Anda di halaman 1dari 8

Sekarang, dalam kurun waktu lebih dari satu dekade, teknologi GSM telah menguasai pasar

dengan jumlah pelanggan lebih dari jumlah pelanggan telepon tetap. Di Indonesia, liberalisasi
bisnis seluler dimulai sejak tahun 1995, saat pemerintah mulai membuka kesempatan kepada
swasta untuk berbisnis telepon seluler dengan cara kompetisi penuh. Bisa diperhatikan,
bagaimana ketika teknologi GSM (Global System for Mobile) datang dan menggantikan
teknologi seluler generasi pertama yang sudah masuk sebelumnya ke Indonesia seperti NMT
(Nordic Mobile Telephone) dan AMPS (Advance Mobile Phone System).
Di tahun 1980-an, teknologi Global System for Mobile Communication (GSM) datang ke
Indonesia, maka para operator pemakai teknologi AMPS (Advanced Mobile Phone System)
menghilang. Lalu, muncul Satelindo sebagai pemenang, yang kemudian disusul oleh
Telkomsel.
Dan pada akhirnya teknologi GSM lebih unggul dan berkembang dengan pesat, ini
dikarenakan kapasitas jaringan lebih tinggi, karena efisiensi di spektrum frekuensi dari pada
teknologi NMT dan AMPS.
Sejarah GSM tidak terlepas dari perkembangan teknologi komunikasi di Eropa. Pada awal
tahun 1980, sistem komunikasi selular berkembang dengan pesat dibeberapa negara Eropa.
Beberapa diantaranya yaitu sistem C-NET yang dikembangkan di Jerman dan Portugal oleh
Siemens, sistem RC-2000 yang dikembangkan di Prancis, sistem NMT yang dikembangkan
di Belanda dan Skandinavia oleh Ericsson, serta TACS yang beroprasi di Inggris. Setiap
Negara mempunyai sistem komunikasi sendiri yang tidak kompatibel dengan sistem
komunikasi di negara lain.
Hal ini menyebabkan mobilitas pengguna terbatas pada suatu area sistem teknologi tertentu
saja (Fernandez Yogara, 2008). Pada tahun 1982 dibentuklah sebuah lembaga yang bernama
Groupe Special Mobile (GSM) yang mengembangkan sistem komunikasi mobile untuk
masyarakat Eropa secara terpadu. Sistem yang dikembangkan memiliki kualitas suara yang
baik, memiliki dukungan jelajah (roaming) internasional antar negara Eropa, memiliki
dukungan perangkat genggam, dapat dikembangkan untuk layanan fasilitas baru dan
memiliki biaya operasional yang murah.
Lembaga ini yang mempelopori munculnya teknologi digital selular yang kemudian dikenal
dengan nama Global System for Mobile Communication (GSM). Lembaga GSM tersebut
menyerahkan hasil kerjanya kepada lembaga ETSI (European Telecommunication Standards
Institute) pada tahun 1989. Hingga saat ini lembaga GSM tersebut lebih populer dengan
kepanjangan Global System for Mobile Communications.
Pada tahun 1989, tugas ini diserahkan kepada European Telecommunication Standards
Institute (ETSI) dan GSM fase I diluncurkan pada pertengahan 1991. Pada tahun 1993, sudah
ada 36 jaringan GSM di 22 negara. Keunikan GSM dibanding generasi pertama adalah
layanan SMS. SMS atau Short Message Service adalah layanan dua arah untuk mengirim
pesan pendek sebanyak 160 karakter.

Spesifikasi teknis
Di Eropa, pada awalnya GSM didesain untuk beroperasi pada frekuensi 900 Mhz.
Pada frekuensi ini, frekuensi uplinks-nya digunakan frekuensi 890915 MHz ,

sedangkan frekuensi downlinksnya menggunakan frekuensi 935960 MHz.


