Anda di halaman 1dari 14

REFERAT

MANAJEMEN DEMENSIA
KEPANITERAAN KLINIK STASE ILMU KEDOKTERAN JIWA

Pembimbing:
dr. Ashwin Kandouw, SpKJ

Oleh:
Agatha Yunita Widya Sari
07120100049
Universitas Peita Harapan
2014
1|Referat Psikiatri - Demensia

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI........................................................................................................................2
BAB I...................................................................................................................................3
BAB II.................................................................................................................................5
A. DEFINISI..................................................................................................................5
B. EPIDEMIOLOGI......................................................................................................5
C. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI........................................................................6
1. DEMENSIA TIPE ALZHEIMER.........................................................................6
2. DEMENSIA VASKULAR....................................................................................8
D. MANIFESTASI KLINIS..........................................................................................8
E. DIAGNOSIS.............................................................................................................9
F. MANAJEMEN.......................................................................................................11
G. PROGNOSIS..........................................................................................................14
BAB III..............................................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA.........................................................Error! Bookmark not defined.

2|Referat Psikiatri - Demensia

BAB I
PENDAHULUAN
Demensia adalah sebuah penyakit otak yang bersifat kronis dan progresif, dimana
terjadi gangguan fungsi kortikal termasuk hendaya memori, fungsi berpikir, disorientasi,
gangguan mood, dan gangguan kepribadian, namun tidak terjadi gangguan kesadaran.
Demensia sering didapatkan pada pasien usia lanjut. Namun tidak hanya itu,
penurunan fungsi kognitif ini bisa dialami pada usia kurang dari 40 tahun yang disebut
sebagai demensia awitan dini. Insiden demensia meningkat seiring dengan pertambahan
usia.
Alzheimers Disease International memperkirakan bahwa ada sekitar 30 juta jiwa
di dunia yang mengalami demensia dengan 4,6 juta yang memiliki kasus-kasus baru di
setiap tahunnya. Jumlahnya akan terus meningkat lebih dari 100 juta jiwa pada tahun
2050. Perkiraan ini diperoleh berdasarkan pada populasi yang terperinci terhadap
prevalensi demensia di negara-negara yang berbeda.
Hasil

data

epidemiologi

mengungkapkan

bahwa

prevalensi

terhadap

kecenderungan demensia pada negara berkembang lebih rendah dibanding pada negara
maju. Perbedaan ini bisa disebabkan karena kemampuan bertahan hidup orang-orang di
negara berkembang lebih rendah sehingga lebih sedikit orang-orang yang mampu
bertahan hidup sampai usia lanjut.
Dengan

demikian,

dapat

dimengerti

bahwa

usia

harapan

hidup

aka

mengingkatkan pula populasi demensia. Pengaruh lain dari meningkatnya usia harapan
hidup adalah meningkat pula penyakit kardiovaskuler yang telah disepakati sebagai
penyebab demensia vaskuler.
Sebagian besar peneliti sepakat bahwa penyebab demensia yang utama adalah
penyakit Alzheimer dan demensia vaskular. Demensia tipe Alzheimer dan vaskular
bersama-sama mencakup hingga 75 persen kasus.Penyebab lain demensia antara lain
penyakit Pick, penyakit Jisim Lewy, penyakit Huntington, penyakit Creuzfeldt-Jacob,
Parkinson, dan HIV, serta cedera kepala.
3|Referat Psikiatri - Demensia

Oleh karena tingginya angka kejadian demensia dan kemungkinan untuk terus
meningkat, terutama seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup, maka
diperlukan tatalaksana yang tepat untuk mencegah dan mengobati demensia ini. Hal ini
juga didukung oleh keinginan manusia untuk tidak hanya memiliki kuantitas hidup yang
panjang namun juga kualitas hidup yang baik. Oleh karena itu, referat ini akan lebih
menekankan pada tatalaksana demensia terutama dalam manajemen penyakit.

