Anda di halaman 1dari 26

HUBUNGAN TASAWUF

DENGAN ILMU TAUHID, FIQIH, FILSAFAT,


DAN PSIKOLOGI

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang Masalah
Pada Nabi saw dan khulafaur rasyidin ra., sebutan atau istilah tasawuf
tidak pernah dikenal. Para pengikut Nabi saw diberi panggilan shahabat, dan
pada masa berikutnya, yaitu pada masa shahabat, orang-orang yang tidak
berjumpa dengan Nabi disebut tabiin, dan seterusnya disebut tabiit tabiin.
Istilah tasawuf baru dipakai pada pertengahan abad II Hijriah, dan pertama
kali oleh Abu Hasyim al-Kufy (W 250 H.) dengan meletakkan ash-shufi di
belakang namanya, meskipun sebelum itu telah ada ahli yang mendahuluinya
dalam zuhud, wara, tawakkal, dan dalam mahabbah.1
Tasawuf merupakan suatu sistem latihan dengan kesungguhan (riyadhahmujahadah)

untuk

membersihkan,

mempertinggi,

dan

memperdalam

kerohanian dalam rangka mendekatkan (taqarrub) kepada Allah, sehingga


dengan itu maka segala konsentrasi seseorang hanya tertuju kepada-Nya.
Tasawuf merupakan bagian dari ajaran Islam, karena ia membina akhlak
manusia (sebagaimana Islam juga diturunkan dalam rangka membina akhlak
umat manusia) di atas bumi ini, agar tercapai kebahagiaan dan kesempurnaan
hidup lahir dan batin, dunia dan akherat. Oleh karena itu siapapun boleh
menyandang predikat mutasawwif sepanjang berbudi pekerti tinggi, sanggup
menderita lapar dan dahaga, bila memperoleh rizki tidak lekat di dalam
hatinya, dan begitu seterusnya, yang pada pokok-pokoknya sifat-sifat mulia
dan terhindar dari sifat-sifat tercela. Hal inilah yang dikehendaki dalam
tasawuf yang sebenarnya.
Di dalam peradaban Islam, selain tasawuf terdapat tiga disiplin keilmuan
yang telah tumbuh dan menjadi bagian dari tradisi kajian agama; tauhid, fiqh,
1

R.A Nicholson, Fi al-Tasawuf al-Islam wa Tarikhuh, terj. Abu al-Ala Afifi (Kairo:
Lajnah al-Talif wa al-Tarjamah wa al-Nasyr, 1969), hlm. 112.

dan falsafah. Jika ilmu tasawuf membidangi segi penghayatan dan


pengamalan keagamaan yang lebih bersifat pribadi, sehingga tekanan
orientasinya sangat esoteristik, mengenai hal-hal batiniah, maka ilmu tauhid,
dalam pembahasannya biasa diarahkan kepada segi-segi mengenai Tuhan dan
berbagai derivasinya, Sedangkan Ilmu Fiqih biasanya membidangi segi-segi
formal peribadatan dan hukum, sehingga tekanan orientasinya pun sangat
eksoteristik, mengenai hal-hal lahiriah. Adapun Ilmu Falsafah membidangi
hal-hal yang bersifat perenungan spekulatif tentang hidup ini dan lingkupnya
seluas-luasnya.
Maka dalam hal ini ilmu tasawuf tentunya mempunyai hubunganhubungan yang terkait dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya, baik dari segi
tujuan, konsep dan konstribusi ilmu tasawuf terhadap ilmu-ilmu tersebut dan
begitu sebaliknya bagaimana konstribusi ilmu keislaman yang lain terhadap
ilmu tasawuf.
Bahkan diera sekarang ini tasawuf sering dihubung-hubungkan dengan
psikologi, yang mana psikologi merupakan disiplin ilmu yang membahas
tentang gejala-gejala dan aktifitas kejiwaan manusia.
Oleh karena itu, dalam makalah ini, penulis akan berusaha menjelaskan
hubungan tasawuf dengan keempat disiplin keilmuan lainnya; tauhid, fiqih,
filsafat, dan psikologi.
2. Rumusan Masalah
Dengan melihat uraian di atas, maka studi ini berusaha untuk menfokuskan
perhatian pada beberapa hal berikut:
a. Bagaimana hubungan tasawuf dengan ilmu tauhid?
b. Bagaimana hubungan tasawuf dengan ilmu fiqih?
c. Bagaimana hubungan tasawuf dengan ilmu filsafat?
d. Bagaimana hubungan tasawuf dengan ilmu jiwa (psikologi)?
3. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka studi ini bertujuan untuk:
a. Mengetahui hubungan tasawuf dengan ilmu tauhid
b. Mengetahui hubungan tasawuf dengan ilmu fiqih

c. Mengetahui hubungan tasawuf dengan ilmu filsafat


d. Dan mengetahui hubungan tasawuf dengan ilmu jiwa (psikologi)

B. Hubungan Tasawuf dengan Tauhid, Fiqih, Filsafat, dan Psikologi


1. Konsep Dasar Tasawuf
a) Pengertian Tasawuf
Secara lughat, tasawuf berasal dari bermacam-macam kata.
Menurut Hamka sebagaimana dikutip oleh M. Solihin dalam buku
Akhlak Tasawuf, tasawuf berasal dari berbagai kata seperti shifa berarti
suci bersih, shuf berarti bulu binatang, dan shufah yang berarti
golongan sahabat Nabi yang memisahkan diri di suatu tempat terpencil
di samping masjid Nabi. Ada juga yang mengatakan berasal dari kata
shufanah yang berarti sebangsa kayu mersik yang tumbuh di padang
pasir tanah Arab, atau juga kata shaf yang berarti barisan jamaah
ketika menunaikan shalat bersama-sama. Kesemua pengertian tadi
tampaknya mempunyai arti yang dekat kepada tasawuf.
Apabil kita perhatikan dari bahasa Arab, maka kata tasawuf berasal
dari tasrif: tasawwaf-yatasawwafu-tasawwufan. Misalnya, tasawwafarrajulu, artinya seorang laki-laki sedang bertasawuf.2
Dilihat dari aspek bahasa, tasawuf adalah sikap mental yang selalu
berusaha memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela
berkorban untuk kebaikan, dan selalu bersikap bijaksana. Sikap dan
jiwa yang demikian itu pada hakikatnya merupakan akhlak yang mulia.
Dari sekian banyak defenisi yang ditampilkan oleh para ahli
tentang tasawuf, Asmaran dalam buku Pengantar Studi Tasawuf
mencoba untuk memaparkan beberapa pengertian yang berasal dari para
pemikir dan cendekiawan muslim3:

M. Solihin dan Rosyid Anwar, Akhlak Tasawuf: Manusia, Etika, dan Makna Hidup
(Bandung: Penerbit Nuansa, 2005), cet. 1, hlm. 150.
3
Asmaran As, Pengantar Studi Tasawuf (Jakarta: Raja Grafindo Pustaka, 2002 ), hlm. 5253.

