Anda di halaman 1dari 12

IDENTITAS NASIONAL

A. PENGANTAR
1. Arti penting identitas nasional:
Sebagai suatu bangsa, perlu memiliki karakteristik tertentu sebagai identitas nasional
yang membedakan antara bangsa Indobesia dengan bangsa lain, baik secara fisik
maupun nilai (value).
2. Kesenjangan antara das sein dan das sollen:
Keberagaman bangsa Indonesia selama 3 dasa warsa dapat dijaga dengan Pancasila
sebagai falsafah, dasar Negara, dan alat pemersatu bangsa. Hal tersebut muncul dalam
bentuk:
a. Implementasi semboyan Bhineka Tunggal Ika yang cukup baik sebagai jiwa
dan semangat persatuan.
b. Diterimanya Pancasila sebagai azas tunggal dan implementasinya yang cukup
efektif dalam mengawal ideologi dan persatuan bangsa.
Kondisi tersebut berubah secara drastis sejak era reformasi dan Otonomi
Daerah. Antara lain: melunturnya komitmen terhadap ideologi Pancasila,
berkembangnya issue primordialisme, demokrasi yang kebablasan, serta maraknya
konflik dan kekerasan dalam berbagai skala dan dimensi.
Hal tersebut telah melunturkan dan bahkan mencabik-cabik identitas nasional
kita yang selama ini dikenal sebagai bangsa yang agamis, ramah tamah,
mengedepanan kekeluargaan dan kegotongroyongan serta dan memiliki rasa
nasionalisme yang tinggi. Oleh karena itu perlu dirumuskan kembali identitas ke
Indonesiaan kita untuk merajut kembali jati diri sebagai bangsa.
B. TUJUAN/SASARAN PEMBELAJARAN
1. Mendeskripsikan sejarah terbentuknya bangsa Indonesia.
2. Merumuskan karakteristik identitas nasional
3. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab lunturnya identitas nasional.
4. Merumuskan kembali karakteristik identitas nasional.
C. DAFTAR KATA KUNCI
Identitas Nasional

Jakarta

Pancasila dan UUD 45


Sejarah Indonesia
Multikulturalism, pluralisme,
Persatuan dan keberagaman
Nasionalisme dan Primordialisme

Piagam

D. URAIAN KONSEP DAN TEORI


1. Pengertian Identitas Nasional
Identitas Nasional Indonesia adalah seperangkat ciri yang melekat, tumbuh, dan
berkembang pada bangsa Indonesia sebagai manifestasi nilai-nilai budaya bangsa
sehingga dapat dibedakan dengan bangsa lain.
2. Kebudayaan
Menurut Koentjaraningrat (1982) kebudayaan adalah: keseluruhan sistem
gagasan, tata nilai, tata kelakuan, dan hasil karya manusia yang menjadi milik manusia
yang diperoleh melalui proses belajar.
Berdasarkan definisi tersebut, Koentjaraningrat membagi kebudayaan menjadi 3
wujud kebudayaan; yaitu;
a. Kebudayaan ideal
:
Termasuk dalam wujud kebudayaan ini adalah nilai-nilai, ideologi, ilmu
pengetahuan, berbagai produk perundangan dan lain-lain.
b. Kebudayaan tingkah laku:
Wujud dari kebudayaan tingkah laku adalah berupa adat istiadat, kebiasaan yang
tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat.
c. Kebudayaan fisik
Termasuk kebudayaan fisik adalah semua hasil karya manusia yang berbentuk
fisik, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling canggih.
Selanjutnya Koentjaraningrat mengidentifikasi adanya unsur kebudayaan yang
bersifat universal menjadi 7 unsur kebudayaan yang diyakini berlaku pada berbagai
kebudayaan manusia tanpa terbatas pada ruang dan waktu:
a. Sistem religi
b. Sistem bahasa
c. Sistem ilmu pengetahuan
d. Sistem teknologi
e. Sistem mata pencaharian
f. Sistem kesenian
g. Sistem kemasyarakatan:
3. Sejarah terbentuknya bangsa Indonesia
a. Jaman Pra Sejarah
Secara historis, nenek moyang bangsa Indonesia berasal Hindia belakang.
Mereka masuk ke Indonesia dalam 2 gelombang: yaitu:
1) Gelombang pertama:

Pada gelombang pertama, Ras Proto Melayu (Melayu Polinesia) dengan


kebudayaan batu, datang sekitar tahun 3.000 SM yang menyebar dari
Pasifik Timur sampai Madagaskar.
2) Gelombang kedua
Ras Deutero Melayu dengan kebudayaan besi, datang sekitar tahun 2.000
s.d 1.000 SM dengan penyebaran dari Cina Selatan, Teluk Benggala, dan
pulau-pulau di lautan Nusantara serta Samudera Hindia. (Minto Rahayu,
2007).
b. Jaman Sejarah:
1)
Masa Kerajaan *)
Kerajaan di Indonesia dimulai dari Masa Hindu-Budha-Islam. Kerajaan
Kutaidi Kalimantan Timur sebagai awal kita masuk jaman sejarah dan
kerajaan Hindu dan Budha, serta kerajaan Islam, Bangsa Nusantara setelah
itu tumbuh dan berkembang dan diperkaya dengan masuknya bangsa lain
(terutama dari Asia, Eropa). Di antara kerajaan-kerajaan yang pernah
berdiri di Nusantara, Sriwijaya dan Majapahit adalah merupakan kerajaan
nasional.
*) Pada masa itu telah tumbuh dan berkembang nilai-nilai Pancasila.
2)

Masa Penjajahan **)


Masuknya penjajah telah melemahkan eksistensi kerajaan-kerajaan di
Nusantara. Semangat persatuan terfragmentasi oleh Politik Adu Domba
penjajah.
**) Pada masa itu nilai-nilai Pancasila dilemahkan oleh penjajah.

3) Masa Perjuangan Kemerdekaan


a)
Lahirnya Kebangkitan Nasional
(1908).
b)
Sumpah Pemuda (1928).
c)
Proklamasi Kemerdekaan (1945).
d)
Piagam Jakarta, Pembukaan UUD
45.
e)
Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sampai
1965 sebagai masa demokrasi terpimpin.
f)
Lahirnya Orde Baru (1966-1998)
Pada masa ini identitas nasional dicirikan oleh pemasyarakatan
Pancasila dan UUD 45 secara melembaga dan memasyarakat melalui
penataran P4. Persatuan dan kesatuan dibangun melalui pendekatan
keamanan.
g)
Era Reformasi (1998 sekarang)
Era kebebasan (demokrasi) yang kebablasan.
Melemahnya komitmen terhadap Pancasila.
Menguatnya primordialisme dan melemahnya nasionalisme.
Lemahnya kepemimpinan nasional.

Fenomena Negeri 1001 partai


Menguatnya potensi konflik dan kekerasan.
Kenaikan BBM, kemiskinan.

