Anda di halaman 1dari 31

Sistem Polimerisasi

Sistem Polimerisasi
SISTEM POLIMERISASI

SISTEM
HOMOGEN
Bulk

Solution

SISTEM
HETEROGEN
Suspension

Emulsion

Lihat selengkapnya di Billmeyer, hal 127, 3rd edition


Jenis

Keuntungan

Kerugian

Homogen
Bulk (batch type)
Bulk (continuous)
Solution

1. Panas polimerisasi
dapat dikendalikan
2. Larutan polimer
dapat langsung
digunakan

Heterogen
Suspension
Emulsion

1. Reaksi berlangsung
cepat, BM tinggi
dengan distribusi
sempit.

1. Kontaminasi .
2. Washing, drying
menjadi keharusan

Polimerisasi Sistem Homogen


Polimerisasi Bulk
Jenis sintesa polimerisasi ini banyak dipakai pada
pembuatan polimer kondensasi, dimana

reaksi eksotermik menengah


berlangsung pada viskositas rendah sehingga
pengadukan dapat dilakukan, perpindahan panas
berlangsung baik dan gas yang timbul dapat dieliminasi.
Polimerisasi dapat dikontrol dengan mudah.
Monomer vinyl tidak sesuai untuk dipolimerisasi
dengan reaksi jenis ini.

Polimerisasi bulk monomer vinyl lebih sukar, sehingga


tidak digunakan pada skala komersial
karena reaksi sangat eksotermik, inisiator
terdekomposisi dengan menggunakan panas, laju
polimerisasi sangat tergantung pada T.
problem bertambah dimana perpindahan panas
terganggu karena viskositas naik dengan cepat pada
konversi rendah sehingga hot spots dapat terjadi.
problem pengadukan harus kuat.

Polimerisasi Larutan (solution polymerization)


Pelarut digunakan untuk mengambil mengendalikan
panas polimerisasi (solvent to reflux), sehingga
pengadukan menjadi mudah.

Kelemahannya adalah bahwa pelarut harus diseleksi


agar tidak agar tidak dapat berfungsi juga sebagai chain
transfer.

Penggunaan produknya sebaiknya dalam fasa cairnya.


Vinyl acetate, acrylonitrile, ester-ester acrylic acid.

All component soluble

valve terbuka dengan interval waktu, beda tekan


akan turun, sehingga polimer dan monomer dapat
keluar.
M akan menguap dan polimer dicuci,dikeringkan
dan dikemas.

Insoluble initiator

katalis chromica-silica-alumina dapat


mengkonversi etilen menjadi polimer linier pada P
moderat.
Reaktor fixed-bed katalis diaktifkan periodik
50 jam.

Insoluble initiator and


polymer

katalis tersuspensi pada T rendah.


polimer dan katalis tidak terlarut dan berbentuk
slurry dan dikeluarkan kontinu.
Jika rasio P/catalyst tinggi, maka produk dapat
langsung dikeringkan. Jika tidak, washing out
catalyst diperlukan.
partikel katalis yg halus akan berkontak dgn uap
etilen dibawah ttk leleh PE.
Pengambilan panas agar tidak terjadi aglomerasi
sukar dibandingkan dengan proses fasa cair.

Insoluble polymer

diacid chloride dilarutkan pada pelarut


tetrachloroethylene. Lapisan stagnant terbentuk dgn
menuangkan larutan diamine dalam air.
pada lapis antar batas terbentuk lapisan
polyamide (nylon).
Reaksi berhenti karena difusi antar reaktan
berkurang karena adanya hambatan dari polimer
yang terbentuk.

Tipe reaktor polimerisasi


Contoh reaksi polimerisasi etilen

Tubular reactor

Fixed-bed reactor

Slurry reactor

Interfacial condensation

Diagram proses umum


monomer

solvent
reaktor

Solvent to purification
and recycle
Pelarut, MeOH

Polymer
slurry

produk
Flash tank

Catalyst separator dryer


separation

Steam/hot water
Decomposed Catalyst

Diagram proses PS
Jika polimer tidak larut
di dalam monomer,ma
ka polimerisasinya heterogen atau presipitasi.

styrene
900C

Prepolimerisasi

Monomer to recycle

Air pendingin
1000C
Polimerisasi
Konversi=95%
2000C

produk

Polimerisasi Sistem Heterogen


Polimerisasi Suspensi
Polimerisasi yang berlangsung di dalam fasa aquatik
dengan monomer terdispersi dalam fasa kontinu (air)
berbentuk droplet dan polimer terbentuk sebagai fasa
padat yang terdispersi.
Perubahan viskositas, kecil dengan konversi sehingga
perpindahan panas ke dinding reaktor efisien.
Monomer droplet (0,01-0,5 cm) terdispersi dengan
adanya pengadukan dan menggunakan stabilisator
water soluble. Elektrolit dapat meningkatkan interfacial
tension antar fasa dan protective colloids adalah water
soluble polymers untuk meningkatkan viskositas polimer.

