Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN MINI PROJECT

KEJADIAN HIPERTENSI DI PUSKESMAS PANGKAJENE


PERIODE 2013

Oleh

MUHAMMAD FARFIDIA HATALA

Dibawakan dalam rangka menyelesaikan tugas Dokter Internship


di Puskesmas Pangkajene, Kabupaten Sidrap
Sulawesi Selatan
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan masalah kesehatan di dunia yang
sangat penting dikarenakan angka kejadiannya yang tinggi. Prevalensi tekanan darah
tinggi meningkat seiring dengan peningkatan usia.
Peningkatan pendapatan perkapita dan perubahan gaya hidup, menyebabkan
peningkatan prevalensi penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung koroner (PJK),
hipertensi, hiperlipidemia, diabetes dan lain.

Hipertensi merupakan suatu keadaan terjadinya peningkatan tekanan darah yang


memberi gejala berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga timbul kerusakan lebih
berat seperti stroke (terjadi pada otak dan berdampak pada kematian yang tinggi), penyakit
jantung koroner (terjadi pada kerusakan pembuluh darah jantung) serta penyempitan
ventrikel kiri / bilik kiri (terjadi pada otot jantung). Selain penyakit-penyakit tersebut,
hipertensi dapat pula menyebabkan gagal ginjal, penyakit pembuluh lain, diabetes mellitus
dan lain-lain. Penderita hipertensi sangat heterogen, hal ini membuktikan bahwa hipertensi
bagaikan mozaik, diderita oleh orang banyak dan datang dari berbagai sub-kelompok
berisiko di dalam masyarakat.
Hipertensi dipengaruhi oleh faktor risiko ganda, baik yang bersifat endogen seperti
neurotransmitter, hormon, dan genetik, maupun yang bersifat eksogen, seperti rokok,
nutrisi, stresor dan lain-lain. Di seluruh dunia, hipertensi merupakan masalah yang besar
dan serius. Di samping karena prevalensinya yang tinggi dan cenderung meningkat di
masa yang akan datang, juga karena tingkat keganasan penyakit yang diakibatkan sangat
tinggi seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal dan lain-lain, juga menimbulkan
kecacatan permanen dan kematian mendadak.
Salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang menjadi masalah kesehatan yang
sangat serius saat ini adalah hipertensi yang disebut sebagai the silent killer. Di Amerika,
diperkirakan 1 dari 4 orang dewasa menderita hipertensi.5 Apabila penyakit ini tidak
terkontrol, akan menyerang target organ, dan dapat menyebabkan serangan jantung,
stroke, gangguan ginjal, serta kebutaan. Dari beberapa penelitian dilaporkan bahwa
penyakit hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan peluang 7 kali lebih besar
terkena stroke, 6 kali lebih besar terkena congestiveheart failure, dan 3 kali lebih besar
terkena serangan jantung.
Menurut WHO dan the International Society of Hypertension (ISH), saat ini terdapat
600 juta penderita hipertensi diseluruh dunia, dan 3 juta di antaranya meninggal setiap
tahunnya. 7 dari setiap 10 penderita tersebut tidak mendapatkan pengobatan secara
adekuat.
Di Indonesia masalah hipertensi cenderung meningkat. Hasil Survei Kesehatan
RumahTangga (SKRT) tahun 2001menunjukkan bahwa 8,3% penduduk menderita
hipertensi dan meningkat menjadi 27,5% pada tahun 2004. Kelompok Kerja Serebro
kardiovaskuler FK UNPAD/RSHS tahun 1999, menemukan prevalensi hipertensi sebesar

17,6%, dan MONICA Jakarta tahun 2000 melaporkan prevalensi hipertensi di daerah
urban adalah 31,7%. Sementara untuk daerah rural (Sukabumi) FKUI menemukan
prevalensi sebesar 38,7%.
Masalah yang sering ditemukan di masyarakat adalah kurangnya pengetahuan pasien
mengenai terapi farmakologi yang harus rutin dikomsumsi, selain itu penyakit penyerta
yang perlu untuk diperhatikan serta perubahan pola hidup sehat seperti diet rendah garam
dan kolesterol dan olah raga yang teratur sebagai terapi non-farmakologi.
1.2 Rumusan Masalah
Meningkatnya prevalensi hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat,
meskipun hipertensi dikategorikan penyakit tidak menular namun memiliki morbiditas dan
mortalitas yang cukup bermakna. Sehubungan dengan hal tersebut maka dikemukakan
masalah sebagai berikut: Bagaimanakah kejadian hipertensi pada pasien Puskesmas
Maniangpajo Periode 2012?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui angka kejadian hipertensi pada pasien Puskesmas Pangkajene
1.3.2

Periode 2013
Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui angka kejadian hipertensi berdasarkan Pengobatan Dasar yang
dilakukan di Poliklinik Umum Puskesmas Pangkajene
b. Untuk meningkatkan pengetahuan pasien faktor-faktor risiko penyakit hipertensi
c. Untuk meningkatkan kesadaran pasien tentang pengobatan hipertensi yang harus
rutin baik non-farmakologi maupun farmakologi

1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat bagi instansi (Puskesmas)
Sebagai bahan informasi bagi Puskesmas dalam penyusunan strategi serta pelaksanaan
1.4.2

program pencegahan Hipertensi untuk meningkatkan kualitas pelayanan puskesmas.


Manfaat bagi pasien
Sebagai bahan informasi bagi pasien tentang penyakit hipertensi sehingga pasien
akan lebih sadar untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah dan pengobatan secara
rutin

Sebagai bahan informasi bagi pasien untuk melakukan perubahan gaya hidup dan
pola makan sebagai penanganan non-farmakologi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pendahuluan
Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang sering ditemukan pada Negara
berkembang. Secara umum, hipertensi tidak bergejala, mudah dideteksi, biasanya mudah
diobati dan sering menyebabkan komplikasi kematian bila tidak ditangani. Sebagai hasil
dari program pendidikan yang luas pada akhir tahun 1960 dan 1970-an baik oleh lembaga
swasta maupun pemerintah, jumlah pasien terdiagnosis dan / atau tidak diobati berkurang
secara signifikan pada akhir 1980-an ke level 25% dengan seiring penurunan mortalitas
kardiovaskular. Sayangnya, pertengahan 1990-an, tren menguntungkan ini mulai berubah.
Jumlah pasien terdiagnosis dengan hipertensi meningkat menjadi hampir 33%, penurunan
angka kematian kardiovaskular cenderung statis, dan jumlah individu dengan penyakit
kronis dengan hipertensi yang tidak diobati atau pengobatannya buruk cenderung
meningkat.1
Misalnya, prevalensi penyebab hipertensi seperti penyakit gagal ginjal stadium akhir
per juta penduduk meningkat dari 100 pada tahun 1982 menjadi 250 pada tahun 1995, dan
prevalensi gagal jantung kongestif dari usia 55 sampai 75 lebih dari dua kali lipat antara
1976-1980 dan 1988 sampai 1991. Jadi, meskipun pengetahuan mengenai patofisiologi
hipertensi meningkat, akan tetapi prevalensi kasus penyebab hipertensi masih sekitar 90
sampai 95% (yang berpotensi pencegahan atau penyembuhan). Akibatnya, dalam banyak

kasus hipertensi diobati secara nonspesifik, sehingga sejumlah besar efek samping ringan
dan relatif. tingginya tingkat ketidakpatuhan (50 sampai 60%).1
2.2 Definisi
Saat ini untuk orang dewasa, hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan
darah sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih tinggi dan atau peningkatan tekanan darah
diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih tinggi. Hipertensi dibagi menjadi dua tingkatan
baik bersadarkan sistolik maupun diastolik darah (Tabel 1). Tekanan darah sistolik antara
120 dan 139mm Hg atau tekanan darah diastolik antara 80 dan 89 mm Hg dikategorikan
prehipertensi. Orang dengan prehipertensi memiliki peningkatan risiko penyakit
kardiovaskular dan perkembangan hipertensi dari waktu ke waktu dibandingkan dengan
orang dengan tekanan darah normal.2
Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah pada Pasien Dewasa dengan
Usia 18 tahun dan lebih.2*

