Anda di halaman 1dari 13

SOSIOLINGUISTIK

PERISTIWA TUTUR DAN TINDAK TUTUR

OLEH:
KELOMPOK 3
EZITA NOVIANEYSA
FIYANA FARLIS
LARA NOVELINA MASDI
RIAN CAHYADI
ULTI YANI

SASTRA JEPANG
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS ANDALAS
2015

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puja dan Puji kita curahkan hanya kepada Allah SWT. Karena atas
limpahan karunia-Nya penulis bisa menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam
semoga tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahualaihi wa sallam.
Manusia istimewa yang seluruh perilakunya layak untuk diteladani, yang seluruh
ucapannya adalah kebenaran, yang seluruh getar hatinya kebaikan.

Penulis menyimpulkan bahwa tugas kelompok ini masih belum sempurna, oleh karena
itu Penulis menerima saran dan kritik, guna kesempurnaan tugas kelompok ini dan
bermanfaat bagi Penulis dan pembaca pada umumnya.

Padang, Februari 2015


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa adalah alat komunikasi yang dipergunakan oleh semua orang dalam kehidupan
sehari-hari. Tanpa menggunakan bahasa seseorang tidak akan dapat bersosial, bahkan
mungkin juga tidak akan dapat memenuhi kebutuhan

Seseorang pada umumnya tidak pandai memilih petuturan yang baik atau bahkan tidak
memahami makna dan jenis petuturan yang seharusnya mereka pergunakan, baik di
lingkungan instansi maupun di lingkungan masyarakat pada umumnya. Hal ini dapat
terjadi karena beberapa faktor, diantaranya faktor pengetahuan seseorang, faktor
lingkungan, faktor pergaulan, faktor keadaan daerah, dan faktor intern seseorang. Sebagai
salah satu contoh petuturan yang disampaikan seseorang yang kesehariannya di Terminal
sangatlah jauh berbeda dengan petuturan yang disampaikan oleh seorang dosen yang
kesehariannya menyampaikan kajian-kajian ilmiah kepada mahasiswanya di lingkungan
kampus, begitu pun tidak sedikit orang yang masih banyak kesalahan dalam
menggunakan petuturan. Padahal sebetulnya di mana saja kita berada atau kepada siapa
kita menyampaikan tuturan, tentu harus sesuai dengan etika dan jenis petuturan yang
benar. Berangkat dari hal itulah, sehingga makalah ini memaparkan tentang petuturan dan
masalahnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan peristiwa tutur ?
2. Apa saja yang terjadi dalam peristiwa tutur ?
3. Apa yang dimaksud dengan tindak tutur ?
4. Apa saja jenis tindak tutur ?
5.

Bagaimana hubungan tindak tutur dengan pragmatik ?

BAB II
PEMBAHASAN
A. PERISTIWA TUTUR
Peristiwa tutur adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik
dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan

lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat, dan situasi
tertentu.
Sebuah percakapan baru dapat disebut sebagai sebuah peristiwa tutur
kalau memenuhi syarat seperti yang disebutkan diatas. Atau seperti dikatakan oleh
Dell Hymes (1972), seorang pakar sosiolinguistik terkenal. Bahwa suatu peristiwa
tutur harus memenuhi delapan komponen, yang bila huruf-huruf pertamanya
dirangkaikan menjadi SPEAKING. Kedelapan komponen itu adalah:
a. S (Setting and scene)
Disini setting berkenaan dengan waktu dan tempat tutur berlangsung,
sedangkan scene mengacu pada

situasi tempat dan waktu, atau situasi

psikologis pembicaraan. Waktu, tempat, dan situasi tuturan yang berbeda


dapat menyebabkan penggunaan variasi bahasa yang berbeda.
Berbicara di lapangan sepak bola pada waktu ada pertandingan sepak bola
dalam situasi yang ramai tentu berbeda dengan pembicaraan di ruang
perpustakaan pada waktu banyak orang membaca dan dalam keadaan sunyi.
Di lapangan sepak bola kita bisa berbicara keras-keras, tetapi di ruang
perpustakaan harus seperlahan mungkin.
b. P (Participants)
Yaitu pihak-pihak yang terlibat dalam petuturan, bisa pembicara dan
pendengar, penyapa dan pesapa, atau pengirim dan penerima (pesan). Dua
orang yang bercakap-cakap dapat berganti peran sebagai pembicara atau
pendengar, tetapi dalam khotbah di mesjid, khotib sebagai pembicara dan
jemaah sebagai pendengar tidak dapat bertukar peran.
c.

