Anda di halaman 1dari 94

Meluruskan Pemahaman “Hudaibiyah 1962 di Indonesia” dengan Perjanjian

Hudaibiyah ala Rosululloh SAW


Posted by abuqital1 under Rujukan NII
Leave a Comment

Rate This

Permulaannya tersebat kata Hudaibiyah atau Case Fire (genjatan senjata) dalam
kalangan TII, setelah banyak komandan mereka yang menyerahkan diri ke pihak
musuh. Sedangkan pada waktu itu sebagian prajurit TII terus bertahan tidak mau
menyerah. Di lain pihak, sebagian eks pimpinan mereka yang dekat dengan
penguasa RI mengadakan propaganda kepada bekas anak buah mereka supaya
ikut turun meletakkan senjata dan menyerahkan diri ke Pemerintah RI.

Pada umumnya prajurit TII itu tidak menyadari bahwa berita Hudaibiyah itu
sebagai tipuan supaya mereka mau turun dengan membawa masing-masing
persenjataannya. Sebenarnya sebagiannya akan bertahan bersemboyan Yuqtal
au Yaghlib (Q.S. 4 : 74), jika bukan karena tipuan yang dilontarkan oleh sebagian
bekas pimpinan mereka atau oleh adanya selebaran-selebaran yang direkayasa
musuh mengatasnamakan pimpinan DI / TII. Secara analisa data ada dua
kemungkinan sebab dimunculkannya isu Hudaibiyah oleh sebagian komandan
TII, yaitu :
Ada yang tujuannya supaya pasukan TII itu turun gunung mengikuti jejak
pimpinan yang sudah menyerah sehingga pimpinan itu dianggap masih
berwibawa.
Ada yang tujuannya supaya terkesan dimata prajurit TII bahwa para komandan
itu bukanlah menyerah atau kalah mental melainkan karena adanya
“Hudaibiyah” atau genjatan senjata

Untuk menilai apakah itu benar “Hudaibiyah”, maka bandingkan saja dengan
Perjanjian Damai Hudaibiyah yang sebenarnya terjadi pada zaman Nabi SAW
diantaranya ialah :

Mulai diajukannya permintaan Perjanjian Damai Hudaibiyah, yakni gencatan


senjata (Hudaibiyah suatu tempat di dekat kota Makkah) adalah dari pihak
Musyrikin Quraisy, karena gentar menghadapi tentara muslimin yang sudah
berbai’at (Q.S. 10, 18) bertekad untuk menggempur kota Makkah. “Sidang para
pengambil kebijaksanaan Quraisy ini tak ubahnya sebuah kecemasan dan
sekaligus sebuah kebingungan mereka. Mereka seperti masih traumatis atas
beberapa perang yang pernah dilakukannya. Bahwa, Perang Badar dengan
pasukan yang jauh lebih kecil dan persenjataan yang juga minim, tapi toh
mampu memporakporandakan angkatan bersenjata Quraisy. Bagaimanapun,
kondisi ini menunjukkan sebagian dari kejatuhan mental para petinggi Quraisy
(Agus Wahid PERJANJIAN HUDAIBIYAH Telaah Diplomasi Muhammad Saw,
halaman 46, cetakan pertama 1991. Penerbit Jakarta) “Pihak Quraisy meminta
kerelaan Muhammad dan jama’ahnya untuk menunda niat berhaji. Permintaan
ini menunjukkan posisinya tidak lagi di papan atas sebagai pihak yang bisa
menekan dengan paksa dan semena-mena. Yang namanya permintaan biasa
saja dikabulkan, tapi juga sebaliknya. Jawabannya tergantung pihak yang
diminta. Yang jelas, secara sadar para pemuka paganis Quraisy mengakui
kekuatan muslim bisa mengalahkannya” (Ibid, halaman) Artinya, pihak Tentara
nabi Saw adalah pihak yang unggul. Sedangkan pihak musyrikin Quraisy adalah
pihak yang tertekan.
Tentara Nabi Saw tidak dilucuti dari persenjataannya. Artinya, tetap
keberadaannya sebagai tentara Islam yang mengawal kedaulatan Negara Islam
secara de facto.
Pemerintahan Nabi SAW tetap diakui secara de facto (dhohir). Artinya, tidak
diserbu atau dikejar-kejar oleh pihak Quraisy, yakni sesuai dengan peraturan
gencatan senjata pada zaman sekarang dimanapun
Para pimpinan atau para komandan militer Nabi Saw tidak membuat pernyataan
setia mengabdi pemerintahan musyrikin Quraisy, serta tidak mencaci-maki
Negara Islam di Madinah. Yaitu tidak seperti dalam “Ikrar Bersama”, 1 Agustus
1962 yang ditandatangani oleh sebagian eks pimpinan TII. Bisa saja mereka
dipaksa. Tapi itu akibat didahului oleh menyerahkan diri kepada musuh,
sehingga musuh bisa memaksanya.

Berdasarkan empat point saja, jelas bahwa pada tahun 1962 itu bukanlah
“Perdamaian Hudaibiyah”. Dengan demikian jika ada yang memaksakan bahwa
tahun 1962 itu sebagai Perjanjian Damai Hudaibiyah, maka secara tidak
langsung mencoreng sejarah Perjanjian Damai Hudaibiyah”. Naudzubillahi min
dzalik !

Sebaliknya dari “Hudaibiyah”, kalau mau mengkiaskan Tahun 1962 di Indonesia


ini paling juga bisa disamakan dengan kejadian kaum Bani Israil yang ketika
diperintahkan oleh Nabi Musa a.s. untuk maju ke daerah Muqaddas, tetapi
mereka tidak melakukannya, karena takut terhadap tekanan dari musuh yang
dianggap sangat kuat. Sehingga dengan penolakan terhadap perintah itu, maka
Allah menghukum kaum Bani Israil selama empat puluh tahun tidak memiliki
pemimpin. Selama empat puluh tahun tidak bisa berperang melawan musuh
(perhatikan Al-Qur’an S. Al- Maidah ayat 21-26).

“Ikrar Bersama 1 Agustus 1962″ Ijtihad, Siasat perang, Desersi atau seperti kasus
Amar Bin Yasir…?
Posted by abuqital1 under Tanya Jawab tentang NII
1 Comment

1 Votes
Tanya:

“Bagaimana jika Ikrar Bersama, 1 Agustus 1962 itu diniatkan sebagaimana


yang terjadi pada Amar bin Yasir atau juga sebagai siasat perang ?”

Jawab:

1. Bukan Ijtihad

Sebagian Tentara Islam Indonesia yang menyerahkan diri kepada musuh pada
tahun 1962 atau sebelumnya itu bukan merupakan ijtihad. Sebagai dasarnya
antara lain yaitu :

Adanya ijtihad itu apabila menghadapi masalah yang tidak didapat dalam Al-
Qur’an dan Sunnah, maka diputuskan dengan ijtihaad, dan keputusan itu tidak
menyimpang dari Qur’an dan Sunnah. Adapun kabar dari medan perang
meninggalkan Imam kemudian sengaja datang kepada musuh menyerahkan diri
serta menyatakan setia kepada mereka itu, jelas melanggar hokum Al-Qur’an
dan Sunnah Rasul Saw.
Dibolehkan ijtihad hanya untuk kebaikan dalam arti tidak boleh bertentangan
dengan hukum Islam. Sedangkan meninggalkan Imam, kemudian melaporkan
diri kepada musuh jelas itu melanggari baiat dan jelas sekali melanggar Al-
Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.
Jika melarikan diri dari medan perang, meninggalkan Imam dengan dalih ijtihad
karena terdesak, maka dimana letak pembelaan kepada pimpinan dan
perjuangan dengan pengorbanannya ?
Jika kabur dari medan perang dengan meninggalkan Imam dan banyak kesatuan
prajurit bawahanya dibenarkan dengan dalih ijtihad, sedangkan hal itu jelas
merusak Jihad, maka bagaimana bisa dikatakan tidak melanggar Qur’an ?
Apabila melarikan diri dari medan perang kemudian menyerahkan senjata
kepada musuh dibolehkan dengan dalih ijtihad terdesak, maka apa artinya
ancaman hukum bagi para pelaku Firror pada Perang Uhud dan Perang Akhzaab
sedangkan kondisinya sama terdesak ?
Pada Perang Akhzaab dan Perang Hunain pun terdesak, namun umat pada
zaman Nabi SAW diwajibkan bersabar sehingga terbunuh atau menang (Q.S. An
Nisa : 74).
Para prajurit yang meninggalkan medan perang Akhzaab mereka diklasifikasikan
sebagai kaum munafiq padahal larinya bukan ke pihak musuh, maka
bagaimanakah bagi yang meninggalkan Imam di medan perang, kemudian
melaporkan diri ke pihak musuh sehingga Imam tertangkap Tanggal 4 Juni
1962 ?
Bila setiap terdesak oleh musuh kemudian dibolehkan menyerahkan diri dengan
dalih ijtihad, maka tidak relevan dengan harapan Mati Syahid dan tidak relevan
pula dengan ayat yang bunyinya :
Jika setiap terdesak kemudian boleh menyerahkan diri kepada musuh, maka
tidak ada artinya menegakkan Hak. Dan selamanya tidak akan tegak
“Kebenaran”, jika setiap terdesak lalu menyerah. Lagi pula apa artinya begitu
lama menyusun kekuatan dengan banyak pengorbanan, jika akhirnya boleh
menyerahkan diri kepada musuh ?

Dengan sembilan point diatas itu saja sudah cukup, bahwa kabur meninggalkan
medan perang itu bukanlah ijtihad. Apalagi jika hal itu dilakukan oleh para
komandan yang bisa mempengaruhi banyak prajurit. Perhatikan ayat di bawah
ini :

“Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah : “Mereka
tidak akan berbalik ke belakang (mundur)”. Dan adalah perjanjian dengan Allah
akan diminta pertanggung jawabannya.

“Katakanlah : “Lari itu sekali kali tidak berguna bagimu, jika kamu melarikan diri
dari kematian, atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu
tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja” (Q.S. Al Ahzab :
15-16).

2. Bukan Siasat

Untuk memahami mengenai perbedaan antara yang menyerah kepada musuh


dengan yang mengatur siasat, perhatikan Al-Qur’an Surat 8 ayat 16 yang
bunyinya :

“Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) diwaktu itu, kecuali


berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan
pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa
kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam dan sangat
buruklah kediamannya itu.” (Q.S. Al Anfal : 16).

Pada ayat itu didapat kalimat “kecuali berbelok untuk (siasat) perang.”
Pengertiannya, yaitu diperbolehkannya mundur jika hal itu merupakan manuver
guna memukul balik serangan musuh. Tegasnya, ialah mundur teratur guna bisa
meneruskan perlawanan sampai datang pertolongan dari Allah. Dengan itu mesti
memanfaatkan kekuatan yang ada, baik personal maupun persenjataan. Jadi,
yang dinamakan mundur mengatur siasat itu bukannya untuk angkat tangan
dihadapan musuh, dan meletakkan senjata untuk diambil oleh musuh. Hal
sedemikian bukan memanfaatkan kekuatan yang ada, tapi meluluhkan pasukan
yang ditinggalkan para panglimanya ! Seratus prajurit menyerah, maka kecil
pengaruhnya terhadap panglima. Tetapi, jika ada di antara panglima menyerah
kepada musuh maka akan besar mempengaruhi ribuan prajurit. Dengan itu sikap
panglima sedemikian (tahun 1961-1962) tidak memiliki nilai menggabungkan diri
dengan pasukan yang ada. Memanfaatkan kekuatan yang ada bukanlah
meninggalkan Imam hingga tertangkap !.

Pada ayat lain (Q.S. Al Anfal : 16) juga didapat kalimat “atau hendak
menggabungkan diri dengan pasukan lain”. Yang dimaksud pasukan lain ialah
pasukan yang berada pada garis belakang atau pasukan yang posisinya terpisah
darinya untuk kemudian bisa bersama-sama mengadakan perlawanan kembali.
Sedangkan yang mereka lakukan pada tahun 1962 itu bukanlah menggabungkan
diri kepada pasukan yang masih bertahan, tetapi malah sebaliknya yakni
berbelok ke pihak musuh kemudian mempengaruhi yang lainnya untuk
menyerahkan diri ke pihak musuh pula. Dengan demikian bahwa kejadian pada
tahun 1961-1962 jelas bukan siasat perang. Dan itu memang perbuatan mereka
bertentangan dengan Al-Qur’an surat 8 ayat 16 tersebut di atas.

3. Tidak Sama dengan kasus ‘Amar Bin Yasir

Ikrar Bersama, 1 Agustus 1962 itu tidak bisa diniatkan sebagaimana yang terjadi
pada Ammar bin Yassir. Guna mengetahui perbedaannya, baiknya lihat dulu
cuplikan tarikh mengenai Ammar bin Yassir dikemukakan di bawah ini :

“Pada hari itu, ketika ia telah tak sadarkan diri lagi karena siksaan yang
demikian berat, orang-orang itu mengatakan kepadanya : “Pujalah olehmu
tuhan-tuhan kami !”, lalu diajarkan kepadanya kata-kata pujaan itu, sementara
ia mengikutinya tanpa menyadari apa yang diucapkannya.

Ketika ia siuman sebentar akibat dihentikannya siksaan, tiba-tiba ia sadar akan


apa yang telah diucapkannya…, maka hilanglah akalnya dan terbayanglah di
ruang matanya betapa besar kesalahan yang dilakukannya, suatu dosa besar
yang tak dapat ditebus dan diampuni lagi…, hingga beberapa saat dirasakannya
siksaan orang-orang musyrik terhadap dirinya sebagai obat pembalur luka dan
suatu kenikmatan juga…! Dan seandainya ia dibiarkan dalam perasaan itu agak
beberapa jam saja, tak dapat tiada tentulah akan membawa ajalnya…

‘Ammar dapat bertahan menangguhkan siksa yang ditimpakan atas tubuhnya,


ialah karena jiwa yang sedang berada pada kondisi puncak. Tetapi sekarang ini,
demi disangkanya jiwanya telah menyerah kalah, maka duka cita dan sesal
kecewa hampir saja menghabiskan tenaga dan melenyapkan nyawanya…

Tetapi iradat Allah Yang Maha Agung Lagi Maha TInggi telah memutuskan agar
peristiwa yang mengharukan itu mencapai titik kesudahan yang amat luhur…,
Dan tangan wahyu yang penuh berkah itu pun terulurlah menjabat tangan
‘Ammar, sambil menyampaikan ucapan selamat kepadanya : “Bangunlah hai
pahlawan …! Tak ada sesalan atasmu dan tak ada cacat…!”

Ketika Rasul SAW menemui sahabatnya itu didapatinya ia sedang menangis,


maka disapunyalah tangisnya itu dengan tangan beliau seraya sabdanya :

“Orang-orang kafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu kedalam air


sampai kamu mengucapkan begini dan begitu…?”
“Benar”, wahai Rasul”, ujar “Ammar sambil meratap. Maka sabda Rasul sambil
tersenyum : “Jika mereka memaksamu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti apa
yang kamu katakan tadi…!”

Lalu dibacakan Rasul SAW kepadanya ayat mulia berikut ini :

“Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan..”
(Q.S. An Nahl : 106).

Kembalilah ‘Ammar diliputi oleh ketenangan dan dera yang menimpa tubuhnya
bertubi-tubi tidak terasa sakit lagi, dan apa juga yang akan terjadi, terjadilah dan
ia tidak akan peduli. Jiwanya berbahagia, keimanannya di pihak yang menang !
Ucapannya yang dikeluarkan secara terpaksa itu dijamin bebas oleh Al-Qur’an,
maka apa lagi yang akan dirisaukannya…? ‘Ammar menghadapi cobaan dan
siksaan itu dengan ketabahan luar biasa, hingga pendera-penderanya merasa
lelah dan menjadi lemah, dan bertekuk lutut di hadapan tembok keimanan yang
maha kukuh…!” (Khalid Muh. Khalid, Karakteristik Perihidup Enam Puluh
Shahabat Rasulullah, halaman 250-251 cetakan XII 1996. Penerbit CV.
Diponegoro, Bandung.)

Perbedaannya…!!!

Adanya Ikrar Bersama 1 Agustus 1962 akibat dari pada pelakunya itu setelah
menyerahkan diri dengan sengaja mendatangi musuh, yang akhirnya pihak
musuh juga minta bukti hitam diatas putih kepada mereka supaya
menandatangani pernyataan untuk dijadikan bukti sejarah. Tidak bedanya
dengan sholat ashar kehabisan waktunya karena ia sengaja tidur pada waktu
ashar sehingga jika bangunnya pada waktu maghrib, hal itu merupakan
pelanggaran sebab didahului oleh kesengajaan.

Ammar bin Yassir tidak bisa disebut menyerahkan diri kepada musuh, karena
tidak sengaja mendatangi pihak musuh melainkan dia ditangkap. Jadi, apa yang
diucapkannya kepada musuh bisa disebut terpaksa (Q.S. 16 : 106). Dan
penyiksaannya pun sudah betul-betul terjadi kepada dirinya. Kasus Ammar bin
Yassir berbeda dengan kasus para mantan pimpinan / komandan TII yang sudah
menyerah kepada musuh, seperti halnya dalam Ikrar Bersama yang sudah
mereka tanda tangani. Ikrar Bersama, 1 Agustus 1962 tidak bisa di sebut
keadaan terpaksa, sebab sudah didahului oleh perbuatan sengaja mendatangi
musuh yang akibatnya musuh pun menyuruh menandatangani Ikrar Bersama.
Apalagi bila hal itu tidak didahului oleh penyiksaan, hanya ditakut-takuti yang
kenyataannya tidak terjadi. Sedang terhadap Amar bin Yassir sudah benar-benar
terjadi.

Bisa saja akibat bila tidak menandatangani Ikrar Bersama 1 Agustus 1962 itu
akan disiksa, tetapi yang menjadi penilaian hukum itu ialah penyebabnya bukan
akibatnya. Walau akibatnya sama, penyebabnya berbeda. Yang
dipertanggungjawabkan itu adalah dari hal penyebabnya, yaitu menyerahkan diri
kepada musuh. Begitupun bagi yang mengikutinya akan sama dalam hal
pertanggungjawabannya . (Q.S. 25 : 29).

Sebab itu sebagai patokan untuk diikuti supaya diri tidak terbawa sesat, harus
berdasarkan hukum, bukan karena figur seseorang. Dan jangan mengikuti
perasaan / nafsu yang senantiasa relatif (berbeda-beda), melainkan harus
berpegang pada nilai hukum sehingga bisa dipertanggungjawabkan di Akhirat.

Adakah KUKT lainnya selain Bpk. Abdul Fatah Wirananggapati (AFW) ?


Posted by abuqital1 under Membedah MKT. no. 11 Th. 1959
Leave a Comment

1 Votes

Ada yang mengira-ngira sewaktu K.U.K.T. itu ditawan tahun 1953-1963 ada lagi
yang diangkat menjadi K.U.K.T., sehingga K.U.K.T. itu tidak hanya satu.
Tanggapan kami terhadap hal itu ialah bahwa dalam Islam diwajibkan
menentukan hokum dengan kenyataan atau dengan yang sudah bukti. Dengan
itu kami bertanya, mana buktinya ada pengangkatan K.U.K.T., sewaktu K.U.K.T.
Abdul Fatah Wirananggapati ditawan dari tahun 1953-1963 selain daripada
dirinya ? Kalau ada, maka mesti dibuktikan dengan fakta sejarah mengenai apa
yang pernah dilakukan olehnya dalam tugas K.U.K.T., jika tidak berani muncul
apalagi ummat telah mencarinya, maka berarti tidak bertanggung jawab
terhadap Allah SWT, juga ummat dan Negara. Dan berarti pula telah
menggugurkan jabatannya atau desersi.

Sekiranya masih saja ada yang berkata : “Ya, pengangkatan itu ada, Cuma
sekarang orangnya entah dimana adanya…, entah sudah mati atau belum, nanti
dicari dulu, mungkin merahasiakan dirinya”. Maka, harus kita jawab lagi dengan
pertanyaan, “Mengapa mesti mencari dulu yang belum pasti, bukankah dia yang
mesti merasa bertanggungjawab hingga memberi penjelasan terhadap ummat,
apalagi ummat telah mencarinya”? “Mengapa mencari pemimpin yang sudah
tidak mau tampil di kala ummat ingin mendapat konfirmasi kebenarannya ?”

Bagi yang terus menunggu Imam belum jelas adanya, berarti tidak menjalankan
Qur’an surat An-Nisa ayat 59, yang mewajibkan Ummat taat pada pemimpin.
Sebab, selama menunggu-nunggu itu, selama itu pula tidak punya pemimpin.
Selama itu juga potensi jihadnya tak tersalurkan dengan benar.

Dalam Islam menentukan pemimpin tidak boleh dengan jalan kira-kira, tidak
jelas legalitasnya, tidak dibuktikan wujud orangnya. Memang, dalam keadaan
darurat ini, tidak setiap diri kita gampang bertemu dan mengetahui tempat
tinggalnya pemimpin karena masalah sekuriti. Tetapi, setidaknya mesti diketahui
mengenai dasar-dasar keberadaan sebagai pemimpin, sehingga ummat bisa
menentukan mana pemimpin yang sah dan mana yang tidak sah.

Pada zaman Rasulullah saw pun tidak semua ummat dengan mudah bisa
bertemu dengan Nabi saw (pemimpin), karena tempat tinggalnya jauh dari
jangkauan mereka, tetapi data-data kerasulannya itu sungguh jelas. Contohnya
sebagai berikut :
Nama : Muhammad bin Abdullah
Jabatan : Nabi yang terakhir
Fungsi / Tugas : Utusan Allah
Diangkat : Oleh Allah SWT
Keterangan legitimasi : Dicantumkan dalam Al-Qur’an

Kesimpulannya, jika tidak ada bukti, berarti tidak ada pengangkatan lagi. Dan
seandainya ada bukti, tetapi yang diangkat itu kini orangnya tidak muncul atau
karena sudah mati, maka langsung saja kita komitmen kepada yang sudah jelas
ada. Kita wajib berpegang pada Kaidah : “Fahkum
biddhowaahir”. Yakni, berhukum dengan yang nyata. Karena, setiap yang “tidak
nyata” tidak bisa dipertanggungjawabkan di Hadirat Allah SWT.

“Urusan Kepemimipinan itu nanti saja belakangan, nanti juga pemimpin itu akan
datang dengan sendirinya”
Posted by abuqital1 under Tanya Jawab tentang NII
1 Comment

Rate This

Perkataan semacam itu biasanya muncul dari satu di antara tiga keadaan
seseorang:

Pertama, Perkataan terkesan/bernada yang putus asa, yakni tidak mau susah
banyak mikir. Padahal susah atau tidak susah, mikir atau tidak mikir, pada Hari
Kiamat tiap diri akan didatangkan pimpinannya. Perhatikan Firman Allah yang
bunyi-Nya:

“(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan
pemimpinnya;dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya ditangan
kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak
dianiaya sedikitpun”. -(Q.S. Al Israa:71).

Berdasarkan ayat di atas itu, sadar atau tidak bahwa di bumi ada dua
kepemimpinan. Yakni, jika diri tidak berada dalam kepemimpinan yang haq,
berarti berada dalam kepemimpinan batal. Dengan itu sekalipun bagi yang
tidak merasakan dalam suatu kepemimpinan maka kepadanya tetap akan
didatangkan saksinya yaitu pemimpin, terlepas dari apakah itu yang bathal
atau yang haq. Dalam Al-Qur’an surat 90 ayat 10 dinyatakan yang bunyinya :
”‫“ ”وهدينه النجدين‬Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”.Dengan itu
jelas bila tidak dalam yang haq, berarti dalam bathal.

Sehubungan dengan saksi di Akhirat, kita perhatikan lagi ayat yang bunyinya:

“Dan bagaimanakah (jadinya) nanti jika diri tiap-tiap umat kami datangkan
seorang saksi, dan kami datangkan engkau sebagai saksi terhadap
mereka ?”_(Q.S. An-Nisa:41).

Sebuah riwayat menerangkan bahwa Nabi Saw pernah berkata kepada Abdullah
bin Mas’ud: “Bacakanlah Qur’an untukku !” Abdullah bin Mas’ud menjawab: Ya,
Rasulullah, bagaimana aku membacanya untuk engkau, sedangkan Al-Qur’an
itu turun kepada engkau ?” Nabi SAW menerangkan: “Aku ingin mendengarnya
dari yang lain”. Kemudian Abdullah bin Mas’ud membacakan surat An-Nisa.
Sesa’at sampai pada ayat di atas tadi (Q.S.4:41), Nabi Saw berkata:”Cukuplah
sekarang !” Ketika Abdullah bin Mas’ud menolehnya, tampak air mata beliau
berlinang-linang. Ada lagi riwayat yang menyebutkan bahwa ketika itu Nabi Saw
menambahkan perkataannya : ”Sebagai saksi selama aku berada di tengah-
tengah mereka…”.

Dari keterangan tersebut itu dimengerti Bahwa Nabi Muhammad Saw akan
menjadi saksi nanti di akhirat terhadap perbuatan umatnya sewaktu masih
dipimpin olehnya, tetapi sesudah mereka ditinggalkan wafat oleh Rasulullah
SAW, maka persaksian itu bukan haknya lagi. Pada hari kiamat kelak Nabi Saw
akan dikejutkan oleh orang-orang yang sewaktu hayatnya Rasul s a w dipandang
sebagai orang-orang yang tetap ta’at pada Hukum-Hukum Allah, tetapi sesudah
Nabi s a w itu wafat, dan mereka itu menghadapi rupa-rupa cobaan ternyata
dari perbuatan mereka itu diantaranya banyak didorong oleh nafsu duniawi,
sehingga melanggar aturan-aturan Islam. Mengenai mereka itu kelak Nabi SAW
akan berkata kepada Allah SWT sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Isas as:

“…aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada diantara mereka.
Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi
mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu”.-(Q.S. Al
Maidah:117).

Lebih lanjut kita perhatikan ayat yang bunyinya:

“Allah berfirman:”Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi


sebagian yang lain ….”.-(Q.S. Al A’raf:24).
Dari ayat di atas itu dimengerti, disadari atau tidak bahwa di dunia ini terjadi
permusuhan. Yaitu antara “Hizbullah (Q.S.5:56)dengan
Hijbusyaithooan(Q.S.58:19), antara yang taat sepenuhnya terhadap hukum Allah
dengan manusia-manusia yang mendurhakai-Nya.

“Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-
syaitan(dari jenis)manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikan
kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu
(menyesatkan). Jikalau Robbmu menghendaki, niscaya mereka tidak
mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka
kerjakan”._(Q.S. Al An’am:112).

Dari ayat itu dipahami bahwa golongan syaitan dari jenis manusia itu adalah
umum, artinya tidak mesti dengan nama yang khusus, tetapi bisa saja dengan
sebutan yang sesuai dengan kondisi dan situasi jamannya. Dengan demikian
dalam versi apapun namanya, baik itu mengatas-namakan Islam atau bukan,
tetapi jika keberadaannya tidak memiliki ketegasan memihak kepada yang
sepenuhnya ta’at terhadap Allah, maka tetap dalam kepemimpinan “syetan”!
Dalam arti tidak memiliki “Furqoon”.

Pribadi mu’min tidak lepas dari kewajiban memiliki pemimpin. Apalagi untuk
menjalankan hukum-hukum seperti “Hudud (Q.S.5:38), Qishas (Q.S.5:45),
Jinayah (Q.S.24:2)”. Bisa tegaknya hukum-hukum itu jika tegak kedaulatan
Islam. Bisanya tegak kedaulatan Islam jika didahului oleh adanya kepemimpinan
yang “ Furqon.” Sebab itu bila tidak butuh dengan kepemimpinan sedemikian,
bukanlah seorang Islam, sebab tidak menjalankan Qur’an surat 4 An-Nisa ayat
59).

Kedua, Pernyataan tersebut keluar dari yang belum paham tata-cara jihad dalam
Islam. Mengapa ? Karena, perkataan ini muncul biasanya dari yang kelelahan
mencari pemimpin. Apalagi jika yang diikuti selama ini adalah orang yang tidak
tahu atau tidak mau tahu dengan aturan, berangan-angan melamunkan seorang
pemimpin ideal. Akhirnya bergonta-ganti pimpinan, maka ujung ceritanya
adalah kenyataan di atas: “Sudahlah tidak usah meributkan pimpinan, yang
penting kerja saja !”

Padahal jihad itu harus dibawah komando Imam (Pemimpin Negara). Para
sahabat saja sampai terpaksa menunda pengurusan jenazah Rasul SAW.
terlambat dua hari setengah, karena menunggu wujudnya kepemimpinan guna
melakukan jihad fisabilillah.

Ketiga, Bisa juga perkataan di atas tadi itu timbul dari perasaan bahwa
ibadahnya sudah sempurna atau tidak lagi mempunyai dosa, karena anggapan
cukup dengan menjalankan ibadah puasa Bulan Ramadhan. Sehingga merasa
tidak perlu adanya pemimpin. Hampir banyak yang hapal akan sabda Nabi Saw
yang bunyinya:
‫)متفق عليه‬.‫)من صام رمضان إ يمانا واحتسابا غفرله ماتقدم من ذنبه‬.

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar keimanan dan tepat
perhitungan waktunya, diampunilah baginya apa-apa yang terdahulu daripada
dosanya.” (H.R.Bukhori-Muslim).

Pengertian dari hadist di atas, yaitu dia berpuasa sesuai dengan aturannya, juga
posisi dirinya berada dalam kepemimpinan yang terpisah dari kepemimpinan
yang memusuhi hukum Islam. Umpama saja seorang guru kelas 2 S.D. IV
berkata kepada muridnya: “Barangsiapa yang bisa menggambar mobil seperti
gambar mobil ini maka akan memperoleh hadiah buku tebal ini”. Jelas, hadiah
cuma diberikan kepada yang berhasil mengerjakannya dari murid kelas 2 S.D. IV.
Jadi, tidak masuk akal kalau ada murid dari kelas atau sekolah lain menggambar
mobil memperoleh hadiah buku tebal yang dijanjikan oleh guru kelas 2, S.D. IV
tadi.

Nabi SAW tidak mengemukakan adanya kewajiban berpuasa kepada para


pengikut Abu Jahal cs. Karena itu, apa yang disabdakannya juga tidak ditujukan
kepada yang masih mengabdikan dirinya bagi “Kebangsaan Quraiys Makkah”
sehingga anti pemerintahan Islam di Madinah. Tidak ditujukan kepada yang anti
terhadap negara yang didasari Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Tidak ditujukan
kepada yang beriman akan sebagian ayat serta ingkar kepada sebagiannya.
Tidak pula ditujukan kepada mereka yang menjadi alat pemerintahan yang anti
terhadap hukum-hukum Al-Qur’an sehingga ikut terlibat menjegal tegaknya
hukum Islam secara keseluruhan.

Keempat, Perkataan di atas tadi muncul dari orang yang tidak mengerti tentang
pentingnya nilai kepemimpinan dalam Islam.

Bila menyusun Shaf tanpa harus mempertimbangkan dasar kepemimpinan,


maka atas dasar apa penyusunan itu dilakukan ? Atas dasar inisiatip pribadi ? Ya,
kalau pribadi bisa-bisa seribu pribadi jadi pemimpin, bahkan lebih dari seribu….
Bila dasarnya inisiatip maka ini jelas bukan logika rakyat Negara Islam yang
mendasarkan dirinya pada keta’atan yang lengkap pada Alloh, Rosul dan Ulil
Amri (S.4:59). Bagaimana bisa tertib kepemimpinan, kalau awalnya saja sudah
tidak teratur, berjalan bagaimana kemauan sendiri sendiri !

Syarat berdirinya negara, salah satunya adalah adanya pemimpin. Jika syarat
utama ini diabaikan/dianggap tidak mendesak, maka secara langsung orang
yang berpendapat begitu, meruntuhkan negara itu sendiri. Jadi, perjuangan apa
yang sedang disusun itu ?