*Tanpa mengkonsumsi obat antihipertensi dan


tidak akut. ketika tekanan darah sistolik dan
diastolik masuk ke dalam kategori yang berbeda
maka katergori yang dipilih adalah kategori yang
lebih tinggi

Hipertensi sistolik terisolasi merupakan masalah yang banyak ditemukan pasien


orang dengan usia lebih dari 55 tahun. Definisi hipertensi sistolik terisolasi merupakan
keadaan dimana tekanan darah sistolik 140mmHg aatau lebih dan tekanan darah diastolic
kurang dari 90 mmHg. Penyebab sekunder dari dari kelainan ini dihubungkan dengan
adanya peningkatan curah jantung atau Cardiac output (anemia, tirotoksikosis, fistula

arteriovenous, Penyakit Paget pada tulang dan beriberi) atau peningkatan volume
sekuncup atau stroke volume (insufisiensi aorta dan blok jantung total). 2
Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang menjadi semakin penting. Prevalensi
hipertensi meningkat dengan bertambahnya umur ke titik di mana lebih dari setengah dari
orang usia 60-69 tahun dan sekitar tiga-perempat dari mereka 70 tahun dan lebih tua.
Peningkatan terutama tekanan darah sistolik bertanggung jawab dalam meningkatkan
insiden dan prevalensi hipertensi sejalan dengan pertambahan usia.3
Studi Jantung Framingham baru-baru ini menjelaskan risiko seumur hidup hipertensi
mencapai sekitar 90 persen untuk pria dan wanita yang tidak hipertensi pada usia 55 atau
65 tahun dan selamat sampai usia 80-85. Bahkan setelah disesuaikan dengan persaingan
angka kematian, risiko seumur hidup sisa hipertensi adalah 86-90 persen pada wanita dan
81-83 persen pada pria 3
2.3 Epidemiologi
Tekanan darah meningkat sejalan dengan peningkatan usia. Tekanan darah sistolik
meningkat sepanjang hidup, tetapi tekanan darah diastolik cenderung stabil pada usia
dekade kelima. Dengan demikian, baik insiden dan prevalensi hipertensi meningkat
dengan bertambahnya usia, dan hipertensi sistolik terisolasi menjadi subtipe yang paling
umum pada orang tua. Untuk orang setengah baya dengan tekanan darah normal yang
hidup sampai usia 85 tahun, masa residual risiko mengembangkan hipertensi adalah 90%.2
Selain usia, faktor-faktor lain yang terkait dengan peningkatan risiko hipertensi yang
tidak dapat diubah (nonreversible) termasuk ras Afrika Amerika atau memiliki riwayat
keluarga hipertensi. Faktor yang dapat diubah (reversible) termasuk memiliki tekanan
darah dalam rentang prehipertensi, kelebihan berat badan, memiliki gaya hidup yang
kurang gerak, diet mengkomsumsi tinggi natrium- rendah kaliu, asupan alkohol yang
berlebih, atau memiliki sindrom metabolik. Sindrom metabolik didefinisikan oleh adanya
tiga atau lebih dari kondisi berikut: obesitas perut (lingkar pinggang> 40 inci pada pria
atau> 35 inci pada wanita), toleransi glukosa oral (glukosa puasa 110 mg / dL), tekanan
darah 130/85 mm Hg atau lebih tinggi, meningkatkan tingkat plasma trigliserida ( 150
mg / dL), atau rendah high-density lipoprotein (HDL) kolesterol (<40 mg / dL pada pria
atau <50 mg / dL pada wanita). Hal ini diduga bahwa resistensi insulin mungkin menjadi
faktor pathophysiologik yang mendasari untuk sindrom metabolik. Memperbaiki faktor
reversibel dapat menurunkan tekanan darah dan mencegah perkembangan dari hipertensi. 2

Dalam usia dewasa muda dan usia pertengahan awal, hipertensi lebih umum pada
pria dibandingkan pada wanita. Pada orang yang lebih tua dari 60 tahun, sebaliknya adalah
hipertensi lebih umum pada wanita dibandingkan pada pria. Hipertensi lebih umum di ras
Afrika Amerika daripada ras kulit putih di segala usia, dan di kedua ras itu lebih umum di
ekonomi yang menengah ke bawah.2
Prevalensi hipertensi tergantung antara komposisi ras pada populasi yang diteliti dan
kriteria yang digunakan untuk mendefinisikan kondisi. Dalam populasi suburban kulit
putih seperti dalam penelitian Framingham, hampir seperlima dari individu memiliki
tekanan darah 160/95 mmHg, sementara setengahnya memiliki tekanan darah 140/90
mmHg. Prevalensi yang lebih tinggi telah didokumentasikan dalam penduduk kulit putih.
Pada perempuan prevalensi berkaitan erat dengan usia, dengan peningkatan yang
substansial terjadi setelah usia 50. Peningkatan ini diduga berkaitan dengan perubahan
hormonal saat menopause, meskipun mekanismenya belum diketahui dengan jelas.
Dengan demikian, rasio frekuensi hipertensi pada wanita dibandingkan pria meningkat
0,6-0,7 pada usia 30 hingga 1,1-1,2 pada usia 65.1
Data dari The National Health and Nutrition Survey (NHANES) telah menunjukkan
bahwa 50 juta atau lebih orang Amerika menderita hipertensi yang menjalani beberapa
bentuk pengobatan.1,2 Seluruh Dunia estimasi prevalensi untuk hipertensi diperkirakan
sebanyak 1 miliar orang, dan sekitar 7,1 juta kematian per tahun mungkin disebabkan
hipertensi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa tekanan darah
suboptimal (tekanan darah sistolik > 115 mmHg) bertanggung jawab atas 62 persen dari
penyakit serebrovaskular dan 49 persen dari penyakit jantung iskemik (IHD), dengan
sedikit variasi berdasarkan jenis kelamin. Selain itu, tekanan darah suboptimal tersebut
merupakan faktor risiko nomor satu kematian di dunia.3.
Untuk orang-orang dengan hipertensi, kematian yang paling sering disebabkan oleh
komplikasi dari penyakit arteri koroner. Faktor-faktor yang menambah risiko ini adalah
penggunaan tembakau, hiperlipidemia, diabetes mellitus, obesitas, gaya hidup yang
kurang gerak, sindrom metabolik, jenis kelamin (laki-laki dan pascamenopause pada
perempuan), usia lebih tua dari 60 tahun, dan riwayat keluarga penyakit kardiovaskular
premature (wanita <65 tahun, laki-laki <55 tahun). Adanya kerusakan organ target (stroke,
hipertrofi ventrikel kiri, penyakit jantung iskemik, gagal jantung kongestif, penyakit
ginjal, retinopati, penyakit pembuluh darah perifer, dan demensia) meningkatkan risiko

penyakit kardiovaskular peristiwa ini berlanjut bahkan jika tekanan darah telah dikontrol.
Fakta ini berpendapat untuk identifikasi dini dan pengobatan yang tepat hipertensi untuk
menghindari perkembangan cedera organ target.2

