Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanahuwataalla, karena berkat


rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul Indikator Mutu Pelayanan
Kebidanan. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Mutu Layanan
Kebidanan.
Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga
makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi
sempurnanya makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi para pembaca dan bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Bekasi, 4 Oktober 2014

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................ 1
DAFTAR ISI........................................................................................................... 2
BAB I..................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN..................................................................................................... 3
1.1 Latar Belakang................................................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................... 3
1.3 Tujuan.............................................................................................................. 4
BAB II................................................................................................................... 5
PEMBAHASAN....................................................................................................... 5
2.1 Disiplin dalam Standar Pelayanan Kebidanan...........................................................5
2.2 Standar Outcome................................................................................................. 9
2.3 Peningkatan Kinerja.......................................................................................... 10
2.4 Program Menjaga Mutu..................................................................................... 13
2.5 Bentuk Program Menjaga Mutu...........................................................................15
BAB III................................................................................................................. 18
PENUTUP............................................................................................................. 18
3.1 Kesimpulan....................................................................................................... 18
3.2 Saran.......................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 19

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Pelayanan bermutu atau berkualitas sering dikaitkan dengan biaya. Rosemary E.
Cross mengatakan bahwa secara umum pemikiran tentang kualitas sering dihubungkan
dengan kelayakan, kemewahan, kecantikan, nilai uang, kebebasan dari rasa sakitdan
ketidaknyamanan, usia harapan hidup yang panjang, rasa hormat, kebaikan.
Pelayanan kesehatan adalah Setiap upaya yang di selenggarakan secara sendiri atau
bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan,
mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan,
keluarga, kelompok maupun masyarakat.
Semakin tinggi tingkat pemahaman masyarakat terhadap pentingnya kesehatan
untuk mempertahankan kualitas hidup, maka customer akan semakin kritis dalam
menerima produk jasa, termasuk jasa pelayanan kebidanan, oleh karena itu peningkatan
mutu kinerja setiap bidan perlu dilakukan terus menerus.Untuk dapat menyelenggarakan
pelayanan kesehatan yang bermutu banyak upaya yang dapat dilaksanakan.
Upaya tersebut jika dilaksanakan secara terarah dan terencana ,dalam ilmu
administrasi kesehatan dikenal dengan nama program menjaga mutu pelayanan kesehatan
(Quality Assurance Program ).
Sekalipun aspek kepuasan tersebut telah dibatasi hanya yang sesuai dengan tingkat
kepuasan rata-rata penduduk yang menjadi sasaran utama pelayanan kesehatan , namun
karena ruang lingkup kepuasan memang bersifat sangat luas, menyebabkan upaya untuk
menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu tidaklah semudah yang
diperkirakan. Sesungguhnyalah seperti juga mutu pelayanan, dimensi kepuasan pasien
sangat bervariasi sekali.oleh karena itu,para petugas kesehatan harus tetap menjaga
program mutu,termasuk program prospektif,konkuren dan retrospektif serta internal dan
eksternal.

1.2

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang ada dalam makalah ini yaitu :

1.
2.
3.
4.

Apa yang dimaksud dengan disiplin dalam standar pelayanan kesehatan kebidanan?
Apa yang dimaksud dengan standar outcome?
Apa yang dimaksud dengan Peningkatan Kinerja?
Apa yang dimaksud dengan program menjaga mutu,tujuan,manfaat dan sasaran pada
pelayanan kesehatan ?
5. Bagaimana dan apa saja bentuk dari program menjaga mutu?

1.3

Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu disiplin dalam standar pelayanan kesehatan kebidanan
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan standar outcome
3. Untuk mengetahui cara peningkatan kinerja dalam standart pelayanan kesehatan
kebidanan
4. Untuk mengetahui apa yang dimaksud program menjaga mutu pelayanan
kesehatan, tujuan, manfaat dan sasarannya.
5. Untuk mengetahui cara peningkatan kinerja dalam standar pelayanan kebidanan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Disiplin dalam Standar Pelayanan Kebidanan


