Anda di halaman 1dari 75

cerita 17tahun – Bercinta dengan guru bahasa inggris

Posted by admin on April 2, 2008 – 4:52 pm


Filed under Cerita Dewasa

Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us

Sejalan dengan waktu, kini aku bisa kuliah di universitas keinginanku. Namaku
Jack, sekarang aku tinggal di Yogyakarta dengan fasilitas yang sangat baik
sekali. Kupikir aku cukup beruntung bisa bekerja sambil kuliah sehingga aku
mempunyai penghasilan tinggi.

Berawal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Setelah itu aku bertemu dengan guru
bahasa inggrisku, kami ngobrol dengan akrabnya. Ternyata Ibu Shinta masih
segar bugar dan amat menggairahkan. Penampilannya amat menakjubkan,
memakai rok mini yang ketat, kaos top tank sehingga lekuk tubuhnya nampak
begitu jelas. Jelas saja dia masih muda sebab sewaktu aku SMA dulu dia adalah
guru termuda yang mengajar di sekolah kami. Sekolahku itu cuma terdiri dari
dua kelas, kebanyakan siswanya adalah wanita. Cukup lama aku ngobrol dengan
Ibu Shinta, kami rupanya tidak sadar waktu berjalan dengan cepat sehingga para
undangan harus pulang. Lalu kami pun berjalan munuju ke pintu gerbang sambil
menyusuri ruang kelas tempatku belajar waktu SMA dulu.

Tiba-tiba Ibu Shinta teringat bahwa tasnya tertinggal di dalam kelas sehinga
kami terpaksa kembali ke kelas. Waktu itu kira-kira hampir jam dua belas
malam, tinggal kami berdua. Lampu-lampu di tengah lapangan saja yang tersisa.
Sesampainya di kelas, Ibu Shinta pun mengambil tasnya kemudian aku teringat
akan masa lalu bagaimana rasanya di kelas bersama dengan teman-teman.
Lamunanku buyar ketika Ibu Shinta memanggilku.

“Kenapa Jack”
“Ah.. tidak apa-apa”, jawabku. (sebetulnya suasana hening dan amat merinding
itu membuat hasratku bergejolak apalagi ada Ibu Shinta di sampingku, membuat
jantungku selalu berdebar-debar).
“Ayo Jack kita pulang, nanti Ibu kehabisan angkutan”, kata Ibu Shinta.
“Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya”, jawabku dengan ragu-ragu.
“Terima kasih Jack”.

Tanpa sengaja aku mengutarakan isi hatiku kepada Ibu Shinta bahwa aku suka
kepadanya, “Oh my God what i’m doing”, dalam hatiku. Ternyata keadaan
berkata lain, Ibu Shinta terdiam saja dan langsung keluar dari ruang kelas. Aku
panik dan berusaha minta maaf. Ibu Shinta ternyata sudah cerai dengan
suaminya yang bule itu, katanya suaminya pulang ke negaranya. Aku tertegun
dengan pernyataan Ibu Shinta. Kami berhenti sejenak di depan kantornya lalu
Ibu Shinta mengeluarkan kunci dan masuk ke kantornya, kupikir untuk apa
masuk ke dalam kantornya malam-malam begini. Aku semakin penasaran lalu
masuk dan bermaksud mengajaknya pulang tapi Ibu Shinta menolak. Aku
merasa tidak enak lalu menunggunya, kurangkul pundak Ibu Shinta, dengan
cepat Ibu Shinta hendak menolak tetapi ada kejadian yang tak terduga, Ibu
Shinta menciumku dan aku pun membalasnya.

Ohh.., alangkah senangnya aku ini, lalu dengan cepat aku menciumnya dengan
segala kegairahanku yang terpendam. Ternyata Ibu Shinta tak mau kalah, ia
menciumku dengan hasrat yang sangat besar mengharapkan kehangatan dari
seorang pria. Dengan sengaja aku menyusuri dadanya yang besar, Ibu Shinta
terengah sehingga ciuman kami bertambah panas kemudian terjadi pergumulan
yang sangat seru. Ibu Shinta memainkan tangannya ke arah batang kemaluanku
sehingga aku sangat terangsang. Lalu aku meminta Ibu Shinta membuka
bajunya, satu persatu kancing bajunya dibukanya dengan lembut, kutatap
dengan penuh hasrat. Ternyata dugaanku salah, dadanya yang kusangka kecil
ternyata amat besar dan indah, BH-nya berwarna hitam berenda yang modelnya
amat seksi.

Karena tidak sabar maka kucium lehernya dan kini Ibu Shinta setengah
telanjang, aku tidak mau langsung menelanjanginya, sehingga perlahan-lahan
kunikmati keindahan tubuhnya. Aku pun membuka baju sehingga badanku yang
tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu Shinta, “Jack kukira Ibu mau
bercinta denganmu sekarang.., Jack, tutup pintunya dulu dong”, bisiknya dengan
suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik.

Tanpa disuruh dua kali, secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu
agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Ibu Shinta. Kini
aku jongkok di depannya. Menyibak rok mininya dan merenggangkan kedua
kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk
dibungkus celana dalam warna hitam yang amat minim. Sambil mencium
pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas liang
senggamanya dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Ibu
Shinta menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku
sampai di pangkal pahanya.

“Mau apa kau sshh… sshh”, tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-
erat.
“Ooo… oh.. oh..”, desis Ibu Shinta keenakan ketika lidahku mulai bermain-main
di gundukan liang kenikmatannya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi
celana dalam.

Serangan pun kutingkatkan. Celananya kulepaskan. Sekarang perangkat rahasia


miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai
dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut yang tidak begitu lebat.
Lidahku kemudian bermain di bibir kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk ke
dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Ibu Shinta makin
keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya. “Aahh… Kau pintar
sekali. Belajar dari mana hh…”
Tanpa sungkan-sungkan Ibu Shinta mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh
celanaku yang menonjol akibat batang kemaluanku yang ereksi maksimal,
meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih
polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya.
Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersendak. Semula Ibu Shinta seperti
akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti
melekat di mulutnya. “Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?”,
tanyanya diantara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak
menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak
menggairahkan itu. Biar tidak merepotkanku, BH-nya kulepas. Kini dia telanjang
dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok mininya. Nah kini dia telanjang bulat.
Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang dan putih mulus.

“Nggak adil. Kamu juga harus telanjang..” Ibu Shinta pun melucuti kaos,
celanaku, dan terakhir celana dalamku. Batang kemaluanku yang tegak penuh
segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah di atas ranjang,
berguling-guling, saling menindih. Aku menunduk ke selangkangannya, mencari
pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang
daerah itu dengan liar. Ibu Shinta mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan
menahan nikmat. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya
aku merangkak naik. Menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya.

“Gantian dong..” Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan batang


kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama
dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama batang kemaluanku masuk ke
rongga mulutnya. “Justru di situ nikmatnya.., Selama ini sama suami main
seksnya gimana?”, tanyaku sambil menciumi payudaranya. Ibu Shinta tak
menjawab. Dia malah mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun
secara bergantian memainkan kedua payudaranya yang kenyal dan
selangkangannya yang mulai basah. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin
disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.

Tetapi lama-lama aku tidak tahan juga, batang kemaluanku pun sudah ingin
segera menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan aku mengarahkan
barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai
menembus liang kenikmatannya, kurasakan tubuh Ibu Shinta agak gemetar.
“Ohh…”, desahnya ketika sedikit demi sedikit batang kemaluanku masuk ke
liang kenikmatannya. Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang
naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil,
lenguhan serta kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.

Tiga menit setelah kugenjot, Ibu Shinta menjepitkan kedua kakinya ke


pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan
batang kemaluanku kutingkatkan. “Ooo… ahh… hmm… ssshh…”, desahnya
dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya.
Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan
seluruh wajahnya yang berkeringat. “Sekarang Ibu Shinta berbalik. Menungging
di atas meja.., sekarang kita main dong di atas meja ok!” Aku mengatur
badannya dan Ibu Shinta menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya.
“Gaya apa lagi ini?”, tanyanya.

Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang tubuhnya dari
belakang. Ibu Shinta kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan
yang tiada taranya, yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari
suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.
“Capek?”, tanyaku. “Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-
tulangku”.
“Tapi kan nikmat Bu..”, jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang
menggemaskan.
“Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku
keluar. Nih sudah nggak tahan lagi batang kemaluanku. Sekarang Ibu Shinta
yang di atas”, kataku sambil mengatur posisinya.

Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar


memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk
tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Ibu Shinta tersentak-
sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya
yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi diiringi dengan
lenguhan dan jeritannya saat menjelang orgasme. Ketika dia mencapai orgasme
aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Ibu Shinta
kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku
meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan batang kemaluanku. “Oh Ibu
Shinta.., aku mau keluar nih ahh..” Tak lama kemudian spermaku muncrat di
dalam liang kenikmatannya. Ibu Shinta kemudian menyusul mencapai klimaks.
Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya begitu hangat menjepit
batang kemaluanku. Lima menit lebih kami dalam posisi rileks seperti itu.

Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas
merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan. Setelah itu kami
bangun di pagi hari, kami pergi mencari sarapan dan bercakap-cakap kembali.
Ibu Shinta harus pergi mengajar hari itu dan sorenya baru bisa kujemput.

Sore telah tiba, Ibu Shinta kujemput dengan mobilku. Kita makan di mall dan
kami pun beranjak pulang menuju tempat parkir. Di tempat parkir itulah kami
beraksi kembali, aku mulai menciumi lehernya. Ibu Shinta mendongakkan kepala
sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah
dadanya. Nafas Ibu Shinta makin terengah, dan tanganku pun masuk di antara
kedua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan
yang membayang. “Uuuhh.., mmmhh..”, Ibu Shinta menggelinjang, tapi gairahku
sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun membuka dengan paksa baju dan rok
mininya.

Aaahh..! Ibu Shinta dengan posisi yang menantang di jok belakang dengan
memakai BH merah dan CD merah. Aku segera mencium puting susunya yang
besar dan masih terbungkus dengan BH-nya yang seksi, berganti-ganti kiri dan
kanan. Tangan Ibu Shinta mengelus bagian belakang kepalaku dan erangannya
yang tersendat membuatku makin tidak sabar. Aku menarik lepas celana
dalamnya, dan nampaklah bukit kemaluannya. Akupun segera membenamkan
kepalaku ke tengah ke dua pahanya. “Ehhh…, mmmhh..”. Tangan Ibu Shinta
meremas jok mobilku dan pinggulnya bergetar ketika bibir kemaluannya
kucumbui. Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan menjilatinya dengan
perlahan.

“Ooohh.., aduuuhh..”. Ibu Shinta mengangkat punggungnya ketika lidahku


menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat. Lidahku
bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali
lidahku membelai klitorisnya yang membuat tubuh Ibu Shinta terlonjak dan nafas
Ibu Shinta seakan tersendak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua
bukit dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat
dan mengulum, Ibu Shinta tergeletak terengah-engah, matanya terpejam.
Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung
ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Ibu Shinta. “Mmmhh…, mmmhh..,
ooohhm..”. Ketika Ibu Shinta membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku,
kini iapun mulai menyedot. Tanganku bergantian meremas dadanya dan
membelai kemaluannya. “Oouuuh Ibu Shinta.., enaaaak.., teruuuss…”, erangku.

Ibu Shinta terus mengisap batang kemaluanku sambil tangannya mengusap


liang kenikmatannya yang juga telah banjir karena terangsang menyaksikan
batang kemaluanku yang begitu besar dan perkasa baginya. Hampir 20 menit
dia menghisap batang kemaluanku dan tak lama terasa sekali sesuatu di
dalamnya ingin meloncat ke luar. “Ibu Shinta.., ooohh.., enaaak.., teruuus”,
teriakku. Dia mengerti kalau aku mau keluar, maka dia memperkuat hisapannya
dan sambil menekan liang kenikmatannya, aku lihat dia mengejang dan matanya
terpejam, lalu.., “Creet.., suuurr.., ssuuur..”

“Oughh.., Jack.., nikmat..”, erangnya tertahan karena mulutnya tersumpal oleh


batang kemaluanku. Dan karena hisapannya terlalu kuat akhirnya aku juga tidak
kuat menahan ledakan dan sambil kutahan kepalanya, kusemburkan maniku ke
dalam mulutnya, “Crooot.., croott.., crooot..”, banyak sekali maniku yang
tumpah di dalam mulutnya.

“Aaahkk.., ooough”, ujarku puas. Aku masih belum merasa lemas dan masih
mampu lagi, akupun naik ke atas tubuh Ibu Shinta dan bibirku melumat bibirnya.
Aroma kemaluanku ada di mulut Ibu Shinta dan aroma kemaluan Ibu Shinta di
mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesek-
gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ibu Shinta, dan sebentar
kemudian kurasakan tangan Ibu Shinta menekan pantatku dari belakang. “Ohm,
masuk.., augh.., masukin”

Perlahan kemaluanku mulai menyeruak masuk ke liang kemaluannya dan Ibu


Shinta semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku terasa
tertahan oleh sesuatu yang kenyal. Dengan satu hentakan, tembuslah halangan
itu. Ibu Shinta memekik kecil. Aku menekan lebih dalam lagi dan mulutnya mulai
menceracau, “Aduhhh.., ssshh.., iya.., terus.., mmmhh.., aduhhh.., enak.., Jack”

Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Ibu Shinta, lalu membalikkan


kedua tubuh kami sehingga Ibu Shinta sekarang duduk di atas pinggulku.
Nampak kemaluanku menancap hingga pangkal di kemaluannya. Tanpa perlu
diajari, Ibu Shinta segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku
bergantian meremas dan menggosok payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan
kamipun berlomba mencapai puncak.

Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Ibu Shinta makin menggila dan iapun
membungkukkan tubuhnya dengan bibir kami saling melucerita 17tahun – Birahi
perawat
Posted by admin on April 2, 2008 – 4:42 pm
Filed under Cerita Dewasa

Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us

Hari ini adalah hari pertamaku tinggal di kota Bandung. Karena tugas kantorku,
aku terpaksa tinggal di Bandung selama 5 hari dan weekend di Jakarta. Di kota
kembang ini, aku menyewa kamar di rumah temanku. Menurutnya, rumah itu
hanya ditinggali oleh Ayahnya yang sudah pikun, seorang perawat, dan seorang
pembantu. “Rumah yang asri” gumamku dalam hati. Halaman yang hijau, penuh
tanaman dan bunga yang segar dikombinasikan dengan kolam ikan berbentuk
oval. Aku mengetuk pintu rumah tersebut beberapa kali sampai pintu dibukakan.
Sesosok tubuh semampai berbaju serba putih menyambutku dengan senyum
manisnya.
“Pak Rafi ya..”.
“Ya.., saya temannya Mas Anto yang akan menyewa kamar di sini. Lho, kamu
kan pernah kerja di tetanggaku?”, jawabku surprise. Perawat ini memang pernah
bekerja pada tetanggaku di Bintaro sebagai baby sitter.
“Iya…, saya dulu pengasuhnya Aurelia. Saya keluar dari sana karena ada
rencana untuk kawin lagi. Saya kan dulu janda pak.., tapi mungkin belum jodo..,
ee dianya pergi sama orang lain.., ya sudah, akhirnya saya kerja di sini..”,
Mataku memandangi sekujur tubuhnya.

Tati (nama si perawat itu) secara fisik memang tidak pantas menjadi seorang
perawat. Kulitnya putih mulus, wajahnya manis, rambutnya hitam sebahu, buah
dadanya sedang menantang, dan kakinya panjang semampai. Kedua matanya
yang bundar memandang langsung mataku, seakan ingin mengatakan sesuatu.
Aku tergagap dan berkata, “Ee.., Mbak Tati, Bapak ada?”.
“Bapak sedang tidur. Tapi Mas Anto sudah nitip sama saya. Mari saya antarkan
ke kamar..”.
Tati menunjukkan kamar yang sudah disediakan untukku. Kamar yang luas, ber-
AC, tempat tidur besar, kamar mandi sendiri, dan sebuah meja kerja. Aku
meletakkan koporku di lantai sambil melihat berkeliling, sementara Tati
merunduk merapikan sprei ranjangku. Tanpa sengaja aku melirik Tati yang
sedang menunduk. Dari balik baju putihnya yang kebetulan berdada rendah,
terlihat dua buah dadanya yang ranum bergayut di hadapanku. Ujung buah dada
yang berwarna putih itu ditutup oleh BH berwarna pink. Darahku terkesiap.
Ahh…, perawat cantik, janda, di rumah yang relatif kosong.Sadar melihat aku
terkesima akan keelokan buah dadanya, dengan tersipu-sipu Tati menghalangi
pemandangan indah itu dengan tangannya.
“Semuanya sudah beres Pak…, silakan beristirahat..”.
“Ee…, ya.., terima kasih”, jawabku seperti baru saja terlepas dari lamunan
panjang.

Sore itu aku berkenalan dengan ayah Anto yang sudah pikun itu. Ia tinggal
sendiri di rumah itu setelah ditinggalkan oleh istrinya 5 tahun yang lalu. Selama
beramah-tamah dengan sang Bapak, mataku tak lepas memandangi Tati. Sore
itu ia menggunakan daster tipis yang dikombinasikan dengan celana kulot yang
juga tipis. Buah dadanya nampak semakin menyembul dengan dandanan seperti
itu. Di rumah itu ada seorang pembantu berumur sekitar 17 tahun. Mukanya
manis, walaupun tidak secantik Tati. Badannya bongsor dan motok. Ani
namanya. Ia yang sehari-hari menyediakan makan untukku.

Hari demi hari berlalu. Karena kepiawaianku dalam bergaul, aku sudah sangat
akrab dengan orang-orang di rumah itu. Bahkan Ani sudah biasa mengurutku
dan Tati sudah berani untuk ngobrol di kamarku. Bagi janda muda itu, aku sudah
merupakan tempat mencurahkan isi hatinya. Begitu mudah keakraban itu terjadi
hingga kadang-kadang Tati merasa tidak perlu mengetuk pintu sebelum masuk
ke kamarku. Sampai suatu malam, ketika itu hujan turun dengan lebatnya. Aku,
karena sedang suntuk memasang VCD porno kesukaanku di laptopku. Tengah
asyik-asyiknya aku menonton tanpa sadar aku menoleh ke arah pintu, astaga…,
Tati tengah berdiri di sana sambil juga ikut menonton. Rupanya aku lupa
menutup pintu, dan ia tertarik akan suara-suara erotis yang dikeluarkan oleh film
produksi Vivid interactive itu.

Ketika sadar bahwa aku mengetahui kehadirannya, Tati tersipu dan berlari ke
luar kamar.
“Mbak Tati..”, panggilku seraya mengejarnya ke luar. Kuraih tangannya dan
kutarik kembali ke kamarku.
“Mbak Tati…, mau nonton bareng? Ngga apa-apa kok..”.
“Ah, ngga Pak…, malu aku..”, katanya sambil melengos.
“Lho.., kok malu.., kayak sama siapa saja.., kamu itu.., wong kamu sudah cerita
banyak tentang diri kamu dan keluarga.., dari yang jelek sampai yang bagus..,
masak masih ngomong malu sama aku?”, Kataku seraya menariknya ke arah
ranjangku.
“Yuk kita nonton bareng yuk..”, Aku mendudukkan Tati di ranjangku dan pintu
kamarku kukunci.
Dengan santai aku duduk di samping Tati sambil mengeraskan suara laptopku.
Adegan-adegan erotis yang diperlihatkan ke 2 bintang porno itu memang
menakjubkan. Mereka bergumul dengan buas dan saling menghisap. Aku melirik
Tati yang sedari tadi takjub memandangi adegan-adegan panas tersebut.
Terlihat ia berkali-kali menelan ludah. Nafasnya mulai memburu, dan buah
dadanya terlihat naik turun. Aku memberanikan diri untuk memegang tangannya
yang putih mulus itu. Tati tampak sedikit kaget, namun ia membiarkan tanganku
membelai telapak tangannya. Terasa benar bahwa telapak tangan Tati basah
oleh keringat. Aku membelai-belai tangannya seraya perlahan-lahan mulai
mengusap pergelangan tangannya dan terus merayap ke arah ketiaknya. Tati
nampak pasrah saja ketika aku memberanikan diri melingkarkan tanganku ke
bahunya sambil membelai mesra bahunya. Namun ia belum berani untuk
menatap mataku. Sambil memeluk bahunya, tangan kananku kumasukkan ke
dalam daster melalui lubang lehernya. Tanganku mulai merasakan montoknya
pangkal buah dada Tati. Kubelai-belai seraya sesekali kutekan daging empuk
yang menggunung di dada bagian kanannya.