E (Ends)
Merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. Peristiwa tutur yang terjadi
di ruang pengadilan bermaksud untuk menyelesaikaan suatu kasus perkara,
namun para partisipan di dalam peristiwa tutur itu mempunyai tujuan yang
berbeda. Jaksa ingin membuktikan kesalahan si terdakwa, pembela berusaha

membuktikan bahwa si terdakwa tidak bersalah, sedangkan hakim berusaha


memberikan keputusan yang adil.
d. A (Act sequences)
Mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran. Bentuk ujaran ini berkenaan
dengan kata-kata yang digunakan, bagaimana penggunaannya, hubungan
antara apa yang dikatakan dengan topik pembicaraan. Bentuk ujaran dalam
kuliah umum, dalam percakaapan biasa, dan dalam pesta adalah berbeda.
Begitu juga dengan isi yang dibicarakan.
e. K (Key)
Mengacu pada nada, cara, dan semangat dimana suatu pesan disampaikan:
dengan senang hati, dengan serius, dengan singkat, dengan sombong, dengan
mengejek, dan sebagainya. Hal ini dapat juga ditunjukkan dengan gerak tubuh
dan isyarat.
f. I (Intrumentalities)
Mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, atau biasa disebut denngan
sarana tutur. Sarana tutur menunjuk kepada saluran tutur (channels). Adapun
yang dimaksud dengan saluran tutur adalah alat di mana tuturan itu dapat
dimunculkan oleh penutur dan sampai kepada mitra tutur. Sarana yang
dimaksud dapat berupa saluran lisan, saluran tertulis, saluran bahkan dapat
pula lewat sandi-sandi atau kode tertentu. Saluran lisan dapat pula berupa
nyanyian, senandung, dan sebagainya.
g. N (Norm of interaction and interpretation)
Mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi. Misalnya, yang
berhubungan dengan cara berinterupsi, bertanya, dan sebagainya. Juga
mengacu terhadap ujaran lawan bicara.
h. G (Genre)

Mengacu pada jenis bentuk penyampaian, seperti narasi, puisi, pepatah,


doa, dan sebagainya.
Dari yang dikemukakan Hymes itu dapat kita lihat betapa kompleks
terjadinya peristiwa tutur yang kita lihat, atau kita alami sendiri dalam kehidupan
kita sehari-hari. Komponen tutur yang diajukan Hymes itu dalam rumusan lain
tidak berbeda dengan pendapat Fishman yang disebut sebagai pokok pembicaraan
sosiolinguistik, yaitu who speak, what language, to whom, when, dan what end.
B. TINDAK TUTUR
Kalau peristiwa tutur merupakan gejala sosial, maka tindak tutur merupakan
gejala individual, bersifat psikologis dan keberlangsungannya ditentukan oleh
kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu.

Jenis-jenis tindak tutur :


1. Menurut Austin, ada 3 jenis tindak tutur, yaitu :
a) Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu
sebagaimana adanya atau The Act of Saying Something tindakan untuk
mengatakan sesuatu. Fokus lokusi adalah makna tuturan yang diucapkan,
bukan mempermasalahkan maksud atau fungsi tuturan itu. Rohmadi
mendefinisikan bahwa lokusi adalah tindak bertutur dengan kata, frasa, dan
kalimat sesuai dengan makna yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat
itu. Lokusi dapat dikatakan sebagai the act of saying something. Tindak lokusi
merupakan tindakan yang paling mudah diidentifikasi karena dalam
pengidentifikasiannya tidak memperhitungkan konteks tuturan. Dengan kata
lain, tindak tutur lokusi adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu dalam
arti berkata atau tindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna dan
dapat dipahami. Misalnya:
1.

Jembatan Suramadu menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura

2.

Tahun 2004 gempa dan tsunami melanda Banda Aceh.

Dua kalimat di atas dituturkan oleh seorang penutur semata-mata hanya untuk
memberi informasi sesuatu belaka, tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu.
apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Informasi yang diberikan pada
kalimat pertama adalah mengenai jembatan Suramadu yang menghubungkan
pulau Jawa dan Pulau Madura. Sedangkan kalimat kedua memberi informasi
mengenai gempa dan tsunami yang pada tahun 2004 melanda Banda Aceh.
Lalu, apabila disimak baik-baik tampaknya tindak tutur louksi ini hanya
memberi makna secara harfiah, seperti yang dinyatakan dalam kalimatnya.
b) Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang biasanya diidentifikasikan
dengan kalimat performatif yang eksplisit. Menurut pendapat Austin ilokusi
adalah tindak melakukan sesuatu. Ilokusi merupakan tindak tutur yang
mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan. Bagi Austin, tujuan
penutur dalam bertutur bukan hanya untuk memproduksi kalimat-kalimat
yang memiliki pengertian dan acuan tertentu. Bahkan tujuannya adalah untuk
menghasilkan kalimat-kalimat yang memberikan konstribusi jenis gerakan
interaksional tertentu pada komunikasi. Tindak tutur ilokusi ini biasanya
berkenaan dengan pemberian izin, mengucapkan terima kasih, menyuruh,
menawarkan, dan menjanjikan. Misalnya:
Sudah hampir pukul tujuh
Kalimat di atas bila dituturkan oleh seorang suami kepada istrinya di pagi hari, selain
memberi informasi tentang waktu, juga berisi tindakan yaitu mengingatkan si istri bahwa
si suami harus segera berangkat ke kantor, jadi minta disediakan sarapan.
c) Tindak tutur perlokusi, adalah tindak tutur yang berkenaan dengan
adanya ucapan orang lain sehubungan dengan sikap dan perilaku nonlinguistic
dari orang lain itu. Misalnya, karena adanya ucapan dokter (kepada
pasiennya) Mungkin ibu menderita penyakit jantung koroner, maka si
pasien akan panik dan sedih.