Bandwith yang digunakan adalah 25 Mhz (915890 = 960935 = 25 Mhz), dan
lebar kanal sebesar 200 Khz. Dari keduanya, maka didapatkan 125 kanal,
dimana 124 kanal digunakan untuk suara dan satu kanal untuk sinyal. Pada
perkembangannya, jumlah kanal 124 semakin tidak mencukupi dalam
pemenuhan kebutuhan yang disebabkan pesatnya pertambahan jumlah
pengguna. Untuk memenuhi kebutuhan kanal yang lebih banyak, maka regulator
GSM di Eropa mencoba menggunakan tambahan frekuensi untuk GSM pada band
frekuensi di range 1800 Mhz dengan frekuensi 1710-1785 Mhz sebagai frekuensi
uplinks dan frekuensi 1805-1880 Mhz sebagai frekuensi downlinks. GSM dengan
frekuensinya yang baru ini kemudian dikenal dengan sebutan GSM 1800, yang
menyediakan bandwidth sebesar 75 Mhz (1880-1805 = 17851710 = 75 Mhz).
Dengan lebar kanal yang tetap sama yaitu 200 Khz sama, pada saat GSM pada
frekuensi 900 Mhz, maka pada GSM 1800 ini akan tersedia sebanyak 375 kanal.
Di Eropa, standar-standar GSM kemudian juga digunakan untuk komunikasi
railway, yang kemudian dikenal dengan nama GSM-R.

Spesifikasi untuk layanan sistem personal communication services (PCS)


yang berlainan akan merubah jaringan PCS tersebut. Daftar dibawah
mendeskripsikan spesifikasi dan karakteristik GSM.
Frequency band range frequency yang dispesikasikan untuk GSM adalah
1,850 to 1,990 Mhz (mobile station ke base station).
Duplex distance - duplex distance adalah 80 Mhz. Duplex distance ialah
jarak antara frekuensi uplink dan downlink. Satu kanal memiliki dua
frekuensi, terpisah 80 Mhz.
Channel separation pemisahan antara frekuensi pembawa terdekat. Di
GSM, ini adalah 200 kHz.
Modulation - modulasi adalah proses mengirim sinyal dengan merubah
karakterikstik dari frekuensi pembawa. Hal ini dapat dilakukan di GSM
melalui Gaussian Minimum Shift Keying (GMSK).
Transmission rate GSM adalah sistem digital dengan laju over-the-air 270
kbps.
Access method GSM memanfaatkan konsep Time Division Multiple
Access (TDMA). TDMA adalah teknik dimana beberapa panggilan berbeda
memungkinkan berbagagi pembawa yang sama. Tiap panggilan di tandai slot
waktu yang akurat.
Speech coder - GSM menggunakan linear predictive coding (LPC). Maksud
dari LPC adalah untuk mengurangi laju bit. LPC memberikan parameter
untuk filter yang menirukan vokal. Sinyal lewat melalui filter ini,
meninggalkan dibelakang sinya sisa. Percakapan di enkode pada 13 kbps.

ARFCN
ARFCN merupakan metode penomoran kanal dan mengetahui pada frekuensi
berapa kanal tertentu bekerja, dan pada frkuensi carrier pada suatu kanal pada
sistem komunikasi bergerak. Penomoran ini lebih mempermudah daripada

mengingat banyaknya frekuensi carrier yang diberikan pada suatu kanal. Di


lapangan pun alat yang digunakan dalam penjelasan frekuensinya dengan
menggunakan ARFCN juga.
Antara uplink dan downlink memiliki pasangan nomor ARFCN

Langkah menentukan ARFCN :

Tentukan frekuensi yang merupakan batas bawah dari pita spektrum

Tentukan nomor kanal ARFCN untuk frekuensi batas bawah tersebut

Gunakan rumus berikut untuk melakukan mapping:

ARFCN = kanal ARFCN untuk frekuensi batas bawah + (frekuensi MHz

frekuensi batas bawah dalam MHz)/lebar pita per kanal dalam MHz (0.2 MHz)
Contoh :
(GSM900): Cari nomor kanal ARFCN untuk frekuensi 900.2 MHz (uplink); sesuai
penjelasan sebelumnya:
Frekuensi batas bawah GSM9000 = 890 MHz
Nomor kanal ARFCN untuk frekuensi 890 MHz = 0
Menggunakan rumus:
ARFCNuplink = 0 + (900.2-890)/0.2 = 0 + 10.2/0.2 = 51.
Pasangan nomor kanal ARFCN dupleks downlink-nya adalah sebagi berikut:
Karena diketahui frekuensi uplink = 900.2 MHz; maka, frekuensi downlink-nya =
frekuensi uplink + 45 MHz = 900.2 + 45 = 945.2 MHz. Dengan frekuensi batas
bawah downlink = 935 MHz, maka:

ARFCN downlink = 0 + (945.2-935)/0.2 = 0 + 10.2/0.2

Dengan menggunakan ARFCN, frekuensi operator mudah diingat dan lebih praktis, terutama
ketika menggunakan peralatan ukur. Masih lebih gampang misalnya menyebutkan alokasi
frekuensi untuk Operator A dari kanal 51 sampai 87 dibandingkan dari 945.2 MHz sampai
952.4 MHz; atau memasukkan angka 51 ke dalam peralatan dibandingkan harus mengingat
dan memasukkan 945.2 MHz.
Permasalahan bertambah apabila pihak Regulator hanya mengalokasikan frekuensi dalam
satuan MHz tapi tidak dalam nomor kanal ARFCN padanannya sehingga para teknisi harus
melakukan mapping frekuensi sendiri dari MHz ke ARFCN yang bisa saja berbeda dalam hal
metode per-mapping-an dengan operator lain sehingga menghasilkan alokasi ARFCN yang
berbeda pula terutama untuk kanal-kanal ARFCN pada frekuensi batas.
Belakangan dalam artikel ini akan dibahas langkah-langkah dalam melakukan mapping
frekuensi dari MHz ke nomor kanal ARFCN.

Modulasi pada GSM


Sistem komunikasi GSM menggunakan teknik modulasi
Gaussian filtered Minimum Shift Keying
(GMSK). Untuk mengetahui bagaimana teknik modulasi GMSK
diterapkan maka akan dibahas terlebih dahulu modulasi MSK
dimana GMSK diturunkan dari MSK. MSK adalah skema
modulasi fase secara kontinyu dimana pada sinyal
pembawanya tidak terdapat diskontinuitas pada fase dan
frekuensi berubah pada saat zerro crossing pada pembawa.
MSK terlihat unik berdasarkan hubungan antara frekuensi
logika 1 dan 0. Perbedaan antara frekuensi logika 1 dan 0 selalu
sama dengan setengah pesat data yang dikirim.
Sebagai contoh, sebuah sinyal data baseband MSK 1200bps
dapat disusun dari sinyal dengan frekuensi 1200 Hz dan 1800
Hz masing-masing untuk logika 1 dan 0.
Sinyal baseband MSK seperti terlihat pada gambar 1
merupakan cara mengirimkan data pada sistem wireless
dimana pesat data relatof kecil dibandingkan dengan
bandwidth kanal. Metode alternatif dalammembuat modulasi
MSK dapat diwujudkan dengan memasukkan data NRZ ke

