Anda di halaman 1dari 6

TUGAS :

Dasar Hukum Perseroan


Terbatas
Tanggal 7 April 2015

Kewajiban Audit untuk Perseroan


Terbatas
Perseroan Terbatas yang memiliki nilai omzet minimal
50 Miliar Rupiah wajib diaudit, seperti yang disebutkan
dalam UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
Pasal 68 ayat (1) poin (e), yang berbunyi:
Perseroan mempunyai aset dan/atau jumlah peredaran
usaha
dengan
jumlah
nilai
paling
sedikit
Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah)
Kewajiban untuk menyerahkan laporan keuangan
kepada pengawasan ekstern dibenarkan dengan asumsi
bahwa kepercayaan masyarakat tidak boleh dikecewakan.
Demikian juga halnya dengan Perseroan yang untuk
pembiayaannya mengharapkan dana dari pasar modal.

Dasar Hukum Kewajiban PT untuk


Melakukan Audit atas Laporan
Keuangan
Dasar hukum yang digunakan dalam hal
kewajiban audit atas laporan keuangan
Perseroan Terbatas adalah UU No. 40 tahun
2007 tentang Perseroan Terbatas pasal 68.
Pada UU No. 40 tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas pasal 68, dijelaskan
mengenai
kriteria perseroan yang memiliki
kewajiban
audit,
diantaranya
termasuk
perseroan yang memiliki omzet minimal 50 M
rupiah.

Selain itu, dalam melaporkan SPT perusahaan juga


diharuskan untuk mengaudit laporan keuangannya,
sebagaimana disebutkan dalam UU KUP tahun 2013 pasal
4 ayat (2b), yang berbunyi:
Dalam hal laporan keuangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (4a) diaudit oleh Akuntan Publik tetapi tidak
dilampirkan
pada
Surat
Pemberitahuan,
Surat
Pemberitahuan dianggap
tidak lengkap dan tidak jelas,
sehingga
Surat
Pemberitahuan
dianggap
tidak
disampaikan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3
ayat (7) huruf b.

Apa sanksi apabila pada waktu


pelaporan SPT perusahaan tersebut
tidak menyampaikan laporan audit
atau belum di audit?

Seperti yang dijelaskan sebelumnya UU KUP tahun 2013telah


menjelaskan tentang kewajiban perusahaan untuk melakukan
audit pada laporan keuangannya, yakni disebutkan pada UU
KUP tahun 2013 pasal 4.
Sedangkan sanksi yang diberikan apabila WP melanggar
peraturan tersebut adalah:
Apabila WP karena kelalaiannya tidak menyampaikan Surat
Pemberitahuan atau menyampaikan surat pemberitahuan ,
tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap, maka tidak
dikenai sanksi pidana apabila kelalaian tersebut pertama kali
dilakukan oleh WP. Namun WP tetap harus menanggung
sanksi administrasi sebesar 200% dari jumlah total pajak
yang kurang dibayar. Sanksi ini diatur dalam UU KUP tahun
2013 pasal 13A.

Untuk WP yang lalai tidak menyampaikan SPT


atau menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar
atau tidak lengkap untuk kali kedua atau lebih,
maka akan dikenakan denda paling sedikit 1 (satu)
kali jumlah pajak terhutang dan paling banyak 2
(dua) kali jumlah pajak terhutang yang tidak atau
kurang dibayar, atau sanksi pidana kurungan paling
singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 1 (satu)
tahun penjara. Sanksi ini diatur dalam UU KUP
tahun 2013 pasal 38.