2.4 Penyebab
Sebagian besar (80-90%) dari pasien dengan hipertensi memiliki peningkatan
tekanan darah primer, yaitu hipertensi esensial yang tidak diketahui penyebabnya.4
a. Hipertensi Esensial/ Hipertensi Primer 4
Hipertensi esensial memiliki etiologi multifaktorial.
a. Faktor genetik
Tekanan darah anak dalam sebuah keluarga cenderung meningkat apabila orang
tuanya mengalami hipertensi,dibandingkan dengan anak tanpa riwayat orang tua
hipertensi. Hal ini menunjukkan tendensi faktor risiko genetik dalam penyebab
hipertensi, meskipun sebagian, adanya pengaruh lingkungan secara bersama.
Namun, sebagian besar faktor genetik bertanggung jawab atas kejadian
hipertensi dalam sebuah keluarga.
b. Janin faktor
Berat badan lahir rendah dikaitkan dengan hipertensi. Hubungan ini mungkin
karena adaptasi janin intrauterin abikbat kekurangan gizi dengan perubahan
jangka panjang dalam darah Kapal struktur atau fungsi penting sisstem
hormonal.
c. Faktor-faktor lingkungan
Di antara beberapa faktor lingkungan yang telah diduga berperan, berikut ini
tampaknya menjadi yang paling signifikan:
(a) Obesitas. Orang gemuk memiliki tekanan darah yang lebih tinggi
dibandingkan orang kurus. Ada resiko, yang cenderung lebih tinggi jika
tekanan darah diukur dengan manset kecil. Sesuaikan ukuran maset dengan
lingkar lengan. Gangguan pernafasan saat tidur yang bersamaan ditemukan
pada pasien obesitas merupakan faktor risiko tambahan.
(b) Asupan. Kebanyakan penelitian telah menunjukkan hubungan yang erat
antara konsumsi alkohol dan hipertensi. Namun, subyek yang mengonsumsi
sejumlah kecil alkohol tampaknya memiliki tingkat tekanan darah yang
lebih rendah daripada mereka yang mengkonsumsi alkohol dalam jumlah
banyak.

(c) Asupan Garam. Asupan Garam yang tinggi telah disarankan untuk menjadi
penentu utama dari perbedaan tekanan darah dalam populasi di seluruh
dunia. Populasi dengan asupan natrium lebih tinggi memiliki tekana darah
rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan asupan natrium rendah. Migrasi
dari pedesaan ke lingkungan perkotaan dikaitkan dengan peningkatan
tekanan darah yang sebagian terkait dengan jumlah garam dalam diet. Studi
tentang pembatasan asupan garam telah menunjukkan efek yang
menguntungkan pada tekanan darah pada pasien hipertensi. Sejumlah bukti
telah menjelaskan komsumsi tinggi kalium dapat melawan efek asupan
kadar garam yang tinggi.
(d) Stres. Nyeri akut atau stress dapat meningkatkan tekanan darah. Namun
hubungan antaran nyeri kronik dan peningkatan tekanan darah belum dapat
dijelaskan dengan pasti.
d. Mekanisme Hormonal
e. Adanya sistem saraf otonom maupun Renin-angiotensis, peptide nautriuetik dan
sistem kalikrein-kinin memainkan peran dalam regulasi perubahan tekanan
darah jangka pendek dan telah dikaitkan dalam patogenesis hipertensi.
Penurunan renin, saltsensitive, hipertensi esensial yang terjadi pada pasien yang
mengalami retensi garam dan air dapat dijelaskan.
f. Resistensi Insulin
Hubungan antara diabetes dan hipertensi telah lama telah diakui dan sebuah
sindrom telah dijelaskan dari adanya hiperinsulinemia, intoleransi glukosa,
penurunan tingkat kolesterol HDL, hipertrigliseridemia dan obesitas sentral
(semua yang berhubungan dengan resistensi insulin) dalam hubungan dengan
hipertensi. Hubungan ini (juga disebut sindrom metabolik) merupakan faktor
risiko utama untuk penyakit kardiovaskular.
b. Hipertensi Sekunder 4
Hipertensi sekunder adalah keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah akibat
dari penyakit spesifik dan berpotensi dapat diobati. Bentuk-bentuk dari penyeba
hipertensi sekunder seperti yang ada di bawah ini:
a. Penyakit Ginjal
Sekitar 80% pasien penyakit ginjal mengalami hipertensi. Penyebab yang palig
sering adalah:
- Nefropati diabetik

Glomerulonefritis Kronik
Penyakit Polikistik pada dewasa
Nefritis tubulointestinal Kronik
Penyakit renovaskuler.

Hipertensi itu sendiri dapat menyebabkan atau memperburuk penyakit ginjal.


Mekanisme peningkatan tekanan darah ini akibat retensi garam dan air,
meskipun dapat pula ditemukan ketidaksesuaian peningkatan level plasma
rennin.
b. Penyakit Endokrin
- Sindrom Conn
- Adrenalhiperplasia
- Pheochromasitoma
- Sindrom Cushing
- Acromegali
c. Penyakit kardiovaskular Kongenital
Penyebab yang paling sering adalah coartasio aorta.
d. Obat-obatan
Banyak obat telah terbukti menyebabkan atau memperburuk hipertensi, atau
mengganggu respon terhadap beberapa agen antihipertensi: NSAID, kontrasepsi
oral, steroid, carbenoxolone, akar manis, simpatomimetik dan vasopressin.
Pasien yang memakai monoamine oxidase inhibitors yang mengkonsumsi
makanan yang mengandung tyramin dapat mengembangkan paroksismal
hipertensi berat.
e. Kehamilan
Curah jantung meningkat pada kehamilan tetapi, karena relatif besarnya
penurunan resistensi perifer, tekanan darah pada ibu hamil perempuan biasanya
lebih rendah dari pada mereka yang tidak hamil. Hipertensi dicatat dalam 810% dari kehamilan; bila terdeteksi pada trimester pertama kehamilan atau
bertahan setelah melahirkan, biasanya karena sudah ada hipertensi esensial
sebelumnya. Hipertensi yang muncul pada paruh kedua kehamilan atau
'hipertensi yang dicetuskan oleh kehamilan biasanya sembuh setelah
melahirkan. Ketika tekanan darah meningkat terhadap pengobatan> 160/110
mmHg dibenarkan untuk diobati. Pre-eklampsia adalah sindrom yang terdiri
dari kehamilan yang diinduksi hipertensi dengan proteinuria. penyebab primer
tidak diketahui dengan pasti, tetapi kemungkinan melibatkan gangguan sirkulasi

uteroplasenta dan mengakibatkan pembatasan pertumbuhan intrauterin.


Hipertensi pada kehamilan, bersama dengan emboli paru, adalah penyebab
kematian ibu yang paling umum, dengan kejadian 10 per 1 juta kehamilan.
Selain itu, penting kondisi eklampsia, yang berhubungan dengan berat
hipertensi, pada akhirnya dapat menyebabkan kejang-kejang, gangguan edema
otak dan paru, penyakit kuning, kelainan pembekuan dan kematian janin.
2.5 Patomekanisme
Tekanan darah arteri adalah hasil dari resistensi perifer totoal dan curah jantung.
Curah jantung dapat meningkat dengan meningkatnya denyut jantung atau volume
sekuncup atau keduanya. Resistensi perifer meningkat oleh faktor-faktor yang
meningkatkan viskositas darah atau vasokontriksi lumen pembuluh darah, terutama
arteriol.5
Beberapa teori yang menjelaskan perkembangan hipertensi, termasuk: 5

Perubahan dalam penampang arteriolar menyebabkan peningkatan resistensi pembuluh

darah perifer
Abnormalitas peningkatan tonus dalam sistem saraf simpatik yang berasal dari pusat-

pusat sistem vasomotor, menyebabkan resistensi pembuluh darah perifer meningkat


Peningkatan volume darah akibat disfungsi ginjal atau hormonal
Peningkatan penebalan arteriolar disebabkan oleh faktor genetik, yang menyebabkan

peningkatan resistensi pembuluh darah perifer


Pelepasan rennin yang abnormal, sehingga terbentuk angiotensin II, yang
mengkonstriksi arteriol dan meningkatkan volume darah.
Hipertensi yang berkepanjangan meningkatkan beban kerja jantung sebagai

perlawanan terhadap kenaikan ejeksi ventrikel kiri. Untuk meningkatkan daya


kontraktilitas, ventrikel kiri mengalami hipertrofi, kebutuhan oksigen dan beban kerja
jantung meningkat. Dilatasi jantung dan kegagalan dapat terjadi ketika hipertrofi tidak
bisa lagi mempertahankan curah jantung yang memadai. Karena hipertensi memicu
aterosklerosis koroner, jantung selanjutnya dapat dikompromikan oleh berkurangnya
aliran darah ke miokardium, sehingga timbullah angina atau infark miokard (MI).
Hipertensi juga menyebabkan kerusakan pembuluh darah, yang menyebabkan percepatan
terjadinya aterosklerosis dan kerusakan organ target, seperti cedera retina, gagal ginjal,
stroke, dan aneurisma dan diseksi aorta. 5

Patofisiologi hipertensi sekunder berhubungan dengan penyakit yang mendasarinya.


