Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN TUTORIAL

BLOK ILMU ORAL DIAGNOSIS


SKENARIO 1 : PERIODONSIA

Oleh :
Ketua

: Wahyu Hidayat

(Nim:131610101002)

Scriber Papan

: Karina Saraswati I

(Nim:131610101006)

Scriber Meja

: Achmad Hendrawan S

(Nim:131610101001)

Anggota

: Catur Putri Kinasih

(NIM 131610101005)

Alfin Tiara Shafira

(NIM 131610101007)

Ni Putu Yogi Wiranggi

(NIM 131610101008)

Yasa Nuuruha

(NIM 131610101009)

Eni Ilmiatin Husniah

(NIM 131610101010)

Tita Sistyaningrum

(NIM 131610101011)

Dewi Muflikhah

(NIM 131610101012)

Meirisa Yunastia

(NIM 131610101089)

Akhmad Yusuf S.

(NIM 131610101092)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas segala
bimbingan dan petunjukNya, serta berkat rahmat, nikmat, dan karuniaNya
sehingga kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan laporan tutorial oral
diagnosis periodonsia. Laporan tutorial yang kami buat ini sebagai salah satu
sarana untuk lebih mendalami materi tentang diagnosa pada bidang periodonsia.
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. drg.Peni Pujiastuti, M.Kes yang telah memberi kami kesempatan untuk
lebih mendalami materi dengan pembuatan laporan tutorial ini.
2. Teman-teman Kelompok Tutorial IV yang telah berperan aktif dalam
pembuatan laporan tutorial ini.
Kami menyadari bahwa laporan tutorial ini mengandung banyak
kekurangan, baik dari segi isi maupun sistematika. Oleh karena itu, kami mohon
maaf jika ada kesalahan karena kami masih dalam proses pembelajaran. Kami
juga berharap laporan tutorial yang telah kami buat ini dapat bermanfaat untuk
pendalaman pada blok oral diagnosa ini.

Jember, 27 Maret 2015

PenulisDAFTAR
ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Permasalahan
I.2. Skenario
I.3. Permasalahan
I.4. Mapping Permasalahan
I.5. Learning Objective
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Syarat,sifat, dan komposisi resin akrilik
II.2. Jenis-jenis resin akrilik
II.3. Manipulasi resin akrilik
II.4. Polimerasi resin akrilik
II.5. Reparasi resin akrilik
BAB III PEMBAHASAN
BAB IV KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Permasalahan


Periodonsia merupakan cabang dari Ilmu Kedokteran Gigi
yang mempelajari tentang berbagai kelainan atau penyakit yang ada di
jaringan periodontal dan sekitarnya.
Pada blok oral diagnosa dan rencana perawatan, kami akan
mempelajari cara pemeriksaan pasien secara inta oral dan ekstra oral untuk
menegakkan diagnosa serta rencana perawatan. Penegakkan diagnosa
berdasarkan analisis hasil pemeriksaan riwayat penyakit, temuan
laboratoris, radiografis dan temuan alat bantu yang lain, selain meneptakan
rencana

perawatan

kami

juga

menetapkan

prognosis.

Pada tutorial minggu ke- pertama ini, kami mendapat skenario


tentang ilmu periodonsia, untuk hasil diskusi kelompok kami selanjutnya
akan kami bahas di bab pembahasan.
I.2. Skenario
-

Ani umur 30 tahun datang kedokter gigi dengan keluhan gigi


depan bawah terasa kemeng dan giginya kotor. Dari anamnesa
keluhan ini dirasakan sejak 1 bulan yang lalu dan tidak pernah
diminumi obat. Penderita mengeluh jika dibuat menyikat gigi
gusinya berdarah. Penderita belum pernah merawatkan giginya
kedokter gigin dan menyikat sehari dua kali pagi dan sore.
Penderita pernah opname karena Hepatitis A. Pada pemeriksaan
ekstra oral tidak ada kelainan dan pemeriksaan intraoral
didapatkan OH yang buruk, pada gigi 42,41,31 gingiva terdapat
kemerahan. BOP (+), halus mengkilat, kenyal, posisi, margin
gingiva lebih keapikal 2mm, PD 5 mm dan kegoyangan 02.
Pemeriksaan radiologi didapatkan resobsi tulang alveolar pola

horizontal, pelebaran ruang ligament periodontal, lamina dura


terputus dan sisa tulang alveolar panjang akar. Dokter akan
menentukan diagnosa dan perawatan yang tepat
I.3. Permasalahan
I.3.1. Bagaimana mekanisme terjadinya rasa kemeng pada gigi pasien?
I.3.2. Mengapa OH pasien buruk padahal sudah menyikat gigi 2 kali sehari?
I.3.3. Apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya tanda dan gejala klinis pada
pasien diskenario?
I.3.4. Mengapa kemerahan gingiva hanya pada gigi 42,41,31?
I.3.5. Apakah ada hubungan gejala klinis pasien dengan hepatitis A?
I.3.6. Bagaimana prosedur anamnesa dari dokter gigi ke pasien?
I.3.7. Bagaimana pemeriksaan yang meliputi Intraoral dan ekstraoal? Adakah
Pemerksaan penunjang lainya?
I.3.8. Apa diagnosa dan rencana perawatan?

I.4. Mapping Permasalahan

I.5. Learning Objevtive


1. Mampu memahami dan menjelaskan prosedur pemeriksaan
jaringan periodontal meliputi subyektif dan obyektif
2. Mampu memahami dan menjelaskan cara menentukan diagnosa
periodontal
3. Mampu memahami
periodontal
4. Mampu memahami

