atau banyaknya materi.

Unsur dengan jumlah mol berbeda

Hubungan Mol dengan Tetapan Avogadro


Kuantitas atom, molekul dan ion dalam suatu zat dinyatakan dalam satuan mol. Misalnya,
untuk mendapatkan 18 gram air maka 2 gram gas hidrogen direaksikan dengan 16 gram
gas oksigen.
2H2O + O2 2H2O
Dalam 18 gram air terdapat 6,0231023 molekul air. Karena jumlah partikel ini sangat
besar maka tidak praktis untuk memakai angka dalam jumlah yang besar. Sehingga iistilah
mol diperkenalkan untuk menyatakan kuantitas ini. Satu mol adalah jumlah zat yang
mangandung partikel (atom, molekul, ion) sebanyak atom yang terdapat dalam 12 gram
karbon dengan nomor massa 12 (karbon-12, C-12). Jumlah atom yang terdapat dalam
12 gram karbon-12 sebanyak 6,021023 atom C-12. tetapan ini disebut tetapan Avogadro.
Tetapan Avogadro (L) = 6,021023 partikel/mol
Lambang L menyatakan huruf pertama dari Loschmidt, seorang ilmuwan austria yang pada
tahun 1865 dapat menentukan besarnya tetapan Avogadro dengan tepat. Sehingga,
1 mol emas

= 6,021023 atom emas

1 mol air

= 6,021023 atom air

1 mol gula

= 6,021023 molekul gula


1 mol zat X

= L buah partikel zat X

Hubungan Mol dengan Jumlah Partikel


Telah diketahui bahwa 1mol zat X = l buah partikel zat X, maka
2 mol zat X

= 2 x L partikel zat X

5 mol zat X

= 5 x L partikel zat X

n mol zat X

= n x L partikel zat X

Jumlah partikel = n x L
Contoh soal:
Berapa mol atom timbal dan oksigen yang dibutuhkan untuk membuat 5 mol timbal
dioksida (PbO2).
Jawab :
1 mol timbal dioksida tersusun oleh 1 mol timbal dan 2 mol atom oksigen (atau 1 mol
molekul oksigen, O2). Sehingga terdapat
Atom timbal

= 1 x 5 mol = 5 mol

Atom oksigen

= 2 x 5 mol = 10 mol (atau 5 mol molekul oksigen, O2)

Contoh soal
Berapa jumlah atom besi (Ar Fe = 56 g/mol) dalam besi seberat 0,001 gram.
Jawab

Massa Molar
Telah diketahui bahwa satu mol adalah jumlah zat yang mengandung partikel (atom,
molekul, ion) sebanyak atom yang terdapat dalam 12 gram karbon dengan nomor massa
12 (karbon-12, C-12). Sehingga terlihat bahwa massa 1 mol C-12 adalah 12 gram. Massa 1
mol zat disebut massa molar. Massa molar sama dengan massa molekul relatif (Mr) atau
massa atom relatif (Ar) suatu zat yang dinyatakan dalam gram.
Massa molar = Mr atau Ar suatu zat (gram)
Contoh:

Massa dan Jumlah Mol Atom/Molekul


Hubungan mol dan massa dengan massa molekul relatif (Mr) atau massa atom relatif (Ar)
suatu zat dapat dicari dengan

Gram = mol x Mr atau Ar


Contoh soal:
Berapa mol besi seberat 20 gram jika diketahui Ar Fe = 56 g/mol
Jawab :
Besi tersusun oleh atom-atom besi, maka jumlah mol besi

Contoh soal :
Berapa gram propana C3H8 dalam 0,21 mol jika diketahui Ar C = 12 dan H = 1
Jawab:
Mr Propana = (3 x 12) + (8 x 1) = 33 g/mol, sehingga,
gram propana = mol x Mr = 0,21 mol x 33 g/mol = 9,23 gram

Volume Molar
Avogadro mendapatkan hasil dari percobaannya bahwa pada suhu 0C (273 K) dan
tekanan 1 atmosfir (76cmHg) didapatkan tepat 1 liter oksigen dengan massa 1,3286 gram.
Maka,

Karena volume gas oksigen (O2) = 1 liter,

Pengukuran dengan kondisi 0C (273 K) dan tekanan 1 atmosfir (76cmHg) disebut juga
keadaan STP(Standard Temperature and Pressure). Pada keadaan STP, 1 mol gas oksigen
sama dengan 22,3 liter.
Avogadro yang menyata-kan bahwa pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas yang
bervolume sama mengandung jumlah molekul yang sama. Apabila jumlah molekul sama
maka jumlah molnya akan sma. Sehingga, pada suhu dan tekanan yang sama, apabila
jumlah mol gas sama maka volumenyapun akan sama. Keadaan standar pada suhu dan
tekanan yang sma (STP) maka volume 1 mol gas apasaja/sembarang berharga sama yaitu
22,3 liter. Volume 1 mol gas disebut sebagai volume molar gas (STP) yaitu 22,3 liter/mol.

Penggunaan Mol
Dalam subbab ini kita tekankan hubungan antara mol dengan massa dan volume yang
didasarkan pada rumus kimia. Apakah untuk membuat obat-obatan, memperoleh logamlogam dari bijihnya, mempelajari pembakaran bahan bakar roket, mensintesis senyawasenyawa baru, atau menguji hipotesis, ahli-ahli kimia juga memerlukan pertimbangan mol
dan massa yang berhubungan dengan reaksi-reaksi kimia. Hubungan tersebut diperoleh
dari
persamaan kimia.
1. Penggunaan Massa Molar dalam Stoikiometri
Perhatikan reaksi pembakaran metana di udara untuk membentuk karbondioksida dan air,
dengan persamaan reaksi berikut.
CH4 (g) + 2 O 2 (g) CO2 (g) + 2 H2O (l)
Koefisien reaksi dengan konsep mol merupakan angka banding mol zat yang tepat
bereaksi dengan mol zat yang terjadi. Sehingga dalam reaksi pembakaran metana, dapat
dinyatakan sebagai:
1 mol CH4 tepat bereaksi dengan 2 mol O2
1 mol CO2 dihasilkan untuk setiap 1 mol CH4 yang bereaksi
2 mol H2O dihasilkan untuk setiap 1 mol CO2 yang dihasilkan.
Selanjutnya, kita dapat mengubah pernyataan tersebut ke dalam factor konversi yang
diketahui sebagai faktor-faktor stoikiometri. Faktor stoikiometri berhubungan dengan zatzat yang terlibat dalam reaksi kimia yang didasarkan pada mol.