Sepanjang sejarah sunnah, gerakan ummat itu muncul dari adanya pemimpin.
Sebelum adanya kesatuan muslimin, baik itu di Makkah ataupun di Madinah,
didahului adanya pemimpin.
Menjawab pertanyaan di atas tadi, perhatikan lebih dahulu ayat-ayat di bawah
ini:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati
mereka untuk mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada
mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah
diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas
mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka
adalah orang-orang yang fasik.”–(Q.S. Al hadid:16).

“Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati.
Berkata Musa : “Hai kaumku, bukankah Robbmu telah menjanjikan kepadamu
suatu janji yang baik ? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu
atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Robbmu menimpamu, lalu kamu
melanggar perjanjianmu dengan aku ?”. –(Q.S. Thaahaa:86).

Dari kedua ayat di atas itu diambil arti, sebagai mukmin harus bisa bertahan
dalam berpegang pada ketetapan Allah, meski waktu telah begitu lama
melampauinya. Jika dikaitkan dengan lamanya diri mencari kejelasan pimpinan,
sementara belum juga mendapatinya maka dalam hal itu tidak boleh berkata
yang menyalahi dari ketetapan Allah, seperti halnya sudah tidak perlu adanya
pemimpin.

Mestinya, jika diri sudah berusaha mencari pemimpin yang sebenarnya


sedangkan belum juga didapati, maka berkatanya pun harus mengandung unsur
perlu adanya pemimpin sehingga padanya didapat “nilai kesabaran”. Perhatikan
ayat yang bunyinya :

“Dan di antara mereka kami jadikan pemimpin untuk memberi petunjuk dengan
perintah kami pada waktu mereka sabar. Dan mereka yakin kepada ayat-ayat
Kami.” –(Q.S. As Sajdah:24).

Meskipun ayat di atas itu terkait dengan kisah Bani Israil, namun sejarah tadi
termaktub dalam Al-Qur’an, maka sudah seharusnya segenap Ahlul Qur’an
mengambil hikmah. Ayat di atas memberikan gambaran pada kita bahwa
munculnya pemimpin sebagai kekuatan de fakto adalah hasil proses kesabaran
yang panjang. Untuk jelasnya kita ulangi lagi ayat yang bunyinya:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati
mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun(kepada
mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah
diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas
mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka
adalah orang-orang fasik.”__(Q.S. Al Hadid:16).

Ayat di atas itu mengingatkan kita bahwa setiap mukmin hendaknya bersegera
menerima kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka. Jangan
seperti Yahudi / Nasrani, di mana ketika datang kebenaran pada mereka, hati
mereka bukan terbuka, malah menutup dan mengeras saking lamanya mereka
berketerusan dalam kegamangan tanpa informasi. Ujung ayat dijelaskan bahwa
menolak kebenaran yang baru datang , dan tetap berpegang pada informasi
lama yang gamang tadi akan menjadikan keliru dalam melangkah dan
mengambil keputusan, jadilah orang fasik dalam pandangan-Nya. Naudzubillaahi
min dzalik.

Kembali kepada persoalan kita, penjelasan ini pun akan membelah ummat
menjadi dua golongan :
Yang dengan hati terbuka menerima perundang-undangan NII.
Yang menutup dan mengeras, karena terpaut dalam kekuasaan dengan waktu
yang lama mengambil keputusan diluar hukum tata aturan NII.

Kepada yang enggan menerima hanya karena terlanjur lama berpegang pada
“tradisi lisan” para tokoh mereka, cobalah bertanya pada diri, patutkah
menamakan diri gerakan Negara Islam bila tidak ada dasar kejelasan
kepemimpinannya ? Dan tahukah anda bahwa sikap keras hati menolak aturan
itulah yang memperpanjang kemelut permusuhan dan saling membenci di
antara umat ? Bukankah umat Nasrani pun terus menerus dalam permusuhan
dan kebencian karena mereka melalaikan sebagian peringatan (Q.S.5/14)
sebagaimana anda pun telah memisahkan NII dengan kesempurnaan
aturannya ?

Dalam diri kita ada hawa nafsu yang harus diperangi. Jika tidak bisa
mengalahkannya, maka begitu datang kejelasan hukum, bukannya bersyukur
dan membersihkan diri, tetapi malah berkelit-kelit mengikuti nafsu yang telah
lama dalam keterlanjuran. Karena itu, terhadap mereka yang selalu menghindar
dari kepemimpinan yang berdasarkan perundang-undangan NII, maka
tinggalkan saja, dan kita berpegang pada ayat yang bunyinya:

” Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Robbmu dan kepada surga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang bertaqwa.”-
(Q.S. Ali Imron:33).

Satu Tanggapan to ““Urusan Kepemimipinan itu nanti saja belakangan, nanti


juga pemimpin itu akan datang dengan sendirinya””
sunan Says:

Desember 3, 2009 at 11:12 pm

ah itu cuma pembenaran NII sendiri yg mengklaim dirinya benar. Setiap


kelompok yg tujuan dakwahnya pada kekuasaan (neo khowarij) menggunakan
dalil yg sama, takwil yg sama, seperti HTI,IM,LDII,MMI, satu guru satu ilmu,
khowarij. Meng kafirkan umat islam diluar jamaahnya. Jangan memaksakan diri
mau dianggap lembaga imamah lha wong ngga punya apa2, wilayah ngga
punya, kekuasaan ngga punya, pemimpinnya ngga jelas. Udah lah dakwah dulu
tentang tauhid, tuh lihat umat islam masih pada nyembah kuburan, ramalan
bintang, bertawasul pada mayit, baca annur 55, kekuasaan tidak akan Alloh
berikan kalo belum bertauhid. Sadarlah akhi…

Abuqital1:
“Belumkah datang waktunya bagi orang -orang yang beriman, untuk tunduk hati
mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada
mereka), dan supaya mereka jangan seperti orang-orang yang sebelumnya telah
diturunkan Al-Kitab kepada mereka kemudian berlalulah masa yang panjang atas
mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka
adalah orang-orang fasik.” (Q.S.57:16 ).

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu
menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah
sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk
Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan
bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang
kamu kerjakan”. (QS. 5:8)

Jadi, “TAUHID YANG SEPERTI APA YANG AKHI MAKSUD”. Proklamasi NII, Qonun
Asasi, Qonun Uqubat (Stafrecht), dan Pedoman Darma Bakti (PDB) itulah
perundang-undangan NII.

Janganlah berkomentar seperti orang jahiliyah, jika ada yang menyalahi Syar’i
dari konstitusi NII tersebut kemukakanlah hujjahnya, jangan OMONG DOANG.
Insya Alloh kami siap bermujadalah jika memang akhi mau. Silakan kontak ke
abuqital1@gmail.com

“Serulah (manusia) kepada jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang
baik dan BANTAHLAH mereka dengan CARA YANG BAIK. Sesungguhnya Robb-
mu. Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya
dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS.
16:125)

Menganalisa Perintah Imam Awal SMK tentang Menyerahkan Diri Kepada Musuh
Posted by abuqital1 under Rujukan NII
[3] Comments

Rate This

Menyerahkan diri kepada musuh jelas bukan perintah Imam. Dan seandainya itu
perintahnya maka tidak boleh dita’ati. Sebagai dasarnya yaitu : Sabda Nabi saja
bisa menjadi Dho’if bila bertentangan dengan ayat, apalagi sekedar perkataan
Imam. Seandainya Imam memerintahkan menyerah, maka “perintah” itu batal
demi hokum ! (perhatikan Q.S. 47 : 35).
Perintah menyerah, bertentangan dengan amanat Imam tahun 1959 di hadapan
para panglima dan prajurit. Yaitu : “Apabila Imam memerintahkan menyerah,
maka tembaklah ia sebab ia iblis”.
Imam memerintahkan menyerah itu bertentangan dengan kenyataan, sebab
nyatanya Imam itu adalah tertangkap di Medan Perang, setelah beberapa
panglimanya berkhianat, datang ke pihak musuh.

“Sekiranya” ada yang meyakini bahwa Imam memerintahkan menyerah kepada


musuh, maka berpeganglah kepada : (a) Al-Qur’an Surat 33
ayat 144 yang bunyinya :“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul,
sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat
atau dibunuh kamu berbalik kebelakang? Barangsiapa yang berbalik kebelakang,
maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun ; dan
Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Q.S. Ali
Imron : 144). Maksud dari ayat ini, sekalipun Nabi SAW yang apabila terbunuh di
medan perang, maka tentara Islam tidak boleh berhenti mengadakan
perlawanan. Yakni, tidak boleh kembali kepada system pemerintahan jahiliyah,
melainkan harus menentukan lagi pemimpin baru untuk melanjutkan perang. (b)
Kita berjuang bukan karena pemimpin, melainkan karena perintah Allah. Apabila
pemimpin itu mengajak kepada kesesatan, tidak perlu diikuti, sebab kelak di
“Jahannam” dia akan berlepas diri (Q.S. 2 : 166, Q.S. 14 : 21, Q.S. 40 : 48). Dari
itu, tidak ada jaminan di Hadirat Allah, bila kita berhenti dari berjihad, karena
mengikuti pemimpin atau para komandan yang pada kabur menyerahkan diri ke
pihak “Jahiliyah”. (c) Sabda Nabi Saw yang bunyinya : “Barangsiapa
memerintahkan kamu dengan perbuatan durhaka, maka janganlah kamu
menta’atinya”. (HR Imam Ahmad, diambil dari kitab Fathur Rohman, Juz XIV No.
147).
Pada tanggal 4 Juni 1962, Imam itu dalam keadaan sakit. “Oleh Atjeng Kurnia
Letda Suhanda ditunjukkan sebuah gubug dimana berdiam pemimpinnya.
Ternjata ketika itu Kartosuwiryo telah pajah sekali keadaanja, akibat penjakit
paru-paru dan ambeian jang dideritanja dan sebuah luka dipahanja” (……….
terbitan 2 Nopember 1962, tahun ke III halaman 21). Imam tidak berdaya
sehingga tertangkap kemudian diboyong oleh musuh. Maka, sejak itu Imam
berhalangan dari menunaikan tugasnya. Juga sejak saat itu pula tugas sebagai
KPSI (Komando Perang Seluruh Indonesia) langsung beralih kepada yang
tercantum dalam Maklumat Komandemen Tertinggi No. 11 Tahun 1959 atau
untuk sementara putus hubungan, maka kembali keamanat Imam tahun 1959 di
hadapan para panglima. Dan jika sudah bertemu dengan yang sesuai
berazaskan MKT No. 11 tahun 1959, maka kepemimpinan diserahkan
kepadanya.
3 Tanggapan to “Menganalisa Perintah Imam Awal SMK tentang Menyerahkan
Diri Kepada Musuh”
Masronie Says:

September 1, 2009 at 7:47 am

Ass. .mau tanya di mana saya bisa bergabung di nii,tlng beri pejelasan tentang
nii abu toto dan apa perlu saya masuk di situ?
Balas
Masronie Says:

September 1, 2009 at 7:48 am

Ass. .mau tanya di mana saya bisa bergabung di nii,tlng beri pejelasan tentang
nii abu toto dan apa perlu saya masuk di situ?tlng di bls lewat email saya. .

abuqital1:
Sebenarnya jika anda sudah memahami landasan perjuangan NII dan landasan
kepemimpinan NII akan terjawab dengan sendirinya. Saya tidak sekedar hanya
melihat dari sosok pribadi Abu Toto (Panji Gumilang) tetapi melihat dari tanzhim
(system) yang berjalan di Az Zaitun tersebut YANG SUDAH JELAS SESAT DAN
MENYESATKAN. Ini sengaja dibuat oleh Pihak musuh Islam pada zaman Suharto
untuk MEMBUAT CITRA ISLAM semakin JELEK dihadapan ummat Islam.

Kita juga tahu pada zaman Sukarno pun demikian DI/TII disebut “Gerombolan”
yang sengaja diciptakan supaya “citranya jelek”.

Dan sekarang pun sama pada zaman SBY adaya upaya “pencitraan JELEK”
dengan memakai nama “Terosisme”

Jika anda ingin bergabung yang pertama kali adalah Ikhlash karena semata-mata
Ibadah kepada Alloh lalu anda terus mengikuti kegiatan dakwah yang sudah
jelas AL WALA dan AL BARO nya. Insya Alloh ‘Azza Wa Jalla akan memberi
petunjuk kepada anda.
Balas
arsalan Says:

Januari 29, 2010 at 1:07 am

ABU QITAL ANTUM MENYEBUTKAN BAHWA SATU2NYA SIROTHOL MUSTAQIM


ADALAH BAIAT PD IMAM PLM T DR MKTII ADALAH SUATU TAASUB GOL YG LUAR
BIASA..!EMANG MEREKA MAKSUM..?JGN MENIPU DONG..!MANA
PEMERINTAHANMU SEKARANG INI…?KAMU LAYAK NGOMONG BEGITU JIKA KAMU
PUNYA WILAYAH.YG MANA HUDUD BISA DITEGAKKAN…
NII MU SEKARANG INI BISU…KETINGGALAN JAMAN DAN MENYIMPANG…..NII MU
MANA CAWE2 MEREKA ATAS KETERTINDASAN UMAT ISLAM DI INDONESIA..?
MANA SEPAK TERJANGMU KTK ALLAH DI HUJAT O SI DUR N MUSDAH HINA…?APA
KAMU MAU BERTANGGUNG JAWAB KELAK DI HADAPAN ALLAH..?TOLONG…JGN
MENGIGAU TERUS…BANGUN DAN BUKA MATA…LIHAT REALITAS….!
Balas

Apakah NII terpecah-pecah…?


Posted by abuqital1 under Tanya Jawab tentang NII
1 Comment

Rate This

Tanya :
“Ada yang mengatakan bahwa N I I itu sudah terpecah-pecah. Adakah itu benar
dan bagaimanakah yang sesungguhnya ?”

Jawab:

Tidak benar ! Tegaknya NII berdasarkan undang-undang. Dengan undang-


undang itu, tidak berpecah-pecah. Melainkan, tetap bersatu, yang
pemerintahannya berjalan menurut dasar yang ditetapkan dalam “Kanun
Azasy”, dan sesuai dengan pasal 3. dari Kanun Azasy tadi, sementara belum
ada Parlemen(Majlis Syuro), segala undang-undang ditetapkan oleh Dewan
Imamah dalam bentuk maklumat-maklumat yang ditandatangani oleh Imam.
Perhatikan dua petikan ayat di bawah ini:

“Dan berpegang teguhlah kamu dengan tali (batas ketentuan) Allah secara
bersama-sama dan jangan bercerai-cerai…” (Q.S.3:103).

“Hai orang-orang beriman ! Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil Amri
dari (golongan) kamu….” (Q.S.4:59).

Berpegang teguh dengan batas ketentuan dari Allah, dikaitkan dengan surat An-
Nisaa’ ayat 59 yakni taat kepada Allah serta ulil amri minkum yaitu
kepemimpinan umat Islam. Wadah kepemimpinan umat Islam untuk sementara
di Indonesia ini yaitu Negara Islam Indonesia (NII). Dari Al-Qur’an surat 3 Ali
Imran ayat 103 dan surat An-Nisaa’ ayat 59 disimpulkan bahwa yang berpegang
dengan undang-undang itu tetap bersatu, dan yang bercerai-cerai itu yang tidak
berundang-undang. Dan yang tidak berundang-undang itu bukanlah NII, walau
mengakunya sebagai warga NII.

Adapun yang mengatakan NII telah berpecah-pecah, karena tidak menilai


undang-undangnya, melainkan melihat dari adanya beberapa kelompok yang
mengatas-namakan NII. Padahal bagaimanapun banyaknya yang mangatas-
namakan NII, tetapi jika sumber kepemimpinannya itu tidak berdasarkan
kepada peraturannya, sebagaimana dalam Kanun Azasy dan PDB (Pedoman
Dharma Bhakti), maka bukanlah NII. Adapun sebab terjadi banyaknya kelompok
yang mengklaim NII di antaranya ialah:

1). NII yang sesungguhnya berdasarkan undang-undang belum memperoleh


kemenangan secara de facto, sehingga belum banyak dikenal oleh seluruh umat
Islam Indonesia.

2). Banyak yang belum memahami nilai kepemimpinan dalam Islam, juga belum
tahu perundang-undangan serta wawasan sejarah NII yang sebenarnya. Sebab
itu dalam jawaban yang lalu disebutkan adanya ITSLA (Islam Tujuan Sistem
Lepas Aturan).

3). Adanya orang-orang yang sudah tahu perundang-undangan mengenai


kepemimpinan NII, tetapi demi tujuannya, tetap tidak mau kembali kepada
undang-undang walau mengatas-namakan dirinya NII. ngan antara Wasiat Imam
SM. Kartosuwiryo tentang “Prajurit Petit” dengan “MKT. no. 11 Thn. 1959″
Posted by abuqital1 under Membedah MKT. no. 11 Th. 1959
[5] Comments

Rate This

Kaitannya antara MKT No. 11 tahun 1959 tentang estapeta panglima tertinggi
dengan amanat Imam di hadapan para panglima tahun 1959 dalam point 5
antara keduanya tidak bertentangan. Sebelum melanjutkan uraitan ini, kita
kemukakan dulu bunyi amanat Imam tahun 1959 dalam point 5. yaitu, “Jika
Imam berhalangan, dan kalian terputus hubungan dengan panglima, dan yang
tertinggal hanya prajurit petit saja, maka prajurit petit harus sanggup tampil jadi
Imam”.

Kalimat “harus sanggup tampil jadi Imam”, mengacu kepada kegigihan berjuang
dan kesanggupan bertanggung jawab. Artinya, sanggup memimpin perjuangan
tanpa menunggu panglima yang belum ditemukan. Kalimat di atas bukanlah
sebagai pijakan dasar bagi estapeta kepemimpinan dalam arti jabatan formal
kenegaraan secara permanen.

Bisa dibayangkan bila dalam satu pertempuran ada seratus orang prajurit
terputus hubungan dengan panglima, kemudian dengan alasan wasiat Imam
tadi, sebulan kemudian mereka keluar menemui teman-temannya dan masing-
masing mendakwakan diri sebagai “Imam”. Akan bagaimanakah jadinya negara
ini ? Bila ini dijadikan pijakan tanpa disertakan undang-undang lagi, maka tiap
orang yang berhati bengkok serta pintar memanfaatkan kesempatan punya
alasan untuk tampil jadi Imam. Kalau ditanya apa dasar keimaman anda ? Lalu
dengan enteng menjawab “dulu saya pernah terpisah dari panglima”. Bisakah
kita menerima kenyataan ini ? Ingatlah ! Imam (awal) bicara begitu, di hadapan
yang sudah dianggap mengerti aturan, bukan di depan manusia awam yang
buta aturan negara.

Jika kita kembalikan kepada Al-Qur’an surat Al-Anfaal ayat 16, bahwa yang
terpisah dari kesatuan pasukan punya kewajiban untuk bergabung. Artinya,
menginduk kepada barisan terpimpin yang masih tersisa, bukan sekonyong-
konyong tampil ingin memimpin. Dengan demikian “kesanggupan tampil jadi
Imam” hal itu berlaku sebelum bergabung, berjumpa denga “Shaf” yang
berdasarkan aturan. Namun, begitu Shaf/barisan terpimpin ditemukan. Ia harus
bergabung padanya. Jika demikian baru akan terpelihara kesatuan komando di
atas aturan negara yang memberikan hak legalitas kepemimpinan.

5 Tanggapan to “Hubungan antara Wasiat Imam SM. Kartosuwiryo tentang


“Prajurit Petit” dengan “MKT. no. 11 Thn. 1959″”
ical Says:

November 25, 2009 at 8:15 am

klo kondisi hari ini dapatkah qta mndpatkan prajurit petit yg sanggup tampil jadi
imam dgn jauhnya jarak waktu antara tahun 1949 s/d sekarang?????
Balas
ical Says:

November 25, 2009 at 8:17 am

apakah juga bisa juga bisa qta syah kan secara syar’i atas kepemimpinan
tersebut?
Balas
abie nugraha Says:

November 26, 2009 at 1:48 pm

slm syg dariku untk my found of father..akn sll ada cita2ny dlm dadaku..

Abuqital1:
Keimanan itu bukan sekedar dari keyakinan dan semangat di hati saja tetapi
harus dibuktikan melalui lisan dan perbuatan. Segeralah bergabung dengan NII
melalui Pemerintah NII yang sesuai perundang-uundangan NII.
Balas
ical Says:

Desember 1, 2009 at 7:03 am


assmlkum mhn maaf pertanyaan saya belum dijawab ya klo ga keberatan
jdijawabnya ke email sya wassalam

Abuqital1:
Wa ‘alaikum salam Wr. Wb.
sudah dijawab via email akhi. Jazaakalloh atas partisipasinya.
“dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Robbmu dan kepada surga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang
bertakwa.” (QS. 3:133)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-
malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.” (QS. 66:6)

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam Keadaan


Menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya : “Dalam Keadaan
bagaimana kamu ini?”. mereka menjawab: “Adalah Kami orang-orang yang
tertindas di negeri (Mekah)”. Para Malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu
luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. orang-orang itu tempatnya
neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. 4:97)
Balas
ical Says:

Desember 2, 2009 at 4:40 am

ustad ana blum terima emailnya, tapi tetap ane tunggu coz banyak banget
pertanyaan yang ana sendiri belum paham semoga akhi bisa membantu
wassalam.

Abuqital1:
maaf akhi kemarin salah ketik. insya Alloh sekarang sudah terkirim. silakan jika
ada pertanyaan lewat email saja. Penjelasan dan Tinjauan Estapeta
Kepemimpinan NII yang INKONSTITUSIONAL
Posted by abuqital1 under Tanya Jawab tentang NII
[6] Comments

2 Votes

Tanya:

“Tolong jelaskan alasan aktualisasi estapeta kepemimpinan NII yang


INKONSTITUSIONAL”
Jawab:

“sebelum menjelaskannya, bagi yang baru membaca pertanyaan ini


DISARANKAN terlebih dahulu membaca ESTAPETA KEPEMIMPINAN NII.

Untuk mengatakan apakah kepemimpinan NII itu konstitusional atau


inkonstitusional harus kita ukur dengan 4 landasan, yaitu:
Landasan idiil (ideologi), yakni Al Quran dan As Sunnah
Landasan Konstitusi, yakni Qonun Asasi NII dan Strafrecht
Landasan Operasional, yakni Pedoman Darma Bakti (PDB) yang berisi Maklumat-
maklumat Komandemen Tertinggi (MKT)
Landasan Historis, yakni data dan fakta

Adapun alasan adanya aktualisasi estapeta kepemimpinan NII yang


INKONSTITUSIONAL sebagai berikut:

Alasan pembatalan Estafeta Kepemimpinan yang dipangku mulai dari Abdul


Qohar Muzakkar sampai Tahmid Rahmat Basuki dan Toto Abdus Salam (Syeh
Panji Gumilang) adalah disebabkan ketidak konstitusionalannya (diangkat
berdasarkan apa?, diangkat oleh siapa?, pada saat diangkat jabatannya apa?)
dan tidak memenuhi 4 parameter yang ada,antara lain sebagai berikut :
Abdul Qohar Muzakkar pada saat diangkat beliau bukan lagi seorang KPWB
(Panglima yang kedudukannya dianggap setaraf dengan AKT) karena pada
tanggal 10 Dzulhijjah 1381 H bertepatan 14 Mei 1962 M telah memisahkan diri
dari NII dengan memproklamasikan Republik Persatuan Islam Indonesia(RPII).
Beliau menyatakan sebagai Imam RPII.
Agus Abdullah kedudukan awalnya sebagai KPWB 1 sebagaimana termaktub
dalam MKT No.11 1959 beliau berhak diangkat menjadi Imam tetapi pada
tanggal 1 Agustus 1962 beliau telah menandatangani ikrar bersama kepada
pemerintah penjajah RI dan menyatakan setia kembali kepada pancasila maka
kedudukannya sebagai KPWB dan pengangkatan beliau menjadi Imam adalah
BATAL.
Daud Beureuh pada saat diangkat menjadi Imam bukan lagi menjabat sebagai
KPWB karena pada tanggal 21 September 1953 beliau bergabung dengan
DI,kemudian pada tanggal yang sama di Th 1955 beliau membentuk Negara
bagian Aceh (RIA) yang diproklamirkan pada tanggal 15 Agustus 1961 dan
sebelum beliau memproklamirkan Republik Islam Aceh (RIA) pada tanggal 8
Februari 1960 beliau bergabung dengan RPI yang dipimpin oleh Syarifuddin
Prawiranegara. Maka kedudukannya sebagai KPWB dan pengangkatan beliau
menjadi Imam BATAL.
Adah Zaelani yang kedudukan awalnya sebagai AKT sebagaimana termaktub
dalam MKT No.11 1959 beliau berhak diangkat menjadi Imam tetapi kedudukan
beliau sebagai AKT dan pengangkatannya sebagai Imam BATAL karena pada
tanggal 28 Mei 1962 beliau menyerah dan menandatangani ikrar bersama
kepada pemerintahan penjajah RI dan menyatakan setia kembali kepada
pancasila kemudian pada tanggal 1 Juli 1979 dalam musyawarah penetapan
system Direksi / koordinator beliau diangkat sebagai Direktur Utama dan Tahmid
Rahmat basuki sebagai KSU. Semua jajarannya tertangkap pada Th.1981 karena
kasus Komando Jihad.
Pengangkatan Ajengan Masduki sebagai Imam BATAL karena tidak sesuai
dengan isi MKT No.11 1959 yaitu syarat pengganti Imam harus diambil dari
KUKT/AKT/KSU/KPWB sedangkan Ajengan Masduki tidak menjabat salah satu dari
ketentuan tersebut maka beliau tidak dapat diangkat sebagai pengganti Imam.
Pengangkatan Abu Toto(ASPG) sebagai Imam BATAL karena tidak sesuai dengan
isi MKT No.11 1959 yang kedudukan awalnya ASPG tidak menjabat sebagai
KUKT/AKT/KSU/KPWB apalagi yang mengangkat beliau menjadi Imam adalah
Adah Zaelani yang sudah jelas ketidak absahannya sebagai Imam
Pengangkatan Tahmid Rahmat Basuki sebagai Imam BATAL karena tidak sesuai
dengan isi MKT No.11 1959 yang kedudukan awalnya adalah Pasukan Bantala
Seta/Pengawal Imam Bukan sebagai KUKT/AKT/KSU/KPWB.

Apabila komitmen kepada suatu kepemimpinan dengan rujukan karena sebagai


golongan yang lebih banyak pengikutnya, sungguh bertentangan dengan prinsip
tauhid. Di akhirat golongan yang banyak tidak menjadi jaminan keselamatan
menghadapi Hisab Allah SWT. Semua rujukan yang diperselisihkan akan
dipertanyakan oleh Allah SWT. Apakah benar-benar karena keyakinan
berdasarkan Sunnah Rosululloh SAW serta Sunnah Khulafaur Rasyidin Al
Mahdiyiin juga ilmu perundang-undangan NII, atau hanya berdasarkan golongan
atau hal-hal lain yang diluar lillahi ta’aala, semuanya diketahui Allah SWT. Di
dunia ini kita bisa saja berbohong, mencla-mencle, berliku-liku atau
memanipulasi perkataan yang sudah dikeluarkan mulutnya sendiri, karena di
dunia ini banyak kesempatan bagi syaithan menggoda kita. Tetapi kelak di
akhirat syaithan itu melepaskan diri. Maka kita harus benar-benar memahami
dan mengerti sebelum mengambil suatu langkah.

Satu lagi, mari kita ingat kembali amanat Assyahid Imam S.M Karrtosoewiryo
dalam Penjelasan 3 : Ancer-ancer MKT No.11 tahun 1959:

“Ikutilah zaman, yang beredar secepat kilat kejarlah waktu, dan janganlah
biarkan waktu mengejar-ngejar kita! Gunakanlah setiap saat dan detik untuk
menunaikan perang mentegakkan Kalimatillah, dalam bentuk dan sifat apa dan
manapun! Ketahuilah! Sekali lampau, ia tidak berulang kembali! Songsonglah
kedatangan kembali Imam Plm.T.dengan realisasi M.K.T Nomor 11 ini!
Tunjukkanlah bukti patuh setiamu kepada Allah! Kepada Rosululloh SAW.! Dan
kepada ulil amrimu, Ulil Amri Islam, tegasnya : Imam-Plm.T.! Itulah jalan Jihad Fi
Sabilillah, satu-satunya Sirathal-Mustaqim!”.

Tuduhan terhadap NII Yang tidak mengikuti Salafush Sholih


Posted by abuqital1 under Tanya Jawab tentang NII
[6] Comments

2 Votes
Sejak mula diproklamasikan NII menjadikan Islam sebagai asas negara dan
menjadikan Al Quran dan Hadits shahih menjadi hukum tertinggi yang berlaku di
dalamnya (Lihat Qonun Asasi Bab q pasal 2 ayat 1 dan 2). Bagi seluruh warga
NII, Al Quran dengan penafsirannya yang benar, Al Hadits dengan keshahihannya
adalah hukum tertinggi dalam Negara Islam Indonesia, seluruh rakyat berjuang
wajib mempelajarinya dan berpegang teguh padanya.

Bila kehidupan yang dicita-citakan para ulama salaf adalah kehidupan seperti
pada tiga kurun terbaik, yakni masa Nabi dan shahabat, masa Tabi’in dan Tabi’ut
Tabi’in, maka ingatlah bahwa mereka itu semuanya berada di wilayah Darul
Islam, tidak ada seorang pun dari ulama salaf di zaman itu yang rela menjadi
warga Darul Kufr. Maka demikianlah keadaan Salaf yang Mujahidin NII cita-
citakan, generasi salaf adalah generasi Darul Islam yang berjuang untuk sebuah
Bumi Islam di mana Al Quran dan sunnah berdaulat penuh!! Untuk mencapai itu
rakyat Islam berjuang harus giat berjihad, berijtihad dan bermujahadah.
Berjuang bahu membahu untuk mencetak figur yang cocok menjadi rakyat
negara Islam, struktur yang cukup dan cakap menjalankan syari’at Islam dengan
tertib dan menentramkan, serta militer yang mampu menjaga pertahanan dan
keamanan.

Kesetiaan terhadap Darul Islam adalah persoalan mutlak dalam cermin


kehidupan salaf, lihatlah, sekalipun para Imam Madzhab Ahlus Sunnah disiksa
dan dipenjara oleh pemerintah Islam ketika itu, tidak ada seorang pun yang
berfikir untuk keluar dari pangkuan Daulah Islamiyyah dan lari ke wilayah Darul
Kufr dan merelakan diri mereka menjadi bagian dari negara Non Islam (Muslim,
Book 020, Hadith Number 4528. Chapter: Obedience to the ruler is forbidden in
matters sinful, but is otherwise obligatory. It has been narrated on the authority
of Yahya b. Husain who learnt the tradition from his grandmother. She said that
she heard the Holy Prophet (may peace be upon him) delivering his sermon on
the occasion of the Last Pilgrimage. He was saying: If a slave is appointed over
you and he conducts your affairs according to the Book of Alloh, you should
listen to him and obey (his orders).

Mereka lebih memilih menjadi warga Daulah Islamiyyah sekalipun ada yang
tidak disukai dari pemimpinnya, daripada mengakui kepemimpinan Darul Kufr.
Pertentangan yang sempat terjadi antara penguasa dan ulama ahlus sunnah
ketika itu adalah pertentangan yang muncul di bidang pemikiran, bukan pada
masalah pelaksanaan hukum yang berlaku. Hukum yang berjalan di zaman itu
adalah Islam, dan mereka sepakat akan hal demikian. (Muslim, Book 020, Hadith
Number 4528. Chapter: Obedience to the ruler is forbidden in matters sinful, but
is otherwise obligatory. It has been narrated on the authority of Yahya b. Husain
who learnt the tradition from his grandmother. She said that she heard the Holy
Prophet (may peace be upon him) delivering his sermon on the occasion of the
Last Pilgrimage. He was saying: If a slave is appointed over you and he conducts
your affairs according to the Book of Alloh, you should listen to him and obey (his
orders).

