Anda di halaman 1dari 6

ANALISIS VARIASI TINGKAT

PERSEDIAAN, JUMLAH TK, DAN SUB


KONTRAK
MK: MANAJEMEN OPERASIONAL

OLEH:
MUH. YASIR
NIM : C 202 14 053

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN


UNIVERSITAS TADULAKO
2014

Review Jurnal Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM)


Tema : Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM)
JURNAL:
1; Penerapan Teknologi Sistem Informasi Dan Teknologi Tepat Guna Pada

Usaha Kecil Menengah


2; Implementasi Strategi Pertumbuhan Pada Usaha Kecil Menengah (UKM) di
Kabupaten Malang Jawa Timur, Oleh: Endi Sarwoko

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Abstraksi
Di Era Globalisasi saat ini dan dengan berkembangnya teknologi yang sangat pesat akhirakhir ini memungkinkan para pelaku bisnis untuk melakukan pembuatan sistem informasi

berbasis komputer, sehingga dapat memberikan kemudahan bagi pelaku bisnis, khususnya
untuk usaha kecil dan menengah (UKM).
Fenomena yang ada saat ini masih banyak UKM yang belum atau bahkan tidak
menggunakan bantuan teknologi informasi, baik untuk menjalankan usaha maupun
menggunakan teknologi yang tepat guna untuk menghasilkan suatu produk.
1.2 Pembahasan Masalah
Masalah mendasar usaha kecil yang paling menonjol menyangkut menyediakan
pembiayaan usaha alias modal usaha. Kebutuhan modal sangat terasa pada saat seseorang
ingin memulai usaha baru. Alhasil, biasanya bila motivasinya kuat, seseorang akan tetap
memulai usaha kecil tetapi dengan modal seadanya. Pada usaha yang sudah berjalan,
modal tetap menjadi kendala lanjutan untuk berkembang. Masalah yang menghadang
usaha kecil menyangkut kemampuan akses pembiayaan, akses pasar dan pemasaran, tata
kelola manajemen usaha kecil serta akses informasi. Kesulitan usaha kecil mengakses
sumber-sumber modal karena keterbatasan informasi dan kemampuan menembus sumber
modal tersebut. Padahal pilihan sumber modal sangat banyak dan beragam.
1
1.3 Solusi Pembahasan Masalah
Solusi dari permasalah ini adalah sesungguhnya pemerintah telah banyak mengeluarkan
kebijakan untuk pemberdayaan UKM, terutama lewat kredit bersubsidi dan bantuan teknis.
Kredit program untuk pengembangan UKM bahkan dilakukan sejak 1974. Kredit program
pertama UKM, Kredit Investasi Kecil (KIK) dan Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP),
yang menyediakan kredit investasi dan modal kerja permanen, dengan masa pelunasan
hingga 10 tahun, dan suku bunga bersubsidi. Setelah deregulasi perbankan pada 1988,
kredit UKM dengan bunga bersubsidi secara berangsur dihentikan, diganti dengan kredit
bank komersial. Selain itu, donor internasional juga menyusun kredit program investasi
bagi UKM dalam mata uang rupiah. Antara 1990 dan 2000, Bank Indonesia mendanai
berbagai kredit program dengan Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI), yang dapat
dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu Kredit Usaha Tani (KUT), Kredit Pemilikan
Rumah Sederhana/Sangat Sederhana (KPRS/SS), dan Kredit Usaha Kecil dan Mikro yang
disalurkan melalui koperasi dan bank perkreditan rakyat. Selain itu, NPWP sebagai
prasyarat pengajuan kredit di Perbankan juga telah dihapuskan, dimana hal ini
memberikan peluang dan kesempatan yang lebih besar bagi kita untuk mengakses modal
dari sisi perbankan.
Selain peran dari Pemerintah, dunia akademisi, lembaga swadaya masyarakat, dan
lembaga penelitian, juga telah melakukan beberapa kegiatan yang bertujuan untuk
mengembangkan UKM. Salah satu diantaranya adalah program GTZ-RED yang diadakan
atas dukungan GOPA/Swisscontact yang telah berjalan sejak tahun 2003. Program ini
bergerak langsung ke daerah-daerah dengan menggunakan metode enabling environment
dengan fokus pada Business Climate Survey (BCS) dan Regulatory Impact Assessment
(RIA) yang dilakukan oleh Technical Assisstance (TA). Tim TA ini dimotori oleh Center
for Micro and Small Enterprise Dynamics (CEMSED) Universitas Satya Wacana. Tim ini
telah melakukan survey, pelatihan, workshop terhadap UKM di daerah-daerah,

menciptakan jaringan dengan seluruh pihak terkait UKM termasuk Pemerintah Daerah,
serta membuat daftar Peraturan Daerah yang perlu untuk diperbaiki.
1.4 Tujuan Penulisan

Untuk mengetahui jenis teknologi yang sudah dan belum digunakan dalam
mengembangkan komoditi unggulan agrobisnis di wilayah kawasan andalan Jawa
Barat.