Metana merupakan komponen utama dari gas alam


Walaupun mol penting dalam dasar perhitungan persamaan kimia, kita tidak mengukur
jumlah molar secara langsung. Kita menghubungkannya dengan jumlah tersebut bila
mengukur massa dalam gram atau kilogram, volume dalam mililiter atau liter dan
seterusnya. Jika jumlah zat-zat diketahui massanya, kita dapat menggunakan 4 tahap
pendekatan seperti dibawah ini:
Tahap 1. Tulislah persamaan reaksi yang sudah disetarakan
Tahap 2. Ubahlah gram menjadi mol menggunakan massa molarnya
(untuk reaktan dan produk)
Tahap 3. Faktor stoikiometri diperoleh dari persamaan yang telah disetarakan untuk
perubahan dari mol zat-zat yang dimaksud
Tahap 4. Gunakan massa molar untuk mengubah mol zat yang diinginkan menjadi massa
dari zat tersebut
Kita gambarkan 4 tahap pendekatan di atas dalam diagram berikut.

Hubungan Stoikiometri dari massa reaktan (A) dan produk (B) pada persamaan kimia.

Contoh Soal
Amonia, NH3 umumnya digunakan sebagai pupuk, dibuat dari reaksi antara hidrogen dan
nitrogen dengan hati-hati pada temperatur dan
tekanan tinggi. Berapa gram amonia dapat dibuat dari 60 gram hidrogen?
Penyelesaian
Tahap 1. Menulis persamaan reaksi yang setara N2 + 3 H2 2 NH3
Tahap 2. Mengubah massa yang diketahui dari reaktan (H 2) menjadi mol
Tahap 3. Menggunakan koefisien dari persamaan yang telah setara untuk menentukan
faktor stoikiometri yang
berhubungan dengan amonia dan hidrogen
Tahap 4. Mengubah dari mol amonia menjadi massa dari amonia
Dari semua tahap diatas, dapat digabungkan menjadi satu tahapan, sebagai berikut

2. Penggunaan Volume Molar dalam Stoikiometri


Berdasarkan prinsip Avogadro dapat diketahui bahwa pada suhu dan tekanan sama, 1 mol
gas apa saja akan mempunyai volume yang sama. Secara eksperimen telah diperoleh
bahwa volume rata-rata yang dimiliki
gas pada suhu dan tekanan standar (STP), yaitu suhu 00C dan tekanan 1 atm adalah 22,4
dm3 dengan anggapan gas ini adalah ideal. Volume ini dikenal sebagai volume molar.
Namun, untuk volume gas gas nyata
harganya berbeda-beda ..
Tabel Volume Molar dari Berbagai Gas Nyata pada STP Zat Volume Molar (liter)

Suatu eksperimen menunjukkan bahwa pada kondisi yang sama, 1 mol gas ideal (22,4 L),
ternyata lebih besar dari volume bola basket seperti dalam gambar di bawah ini. Seperti
massa molar, volume molar juga digunakan dalam perhitungan stoikiometri.

Perbandingan volume molar pada STP (hampir sama dengan 22,4 L) dengan bola basket
Contoh Soal
Gas karbon dioksida bereaksi dengan litium hidroksida, dengan reaksi sebagai berikut.
CO2 (g) + 2 LiOH (s) Li2CO3 (s) + H2O (g)
Berapa gram litium hidroksida yang diperlukan untuk bereaksi dengan 500 L gas karbon
dioksida pada 101 tekanan kPa dan 250C?
Penyelesaian
Untuk menyelesaikan soal ini dilakukan dalam beberapa langkah.
Pertama, volume gas pada 250C dapat dikonversi pada volume STP, untuk
mencari jumlah mol CO2.

Kedua, menggunakan koefisien dari persamaan yang telah setara untuk menentukan
faktor stoikiometri yang berhubungan dengan litium hidroksida dan karbon dioksida

Dari semua tahap diatas, dapat digabungkan menjadi satu tahapan, sebagai berikut

BAB VI
REAKSI KIMIA

Reaksi kimia adalah suatu proses alam yang selalu menghasilkan antarubahan senyawa
kimia. Senyawa ataupun senyawa-senyawa awal yang terlibat dalam reaksi disebut
sebagai reaktan. Reaksi kimia biasanya dikarakterisasikan dengan perubahan kimiawi, dan
akan menghasilkan satu atau lebih produk yang biasanya memiliki ciri-ciri yang berbeda
dari reaktan. Secara klasik, reaksi kimia melibatkan perubahan yang melibatkan
pergerakan elektron dalam pembentukan dan pemutusan ikatan kimia, walaupun pada
dasarnya konsep umum reaksi kimia juga dapat diterapkan pada transformasi partikelpartikel elementer seperti pada reaksi nuklir.