Adapun yang membuat mereka bersilang pendapat hanyalah sebatas bidang


pemikiran (salah satu/di antara penyebabnya adalah akibat) masuknya filsafat
Yunani ke dalam dunia Islam. Sepanjang sejarahnya, Ulama Salaf semuanya
berpihak pada pemerintah Islam, bersetia pada negara Islam, bagaimana pun
keadaan pemegang pemerintahan Negara Islam itu, selama hukum positif yang
berlaku dalam negara adalah hukum Islam. (Muslim, Book 020, Hadith Number
4574. Chapter: The best and the worst of your rulers. It has been narrated on the
authority of Auf b. Malik al-Ashja’i who said that he heard the Messenger of Alloh
(may peace be upon him) say: The best of your rulers are those whom you love
and who love you, upon whom you invoke God’s blessings and who invoke His
blessing upon you. And the worst of your rulers are those whom you hate and
who hate you, who curse you and whom you curse. (Those present) said:
Shouldn’t we overthrow them at this? He said: No, as long as they establish
prayer among you. No, as long as they establish prayer among you. Mind you!
One who has a governor appointed over him and he finds that the governor
indulges in an act of disobedience to God, he should condemn the governor’s
act, in disobedience to God, but should not withdraw himself from his obedience.
Ibn Jabir said: Ruzaiq narrated to me this hadith. I asked him: Abu Miqdam, have
you heard it from Muslim b. Qaraza or did he describe it to you and he heard it
from ‘Auf (b. Malik) and he transmitted this tradition of Alloh’s Messenger (may
peace be upon him)? Upon this Ruzaiq sat upon his knees and facing the Qibla
said: By Alloh, besides Whom there is no other God, I heard it from Muslim b.
Qaraza and he said that he had heard it from Auf (b. Malik) and he said that he
had heard it from the Messenger of Alloh (may peace be upon him). Muslim,
Book 020, Hadith Number 4573. Chapter: The best and the worst of your rulers.
It has been narrated on the authority of ‘Auf b. Malik that the Messenger of Alloh
(may peace be upon him) said: The best of your rulers are those whom you love
and who love you, who invoke God’s blessings upon you and you invoke His
blessings upon them. And the worst of your rulers are those whom you hate and
who hate you and whom you curse and who curse you. It was asked (by those
present): Shouldn’t we overthrow them with the help of the sword? He said: No,
as long as they establish prayer among you. If you then find anything detestable
in them. You should hate their administration, but do not withdraw yourselves
from their obedience)

Beritahukan kepada saya, mana dalam 3 kurun terbaik itu ada ulama salaf yang
menjadi warga Darul Kufr?

Dari itu Mujahidin NII berkeyakinan, tidak mungkin bisa mengikuti jejak salaf, bili
diri masih jadi warga Darul Kufr, sebab mana sunnahnya? Mana teladannya dari
tiga kurun terbaik yang dijaminkan Nabi SAW? Mana ulama salaf yang menjadi
warga Darul Kufr dalam 3 kurun terbaik itu? Tidak ada! Nabi dan shahabat
sampai hijrah meninggalkan Darul Kufr membangun Madinah, Ad Daulatul
Islamiyyah di bumi Yatsrib, sehingga tidak logis mengaku salafy, hanya sekedar
menela’ah kitab-kitab salaf sementara membiarkan diri dikuasai hukum
jahiliyyah. Lebih na’if lagi jika berbekal kitab salaf, tetapi malah mengajak
ummat untuk memberikan ketho’atan kepada penguasa hukum jahiliyyah,
dengan alasan pemimpin dari negara yang mencoret syari’at Islam sejak awal
berdirinya ini adalah seorang muslim (RI yang kemudian disambung menjadi
NKRI. Secara singkat sejarahnya begini; Pada tanggal 8 Maret 1950 Pemerintah
RIS dengan persetujuan Parlemen (DPR) dan Senat RIS mengeluarkan Undang-
Undang Darurat No. 11 Tahun 1950 tentang Tata Cara Perubahan Susunan
Kenegaraan RIS. Berdasarkan undang-undang tersebut, berturut-turut negara-
negara bagian menggabungkan diri dengan Republik Indonesia – Yogyakarta.
Sehingga pada tanggal 5 April 1950 RIS hanya tinggal terdiri dari tiga Negara
Bagian, yaitu Republik Indonesia, Negara Sumatra Timur (NST) dan Negara
Indonesia Timur (NIT). Selanjutnya untuk menanggapi keinginan rakyat yang
semakin meluas di negara-negara bagian yang masih berdiri, Pemerintah
Republik Indonesia menganjurkan kepada pemerintah RIS, agar mengadakan
perundingan kepada NST dan NIT tentang pembentukan Negara Kesatuan.
Setelah pemerintah RIS mendapat kuasa penuh dari NST dan NIT untuk
berunding dengan RI, maka dimulailah perundingan tersebut. Pada tanggal 19
Mei 1950 tercapai persetujuan antara kedua pemerintah yang dituangkan dalam
satu “Piagam Persetujuan”. Ajaib, 4 hari sebelum persetujuan itu ditandatangani
dalam rapat gabungan Parlemen dan Senat RIS, tanggal 15 Mei Presiden RIS Ir.
Soekarno sudah membacakan Piagam Terbentuknya Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Pada hari itu juga Preside Soekarno terbang ke Yogyakarta mengambil
kembali jabatan Presiden Republik Indonesia dari Pemangku sementara Jabatan
(Acting) Presiden Republik Indonesia Mr. Asaat. Dan besoknya Soekarno melantik
anggota DPR NKRI di Jakarta. Dengan cara demikian, tamatlah riwayat RIS dan
lahirlah NKRI. Lihat 30 tahun Indonesia Merdeka 1950-1964, hal. 42).

Jadi, mesti difahami, bahwa apa yang dilakukan rakyat dan Pemerintah Berjuang
Negara Islam Indonesia adalah berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan
wilayah Islam hingga menjadi tempat yang aman dan stabil untuk
memberlakukan Hukum Islam di dalamnya. Menegakkan Al Quran dan Hadits
shahih sebagai hukum tertinggi. Bila ini yang menjadi harapan ulama terdahulu,
maka upaya ini pulalah yang tengah diperjuangkan oleh Mujahidin Negara Islam
Indonesia.

Salaf yang difahami Mujahidin NII adalah 3 kurun generasi terbaik yang
disebutkan Rasulullah SAW dalam haditsnya yang shahih, dan difahami dari
sejarah bahwa 3 kurun tersebut adalah kurun kejayaan Islam di mana Al Quran
dan sunnah buka saja diajarkan di masjid-masjid, tetapi menjadi hukum yang
efektif berlaku di masyarakat. Maka menetapi jejak salaf dalam pandangan kita,
buka sekedar mempelajari Al Quran dan hadits shahih belaka, tetapi
merekonstruksi keadaan di masa Awal Islam tersebut di zaman ini, sehingga Al
Quran dan Hadits Shahih tadi menjadi sumber hukum yang berjalan di
masyarakat di bawah pengendalian pemerintahan Islam yang adil. Bahwa ada
beberapa sarana yang berubah, itu adalah realitas zaman, tetapi maksud
syari’ah harus tetap dipertahankan, dan Negara Islam Indonesia diproklamasikan
untuk itu.

Harap diingat, bahwa Salafy (yang menyerukan untuk tegak di atas Quran dan
hadits shahih) dengan NII (yang menjadikan Al Quran dan Hadits Shahih sebagai
hukum tertinggi) tidaklah bersebrangan. Saya mencurigai adanya upaya
intellijen untuk mempertentangkan keduanya, mungkin oknum yang mengaku
’salafy’ berkewarganegaraan NKRI nya yang diperalat intellijen untuk
menghancurkan NII, atau oknum yang mengaku rakyat NII yang merusak
negaranya (seperti NII KW IX Abu Toto Panji Gumilang) dengan menyebarkan
pemikiran bid’ah dan menyedot energi ummat dengan mempertentangkan NII –
Salafy.

Hendaknya saudara-saudaraku warga negara Islam berjuang, maupun muslimin


rakyat NKRI, tidak terjebak dalam pertentangan yang dibuat lawan ini, dan
marilah kita belajar Al Quran dan Sunnah secara sungguh-sungguh, sehingga
kita sampai pada kesimpulan yang sama, mana sebenarnya Rumah Islam yang
harus kita isi dan bangun bersama.

6 Tanggapan to “Tuduhan terhadap NII Yang tidak mengikuti Salafush Sholih”


gabo Says:

November 6, 2009 at 5:24 pm

masih bingung,yg di maksud salafy=jafar umar?

Abuqital1:
Bukan. NII mencontoh Rosululloh SAW dan ITTIBA’ terhadap Sahabat, Tabi’in dan
Tabi’it Tabi’in.
Balas
abuabyan Says:

November 7, 2009 at 1:57 am

Assalamualaikum, afwan kl d NII yg murni, ada proses syahadat ulang gak?


Pandangan antm sendiri mengenai syahadat ulang gmn? Syukron

Abuqital1:
SYAHADAT adalah syarat seseorang untuk masuk Islam.
BAI’AT (red- Bai’at NII) adalah “Jual Beli” seorang Muslim kepada Alloh untuk
menegakkan Dinul Islam di Indonesia dihadapan dan dengan persaksian
“Komandan Tentara/ Pemimpin Negara Islam Indonesia yang bertanggung jawab,
sesuai Al Quran, As Sunnah dan Konstitusi NII”.

Jika anda memang telah menjadi warga NII tetapi berada dikepemimpinan yang
tidak sesuai konstitusi NII maka sebaiknya anda “memperbaharui (tajaddud)”
untuk taat dan patuh pada pemerintah NII yang sesuai konstitusi NII. Jadi yang
diulang adalah “Bai’atnya”, bukan syahadatnya.

Syahadat bisa diulang jika seseorang tersebut telah melakukan “hal-hal yang
membatalkan syahadat” seperti misalnya “Murtad”.
Balas
difa Says:

November 10, 2009 at 12:14 am

assalamualaikum.

sikap bijak seorang muslim ketika melakukan kesalahan adalah istighfar dan
meminta maaf kepada yg bersangkutan. bukan malah membuat perpecahan
ditubuh umat.

jika ada hal yg disengketakan, bukankah sebaiknya duduk bersama dan bicara
baik-baik.

Abuqital1:
bukan sikap bijak akhi bahasanya tetapi adalah “KEWAJIBAN” muslim yang
menjadi warga NII untuk “istighfar” jika memang telah melanggar Al Quran, As
Sunnah dan Konstitusi NII. Dan juga “Kewajiban” seorang muslim untuk meminta
maaf jika memang telah melakukan kesalahan terhadap sesama muslim lainnya.

Maksud dari komentar akhi telah ana kirim lewat email. Silakan baca dan pahami
isi email tersebut. Jazaakalloh telah berpartisipasi dalam blog ini.
Balas
abuabyan Says:

November 10, 2009 at 10:57 am

Mengenai ba’iat,ana mau tanya Kenapa kt hrs berba’iat kpd imam yg tdk punya
wilayah kekuasaan, yg tdk jelas siapa orangnya, dsb? Mengenai hijrah para
ulama berbeda pendapat mengenai hukum tinggal di negeri kufur, yg rojih
adalah hukumnya boleh selama tdk ada tekanan dan kita bisa menjalankan
syi’ar2 agama islam dg bebas seperti sholat, shaum, hari raya, dsb. Dan D
indonesia ini umat islam msh di berikan kebebasan untuk menjalankn syi’ar2
keislaman. Jd kt tdk wajib untuk hijrah dr indonesia ini.
Akan tetapi Kl pun hijrah tetap d haruskan seperti yg antm yakini, tentunya ke
negeri islam yg statusnya jelas, bukan ke negara ilusi seperti NII.
Dan ana blm pernah mendengar para salafus shaleh berba’iat ke imam negeri
fiktif yg tdk punya wilayah, yg ga jelas orangnya.

Abuqital1:
rupanya anda termakan propaganda tentang buku “Ilusi Negara Islam”. Insya
Alloh pertanyaan anda nanti akan dijawab dalam bentuk artikel. Sebagai
pembuka untuk wawasan berpikir anda silakan baca link dibawah ini:
http://abuqital1.wordpress.com/2009/11/10/larangan-mati-kecuali-dalam-
keadaan-muslim/
http://abuqital1.wordpress.com/2009/07/28/menghayati-fungsi-sholat-bagi-
seorang-mukmin/
http://abuqital1.wordpress.com/2009/07/23/proses-perjuangan-yang-wajib-
dihadapi/
Balas
mujanad Says:

November 12, 2009 at 1:45 am

Saya termasuk orang yang menghargai jasa orang tua dalam memperjuangkan
islam di negeri ini, dan karena cintalah yang mendorong saya untuk menuliskan
kalimat ini…

Semua orang mengaku salaf….


Yang paling pokok dalam memahami salaf adalah pada persoalan metodologi.
Harusnya kita berangkat dari pemahaman salafus shaleh yang utuh tanpa
dipengaruhi oleh ada atau tidaknya NII di indonesia.. hal ini penting agar tidak
ada talabus (campur aduk) pemahaman yang berakibat pada su’ul fahmi
(pemahaman yang buruk) tentang salaf itu sendiri…
Karena kalo metodologi memahami salafus sholeh benar, kita bisa mendudukan
NII secara proporsional.
Kadang-kadang kecintaan, persahabatan, atau bahkan kepemilikan menjadikan
penilaian itu sangat subjektifit.
Saya teringat perkataan Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah ketika menilai Syaikh Al-
Harwi penulis kita “Manazilu Sairin” (beliau ahlul hadits, alim, tsiqoh, amiran bil
ma’ruf nahin ‘anil mungkar, dll) dengan sekian keutamaannya beliau bertutur:
“Syaikhul Islam (Al-Harwi), orang yang kami cintai, tetapi kebenaran lebih kami
cintai dari pada beliau.”

Artinya Ibnul Qayyim melepaskan segala ikatan emosional yang dapat


mempengaruhi penilaian beliau terhadap al-hak.

Kaitannya dengan NII, dengan segala keutamaannya saya kira dapat


menyesuaikan dengan paham salafus shaleh secara utuh jika terlebih dahulu
membebaskan diri dari entitas sebagai warga NII dalam menilai al-hak.

Kalau NII diproklamasikan 7 Agustus 1949, sementara perjalanan Salafus shaleh


sudah ada sejak -+ 14 abad silam, maka bukan hal yang baru untuk mengkaji
salafus shaleh dalam berbagai aspek, termasuk untuk mencari posisi NII dalam
kerangka pemahaman salafus shaleh.
Apa yang menjadi kekurangan bisa ditambahkan, yang lemah dalam aspek
tertentu bisa diperkuat.. sehingga ittiba’ kepada salaf itu totality.
Apakah kita menganggap salaf tidak punya konsep perjuangan dalam kondisi
kita berada di daar al-kufr??
Maka disinilah pentingnya metodologi dalam memahami salaf.
Sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalib ra.: “Kamu tidak bisa
mengklaim/mengetahui kebenaran milik orang per orang, akan tetapi kenalilah
al-hal itu maka kamu akan tahu siapa yang benar.”
Intinya pemahaman salaf berangkat dari nash dan pemahamannya kita ambil
dari orang yang telah legitimate dari para sahabat, tabi’in dan tabu’ut tabiin
>>>dan orang yang mengikuti mereka dengan CARA YANG BAIK<<<

Lihat surat at-Taubah: 100

Tentunya tidak dalam ranah menggurui, karena saya berharap antum sekalian
juga sedang dalam proses menuju pemahaman salaf yang benar.. memang
bukan salafi al-maz'um (sekedar klaim belaka), tetapi jangan pula menjadi
pengikut salaf secara parsial.

Semoga bermanfaat
Wallahu a'lam bis showab

Abuqital1:
Syukron Jazaakalloh. Betul akhi, saya sangat setuju dengan komentar akhi. Pada
intinya adalah NII telah berdiri sejak thn 1949 dan sekarang kita yang hidup
pada masa ini adalah tinggal meneruskan perjuangan para Mujahid NII terdahulu
yang dengan ikhlash mengorbankan jiwa, raga, nyawa serta apapun yang ada
padanya semata-mata hanya untuk mentegakkan Kalimat Alloh.
Sejak berdirinya sampai sekarang tidak ada satu Imam NII pun yang menyatakan
“Pembubaran NII” atau Imamnya menyerah ataupun Imamnya bergabung
menjadi warga RI. Memang kita tidak mengingkari fakta sejarah tentang Mujahid
NII yang tercerai berai akibat kekalahan perang dengan RI dan Salibis Belanda
beserta sekutunya.
Saya sendiri ketika akan bergabung dengan NII terus memahami Konstitusi NII
mulai dari Qonun Asasi, Strafrecht, Pedoman Darma Bakti dan yang lainnya. Dan
kemudian saya kaitkan dengan perjalanan kehidupan Rosulullah SAW, para
Sahabatnya, Tabi’in dan Tabi’it tabi’in. Dari tiga kurun waktu tersebut semuanya
mereka berada dibawah naungan daulah islamiyyah dimana hukum Islam telah
diterapkan, bukan sebatas wacana, simposium ataupun demo.
Insya Alloh dengan segala keterbatasan NII karena masih dijajah RI ana sendiri
akan mempelajari “Ahkamu Sulthoniyyah” dan bermudzakaroh dengan para
pembaca sehingga terbukalah pemikiran kita tentang bagaimana menjalankan
roda pemerintahan NII khususnya dalam masa perang yang penuh kecurigaan
dari dalam dan penuh tekanan dari RI dan “founding fathernya”.
Balas
shahwatul ummah Says:

Januari 12, 2010 at 10:41 am

assalaamu’alaikum…
salafy saat ini sedang ramai diikuti oleh orang2 yg tdinya mungkin dia
mempunyai sdikit pemahaman tentang islam, doktrin2 dri ust2 salafy sering
kerap membuat orang yg baru belajar alergi dengan orang2 di luar mereka,
apalagi ktika mendengar negara Islam… mreka sudah bisa mentahdzir orang2 yg
mendakwahi mereka yang berada di jalan penegakan daulah islam ini…
apakah salah posisi mereka?
sedang mereka hnya mengikuti apa yg di ajrkan oleh ust2nya tnpa di telaah
lagi…

Abuqital1:
Sudah dipahami bersama bahwa salah satu syarat diterimanya ‘amal harus
berdasarkan ‘ilmu. Berkaitan komentar diatas, maka pada saat ini seharusnya
kita ITTIBA’ (mengikuti) terhadap generasi “Salafush Sholih”.
Dari sejarah kita mengetahui bahwa mereka semua (salafush sholih) hidup
didalam NAUNGAN HUKUM ISLAM yang telah berlaku pada masa itu. Mereka
tidak hanya sekedar dzikir, ta’lim dsj tetapi mereka juga ikut BERSAMA JIHAD FI
SABILILLAH/ QITAL FI SABILILLAH. Singkatnya mereka itu (Salafush sholih) adalah
SUFI MURNI dan MILITER MURNI (JUNDULLOH). Pada malam hari mereka
bermunajat, “menghinakan diri” dihadapan Alloh. Tetapi pada siang hari mereka
seperti “SINGA yang mengaum” yang siap memangsa para penentang Alloh.
Itulah mungkin sedikit gambaran yang ada.

Kepada yang beraktivitas di “Salafy” teruslah tholabul ‘ilmi lalu ‘amalkan dengan
perbuatan yang sesuai dengan contoh Rosululloh SAW. Rosululloh SAW
“berkonftontasi (non kooperatif)” dengan “Pemerintah Quraisy” maka contohlah
beliau. Rosululloh SAW beserta sahabat-Nya sering tampil di “kancah
PEPERANGAN” maka contohlah mereka. Dan tentunya masih banyak lagi ‘amal
jihad lainnya.

Negara Islam Indonesia Bersifat Lokal bukan Khilafah yang Mendunia,


Benarkah…?
Posted by abuqital1 under Tanya Jawab tentang NII
Leave a Comment

1 Votes

Banyak yang menganggap bahwa Negara Islam Indonesia itu adalah Gerakan
Islam Lokal yang tidak memperdulikan masalah khilafah. Padahal jauh sebelum
Negara Islam Indonesia diproklamasikan, khilafah sudah dinyatakan sebagai
bagian dari perjuangan pemerintah Islam Indonesia, sebagaimana diputuskan
dalam Konferensi Tjisajong (1948) bahwa, langkah perjuangan Ummat Islam
Bangsa Indonesia adalah sebagai berikut:

Mendidik rakyat agar cocok menjadi warga negara Islam.


Memberikan penerangan bahwa Islam tidak bisa dimenangkan dengan Flebisit.
Membentuk daerah basis.
Memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia.
Memperkuat NII ke dalam dan ke luar; ke dalam: memberlakukan Hukum Islam
dengan seluas-luasnya dan sesempurna-sempurnanya. Ke luar: Meneguhkan
identitas internasionalnya, sehingga mampu berdiri sejajar dengan negara-
negara lain.
Membantu perjuangan muslim di negara-negara lain, sehingga mereka segera
bisa melaksanakan wajib sucinya, sebagai hamba Allah yang menegakkan
hukum Allah di bumi Allah.
Bersama negara-negara Islam yang lain, membentuk Dewan Imamah Dunia
untuk memilih seorang kholifah, dan tegaklah Khilafah di muka bumi.

Jadi adalah tidak benar bila dikatakan NII tidak peduli urusan khilafah, justru
untuk menegakkan khilafah itulah, NII diproklamasikan. Islam sebagai ajaran
adalah Rahmatan lil ‘Alamin, tetapi sebagai hukum yang dilaksanakan, tetap
hanya bisa diterapkan di wilayah yang berhasil dibebaskan kekuatan militer
Islam. Demikianlah sunnah Nabi SAW, sebagaimana beliau hanya bisa
mempertanggung jawabkan rakyat yang hijrah ke Madinah saja (QS 8:72).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan


harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat
kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu
sama lain lindung-melindungi[624]. dan (terhadap) orang-orang yang beriman,
tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi
mereka, sebelum mereka berhijrah. (akan tetapi) jika mereka meminta
pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib
memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada Perjanjian
antara kamu dengan mereka. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al Anfaal 72)

Dalam Shohifat Madinah, diatur beberapa bani (suku-suku bangsa) saja, ini
bukan berarti Rasulullah SAW melakukan ashobiyyah yang dikutuknya sendiri
dalam beberapa hadits, namun itulah yang sementara bisa
dipertanggungjawabkan NPengertian Ashobiyah dan Pengakuan Bangsa
Posted by abuqital1 under Tanya Jawab tentang NII
Leave a Comment

Rate This
Tanya:

“Di antara bunyi Proklamasi N I I didapat kata-kata “Kami ummat Islam Bangsa
Indonesia”. Dari itu apa perbedaan antara pengertian jiwa kebangsaan yang
disebut “ashobiyyah” dengan pengakuan sebagai bangsa ?”

Jawab:

Jiwa kebangsaan yang disebut ashobiyah ialah yang mengandung arti cinta
terhadap satu bangsa, hanya karena sebangsa dengan dirinya, tanpa
memperdulikan salah atau benar. Jadi, orang yang berperang membela
kebangsaan (Ashobiyah), artinya bahwa yang menjadi dasar utama bagi dirinya
berperangnya itu ialah karena bangsanya sedang berperang dengan bangsa lain,
sehingga dirinya berpihak kepada bangsanya itu dengan tidak memperdulikan
mana yang salah dan mana yang benar. Dalam arti lain bahwa berperang nya itu
bukan karena membela kebenaran (hukum) dari Allah. Pengertiannya, meskipun
bangsanya itu dalam posisi yang salah, namun tetap dibela, karena satu bangsa.
Sebaliknya, walaupun dalam posisi yang benar (haq), namun karena tidak
sebangsa, maka diperanginya. Itulah yang dimaksud “Ashobiyah”.

Maka, pantaslah mereka yang telah berperang mengusir bangsa asing, merasa
puas walau hasilnya masih saja hukum-hukum kafir warisan bangsa asing. Hal
itulah yang dimaksud oleh hadist mengenai yang mati karena Ashobiyah.
Perhatikan sabda Nabi Saw:

‫وليس منا من مات على عصبية )رواه ابو داود‬.‫وليس من قاتل على عصبيه‬.‫)ليس منا من دعا الى عصبيه‬

“Bukan dari golongan kami siapa saja yang mengajak kepada kebangsaan. Dan
bukan pula dari golongan kami orang yang berperang karena kebangsaan. Dan
tidak juga termasuk golongan kami yang mati karena kebangsaan.” (HR Abu
Daud).

Adapun “pengakuan sebagai bangsa”, yaitu sekedar menyatakan diri sebagai


salah satu dari bangsa yang ada. Hal sedemikian merupakan keharusan dengan
tujuan menjelaskan. Sebab, tidak benar sebagai Bangsa Indonesia jika
mengakukan dirinya Bangsa Belanda atau bangsa lainnya.

Soal pengakuan sebagai bangsa diantara banyak bangsa dijamin


keberadaannya. Sebagaimana dikemukakan dalam ayat yang bunyinya:

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di
antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”_(Q.S.49:13).
Dari ayat di atas itu dimengerti bahwa adanya pengakuan sebagai bangsa
supaya bangsa lainnya mengenal, atau bisa saling kenal mengenal adalah suatu
kepastian. Dalam ayat itu disebutkan bahwa ukuran yang paling mulia adalah
taqwanya kepada Allah. Dengan demikian tidak boleh salah atau benar adalah
bangsa sendiri lalu dibela. Kalau asal bangsa sendiri biar salah lalu dibela, maka
itulah Ashobiyah.
abi SAW. Adalah tidak sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya, bila
mendakwakan diri sebagai kholifah, sementara tidak sejengkal tanah pun
dikuasai sebagai basis untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab khilafah.

Sumber: Negara Islam Indonesia: Antara Fitnah dan Realita/ Al Chaidar

Isu NII menyepelekan syari’ah


Posted by abuqital1 under Tanya Jawab tentang NII
[4] Comments

Rate This

Tanya :

“Timbul isyu dikalangan muslimin bahwa diantara mereka yang mengaku


sebagai pejuang NII ada yang menyepelekan urusan syari’ah, seperti melalaikan
sholat, malah ada yang tidak mewajibkan sholat sama sekali dengan alasan
bahwa sekarang “masih di kurun Makkah”. Begitu juga dengan menutup aurat
( berbusana muslimah), sebagian mereka malah melarang isterinya menutup
aurat, karena dianggapnya “belum wajib”. Bagaimana keadaan yang sebenarnya
?”

Jawab :

Kembali kepada permasalahan pokok bahwa NII diproklamasikan sebagai wadah


terlaksananya Hukum Islam, tempat dimana Islam dijadikan dasar segala
sesuatu, negara dimana Al Quran dan hadits yang shohih dijadikan Hukum
Tertinggi Hal demikian jelas terundangkan dalam Qonun Asasi Negara Islam
Indonesia.

Jadi bila ada yang mengaku sebagai warga NII, tetapi meremehkan syari’at
apalagi sampai menganggap sholat tidak wajib, maka orang tersebut bukan saja
keluar dari pangkuan negara, malah keluar dari Al Islam sama sekali.

Bersama ini kami menegaskan kepada pembaca dimana pun mereka berada,
bahwasa kami berlepas diri dari pengakuan palsu, mereka yang busuk hati, kotor
lidah dan bengkok prilaku yang lisannya mengaku warga NII, tapi amal dan
perbuatannya bertentangan dengan hukum hukum dasar dan undang undang NII
itu sendiri. Ketahuilah dalam Tuntunan IV pasal 24 (Kitab Undang Undang Hukum
Pidanan Negara Islam Indonesia), pada pasal yang berjudul Tarikush sholah
(Orang yang meninggalkan sholat) tertera sebagai berikut :

1. Siapa yang meninggalkan sholat dengan beri’tiqad tidak mewajibkan salat,


dijatuhi hukuman sebagaimana yang termaktub dalam pasal 23 ayat 1,2, dan 3.
(diperlakukan sebagai orang yang murtad dari Al Islam)

2. Siapa yang sengaja meninggalkan salat dengan beri’tiqad bahwa sholat itu
tidak wajib, maka Imam wajib memerintahkan salat.

3. Jika ia tidak mau menurut, ia dijatuhi hukuman berat (hukuman mati)

4. Orang yang meninggalkan shalat karena lupa atau tertidur, tidak ada
hukumannya, hanya diwajibkan membayar shalatnya (sholat segera setelah dia
ingat -pen)

5. Orang ‘abid (budak belian -tawanan perang dari front Darul Kuffar -pen)
hukumannya setengah hukuman orang merdeka.

Dari pernyataan di atas jelas bahwa yang meninggalkan sholat, bukannya


dibiarkan terus berkoar mengaku berjuang atas nama NII, malah keberadaan
dirinya sendiri, berada dalam posisi wajib bertaubat, segera shalat sebelum
habis waktunya. Dan bila NII dalam keadaan de facto, hukum bisa berjalan
dengan seluas luasnya dan sesempurna sempurnanya dalam Negara berjaya,
tentu orang begini bukan dibiarkan dan diakui perjuangannya, malah bila tetap
tidak mau bertaubat, mereka lah yang harus di hukum mati !

Adapun alasan mereka bahwa sholat baru diwajibkan di Madinah, adalah bohong
dan tertolak di hadapan sejarah. Rosululloh dan para shahabat sudah
melaksanakan sholat, sejak di kurun Makkah, walau sebagiannya dilakukan
dengan bersembunyi. Dan NII tidak menganut sistem periodisasi mengenai
ibadah mahdhoh Makkah – Madinah yang kemudian berdampak pada pengkotak
kotakan hukum Islam. Bagi Negara Islam Indonesia, semua Hukum Islam wajib
dilaksanakan, dan kita berjuang bukan untuk mendirikan negara Islam (karena
sudah berdiri sejak tahun 1949 yang lalu), tetapi berjuang semaksimal mungkin
agar seluruh hukum Islam yang telah diyakini wajib dijalankan itu, bisa berjalan
dengan seluas luasnya dan sesempurna sempurnanya. Siapa yang tidak
berkeyakinan demikian, maka dia tertolak sebagai warga negara berjuang
Negara Islam Indonesia.
4 Tanggapan to “Isu NII menyepelekan syari’ah”
mujahid Says:

Agustus 17, 2009 at 12:16 am

Beberapa pertanyaan:
1. Berarti jika ada anggota NII yang melakukan itu, berarti itu NII sempalan?
2. Adakah anggota NII yang selalu melaksanakan shalat, zakat, shaum, dan naik
haji jika mampu? Adakah anggota NII yang tidak mentafsirkan al-qur’an dengan
sekehendak hatinya? Adakah anggota NII yang tidak menarik infaq bla..bla..bla
yang katanya untuk menebus dosa? Adakah anggota NII yang tidak mencap kafir
seorang muslim yang bukan anggota-nya? Adakah Adakah dan adakah? Jadi apa
yang salah dengan NII?

Abuqital1:
Sebelumnya terima kasih atas perhatiannya:

untuk jawabannya sebagai berikut:


1) Jika seseorang memang mengaku dirinya sebagai warga NII maka dia harus
taat dan patuh kepada perundang-undangan NII yakni:
– Landasan idiil/ ideologi yakni Al Quran dan Sunnah, jika memang sudah jelas
melanggar Al Quran dan Sunnah maka yang bersangkutan harus MENGAJUKAN
TAHKIM (minta diadili sesuai hukum Islam), lihat Qs. 4:64-65. Jika orang tersebut
memang tidak mau berarti dia melanggar perintah Alloh dan Rosul-Nya serta
membuat noda terhadap NII (oknum). Perlu diketahui untuk menjadi warga NII
ada tahapan proses (insya Alloh nanti akan dijelaskan).
– Landasan Konstitusi yakni Qonun Asasi NII. Jika masih mengaku warga NII
tetapi tidak mau melaksanakan Qonun Asasi NII, Strafrecht dan Pedoman Darma
Bakti (PDB) NII berarti dia TIDAK LOYAL terhadap negara dan pemerintahannya.