1) Maruf al-Karkhi mengatakan, tasawuf ialah mengambil hakikat


dan putus atas terhadap apa yang ada di tangan makhluk. Maka
siapa yang tidak benar-benar fakir, dia tidak benar-benar
bertasawuf.
2) Abu al-Husain al-Nuri mengatakan, tasawuf bukanlah wawasan
atau ilmu, tetapi akhlak. Karena seandainya wawasan, maka ia
dapat dicapai hanya dengan kesungguhan; dan seandainya ilmu ia
akan dapat dicapai dengan belajar. Akan tetapi tasawuf hanya
dapat dicapai dengan berakhlak dengan akhlak Allah. Dan engkau
tidak mampu menerima akhlak ke-Tuhanan hanya dengan
wawasan dan ilmu.
3) Abu Muhammad Ruwain mengatakan, tasawuf ialah membiarkan
diri dengan Allah menurut kehendak-Nya.
4) Muhammad Ali al-Qassab memberi ulasan, tasawuf ialah akhlak
yang mulia timbul pada masa yang mulia dari seseorang yang
mulia di tengah-tengah kaumnya yang mulia.
5) Al-Junaedi menyimpulkan, tasawuf ialah membersihkan hati dari
apa yang mengganggu perasaan kebanyakan makhluk, berjuang
menanggalkan

pengaruh

budi

yang

asal

(instink)

kita,

memadamkan sifat-sifat kelemahan kita sebagai manusia, menjauhi


segala seruan hawa nafsu mendekati sifat-sifat suci kerohanian, dan
bergantung pada ilmu hakikat, memakai barang terpenting dan
terlebih kekal, menaburkan nasehat kepada semua umat manusia,
memegang teguh janji dengan Allah dalam hal hakikat, dan
mengikuti contoh Rasulullah dalam hal syariah.
Melihat beberapa definisi di atas, dapatlah dipahami bahwa
tasawuf adalah takwa dengan segala tingkatannya, baik yang
berbentuk kasat mata (al-Hissiyah) ataupun maknawi. Takwa adalah
akidah sekaligus akhlak, takwa adalah menyerahkan seluruh sikap
penghambaan dan penyembahan hanya kepada Allah Swt., dan bergaul
dengan manusia dengan dasar akhlak yang terpuji.

b) Orientasi ajaran Tasawuf


Tasawuf merupakan pengejawantahan lebih lanjut dari ajaran
ihsan, salah satu dari tiga serangkai ajaran agama, yaitu islam, iman
dan ihsan. Jadi, apa yang diajarkan oleh tasawuf adalah tidak lain
bagaimana menyembah Tuhan dalam suatu kesadaran penuh bahwa
kita berada di dekat-Nya sehingga kita melihat-Nya atau bahwa Ia
senantiasa mengawasi kita dan kita senantiasa berdiri di hadapan-Nya.4
Dalam hubungan ini Harun Nasution mengatakan, Tasawuf atau
sufisme mempunyai tujuan memperoleh hubungan langsung dan
disadari dengan Tuhan. Sehingga disadari benar bahwa seseorang
berada di hadirat Tuhan. Intisari dari tasawuf ialah kesadaran akan
adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dan Tuhan dengan
mengasingkan diri dan berkontemplasi.5
c) Isi Pokok Ajaran Tasawuf
Ada tiga macam ajaran tasawuf, yaitu6:

Tasawuf Akhlaqi (tasawuf akhlak) adalah laku tasawuf yang


dihiasi dengan akhlak yang baik, sehat dan terpuji. Di sini, seorang
pelaku tasawuf menghindari watak yang tidak sehat seperti riya
(pamer), sumah (ingin didengar), ujub (membanggakan diri),
sombong, egois, dan sebagainya. Setelah menyingkirkan watak
yang tidak sehat, seseorang lalu menghiasi diri dengan takwa dan
ibadah, seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan lain-lain. Pelaku
tasawuf akhlaqi selalu bersikap adil dan menjauhi sikap pendusta
dan zalim. Dia merasa selalu disaksikan oleh Yang Maha
Mengetahui.

Tasawuf Amali (tasawuf amal). Ada beberapa istilah yang perlu


diketahui yang terdapat dalam ajaran tasawuf amali. Pertama

4
5

Asmaran As, Pengantar Studi Tasawuf, hlm. 66.


Harun Nasution, Filsafat & Mistisme dalam Islam (Jakarta : Bulan Bintang, 1973), hlm.

56.
6

M. Solihin dan M. Rosyid Anawar, Akhlak Tasawuf: Manusia, Etika, dan Makna Hidup,

hlm. 164.

adalah Murid yang terdiri atas; Mubtadi (seseorang yang baru


mempelajari

syariat),

Mutawassith

(seseorang

yang

sudah

mengetahui pengetahuan yang cukup tentang syariat Islam), dan


Muntahi (seseorang yang ilmu syariatnya telah matang. Selain itu,
dia telah menjalani tharikat dan mendalami ilmu batiniah sehingga
jiwanya bersih dan tidak melakukan maksiat.
Tampak disini, syariat Islam berperan bagi orang-orang
yang ingin memasuki lapangan tasawuf. Untuk itu, melaksanakan
syariat Islam merupakan kriteria utama bagi seorang murid.
Istilah kedua yang perlu diketahui dalam tasawuf amali
adalah Syaikh, yaitu seorang pemimpin kelompok keruhanian.
Syaikh adalah pengawas para murid dalam segala kehidupan.
Syaikh ini disebut juga dengan Mursyid. Seorang murid harus
tunduk, setia, dan rela dengan perlakuan apa saja yang ia terima
dari syaikh-nya.