Reaksi-reaksi kimia yang berbeda digunakan bersama dalam sintesis kimia untuk
menghasilkan produk senyawa yang diinginkan. Dalam biokimia, sederet reaksi kimia yang
dikatalisis oleh enzim membentuk lintasan metabolisme, di mana sintesis dan dekomposisi
yang biasanya tidak mungkin terjadi di dalam sel dilakukan.
Jenis-jenis reaksi
Beragamnya reaksi-reaksi kimia dan pendekatan-pendekatan yang dilakukan dalam
mempelajarinya mengakibatkan banyaknya cara untuk mengklasifikasikan reaksi-reaksi
tersebut, yang sering kali tumpang tindih. Di bawah ini adalah contoh-contoh klasifikasi
reaksi kimia yang biasanya digunakan.
Isomerisasi, yang mana senyawa kimia menjalani penataan ulang struktur tanpa
perubahan pada kompoasisi atomnya
Kombinasi langsung atau sintesis, yang mana dua atau lebih unsur atau senyawa
kimia bersatu membentuk produk kompleks:
N2 + 3 H2 2 NH3
Dekomposisi kimiawi atau analisis, yang mana suatu senyawa diurai menjadi
senyawa yang lebih kecil:
2 H2O 2 H2 + O2
Penggantian tunggal atau substitusi, dikarakterisasikan oleh suatu unsur digantikan
oleh unsur lain yang lebih reaktif:
2 Na(s) + 2 HCl(aq) 2 NaCl(aq) + H2(g)
Metatesis atau Reaksi penggantian ganda, yang mana dua senyawa saling
berganti ion atau ikatan untuk membentuk senyawa yang berbeda:
NaCl(aq) + AgNO3(aq) NaNO3(aq) + AgCl(s)
Reaksi asam basa, secara luas merupakan reaksi antara asam dengan basa. Ia
memiliki berbagai definisi tergantung pada konsep asam basa yang digunakan.
Beberapa definisi yang paling umum adalah:
o Definisi Arrhenius: asam berdisosiasi dalam air melepaskan ion H3O+; basa
berdisosiasi dalam air melepaskan ion OH-.
o Definisi Brnsted-Lowry: Asam adalah pendonor proton (H+) donors; basa
adalah penerima (akseptor) proton. Melingkupi definisi Arrhenius.
o Definisi Lewis: Asam adalah akseptor pasangan elektron; basa adalah
pendonor pasangan elektron. Definisi ini melingkupi definisi Brnsted-Lowry.
Reaksi redoks, yang mana terjadi perubahan pada bilangan oksidasi atom senyawa
yang bereaksi. Reaksi ini dapat diinterpretasikan sebagai transfer elektron. Contoh
reaksi redoks adalah:
2 S2O32(aq) + I2(aq) S4O62(aq) + 2 I(aq)

Yang mana I2 direduksi menjadi I- dan S2O32- (anion tiosulfat) dioksidasi menjadi
S4O62-.
Pembakaran, adalah sejenis reaksi redoks yang mana bahan-bahan yang dapat
terbakar bergabung dengan unsur-unsur oksidator, biasanya oksigen, untuk
menghasilkan panas dan membentuk produk yang teroksidasi. Istilah pembakaran
biasanya digunakan untuk merujuk hanya pada oksidasi skala besar pada
keseluruhan molekul. Oksidasi terkontrol hanya pada satu gugus fungsi tunggal
tidak termasuk dalam proses pembakaran.
C10H8+ 12 O2 10 CO2 + 4 H2O
CH2S + 6 F2 CF4 + 2 HF + SF6
Disproporsionasi, dengan satu reaktan membentuk dua jenis produk yang berbeda
hanya pada keadaan oksidasinya.
2 Sn2+ Sn + Sn4+
Reaksi organik, melingkupi berbagai jenis reaksi yang melibatkan senyawa-senyawa
yang memiliki karbon sebagai unsur utamanya.
Reaksi Kimia adalah peristiwa perubahan kimia dari zat-zat yang bereaksi (reaktan)
berubah menjadi zat-zat hasil reaksi (produk)

Ciri-Ciri Reaksi Kimia adalah:


1. Terjadi Perubahan Warna
2. Terjadi Perubahan Suhu
3. Terjadi Perubahan Endapan
4. Terjadi Pembentukan Gas

KONSEP OKSIDASI-REDUKSI
Pengertian Bilangan Oksidasi
Dengan bilangan oksidasi akan mempermudah dalam pengerjaan reduksi atau oksidasi
dalam suatu reaksi redoks.
Kita akan membuat contoh dari Vanadium. Vanadium membentuk beberapa ion, V 2+ dan
V3+. Bagaimana ini bisa terjadi? Ion V2+ akan terbentuk dengan mengoksidasi logam,
dengan memindahkan 2 elektron:

Vanadium kini disebut mempunyai biloks +2.

Pemindahan satu elektron lagi membentuk ion V3+:

Vanadium kini mempunyai biloks +3.


Pemindahan elektron sekali lagi membentuk bentuk ion tidak biasa, VO 2+.

Biloks vanadium kini adalah +4. Perhatikan bahwa biloks tidak didapat hanya dengan
menghitung muatan ion (tapi pada kasus pertama dan kedua tadi memang benar).
Bilangan oksidasi positif dihitung dari total elektron yang harus dipindahkan-mulai dari
bentuk unsur bebasnya.
Vanadium biloks +5 juga bisa saja dibentuk dengan memindahkan elektron kelima dan
membentuk ion baru.

Setiap kali vanadium dioksidasi dengan memindahkan satu elektronnya, biloks vanadium
bertambah 1.
Sebaliknya, jika elektron ditambahkan pada ion, biloksnya akan turun. Bahkan dapat
didapat lagi bentuk awal atau bentuk bebas vanadium yang memiliki biloks nol.
Bagaimana jika pada suatu unsur ditambahkan elektron? Ini tidak dapat dilakukan pada
vanadium, tapi dapat pada unsur seperti sulfur.

Ion sulfur memiliki biloks -2.

Kesimpulan
Biloks menunjukkan total elektron yang dipindahkan dari unsur bebas (biloks positif) atau
ditambahkan pada suatu unsur (biloks negatif) untuk mencapai keadaan atau bentuknya
yang baru.
Oksidasi melibatkan kenaikan bilangan oksidasi
Reduksi melibatkan penurunan bilangan oksidasi
Dengan memahami pola sederhana ini akan mempermudah pemahaman tentang konsep
bilangan oksidasi. Jika anda mengerti bagaimana bilangan oksidasi berubah selama reaksi,
anda dapat segera tahu apakah zat dioksidasi atau direduksi tanpa harus mengerjakan
setengah-reaksi dan transfer elektron.