modulator frekuensi denganindeks modulasi sebesar 0.5 (lihat


gambar 2).
Permasalahan utama pada MSK adalah spektrumnya tidak
cukup rapi untuk mencapai pesat data hinggamendekati
bandwidth kanal RF. Sebuah plot spektrum MSK menunjukkan
bahwa sidelobes memanjangmelebihi pesat data sesuai pada
gambar 3. Untuk transmisi data secara wireless yang
memerlukanpenggunaan bandwidth kanal RF yang lebih
efisien, dibutuhkan pengurangan energi pada upper sidelobes
MSK. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa cara langsung untuk
mengurangi energi adalah melewatkan datapada suatu LPF
terlebih dahulu sebelum akhirnya dimasukkan ke premodulation LPF. Pre-modulation LPFharus mempunyai
bandwidth sempit dengan cut off frekuensi yang runcing dan
overshiit pada responsimpuls yang sanga kecil. Disinilah
mengapa digunakan Gaussian filter yang mempunyai respons
impulsesesuai karakter distribusi Gaussian klasik. Filter ini
menghilangkan sinyal-sinyal harmonik dari gelombang pulsa
data dan menghasilkan bentuk yang lebih bulat pada ujungujungnya. Jika hasil ini diaplikasikan pada modulator fasa, hasil
yang didapat adalah bentuk envelope yang termodifikasi (ada
sinyal pembawa).
Bandwidth envelope ini lebih sempit dibandingkan dengan data
yang tidak dilewatkan pada filter gaussian.
Sistem MSK memiliki beberapa kelebihan, namun secara
spesifik kelebihan dari GMSK sendiri yaitu :
a) Efisiensi daya yang sangat baik, karena memiliki
amplop/selubung yang konstan.
b) Efisiensi spektral yang sangat baik.
c) Relatif sederhana dan fleksibel.
d) Dapat terdeteksi secara koheren sebagai sinyal MSK dan
secara non-koheren sebagai FSK

Teknik modulasi yang digunakan pada GSM adalah GMSK (Gaussian Minimum Shift
Keying). Teknik ini bekerja dengan melewatkan data yang akan dimodulasikan melalui Filter
Gaussian. Filter ini menghilangkan sinyal-sinyal harmonik dari gelombang pulsa data dan
menghasilkan bentuk yang lebih bulat pada ujung-ujungnya. Jika hasil ini diaplikasikan pada
modulator fasa, hasil yang didapat adalah bentuk envelope yang termodifikasi (ada sinyal
pembawa). Bandwidth envelope ini lebih sempit dibandingkan dengan data yang tidak
dilewatkan pada filter gaussian.
Bandwidth yang dialokasikan untuk tiap frekuensi pembawa pada GSM adalah sebesar
200kHz. Pada kenyataannya, bandwidth sinyal tersebut lebih besar dari 200kHz, bahkan
setelah dilakukan pemfilteran gaussian pun hal itu tetap terjadi. Akibatnya sinyal akan
memasuki kanal-kanal di sebelahnya. Jika pada satu sel (akan dijelaskan kemudian) terdapat
BTS dengan frekuensi pembawa yang sama atau bersebelahan kanal, maka akan terjadi
interferensi akibat overlapping tersebut. Begitu juga jika sel-sel yang bersebelahan memiliki
frekuensi pembawa sama atau berdekatan. Alasan inilah yang menyebabkan mengapa dalam
satu sel atau antara sel-sel yang berdekatan tidak boleh menggunakan kanal yang sama atau
berdekatan.
Pengiriman sinyal informasi dengan menggunakan satu frekuensi radio (RF = radio
Frequency) ke udara yang tentunya menggunakan satu sistem antena, dapat dilakukan bila
menggunakan proses modulasi. Termasuk informasi disini, adalah sinyal voice dan juga data
pada sistem telepon seluler.
Sinyal informasi dimodulasikan pada sinyal dengan frekuensi RF, yang dalam hal sistem
GSM, frekuensi RF tersebut berada pada pita 900 MHz, atau 1800 MHz untuk sistem DCS,
atau pada pita 800 MHz untuk sistem CDMA.
Sinyal voice maupun data adalah sinyal dalam bentuk digital, sehingga modulasi yang
diterapkan adalah modulasi digital (bukan modulasi analog seperti AM = amplitude
modulation, atau FM = frequency modulation). Jenis modulasinya adalah PSK (phase shift
keying) dalam beberapa versinya, seperti QPSK (quadrature phase shift keying), atau versi
FSK (frequency shift keying). Pada sistem GSM, modulasi pulsa yang diterapkan adalah FSK
yang diimplementasikan pada modulasi GMSK (Gaussian Minimum Shift Keying).
GMSK
Secara umum sistem modulasi terdiri dari sebuah pemancar (transmitter), media
transmisi, dan sebuah penerima (receiver) yang menghasilkan replika sinyal informasi yang
ditransmisikan. Cara yang paling mudah untuk menghasilkan GMSK adalah dengan
melewatkan data NRZ melalui filter Gaussian yang memiliki respon impuls : Sedangkan
fungsi pindahnya : parameter a dinyatakan sebagai : filter GMSK dapat didefinisikan dari B
(lebar pita 3dB) dan T (periode bit), sehingga umumnya GMSK didefinisikan dari produk
BTnya. Output dari filter tersebut kemudian diumpankan ke modulator FM.