Tasawuf Falsafi, adalah laku tasawuf yang menggunakan


terminologi filsafat dalam pengungkapan ajarannya. Berdasarkan
tasawuf falsafi, maka konsepsi Tuhan merupakan perkembangan
lebih lanjut dari pemikiran para ahli kalam (teolog) dan filosof.
Secara garis besar, tasawuf falsafi memiliki tiga konsepsi tentang
Tuhan yang berakar dari Al-Quran dan hadis. Berikut penulis akan
menguraikannya satu persatu.
Pertama, konsepsi etika yang dipelopori dan berkembang
di kalangan zuhud sebagai bibit permulaan timbulnya tasawuf.
Dzat Tuhan dianggap sebagai kekuasaan, daya, dan iradat yang
mutlak. Tuhan adalah pencipta yang tertinggi dari segala sesuatu,
termasuk tingkah laku manusia.
Kedua, konsepsi etika, yaitu tentang Tuhan dalam estetika.
Tasawuf bersumber dari anggapan bahwa Tuhan dan manusia
berkomunikasi timbal balik. Rasa cinta yang luar biasa kepada
Tuhan adalah karakteristik konsepsi estetika ini yang pertama kali

dimunculkan oleh Rabiah al-Adawiyah. Jika seorang sufi


menyembah Tuhan, maka sebenarnya dia ingin mendapat
sambutan cinta dari-Nya.
Ketiga, konsepsi kesatuan wujud, yaitu bahwa dalam diri
manusia terdapat unsur-unsur ketuhanan, karena dia merupakan
pancaran dari Nur Ilahi. Oleh karena itu, jiwa manusia selalu
berusaha kembali bersatu dengan sumber asalnya. Jadi alam
semesta dan berbagai fenomena di dunia ini hanyalah bayangan
dari realita sesungguhnya, yaitu Tuhan. Satu-satunya wujud yang
hakiki adalah wujud Tuhan yang menjadi dasar bagi adanya segala
sesuatu.
2. Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Tauhid
a) Pengertian Ilmu Tauhid
Menurut Syeh M. Abduh, ilmu tauhid (ilmu kalam) ialah ilmu yang
membicarakan tentang wujud Tuhan, sifat-sifat yang mesti ada padaNya, sifat-sifat yang boleh ada pada-Nya; membicarakan tentang
Rasul, untuk menetapkan keutusan mereka, sifat-sifat yang boleh
dipertautkan kepada mereka, dan sifat-sifat yang tidak mungkin
terdapat pada mereka.7
Ilmu tauhid adalah sumber semua ilmu-ilmu keislaman, sekaligus
yang terpenting dan paling utama. Allah SWT berfirman:

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq)


melainkan Allah. (Q.S. Muhammad: 19)
Seandainya ada orang yang tidak mempercayai keesaan Allah atau
mengingkari perkara-perkara yang menjadi dasar ilmu tauhid, maka
orang itu dikategorikan bukan muslim dan digelari kafir. Begitu pula
halnya, seandainya seorang muslim menukar kepercayaannya dari

M. Hanafi, Pengantar Teologi Islam (Jakarta: PT. Pustaka Al Husna Baru, 2003), hlm.

2.

mempercayai keesaan Allah, maka kedudukannya juga sama adalah


kafir.
Ilmu Tauhid juga disebut;

Ilmu Aqaid: Aqdun artinya tali atau pengikat. Aqaid adalah


bentuk jama dari Aqdun. Disebut Aqaid, karena di dalamnya
mempelajari tentang keimanan yang mengikat hati seseorang
dengan Allah, baik meyakini wujud-Nya, ke-Esaan-Nya atau
kekuasaan-Nya.

Ilmu Kalam: Kalam artinya pembicaraan. Disebut ilmu kalam,


karena dalam ilmu ini banyak membutuhkan diskusi,
pembahasan, keterangan-keterangan dan hujjah (alasan) yang
lebih banyak dari ilmu lain.

Ilmu Ushuluddin: Ushuluddin artinya pokok-pokok agama.


Disebut Ilmu Ushuluddin, karena di dalamnya membahas
prinsip-prinsip ajaran agama, sedang ilmu yang lainnya disebut
furual-Din (cabang-cabang agama), yang harus berpijak di
atas ushuluddin.

Ilmu Marifat: Marifat artinya pengetahuan. Disebut ilmu


marifat, karena di dalamnya mengandung bimbingan dan
arahan kepada umat manusia untuk mengenal Khaliqnya. 8
Berdasarkan penjelasan di atas, maka bisa dipahami bahwa

Ilmu Tauhid adalah ilmu tentang ketuhanan yang didasarkan atas


prinsip-prinsip dan ajaran Islam; termasuk di dalamnya persoalanpersoalan gaib.
b) Bidang Pembahasan Ilmu Tauhid
Tauhid mempunyai beberapa bidang pembahasan, diantaranya ada 6
yaitu :

Iman kepada Allah, tauhid kepada-Nya, dan ikhlash beribadah


hanya untuk-Nya tanpa sekutu apapun bentuknya.

Zakaria, A, Pokok-pokok Ilmu Tauhid. (Garut: IBN AZKA Press, 2008), hlm. 11.

Iman kepada rasul-rasul Allah para pembawa petunjuk Ilahi,


mengetahui sifat-sifat yang wajib dan pasti ada pada mereka seperti
jujur dan amanah, mengetahui sifat-sifat yang mustahil ada pada
mereka seperti dusta dan khianat, mengetahui mujizat dan buktibukti kerasulan mereka, khususnya mujizat dan bukti-bukti
kerasulan Nabi Muhammad saw.

Iman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para Nabi


dan Rasul sebagai petunjuk bagi hamba-hamba-Nya sepanjang
sejarah manusia yang panjang.

Iman kepada malaikat, tugas-tugas yang mereka laksanakan, dan


hubungan mereka dengan manusia di dunia dan akhirat.

Iman kepada hari akhir, apa saja yang dipersiapkan Allah sebagai
balasan bagi orang-orang mukmin (surga) maupun orang-orang
kafir (neraka).

Iman kepada takdir Allah yang Maha Bijaksana yang mengatur


dengan takdir-Nya semua yang ada di alam semesta ini.
Dari penjelasan di atas, maka bisa dipahami bahwa ilmu tauhid

mengandung ajaran dasar yang diwahyukan Tuhan melalui rasul-rasulNya kepada masyarakat manusia, dan penjelasan para pemuka atau
pakar agama yang membentuk ajaran agama. Ajaran dasar agama
bersifat absolut, sedangkan penjelasan ahli agama bersifat relatif, nisbi,
bisa berubah dan dapat diubah sesuai dengan perkembangan zaman.
c) Hubungan dengan Tasawuf
Dalam kaitannya dengan ilmu tauhid, ilmu tasawuf berfungsi
sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman ketuhanan.
Penghayatan yang mendalam melalui hati terhadap ilmu tauhid atau
ilmu