Mengerjakan bilangan oksidasi


Biloks tidak didapat dengan menghitung jumlah elektron yang ditransfer. Karena itu
membutuhkan langkah yang panjang. Sebaliknya cukup dengan langkah yang sederhana,
dan perhitungan sederhana.
E Biloks dari unsur bebas adalah nol. Itu karena unsur bebas belum mengalami oksidasi
atau reduksi. Ini berlaku untuk semua unsur, baik unsur dengan struktur sederhana seperti
Cl2 atau S8, atau unsur dengan struktur besar seperti karbon atau silikon.
* Jumlah biloks dari semua atom atau ion dalam suatu senyawa netral adalah nol.
* Jumlah biloks dari semua atom dalam suatu senyawa ion sama dengan jumlah muatan
ion tersebut.
* Unsur dalam senyawa yang lebih elektronegatif diberi biloks negatif. Yang kurang
elektronegatif diberi biloks positif. Ingat, Fluorin adalah unsur paling elektronegatif,
kemudian oksigen.
* Beberapa unsur hampir selalu mempunyai biloks sama dalam senyawanya:
unsur

Bilangan
Oksidasi

Pengecualian

Gol IA

selalu +1

Gol IIA

selalu +2

Oksigen

biasanya -2

Kecuali dalam peroksida dan F2O (lihat dibawah)

Hidrogen

biasanya +1

Kecuali dalam hidrida logam, yaitu -1 (lihat dibawah)

Fluorin

selalu -1

Klorin

biasanya -1

Kecuali dalam persenyawaan dengan O atau F (lihat


dibawah)

Alasan pengecualian
Hidrogen dalam hidrida logam
Yang termasuk hidrida logam antara lain natrium hidrida, NaH. Dalam senyawa ini,
hidrogen ada dalam bentuk ion hidrida, H-. Biloks dari ion seperti hidrida adalah sama
dengan muatan ion, dalam contoh ini, -1.
Dengan penjelasan lain, biloks senyawa netral adalah nol, dan biloks logam golongan I
dalam senyawa selalu +1, jadi biloks hidrogen haruslah -1 (+1-1=0).
Oksigen dalam peroksida

Yang termasuk peroksida antara lain, H2O2. Senyawa ini adalah senyawa netral, jadi jumlah
biloks hidrogen dan oksigen harus nol.
Karena tiap hidrogen memiliki biloks +1, biloks tiap oksigen harus -1, untuk mengimbangi
biloks hidrogen.
Oksigen dalam F2O
Permasalahan disini adalah oksigen bukanlah unsur paling elektronegatif. Fluorin yang
paling elektronegatif dan memiliki biloks -1. Jadi biloks oksigen adalah +2.
Klorin dalam persenyawaan dengan fluorin atau oksigen
Klorin memiliki banyak biloks dalam persenyawaan ini. Tetapi harus diingat, klorin tidak
memiliki biloks -1 dalam persenyawaan ini.

Contoh soal bilangan oksidasi


Apakah bilangan oksidasi dari kromium dalam Cr2+?
Untuk ion sederhana seperti ini, biloks adalah jumlah muatan ion, yaitu +2 (jangan lupa
tanda +)
Apakah bilangan oksidasi dari kromium dalam CrCl3?
CrCl3 adalah senyawa netral, jadi jumlah biloksnya adalah nol. Klorin memiliki biloks -1.
Misalkan biloks kromium adalah n:
n + 3 (-1) = 0
n = +3
Apakah bilangan oksidasi dari kromium dalam Cr(H2O)63+?
Senyawa ini merupakan senyawa ion, jumlah biloksnya sama dengan muatan ion. Ada
keterbatasan dalam mengerjakan biloks dalam ion kompleks seperti ini dimana ion logam
dikelilingi oleh molekul-molekul netral seperti air atau amonia.
Jumlah biloks dari molekul netral yang terikat pada logam harus nol. Berarti molekulmolekul tersebut dapat diabaikan dalam mengerjakan soal ini. Jadi bentuknya sama seperti
ion kromium yang tak terikat molekul, Cr3+. Biloksnya adalah +3.
Apakah bilangan oksidasi dari kromium dalam ion dikromat, Cr2O72-?
Biloks oksigen adalah -2, dan jumlah biloks sama dengan jumlah muatan ion. Jangan lupa
bahwa ada 2 atom kromium.
2n + 7(-2) = -2
n = +6
Apakah bilangan oksidasi dari tembaga dalam CuSO4?

Dalam mengerjakan soal oksidasi tidak selalu dapat memakai cara sederhana seperti
diatas. Permasalahan dalam soal ini adalah dalam senyawa terdapat dua unsur (tembaga
dan sulfur) yang biloks keduanyadapat berubah.
Ada dua cara dalam memecahkan soal ini:
E Senyawa ini merupakan senyawa ionik, terbentuk dari ion tembaga dan ion sulfat, SO 42-,
untuk membentuk senyawa netral, ion tembaga harus dalam bentuk ion 2+. Jadi biloks
tembaga adalah +2.
E Senyawa ini juga dapat ditulis tembaga(II)sulfat. Tanda (II) menunjukkan biloksnya
adalah 2. Kita dapat mengetahui bahwa biloksnya adalah +2 dari logam tembaga
membentuk ion positif, dan biloks adalah muatan ion.

