Anda di halaman 1dari 2

Panas disekitar luka (Skenario 5)

Pada scenario 5, terdapat kalimat Sebelum muncul sariawan tersebut pasien


mengaku terdapat rasa panas di sekitar kulit tempat munculnya luka.
Berdasarkan keseluruhan konten scenario mengarah pada Penyakit Menular Seksual
(PMS) atau Infeksi Menular Seksual (IMS). Pada beberapa literature tentang PMS disebutkan
bahwa sensasi panas merupakan keluhan yang bersifat subjektif dan dimasukkan dalam
kategori gejala (simptom) bukan tanda (sign). Hal ini diperjelas dalam beberapa sumber,
seperti dalam literature IMS karya Adam (2012) disebutkan bahwa keluhan subjektif atau
symptom pada penderita gonore dapat berupa disuria, gatal, panas di bagian distal uretra
sekitar orifisium uretra eksternum, pollakisuria serta nyeri saat ereksi. Adam (2012) juga
menyebutkan bahwa keluhan penderita trikomoniasis dan herper genitalis juga dapat berupa
gatal, panas sekitar OUE , dan nyeri saat berkemih. Selain itu, Richard Hutapea (2008) juga
menyebutkan bahwa IMS seperti gonore memiliki gejala klinis subjektif berupa rasa gatal,
panas disekitar OUE, dan nyeri kencing.
Jadi, rasa atau sensasi panas pada scenario merupakan keluhan subjektif yang
dirasakan pasien. Secara singkat prosesnya mengikuti prinsip penjalaran nyeri, dimana salah
satu pencetus nyeri adalah adanya agen infeksi. Agen infeksi seperti bakteri atau kuman
memiliki faktor virulensi yang dapat menunjang sifat patologisnya, seperti pili, fimbria,
adhesin digunakan untuk attachment pada dinding urogenital yang kemudian diikuti dengan
pelepasan toksin-toksin yang dapat merusak epitel dan memicu reaksi inflamasi. Hal ini akan
menyebabkan kerusakan jaringan pada area inflamasi. Kerusakan jaringan merupakan salah
satu sinyal yang dapat mengaktifkan reseptor nyeri (nosiseptif). Karena sinyal ini merupakan
tipe kimiawi, maka jaras yang dilalui umumnya adalah jaras nyeri tipe lambat. Jaras tipe
lambat ini diperantarai oleh serabut nyeri tipe C melalui traktus paleospinotalamikus dengan
substansi P menuju medulla spinalis untuk diproses sehingga dapat member respon pada
organ afektor. Karena sinyal atau impuls ini bersifat lebih lambat maka nyeri yang
ditimbulkan dapat disertai atau didominasi sensasi panas, pegal, dan lokalisasinya samar.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sensasi panas dapat terjadi akibat penjalaran nyeri
tumpul oleh stimuli kimiawi dari agen infeksi. (Guyton + Kenneth dkk 1990)

Sumber :
1. Guyton
2. Kenneth dkk 1990. Clinical Methods, The History, Physical, and
Laboratory Examinations[online]. Third ed. Available from :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK201/ [accessed 30 sept
2013]
3. Adam, AM. 2012. Bahan Ajar Infeksi Menular Seksual pada sistem urogenital
[ Online ]. Universitas Hasanudin. Available from :
http://www.unhas.ac.id/lkpp/kedok/dr.Ada.-tdak.pdf [accessed 30 sept 2013]