kalam

menjadikan

ilmu

tasawuf

lebih

terhayati

atau

teraplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian, ilmu tasawuf


merupakan penyempurna ilmu tauhid jika dilihat dari sudut pandang
bahwa ilmu tasawuf merupakan sisi terapan rohaniah dari ilmu tauhid.
Selain itu, ilmu tasawuf mempunyai fungsi sebagai pemberi kesadaran

rohaniah dalam perdebatan ilmu kalam. Sebagaimana disebutkan


bahwa ilmu kalam dalam dunia Islam cenderung menjadi sebuah ilmu
yang mengandung muatan rasional dan muatan naqliah. Jika tidak
diimbangi oleh kesadaran rohaniah ilmu kalam dapat bergerak ke arah
yang lebih liberal dan bebas. Disinilah ilmu tasawuf berfungsi
memberi muatan rohaniah sehingga ilmu kalam tidak dikesani sebagai
dialektika keislaman belaka yang kering dari kesadaran penghayatan
atau sentuhan secara qalbiyah (hati).9
Tasawuf Islam tidak akan ada kalau tidak ada tauhid, tegasnya
tiada guna pembersihan hati kalau tidak beriman. Tasawuf Islam yang
sebenarnya adalah hasil dari aqidah yang murni dan kuat yang sesuai
dengan kehendak Allah dan Rasul-nya. Perlu diingat bahwa lapangan
tasawuf itu adalah hati.10
Beberapa hal yang dapat menjelaskan bagaimana sebenarnya
hubungan ilmu tasawuf dengan ilmu kalam menurut Tiswani dalam
bukunya Buku Daras Akhlak Tasawuf :
1) Dilihat dari materi, ilmu kalam terkesan tidak menyentuh rasa
rohaniah sedangkan ilmu tasawuf dapat menyentuh rasa rohaniah
seorang hamba.
2) Dalam ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan defenisinya,
kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya.
Sementara itu pada ilmu tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau
metode praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentraman, serta
upaya untuk menyelamatkan diri dari kemunafikan.
3) Selain itu, ilmu tasawuf berfungsi sebagai pemberi kesadaran
rohaniah dalam perdebatan kalam.11

Rosihan Anwar, Ilmu Tasawuf (Pustaka Setia: Bandung, 2007), hlm. 88.
Yunasril Ali, Pengantar Ilmu Tasawuf (Jakarta : Pedoman ilmu jaya,1987), hlm. 35-36.
11
Tiswani, Akhlak Tasawuf (Bina Pratama: Jakarta,2007), hlm. 95-96.
10

10

3. Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Fiqih


a) Pengertian Ilmu Fiqih
Kata fiqih ( )secara bahasa memiliki dua makna. Makna pertama
adalah al-Fahmu al-Mujarrad, yang artinya adalah mengerti secara
langsung atau sekedar mengerti saja.12 Makna yang kedua adalah alFahmu al-Daqiq, yang artinya adalah mengerti atau memahami secara
mendalam dan lebih luas.
Dalam prakteknya, istilah fiqih ini lebih banyak digunakan untuk
ilmu agama secara umum, dimana seorang yang ahli di bidang ilmuilmu agama sering disebut sebagai faqih, sedangkan seorang yang ahli
di bidang ilmu yang lain, kedokteran atau arsitektur misalnya, tidak
disebut sebagai faqih atau ahli fiqih.13
Sedangkan secara istilah, kata fiqih didefinisikan oleh para ulama
dengan berbagai definisi yang berbeda-beda. Al Imam Abu Hanifah
mempunyai definisi yang unik tentang fiqih, yaitu: Mengenal jiwa
manusia terkait apa yang menjadi hak dan kewajibannya. 14 Sebenarnya
definisi ini masih terlalu umum, bahkan masih juga mencakup wilayah
akidah dan keimanan bahkan juga termasuk wilayah akhlaq. Sehingga
fiqih yang dimaksud oleh beliau ini disebut juga dengan istilah Al Fiqh
al Akbar.
Adapun definisi yang lebih mencakup ruang lingkup istilah fiqih
yang dikenal para ulama adalah:15


"Ilmu yang membahas hukum-hukum syariat bidang amaliyah
(perbuatan nyata) yang diambil dari dalil-dalil secara rinci."

12

Muhammad bin Mandhur, Lisanul Arab, madah: fiqih Al Mishbah Al Munir

13

Muhammad bin Abu Bakar bin Abdul Qadir Ar Razi, Mukhtar Ash Shihah, jilid 1, hlm.

213.
14

Ubaidillah bin Masud Al Mahbubi Al Bukhari Al Hanafi, At Taudhih ala At Tanqih,


jilid 1, hlm. 10.
15
Adz Dzarkasyi, Al Bahrul Muhith, jilid 1, hlm.21.

11

Dalam artian ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum


Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang
wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil
yang jelas (tafshili). Produk ilmu fiqih adalah fiqih. Sedangkan
kaidah-kaidah istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya
dipelajari dalam ilmu Ushul Fiqih.
b) Bidang Pembahasan Ilmu Fiqih
Ilmu Fiqh merupakan kumpulan aturan yang meliputi segala
sesuatu, memberi ketentuan hukum terhadap semua perbuatan
manusia, baik dalam urusan pribadinya sendiri maupun dalam
hubungannya dengan manusia lain dan dalam hubungannya dengan
umat yang lain.
Pembahasan Ilmu Fiqh pada dasarnya dibagi menjadi dua bidang,
yaitu bidang Ibadah dan bidang Muamalah. Bidang muamalah ini
bisa disebut juga bidang adat (al-adat) yaitu aturan-aturan yang
dimaksudkan untuk mengatur hubungan manusia sebagai perorangan
maupun sebagai golongan, atau dengan perkataan lain, aturan-aturan
untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan duniawi.16
Apabila pembidangan itu hanya dua, maka pengertian muamalah
disini adalah muamalah dalam arti yang luas. Di dalamnya termasuk
bidangbidang hukum keluarga, pidana, perdata, acara, hukum
internasional dan lain sebagainya. Sebab, ada pula pengertian
muamalah dalam arti yang sempit, yaitu hanya menyangkut hukum
perdata saja.17
Berdasarkan penjelasan di atas, bisa diambil sebuah pemahaman
bahwa pembidangan ilmu fiqh menjadi dua bagian besar, yaitu Bidang
Fiqh Ibadah Mahdhah adalah aturan yang mengatur hubungan muslim

16

A. Hanafi M.A., Pengantar dan Sejarah Hukum Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1970),

17

Syahru Anwar, Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), hlm. 60.

hlm. 32.