Menggunakan bilangan oksidasi


Dalam penamaan senyawa
Anda pasti pernah tahu nama-nama ion seperti besi(II)sulfat dan besi(III)klorida. Tanda (II)
dan (III) merupakan biloks dari besi dalam kedua senyawa tersebut: yaitu +2 dan +3. Ini
menjelaskan bahwa senyawa mengandung ion Fe2+ dan Fe3+.
Besi(II)sulfat adalah FeSO4. Ada juga senyawa FeSO3 dengan nama klasik besi(II)sulfit.
Nama modern menunjukkan biloks sulfur dalam kedua senyawa.
Ion sulfat yaitu SO42-. Biloks sulfur adalah +6. Ion tersebut sering disebut ion sulfat(VI).
Ion sulfit yaitu SO32-. Biloks sulfur adalah +4. Ion ini sering disebut ion sulfat(IV). Akhiran
-at menunjukkan sulfur merupakan ion negatif.
Jadi lengkapnya FeSO4 disebut besi(II)sulfat(VI), dan FeSO3 disebut besi(II)sulfat(IV). Tetapi
karena kerancuan pada nama-nama tersebut, nama klasik sulfat dan sulfit masih
digunakan.
Menggunakan bilangan oksidasi untuk menentukan yang dioksidasi dan yang
direduksi.
Ini merupakan aplikasi bilangan oksidasi yang paling umum. Seperti telah dijelaskan:
Oksidasi melibatkan kenaikan bilangan oksidasi
Reduksi melibatkan penurunan bilangan oksidasi
Pada contoh berikut ini, kita harus menentukan apakah reaksi adalah reaksi redoks, dan
jika ya apa yang dioksidasi dan apa yang direduksi.
Contoh 1:
Reaksi antara magnesium dengan asam hidroklorida:

Apakah ada biloks yang berubah? Ya, ada dua unsur yang berupa senyawa pada satu sisi
reaksi dan bentuk bebas pada sisi lainnya. Periksa semua biloks agar lebih yakin.

Biloks magnesium naik, jadi magnesium teroksidasi. Biloks hidrogen turun, jadi hidrogen
tereduksi. Klorin memiliki biloks yang sama pada kedua sisi persamaan reaksi, jadi klorin
tidak teroksidasi ataupun tereduksi.
Contoh 2:
Reaksi antara natrium hidroksidsa dengan asam hidroklorida:

Semua bilangan oksidasi diperiksa:

Ternyata tidak ada biloks yang berubah. Jadi, reaksi ini bukanlah reaksi redoks.
Contoh 3:
Reaksi antara klorin dan natrium hidroksida encer dingin:

Jelas terlihat, biloks klorin berubah karena berubah dari undur bebas menjadi dalam
persenyawaan. Bilangan oksidasi diperiksa:

Klorin ternyata satu-satunya unsur yang mengalami perubahan biloks. Lalu, klorin
mengalami reduksi atau oksidasi? Jawabannya adalah keduanya. Satu atom klorin
mengalami reduksi karena biloksnya turun, atom klorin lainnya teroksidasi.

Peristiwa seperti ini disebut reaksi disproporsionasi. Reaksi disproporsionasi yaitu reaksi
dimana satu unsur mengalami oksidasi maupun reduksi.
Menggunakan bilangan oksidasi untuk mengerjakan proporsi reaksi
Bilangan oksidasi dapat berguna dalam membuat proporsi reaksi dalam reaksi titrasi,
dimana tidak terdapat informasi yang cukup untuk menyelesaikan persamaan reaksi yang
lengkap.
Ingat, setiap perubahan 1 nilai biloks menunjukkan bahwa satu elektron telah ditransfer.
Jika biloks suatu unsur dalam reaksi turun 2 nilai, berarti unsur tersebut memperoleh 2
elektron.
Unsur lain dalam reaksi pastilah kehilangan 2 elektron tadi. Setiap biloks yang turun, pasti
diikuti dengan kenaikan yang setara biloks unsur lain.
Ion yang mengandung cerium dengan biloks +4 adalah zat pengoksidasi (rumus molekul
rumit, tidak sekedar Ce4+). Zat tersebut dapat mengoksidasi ion yang mngandung
molybdenum dari biloks +2 menjadi +6. Biloks cerium menjadi +3 ( Ce 4+). Lalu, bagaimana
proporsi reaksinya?
Biloks molybdenum naik sebanyak 4 nilai. Berarti biloks cerium harus turun sebanyak 4
nilai juga.
Tetapi biloks cerium dalam tiap ionnya hanya turun 1 nilai, dari +4 menjadi +3. Jadi jelas
setidaknya harus ada 4 ion cerium yang terlibat dalam setiap reaksi dengan molybdenum
ini.
Proporsi reaksinya adalah 4 ion yang mengandung cerium dengan 1 ion molybdenum.

OKSIDASI DAN REDUKSI


Pengertian oksidasi dan reduksi disini lebih melihat dari segi transfer oksigen, hidrogen
dan elektron. Disini akan juga dijelaskan mengenai zat pengoksidasi (oksidator) dan zat
pereduksi (reduktor).
Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer oksigen
Dalam hal transfer oksigen, Oksidasi berarti mendapat oksigen, sedang Reduksi adalah
kehilangan oksigen.
Sebagai contoh, reaksi dalam ekstraksi besi dari biji besi:

Karena reduksi dan oksidasi terjadi pada saat yang bersamaan, reaksi diatas disebut
reaksi REDOKS.
Zat pengoksidasi dan zat pereduksi
Oksidator atau zat pengoksidasi adalah zat yang mengoksidasi zat lain. Pada contoh reaksi
diatas, besi(III)oksida merupakan oksidator.
Reduktor atau zat pereduksi adalah zat yang mereduksi zat lain. Dari reaksi di atas, yang
merupakan reduktor adalah karbon monooksida.
Jadi dapat disimpulkan:

oksidator adalah yang memberi oksigen kepada zat lain,

reduktor adalah yang mengambil oksigen dari zat lain

Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer hidrogen


Definisi oksidasi dan reduksi dalam hal transfer hidrogen ini sudah lama dan kini tidak
banyak digunakan.
Oksidasi berarti kehilangan hidrogen, reduksi berarti mendapat hidrogen.
Perhatikan bahwa yang terjadi adalah kebalikan dari definisi pada transfer oksigen.
Sebagai contoh, etanol dapat dioksidasi menjadi etanal:

Untuk memindahkan atau mengeluarkan hidrogen dari etanol diperlukan zat pengoksidasi
(oksidator). Oksidator yang umum digunakan adalah larutan kalium dikromat(IV) yang
diasamkan dengan asam sulfat encer.
Etanal juga dapat direduksi menjadi etanol kembali dengan menambahkan hidrogen.
Reduktor yang bisa digunakan untuk reaksi reduksi ini adalah natrium tetrahidroborat,
NaBH4. Secara sederhana, reaksi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Zat pengoksidasi (oksidator) dan zat pereduksi (reduktor)

Zat pengoksidasi (oksidator) memberi oksigen kepada zat lain, atau memindahkan
hidrogen dari zat lain.