dan
dan

menjelaskan
menjelaskan

periodontal

BAB II

penentuan

prognosis

rencana

perawatan

TINJAUAN PUSTAKA
Resin adalah campuran asam-asam karboksilat, minyak essensial, dan
terpenting, yang terdapat sebagai eksudat pada berbagai pohon atau tanaman
semak atau yang diproduksi secara sintetis. Resin merupakan benda padat amorf
atau semi padat yang sangat mudah terbakar dan larut dalam air, sedangkan
beberapa jenis larut dalam etanol dan yang lainnya larut dalam karbon
tetraklorida, eter, dan minyak yang mudah menguap. Sebagian besar lunak dan
lengket, tetapi mengeras jika terpajan pada suhu dingin. (Dorland : 2002)
II.1. Syarat, sifat dan komposisi resin akrilik
A. Syarat
Semua dental material harus memenuhi syarat-syarat fundamental sebelum dapat
digunakan secara klinis pada pasien, tidak terkecuali resin akrilik. Berikut adalah
syarat-syarat standar dental material:
1. Biologis : tidak memiliki rasa, tidak berbau, tidak toksik, dan tidak
mengiritasi jaringan rongga mulut, tidak boleh larut dalam saliva atau cairan
lain yang dimasukkan ke dalam mulut, dan tidak dapat ditembus cairan mulut.
2. Fisik : memiliki kekuatan dan kepegasan serta tahan terhadap tekanan gigit
atau pengunyahan, tekanan benturan, serta keausan berlebihan yang dapat
terjadi di dalam rongga mulut. Resin akrilik jugalah harus stabil dimensinya
dibawah semua keadaan, termasuk perubahan termal serta variasi-variasi
dalam beban.
3. Estetik : menunjukkan transluensi atau transparansi yang cukup sehingga
cocok dengan penampilan jaringan mulut yang digantikan, harus dapat
diwarnai atau dipigmentasi, dan harus tidak berubah warna atau penampilan
setelah pembentukan.
4. Karakteristik penanganan : tidak boleh menghasilkan uap atu debu toksik
selama penanganan dan manipulasi, mudah diaduk, dimasukkan, dibentuk,

dan diproses, mudah dipoles, dan pada keadaan patah yang tidak disengaja,
resin harus dapat diperbaiki dengan mudah dan efisien.
5. Ekonomis : biaya resin dan penanganannya haruslah rendah, dan proses
tersebut tidak memerlukan peralatan kompleks serta mahal (Phillips, 1996)
B. Sifat
1.

Pengerutan polimerisasi
Kepadatan massa bahan akan berubah dari 0,94 menjadi 1,19g/cm3 ketika
monomer

metilmetakrilat

terpolimerisasi

untuk

membentuk

poli(metilmetakrilat). Perubahan menghasilkan pengerutan volumetrik


sebesar 21%. Akibatnya, pengerutan volumetrik yang ditunjukkan oleh
massa terpolimerisasi sekitar 6-7% sesuai dengan nilai yang diamati dalam
penelitian laboratorium dan klinis.
2.

Perubahan Dimensi
Proses akrilik yang baik akan menghasilkan stabilitas dimensi yang baik.
Teknik injection moulding menunjukkan stabilitas dimensi yang baik
dibandingkan dengan teknik compression moulding. Garfunkel dan
Anderson

dkk

(1988)

menyatakan

bahwa

dari

hasil

penelitian

menunjukkan perubahan dimensi pada injection moulding lebih rendah


dibandingkan dengan compression moulding
3. Konduktivitas Termal
Konduktivitas termal adalah pengukuran termofisika mengenai seberapa
baik panas dihantarkan melalui suatu bahan. Basis resin memiliki
konduktivitas termal yang rendah yaitu 0,0006 (C/cm).1
4. Solubilitas
Meskipun basis gigi tiruan resin larut dalam berbagai pelarut, basis resin
umumnya tidak larut dalam cairan yang terdapat dalam rongga mulut.
5. Penyerapan Air
Bahan resin akrilik mempunyai sifat yaitu menyerap air secara perlahanlahan dalam jangka waktu tertentu.7 Resin akrilik menyerap air relatif
sedikit ketika ditempatkan pada lingkungan basah. Namun, air yang

terserap ini menimbulkan efek yang nyata pada sifat mekanik, fisik dan
dimensi polimer. Nilai penyerapan air sebesar 0,69 mg/cm2. Umumnya
mekanisme penyerapan air yang terjadi adalah difusi. Difusi adalah
berpindahnya suatu substansi melalui rongga yang menyebabkan ekspansi
pada resin atau melalui substansi yang dapat mempengaruhi kekuatan
rantai polimer. Umumnya, basis gigi tiruan memerlukan periode 17 hari
untuk menjadi jenuh dengan air.
6. Porositas
Adanya gelembung permukaan dan di bawah permukaan dapat
mempengaruhi sifat fisik, estetika dan kebersihan basis gigi tiruan.
Porositas cenderung terjadi pada bagian basis gigi tiruan yang lebih tebal.
Porositas disebabkan oleh penguapan monomer yang tidak bereaksi dan
berat molekul primer yang rendah, disertai temperatur resin mencapai atau
melebihi

titik

didih

bahan

tersebut. Timbulnya

porositas

dapat

diminimalkan dengan adonan resin akrilik yang homogen, perbandingan


polimer dan monomer yang tepat, proses pengadukan yang terkontrol
dengan baik serta waktu pengisian bahan ke mould yang tepat.
7. Stabilitas Warna
Resin akrilik polimerisasi panas menunjukkan stabilitas warna yang baik.
Yu-lin Lai, dkk (2003) mempelajari stabilitas warna dan ketahanan
terhadap stain dari nilon, silikon serta dua jenis resin akrilik dan
menemukan bahwa resin akrilik menunjukkan nilai diskolorisasi yang
paling rendah setelah direndam dalam larutan kopi.
C. Komposisi
Resin akrilik pada dasarnya memiliki dua komposisi dasar yaitu bubuk polimer
dan cairan monomer.

Polimer
Secara umum polimer resin akrilik terdiri dari poli (metil metakrilat), initiator
(0.2-0.5% benzoil peroksida), pigmen (merkuri sulfat, cadmium selenit, ferric

oxide), plasticizer (dibutil ptalat), opacifiers (zinc atau titanium oxide), bahan
tambahan berupa serat sintetis organik (serat nilon atau serat akrilik) dan
anorganik (serat kaca, zirkonium silikat). Untuk resin akrilik jenis self cured ,
ada bahan tambahan aktivator berupa amin tersier, sedangkan pada light cured
terdapat aktivator berupa camphoroquinone.