2. Menurut Searle, membagi tindak tutur menjadi lima kategori, yaitu :


a) Representative/asertif, yaitu tuturan yang mengikat penuturnya akan
kebenaran atas apa yang diujarkan. Tindak tutur jenis ini juga disebut dengan
tindak tutur asertif. Yang termasuk tindak tutur jenis ini adalah tuturan
menyatakan, menuntut, mengakui, menunjukkan, melaporkan, memberikan
kesaksian, menyebutkan, berspekulasi. Contoh jenis tuturan ini adalah: Adik
selalu unggul di kelasnya. Tuturan tersebut termasuk tindak tutur
representatif sebab berisi informasi yang penuturnya terikat oleh kebenaran isi
tuturan tersebut. Penutur bertanggung jawab bahwa tuturan yang diucapkan
itu memang fakta dan dapat dibuktikan di lapangan bahwa si adik rajin belajar
dan selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya. Contoh yang lain
adalah: Tim sepak bola andalanku menang telak, Bapak gubernur
meresmikan gedung baru ini.
b) Direktif/impositif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar si
pendengar melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu. Tindak
tutur direktif disebut juga dengan tindak tutur impositif. Yang termasuk ke
dalam tindak tutur jenis ini antara lain tuturan meminta, mengajak, memaksa,
menyarankan, mendesak, menyuruh, menagih, memerintah, mendesak,
memohon, menantang, memberi aba-aba. Contohnya adalah Bantu aku
memperbaiki tugas ini. Contoh tersebut termasuk ke dalam tindak tutur jenis
direktif sebab tuturan itu dituturkan dimaksudkan penuturnya agar melakukan
tindakan yang sesuai yang disebutkan dalam tuturannya yakni membantu
memperbaiki tugas. Indikator dari tuturan direktif adalah adanya suatu
tindakan yang dilakukan oleh mitra tutur setelah mendengar tuturan tersebut.
c) Ekspresif/evaluatif. Tindak tutur ini disebut juga dengan tindak
tutur evaluatif. Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang dimaksudkan
penuturnya agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang
disebutkan dalam tuturan itu, meliputi tuturan mengucapkan terima kasih,
mengeluh, mengucapkan selamat, menyanjung, memuji, meyalahkan, dan

mengkritik. Tuturan Sudah kerja keras mencari uang, tetap saja hasilnya
tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Tuturan tersebut merupakan
tindak tutur ekspresif mengeluh yang dapat diartikan sebagai evaluasi tentang
hal yang dituturkannya, yaitu usaha mencari uang yang hasilnya selalu tidak
bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Contoh tuturan lain adalah
Pertanyaanmu bagus sekali (memuji), Gara-gara kecerobohan kamu,
kelompok kita didiskualifikasi dari kompetisi ini (menyalahkan), Selamat
ya, Bu, anak Anda perempuan (mengucapkan selamat).
d) Komisif. Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya
untuk melaksanakan segala hal yang disebutkan dalam ujarannya, misalnya
bersumpah, berjanji, mengancam, menyatakan kesanggupan, berkaul. Contoh
tindak tutur komisif kesanggupan adalah Saya sanggup melaksanakan
amanah ini dengan baik. Tuturan itu mengikat penuturnya

untuk

melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya. Hal ini membawa konsekuensi


bagi dirinya untuk memenuhi apa yang telah dituturkannya. Cotoh tuturan
yang lain adalah Besok saya akan datang ke pameran lukisan Anda, Jika
sore nanti hujan, aku tidak jadi berangkat ke Solo.
e)

Deklaratif/establisif/isbati,

yaitu

tindak

tutur

yang

dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan,


dsb) yang baru. Tindak tutur ini disebut juga dengan istilah isbati.
Yang termasuk ke dalam jenis tuutran ini adalah tuturan dengan
maksud mengesankan, memutuskan, membatalkan, melarang,
mengabulkan,

mengizinkan,

menggolongkan,

mengangkat,

mengampuni, memaafkan. Tindak tutur deklarasi dapat dilihat dari


contoh berikut ini.
Ibu tidak jadi membelikan adik mainan. (membatalkan)
Bapak memaafkan kesalahanmu. (memaafkan)
Saya memutuskan untuk mengajar di SMA almamater saya.
(memutuskan).