Zat pereduksi (reduktor) memindahkan oksigen dari zat lain, atau memberi
hidrogen kepada zat lain.

Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer elektron


Oksidasi berarti kehilangan elektron, dan reduksi berarti mendapat elektron.
Definisi ini sangat penting untuk diingat. Ada cara yang mudah untuk membantu anda
mengingat definisi ini. Dalam hal transfer elektron:

Contoh sederhana
Reaksi redoks dalam hal transfer elektron:

Tembaga(II)oksida dan magnesium oksida keduanya bersifat ion. Sedang dalam bentuk
logamnya tidak bersifat ion. Jika reaksi ini ditulis ulang sebagai persamaan reaksi ion,
ternyata ion oksida merupakan ion spektator (ion penonton).

Jika anda perhatikan persamaan reaksi di atas, magnesium mereduksi iom tembaga(II)
dengan memberi elektron untuk menetralkan muatan tembaga(II).
Dapat dikatakan: magnesium adalah zat pereduksi (reduktor).
Sebaliknya, ion tembaga(II) memindahkan elektron dari magnesium untuk menghasilkan
ion magnesium. Jadi, ion tembaga(II) beraksi sebagai zat pengoksidasi (oksidator).
Memang agak membingungkan untuk mempelajari oksidasi dan reduksi dalam hal transfer
elektron, sekaligus mempelajari definisi zat pengoksidasi dan pereduksi dalam hal transfer
elektron.
Dapat disimpulkan sebagai berikut, apa peran pengoksidasi dalam transfer elektron:

Zat pengoksidasi mengoksidasi zat lain.

Oksidasi berarti kehilangan elektron (OIL RIG).

Itu berarti zat pengoksidasi mengambil elektron dari zat lain.

Jadi suatu zat pengoksidasi harus mendapat elektron

Atau dapat disimpulkan sebagai berikut:

Suatu zat pengoksidasi mengoksidasi zat lain.

Itu berarti zat pengoksidasi harus direduksi.

Reduksi berarti mendapat elektron (OIL RIG).

Jadi suatu zat pengoksidasi harus mendapat elektron.

PENYETARAAN REDOKS
Langkah-langkah penyetaraan reaksi redoks
1. Cara bilangan oksidasi
1. Tentukan mana reaksi oksidasi dan reduksinya
2. Tentukan penurunan Bilangan Oksidasi dari oksidator dan kenaikan Bilangan
Oksidasi dari reduktor.
3. Jumlah elektron yang diterima dan yang dilepaskan perlu disamakan dengan
mengalikan terhadap suatu faktor.
4. Samakan jumlah atom oksigen di kanan dan kiri reaksi terakhir jumlah atom
hidrogen di sebelah kanan dan kiri reaksi.
2. Cara setengah reaksi
1. Tentukan mana reaksi oksidasi dan reduksi
2. Reaksi oksidasi dipisah- kan dari reaksi reduksi
3. Setarakan ruas kanan dan kiri untuk jumlah atom yang mengalami
perubahan Bilangan Oksidasi untuk reaksi yang jumlah atom-atom kanan
dan kiri sudah sama, setarakan muatan listriknya dengan menambahkan
elektron.
4. Untuk reaksi yang jumlah atom oksigen di kanan dan kiri belum sama
setarakan kekurangan oksigen dengan menambahkan sejumlah H 2O sesuai
dengan jumlah kekurangannya.
5. Setarakan atom H dengan menambah sejumlah ion H+ sebanyak
kekurangannya.
6. Setarakan muatan, listrik sebelah kanan dan kiri dengan menambahkan
elektron pada ruas yang kekurangan muatan negatif atau kelebihan muatan
positif.
7. Samakan jumlah elektron kedua reaksi dengan mengalikan masing-masing
dengan sebuah faktor.
Penyetaraan persamaan reaksi redoks
Tahapan:
1. Tentukan perubahan bilangan oksidasi.
2. Setarakan perubahan bilangan oksidasi.
3. Setarakan jumlah listrik ruas kiri dan kanan dengan :
H+ pada larutan bersifat asam
OH- pada larutan bersifat basa
4. Tambahkan H2O untuk menyetarakan jumlah atom H.

Contoh:

1.
2. Angka penyerta = 5

3.
4.
Perbedaan oksidasi reduksi
Perbedaan oksidasi reduksi lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 9.1

PERSAMAAN ION UNTUK REDOKS


Berikut akan dijelaskan bagaimana mengerjakan setengah-reaksi elektron untuk proses
oksidasi dan reduksi, kemudian bagaimana menggabungkan setengah-reaksi tersebut
untuk mendapat persamaan ion untuk reaksi redoks secara utuh. Ini merupakan pelajaran
yang penting dalam kimia anorganik.

Setengah-Reaksi Elektron
Apakah setengah-reaksi elektron?
Ketika magnesium mereduksi tembaga(II)oksida dalam suhu panas menjadi tembaga,
persamaan ion untuk reaksi itu adalah:

Kita dapat membagi persamaan ion ini menjadi dua bagian, dengan melihat dari sisi
magnesium dan dari sisi ion tembaga(II) secara terpisah. Dari sini terlihat jelas bahwa
magnesium kehilangan dua elektron, dan ion tembaga(II) yang mendapat dua elektron
tadi.

Kedua persamaan di atas disebut setengah-reaksi elektron atau setengah-persamaan


atau setengah-persamaan ionik atau setengah-reaksi, banyak sebutan tetapi
mempunyai arti hal yang sama.
Setiap reaksi redoks terdiri dari dua setengah-reaksi. Pada salah satu reaksi terjadi
kehilangan elektron (proses oksidasi), dan di reaksi lainnya terjadi penerimaan elektron
(proses reduksi).