4|Referat Psikiatri - Demensia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Demensia adalah gangguan fungsi otak yang bersifat progresif dan kronis yang
melibatkan kehilangan ingatan, ketidakmampuan mengenali berbagai objek atau
wajah, dan kesulitan dalam merencanakan dan penalaran abstrak. Dalam revisi DSM
IV-TR demensia ditandai oleh defek kognitif multipel yang mencakup hendaya
memori tanpa hendaya kesadaran. Sifat hendaya yang persisten dan tingkat kesadaran
yang baik membedakan demensia dengan sifat gangguan pada delirium.

B. EPIDEMIOLOGI
Alzheimers Disease International memperkirakan bahwa ada sekitar 30 juta
jiwa di dunia yang mengalami demensia dengan 4,6 juta kasus-kasus baru di setiap
tahunnya. Jumlahnya akan terus meningkat hingga lebih dari 100 juta jiwa pada tahun
2050. Perkiraan ini diperoleh berdasarkan pada populasi yang terperinci terhadap
prevalensi demensia di negara-negara yang berbeda.
Demensia pada umumnya adalah penyakit para lansia. Menurut Practice
Guidelines for the Treatment of Patients with Alzheimers Disease of Late Life dari
The American Osychiatric Association, awitan penyakit ini umumnya paling kerap
terjadi pada usia 60-an, 70-an, dan 80-an ke atas, namun pada kasus yang jarang
gangguan ini muncul pada usia 40-an yang disebut sebagai demensia awitan dini.
Insiden demensia meningkat seiring dengan pertambahan usia, dan diperkirakan
angkanya 0,5 persen per tahun dari usia 65-69, 1 persen per tahun dari usia 70-74, 2
persen per tahun dari usia 75-79, 3 persen per tahun dari usia 80-84, dan 8 persen per
tahun dari usia 85 ke atas.

5|Referat Psikiatri - Demensia

C. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI


Demensia memiliki banyak penyebab, namun demensia tipe Alzheimer dan
vaskular bersama-sama mencakup hingga 75 persen kasus. Kausa demensia lain yang
dirinci dalam DSM-IV-TR adalah penyakit Pick, penyakit Creutzfeldt-Jakob,
penyakit Huntington, penyakit Parkinson, HIV, dan trauma kepala.
1. DEMENSIA TIPE ALZHEIMER
Pada tahun 1907, Alois Alzheimer pertama kali mendeskripsikan kondisi
yang keudian dikenal dengan namanya. Ia menggambarkan seorang wanita yang
berusia 51 tahun dengan demensia progresif yang telah berlangsung selama 4
setengah tahun. Diagnosis akhir penyakit Alzheimer didasarkan atas pemeriksaan
neuropatologis otak; meski demikian, demensia tipe Alzheimer biasanya
didiagnosis secara klinis setelah kausa demensia lain disingkirkan dari
pertimbangan diagnosis.
Meskipun kausa demensia tipe Alzheimer tetap tidak diketahui, telah
dicapai kemajuan dalam memahami basis molekular adanya deposit amiloid yang
merupakan penanda utama neuropatologi gangguan ini.
Faktor Genetik
Sejumlah studi mengindikasikan bahwa sebanyak 40 persen pasien
memiliki riwayat keluarga dengan demensia tipe Alzheimer, oleh karena itu faktor
genetik dianggap memainkan peran dalam munculnya gangguan ini, setidaknya
pada beberapa kasus.
Dukungan lain adanya pengaruh genetik adalah angka kejadian bersama
pada kembar monozigotik yang lebih tinggi daripada angka kejadian untuk
kembar dizigotik (masing-masing 43 persen dan 8 persen).
Meskipun jarang pada beberapa kasus yang terdokumentasi dengan baik,
gangguan ini diturunkan dalam keluarga melalui gen autosom dominan. Saat in
diketahui ada 4 gen yang berperan dalam penyakit Alzheimer, yaitu gen APP
6|Referat Psikiatri - Demensia