2) Melaksanakan sholat, zakat, shoum dan haji adalah PERINTAH ALLOH DAN
ROSUL-NYA karena itu semua adalah ARKANUL ISLAM. Yang harus dibahas lebih
dalam adalah masalah SYAHADAT nya. Mengapa? karena jika no. 1 ini tidak
dilaksanakan atau dalam pelaksanaannya tidak memenuhi SYARAT dan RUKUN
syahadat atau bisa juga syahadat seseorang itu mungkin sudah batal maka
otomatis no. 2 – 5 akan sia-sia. Bukankah SHOLAT, ZAKAT, SHOUM dan HAJI
semuanya ada SYARAT, RUKUN dan yang MEMBATALKAN. Pernahkah anda
memikirkan Syarat sahnya Syahadat, Rukun Syahadat dan Yang membatalkan
syahadat? Ini yang jarang dikupas ke masyarakat luas, PADAHAL SYAHADAT
MERUPAKAN AKAR atau PONDASI dari semua bangunan yang ada. Jika AKARNYA
MUDAH DICABUT atau PONDASINYA TIDAK KOKOH maka otomatis POHON
TERSEBUT GAMPANG DICABUT atau BANGUNAN TERSEBUT GAMPANG ROBOH.
Lihat Qs. 14:24-26
Masalah syahadat insya Alloh akan dijelaskan dikemudian hari dan masih
berkaitan dengan pertanyaan no. 1
- Jika ANDA MENGETAHUI ISI MATERI BLOG INI ADA YANG SALAH SECARA SYAR’I
silakan beritahu kami letak kesalahannya KARENA JIKA ANDA TIDAK
MEMBERITAHU KESALAHAN TERSEBUT MAKA ANDA AKAN IKUT BERDOSA PULA.
Mengenai Tafsir, tafsir yang mana yang anda mau pakai. YANG PALING BAIK
DALAM MENAFSIRKAN AYAT ADALAH DENGAN AYAT LAINNYA (AYAT BIL AYAT)

-INFAQ adalah KEWAJIBAN bagi setiap Muslim sebagaimana wajibnya sholat.


Untuk PELAKSANAAN INFAQ maka NII sudah ada pedomannya yakni pada
PEDOMAN DARMA BAKTI NII yang berisi MKT-MKT (silakan anda baca lagi dengan
seksama)

-BUKAN NII YANG MENCAP KAFIR SEORANG MUSLIM YANG BUKAN ANGGOTANYA
tapi ALLOH ‘AZZA WA JALLA, untuk jelasnya silakan pahami:
1) Qs. 5:44-47
2) Strafrecht NII
3) Fiqih Jihad Fi Sabilillah
4) Furqon di Indonesia

Demikian jawabannya, semoga dapat dipahami oleh anda dan semoga Alloh
‘azza Wa Jalla membuka kelapangan dada anda sehingga hidayah-Nya masuk ke
qolbu Anda.
Balas
menujukhilafah Says:

September 24, 2009 at 2:26 am

assalamualaikum syaikh
ana dulu juga pernah aktif di jamaah darul islam, namun kerana berbagai hal
ana tinggalkan, bukan karena benci tapi karena ada beberapa persoalan teknis
(para musyrif-pembina ana bikin shaff baru, disamping beberapa pemahaman
yang berbeda)yang harus dibenahi, sekarang pun ana masih merasa bagian dari
antum walaupun berada di shaff jihad yang lain.
afwan syaikh…tolong jelaskan,soal buku ini

http://geocities.com/niikw9/artikel/NII-aqidah.html

sekarang ana merasa mantap dalam manhaj salafy-jihadi, soal cita2 kita ana fikir
sama, jadi gak masalah untuk saling bertaawun bukan bertafaruq

jazakallah khair

Abuqital1:
Untuk isi bukunya baik untuk dibaca dan juga untuk di kritisi. Tetapi khusus
menyangkut KW9 sebaiknya anda jangan terjebak oleh bujuk rayunya. Secara
tanzhim KW9 sudah menyalahi syar’i dan juga tentunya Perundang-undangan
NII.
Balas
arsalan Says:

Januari 28, 2010 at 2:34 pm

ABU QITAL…SEBENARNYA NEGARA ISLAM INDONESIA ITU SEKARANG DIMANA


TO..?KOK MASIH MERASA PUNYA NEGARA…WONG HUKUM ISLAM DINJAK INJAK
KAYAK BEGINI..APA TANGGUNG JAWAB NEGARA ISLAMU ITU….TERUS AJARAN
ISLAM MANA YG MEWAJIBKAN INFAQ….INFAQ SUKA RELA,TIDAK WAJIB…ADA
TEMAN ANA GAJI 400RB/BLN SRH BYAR INFAK…BID’AH ITU..MESTINYA DIA
JUSTRU DIBERI TUNJANGAN O BAITUL MALNYA NII…
Balas
arsalan Says:

Januari 28, 2010 at 2:43 pm

ANA KASIAN AMA TMN2 NII MEREKA TIDUR KOK GAK BANGUN2 ..YA…INI LHO
ADA MUJAHID DI BUNUH DENSUS YG MERASA PUNYA NEGARA ISLAM INDONESIA
DIAM SAJA…ISLAM DI HUJAT SI DUR…DIAM SAJA..KAMA TAHU GAK DULU RASUL
PERNAH PERANG BESAR..KARENA ADA MUSLIMAH DILECEHKAN…KL KM BILANG
MASIH ADA DAULAH ISLAM DISINI ITU ARTINYA KAMU MENIPU AT JAHIL…MANA
MILITERMU..,APAKAH HUDUD TEGAK DI NII MU SEKARANG…BUKA SRT
ATTAUBAH…NII SEKARANG SAMA SEKALI TIDAK MENGGETARKAN
MUSUH2ALLAH..!
JD BENAR MEREKA HIDUP DALAM NEGARA KETOPRAK!

Abuqital1:
sepertinya anda gak tahu betul ttg NII. kalo yang anda terangkan itu bukan NII
tapi KW9 Az Zaitun pimpinan Panjii Gumilang yg berperan sebagai bonekanya RI.

Berkaitan dengan orang-orang yang dieksekusi tim Densus, kita punya strategi
yg tentu anda tidak akan tahu karena BUKAN DARI KEKUATAN ANGKTAN PERANG
NII.

Selagi kita mampu berjuang maka berjuanglah, jikalau kita sudah tidak mampu
berjuang maka bertahanlah dan jika kita sudah tidak mampu bertahan maka
kematian adalah lebih baik.

embalikan Kepada Alloh dan Rosulnya


Posted by abuqital1 under Rujukan NII
Leave a Comment

Rate This
Tidak kita pungkiri bahwa sejak tertangkapnya Imam NII, S.M. Kartosoewirjo,
tahun 1962 maka Perjuangan Negara Islam Indonesia dan kepemimpinan Negara
Islam Indonesia bagi sebagian besar masyarakat belum mengetahui
kejelasannya, sehingga ada yang mengatakan bahwa “NII telah pecah belah, NII
sesat, NII sudah tidak ada dan sejenisnya”. Hal itu dikarenakan telah terjadi
perselisihan dalam hal kepemimpinan, yakni banyak yang mengatasnamakan
Imam NII. Hal sedemikian itu telah mengakibatkan adanya kebingungan bagi
sebagian Mujahidin NII pelanjutnya.

Jika mengkajinya dengan seksama, maka yang disebut negara itu ialah
mencakup perundang-undangannya sebagai alat mempersatukan seluruh
aparatnya juga warganya. Dengan demikian sebenarnya tidak ada istilah “NII
berpecah belah, NII sesat atau NII sudah tidak ada”. Adapun telah terjadi adanya
beberapa kelompok yang masing-masing mengatasnamakan dibawah Imam NII,
hal itu karena mereka mengangkat Imamnya itu tidak berdasarkan perundang-
undangan NII.

Sehubungan dengan judul di atas tadi, perhatikan Firman Alloh dibawah ini:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika
kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Q.S. An Nisa: 59).

Pengertian kembali kepada Allah yaitu merujuk kepada Al-Qur’an. Kembali


kepada Rasul-Nya, yaitu merujuk kepada yang dipolakan oleh Nabi Muhammad
SAW. Dengan demikian bahwa satu-satunya cara mencari jalan supaya tidak
berselisih dalam hal menentukan Imam NII yang sebenarnya pun harus didasari
kedua pedoman tersebut. Contohnya :

Pertama, Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 58 yang bunyinya :

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang


berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah
memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah
adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (Q.S. An Nisa: 58).

Jelas, yang disebut Amanat itu mencakup amanat kepemimpinan (Ulil Amri). Dan
yang disebut Ahliha jelas pula berarti yang memiliki legalitas (sesuai dengan
peraturan/hukum). Begitu pun legalitas Imam NII berarti munculnya berdasarkan
peraturan-peraturan NII, sehingga yang berpegang padanya tidak berselisih.
Kedua, Dalam Sunnah Rasul SAW bahwa “Negara/Daulah” Islam di Madinah
disertai undang-undangnya (Shahifah Madinah), dan semua warganya diwajibkan
mentaatinya. Artinya, jika kita kembali kepada Sunnah Rasul SAW maka
pengangkatan Imam NII pun harus sesuai dengan undang-undang NII sehingga
tidak berselisih.

Al-Qur’an memerintahkan supaya bermusyawarah (Q.S. 42 : 32), maka tentu


yang bermusyawarah (menjalankan amanat) itu harus yang haknya, yakni
posisinya memiliki legalitas. Dikaitkan dengan dewasa ini bahwa yang ikut serta
musyawarah mengangkat Imam NII itu kedudukannya harus berdasarkan
undang-undangnya sehingga bersatu tidak berselisih.

Kesimpulan dari dua poin di atas, bahwa yang berdasarkan undang-undang itu
tidak disebut sedang berselisih. Jadi, bahwa yang masih memperselisihkan
‘keimaman NII’ itu, karena mereka tidak kembali kepada undang-undang NII,
artinya tidak berpedoman atau belum kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah
Rasul SAW.

Perlu diresapi bahwa adanya perintah untuk kembali kepada Al-Qur’an dan
Sunnah Rasul, berarti akan selalu ada yang keras kepala, disebabkan berbagai
faktor dalam hatinya sehingga tertutup tidak mau merujuk kepada Kebenaran
Ilaahi. Dari itu bahwa yang disebut persatuan ummat, bukanlah berarti semua
yang mengaku Islam akan bersatu! Sebab, yang keras kepala sehingga zalim
akan selalu ada! Dengan kata lain bahwa ada saja yang tergoda setan. Jadi,
barometernya persatuan dalam Negara Islam Indonesia ialah keberadaan kita
dalam perundang-undangannya.

Pengangkatan Pemimpin berdasarkan Peraturan/ Maklumat adalah “Sunnah Nabi


SAW.”
Posted by abuqital1 under Membedah MKT. no. 11 Th. 1959
1 Comment

Rate This

A. MERUPAKAN SUNNAH

Pengangkatan pemimpin berdasarkan maklumat/peraturan sudah dicontohkan


oleh Nabi SAW, hanya tentu teknisnya berbeda, karena kondisi perangnya juga
berbeda. Akan tetapi, nilainya sama dan tujuannya juga sama, yakni guna
kelancaran dalam menghadapi Masa Perang.

Contoh maklumat estapeta pemimpin, yaitu sewaktu menghadapi Perang Mu’tah


yang pertama, Rasulullah SAW mengumumkan pengangkatan Zaid bin Haritsah
sebagai panglima perang. Kemudian memaklumatkan juga sederetan nama
calon pengganti panglima perang sebagai estapeta pimpinan, sehingga apabila
pimpinan itu syahid tidak perlu musyawarah selama calon yang tercantum
dalam maklumat itu masih ada.

“…waktu itu nabi SAW bersabda di muka bala tentara kaum muslimin yang telah
bersiap lengkap itu, yang bunyinya :

“Jika Zaid tewas, maka Jakfar bin Abi Thalib sebagai penggantinya untuk
memegang komando angkatan perang; dan jika Jakfar tewas maka Abdullah bin
Rawahah sebagai penggantinya untuk memegang komando angkatan perang.”

Demikian satu riwayat yang lain wasiat tersebut ada tambahannya yang
berbunyi demikian :

“Jika Ibnu Rawahah tewas, maka hendaklah kaum muslimin memilih seseorang
dari mereka, lalu hendaklah mereka menetapkannya sebagai pemimpin atas
mereka sendiri.” (KH. Moenawar Khalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad
SAW, buku Ke-enam, halaman 9 cetakan ke-6).

Kenyatannya hal itu terjadi, selagi Abdullah bin Rawahah yakni orang yang
tercantum dalam peraturan itu masih ada, maka tidak diadakan musyawarah.
Sunnah Rasul seperti dalam maklumat itu benar terjadi dan menjadi kenyataan.
Maka, sudah sepatutnya kita mencontohnya sebagaimana yang dilakukan oleh
ummat zaman Nabi Saw. Hal itu terlepas dari apakah untuk pimpinan pusat atau
bukan, sebab pada zaman Nabi itu yang menjadi pimpinan pusat ialah Nabi Saw
sendiri. Dengan demikian Sunnah (yang dicontohkan oleh Rasul Saw) itu berlaku
bagi pimpinan pusat (tertinggi), atau bagi semua jenjang kepemimpinan pada
saat sekarang.

Maklumat Komandemen Tertinggi No. 11, tahun 1959 yang dikeluarkan oleh
Dewan Imamah NII strategisnya yaitu guna kehati-hatian dalam menampilkan
calon Imam dalam Masa Perang. Juga, faedahnya ialah guna persatuan dan
mencegah perselisihan. Dari itu jika ada yang mengadakan kepemimpinan di
luar aturan, maka merekalah yang membuat perselisihan. Camkanlah itu
semua….

B. BUKAN KEPEMILIKAN PRIBADI

Pemimpin tidak mutlak ideal. Sebab, ada beberapa factor untuk tidak ideal
dalam menerima pemimpin, yaitu :
Pemimpin adalah milik bersama yakni bukan kepemilikan pribadi.
Dengan itu semua umatnya harus berpijak pada peraturan. Sebab, yang pertama
dituntut itu, yakni “adanya”, dan bukan bagusnya dulu.
Jika menunggu dulu hadirnya pemimpin ideal, baru diri siap untuk taat, maka
sampai kapan harus menunggu ? Sedangkan berlalu waktu tanpa ada pemimpin
yang jelas, karena mengikuti kehendak hati, hal itu berarti melanggar Qur’an
surat 4 ayat 59 yang mewajibkan adanya pemimpin untuk ditaati. Berikutnya
dalam Qur’an surat 2 ayat 257, yang diambil arti bahwa tidak berada dalam
kepemimpinan yang haq, berarti di bawah kepemimpinan Thagut. Relakah diri
menjadi Ashabut Thagut sehingga tiap detik identik dengan Ashabut Thagut ?
Siapkah niat anda dicatat bahwa mau dipimpin itu bukan karena Allah,
melainkan karena bila tercapai ideal anda ?
Sebab, ideal tidak dijadikan ukuran oleh Nabi sebagai syarat kepemimpinan.
Sekalipun secara fisik, budak hitam yang kepalanya seperti kismis, misalnya dia
wajib ditaati bila berpijak pada azas legalitas, dan selama perintahnya tidak
menjurus pada makshiat.

Dari empat point diatas, syaratnya pemimpin bukan ideal atau tidak, melainkan
(a). Apakah dirinya memiliki landasan hukum dalam menduduki posisi tersebut ?
(b). Apakah program perintahnya tidak menyimpang dari hukum-hukum yang
sudah digariskan Allah SWT ? Jika ternyata dia memiliki legalitas dan
memerintah pada yang benar kemudian diri tidak mau taat dengan alasan
kurang ideal, maka berlindunglah pada Allah dari syetan, sebab jelas pikiran tadi
dihembuskan syetan untuk mencegah anda berada pada posisi yang benar.
Menolak pemimpin yang jelas di-Nash dalam aturan, adalah sifat orang Yahudi.
(lihat Al-Qur’an Surat 2 : 247), kasus Tholut.

Ideal berasal dari kata “ide”=fikiran. Pemimpin ideal bermakna pemimpin yang
cocok dengan fikiran/ide/angan-angan. Ide menurut si A belum tentu sama
dengan ideal menurut si B, sebab tiap orang punya dan cita-cita tentang ideal
menurut pandangannya masing-masing. Bila harapan otak belaka yang dijadikan
rujukan, maka 1000 manusia tentu bisa seribu keinginan dan cita-cita, begitu
pula seribu cita-cita tentang figur pemimpin menurut kehendaknya masing-
masing. Bila keinginan yang harus diikuti, sampai kapanpun tidak akan bisa
berhenti, sebab siapa yang bisa membatasi cita-cita dan pikirannya?

Dari itu diadakan “undang-undang”. Dengan itu konsekwensi logisnya, harus ada
kesediaan diri untuk membatasi keinginan kita sesuai dengan aturan yang
berlaku. Sekarang tinggal diri relakah membatasi keinginan guna taat pada
undang-undang?

Satu Tanggapan to “Pengangkatan Pemimpin berdasarkan Peraturan/ Maklumat


adalah “Sunnah Nabi SAW.””
aabied Says:

November 22, 2009 at 9:09 am

assalamualaikum…. mudah2an kita snntiasa istiqomah…. ust ana mo tYa tntang


kterangan MYT… krna d sini bYk skali kesimpang siuran msalah kpemimpinan NII
krnanya bYak ikhwan yg tidk puas n pas dengan hatinya sehingga mereka
berlepas dari NII… atas pnjelasannya mohon bls pesan ini.. itu bwt hujjah ana
jika ana d pertanyakan tntang ini…

Abuqital1:
Penyebab kesimpangsiuran tentang keterangan MYT dikarenakan mereka tidak
memahami aplikasi dari MKT. no. 11 Thn 1959. Untuk lebih jelasnya silakan klik
link dibawah ini dan download file yang ada kemudian pahami.
http://abuqital1.wordpress.com/2009/08/05/penjelasan-estafeta-kepemimpinan-
nii-pasca-imam-asy-syahid-s-m-kartosuwiryo/

Catatan: Yang perlu pemahaman lebih ekstra adalah mulai dari HAL. 17-38 dan
setelah akhi memahaminya sambutlah seruan dan statement Bpk. MYT tersebut
pada HAL. 39-41

LEGALITAS LEBIH UTAMA


Posted by abuqital1 under Membedah MKT. no. 11 Th. 1959
[3] Comments

Rate This

Pengakuan terhadap pemimpin tidak bisa atas pertimbangan adanya jasanya


yang terdahulu karena telah membina diri kepada keislaman. Perhatikan petikan
ayat yang bunyinya:

“…sebenarnya Allah Dia-lah yang melimpahkan ni’mat kepadamu dengan


menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar”.
(Q.S. Al Hujurat : 17).

Dengan memperhatikan petikan ayat diatas itu, jelas yang menunjukkan kita ke
jalan yang haq, pada hakekatnya ialah Allah SWT. Tidak didapat dalam sejarah
Rasul SAW bahwa pengakuan terhadap pemimpin itu didasari karena jasa dalam
pembinaan atau dakwahnya. Bila ukurannya demikian, bisa-bisa jika ada seratus
pendakwah yang diidolakan, maka ada seratus pemimpin yang masing-masing
diangkat oleh masing-masing yang mengidolakannya, atau oleh masing-masing
yang merasakan jasa-jasanya.

Musa Terhadap Fir’aun

Pengakuan terhadap pemimpin merupakan hak. Maka, tidak boleh atas dasar
jasanya terhadap kita dalam bentuk apapun. Sama saja dengan “hak
pengakuan” seorang anak terhadap ayahnya. Bilamana si anak itu dari kecil
hingga dewasa diurus oleh orang lain, maka hak pengakuan dan waris serta
kewajiban-kewajiban si anak terhadap ayahnya tetap tidak putus, walau ayahnya
itu dianggap tidak berjasa membesarkan si anak tadi.

Untuk yang berpegang pada yang “Haq” tidak bisa dihadang oleh “jasa”
seseorang yang telah diberikan terhadap kita. Berkenaan dengan “jasa”,
perhatikan ayat-ayat Al-Qur’an mengenai sebagian dialog antara Nabi Musa
dengan Fir’aun :

“Fir’aun menjawab : “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga)


kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa
tahun dari umurmu.” (Q.S. Asy Syu’araa : 18).

“Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan
kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas jasa.” (Q.S. Asy
Syu’araa : 19).

“Berkata Musa : “Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk
orang-orang yang khilaf”. (Q.S. Asy Syu’araa : 20).

Shahabat Besar Terhadap ‘Usamah bin Zaid

Kepemimpinan adalah hak yang menyangkut pemerintahan dengan sendirinya


menyangkut kepada peraturan. Jadi, tidak bisa ditentukan oleh berjasa atau
tidak berjasa, melainkan ditentukan oleh peraturan sehingga memiliki azas
legalitas. Contohnya, Rasulullah SAW telah mengangkat Usamah bin Zaid
menjadi Panglima Perang pada usia 17 Tahun, sedangkan yang menjadi
prajuritnya diantaranya Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Tentu jika ditinjau dari
segi jasa terhadap Daulah Islamiyah maka kedua sahabat besar itu yang lebih
tinggi dari pada Usamah. Akan tetapi, karena eksistensi pemimpin itu tidak
ditentukan oleh jasa melainkan ditentukan oleh legalitas, maka sekalipun Abu
Bakar dan Umar bin Khattab itu adalah lebih berjasa tapi jika tidak diangkat oleh
yang berhak maka bukanlah pemimpin, keadaannya tetap di bawah komando
Usamah bin Zaid yang umurnya di bawah 20 Tahun.

Azas Legalitas

Negara tegak di atas undang-undang/peraturan, karena itu tidak bisa di atas


kehendak pribadi atau kemauan individu. Dari itu semua posisi kepemimpinan
dan tugas yang dijalankan harus berdiri di atas azas legalitas. Artinya atas dasar
aturan mana dia diberi izin tampil memegang tanggung jawab. Tampil tanpa
dasar aturan, sungguh bertentangan dengan tertib hukum NII.

Apalagi jika sikap itu dilakukan oleh yang telah melarikan diri meninggalkan
medan jihad, yaitu meninggalkan Imam NII. Jelas ini merupakan sikap tidak
menghargai undang-undang. Sikap tidak proporsional itu, sama sekali tidak
sesuai dengan kapasitas yang diakuinya sebagai pemimpin Negara Islam
Indonesia. Inilah namanya sikap semena-mena terhadap hukum, seakan-akan
negara ini milik kakeknya yang diwariskan kepadanya. Maukah anda menerima
kehadiran seorang pemimpin yang sejak awal tampilnya saja sudah melanggar
hukum-hukum dasar NII ??

3 Tanggapan to “LEGALITAS LEBIH UTAMA”


aabied Says:

November 16, 2009 at 2:56 pm

Ass…. pk ust yg mdah2an sllu istiqomah dlm berjuang. ana mau nanya mngenai
status Ust Abdul Qodir Hasan Baraja dan KHILAFATUL MUSLIMINnya. tolong
jlskan dgn sejelas2nya. apa hubungannya dgn NII. atas jwabnnya
jazakumullah….

Abuqital1:
Wa’alaikum salam warohmatulloh….
Ust. Abd. Qodir Hasan Baraja adalah dulunya “Pejuang DI/ NII” kemudian dengan
adanya pemahaman dari personil bahwa pemerintahan NII sudah tidak berjalan
maka dia dengan beberapa orang mendirikan “MMI” di jogja. Dalam
perjalanannya beliau tidak sepaham dengan arah perjuangan MMI maka dia
mendeklarasikan “Khilafatul Muslimin” dan didaulat menjadi kholifah. Padahal
kita tahu bahwa Kholifah itu terangkat setelah adanya “Dewan Imamah Dunia”
yang terdiri dari negara-negara Islam yang eksis, sedangkan khilafatul muslimin
tidak sejengkal tanahpun yang dikuasainya.

Jadi, secara struktural tidak ada hubungannya NII dengan Khilafatul Muslimin
walau secara ideologi mempunyai kesamaan dalam memperjuangkan cita-cita.
Balas
rozin Says:

November 17, 2009 at 4:24 am

Assalamu’alaikum wr.wb.
bapak..mohon penjelasannya tentang Lembaga Kerasulan Indonesia (LKI),
Harrakah Nubuwwah Islamiyyah (HANI), Harakah Dakwah Islam (HDI) dari segi
legitimasi kepemimpinan. wkt kecil(1984an/SD) sy prnh baca tertangkapnya
mereka yg mengaku sbg aktivis organisasi trsebut. Skr sy terdata sbg warganya
dari 1998..
Mohon jawaban via email. Terima kasih

Abuqital1:
Wa ‘alaikum salam Wr. Wb.
Jazaakalloh atas partisipasinya. Jawaban sudah dikirim via email akhi.
Balas
Karim Says:

November 21, 2009 at 3:59 am


Assalamu’alaikum.. Ust. Saya mau tanya tntang hukum islam sekarang di NII,
bgmn seandainya ada warga NII yg melanggar hukum, siapakah yg akan
menghukumnya dan tempat dilaksanakannya hukuman tsb dimana?

Abuqital1:
Semua warga NII baik mas-ul maupun ummat jika melanggar hukum maka harus
mengajukan tahkim (QS. An Nisa [4]: 65). Yang akan memproses hukumnya
adalah “Mahkamah NII” dengan mengacu pada Strafrceht (Qonun Uqubat) NII.
Jika keputusan hukumnya telah keluar maka eksekusi dari pelaksanaan hukum
tersebut disesuaikan sesuai hukum islam di masa perang. Hal ini dikarenakan NII
belum mempunyai daerah kekuasaan atau daerah hukum sendiri disebabkan
“WILAYAH KEKUASAANNYA TELAH DIRAMPAS OLEH RI” akibat kekalahan perang
pada tahun 1949-1962.

Peninggalan Dewan Imamah NII


Posted by abuqital1 under Membedah MKT. no. 11 Th. 1959
[5] Comments

Rate This

Sungguh perkataan yang salah, bahwa kembali kepada perundang-undangan


Negara Islam Indonesia nanti saja bilamana NII-nya sudah memiliki kekuatan.
Sebab, jika kembali kepada undang-undang dinanti-nantikan berarti berjihad
tanpa undang-undang, dan berarti belum memiliki pemimpin yang jelas. Hal
demikian tidak dibenarkan! Sebagai dasarnya antara lain yaitu :

1). Kalau begitu sama keadaannya dengan umat Thalut yang apabila sudah
ditunjukkan, maka menolaknya kecuali sedikit. Perhatikan ayat-ayat di bawah ini
:

“Tidakkah kamu memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil masa Nabi Musa,


yaitu ketika mereka mengatakan kepada nabi mereka : “Angkatlah untuk kami
seorang raja, supaya kami berperang di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab :
“Mungkin kamu tidak mau berperang, jika perang itu diperintahkan”. Mereka
berkata lagi : “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami
telah diusir dari kampung halaman kami, dan dipisahkan dari anak-anak kami ?
Maka tatkala perang itu diperintahkan kepada mereka, mereka enggan, kecuali
beberapa orang saja diantaranya. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang
zalim”. (Q.S. 2 : 246).

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka : “Sesungguhnya Allah telah


mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab : “Bagaimana Thalut
memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan
daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak”. Nabi mereka
berkata : “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan
menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan
pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha luas
pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui”. (Q.S. 2 : 247).

“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka : “Sesungguhnya tanda ia akan


menjadi raja, telah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat
ketenangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga
Harun ; tabut itu dibawa oleh Malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu
terdapat tanda bagimu, jika kamu orang beriman.” (Q.S. 2 : 248).

Kesimpulan dari ayat-ayat itu menggambarkan pendapat diatas tadi serta


jawaban dari yang berhak menunjukkan pemimpin.

Pada ayat 248 di atas disebutkan ada “Baqiyyatun”. Peninggalan Nabi Musa as.
Sama halnya dengan MKT No. 11, tahun 1959 mengenai estapeta pemimpin
Negara Islam Indonesia sebagai peninggalan Dewan Imamah, akan ada saja
yang menolaknya.

Dengan memperhatikan ayat-ayat tersebut diatas tadi, maka tidak usah heran
jika selalu ada yang berkilah dalam hal menolak kepemimpinan yang
berdasarkan undang-undang. Hal demikian adalah Sunnatullah sebagaimana
yang disitir oleh ayat-ayat Al-Qur’an di atas tadi. Jadi, tinggal pilih saja mau
kemana diri ?. Apakah mau terus berjalan tanpa dasar hokum yang jelas,
sehingga tidak sadar mengikuti langkah-langkah syaithan ? atau kembali kepada
peraturan?

5 Tanggapan to “Peninggalan Dewan Imamah NII”


aabied Says:

November 18, 2009 at 9:52 am

assalamualaikum ust… syukron atas jawabn yg kmaren. ana mau ada kjelasan
tntang khilafatul muslim dan perbandingannya dgn NII. ana juga mo nYa hrus
dgn hujjah apa untuk menghadapi mreka… n ana juga mo nYa ma ust.
sberapakah nilai NII d mata ust shingga ust kukuh d dalamnya.. jwban dari
pertanyaan ini insyaallah akan mmbri ksabaran dlm diri ana. krn melihat d
daerah ana bYak yg keluar d karnakan kpemimpinan NII yg tdk jelas. kmudian
ada yg bilang kl NII skr adalh NII yg dulu meninggalkan imam n melakukan ikrar
bersama psa 1 Agust 1962. n masil bYk lagi ust… intinya apa sikap seorang
bapak jika melihat anaknya dlm kebingungan..n ana sndiri adalj anaknya… atas
kterangannya sukron.. mdah2an kita sllu d brikan ksabaran oleh Allah SWT…]

Abuqital1:
Wa ‘alaikum salam Wr. Wb.
Ana bergabung dengan NII dikarenakan memahami QS. 51:56, 2:30, 21:105,
114:1-3, 2:22, 6:106, 45:18, 42:13, 3:19, 3:85, 4:76, 2:257, 90:10 dan masih
banyak lagi. Insya Alloh nanti penjelasan ayat diatas akan ana kirim dlm bentuk
file via email akhi.

Dari pemahaman itu maka ana bergabung dengan NII dan lihatlah serta pahami
apa yang ada pada peraturan NII mulai dari Proklamasi, Qonun Asasi, Qonun
Uqubat dan PDB. Adakah dari semuanya itu yang menyalahi Al Quran dan As
Sunnah? Dan silakan akhi pahami lagi link dibawah ini, adakah yang menyalahi
Al Quran dan As Sunnah?
1. http://abuqital1.wordpress.com/category/proklamasi-nii-dan-penjelasannya/
2. http://abuqital1.wordpress.com/2009/10/02/muhasabah-buat-nii-dalam-masa-
perjuangannya-yang-ke-62/
3. http://abuqital1.wordpress.com/2009/11/12/urusan-kepemimipinan-itu-nanti-
saja-belakangan-nanti-juga-pemimpin-itu-akan-datang-dengan-sendirinya-
%E2%80%9D/
4. http://abuqital1.wordpress.com/2009/11/19/pengangkatan-pemimpin-
berdasarkan-peraturan-maklumat-adalah-sunnah-nabi-saw/
5. http://abuqital1.wordpress.com/2009/11/19/hubungan-antara-wasiat-imam-
sm-kartosuwiryo-tentang-prajurit-petit-dengan-mkt-no-11-thn-1959/
6. http://abuqital1.wordpress.com/2009/11/12/legalitas-lebih-utama/
7. http://abuqital1.wordpress.com/2009/11/11/tata-cara-pengangkatan-imam-nii-
yang-sebenarnya/

Sekali lagi, ana bergabung dengan NII tidak melihat personilnya tapi melihat NII
dengan perjuangannya dan segala macam perangkat perundang-undangannya.
Dan ana juga menyadari bahwa memang NII sekarang banyak diberitakan
“negatif”. Bagi ana informasi itu hanyalah sampah belaka dikarenakan mereka
“OMDO” yang tidak disertai hujjah yang kuat dan juga dikarenakan mereka
“BELUM TAHU/ TIDAK TAHU” Konstitusi NII yang sebenarnya.

Mungkin itu saja yang baru ana berikan. Baca dan pahamilah oleh akhi, insya
Alloh kita tidak bingung dan tidak ragu terhadap perjuangan NII. Jika masih ada
hal-hal yang membingungkan dan meragukan tanyakanlah kepada “Mujahid NII”
yang memang benar-benar tahu tentang peraturan atau konstitusi NII.