4. Bangsa Indonesia yang meNegara


Diakuinya bangsa Indonesia yang menegara diawali dengan pengakuan atas
kebenaran hakiki dan kesejahteraan yang merupakan kebenaran otentik. Kebenaran
tersebut; menurut Minto Rahayu (2007) adalah:
a. Kebenaran yang berasal dari Tuhan Pencipta Alam Semesta, yaitu Keesaan
Tuhan; manusia harus beradap, bersatu, berhubungan social, berkeadilan.
Kebenaran ini direalisasikan dalam nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
b. NKRI terbentuk oleh perjuangan, karena bangsa Indonesia membutuhkan wadah
organisasi untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan.
Perkembangan bangsa Indonesia menjadi suatu Negara dapat diurutkan sebagai
berikut:
a. Terbentuknya NKRI dimulai dari pembentukan ide dasar hingga proklamasi
b. Proklamasi mengantar bangsa Indonesia sampai pintu gerbang kemerdekaan.
Artinya kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan bangsa tetapi adalah awal
untuk memulai perjuangan selanjut nya
c. Keadaan Negara yang dicita-citakan belum tercapai, hanya dengan adanya
pemerintahan, wilayah, bangsa. Selanjutnya harus kita isi menuju keadaan
merdeka, bersatu dan berdaulat
d. Terbentuknya NKRI adalah kehendak seluruh bangsa, bukan sekedar keinginan
golongan tertentu
e. Religiusitas mengiringi terbentuknya NKRI dengan pernyataan Indonesia
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa yang didasarkan atas kemanusiaan yang
adil dan beradab.
5. Pembentukan Identitas Nasional
Negara Indonesia yang dikenal mempunyai budaya ketimuran dengan adat istidat
yang kuat, penuh ramah-tamah, religius dan mempunyai ikatan emosional yang kuat
sebagai negara kesatuan, sekarang sudah mulai pudar dan bahkan ada yang sudah tidak
kelihatan lagi.
Budaya yang kita jadikan sebagai kekayaan dan bagian dari identitas nasional
sudah makin bergeser kepada budaya liberal yang bukan milik kita. Masyarakat merasa
lebih terpandang apabila mereka memakai budaya yang bukan miliknya, sementara nilai
budaya yang digunakannya tersebut belum tentu mempunyai nilai estetika, yang sesuai
dengan akar budaya bangsa yang selama ini dikenal dengan budaya yang berlandaskan
Pancasila yang selama ini kita jadikan sebagai salah satu identits bangsa.
Bergesernya nilai-nilai budaya telah membawa kepada melunturnya moral dari
anak bangsa, sehingga krisis moral adalah merupakan salah satu factor penyebab dari
berbagai krisis yang dialami oleh bangsa Indonesia.

Menurut Berger dalam Kaelan (2007); pada era globalisasi saat ini ideology
kapitalislah yang akan menguasai dunia, kapitalis telah mengubah masyarakat satu
persatu dan menjadi sistem internasional yang menentukan nasib ekonomi sebagian
besar bangsa-bangsa di dunia, dan secara tidak langsung juga nasib social, politik dan
kebudayaan.
Dalam hubungan dengan konteks identitas nasional secara dinamis, dewasa ini
nampaknya bangsa Indonesia tidak merasa bangga dengan bangsa dan negaranya di dunia
internasional. Akibatnya semangat patriotisme, semangat kebangsaan, semangat untuk
mempersembahkan karya terbaik bagi bangsa dan Negara di bidang pengetahuan dan
teknologi pada saat ini belum memperlihatkan akselerasi yang berarti, padahal jikalau
kita lihat sumberdaya manusia Indonesia ini juga seharusnya dapat dibanggakan. Jangan
pada saat ini, pada masa penjajahan yang penuh dengan penderitaan tersebut kita bisa
mewujudkan kemerdekaan atau melahirkan bangsa Indonesia.
Jati diri bangsa ditentukan melalui dua pandangan;
1) Jati diri sebagai konsep teologi, identik dengan fitrah manusia, maka jati diri
bangsa merupakan kualitas universal yang inheren pada setiap manusia.
2) Jati diri bangsa sebagai dari segi politik sebagai suatu pilihan melalui Sumpah
Pemuda yang mengubah kekamian menjadi kekitaan.
Bangsa Indonesia mendiami pulau-pulau di Nusantara yang membentuk komunitas utuh
yang memiliki jati diri. Pembentuk jati diri bangsa Indonesia adalah seperti berikut:
1. Suku Bangsa
Suku bangsa merupakan kelompok sosial dan kesatuan hidup yang mempunyai
sistem interaksi, sistem norma, kontinuitas, dan rasa identitas yang
mempersatukan semua anggota serta memiliki sistem kepemimpinan tersendiri
2. Agama
Sejak awal daerah nusantara telah dipengaruhi oleh beberapa agama seperti yang
ditemukan pada kerajaan-kerajaan Hindu, Budha yang pada awalnya telah berada
di Nusantara ini; namun mereka memberi toleransi terhadap datangnya peradaban
Islam melalui Gujarat, sedangkan agama Kristen masuk bersama dengan ras
Eropa dan Agama Kong Hu Chu diakui sejak tahun 2000.
3. Bahasa
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbiter dari alat ucap manusia. Di
Indonesia terdapat banyak bahasa mewakili banyak suku bangsa maka diperlukan
bahasa yang mampu menyatukan semua daerah. Telah ditetapkan bahwa Bahasa
Indonesia yang berasal dari rumpun bahasa melayu menjadi bahasa persatuan
nasional Indonesia.
4. Budaya Nasional
Kebudayaan adalah kegiatan dan penciptaan batin manusia, berisi nilai yang
digunakan sebagai rujukan hidup. Kebudayaan nasional ialah sebagai puncakpuncak kebudayaan daerahyang menyatukan dalam semangat nasionalisme yaitu
sumpah pemuda. Kemajemukan budaya dijadikan konsep Bhinneka Tunggal Ika