Aglomerasi partikel adalah ukuran kritis bagi polimer


dimana polimer butiran dapat menempel satu dengan
lainnya (sticky).
Produk polimer diperoleh setelah pencucian dan
pengeringan.
Metoda ini digunakan jika ingin memperoleh vinyl
polimer glassy dan keras, seperti PS, PMMA, PVC,
poly(vinylidene chloride), polyacrylonitrile.

Sistem reaksi terdiri dari :


Di fasa monomer

Monomer (water insoluble)


Inisiator (monomer soluble)
Chain transfer agent (monomer soluble)

Di fasa air

Suspending agent : Protective colloid


Insoluble inorganic salt (misal:MgCO3)
pH buffer kadang-kadang digunakan untuk
menstabilkan

Polimerisasi Suspensi MMA


M
I

air
chemicals

Air pencuci

To dryer

Polimerisasi Emulsi
Perbedaan antara polimerisasi emulsi dan suspensi,
adalah pada :
jenis dan ukuran partikel. Pol.emulsi ukuran
partikelnya 0,05-5 dan pol.suspensi 10-1000 .
jenis inisiator yang digunakan. Water-soluble vs
monomer-soluble initiator

Polimerisasi emulsi mempunyai kinetika yang sangat


berlainan dengan proses polimerisasi lainnya, dimana
pada umumnya polimerisasi terdapat hubungan yang
terbalik antara laju polimerisasi dengan BM polimer.

Polimer terbentuk dan micelles membesar karena adanya


penambahan monomer dari fasa akuatik.
Polimerisasi dengan konversi 2-3% - ukuran partikel
polimer membesar dan mengabsorb semua soap dari fasa
akuatik.
Laju reaksi meningkat dengan kenaikan konsentrasi soap.
Monomer droplets tidak stabil jika pengadukan dihentikan
maka M dapat bergabung membentuk fasa minyak yang
tidak mengandung polimer. Droplets adalah semacam
tangki yang akan menyuplai monomer berdifusi melalui
fasa akuatik agar terjadi pertumbuhan partikel polimer.
Pada konversi 60-80%, partikel polimer dapat
mengandung 50% monomer dengan laju pol. Konstan.

Contoh: resep kopolimerisasi emulsi styrene-butadiene


pada 50 0C (lihat pada slide berikutnya)
Awal reaksi di dalam micelles (50-100 molekul sabun)

monomer

Beberapa keuntungan proses polimerisasi emulsi,


yaitu :

Proses mudah dikontrol.


Problem termal dan viskositas tidak signifikan bila
dibandingkan dengan bulk polimerisasi.
Produk dapat langsung digunakan (misal : coating, floor
polishes, adhesive, paints dll.)

Contoh : komposisi polimerisasi emulsi Styrene-Butadiene.


Komponen
styrene
butadiene
water
emulsifier
mercaptan
NaOH
cumene hydroperoxide
FeSO4
Na4P2O7.10H2O
fructose

Bagian (atas dasar berat)


25
75
180
5
0.5
0.061
0.17
0.017
105
0.5

Media pendispersi biasanya digunakan air (murah !!!),


dan emulsifying agent adalah surfaktan yang
mempunyai gugus hidrofilik dan hidrofobik
bersamaan.
Mercaptan sebagai chain transfer agent untuk
mengontrol BM polimer.
Inisiator adalah sistem redoks hydroperoxide-ferrous
ion, dan fructose untuk meregenerasi ion fero dengan
mereduksi ion feri yang diproduksi di reaksi inisiasi.
Sodium pyrophosphate berfungsi untuk melarutkan
garam2 besi di dalam medium basa kuat.

Desain reaktor
Yang harus diperhatikan adalah sifat reaksi
polimerisasi dimana viskositas meningkat dan laju
difusi menurun dengan meningkatnya konsentrasi
polimer.
Tidak ada turbulensi pada sistem polimer dianalisis
melalui aliran laminer steady: laju alir, temperatur
dan komposisi pada setiap titik di reaktor dan
diselesaikan dengan persamaan diferensial parsial
momentum, heat and mass transfer.

Tipe reaktor
Batch reactor

emulsion & suspension, reaksi kondensasi,


tahap awal bulk&solution.
pengadukan dan kontrol panas harus baik .
khusus untuk bulk, reaksi dihentikan sebelum
viskositas tinggi pindahkan.
Perhatikan temperatur dan tekanan yang
dapat dicapai.

Tubular-flow reactor

memperoleh aliran yang progresif tanpa


internal recycle utk memperoleh distribusi aliran
yg uniform dan waktu tinggal yg cukup.
pipa berbentuk coil utk memeperoleh radial
mixing atau menggunakan perbedaan T atau P
sepanjang pipa. Contoh : PE
radial mixing dpt diperoleh secara mekanik
(pada extruder lelehan polimer).

Tipe reaktor
Stirred tank reactor

agar diperoleh pengadukan dgn vol tertentu


dgn meminimalkan T dan variasi komposisi.
Jika lifetime pembentukan rantai lebih
panjang dibanding residence time (pol
kondensasi) , maka distribusi BM pada perfect
mixing atau stirred tank reactor lebih lebar
dibanding batch reactor.
pada prolimerisasi radikal bebas dimana
chain lifetime pendek maka distribusi BM yang
lebih sempit akan diperoleh dengan tipe perfect
mixing.