Mutu Pelayanan kesehatan adalah Penampilan yang pantas dan sesuai (sesuai dengan
standar-standar) dari suatu intervensi yang diketahui aman, yang dapat memberikan hasil
kepada masyarakat yang bersangkutan dan yang telah mempunyai kemampuan untuk
menghasilkan dampak pada kematian, kesakitan, ketidakmampuan dan kekurangan gizi.
Tujuan pelayanan kesehatan adalah tercapainya derajat kesehatan masyarakatyang
memuaskan harapan dan kebutuhan masyarakat melalui pelayanan yang efektif oleh
pemberi pelayanan dan kebutuhan pemberi pelayanan, pada institusi pelayanan yang
diselenggarakan secara efisien. Interaksi ketiga pilar utama pelayanan kesehatan yang
serasi, selaras dan seimbang, merupakan panduan dari kepuasan tiga pihak, dan ini
merupakan pelayanan kesehatan yang memuaskan (satisfactory healty care).
Indikator utama untuk mengetahui standar rumah sakit adalah kepuasan pasien
terhadap pelayanan dari rumah sakit. Pelayanan yang baik dari suatu rumah sakit akan
membuktikan rumah sakit tersebut bermutu baik. Ini dapat dilihat dari penanganan pasien
yang cepat, tepat, dan ramah tamah dari petugas kesehatan.
1. Pengertian Indikator
Ada beberapa pengertian yang disampaikan oleh para pakar antara lain:
a) Indikator adalah pengukuran tidak langsung suatu peristiwa atau kondisi.
Contoh: berat badan bayi dan umurnya adalah indikator status nutrisi dari bayi
tersebut (Wilson & Sapanuchart, 1993).
b) Indikator adalah variabel yang mengindikasikan atau menunjukkan satu
kecenderungan situasi, yang dapat dipergunakan untuk mengukur perubahan
(Green, 1992).
c) Indikator adalah variable untuk mengukur suatu perubahan baik langsung maupun
tidak langsung (WHO, 1981)
Ada dua kata kunci penting dalam pengertian tersebut diatas adalah pengukuran dan
perubahan. Untuk mengukur tingkat hasil suatu kegiatan digunakan "indikator" sebagai
alat atau petunjuk untuk mengukur prestasi suatu pelaksanaan kegiatan. Indikator yang

berfokus pada hasil asuhan kepada pasien dan proses-proses kunci serta spesifik disebut
indikator klinis.
Indikator klinis adalah ukuran kuantitas sebagai pedoman untuk mengukur dan
mengevaluasi kualitas asuhan pasien dan berdampak terhadap pelayanan. Indikator tidak
dipergunakan secara langsung untuk mengukur kualitas pelayanan, tetapi dapat
dianalogikan sebagai "bendera" yang menunjuk adanya suatu masalah spesifik dan
memerlukan monitoring dan evaluasi. Dalam beberapa kegiatan, mungkin tidak relevan
mengukurnya dengan ukuran kuantitatif untuk mengambil suatu keputusan. Sebagai contoh
dalam komunikasi: bagaimana kualitas komunikasi interpersonal antara bidan - pasien,
maka pengukurannya adalah melalui observasi langsung untuk mengetahui bagaimana
kualitas interaksinya. Monitoring dilakukan terhadap indikator kunci guna dapat
mengetahui penyimpangan atau prestasi yang dicapai. Dengan demikian setiap individu
akan dapat menilai tingkat prestasinya sendiri (self assesment). Indikator Memiliki
Karakteristik sebagai berikut.
1) Sahih (Valid) artinya indikator benar-benar dapat dipakai untuk mengukur aspekaspek yang akan dinilai.
2) Dapat dipercaya (Reliable): mampu menunjukkan hasil yang sama pada saat
yang berulang kali, untuk waktu sekarang maupun yang akan datang.
3) Peka (Sensitive): cukup peka untuk mengukur sehingga jumlahnya tidak perlu
4)

banyak.
Spesifik (Specific) memberikan gambaran perubahan ukuran yang jelas dan

tidak tumpang tindih.


5) Relevan: sesuai dengan aspek kegiatan yang akan diukur dan kritikal contoh:
pada unit bedah indikator yang dibuat berhubungan dengan pre-operasi dan postoperasi.
2. Klasifikasi Indikator
a. Indikator input merujuk pada sumber-sumber yang diperlukan untuk melaksanakan
aktivitas, antara lain: personel, alat/fasilitas, informasi, dana, peraturan/kebijakan.
b. Indikator proses adalah memonitor tugas atau kegiatan yang dilaksanakan.
c. Indikator output : mengukur hasil meliputi cakupan, termasuk pengetahuan, sikap,
dan perubahan perilaku yang dihasilkan oleh tindakan yang dilakukan. Indikator
ini juga disebut indikator effect.
d. Indikator outcome : dipergunakan untuk menilai perubahan atau dampak (impact)
suatu program, perkembangan jangka panjang termasuk perubahan status
kesehatan masyarakat/penduduk.
Ilustrasi dari indikator dengan contoh kegiatan imunisasi: Input meliputi
peralatannya, vaksin dan alat proteksi dan staf yang terlatih, proses adalah kegiatan dalam

melakukan aktifitas pemberian imunisasi, output meliputi cakupan pemberian meningkat