Monomer
Monomer resin akrilik terdiri dari metil metakrilat, stabilizer (0.003 0.1%
metil ether hydroquinone untuk mencegah terjadinya proses polimerisasi
selama penyimpanan), plasticizer (dibutil pthalat), bahan untuk memacu ikatan
silang (cross-linking agent) yaitu etilen glikol dimetakrilat (EGDMA). Crosslink agent ini berpengaruh pada sifat fisik polimer dimana polimer yang
memiliki ikatan silang bersifat lebih keras dan tahan terhadap pelarut
(Chanaka, 2010)

II.2. Jenis-jenis resin akrilik


1. Resin akrilik teraktivasi panas
resin akrilik yang memerlukan energi panas untuk polimerisasi bahanbahan tersebut dengan menggunakan perendaman air di dalam
waterbath, jenis resin akrilik panas lain menggunakan proses
polimerisasi dengan gelombang mikro. Basis protesa umumnya
mengandung benzoil peroksida. Bila dipanaskan diatas 60 0C, molekul
molekul benzoil peroksida terpisah untuk menghasilkan radikal
bebas. Masing masing radikal bebas dengan cepat bereaksi dengan
molekul monomer yang ada untuk merangsang polimerisasi rantai
bertumbuh. Karena produk reaksi juga memiliki elektron tidak
berpasangan, elektron tersebut tetap aktif secara kimia. Akibatnya,
molekul monomer tambahan menjadi terikat dengan rantai polimer
individual.
2. Cold cure acrylic resin adalah resin akrilik yang diaktifkan suatu bahan
kimia lain yang ditambahkan pada monomer yaitu tertiary amine
misalnya dumethyl p Toluidine (CH3C6H4N(CH3). Bahan ini

dikenal sebagai aktivator. Setelah polimer dicampur dengan polimer,


aktivator akan bereaksi dengan inisiator membentuk radikal bebas dan
polimerisasi mulai terjadi pada termperatur kamar
3. Visible light cured acrylic resin adalah resin akrilik yang diaktifkan
dengan sinar yang terlihat oleh mata.
II.3. Manipulasi resin akrilik
Manipulasi adalah suatu bentuk tindakan atau proses rekayasa terhadap sesuatu
dengan menambah ataupun mengurangi variabel yang berkaitan guna mencapai
sifat fisik maupun mekanik yang dikehendaki. Sebelum diaplikasikan pada pasien,
resin akrilik harus diolah dan dimanipulasi sedemikian rupa sehingga memenuhi
kriteria pengaplikasian klinis yang baik. Secara umum, ada beberapa hal yang
harus diperhatikan dalam memanipulasi resin akrilik, antara lain:
1. Perbandingan monomer dan polimer
Perbandingan yang umum digunakan adalah 3,5 : 1 satuan volume
atau 2,5 : 1 satuan berat. Bila monomer terlalu sedikit maka tidak semua
polimer sanggup dibasahi oleh monomer akibatnya akrilik yang telah
selesai berpolimerisasi akan bergranul. Sebaliknya, monomer juga tidak
boleh terlalu banyak karena dapat menyebabkan terjadinya kontraksi pada
adonan resin akrilik.
2. Pencampuran
Polimer dan monomer dengan perbandingan yang benar dicampurkan
dalam tempat yang tertutup lalu dibiarkan beberapa menit sampai
mencapai fase dough.( SK Khindria ,2009) . Pada saat pencampuran ada
empat tahapan yang terjadi, yaitu:
1. Sandy stage adalah terbentuknya campuran yang menyerupai pasir
basah.
2. Sticky stage adalah saat bahan akan merekat ketika bubuk mulai larut
dalam cairan dan berserat ketika ditarik.

3. Dough stage adalah saat konsistensi adonan mudah diangkat dan tidak
melekat lagi, dimana tahap ini merupakan waktu yang tepat untuk
memasukkan adonan ke dalam mould dan kebanyakan dicapai dalam
waktu 10 menit.
4. Rubber hard stage adalah tahap seperti karet dan tidak dapat dibentuk
dengan kompresi konvensional.

5. Pengisian
Tahap ini disebut juga dengan packing, yaitu tahap penuangan
resin kedalam mould. Pada proses manipulasi yang perlu diperhatikan
pada tahap pengisian ini adalah ketepatan bahan mengisi rongga
mould. dengan pengisian pada rongga mould secara bertahap. Pada
tahap selanjutnya setelah dilakukan pengisian pada rongga mould
adalah dilakukannya press dengan pada kuvet. Kekuatan press yang
diberikan pada kuvet sebesar 1000 psi selama 5 menit kemudian
sebesar 2200 psi selamat 5 menit juga. Selama proses press ini
biasanya ditemukan flash, yaitu adanya kelebihan bahan. Flash ini
harus dibersihkan dan dipisahakan dengan bagian resin yang mengisi
mould. Setelah dilakukan ini tahap berikutnya adalah dilakukannya
curing.
6. Curring.
Proses curring adalah proses terjadinya pengerasan, dimana setiap
jenis resin akrilik memiliki spesialisasi tersendiri.

Heat cured acrylic resin : yaitu terjadinya curring yang diaktivasi oleh
adanya panas.

Self cured acrylic resin : curring cukup dapat dilakukan pada suhu
ruang karena adanya aktivator amin tersier.

Light cured resin : proses curring dicapai dengan dipaparkannya


cahaya tampak.


II.4. Polimerisasi resin akrilik

Induksi
Pada proses in harus ada radikal bebas. Radikal bebas harus dihasilkan

dengan mengaktifkan molekul monomer dengan sinar ultraviolet ,sinar biasa,


panas atau pengalihan energi dari komposisi lain yang bertindak sebagai radikal
bebas

Penyebaran
Reaksi rantai harus berlanjut dengan terbentuknya panas, sampai semua

monomer telah diubah menjadi polimer.

Pengakhiran
Reaksi rantai dapat diakhiri baik dengan penggabungan langsung atau

pertukaran atom hidrogen dari satu rantai yang tumbuh ke yang lain.

Pemindahan rantai
Keadaan aktif diubah dari suatu radikal aktif menjadi suatu molekul tidak

aktif, dan tercipta molekul baru untuk pertumbuhan selanjutnya . Jadi, dihasilkan
suatu nukleus baru untuk pertumbuhan

II.5. Reparasi resin akrilik


a. Resin Perbaikan
Sesuai dengan sifatnya, resin akrilik dapat mengalami fraktur.
Resin perbaikan dapat diaktivasi oleh sinar, panas, maupun kimia.
Untuk memperbaiki protesa yang patah secara akurat, komponenkomponen harus diatur kembali dan direkatkan bersama
menggunakan malam perekat atau modeling plastic. Bila keadaan
ini sudah diperoleh, dibuat model perbaikan dengan stone gigi.
Protesa dipindahkan dari model dan medium perekat dibuang.
Kemudian permukaan patah diasah untuk memberikan ruangan
yang cukup bagi bahan perbaikan. Model dilapisi dengan medium
pemisah untuk mencegah perlekatan resin perbaikan, dan bagian

basis protesa dikembalikan serta dicekatkan pada model.