Ketika kulihat tak ada reaksi dari Tati, secepat kilat kusisipkan tangganku ke
dalam BH-nya…, kuangkat cup BH-nya dan kugenggam buah dada ranum si
janda muda itu.
“Ohh.., Pak…, jangan..”, Bisiknya dengan serak seraya menoleh ke arahku dan
mencoba menolak dengan menahan pergelangan tangan kananku dengan
tangannya.
“Sshh…, ngga apa-apa Mbak…, ngga apa-apa..”.
“Nanti ketauanhh..”.
“Nggaa…, jangan takut..”, Kataku seraya dengan sigap memegang ujung puting
buah dada Tati dengan ibu jari dan telunjukku, lalu kupelintir-pelintir ke kiri dan
kanan.
“Ooh.., hh.., Pak.., Ouh.., jj.., jjanganhh.., ouh..”, Tati mulai merintih-rintih sambil
memejamkan matanya. Pegangan tangannya mulai mengendor di pergelangan
tanganku.

Saat itu juga, kusambar bibirnya yang sedari tadi sudah terbuka karena merintih-
rintih.
“Ouhh.., mmff.., cuphh.., mpffhh..”, Dengan nafas tersengal-sengal Tati mulai
membalas ciumanku. Kucoba mengulum lidahnya yang mungil, ketika kurasakan
ia mulai membalas sedotanku. Bahkan ia kini mencoba menyedot lidahku ke
dalam mulutnya seakan ingin menelannya bulat-bulat. Tangannya kini sudah
tidak menahan pergelanganku lagi, namun kedua-duanya sudah melingkari
leherku. Malahan tangan kanannya digunakannya untuk menekan belakang
kepalaku sehingga ciuman kami berdua semakin lengket dan bergairah.
Momentum ini tak kusia-siakan. Sementara Tati melingkarkan kedua tangannya
di leherku, akupun melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Aku
melepaskan bibirku dari kulumannya, dan aku mulai menciumi leher putih Tati
dengan buas. “aahh..Ouhh..” Tati menggelinjang kegelian dan tanganku mulai
menyingkap daster di bagian pinggangnya. Kedua tanganku merayap cepat ke
arah tali BH-nya dan, “tasss..” terlepaslah BH-nya dan dengan sigap kualihkan
kedua tanganku ke dadanya.

Saat itulah lurasakan betapa kencang dan ketatnya kedua buah dada Tati.
Kenikmatan meremas-remas dan mempermainkan putingnya itu terasa betul
sampai ke ujung sarafku. Penisku yang sedari tadi sudah menegang terasa
semakin tegang dan keras. Rintihan-rintihan Tati mulai berubah menjadi jeritan-
jeritan kecil terutama saat kuremas buah dadanya dengan keras. Tati sekarang
lebih mengambil inisiatif. Dengan nafasnya yang sudah sangat terengah-engah,
ia mulai menciumi leher dan mukaku. Ia bahkan mulai berani menjilati dan
menggigit daun telingaku ketika tangan kananku mulai merayap ke arah
selangkangannya. Dengan cepat aku menyelipkan jari-jariku ke dalam kulotnya
melalui perut, langsung ke dalam celana dalamnya. Walaupun kami berdua
masih dalam keadaan duduk berpelukan di atas ranjang, posisi paha Tati saat itu
sudah dalam keadaan mengangkang seakan memberi jalan bagi jari-jemariku
untuk secepatnya mempermainkan kemaluannya.

Hujan semakin deras saja mengguyur kota Bandung. Sesekali terdengar suara
guntur bersahutan. Namun cuaca dingin tersebut sama sekali tidak mengurangi
gairah kami berdua di saat itu. Gairah seorang lajang yang memiliki libido yang
sangat tinggi dan seorang janda muda yang sudah lama sekali tidak menikmati
sentuhan lelaki. Tati mengeratkan pelukannya di leherku ketika jemariku
menyentuh bulu-bulu lebat di ujung vaginanya. Ia menghentikan ciumannya di
kupingku dan terdiam sambil terus memejamkan matanya. Tubuhnya terasa
menegang ketika jari tengahku mulai menyentuh vaginanya yang sudah terasa
basah dan berlendir itu. Aku mulai mempermainkan vagina itu dan membelainya
ke atas dan ke bawah. “Ouuhh Pak.., ouhh.., aahh.., g..g.ggelliiihh…”.

Tati sudah tidak bisa berkata-kata lagi selain merintih penuh nafsu ketika
clitorisnya kutemukan dan kupermainkan. Seluruh badan Tati bergetar dan
bergelinjang. Ia nampak sudah tak dapat mengendalikan dirinya lagi. Jeritan-
jeritannya mulai terdengar keras. Sempat juga aku kawatir dibuatnya. Jangan-
jangan seisi rumah mendengar apa yang tengah kami lakukan. Namun kerasnya
suara hujan dan geledek di luar rumah menenangkanku. Benda kecil sebesar
kacang itu terasa nikmat di ujung jari tengahku ketika aku memutar-mutarnya.
Sambil mempermainkan clitorisnya, aku mulai menundukkan kepalaku dan
menciumi buah dadanya yang masih tertutupi oleh daster.

Seolah mengerti, Tati menyingkapkan dasternya ke atas, sehingga dengan jelas


aku bisa melihat buah dadanya yang ranum, kenyal dan berwarna putih mulus
itu bergantung di hadapanku. Karena nafsuku sudah memuncak, dengan buas
kusedot dan kuhisap buah dada yang berputing merah jambu itu. Putingnya
terasa keras di dalam mulutku menandakan nafsu janda muda itupun sudah
sampai di puncak. Tati mulai menjerit-jerit tidak karuan sambil menjambak
rambutku. Sejenak kuhentikan hisapanku dan bertanya, “Enak Mbak?”. Sebagai
jawabannya, Tati membenamkan kembali kepalaku ke dalam ranumnya buah
dadanya. Jari tengahku yang masih mempermainkan clitorisnya kini kuarahkan
ke lubang vagina Tati yang sudah menganga karena basah dan posisi pahanya
yang mengangkang. Dengan pelan tapi pasti kubenamkan jari tengahku itu ke
dalamnya dan, “Auuhh.., P.Paak.., hh”. Tati menjerit dan menaikkan kedua
kakinya ke atas ranjang. “Terrusshh.., auhh..”. Kugerakkan jariku keluar masuk
di vaginanya dan Tati menggoyangkan pingggulnya mengikuti irama keluar
masuknya jemariku itu.

Aku menghentikan ciumanku di buah dada Tati dan mulai mengecup bibir ranum
janda itu. Matanya tak lagi terpejam, tapi memandang sayu ke mataku seakan
berharap kenikmatan yang ia rasakan ini jangan pernah berakhir. Tangan kiriku
yang masih bebas, membimbing tangan kanan Tati ke balik celana pendekku.
Ketika tangannya menyentuh penisku yang sudah sangat keras dan besar itu,
terlihat ia agak terbelalak karena belum pernah melihat bentuk yang panjang
dan besar seperti itu. Tati meremas penisku dan mulai mengocoknya naik turun
naik turun.., kocokan yang nikmat yang membuatku tanpa sadar melenguh,
“Ahh.., Mbaak.., enaknya.., terusin..”.

Saat itu kami berdua berada pada puncaknya nafsu. Aku yakin bahwa Mbak Tati
sudah ingin secepatnya memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Ia tidak
mengatakannya secara langsung, namun dari tingkahnya menarik penisku dan
mendekatkannya ke vaginanya sudah merupakan pertanda. Namun, di detik-
detik yang paling menggairahkan itu terdegar suara si Bapak tua berteriak,
“Tatiii…, Tatiii..”. Kami berdua tersentak. Kukeluarkan jemariku dari vaginanya,
Tati melepaskan kocokannya dan ia membenahi pakaian dan rambutnya yang
berantakan. Sambil mengancingkan kembali BH-nya ia keluar dari kamarku
menuju kamar Bapak tua itu. Sialan!, kepalaku terasa pening. Begitulah
penyakitku kalau libidoku tak tersalurkan.

Beberapa saat lamanya aku menanti siapa tahu janda muda itu akan kembali ke
kamarku. Tapi nampaknya ia sibuk mengurus orang tua pikun itu, sampai aku
tertidur. Entah berapa lama aku terlelap, tiba-tiba aku merasa napasku sesak.
Dadaku serasa tertindih suatu beban yang berat. Aku terbangun dan membuka
mataku. Aku terbelalak, karena tampak sesosok tubuh putih mulus telanjang
bulat menindih tubuhku.
“Mbak Tati?”, Tanyaku tergagap karena masih mengagumi keindahan tubuh
mulus yang berada di atas tubuhku. Lekukan pinggulnya terlihat landai, dan
perutnya terasa masih kencang. Buah dadanya yang lancip dan montok itu
menindih dadaku yang masih terbalut piyama itu. Seketika, rasa kantukku
hilang. Mbak Tati tersenyum simpul ketika tangannya memegang celanaku dan
merasakan betapa penisku sudah kembali menegang.
“Kita tuntaskan ya Mbak?”, Kataku sambil menyambut kuluman lidahnya. Sambil
dalam posisi tertindih aku menanggalkan seluruh baju dan celanaku. Kegairahan
yang sempat terputus itu, mendadak kembali lagi dan terasa bahkan lebih
menggila. Kami berdua yang sudah dalam keadaan bugil saling meraba,
meremas, mencium, merintih dengan keganasan yang luar biasa. Mbak Tati
sudah tidak malu-malu lagi menggoyangkan pinggulnya di atas penisku
sehingga bergesekan dengan vaginanya.
Tidak lebih dari 5 menit, aku merasakan bahwa nafsu syahwat kami sudah
kembali berada dipuncak. Aku tak ingin kehilangan momen lagi. Kubalikkan
tubuh Tati, dan kutindih sehingga keempukan buah dadanya terasa benar
menempel di dadaku. Perutku menggesek nikmat perutnya yang kencang, dan
penisku yang sudah sangat menegang itu bergesekan dengan vaginanya.
“Mbak.., buka kakinya.., sekarang kamu akan merasakan sorganya dunia
Mbak..”, bisikku sambil mengangkangkan kedua pahanya. Sambil tersengal-
sengal Tati membuka pahanya selebar-lebarnya. Ia tersenyum manis dengan
mata sayunya yang penuh harap itu.
“Ayo Pak.., masukkan sekarang…”, Aku menempelkan kepala penisku yang
besar itu di mulut vagina Tati. Perlahan-lahan aku memasukkannya ke dalam,
semakin dalam, semakin dalam dan, “aa.., Aooohh.., paakh….., aahh..”,
rintihnya sambil membelalakkan matanya ketika hampir seluruh penisku
kubenamkan ke dalam vaginanya. Setelah itu, “Blesss…”, dengan sentakan
yang kuat kubenamkan habis penisku diiringi jeritan erotisnya, “Ahh..,
besarnyah.., ennnakk ppaak..”.

Aku mulai memompakan penisku keluar masuk, keluar masuk. Gerakanku makin
cepat dan cepat. Semakin cepat gerakanku, semakin keras jeritan Tati terdengar
di kamarku. Pinggul janda muda itu pun berputar-putar dengan cepat mengikuti
irama pompaanku. Kadang-kadang pinggulnya sampai terangkat-angkat untuk
mengimbangi kecepatan naik turunnya pinggulku. Buah dadanya yang terlihat
bulat dalam keadaan berbaring itu bergetar dan bergoyang ke sana ke mari.
Sungguh menggairahkan!

Tiba-tiba aku merasakan pelukannya semakin mengeras. Terasa kuku-kukunya


menancap di punggungku. Otot-ototnya mulai menegang. Nafas perempuan itu
juga semakin cepat. Tiba-tiba tubuhnya mengejang, mulutnya terbuka, matanya
terpejam,dan alisnya merengut “aahh..”. Tati menjerit panjang seraya
menjambak rambutku, dan penisku yang masih bergerak masuk keluar itu terasa
disiram oleh suatu cairan hangat. Dari wajahnya yang menyeringai, tampak
janda muda itu tengah menghayati orgasmenya yang mungkin sudah lama tidak
pernah ia alami itu. Aku tidak mengendurkan goyangan pinggulku, karena aku
sedang berada di puncak kenikmatanku.
“Mbak.., goyang terus Mbak.., aku juga mau keluar..”. Tati kembali menggoyang
pinggulnya dengan cepat dan beberapa detik kemudian, seluruh tubuhku
menegang.
“Keluarkan di dalam saja pak”, bisik Tati, “Aku masih pakai IUD”. Begitu Tati
selesai berbisik, aku melenguh.
“Mbak.., aku keluar.., aku keluarr…., aahh..”, dan…, “Crat.., crat.., craat”,
kubenamkan penisku dalam-dalam di vagina perempuan itu. Seakan mengerti,
Tati mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sehingga puncak kenikmatan ini terasa
benar hingga ke tulang sumsumku.

Kami berdua terkulai lemas sambil memejamkan mata. Pikiran kami melayang-
layang entah ke mana. Tubuhku masih menindih tubuh montok Tati. Kami
berdua masih saling berpelukan dan akupun membayangkan hari-hari penuh
kenikmatan yang akan kualami sesudah itu di Bandung.

Sejak kejadian malam itu, kesibukan di kantorku yang luar biasa membuatku
sering pulang larut malam. Kepenatanku selalu membuatku langsung tertidur
lelap. Kesibukan ini bahkan membuat aku jarang bisa berkomunikasi dengan
Tati. Walaupun begitu, sering juga aku mempergunakan waktu makan siangku
untuk mampir ke rumah dengan maksud untuk melakukan seks during lunch.
Sayang, di waktu tersebut ternyata Ayah Anto senantiasa dalam keadaan
bangun sehingga niatku tak pernah kesampaian. Namun suatu hari aku cukup
beruntung walaupun orang tua itu tidak tidur. Aku mendapat apa yang
kuinginkan.

Ceritanya sebagai berikut: Tati diminta oleh Ayah Anto untuk mengambil sesuatu
di kamarnya. Melihat peluang itu, aku diam-diam mengikutinya dari belakang.
Kamar ayah Anto memang tidak terlihat dari tempat di mana orang tua itu biasa
duduk. Sesampainya di kamar kuraih pinggang semampai perawat itu dari
belakang. Tati terkejut dan tertawa kecil ketika sadar siapa yang memeluknya
dan tanpa basa-basi langsung menyambut ciumanku dengan bibirnya yang
mungil itu sambil dengan buas mengulum lidahku. Ia memang sudah tidak malu-
malu lagi seperti awal pertemuan kami. Janda cantik itu sudah menunjukkan
karakternya sebagai seorang pecinta sejati yang tanpa malu-malu lagi
menunjukkan kebuasan gairahnya. Kadang aku tidak mengerti, kenapa
suaminya tega meninggalkannya. Namun analisaku mengatakan, suaminya tak
mampu mengimbangi gejolak gairah Tati di atas ranjang dan untuk menutupi
rasa malu yang terus menerus terpaksa ia meninggalkan perempuan muda itu
untuk hidup bersama dengan perempuan lain yang lebih ‘low profile’. Aku
memang belum sempat menanyakan pada Tati bagaimana ia menyalurkan
kebutuhan biologisnya di saat menjanda. Aku berpikir, bawa masturbasi adalah
jalan satu-satunya.

Kami berdua masih saling berciuman dengan ganas ketika dengan sigap aku
menyelipkan tanganku ke balik baju perawatnya yang putih itu. Sungguh
terkejut ketika aku sadar bahwa ia sama sekali tidak memakai BH sehingga
dengan mudahnya kuremas buah dada kanannya yang ranum itu.
“Kok ngga pakai BH Mbak..?” Sambil menggelinjang dan mendesah, ia menjawab
sambil tersenyum nakal.
“Supaya gampang diremas sama kamu..”. Benar-benar jawaban yang
menggemaskan!

Kembali kukulum bibir dan lidahnya yang menggairahkan itu sambil dengan
cepat kubuka kancing bajunya yang pertama, kedua, dan ketiga. Lalu tanpa
membuang waktu kutundukkan kepalaku, dengan tangan kananku kukeluarkan
buah dada kanannya dan kuhisap sedemikian rupa sehingga hampir
setengahnya masuk ke dalam mulutku. Tati mulai mengerang kegelian, “Ouhh..,
geli Mas.., geliii.., ahh..”. Sejak kejadian malam itu, ia memang membiasakan
dirinya untuk memanggilku Mas. Sambil menggelinjang dan merintih, tangan
kanan Tati mulai mengelus-elus bagian depan celana kantorku.

Penisku yang terletak tepat di baliknya terasa semakin menegang dan


menegang. Jari-jari lentik perempuan itu berusaha untuk mencari letak kepala
penisku untuk kemudian digosok-gosoknya dari luar celana. Sensasi itu
membuat nafasku semakin memburu seperti layaknya nafas kuda yang tengah
berlari kencang. Seakan tak mau kalah darinya, tangan kiriku berusaha
menyingkap rok janda muda itu dan dengan sigap kugosokkan jari-jemariku di
celana dalamnya. Tepat diatas vaginanya, celana dalam Tati terasa sudah
basah. Sungguh hebat! Hanya dalam beberapa menit saja, ia sudah sedemikian
terangsangnya sehingga vaginanya sudah siap untuk dimasuki oleh penisku.

Tanpa membuang waktu kuturunkan celana dalam tipis yang kali ini berwarna
hitam, kudorong tubuh montok perawat itu ke dinding, lalu kuangkat paha
kanannya sehingga dengkulnya menempel di pinggangku. Dengan sigap pula
kubuka ritsluiting celanaku dan kukeluarkan penisku yang sudah sangat tegang
dan besar itu. Tati sudah nampak pasrah. Ia hanya bersender di dinding sambil
memejamkan matanya dan memeluk bahuku.

“Tatiii.., mana minyak tawonnya.., kok lama betuul…”. Suara orang tua itu
terdengar dengan keras. Sungguh menjengkelkan. Tati sempat terkejut dan
nampak panik ketika kemudian aku berbisik, “Tenang Mbak.., jawab aja.., kita
selesaikan dulu ini.., kamu mau kan?” Ia mengangguk seraya tersenyum manis.
“Sebentar Pak..”, teriaknya.
“Minyak tawonnya keselip entah ke mana.., ini lagi dicari kok…”. Ia tertawa
cekikikan, geli mendengar jawaban spontannya sendiri. Namun tawanya itu
langsung berubah menjadi jerikan erotis kecil ketika kupukul-pukulkan kepala
penisku ke selangkangannya.

Perlahan-lahan kutempelkan kepala penisku itu di pintu vaginanya. Sambi


kuputar-putar kecil kudorong pinggulku perlahan-lahan. Tati ternganga sambil
terengah-engah, “aahh.., aahh.., ouhh.., Mas.., besar sekali.., pelan-pelan
Mas..pelan-pelanhh..”, dan, “aa…”. Tati menjerit kecil ketika kumasukkan
seluruh penisku ke dalam vaginanya yang becek dan terasa sangat sempit
dalam posisi berdiri ini. Aku menyodokkan penisku maju mundur dengan
gerakan yang percepatannya meningkat dari waktu ke waktu. Tubuh Tati
terguncang-guncang, buah dadanya bergayut ke kiri dan kanan dan jeritannya
semakin menjadi-jadi.