yang menjadi budaya nasional yang dijadikan pegangan dalam hidup


bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
5. Wilayah Nusantara
Wilayah nasional Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau (+ 17.000 pulau) yang
terbentang di khatulistiwa serta terletak di posisi silang yang sangat strategis dan
memiliki karakteristik khas yang berbeda-beda dengan negara lain.
F. VISI, MISI, STRATEGI, MODEL PENDIDIKAN IDENTITAS NASIONAL
Visi, Misi, dan Strategi Pendidikan Identitas Nasional mengacu pada visi, misi
Pendidikan Kewarganegaraan. Menurut Minto Rahayu (2007) disebutkan:
Visi :
Identitas Nasional menjadi sumber nilai dan pedoman bagi pengembangan program studi
dalam mengantarkan mahasiswa memantapkan kepribadian sebagai manusia Indonesia
seutuhnya.
Misi :
Membantu mahasiswa memantapkan kepribadiannya agar secara konsisten mampu
mewujudkan nilai-nilai dasar Pancasila, rasa kebangsaan, dan cinta tanah air sepanjang
hayat menguasai, menerapkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan
seni dengan rasa tanggungjawab.
G. KARAKTERISTIK IDENTITAS NASIONAL.
Identifikasi identitas nasional didekati melalui 4 pendekatan; yaitu: 1).
Pendekatan ke-nilai-an, 2). Pendekatan simbolik, 3) Pendekatan ke-fisik-an; dan
4) Pendekatan ke-budaya-an.
a. Pendekatan ke-nilai-an mengacu pada nilai-nilai pandangan hidup bangsa Indonesia;
yaitu:
1. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang agamis.
2. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.
3. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai persatuan dalam
keIndonesiaan.
4. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang demokratis dengan mengedepankan
musyawarah untuk mufakat, dan
5. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berkeadilan social.
b. Pendekatan simbolik
Manusia Indonesia memiliki dan meyakini berbagai simbol sebagai identitasnya.
1) Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ber Bhineka Tunggal Ika.
2) Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki lambang Negara Garuda
Pancasila.
3) Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbendera Merah Putih.
c. Pendekatan ke-fisik-an:

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari berbagai latar belakang ras dan atau
etnis.
d. Pendekatan ke-budaya-an
Pendekatan ke-budaya-an dengan mengacu 7 unsur universal kebudayaan seperti
pendapat Koentjaraningrat (1998):
1) Bangsa Indonesia adalah bangsa yang agamis.
2) Bangsa Indonesia dalam kaitan penguasaan iptek termasuk kategori bangsa yang
sedang berkembang.
3) Bangsa Indonesia adalah bangsa yang multi kultur
4) Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbahasa persatuan Bahasa Indonesia.
5) Bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan
kegotong-royongan.
6) Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sebagian besar bermatapencaharian di
sektor agraria dan maritim.
7) Bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung nilai-nilai kekerabatan dan
adat ketimuran.
H. MENGEMBALIKAN IDENTITAS NEGARA
Dalam kurun waktu 10 tahun reformasi, ternyata tidak menjadikan bangsa
Indonesia bangkit malah makin terpuruk pada situasi disintegrasi yang mengancam
eksistensi bangsa dan negara kesatuan sebagai tantangan yang bersifat internal maupun
eksternal. Faktor internal berupa krisis multi dimensi yang tidak kunjung teratasai, dan
kebebasan yang kebablasan. Faktor eksternal berupa berkembangnya globalisasi yang
melahirkan neoliberalisme dan kapitalisme serta serbuan informasi dan teknologi.
Kondisi tersebut akan membawa pengaruh terhadap melunturnya identitas
nasional yang merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang
dalam berbagai aspek kehidupan suatu bangsa. Oleh karena itu harus dilakukan upayaupaya untuk mempertahankan dan mengawal identitas nasional sebagai bangsa yang
religius, ramah, sopan, penuh musyawarah, toleran dan berciri plural/majemuk.
a. Landasan
1) Landasan Idiil
: Pancasila
2) Landasan Konstitusional: UUD 45
3) Landasan Operasional :
a) UU No.20 Th. 2003 tentang Sisdiknas.
b) UU No.32 Th. 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
b. Langkah-langkah Membangun Identitas Nasional:
1) Memotivasi seluruh anak bangsa akan nilai-nilai Pancasila yang luhur yang
mempersatukan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar yang disegani
bangsa lain, melalui lembaga pendidikan formal, informal maupun non formal.

2) Revitalisasi nilai-nilai Pancasila dengan cara pembinaan dan pengembangan


moral sehingga moralitas Pancasila yang dijadikan dasar dan arah dalam upaya
mengatasi krisis disintegrasi disegala lini kehidupan
3) Memahami sejarah bangsa Indonesia sebagai bangsa yang lahir karena suatu
perjuangan bersama, tidak satu kelompok/satu golongan saja.
4) Memahami akan sifat dasar sebagai bangsa yang majemuk
5) Menggunakan segala sarana selain lembaga pendidikan untuk mengingatkan dan
menumbuh kembangkan kesadaran berbangsa, bernegara satu melalui berbagai
saluran: pendidikan, dan pemanfaatan media massa.
6) Meletakkan Pancasila dalam satu keutuhan tafsir dengan pembukaan sebagai
Staat fundamental norm yang tidak bisa ditawar dengan syarat terdapat prakondisi
situasi kondusif bidang hukum yang suprematif
7) Memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya kebudayaan daerah.
8) Mengaktualisasikan pencerminan Identitas Nasional secara normatif dalam
pergaulan bangsa dan antar bangsa.
9) Dibutuhkan platform dalam format dasar negara dan ideologi tanpa platform ini
mustahil bangsa Indonesia akan survive atas ancaman intern dan ekstern
I. DATA, FAKTA, FENOMENA.
Era reformasi yang diikuti demokratisasi dan Otonomi Daerah telah membawa
dampak berupa lunturnya nasionalisme, mencuatnya issue primordialisme, dan kebebasan
dalam berbagai aspek kehidupan; yaitu:
a. Pemerintahan yang sentralistis selama Orde Baru telah membawa ketidak puasan
berbagai daerah akibat dari eksploatasi sumber daya dan pembagiannya yang tidak
adil. Akibatnya muncul issue separatisme, baik yang sudah muncul ke permukaan
secara terang-terangan maupun tersembunyi.
b. Krisis multi dimensi telah menyebabkan kepercayaan rakyat terhadap kepemimpinan
nasional yang memang sudah lemah menjadi semakin lemah. Bila selama ini sipil
mengkritik arogansi militer, justeru kemudian terjadi arogansi sipil dalam berbagai
bentuk dan dimensi.
c. Otonomi Daerah diberikan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota sering dimaknai
sebagai eranya Putera Daerah. Kondisi ini telah membawa penguatan semangat
primordialisme baik keetnisan maupun kedaerahan. Parahnya, kedaerahan bukan lagi
ke-Pronpisi-an, tetapi dalam skup yang lebih sempit (Kabupaten/Kota).
d. Era demokrasi yang kebablasan telah membawa negeri ini dalam suasana yang
serba boleh, sehingga arogansi, konflik, dan kekerasan merebak dalam berbagai
tataran dan dimensi.
e. Kemajuan iptek (terutama teknologi informasi), telah membawa dampak derasnya
pengaruh nilai-nilai maupun pola sikap dari luar yang cenderung diterima secara
vulgar, yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa.
f. Munculnya kelompok fundamentalis agama dan atau sektarian, telah
merengganggkan kohesi sosial, bukan saja antar pemeluk agama yang berbeda, tetapi
juga antar pemeluk agama yang sama.