Persyaratan pengujian untuk resin yang diaktivasi secara kimia
untuk perbaikan basis protesa dinyatakan pada Spesifikasi ADA
No.13 (Anusavice, 2004).

b. Resin Relining (Pelapik) Basis Protesa


Karena kontur jaringan lunak berubah selama protesa berfungsi,
seringkali permukaan protesa intraoral yang menghadap jaringan
perlu diubah, untuk menjamin kecekatan dan fungsi. Pada beberapa
keadaan, perubahan ini dapat dilakukan dengan prosedur
pengasuhan selektif. Sementara pada keadaan lain, permukaan
yang menghadap ke jaringan harus digantikan dengan melapik
(relining) atau ,mengganti (rebasing) protesa yang lama
(Anusavuce, 2004).
Bila protesa akan direlining, bahan cetak dikeluarkan dari protesa.
Permukaan yang menghadap pada jaringan dibersihkan untuk
meningkatkan perlekatan antara resin yang ada dengan bahan
reniling. Setelah tahap ini, resin yang tepat kemudian dimasukan
dan dibentuk menggunakan teknik milding-tekanan. Untuk
relining, temperature polomerisasi yang rendah lebih disukai guna
meminimalkan distorsi dari basis protesa yang ada. Kemudian,
dipilih resin yang diaktivasi secara kimia. Bahan yang dipilih
diaduk menurut anjuran pabrik dan ditempatkan dalam mold,
ditekan dan dibiarkan mengalami polimerisasi. Protesa dikeluarkan
dari kuvet, dirapikan, dan dipoles. (Anusavice, 2004).

c. Rebasing basis protesa


Tahap-tahap yang diperlukan dalam rrebasig serupa dengan
relining. Cetakan jaringan lunak yang akurat diperoleh dengan
menggunakan protesa yang ada sebagai sendok cetak
perseorangan. Kemudianmodel stne dibuat dari cetakan. Model dan
cetakan disusun dalam reline jig, yang dirancang untuk
mempertahankan relasi vertical dan horizontal yang benar antara
model stone dan permukaan gigi tiruan. Hasil susunan tersebut
memberikan petunjuk tentang permukaan oklusl gigi tiruan.
Setelah petunjuk tersebut diperoleh, protesa dilepas dan elemen
gigi tiruan dipisahkan dari basis yang lama (Anusavice, 2004).

BAB III
PEMBAHASAN

II.1.Sifat, syarat dan komposisi resin akrilik


Syarat
Persyaratan bahan basis gigitiruan yang ideal untuk pembuatan basis gigitiruan
adalah:
1. Tidak toksis dan tidak mengiritasi
2. Tidak terpengaruh oleh cairan mulut: tidak larut dan tidak mengabsorbsi
3. Mempunyai sifat-sifat yang memadai, antara lain:
a. Modulus elastisitas tinggi
b. Proportional limit tinggi: tidak mudah mengalami perubahan secara
permanen jika menerima tekanan.
c. Kekuatan transversal tinggi
d. Kekuatan impak tinggi: basis gigitiruan tidak mudah pecah apabila terjatuh
e. Kekuatan fatique tinggi
f. Abration resistance dan kekerasan yang baik
g. Konduktivitas termal yang baik
h. Density rendah: untuk membantu retensi gigitiruan pada rahang atas
4. Estetis dan stabilitas warna cukup baik
5. Hal-hal lain yang menjadi pertimbangan antara lain:
a. Radiopak
b. Mudah dimanipulasi dan direparasi
c. Tidak mengalami perubahan dimensi
d. Mudah dibersihkan
Sampai saat ini belum ada satu pun bahan basis gigitiruan yang memenuhi
semua persyaratan diatas.

Komposisi
Komposisi resin akrilik secara umum adalah sama, yaitu terdiri dari bubuk
polimer dan cairan monomer. Namun pada resin jenis tertentu, memiliki beberapa
bahan tambahan. Berikut adalah komposisi resin akrilik:
1. Polimer:
a. Poli(metil metakrilat)
Bubuk polimer yaitu poli( metil metakrilat ) adalah resin transparan yang dapat
menyalurkan cahaya dalam range ultraviolet hingga yang mempunyai wavelength
250nm. Ia mempunyai kekerasan dari 18 hingga 20 Knoop Number. Kekuatan
tensilnya dianggarkan dalam 60 Mpa, ketumpatannya adalah 1.19 g/cm2 dan
modulus elasticity dianggarkan 2.4 Gpa (2400 Mpa).
Polimer ini sangat stabil. Ia tidak mengalami diskolorisasi dalam cahaya
ultraviolet, secara kimiawi stabil dalam panas dan melembut pada 125C dan
dapat dibentuk seperti bahan termoplastik. Depolimerisasi terjadi pada suhu di
antara

125C

dan

200C.

Sekitar

suhu

450C,

90%

polimer

telah

terdepolimerisasi membentuk monomer.


Poli (metil metakrilat) mempunyai kecenderungan untuk meresap air melalui
proses imbibisi. Ini karena, struktur non-kristalinnya mempunyai tenaga internal
yang tinggi. Jadi, diffusi molekul dapat terjadi dengan mudah karena tidak
memerlukan tenaga aktivasi yang banyak. Ia dapat larut dalam beberapa pelarut
organik seperti kloroform dan aseton.