Sebagai contoh: 5
Penyebab paling umum dari hipertensi sekunder adalah penyakit ginjal kronik.
Kerusakan ginjal kronis akibat dari glomerulonefritis atau stenosis arteri ginjal yang
mengganggu ekskresi natrium, sistem renin-angiotensin-aldosteron, atau perfusi ginjal,
akhirnya menyebabkan tekanan darah meningkat.
Dalam sindrom Cushing, peningkatan kadar kortisol meningkatkan tekanan darah
dengan meningkatkan retensi natrium ginjal, meningkatkan kadar angiotensin II, dan
respon pembuluh darah terhadap norepinefrin.
Dalam aldosteronisme primer, peningkatan

volume

intravaskular,

perubahan

konsentrasi natrium dalam dinding pembuluh darah, atau sangat


Tingginya kadar aldosteron menyebabkan vasokonstriksi dan peningkatan resistensi
perifer.
Pheochromocytoma adalah tumor sel chromaffin medula adrenal yang mengeluarkan
epinephrine dan norepinephrine. Epinefrin meningkatkan kontraktilitas dan ritme
jantung, sedangkan norepinefrin meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer.
2.6 Klasifikasi
Tabel 2 menunjukkan klasifikasi tekanan darah untuk orang dewasa usia 18 tahun
dan lebih tua. Klasifikasi ini didasarkan pada rata-rata dua atau lebih pengukuran, saat
duduk, pembacaan tekanan darah dilakukan oleh patugas kunjugan kedua atau lebih.3
Prehipertensi bukan kategori penyakit. Sebaliknya, prehipertensi adalah sebutan
yang dipilih untuk mengidentifikasi individu yang berisiko tinggi akan mengalami
hipertensi, sehingga baik pasien dan dokter patut waspada terhadap risiko ini dan
terdorong untuk campur tangan dan mencegah atau menunda perkembangan dari penyakit
tersebut. Individu yang dikategorikan prehipertensi belum dianjurkan untuk terapi obat
oral berdasarkan tingkat tekanan darah dan harus secara tegas dan jelas disarankan untuk
memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi risiko berkembangnya hipertensi di masa
depan. Selain itu, individu dengan prehipertensi, yang juga menderita diabetes atau
penyakit ginjal, harus dipertimbangkan untuk terapi obat yang sesuai jika modifikasi gaya
hidup gagal untuk menurunkan tekanan darah

mereka menjadi 130/80 mmHg atau

kurang.3
Tabel 2. Klasifikasi Tekanan Darah Pada Orang Dewasa

Klasifikasi ini tidak membedakan individu hipertensi dengan ada atau tidak adanya
faktor resiko atau kerusakan target organ untuk membuat rekomendasi pengobatan yang
berbeda, JNC 7 menunjukkan bahwa semua orang dengan hipertensi (stadium 1 dan 2)
dapat diobati. Tujuan pengobatan adalah untuk individu dengan hipertensi dan tidak ada
kondisi lain yang menyertai yaitu tekanan darah <140/90 mmHg. Tujuan untuk individu
dengan prehipertensi adalah untuk menurunkan tekanan darah ke tingkat normal dengan
perubahan gaya hidup, dan mencegah progresifitas kenaikan tekanan darah dengan
modifikasi gaya hidup yang disarankan.3
2.7 Tanda dan Gejala
secara umum, hipertensi tidak bergejala. Namun beberapa tanda dan gejala dapat
terjadi pada pasien hipertensi, yaitu:5
Peningkatan tekanan darah pada pembacaan setidaknya dua kali berturut-turut setelah

penyaringan awal
Nyeri kepala oksipital (kemungkinan memburuk pada di pagi hari sebagai akibat dari

peningkatan tekanan intrakranial); mual dan muntah juga dapat terjadi


Epistaksis yang mungkin karena keterlibatan vaskular
Bruits (yang dapat didengar melalui aorta perut atau karotis, arteri ginjal, dan

femoralis) disebabkan oleh stenosis atau aneurisma


Pusing, kebingungan, dan kelelahan yang disebabkan oleh perfusi jaringan menurun

karena vasokonstriksi pembuluh darah


Penglihatan kabur sebagai akibat dari kerusakan retina

Nokturia disebabkan oleh peningkatan aliran darah ke ginjal dan peningkatan filtrasi

glomerular
Edema yang disebabkan oleh peningkatan tekanan kapiler.
Jika hipertensi sekunder ada, tanda-tanda dan gejala lain yang timbul kemungkinan

berhubungan dengan penyebabnya. Misalnya, Cushing sindrom dapat menyebabkan


obesitas dan striae trunkal berwarna ungu, sedangkan pasien dengan pheochromocytoma
dapat timbul sakit kepala, mual, muntah, palpitasi, pucat, dan keringat berlimpah.5
2.8 Diagnosis
Beberapa pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis:5

Pengukuran tekanan darah yang berulang akan sangat bermamfaat


Unrinalisis dapat menunjukkan adanya protein, sel darah merah atau sel darah putih,
pada penyakit ginjal: adanya katekolamin yang dihubungkan dengan

pheochromasitoma, atau glukosa yang menunjukkan adanya dibetes.


Pengujian laboratorium dapat mengungkapkan adanya peningkatan nitrogen urea dan
kadar kreatinin serum dari penyakit ginjal, atau hipokalemia menunjukkan disfungsi

adrenal (hiperaldosteronisme primer).


Hitung darah lengkap dapat mengungkapkan penyebab hipertensi misalnya polisitemia

dan anemia.
Excretory urography dapat mengungkapkan adanya atrofi ginjal yang mengarah ke
penyakit ginjal kronik. Satu ginjal lebih kecil dari ginjal sebelahnya menunjukkan

penyakit ginjal unilateral.


Elektrocardiografi (EKG) dapat menunjukkan adanya hipertrofi ventrikel kiri atau

iskemik jantung.
Foto X-ray dada dapat menunjukkan kardiomegali
Echokardiografi dapat mengungkapkan adanya hipertrofi ventrikel kiri.

2.9 Penatalaksanaan
Pasien dengan tekanan diastolik 90 mmHg atau tekanan sistolik 140 mmHg harus
ditangani. Pasien dengan hipertensi sistolik terisolasi (level 160 mmHg dengan tekanan
diastolik 89 mmHg) harus juga diobati jika mereka di atas usia 65 tahun. Pasien dengan
hipertensi dengan tekanan darah yang tidak stabil atau hipertensi sistolik terisolasi yang
tidak diobati harus memiliki tindak lanjut pemeriksaan rutin pada interval 6 bulan karena
hipertensi dapat menjadi progresif dan / atau berkelanjutan. Akhirnya, pasien dengan