g. Keteladanan elit terhadap kerukunan nasional dan identitas nasional lemah. Perilaku
elit yang menjadi komoditas media massa secara vulgar sering dipertontonkan kepada
public.
h. Tokoh yang tersisih dari percaturan politik nasional sakit hati sering menjadi
provokator munculnya konflik.
Berdasarkan data, fakta, dan fenomena tersebut di atas, maka bila kita kaitkan
dengan identitas kita sebagai bangsa yang selama ini dikenal sebagai bangsa yang ramah
tamah, mengedepankan kekeluargaan dan kegotong royongan, cinta damai, dan sederet
predikat yang mencerminkan bangsa ber adab, pada masa reformasi justeru terjadi hal
yang sebaliknya. Semua itu memberikan cerminan betapa pelunturan Identitas Nasional
kita sudah demikian parah.
J. KASUS DAN ILUSTRASI
1. Kekecewaan beberapa daerah terhadap eksploatasi Pemerintah Pusat terhadap
sumber daya di daerah telah mendorong lahirnya issue separatisme. Aceh dengan
GAM, Riau dengan Riau Merdeka, Maluku dengan RMS, Irian dengan OPM.
2. Krisis ekonomi telah membawa tekanan hidup yang semakin berat bagi sebagian
besar rakyat Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan mereka smudah
tersinggung, marah, mudah terprovokasi, dan melakukan tindak kekerasan. Sense
terhadap nasionalisme menurun, karena orang lebih terkonsentrasi pada
bagaimana menyelamatkan diri masing-masing dari himpitan ekonomi. Peran
media massa yang sering mengeksploatasi kekerasan juga bisa menjadi sumber
inspirasi bagi rakyat untuk melakukan kekerasan.
3. Otonomi Daerah yang kemudian diikuti dengan pemekaran daerah di Propinsi
Riau. Kasus Kabupaten Bengkalis sebagai daerah penghasil minyak terbesar di
Propinsi Riau. Pemekaran pertama Bengkalis dimekarkan menjadi 3
Kabupaten/Kota; yaitu: Kabupaten Bengkalis, Kota Duri, dan Kabupaten Siak.
Kemudian muncul keinginan 2 daerah lainnya (Duri dan Meranti) untuk menjadi
Kabupaten baru. Pemekaran daerah yang semula bertujuan untuk meningkatkan
jangkauan pelayanan dan rentang kendali pemerintahan telah berubah menjadi
ladang perburuan jabatan. Pada sisi lain, kondisi tersebut telah mendorong
terjadinya konflik vertikal maupun horisontal.
4. Trend kehidupan generasi muda yang dalam berbagai aspek kehidupannya
cenderung menjauhi identitas nasional:
a. Sikap generasi muda yang menjadi generasi instant, konsumtif, dan
kurang mau mengerti arti perjuangan hidup.
b. Gaya hidup yang kebaratan yang muncul dalam fashion, food, fun
yang ke barat-barat an.
c. Lunturnya budaya yang bersumber kearifan local (local wishdom).
K. KERANGKA PIKIR
Untuk memudahkan memahami kerangka pikir, dipaparkan dalam bentuk
skhematis seperti pada Gambar 1.