(Amyloid Precursor Protein) pada kromosom 21, gen APOE (apolipoprotein E)


pada kromosom 19, gen PS-1 (presenillin-1) pada kromosom 14, dan gen PS-2
(presenillin-2) pada kromosom 1.
Neuropatologi
Gambaran kasar neuroanatomi yang klasik otak pasien penyakit Alzheimer
adalah atrofi difus dengan sulkus korteks yang mendatar dan ventrikel serebri
yang melebar. Temuan mikroskopik klasik dan patognomonik berupa plak senilis
atau plak amiloid, kekusutan neurofibriler, hilangnya neuron (terutama di korteks
dan hipokampus), hilangnya sinaps, serta degenerasi granulovakuolar pada
neuron.
Neurotransmiter
Neurotransmiter yang paling sering disangkutpautkan dalam patofisiologi
penyakit Alzheimer adalah asetilkolin dan norepinefrin, yang keduanya
dihipotesiskan menjadi hipoaktif. Sejumlah studi melaporkan data yang konsisten
dengan hipotesis bahwa terjadi degenerasi spesifik neuron kolinergik pada
penderita penyakit Alzheimer.
Data lain yang mendukung adalah data yang menunjukkan penurunan
konsentrasi konsentrasi asetilkolin dan kolin asetiltransferase yang merupakan
enzim kunci dalam sintesis asetilkolin.
Dukungan lain berasal dari pengamatan bahwa antagonis kolinergik,
seperti skopolamin dan atropin, merusak kemampuan kognitif. Sementara agonis
kolinergik, seperti fisostigmin dan arekolin, meningkatkan kemampuan kognitif.
Kausa lain
Teori lain yang diajukan untuk menjelaskan munculnya penyakit
Alzheimer adalah adanya abnormalitas regulasi metabolism membran fosfolipid
yang menyebabkan membran menjadi kurang cair, yaitu menjadi lebih kaku
daripada normal.
7|Referat Psikiatri - Demensia

Selain itu muncul juga teori patofisologis yang melibatkan oksidatif stress
dan akumulasi radikal bebas pada penyakit Alzheimer.
2. DEMENSIA VASKULAR
Kausa primer dari demensia vaskular diperkirakan adalah penyakit
vaskular serebral multipel, menyebabkan pola gejala demensia. Demensia
vaskular paling sering ditemukan pada orang-orang dengan hipertensi yang sudah
ada sebelumnya atau yang memiliki faktor risiko kardiovaskular lain. Gangguan
ini terutama mempengaruhi pembuluh serebral berukuran kecil dan sedang, yang
mengalami infark dan menyebabkan lesi parenkim multiple yang tersebar secara
luas di otak. Kausa infark lain mungkin mencakup arterioskleritik atau
tromboemboli dari asal yang jauh, misalnya dari jantung.

D. MANIFESTASI KLINIS
Hendaya memori secara khas merupakan gambaran awal dan prominen pada
demensia. Pada awal perjalanan demensia, hendaya memori bersifat ringan dan
baisanya paling jelas untuk kejadian yang baru saja terjadi; orang lupa mengingat
nomor telepon, percakapanm dan kejadian yang berlangsung hari itu. Seiring
perjalanan penyakit demensia, hendaya memori menjadi berat dan yang tertinggal
hanya informasi yang paling awal dipelajari.
Oleh karena memori amat penting untuk orientasi terhadap orang, tempat, dan
waktu, orientasi dapat terpegaruh secara progresif selama perjalanan penyakit
demensia. Contohnya misalnya pasien lupa kembali ke kamarnya setelah pergi ke
kamar mandi. Meskipun demikian, tak peduli seberapa parah disorientasi yang
dialami, pasien tidak menunjukkan hendaya tingkat kesadaran.
Selain itu, demensia, terutama yang menyerang korteks (Alzheimer dan
demensia vaskular) dapat mempengaruhi kemampuan berbahasa pasien (afasia),
Kesulitan berbahasa dapat ditandai oleh cara berkata-kata yang samar-samar, tidak
tepat, dan pasien mungkin juga mengalami kesulitan menyebutkan nama benda.