b. Initiator
Initiator merupakan suatu bahan yang

berfungsi untuk mengaktifkan

reaksi polimerisasi resin akrilik. Bahan initiator yang biasa ditemukan adalah
berupa 0.2 - 0.5% benzoil peroksida. Substansi ini akan mengalami pemutusan
ikatan oleh karena adanya pemicu seperti panas pada heat-cured, kimia pada selfcured, dan cahaya pada light-cured. Pemutusan ikatan satu benzoil peroksida akan

menghasilkan dua buah radikal bebas. Radikal bebas inilah yang nantinya akan
mengikat monomer-monomer sehingga terjadilah reaksi polimerisasi.
c. Pigmen
Zat pigmen pada resin akrilik akan membuat resin akrilik dapat memiliki
bermacam warna, yaitu transparan yang menyerupai warna gigi, atau pink yang
menyerupai gingiva. Beberapa sedian bahwa mengandung serat-serat merah
sehingga menyerupai pembuluh darah. Zat pigmen dapat berupa merkuri sulfit,
cadmium sulfit, cadmium selenit, dan ferric oxide.
d. Plasticizer
Plasticizer adalah zat additif untuk menambah kefleksibilitasan resin
akrilik. Zat ini dapat berupa dibutil pthalat.
e. Opacifiers
Tujuan bagi penambahan opacifiers adalah untuk memastikan resin akrilik
terlihat di dalam sinar-X apabila tertelan. Opacifiers yang biasa digunakan adalah
zinc atau titanium oxide.
f. Bahan tambahan
Bahan yang umumnya ditambahkan pada resin akrilik adalah serat
sintetis/organik (serat nilon atau serat akrilik) dan partikel inorganik, seperti serat
kaca, zirkonium silikat. Adanya penambahan bahan-bahan ini biasanya dilakukan
untuk merubah sifat fisik dan menkanik, seperti penambahan serat kaca akan
menyebabkan densitas resin akan akrilik semakin meningkat.
2. Monomer
a. Metil metakrilat
Cairan monomer adalah metil metakrilat, yaitu suatu cairan bening pada
suhu ruangan yang mempunyai sifat fisikal berikut:

Berat molekul : 100 u

Suhu lebur : - 48C

Suhu didih : 100.8C

Ketumpatan : 0.945 g/mL pada 20C

Tenaga polimerisasi : 12.9 kcal/mol


Metil metakrilat menunjukkan tekanan uap yang tinggi dan merupakan
pelarut organik yang baik.
b. Stabilizer
Terdapat sekitar 0.003 0.1% metil ether hydroquinone untuk mencegah
terjadinya proses polimerisasi selama penyimpanan.
c. Plasticizer: dibutil pthalat
d. Bahan untuk memacu ikatan silang (cross-linking agent)
Cross-linked agent dapat berupa etilen glikol dimetakrilat (EGDMA).
Bahan ini berpengaruh pada sifat fisik polimer dimana polimer yang memiliki
ikatan silang bersifat lebih keras dan tahan terhadap pelarut.
Sifat
Beberapa sifat-sifat umum resin akrilik adalah:
a. Berat molekul
Resin akrilik polimerisasi panas memiliki berat molekul polimer yang
tinggi yaitu 500.000 1.000.000 dan berat molekul monomernya yaitu 100. Berat
molekul polimer ini akan bertambah hingga mencapai angka 1.200.000 setelah
berpolimerisasi dengan benar. Rantai polimer dihubungkan antara satu dengan
lainnya oleh gaya Van der Waals dan ikatan antar rantai molekul.
Bahan yang memiliki berat molekul tinggi mempunyai ikatan rantai
molekul yang lebih banyak dan mempunyai kekakuan yang besar dibandingkan
polimer yang memiliki berat molekul yang lebih rendah.
b. Monomer sisa
Monomer sisa berpengaruh pada berat molekul rata-rata. Polimerisasi pada
suhu yang terlalu rendah dan dalam waktu singkat menghasilkan monomer sisa
lebih tinggi. Monomer sisa yang tinggi berpotensi untuk menyebabkan iritasi

jaringan mulut, inflamasi dan alergi, selain itu juga dapat mempengaruhi sifat fisik
resin akrilik yang dihasilkan karena monomer sisa akan bertindak sebagai
plasticizer yang menyebabkan resin akrilik menjadi fleksibel dan kekuatannya
menurun. Pada akrilik yang telah berpolimerisasi secara benar, masih terdapat
monomer sisa sebesar 0.2 sampai 0.5%. Proses kuring yang kuat pada temperatur
tinggi sangat direkomendasikan untuk mengurangi ketidaknyamanan pasien yang
diketahui memiliki riwayat alergi terhadap MMA (Metil Metakrilat).
c. Absorbsi air
Resin akrilik polimerisasi panas relatif menyerap air lebih sedikit pada
lingkungan yang basah. Nilai absorbsi air oleh resin akrilik yaitu 0.69% mg/cm2.
Absorbsi air oleh resin akrilik terjadi akibat proses difusi, dimana molekul air
dapat diabsorbsi pada permukaan polimer yang padat dan beberapa lagi dapat
menempati posisi di antara rantai polimer. Hal inilah yang menyebabkan rantai
polimer mengalami ekspansi. Setiap kenaikan berat akrilik sebesar 1% yang
disebabkan oleh absorbsi air menyebabkan terjadinya ekspansi linear sebesar
0.23%. Sebaliknya pengeringan bahan ini akan disertai oleh timbulnya kontraksi.
e. Retak
Pada permukaan resin akrilik dapat terjadi retak. Hal ini diduga karena
adanya tekanan tarik (tensile stress) yang menyebabkan terpisahnya molekulmolekul polimer. Keretakan seperti ini dapat terjadi oleh karena stress mekanik,
stress akibat perbedaan ekspansi termis dan kerja bahan pelarut. Adanya crazing
(retak kecil) dapat memperlemah gigi tiruan.
f. Ketepatan dimensional
Beberapa hal yang dapat mempengaruhi ketepatan dimensional resin akrilik
adalah ekspansi mould sewaktu pengisian resin akrilik, ekspansi termal resin
akrilik, kontraksi sewaktu polimerisasi, kontraksi termis sewaktu pendinginan dan
hilangnya stress yang terjadi sewaktu pemolesan basis gigi tiruan resin akrilik.

g. Kestabilan dimensional
Kestabilan dimensional berhubungan dengan absorbsi air oleh resin
akrilik. Absorbsi air dapat menyebabkan ekspansi pada resin akrilik. Pada resin
akrilik dapat terjadi hilangnya internal stress selama pemakaian gigi tiruan.
Pengaruh ini sangat kecil dan secara klinis tidak bermakna.
h. Resisten terhadap asam, basa, dan pelarut organik
Resistensi resin akrilik terhadap larutan yang mengandung asam
atau basa lemah adalah baik. Penggunaan alkohol dapat menyebabkan
retaknya protesa. Ethanol juga berfungsi sebagai plasticizer dan dapat
mengurangi temperatur transisi kaca. Oleh karena itu, larutan yang
mengandung alkohol sebaiknya tidak digunakan untuk membersihkan
protesa.