12

dengan Allah SWT. dan bidang Fiqh Muamalah dalam arti yang luas,
yakni interaksi keseharian seorang muslim dalam bermasyarakat.
c) Hubungan dengan Tasawuf
Sebagaimana yang kita ketahui, pembahasan kitab-kitab fiqih
selalu dimulai dari thaharah (tata cara bersuci), lalu berlanjut pada
persoalan-persoalan kefiqihan lainnya. Namun, pembahasan ilmu fiqih
tentang thaharah dan lainnya tidak secara langsung terkait dengan
pembicaraan nilai-nilai ruhaniahnya. Padahal, thaharah akan terasa
lebih bermakna jika disertai pemahaman ruhaniah.
Untuk memberikan pemahaman keruhaniahan dalam fiqih, ilmu
tasawuf tampaknya merupakan pilihan yang paling tepat. Karena di
dalam tasawuf terdapat pembahasan yang mayoritas bersifat batiniyah.
Sehingga tasawuf dapat memberikan corak batiniyah terhadap fiqih.
Corak batin yang dimaksud, seperti ikhlas dan khusyu berikut
jalannya masing-masing. Bahkan ilmu ini mampu menumbuhkan
kesiapan

manusia

untuk

melaksanakan

hukum-hukum

fiqih.

Alasannya, pelaksanaan kewajiban manusia tidak akan sempurna tanpa


perjalanan ruhaniah.18
Marifat secara rasa (al-Marifat al-Dzauqiyah) terhadap Allah
melahirkan

pelaksanaan

terhadap

hukum-hukum-Nya

secara

sempurna. Dari sinilah dapat diketahui kelirunya pendapat yang


menuduh perjalanan menuju Allah (dalam tasawuf) sebagai tindakan
melepaskan diri dari hukum-hukum Allah.
Hal ini sangat menegaskan bahwa Ilmu Tasawuf dan Ilmu Fiqih
adalah dua disiplin ilmu yang saling melengkapi. Setiap orang harus
menempuh keduanya, dengan catatan bahwa kebutuhan perseorangan
terhadap kedua disiplin ilmu sangat beragam sesuai dengan kadar
kualitas ilmunya. Dari sini dapat dipahami bahwa ilmu fiqih, yang
terkesan sangat formalistic-lahiriah, menjadi sangat kering atau kaku
dan tidak mempunyai makna bagi penghambaan seseorang jika tidak
18

Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf, hlm. 90.

13

diisi dengan muatan kesadaran rohaniah yang dimiliki oleh tasawuf.


Begitu juga sebaliknya, tasawuf akan terhindar dari sikap-sikap merasa
suci sehingga tidak perlu lagi memperhatikan kesucian lahir yang
diatur dalam fiqih.19
Keterkaitan antara Ilmu Fiqih dengan Ilmu Tasawuf :
1) Ilmu Tasawuf mampu menumbuhkan kesiapan manusia untuk
melaksanakan hukum-hukum fiqih.
2) Ilmu Fiqih merupakan jembatan yang harus dilalui oleh seseorang
yang ingin mendalami ajaran tasawuf.
3) Tasawuf dan Fiqih merupakan dua disiplin ilmu yang saling
menyempurnakan.20
4. Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Filsafat
a) Pengertian Ilmu Filsafat
Filsafat adalah kata majmuk yang berasal dari bahasa yunani
philosophia dan philoshopos. Philo, berarti cinta (loving), sedangkan
Sophia

atau

sophos,

berarti

pengetahuan

atau

kebijaksanaan

(wisdom).21 Jadi, filsafat secara sederhana berarti cinta terhadap


pengetahuan atau kebijaksanaan. Pengertian cinta yang dimaksudkan
disini adalah dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan dengan
rasa keinginan itulah ia berusaha mencapai atau mendalami hal yang
diinginkan. Demikian juga yang dimaksud dengan pengetahuan, yaitu
mengetahui dengan mendalam sampai ke akar-akarnya atau sampai ke
dasar segala dasar.
Filsafat mempunyai banyak definisi dari para pemikir atau filosof.
Antara lain:
1) Plato mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang
segala yang ada.

19

Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf , hlm. 91-92.


Tiswani, Akhlak Tasawuf , hlm. 98-99.
21
K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1984), Cet. IV,
20

hlm. 13.

14

2) Aristoteles berpendapat bahwa filsafat merupakan metode atau


cara yang digunakan untuk menyelidiki sebab dan asal suatu
benda.
3) AlFarabi

menyatakan

bahwa

filsafat

adalah

ilmu

pengetahuan tentang alam yang ada dan bertujuan menyelidiki


hakikat yang sebenarnya.
4) Immanuel Kant mendefinisikan bahwa filsafat adalah ilmu
pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di
dalamnya empat persoalan, yaitu 1) apakah yang dapat kita
ketahui (metafisika), 2) apakah yang boleh kita kerjakan
(etika), 3) sampai dimanakah harapan harapan kita (agama),
dan 4) apakah yang dinamakan manusia (antropologi).
5) Harun Nasution menyatakan pendapatnya bahwa filsafat
adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dan bebas (tidak
terikat tradisi, agama atau dogma) dan dengan sedalam
dalamnya sehingga sampai ke dasar persoalan.22
Dari beberapa definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa
filsafat ialah suatu proses berfikir rasional dalam mencari hakikat
sesuatu secara sistematis, menyeluruh dan mendasar. Dikatakan
menyeluruh karena berfikir berdasarkan logika yang rasional untuk
memahami segala sesuatu termasuk diri sendiri yang hakikatnya
mencari kebenaran yang harus dinyatakan dalam bentuk komprehensif.
Dan dikatakan mendasar karena mampu memberikan penjelasan
pengalaman atau kenyataan empiris sampai ke dasardasarnya sehingga
tidak ada suatu yang tabu bagi kegiatan berfikir filsafat.
b) Bidang Pembahasan Filsafat
Adapun objek bahasan filsafat terbagi menjadi tiga bahasan pokok:
1) Ontologi (al-Wujud)

22

Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel, Pengantar Filsafat (IAIN Sunan Ampel
press, Surabaya, 2012), hlm. 2.