Aku sudah tak peduli kalau ayah Anton sampai mendengarkan jeritan
perempuan itu. Nafsuku sudah naik ke kepala. Janda muda ini memang memiliki
daya pikat seks yang luar biasa. Walaupun ia hanya seorang perawat, namun
kemulusan dan kemontokan badannya sungguh setara dengan perempuan kota
jaman sekarang. Sangat terawat dan nikmat sekali bila digesek-gesekkankan di
kulit kita. Gerakan pinggulku semakin cepat dan semakin cepat. Mulutku tak
puas-puasnya menciumi dan menghisap puting buah dadanya yang meruncing
panjang dan keras itu. Buah dadanya yang kenyal itu hampir seluruhnya
dibasahi oleh air liurku. Aku memang sedang nafsu berat. Aku merasakan bahwa
sebentar lagi aku akan orgasme dan bersamaan dengan itu juga tubuh Tati
menegang.

Kupercepat gerakan pinggulku dan tiba-tiba, “aahh.., Mas.., Masss…, aku


keluarrr.., aahh”, Jeritnya. Saat itu juga kusodokkan penisku ke dalam vagina
janda muda itu sekeras-kerasnya dan, “Craat.., craatt.., craat”.
“Ahh…, Mbaak”, erangku sambil meringis menikmati puncak orgasme kami yang
waktunya jatuh bersamaan itu. Kami berpelukan sesaat dan Tati berbisik dengan
suara serak.
“Mas.., aku ngga pernah dipuasin laki-laki seperti kamu muasin saya.., kamu
hebat..”. Aku tersenyum simpul.
“Mbak., aku masih punya 1001 teknik yang bisa membuat kamu melayang ke
surga ke-7.., ngga bosan kan kalo lain waktu aku praktekkan sama kamu?”.
Perlahan Tati menurunkan paha kanannya dan mencabut penisku dari
vaginanya.
“Bosan? Aku gila apa.., yang beginian ngga akan membuatku bosan.., kalau bisa
tiap hari aku mau Mas..”. Benar-benar luar biasa libido perempuan ini. Beruntung
aku mempunyai libido yang juga luar biasa besarnya. Sebagai partner seks, kami
benar-benar seimbang.

Setelah kejadian siang itu, aku dan Tati seperti pengantin baru saja. Tak ada
waktu luang yang tak terlewatkan tanpa nafsu dan birahi. Walaupun demikian,
aku tekankan pada Tati, bahwa hubungan antara aku dan dia, hanyalah sebatas
hubungan untuk memuaskan nafsu birahi saja. Aku dan dia punya hak untuk
berhubungan dengan orang lain. Tati si janda muda yang sudah merasakan
kenikmatan seks bebas itu tentu saja menyetujuinya.

Suatu hari, Tati masuk ke dalam kamarku dan ia berkata, “Mas, aku akan
mengambil cuti selama 1 bulan. Aku harus mengurusi masalah tanah warisan di
kampungku..”.
“Lha.., kalau Mbak pulang, siapa yang akan mengurusi Bapak?”, tanyaku sambil
membayangkan betapa kosongnya hari-hariku selama sebulan ke depan.
“Mas Anto bilang, akan ada adik Bapak yang akan menggantikan aku selama 1
bulan.., namanya Mbak Ine.., dia ngga kawin.., umurnya sudah hampir 40
tahun.., orangnya baik kok.., cerewet.., tapi ramah..”. Yah apa boleh buat, aku
terpaksa kehilangan seorang teman berhubungan seks yang sangat
menggairahkan. Hitung-hitung cuti 1 bulan.., atau kalau berpikir positif.., its time
to look for a new partner!!!

Hari ini adalah hari ke lima setelah kepergian Tati. Mbak Ine, pengganti
sementara Tati, ternyata adalah adik ipar ayah Anto. Jadi, adik istri si bapak tua
itu. Mbak Ine adalah seorang perempuan Sunda yang ramah. Wajahnya lumayan
cantik, kulitnya berwarna hitam manis, badannya agak pendek dan bertubuh
montok. Ukuran buah dadanya besar. Jauh lebih besar dari Tati dan senantiasa
berdandan agak menor. Wanita yang berumur hampir 40 tahun itu mengaku
belum pernah menikah karena merasa bahwa tak ada laki-laki yang bisa cocok
dengan sifatnya yang avonturir. Saat ini ia bekerja secara freelance di sebuah
stasiun televisi sebagai penulis naskah. Kemampuan bergaulku dan
keramahannya membuat kami cepat sekali akrab.

Lagi-lagi, kamarku itu kini menjadi markas curhatnya Mbak Ine.


“Panggil saya teh Ine aja deh..”, katanya suatu kali dengan logat Bandungnya
yang kental.
“Kalau gitu panggil saya Rafi aja ya teh.., ngga usah pake pak pak-an segala..”,
balasku sambil tertawa.

Baru 5 hari kami bergaul, namun sepertinya kami sudah lama saling mengenal.
Kami seperti dua orang yang kasmaran, saling memperhatikan dan saling
bersimpati. Persis seperti cinta monyet ketika kita remaja. Saat itu seperti biasa,
kami sedang ngobrol santai dari hati ke hati sambil duduk di atas ranjangku. Aku
memakai baju kaos dan celana pendek yang ketat sehingga tanpa kusadari
tekstur penis dan testisku tercetak dengan jelas. Bila kuperhatikan, beberapa
kali tampak teh Ine mencuri-curi melirik selangkanganku yang dengan mudah
dilihatnya karena aku duduk bersila. Aku sengaja membiarkan keadaan itu
berlangsung. Malah kadang-kadang dengan sengaja aku meluruskan kedua
kakiku dengan posisi agak mengangkang sehingga cetakan penisku makin nyata
saja di celanaku.

Sesekali, ditengah obrolan santai itu, tampak teh Ine melirik selangkanganku
yang diikuti dengan nafasnya yang tertahan. Kenapa aku melakukan hal ini?
Karena libidoku yang luar biasa, aku jadi tertantang untuk bisa meniduri teh Ine
yang aku yakini sudah tak perawan lagi karena sifatnya yang avonturir itu. Dan
lagi, dari sifatnya yang ramah, ceria, cerewet dan petualang itu, aku yakin di
balik tubuh montok perempuan setengah baya tersimpan potensi libido yang tak
kalah besar dengan Tati. Juga, gayanya dalam bergaul yang mudah bersentuhan
dan saling memegang lengan sering membuat darahku berdesir. Apalagi kalau
aku sedang dalam keadaan libido tinggi.

Saat ini, teh Ine mengenakan daster berwarna putih tipis sehingga tampak
kontras dengan warna kulitnya yang hitam manis itu. Belahan buah dadanya
yang besar itu menyembul di balik lingkaran leher yang berpotongan rendah di
bagian dada. Dasternya sendiri berpola terusan hingga sebatas lutut sehingga
ketika duduk, pahanya yang montok itu terlihat dengan jelas. Aku selalu
berusaha untuk bisa mengintip sesuatu yang terletak di antara kedua paha teh
Ine. Namun karena posisi duduknya yang selalu sopan, aku tak dapat melihat
apa-apa.

Bukan main! Ternyata seorang wanita berusia 40-an masih mempunyai daya
tarik sexual yang tinggi. Terus terang, baru kali ini aku berani berfantasi
mengenai hubungan seks dengan teh Ine. Sementara ia bercerita tentang masa
mudanya, pikiranku malah melayang dan membayangkan tubuh teh Ine sedang
duduk di hadapanku tanpa selembar benangpun. Alangkah menggairahkannya.
Aku seperti bisa melihat dengan jelas seluruh lekuk tubuhnya yang mulus tanpa
cacat. Tanpa sadar, penisku menegang dan cairan madzi di ujungnya pun mulai
keluar. Celanaku tampak basah di ujung penisku, dan cetakan penis serta
testisku semakin jelas saja tercetak di selangkangan celanaku.

Membesarnya penisku ternyata tak lepas dari perhatian teh Ine. Tampak jelas
terlihat matanya terbelalak melihat ukuran penisku yang membesar dan tercetak
jelas di celana pendekku. Obrolan kami mendadak terhenti karena beberapa saat
teh Ine masih terpaku pada selangkanganku.
“Kunaon teh..?”, tanyaku memancing.
“Eh.., enteu.., kamu teh mikirin apa sih…?”, katanya sambil tersenyum simpul.
“Mikirin teh Ine teh.., entah kenapa barusan saya membayangkan teh Ine nggak
pakai apa-apa.., aduh indahnya teh..”, tiba-tiba saja jawaban itu meluncur dari
mulutku. Aku sendiri terkejut dengan jawabanku yang sangat terus terang itu
dan sempat membuatku terpaku memandang wajah teh Ine. Wajah teh Ine
tampak memerah mendengar jawabanku itu. Napasnya mendadak memburu.

Tiba-tiba teh Ine bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Ia menutup
pintu kamarku dan menguncinya. Leherku tercekat, dan kurasakan jantungku
berdegup semakin kencang. Dengan tersenyum dan sorot mata nakal ia
menghampiriku dan duduk tepat di hadapan selangkanganku. Aku memang
sedang dalam posisi selonjor dengan kedua kaki mengangkang.

“Fi, kamu pingin sama teteh..? Hmm?”, Desahnya seraya meraba penis tegangku
dari luar celana. Aku menelan ludah sambil mengangguk perlahan dan
tersenyum. Entah mengapa, aku jadi gugup sekali melihat wajah teh Ine yang
semakin mendekat ke wajahku. Tanpa sadar aku menyandarkan punggungku ke
tembok di ujung ranjang dan teh Ine menggeser duduknya mendekatiku sambil
tetap menekan dan membelai selangkanganku. Nafas teh Ine yang semakin
cepat terasa benar semakin menerpa hidung dan bibirku. Rasa nikmat dari
belaian jemari teh Ine di selangkanganku semakin terasa keujung syaraf-
syarafku. Napasku mulai memburu dan tanpa sadar mulutku mulai
mengeluarkan suara erangan-erangan.

Dengan lembut teh Ine menempelkan bibirnya di atas bibirku. Ia memulainya


dengan mengecup ringan, menggigit bibir bawahku, dan tiba-tiba.., lidahnya
memasuki mulutku dan berputar-putar di dalamnya dengan cepat. Langit-langit
mulutku serasa geli disapu oleh lidah panjang milik perempuan setengah baya
yang sangat menggairahkan itu. Aku mulai membalas ciuman, gigitan, dan
kuluman teh Ine. Sambil berciuman, tangan kananku kuletakkan di buah dada
kiri teh Ine. Uh.., alangkah besarnya.., walaupun masih ditutupi oleh daster,
keempukan dan kekenyalannya sudah sangat terasa di telapak tanganku.

Dengan cepat kuremas-remas buah dada teh Ine itu, “Emph.., emph..”, rintihnya
sambil terus mengulum lidahku dan menggosok-gosok selangkanganku.
Mendadak teh Ine menghentikan ciumannya. Ia menahan tanganku yang tengah
meremas buah dadanya dan berkata, “Fi, sekarang kamu diam dulu yah.., biar
teteh yang duluan..”.

Tiba-tiba dengan cepat teh Ine menarik celana pendekku sekalian dengan celana
dalamku. Saking cepatnya, penisku yang menegang melejit keluar. Sejenak teh
Ine tertegun menatap penisku yang berdiri tegak laksana tugu monas itu. “Gusti
Rafi.., ageung pisan..”, bisiknya lirih. Dengan cepat teh Ine menundukkan
kepalanya, dan seketika tubuhku terasa dialiri oleh aliran listrik yang mengalir
cepat ketika mulut teh Ine hampir menelan seluruh penisku. Terasa ujung
penisku itu menyentuh langit-langit belakang mulut teh Ine. Dengan sigap teh
Ine memegang penisku sementara lidahnya memelintir bagian bawahnya.
Kepala teh Ine naik turun dengan cepat mengiringi pegangan tangannya dan
puntiran lidahnya.

Aku benar-benar merasa melayang di udara ketika teh Ine memperkuat


hisapannya. Aku melirik ke arah kaca riasku, dan di sana tampak diriku terduduk
mengangkang sementara teh Ine dengan dasternya yang masih saja rapi
merunduk di selangkanganku dan kepalanya bergerak naik turun. Suara isapan,
jilatan dan kecupan bibir perempuan montok itu terdengar dengan jelas.
Kenikmatan ini semakin menjadi-jadi ketika kurasakan teh Ine mulai meremas-
remas kedua bola testisku secara bergantian. Perutku serasa mulas dan urat-
urat di penisku serasa hendak putus karena tegangnya. Teh Ine tampak semakin
buas menghisapi penisku seperti seseorang yang kehausan di padang pasir
menemukan air yang segar. Jari-jemarinyapun semakin liar mempermainkan
kedua testisku. “Slurrp.., Cuph.., Mphh..”. Suara kecupan-kecupan di penisku
semakin keras saja.

Nafsuku sudah naik ke kepala. Aku berontak untuk berusaha meremas kedua
buah dada montok dan besar milik wanita lajang berusia setengah baya itu,
namun tangan teh Ine dengan kuat menghalangi tubuhku dan iapun semakin
gila menghisapi dan menjilati penisku. Aku mulai bergelinjang-gelinjang tak
karuan.
“Teh Ine.., teeeh…, gantian dongg.., please.., saya udah ngga kuaat…, aahh..,
sss..”, erangku seakan memohon. Namun permintaanku tak digubrisnya. Kedua
tangan dan mulutnya semakin cepat saja mengocok penisku. Terasa seluruh
syaraf-syarafku semakin menegang dan menegang, degup jantungku berdetak
semakin kencang.. napaskupun makin memburu.

“Oohh…, Teh Ine.., Teh Ineee…, aahh….”, Aku berteriak sambil mengangkat
pinggulku tinggi-tinggi dan, “Crat.., craat.., craat”, aku memuncratkan spermaku
di dalam mulut teh Ine. Dengan sigap pula teh Ine menelan dan menjilati
spermaku seperti seorang yang menjilati es krim dengan nikmatnya. Setiap
jilatan teh Ine terasa seperti setruman-setruman kecil di penisku. Aku benar-
benar menikmati permainan ini.., luar biasa teh Ine, “Enak Fi..? Hmm?”, teh Ine
mengangkat kepalanya dari selangkanganku dan menatapku dengan senyum
manisnya, tampak di seputar mulutnya banyak menempel bekas-bekas
spermaku.
“Fuhh nikmatnya sperma kamu Fi..” Bisiknya mesra seraya menjilat sisa-sisa
spermaku di bibirnya.
“Obat awet muda ya teh..”, kataku bercanda.
“Yaa gitulah…, antosan sekedap nya? Biar teteh ambilkan minum buat kamu”.
Oh my God.., benar-benar seorang wanita yang penuh pengabdian, dia belum
mengalami orgasme apa-apa tapi perhatiannya pada pasangan lelakinya luar
biasa besar, sungguh pasangan seks yang ideal! Kenyataan itu saja membuat
rasa simpati dan birahiku pada teh Ine kembali bergejolak. Teh Ine kembali dari
luar membawa segelas air.
“Minum deh.., biar kamu segeran..”.
“Nuhun teh.., tapi janji ya abis ini giliran saya muasin teteh..”. Aku meneguk
habis air dingin buatan teh Ine dan saat itu pula aku merasakan kejantananku
kembali. Birahiku kembali bergejolak melihat tubuh montok teh Ine yang ada di
hadapanku.

Aku meraih tangan teh Ine dan dengan sekali betot kubaringkan tubuhnya yang
molek itu di atas ranjang.
“Eeehh.., pelan-pelan Fi..”, teriak teh Ine dengan geli.
“Teteh mau diapain sih… “, lanjutnya manja. Tanpa menjawab, aku menindih
tubuh montok itu, dan sekejap kurasakan nikmatnya buah dada besar itu
tergencet oleh dadaku. Juga, syaraf-syaraf sekitar pinggulku merasakan
nikmatnya penisku yang menempel dengan gundukan vaginanya walaupun
masih ditutupi oleh daster dan celana dalamnya.

Kupandangi wajah teh Ine yang bundar dan manis itu. Kalau diperhatikan,
memang sudah terdapat kerut-kerut kecil di daerah mata dan keningnya. Tapi
peduli setan! Teh Ine adalah seorang wanita setengah baya yang paling
menggairahkan yang pernah kulihat. Pancaran aura sexualnya sungguh kuat
menerangi sanubari lelaki yang memandangnya.
“Teteh mau tau apa yang ingin saya lakukan terhadap teteh?”, Kataku sambil
tersenyum.
“Saya akan memperkosa teteh sampai teteh ketagihan”.

Lalu dengan ganas, aku memulai menciumi bibir dan leher teh Ine. Teh Inepun
dengan tak kalah ganasnya membalas ciuman-ciumanku. Keganasan kami
berdua membuat suasana kamarku menjadi riuh oleh suara-suara kecupan dan
rintihan-rintihan erotis. Dengan tak sabar aku menarik ritsluiting daster teh Ine,
kulucuti dasternya, BH-nya, dan yang terakhir.., celana dalamnya. Wow.., sebuah
gundukan daging tanpa bulu sama sekali terlihat sangat menantang terletak di
selangkangan teh Ine. My God.., alangkah indahnya vagina teh Ine itu.., tak
pernah kubayangkan bahwa ia mencukur habis bulu kemaluannya.

“Kamu juga buka semua dong Fi”, rengeknya sambil menarik baju kaosku ke
atas. Dalam sekejap, kami berdua berdua berpelukan dan berciuman dengan
penuh nafsu dalam keadaan bugil! Sambil menindih tubuhnya yang montok itu,
bibirku menyelusuri lekuk tubuh teh Ine mulai dari bibir, kemudian turun ke
leher, kemudian turun lagi ke dada, dan terus ke arah puting susu kirinya yang
berwarna coklat kemerah-merahan itu. Alangkah kerasnya puting susunya,
alangkah lancipnnya.., dan mmhh.., seketika itu juga kukulum, kuhisap dan
kujilat puting kenyal itu.., karena gemasnya, sesekali kugigit juga puting itu.

“Auuhh.., Fi.., gellii.., sss.., ahh”, rintihnya ketika gigitanku agak kukeraskan.
Badan montoknya mulai mengelinjang-gelinjang ke sana k emari.., dan mukanya
menggeleng-geleng ke kiri dan ke kanan. Sambil menghisap, tangan kananku
merayap turun ke selangkangannya. Dengan mudah kudapati vaginanya yang
besar dan sudah sangat becek sekali. Akupun dengan sigap memain-mainkan
jari tenganku di pintu vaginanya. “Crks.., crks.., crks”, terdengar suara becek
vagina teh Ine yang berwarna lebih putih dari kulit sekitarnya. Ketika jariku
mengenai gundukan kecil daging yang mirip dengan sebutir kacang, ketika itu
pula wanita setengah baya itu menjerit kecil.
“Ahh.., geli Fi.., gelli”, Putaran jariku di atas clitoris teh Ine dan hisapanku pada
kedua puting buah dadanya makin membuat lajang montok berkulit hitam manis
itu semakin bergelinjang dengan liar.

“Fi.., masukin sekarang Fi.., sekarang.., please.., teteh udah nggak tahan..ahh..”.
Kulihat wajah teh Ine sudah meringis seperti orang kesakitan. Ringisan itu untuk
menahan gejolak orgasmenya yang sudah hampir mencapai puncaknya. Dengan
sigap kuarahkan penisku ke vagina montok milik teh Ine.., kutempelkan kepala
penisku yang besar tepat di bawah clitorisnya, kuputar-putarkan sejenak dan teh
Ine meresponnya dengan mengangkangkan pahanya selebar-lebarnya untuk
memberi kemudahan bagiku untuk melakukan penetrasi.., saat itu pula
kusodokkan pantatku sekuat-kuatnya dan, “Blesss”, masuk semuanya!

“Aahh….” Teh Ine menjerit panjang.., “Besar betul Fi.., auhh…., besar
betuull…, duh gusti enaknya.., aahh..”. Dengan penuh keganasan kupompa
penisku keluar masuk vagina teh Ine. Dan iapun dengan liarnya memutar-mutar
pinggulnya di bawah tindihanku. Astaga.., benar-benar pengalaman yang luar
biasa! Bahkan keliaran teh Ine melebihi ganasnya Mbak Tati.., luar biasa!