8|Referat Psikiatri - Demensia

Selain afasia, apraksia dan agnosia juga biasa dijumpai pada pasien demensia.
Apraksia merupakan gangguan kemampuan melakukan aktivitas motorik meskipun
fungsi motorik masih intak. Sedangkan agnosia merupakan kegagalan mengenali
suatu objek meskipun fungsi sensorik masih intak.
Selain itu pasien demensia juga memiliki masalah kepribadian. Ciri
kepribadian yang ada sebelumnya dapat semakin menonjol selama perkembangan
demensia. Pasien demensia mungkin juga menjadi introvert dan tampak kurang
peduli terhadap efek perilaku mereka terjadap orang lain. Pasien dengan keterlibatan
frontal dan temporal cenderung mengalami perubahan kepribadian yang nyata dan
mungkin menjadi iritabel serta eksplosif.
Diperkirakan sekitar 20-30 persen pasien demensia, terutama tipe Alzheimer,
mengalami halusinasi, dan 30-40 persen mengalami waham, teurtama yang bersifat
paranoid atau presekutorik dan nonsistematis. Agresi fisik dan bentuk kekerasan lain
lazim dijumpai pada pasien demensia yang juga mengalami gejala psikotik.
Selain hendaya memori, perubahan kognitif, perubahan kepribadian, dan gejala
psikosis, depresi dan ansietas juga merupakan gejala mayor pada sekitar 40-50 persen
pasien demensia. Pasien demensia juga dapat mengeluarkan tangisan atau tawa
patologis, yaitu emosi yang ekstrim, tanpa provokasi yang jelas.
Pasien demensia juga menunjukkan penurunan kemampuan menerapkan apa
yang disebut oleh Kurt Goldstein sebagai sikap abstrak. Pasien memiliki kesulitan
melakukan generalisasi dari suatu contoh, menyusun konsep, serta menemukan
kesamaan dan perbedaan beberapa konsep.

E. DIAGNOSIS
Kriteria diagnosis untuk demensia tipe Alzheimer berdasarkan DSM-IV-TR:
A. Munculnya defisit kognitif multipel yang dimanifestasikan baik oleh:
1. Hendaya memori
2. Satu atau lebih gangguan kogitif di bawah ini:
a. Afasia
9|Referat Psikiatri - Demensia

b. Apraksia
c. Agnosia
d. Gangguan dalam melakukan fungsi eksekutif, yaitu merencanakan,
mengorganisasi, merangkai, abstraksi.
B. Defisit kognitif pada kriteria A1 dan A2 masing-masing menyebabkan hendaya
yang signifikan dalm fungsi sosial dan okupasional serta menggambarkan
penurunan tingkat kemampuan berfungsi sebelumnya yang signifikan.
C. Perjalanan penyakit ditandai leh awitan yang bertahap dan penurunan kognitif
yang kontinu.
D. Defisit kognitif pada kriteria A1 dan A2 tidak disebabkan oleh salah satu hal
berikut ini:
1. Penyakit sistem saraf pusat lain yang menyebabkan defisit progresif memori
dan kognisi (misalnya penyakit serebrovaskular, Parkinson, Huntington,
hematoma subdural, hidrosefalus, maupun tumor otak).
2. Penyakit sistemik yang diketahui menyebabkan demensia (misalnya
hipotiroidisme, devisiensi vitamin B, atau asam folat, dll).
3. Penyakit terinduksi zat
E. Defisit tidak terjadi hanya pada saat delirium.
F. Gangguan ini tidak lebih mungkin disebabkan oleh gangguan lain pada aksis I.

Kriteria diagnosis untuk demensia vaskular berdasarkan DSM-IV-TR:


A. Munculnya defisit kognitif multipel yang dimanifestasikan baik oleh:
1. Hendaya memori (tergangunya kemampuan mempelajari informasi aru atau
mengingat informasi yang telah dipelajari sebelumnya)
2. Satu atau lebih gangguan kogitif di bawah ini:
a. Afasia
b. Apraksia
c. Agnosia
d. Gangguan dalam melakukan fungsi eksekutif, yaitu merencanakan,
mengorganisasi, merangkai, abstraksi.
B. Tanda dan gejala neurologis fokal (misalnya refleks tendo yang meningkat,
refleks patologis, kelemahan pada satu sisi anggota gerak badan, dll)
C. Defisit kognitif pada kriteria A1 dan A2 masing-masing menyebabkan hendaya
yang signifikan dalm fungsi sosial dan okupasional serta menggambarkan
penurunan tingkat kemampuan berfungsi sebelumnya yang signifikan.
D. Defisit tidak terjadi hanya pada saat delirium.
10 | R e f e r a t P s i k i a t r i - D e m e n s i a