15

Pembahasan ontologi mencakup hakekat segala yang ada (alMaujudat). Pada umumnya bahasan yang ada terbagi menjadi
dua bidang, yakni fisika dan metafisika. Bidang fisika mencakup
tentang manusia, alam semesta, dan segala sesuatu yang
terkandung di dalamnya, baik benda hidup maupun benda mati.
Sedangkan metafisika membahas ketuhanan dan masalah imateri.
2) Epistemologi (al-Marifat)
Pembahasan

epistemologi

bersangkutan

dengan

hakikat

pengetahuan dan cara bagaimana atau dengan sarana apa


pengetahuan dapat diperoleh.
3) Aksiologi (al-Qoyyim)
Pembahasan aksiologi bersangkutan dengan hakikat nilai. Dalam
menentukan hakikat atau ukuran baik dan buruk dibahas dalam
filsafat etika atau akhlak. Dalam menentukan hakikat atau ukuran
benar dan salah dibahas dalam filsafat logika atau mantiq. Dalam
menentukan hakikat atau ukuran indah dan tidaknya dibahas dalam
filsafat estetika atau jamal.
c) Hubungan dengan Tasawuf
Dalam segi praktis, filsafat berarti alam pikiran atau alam berpikir.
Berfilsafat artinya berpikir, namun tidak semua berpikir berarti
berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguhsungguh.23 Filsafat adalah orang yang memikirkan hakikat segala
sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam.24 Jadi, ilmu filsafat
ditinjau dari segi praktis adalah ilmu yang mempelajari dengan
sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.
Adapun ilmu tasawuf yang berkembang di dunia Islam tidak dapat
dinafikan dari sumbangan pemikiran kefilsafatan. Ini dapat dilihat
dalam kajian-kajian tasawuf yang berbicara tentang jiwa. Secara jujur

23

Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung: Rosda Karya: 2003), hlm. 124
Muhammad Sholikhin, Filsafat dan Metafisika dalam Islam (Yogyakarta: Narasi,
2008), hlm. 57
24

16

harus diakui bahwa terminologi jiwa dan roh itu sendiri sesungguhnya
terminologi yang banyak dikaji dalam pemikiran-pemikiran filsafat.
Kajian-kajian tentang jiwa dalam pendekatan kefilsafatan ternyata
telah banyak memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi
kesempurnaan kajian tasawuf dalam dunia Islam. Kajian-kajian
kefilsafatan tentang jiwa dan roh kemudian banyak dikembangkan
dalam tasawuf. Menurut sebagian ahli tasawuf, jiwa adalah roh setelah
bersatu dengan jasad. Penyatuan roh dan jasad melahirkan pengaruh
yang ditimbulkan oleh jasad terhadap roh. Pengaruh-pengaruh ini
akhirnya memunculkan kebutuhan-kebutuhan jasad yang dibangun
roh.25
Oleh karena itu, Ilmu tasawuf sangat erat kaitannya dengan ilmu
filsafat. Menurut Tiswani dalam bukunya Buku Daras Akhlak Tasawuf
menyatakan :
1) Ilmu tasawuf dan ilmu filsafat sama-sama mempunyai tujuan
yakni mencari kebenaran sejati atau kebenaran tertinggi.
2) Ilmu filsafat lebih menitikberatkan pada teori, sedangkan ilmu
tasawuf pada aplikasi.
3) Tasawuf landasannya berpijak dan bertolak dari perasaan
sedangkan filsafat landasannya berpijak pada rasio dan
kepandaian menggunakan akal pikiran.
4) Filsafat turut mempengaruhi materi-materi dalam tasawuf.26
5. Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Jiwa (Psikologi)
a) Pengertian Psikologi
Psikologi adalah ilmu yang sudah mulai berkembang sejak abad
17 dan 18 serta nampak pesat kemajuannya pada abad 20. Pada
awalnya ilmu ini adalah bagian daripada filsafat sebagaimana pula
ilmu-ilmu yang lain seperti misalnya ilmu hukum tatanegara maupun

25
26

Rosihan Anwar, Ilmu Tasawuf, hlm. 92.


Tiswani, Akhlak Tasawuf, hlm. 97.

17

ilmu ekonomi, namun kemudian memisahkan diri dan berdiri sebagai


ilmu tersendiri.27
Psikologi berasal dari perkataan Yunani Psyche yang artinya
jiwa, dan Logos yang artinya ilmu pengetahuan. Secara etimologi
psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai
macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya.28
Menurut Dr. Singgih Dirgagunarsa, psikologi adalah ilmu yang
mempelajari tingkah laku manusia. Menurut Chaplin psikologi adalah
ilmu pengetahuan mengenai prilaku manusia dan hewan, juga
penyelidikan

terhadap

organisme

dalam

segala

ragam

dan

kerumitannya ketika mereaksi arus dan perubahan alam sekitar dan


peristiwa-peristiwa kemasyarakatan yang mengubah lingkungan. 29
Menurut Rosleny Marliany, psikologi dapat diartikan ilmu jiwa.
Makna ilmu jiwa bukan mempelajari jiwa dalam pengertian jiwa
sebagai soul atau roh, tetapi lebih mempelajari kepada gejala-gejala
yang tampak dari manusia yang ditafsirkan sebagai latar belakang
kejiwaan seseorang atau spirit dari manusia sebagai mahluk yang
berjiwa.30
Pengertian psikologi di atas menunjukkan beragamnya pendapat
para ahli psikologi. Perbedaan tersebut bermuasal pada adanya
perbedaan titik berangkat para ahli dalam mempelajari dan membahas
kehidupan jiwa yang kompleks ini. Dan dari pengertian tersebut paling
tidak dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan
yang mempelajari semua tingkah laku dan perbuatan individu, dimana
individu tersebut tidak dapat dilepaskan dari lingkungannya. Dalam
artian bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari
tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku individu
27

Sudarsono Ardhana, Pokok-Pokok Ilmu Jiwa Umum (Surabaya: Usaha Nasional, 1963),

hlm. 3.
28

Abu Ahmadi, Psikologi Sosial ( Jakarta: PT Rineka Cipta, 2007), hlm. 1.


Abu Ahmadi, Psikologi Umum ( Semarang: Rineka Cipta, 1991), hlm. 4.
30
Rosleny Marliany, Psikologi Umum (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010), hlm. 13.
29