penyakit vaskular aterosklerotik atau diabetes mellitus dan tekanan darah diastolik antara
85 dan 90 mmHg juga harus menerima terapi antihipertensi.1,2
Berapakah target penurunan tekanan darah yang semestinya? Sebelumnya
diasumsikan 140/90 mmHg adalah tingkat yang diinginkan. Hal ini tampaknya masih
wajar untuk pasien nondiabetes sejak studi Pengobatan Optimal Hipertensi (HOT) tidak
mendeteksi perbedaan yang signifikan dalam risiko kardiovaskular antara pasien
nondiabetes dirawat untuk tujuan penurunan tekanan darah diastolic 90 mmHg
dibandingkan 80 mmHg. 1,2
Sekitar kurang dari sepertiga dari pasien hipertensi di Amerika Serikat diobati
secara efektif. Jumlah kegagalan terhitung kecil terkait dengan obat yang tidak merespom.
Kebanyakan kegagalan akibat (1) gagal mendeteksi hipertensi, (2) kegagalan institusi
dalam pengobatan yang efektif pasien hipertensi asimtomatik, dan (3) kegagalan
hipertensi asimtomatik pasien untuk mematuhi terapi. Untuk membantu mengatasi
masalah selanjutnya, pasien harus dididik untuk melanjutkan perawatan sekali untuk
rejimen yang efektif yang telah diidentifikasi. Efek samping dan ketidaknyamanan
pengobatan harus diminimalkan atau dihilangkan agar pasien dapat bekerja sama. 1,2
a. Pengobatan Non-Farmakologi
Perubahan gaya hidup dapat menurunkan tekanan darah dan harus digalakkan
untuk semua orang dengan prehipertensi. Modifikasi mungkin cukup sebagai terapi
awal untuk beberapa orang dengan hipertensi stadium 1. Perlu terapi tambahan bagi
mereka dengan hipertensi yang lebih parah.2,3
Pendekatan Diet untuk Menghentikan Hipertensi atau The Dietary Approach to
Stop Hypertension (DASH) efektif dalam menurunkan tekanan darah pada pasien
dengan prehipertensi atau hipertensi tahap . Rencana makan DASH meliputi
mengkonsumsi diet kaya buah-buahan, sayuran (kalium yang tinggi), dan produk susu
rendah lemak (kalsium tinggi) dengan pengurangan kandungan dari lemak total dan
jenuh. 2,3
Prevalensi hipertensi lebih besar pada orang-orang yang mengalami obesitas.
Peningkatan tekanan darah sering seiring dengan berat badan, dan uji klinis banyak
telah mendokumentasikan efektivitas penurunan berat badan untuk menurunkan

tekanan darah. Pengurangan berat badan ke dalam kisaran normal (indeks massa tubuh
18,5-24,9) adalah tujuan yang diharapkan. 2,3
Pembatasan asupan natrium setiap hari menjadi100 mEq (2,4 g natrium atau 6
gr garam) menurunkan tekanan darah pada sejumlah pasien tapi tidak semua pasien
hipertensi. Sensitivitas terhadap garam lebih umum pada orang-orang ras African
American, obesitas, atau orang tua atau yang memiliki hipertensi rendah renin, tingkat
tekanan darah yang lebih tinggi, atau penyakit ginjal kronik, efek antihipertensi dari
banyak obat yang ditingkatkan oleh pembatasan natrium. Juga, pembatasan natrium
meminimalkan kehilangan kalium yang menginduksi diuresis. 2,3
Latihan aerobik yang teratur dapat menurunkan tekanan darah secara langsung
dan secara tidak langsung dengan memfasilitasi penurunan berat badan. Setidaknya 30
menit sehari-hari aktivitas aerobik, seperti berjalan, harus digalakkan. 2,3
Pembatasan asupan alkohol setiap hari ]kurang dari 1 oz (30 ml) dari etanol
(<0.5 oz untuk perempuan atau laki-laki ringan) sering dikaitkan dengan penurunan
tekanan darah. Alkohol adalah sumber kalori, dan penggunaannya sering dikaitkan
dengan buruknya kepatuhan

dengan terapinantihipertensi. Asupan alkohol yang

berlebihan dapat menyebabkan hipertensi yang tidak stabil yang sulit untuk mengontrol
dalam hubungan dengan gejala lain (pembilasan dan takikardia) yang merujuk pada
penyakit pheochromocytoma. 2,3
Karena komplikasi dari penyakit arteri koroner yang paling umum penyebab
kematian pada orang hipertensi, semua risiko untuk penyakit kardiovaskular harus
ditangani. Manfaat penurunan tekanan darah dikurangi pada perokok. Komponen
sindrom metabolik hidup berdampingan lebih sering pada orang hipertensi
dibandingkan orang normotensi. Pengobatan sindrom metabolik menurunkan risiko
penyakit jantung dan hipertensi yang sedang berkembang. Ini mencakup instruksi
dalam diet rendah lemak, penurunan berat badan; dorongan berolahraga secara teratur,
dan penggunaan obat-obatan untuk menurunkan kadar serum lipid, tekanan darah, dan
sensitivitas insulin bila diperlukan. 2,3
b. Pengobatan Farmakologi
Dalam lebih dari 50% dari orang dengan tahap 1 hipertensi, tekanan darah dapat
dikontrol dengan terapi obat tunggal. Faktor penting untuk pertimbangkan ketika
memilih obat untuk terapi awal adalah khasiat sebagai monoterapi, rute eliminasi,

interaksi obat, efek samping, dan biaya. Pemilihan obat yang tepat adalah penting untuk
menjaga kepatuhan jangka panjang. 2,3
Pasien dengan hipertensi stadium 2, orang-orang dengan tekanan darah awal
lebih dari 20/10 mm Hg di atas batas, dan mereka ditargetkan untuk menurunkan
tekanan darah (penyakit ginjal kronis atau diabetes) sering akan memerlukan dua atau
lebih obat untuk mengontrol tekanan darah. Pertimbangan terapi awal dengan
kombinasi dua obat (salah satunya adalah diuretik yang tepat untuk tingkat fungsi
ginjal) harus dipertimbangkan. 2,3
Pengobatan monoterapi meliputi diuretik tiazid, beta-bloker, calcium channel
blockers (CCB), ACE-inhibitors (ACEIs) dan Angiotensi Receptor Blockers (ARBs).
Kombinasi dosis rendah juga dapat digunakan untuk terapi awal. Tiazid sebaiknya
diberikan sebagai terapi awal pasien hipertensi tanpa komplikasi yang tidak memiliki
pilihan yang jelas untuk jenis lain. 2,3
Obat kelas lain dipertimbangan untuk diberikan apabila diuretik tidak efektif
atau ada kontraindikasi atau dengan pengaturan obat lain yang memiki alternative pada
kondisi tertentu (misalnya ACEIs pada pasien hipertensi dengan gagal jantung
kongestif). Antagonis alfa yang bekerja sentral (clonidin, methyldopa, guanabenz dan
guanfacine) dan vasodilator (hydralazine dan mnoxidil) dapat dipertimbangkan dalam
kondisi pseudotolasnsi. Pseudotoleransi adalah stimulasi reflex dari sistem renninangiotensin-aldosteron atay sistem saraf simpatis yang menyebabkan retensi cairan,
peningkatan resistensi vascular, atau peningkatan curah jantung dengan hilangnya
kemanjuran dengan penggunaan jangka panjang. Oleh karena itu sejumlah obat tidak
diberikan sendiri. Obat efek sentral (-agonist cocok ketika diberikan dengan diuretic,
vasodilator paling baik diberikan sebagai obat ketiga dalam kombinasi diuretic dan
adrenergik inhibitor. Adapula obat yang lebih baik pada sejumlah umur dan ras tertentu
(diuretik dan CCB lebih efektif pada ras Afro-Amerika dan pasien usia: beta-bloker ,
ACEI dan ARB lebih efektif pada pasien kulit putih dan dan pasien yang lebih muda.
Dengan terapi kombinasi, memastikan obat bekerja kombinasi dan dua obat dari kelas
yang sama tidak boleh diberikan. Biasanya, salah satu obat kombinasi adalah diuretik
kelemahan dan impotensi. Impotensi merupakan efek sampiang yang paling berpotensi
pada semua obat anti hipertensi. 2,3

Dikenal ada 2 kelompok obat lini pertama yang lazim digunakan untuk
pengobatan awal hipertensi yang itu diuretic, beta-bloker, ACE-inhbitor, ARB dan
antagonis kalsium. Pada JNC-VII, penyekat reseptor alfa adrenergik tidak dimasukkan
dalam lini pertama.6