adalah output, dan outcome adalah dampaknya sebagai efek output antara lain menurunnya
morbiditas dan mortalitas dari upaya pencegahan penyakit melalui immunisasi (outcome).
3. Indikator Kinerja Klinis
Mengidentifikasi indikator yang tepat untuk suatu tindakan klinis yang memerlukan
pertimbangan yang selektif dan membangun konsesus di antara manager lini pertama (First
Line Manager) dan staf, sehingga apa yang akan dimonitor dan dievaluasi akan menjadi
jelas bagi kedua belah pihak.
4. Pengukuran Indikator Kinerja Klinis
Untuk menilai keberhasilan suatu kegiatan pelayanan kebidanan dipergunakan
indikator kinerja klinis. Indikator adalah pengukuran kuantitatif, umumnya pengukuran
kuantitatif meliputi, yaitu
a) numerator adalah suatu data pembilang dari suatu peristiwa (events) yang sudah
diukur;
b) denominator data penyebut adalah jumlah target sasaran atau jumlah seluruh
pasien yang menjadi sasaran pemberian asuhan/pelayanan. Contoh data
denominator di puskesmas: populasi sasaran dalam satu wilayah seperti: jumlah
balita, bumil, bayi baru lahir. Indikator yang meliputi denominator sangat
berguna untuk memonitor perubahan dan membandingkan tingkat keberhasilan
suatu area dengan area lain pada suatu wilayah.
Cara pengukuran ini disebut dengan proprosi. Tetapi dalam kondisi tertentu indikator
tanpa denominator (hanya data pembilang) sangat berarti untuk kejadian jarang atau langka
tetapi penting misalnya kematian ibu. Indikator dapat dikategorikan serius dari peristiwa
yang diukur. Bila peristiwa tersebut dinilai sangat berbahaya atau berdampak luas,
walaupun frekuensinya rendah, maka diperlukan pengawasan atau monitoring yang lebih
intens untuk perbaikan yang lebih cepat.
5. Pengumpulan data indikator kinerja
Pengumpulan data indikator merupakan tulang punggung dari program pengukuran
kinerja. Hal tersebut hanya dapat dikembangkan melalui sistem manajemen informasi yang
tepat, dimana pengumpulan data, pengorganisasian serta reaksi terhadap data kinerja
direncanakan dan diorganisir secara sistematik, sehingga dapat memberikan makna
terhadap perubahan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan dalam suatu organisasi.
Ada enam sasaran kunci pengumpulan data kinerja:
1) menata sistem informasi yang akurat yang mendasari keputusan mendatang,
2) menghindari aspek hukum yang berkaitan dengan pengukuran dan hasil data
yang dikumpulkan,

3) menemukan lingkungan tepat yang dapat memberikan peluang untuk melakukan


tindakan,
4) menumbuhkan motivasi staf dan merencanakan peningkatan kinerja itu sendiri,
5) mengumpulkan data interval secara reguler terhadap proses-proses kritis, dalam
upaya mempertahankan kinerja yang sudah meningkat,
6) mengumpulkan data obyektif dan subyektif.
Evaluasi data penyimpangan kinerja melalui indikator kinerja klinis adalah satu bagian
penting dari dalam peningkatan kinerja. Ada dua jenis penyimpangan, yaitu
1) Pertama penyebab umum terjadinya penyimpangan, erat kaitannya dengan
penyimpangan minor yang terjadi dalam suatu organisasi pelayanan kesehatan
tanpa memperdulikan sistem yang sudah mapan. Penyebab penyimpangan
kinerja staf juga bisa terjadi karena, sistem atau prosedur yang tidak jelas,
keterbatasan fasilitas. Oleh karena itu, keterbatasan sumber-sumber untuk
mendeteksi penyebab dalam setiap penyimpangan minor masih dapat ditoleransi.
2) Kedua penyebab khusus: terjadinya penyimpangan kinerja disebabkan karena,
kesalahan staf itu sendiri, kurang pengetahuan dan ketrampilan, kemampuan
yang kurang dalam pemeliharaan peralatan.