F. MANAJEMEN
A. Non Farmakologi
Manajemen non farmakologi pada demensia melibatkan pasien, keluarga,
atau pengasuh untuk mendukungmm menghadapi, dan emahami kondisi pasien.
Hidup pasien demensia harus menjadi semakin sederhana, terstruktur, dan
keluarga pasien perlu diperiapkan untuk menghadapi peruahan dalam kehidupan
yang akan terjadi sepanjang penyakit menjadi lebih parah.
Prinsip-prinsip dasar manajemen non farmakologi dalam pengobatan
pasien demensia meliputi:
1. Menggunakan pendekatan yang halus terhadap pasien
2. Menjamin rasa nyaman
3. Berempati dengan masalah pasien
4. Menjalankan rutinitas sehari-hari secara tetap
5. Menyediakan lingkungan yang aman
6. Memberikan kegiatan di siang hari
7. Menghindari overstimulasi
8. Menggunakan barang-barang dekoratif yang akrab di ruang tamu
9. Menanggapi penurunan mendadak dalam fungsi dan penampuan dengan
perhatian yang lebih professional.
B. Famakologi
1. Farmakoterapi gejala kognisi
Terapi ini bertujuann mengatasi gejala penurunan kognisi atau menunda
perkembangan penyakit.
a. Golongan Inhibitor Kolinesterase
Salah satu cara mengatasi gejala penurunan kognisi atau menunda
perkembangan penyakit adalah dengan meningkatkan neurotransmisi
kolinergik

di

otak.

Inhibitor

kolinesterase

memblok

enzim

asetilkolinesterase yang merupakan enzim yang mengkatalisis degradasi


asetilkolin di celah sinaptik mejadi kolin dan asetat. Dengan inhibitor
kolinesterase maka akan terjadi peningkatan kadar asetilkolin sehingga
neurotransmisi kolinergik di otak meningkat.
Inhibitor kolinesterase yang disetujui penggunaannya untuk
pengobatan demensia meliputi donapezil, rivastigmine, dan galantamin.
b. Golongan Antagonis Reseptor NMDA

11 | R e f e r a t P s i k i a t r i - D e m e n s i a

Pada penyakit Alzheimer, salah satu jenis reseptor glutamat, Nmetil-D-aspartat (NMDA), tidak normal. Tampak aktivitas berlebih dari
glutamat yang tidak teregulasi.
Golongan antagonis reseptor NMDA bekerja dengan cara
menghambat reseptor tersebut sehingga kenaikan ion kalsium yang
menginduksi kaskade sekunder yang menyebabkan kematian sel saraf.
Saat ini memantine adalah satu-satunya agen di kelas ini yang
disetujui untuk pengobatan demensia.
c. Golongan Obat Non Konvensional
- Agen antiradang
Studi epidemiologi menunjukkan pelindung efek terhadap
demensia pada pasien yang menggunakan NSAID. Pengobatan untuk
kurang dari 2 tahun dikaitkan dengan risiko relative lebih rendah,
namun durasi pengobatan yang lebih lama menurunkan risiko ini lebih
-

lanjut.
Lipid-lowering agent
Kepentingan dalam efek proteksi yang potensial pada pasien
demensia adalah agen penurun lipid (Lipid-Lowering Agents),
khususnya 3-hidroksi-3-methylglutaryl-koenzim A reduktase inhibitor.
Simvastatin telah dipelajari dalam satu percobaan klinis
menunjukkan penurunan pak ailoid beta pada pasien dengan
Alzheimer yang ringan, namun tidak pada pasien dengan tingkat
penyakit yang parah. Atorvastatin saat ini sedng dipelajari dalam uji

klinis.
Antioksidan
Berdasarkan teori patofisiologis yang melibatkan oksidatif stres
dan akumulasi radikal bebas di demensia, telah berkembang tentang
penggunaan antioksidan dalam pengobatan demensia. Vitamin E
seringkali direkomendasikan sebagai pengobatan untuk pasien

demensia terutama pada penyakit Alzheimer.