Berikut ini pembagian obat lini pertama hipertensi: 6


1. Diuretik
Diuretik bekerja dengan meningkatkan ekskresi natrium, air dan klorida
sehingga menurunkan volume darah dan cairan ekstraseluler. Penelitianpenelitian besar membuktikan bahwa efek proteksi kardiovaskuler diuretic
belum dikalahkan oleh obat lain sehingga diuretic dianjurkan untuk sebagian
besar kasus hipertensi ringan dan sedang. Bahkan bila menggunakan kombinasi
dua atau lebih antihipertensi, maka salah satunya adalah diuretik. 6
Sampai sekarang diuretik golongan tiazid merupakan obat utama dalam
terapi hipertensi. Sebagian penelitian besar membuktikan bahwa diuretik
terbukti paling efektif dalam menurunkan risiko kardiovaskuler. 6
Diuretik bekerja dengan menghambat transport bersama Na-Cl di
tubulus distal ginjal, sehingga ekskresi Na+ dan Cl- meningkat.Beberapa obat
golongan diuretic antara lain hidroklorotiazid, bendroflumetiazid, klorotiazid
dan diuretik lain yang memiliki gugus aryl-sulfonamida. Pemberian 1x sehari. 6
2. Beta bloker
Beta-bloker bekerja dengan (1) menurunkan frekuensi denyut jantung
dan kontraktilitas miokard sehingga menurunkan curah jantung, (2) hambatan
sekresi rennin di sel jungstaglomeruler ginjal dengan akibat penurunan kadar
angiotensin II, (3) efek sentral yang mempengaruhi aktivitas baroreseptor,
perubahan aktivitas neuron adrenergik perifer dan oeningkatan sintesis
prostasiklin. 6
Dari berbagai beta-bloker, atenolol merupakan obat yang sering dipilih.
Dosis lazim 50-100 mg per oral sehari. Metoprolol diberikan dua kali sehari

dengan dosis 50-100 mg. Labetolol diberikan dua kali sehari maksimal 300 mg,
dam karvedilol sekali sehari maksimal 50 mg. 6
3. Angiotensin Converting Enzym (ACE) inhibitor dan Angiotensin Reseptor
Blocker (ARB)
ACE-inhibitor bekerja dengan menghambat perubahan angiotensin I
menjadi angiotensin II sehingga terjadi vasodilatasi dan penurunan sekresi
aldosteron. Pada gagal jantung kongestif, ACEI mengurangi beban jantung dan
akan memperbaiki keadaan pasien. 6
ACEI dibedakan atas dua kelompok yaitu: 1) yang bekerja langsung,
contohnya Captopril dosis 25-100 mg 2-3x sehari dan lisinopril 10-40 mg 1x
sehari. 2) Prodrug, contohnya enalapril, kuinapril, perindopril, ramipril,
silazapril, benazepril, fosinopril dan lain-lain. 6
ARB bekerja dengan memblok reseptor AT 1 sehingga terjadi
vasokontriksi, sekresi aldosteron, rangsangan saraf simpatis, stimulasi jantung,
efek renal serta efek jangka panjang berupa hipertrofi otot polos pembuluh
darah dan miokard. Obat ARB seperti Losartan 25-100 mg 1-2x sehari,
valsartan, irberstan, telmisartan dan candesartan 1x sehari. 6
4. Antagonis Kalsium
Antagonis kalsium meghambat influx kalsium pada sel otot polos
pembuluh darah dan miokard. Di pembuluh darah, antagonis kalsium terutama
menimbulkan relaksasi arteriol, sedangkan vena kurang dipengaruhi. Penurunan
resistensi perifer ini sering diikuti oleh reflek takikardia dan vasokontriksi,
terutama menggunakan golongan dihidropiridin kerja pendek (nifedipin). Dossi
nifedipin 3-4x sehari tab 100 mg. Sedangkan diltiazem 80-180 mg 3x sehari dan
verapamil 80-320 mg 2-3x sehari tidak menimbulkan takikardia karena efek
kronotropik negative langsung pada jantung. Bila reflex takikardia kurang baik,
seperti pada orang tua, maka pemberian antagonis kalsium dapat menimbulkan
hipotensi yang berlebihan. 6

BAB III
METODE
3.1 Penetapan Topik Masalah
Sesuai pernyataan masalah yang dikemukakan pada Bab Pendahuluan, maka
topik masalah dalam mini-project ini adalah Bagaimanakah kejadian hipertensi pada
pasien Puskesmas Pangkajene Periode 2013?
3.2 Pengumpulan Data
3.2.1 Tempat dan Waktu Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan di Puskesmas Pangkajene pada bulan Februari
3.2.2

Maret 2013.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah pengumpulan data secara primer

3.2.3

saat melakukan pelayanan primer di Poliklinik Umum Puskesmas Pangkajene.


Populasi dan Sampel Data
Populasi yang digunakan adalah pasien yang berobat di Poliklinik Umum.
Sedangkan teknik pengambilan sampling adalah accidental sampling

3.3 Analisis Data


Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dari hasil pelayanan primer di
poliklinik umum dan wawancara, dimana hubungan sebab-akibat dianalisa berdasarkan
tinjauan pustaka dan dideskripsikan secara naratif.
3.4 Diagnosis Komunitas dan Faktor Terkait
Pasien yang melakukan kunjungan di poliklinik umum akan dilakukan
anamnesis dan pemeriksaan fisis secara sistematis. Diagnosis hipertensi ditegakkan dari
pemeriksaan fisis tekanan darah dimana didapakan tekanan darah sistol 140 mmHg
dan atau tekanan darah diastole 90 mmHg. Saat pasien telah didiagnosis maka perlu

diberikan pengetahuan mulai dari faktor risiko seperti umur, jenis kelamin, gangguan
organik serta penanganan baik non farmakologi maupun farmakologi.
3.5 Pelaksanaan Solusi
Bentuk intervensi yang dilakukan dalam mini-project ini berupa melakukan
penyuluhan/edukasi langsung kepada pasien yang berobat di poliklinik umum. Isi
penyuluhan

mencakup berbagai faktor yang dipandang penting sesuai dengan

pernyataan masalah, menekankan bahwa terapi farmakologi harus dilakukan secara


rutin, perubahan pola hidup sehat seperti diet rendah garam dan olah raga yang teratur
dan tujuan dari mini-project ini. Penjelasan mengenai isi penyuluhan dideskripsikan
pada Bab Diskusi.
3.6 Evaluasi
Dibahas pada Bab Diskusi

BAB IV
HASIL
4.1 Profil Komunitas Umum
Puskesmas Pangkajene terletak di sebelah utara kota Kabupaten Sidrap, dengan jarak 22 km
dari Ibukota Kabupaten. Luas wilayah kerja Puskesmas Maniangpajo yaitu di atas terdiri yaitu
175.96 km yang terdiri dari 8 Desa dan Kelurahan :
1. Keluarahn Anabanua
2. Kelurahan Tangkoli
3. Kelurahan Dualimpoe
4. Desa Mattirowalie
5. Desa Kalola
6. Desa Sogi
7. Desa Abbanuangnge
8. Desa Minangatellue
Sebagian besar daerahnya adalah dataran rendah dan sebagian kecil perbukitan. Adapun batas-batas
wilayahnya adalah sebagai berikut :
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Sidrap
2. Sebelah Timur berbatasan dengan kecamatan Gilireng
3. Sebelah Selatan berbatsan dengan kecamatan Tanasitolo
4. Sebelah Barat berbatasan dengan kecamatan Belawa
4.2 Demografi
Jumlah penduduk Kecamatan Maniangpajo pada tahun 2010 adalah 15.988 jiwa yang terdiri
dari Laki laki sebanyak 7.759 jiwa dan perempuan sebanyak 8.229 jiwa,rasio jenis kelamin 94,3
dengan kepadatan penduduk 91 jiwa/km. Rata-rata anggota Keluarga sebanyak 4 jiwa tiap Kepala
Keluarga dengan rasio beban tanggungan 49. Persebaran penduduk di Kecamatan Maniangpajo
tidak merata separuh penduduk tinggal di Kelurahan Anabanua, Dualimpoe, Mattirowalie dan
Kalola, hal ini disebabkan karena letak Desa dan Kelurahan tersebut yang mudah diakses sehingga
perputaran roda perekonomian dinamis mendorong terjadinya pergerakan penduduk cepat. Lain

halnya dengan tiga Desa yang terpencil yaitu Desa Minangatellue dan Desa Abbanuangnge dan
Desa Sogi dimana akses jalan dan sarana transportasi sulit, pada umumnya penduduk di tiga Desa
tersebut adalah pendatang dari Kabupaten lain yang datang untuk menggarap tanah perkebunan
sehingga banyak penduduk yang tidak menetap.