II.2. Jenis-jenis resin akrilik


Resin merupakan suatu dental material yang telah digunakan secara luas.
Secara umum, resin ada yang alami (berasal dari tumbuhan atau serangga tertentu)
dan sintetik (dari senyawa kimia yang strukturnya mengacu pada struktur resin
alami). Resin akrilik adalah salah satu contoh dari resin sintetik. Selain itu, resin
juga dapat diklasifikasikan berdasarkan sifat termalnya, yaitu termoplastik dan
termosetting. Resin termoplastik dalah suatu resin yang akan melunak apabila
diberi suhu melebihi suhu transisi kaca (Tg)-nya, dan kemudian mengeras.
Apabila resin tersebut dipanaskan kembali, maka akan lunak kembali. Contoh
resin termoplastik adalah resin akrilik. Hal tersebutlah yang membedakan resin
termoplastik dengan resin termosetting. Untuk resin termosetting, resin jenis ini
akan mengeras secara permanen apabila dipanaskan melebihi suhu kritisnya.
Sehingga bentuk resin ini akan tetap atau tidak berubah meskipun mengalami
pemanasan ulang.

Sesuai dengan skenario, resin akrilik yang merupakan jenis resin sintetik,
juga memiliki klasifikasi tersendiri berdasarkan cara polimerisasinya, yaitu: heatcured, self-cured, dan light-cured.

Heat cured acrylic resin : yaitu terjadinya curring yang diaktivasi oleh adanya
panas.

Self cured acrylic resin : curring cukup dapat dilakukan pada suhu ruang
karena adanya aktivator amin tersier.

Light cured resin : proses curring dicapai dengan dipaparkannya cahaya


tampak
Setiap jenis resin akrilik tersebut, memiliki kekurangan dan kelebihan

masing-masing.
Jenis Resin
Heat Curing

Aktivator
Energi termal yang

Kelebihan
Warna stabil dan

Kekurangan
Terdapat pengerutan

acrylic resin

berasal dari panas

murah

volume akhir,
pembuatannya tidak

Self Curing

Dimethyl

Pengerutan volume

praktis
Terdapat sisa-sisa

acrylic resin

paratoluidine atau

akhir lebih kecil,

monomer, kestabilan

amin tersier

praktis, dan relatif

warna rendah, sisa

murah

monomer lebih
banyak, porositas

Light Curing

Sinar tampak dan

Waktu polimerisasi

lebih tinggi.
Bila menggunakan

acylic resin

sinar UV

dapat diatur

sinar UV dapat

Waktu lebih

merusak jaringan.
Membutuhkan

singkat,

peralatan yang lebih

polimerisasi lebih

mahal, masih bersifat

sempurna, proses

menyerap air.

Microwave
Curing acrylic

Gelombang mikro

pembuatannya lebih
bersih, sisa

monomer lebih
sedikit.
Sehingga diharapkan dokter gigi dapat memilih mana resin akrilik terbaik untuk
digunakan.
II.3. Manipulasi resin akrilik
Manipulasi adalah suatu bentuk tindakan atau proses rekayasa terhadap
sesuatu dengan menambah ataupun mengurangi variable yang berkaitan guna
mencapai sifat fisik maupun mekanik yang dikehendaki. Dengan demikian,
apabila manipulasi dilakukan pada resin akrilik memiliki tujuan agar resin akrilik
ini nantinya mampu memenuhi persyaratan sebagai material yang digunakan pada
kedokteran gigi dengan sifat fisik dan mekanik yang sesuai dengan
pengaplikasiannya pada kedokteran gigi.
Manipulasi kedokteran gigi meliputi : menentukkan perbandingan polimer
dan monomer, pencampuran keduanya, pengisian, serat terakhir adalah proses
curring.
1. Perbandingan monomer dan polimer
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa resin akrilik dikemas dalam dua
bentuk yaitu cairan (yang mengandung poli (metil metakrilat)/PMMA yang tidak
terpolimerasi atau dengan kata lain dalam bentuk monomer) dan bubuk ( berupa
PMMA prapolimerasi yang berbentuk butiran-butiran halus. Perbandingan
keduanya sangat penting bila digunakan untuk pengaplikasian di kedokteran gigi,
semisal pembuatan protesa, hal ini dikarenakan konsistensi yang tepat diantara
keduanya mampu menghasilkan sifat fisik dan mekanik yang tepat pula.
Perbandingan yang tidak sesuai antara bubuk dan cairan mampu menyebabkan
pengerutan volumetrik dan pengerutan secara linier. Selain itu keadaaan dimana:
a. Konsentrasi Bubuk > Cairan

Keadaan ini mampu menyebabkan terbentuknya granula-granula pada


adonan. Hal ini dikarenakan bubuk tidak sepenuhnya mampu dibasahi oleh cairan
b. Konsentrasi Cairan > Bubuk
Keadaan ini mampu menyebabkan kontraksi pada adonan resin akrilik,
akibatnya akan terjadi perubahan dimensi yang tampak, serta adanya pengerutan
volumetrik dan linier yang telah dijelaskan sebelumnya.
Akibat yang paling harus diwaspadai dari ketidaktepatan perbandingan ini
adalah mampu menghasilkan monomer sisa. Dimana monomer sisa ini apabila
bereaksi dengan jaringan rongga mulut terutama fibroblas akan menimbulkan
respon iritasi, hal ini sangat dihindari pada tindakan kedokteran gigi karena
menimbulkan ketidaknyamanan atau bahkan kerugian bagi pasien. Disamping itu
monomer sisa juga mampu bertindak sebagai plasticizer yang mampu berakibat
pada menurunnya sifat flexibel dari resin dan menurunkan kekuatannya.
Untuk itu,dalam mencapai campuran antara bubuk dan cairan yang tepat.
Perbandingan antara bubuk dan cairan resin akrilik adalah 3:1 dilihat berdasarkan
volumenya.
2. Pencampuran
Tidakan berikutnya yang berkaitan dengan proses manipulasi setelah
menentukkan perbandingan yang tepat adalah pencampuran antara bubuk
(polimer) dan cairan(monomer).Begitu kedua variable ini dicampur akan
terbentuk beberapa tahap yang terlihat. Pada point ini yang perlu diperhatikan
adalah kemampuan dalam mengenali tahap-tahap tersebut guna menentukan
waktu yang tepat untuk dilakukan pengisian pada mould. Jika tidak, akan
berakibat pada adonan yang terlanjur menjadi keras yang berujung pada
ketidakmampuannya dilakukan pembentukan. Atau bahkan campuran yang masih
pada tahap lunak akibatnya dapat berpengaruh terhadap perubahan dimensi
nantinya, serta timbulanya porositas.