“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang
Kami turunkan kepadamu, Maka Tanyakanlah kepada orang-orang yang
membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran
kepadamu dari Robbmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu temasuk orang-
orang yang ragu-ragu.” [QS. Yunus (10) ayat 94].
Balas
Karim Says:

November 21, 2009 at 3:22 am


Assalamu’alaikum..
Ust. Saya mau penjelasan tntang infak bulanan pada NII, saya kok masih ragu.
Apakah setiap warga NII hrs berinfak tiap bulannya? Bgmn dg warga yg kurang
berpenghasilan.

Abuqital1:
Wa ‘alaikum salam Wr. Wb.
Sebelum menjawabnya, ana mau bertanya jika memang akhi mengaku sebagai
warga NII maka sudahkah hari ini akhi berada dibawah pemerintahan NII yang
sah sesuai konstitusi NII yakni berada dibawah kepemimpinan Imam MYT
sebagai Imam NII yang ketiga saat ini?
Jika belum, segeralah bergabung. Ingat akhi kematian tidak ada yang tahu.

Adapun masalah infaq maka pahamilah:


a) QS. Ath-Thalaq (65) ayat 7:
“hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan
orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang
diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang
melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan
memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”

b) QS. Al Baqoroh (2) ayat 195:


“dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

c) QS. At Taubaj (9) ayat 53-54:


“Katakanlah: “Nafkahkanlah hartamu, baik dengan sukarela ataupun dengan
terpaksa, namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu.
Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik. (53)Dan tidak ada yang
menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan
Karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan
sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta)
mereka, melainkan dengan rasa enggan (54).

KESIMPULAN:
Dari nash tersebut cukup terang dan jelas, bahwa:
1) infaq itu wajib dilaksanakan oleh setiap mukmin, baik dalam keadaan lapang
maupun sempit.
2) karena Negara Islam Indonesia masih dalam masa perang, maka infaq yang
ditunaikan oelh setiap warga negara merupakan infaq fi sabilillah. Pengertian
infaq fi sabilillah ini berarti prioritas pembelanjaan negara dari sumber infaq
adalah untuk kepentingan tegaknya dienulllah, tegasnya Negara Islam Indonesia.
Karena itu hendaknya kita berkemampuan untuk menunaikan infaq fi sabilillah
dengan sebesar-besar taqwa dan sesempurna-sempurnanya tawakal ‘alallah.
3) Karena hukumnya wajib maka yang tidak melaksanakannya terkena hukum
sebagaimana dijelaskan dalam strafrecht (QONUN UQUBAT NII) dalam BAB I,
PASAL 2 AYAT 3 menyatakan: “Barangsiapa yang mengaku menjadi umat Islam
kemudian tidak menjalankan hukum syariat Islam, adalah fasik”. Kemudian vonis
nya dijelaskan dalam PASAL 3 menyatakan bahwa orang fasik tersebut
diperintahkan untuk bertaubat, jika tidak mau bertaubat maka vonisnya berubah
menjadi musuh Islam.
Balas
Lezard Valeth Says:

November 22, 2009 at 7:41 am

NII yang mana bung? Kan thawagit mendirikan ‘NII’ palsu untuk memfitnah NII
asli.
Balas
Lezard Valeth Says:

November 27, 2009 at 8:09 am

Jazaka Allah tetapi harus kemana infaqnya? Kan NII wilayahnya dijajah sama RIS
-_-….

Abuqital1:
Infaq nya harus kepada Pemerintah NII yang sesuai dengan perundang-
undangan NII. Silakan akhi komunikasinya lewat abuqital1@gmail.com
Balas
abdurrahman Says:

November 21, 2009 at 12:48 pm

aslm
afwan ustadz,kapan ya kita futuh?
biar terbebas umat islam ini darii rezim thowaghit

Abuqital1:
Wa ‘alaikum salam…
1) Perhatikanlah QS. An Nuur [24] ayat 55:
“dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan
menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan
orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan
bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar
akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi
aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada
mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap)
kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.”

Ana rasa ayat itu sudah jelas dan mudah dipahami. Yang jadi introspeksi buat
diri kita adalah sudahkah diri kita menjadi orang beriman dan mengerjakan amal
sholeh? Beriman berarti mengakui Alloh SWT. sebagai Penguasa/ Pengatur
(Robb), Raja (Malik) dan pengabdian (ILAH) dalam kehidupan sehari-hari.
Mengerjakan amal sholeh berarti mengerjakan amal perbuatan yang sesuai
ketentuan Al Quran dan As Sunnah. Sudahkah diri kita seperti itu?

2) Perhatikan pula QS. Muhammad [47] ayat 7:


“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan
menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Ayat diatas juga telah jelas. ayat tersebut mengandung unsur sebab akibat. Kalo
pada saat ini dirasakan pertolongan Alloh belum datang maka INTROSPEKSILAH
kepada diri kita sudahkah menolong Dinulloh? sudahkah ikut menegakkan
Dinulloh?
Dalam tatanan di Indonesia sudahkah diri kita ikut terlibat memperjuangakan
dan mempertahankan NII sehingga hukum syari’at Islam seluruhnya bisa berlaku
dengan seluas-luasnya dalam kalangan ummat Islam bangsa Indonesia?

Oleh karena itu jika akhi ingin futuh maka segeralah bergabung dengan NII
dibawah Pemerintah NII yang sesuai konstitusi NII.
Ingat akhi… dalam berjuang yang dituju bukanlah futuh atau kemenangan
TETAPI yang dituju adalah melaksanakan perintah Alloh SWT dengan semaksimal
kemampuan berusaha. Silakan akhi baca lagi isi matari link dibawah ini:
1. http://abuqital1.wordpress.com/2009/07/23/sekedar-menjalankan-perintah-
alloh-azza-wa-jalla-dengan-semaksimal-kemampuan-berusaha/
2. http://abuqital1.wordpress.com/2009/08/12/ber-hijrah-di-jalan-alloh-swt/
3. http://abuqital1.wordpress.com/2009/07/24/berjihad-fi-sabilillah-sebagai-
konsekuensi-dari-furqon-dan-menyongsong-qital-fii-sabilillah/
4. http://abuqital1.wordpress.com/2009/07/24/memiliki-kekuatan-senjata/
5. http://abuqital1.wordpress.com/2009/07/27/merasakan-adanya-musuh/
6. http://abuqital1.wordpress.com/2009/07/28/menghayati-fungsi-sholat-bagi-
seorang-mukmin/
7. http://abuqital1.wordpress.com/2009/09/11/fungsi-al-quran-itu-seperti-lampu-
bohlam/
Gunanya Persatuan Dalam Berjuang
Posted by abuqital1 under Rujukan NII
Leave a Comment

Rate This

Terhadap yang mengatakan Pedoman Darma Bakti (PDB) membuat sebagian


kita pusing, berbeda-beda menafsirkannya sehingga berpecah-pecah, maka
kami menyatakan hal itu sungguh salah besar! Sebab, yang benar adalah
sebagai berikut di bawah ini :
Pertama, Justru kita berpegang pada pedoman (undang-undang) tersebut itu
supaya kita tidak pusing, kecuali jika bagi yang belum bisa memahaminya. Atau
juga bagi yang sudah memahami serta mengakui kebenaran yang dikandung
undang-undang itu sedang hatinya berat menerimanya. Itu satu di antara
penyakit hati ; mengaku kebenaran cuma di dalam hati menolak dalam sikap.
Ada dua penyebab bagi yang menafsirkannya menyalahi dari penafsiran yang
sebenarnya, yaitu :
Kurangnya wawasan dalam hal yang berhubungan dengan undang-undang itu.
Wawasan cukup, tapi tidak ikhlas untuk mengaku kebenarannya, sehingga tidak
jujur dalam mengemukakannya.

Point yang kedua ini biasanya terjadi pada orang yang takut dengan undang-
undang itu dirinya tergeser. Atau juga gengsi serta malu, jatuh wibawa karena
sudah terlanjur mempertahankan pendapatnya. Jadi, yang membuat umat
pecah-belah itu bukan undang-undangnya. Melainkan, jika bukan factor
ketidakmengertian, tentu sebab ketidakikhlasan sang penafsirnya. Perhatikan
ayat di bawah ini:

“Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani
Israil mengetahuinya.” (Q.S. Asy Syu’araa : 197).

Pada ayat di atas itu terdapat kata “Ulama”. Hal itu untuk saat dewasa ini tidak
ditujukan kepada ulama Bani Israil saja, melainkan orang yang sudah mengerti.
Berkaitan dengan itu kita lihat lagi ayat yang bunyinya :

“Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu


menyedihkan hatimu (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka
sebenarnya bukan mendustakan kamu akan tetapi orang-orang yang zalim itu
mengingkari ayat-ayat Allah.” (Q.S. Al An’am : 33).

Asbaabunnuzul dari ayat itu menerangkan bahwa para pentolan musyrikin


seperti Abu Jahal, Abu Sofyan dan Akhnas dalam hati mereka membenarkan
bahwa Muhammad s.a.w itu sebagai Nabi. Namun mereka menyembunyikan hal
itu dihadapan para pengikutnya, karena takut masing-masing kedudukannya
jatuh. Artinya, jika ketahuan oleh para pengikutnya niscaya akan didepak dari
masing-masing kepemimpinannya. Atau jika terus terang mengakui kenabian
Muhammad Saw, berarti para pentolan yang bangsawan itu akan dipimpin oleh
Muhammad yang asalnya penggembala domba.

Memang, ayat itu ditujukan kepada para pentolan Quraisy seperti Abu Jahal dan
Abu Sofyan serta Akhnas yang jelas tidak Sholat dan tidak berpuasa Ramadhan,
juga mereka sudah tiada. Akan tetapi, kesombongan serta dengki dari sifat iblis
tidak berhenti sampai sekarang, Iblis sudah berikrar untuk menyesatkan
manusia dari segala segi kehidupan (Q.S. 7 : 16-17) sehingga seseorang tidak
menyadarinya. Menuntun ummat keluar dari undang-undang Ulil Amri yang hak
sungguh suatu kebathilan. Sedangkan perbuatan bathil itu merusak shalat.
Sebab itu, waspadalah terhadap pintu masuknya Iblis!.

Tujuan Iblis ialah supaya manusia masuk neraka (Q.S. 35 : 6). Caranya berbeda-
beda tergantung kondisi manusianya. Bisa saja dari segi shalat dan puasa
seseorang tidak tergoda, tapi dalam menghilangkan keangkuhan dan gila
hormat tidak mampu, yang akibatnya terus membohongi ummat sehingga
ummat tidak tahu dasar hukum pemimpinnya, dituntun kepada kepalsuan atau
digiring kepada anggapan belum adanya pemimpin. Sungguh berani jika
infaqnya diambil sedangkan belum ada pemimpinnya. Atau tidak berdasarakan
hukum. Bagaimanakah pertanggungan jawabnya nanti di Akhirat ?

Padahal pihak thagut alias ‘Setan’ saja punya pemimpin. Apalagi dalam Islam
sebelum Khadijah, Abu Bakar serta Ustman bin Affan menginfaqkan harta
mereka, juga sebelum Yassir dan Sumayyan dibunuh dan Bilal bin Raba’ah
disiksa musuh, kesemuanya itu sudah ada kejelasan pemimpinnya.

Kedua, Justru dengan berpegang pada undang-undang itu supaya kita tidak
berbeda-beda. Sebab, di dunia manapun tidak ada undang-undang yang dibuat
supaya di antara para pemegangnya berbeda-beda dan berpecah-belah.

Ketiga, Justru pula kita harus berpegang pada undang-undang (PDB) itu karena
kita berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw.

Contoh Pertama, Yakni, di dalam Al-Qur’an ada ayat yang memerintahkan kita
supaya mentaati “Ulil Amri (para pemegang urusan)” yaitu pemimpin atau majlis
kepemimpinan. Artinya, kita diperintahkan mentaati peraturan./undang-undang
yang ditetapkannya. Jadi, untuk kita berpegang pada Al-Qur’an itu kita wajib juga
berpegang pada undang-undang, yang untuk NII yaitu Qanun Azasy, PDB dan
Straftrecht. Berkaitan dengan undang-undang, kita perhatikan ayat yang
bunyinya :

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Rabbnya dan


mendirikan Shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah
antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan
kepada mereka.” (Q.S. Asy Syura : 38).

Dari ayat itu kita diwajibkan bermusyawarah. Hal itu berarti kewajiban merujuk
kepada undang-undang. Sebab, undang-undangnya itu juga hasil musyawarah.
Dengan demikian musyawarah itu ada batasannya. Diantaranya:
Harus sesuai dengan undang-undang, karena jika tidak demikian, akan kacau,
semua bisa ngaku telah bermusyawarah. Dan bisa-bisa hasil rekayasa “Thagut
(musuh)” pun diakukan sebagai hasil musyawarah.
Yang dimusyawarahkan itu ialah yang belum ada dalam undang-undang. Sebab,
jika yang sudah ada dalam undang-undang, misalnya masalah kepemimpinan
selalu diperdebatkan, maka tidak akan habis-habisnya sehingga tidak akan
kerja-kerja.
Contoh Kedua, Al-Qur’an mewajibkan kita bersatu, sebagaimana diungkapkan
dalam ayat yang bunyinya :

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah
kamu bercerai-berai,…),” (Q.S. Ali Imron : 103).

Dari ayat itu dimengerti bahwa umat itu bisa bersatu apabila berpegang pada
“Hablullah (garis yang ditentukan Allah)”, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.
Sebagai bukti, pada awalnya berdirinya Negara Islam di Madinah umat Islam
yang minoritas dan terus menghadapi berbagai gangguan fisik dari dalam
ataupun luar, namun tetap bersatu sebab semua umat berpegang pada undang-
undang (Piagam/Undang-undang Madinah) sehingga seragam, baik itu dalam hal
kepemimpinan maupun dalam penentuan mana musuh dan mana bukan.
Dengan demikian bisa disimpulkan secara hukum bahwa yang disebut berpecah
belah itu mereka yang tidak berundang-undang (inkonstitusional). Perhatikan
sabda Nabi SAW :

“Sesungguhnya ummatku tidak akan bersatu dalam kesesatan. Sesungguhnya


Allah tidak menyatukan ummatku atas kesesatan. Tidak akan bersatu ummat
kecuali dalam petunjuk (Hudaan).” (H.R. Tirmidzi).

Yang disebut “Hudaan” yaitu petunjuk. Dan yang disebut petunjuk itu ialah Al-
Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, atau perbuatan Nabi seperti halnya membuat
undang-undang negara di Madinah. Nabi Muhammad SAW membuat Undang-
Undang Negara Islam, ummat diwajibkan mentaatinya. Sebab, apa artinya
berUlil Amri jika tidak taat kepada undang-undangnya. Jadi, yang tidak taat pada
undang-undang negara yang berazaskan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW,
merekalah yang tidak berpegang pada Sunnah (Hudaan).

Contoh Ketiga, Bagian akhir dalam undang-undang pemerintahan Nabi di


Madinah disebutkan antara lain :

“Sesungguhnya tidak ada orang yang akan melanggar ketentuan (undang-


undang) tertulis ini kalau bukan pengkhianat dan pelaku kejahatan”.

Dengan itu jelas ummat Nabi SAW diwajibkan berpegang pada undang-undang
pemerintahan Islam di Madinah yang pada waktu itu. Jadi, bahwa kita juga
berpegang pada Undang-Undang Negara yang berdasarkan Qur’an dan Hadits
Shahih, mencakup didalamnya semua Maklumat hasil musyawarah Dewan
Imamah NII itu disebabkan kita berpegang pada Sunnah Nabi SAW.

Dalam semua perkumpulan atau kelembagaan, orang-orangnya bisa bersatu


apabila semuanya konsisten pada perundang-undangan atau peraturannya.
Misalnya, dalam permainan bola saja dari setiap negeri bisa bersatu dalam satu
kompetisi, karena semua berpegang pada peraturan main bola. Sebaliknya,
meskipun cuma dalam satu kampung, namun jika sebagian ada yang tidak mau
berpegang pada peraturan main bola, maka tidak akan jadi main bola yang
sebenarnya, melainkan main bola bohongan. Sama halnya dengan itu, bisa
disebut NII apabila memakai perundang-undangan NII. Bisa bersatu di dalamnya
jika semua pakai aturan-aturannya. Antara lain yaitu PDB.

Kesimpulannya, bahwa berpecah-belah itu, karena tidak berpegang pada satu


rujukan (undang-undang). Yaitu, ingat pada negara tapi lupa pada peraturannya,
ingat pada ayat jihad lupa kewajiban taat pada undang-undang yang dikeluarkan
oleh Ulil Amri (Dewan Imamah), maka terjadilah berfirqoh-firqoh (cerai-berai).
Perhatikan Firman Allah SWT yang bunyi-Nya :

“Dan di antara orang-orang yang mengatakan : “Sesungguhnya kami ini orang-


orang Nasrani”, ada yang telah kami ambil perjanjian mereka (sengaja)
melupakan sebagian dari apa yang telah diberi peringatan dengannya; maka
Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari
kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu
mereka kerjakan.” (Q.S. Al maidah : 14).

Pelajaran berharga!!! baru-baru ini negeri kita diramaikan oleh peristiwa


“Jatiasih” dan “Temanggung”. Terlepas siapa orangnya, benar atau tidak
perjuangannya, kita dapat mengambil pelajaran bahwa RI melalui tulang
punggung negaranya yakni TNI dan Polisi bersatu padu untuk mengamankan
negaranya dari segala ancaman dan gangguan yang bisa mengganggu
eksistensinya negara RI. Ingatlah RI itu seperti “Masjid Dhiror, Kufron dan
Tafriqon” seperti firman Alloh dibawah ini:

“dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan
masjid untuk menimbulkan kemudharatan/ dhiror (pada orang-orang mukmin),
untuk kekafiran (kufron) dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin
(tafriqon) serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah
dan Rasul-Nya sejak dahulu. mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak
menghendaki selain kebaikan.” dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya
mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (Qs. At Taubah: 107)

“janganlah kamu berdiri dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh- nya


mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah
lebih patut kamu berdiri di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang
yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang bersih.” (Qs. At Taubah: 108)

Jika dulu pada zaman Rosululloh SAW. ketika Madinah sudah Eksis maka
dibangunlah Masjid Quba sebagai pusat pemerintahannya dalam menjalankan
roda pemerintahannya dibawah kepemimpinan Rosulullah SAW. Dan selanjutnya
ada beberapa orang munafik yang tidak suka kepada Rosululloh sehingga
membuat “Masjid tandingan”.
Ada ayatnya berarti ada kejadiannya. Kita tahu bahwa fakta sejarah eksistensi RI
sebenarnya cuma 3 tahun (17 Agustus 1945 sampai 19 Desember 1948) yang
ditandai pengibaran bendera putih oleh Sukarno di Yogyakarta sebagai tanda
menyerah kepada Belanda sehingga Indonesia dalam keadaan Vacum of Power
(Kekosongan penguasa).

Karena karunia Alloh ‘Azza Wa Jalla maka pada tanggal 7 Agustus 1949 ummat
Islam Bangsa Indonesia memproklamasikan Negara Islam Indonesia dengan
menggunakan hukum Islam. Inilah sebagai “Masjid Taqwa” sebagai awal tempat
bersujudnya Ummat Islam Bangsa Indonesia kepada Alloh selama 24 jam dalam
kehidupan sehari-hari.

Untuk mengingatkan kembali silakan klik cikal bakal NII dan Menguliti Mitos RI
buatan Sukarno

Oleh karena itu marilah kita sebagai ummat Islam bangsa Indonesia bersatu
kedalam “Masjid Taqwa” yakni Negara Islam Indonesia sebagai Negara Karunia
Alloh. Perhatikan firman Alloh dibawah ini:

“Maka Apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa


kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang
mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh
bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. dan Allah tidak
memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim.” (Qs. At Taubah: 109)

Wahai para Mujahidin Indonesia yang masih “ada aqidahnya” dan Ummat Islam
bangsa Indonesia, musuh saja terus bersatu padu untuk mengamankan
negaranya padahal negara mereka dalam keadaan eksis, bagaimana dengan
kita semuanya yang sudah disediakan NII oleh para pejuang dulu sebagai
“Masjid Taqwa“ (Qs.9:108), tempat kita bersujud 24 jam kepada Alloh ‘Azza Wa
Jalla dalam kehidupan sehari-hari, akankah kita bercerai berai terus, akankah
selalu mengedepan ego kita terhadap pola perjuangan masing-masing?

Simaklah ayat berikut ini sebagai motivasi buat kita:

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka
berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan
mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi
kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan
membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan
mereka durhaka dan melampaui batas”. (Qs. Al Maidah: 112)

Pada ayat diatas yang dimaksud dengan “Tali Alloh” adalah perlindungan yang
telah ditetapkan oleh Alloh yakni Al Quran, sedangkan “Tali Manusia” adalah
perlindungan yang diberikan oleh Pemerintahan Islam. Adanya pemerintahan
Islam berarti terlebih dahulu harus mewujudkan Negara Islam yang berdasarkan
Al Quran (Tali Alloh) dan Sunnah.
Jika kita tidak berpegang kepada kedua tali tersebut maka akibatnya bangsa
Indonesia yang mayoritas muslim akan selalu ditimpa kehinaan, kemurkaan dari
Alloh dan kerendahan. Mengapa bisa demikian? karena Ummat Islam Bangsa
Indonesia telah mengingkari ayat-ayat Alloh, tidak melanjutkan risalah Nabi SAW
(membunuh para Nabi tanpa hak) dan berbuat durhaka serta melalmpaui batas.

Wallohu a’alm bish showab

Taushiyah Untuk Para Aktivis “Tiada Jihad Tanpa Adanya Khilafah”


Posted by abuqital1 under Rujukan NII
[3] Comments

Rate This

Artikel ini sengaja dimunculkan untuk menjawab mereka yang terwakili oleh
“Hizbut Tahrir”. Tidak ada pembicaraan bagi mereka kecuali tentang Khilafah
dan eksistensinya, sampai tidak pernah kosong buletin dari buletin-buletin
mereka kecuali di dalamnya ada penyebutan Khilafah, akan tetapi mereka pada
waktu yang sama telah membatasinya dengan batasan-batasan dan
mensyaratkan baginya syarat-syarat yang tidak ada dalilnya, yang intinya bahwa
mereka ini sebenarnya tidak menginginkan khilafah ini bisa berdiri, dan bahwa
mereka dengan syarat-syarat mereka yang rusak ini adalah batu sandungan
sebenarnya di hadapan setiap proyek Islamiy yang serius yang memiliki tujuan
penegakkan daulah Islamiyyah atau khilafah rasyidah di atas minhaj an
nubuwwah.

Di antara syarat-syarat mereka (HT) yang rusak adalah:


Syubhat Pertama : Ucapan mereka “Tidak ada jihad kecuali bersama khalifah”
Syubhat kedua : Agar HT keluar dari kesulitan yang sangat yang ia terjatuh ke
dalamnya akibat pernyataannya akan syubhat I yang baru disebutkan, maka ia
berkata : Kami tidak menghalangi bagi individu-individu HT untuk berangkat
jihad seandainya mereka ingin itu dengan dorongan pribadi mereka sendiri, akan
tetapi dengan bentuk individu, sedang HT tidak bertanggung jawab atasnya dan
tidak memikul akibat-akibat dan hasil-hasilnya, sebagaimana HT tidak
memerintahkan seorangpun untuk pergi berjihad karena hal itu menyalahi
arahan-arahan dan prinsif-prinsif HT yang bersifat politik…!!
Syubhat ketiga : Ucapan mereka “Tidak ada jalan untuk mencapai Khilafah
kecuali lewat jalan Thalabun nushrah (meminta dukungan)” dalam rangka
mencontoh perbuatan Nabi saw yang meminta dukungan untuk diennya dan
dirinya dari kabilah-kabilah dan para pemuka Arab…!!
pengguguran dasar jihad dan kekuatan sebagai jalan yang shahih untuk tamkin,
dan tegaknya khilafah, dan ucapan mereka bahwa Khilafah itu tidak mungkin
bahkan tidak boleh datang kecuali lewat jalan thalabun nushrah (meminta
pembelaan), dan siapa yang berjuang ke arah khilafah tanpa lewat jalan ini
maka perjuangannya adalah bathil dan tertolak, dan ia itu adalah menyelisihi al
haq dan apa yang disyari’atkan…!! Dan pendapat ini menghantarkan mereka
kepada pensyaratan lain mereka yang bathil, yaitu ucapan mereka yang
masyhur : (Tidak ada jihad kecuali setelah adanya khilafah, dan jihad apa saja
sebelum adanya khalifah maka ia adalah bathil dan tidak disyari’atkan.) Ini
adalah syubhat-syubhat dan syarat-syarat yang lemah, Insya Allah kita akan
membantahnya dengan rinci.

Dan di antara yang menampakkan penolakan mereka terhadap landasan jihad fi


sabilillah dan I’dad kekuatan serta celaan mereka terhadap landasan (jihad)
Islamiy ini adalah ucapan mereka dan ungkapan mereka yang berulang-ulang di
buletin-buletin mereka (yang menyatakan) bahwa mereka adalah hizb siyasiy
(partai politik) yang tidak menggunakan senjata dan kekerasan…

Karena materi ini uraiannya panjang, bagi yang ingin memahaminya lebih dalam
lagi silakan klik di sini untuk mendownloadnya. Pada materi ini dikritik juga
pandangan “Syaikh Yusuf Qordlowi” terhadap “Jihad Fii Sabilillah.

Syubhat-Syubhat Dan Bantahan-Bantahan

Sebagian isi dari artikel ini yang patut kita pahami adalah Hizbut Tahrir (HT) dan
yang lainnya menanam sebagian syubhat dan lobang di tengah pilihan yang
penuh berkah, pilihan jihad fi sabilillah. Ini yang mendorong kami akan kewajiban
membantahnya –dengan sedikit rincian – dan terutama sesungguhnya ada
orangyang mau mendengar pada syubhat-syubhat dan ucapan-ucapanmereka
yang batil ini!

Syubhat Pertama : Ucapan mereka “Tidak ada jihad kecuali bersama khalifah”.

Yaitu tidak boleh bagi umat untuk berjihad dan menjauhkan darinya kezaliman
dan penganiayaan sebelum adanya khalifah!! Dan untuk membantah syubhat ini
kami tambahkan poin-poin berikut :

Pertama : Ketidakadaan dalil dari Al Kitab dan As Sunnah yang memberikan


faidah keabsahan batasan atau syarat ini, bahkan seluruh nash-nash syar’iy
yang memerintahkan jihad fi sabilillah – padahal ia sangat banyak – telah datang
secara muthlaq lagi tidak dibatasi dengan zaman atau tempat atau sifat
tertentu, seperti syarat yang disebutkan di atas ini.

Kedua : Ketidak adaan seorang sahabat atau orang ‘alim mu’tabar – di abad-
abad terdahulu dan sekarang sama saja – yang berpendapat dengan pendapat
yang bid’ah lagi asing ini… tergolong yang mengisyaratkan bahwa pendapat ini
adalah hal asing yang masuk ke dalam Fiqh Islamiy yang tidak meninggalkan hal
jauh dan hal yang dekat kecuali ia membahasnya.

Ketiga : Pendapat dengan batasan dan syarat ini ujung-ujungnya ta’thil


(pengguguran) pengamalan ribuan nash syar’iy yang menganjurkan jihad dan
memerintahkannya, maka ia adalah hal penting sekali… namun demikian ia
tidak disebutkan baik isyarat maupun talmih (sindiran) dalam satu nash pun dari
nushush syari’at, dan tidak pula dalam ucapan seorang ‘alim
mu’tabar pun, padahal sesungguhnya dien ini telah sempurna penjelasannya,
dan nabi kita saw tidak meninggalkan suatupun yang mendekatkan kita ke surga
dan yang menjauhkan kita dari neraka melainkan beliau saw telah
menjelaskannya kepadaumatnya…
Sebagaimana firman Allah ta’ala :
‫عَلْيُكْم ِنْعَمِتي‬
َ ‫ت‬
ُ ْ‫ت َلُكْم ِديَنُكْم َوَأْتَمم‬
ُ ‫اْلَيْوَم َأْآَمْل‬
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-
cukupkan kepadamu ni`mat-Ku,” (Al Maa-idah : 3).

Dan sabdanya saw : “Aku tidak meninggalkan sesuatu yang mendekatkan kalian
kepada Allah melainkan aku telah memerintahkan kalian terhadapnya, dan aku
tidak meninggalkan sesuatu yang menjauhkan kalian dari Allah dan
mendekatkan kalian ke neraka melainkan aku telah melarang kalian darinya.”

Dan sahabat berkata : “Rasulullah tidak meninggalkan seekor burung yang


membalikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau telah menjelaskan
kepada kita ilmu tentangnya.”

Keempat : Nash-nash syari’at menunjukkan secara jelas dan pasti bahwa jihad
itu berlangsung di setiap zaman sampai hari kiamat; baik kaum muslimin itu
memiliki Khalifah dan imam ‘aam ataupun mereka tidak memiliki khalifah dan
imam ‘aam, sebagiannya telah lalu dan disini kami menambah nushush berikut
ini :

Di antaranya, sabdanya saw : “Dien ini akan senantiasa tegak yang berperang di
atasnya sekelompok dari kaum muslimin sampai datang hari kiamat.” (HR.
Muslim).
Dan sabdanya saw : “Senantiasa sekelompok dari umatku berperang di atas al
haq seraya nampak (menang) sampai hari kiamat.” (HR. Muslim).

Kelima : Bahwa Abu Bashir dan orang-orang yang bergabung dengannya dari
kalangan sahabat yang mulia – disebabkan butir-butir perjanjian Hudaibiyyah
yang menghalangi mereka dari bergabung dengan Nabi saw di Madinah –
mereka membegal kafilah-kafilah Quraisy dan memerangi kaum musyrikin tanpa
izin atau perintah dari Nabi saw, dan pada waktu yang sama beliau tidak
mengingkari mereka atas jihadnya itu padahal mereka melakukan jihad tanpa
izin imam yang mana ia adalah sosok beliau yang penuh berkah saw.
Keenam : Banyak para sahabat dan tabi’in telah melewati fase qital dan jihad
tanpa ada khalifah, seperti Az Zubair Ibnul ‘Awwam, Mu’awiyah, Amr Ibnul ‘Ash,
Al Husen Ibnu Ali, Abdullah Ibnu Az Zubair dan para sahabat lainnya ra. Begitu
juga Banu Umayyah, ‘Abbasiyyah, dan Utsmaniyyah, sesungguhnya mereka
telah melewati fase qital dan jihad sebelum penegakkan daulah-daulah mereka
dan kekhilafahannya serta (sebelum) pengangkatan imam (pemimpin) umum
atas kaum muslimin…

Ketujuh : Pendapat ini (HT) ujung-ujungnya menghantarkan pada celaan dan


pengragu-raguan akan syar’iyyah (keabsahan) jihad seluruh harakat
(pergerakan-pergerakan) jihadiyyah masa kini yang bangkit dengan serius di
hadapan para thaghut yang melampaui batas, dalam rangka tegaknya khilafah
rasyidah dan mulainya kehidupan Islamiyyah di seluruh bidang dan tingkatan.

Kedelapan : Pendapat ini pada hakikatnya tidak mengemban kecuali


kepentingan musuh-musuh umat yang bejat lagi aniaya dari kalangan penjajah
dan yang lainnya, dimana mereka berbuat suatu yang mengokohkan kekuasaan
dan pemerintahan mereka di tanah Islam supaya mereka menyengatkan siksa,
kehinaan dan kenistaan terhadap negeri dan masyarakat. Dan itu terealisasi
terhadap mereka dengan bentuk menghalangi kaum muslimin dari bangkit
melakukan kewajiban jihad mereka dan mensucikan negerinya dari kebusukan
dan sikap aniaya mereka.

Syubhat kedua : Agar HT keluar dari kesulitan yang sangat yang ia terjatuh ke
dalamnya akibat pernyataannya akan syubhat I yang baru disebutkan, maka ia
berkata : Kami tidak menghalangi bagi individu-individu HT untuk berangkat
jihad seandainya mereka ingin itu dengan dorongan pribadi mereka sendiri, akan
tetapi dengan bentuk individu, sedang HT tidak bertanggung jawab atasnya dan
tidak memikul akibat-akibat dan hasil-hasilnya, sebagaimana HT tidak
memerintahkan seorangpun untuk pergi berjihad karena hal itu menyalahi
arahan-arahan dan prinsif-prinsif HT yang bersifat politik…!!