Target suatu indikator adalah menggunakan deviasi standar untuk mengidentifikasi


penyebab penyimpangan. Penyebab khusus terjadinya penyimpangan lebih mudah
dikoreksi dari pada penyebab umum. Sebagai contoh: keharusan mencuci tangan secara
rutin mungkin meningkat drastis, apabila staf menyadari dan menerima bahwa praktek cuci
tangan penting untuk meningkatkan mutu kinerja dan akan dimonitor atau dievaluasi.
Indikator diarahkan sebanyak mungkin pada tindakan. Pada banyak organisasi, informasi
yang diperoleh dari indikator akan memerlukan tindak lanjut melalui investigasi: seperti
kunjungan supervisi untuk mengumpulkan lebih banyak data kualitatatif, survey khusus
sebelum mengarah pada suatu pengambilan keputusan.
Mengukur kinerja bidan dengan menggunakan indikator kinerja klinis merupakan
suatu langkah yang mempunyai keuntungan ganda. Pertama, cara ini akan memberikan
kesempatan bagi bidan untuk melakukan "self assessment sehingga dapat mengetahui
tingkat kemampuannya, dan berusaha untuk memperbaikinya. Peningkatan kemampuan
dan produktifitas individu-individu akan memberikan kontribusi peningkatan mutu
pelayanan pada organisasinya yang bermuara. pada kepuasan pasen dan staf. Sistem
penilaian kinerja dengan indikator kunci akan memberikan kesempatan kepada pimpinan
untuk melakukan komunikasi interpersonal yang efektif, sehingga secara bersama.-sama

dapat dilakukan evaluasi dan perbaikan yang mengarah pada perbaikan kinerja dan
bermuara pada peningkatan mutu pelayanan.

2.2 Standar Outcome


Standar outcome merupakan hasil akhir atau akibat layanan kesehatan. Standar
keluaran akan menunjukkan apakah layanan kesehatan berhasil atau gagal. Keluaran
(outcome) adalah apa yang diarapkan akan terjadi sebagai hasil dari layanan kesehatan
yang diselenggarakan dan terhadap apa keberhasilan tersebut akan diukur.
Donabedian (1980) memberikan penjelasan bahwa outcome secara tidak langsung
dapat digunakan sebagai pendekatan untuk menilai pelayanan kesehatan. Dalam menilai
apakah hasilnya bermutu atau tidak, diukur dengan dengan standar hasil (yang diharapkan)
dari pelayanan medis yang telah dikerjakan.
Indikator outcome mupakan indikator hasil daripada keadaan sebelumnya, yaitu
input dan proses seperti BOR, LOS, TOI, dan Indikator klinis lain seperti : Angka
Kesembuhan Penyakit, Angka Kematian 48 jam, Angka Infeksi Nosokomial, Komplikasi
Perawatan , dan sebagainya.
Kriteria outcome yang umum digunakan antara lain:
a)
b)
c)
d)

kepuasan pasien,
pengetahuan pasien,
fungsi pasien,
indikator kesembuhan, kematian, komplikasi, dan lain-lain.

Sebagai contoh standar layanan ISPA di Puskesmas, sebagai keluaran (outcome)


antara lain klasifikasi dan pengobatan yang tepat, balita dirujuk tepat waktu, kepuasan
ibu/pengantar; pengetahuan ibu/pengantar, tingkat kematian kasus, dan rekam medik yang
diisi lengkap dan akurat. Jika dibandingkan antara kriteria kepuasan pasien dan
pengetahuan pasien, yang lebih mudah diukur adalah kriteria pengetahuan pasien. Untuk
setiap standar layanan kesehatan dapat dibuat beberapa kriteria atau indikator. Kelompok
jaminan mutu layanan kesehatan harus memilih indikator yang terbaik dan mudah
digunakan untuk menunjukkan pencapaian standar layanan kesehatan dan mudah
digunakan.

2.3 Peningkatan Kinerja


1. Definisi Kinerja

Kinerja SDM merupakan istilah yang berasal dari job performance atau Actual
Performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai seseorang). Definisi
kinerja karyawan yang dikemukakan Bambang Kusriyanto adalah :perbandingan hasil
yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja persatuan waktu (lazimnya per jam). Ahli
yang lain mendefinisikan bahwa kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai
hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan
kontribuisi pekerjaanya. Kinerja juga dapat diartikan tentang apa yang dikerjakan dan
bagaimana cara mengerjakannya. Dapat disimpulkan bahwa kinerja SDM adalah prestasi
kerja atau hasil kerja (output) baik kualitas maupun kuantitas yang dicapai SDM persatuan
periode waktu dalam melaksanakan tugas kerjanya sesuai dengan tanggung jawab yang
diberikan kepadanya.
Penilaian prestasi kerja (Performance appraisal) adalah seorang karyawan melakukan
pekerjaannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Penilaian pegawai merupakan
evaluasi yang sistematis dari pekerjaan pegawai dan potensi yang dapat dikembangkan.
Penilaian dalam proses penafsiran atau penentuan nilai, kualitas atau status dari beberapa
objek orang ataupun sesuatu (barang).
Berdasarkan beberapa pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa evaluasi
kinerja adalah penilaian yang dilakukan secara sistematis untuk mengetahui hasil pekerjaan
karyawan dan kinerja organisasi. Di samping itu, juga untuk menentukan pelatihan kerja
secara tepat, memberikan tanggung jawab yang sesuai kepada karyawan sehingga dapat
melaksanakan pekerjaan yang lebih baik di masa mendatang dan sebagai dasar untuk
menentukan kebijakan dalam hal promosi jabatan atau penentuan imbalan.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja adalah faktor kemampuan (ability)
dab faktor motivasi (motivation). Penjelasan lebih lanjut adalah sebagai berikut.
a. Faktor kemampuan (Ability)
Secara psikologis, kemampuan (ability) terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan
kemampuan reality (knowledge + skill). Artinya, pimpinan dan karyawan yang
memiliki IQ di atas rata-rata (IQ 110 120 ) apalagi IQ superior, very superior,
gifted dan genius dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil
dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka akan lebih mudah mencapai kerja
maksimal.
b. Faktor motivasi (motivation)
Motivasi artinya suatu sikap (attitude) pimpinan dan karyawan terhadap situasi
kerja (situation) di lingkungan organisasinya. Mereka yang bersikap positif (pro)
terhadap situasi kerjanya akan menunjukkan motivasi kerja tinggi dan sebaliknya jika