Mengerjakan setengah-reaksi elektron dan menggunakannya untuk membuat


persamaan ion
Pada contoh di atas, kita mendapat setengah-reaksi elektron dengan memulai dari
persamaan ion kemudian mengeluarkan masing-masing setengah-reaksi dari persamaan
tersebut. Itu merupakan proses yang tidak benar.
Pada kenyataannya, kita hampir selalu memulai dari setengah-reaksi elektron dan
menggunakannya untuk membuat persamaan ion.
Contoh 1: Reaksi antara klorin dan ion besi(II)
Gas klorin mengoksidasi ion besi(II) menjadi ion besi(III). Pada proses ini, klorin direduksi
menjadi ion klorida. Sebagai permulaan kita buat dahulu masing-masing setengah-reaksi.
Untuk klorin, seperti kita ketahui klorin (sebagai molekul) berubah menjadi ion klorida
dengan reaksi sebagai berikut:

Pertama, kita harus menyamakan jumlah atom di kedua sisi:

Penting untuk diingat, jumlah atom harus selalu disamakan dahulu sebelum melakukan
proses selanjutnya. Jika terlupa, maka proses selanjutnya akan menjadi kacau dan sia-sia.
Kemudian untuk menyempurnakan setengah-reaksi ini kita harus menambahkan sesuatu.
Yang bisa ditambah untuk setengah-reaksi adalah:
* Elektron
* Air
* Ion hidrogen (H+) (kecuali jika reaksi terjadi dalam suasana basa, jika demikian yang bisa
ditambahkan adalah ion hidroksida (OH-)
Dalam kasus contoh di atas, hal yang salah pada persamaan reaksi yang kita telah buat
adalah muatannya tidak sama. Pada sisi kiri persamaan tidak ada muatan, sedang pada
sisi kanannya ada muatan negatif 2 (untuk selanjutnya disingkat dengan simbol : 2-).
Hal itu dapat dengan mudah diperbaiki dengan menambah dua elektron pada sisi kiri
persamaan reaksi. Akhirnya didapat bentuk akhir setengah-reaksi ini:

Proses yang sama juga berlaku untuk ion besi(II). Seperti telah diketatahui, ion besi(II)
dioksidasi menjadi ion besi(III).

Jumlah atom dikedua sisi telah sama, tetapi muatannya berbeda. Pada sisi kanan, terdapat
muatan 3+, dan pada sisi kiri hanya 2+.
Untuk menyamakan muatan kita harus mengurangi muatan positif yang ada pada sisi
kanan, yaitu dengan menambah elektron pada sisi tersebut:

Mengabungkan setengah reaksi untuk mendapat persamaan ion untuk reaksi


redoks
Sekarang kita telah mendapatkan persamaan dibawah ini:

Terlihat jelas bahwa reaksi dari besi harus terjadi dua kali untuk setiap molekul klorin.
Setelah itu, kedua setengah-reaksi dapat digabungkan.

Tapi jangan berhenti disitu! Kita harus memeriksa kembali bahwa semua dalam keadaan
sama atau setara, baik jumlah atom dan muatannya. Sangat mudah sekali terjadi
kesalahan kecil (tapi bisa menjadi fatal!) terutama jika yang dikerjakan adalah persamaan
yang lebih rumit.
Pada persamaan terakhir, terlihat bahwa tidak ada elektron yang diikutsertakan. Pada
persamaan terakhir ini, di kedua sisi sebenarnya terdapat elektron dalam jumlah yang
sama, jadi saling meniadakan, dapat dicoret, dan tidak perlu ditulis dalam persamaan akhir
yang dihasilkan.
Contoh 2: Reaksi antara hidrogen peroksida dan ion manganat(VII)
Persamaan reaksi pada contoh 1 merupakan contoh yang sederhana dan cukup mudah.
Tetapi teknik atau cara pengerjaannya berlaku juga untuk reaksi yang lebih rumit dan
bahkan reaksi yang belum dikenal.
Ion manganat(VII), MnO4-, mengoksidasi hidrogen peroksida, H2O2, menjadi gas oksigen.
Reaksi seperti ini terjadi pada larutan kalium manganat(VII) dan larutan hidrogen peroksida
dalam suasana asam dengan penambahan asam sulfat.
Selama reaksi berlangsung, ion manganat(VII) direduksi menjadi ion mangan(II).
Kita akan mulai dari setengah-reaksi dari hidrogen peroksida.

Jumlah atom oksigen telah sama/ setara, tetapi bagaimana dengan hidrogen?
Yang bisa ditambahkan pada persamaan ini hanyalah air, ion hidrogen dan elektron. Jika
kita menambahkan air untuk menyamakan jumlah hidrogen, jumlah atom oksigen akan
berubah, ini sama sekali salah.
Yang harus dilakukan adalah menambahkan dua ion hidrogen pada sisi kanan reaksi:

Selanjutnya, kita perlu menyamakan muatannya. Kita perlu menambah dua elektron pada
sisi kanan untuk menjadikan jumlah muatan di kedua sisi 0.

Sekarang untuk setengah-reaksi manganat(VII):

Ion manganat(VII) berubah menjadi ion mangan(II).

Jumlah ion mangan sudah setara, tetapi diperlukan 4 atom oksigen pada sisi kanan reaksi.
Satu-satunya sumber oksigen yang boleh ditambahkan pada reaksi suasana asam ini
adalah air.

Dari situ ternyata ada tambahan hidrogen, yang juga harus disetarakan. Untuk itu, kita
perlu tambahan 8 ion hidrogen pada sisi kiri reaksi.

Setelah semua atom setara, selanjutnya kita harus menyetarakan muatannya. Pada
tahapan reaksi diatas, total muatan disisi kiri adalah 7+ (1- dan 8+), tetapi pada sisi kanan
hanya 2+. Jadi perlu ditambahkan 5 elektron pada sisi kiri untuk mengurangi muatan dari
7+ menjadi 2+.