Dan untuk membantah syubhat dan ungkapan ini kami cantumkan poin-poin
berikut ini :

Pertama : Tidak ada dalil syar’iy yang membolehkan bagi individu untuk jihad
dari dorongan diri sendiri dan mengharamkan jihad itu atas jama’ah atau hizb.
Jadi ia adalah ucapan yang tidak pernah diucapkan oleh seorang ‘alim mu’tabar
pun dan HT dalam hal ini tidak memiliki pendahulu dalam pendapat ini.

Justeru bila telah wajib ‘ain atas individu dan boleh berjihad baginya maka
apalagi lebih wajib ‘ain atas Hizb dan jama’ah yang memiliki power dan kekuatan
yang tidak dimiliki oleh individu…!
Dan orang-orang yang membuat perbedaan ini – antara individu dengan jama’ah
– wajib atas mereka menetapkan kebenaran perbedaan dan pemilahan mereka
ini dengan dalil syar’iy dari Al Kitab atau As Sunnah, dan mana mungkin…!!

Kedua : Tidak diketahui bagi seorang pun dari kalangan pemuda HT bahwa ia
telah ikut serta dalam tempat-tempat kehormatan dan jihad yang sangat banyak
di banyak faham; seperti jihad yang terjadi di Palestina atau Afghanistan, atau
Bosnia Herzegovina atau Chechnya atau tempat-tempat lainnya yang terjadi di
dalamnya peperangan dan jihad antara al haq dengan al bathil.

Dan bagaimana ia ikut serta sedangkan dia itu didoktrin oleh para tokoh Hizb-
nya untuk anti jihad di tempat-tempat ini dan dia telah menyerap dari mereka
metode celaan, pencacatan dan pengkhianatan terhadap jihad dan mujahidin!!

Ketiga : Bila telah diketahui ketidakadaan dalil syar’iy yang menunjukkan


keshahihan perbedaan dan pemilahan ini dan begitu juga ketidakadaan
seorangpun dari HT yang ikut serta dalam jihad para mujahidin, maka engkau
mengetahui bahwa ucapan mereka tadi hanyalah sekedar siasat dan penyesatan
saja, dan agar mereka tidak mendapatkan kecaman dari sebagian
para pemuda yang bersemangat – di awal mulanya – yang jatuh dalam jaring-
jaring mereka sebelum mendoktrinnya dan menggemblengnya dengan arah
yang mereka inginkan.

Syubhat ketiga : Ucapan mereka “Tidak ada jalan untuk mencapai Khilafah
kecuali lewat jalan Thalabun nushrah (meminta dukungan)” dalam rangka
mencontoh perbuatan Nabi saw yang meminta dukungan untuk diennya dan
dirinya dari kabilah-kabilah dan para pemuka Arab…!!

Pertama : Bila mereka mengatakan bahwa cara thalabun nushrah itu


disyari’atkan, sehingga boleh bagi harakah Islamiyyah melaluinya bila itu
mungkin baginya dan mendapatkan jalan untuk itu, maka ini adalah pendapat
yang shahih yang tidak ada cacat dan tidak ada perselisihan.

Akan tetapi pilihan ini juga tidak memberikan alasan bagi umat untuk diam
meninggalkan I’dad dan jihad fi sabilillah dan tidak menghalanginya dari itu.
Dimana jalan I’dad dan jihad, serta thalabun nushrah dari orang-orang yang
memiliki syaukah (power)… semua itu berjalan bergandengan, dan tidak boleh
berjalan dengan salah satunya menjadi alasan untuk menjauhi atau
meninggalkan jalan yang lainnya.

Kedua : Adapun bila dikatakan bahwa jalan thalabun nushrah – sebagaimana


yang diklaim Hizbut Tahrir – adalah syarat untuk keshahihan tegaknya khilafah;
yaitu bahwa tidak boleh bagi umat menelusuri jalan lain untuk nushrah dien ini
dan meninggikan kalimatnya selain jalan thalabun nushrah…!!

Maka kami katakan : Ini adalah ucapan bathil yang sama sekali tidak ditunjukkan
oleh satu nash syar’iy shahih pun baik penegasan maupun sindiran, yang sama
sekali Allah tidak menurunkan satu bukti pun, dan tidak pernah seorang ‘alim
mu’tabar dari salaf dan khalaf pun mengatakannya.

Ketiga : Apa yang dilakukan Nabi saw berupa thalabun nushrah dari kabilah-
kabilah dan suku-suku Arab – sedang beliau di Mekkah pada masa ketertindasan
sebelum Allah berikan kekuasaan dan sebelum sempurnanya dien –
menunjukkan akan kebolehan hal itu, namun tidak menunjukkan akan wajibnya
hal itu apalagi sampai menunjukkannya sampai syarat untuk memulai kehidupan
Islamiy dan tegaknya khilafah rasyidah, atau (sampai) menunjukkan bathilnya
jalan jihad setelah sempurnanya dien ini dengan ajarannya, penjelasannya dan
penjelasan hukumhukumnya.

Keempat : Agar sesuatu itu dikatakan wajib dalam syari’at haruslah ada bukti
padanya banyak nash atau satu nash yang memberikan faidah perintah dan
pengharusan dalam melakukan sesuatu ini tanpa ada qarinah syar’iyyah yang
memalingkannya kepada tingkatan nadh (sunnah) yang mana ia itu di bawah
fardlu.

Kelima : Bila jalan thalabun nushrah – sebagaimana yang telah lalu – tidak
didapatkan satu nash pun yang menghantarkannya kepada tingkatan wajib dan
fardlu; yaitu dengan setiap keadaannya tidak naik pada tingkatan sunnah atau
nadb, maka bagaimana kita menjadikannya jalan yang sunnah yang naik dan
meningkat serta menghapus jalan jihad fi sabilillah yang mana nushrah
syar’iyyah yang berjumlah ratusan – dan sebagiannya telah lalu – menunjukkan
akan kewajiban dan kefardluannya…?! Maka apa masuk akal secara syari’at
adalah sunnah didahulukan atas hal wajib apalagi kalau itu menjadi sebab dalam
penggugurannya dan tidak menegakkannya…?!!

Keenam : Yang mendorong Nabi saw untuk meminta nushrah dari kabilah-
kabilah dan suku-suku Arab adalah lemah dan jumlah yang sedikit yang tidak
cukup untuk mengemban konsekuensi dan tanggung jawab dien ini… Dan
tatkala kadar cukup telah terealisasi dengan nushrah al anshar terhadap Nabi
saw dan diennya, maka tidak dikenal dari Nabi saw bahwa beliau meminta
nushrah setelahnya dari seorangpun selama-lamanya, dan beliau pun tidak
menawarkan dirinya terhadap kabilah-kabilah, dimana ini menunjukkan bahwa
nushrah itu disyari’atkan karena hal lain bukan karena sendirinya. Bila kadar
kecukupan telah terealisasi dan telah lenyap sebab-sebab nushrah dan
faktorfaktor pendorongnya maka ia tidak mengamalkannya.

Ketujuh : Bila jumlah sedikit adalah yang mendorong Nabi saw untuk thalabun
nushrah… maka apa yang membawa umat pada hari ini untuk thalabun nushrah
sedangkan jumlahnya melebihi satu milyar muslim… terus apa yang membawa
HT untuk sembunyisembunyi dengan thalabun nushrah, sedangkan anggota
Hizbnya saja sebagaimana yang dikatakan edaran-edaran dan
penjelasanpenjelasan mereka adalah mencapai ratusan ribu.

dan masih banyak lagi alasan untuk membantah subhat ini.


3 Tanggapan to “Taushiyah Untuk Para Aktivis “Tiada Jihad Tanpa Adanya
Khilafah””
Ibnu Janna Says:

Oktober 1, 2009 at 1:37 pm

Assalamualaikum wr wb,
Menarik sekali topik ini,.
ya saya setuju dengan Anda,. pendapat HT tentang tiada jihad tanpa khilafah
tentunya sangat janggal dan membingungkan, bukankah terbalik? bukankah
seharusnya tiada khilafah tanpa jihad??
Balas
MALIK Says:

Oktober 12, 2009 at 2:16 pm

sodaQallah hul adzim


MAHA BENAR ALLOH DENGAN SEGALA FIRMA-NYA

ALLOHU AKBAR..
HAYYA BIL JIHAD
Balas
khilafatulmusliminksb Says:

November 1, 2009 at 2:58 pm

yang penting harus bersatu dalam sistem khilafah.. di bawah satu kepemimpinan
ummat yang di sebut kholifah/amirul mukminin …insya allah para pejuang NII
telah bergabung bersama kami.. lihat di
http://www.khilafatulmusliminksb.wordpress.com ada fotonya lho?

Tata Cara Pengangkatan Imam NII yang sebenarnya


Posted by abuqital1 under Membedah MKT. no. 11 Th. 1959
[3] Comments

Rate This

Pengangkatan Adah Jaelani Tirtapraja pada Tahun 1978 itu tidak bisa dinyatakan
sebagai musyawarah NII, sebab bertentangan dengan undang-undang Negara
Islam Indonesia. Musyawarah bisa disebut baik, apabila musyawarah itu sesuai
dengan undang-undang NII. Tetapi, karena yang menamakan musyawarah NII,
1978 itu bertentangan dengan undang-undang NII, maka pengangkatan Adah
Jaelani Tirtapraja sebagai Imamnya itu bukan saja tidak baik, melainkan juga
secara hukum bukanlah musyawarah NII yang sebenarnya dari Proklamasi 7
Agustus 1949. Bila ada yang mengatakan baik, maka itu hanyalah menurut
tinjauan dari pribadi dan bukan menurut dasar hukum NII. Sebab-sebabnya
antara lain yaitu :

Menurut Qanun Azasy (UUD NII) Bab VI Pasal 12 ayat 2 “Imam dipilih oleh Majlis
Syuro dengan suara paling sedikit 2/3 dari pada seluruh anggota”. Dan menurut
Bab II Pasal 4 Ayat 1 “Majlis Syuro terdiri atas wakil-wakil rakyat ditambah
dengan utusan golongan-golongan menurut ditetapkan dengan undang-undang”.
Sedangkan mereka yagn mengatasnamakan musyawarah pengangkatan Imam
NII 1978 itu, para pelakunya bukan wakil-wakil rakyat NII juga bukan utusan
golongan-golongan, melainkan adalah pribadi-pribadi dalam arti tidak berhak
mengangkat Imam NII.
Sejak Proklamasi 7 Agustus 1949 sampai ditulisnya buku ini, Negara Islam
Indonesia dalam keadaan Masa Perang sehingga belum ada Parlemen (Majlis
Syuro) yang seperti dalam Bab II Pasal 4 ayat 1 tadi. Dengan keadaan demikian
berlaku Undang-undang Pasal 3 ayat 2, “Jika keadaan memaksa, hak Majlis
Syuro boleh beralih kepada Imam dan Dewan Imamah”. Sedangkan mereka yang
mengatasnamakan Musyawarah 1978 itu bukanlah para anggota Dewan
Imamah, melainkan terdiri dari sebagian tokoh yang telah melarikan diri dari
Medan Perang atau datang menyerahkan diri ke pihak musuh.
Menurut Bab XV Perubahan Qanun Azasy Pasal 34 dalam hal, “Cara Berputarnya
Roda Pemerintahan”. Pasal 1 ; “Pada umumnya roda Pemerintahan NII berjalan
menurut dasar yang ditetapkan dalam “Qanun Azasy”, dan sesuai dengan pasal
3 dari “Qanun Azasy”, sementara belum ada Parlemen (Majlis Syuro), segala
undang-undang ditetapkan oleh Dewan Imamah dalam bentuk Maklumat-
Maklumat yang ditanda-tangani oleh Imam”

Adapun bunyi Maklumat yang ditetapkan oleh Dewan Imamah yang tercantum
dalam Maklumat Komandemen Tertinggi (MKT) No. 11, Tahun 1959 di antaranya
yaitu :

“K.P.S.I. dipimpin langsung oleh Imam-Plm. T.APN.I.I., Jika karena satu dan lain
hal, ia berhalangan menunaikan tugasnya, maka ditunjuk dan diangkatnyalah
seorang Panglima Perang, selaku penggantinya, dengan purbawisesa penuh”.

“Calon pengganti Panglima Perang Pusat ini diambil dari dan di antara Anggota-
Anggota K.T., termasuk didalamnya K.S.U. dan K.U.K.T., atau dari dan diantara
para Panglima Perang, yang kedudukannya dianggap setaraf dengan kedudukan
Anggota-Anggota K.T.”.

Berdasarkan undang-undang itu (MKT. no. 11 Thn 1959), maka yang berhak
dipilih sebagai Panglima Perang Pusat (Imam) dalam Masa Perang (sementara
belum ada Parlemen) harus diambil dari A.K.T. (Anggota Komandemen
Tertinggi), termasuk didalamnya K.S.U. (Kepala Staf Umum) dan K.U.K.T. (Kuasa
Usaha Komandemen Tertinggi) atau yang setaraf dengan A.K.T. yang dalam hal
ini adalah Panglima KPWB (Komando Perang Wilayah Besar), Sedangkan
Musyawarah 1978 tidak sesuai dengan undang-undang tersebut di atas tadi.
Antara lain :

a). Bukan saja karena kebanyakan yang ikut bermusyawarah itu orang-orang
yang tidak berkedudukan setaraf dengan A.K.T., tetapi mereka juga adalah yang
sudah keluar dari NII (meninggalkan Imam di Medan Jihad).

b). Yang diangkat oleh mereka sebagai Imam NII adalah Adah Jaelani Tirtapraja
yang sudah desersi, keluar dari NII; menyerahkan diri kepada Pemerintah R.I.
Dengan itu dia tidak lagi menjadi A.K.T.

Kesimpulannya, Musyawarah 1978 itu tidak memakai undang-undang NII.


Terbukti telah melanggar:
Bab IV Pasal 12 Ayat 2, “Imam dipilih oleh Majlis Syuro dengan suara paling
sedikit 2/3 daripada seluruh anggota”. Sedangkan pada kondisi Masa Perang ini
belum ada Majlis Syuro (Parlemen).
Bab IV Pasal 13 Ayat 3 : “Didalam hal-hal yang amat memaksa, maka Dewan
Imamah harus selekas mungkin mengadakan sidang untuk memutuskan Wakil
Imam Sementara”. Sedangkan yang hadir pada musyawarah itu bukan anggota-
anggota Dewan Imamah. Dengan demikian pengangkatan Imam diluar undang-
undang, adalah “illegal”. Artinya, posisi kepemimpinan Adah Jaelani Tirtapraja itu
sekali diluar ketentuan hokum NII. Dari itu, bagaimana mungkin orang yang
diangkat berdasarkan ketentuan Non NII, bisa “sah” memimpin Negara Islam
Indonesia???
Bab XV Perubahan Qanun Azasy Pasal 34. “Cara Berputarnya Roda
Pemerintahan”. Ayat 1 yang dituangkan kepada Maklumat Komandemen
Tertinggi (MKT) No. 11 Tahun 1959 mengenai penggantian Imam dalam Masa
Perang, singkatnya menerangkan bahwa yang mengangkat dan yang diangkat
sebagai Imam itu harus setaraf dengan A.K.T. Sedangkan musyawarah 1978 itu
para pelakunya bukanlah yang setaraf dengan A.K.T, dan yang diangkatnya juga
bukan anggota AKT lagi. Melainkan, yaitu Adah Jaelani Tirtapraja bekas AKT,
sebab telah melaporkan diri ke pihak musuh sewaktu Imam S.M. Kartosoewirjo
belum tertangkap. Adah Djaelani turun 29 Mei 1962 (Suluh Indonesia, 29 Djuni
1962). Bernegara berarti berhukum dan berarti pula berundang-undang. Maka,
bermusyawarahnya juga mesti berdasarkan peraturan dari negara itu. Jika
sekedar mengaku telah bermusyawarah tanpa undang-undang negara, maka
siapa pun bisa. Cuma, jadi pemimpin apa namanya? Sebab, bila aturannya dari
Persatuan Pencak Silat, ya, pemimpin Persatuan Pencak Silat.

Begitu juga jika aturannya dari pribadi-pribadi maka hasilnya juga jadi pemimpin
pribadi-pribadi. Kemudian bila yang aturannya dari pribadi-pribadi itu dilakukan
sebagai pemimpin negara, maka hasil musyawarah seperti itu bukan hanya
“tidak baik melainkan juga ngawur” Negara, sedangkan aturannya dari pribadi,
maka bisa-bisa banyak sekali yang mengatasnamakan Negara Islam di
Indonesia. Jika hal demikian masih saja dianggap baik maka waspadalah jangan
kena ayat di bawah ini :

“…. Dan syaithan pun menampakkan kepada mereka kebaikan apa yang selalu
mereka kerjakan”. (Q.S. Al An’am : 43).

Catatan: Sekali lagi pengelola blog ini mohon maaf bila dalam penyebutan
“tokoh” ada yang merasa “tersinggung” baik dari pribadinya, keluarganya
maupun pengikutnya. Saya tidak ada motivasi lain apalagi membuka aib orang,
na’udzu billah min dzalik SELAIN HANYA UNTUK MELURUSKAN SEJARAH
PERJALANAN DAN PERJUANGAN NII.

Sumber: Buku Rujukan Negara Islam Indonesia (RUNISI) jilid 2

3 Tanggapan to “Tata Cara Pengangkatan Imam NII yang sebenarnya”


mujanad Says:

November 12, 2009 at 1:58 am

Ibnu Mas’ud berkata: “Al-Jama’ah adalah selama engkau berada di atas Al-Hak,
walau pun engkau hanya seorang diri.”

Tidak perlu ribut siapa yang berhak menjadi amir, toh itu bukan tiket kursi
masuk surga… dan bukan menjadi jaminan kebenaran.

Kadang-kadang kita terpenjara dengan masa lalu kita, jaman telah berubah
dengan cepat dan musuh tidak pernah beristirahat.
Kenapa masih ributkan masalah amir, yang tidak punya kekuasaan teritorial…??

Toh kalau ditilang polisi pun tetap tidak bisa berkilah “Aku seorang amir”, ironis
bukan?

Saatnya kita berlari mengejar al-hak, menguatkan ilmu dan amal serta
memperbanyak istigfar atas kekhilafan kita di masa silam.

Al-Afwu wal Izzatu Lillah

Abuqital1:
Berkaitan komentar tentang amir (pemimpin) yang terkesan diabaikan dan tidak
penting maka biasanya pernyataan tersebut datang dari:
1) orang yang terkesan/bernada yang putus asa, yakni tidak mau susah banyak
mikir.
2) orang yang belum paham tata-cara jihad dalam Islam.
3) orang yang berperasaan bahwa ibadahnya sudah sempurna atau tidak lagi
mempunyai dosa, karena anggapan cukup dengan menjalankan ibadah puasa
Bulan Ramadhan.
4) orang yang tidak mengerti tentang pentingnya nilai kepemimpinan dalam
Islam.

Untuk semuanya itu saya telah menjawabnya lewat link dibawah ini:
http://abuqital1.wordpress.com/2009/11/12/urusan-kepemimipinan-itu-nanti-
saja-belakangan-nanti-juga-pemimpin-itu-akan-datang-dengan-sendirinya-
%E2%80%9D/

Rupanya akhi belum memahami tentang kepemimpinan. Camkan oleh akhi


bahwa seseorang itu bisa menjadi pemimpin dikarenakan adanya “asas
Legalitas”, bukan karena dia sudah punya kekuasaan atau belum.

Akhi rupanya lupa dengan sejarah Rosululloh SAW dan para sahabatnya.
Muhammad sebelum menerima wahyu dari Alloh SWT adalah manusia biasa
seperti kita. Akan tetapi setelah Beliau menerima wahyu dia menjadi Nabi dan
Rosul yang “memimpin” ummatnya untuk beribadah kepada Alloh dan menjauhi
thoghut. Itulah “legalitas dari Alloh” kepada Muhammad untuk menjadi Nabi dan
Rosul. Masih ingat nama Musailamah Al Kadzab? Ya dialah yang diberi julukan
“Nabi Palsu” karena mengaku-ngaku jadi Nabi padahal tidak ada “legalitas” dari
Alloh SWT.

Satu lagi contohnya, masih ingat kisah Sahabat Usamah bin Zaid yang masih
muda belia. Sahabat Usamah bin Zaid menjadi Panglima perang pada usia 17
tahun atas “legalitas” dari Rosululloh SAW untuk memimpin para prajurit Islam
yang didalamnya ada Sahabat Abu Bakar dan Umar bin Khottob. Sekalipun Abu
Bakar dan Umar bin Khattab itu adalah “lebih berjasa” tapi jika “tidak diangkat
oleh yang berhak” maka bukanlah pemimpin, bukanlah panglima perang,
“keadaannya tetap di bawah komando Usamah bin Zaid” yang umurnya di
bawah 20 Tahun.

Untuk lebih memahaminya lagi silakan klik link dibawah ini:


http://abuqital1.wordpress.com/2009/11/12/legalitas-lebih-utama/

Adapun tentang definisi Jama’ah dikatakan Ibnu Mas’ud ra. saya setuju dan
memahaminya bahkan beliau juga (Ibnu Mas’ud ra.) berkata:
“Sesungguhnya kebanyakan manusia itu berpisah meninggalkan jama’ah, dan
sesungguhnya jama’ah itu apa-apa yang bersesuaian ta’at kepada Allah ‘Azza
wa jalla.”

Dengan keterangan ini, terkesan; seolah-olah yang banyak itu adalah jama’ah,
dan yang sedikit itu firqah. Umumnya yang bertahan tidak meninggalkan
organisasi adalah yang mayoritas sekalipun yang mayoritas itu bukan yang
benar. Dan yang meninggalkan organisasi karena tidak ada titik temu untuk
mempertahankan al haq umumnya mereka yang meninggalkan organisasi. Akan
tetapi dua keadaan itu bisa terjadi sebaliknya. Menurut dhahirnya keterangan
dari Ibnu Mas’ud tersebut, bahwa yang meninggalkan jama’ah adalah yang
mayoritas. Dalam kenyataan ini, dapat dikatakan benar, karena umumnya
manusia pada masa sekarang sudah banyak yang tidak bersesuaian dengan al
haq.

Lebih tegasnya berkenaan dengan definisi atau pengertian jama’ah secara


terminology yaitu apa yang dinyatakan oleh pemegang kunci ilmu, Ali bin Abu
Thalib ra. Yaitu ketika beliau ditanya orang tentang arti sunnah dan bid’ah, serta
tentang jama’ah dan firqah, beliau berkata:
“Adapun sunnah itu_ demi Allah_ ialah sunnah Muhammad saw. dan bid’ah itu
ialah barang apa yang berpisah meninggalkannya; adapun jama’ah itu_ demi
Allah_ ialah himpunan orang ahli kebenaran (ahlul haq), walaupun mereka itu
sedikit, dan firqah itu ialah himpunan orang ahli kebatilan (ahlul bathil),
sekalipun mereka banyak jumlahnya.”
Balas
anti menyerah Says:

November 12, 2009 at 1:16 pm

payah tuh mujanad..


belom ngpa2in jg tuh..
sdh pts asa..
jngan hti (hdp tnpa imam) donk..
Balas
Lezard Valeth Says:

November 22, 2009 at 7:29 am

Mujanad, Mujanad. Ingat bahwa NII belum mati. Masa baru ditekan sudah
langsung menyerah?

Belajar dari Masa Lalu


Posted by abuqital1 under Membedah MKT. no. 11 Th. 1959
1 Comment

1 Votes

Berawal dari banyaknya komentar pada blog ini dan sebagian besar para
“komentator” pada blog ini memberikan komentar yang positif terhadap NII
walaupun kebearadaan mereka banyak di berbagai “gerakan jihad” maka khusus
bulan ini pengelola blog akan MEMBEDAH KHUSUS SEKITAR MAKLUMAT
KOMANDEMEN TERTINGGI (MKT) NO. 11 TAHUN 1959.
Agar lebih paham, saya memulainya dari “Perjalanan Masa Lalu NII” dimana NII
baru diproklamirkan dan sedang gencar-gencarnya dihancurkan oleh RI sebagai
Negara Boneka dan Sekutu Salibis (Pada masa itu Belanda dan sekutunya).

1. Sekilas Masa Lalu

Sekalipun Imam awal NII S.M. Kartosoewirjo demikian telaten membina aparat
dan tentaranya untuk berakhlaq Islam. Namun akibat dari situasi revolusi yang
sungguh mendesak maka dalam situasi demikian, pada waktu itu Negara Islam
Indonesia ditegakkan dengan beberapa keterbatasan, terutama mengenai
kualitas para pejuangnya. Diantaranya kurang lebih ada lima tipe gerilyawan NII
yang berjuang ditengah-tengah berkecamuknya peperangan.

Pertama, yaitu kader yang khusus sudah dipersiapkan untuk menempati posisi
dan fungsi-fungsi vital dalam struktur Negara Islam Indonesia. Jauh sebelum
revolusi proklamasi dikumandangkan Imam S.M. Kartosoewirjo telah
menggembleng mereka dalam Institut Suffah di Malangbong. Mereka bukan
hanya berani dan siap syahid untuk tugas suci ini, tetapi betul-betul berangkat
dari semurni-murninya jiwa tauhid, setinggi-tinggi ilmu dan sepandai-pandai
siasat. Siap memimpin perang, siap pula mengelola negara di saat kemenangan
telah dicapai. Mampu memelihara diri dan menjadi contoh teladan bagi
Mujahidin NII lainnya baik dimasa damai maupun dimasa perang. Dan merekalah
yang selalu berada di front terdepan memimpin perjuangan, membangun
kesadaran rakyat dalam melawan kebathilan, pada perjalanan jihad NII kader
pilihan ini banyak yang memperoleh syahidnya lebih dahulu. Akibat kekurangan
kader yang mengerti persisi langkah strategi perjuangan NII, akhirnya perjalanan
jihad NII bisa bergeser kearah yang lain tergantung siapa yang ikut bergabung
kepadanya. Imam memang terus memimpin hingga tahun 1962, tetapi
pengelolaan jumlah besar dengan sedikit orang kader negarawan, membuat
jalannya negara tidak lagi seperti direncanakan semula.

Kedua, pejuang yang bergabung karena kesadarannya didorong oleh ilmu yang
telah dimilikinya, walaupun tidak dikader secara khusus di Institut Suffah.
Sehingga rasa setianya pada NII sebatas pandangan dirinya saja, belum tentu
sejalan dengan misi dan visi NII sebagaimana dicanangkan sebelum proklamasi.
Dengan kesadaran ilmu yang dimilikinya, ia bersegera mendukung dan membela
Negara Islam, dengan kesadarannya ia tinggalkan “Darul Kufur” Republik
Indonesia, namun karena kesadaran sebatas muncul dari dirinya, apalagi disaat
berkecamuknya perang, proses penyamaan visi pemikiran mujahidin NII agak
sulit dilakukan. Hal ini disebabkan tuntutan keadaan untuk mendahulukan
pertahanan, berjuang menahan gempuran pasukan TNI yang terus menerus
memberondong daerah-daerah basis. Waktu untuk duduk bersama,
merundingkan jalannya negara, pada tingkat komandemen wilayah ke bawah
relative agak sulit dilakukan. Akhirnya pasukan-pasukan TII perlahan-lahan
bermetamorphosis memiliki kekhasan masing-masing tergantung latar belakang
pemikiran para pejuang sebelum menggabungkan diri dengan NII. Jejak langkah
pasukan yang dipimpin komandan yang berasal dari Suffah, menjadi berbeda
dengan karakter pasukan yang dipimpin oleh seorang kiayi dari sebuah
pesantren yang menekankan nilai-nilai kesufian misalnya. Namun karena
kesadarannya yang tulus tadi, mereka menjadi mujahid-mujahid yang tangguh
membela Negara Islam. Di Jawa Tengah di antaranya ialah kiayi Ghafur Ismail.
Beliau Syahid ketika mereka yang di Jawa Barat tahun 1962 sudah turun. Kiayi
Ghafur tidak mau menyerah, meski bersama sanak keluarganya disergap oleh
tentara Republik. Beliau kena tembak. Kemudian sesudah Syahid, maka Istrinya
mengambil senjata dari Suaminya langsung menghantam musuh, tetapi
kehabisan peluru, lalu Istrinya juga menjadi Syahidah. Kemudian seperti halnya
juga di Jawa Barat, kiayi Khoir Affandi dari Manonjaya dirinya bergabung dengan
NII hanya karena keilmuan, dan setelah turun gunung kiayi Khoir Affandi tidak
merancang taktik gerilya selanjutnya untuk menggalang Negara Karunia Allah
NII, tetapi membuka pesantren. Walaupun memang ruh tauhid dan ruh jihadnya
demikian kental, cintanya pun pada NII tidak diragukan, namun beliau bukanlah
seorang negarawan yang terus membela eksistensi Negara Islam Berjuang
sebagaimana layaknya sebuah negara dipertahankan.

Ketiga, gerilyawan dan rakyat berjuang yang bergabung ketika revolusi (perang
fisik) dimulai. Dalam suasana seperti ini, disaat kebutuhan akan tenaga tempur
begitu mendesak, demikian juga keperluan atas rakyat yang mendukung, maka
proses recruitment menjadi kurang memperhatikan unsur kualitas lagi. Saat itu
siapa yang siap membantu gerilyawan, siapa yang mendukung mujahidin NII,
maka dia bisa ikut berjuang bersama. Tidak lagi melihat sejauh mana kedalaman
ilmunya, sedalam apa kesadarannya dan apakah mereka mengetahui tentang
visi negara Islam atau tidak, karena keperluan akan tenaga demikian mendesak
maka diterimalah mereka sebagai pasukan TII dan warga berjuang NII. Masalah
yang timbul kemudian adalah, kesulitan memelihara kebersihan citra perjuangan
NII itu sendiri, sebab akhlak ketika bertempur, baik keshabaran dan
ketabahannya, atau akhlak disaat mereka berinteraksi dengan masyarakat
tidaklah sama. Berbeda dengan kader pertama yang benar-benar terdidik
dengan nilai-nilai perjuangan Nabi. Gerilyawan yang bergabung ditengah jalan
ini terkadang melangkah atas dasar kemauannya sendiri dan mengabaikan
akhlak tentara Islam. Dalam hal ini NII terpaksa harus memikul tanggung jawab
kelompok, walaupun itu dilakukan bukan oleh kadernya, maka semua tindakan
tidak disiplin mereka berakibat buruk pada citra Negara Islam.

Keempat, gerilyawan dari yang membelot dari TNI kepada TII, ketika pasukan
tentara Republik kembali dari Yogyakarta menuju Jawa Barat, mereka dicegat
oleh kawan-kawannya yang tidak ikut mundur ke Yogya, kepada mereka
dikatakan bahwa sekarang di Jawa Barat telah diproklamasikan Negara Islam,
sebagai wadah tegaknya hukum-hukum Allah secara sempurna. Mendengar itu,
berbekal dorongan hati nuraninya yang tulus maka langsung bergabung dengan
TII. Misalnya Kadar Solihat seorang perwira TNI yang kemudian bergabung
dengan NII, dan menjadi perwira Tentara Islam Indonesia.
Kelima, yaitu pejuang yang lahir dan tumbuh dari daerah yang berhasil dikuasai
TII, meskipun mereka bukan dari daerah santri atau kiayi. Mereka pun tidak
pernah menjalani masa pengkaderan, bahkan surat Al Fatihah saja banyak yang
sama sekali tidak tahu artinya. Namun, karena daerahnya bisa dikuasai TII dan
kemudian menjadi basis, maka lama kelamaan mengetahui tujuan Darul Islam.
Bahkan tertarik dengan akhlak TII yang demikian wara, membuat mereka pun
tertempa menjadi kader mujahid pula, bahkan tidak bisa dianggap sepele. Sebab
kenyataannya pada tahun 1962 bulan Juni saja dari salah satu daerah di Brebes,
masih banyak laki-laki maupun perempuan ada yang masih berangkat ke hutan
bergerilya padahal sebelumnya itu sudah banyak pamflet dari pihak musuh yang
isinya bahwa Darul Islam di Jawa Barat sudah cease fire. Dari itu para mujahid NII
tidak semuanya menyerah kepada musuh. Itu adalah Sunnattullah. Firman
Allah :

“Di antara orang-orang mu’min ada yang menepati apa yang sudah mereka
janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada (juga) yang menunggu-
nunggu (apa yang Allah janjikan kepadanya) dan mereka sedikitpun tidak
merubah (janjinya).” (Q.S. AL AHZAB : 23).