18

maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Tingkah


laku terbuka adalah tingkah laku yang bersifat psikomotor yang
meliputi perbuatan berbicara, duduk, berjalan dan lain sebgainya,
sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berfikir, berkeyakinan,
berperasaan dan lain sebagainya.
b) Bidang Pembahasan Psikologi
1) Objek Material adalah sesuatu yang dibahas, dipelajari atau
diselidiki, atau suatu unsur yang ditentukan atau sesuatu yang
dijadikan sasaran pemikiran, objek material mencakup apa saja,
baik hal-hal konkret (kerohanian, nilai-nilai, ide-ide). Dan
Objeknya yaitu manusia.31
2) Objek Formal adalah cara memandang, cara meninjau yang
dilakukan oleh seorang peneliti terhadap objek materialnya serta
prinsip-prinsip yang digunakannya. Objek formal juga digunakan
sebagai pembeda ilmu yang satu dengan ilmu yang lain
(antropologi, sosiologi, dan lain-lain). Objeknya yaitu dari segi
tingkah laku manusia, objek tersebut bersifat empiris atau nyata,
yang dapat diobservasi untuk memprediksi, menggambarkan
sesuatu yang dilihat. Caranya melihat gerak gerik seseorang,
bagaimana ia melakukan sesuatu dan melihat dari matanya. 32
c) Hubungan dengan Tasawuf
Pembahasan Tasawuf sangat erat kaitannya dengan pembahasan
penyucian diri atau jiwa manusia. Dalam hal ini akan terlihat adanya
hubungan antara jiwa dan raga manusia, dimana ketika seseorang
melakukan proses penyucian jiwa melalui riyadhah, maka akan terjadi
proses transformasi diri. Misalnya ketika seseorang sudah berhasil
menahan diri dari sifat amarah, maka akan terpancar pada dirinya sifat
penyabar. Karena orang lain akan tahu bahwa seseorang itu penyabar
dari penampilan dirinya. Adanya keterkaitan antara jiwa dan raga
31
32

Alex Sobur, Psikologi Umum ( Bandung : Pustaka Setia, 2003), hlm.41.


Alex Sobur, Psikologi Umum, hlm. 42.

19

dalam pembahasan tasawuf inilah yang menjadikan tasawuf erat


hubungannya dengan psikologi yang banyak membahas tentang jiwa.
Dan sekarang ini kajian tentang jiwa yang lebih ditekankan pada
personality (kepribadian) disebut dengan Transpersonal Psikologi.
Kalau dulu istilahnya kesehatan mental.
Problem kepribadian (mental) meliputi semua unsur jiwa termasuk
pikiran, emosi, sikap, dan perasaan; yang mana semua itu akan sangat
mempengaruhi perilaku seseorang dalam menghadapi masalah. Dalam
hal inilah muncul dua kondisi manusia yaitu yang sehat mental dan
yang kurang sehat mental. Orang yang sehat mental adalah orang yang
mampu

mengatasi

persoalan-persoalan

pribadinya

sehingga

kebahagiaan dalam hidupnya. Misalnya ketika ada masalah dia tidak


mudah stres, tapi mencoba mencari solusi pemecahannya dengan cara
mencari sebab-sebab permasalahannya. Orang yang sehat mentalnya
tentulah tercermin dalam diri orang yang baik kepribadiannya yang
sangat tercermin dalam tingkah laku atau akhlaknya.33
Sebaliknya, golongan yang kurang sehat mentalnya sangatlah luas,
mulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat. Dari orang
yang merasa terganggu kesehatan hatinya, sampai orang yang sakit
jiwa. Gejala-gejala umum yang terdapat pada mereka yang kurang
sehat dapat dilihat dalam beberapa segi, misalnya dalam segi perasaan;
yaitu perasaan terganggu, tidak tentram, rasa gelisah, rasa iri, rasa
sedih yang tidak beralasan, dan lain sebagainya. 34
Perhatian pakar ilmu jiwa kontemporer lebih banyak dicurahkan
untuk membahas persoalan kesadaran dan ketidak-sadaran,
dorongan-dorongan kejiwaan, kecenderungan, aktifitas kejiwaan dan
akal, pikiran individu dan kelompok serta membahas berbagai teori
ilmu jiwa yang berbeda-beda. Sekalipun pakar ilmu jiwa kontemporer
telah banyak membicarakan persoalan yang terkait dengan kejiwaan,
33
34

Rosihan Anwar, Ilmu Tasawuf, hlm. 94.


Rosihan Anwar, Ilmu Tasawuf, hlm. 95.

20

akan tetapi tidak pernah menyinggung permasalahan hakikat jiwa dan


hakikat penyakitnya. Mereka hanya berhenti pada tingkatan fenomena
lahirnya kejiwaan saja.35
Sesungguhnya

kaum

sufi

adalah

orang-orang

yang

telah

memberikan sumbangan studi kejiwaan dengan membahas tentang


siratan-siratan hati dan kendala-kendala jiwa, yang dinilai oleh para
sufi sebagai landasan dalam mengawali suatu perbuatan. Kaum sufi
berpendapat bahwa perilaku lahiriyah manusia sebenarnya bukanlah
merupakan kepribadian manusia, akan tetapi unsur yang paling utama
dalam kepribadiannya adalah al-Khuluq, yaitu perilaku batin. AlKhuluq merupakan lembaga yang solid di dalam jiwa manusia yang
dapat menampilkan segala bentuk perbuatan dengan mudah tanpa
memerlukan proses berpikir dan pandangan.36
Perlu diketahui, terapi jiwa sufistik ternyata bukan hanya
merupakan teori semata, akan tetapi juga merupakan terapan. Para sufi
telah membuat diagnosa bagaimana cara mereka memberikan
pengobatan kejiwaan bagi para pasiennya. Mereka kaum sufi
menjelaskan kepada pasiennya bagaimana cara untuk mencapai
kesempurnaan jiwa, melalui pengembangan ruh keimanan di dalam
jiwa-jiwa yang lemah serta menghimbau mereka agar menyucikan jiwa
dan niatnya, memperkuat azamnya dan menyerahkan segala persoalan
yang sedang dihadapi kepada Allah, mengajak mereka agar menjadi
pribadi tawakal, penuh dengan kejujuran dan keikhlasan, serta makan
dengan makanan yang halal. Kemudian para sufi beranjak kepada
pengobatan kejiwaan yang kacau, lemah, melalui dzikir yang benar
yang dapat memberikan ketenangan kepada jiwa dan hati.37

35

Amir an-Najar, Ilmu Jiwa dalam Tasawuf (Jakarta: Pustaka Azzam, 2001), hlm. 142.
Amir an-Najar, Ilmu Jiwa dalam Tasawuf, hlm. 142.
37
Amir an-Najar, Ilmu Jiwa dalam Tasawuf, hlm. 202
36