Untuk mengetahui bagaimana keterkaitan penerapan teknologi tepat guna dalam


mengembangkan komoditi unggulan agrobisnis di Jawa Bara

BAB 2
METODE PENULISAN
Metodologi
2.1 Prosedur
Variable yang diteliti pada penelitian ini terfokus pada tingkat Teknologi Tepat Guna pada
UKM, yang ditambah dengan tingkat daya saing pada UKM.
2.2 Sampel
Data yang digunakan adalah data sekunder, yang berupa laporan dan informasi dari
berbagai instansi dan departemen (BPS Pusat dan BPS Daerah, Departemen Perdagangan

dan Industri, Dinas Perdagangan dan Industri Daerah Dati I dan II, Departemen Pertanian,
Dinas Petanian Daerah Dati I dan II, serta instansi-instansi terkait lainnya).
Tahapan Penelitian : Mula-mula peneliti menentukan fokus penelitian pada subsektor
pertanian dan sektor-sektor unggulan yang ada di provinsi Jawa Barat, kemudian
dilakukan pengumpulan data sekunder yang diambil dari laporan dan informasi dari
berbagai instansi dan departemen, lalu mengolahnya dengan menggunakan teknik Analisis
Location Quotient (ALQ) Model Bendavid (1991), yaitu indeks untuk mengukur tingkat
spesialisasi (relatif) suatu sektor atau subsektor ekonomi pada suatu kawasan tertentu,
model ini dirumuskan dengan :
LQ = (Xr / RVr) / (Xn / RVn) = (Xr / Xn) / (RVr / RVn)
Di mana:
Xr = nilai produksi sub sektor i pada daerah kabupatan/kota/provinsi;
Xn = nilai produksi sub sektor i pada daerah provinsi/negara;
RVr = total PDRB kabupaten/kota/provinsi; dan
RVn = total PDRB provinsi/negara;
2.3 Hasil
Dalam penelitian ini peneliti menemukan bahwa tingkat kontribusi margin masing-masing
sektor dan subsektor Jawabarat dan Nasional sedang berada pada tahapan-tahapan
industrialisasi, khususnya pada sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran,
yang artinya sudah dikelola dengan baik, dengan menggunakan teknologi yang relatif baik
dan berkembang jika dibandingkan dari tahun-tahun sebelumnya. Dengan sumberdaya
manusia yang berpendidikan menengah keatas, sudah mulai dilakukan efisiensi akan tetapi
belum efektif. Sedangkan pada sektor-sektor lainnya kecuali sektor industri pengolahan
berada dalam tahapan non-industrialisasi dengan teknologi yang sangat rendah.
Dan dalam hal Sistem Teknologi Informasi, ditemukan adanya perubahan teknologi
pertanian yang dipengaruhi oleh faktor internal (pengalaman dan kebutuhan dari diri
sendiri) dan faktor eksternal (kebijakan pemerintah, penyuluhan) perubahan teknologi
pertanian berpengaruh terhadap keadaan sosial-ekonomi masyarakat, tetapi tidak merubah
status sosial dalam adat istiadat. Terbatasnya teknologi yang tepat lokasi ini sangat
berpengaruh kepada produktifitas komoditas pertanian pada umumnya, sehingga belum
tercapai optimalisasi pemanfaatan sumberdaya lahan yang sebenarnya berpotensi untuk
memberikan hasil yang lebih banyak. Rendahnya produktifitas lahan ini ditandai oleh
besarnya senjang hasil yang diperoleh ditingkat petani dengan hasil di tingkat penelitian.
Ada tiga komponen teknologi yang menyebabkan rendahnya produktifitas yaitu aplikasi
teknologi budidaya yang masih rendah, penggunaan varitas yang kurang sesuai dengan

kondisi lokalita, serta masih besarnya kehilangan hasil setelah panen. Terbatasnya
teknologi berupa varitas lokalita dan besarnya kehilangan saat panen dan pasca panen
merupakan indikator masih lemahnya pembinaan kepada petani serta minimmya peran
daerah dalam menghasilkan teknologi.

BAB 3
KESIMPULAN, SARAN SERTA USULAN
3.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian, peneliti menarik kesimpulan bahwa Propinsi Jawa Barat
sesungguhnya memiliki potensi untuk mengembangkan UKM di bidang pertanian dengan
berbagai peluang dan kesempatan yang ada, akan tetapi pengembangan dan pembinaan
serta penyuluhan dari pihak-pihak terkait dirasa masih kurang.
Ditambah lagi Teknologi yang digunakan masih relatif sederhana dan penerapannya yang
masih kurang tepat sasaran, hal ini karena regenerasi penyuluh tidak berjalan, minat petani
terhadap teknologi dan mencari informasi masih lemah, karena penggunaan media
informasi pertanian yang belum meluas.
3.2 Saran dan Usulan
Secara keseluruhan jurnal ini sudah terbilang baik akan tetapi pada bagian hasil dan
pembahasan yang di tampilkan dirasa terlalu rumit dan kurang sederhana, sehingga
diharapkan agar lebih menyederhanakan pembahasan yang disampaikan agar para
pembaca yang masih awam dapat lebih mudah memahaminya.