mereka bersikap negatif (kontra) terhadap situasi kerjanya akan menunjukan motivasi
kerja yang rendah. Situasi kerja yang dimaksud mencakup antara lain hubungan kerja,
fasilitas kerja, iklim kerja, kebijakan pimpinan, pola kepemimpinan kerja dan kondisi
kerja.
Perilaku dan kinerja dibedakan menjadi tiga variabel yaitu meliputi:
1) Variabel individu : pengetahuan, beban kerja, kepuasan, latar belakang, karakteristik
atau demografi yang terdiri dari: usia, jenis kelamin, masa kerja dan pendidikan.
2) Variabel organisasi : sumber daya, kepemimpinan, supervisi, imbalan atau insentif,
kebijakan, struktur organisasi, desain pekerjaan (kerjasama tim).
3) Variabel psikologis : persepsi, sikap, kepribadian, belajar, motivasi
Kinerja (performance) dipengaruhi juga oleh tiga faktor, yaitu :
1) Faktor individual yang terdiri dari: kemampuan dan keahlian, latar belakang,
demografi;
2) Faktor psikologis yang terdiri dari : persepsi, attitude, personality, pembelajaran,
motivasi ;
3) Faktor organisasi yang terdiri dari: sumber daya, kepemimpinan, penghargaan,
struktur, job design.
Kinerja individu adalah hasil kerja karyakaryawan baik dari segi kualitas maupun
kuantitas berdasarkan standar kerja yang telah ditentukan. Kinerja individu ini akan tercapai
apabila didukung oleh atribut individu, upaya kerja (work effort) dan dukungan organisasi.
Dengan kata lain, kinerja individu adalah hasil:
Atribut individu, yang menentukan kapasitas untuk mengerjakan sesuatu. Atribut
individu meliputi faktor individu (kemampuan dan keahlian, latar belakang serta
demografi)

dan

faktor

psikologis

meliputi

persepsi,

attitude,

personality,

pembelajaran dan motivasi.


Upaya kerja (work effort), membentuk keinginan untuk mencapai sesuatu.
Dukungan organisasi, yang memberikan kesempatan untuk berbuat sesuatu.
Dukungan organisasi meliputi sumber daya, kepemimpinan, lingkungan kerja,
struktur organisasi dan job design. Teori hereditas berpandangan bahwa hanya faktor
individu (termasuk juga faktor keturunannya) yang sangat menentukan seorang
individu mampu berprestasi dalam melakukan suatu kegiatan atau tidak; sedangkan
teori lingkungan berpandangan bahwa hanya faktor lingkungan yang sangat
menentukan seorang individu mampu berprestasi atau tidak. Pendapat lain adalah