Kedua tubuh kami sudah sangat basah oleh keringat yang bercampur liur.
Kasurkupun sudah basah di mana-mana oleh cairan mani maupun lendir yang
meleleh dari vagina teh Ine, namun entah kekuatan apa yang ada pada diri
kami…, kami masih saling memompa, merintih, melenguh, dan mengerang.
Bunyi ranjangkupun sudah tak karuan.., “Kriet.., kriet.., krieeet”, sesuai irama
goyangan pinggul kami berdua. Penisku yang besar itu masih dengan buasnya
menggesek-gesek vagina teh Ine yang terasa sempit namun becek itu.

Setelah lebih dari 15 menit kami saling memompa, tiba-tiba kurasakan seluruh
tubuh teh Ine menegang.
“Fi.., Fi.., Teteh mau keluar..”.
“Iya teh, saya juga.., kita keluar sama-sama teh…”, Goyanganku semakin
kupercepat dan pada saat yang bersamaan kami berdua saling berciuman
sambil berpelukan erat.., aku menancapkan penisku dalam-dalam dan teh Ine
mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi…, “Crat.., crat.., crat.., crat”, kami berdua
mengerang dengan keras sambil menikmati tercapainya orgasme pada saat
yang bersamaan. Kami sudah tak peduli bila seisi rumah akan mendengarkan
jeritan-jeritan kami, karena aku yakin teh Inepun tak pernah merasakan
kenikmatan yang luar biasa ini sepanjang hidupnnya.
“Ahh.., Fi.., kamu hebaat.., kamu hebaathh.., hh.., Teteh ngga pernah ngerasain
kenikmatan seperti ini”.
“Saya juga teh.., terima kasih untuk kenikmatan ini..”, Kataku seraya mengecup
kening teh Ine dengan mesra.
“Mau tau suatu rahasia Fi?”, tanyanya sambil membelai rambutku, “Teteh sudah
lima tahun tidak bersentuhan dengan laki-laki.., tapi entah kenapa, dalam 5 hari
bergaul dengan kamu.., teteh tidak bisa menahan gejolak birahi teteh.., ngga tau
kenapa.., kamu itu punya aura seks yang luar biasa..”. Teh Ine bangkit dari
ranjangku dan mengambil sesuatu dari kantong dasternya. Sebutir pil KB.
“Seperti punya fitasat, teteh sudah minum pil ini sejak 3 hari yang lalu..”,
katanya tersenyum, “Dan akan teteh minum selama teteh ada di sini..”, Teh Ine
mengerdipkan matanya padaku dengan manja sambil memakai dasternya.
“Selamat tidur sayang…”, Teh Ine melangkah keluar dari kamarku.

Teh Ine memang luar biasa. Ia bukan saja dapat menggantikan kedudukan Tati
sebagai partner seks yang baik, tetapi juga memberi sentuhan-sentuhan kasih
sayang keibuan yang luar biasa. Aku benar-benar dimanja oleh wanita setengah
baya itu. Fantasi sexualnya juga luar biasa. Mungkin itu pengaruh dari
pekerjaannya sebagai penulis cerita drama. Coba bayangkan, ia pernah
memijatku dalam keadaan bugil, kemudian sambil terus memijat ia bisa
memasukkan penisku ke dalam vaginanya, dan aku disetubuhi sambil terus
menikmati pijatan-pijatannya yang nikmat. Ia juga pernah meminta aku untuk
menyetubuhinya di saat ia mandi pancuran di kamar mandi dan kami
melakukannya dengan tubuh licin penuh sabun.

Dan yang paling sensasional adalah.., Sore itu aku sudah berada di rumah.
Karena load pekerjaan di kantorku tidak begitu tinggi, aku sengaja pulang cepat.
Selesai mandi aku duduk di meja makan sambil menikmati pisang goreng buatan
teh Ine. Perempuan binal itu memang luar biasa. Ia melayaniku seperti suaminya
saja. Segala keperluan dan kesenanganku benar-benar diperhatikan olehnya.
Seperti biasa, aku mengenakan baju kaos buntung dan celana pendek longgar
kesukaanku dan (seperti biasa juga) aku tidak menggunakan celana dalam.
Kebiasaan ini kumulai sejak adanya teh Ine di rumah ini, karena bisa dipastikan
hampir tiap hari aku akan menikmati tubuh sintal adik ipar ayah si Anto itu.

Sore itu sambil menikmati pisang goreng di meja makan, aku bercakap-cakap
dengan ayah Anto. Orang tua itu duduk di pojok ruangan dekat pintu masuk
untuk menikmati semilirnya angin sore kota Bandung. Jarak antara aku
dengannya sekitar 6 meter. Sambil bercakap-cakap mataku tak lepas dari teh
Ine yang mondar mandir menyediakan hidangan sore bagi kami. Entah ke mana
PRT kami saat itu. Teh Ine mengenakan celana pendek yang ditutupi oleh kaos
bergambar Mickey Mouse berukuran ekstra besar sehingga sering tampak kaos
itu menutupi celana pendeknya yang memberi kesan teh Ine tidak mengenakan
celana. Aku berani bertaruh perempuan itu tidak menggunakan BH karena bila ia
berjalan melenggang, tampak buah dadanya bergayut ke atas ke bawah, dan di
bagian dadanya tercetak puting buah dadanya yang besar itu. Tanpa sadar
batang penisku mulai membesar.

Setelah selesai dengan kesibukannya, teh Ine duduk di sebelah kiriku dan ikut
menikmati pisang goreng buatannya. Kulihat ia melirik ke arahku sambil
memasukkan pisang goreng perlahan-lahan ke dalam mulutnya. Sambil
mengerdipkan matanya, ia memasukkan dan mengeluarkan pisang goreng itu
dan sesekali menjilatnya. Sambil terus berbasa basi dengan orang tua Anto, aku
menelan ludah dan merasakan bahwa urat-urat penisku mulai mengeras dan
kepala penisku mulai membesar. Tiba-tiba kurasakan jari-jemari kanan teh Ine
menyentuh pahaku. Lalu perlahan-lahan merayap naik sampai di daerah
penisku. Dengan gemas teh Ine meremas penis tegangku dari luar celanaku
sehingga membuat cairan beningku membuat tanda bercak di celanaku.

Setelah beberapa lama meremas-remas, tangan itu bergerak ke daerah perut


dan dengan cepat menyelip ke dalam celana pendekku. Aku sudah tidak tahu
lagi apa isi percakapan orang tua Anto itu. Beberapa kali ia mengulangi
pertanyaannya padaku karena jawabanku yang asal-asalan. Degup jantungku
mulai meningkat. Jemari lentik itu kini sudah mencapai kedua bolaku. Dengan
jari telunjuk dan tengah yang dirapatkan, perempuan lajang itu mengelus-elus
dan menelusuri kedua bolaku.., mula-mula berputar bergantian kiri dan kanan
kemudian naik ke bagian batang.., terus bergerak menelusuri urat-urat tegang
yang membalut batang kerasku itu, “sss…, teteh..”. Aku berdesis ketika kedua
jarinya itu berhenti di urat yang terletak tepat di bawah kepala penisku.., itu
memang daerah kelemahanku.., dan perempuan sintal ini mengetahuinya..,
kedua jemarinya menggesek-gesekkan dengan cepat urat penisku itu sambil
sesekali mencubitnya.
“aahh…”, erangku ketika akhirnya penisku masuk ke dalam genggamannya.
“Kenapa Rafi?”, Orang tua yang duduk agak jauh di depanku itu mengira aku
mengucapkan sesuatu.
“E.., ee…, ndak apa-apa Pak..”, Jawabku tergagap sambil kembali meringis
ketika teh Ine mulai mengocok penisku dengan cepat. Gila perempuan ini! Dia
melakukannya di depan kakaknya sendiri walaupun tidak kelihatan karena
terhalang meja.
“Saya cuma merasa segar dengan udara Bandung yang dingin ini..”, Jawabku
sekenanya.
“Ooo begitu.., saya pikir kamu sakit perut.., habis tampangmu meringis-meringis
begitu..”, Orang tua itu terkekeh sambil memalingkan mukanya ke jalan raya.

Begitu kakaknya berpaling, teh Ine dengan cepat merebahkan kepalanya ke


pangkuanku sehingga dari arah ayah Anto, teh Ine tak tampak lagi. Dengan
cepat tangannya memelorotkan celanaku sehingga penisku yang masih
digenggamnya dengan erat itu terasa dingin terterpa angin. Sejenak perempuan
itu memandang penis besarku itu.., ia selalu memberikan kesempatan pada
matanya untuk menikmati ukuran dan kekokohannya. Kemudian teh Ine
menjulurkan lidahnya dan mulai menjilat mengelilingi lubang penisku..,
kemudian ia memasukkan ujung lidahnya ke ujung lubang penisku dan
mengecap cairan beningku.., lalu lidahnya diturunkan lagi-lagi ke urat di bawah
penisku. Aku mulai menggelinjang-gelinjang tak karuan, walaupun dengan hati-
hati takut ketahuan oleh kakak teh Ine yang duduk di depanku. Tanganku mulai
meraba-raba buah dadanya yang besar itu dan meremasnya dengan gemas,
“sss.., teeehh..”, desisku agak keras ketika perempuan itu dengan kedua
bibirnya menyedot urat di bawah kepala penisku itu.., sementara tangannya
meremas-remas kedua bolaku…, aawwww nikmatnya…, aku begitu terangsang
sehingga seluruh pori-pori kulitku meremang dan mukaku berwarna merah. Aku
sudah dalam tahap ingin menindih dan sesegera mungkin memasukkan penisku
ke dalam vagina perempuan ini tapi semua itu tak mungkin kulakukan di depan
kakaknya yang masih duduk di depanku menikmati lalu lalang kendaraan di
depan rumahnya.

Tiba-tiba bibir teh Ine bergerak dengan cepat ke kepala penisku.., sambil terus
kupermainkan putingnya kulihat ia membuka mulutnya dengan lebar dan
tenggelamlah seluruh penisku ke dalam mulutnya. Aku kembali mendesis dan
meringis sambil tetap duduk di meja makan mendengarkan ocehan orang tua
Anto yang kembali mengajakku berbincang. Mulut teh Ine dengan cepat
menghisap dan bergerak maju mundur di penisku. Tanganku menarik dasternya
ke atas dari arah punggung sehingga terlihatlah pantatnya yang mulus tidak
ditutupi oleh selembar benangpun. Aku ingin menjamah vaginanya, ingin
rasanya kumasukkan jari-jariku dengan kasar ke dalamnya dan kukocok-kocok
dengan keras tapi aku sudah tak kuat lagi. Jilatan lidah, kecupan, dan sedotan
teh Ine di penisku membuat seluruh syarafku menegang.

Tiba-tiba kujambak rambut teh Ine dan kutekan sekuat-kuatnya sehingga seluruh
penisku tenggelam ke dalam mulutnya. Kurasakan ujung penisku menyentuh
langit-langit tenggorokan teh Ine dan, “Creeet…, creeett…, creeettt”,
menyemburlah cairan maniku ke mulut teh Ine.
“Ahh…, aahh.., aahh.., tetteeehh…”, Aku meringis dan mendesis keras ketika
cairan maniku bersemburan ke dalam mulut teh Ine. Perempuan itu dengan
lahap menjilati dan menelan seluruh cairanku sehingga penisku yang hampir
layu kembali sedikit menegang karena terus-terusan dijilat. Aku memejamkan
mataku.., gilaa.., permainan ini benar-benar menakjubkan. Ada rasa was-was
karena takut ketahuan, tapi rasa was-was itu justru meningkatkan nafsuku. Teh
Ine memandang penisku yang sudah agak mengecil namun tetap saja dalam
posisi tegak.
“Luar biasa…”, Bisiknya, “Siap-siap nanti malam yah?” Katanya sambil bangkit
dan beranjak ke dapur.

Aku cukup kagum dengan prestasi yang kucapai di rumah ini. Baru 2 bulan di
Bandung, aku sudah bisa meniduri 2 orang wanita yang sudah lama tidak pernah
menikmati sentuhan lelaki. Dan wanita-wanita itu, aku yakin akan selalu
termimpi-mimpi akan besar dan nikmatnya gesekan penisku di dalam vagina
mereka. Not bad!!
Permalink|Comments RSS Feed - Post a comment|Trackback URL.

One Comment
kepala lolokmat. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya
berhenti menyentak. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang
kemaluanku. Setelah tubuh Ibu Shinta melemas, aku mendorongnya hingga
telentang, dan sambil menindihnya, aku mengejar puncak orgasmeku sendiri.
Ketika aku mencapai klimaks, Ibu Shinta tentu merasakan siraman air maniku di
liang kenikmatannya, dan iapun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya
yang kedua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang
basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan
sisa-sisa kenikmatan orgasme.

Cerita 17tahun-Pengalaman Dengan Kakak Sepupu


Posted by admin on April 20, 2008 – 11:36 am
Filed under Cerita Dewasa

Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us

Perkenalkan namaku Steven, aku baru saja menginjak umur 30 tahun. Nama
panggilan akrabku adalah Steve. Sekarang aku bekerja di suatu perusahaan
multimedia design & marketing di Jakarta. Focus dari pekerjaanku lebih menuju
ke arah website design. Statusku masih belum menikah, dan juga masih belum
punya pacar yang serius.

Aku adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Kakak dan adikku laki-laki semua.
Sekarang kakak kandungku telah berkeluarga, dan tinggal di Denpasar. Adik
kandungku baru saja menyelesaikan kuliah-nya di Jakarta, dan kami tinggal
bersama. Sejak aku pindah ke Jakarta, orang tua kami membeli rumah di Jakarta
agar aku dan adikku tidak gampang terpengaruh oleh sifat dan kebiasaan anak-
anak kost yang tidak benar. Memang aku akui itu kekhawatiran yang berlebihan,
tapi bagi kami itu adalah berkat karena telah diberi tempat tinggal oleh mereka.

Kakak sulungku sejak tamat SMA (sekarang SMU) langsung pindah ke Denpasar,
Bali. Dia mengambil bidang kedokteran, dan kini sekarang dia berhasil membuka
praktek sendiri di Denpasar dan menetap di sana. Setelah lama dia berpindah
dari 1 tempat ke tempat lain di daerah terpencil untuk ujian praktek dan juga
karena suruhan pemerintah.
Aku ingin menceritakan pengalaman mengesankan sewaktu aku masih kuliah di
kota pahlawan (Surabaya) hampir 10 tahun yang lalu. Pengalaman ini
melibatkan hubungan aku dengan kakak sepupuku yang berumur 5 tahun lebih
tua dari aku. Kalau aku pikir-pikir lagi sekarang, keperjakaanku diambil oleh
kakak sepupuku sendiri, dan tidak ada rasa penyesalan di dalam diriku. Atau
mungkin karena aku adalah lelaki, jadi masalah keperjakaan tidak terlalu penting
bagi kami kaum Adam.

Kakak sepupuku bernama Jesi, tapi sejak kecil aku selalu memanggilnya Ci Jes
atau hanya Cici yang artinya kakak perempuan. Kami berasal dari kota yang
sama yakni kota Surabaya. Jesi adalah anak dari kakak perempuan ibuku. Dia
adalah anak bibi yang sulung dari 3 bersaudara.

Jesi pada saat 10 tahun yang lalu berwajah cantik, putih, dengan tinggi badan
165 cm. Dadanya montok, meskipun tidak begitu besar. Tapi pinggulnya bukan
main indahnya.

Aneh-nya anak dari ibuku semua-nya lelaki, sedangkan anak dari bibi semua-nya
perempuan. Rumah kami tidaklah jauh, dan sewaktu masih SMP dan SMA, Jesi
selalu mampir ke rumahku hampir tiap 3 kali seminggu. Karena tempat les
private matematika, dan fisika-nya hanya beberapa meter dari rumahku. Jadi
daripada pulang ke rumah-nya dulu seusai sekolah, dia memilih untuk mampir di
rumahku untuk makan siang lalu berangkat lagi ke les private-nya.

Bisa dikatakan meskipun umur kami beda 5 tahun, tapi kami sangat akrab. Jesi
ramah, lembut, dan sangat perhatian kepada kami. Kami menganggap Jesi
seperti kakak kandung sendiri. Tapi aku selalu merasa Jesi memberi sedikit
perhatian lebih kepadaku. Waktu itu aku berpikir mungkin karena kakak
sulungku hampir seumur dengan-nya, dan adik bungsuku umur-nya beda amat
jauh darinya. Tapi setelah kejadian malam itu, aku baru mengetahui kenapa Jesi
memberikan perhatian lebih kepadaku.

Jesi sering bercurah hati denganku, meskipun waktu itu aku masih duduk di
bangku SD. Kadang-kadang aku tidak mengerti apa yang dia omongkan. Kalau
dia tertawa, aku pun ikut tertawa. Meskipun aku waktu itu tidak tau kenapa
harus tertawa. Mengingat-ingat itu lagi, aku bisa tertawa sendiri sekarang. Jiwa
anak-anak masih lugu dan murni.

Semenjak tamat SMA, Jesi pindah ke Bandung dan kuliah di sana. Sejak
kepindahan Jesi, terus terang aku merasa kehilangan dan kadang-kadang rindu
dengan-nya. Hanya setahun 2 kali Jesi pulang ke Surabaya, dan itu hanya untuk
beberapa minggu saja. Dan yang mengesalkan, tiap kali Jesi pulang, selalu saja
saat aku harus menghadapi ujian umum. Jadi waktuku untuk bermain-main
dengan dia sangatlah terbatas.

Aku juga pernah sempat cemburu oleh lelaki yang sekarang menjadi suami Jesi,
sewaktu Jesi membawa-nya pulang bertemu keluarga-nya dan keluargaku. Rasa
cemburu ini sangatlah beda. Tidak sesakit rasa cemburu terhadap pacar sendiri.
Mungkin rasa cemburu karena takut akan kehilangan kakak kesayangan saja.
Lelaki itu bernama Bram. Bram berasal dari kota Samarinda, yang kebetulan
kuliah di universitas yang sama dengan Jesi.

Hubungan Bram dan Jesi terus berlangsung sampai akhir-nya seusai kuliah,
mereka memutuskan untuk segera menikah. Keputusan menikah ini atas
permintaan Bram, karena dia harus kembali ke Samarinda dan melanjutkan
usaha orang tua-nya. Jesi menikah di usia-nya yang ke 24 tahun. Tentu saja
setelah menikah Jesi harus ikut Bram ke Samarinda.

Semenjak kepindahan Jesi ke Samarinda, hubungan kami sempat terputus


selama 2 tahun. Dan kabar tentang Jesi hanya bisaku dapatkan dari bibi (ibu Jesi)
saja. Pada saat itu Jesi masih belum dikaruniai seorang anak. Tiap kali aku
bertanya kepada bibi mengapa sampai saat itu Jesi belum memiliki momongan,
jawaban bibi selalu saja sama, yah antara kesibukan Jesi membantu usaha Bram
atau Jesi sendiri masih belum siap memiliki momongan.

Ternyata memang benar, sejak Jesi menikah dan pindah bersama Bram di
Samarinda, usaha Bram benar-benar lancar dan berkembang pesat. Bram
memiliki toko yang luas dan terbagi menjadi 2 bagian. Bram menangani usaha
business dibidang handphones dan aksesorinya. Sedangkan Jesi menangani
usaha business di bagian konveksi dan aksesorinya seperti jepit rambut, anting-
anting, dan sebagainya. Bram dan Jesi sering terbang ke Jakarta untuk order
handphones, dan barang-barang model terbaru di Indonesia untuk dijual di toko
mereka.

Suatu hari setelah 2 tahun lama-nya tiada kontak dengan Jesi. Tiba-tiba Jesi
terbang ke Surabaya karena rindu dengan orang tuanya. Bram tidak datang
bersamanya dan Jessi hanya tinggal untuk 10 hari saja. Tapi kunjungan kali ini
tidak tepat pada waktunya. Rencana Jesi pulang ini untuk memberi kejutan buat
orang tuanya, malah dia lebih dikejutkan lagi oleh orang tuanya. Waktu itu bibi
dan paman harus terbang ke Thailand karena liburan dan tidak mungkin
dibatalkan karena tiket dan semua akomodasinya sudah dibayar. Jadi Jesi
bertemu dengan bibi/paman hanya untuk 2/3 hari saja. Selanjutnya Jesi harus
menjaga rumah dan kedua adiknya. Saat itu aku masih duduk di bangku kuliah,
dan kebetulan baru memasuki semester baru. Tiada kesibukan yang berarti di
saat kami baru memasuki semester baru.