4.3 Tingkat Pendidikan


Tingkat pendidikan penduduk wilayah kerja Puskesmas Maniangpajo mulai meningkat, ratarata berpendidikan terakhir SMP, sisanya berpendidikan terakhir SMA dan SD, walaupun masih
banyak hanya tamatan SD namun pada umumnya dapat baca tulis.
4.4 Tingkat Ekonomi
Mata pencarian penduduk wilayah kerja puskesmas Maniangpajo sebagian besar sebagai petani
(bersawah, berkebun) sebagian pegawai dan pedagang.
4.5 Sarana Pendidikan
Jumlah sekolah yang ada di wilayah kerja Puskesmas Maniangpajo yaitu:
TK

: 17 buah

SD

: 16 buah

SMP

: 3 buah

SMA/SMK

: 1 buah

4.6 Visi
Visi Puskesmas Maniangpajo adalah Maniangpajo Sehat 2015
Untuk mencapai visi yang sebagaimana di tetapkan maka Puskesmas Maniangpajo menyusun misi
sebagai pedoman kerja. Adapun misi Puskesmas Maniangpajo adalah
1. Melaksanakan pembangunan berwawasan kesehatan
2. Memotivasi masyarakat agar mampu mandiri untuk berperilaku hidup bersih dan sehat.
3. Meningkatkan mutu pelayanan dan manajemen Puskesmas.
4. Lebih mengaktifkan kegiatan di Luar gedung terutama promotif dan prefentif
5. Meningkatkan kerja sama lintas sektoral dalam pembangunan kesehatan.

Demi terwujudnya cita-cita bangsa ini menjadikan Indonesia sehat, maka Puskesmas
Maniangpajo mengambil langkah-langkah atau berusaha menata manajemenya secara maksimal
mulai dari sumber daya yang ada sampai sarana dan prasarana yang masih kurang di fungsikan
seoptimal mungkin.
Sebagai ujung tombak dalam pembangunan dan peningkatan derajat kesehatan maka Puskemas
Maniangpajo selalu melakukan kegiatan-kegiatan untuk mewujudkan Desa sehat di seluruh wilayah
kerja Puskesmas Maniangpajo.

4.7 Pencapaian Pembangunan Kesehatan


Dalam pencapaian semua kegiatan program yang telah disusun untuk pembangunan 2010 maka
telah dilaksanakan strategi pembangunan kesehatan untuk menjadikan wilayah kerja Puskesmas
Maniangpajo sebagai daerah sehat dengan masyarakat berperilaku bersih dan sehat.
Adapun indikator-indikator untuk hal tersebut di atas berikut akan diuraikan di bawah ini:
1. Derajat Kesehatan
Meningkatnya umur harapan hidup waktu lahir merupakan gambaran meningkanya kualitas
hidup dan derajat kesehatan masyarakat. Akan tetapi pada tahun 2010 terjadi peningkatan
angka kematian bayi dan balita ssehingga derajat kesehatan jika diukur dari angka kelahiran
cenderung agak menurun walaupun sebagian dari kematian tersebut karena factor seperti
trauma lahir.
a.

Angka Kematian
Pada tahun 2010 jumlah kelahiran Laki-laki 151 dan perempuan 159 jadi jumlah
kelahiran adalah 310, akan tetapi terjadi peningkatan angka kematian dengan rincian yaitu,
angka lahir mati 6,4/1000 kelahiran hidup, angka kematian bayi 6,5/1000 kelahiran hidup
atau jumlah bayi mati 2 bayi,angka kematian balita 6,5/1000 kelahiran hidup atau jumlah
balita mati 2 balita, kematian ibu bersalin dan kematian ibu nifas tidak ada begitu pula
kematian ibu hamil.
Masalah kesehatan yang ada pada program penyakit menular suspek TB yang diperiksa
224 orang, tapi yang BTA positif hanya 27 orang. Angka insidens dan prevalensi TB Paru
sebesar 131,35 per 100.000 penduduk, angka penemuan kasus (CDR) TB Paru 6,35%,
angka kematian TB Paru 6,25 per 100.000 penduduk, penemuan dan penanganan kasus
pneumonia pada balita 9,4%, tidak ditemukan adanya kasus penyakit menular seksual,
sedangkan penyakit menular lainnya yaitu penemuan kasus diare yang melebihi dari

perkiraan kasus yaitu sebesar 108% dari perkiraan kasus.pada tahun 2010 tidak ada
penderita kusta yang mancapai RFT akan tetapi ada 3 penderita kusta yang sementara
berobat. Untuk penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) hanya ada 1 kasus
ditemukan yaitu kasus campak dengan 1 orang penderita. Penyakit DBD hanya ada 1 kasus
dengan Insidens Rate 6,25 per 100.000 penduduk, sedangkan penyakit malaria diperiksa 5
penderita dengan angka kesakitan(Annual Parasit Insidence) 0,3 per 1.000 penduduk untuk
penyakit dengan penularan melalui nyamuk sangat sulit diputus rantai penularannya tanpa
peran aktif masyarakat, sedangkan penyakit diare merupakan penyakit dengan banyak
factor penyebab terutama dari lingkungan dan perilaku sehingga penyakit tersebut masih
endemis di Kecamatan Maniangpajo.
2. Status Gizi
Status gizi bayi pada tahun 2010 sudah baik dengan 100% bayi baru lahir di timbang
berat badannya, Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR) sebesar 1,29%, Balita Gizi baik
98,55%, Balita Gizi Kurang 0,75% sedang balita gizi buruk 0,10%.
3. Upaya Pelayanan Kesehatan
Kunjungan ibu hamil pertama(K1) dan Persalinan ditolong nakes Puskesmas
Maniangpajo tahun 2010 sebesar 100%, sedang kunjungan ibu hamil lengkap (K4) sebesar
98,8%, Pelayanan ibu nifas 100%, ibu hamil mendapat TT2+ 97,59%, ibu hamil mendapat
tablet FE3 98,8%, sedang neonatal denga komplikasi resti yang ditangani sebesar 30,11%,
Peserta KB baru 14,33%, peserta KB aktif 37,05%, Kunjungan neonates 1 (KN1) 91,94%,
kunjungan neonates 3 kali (KN lengkap) 90,32%, kunjungan bayi (minimal 4 kali) 90,32%,
pada program imunisasi semua desa 100% mencapai Desa UCI dengan cakupan imunisasi
campak 93,87%, dan DO DPT1-Campak sebesar 4,5%, Pelayanan balita di Posyandu yaitu
jumlah balita ditimbang 95,30%, Balita berat badan naik 82%, balita BGM 1%, sedangkan
balita gizi buruk sebanyak 2 orang dan 100% mendapat pelayanan. Untuk Pelayanan kesehatan
anak sekolah penjaringan kesehatan paa siswa SD dan sederajat 94,82% dengan cakupan
pelayanan kesehatan dari penjaringan sebesar 99,06%, tidak ada SD yang melakukan sikat gigi
missal disebabkan karena kurangnya dana sehingga hanya dilakukan pembinaan dan
pemeriksaan gigi pada anak sekolah akan tetapi 100% SD mendapat pelayanan gigi dengan
murid SD diperiksa 94,4% dan mendapat perawatan UKGS 97,26%.Desa dan Kelurahan yang
terkena KLB ada 2 yaitu Dualimpoe dan Kalola dengan masisng-masing 1 kasus gizi buruk
dengan 100% ditangani<24 jam.