C. TINDAK TUTUR DAN PRAGMATIK


Wijana (1996:1), berpendapat pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang
mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni bagaimana satuan kebahasaan itu
digunakan di dalam komunikasi.

Berbeda dengan Wijana, Yule (2006:5),

mengungkapkan bahwa: pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk


linguistik dan pemakai bentuk-bentuk itu.
Dari kedua pendapat di atas, Levinson (dalam Tarigan, 2009:31), mengunkapkan
definisi pragmatik lebih detail, yaitu telaah mengenai relasi antara bahasa dan konteks
yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa, dengan kata
lain telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta penyerasian
kalimat-kalimat dan konteks secara tepat.
Pandangan-pandangan tersebut memiliki arti yang sama, bahwa pragmatik adalah
bidang linguistik yang mengkaji telaah tuturan bahasa dari segi makna. Sejalan dengan
pendapat di atas, pragmatik mengkaji tentang tuturan bahasa. Dengan demikian
pragmatik sangat erat dengan tindak tutur. Tuturan tersebut memiliki makna, maksud atau
tujuan, sehingga perlu dikaji dengan bidang pragmatik.

Tindak tutur sebenarnya merupakan salah satu fenomena dalam masalah yang
lebih luas, yang dikenal dengan istilah pragmatik. Fenomena lainnya didalam kajian
pragmatik adalah deiksis, presuposisi dan implikatur percakapan.
1) Deiksis adalah hubungan antara kata yang digunakan didalam tindak tutur
dengan referen kata itu yang tidak tetap atau dapat berubah dan berpindah.
Kata-kata referen antara lain kata-kata yang berkenaan dengan persona, tempat,
waktu.

2) Presuposisi adalah makna atau informasi tambahan yang terdapat dalam


ujaran yang digunakan secara tersirat. Presuposisi terdapat pula dalam kalimat
deklaratif dan kalimat interogatif.
3) Implikatur percakapan adalah adanya keterkaitan antara ujaran-ujaran yang
diucapkan antara dua orang yang sedang bercakap-cakap. Keterkaitan ini tidak
tampak secara literal, tetapi hanya dipahami secara tersirat.
Faktor yang Mempengaruhi Keberagaman Tindak Tutur
Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan komunikasi antar sesamanya.
Dalam berkomunikasi, manusia menggunakan bahasa sebagai medianya. Cara
berkomunikasi ini dalam kajian pragmatik lebih dikenal dengan istilah tindak tutur. Teori
tindak tutur adalah bagian dari pragmatik. Tarigan (2009:31) memberi penjelasan bahwa
teori ini bertujuan untuk mengutarakan dan mengemukakan pertanyaan padahal yang
dimaksud adalah menyuruh atau mengatakan sesuatu hal dan yang dimaksud adalah
sebaliknya.
Jenis tindak tutur yang digunakan oleh manusia satu dengan yang lainnya juga
akan berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah:
1. Penutur dan lawan tutur. Hal ini berkaitan dengan usia, latar belakang sosial,
ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban, dan sebagainya.
2. Konteks (situasi dan kondisi), dalam pragmatik adalah semua latar
pengetahuan yang dipahami bersama oleh penutur dan lawan tutur.
3. Maksud dan tujuan penutur.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Peristiwa tutur adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistic
dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak yaitu penutur dan
lawan tutur, dengan satu pokok tuturan,di dalam, tempat, dan situasi tertentu

Kalau peristiwa tutur merupakan gejala sosial, maka tindak tutur merupakan
gejala individual, bersifat psikologis dan keberlangsungannya ditentukan oleh
kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu.
Pragmatik adalah bidang linguistik yang mengkaji telaah tuturan bahasa dari
segi makna. Sejalan dengan pendapat di atas, pragmatik mengkaji tentang tuturan
bahasa. Dengan demikian pragmatik sangat erat dengan tindak tutur. Tuturan
tersebut memiliki makna, maksud atau tujuan, sehingga perlu dikaji dengan bidang
pragmatik.

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul & Agustina Leonie. 2010. Sosiolinguistik. Jakarta: Rhineka Cipta
Ibrahim, Syukur Abd. 1993. Kajian Tindak Tutur. Surabaya: Usaha Nasional.
Aslinda dan Syafyahya, Leni. 2007. Pengantar Sosiolinguistik. Limau Manih: Refika
Aditama

Bahren. 2011. Lika-liku Linguistik. Padang : Minangkabau Press