Pada hari Jumat siang (kira-kira jam 2 siang), sepulang dari kuliah, aku langsung
memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Tidak seperti biasanya. Biasanya
setiap hari Jumat, aku dan teman-teman kuliah pasti langsung ngafe atau
istilahnya ngeceng (kalo bahasa kami bilangnya ‘mejeng’) di mall. Waktu tiba di
rumah, Jesi sudah ada di sana dan lagi menonton VCD bersama pembantu.

“Halo Ci Jes, kapan datang?”, sapaku.


“Halo Steve. Baru aja datang. Cici bosan di rumah. Tara dan Dina lagi keluar tuh
ama cowok-cowoknya. Jadi cici bosan di rumah sendiri. Jadi yah pindah aja di
sini.”, jawabnya ringan.
“Ci Jes dah makan belum?”, tanya saja.
“Sudah tadi. Tuh ada ikan goreng ama sambel lalapan mbak punya. Mantep
tuh!”, canda Jesi sambil melirik ke pembantuku.

Aku kemudian masuk kamar dan mengganti pakaian rumah. Jesi waktu itu
sedang nonton film Armageddon (Bruce Willis). Salah satu film favoritku.
Kemudian aku join dengannya nonton bersama-sama sambil makan siang di
depan TV. Tapi memang benar, ikan goreng sambel lalapan pembantuku
memang tiada tandingannya. Sempat saja aku tambah 2/3 piring.

Di tengah-tengah menonton VCD, pembantuku menawarkan kami jus buah.


Tentu saja tawaran yang tidak boleh dilewatkan. Di siang bolong begini, jus buah
segar adalah penawar yang paling tepat.

Aku duduk di atas sofa sambil kakiku naik di meja, dan Jesi duduk pas di
sebelahku. Semakin lama Jesi semakin mendekat ke aku. Aku tidak begitu
perduli karena aku sudah terbiasa dengan itu. Bau harum rambutnya sempat
tercium saat itu. Jesi tampak bosan, mungkin karena dia telah nonton film itu
dulunya.

“Steve, cici bosan nih!”, katanya.


“Trus Ci Jes mau ngapain?”, tanyaku.
“Ngga tau nih. Mau ke Thailand cici.”, jawabnya sambil tertawa.
“Ya sono, beli ticket! Steve anterin deh sekarang”, responku seadanya. Tiba-tiba
Jesi mencubit perutku.
“Ci Jes mau ke mall ngga?”, tawaranku.
“Malas ah. Mall mall melulu. Ngga ada yang lain?”, tanya Jesi.
“Ada. Mau ke Tretes? Nginep di sono.”, tawaranku lagi.
“Boleh sih, tapi ngga hari ini. Masih panas dan macet lagi jam-jam gini.”,
jawabnya.
“Trus sekarang Ci Jes mau ngapain?”, tanyaku sekali lagi.
“Ke kamar Steve yuk. Ada computer game baru ngga?”, tanya dia.
“Liat aja sendiri.”, jawabku santai.

Kemudian kami cabut dari depan TV dan membiarkan pembantuku nonton film
itu sendiri. Di kamar aku menyalakan AC dan computer. Aku membiarkan Jesi
main-main computerku, dan aku hanya berbaring di tempat tidur sambil
membaca komik manga. Ternyata Jesi tidak jadi main game computer, tapi
malah browsing-browsing foto-foto yang aku scanned sendiri. Jaman itu digital
camera masih mahal dan kualitasnya jelek, tidak seperti saat ini. Jesi terlihat
senyum-senyum sendiri melihat foto-foto kami waktu masih kecil.
Tiba-tiba bak kesambar petir, Jesi membuat aku mati kutu. Aku lupa total kalau
di computer itu banyak koleksi film-film porno yang aku dapat dari teman-teman
kuliah.
“Hayo apa ini, Steve?!”, tanya dia sedikit menyindir.
“Weleh Ci Jes jangan buka itu dong! Barang privacy! Khusus laki-laki.”, jawabku
seadanya.
“Emang cewek ngga boleh liat yah?”, tanya dia menyindir lagi.
“Kalo cewek mau liat, boleh aja, tapi liat nanti saja atau kapan-kapan, jangan
sekarang.”, jawabku sambil malu tidak karuan.
“Cici mau liat sekarang boleh kan?! Lagian cuman begini saja. Steve lupa yah,
cici kan sudah punya suami.”, jawab dia lagi.
“Ya udah. Terserah Ci Jes. Tapi suaranya dikecilin yah. Ntar mbak kedengaran
lagi.”, pintaku.

Tanpa basa-basi, Jesi langsung putar aja film-film porno itu. Anehnya seakan-
akan Jesi terlihat menikmati film-film porno tersebut. Koleksiku termasuk banyak
dan dari banyak negara, ada Amrik, Australia, Canada, Jepang, Hongkong,
Taiwan, Thailand, dan sedikit saja yang Indo. Maklum bokep Indo saat itu masih
susah didapat. Berbeda dengan jaman sekarang.

Cukup lama Jesi menonton film-film bokep itu, tiba-tiba aku dikejutkan oleh
panggilannya. Panggilan inilah awal dari segalanya.
“Steve, pinjitin cici dong? Minta mama tuh beliin kursi belajar yang enak. Bikin
pegal aja.”, kata Jesi.
Terus terang sejak dulu, aku tidak pernah sungkan-sungkan untuk memijat Jesi
apabila dia minta. Tapi kali ini aku keberatan, karena Jesi sedang nonton film
porno. Sejak tadi aku pengen keluar dari kamar, dan membiarkan Jesi nonton
sendirian. Tapi juga ada sedikit rasa ngga enak kalo meninggalkan dia sendiri.
Aku berdiri di posisi yang serba salah. Akhirnya aku memutuskan untuk
memenuhi permintaan Jesi.

“Ehmm…ehmmm…”, suara Jesi keenakan.


“Kurang keras, ci Jes?”, tanyaku.
“Cukup steve. Tapi rada turun ke lengan sedikit yah.”, pinta Jesi.

Sekarang mau tidak mau aku ikut nonton film bokep itu bersama Jesi. Aku tidak
berani berkata apa-apa. Malu dan risih itu alasan yang paling tepat. Aku akui
sejak dari tadi rudal aku sudah cukup berdiri, tapi masih belum maksimum.

Cukup lama aku memijat pundak dan lengan Jesi. Tiba-tiba aku dikejutkan
dengan suaranya yang membuat jantungku seakan-akan mau copot.
“Steve, pengen pijet susu cici ngga?”, tanya Jesi.
Jeblerrr, kayak kesambar petir, ingin segera pingsan saja aku dengan pertanyaan
Jesi itu.
“Err … maksud ci Jes apa yah?”, tanyaku pura-pura bego.
“Iya, cici tanya Steve. Pengen ngga pijet susu cici?”, jawab Jesi sambil tangannya
meraba payu daranya sendiri.
“Err … “, hanya itu yang bisa saja jawab.

Dengan malu-malu aku turunkan kedua telapak tangan aku menuju kedua payu
daranya, dan meremasnya lembut. Tubuh Jesi tiba-tiba terkejut sejenak,
kemudian santai lagi. Hanya beberapa detik saja, tiba-tiba Jesi berkata:
“Steve, stop dulu. Bentar, cici mau lepas BH dulu.”
Gila benar nih, aku dibikin ngga karuan saja. Jesi melepaskan BH nya dari dalam
kaos putihnya tanpa menanggalkan kaosnya.
“Nah, kalo begini Steve lebih leluasa.”, katanya santai.

Terang aja, aku bisa merasakan daging lembut yang menonjol jelas dia dadanya,
meskipun masih terbungkus kaos putihnya. Aku menelan ludah, malu, risih, grogi
tapi kedua telapak tangan masih meremas-remas payu daranya. Rudal penisku
sekarang menjadi berdiri tegak, dan amat keras.

“Ehmm…ehmmm…ahhh”, suara Jesi perlahan-lahan berubah seperti suara


pemain wanita di film bokep yang sedang kami tonton. Tangan kanan Jesi
sekarang sudah tidak memegang mouse computer lagi, tapi meremas telapak
tanganku yang sedang sibuk meremas-remas payu daranya.

Aku benar-benar masih hijau dibidang beginian. Edukasi seks yang aku dapatkan
hanya dari film-film bokep saja. Reality seks experience masih belum pernah
sama sekali. Ini saja pertama kali aku meraba, meremas payu dara seorang
wanita.

“Ahh… Steve … ahhh … “, suara Jesi makin sexy dan inilah pertama kali aku
melihat wajah Jesi dalam keadaan terangsang alias horny. Kakak sepupu yang
biasanya manis dan lembut, kini berubah menjadi wanita yang sedang haus
akan seks. Aku tidak pernah menyangka kalau Jesi ternyata sangat mahir di
bidang ini.

Tanpa sungkan-sungkan lagi, Jesi bertanya dengan vulgarnya, “Steve, pengen


gituan ama cici ngga?!”.
“Anu, gituan apa ci?”, tanyaku pura-pura bego lagi.
“Steve jangan pura-pura bloon ah”, jawab Jesi sambil mencubit tanganku.
“Tapi Steve emang ngga tau, pengen gituan apa sih?”, jawabku masih pura-pura
lagi.
“Idihh Steve, reseh nih. Maksud cici itu, Steve pengen ngga ngentot ama cici?”,
kali ini pertanyaannya semakin bertambah vulgar.

Istilah ‘ngentot’ jarang dipakai di Surabaya waktu jaman itu. Istilah ini umum
dipakai di Jakarta dan sekitarnya. Mungkin karena dulunya Jesi pernah kuliah di
Bandung, jadi istilah ini sudah biasa diucapkan olehnya.

“Hah?! Yakin nih ci Jes? Di sini sekarang? Ntar kedengaran mbak loh.”, jawab
panik.
“Kunci aja pintunya. Kayaknya mbak lagi tidur siang. Lagian kita putar musik aja
biar ngga kedengeran.”, jawab Jesi.

Tanpa diberi aba2, dengan cepat aku mengunci pintu kamar, kemudian menutup
film bokep tadi dan menggantikannya dengan mp3 program. Jesi sudah
berbaring di atas ranjangku sambil memandangku yang sedang berdiri di
samping ranjang. Tidak tahu harus mulai dari mana.

Seakan-akan mengerti dengan tingkah lakuku yang mau hijau. Jesi kemudian
menarik tubuhku agar bergabung dengannya di atas ranjang. Tanpa malu-malu,
tangan Jesi menjulur ke dalam celana boxerku, dan dengan singkat saja batang
penisku telah digenggamnya dengan mudah.

“Wah, kok dah tegang nih?”, tanya Jesi menggoda.


“Ah, ci Jes bisa aja nih?”, jawabku malu-malu.
“Steve pernah ngga gituan ama cewek lain?”, tanya Jesi penasaran.
“Menurut ci Jes gimana?”, jawabku malu-malu.
“Kalau menurut cici sih, kayaknya belum pernah yah. Steve masih malu-malu
gitu … tapi MAU!”, godanya lagi.
“Cici ajarin Steve yah. Tapi ini untuk kali ini saja. Tidak bakalan ada lain kali. Cici
mau ambil Steve punya perjaka.”, kata Jesi sambil tertawa.

Aku seperti tidak mengenal Jesi sebagai kakak sepupuku yang seperti biasanya.
Perasaan sayang aku sebagai adik sepupu terhadap kakak sepupu berubah
menjadi perasaan nafsu birahi. Pengen sekali aku menidurinya dan menikmati
tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Dengan segera saja kulepas semua pakaian yang aku kenakan termasuk celana
boxerku. Kini aku yang terlanjang bulat. Mungkin karena terlalu nafsu dan grogi,
aku sampai lupa kalau Jesi masih berpakaian lengkap. Brrr… semburan angin AC
benar-benar dingin. Dengan segera aku matikan AC di kamar. Reflek tubuh aku
untuk menghindari dari masuk angin.

“Ci Jes, ngga lepas baju?”, tanya aku lugu.


“Ntar dulu, pelan-pelan dong sayang.”, jawab Jesi santai.

Terus terang panggilan kata ’sayang’ di sini berbeda sekali rasanya dengan kata
’sayang’ yang sering Jesi ucapkan dulu-dulunya. Kali ini seakan-akan kata
’sayang’ yang berarti seperti ‘aku milikmu’ atau ‘nikmatilah aku’, atau apalah
gitu. Yang pasti berbau seks.

Aku berbaring di atas ranjang dengan posisi badan terlentang, kedua telapak
tangan di atas perut, dan dengan batang penis yang menegang. Jesi seperti
mengerti apa yang harus dia perbuat. Jesi mengarahkan tubuhnya diatas
tubuhku dan memulai actionnya.
Pertama-tama dia mencium leherku, kemudian menjilati kuping aku. Tentu saja
bulu romaku berdiri dibuatnya.
Aku mencoba mencium bibirnya, tapi tiap kali aku mencoba, Jesi selalu
menghindar saja.
“Ci Jes, Steve mau cium bibir cici.”, kataku.
“Jangan Steve. Ciuman bibir kan hanya buat pacar. Cici kan bukan pacar kamu.”,
jawab Jesi.

Aku hanya mengangguk saja pertanda setuju, dan kemudian membiarkan dirinya
menjelajahi seluruh tubuhku. Jesi benar-benar mahir dalam bidang beginian. Dia
dengan cepat bisa mengetahui dimana titik kelemahanku tanpa harus bertanya
kepadaku. Dengan tanpa ragu-ragu dia mengulum lembut batang penisku,
dengan sesekali menjilat-jilatnya. Tubuhku bak melayang di surga, setiap
hisapan yang dia berikan terhadap batang penisku membuatku melayang-
layang.

Cukup lama dia bermain dengan batang penisku, akhirnya dia berhenti dan
membuka kaosnya. Oh my gosh, pertama kali ini aku melihat sepasang payu
dara indah milik Jesi. Selama aku hanya menikmati bagian atasnya saja yang
putih mulus ditutupi oleh baju renang. Kali ini semuanya terbuka lebar. Begitu
putih, mulus, dan warna putingnya yang coklat muda menantang di depan
mataku.

Jesi menyuruhku mengulum puting susu-nya. Untuk yang ini aku bisa, seperti
mengulum permen cup-pa-cup saja.
“ahh … ahh …”, terdengar suara erangan halus Jesi. Dia berusaha menahan
suaranya agar tidak terdengar oleh pembantuku.
“Steve, tolong lepas celana cici dong?!”, pintanya lembut. Tentu saja tawaran
yang mahal. Dengan segera aku lepaskan celana jeansnya plus celana
dalamnya.

Sekali lagi … OH MY … aku menjadi sesak napas sekarang. Aku sekarang bisa
melihat memek Jesi dengan jelas. Sungguh indah, lebih indah dari memek-
memek yang pernah aku lihat dari film-film porno. Jembutnya juga halus dan
tidak begitu lebat. Paha-nya mulus, dan perutnya langsing. Tidak pernah terpikir
olehku sebelumnya bahwa Jesi se-sexy ini. Walaupun telah menikah lebih dari 2
tahun, Jesi masih rajin merawat bentuk tubuhnya.

Terpintas di dalam pikiranku untuk menjilat-jilati memek milik Jesi seperti yang
sering aku lihat di film bokep. Tapi niat ini ditolak oleh Jesi, mungkin karena takut
aku tidak tahan mencium aroma memek. Jadi aku hanya diperbolehkan untuk
memainkan tanganku di bagian itilnya. Memek Jesi lembut sekali dan kini
menjadi basah. Suara erangan nikmat Jesi semakin menjadi-jadi, dan kadang-
kadang sedikit terlepas kontrol.

“Steveee, ahhh … ahhh … geli Steve…”, suara Jesi yang sedang bernapsu.
“Enak ci Jes?”, tanyaku. Tapi Jesi seakan-akan tidak mendengar pertanyaan ini.
Dia masih tetap berkonsentrasi dan menikmati setiap sentuhan-sentuhan yang
aku berikan.

Memek Jesi semakin basah dan licin. Kali ini tubuhnya sedikit menegang. Saat itu
aku tidak mengerti apa yang akan terjadi dengannya, yang terdengar dari
mulutnya hanya “Steve … ahh ahh … cici mau datangggg … cici mau datanggg”.
Hanya dalam hitungan detik, tiba-tiba tubuh Jesi mengejang dan menjerit keras.
Aku panik dan segera saja aku tutup mulutnya dengan tanganku. Napasnya
terengah-engah, dan memelukku sekencang mungkin. Tubuh Jesi berkeringat,
maklum saat itu AC telah aku matikan, mengingat Surabaya kota yang panas,
tidak heran Jesi jadi berkeringat.

“Steve … thank you …”, katanya sambil terengah-engah.


“Steve mau rasain masuk ke sini ngga?”, katanya sambil menunjuk memeknya
yang sudah basah. Aku hanya mengangguk malu-malu sambil berkata, “Kalo ci
Jes ijinin, Steve mau aja masuk ke sana.”.
“Idih, genit kamu. Jelas cici ijinin dong. Masa cici cuma ijinin pegang. Kan
tanggung.”, jawabnya genit.
Kemudian dia menambahkan, “Steve, tapi ini hanya untuk hari ini saja yah. Dan
ini hanya rahasia kita berdua saja. Jangan sampai ini terbongkar ke orang lain,
apalagi kalo sampai suami cici tau. Cici bisa bunuh diri.”, katanya serius.
“Husss … mana boleh begitu ci Jes”, jawabku tegas.
“Makanya, Steve harus jaga rahasia ini, ok?!”, pintanya. Aku hanya memberikan
signal peace, yang berarti ‘I swear’.
“Sekarang Steve ambil posisi di atas cici. Cici tuntun dedek Steve dulu. Jangan
sembarangan main tusuk yah?!”, katanya lagi. Aku hanya bisa mengangguk
saja.

Dengan mengambil posisi di atasnya, Jesi mencoba menuntun batang penisku


masuk ke dalam memeknya. Aku menjadi ngga sabar lagi, pengen cepat-cepat
masuk ke dalam. Aku begitu bernafsu saat itu. Selesai berhasil menembus
masuk ke dalam memek Jesi, mata Jesi terpejam dan mulutnya bersuara basah
“ugghh…”. Saat penisku terbenam di dalamnya, aku belum ingin mencoba
memainkan pinggulku. Aku ingin merasakan hangatnya memek Jesi untuk
beberapa saat. Pertama kali penisku masuk ke liang vagina wanita.

“Kenapa Steve. Kok diam saja?”, tanya Jesi.


“Steve pengen diam dulu ci. Punya cici anget banget.”, jawabku.
“Enak?”, tanya Jesi sekali lagi, dan aku menganggukan kepalaku.
“Kalau gitu kocok sekarang yah, ntar kalau Steve pengen keluar pejunya,
keluarin aja yah. Jangan mencoba untuk ditahan. Ini kan pertama kali buat
Steve, jadi cici bisa maklum kalo Steve belum bisa mengontrol keluarnya peju.”,
jelas Jesi.

Perlahan-lahan aku memainkan pinggulku. Aku belum terbiasa. Aku sedikit grogi.
Jesi membantuku memainkan pinggulku agar dorongan dan irama kocokan
batang penisku lebih berirama. Selangkangan Jesi dibuka lebih lebar olehnya,
agar memberikan ruangan untukku bergerak lebih leluasa.

“Ahhh…Steve…cepet pinter kamu…yah di sono terus … terus lebih dalam


lagi…”, puji Jesi. Aku hanya tersenyum saja.
“Uhhh … ohhh… uhhh…”, desahan Jesi menjadi-jadi. Jesi berusaha sekuat
mungkin menahan desahannya agar tidak sampai terdengar terlalu keras. Jesi
tampak bernafsu sekali, dan mulai mengeluarkan kata-katanya yang jorok. Aku
pun mendengar kata-kata jorok Jesi, menjadi makin bernafsu juga. Aku merasa
seperti lelaki satu-satunya yang mampu memuaskan nafsu birahi Jesi.