Tahap yang nampak setelah dilakukan pencampuran antara cairan dan


bubuk adalah sebagai berikut:
a. Sandy stage
Tahap ini dicirikan dengan terbentuknya bentukan pasir basah. Ini adalah bentuk
respon mulai berinteraksinya bubuk dan cairan. Pada tahap ini interaksi tingkat
molekuler belum sepenuhnya terjadi atau bahkan belum sama sekali.
b. Sticky stage
Pada tahap ini mulai terjadi interaksi antara bubuk dan cairan. Dimana cairan
mulai larut pada bubuk yang dapat berakibat pada terdispersinya rantai polimer
(pada bubuk) pada monomer (cairan). Sehingga rantai polimer melepaskan jalinan
ikatan yang berpengaruh terhadap adukan yang secara fisual dapat dilihat dengan
adanya bentukan serat begitu adonan tersebut ditarik.
c. Dough Stage
Pada tahap ini adalah kesempurnaan dari sticky stage. Yaitu tahap dimana polimer
dalam jumlah besar telah terlarut sepenuhnya pada monomer. Dengan demikian
adukan yang terbentuk tidak lagi berserat ataupun lengket. Bahkan tidak laki
adanya bentukan rekatan pada spatulan ataupun cawannya, yaitu benar-benar
berbentuk adonan. Pada tahap inilah yang dikatakan tahap paling tepat untuk
dituangkan pada mould.
d. Rubber hard stage
Tahap ini adalah tahap yang telah dikatakan sebelumnya, yaitu ketika adukan
sudah tidak lagi mampu dilakukan pembentukkan dengan teknik kompresi
konvensional . hal ini dikarenakan sepenuhnya monomer bebas telah diuapkan
dan polimer telah seutuhnya masuk lebih jauh di antara monomer, sehingga
adonan nampak seperti karet dan tidak lagi memiliki kemampuan ketika
diregangkan.

3. Pengisian
Tahap ini disebut juga dengan packing, yaitu tahap penuangan resin
kedalam mould. Pada proses manipulasi yang perlu diperhatikan pada tahap
pengisian ini adalah ketepatan bahan mengisi rongga mould. Apabila terjadi
keadaan:
a. Overpacking : akibatnya akan berpengaruh terhadap ketebalan berlebih pada
pembuatan basis proteosa yang nantinya akan mempengaruhi posisi elemen gigi
protesa di dalamnya.
b. Underpacking : sedangkan keadaan bahan yang tidak sepenuhnya memenuhi
rongga mould akan mampu menimbullkan porus.
Untuk menghindari over ataupun under packing. Dapat dilakukan dengan
pengisian pada rongga mould secara bertahap. Pada tahap selanjutnya setelah
dilakukan pengisian pada rongga mould adalah dilakukannya press dengan pada
kuvet. Kekuatan press yang diberikan pada kuvet sebesar 1000 psi selama 5 menit
kemudian sebesar 2200 psi selamat 5 menit juga. Selama proses press ini biasanya
ditemukan flash, yaitu adanya kelebihan bahan. Flash ini harus dibersihkan dan
dipisahakan dengan bagian resin yang mengisi mould. Setelah dilakukan ini tahap
berikutnya adalah dilakukannya curing.
4. Curring
Proses curring adalah proses terjadinya pengerasan, dimana yang menjadi
komponen pembantu dalam terjadinya curring adalah dibagi menjadi 4:
a. Heat curring : yaitu terjadinya curring yang diaktivasi dengan adanya panas.
Dimana panas yang diperlukan untuk terjadinya polimerasi dan tercapainya
curring yang sempurna adalah 740C (1650F) yang dilakukan pada bak air dengan
menjaga suhu tersebut selama 8-12 jam tanpa adanya prosedur pendidihan
terminal. Baru selanjutnya masuk ke tahap yang kedua dengan meningkatkan
suhu mencapai 100oC dan diproses selama 1 jam.

b. Self curring : cukup dilakukan pada suhu ruang dikarenakan aktivator yang
digunakan telah mengunakan amin tersier yang telah dijelaskan sebelumnya pada
klasifikasi
c. Light curring : proses curring dicapai dengan dipaparkannya cahaya tampak
dengan panjang gelombang sebesar 400-500nm dengan kemampuan menembus
ketebalan sebesar 5-6 mm dengan pemaparan radiasi selama 10-25 menit.

II.4. Polimerisasi resin akrilik


Polimerisasi terjadi melalui serangkaian reaksi kimia dimana molekul
makro, atau polimer dibentuk dari sejumlah molekul-molekul yang dikenal
sebagai monomer. Sifat polimer yang paling nyata adalah polimer terdiri atas
molekul-molekul yang amat besar dan tak terbatas.
Polimerisasi adalah reaksi intermolekuler berulang yang secara
fungsional mampu berlanjut tak berbatas. Polimer terdiri atas beberapa unit
struktural sederhana, yang terbentuk atas struktur monomer individual. Monomermonomer tersebut berhubungan atau berikatan satu sama lain sepanjang rantai
polimer oleh ikatan kovalen.
Resin sintetik berpolimerisasi secara acak dari tempat tertentu yang telah
diaktivasi. Jadi, bergantung pada kemampuan rantai untuk berikatan oleh karena
aktivasi yang terjadi. Resin gigi akan menjadi padat bila berpolimerisasi.
(Anusavice: 2003)
Polimerisasi ada 2, yakni:
1. Polimerisasi Kondensasi
Reaksi polimerisasi kondensasi berlangsung antara 2 atau lebih molekulmolekul sederhana. Senyawa utama yang bereaksi seringkali menghasilkan
produk sampingan berupa air, asam halogen dan amonia. Pembentukan produk