Dapat disimpulkan, urutan pengerjaan setengah reaksi ini adalah:

Menyetarakan jumlah atom selain oksegen dan hidrogen.

Menyetarakan jumlah oksigen dengan menambah molekul air (H2O).

Menyetarakan jumlah hidrogen dengan menambah ion hidrogen (H+).

Menyetarakan muatan dengan menambah elektron.

Menggabungkan setengah-reaksi untuk membuat persamaan reaksi


Kedua setengah-reaksi yang sudah kita dapat adalah:

Supaya dapat digabungkan, jumlah elektron dikedua setengah-reaksi sama banyak. Untuk
itu setengah-reaksi harus dikali dengan faktor yang sesuai sehingga menghasilkan jumlah

elektron yang setara. Untuk reaksi ini, masing-masing setengah reaksi dikalikan sehingga
jumlah elektron menjadi 10 elektron.

Tapi kali ini tahapan reaksi belum selesai. Dalam hasil persamaan reaksi, terdapat ion
hidrogen pada kedua sisi reaksi.

Persamaan ini dapat disederhanakan dengan mengurangi 10 ion hidrogen dari kedua sisi
sehingga menghasilkan bentuk akhir dari persamaan ion ini. Tapi jangan lupa untuk tetap
memeriksa kesetaraan jumlah atom dan muatan!

Sering terjadi molekul air dan ion hidrogen muncul di kedua sisi persamaan reaksi, jadi
harus selalu diperiksa dan kemudian disederhanakan.
Contoh 3: Oksidasi etanol dengan kalium dikromat(VI) suasana asam
Tehnik yang telah dijelaskan tadi dapat juga digunakan pada reaksi yang melibatkan zat
organik. Larutan kalium dikromat(VI) yang diasamkan dengan asam sulfat encer dapat
digunakan untuk mengoksidasi etanol, CH3CH2OH, menjadi asam etanoat, CH3COOH.
Sebagai oksidator adalah ion dikromat(VI), Cr2O72-, yang kemudian tereduksi menjadi ion
kromium (III), Cr3+.
Pertama kita akan kerjakan setengah-reaksi etanol menjadi asam etanoat.
- Tahapan reaksi seperti contoh sebelumnya, dimulai dengan menulis reaksi utama yang
terjadi, yang diketahui dari soal.

- Setarakan jumlah oksigen dengan menambah molekul air pada sisi kiri:

- Tambahkan ion hidrogen pada sisi kanan untuk menyetarakan jumlah hidrogen:

- Selanjutnya, setarakan muatan dengan menambah 4 elektron pada sisi kanan sehingga
menghasilkan total muatan nol pada tiap sisi:

Setengah reaksi untuk dikromat(VI) agak rumit dan jika tidak teliti dapat menjebak:
- Buat persamaan reaksi utama:

- Setarakan jumlah kromium. Hal ini sering dilupakan, dan jika ini terjadi akan fatal, karena
hasil reaksi selanjutnya akan salah. Jumlah muatan akan salah, faktor pengali yang
digunakan juga akan salah. Sehingga keseluruhan persamaan reaksi akan salah.

- Kemudian setarakan oksigen dengan menambah molekul air:

- Setarakan jumlah hidrogen dengan menambah ion hidrogen:

- Selanjutnya setarakan muatannya. Tambah 6 elektron pada sisi kiri sehingga jumlah
muatan menjadi 6+ pada tiap sisi.

Menggabungkan setengah-reaksi untuk mendapat persamaan reaksi


Sejauh ini setengah reaksi yang telah kita dapat adalah:

Untuk menyelesaikan persamaan ini kita harus mengubah jumlah elektron, dengan jumlah
terkecil yang dapat habis dibagi 4 dan 6, yaitu 12. Jadi faktor pengali untuk persamaan ini
adalah 3 dan 2.

Dapat dilihat ada molekul air dan ion hidrogen pada kedua sisi persamaan. Ini dapat
disederhanakan menjadi bentuk akhir persamaan reaksi:

DAFTAR PUSTAKA
Clark Jim, Afinitas Elektron, www.chem-is-try.org, 03-Jan-2009
Clark Jim, Bentuk Molekul, www.chem-is-try.org, 08-Aug- 2007
Clark Jim, Energi Ionisasi, www.chem-is-try.org, 03-Jan-2009
Clark Jim, Konfigurasi Elektron, www.chem-is-try.org, 23-Sep-2004
Clark Jim, Ikatan LOgam, www.chem-is-try.org, 10-Okt-2007
Clark Jim, Struktur Atom, www.chem-is-try.org, 23 Okt 2004
Haryanto U.T, Rumus Kimia, www.chem-is-try.org, 29-Jan-2010

Nolly Dwi SB, Partikel Dasar Penyusun Atom, , www.chem-is-try.org 27-Jun-2009


Ratna dkk, Ikatan Ion, www.chem-is-try.org, 15-Apr-2009
Ratna dkk, Ikatan Kovalen, www.chem-is-try.org, 15-Apr-2009
Ratna dkk, Isotop, Isoton dan Isobar, www.chem-is-try.org, 13-Apr-2009
Ratna dkk, Materi dan Wujudnya, www.chem-is-try.org, 11-Apr-2009
Ratna dkk, Konsep Mol, www.chem-is-try.org, 14-Apr-2009
Ratna dkk, Perkembangan Model Atom, www.chem-is-try.org, 13-Apr-2009
Ratna dkk, Perkembangan Pengelompokan Unsur, www.chem-is-try.org, 14-Apr-2009
Ratna dkk, Perubahan Fisika dan Kimia, www.chem-is-try.org, 12-Apr-2009
Ratna dkk, Sifat Periodik Unsur, www.chem-is-try.org, 14-Apr-2009
Taro Saito, Klasifikasi IkatanKimia, www.chem-is-try.org,05-Okt-2009
Yoshito Takeuchi, Hukum Gas Ideal, www.chem-is-try.org, 11-Aug-2008
Yoshito Takeuchi, Model Atom, www.chem-is-try.org, 01-Mar-2008