4. Perilaku Masyarakat

Posyandu yang ada di wilayah kerja Puskesmas Maniangpajo berjumlah 16 buah


dengan rincian pratama madya 5 buah, purnama 7 buah, dan mandiri 4 buah sedangkan dari 8
Desa yang ada 5 diantaranya sudah memiliki Poskesdes dan 3 diantaranya sudah Desa Siaga
Aktif. Rumah tangga yang dipantau PHBS (8 Desa) adalah 3.850 rumah tangga diperiksa
2.570 rumah tangga, sedangkan yang berPHBS sebanyak 1.469 (57.16%) rumah tangga.
Jumlah penduduk yang memanfaatkan sarana kesehatan selama tahun 2010 adalah 15.988 (1
Puskesmas, 2 Pustu, 1 polindes dan 4 Poskesdes).
5. Kesehatan Lingkungan
Keadaan Kesehatan lingkungan di Kecamatan Maniangpajo masih perlu mendapat
perhatian dimana berdasarkan pemeriksaan hanya 80,29% rumah yang diperiksa dinyatakan
rumah sehat, sedangkan rumah bebas jentik 83,2%, Keluarga dengan sumber air minum
terlindungi 21,5%, KK memiliki jamban sehat 76,91%, cakupan kepemilikan tempat sampah
57,41% , KK meiliki pengelolaan air limbah sehat 81,35%, institusi dibina kesehatan
lingkungannya 87,14% dan TUPM sehat hanya 76,92%.
6. Pelayanan Kesehatan
Sebagai ujung tombak dalam hal peningkatan derajat kesehatan masyarakat Puskesmas
Maniangpajo berusaha tampil sebagai pemberi pelayanan prima. Sarana kesehatan yang ada di
kecamatan Maniangpajo adalah 1 Puskesmas, Pustu 2buah, Poskesdes 4 buah dan Polindes 1
Buah, dengan ketenagaan 2 dokter umum, 1 dokter gigi, 8 bidan termasuk bidan di Desa, dan
13 perawat, tenaga kefarmasian 2 orang, tenaga gizi, 2 orang, dan tenaga kesehatan masyarakat
3 orang.

BAB V
DISKUSI
5.1 Kejadian Hipertensi di Puskesmas Maniangpajo
Bedasarkan hasil data sekunder yang diambil diperoleh data kejadian Hipertensi
sebagai berikut.
Tabel 1. Kejadian Hipertensi di Puskesmas Maniangpajo tahun 2012
BULAN

PASIEN

Januari

26

Februari

28

Maret

23

April

16

Mei

21

Juni

48

Juli

21

Agustus

39

September

41

Oktober

20

Sumber: data sekunder


Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah pasien hipertensi yang berobat terbanyak pada
bulan Juli sedangkan paling sedikit pada bulan oktober.
5.2 Faktor-faktor Risiko Hipertensi
Setelah dilakukan penyuluhan langsung terhadap pasien yang didiagnosis hipertensi di
Poliklinik Umum Puskesmas Maniangpajo, pasien lebih mengerti mengenai penyakit yang
mereka derita terutama faktor-faktor apa sajakah yang berkontribusi terhadap penyakit. Salah
satunya ada faktor yang tidak dapat dimodifikasi seperti usia dan genetik. Hal ini diliat
bahwa pasien yang berobat rata-rata berusia di atas 40 tahun. Selain itu faktor genetik dalam
hal ini faktor keturunan turut berperan atas kejadian hipertensi terutama hipertensi primer.

Gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok merupakan faktor risiko yang dapat
dimodifikasi yang paling sering ditemukan pada pasien hipertensi, setelah dilakukan
penyuluhan, pasien lebih sadar dan berusaha untuk mengurangi komsumsi rokok. Hal ini bisa
diamati terutama pada pasien kontrol yang telah menderita hipertensi dan memeriksakan diri
secara rutin, mereka

telah mengurangi komsumsi rokok. Hal ini tentu saja akan

mempengaruhi kondisi pasien menjadi lebih baik terutama pasien yang sedang dalam
pengobatan. Selain rokok, faktor lain yang berpengaruh seperi komsumsi garam yang
berlebihan, kadar kolesterol dan penyakit sistemik yang mendasari kejadian hipertensi. Hal
tersebut kini lebih dipahami oleh pasien sehingga kesadaran untuk mengobati penyakit yang
merupakan faktor risiko dari hipertensi juga cenderung meningkat.

5.3 Pengobatan Hipertensi


Hal yang sering menjadi kendala di puskemas adalah kurangnya kesadaran pasien
untuk rutin memeriksakan tekanan darah nya di puskesmas sehingga pengobatan juga
terputus. Selain itu pasien enggan memeriksakan diri apabila tidak ada keluhan. Setelah
dilakukan penyuluhan langsung kepada pasien hipertensi, pasien kini lebih memahami bahwa
hipertensi umunya tidak bergejala, hanya sebagian kecil yang bergejala. Selain itu, kesadaran
memeriksakan tekanan darah tentu saja akan berdampak rutinnya pasien meminum obat.
Sebelumnya pasien banyak yang tidak mengetahui bahwa pengobatan hipertensi seumur
hidup.
Selain pengobatan farmakologi, pengobatan non-farmakologi yaitu pola hidup sehat
seperti diet rendah garam dilakukan oleh pasien yang telah mendapatkan penyuluhan. Selain
itu pasien juga membatasi komsumsi kolesterol. Selain itu olahraga juga dilakukan oleh
pasien. Mengingat usia pasien rata-rata di atas 40 tahun maka pasien perlu mengetahui olah
raga apa yang sesuai untuk usia tersebut yaitu olah raga ringan seperi jogging dan bersepeda.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
1. Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang memilik morbiditas dan
mortalitas yang cukup tinggi
2. Faktor-faktor risiko hipertensi ada yang tak dapat diubah seperti usia dan genetik
sedangkan yang dapat diubah seperti pola hidup dan koreksi terhadap penyakit lain yang
berkontribusi terhadap kejadian hipertensi
3. Pengobatan hipertensi terdiri dari non-farmakologi dan farmakologi. Non farmakologi
seperti diet rendah garam dan olah raga teratur dan farmakologi terutama harus
dikomsumsi secara rutin.
6.2 Saran
1. Perlunya digalakkan penyuluhan dengan skala yang lebih luas mengingat perubahan pola
hidup dewasa ini yang dapat meningkat risiko kejadian hipertensi
2. Perlunya digiatkan kegiatan kunjungan rumah dari petugas kesehatan terutama pasien
yang tidak rutin mengkomsumsi obat hipertensinya
3. Perlunya diadakan penelitian khusus untuk mengetahui faktor-faktor yang berperan
dalam tingginya angka kejadian hipertensi di wilayah kerja puskesmas Maniangpajo

REFERENSI

1. Fisher Nomi, Williams Gordon. Hypertensive Vascular Diease. Harrison Tinsley R,


editor. Harrisons Principle of Internal Medicine. 16 th edition. United Nations of America:
McGraw-Hill. 2005. P.1463-80
2. Schwartz Gary L. Hypertension. Habermann Thomas, Ghosh K. Amit, editors. Mayo
Clinic Internal Medicine Concise Textbook. USA: Mayo Clinic Scientific Press and
Informa Healthcare USA, INC. 2008. P 429-64
3. Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation
and Treatment of High Blood Pressure. U.S. Department Health and Human Services.
August. 2004
4. Camm AJ, BUnce N. Cardiovascular Disease. Kumar Parveen, Clark Micheal, editors.
Kumar & Klarks Clinicak Medicine. Seventh Edition. UK: Saunders Elsevier. 2005.
p.798-804
5. Kowalak Jenifer, Cardiovascular System. Kowalak Jenifer, Cavallini Mario, editors.
Handbook of Pathopisiology. US: Springhouse Corporation. 2001.p.120-4
6. Hafrialdi. Antihipertensi. Gunawan Gan Sulistia, editor. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5.
Jakarta: Departemen farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Indonesia. 2007.
h.341-60