sampingan ini adalah alasan mengapa proses polimerisasinya disebut polimerisasi


kondensasi.
Dahulu, beberapa resin kondensasi telah digunakan dalam kedokteran
gigi untuk membuat basis gigi tiruan. Sekarang, polimerisasi kondensasi terutama
digunakan untuk polimerisasi bahan cetak polisulfida dan silikon kondensasi.
Namun, karena reaksi polimerisasi ini menghasilkan produk sampingan seperti air
(polisulfida) dan alkohol (bahan cetak silikon terpolimerisasi kondensasi), produk
sampingan ini mungkin menyerap dan mempengaruhi kestabilan dimensi bahan
cetak.
Pembentukan polimer dengan polimerisasi kondensasi ini berlangsung
lambat, karena berlangsung dengan cara bertahap dari monomer menjadi dimer,
kemudian trimer, dan seterusnya hingga menjadi polimer. Proses polimerisasi
tersebut cenderung terhenti sebelum molekul mencapai ukuran yang benar-benar
besar, karena begitu rantai tumbuh, akan menjadi makin tidak dapat bergerak dan
sedikit jumlah molekulnya.
2. Polimerisasi Adisi
Kebanyakan resin gigi terpolimerisasi dengan polimerisasi adisi. Jenis
reaksi adisi ini begitu banyak terjadi sehingga seringali istilah polimerisasi secara
umum digunakan untuk menggambarkan proses tersebut.
Tidak seperti pada polimerisasi kondensasi, tidak ada perubahan
komposisi selama polimerisasi adisi. Makromolekul terbentuk dari unit-unit yang
lebih kecil, yakni monomer, tanpa perubahan dalam komposisi, karena monomer
dan polimer memiliki rumus empiris yang sama. Dengan kata lain, rantai
monomer diulang berkali-kali hingga membentuk polimer.
Dibandingkan dengan polimerisasi kondensasi, polimerisasi adisi dapat
menghasilkan molekul yang besar dalam ukuran yang hampir tidak terbatas.
Berawal dari pusat aktif, satu monomer ditambahkan pada suatu saat dan dengan
cepat membentuk rantai yang secara teoritis dapat tumbuh tanpa batas, sepanjang

tersedia pasokan blok pembangun. Prosesnya sederhana, namun tidak dapat


dikendalikan.
(Anusavice: 2003)
II.5. Reparasi resin akrilik
d. Resin Perbaikan
Sesuai dengan sifatnya, resin akrilik dapat mengalami fraktur.
Resin perbaikan dapat diaktivasi oleh sinar, panas, maupun kimia.
Untuk memperbaiki protesa yang patah secara akurat, komponenkomponen harus diatur kembali dan direkatkan bersama
menggunakan malam perekat atau modeling plastic. Bila keadaan
ini sudah diperoleh, dibuat model perbaikan dengan stone gigi.
Protesa dipindahkan dari model dan medium perekat dibuang.
Kemudian permukaan patah diasah untuk memberikan ruangan
yang cukup bagi bahan perbaikan. Model dilapisi dengan medium
pemisah untuk mencegah perlekatan resin perbaikan, dan bagian
basis protesa dikembalikan serta dicekatkan pada model.
Persyaratan pengujian untuk resin yang diaktivasi secara kimia
untuk perbaikan basis protesa dinyatakan pada Spesifikasi ADA
No.13 (Anusavice, 2004).

e. Resin Relining (Pelapik) Basis Protesa


Karena kontur jaringan lunak berubah selama protesa berfungsi,
seringkali permukaan protesa intraoral yang menghadap jaringan
perlu diubah, untuk menjamin kecekatan dan fungsi. Pada beberapa
keadaan, perubahan ini dapat dilakukan dengan prosedur
pengasuhan selektif. Sementara pada keadaan lain, permukaan
yang menghadap ke jaringan harus digantikan dengan melapik
(relining) atau ,mengganti (rebasing) protesa yang lama
(Anusavuce, 2004).
Bila protesa akan direlining, bahan cetak dikeluarkan dari protesa.
Permukaan yang menghadap pada jaringan dibersihkan untuk
meningkatkan perlekatan antara resin yang ada dengan bahan
reniling. Setelah tahap ini, resin yang tepat kemudian dimasukan
dan dibentuk menggunakan teknik milding-tekanan. Untuk
relining, temperature polomerisasi yang rendah lebih disukai guna
meminimalkan distorsi dari basis protesa yang ada. Kemudian,
dipilih resin yang diaktivasi secara kimia. Bahan yang dipilih
diaduk menurut anjuran pabrik dan ditempatkan dalam mold,

ditekan dan dibiarkan mengalami polimerisasi. Protesa dikeluarkan


dari kuvet, dirapikan, dan dipoles. (Anusavice, 2004).

f. Rebasing basis protesa


Tahap-tahap yang diperlukan dalam rrebasig serupa dengan
relining. Cetakan jaringan lunak yang akurat diperoleh dengan
menggunakan protesa yang ada sebagai sendok cetak
perseorangan. Kemudianmodel stne dibuat dari cetakan. Model dan
cetakan disusun dalam reline jig, yang dirancang untuk
mempertahankan relasi vertical dan horizontal yang benar antara
model stone dan permukaan gigi tiruan. Hasil susunan tersebut
memberikan petunjuk tentang permukaan oklusl gigi tiruan.
Setelah petunjuk tersebut diperoleh, protesa dilepas dan elemen
gigi tiruan dipisahkan dari basis yang lama (Anusavice, 2004).

BAB IV
KESIMPULAN
Resin akrilik merupakan campuran asam-asam karboksilat, minyak
essensial, dan terpenting, yang terdapat sebagai eksudat pada berbagai pohon atau
tanaman semak atau yang diproduksi secara sintetis. Resin diklasifikasikan
menjadi resin alami dan sintetis (resin akrilik) berdasarkan asal. Ada tiga jenis
resin akrilik berdasarkan polimerisasinya: heat cured, self cured, dan light cured.
Komposisi resin yaitu bubuk polimer poli metil metakrilat dan cairan monomer
metil metakrilat. Resin akrilik harus memenuhi syarat biologis, fisis, estetis,
ekonomis, dan mekanis untuk dapat diaplikasikan dalam kedokteran gigi. Aplikasi
umum resin akrilik dalam kedokteran gigi adalah basis protesa, restorasi, dll.

DAFTAR PUSTAKA
Anusavice, Kenneth J. 1996. Phillips: Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi.
Jakarta: EGC
Harty, F.J & R. Ogston. 1993. Kamus Kedokteran Gigi. Jakarta: EGC
Nirwana, Intan & R. Heal Soekanto. Jurnal : Sitotoksisitas Resin Akrilik Setelah
Penambahan Glass Fiber dengan Metode Berbeda. Surabaya: Bagian Ilmu
Material dan Teknologi kedokteran Gigi Universitas Airlangga
Riadiantoro, Affian. 2011. Jurnal : Pembuatan Gigi Tiruan Lepasan dengan
Menggunakan Resin Visible Light Cure