Anda di halaman 1dari 4

1.1.

TRICURIASIS
Infeks Trichuris trichuria pada manusia dikenal sebagai Trichuriasis. Dalam bahasa
Indonesia cacing ini bernama Cacing Cambuk karena secara menyeluruh cacing ini bentuknya
seperti cambuk.
Distribusi Geografis
Trichuris trichuria tersebar luas di seluruh dunia, tetapi daerah yang prevalensi tinggi adalah
daerah tropis dan subtropis. Di daerah yang beriklim sedang mereka yang paling sering terserang
adalah yang tinggal di lembaga-lembaga seperti, panti asuhan, lembaga permasyarakatan dan
rumah sakit jiwa.

Siklus Hidup
Manusia terinfeksi cacing ini melalui makanan yang terkontaminasi telur cacing yang telah
berembrio. Telur yang tertelan akan menetas di duodenum dan larva yang keluar akan melekat di
vili usus. Larva ini akan tetap tinggal selama 20-30 hari untuk kemudian bergerak ke sekum dan
kolon bagian proksimal. Pada infeksi yang berat, cacing juga dapat pula ditemukan di ileum,
appendiks, bahkan seluruh usus besar. Cacing dewasa membenamkan bagian anteriornya di
mukosa usus dan mulai memproduksi telur sebanyak 2000-7000 butir per hari.

Telur yang dihasilkan cacing ini akan keluar dari tubuh bersama tinja. Di luar tubuh, di
tempat yang lembab dan hangat, telur ini akan mengalami pematangan dalam waktu 2-4 minggu
dan siap menginfeksi host lain. Demikianlah siklus hidup ini berulang kembali. Diperkirakan
siklus dari telur sampai cacing dewasa yang siap menghasilkan telur berlangsung dalam waktu 3
bulan.
Morfologi
Telur Trichuris trichuria berbentuk buulat panjang dan memiliki sumbatan yang menonjol di
kedua ujungnya. Telur ini berukuran 44-50 x 22 dan berwarna kuning kecoklatan. Telur yang
belum matang dikeluarkan dari tubuh bersama tinja dan merupakan pertanda diagnostik untuk
trichuriasis. Di luar tubuh manusia, telur ini akan berkembang lebih lanjut sampai akhirnya
mengandung embrio. Pada saat itulah telur tersebut menjadi infeksius.
Cacing dewasa bentuk seperti rambut di 2/3 bagian anteriornya dan membesar serta nampak
berotot di bagian posteriornya sehingga secara keseluruhan cacaing ini menyerupai cambuk.
Cacing jantan berukuran 30-45 mm sedangakan cacing betina berukuran 35-50 mm. bagian
posterior cacing jantan melingkar ke dalam dan mengandung sebuah spicule. Pada cacing betina
vulva terdapat di bagian tubuh yang mulai membesar, sedangkan anusnya terletak di bagian
posterior tubuhnya.
Epidemiologi
Faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang penting dalam proses transmisi, iklim tropis
Indonesia sangat menguntungkan terhadap perkembangan T. trichiura. Indonesia mempunyai
empat area ekologi utama terhadap transmisi T. trichiura yaitu dataran tinggi, dataran rendah,
kering, dan hujan. Data dari berbagai survei di berbagai tempat di Indonesia menunjukkan bahwa
infeksi T. trichiura merupakan masalah di semua daerah di Indonesia dengan prevalensi 35%
sampai 75%. Infeksi T. trichiura didasari dengan sanitasi yang inadekuat dan populasi yang
padat, umumnya ini dijumpai di daerah kumuh dengan tingkat sosioekonomi yang
rendah.Perbedaan prevalensi T. trichiura di daerah perkotaan dan pedesaan menggambarkan
perbedaan sanitasi atau densitas populasi, tingkat pendidikan, serta perbedaan sosioekonomi
yang juga berperan penting.
Anak usia sekolah mempunyai prevalensi yang tinggi terhadap infeksi T. trichiura.
Berdasarkan data epidemiologi, anak dengan tempat tinggal dan sanitasi yang buruk dan

higienitas yang rendah mempunyai risiko terinfeksi yang lebih tinggi. Pendidikan higienitas yang
rendah juga mendukung tingginya infeksi tersebut. Tumpukan sampah dan penyediaan makanan
jajanan di lingkungan sekolah juga menjelaskan tingginya prevalensi.
Patologi dan Klinik
Infeksi oleh cacing ini disebut trikuriasis, trichocephaliasis atau infeksi cacing cambuk.
Cacing ini paling sering menyerang anak usia 1-5 tahun, infeksi ringan biasanya tanpa gejala,
ditemukan secara kebetulan pada waktu pemeriksaan tinja rutin.
Pada infeksi berat, cacing tersebar keseluruh kolon dan rektum, kadang-kadang terlihat pada
mukosa rektum yang prolaps akibat sering mengedan pada waktu defekasi.
Infeksi kronis dan sangat berat menunjukkan gejala-gejala anemi berat, Hb rendah sekali
dapat mencapai 3 gr%, karena seekor cacing tiap hari menghisap darah kurang lebih 0,005 cc.
Diare dengan tinja sedikit dan mengandung sedikit darah. Sakit perut, mual, muntah, serta berat
badan menurun, kadang-kadang disertai prolapsus recti. Mungkin disertai sakit kepala dan
demam.
Infeksi Trichuris trichiura kadang-kadang terjadi bersama infeksi parasit usus lain. Parasit
lain yang menyertainya adalah Ascaris lumbricoides, cacing tambang, dan Entamoeba
histolytica.

Diagnosis
Trikuriasis dapat ditegakkan diagnosisnya berdasarkan ditemukannya telur cacing Trichuris
trichiura dalam tinja atau menemukan cacing dewasa pada anus atau prolaps rekti.
Tingkat infeksi seperti juga pada Ascaris lumbricoides, ditentukan dengan memeriksa
jumlah telur pada setiap gram tinja atau menentukan jumlah cacing betina yang ada dalam tubuh
hospes.
Pengobatan
Mebendazole merupakan obat pilihan untuk trikuriasis dengan dosis 100 mg 2 kali per hari
selama 3 hari bertururt-turut, tidak tergantung berat badan atau usia penderita.

Untuk pengobatan masal dianjurkan dosis tunggal 600 mg. Thiabendazole tidak efektif.
Pencegahan
Pencegahan trikuriasis sama dengan askariasis yaitu buang air besar di jamban, mencuci
dengan baik sayuran yang dimakan mentah (lalapan), pendidikan tentang sanitasi dan kebersihan
perorangan seperti mencuci tangan sebelum makan.
Komplikasi : Prolapsus rekti & perforasi usus
Prognosis : Sebagian besar baik jika tanpa komplikasi berat

Anda mungkin juga menyukai