teori William stern yang dikenal dengan teori konversi William Stern bahwa faktorfaktor penentu prestasi kerja individu adalah:
1) Faktor individu
Secara psikologis, individu yang normal adalah individu yang memiliki
integritas yang tinggi antara fungsi psikis (rohani) dan fisiknya (jasmaniah).
Adanya integritas yang tinggi antara fungsi dan fisik, maka individu tersebut
memiliki konsentrasi diri yang baik. Konsentrasi yang baik ini merupakan modal
utama individu manusia untuk mampu mengelola dan mendayagunakan potensi
dirinya secara optimal dalam melaksanakan kegiatan atau aktivitas kerja seharihari dalam mencapai tujuan organisasi.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, tanpa adanya
konsentrasi yang baik dari individu dalam bekerja, maka mimpi pimpinan
mengharapkan mereka dapat bekerja produktif dalam mencapai tujuan organisasi.
Pada umumnya, individu yang mampu bekerja dengan penuh konsentrasi apabila
ia memiliki tingkat intelegensi minimal normal dengan tingkat kecerdasan emosi
baik (tidak merasa bersalah yang berlebihan, tidak mudah marah, tidak dengki,
tidak cemas, memiliki pandangan dan pedoman hidup yang jelas berdasarkan kitab
sucinya).
2) Faktor lingkungan organisasi
Faktor lingkungan kerja organisasi sangat menunjang bagi individu dalam
mencapai prestasi kerja. Faktor lingkungan organisasi yang dimaksud antara
uraian jabatan yang jelas, autoritas yang memadai, target kerja yang menantang,
pola komunikasi kerja efektif, hubungan kerja harmonis, iklim kerja respek dan
dinamis, peluang berkarier dan fasilitas kerja yang relatif memadai.

2.4 Program Menjaga Mutu


1. Pengertian
Pengertian program menjaga mutu terdiri dari bebrapa bentuk antar lain adalah:
a. Program menjaga mutu adalah suatu upaya yang berkesinambungan, sistematis dan
objektif dalam memantau dan menilai pelayanan yang diselenggarakan dibandingkan
dengan standar yang telah ditetapkan, serta menyelesaikan masalah yang ditemukan
untuk memperbaiki mutu pelayanan (Maltos & Keller, 1989).
b. Program menjaga mutu adalah suatu proses untuk memperkecil kesenjangan antara
penampilan yang ditemukan dengan keluaran yang diinginkan dari suatu sistem, sesuai
dengan batas-batas teknologi yang dimiliki oleh sistem tersebut (Ruels & Frank, 1988).
c. Program menjaga mutu adalah suatu upaya terpadu yang mencakup identifikasi dan
penyelesaian masalah pelayanan yang diselenggarakan, serta mencari dan

memanfaatkan berbagai peluang yang ada untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan
(The American Hospital Association, 1988).
d. Program menjaga mutu adalah suatu program berlanjut yang disusun secara objektif
dan sistematis dalam memantau dan menilai mutu dan kewajaran pelayanan,
menggunakan berbagai peluang yang tersedia untuk meningkatkan pelayanan yang
diselenggarakan serta menyelesaikan berbagai masalah yang ditemukan (Joint
Commission on Acreditation of Hospitals, 1988).

2. Tujuan Program Menjaga Mutu


Tujuan program menjaga mutu mencakup dua hal yang bersifat pokok, yang jika
disederhanakan dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Tujuan antara.
Tujuan antara yang ingin dicapai oleh program menjaga mutu ialah
diketahuinya mutu pelayanan. Jika dikaitkan dengan kegiatan program menjaga mutu,
tujuan ini dapat dicapai apabila masalah serta prioritas masalah mutu berhasil
ditetapkan.
b. Tujuan akhir.
Tujuan akhir yang ingin dicapai oleh program menjaga mutu ialah makin
meningkatnya mutu pelayanan. Jika dikaitkan dengan kegiatan program menjaga mutu,
tujuan ini dapat dicapai apabila masalah dan penyebab masalah mutu berhasil diatasi.
3. Manfaat Program Menjaga Mutu
Apabila program menjaga mutu dapat dilaksanakan, banyak manfaat yang akan
diperoleh. Secara umum beberapa manfaat yang dimaksudkan adalah:
a. Dapat lebih meningkatkan efektifitas pelayanan kesehatan.Peningkatan efektifitas
yang dimaksud di sini erat hubungannya dengan dapat direlesaikannya masalah
yang tepat dengan cara penyelesaian masalah yang benar. Karena dengan
diselenggarakannya program menjaga mutu dapat diharapkan pemilihan masalah
telah dilakukan secara tepat serta pemilihan dan pelaksanaan cara penyelesaian
masalah telah dilakukan secara benar.
b. Dapat lebih meningkatkan efesiensi pelayanan kesehatan.Peningkatan efesiensi
yang dimaksudkan disini erat hubungannya dengan dapat dicegahnya
penyelenggaraan pelayanan yang berlebihan atau yang dibawah standar. Biaya
tambahan karena pelayanan yang berlebihan atau karena harus mengatasi berbagai
efek samping karena pelayanan yang dibawah standar akan dapat dicegah.
c. Dapat lebih meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan.Peningkatan penerimaan ini erat hubungannya dengan telah sesuainya
pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dengan kebutuhan dan tuntutan
masyarakat sebagai pemakai jasa pelayanan. Apabila peningkatan penerimaan ini
dapat diwujudkan, pada gilirannya pasti akan berperan besar dalam turut
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
d. Dapat melindungi pelaksana pelayanan kesehatan dari kemungkinan munculnya
gugatan hukum.