“Steveee … entotin cici terus … entot cici terus … kontolnya enakkk bangettt
sihhh … uuuhhh…”.
Melihat kelakuan Jesi, aku menjadi seakan-akan terbawa olehnya, dan seperti
penyakit menular, akupun mulai ngomong yang jorok-jorok pula.
“Iya ci … Steve entotin terus memek cici … kalo bisa entot terus foreverrr …”,
kacau deh kata-kataku.
“Steveee … cici mau kencinggg … geliii bangettt … uuhhh …”.
Arti ‘kencing’ di sini bukan bukan air seni beneran, tapi karena terlalu gelinya
Jesi merasa seakan-akan pengen kencing. Yang pasti memek Jesi makin basah
saja.

“Uhh…ohhh … suka ngga ngentot ama cici … suka ngga? memek cici enak
ngga? … “, tanya Jesi kacau.
“Enakkk bangettt cici … enakkk banget … Steve nanti kapan-kapan minta lagi
yah? … ngga mau sekali doang, pleaseee …”, mohonku.
“Iyaaa … iyaaa … asal Steve sukaaa … Steve boleh entot cici terusss … uuhh …
oohhh”, jawabnya. Aku menjadi amat gembira mendengarnya.
“Ci Jes suka ngentot ternyataa yahhh … baru tau Steve”, kataku.
“Siapaaa di dunia ini yang ngga suka ngentot, heh? Cici juga manusia kann…”,
jawab Jesi.

Tubuhku terus memompa-mompa Jesi, dan kali ini aku yang menjadi berkeringat.
Hampir seluruh badanku basah, dan itu membuat Jesi semakin bernafsu.
Kadang-kadang dia mengusap dadaku yang berkeringat dengan telapak
tangannya, dan kadang-kadang menjambak lembut rambutku.
“Ci Jes …ahhh… Steve kayaknya mau meledakkk ntar lagii … gimana nihhh”,
kataku panik.
“Keluarin ajaaa kalo dah ngga tahann …”, jawabnya.
“Iyaaa … Steve mau keluarrr ntar lagii … cici siap-siap yah”, kataku lagi. Jesi
hanya mengangguk saja.

Kupercepat lagi goyangan pingguku. Jesi menjadi seperti cacing kepanasan.


“Steveee … cici juga mau datanggg … enakk bener kontolnya sihhh …”, puji Jesi
lagi.
“Ci Jes … dah dipuncakkk nihhh … ntar lagiii … ntar lagiii …”, kataku ngga
karuan.
“Barengan yah sayanggg … ahhh ahhh … cici juga mau datang sayanggg …”,
Jesi mengingau.

Mendengar kata ’sayang’ lagi, aku menjadi tambah bernafsu lagi. Bendungan
pejuku sebentar lagi jebol, dan aku tau pasti kalau itu bakalan tidak lama lagi.
“Ci Jes … Steve ntar lagiii datanggg …”, kataku memberi aba-aba.
“Iya sayanggg, keluarin yah sayanggg … uuhhh … oohhh ….”.
Selang beberapa detik kemudian …
“Ci Jes … Steve datanggg … ahhhh … ahhhh …”, kataku sambil batang penisku
mengeluarkan semua pejunya di dalam liang memek Jesi.
“Ahhh … Steve sayanggg … cici juga keluarrrr … ahhh … ahhh …”, sahut Jesi
sambil memeluk tubuhku yang basah kuyung.

Kubiarkan batang penisku menumpahkan lava hangat di dalam liang memek


Jesi. Jesi masih memeluk tubuhku dengan napas terengah-engah. Setelah selang
beberapa saat, wajah kami saling berhadapan, dan Jesi segera mencium
keningku.
“Steve, thank you sekali lagi yah.”, kata Jesi.
“Steve juga thank you buat ci Jes. Ini pengalaman berharga Steve.”, jawabku.
“Ngga nyesel kamu Steve?”, tanya Jesi penasaran.
“Tidak sama sekali.”, jawabku tegas yang kemudian terlihat Jesi tersenyum
manis.
“Idih … peju perjaka banyak banget. Ngga cukup memek cici yang menampung.
Tapi sekarang dah ngga perjaka lagi nih!”, canda Jesi. Aku hanya tersenyum
saja.
“Tapi untuk ukuran perjaka, Steve termasuk hebat loh. Masih saja mampu bikin
cici datang sekali lagi.”, pujinya.
“Ci Jes, bener ngga sih kalo cewek menelan peju perjaka bisa awet muda?”,
tanyaku bercanda.
“Idih … mana ada yang begituan. Itu kan cuman mitos aja”, jawab Jesi.

Posisi batang penisku masih menancap di dalam memek Jesi. Masih agak keras
sih, tapi nafsu birahiku sudah mereda. Aku biarkan batang penisku di dalam sana
sambil memeluk tubuh Jesi. Tubuhku basah kuyup, dan untungnya Jesi tidak
sungkan-sungkan memeluk tubuhku yang sedang penuh bermandikan keringat.
Aku merasa Jesi memang sayang kepadaku.

Tak terasa total waktu kita berperang di atas ranjang lebih dari 3 jam. Jam 6
sorean Jesi pamit pulang, karena dia ada janji dengan teman-teman masa SMA-
nya dulu. Pada malam harinya aku menerima sms darinya yang berkata: “Steve,
ingat janjinya yah. Jangan bilang-bilang sama siapa-siapa. Ntar cici ngga kasih
lagi loh?!”.

Kemudian aku balas smsnya, “Kalau ci Jes mau Steve tutup mulut tentang
rahasia ini, tolong sumbat mulut Steve ama susu ci Jes lagi deh.”.
“Idih … masih kurang yah?! Dah ketagihan nih yah?! Ntar sebelon cici pulang ke
Smrd, cici kasih lagi deh.”, balesnya.

Malam itu aku tidak bisa tidur, teringat-ingat kejadian erotis siang hari itu. Aku
tidak menyangka kakak sepupu yang paling aku sayang dan yang paling aku
hormati, kini telah aku tiduri. Aku tidak menyangka kalau Jesi adalah wanita
pertama yang pernah aku tiduri. Yang lebih mengejutkan lagi, dia adalah kakak
sepupu sendiri yang mana kami berdua masih ada sedikit hubungan darah
(antara ibuku dan ibunya).

Ada sedikit rasa bersalah dan menyesal, tapi karena aku masih tergolong
pemuda yang gampang bernafsu, aku masih memiliki pemikiran dan harapan
untuk meniduri Jesi sekali lagi sebelum dia pulang ke Samarinda. Dan untungnya
pemikiran atau harapanku ini tidaklah sia-sia, selama sisa 6 hari liburannya di
Surabaya, kami selalu mencari kesempatan untuk ‘bercinta’. Di kamarku, di
kamarnya, dan sekali di bak mandi di rumahnya.

Jesi telah berubah bukan saja sekedar kakak sepupu saja, tapi lebih menjadi guru
seks-ku. Dia terlihat sangat mahir dalam memuaskan nafsu birahi laki-laki. Jurus
goyang pinggulnya dengan posisi dia diatas mampu membuatku babak belur.
Seakan-akan dengan posisinya di atas, memeknya terasa seperti meremas-
remas dan menyedot batang penisku. Pertama kali Jesi mengenalkan jurus
goyang pinggulnya, aku tidak mampu bertahan, dan hanya beberapa kali
goyangan pinggulnya, aku langsung ejakulasi. Jesi sempat menyindir canda
waktu itu, dan maklum melihat kejadian ini.

Sehabis setelah bersetubuh dengan Jesi, aku banyak bertanya tentang


pengalaman seks-nya dengan Bram dan kadang kala aku membandingkan diriku
dengan Bram. Tentu saja menurutnya, aku masih sedikit kalah dibandingkan
suami-nya sendiri. Tapi Jesi mengakui kalau aku sering ‘bermain’ dengannya,
aku akan lebih ‘jago’ daripada suami-nya sendiri. Masalah ukuran penis, Jesi
bilang punyaku lebih panjang daripada punya Bram, tapi milik suami-nya lebih
melebar kesamping alias lebih gendut. Sewaktu aku menanyakan enak mana yg
panjang atau yang gendut, dia menjawab kedua-duanya memiliki keasyikan
yang sangat berbeda. Dan dia menambahkan sambil bercanda alangkah lebih
baik bila ada yang panjang dan gendut. Langsung aja aku merespon candanya
dengan mengajak threesome dengan Bram. Jesi menjawab lebih baik dia mati
daripada harus threesome dengan suami-nya sendiri.

Jesi pernah mengaku bahwa dia tidak pernah sebelumnya menaruh perasaan
nafsu kepadaku. Hanya karena dia telah hilang kontak denganku lebih dari 2
tahun lamanya, dan sekembalinya dia ke Surabaya, aku telah banyak berubah
terutama dari segi fisik. Dia memujiku bertambah tampan, dan bertubuh padat.
Mungkin keaktifanku berenang seminggu 2 kali, menjadikan badanku terlihat
padat, meskipun tidak gempal. Karena inilah Jesi mengaku bahwa dia sangat
mengagumi perubahan fisikku ini, dan akhirnya memberanikan dirinya untuk
mencoba seducing atau menggodaku secara seksual atau singkatnya bermain
api denganku. Sebenarnya dia sendiri takut bukan main sebelum persetubuhan
kami yang pertama. Takut akan penolakanku, dan takut apabila ketahuan
pembantu rumahku. Tapi semenjak persetubuhan pertama kami berhasil, Jesi
mengaku menjadi semakin bernafsu denganku. Tidak heran setiap kali aku
meminta jatah untuk menyetubuhinya, dia tidak pernah menolak sekali pun.
Kalau saja situasinya tidak mengijinkan, dia hanya berbisik atau memberi tanda
untuk menahan nafsuku dulu sampai nanti situasinya mengijinkan.

Kepulangan Jesi ke Samarinda menjadi pil pahit buatku. Karena guru seks-ku
meninggalkanku di Surabaya sendiri. Hampir tiap hari aku ber-masturbasi sendiri
sambil membayangkan memori-memori indah menyetubuhi Jesi. Aku merasa
seperti pecundang saat itu, karena hanya masturbasi yang bisa aku lakukan.
Sering aku menelpon Jesi lewat hp-nya, menceritakan betapa berat aku ditinggal
olehnya, dan betapa rindunya aku dengannya. Jujur saja, aku hanya rindu akan
kehebatannya ‘bercinta’, bau tubuhnya, dan nikmatnya ejakulasi di dalam liang
memeknya. Perlu diketahui bahwa selama bersetubuh dengan Jesi waktu itu, aku
tidak pernah memakai kondom sekalipun, bahkan belum pernah memegang apa
itu kondom sampai hubungan seks berikutnya dengan pacar pertamaku. Aku
tidak pernah menanyakan apa Jesi oke saja dengan aku berejakulasi di dalam
liang memeknya. Sempat aku kuatir apabila dia hamil karena spermaku. Namun
aku lega karena setelah 1.5 tahun kemudian Jesi baru dinyatakan positif hamil.
Jadi jarak waktunya berbeda jauh dengan kekhawatiranku.

Semenjak itu, aku belum pernah lagi ‘bercinta’ lagi dengan Jesi. Meskipun
kadang-kadang setiap kali pulang ke Surabaya, aku sempat mengajaknya ‘1 kali
saja’. Tapi ajakanku selalu ditolaknya, karena Bram ada di sana pula bersama
anaknya yang baru lahir. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke
Jakarta, mencari karirku di sana.

Aku belajar banyak dari Jesi, dia selalu memberiku tips-tips cara menaklukkan
wanita di atas ranjang. Meskipun kami sudah tidak pernah lagi ‘bercinta’, tapi
kamu masih tetap berhubungan baik. Seakan-akan tiada rasa bersalah atau rasa
aneh semenjak kejadian itu di antara kami. Jesi banyak memberikan nasehat
kepadaku tentang perbedaan cinta dan nafsu. Jesi jujur mengatakan kepadaku
bahwa saat itu dia hanya nafsu terhadapku, dan hanya ada cinta terhadap Bram.

Tips-tips pemberian Jesi amatlah mujarab dan bervariasi. Bekas pacar-pacarku


dan teman-teman ‘one night stand’ di Jakarta (maklum bila di kota metropolis ini,
seks bebas telah menjadi rahasia umum) menyukai gaya permainan ranjangku.

Desahan santi
Posted by admin on May 10, 2008 – 2:57 pm
Filed under Cerita Dewasa

Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us
Nama saya Erwin (23 tahun), WNI keturunan yang tinggal di
Bandung dan kuliah ekonomi manajemen di Universitas Maranatha. Kuliahku
agak tersendat karena keranjingan membantu orang tuaku menjalankan usaha
percetakan keluarga kami, jadi SKS-nya kuambil sedikit-sedikit biar tidak
semerawut. Dalam materi aku sama sekali tidak ada masalah, begitupun halnya
dalam pergaulan, statusku membuat orang-orang mudah dekat denganku,
terutama wanita, sudah beberapa kali aku gonta-ganti pacar dan hampir semua
pernah ML denganku. Orang tuaku sudah mempercayai perusahaan ini
sepenuhnya padaku sehingga mereka bisa menikmati hari tuanya dengan santai
dengan bepergian ke luar negeri atau mengunjungi sanak saudara lainnya. Aku
mempunyai seorang cici yang sudah menikah dan ikut suaminya, jadi sekarang
aku tinggal sendirian di rumah yang megah ini mengurus bisnis sekaligus kuliah.
Kejadian gila ini terjadi pada bulan Agustus 2004 yang lalu. Waktu itu aku baru
putus dengan pacarku, dalam kesepian itu kalau sudah tidak ada kerjaan aku
menghibur diriku dengan nonton bokep, clubbing (tapi tidak sering karena
besoknya harus bangun pagi-pagi, malu dong bos kesiangan), ataupun main
internet berjam-jam. Suatu hari aku membaca cerita-cerita ah-uh.tk, disitu aku
menemukan hiburan yang menggairahkan, aku sangat terkesan dengan cerita-
cerita karya penulis wanita seperti Lily Panther, Citra Andani, Dania, Deknas, dll
dimana wanita-wanita itu terlibat dalam seks liar, ternyata wanita jaman
sekarang tidak kalah berani dari pria. Lalu aku sampai pada cerita berjudul
Kejutan Untuk Teman-temanku yang memberiku inspirasi mengadakan acara
gila ini.
Terbayang-bayang dalam pikiranku dimana cewek putih cantik, sexy, dan imut
dikerjai
oleh cowok-cowok kasar, tua, hitam, dan jelek yang statusnya lebih rendah
darinya, sungguh suatu kekontrasan seks yang menggairahkan.
Aku kemudian mulai memikirkan rencana untuk mewujudkan fantasi liarku,
rencanaku mencari cewek-cewek dari kalangan teman-temanku untuk diadu
dengan buruh-buruh bawahanku. Yang pertama harus kulakukan adalah mencari
ceweknya dulu, karena cukup sulit dan perlu lobi-lobi yang jitu, kalau untuk
prianya itu sih nanti saja, kemungkinan menolaknya pasti kecil, cuma satu
banding sepuluh. Besoknya aku kuliah siang dan membicarakan hal ini dengan
seorang teman wanita yang pernah ML denganku, hasilnya nol, ditolak mentah-
mentah. Aku jadi malu dan hampir mengurungkan niatku, tapi bintangku mulai
bersinar di waktu malam ketika ngedugem, di sana
aku bertemu Santi (22) dan Sandra (22) yang juga sefakultas denganku, mereka
akrab denganku maka aku tanpa tendeng aling-aling mengutarakan maksudku
pada mereka. Mulanya mereka merasa risih dengan ideku, tapi setelah susah
payah kurayu-rayu, akhirnya Santi bangkit juga gairahnya membayangkan hal
itu, sedangkan Sandra, meskipun masih ragu-ragu, akhirnya mengiyakan juga
karena kudesak terus (duh.kaya salesman aja nih !).
Setelah puas ngedugem, aku mengantar Santi pulang (Sandra naik mobil
sendiri), sambil menyetir Santi sempat mengoralku sampai keluar dan
dihisapnya habis.
Berikutnya aku mencari seorang lagi untuk lebih meriah, kutelepon beberapa
teman yang pernah kencan denganku dan mereka-mereka yang bispak (bisa
pakai). Dari tiga orang yang kuhubungi akhirnya ada juga yang setuju yaitu
Ivana (23), mahasiswi Sastra Inggris yang pernah pacaran singkat denganku,
kebetulan waktu itu dia baru putus dengan pacarnya.
Phew.akhirnya jerih payahku dengan menebalkan muka tidak sia-sia. Kini tinggal
mencari cowoknya, aku keliling pabrikku untuk menyeleksi kandidat yang pas,
lima orang saja kurasa cukup, kalau terlalu banyak takutnya berabe, bisa ada
kasak-kusuk ga enak. Sebentar saja aku sudah mendapatkan lima kandidat itu,
pilihanku jatuh pada : Pak Andang, seorang buruh tua berumur lima puluhan
yang telah bekerja sejak usaha kami masih kecil-kecilan, kurasa pantas dia
menerima hadiah ini mengingat pengabdiannya, meskipun berusia senja dan
sudah mulai beruban, tubuhnya masih tetap fit karena terbiasa kerja keras; Pak
Usep, usianya sebaya dengan Pak Andang, sudah menduda, jadi kupikir inilah
saatnya sekali-sekali memberi upah biologis padanya; Mang Nurdin, berusia
empat puluhan, badannya kekar dan berisi, inilah yang menjadi pertimbanganku
memilih dia; Mang Obar, tiga puluhan, tampangnya mirip tikus dengan kumis
tipis, kurus tinggi seperti pohon kelapa; Endang, paling muda dari kelimanya,
baru dua puluh tiga tahun, bekerja disini baru setahun lebih, tapi rajin dan
kerjanya
bagus, patut mendapat hadiah ini.
Seusai jam kerja aku memanggil mereka untuk bertemu secara pribadi di
kantorku. Awalnya mereka bingung kok dipanggil mendadak seperti ada salah
saja. Namun setelah aku menjelaskan maksudku selama beberapa menit,
mereka hampir terlompat, antara kaget dan senang, seperti tidak percaya apa
yang baru kutawarkan.
Hah, serius nih tuan ? Pak Andang dan Mang Obar bertanya hampir bersamaan
Iya, siapa yang main-main, pokoknya kalian tinggal datang dan nge-jos,
apa-apanya saya yang atur, dan satu hal lagi jangan sampai ada yang tau lagi
selain kita, atau tidak sama sekali jawabku meyakinkan.
Seperti yang kuduga, tak satupun dari mereka ragu atau menolak, tidak sesulit
mengajak para ceweknya. Ya, sifat dasar pria lah, siapa sih yang bisa
melewatkan kesempatan emas gini lalu begitu saja, apalagi kalau soal
perempuan, bahkan Raja Daud yang bijak itu saja tidak bisa menghindar dari
godaan seksual, ya kan !
Sebenarnya menurut rencana harusnya besok bisa mulai, tapi karena Santi
meng-SMS bilang bahwa ada tugas kuliah yang harus diselesaikan, terpaksa
acara ditunda besok lusa. Duh, aku jadi agak bete, tidak sabar menunggu hari
esok, satu jam jadi terasa setahun karena sudah kebelet. Malamnya aku sampai
masturbasi saking bergairahnya, tapi sisi positif dari tertundanya acara ini aku
bisa mempersiapkan segalanya lebih baik. Ketiga pembantu wanitaku
kubebastugaskan hari itu, yang kebetulan sehari
sebelum hari kemerdekaan RI, kusuruh saja mereka berkunjung ke sanak
saudaranya atau kemana kek, pokoknya tidak mengganggu acara gilaku.
Kupompa kasur udaraku yang empuk (beli dari Dr. TV, hehepromosi nih
ceritanya?) dan kuletakkan di ruang tamu sebagai arena pertarungan nanti.
Akhirnya sampai juga hari-H itu, sekitar pukul dua siang aku sudah
membereskan segala dokumen yang harus kutangani, sisanya, pekerjaan kecil
lainnya kuserahkan pada staffku. Saat itu sudah ada SMS masuk dari Ivana yang
mengatakan bahwa dia sudah datang dan sedang menunggu di depan
kediamanku.
Pagi-pagi amat dia datang, baru juga jam segini pikirku. Aku pun segera menuju
ke rumahku yang terletak di samping pabrik, dibatasi dua buah gerbang kayu.
Aku memasuki pekarangan rumahku, disana Ivana sedang jongkok mengelus-
elus si Buster, kelinci peliharaanku.
Hoi, Na, cepat amat kesininya, kan gua bilang jam limaan sesudah bubar kerja
sapaku
Tanggung, kalo pulang, nanti harus bolak-balik jauh lagi jawabnya
Naik apa kesini ?
Tadi nebeng si Stephanie kan dia di Lingkar Selatan sana
Hari itu Ivana terlihat cantik sekali, kaos ketatnya tanpa lengan dan celana
panjang sedengkulnya semua serba putih, rambutnya yang panjang diikat ekor
kuda. Walaupun pernah putus denganku akibat ketidakcocokan sifat, namun
kami masih berteman baik, bahkan terkadang kita melakukan hubungan badan.
Secara fisik, dia termasuk perfect, buah dadanya sedang saja, standar cewek
Asia, tubuhnya langsing bak biola, dia juga jago dancing dan piano.
Kuajak dia masuk ke rumah, disana kami menonton DVDTroysambil
ngobrol dan makan snack menunggu waktu bubaran pabrik. Ketika film lagi seru-
serunya, tiba-tiba intercom berbunyi, ada urusan di pabrik yang memintaku
datang.
Gimana sih nih orang-orang, masih butuh gua juga ! omelku dalam hati
Lu nonton sendiri dulu, gua ada perlu dulu nih, sori yah
Huh, ternyata cuma ada dokumen yang perlu kutandatangan, cuma itu saja,
itulah kenapa aku tidak mengatur acaranya jam segini, ya banyak gangguan
seperti ini loh. Aku memeriksa sejenak kegiatan di pabrik, setelah yakin tidak
ada apa-apa lagi aku pun kembali ke samping. Waktu keluar dari sana, kulihat
Vios hitamnya Santi sudah ada di halaman pabrik. Aku menengok arlojiku,
wah.sudah mau jam setengah lima, ga kerasa ya, cepat amat, berarti sebentar
lagi pesta gila-gilaan ala Kaisar Caligula akan segera dimulai hehehe.aku jadi
ngeres.
Lho, si Santi mana, tadi ada mobilnya di depan ? tanyaku pada Ivana karena
tidak melihat Santi di rumah
Tuh, lagi ke WC, masih lama ga nih acaranya Win, gua udah deg-degan nih ?
tanyanya
Bentar lagi kok, jam lima baru bubar, rileks aja Na, ga usah tegang gitu, ntar
juga enjoy kataku
Yo, San darimana aja, you are so hot today ! sapaku begitu keluar dari kamar
mandi
Waktu itu Santi memakai tank-top merah yang talinya diikat ke leher dan
membiarkan setengah punggungnya terbuka. Bawahnya memakai rok yang mini
dari bahan jeans ungu memamerkan pahanya yang putih mulus. Aku terpana
beberapa detik menatap tubuh mulus Santi yang tinggi semampai (170cm),
wajahnya cantik ala oriental namun ekspesinya agak dingin, sehingga sering
terkesan jutek bagi yang belum kenal dekat dengannya, tapi kalau akrab dia
enak diajak bicara, blak-blakan dan pendengar yang baik,
setahuku dia ini orangnya pilih-pilih dalam memilih patner sex, tapi mau saja
menerima tantanganku ini, entah dia yang kepingin atau diplomasiku yang
hebat.
Dari rumahlah, masa dari kampus pake baju glamor gini, eh tinggal si Sandra ya
yang belum ada ? jawabnya
Iya belum tuh, ga ada berita lagi, tadi gua telepon HPnya ga dinyalain
Lu pake ginian bikin gua kepanasan nih San kataku sambil memandangi dirinya,
dibalik celanaku, adikku juga mulai bangun.
Tak dapat menahan diri lagi, langsung kupeluk tubuh Santi, tanganku
menggerayangi pahanya sambil menyingkap roknya, lalu telapak tanganku
bergerak ke belakang meremas pantatnya yang montok.
Nngghh.buru-buru amat sih, ntar aja ah ! katanya antara menolak dan menerima
Sori San.dikit aja, lu bikin gua nafsu sih sahutku seraya memagut lehernya
Rambutnya yang pendek model Utada Hikaru memudahkan aku menjilati
lehernya yang jenjang hingga ke tenguknya. Dari sana bibirku menjelajah secara
erotis ke dagu, pipi, hingga mencaplok bibirnya yang tipis. Dengan kedua tangan
meremas pantatnya, aku menciuminya dengan panas, nafas kami yang
memburu terasa pada wajah masing-masing. Perhatian Ivana pada layar TV jadi
tersita ke arah mantan pacarnya yang berciuman dengan penuh gairah dengan
temannya. Dia menatapi kami tanpa berkedip dan terlihat gelisah, tangannya
secara sembunyi-sembunyi meremas payudara sendiri. Aku yakin cintanya
padaku masih tersisa sedikit walaupun cuma lima persen, dan hal itu tentu
menimbulkan sensasi cemburu yang membuatnya horny.
Santi pun mulai merespon dengan meremas selangkanganku yang sudah
menonjol. Lagi enak-enak ber-French kiss, tiba-tiba bel musikku berbunyi, kami
melepaskan diri. Hhmm.siapa ya, Sandra atau para bawahanku ? Pintu kubuka,
ternyata para buruhku, lima-limanya pula, aku memberitahukan bahwa cewek-
ceweknya sudah datang tapi dari tiga baru dua yang datang, kuminta agar
mereka bisa berbagi jatah dengan adil.
Ini beneran kan tuan ? kita ga usah keluar uang kan ? si Endang seakan masih
tak percaya, aku cuma mengangguk meyakinkannya
Udahlah ga usah banyak bacot, enjoy aja euy ! Pak Usep menepuk punggung
pemuda itu
Kubawa mereka ke ruang tengah dan kupertemukan dengan para cewek. Ivana
terlihat nervous, dia tetap duduk di sofa dan memberi senyum dipaksa ketika
kuperkenalkan buruh-buruhku satu persatu. Sedangkan Santi, meskipun agak
gugup, namun lebih luwes, dia berdiri menyambut kedatangan mereka bahkan
menyalami mereka waktu keperkenalkan. Ketika Mang Obar dengan nakal
mencolek pantatnya pun, dia membalasnya dengan senyum menggoda.
Setelah saling kenal dan basa-basi sejenak kupersilakan mereka memilih sesuai
selera mereka, dengan ini pesta resmi kubuka. Pak Usep dan Endang sepertinya
lebih memilih Ivana, merekapun menghampirinya dan duduk disofa mengapit
kanan dan kirinya. Sedangkan sisanya yang memilih Santi mulai berdiri
mengerubunginya. Aku sendiri duduk di sebuah sudut yang strategis untuk
menyaksikan the hottest live show ini.
Nah, pembaca, dari sini aku sempat bingung bagaimana menguraikan kedua
adegan ini secara lengkap dan detail, karena tidak seru kan kalau aku hanya
menguraikannya sekilas-sekilas. Akhirnya setelah kupikir-pikir aku memutuskan
menceritakannya per adegan plus berdasarkan penuturan mereka, supaya lebih
fokus dan pembaca pun turut menghayati kenikmatan yang kurasakan waktu itu,
semoga metode berceritaku ini memuaskan pembaca sekalian, aku akan
memulainya dengan adegan Santi. (beberapa dialog disini, terutama yang
diucapkan para buruhku adalah dalam Bahasa Sunda, sebenarnya aku lebih sreg
menuliskan seperti aslinya, namun mengingat pembaca ah-uh.tk bukan cuma
dari Jawa Barat, juga peraturan dari admin yang mengharuskan pemakaian
Bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka aku harus taat sama aturan
mainnya)
Santi dikerubungi ketiga orang itu Santi nampak tegang, namun dia menutup-
nutupi ketegangan itu dengan senyumannya dan juga menjawab pertanyaan-
pertanyaan mereka, terkadang mereka mengajukannya pertanyaan nakal yang
membuat wajahnya memerah tersipu-sipu. Pak Andang mulai berani mengelusi
punggung Santi yang terbuka.
Eeemm.geli Pak ! desahnya menggoda.
Masa digituin aja geli sih Neng, gimana kalo diginiin ? Mang Obar meremas
payudaranya.
Tangan-tangan kasar itu mulai menggerayanginya. Mang Nurdin juga mulai
merayapi lekuk tubuh Santi sambil menyingkap rok mininya, paha mulus itu dia
raba-raba, tangannya makin merayap ke atas hingga menyentuh selangkangan
Santi yang masih tertutup celana dalam biru langit.
Bapak buka bajunya ya Neng
Tanpa menunggu jawaban Santi, Pak Andang membuka tali leher yang
menyangga pakaiannya. Santi tidak memakai bra karena tank top itu
mempunyai cup dada didalamnya sehingga begitu melorot payudara montok
dengan puting kemerahan itu langsung terekspos. Pak Andang dan Mang Obar
mencaplok masing-masing kiri dan kanannya. Mang Nurdin kini berjongkok
sedang mengagumi keindahan paha Santi yang jenjang dan mulus itu,
tangannya tak henti-hentinya mengelusi paha itu.
Neng, pahanya mulus amat.putih lagi puji Mang Nurdin sambil menjilatnya.
Yang tak kalah menarik tentu bagian pangkalnya dan kini tangan Mang Nurdin
telah sampai kesitu membelai kemaluannya dari luar, jari-jarinya lalu menyusup
lewat tepi celana dalamnya. Mang Obar mengenyot payudara kanannya. Santi
menengadah dengan mata terpejam, mulutnya mengap-mengap mengeluarkan
desahan. Dia telah mabuk birahi, tubuhnya menggelinjang saat Mang Nurdin
menggosok vaginanya dengan jari-jarinya sampai terlihat bercak cairan
vaginanya di tengah celana dalamnya.
Pak Andang, disana aja atuh, cape dong berdiri melulu ? kataku menunjuk kasur
pompa yang terletak tak jauh dari situ.
Mereka pun menggiring dan merebahkan tubuh Santi di kasur empuk itu,
lalu pakaiannya dilucuti satu persatu hingga tak tersisa apapun lagi di tubuhnya.
Tampaklah tubuh mulus Santi yang berpayudara kencang, berperut rata, dan
kemaluannya yang masih rapat ditumbuhi bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan
tercukur rapi. Setelah menelanjanginya, mereka juga membuka baju masing-
masing. Tiga batang kemaluan mengarah padanya bak meriam yang siap
menembak, Santi sampai terpana menatap ketiga senjata yang akan segera
‘membantainya’ itu. Ketiganya kembali mengerubungi Santi yang terlihat
nervous dengan menutupi kemaluan dan payudaranya dengan tangan.
Hehehe.si neng malu-malu gini bikin saya tambah nafsu aja ah ! kata
Mang Nurdin mengangkat tangan kiri Santi yang menutup payudaranya.
Wah ternyata bodynya amoy bagus banget ya! kata Mang Obar yang tangannya
mulai menjelajahi tubuh mulus itu.
Pak Andang menciumi payudara kanannya sambil tangannya meraba-raba
kemaluannya. Dijilatinya seluruh gunung itu sampai basah lalu dengan ujung
lidahnya dia main-mainkan putingnya. Jantungku berdebar-debar dan mataku
melotot menyaksikan adegan itu, ditambah lagi adegan pada sofa di hadapanku
dimana tubuh telanjang Ivana sedang dijilati dan digerayangi.
Aku membuka celana pendekku dan mengeluarkan penisku lewat pinggir celana
dalam lalu mulai memijatnya, ini jauh lebih spektakuler dari film bokep dengan
artis tercantik sekalipun. Mang Nurdin mencium dan menjilat leher jenjang Santi
sambil mengusap-usap payudara satunya, lalu ciumannya bergerak ke atas
menggelikitik kupingnya menyebabkan Santi menggeliat dan mendesah nikmat.
Dari telinga mulut Mang Nurdin memagut bibir Santi, mulut lebar dengan bibir
tebal itu seolah mau menelan bibir Santi yang mungil lagi tipis. Sekonyong-
konyong terdengar kecipak ludah dari lidah mereka yang beradu. Santi nampak
sudah tidak merasa risih lagi, yang dirasakannya sekarang adalah birahi yang
menggebu-gebu akan pengalaman barunya ini, terlihat dari matanya yang
terpejam menghayati permainan ini. Sikapnya yang semula pasif mulai berubah
dengan meraih penis Mang Nurdin dalam genggamannya.
Mang Obar sedang berlutut diantara kedua paha Santi, tapi dia belum juga
mencoblosnya. Agaknya dia masih belum puas bermain-main dengan tubuh
mulus itu. Sekarang dia sedang membelai-belai tubuh bagian bawahnya,
terutama pantat dan kemaluannya. Dia mengangkat paha kiri itu, lalu menciumi
mulai dekat pangkalnya, terus turun ke betis, pergelangan, dan akhirnya dia
emut jari kaki yang lentik itu. Lagi enak-enak nonton live-show sambil ngocok,
tiba-tiba ada SMS masuk, kuraih HP-ku, oh.si Sandra, hampir lupa aku sama anak
ini saking asyiknya, pesannya berbunyi demikian :
Win, pstanya jd g? psti lg asyk y? sori nih tlat, td diajak tmn jln2 sih, kl stgh7 gw
ksana msh bsa g?
Brengsek bikin orang nunggu aja, mana datangnya telat banget lagi, tapi
aha.terbesit sebuah cara untuk menghukumnya, hihihi.aku nyeringai sambil
mereply SMS-nya
Gile tlat amt sih, y dah u dtg aja, mngkin msh kburu, kl g kta skalian
mkn mlm aja, ok
Wow, kini Santi sedang menjilati secara bergantian penis Pak Andang dan Mang
Nurdin yang berlutut di sebelah kiri dan kanan kepalanya. Sementara itu Mang
Obar menjilat serta menusuk-nusukkan lidahnya ke dalam vagina Santi,
rangsangan itu membuatnya sering mengapitkan kedua paha mulusnya ke
kepala Mang Obar. Kini Santi membuka mulut dan mendekatkan kepalanya pada
penis Pak Andang, setelah masuk ke mulutnya, dia mulai
mengulum benda itu dengan nikmatnya sambil tangan kanannya mengocok
pelan penis Mang Nurdin. Tak lama kemudian Mang Obar menghentikan
jilatannya dan merentangkan paha Santi lebih lebar, dia bersiap memasukkan
penisnya.
Santi juga menghentikan sejenak oral seksnya, menatap penis yang makin
mendekati bibir vaginanya dengan deg-degan.
Pelan-pelan yah Mang, saya takut sakit abis kontol Mang gede gitu ! ucap Santi
memperingatkan
Tenang aja Neng, Mamang ga bakal kasar kok ! hiburnya sambil mengarahkan
senjatanya ke liang senggamanya.
Nampaknya Mang Obar kesulitan memasukkan penisnya ke dalam vagina Santi
karena ukurannya itu, maka dia lakukan itu dengan gerakan tarik-dorong.
Aakkhh.nggghhh.sakit ! rintih Santi menahan rasa nyeri, padahal penis itu belum
juga masuk seluruhnya
Masa pelan gitu sakit sih Neng ? kata Pak Andang yang memegangi tangannya
sambil membelai payudaranya
Mungkin si Neng aja yang memeknya kekecilan kali ! sahut Mang Nurdin
cengengesan.
Aaaaahhh. jeritnya saat Mang Obar menghentakkan pinggulnya ke depan hingga
penisnya terbenam seluruhnya ke dalam liang itu.
Selanjutnya, tanpa ampun dia menggenjotnya dengan buas tanpa menghiraukan
perbandingan ukurannya dengan vagina Santi. Sementara di kiri dan kanannya
kedua orang itu tak pernah berhenti menggerayangi tubuhnya. Mang Nurdin