Keenam, ada pula mereka yang sengaja disusupkan musuh ke dalam tubuh TI,
dengan memperalat orang-orang yang telah luntur semangat jihadnya dan turun
ke kota. Dari mereka yang telah turun ke kota inilah mereka memperoleh jalan
masuk ke pusat pemerintahan NII, seperti yang dilakukan oleh Serma Ukon
Sukandi.

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia
menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi
hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia
berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan
padanya, dan merusak tanam-tanamandan binatang ternak, dan Allah tidak
menyukai kebinasaan.” (Q.S. Al Baqoroh : 204-205).

Yang lebih potensial lagi untuk menghancurkan dukungan rakyat muslim


terhadap perjuangan Islam yang dilakukan para mujahid ini adalah adanya
pasukan liar yang sengaja menggunakan tanda-tanda pengenal TII, kemudian
melakukan aksi-aksi brutalnya membunuhi setiap ulama yang mendukung
perjuangan NII, merampok dan membakar rumah-rumah penduduk yang
dicurigai memihak pada Darul Islam dan merusak kehormatan wanita-wanita
mereka. Dengan didukung oleh mass media yang memang dikuasai pemerintah
Republik Indonesia, maka bermuncullah kabar-kabar buruk mengenai Darul
Islam seperti disebut gerombolan, perampok bahkan DI diidentikkan dengan
Duruk Imah (bahasa Sunda yang artinya Bakar Rumah). Guna memecah belah
barisan TII atau supaya sebagiannya meninggalkan perjuangan dilakukan pula
kasak kusuk berupa fitnahan seperti halnya menuduh Imam S.M. Kartosoewiryo
berbuat musyrik dan sebagainya. Jelasnya, segala yang dianggap bisa
menghancurkan perjuangan NII telah dilakukan pihak musuh.
Namun demikian, betapapun kejinya fitnah yang dilemparkan pihak-pihak yang
membenci mereka. NII sebagai wadah Al-Haq di Indonesia maka jelas estapeta
kepemimpinannya tetap berlanjut. Firman Allah :

“Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman,


demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang
beriman.” (Q.S. Yunus : 103).

2. Beberapa Motivasi Pihak Lawan yang Kemudian Menjadi TII :


Karena keyakinan bahwa pihak TII (Tentara Islam Indonesia) itulah yang berada
pada pihak Al-Haq, maka masuk menjadi TII dengan ikhlas.
Hanya karena merasa pihak TII yang bakal memperoleh dukungan rakyat Jawa
Barat. Mereka masuk TII dengan harapan yang bersifat duniawi semata. Dengan
demikian manakala TII menjadi pihak yang terdesak, maka mereka desersi dari
TII.
Masuk menjadi TII, sebagai infiltrasi untuk menghancurkan NII dari dalam. Hal itu
berlanjut hingga tahun 1962. Dengan demikian diantara mereka yang turun
menyerah diantaranya para infiltran dari pihak musuh, dan tidak diketahui oleh
para mujahidin NII asli.

Sebagian besar dari para tokoh TII yang menyerah mereka berjanji akan setia
kepada pemerintah RI. Hal itu diakui oleh Zaenal Abidin ketika sebagai saksi
terhadap Sukana Fahrurozi. “Setelah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, saksi
mengatakan pernah ada pertemuan kembali antara bekas anggota DI/TII di Aula
Kodam VI Siliwangi. Pertemuan itu menghasilkan ikrar bersama yang
menyatakan a.l. mereka tidak akan kembali ke jalan yang sesat” (Pikiran Rakyat
19 Maret 1982). Menjelang Tahun 1968 banyak dari generasi muda mujahidin
NII, yang mengajak orang tua mereka, atau sebagian dari para tokoh ex TII
kembali berjihad menyusun kekuatan. Banyak diantara mereka menerima
dengan ikhlas, tapi ada juga yang pada mulanya terpaksa. Zaenal Abidin
mengakui dalam kesaksiannya. “Semula menurut saksi, dirinya tidak menyetujui
terhadap gerakan NII maupun diangkat sebagai sesepuh sebab tahun 1962 saksi
telah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dan berikrar di Kodam VI Siliwangi. Dalam
ikrar ini dinyatakan, tidak akan melakukan gerakan illegal secara kekerasan dan
telah bertobat dari perbuatan yang sesat. Namun dalam keadaan terdesak dan
takut adanya hukum yang berlaku (hukum bunuh) maka saksi mau menerima
pengangkatan sebagai sesepuh guna melanjutkan perjuangan mendirikan NII.”
(Pikiran Rakyat 1 April 1982)

Sungguh sukar untuk mengetahui mana mujahid asli dan mana yang disusupkan
oleh pihak thogut sewaktu masih di medan tempur. Hal itu berlanjut meski TII
secara fisik dianggap lumpuh total. Disebabkan para pelanjut perjuangan NII
tidak mengenal mana mujahid yang asli dan mana yang palsu, maka hal itu
tercium pula oleh pihak musuh. Dengan demikian tidak mengherankan bahwa
pada tanggal 24 April 1971 para sesepuh ex. DI/TII yang berjumlah 250 (dua
ratus lima puluh) orang berkumpul di kediaman Danu Muhammad Hasan, jalan
Situ Aksan, Kotamadya Bandung, dengan pernyataan mendukung Golkar, dan
dipimpin oleh aparat RI, Kolonel Pitut Soeharto sebagai tangan kanan dari Ali
Murtopo, yang tugasnya di BAKIN (Badan Koordinasi Intelejen). Kemudian sekitar
tahun 1976, kurang lebih 250 (dua ratus lima puluh) orang tokoh ex. DI/TII dari
seluruh pulau Jawa berkumpul telah mengadakan pertemuan di Kantor
KOLOGDAM VI SILIWANGI, Kotamadya Bandung, yang diperintahkan langsung
dan dipimpin oleh MAY. JENDERAL HIMAWAN SUTANTO (PANGDAM VI SILIWANGI)
dengan sarana pihak militer RI. Sedangkan rumah Danu Muhammad Hasan
hanyalah sebagai tempat antar dan jemput kendaraan saja, tempat menyimpan
pakaian-pakaian untuk ganti bagi yang menghadiri pertemuan. Selanjutnya
sekitar tahun 1977 di kediaman Danu Muhammad Hasan berkumpul pula
sejumlah 12 (dua belas) orang yang diperintahkan oleh LET. JENDERAL ALI
MURTOPO, dengan melalui kolonel Pitut Suharto. (Mia Rasyid Ibrahim, NOTA
PEMBELAAN, di PN. Bandung, 25 Mei 1982).

Bisa saja ada pikiran dalam benak sebagian mujahidin NII bahwa hal seperi di
atas itu adalah kesempatan memanfaatkan sesuatu yang bisa dimanfaatkan
sekalipun dari musuh atau bekas musuh, tetapi bisa juga sebaliknya, yakni pihak
musuh yang paling bisa memanfaatkan, sehingga banyak langkah mujahidin NII
yang tidak sesuai dengan Akhlakul Karimah, berantakan dari perjuangan NII
yang sebenarnya, dan hampir tidak sadar jika hal itu akibat kendali musuh.
Sudah menjadi kenyataan kepala BAKIN pusat, “Ali Murtopo memanfaatkan
sementara kekuatan-kekuatan bekas Permesta dan bekas DI TII dengan pelbagai
pendekatan termasuk insentif material. Inilah taktik Ali dalam memupuk
kekuatan-kekuatan demi kepentingan politiknya.”(Heru Cahyono, Pangkokamtib
Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari ’74. Pustaka Sinar Harapan, Cet.
Pertama, halaman 92). Dengan demikian tidak heran bila dikemudian hari
banyak tindakan-tindakan janggal/negative yang mengatasnamakan NII.
Sehingga mencoreng nama Negara Islam Indonesia. Maka, jelas itu adalah hasil
dari usaha pihak lawan guna mencoreng nama NII. Namun, hal itu menunjukkan
banyaknya kelemahan dari pihak mujahidin NII yang harus dibenahi. Mungkin
saja dari belum adanya klarifikasi dari mereka yang Ikrar Bersama 1 Agustus
1962 kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi serta menyesali perjuangannya dalam NII.
Atau juga mungkin karena Imam yang diangkat mereka pada tahun 1973 itu
ialah Daud Beureh yang sudah naturalisasi, kembali kepada pemerintah RI atau
menyerah, “Tengku Beureh, 9 Mei 1962, akhirnya turun gunung.” (Tempo, 20
Juni 1987, halaman 21) Sehingga siapapun yang menjadi estapeta darinya
adalah illegal, alias dalam ganjalan hukum. Tapi yang jelas lihat petikan ayat
yang bunyinya :

“…Allah tidak akan memberi peluang kepada orang-orang yang kafir untuk
mencelakakan orang-orang yang beriman”. (Q.S. An Nisa : 141).

Camkanlah, bagaimanapun keadaannya maka Imam S.M. Kartosoewirjo beserta


para mujahid awal lainnya sudah berhasil mendirikan negara dengan
seperangkat perundang-undangannya yang menjadi landasan hukum bagi
sebuah negara yang sah didalam ketatanegaraan. Adapun kemenangan secara
de fakto belum juga terasa oleh kita (generasi sekarang) maka bukanlah berarti
perjuangan para mujahidin NII tersebut itu gagal. Perjuangan Negara Islam
Indonesia sama sekali tidak gagal, melainkan sudah berhasil yakni
keberadaannya memiliki nilai hukum untuk terus berlanjut dan bisa diteruskan
perjuangannya sesuai dengan peraturannya. S. M. Kartosoewirjo beserta
mujahidin NII lainnya bisa diibaratkan mereka yang telah membangun sebuah
gedung di atas tanah yang sudah memiliki sertifikat resmi, tentu meskipun
pembangunannya belum selesai, namun dengan kepemilikan yang sah itu bisa
dilanjutkan oleh para ahli warisnya, dan tentu juga bisanya disebut sebagai ahli
warisnya jika memiliki legalitas dari para pewaris, yaitu selain mereka tidak
pernah mengingkari dari kepemilikannya, juga mempunyai nilai hokum yang
menyambung dengan para pendiri bangunan tersebut. Adapun soal adanya
beberapa kekurangan, hal itu kewajiban para ahli waris yang wajib semaksimal
usaha dalam menyempurnakannya. Jadi, yang pokok bahwa keberhasilan
perjuangan para pendirinya itu ialah sudah memiliki sertifikat sehingga untuk
pengembangannya bisa dilanjutkan oleh para ahli warisnya.

Sama halnya dengan NII dalam perjuangannya yang telah menghadapi banyak
hambatan disebabkan faktor kekurangan sumber daya para pelanjutnya maka
tidak bisa berhenti karenanya. Sebab, bagi para pejuang yang mengharapkan
Ridho Allah senantiasa meningkatkan perbaikan serta meninggalkan
kekeliruannya pada masa silam. Kesalahan dalam bisa terjadi kepada para
pejuang NII karena keterbatasannya. Sehubungan dengan itu perhatikan ayat
yang bunyinya :

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang


mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat
dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah
Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An-Nisa : 17).

Catatan: Sekali lagi apabila ada penyebutan nama tokoh NII yang bisa
menyebabkan tersinggung baik dari pribadi tersebut, keluarganya maupun
pengikutnya maka pengelola mohon maaf dan tidak ada maksud apa-apa
apalagi maksud membuka aib, naudzu billah. Sekali lagi ini pelajaran bagi kita
sebagai generasi selanjutnya. Bukankah Alloh juga menceritakan misi Rosul-
rosul-Nyya ada yang sukses ada yang tidak, ada yang taat dan ada yang
membangkang tidak lain sebagai pelajaran buat orang beriman dan tidak
menjadikan Dia berkurang keagungan dan kekuasaan-Nya.

Sumber: Buku Rujukan Negara Islam Indonesia (RUNISI) jilid 2

Benarkah RI menjamin kebebasan warganya untuk menjalankan agamanya.


Posted by abuqital1 under Hujjah untuk kaum PANCASILA
[15] Comments

1 Votes
Sebelumnya mari kita kritisi apa itu Pancasila, apakah benar bersumber dari
Islam? silakan klik disini

dan mari kita pahami bentuk dan kedaulatan negara RI yang tertuang dalam
Pasal 1:
Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik.
Kedaulatan adalah ditangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Madjelis
Permusjawaratan rakyat.

Coba anda bandingkan dengan Qonun Asasi Negara Islam Indonesia tentang
Negara, Hukum dan Kekuasaan yang tertuang pada pasal 1, 2 dan 3.

Pasal 1

1. Negara Islam Indonesia adalah Negara Kurnia Allah Swt kepada bangsa
Indonesia.

2. Sifat negara itu Jumhuriyyah (Republik).

3. Negara menjamin berlakunya syari’at Islam di dalam kalangan kaum Muslimin.

4. Negara memberi keleluasaan kepada pemeluk agama lainnya dalam


melakukan ibadatnya.

Pasal 2

1. Dasar dan hukum yang berlaku di Negara Islam Indonesia adalah Islam.

2. Hukum yang tertinggi adalah al-Qur’an dan Hadits Shahih.

Pasal 3

1. Kekuasaan yang tertinggi membuat hukum dalam Negara Islam Indonesia


ialah Majlis Syuro

(parlemen).

2. Jika keadaan memaksa, hak Majlis Syuro boleh beralih kepada Imam dan
Dewan Imamah.
Kemudian mari kita pahami UUD 1945 khususnya Pasal 29 tentang Agama:
Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya
masingmasing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu

1. Pembahasan Pasal 29 ayat 1 UUD 1945

Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini sudah jelas bahwa Negara
RI ini tidak berdasarkan (berideologi) ISLAM, padahal mayoritas negeri ini
mengaku Muslim. Na’udzu billahi min dzalik, mengaku Muslim tapi tidak
berideologi Islam. Untuk memahami apa itu Ketuhanan Yang Maha Esa sialakan
klik link dibawah ini:

http://abuqital1.wordpress.com/2009/06/05/ketuhanan-dalam-pancasila/

Jika kita sudah memahaminya maka kesimpulannya bahwa Negara RI sengaja


membiarkan kemusyrikan terjadi di negeri ini. Na’udzu billahi min dzalik, padahal
bangsa ini mayoritas mengaku Muslim.

Makanya jangan heran Negara dan Pemerintah RI memakai slogan “Bhineka


Tunggal Ika” (Berbeda-beda tapi satu jua). Ya, mereka beribadat ada yang
sholat, ada juga yang “puji-pujian”, ada juga “menyembah berhala”. Mereka
semuanya berkumpul untuk mengatur kehidupan negeri ini dibawah
pengawasan patung “Burung Garuda” yang sayapnya terbuka lebar-lebar. bukan
berada dibawah pengawasan Alloh SWT. Khusus yang mengaku Muslim, apakah
seperti itu yang anda inginkan?

2. Pembahasan Pasal 29 ayat 2 UUD 1945

Pada pasal 29 ayat 2 UUD 1945 ini yang dijamin adalah memeluk agamanya
bukan menegakkan/ mendirikan agamanya. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KKBI) kata memeluk berarti “menganut (mengikuti ajar an) agama”
yang artinya secara ekplisit makna tersebut tidak ada usaha untuk
menjadikannya agama itu tegak. Berbeda dengan kata “menegakkan” yang
artinya ada usaha untuk tetap berdiri dan juga mempertahankan agama. Selain
itu kata “Memeluk /menjalankan” tidak ada konsekwensi sangsi hukum tetapi
kata “Menegakkan/ mendirikan” ada konsekwensi sangsi hukumnya. Pernahkah
kita mendengar “pemeluk hukum” ? Tentu jarang mendengarnya bukan. Kita
sering mendengarnya “Penegak hukum”. Itulah perbedaan memeluk agama dan
mendirikan agama.

Jika orang itu TIDAK MENJALANKAN perintah agamanya paling sekedar ditegor
TAPI TIDAK DIBERI SANGSI HUKUM MENURUT AGAMANYA MASING-MASING. Kalo
toh memang diberi sangsi hukum maka itupun yang diberi “Sangsi Hukum
Negara” tapi BUKAN Sangsi Hukum Agama. Berapa banyak yang mengaku
Muslim dengan “sengaja” meninggalkan sholat dan zakat. Berapa banyak yang
mengaku Muslim tapi dia berzina, mencuri, minum khamr? Apa hukumannya
terhadap orang yang demikian? dibiarkan…atau dipenjara…? tentu SALAH
BESAR, tidak ada sangsi hukum seperti itu dalam Hukum Islam.

Coba lihat Strafrecht NII dalam mengatur qishosh, had, jinayah dan lainnya.

http://abuqital1.wordpress.com/2009/06/03/126/#more-126

BUKANKAH WAJAR bila yang mengaku Orang Islam diatur oleh Hukum Islam,
bahkan bukan wajar tapi WAJIB bagi muslim tersebut.

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah


beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang
diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut[312],
Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan
bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”.
(An Nisa: 60)

Dan ingat dalam Quran perintahnya MENEGAKKAN/ MENDIRIKAN sholat (Al


Baqoroh:3) BUKAN MELAKSANAKAN/ MENGERJAKAN Sholat. Dalam agama (Ad
Dien) pun demikian, perintahnya MENEGAKKAN/ MENDIRIKAN (Qs. 42:13) BUKAN
MENGERJAKAN/ MELAKSANAKAN.

“(yaitu) mereka yang beriman, kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan
menafkahkan sebahagian rezk, yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Qs.
Al Baqoroh:3)

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah
diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan
apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah
agama (Ad Dien) dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat
bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah
menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk
kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Qs. Asy Syuura:13)

Jadi Kesimpulan untuk masalah ini; negara RI hanya menjamin pemelukan


agama tetapi tidak menjamin untuk mendirikan Agama.

3. Tentang DAKWAH

Mari kita lihat strategi Rosululloh dalam berdakwah. Rosulullloh SAW mengirim
utusannya ke setiap kerajaan yang isinya seruan dakwah untuk masuk Islam
dengan ajakan step by step:
Jika Penguasa itu masuk Islam maka dia aman dan menjadi bagian kekuatan
Islam
Jika Penguasa itu menolak masuk Islam maka dia harus MEMBAYAR JIZYAH
sebagai bukti ketundukan pada penguasa Islam
Jika Penguasa itu pun masih menolaknya maka dia AKAN DIPERANGI OLEH
PASUKAN ISLAM.

Mengapa bisa demikian? Karena Rosululloh SAW dan para sahabatnya SUDAH
MEMPUNYAI KEKUATAN (EKSIS/ FATHUN). Wilayah Yatsrib sudah dikuasai Islam,
Pasukannya sudah siap, Rakyatnya pun mendukung dibawah perjanjian “Piagam
Madinah”. Itulah yang dilakukan di Madinah. Jika Islam melihat adanya
kezholiman atau kemungkaran maka dia akan mencegahnya dengan kekuasaan
Islam yang telah dimiliki. Bukankah Bumi ini diwariskan untuk orang sholeh ?
(Qs. 21:105)

TETAPI coba apa yang dilakukan Rosululloh SAW dan para sahabatnya ketika di
Makkah. Bilal atau Keluarga Ammar bin Yasir yang SEDANG DISIKSA oleh
majikannya yang musyrik “DIDIAMKAN SAJA” oleh Rosululloh padahal beliau
mengetahuinya. Rosululloh SAW hanya menyuruh BERSABAR. Mengapa bisa
demikian? Karena pada waktu di Mekkah, Islam belum mempunyai kekuatan.
Jangankan menguasai wilayah Mekkah, pengikutnya saja masih sedikit apalagi
rakyat Mekkahnya mayoritas menentangnya. Itulah yang dilakukan Rosululloh
ketika di Mekkah, ISLAM BELUM EKSIS sehingga ketika ada kezholiman atau
kemungkaran baru sebatas hati menentangnya, dan itulah selemah-lemah Iman.

Ingat Sabda Rosululloh SAW yang isinya:


Jika kamu melihat kemungkaran maka cegahlah dengan tangan—>Kekuasaan
Jika kamu tidak mampu melaksanakannya maka cegahlah dengan lisan—
>Dakwah
Jika kamu tidak mampu melaksanakannya maka cegahlag dengan hati. Dan ini
adalah selemah-lemah iman.

Sekali lagi saat ini NII masih tahap I’DAD dikarenakan masih menyusun
kekuatan. Dalam menyusun kekuatannya maka NII melihat strategi Dakwah
Rosulullah SAW dengan TIDAK MENYEPELEKAN IBADAH MAHDOH yang sudah
jelas diperintahkan oleh syar’i.

Ingat…Islam ini bukan hanya mengatur hubungan vertikal kepada Alloh tetapi
mengatur juga hubungan horisontal sesama manusia baik secara pribadi,
berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara.

4. Muhasabah bagi Ummat Islam di Indonesia

Mari pahami firman Alloh SWT Surat Ali Imron ayat 112

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka
berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia[218],
dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi
kerendahan. yang demikian itu[219] karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah
dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu[220]
disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas”. (Qs. Ali Imron:112)
Tali Alloh (Hablum minalloh)–>pengikatnya adalah Al Quran
Tali Manusia (Hablum minannas)–>pengikatnya adalah Pemerintahan Islam yang
berlandaskan Al Quran dan As Sunnah

Jika TIDAK BERPEGANG KEPADA DUA TALI TERSEBUT maka AKIBATNYA:


Ummat Islam akan diliputi KEHINAAN
Ummat Islam akan mendapat KEMURKAAN dari Alloh SWT.
Ummat Islam akan diliputi KERENDAHAN

Bukankah 3 akibat tersebut sudah dirasakan bangsa Indonesia padahal


mayoritas ummat Islam. Mengapa bisa terjadi demikian? Karena…
MENGINGKARI ayat-ayat Alloh –> artinya Al Quran tidak dijadikan SUMBER
HUKUM dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara
MEMBUNUH para Nabi tanpa alasan yang bernar—>artinya para pembawa
risalah Nabi dimusuhi, Mujahid dianggap “Teroris”, ‘Ulama yang Istiqomah
dipenjara
DURHAKA dan MELAMPAUI BATAS–>artinya kehidupan sehari-hari diatur
menurut “hawa nafsunya sendiri” (baca Pancasila). Berapa banyak pelanggaran
sosial yang sangsi hukumannya “seenak wudel dhewek”?. Orang berzina
“dipenjara” bahkan malah “dikawinkan”. Pencuri “dipenjara” bahkan ada yang
langsung dipukulin massa sampai bonyok. Itu baru 2 contoh, belum yang
lainnya. Apakah seperti itu sangsi hukum dalam Islam? Jika tidak, berarti bangsa
ini yang Mayoritas Muslim telah “durhaka” dan “melampaui batas”. Mengapa
demikian? Karena sistem kehidupan sehari-hari / Ad Dien (red. NEGARA) di
negeri ini BUKAN BERIDEOLOGIKAN ISLAM.

15 Tanggapan to “Benarkah RI menjamin kebebasan warganya untuk


menjalankan agamanya.”
gimzi Says:

September 8, 2009 at 7:22 am

assalamu’alaikum…
akhi minta ijin copas artikelnya, jika di ijinkan.

terima kasih
wassalam..

Abuqital1:
Tafadhdhol….
ud’u ilaa sabili robbika bil hikmati wal mau’izhotil hasanah…
Balas
Ali suhandry Says:

September 9, 2009 at 1:36 pm


Mari kita bersatu untuk membunuh para kafirun yang tidak menjadikan Al Quran
sumber hukum di negara ini.
Kita BUNUH mereka dengan alasan yang benar!
Balas
Lezard Valeth Says:

Januari 2, 2010 at 10:48 pm

Dakwah dulu dengan hujjah yang sejelas-jelasnya, kalau tidak mau pungutlah
jizyah, kalau tidak mau maka pedang ke leher. Janganlah membunuh
perempuan, anak-anak, orang tua, orang sakit selama mereka tidak ikut dalam
perang.

Abuqital1:
Kalo ini ana setuju. Sedikit tambahan semua komentar akhi diatas tidak bisa
dilaksanakan JIKA TIDAK MEMPERSIAPKAN KEKUATAN (I’DAD) yakni Kekuatan
Personil (Angkatan Perang), kekuatan senjata dan juga pembangunan lainnya
yakni pembangunan daerah kekuasaan (basis), keuangan, aparatur Negara
Islam, hukum dan lainnya. Silakan klik link dibawah ini:
http://abuqital1.wordpress.com/2009/12/21/penjelasan-marhalah-jihad-nii/

Itulah semua yang akan dipersiapkan oleh Pemerintah NII dalam masa perang.
Balas
anti israel Says:

September 9, 2009 at 2:50 pm

RI justru menjamin perusahaan amerika untuk merampok kekayaan alam bangsa


Indonesia
ketika orang2 Indonesia protes spt di Papua, TNI, POLISI dan BIN justru
senangnya MEMBUNUH warga Indonesia sendiri dan menjadi pelindung amerika

inilah demokrasi
demokrasi = segala sesuatu yg sesuai dg keinginan amerika
Balas
Pembela Islam Says:

September 9, 2009 at 4:09 pm

Setuju. Tp afwan, saya hanya bisa mencegah dengan hati karna cuman rakyat
biasa tanpa kuasa.

Abuqital1:
langkah awal adalah dengan mengingkari thoghut kemudian menetapkan
keimanan kepada Alloh yang dimulai dari hati. Coba anda pahami link dibawah
ini:
http://abuqital1.wordpress.com/2009/09/10/penjelasan-makna-thaghut-dan-
ansharnya/
Balas
Basah Says:

September 30, 2009 at 2:52 am

NII ? Tai anjing lah !!!!

Abuqital1:
kalau bicara harap hati-hati dan pikirkan matang-matang. Jika anda tidak suka
dengan NII atau ada yang salah dengan NII harap kemukakan hujjah anda
sehingga kami juga bisa introspeksi. Ingat semua anggota tubuh akan
dipertanggungjawabkan dihadapan Alloh Subhanahu Wa Ta’aalaa:

“dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu
akan diminta pertanggungan jawabnya.” [Qs. Al Israa (17) ayat 36)

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan
mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu
mereka usahakan." (Qs. Yaasin [36] ayat 65).
Balas
Rudy Says:

Oktober 13, 2009 at 3:44 pm

dah gak punya argumen, mainnya umpatan.


Balas
anti basah Says:

November 12, 2009 at 1:07 pm

coba lihat QS 7:180 si basah trmasuk ciri2 pnghuni nraka tuh..


Balas
s3nn4 Says:

Oktober 7, 2009 at 1:54 pm

assalamualaikum…
saya minta ijin copas di blog saya

Abuqital1:
monggo mas…
Balas
deden Says:
November 1, 2009 at 6:54 am

assalamualaykum wr wb,
jazakumulloh,kpd abuqital dan pihak2 yg telah membuat blog ini,saya merasa
tdk sendirian ternyata banyak orang2 yg merindukan tegaknya li’ilaikalimatillah,
mudh2n Alloh meluruskan niat antum sekalian,mencerdaskan dan
membimbingnya sehingga di mudahkan dalam mencapai dohirnya hukum
Alloh,aamiin
Balas
zul Says:

November 25, 2009 at 10:36 am

wah ternyata masih ada yang melanjutkan perjuangan NII… saya dukung dengan
sepenuhnya… mari kita jadikan Indonesia sebagai daulah Islam yang akan
menguasai dunia… Allahuakbar!!!!

Abuqital1:
Jika akhi memang masih istiqomah mau melanjutkan perjuangan NII, segeralah
bergabung dibawah Imam NII yang sesuai perundang-undangan NII.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-
malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.” (QS. 66:6)
Balas
mugni sodik Says:

Desember 4, 2009 at 4:42 pm

insya’alloh saya akan tetap memperjuangkan islam, apapun kendaraannya, ?…


antum juga harus menghargai harakat lain yang memperjuangkan islam,
percayalah Alloh akan memenangkan siapapun yang berada pada jalannya, dan
janganlah kita merasa harakat kita yagn paling benar…
Balas
mugni sodik Says:

Desember 4, 2009 at 4:45 pm

antum juga pasti tahu orang ang memperjuangkan islam itu banyak khususnya
di indonesia,
Balas
shahwatul ummah Says:

Januari 27, 2010 at 1:05 pm


Alloh dan RasulNya yg akn menjadi saksi di akhirat nanti, tidak ada yg di rugikan
sdikitpun…
kita hamba & ummatnya Rasulullah mencoba meneruskan perjuangan sesuai
dgn apa yg telah di contohkan Rasulullah&para nabi sebelumnya,yaitu
“Sembahlah Allah&jauhilah THOGUT” antum bisa lihat di QS:16:36…
wallahu a’lam…
long w Says:

Desember 22, 2009 at 6:52 pm

seharusnya ummat islam di indonesia diatur


oleh aturan islam itu sendiri tetapi tetap dalam kerangka nkri`

Abuqital1:
Mari pahami firman Alloh SWT. dibawah ini:
“dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan
janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui”. (QS.
2:42)

“dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Quran yang


diturunkan Allah,” mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang
diturunkan kepada kami”. dan mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan
sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan
apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh
nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?” (QS. 2:91)

Pada Qs. 2:42 jelas sekali bahwa orang-orang beriman dilarang


mencampuradukkan antara yang Hak dengan yang bathil. NKRI itu ideologi
(dasar) negaranya Pancasila yang sudah jelas bukan bersumberkan dari Islam.

Pada Qs. 2:91 kita juga dapat memahaminya bahwa jika para penguasa RI (MPR,
DPR, Presiden dsj) itu mengaku Muslim, mengapa mereka tidak membenarkan Al
Quran dalam artian MENGHAPUS PANCASILA sebagai Dasar Negara RI? dan
mengapa mereka penguasa RI membunuh para Mujahid yang sudah jelas ingin
menegakkan Islam, malah para penegak Risalah Islam yang istiqomah
disebutnya sebagai “teroris”? JAWABANNYA TIDAK LAIN karena MEREKA
BERIMAN KEPADA WARISAN NENEK MOYANG MEREKA dan MEREKA INGKAR
terhadap AL QURAN yang sudah diturunkan kepadanya.

Simaklah satu ayat dibawah ini:


“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah
beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang
diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, Padahal
mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud
menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (QS. 4:60)
Sila ke 4 dalam Pancasila
Posted by abuqital1 under Hujjah untuk kaum PANCASILA
Leave a Comment

Rate This

Secara singkat, bahwa materi yang didapat pada dasar keempat dari Pancasila
yakni kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dari mayoritas yang
dianggap sebagai wakil-wakil dari berbagai golongan. Dengan kalimat lain.
“….tiap-tiap undang-undang menghendaki persetujuan dewan perwakilan…..”.
(UUD 45 Bab 7 pasal 20 ayat 1)

Jelasnya, dalam Pancasila bahwa untuk menterapkan undang-undang, apakah


undang-undang itu bertentangan dengan Islam atau tidak maka tidak lepas dari
keharusan adanya pemufakatan terlebih dahulu dari golongan terbanyak, yang
mana pengertian undang-undang di situ bersifat menyeluruh (umum). Yakni
tidak ada pengkhususannya.