4. Sasaran Mutu Pelayanan Kesehatan


Sasaran mutu pelayanan kesehatan meliputi :
1. Masukkan
2. Lingkungan
3. Prosess
4. Keluaran

2.5 Bentuk Program Menjaga Mutu


a. Program Menjaga Mutu Prespektif
Program menjaga mutu prespektif adalah program menjaga mutu yang diselenggaran
sebelum pelayanan kesehatan. Pada bentuk ini, perhatian utama lebih ditujukan pada
unsur masukkan serta lingkungan, antara lain :
1. Lisensi
Lisensi adalah proses administasi yang dilakukan oleh pemerintah atau yang
berwenang berupa surat izin praktik yang diberikan kepada tenaga profesi yang
telah teregristrasi untuk pelayanan mandiri.
Tujuan lisensi :
a. Tujuan umum lisensi : Melindungi masyarakat dari pelayanan profesi
b. Tujuan khusus lisensi : Memberi kejelasan batas wewenang dan menetapkan
sarana dan prasarana.
2. Akreditasi
Akreditasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk menentukan kelayakan program
dan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non formal pada setiap
jenjang dan jenis pendidikan berdasarkan kriteria yang terbuka.
3. Standarisasi
Standarisasi adalah suatu pernyataan tentang mutu yang diharapkan yaitu yang
menyangkut masukan proses dari system pelayanan kesehatan.
4. Sertifikasi
Sertifikasi adalah dokumen penguasaan kompetensi tertentu melalui kegiatan
pendidikan forma maupun non formal. Lembaga pendidikan non formal seperti
organisasi profesi, rumah sakit, LSM bidang melalui ujian nasional.
Ada dua bentuk sertifikasi :
1. Mempunyai kekuatan hokum yang diperoleh dari pendidikan formal.
2. Sertifikasi adalah dokumen penguasaan kompetensi tertentu, biasa diperoleh
dari kegiatan pendidikan formal atau kegiatan pendidikan non formal.

Tujuan Sertifikasi
1. Tujuan Umum
a. Melindungi masyarakat pengguna jasa profesi
b. Meningkatkan mutu pelayanan
c. Pemerataan dan perluasan jangkauan pelayanan
2. Tujuan Khusus
a. Menyatakan kemampuan pengetahuan, keterampilan dan perilaku tenaga
profesi.
b. Menetapkan kualifikasi dan lingkup kompetensi.
c. Menyatakan pengetahuan, keterampilan dan

perilaku

pendidikan

tambahan.
d. Menetapkan kualifikasi, tingkat dan lingkup pendidikan tambahan tenaga
profesi.
e. Memenuhi syarat untuk mendapat nomer registrasi.
b. Konkuren
Yang dimaksud dengan Program menjaga mutu konkuren adalah yang
diselenggarakan bersamaan dengan pelayanan kesehatan. Pada bentuk ini perhatian
utama lebih ditujukan pada standar proses, yakni memantau dan menilai tindakan
medis, keperawatan dan non medis yang dilakukan.
Program menjaga mutu konkuren adalah program menjaga mutu yang
dilaksanakan bersamaan dengan penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Pada bentuk
ini, perhatian utama lebih ditujukan pada unsure proses, yakni menilai tindakan medis
dan nonmedis yang dilakukan. Apabila kedua tindakan tersebut tidak sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan, maka berarti pelayanan kesehatan yang diselenggarakan
kurang bermutu.Program menjaga mutu konkuren dinilai paling baik, namun paling
sulit dilaksanakan. Penyebab utamanya adalah karena adanya factor tentang rasa serta
bias pada waktu pengamatan. Seseorang akan cenderung lebih berhati-hati, apabila
mengetahui sedang diamati. Kecuali apabila pelayanan kesehatan tersebut
dilaksanakan oleh satu tim (team work), atau apabila telah tdrbentuk kelompok
kesejawatan .
Mutu pelayanan kesehatan sebenarnya menunjuk pada penampilan (performance)
dari pelayanan kesehatan yang dikenal dengan Keluaran (output) yaitu hasil akhir
kegiatan dari tindakan dokter dan tenaga profesi lainnya terhadap pasien, dalam arti
perubahan derajat kesehatan dan kepuasan baik positif maupun sebaliknya. Sedangkan
baik atau tidaknya keluaran tersebut sangat dipengaruhi oleh proses (process),
masukan (input) dan lingkungan (environment). Maka jelaslah bahwa baik atau
tidaknya mutu pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur tersebut, dan
untuk menjamin baiknya mutu pelayanan kesehatan ketiga unsur harus diupayakan
sedemikian rupa agar sesuai dengan standar dan atau kebutuhan.
c. Retrospektif
Program menjaga mutu retrospektif adalah program menjaga mutu yang
dilaksanakan setelah pelayanan kesehatan diselenggarakan. Pada bentuk ini, perhatian