GAMBAR 1
KERANGKA PIKIR PEMBELAJARAN IDENTITAS NASIONAL

KEMEROSOTAN
PEMBELAJARAN
REVITALISASI
IDENTITAS
IDENTITAS
IDENTITAS
NASIONAL
NASIONAL
Berdasarkan kerangka pemikiran
tersebut, dapat dijelaskan NASIONAL
bahwa kemerosotan
Identitas Nasional dapat diperbaiki dan dibangun kembali melalui pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan. Melalui PPKn dapat memelihara, menumbuhkan, dan
mengembangkan kesadaran etis terhadap identitas ke Indonesia-an, untuk diamalkan
dalam tataran praksis
L. MODEL PEMBELAJARAN
1. Ceramah
2. Cooperative Learning
3. Problem Base Learning
4. Porto Folio
M. EVALUASI
Untuk mengetahui hasil pembelajaran mahasiswa diadakan evaluasi dengan cara:
1. Metode observasi
: menilai aktivitas belajar dan perilaku mahasiswa.
2. Metode Test
: Essay Test dalam bentuk penyelesaian studi kasus.
3. Porto Folio
: Kumpulan karya mahasiswa.
N. PENUTUP
Pokok-pokok materi pembelajaran Identitas Nasional masih perlu dijabarkan lebih
lanjut dalam Satuan Acara Perkuliahan (SAP) pada beberapakali pertemuan (tatap muka)
Untuk memperkaya khasanah pengetahuan mahasiswa, maka diperlukan metode
portofolio sebagai kumpulan karya mahasiswa yang berkait dengan identitas nasional,
baik berupa kliping gambar maupun tulisan, maupun karya mahasiswa berupa paperpaper singkat.

PESAN MORAL
Ketuhanan adalah Nilaiku, Agama Normaku

Kabupaten/Kota Rumahku, Propinsi Wilayahku,


Indonesia Negeriku
Kembalikan keramah-tamahan bangsaku yang cinta damai dari
segala bentuk konflik dan kekerasan
Pelangi itu Indah Justeru karena Ia Berwarna Warni
Keberagaman adalah Pelangi Nusantaraku
Keberagaman dalam Persatuan
DAFTAR BACAAN

Gultom. 2000. Pendidikan Kewarganegaraan, PPKn dan Demokrasi. FKIP


UKSW, Salatiga.
Khaelan dan Achmad Zubaidi. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan untuk
Perguruan Tinggi. Paradigma, Yogyakarta.
Koentjaraningrat. 1982. Pengantar Antropologi Budaya. Rajawali, Jakarta.
Koento Wibisono S. 2008. Identitas Nasional: Pengembangannya melalui
Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila. Bahan Diklat Calon Dosen
Kewarganegaraan. Dirjend dikti, Jakarta.
___________________. 2002. Dwi Tunggal Hak Azasi Manusia dan Demokrasi.
(Makalah).
Miriam Budihardjo. 1975. Masalah Kenegaraan. PT. Gramedia, Jakarta.
_________________. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Politik. PT. Gramedia, Jakarta.
Minto Rahayu. 2007. PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN: Perjuangan
Menghidupi Jati Diri Bangsa. Grasindo, Jakarta.
Soeryono Soekanto. 1990. Pengantar Sosiologi. LP3ES, Jakarta.
Tim Penyusun Puslit IAIN Syarif Hidayatullah. Tt. Pendidikan Kewargaan:
Demokrasi, HAM, dan Masyarakat Madani. IAIN Press, Jakarta.