Teknik modulasi ini digunakan pada banyak implementasi analog maupun digital sistem
US-CPDP dan pada sistem GSM. Dengan demikian, maka jika memiliki sinyal input
rectangular maka tanggapan impuls keluaran setelah dilewatkan filter menjadi :sehingga jika
masukan berupa data NRZ, dengan an = 1, maka Sinyal GMSK dapat dideteksi secara
koheren dengan detektor korelasi silang atau dengan detektor non koheren sederhana
(misalnya diskriminator FM). Sistem ini akan mengeluarkan sinyal informasi yang
terkandung dalam sinyal carrier (untuk GMSK, umumnya menggunakan sinyal carrier 900
MHz. Metode yang sangat efektif namun tidak optimum untuk mendeteksi sinyal GMSK
adalah dengan mensampling output dari demodulator FM.
MULTIPLE ACCESS GSM
Metode akses dari GSM adalah Time Division Multiple Access (TDMA). Teknik
Time Division Multiple Access (TDMA) merupakan suatu metode pengaksesan
dimana semua stasiun bumi frekuensi pembawa yang sama dengan berdasar
pengaturan atau pembagian waktu. Pada teknik TDMA hanya terdapat satu
sinyal pembawa RF (single signal carier) dalam bandwidth transponder Satelit.
Komunikasi diatur dengan pembagian waktu sesuai dengan penomoran dari
Stasiun Bumi.

TDMA (Time Division Multiple Accesss)


Pada metode TDMA tiap pengguna akan menggunakan seluruh spectrum frekuensi tertentu
yang disediakan tetapi dalam waktu yang singkat yang disebut slot waktu (time slot). Tiap
pengguna mendapatkan sebuah slot waktu yang berulang secara periodis dan hanya diijinkan
untuk mengirim informasi pada slot waktu tersebut. Antar slot waktu diberi jeda waktu (guard
time) untuk menghindari interferens antar pengguna. Jika slot waktu dalam frekuensi yang
diberikan sedang digunakan semua, maka pengguna berikutnya harus diberikan slot waktu
dengan frekuensi yang berbeda. Cara kerja system TDMA diilustrasikan pada gambar
berikut :
Fundamental unit dari waktu pada TDMA disebut burst period dimana besarnya 15/26 ms
(0,577 ms). Delapan burst period dikelompokkan ke dalam TDMA frame (120/26 ms atau
4,615 ms), dimana membentuk unit dasar untuk pendefinisian dari logical channel. Satu
channel adalah satu burst periode per TDMA frame. Channel didefinisikan berdasarkan
cacah dan posisi dari burst period yang berkaitan. Semua pendefinisian ini merupakan siklus,
dan pola keseluruhan berulang kira-kira setiap 3 jam. Channel dapat dibagi ke dalam
dedicated channel, di mana dialokasikan untuk mobile station, dan common channel, di mana
digunakan oleh mobile station dalam idle mode (keadaan diam).

FDMA (Frequency Division Multiple Accesss)


FDMA melakukan pembagian frekuensi dari bandwidth maksimum 25Mhz ke dalam 124
gelombang karier berfrekuensi 200kHz. Satu atau lebih dari gelombang carrier ini
ditransimisikan ke tiap base station. Setiap frekuensi dari gelombang carrier ini akan dibagi
dalam waktu, menggunakan skema TDMA.