21

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa tasawuf dan


psikologi memiliki hubungan yang erat sekali, hal ini juga dapat kita
lihat dari uraian berikut:
1) Ilmu tasawuf dalam pembahasannya menekankan unsur jiwa
atau bathin manusia, begitu juga ilmu psikologi.
2) Ilmu psikologi membahas masalah kesehatan mental, dan hal
apa saja yang membuat kerusakan pada mental sedangkan ilmu
tasawuf memberikan langkah-langkah praktis agar orang
senantiasa dapat memiliki mental yang sehat dan bathin yang
suci.
3) Ilmu tasawuf memberikan obat bagi penyakit-penyakit mental
manusia. Mental menjadi sakit bila manusia tidak tenang
bathinnya dan jauh dari Allah. Ketidak-tenangan ini membuat
manusia menjadi sakit mental, dan akhirnya akan bermuara
pada prilaku yang tidak normal dan selalu melanggar normanorma akhlak yang berlaku.38
C. Kesimpulan
Pada pembahasan ini dapat penulis simpulkan, bahwa sebagai sebuah
disiplin ilmu keislaman, tasawuf tidak dapat terlepas dari keterkaitannya
dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya yakni ilmu, tauhid, fiqih, filsafat, dan
bahkan psikologi. Bisa dikatakan keseluruhannya memiliki hubungan yang
sangat erat. Adapun rincian hubungan tasawuf dengan keempat disiplin ilmu
tersebut, diantaranya sebagai berikut:
Hubungan tasawuf dengan Tauhid
1) Dilihat dari materi, ilmu kalam terkesan tidak menyentuh rasa rohaniah
sedangkan ilmu tasawuf dapat menyentuh rasa rohaniah seorang hamba.
2) Dalam ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan defenisinya,
kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya.
Sementara itu pada ilmu tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode

38

Tiswani, Akhlak Tasawuf, hlm. 101

22

praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentraman, serta upaya untuk


menyelamatkan diri dari kemunafikan.
3) Selain itu, ilmu tasawuf berfungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah
dalam perdebatan kalam.
Hubungan tasawuf dengan Fiqih
1) Ilmu

tasawuf

mampu

menumbuhkan

kesiapan

manusia

untuk

melaksanakan hukum-hukum fiqih.


2) Ilmu fiqih merupakan jembatan yang harus dilalui oleh seseorang yang
ingin mendalami ajaran tasawuf.
3) Tasawuf

dan

fiqih

merupakan

dua

disiplin

ilmu

yang

saling

menyempurnakan.
Hubungan tasawuf dengan Filsafat
1) Ilmu tasawuf dan ilmu filsafat sama-sama mempunyai tujuan yakni
mencari kebenaran sejati atau kebenaran tertinggi.
2) Ilmu filsafat lebih menitikberatkan pada teori, sedangkan ilmu
tasawuf pada aplikasi.
3) Tasawuf landasannya berpijak dan bertolak dari perasaan sedangkan
filsafat landasannya berpijak pada rasio dan kepandaian menggunakan
akal pikiran.
4) Filsafat turut mempengaruhi materi-materi dalam tasawuf.
Hubungan tasawuf dengan Psikologi
1) Ilmu tasawuf dalam pembahasannya menekankan unsur jiwa atau bathin
manusia, begitu juga ilmu psikologi.
2) Ilmu psikologi membahas masalah kesehatan mental, dan hal-hal apa saja
yang membuat kerusakan pada mental sedangkan ilmu tasawuf
memberikan langkah-langkah praktis agar orang senantiasa dapat memiliki
mental yang sehat dan bathin yang suci.
3) Ilmu tasawuf memberikan obat bagi penyakit-penyakit mental manusia.
Mental menjadi sakit bila manusia tidak tenang bathinnya dan jauh dari
Allah. Ketidaktenangan ini membuat manusia menjadi sakit mental, dan

23

akhirnya akan bermuara pada prilaku yang tidak normal dan selalu
melanggar norma-norma akhlak yang berlaku.

24

DAFTAR PUSTAKA
Adz Dzarkasyi, Al Bahrul Muhith, jilid 1
Ahmadi, Abu. 1991 Psikologi Umum. Semarang: Rineka Cipta
-----------------. 2007. Psikologi Sosial. Jakarta: PT Rineka Cipta
al-Hanif , Abu Jihaduddin Rifqi. 1990. Mempertajam Mata Hati. t.t: Bintang
Pelajar
ali,Yunasril.1987. pengantar ilmu tasawuf. Jakarta: Pedoman ilmu jaya
an-Najar, Amir. 2001. Ilmu Jiwa dalam Tasawuf. Jakarta: Pustaka Azzam
Anwar, Rosihan. 2007. Ilmu Tasawuf. Pustaka Setia: Bandung.
Anwar, Syahru. 2010. Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh. Bogor: Ghalia Indonesia
Ardhana, Sudarsono. 1963. Pokok-Pokok Ilmu Jiwa Umum. Surabaya: Usaha
Nasional
Ar Razi, Muhammad bin Abu Bakar bin Abdul Qadir .Mukhtar Ash Shihah, jilid 1
As, Asmaran. 2002. Pengantar Studi Tasawuf. Jakarta: RajaGrafindo Pustaka
Bertens, K. 1984. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Yayasan Kanisius, Cet.
IV
Hanafi, A. 1970. Pengantar dan Sejarah Hukum Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Hanafi, M. 2003. Pengantar Teologi Islam. Jakarta: PT. Pustaka Al Husna Baru
Marliany, Rosleny. 2010. Psikologi Umum. Bandung: CV Pustaka Setia
Muhammad bin Mandhur, Lisanul Arab, madah: fiqih Al Mishbah Al Munir
Nasution, Harun. 1973. Filsafat agama. Jakarta: Bulan Bintang Cet.1
--------------------. 1973. Filsafat & Mistisme dalam Islam Jakarta: Bulan Bintang

25

R.A Nicholson, Fi al-Tasawuf al-Islam wa Tarikhuh, terj. Abu al-Ala Afifi, Kairo:
Lajnah al-Talif wa al-Tarjamah wa al-Nasyr, 1969.

Sholikhin, Muhammad. 2008. Filsafat dan Metafisika dalam Islam. Yogyakarta :


Narasi
Solihin, M. dan M. Rosyid Anawar. 2005. Akhlak Tasawuf: Manusia, Etika, dan
Makna Hidup. Bandung: Penerbit Nuansa
Sobur, Alex .2003. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia
Tafsir, Ahmad. 2003. Filsafat Umum. Rosda Karya
Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel. 2012. Pengantar Filsafat. Surabaya:
IAIN Sunan Ampel press
Tiswani. 2007. Akhlak Tasawuf. Jakarta : Bina Pratama
Ubaidillah bin Masud Al Mahbubi Al Bukhari Al Hanafi, At Taudhih ala At
Tanqih, jilid 1 Zakaria, A. 2008. Pokok-pokok Ilmu Tauhid. Garut: IBN
AZKA Press
Zar, Sirajuddin .2010. Filsafat Islam. Jakarta: Raja Group Persada

26