Kita lihat kutipan lainnya, “….adanya saluran-saluran tertentu seperti partai-


partai, yang menyalurkan rakyat itu dalam beberapa golongan yang
menghimpun orang- orang yang mempunyai azas dan cita-cita yang sama.
Wakil-wakil dari partai inilah yang memperjuangkan azas dan cita-cita masing-
masing dalam dewan perwakilan itu….” ( “Tata Negara Indonesia” cet. ketiga
hal. 45, 1955 oleh Moh. Juana & Sulwan)

Nyata, dalam garis pancasila bahwa setiap golongan termasuk yang namanya
umat Islam pun, maka bila akan memperjuangkan aturan-aturan agamanya itu
hanyalah melalui saluran yang telah ditetapkan (didikte oleh pemerintah). Dan
tidak berhak menjalankan hukum pidana Islam tanpa izin golongan terbanyak.
Dengan perkataan lain, yakni harus terlebih dahulu menunggu suara dari
persetujuan banyaknya manusia (parlementer). Itu juga sebelum adanya “azas
tunggal”. Dan setelah ditetapkannya azas tunggal pancasila, maka ideologi
(azas) pancasila tidak bisa dirobah oleh parlementer. Sebab, copotnya pancasila
berarti bubarnya pemerintahan mereka.

Sekiranya menjalankan perintah Allah, dengan syarat terlebih dulu harus


disetujui oleh musyawarah, maka berarti ibadahnya itu hanya atas dasar
disepakati manusia, dan bukan didasari perintah khusus dari Allah. Dan pula
akan mengandung pengertian ; bila tidak disetujui, maka penentuan-Nya tidak
akan dipatuhi. Jadi, apa artinya ibadah kepada Allah bila untuk hal itu harus
menunggu permufakatan manusia atau pilihan rakyat ?. Bukankah ibadah
dengan didasari menunggu izin dari manusia, akan membuat diri musyrik
hukumnya ?. Mari kita lihat ayat yang bunyinya :

116) ‫ن‬
َ ‫صو‬
ُ ‫ل َيخُْر‬
ّ ‫ن ُهْم ِإ‬
ْ ‫ن َوِإ‬
ّ‫ظ‬ّ ‫ل ال‬
ّ ‫ن ِإ‬
َ ‫ن َيّتِبُعو‬
ْ ‫ل ِإ‬
ِّ ‫ل ا‬
ِ ‫سِبي‬
َ ‫ن‬
ْ‫ع‬َ ‫ك‬
َ ‫ضّلو‬
ِ ‫ض ُي‬
ِ ‫لْر‬
َْ ‫ن ِفي ا‬
ْ ‫طْع َأْكَثَر َم‬ ْ ‫)َوِإ‬
ِ ‫ن ُت‬
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini niscaya
mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah;mereka tidak lain hanya mengikuti
persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanya berdusta (terhadap Allah).
(QS.Al-Anaam:116).

Adapun perihal dari bermusyawarah. Allah berfirman yang bunyinya :

‫لْمِر‬
َ ‫شاِوْرُهْم ِفي ْا‬
َ ‫سَتْغِفْر َلُهْم َو‬
ْ ‫عْنُهْم َوا‬
َ ‫ف‬
ُ ‫ع‬
ْ ‫ك َفا‬
َ ‫حْوِل‬
َ ‫ن‬
ْ ‫ضوا ِم‬
ّ ‫لْنَف‬
َ ‫ب‬
ِ ‫ظ اْلَقْل‬
َ ‫غِلي‬
َ ‫ظا‬
ّ ‫ت َف‬
َ ‫ت َلُهْم َوَلْو ُكْن‬
َ ‫ل ِلْن‬
ِّ ‫ن ا‬ ْ ‫…َفِبَما َر‬
َ ‫حَمٍة ِم‬

“Maka disebabkan rahmat dari Allah,engkau berlemah-lembut terahadap


mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka. Mohonkanlah
ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…
(QS.Ali Imron 3:159).

Pada ayat itu didapat kata “haulika” yang artinya “sekelilingmu”. Hal itu berarti
di sekitar kekuasaan Nabi di Madinah, sesuai dengan diturunkannya ayat itu
yang mana kekuasaan di Madinah ketika itu sudah dipegang oleh pengikut Nabi.
Maka, musyawarahnya itu hanya dengan yang sudah setia di bawah naungan
pemerintahan yang berazas Islam, juga bukan untuk menentukan berlakunya
hukum-hukum Islam. Yang mana perintah-perintah Allah, wajib dilaksanakan
tanpa menunggu keputusan dari manusia mana pun.

KESIMPULAN:

TEGAKNYA UNDANG – UNDANG ALLAH, TIDAK MEMERLUKAN PERSETUJUAN

Sile ke 3 dalam Pancasila


Posted by abuqital1 under Hujjah untuk kaum PANCASILA
Leave a Comment

1 Votes

Guna memahami apa yang dimaksud dengan persatuan Indonesia, kita


perhatikan kalimat yang bunyinya : “Oleh karena sikap rela berkorban untuk
kepentingan Negara dan Bangsa itu di landasi oleh rasa cinta kepada Tanah Air
dan Bangsanya, maka dikembangkanlah rasa kebanggaan berkebangsaan….”
(P4)

Bunyi kalimat di atas itu mengandung makna yaitu seluruh bangsa Indonesia
dari segala golongan/agama/aliran, tidak terkecuali umat Islam pun diharuskan
bersatu dengan semuanya, sekalipun golongan diluar Islam itu telah
menghambat tegaknya hukum-hukum Al-Qur’an.

Juga, bahwasanya persatuan sedemikian itu dimaksudkan demi kepentingan


negara serta didasari oleh rasa cinta kepada Tanah Air, maka hal itu berarti
mendahulukan kebangsaan daripada yang lain. Tegasnya rela berkorban hanya
demi kepentingan bangsa dan tanah air. Dengan demikian, maka “Persatuan
Indonesia” yang dimaksud dengan pancasila itu “Mutlak” berlawanan dengan
Islam. Bertalian dengan itu kita perhatikan sabda Nabi Saw yang bunyinya :

‫صِبّيٍة )رواه ابو داود‬


َ ‫ع‬
َ ‫عَلى‬
َ ‫ت‬
َ ‫ن َما‬
ْ ‫س ِمّنا َم‬
َ ‫عصَِبّيٍة َوَلْي‬
َ ‫عَلى‬
َ ‫ل‬
َ ‫ن َقاَت‬
ْ ‫س ِمّنا َم‬
َ ‫صَيٍة َوَلْي‬
ِ ‫عا ِاَلى َمْع‬
َ ‫ن َر‬ َ ‫)َلْي‬
ْ ‫س ِمّنا َم‬

“Bukan dari golongan kami siapa saja yang mengajak kepada kebangsaan. Dan
bukan pula dari golongan kami orang yang berperang karena kebangsaan. Dan
tidak juga termasuk golongan kami yang mati karena kebangsaan.” (HR. Abu
Daud).

Masih ada kaitannya dengan uraian diatas, kita perhatikan Firman Allah yang
bunyi-Nya :

73)‫صيُر‬
ِ ‫جَهّنُم َوِبْئسَ اْلَم‬
َ ‫عَلْيِهْم َوَمْأَواُهْم‬
َ ‫ظ‬
ْ ‫غُل‬
ْ ‫ن َوا‬
َ ‫جاِهِد اْلُكّفاَر َواْلُمَناِفِقي‬ ّ ‫)َياَأّيَها الّنِب‬
َ ‫ي‬

“Hai Nabi, perangilah (lawanlah) orang-orang kafir dan munafik dan bersikap
keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka jahannam dan itulah
tempat kembali seburuk-buruknya.” (At-Taubah : 73).

Yang dimaksud dengan kafir di situ yakni yang merongrong atau menjegal
tegaknya kekuasaan Islam. Adapun yang dimaksud munafik yaitu yang
menggerogoti Islam dari dalam dengan menyaru sebagai muslim.

Umat Islam boleh rukun dengan kafir yang dzimmi. Hanya ingat ! bahwa
menurut konsep “persatuan ala pancasila” itu tidak ada istilah kafir dzimmi.
Yang ada hanya muslim dzimm”, yaitu muslim yang tunduk terhadap undang-
undang sistem pancasila (KUHP) walau Sila ke 2 dalam Pancasila
Posted by abuqital1 under Hujjah untuk kaum PANCASILA
Leave a Comment

1 Votes

Buah dari pemikiran tentang kemanusiaan menurut kaum pancasilais, bila


pemerintah menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa, maka harus sesuai
dengan kemanusiaan menurut masing-masing hakim yang akan
memutuskannya, bahwa vonis hukuman itu telah dianggap sesuai dengan
kemanusiaan meski berlawanan dengan hukum Al-Qur’an. Kemanusiaan
sedemikian itu adalah kemanusiaan yang dapat ditentukan oleh otak yang
senantiasa dipengaruhi berbagai godaan. Sehingga berubah-ubah, tidak ada
ketentuannya. Umpamanya saja kita uraikan di bawah ini.

Menurut si A bahwa adanya hukuman 18 tahun bagi terpidana pembunuhan, hal


itu sesuai dengan kemanusiaan. Akan tetapi, menurut si B bahwa hukuman yang
sesuai dengan kemanusiaan itu harus 15 tahun. Dan mungkin lagi menurut si C
bahwa kedua vonis (18 tahun dan 15 tahun) itu belum sesuai dengan
kemanusiaan. Sehingga si C itu mengajukan tuntutan yang berlainan dari yang
dikemukakan oleh si A dan si B tadi.

Memperhatikan perumpamaan diatas itu, maka tidak asing lagi bahwa dalam
pamerintahan yang bersendikan hukum jahiliyah, sering terjadi hal yang dialami
oleh pencuri sesuatu barang yang nilainya tidak lebih dari seekor ayam, tetapi
menjalani hukuman yang melebihi dari hukuman seorang koruptor berkaliber
besar. Sebagaimana halnya dalam kasus Wasdri dibanding dengan kasus Robby
Cahyadi. Mengenai kasus Wasdri dibanding Robby Cahyadi saduran dari artikel
yang dimuat pada “Sinar Harapan”, Minggu ketiga Juli 1977

Sungguh bahwa vonis berbeda-beda itu, karena berdasarkan perikemanusiaan


yang diukur oleh otak benak yang berbeda-beda pula. Bukti dari kejadian lainnya
kita ungkapkan disini : “….seorang yang telah dijatuhi hukuman sebelas tahun
penjara oleh Pengadilan Negeri Tonsia, Menado, dari hal pemerkosaan.
Bersamaan dengan itu terdapat pula delapan orang yang disidang untuk perkara
yang sama yakni pemerkosaan pula, tetapi mereka itu rata-rata hanya dihukum
1,5 tahun penjara. Majalah, “Detektiv Romantika” No. 0318 hal. 29, 15
Desember 1974

KESIMPULAN:

TIDAK GANDRUNG TERHADAP ISTILAH KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB

bertentangan dengan Islam.

KESIMPULAN:

PANTANG BERSATU DENGAN YANG MENJEGAL PELAKSANAAN AL-QUR’AN

Sila ke 1 dalam Pancasila


Posted by abuqital1 under Hujjah untuk kaum PANCASILA
Leave a Comment

2 Votes
Marilah kita mengutip makna ketuhanan menurut pancasila, bersumber dari
yang telah dikemukakan oleh yang berkompeten dalam hal kepancasilaannya:
“Ke-tuhanan mempunyai pengertian tersendiri dan tidak identik dengan agama.
Ali Murtopo, “Akselerasi Modernisasi Pembangunan 25 tahun”, hal. 20 Jadi sila
pertama mengatakan adanya theisme, bukan theisme theokratis, tetapi theisme
demokratis. Ibid, hal. 21

Pernyataan diatas itu kita simpulkan maknanya, bahwa yang dimaksud dengan
Ketuhanan yang Maha Esa di dalam pancasila itu adalah ketuhanan dari
pengakuannya masing-masing yang mengakui adanya Tuhan yang maha esa.
Jelasnya yaitu dari pengakuan yang kombinasi. Atau satu kumpulan pengertian
tentang Tuhan dari segala yang dianggap sebagai tuhan oleh masing-masing
yang mempercayainya. Jadi, pengertian “esanya” pun hanya menurut
pengertiannya masing-masing. Umpamanya : Menurut si A bahwa Tuhan itu
“esa” serta begitu dan seterusnya….. Adapun pendapat si B : Tuhan itu “esa”
hanya tidak “begitu”, tetapi “begini”. Yang akhirnya si C juga boleh saja
mengatakan bahwa tuhan itu “esa”, dan tidak “begini” tidak “begitu”. Dengan
demikian bahwa Ketuhanan di situ rupa-rupa keadaannya. Dan sesuai dengan
kata “Ketuhanan”, menurut arti bahasa ialah “kumpulan tuhan”. Tegas sekali,
bahwa “esa” dalam pancasila itu bukan menurut Islam, melainkan dari theisme
demokratis.

KESIMPULAN:

PENGERTIAN KETUHANAN DALAM PANCASILA TIDAK ADA SANGKUTANNYA


DENGAN ISLAM

Pancasila adalah Hukum Jahiliyyahnya, dan RI adalah Thoghutnya


Posted by abuqital1 under Hujjah untuk kaum PANCASILA
1 Comment

1 Votes

Pembagian istilahnya yaitu sebagaimana di bawah ini :


Untuk hukum yang mereka pakai selain hukum islam maka diberikan julukan
“Hukum Jahiliyah”, berdasarkan surat Al-Maidah : 50
Untuk pengabdinya atau kelembagaannya disebut sebagai “thagut”, di
terangkan dalam surat An-Nisa : 60.
Thagut berasal dari kata “thaga”, artinya melewati batas. Dan setiap yang
melewati batas dari yang telah ditentukan Allah SWT, maka adalah syaithan,
juga yang berperilaku sama dengannya dan apa yang disembah selain Allah
SWT. Jadi, bersifat umum. Klasifikasinya terdiri beberapa bagian :

Ada yang bersifat benda berhala seperti : patung, pohon, keris, batu dan
sebagainya yang dianggap mempunyai kekuatan gaib serta memberi
pertolongan. Keterangan ini berdasarkan QS 5 : 60. Pada ayat itu didapat kalimat
: “….dan (orang yang) menyembah thagut”….? Maka, thagut di situ adalah hal-
hal yang disembah selain Allah SWT, seperti yang disebut diatas tadi.
“Setan, Jin” yang ingkar terhadap Allah, selalu berusaha menyesatkan manusia
dengan berbagai cara sehingga manusia yang terjerumus itu, menciptakan
banyak hal yang bertentangan dengan ketentuan syara’. Apa itu berbentuk
hukum atau sesuatu ideologi atau juga kepercayaan-kepercayaan lainnya.
Perhatikan QS 4 An-Nisa : 51. “…..Mereka percaya kepada yang disembah selain
Allah….”. Juga, QS 2 : 257 “…..Dan orang-orang kafir, pelindungnya ialah
thagut….”
Yang berbentuk kelembagaan, tempat bernaungnya manusia dengan bertolak
belakang dari hukum-hukum Allah (negara – saat ini). Lihat QS 4 An-Nisa : 76,
“Orang-orang yang beriman berperang dijalan Allah, dan orang-orang kafir
berperang dijalan thagut….”. Jelas, bahwa thagut pada ayat itu menyangkut pula
kepada sesuatu kelembagaan yang azasnya bertentangan dengan Islam.
Yang berwujud manusia, karena melampaui batas dari ketentuan hukum-hukum
Allah. Dan sejalan dengan kehendak syaithan. Sama dalam hal itu, berarti
thagut. Thagut dalam urutan ini dapat juga berfungsi selaku pemimpin atau yang
dipimpin.

Thagut yang dapat melibatkan diri dalam hal inspirasi pembuatan/pelaksanaan


hukum jahiliyah, bisa saja terdiri dari syaithan atau jin kafir dan manusia. Maka,
bentuk penyesatannya antara lain :
Memperbanyak pembuatan fahsya dan munkar (QS 24 An-Nur : 21)
Berusaha agar manusia ragu-ragu terhadap jalan Allah (QS. 13 Ar-Ra’du : 42).
Mengadakan rencana-rencana guna merintangi jihad fisabilillah (QS. 3 Ali Imran :
54, QS. 8 Al-Anfal : 30).

Keadaan yang Identik Dengan Thagut

Thagut yang terdiri manusia, dapat pula disebut fasik, zalim dan kafir.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh ayat-ayat yang bunyinya :

… 47) ‫ن‬
َ ‫سُقو‬
ِ ‫ك ُهُم اْلَفا‬
َ ‫ل َفُأوَلِئ‬
ُّ ‫ل ا‬ ْ ‫)َوَمنْ َلْم َي‬
َ ‫حُكْم ِبَما َأْنَز‬

“…..Barang siapa tidak menghukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka
mereka itu orang-orang fasik.” (QS. 5 : 47)

… 45)‫ن‬
َ ‫ظاِلُمو‬
ّ ‫ك ُهُم ال‬
َ ‫ل َفُأوَلِئ‬
ُّ ‫ل ا‬ ْ ‫)َوَمنْ َلْم َي‬
َ ‫حُكْم ِبَما َأْنَز‬
“…..Barang siapa tidak menghukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka
mereka itu orang-orang zalim.” (QS 5 : 45)

…44) ‫ن‬
َ ‫ك ُهُم اْلَكاِفُرو‬
َ ‫ل َفُأوَلِئ‬
ُّ ‫ل ا‬ ْ ‫)َوَمنْ َلْم َي‬
َ ‫حُكْم ِبَما َأْنَز‬

“…..Barang siapa tidak menghukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka
mereka itu orang-orang kafir.” (QS 5 : 44)

Dalam ayat-ayat diatas itu didapat kata “man (siapa)”. Hal itu tegas bersifat
“umum”. Apakah mereka itu terang-terangan mengaku anti Islam atau juga yang
mengaku Islam, pun yang berpredikat kiayi atau ulama dan sebagainya.
Pendeknya, siapa saja yang tidak komitmen dalam mematuhi ketetapan Allah,
maka terlibat kafir, fasik, dan zalim.

Satu Tanggapan to “Pancasila adalah Hukum Jahiliyyahnya, dan RI adalah


Thoghutnya”
abu anas Says:

Desember 16, 2009 at 7:52 am

Assalamu’alikum
Smoga Alloh memberi hidayah kepada kita semua kpd jalan yg haq
Saya nggak mau banyak komentar, cuma ingin memberi saran, coba lihat tafsir
para ulama (lihat tafsir Ibnu Katsir, At Thobary, dll) tentang 3 ayat:
47) ‫ن‬
َ ‫سُقو‬ِ ‫ك ُهُم اْلَفا‬َ ‫ل َفُأوَلِئ‬ُّ ‫ل ا‬َ ‫حُكْم ِبَما َأْنَز‬
ْ ‫ن َلْم َي‬ْ ‫)َوَم‬
45)‫ن‬
َ ‫ظاِلُمو‬
ّ ‫ك ُهُم ال‬ َ ‫ل َفُأوَلِئ‬
ُّ ‫ل ا‬ َ ‫حُكْم ِبَما َأْنَز‬
ْ ‫ن َلْم َي‬ْ ‫)َوَم‬
44) ‫ن‬
َ ‫ك ُهُم اْلَكاِفُرو‬ َ ‫ل َفُأوَلِئ‬ ُّ ‫ل ا‬
َ ‫حُكْم ِبَما َأْنَز‬ْ ‫ن َلْم َي‬ْ ‫َوَم‬

wassalamu’alaikum

Abuqital1:
Insya Alloh akhi lebih paham maksudnya. Bedanya kalo dulu para Ulama tafsir
tersebut masih ada didalam “lindungan hukum Islam yang telah berjalan secara
de facto dan de jure”. Apakah sekarang hukum Islam sudah tegak secara de
facto dan de jure…?
Kejahatan Anshar para Thaghut
Posted by abuqital1 under Melacak Jejak Thoghut
Leave a Comment

4 Votes
Ketahuilah bahwa tidak mungkin bagi orang kafir melakukan kerusakan dibumi
ini atau menganiaaya suatu umat dari manusia kecuali dengan kawanan
pembantu yang membantu dia atas kezalimannya dan pengrusakannya serta
mereka melindungi dia dari orang orang yang ingin membalasnya. Jadi orang
kafir tidak akan bisa berdiri dan merusak kecuali dengan kawanan pembantu
dan anshar dan dari sinilah Allah ta’ala berfirman :

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang


menyebabkan kamu disentuh api neraka,…” (QS.Hud : 113)

Para ulama mengatakan:”Ar Rukun” adalah kecenderungan yang sedikit. Ibnu


Taimiyyah rahimahullah berkata: ”Dan begitu juga yang diriwayatkan dalam
sebuah atsar: “Bila terjadi hari kiamat,maka dikatakan : Mana orang-orang yang
zalim dan kawanan pembantu mereka? atau berkata : dan sejawat sejawat
mereka— maka mereka dikumpulkan dalam peti-peti dari api kemudian mereka
dilemparkan ke Neraka” Dan banyak salaf mengatakan : kawanan pembantu
orang-orang zalim adalah orang yang membantu mereka, walaupun ia sekedar
mengencerkan tinta dan meruncingkan pena buat mereka. Dan diantara salaf
ada yang berkata : Bahkan orang yang mencucikan pakaian mereka termasuk
dalam kawanan pembantu mereka. Dan kawanan pembantu mereka itu adalah
termasuk teman sejawat mereka yang disebutkan dalam ayat (QS Ashshoffat:22,
pent) karena orang yang membantu terhadap kebajikan dan taqwa adalah
tergolong pelaku hal itu dan orang orang yang membantu terhadap dosa dan
aniaya adalah tergolong pelaku hal itu. Allah ta’ala berfirman :

“Barangsiapa yang memberikan syafa`at yang baik, niscaya ia akan memperoleh


bahagian (pahala) daripadanya. Dan barangsiapa yang memberi syafa`at yang
buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) daripadanya… (QS. An Nisa’ :
85)

Yang memberi syafa’at adalah orang yang membantu yang lain sehingga ia
menjadi genap bersamanya setelah sebelumnya ia ganjil. Oleh sebab itu syafa’at
yang baik ditafsirkan dengan membantu orang-orang mukmin terhadap jihad
sedangkan syafaat yang buruk ditafsirkan dengan membantu orang kafir
terhadap memerangi kaum mukminin sebagaimana hal itu dituturkan oleh ibnu
Jarir dan Abu Sulaiman (Majmu al Fatawa 7/64)

Maka penguasa kafir itu tidak akan bercokol dan juga hukum hukum kafir serta
apa yang ditimbulkannya berupa kerusakan yang besar dinegeri kaum muslimin
tidak akan berlangsung kecuali dengan anshar para penguasa thaghut itu, sama
saja dalam hal itu anshar thaghut dengan ucapan yang menyesatkan manusia
dan membuat pengkaburan ditengah mereka atau anshar dia dengan perbuatan
melindungi para penguasa dan undang-undang, menjaga mereka dari orang
orang yang berupaya pembalasan terhadap mereka, serta membantu mereka
terhadap orang tersebut. Oleh sebab itu tidak aneh bila Allah mensifati bala
tentara penguasa kafir dengan ‘pasak’ karena merekalah yang mengokohkan
kekuasaan dan pemerintahannya dan mereka sebab keberlangsungan kekafiran
dalam firmanNya Ta’ala:

“dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasakpasak (tentara yang banyak). (QS. Al
Fajr : 10)

Ibnu Jarir Ath Thabariy rahimahullah berkata dalam tafsir ayat ini : Allah Yang
Maha Mulia berfirman: ‘Apakah kamu tidak melihat apa yang Alloh lakukan
kepada Fir’aun yang memiliki pasak-pasak’. Para ahli takwil (tafsir) berselisih
pendapat tentang makna firman Alloh yang berbunyi:” Yang mempunyai
pasakpasak” dan apa alasan dikatakan hal itu baginya? Sebagian mereka
mengatakan: Makna itu adalah yang memiliki banyak tentara menguatkan
baginya, pemerintahannya dan mereka berkata : “pasak-pasak” ditempat ini
berarti bala tentara.(Tafsir Ath Thobariy, 30 / 179).

Dan ini semuanya dalam penjelasan kejahatan ansharuth thawaghit dan bahwa
merekalah sebab sebenarnya untuk keberlangsungan kekafiran dan kerusakan
sehingga tidak mungkin bagi orang kafir merusak ummat dan menzaliminya
kecuali dengan kawanan pembantu yang membantunya. Bila saja Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata:

Saya berlepas diri dari setiap muslim yang menetap ditengah-tengah kaum
musyrikin.

Maka bagaimana dengan orang yang membantu mereka terhadap kekafirannya


dan bagaimana dengan orang yang membantu mereka terhadap sikap mereka
menyakiti dan memerangi kaum muslimin?

Dan dari sisi realita, maka sesungguhnya peperangan kaum muslimin melawan
para thaghut penguasa dalam rangka mencopot mereka dengan mengangkat
penguasa muslim sebenarnya adalah melawan anshar mereka dari kalangan
militer dan lainnya, oleh sebab itu wajiblah mengetahui status ansharuth
thawaghit. Dan ia adalah materi bahasan kita. Tata Cara Berijtihad dalam
Nawazil
Posted by abuqital1 under Melacak Jejak Thoghut
1 Comment

Rate This

Bila terjadi suatu kejadian menimpa kaum muslimin atau salah seorang mereka
dan orang-orang yang pantas berijtihad ingin berijtihad untuk mengetahui
hukumnya secara syar’y, maka kewajiban pertama atasnya adalah ia melihat
apakah ia tergolong masalah yang sudah diijma’kan ataukah ia masalah yang
diperselisihkan ulama? Dan ini agar ia tidak memfatwakan didalamnya dengan
fatwa yang menyelisihi ijma sehingga ia sesat dengan sebab ia mengikuti selain
jalan kaum mukminin. Dan tidak boleh menyengaja kepada dalil dari Alkitab atau
assunnah untuk berdalil dengannya suatu masalah tanpa melihat kepada ucapan
para ulama didalamnya karena ia bisa memahami dari dalilapa yang tidak
ditunjukkan olehnya dan ia bisa saja meletakkan dalil bukan pada tempatnya
sehingga ia tergolong orangorang yang memalingkan ucapannya dari tempat
semestinya.

Abu Muhammad Almaqdisy berkata dalam AnNukat Al Lawami dalam koreksinya


terhadap hal ini : Seandainya beliau berkata bahwa hal seperti ini beliau pilihkan
bagi orang-orang yang tidak memiliki alat-alat ijtiihad dan dikhawatirkan keliru
dalam berdalil tentulah ini masih bisa diterima dengan syarat dia menelusuri
orang-orang yang menulis dan mengumpulkan tentang tingkatan ijma dan
tempat-tempatnya. Akan tetapi beliau berkata : “orang yang pantas Ijtihad . . “
sedangkan orang yang pantas ijtihad itu mengetahui perselisihan dalam hal ijma,
terutama setelah menyebarnya para shahabat diberbgai negeri sedangkan apa
yang diklaim banyak orang berupa berbagai ijma adalah tidak syah dan tidak
memiliki pijakan syar’y. Ia juga mengetahui banyaknya mereka menggunakan
ijma sukuty yang sangat ma’ruf diperselisihkan.

Setelah itu ia melihat kepada keumuman-keumuman dan dhahir-dhahir Al Kitab.


Kemudian melihat kepada dalil-dalil yang mengkhususkan keumuman, berupa
khabar-khabar ahad dan qiyas, bila ternyata qiyas menentang keumuman atau
khabar ahad menentang keumuman maka kami telah menuturkan apa yang
wajib didahulukan darinya. Bila tidak mendapatkan lafadh nash dan dhahir maka
ia melihat kepad qiyas nushush. Bila saling bertentangan dua qiyas atau dua
khabar atau dua keumuman, maka ia mencari pentarjihan, kemudian bila
keduanya setara menurutnya, maka ia tawaqquf atas suatu pendapat dan
memilih atas suatu pendapat] (Al Musthapa, Al Ghozaliy 2/392. Dinukil dari “Ar
Raddu ‘Ala man Akhlada ilal Ardli” karya As Suyuthy hal : 163164, terbitan Darul
Kutub Al’ilmiyah 1403 H)

Firqah-firqah yang menyelelisihi Ahlus sunnah wal jama’ah tidaklah menyimpang


kecuali dengan sebab mengikuti metodhe yang bengkok ini, yaitu memiliki
keyakinan sebelum berdalil terus mencari dalil dari Kitab dan As Sunnah untuk
menguatkan keyakinannya tanpa melihat kepada ucapan-ucapan salaf dalam
masalah-masalah itu sehingga dengan inilah sesatlah khawarij,
Murjiah,Mu’tazilah dan lainnya.

Dan kami bila mengatakan wajib memulai dengan melihat ijma sebelum melihat
pada dalil-dalil Al Kitab dan As Sunnah, maka ini bukan pengedepanan ijma
terhadap nushush dalam tingkatan urutan, akan tetapi pengedepanan dalam
pengamalan. Inilah yang dituturkan Abu Hamid Al Ghozaly rahimahullah dalam
kitabnya “Al Mankhul hal: 466.
FaidahFaidah yang Berkaitan dengan Ijma’, Status Kehujjahan Ijma’ itu serta
Penjelasan Kekafiran Orang yang Menyalahi Ijma’ Shahabat

A. Ijma’: sebagaimana yang dikatakan Asy Syaukani adalah “kesepakatan para


mujtahid ummat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau wafat
pada suatu masa terhadap suatu hal.” Dan yang dimaksud dengan kesepakatan
adalah kesamaan baik dalam keyakinan ataupun dalam ucapan ataupun dalam
perbuatan (Irsyadul fuhul hal :68)

B. Bagaimana ijma’ diketahui? Al Khothiib Al Baghdaadiy rahimahullah berkata :


”Ketahuilah bahwa ijma’ itu bisa diketahui dengan ucapan, dengan perbuatan,
dan iqror (pengakuan), serta dengan perbuatan dan iqror (pengakuan). Adapun
dengan ucapan maka ia adalah sepakatnya ucapan seluruh mereka terhadap
suatu hukum, dengan mengatakan semua ini halal atau haram. Adapun dengan
perbuatan maka ia adalah mereka seluruhnya mengerjakan sesuatu. Adapun
dengan ucapan dan iqror (pengakuan) maka ia adalah sebagian mereka
mengucapkan sesuatu kemudian ucapan itu menyebar pada yang lain kemudian
mereka diam dari menyelisihinya. Adapun dengan perbuatan dan iqror
(pengakuan),maka adalah sebagian mereka melakukan sesuatu dan ia
menghubungi yang lainnya kemudian mereka diam dari mengingkarinya”. (Al
Faqih Wal Mutafaqqih, Al Baghdadiy, terbitan Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah 1400 H,
juz).

C. Kehujjahan Ijma : Ijma’ adalah sebagai dalil ketiga dari dalil-dalil hukum
syar’iy setelah Al Qur’an dan AsSunnah dan dalildalil atas hujjiyahnya ijma’ ini
adalah banyak diantaranya. Firman Alloh Ta’ala :

“Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa
terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam
Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa’ :
115)

Sedangkan ijma’ ulama termasuk sabilul mu’minin (jalan orangorang yang


beriman) secara pasti. Sedang telah datang ancaman bagi orang yang
menyelisihinya, maka itu menunjukkan kewajiban mengikutinya. Dengan ayat
inilah Asy Syafi’iy dan yang lainnya berdalil atas kehujjahan ijma’. Lihat Al
Mushtashfa, Al Ghozaliy, terbitan Al Amiriyah 1 / 175 dan Majmu’ Fatawa Ibnu
Taimiyyah, 19 / 178 179.

D. Ijma’ sahabat adalah hujjah qhot’i yang menyelisihinya kafir. Ijma’ shahabat
adalah hujjah, tidak ada perselisihan didalamnya diantara para ulama. termasuk
orang yang mengingkari diantara mereka akan kemungkinan terjadinya ijma’
setelah masa shahabat, karena sebab tersebarnya ulama diberbagai negeri,
seperti Ibnu Hazm rahimahullah, sesungguhnya ia bersepakat bersama para
ulama lainnya akan keabsahan ijma’ shahabat dan bahwasa ijma’ adalah hujjah.
(Lihat Al Muhalla, Ibnu Hazm, 1 / 54)

Faidah :
Ijma’ adalah hujjah walaupun tidak diketahui dalil orang orang yang berijma’ dari
AlKitab dan As Sunnah sehingga dengan sekedar ijma’ mereka terhadap hukum
sesuatu maka ia adalah hujjah dengan sendirinya. Dan bila diketahui nash dalam
masalah itu maka ia adalah dalil lain.