Ginkgo biloba
Ginkgo biloba adalah ekstrak tanaman Ginkgo yang mengandung
bahan-bahan yang mempunyai efek yang positif pada sel-sel otak dan
tubuh. Ginkgo biloba memiliki efek antioksidan dan anti inflamasi

12 | R e f e r a t P s i k i a t r i - D e m e n s i a

yang dapat melindungi membrane sel, dan mengatur kerja dari system
saraf.
2. Farmakoterapi Gejala Non-kognitif
a. Anti psikosis
Antipsikotik banyak digunakan

dalam

pengelolaan

gejala

neuropsikiatri pada pasien demensia. Golongan ini terutama diberikan


pada pasien-pasien demensia yang mengalami gejala psikotik, terutama
halusinasi dan waham. Halusinasi dan waham yang dialami oleh pasien
demensia dapat menyebabkan perilau agresi sehingga diperlukan
manajemen.
Antipsikotik yang disarankan adalah antipsikotik atipikal untuk
menguragi gejala ekstrapiramidal.
b. Antidepresan
Gejala depresi juga umum terjadi pada pasien dengan demensia.
Dalam prakteknya, pengobatan dengan selective serotonin reuptake
inhibitor (SSRI) paling sering dimulai untuk pasien demensia. Manfaat
telah

ditunjukkan

dengan

sertraline,

citalopram,

fluoxetine,

dan

paroxetine. Fungsi serotonergik juga mungkin memainkan peran dalam


ebberapa gejala perilaku laindari demensia bahkan dalam ketadaan
depresi.
Antidepresann trisiklik memiliki khasiat mirip dengan SSRI, namun
umumnya harus dihindari karena aktivitas antikolinergiknya.
c. Terapi lainnya
Obat-obatan lain yang dapat digunakan untuk mengobati perilaku
mengganggu dan agresi pada demensia antara lain benzodiazepine,
buspirone, selegiline, karbamazepin, dan asam valproat.

G. PROGNOSIS
Demensia adalah penyakit yang selalu progresif. Namun demikian, pasien
biasanya tidak meninggal langsung karena demensia. Mereka meninggal karena
memiliki kesuitan menelan atau berjalan dan perlahan-lahan dapat meningkatkan
kemungkinan infeksi seperti pneumonia.

13 | R e f e r a t P s i k i a t r i - D e m e n s i a

Selain itu depresi, kegelisahan paranoid, halusinasi, dan delusi dapat menyertai
demensia dan dapat menyebabkan peningkatan kemungkinan bunuh diri. Namun halhal ini sering dapat diatasi dengan perawatan yang tepat.

BAB III
KESIMPULAN

Dengan meningkatnya usia angka harapan hidup meningkat pua populasi usia
lanjut. Berbagai masalah kesehatan dan penyakit yang khas terdapat apda usia lanjut juga
akan meningkat. Salah satu masalah kesehatan yang akan banyak dihadapi adalah
ganguan kognitif pada pasien demensia.
Walaupun pengobatan untuk penyakit primer demensia saat ini belum
dimungkinkan, namun penatalaksanaan berbagai aspek baik dengan ataupun tanpa obatobatan masih dimungkinkan.
Obat-obatan golongan inhibitor kolinestease yang bertujuan untuk meningkatkn
kadar asetilkolin sesuai dengan patofisiologi demensia saat ini sudah ada di pasaran.
Selain itu, terapi untuk mengatasi gejala non kognitif pada pasien demensia juga harus
diperhatikan karena juga seringkali meningkatkan angka mortalitasnya.

14 | R e f e r a t P s i k i a t r i - D e m e n s i a