utama lebih ditujukan pada unsur keluaran, yakni menilai pemanpilan peleyanan
kesehatan. Jika penampilan tersebut berada dibawah standar yang telah ditetapkan,
maka berarti pelayanan kesehtan yang diselenggarakan kurang bermutu.
Karena program menjaga
mutu
retrospektif
dilaksanakan
setelah
diselenggarakannya pelayanan kesehatan, secara informal, dalam arti melangsungkan
tanya jawab setelah usainya setiap pelayanan kesehatan, atau secara formal, dalam arti
melakukan suatu survei yang dirancang khusus. Survei dapat dilaksanakan melalui
kuesioner atau interview secara langsung maupun melalui telepon, terstruktur atau
tidak terstruktur. Misalnya : survei kepuasan pasienmaka objek program menjaga mutu
umumnya bersifat tidak langsung. Dapat berupa hasil dari pelayanan kesehatan, atau
pandangan pemakai jasa pelayanan kesehatan. Beberapa contoh program menjaga
mutu retrospektif adalah:
1. Review rekam medis (record review)
Disini penampilan pelayanan kesehatan dinilai dari rekam medis yang
dipergunakan. Semua catatan yang ada dalam rekam medis dibandingkan dengan
standar yang telah ditetapkan. Tergantung dari masalah yang ingin dinilai, reviu rekam
medis dapat dibedakan atas beberapa macam. Misalnya drug usage review jika yang
dinilai adalah penggunaan obat, dan atau surgical case review jika yang dinilai adalah
pelayanan pembedahan. Review merupakan penilaian terhadap pelayanan yang
diberikan, penggunaan sumber daya, laporan kejadian/kecelakaan seperti yang
direfleksikan pada catatan-catatan. Penilaian dilakukan baik terhadap dokumennya
sendiri apakah informasi memadai maupun terhadap kewajaran dan kecukupan dari
pelayanan yang diberikan.
2. Review jaringan (tissue review)
Disini penampilan pelayanan kesehatan (khusus untuk bedah) dinilai dari
jaringan pembedahan yang dilakukan. Apabila gambaran patologi anatomi dari
jaringan yang diangkat telah sesuai dengan diagnosis yang ditegakkan, maka berarti
pelayanan bedah tersebut adalah pelayanan kesehatan yang bermutu.
3. Survai klien (client survey)
Disini penampilan pelayanan kesehatan dinilai dari pandangan pemakai jasa
pelayanan kesehatan. Survai klien ini dapat dilakukan.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Adapun yang dapat disimpulkan pembahasan makalah ini yaitu :

Program menjaga mutu prospektif/prospective quality assurance adalah program


menjaga mutu yang diselenggarakan sebelum pelayanan kesehatan dilaksanakan, perhatian
utama pada standar masukan dan lingkungan.
Program menjaga mutu konkuren adalah program menjaga mutu yang dilaksanakan
bersamaan dengan penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Pada bentuk ini, perhatian utama
lebih ditujukan pada unsure proses, yakni menilai tindakan medis dan nonmedis yang
dilakukan. Apabila kedua tindakan tersebut tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan,
maka berarti pelayanan kesehatan yang diselenggarakan kurang bermutu.
Program menjaga mutu retrospektif adalah program menjaga mutu yang dilaksanakan
setelah pelayanan kesehatan diselenggarakan. Pada bentuk ini, perhatian utama lebih
ditujukan pada unsur keluaran, yakni menilai pemanpilan peleyanan kesehatan. Jika
penampilan tersebut berada dibawah standar yang telah ditetapkan, maka berarti pelayanan
kesehtan yang diselenggarakan kurang bermutu.
3.2 Saran
Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang optimal, banyak syarat yang harus
dipenuhi, syarat yang dimaksud mencakup delapan hal pokok yakni: tersedia (available),
wajar (appropriate), berkesinambungan (continue), dapat diterima (acceptable), dapat dicapai
(accesible), dapat dijangkau (affordable), efisien (efficient) serta bermutu (quality).

DAFTAR PUSTAKA
http://digilib.ump.ac.id/files/disk1/1/jhptump-a-wilisdwipa-9-1-konsepd-n.pdf diunduh pada
tanggal 05 Oktober 2014 pukul 22.00
Nurmawati, 2010. Mutu Pelayanan Kebidanan. Jakarta: CV. Trans Info Media