dengan mulutnya yang lebar menelan seluruh susu kanannya yang disedot dan
dikulum dengan rakus. Pak Andang menelusuri tubuh itu dengan lidahnya,
bagian-bagian sensitif tubuh Santi tidak luput dari jilatannya. Santi mendesah-
desah tak karuan sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya, tubuhnya menggelinjang hebat.
Sebentar saja Santi sudah mencapai klimaks, badannya menegang dan menekuk
ke atas, desahannya makin hebat. Namun Mang Obar masih belum keluar, dia
menaikkan kedua betis Santi ke bahunya dan memacu tubuhnya makin cepat
sampai menimbulkan bunyi kecipak. Akhirnya dia menggeram dan
menyemprotkan spermanya di dalam vagina Santi, cairan itu nampak menetes
dari daerah itu bercampur dengan cairan kewanitaannya. Santi hanya sempat
beristirahat kurang dari lima menit sebelum giliran Pak Andang mencicipi
vaginanya. Mula-mula dia meminta Santi membasahi penisnya dulu, setelah
dikulum sebentar, dia menindih Santi sambil memasukkan penisnya, pinggulnya
mulai bergerak naik-turun diatas tubuhnya, Santi yang gairahnya mulai pulih
juga ikut menyeimbangkan irama goyangannya. Pak Andang melumat bibir
mungil Santi yang mengap-mengap itu meredam desahannya. Waktu itu aku
sudah keluar sekali, kuambil tissue mengelap tanganku yang basah. Mang Obar
mengambil aqua gelas yang kusiapkan dan meminumnya, dia duduk di sofa
sebelahku.
Gimana Mang, sip ga ?
Enak banget Bos, Mamang ga pernah mimpi bisa dapet kesempatan ini,
sering-sering bikin yang kaya gini ya! komentarnya dengan antusias
Tenang Mang, jangan boros tenaga dulu, ntar masih ada satu lagi loh !
nasehatku, kemudian aku menjelaskan apa yang harus dilakukan pada Sandra
kalau dia datang nanti.
Pak Andang tiba-tiba menggulingkan tubuhnya sehingga Santi kini diatasnya. Dia
lalu menegakkan badan sambil terus menaik-turunkan pinggulnya diatas penis
yang mengacung bagai pasak itu. Terkadang dia memutar-mutar pinggulnya
sehingga penis itu mengaduk-aduk vaginanya. Matanya merem-melek dan
mulutnya mengeluarkan desahan nikmat. Keringat telah membasahi tubuhnya,
menempel di dadanya seperti embun, juga menetes-netes dari mukanya. Mang
Nurdin berdiri di sebelahnya lalu mendekatkan penisnya yang masih keras ke
mulutnya. Santi mulai menjilatinya dimulai dari
kepalanya yang disunat hingga seluruh permukaan batang itu, buah zakarnya
yang
besar dia emut beberapa saat.
Uuuhh.ayo Neng, enak gitu.mmm ! desah Mang Nurdin
Semakin hanyut dalam lautan birahi, Santi tidak malu-malu lagi mengemut
penis itu sambil mengocoknya dengan satu tangan. Payudaranya bergoyang-
goyang naik-turun seirama gerak tubuhnya, dengan gemas Pak Andang
menjulurkan kedua tangannya mencaplok gunung kembar itu serta
meremasnya.
Saat itu Endang baru saja selesai dengan Ivana, setelah menyemprot perut Ivana
dengan spermanya dia minum dulu dan langsung menuju Santi, sementara itu
Mang Obar mulai mencicipi Ivana. Endang duduk di sebelah kanannya dan
meminta ijin Pak Andang yang sedang menguasai kedua payudaranya untuk
memberinya jatah satu saja. Sepertinya dia menggigit putingnya karena badan
Santi mengejang dan mendesah tertahan di tengah
aktivitasnya mengoral Mang Nurdin, dia mengenyot dan kadang menarik-narik
puting itu dengan mulutnya.
Ooohh.isep Neng.iseepp !! tiba-tiba Mang Nurdin mendesah panjang dan makin
menekan kepala Santi ke selangkangannya.
Spermanya menyembur di dalam mulut Santi, mungkin karena badannya
berguncang-guncang hisapan Santi tidak sempurna, cairan itu meleleh sebagian
di pinggir mulutnya. Mang Nurdin beranjak pergi meninggalkan Santi setelah di
cleaning service, diambilnya segelas aqua dari meja untuk diminum.
Tiba-tiba goyangan Santi makin gencar lalu berhenti dengan tubuh mengejang,
kepalanya menengadah sambil mendesah panjang, kedua tangannya
memegang erat lengan Pak Andang. Dia telah mencapai klimaks, tapi Pak
Andang belum, dia terus menghentakkan pinggulnya ke atas menusuk Santi.
Tubuh Santi melemas kembali dan ambruk ke depan menindihnya. Saat itu
Endang sudah pindah ke belakangnya, dia meremas pantat yang sekal itu sambil
mengorek duburnya. Kemudian dia menindihnya dari belakang, tangannya
menuntun penisnya memasuki liang dubur itu diiringi rintihan pemiliknya.
Tubuh Santi kini dihimpit kedua buruh itu seperti sandwich, kedua penis itu
menghujam-hujam kedua lubangnya dengan ganas.
Ooohhoooh.aakkhh ! gairah Santi mulai bangkit lagi, vaginanya berdenyut-
denyut memijat penis Pak Andang yang sudah di ambang klimaks.Pak Andang
lalu melenguh panjang menyemburkan maninya di dalam vagina Santi akhirnya
dia terbaring lemas di kolong tubuh Santi dengan nafas terengah-engah.
Setelah ditinggalkan Pak Andang, Santi cuma melayani Endang saja, namun
pemuda ini lumayan brutal mengerjainya sehingga dia menjerit-jerit.
Duburnya disodok-sodok sementara payudaranya yang menggantung di remas
dengan kasar. Hal ini berlangsung sekitar sepuluh menit lamanya sampai
keduanya klimaks, sperma Endang tertumpah di pantatnya sebelum keduanya
ambruk tumpang tindih. Keadaan Santi sudah babak-belur, tubuhnya bersimbah
peluh, bekas-bekas cupangan masih terlihat pada kulitnya yang mulus, sperma
bercampur cairan kewanitaan meleleh dari selangkangannya. Aku jadi kasihan
melihatnya, maka aku menghampirinya dengan membawa air dan tissue.
Kuangkat tubuhnya dan kusandarkan pada lenganku, dengan tissue kuseka
keringat di dahinya, minuman yang kuberikan langsung diteguknya habis.
Udah ya San, kalau dah ga kuat jangan dipaksain lagi, ntar pingsan lu! saranku
Namun dia cuma tersenyum sambil menggeleng, ga apa-apa katanya cuma
perlu istirahat sedikit, dia juga bilang rasanya seperti diperkosa massal saja
barusan itu. Waktu itu Pak Usep menghampiri kami bermaksud menikmati Santi,
tapi kusuruh dia bersabar karena kondisinya belum fit.
Karena tubuh Santi yang sudah lengket-lengket itu, aku menyuruhnya mandi
agar lebih segar. Setelah agak pulih, kubantu dia berdiri dan memapahnya ke
kamar mandi, kunyalakan shower air hangat untuknya. Sebelum keluar kami
berpelukan, kucium dia sambil mengorek vaginanya dengan dua jari, cairan
sperma meluber keluar begitu kukeluarkan tanganku, sehingga aku harus cuci
tangan.
Dah mandi dulu yang bersih, supaya nanti siap action ! kataku
Dia cekikikan sambil menyeprotkan shower ke arah kakiku, aku melompat kecil
dan keluar sambil tertawa-tawa. Begitu aku keluar, waw.gile, Ivana mantan
pacarku itu sedang dikerjai kelima orang itu, dia sudah tidak di sofa lagi,
melainkan sudah di lantai beralas karpet, the hottest gangbang i’ve ever seen !
Untuk lebih lengkapnya lebih baik kita ikuti kisah Ivana dari awal.
Ivana, Endang dan Pak Usep duduk mengapit Ivana masing-masing di kanan dan
kirinya. Ivana terlihat tegang sekali beberapa kali dia memanggil-manggil
namaku.
Kenapa Na, kok sekarang tegang gitu katanya mau ngebalas pacarlu itu! kataku
Oh, jadi Neng udah punya pacar yah ! kata Pak Usep
Ngga, baru putus kok jawabnya malu-malu
Putusnya kenapa Neng ? tanya Endang
Ivana cuma menggeleng tanpa menjawabnya.
Udah ah lu, kalau ga mau dijawab jangan maksa ! kata Pak Usep pada rekannya
Eh, Neng sama pacar yang dulu pernah ngentotan ga ? tanya Endang
cengengesan
Rona merah jelas sekali pada wajah Ivana yang putih mulus, dia hanya
mengangguk pelan sebagai jawabnya sambil tersenyum malu-malu.
Kalo gitu pernah diginiin dong Neng hehehe ! Pak Usep tertawa-tawa meremas
buah dada Ivana.
Diginiin juga pernah ! Endang meraih selangkangannya dan meremasnya dari
luar.
Ivana menjerit kecil sambil tertawa geli karena kejahilan tangan mereka. Pak
Usep makin gemas memijati payudaranya, si Endang sengaja meniupkan udara
ke kupingnya untuk memambangkitkan birahinya perlahan-lahan sambil
tangannya membantu Pak Usep meremas payudara yang satunya. Ivana hanya
diam menikmatinya dengan mata terpejam. Keduanya mulai menyingkap
kaosnya, Ivana sepertinya menurut saja, dia mengangkat lengannya
membiarkan kaos itu dilolosi. Dia tinggal memakai bra warna krem dan celana
panjang selututnya.
Ini dibuka aja ya Neng pinta Endang
Ivana mengangguk, maka Endang pun dengan cekatan membuka bra-nya
sehingga dia telanjang dada. Endang langsung melumat yang kanan dengan
rakus.
Pentilnya bagus ya Neng, kecil, merah lagi komentar Pak Usep sambil
memilin-milin putingnya
Pak Usep menjulurkan lidahnya, lalu menyapukannya telak pada leher jenjang
Ivana membuatnya merinding dan mendesis. Dia meneruskan rangsangannya
dengan mengecup lehernya membuat tanda kemerahan disitu, rambut Ivana
yang terikat ke belakang memudahkannya menyerang daerah itu.
Tangannya pun tak tinggal diam, terus bergerilya di dada kirinya dan pelosok
tubuh lainnya. Mendadak Pak Usep menghentikan kegiatannya dan memanggil
Endang yang lagi asyik nyusu dengan mencolek kepalanya.
Eh, Dang, kita taruhan yu, yang menang boleh ngentot si Neng duluan !
tantangnya
Taruhan apaan Pak, saya mah ayu aja
Coba tebak, si Neng ini jembutan ga ? tanyanya dengan nyengir lebar
Muka Ivana jadi tambah memerah karena kenakalan mereka ini, aku juga jadi
terangsang dibuatnya. Suatu sensasi tersendiri menonton mantan pacarku ini
dikerjai orang lain.
Hmmm.ada ga Neng ? tanya Endang sambil menatapi selangkangan Ivana
Eee.nanya lagi, orang disuruh tebak ! omel Pak Usep menyentil kepalanya Ivana
senyum mesem dan menjawab tidak tahu menjawab si Endang.
Ada aja deh ! tebak si Endang
Yuk kita tes, bener ga ! kata Pak Usep dengan menyusupkan tangannya ke balik
celana Ivana
Eemmhhh. desis Ivana saat merasakan tangan Pak Usep merabai kemaluannya
Weleh.sialan, bener juga lu Dang ! gerutunya karena ternyata kemaluan Ivana
memangnya berbulu, lebat lagi.
Endang tersenyum penuh kemenangan karena dapat giliran pertama merasakan
tubuh Ivana. Merekapun kembali menggerayangi tubuhnya. Tangan Pak Usep
tetap didalam celananya mengobok-obok kemaluannya sejak mengetes tadi.
Endang mulai membuka sabuk yang dikenakan Ivana dan menurunkan
resletingnya, sebelumnya dia menyuruh Pak Usep menyingkirkan tangannya
dulu.
Cairan vagina membasahi jari-jarinya begitu dia mengeluarkan tangannya dari
sana. Endang turun dari sofa dan jongkok di lantai beralas permadani itu untuk
menarik lepas celana Ivana. Tampak kemaluan Ivana dengan bulu-bulu yang
tebal dari balik celana dalamnya yang semi transparan. Sesaat kemudian
pakaian terakhir dari tubuhnya itu dilepaskannya pula. Jadilah Ivana telanjang
bulat terduduk separuh berbaring di sofa.
Keduanya tertegun melihat tubuh putih mulus dan terawat di hadapan mereka.
Si Endang masih berjongkok di antara kedua paha Ivana, tentu dia bisa melihat
jelas selangkangan berambut lebat yang tampak menggunung dalam posisi
demikian.
Duh, cantik banget sih Neng ini, bikin saya ga tahan aja ! kata Pak Usep sambil
mendekap tubuhnya.
Bibirnya mencium pipi Ivana, lalu lidahnya keluar menjilati pipi dan hidungnya,
menikmati betapa licin dan mulusnya wajah mantan pacarku itu, belakangan
bibirnya dilumat dengan ganas. Sementara kedua tangannya tidak tinggal diam,
selalu berpindah-pindah mengelusi punggungnya atau meremas payudaranya.
Wajah Endang makin mendekati vagina Ivana sambil kedua tangannya
mengelusi paha mulus itu. Tubuh Ivana bergetar ketika jemari Endang mulai
menyentuh bibir kemaluannya, pasti dia bisa merasakan nafas Endang
menghembus bagian itu. Perlahan-lahan Endang membuka kedua
bibir bawah itu dengan jarinya. Erangan tertahan terdengar dari mulut Ivana
yang sedang dilumat Pak Usep, keringatnya mulai bercucuran.
Wah.asyik, saya baru pernah liat memeknya amoy, dalemnya merah muda,
seger euy ! komentar Endang mengamati vagina itu.
Pak Usep, mau liat ga nih, bagus banget loh ! sahut Endang padanya
Hmmm.iya bagus ya, kamu aja dulu Dang, saya mau netek dulu ! kata
Pak Usep sambil mencucukkan sejenak jari tengah dan telunjuk ke vaginanya,
waktu dia keluarkan cairan lendirnya menempel dijari itu.
Pak Usep mulai menjilati payudaranya mulai dari pangkal bawah lalu naik
menuju putingnya, dia jilat puting itu lalu dihisapnya kuat-kuat, sementara
tangannya memilin-milin putingnya yang lain.
Hhhnngghh.Mang, oohh ! Ivana mendesah menggigit bibir sambil memeluk erat
kepala Pak Usep.
Ivana makin menggelinjang saat wajah Endang makin mendekati
selangkangannya dan
Aaaahh.! desahnya lebih panjang, tubuhnya menggelinjang hebat, kedua
pahanya mengapit kepala Endang.
Pemuda itu telah menyapu bibir vaginanya, lalu lidah itu terus menyeruak masuk
menjilati segenap penjuru bagian dalam vaginanya, klitorisnya tak luput dari
lidah itu, sehingga tak heran kalau desahannya makin tak karuan saling
bersahut-sahutan dengan desahan Santi yang saat itu baru ditusuk Mang Obar.
Oi, kalian berdua kok belum buka baju sih, kasih liat dong kontolnya ke Neng
Ivana pasti dah ga sabar dia ! kataku pada Endang dan Pak Usep.
Pak Usep nyengir lalu dia membuka kaos berkerah dan celananya hingga bugil,
dia menggenggam penisnya yang tebal dan hitam itu memamerkannya pada
Ivana
Nih, Neng kontol Mamang gede ya, sama pacar Neng punya gede mana ?
tanyanya sambil menaruh tangan Ivana pada benda itu
Gede yah Mang.keras jawab Ivana yang tangannya sudah mulai mengocoknya
Ivana yang tadinya malu-malu hilang rasa malunya saking terangsangnya,
sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitar, yang dipikirkannya hanya
menyelesaikan gairah yang sudah membakar demikian hebat itu.
Hampir sepuluh menit berlalu, tapi Endang masih seperti kelaparan, belum
berhenti menjilati vaginanya sementara Ivana sudah mengapir dan menggesek-
gesekkan pahanya pada kepala Endang menahan birahinya yang meninggi.
Cepetan dong, kan kamu harusnya nusuk duluan, kalo ngga mau saya tusuk juga
nih ! kata Pak Usep yang tidak sabar ingin segera menyetubuhi Ivana.
Iya sabar atuh Pak, ini udah mau nih kata Endang yang mulai menanggalkan
pakaiannya
Yuk Neng, basahin dulu nih.isep ! dia sodorkan penisnya ke mulut Ivana sambil
memegangi kuncirnya.
Ivana agak ragu memasukkan penis Endang, mungkin agak jijik kali belum
pernah merasakan yang sehitam itu. Namun Endang terus mendesaknya,
apalagi dengan kepala dipegangi seperti itu, akhirnya dengan terpaksa Ivana
membuka mulutnya membiarkan penis itu masuk. Sebentar kemudian Endang
mengeluarkan penisnya, diangkatnya kaki Ivana ke sofa sehingga dia kini
terbaring di sofa dengan kepala bersandar pada perut tambun Pak Usep.
Endang memegang miliknya dan mengarahkannya ke vagina Ivana. Pelan-pelan
mulai memasukinya, tubuh Ivana menekuk ke atas.
Aaakkhh.! demikian keluar dari mulutnya hingga penis Endang mentok ke dalam
vaginanya.
Endang pun mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan kemudian makin lama
makin cepat. Endang melakukannya dalam posisi satu kaki naik sofa dan kaki
lainnya berdiri menginjak lantai, kedia tangannya memegangi betis Ivana.
Ah-ah-ahuuhh.!! desah Ivana dengan mata terpejam
Enak ya Neng ? kata Pak Usep dekat telinganya
Sejak Endang menggenjot Ivana, Pak Usep terus saja menyangga tubuhnya
sambil menghujani leher, telinga, dan payudaranya dengan ciuman dan
jilatan. Kini dia sedang mengulum daun telinga Ivana dan tangannya meremas
kedua payudaranya. Tentu puting Ivana sudah sangat keras karena
daritadi dimain-mainkan. Ivana sendiri tangannya menggenggam penis Pak
Usep,
dia mengocok-ngocok penis itu karena hornynya. Kedua kakinya menjepit
pinggang Endang, seolah minta disodok lebih dalam lagi.
Tanpa mencabut penisnya, Endang memiringkan tubuh Ivana sehingga
posisinya berbaring menyamping, satu kakinya dinaikkan ke bahunya. Wow.seru
sekali melihat paha Endang bergesekan dengan paha mulus Ivana dan
penisnya keluar masuk dari samping. Pak Usep menempelkan penisnya ke wajah
dan bibir Ivana, memintanya melakukan oral seks. Ivana masih sangat
risih memasukkan benda itu dalam mulutnya, hanya berani mengocoknya
dengan
tangan, sepertinya dia masih merasa tidak nyaman dengan penis Endang di
mulutnya tadi, belakangan dia bilang ke aku bahwa dia memang tidak
terbiasa dengan penis hitam dan berbau tidak enak seperti itu, dan dia juga
tidak suka dengan cara mereka yang suka maksa tidak tau diri, makannya
dia tidak pernah mau ngeseks dengan orang-orang kaya gitu, cukup kali
ini saja, pertama dan terakhir demikian tegasnya.
Jilatin dong Neng, jangan cuma main tangan aja ! pinta Pak Usep tidak
sabar merasakan mulutnya
Ngga Mang.jijik.ga mauahh ! gelengnya dengan sedikit mendesah.
Lho, gimana sih si Neng ini, tadi kan dia dikasih, masa saya ngga ?
Ayo dong Neng, sebentar aja kok ! Pak Usep terus mendesak dengan
menekan kepalanya dengan tangan kanannya ke penis yang dipegang dengan
tangan kirinya. Penis itu pun akhirnya memasuki mulut Ivana, karena
mulutnya mengap-mengap mendesah, kesempatan itulah yang dipakai Pak Usep
menjejalkan penisnya. Sesudah penisnya dimulut, Pak Usep memaju-mundurkan
kepalanya dengan menjambak kuncirnya.
Emmhheehmm.Mang.saya.mmm ! Ivana berusaha protes tapi malah
tersendat-sendat karena terus dijejali penis.
Mmmm.gitu dong Neng baru namanya anak manis, udah lama Mamang ga
diginiin uuh ! Pak Usep melenguh dan merem-melek keenakan dioral Ivana.
Kalau saja ada orang berani berbuat seperti itu padanya setengah tahun lalu,
pasti sudah kuhajar sampai masuk ICU, tapi sekarang berbeda, aku malah
terangsang melihat bekas pacarku ini diperlakukan demikian sehingga aku
makin cepat mengocok penisku, apalagi waktu itu Santi juga sedang mainkuda-
kudaandiatas penis Pak Andang sambil mengoral penis Mang Nurdin dengan
bernafsu.
Akhirnya Ivana orgasme duluan, badannya berkelejotan dan mulutnya terdengar
erangan tertahan. Pak Usep rupanya cukup pengertian, dia melepaskan dulu
penisnya membiarkan Ivana menikmati orgasmenya secara utuh.
Badannya menegang beberapa saat lamanya, Pak Usep menambah
rangsangannya dengan meremasi payudaranya. Endang pun menyusul sekitar
tiga menit kemudian, sodokannya makin dahsyat sampai akhirnya dia
melepaskan penisnya dan menumpahkan cairan putih di perut yang rata itu.
Sambil orgasme dia memegang erat-erat lengan kokoh Pak Usep yang
mendekapnya hingga tubuhnya lemas dan terbaring dalam dekapan pria tambun
itu. Si Endang cuma duduk sebentar, minum dan menyeka keringat, lalu dia
langsung beralih ke Santi seperti yang telah kuceritakan di atas, posisinya
segera digantikan Mang Obar yang baru recovery setelah istirahat. Pak Usep
memberikan
minum pada Ivana mengambilkan tissue mengelap keringatnya.
Euleuh.si Endang teh gimana, buang peju sembarangan aja ! gerutu
Mang Obar yang baru tiba melihat ceceran sperma di perut Ivana.
Pak Usep sambil tertawa meneteskan sedikit air dan mengelap ceceran sperma
itu sampai bersih, Ivana juga ikut tertawa kecil.
Udah, gampang Mang, dibersihin aja kan beres ! hiburku padanya
Mang Obar langsung mencumbui payudara Ivana yang masih didekap Pak
Usep, mulutnya berpindah-pindah antara payudara kiri dan kanan.
Ooohh.oohhh !! desahnya ketika merasakan putingnya digigit dan
ditarik-tarik dengan mulut oleh Mang Obar.
Tangan satunya di bawah sedang meremasi bongkah pantatnya yang kenyal,
diremasnya berulang kali sekaligus mengelusi paha mulusnya. Dari pantat
tangannya merayap ke kemaluan, tubuh Ivana bergetar merasakan kenakalan
jari Mang Obar yang mengusap-usap klitoris dan bibir kemaluannya. Di
belakangnya, Pak Usep sangat getol mencupangi leher, tenguk dan bahunya.
Hehehe.liat nih udah basah gini ! sahut Mang Obar mengeluarkan
jarinya dari vagina Ivana Emm.enak pisan ! dijilatinya cairan yang
blepotan di jari itu
Kemudian Pak Usep menarik pinggang Ivana, mendudukkannya di pangkuannya
dengan membelakanginya, satu tangannya meraih vaginanya dan membuka
bibirnya
Masukin Neng, pelan-pelan ! suruhnya
Ivana tanpa malu-malu memegang penis itu dan mengarahkan ke vaginanya,
lalu dia menekan badannya ke bawah sehingga penis itu terbenam dalam
vaginanya. Namun kerena besar penis itu baru masuk kepalanya saja, itu
sudah membuat Ivana merintih-rintih dan meringis menahan nyeri.
Duh.sakit nih Mang, udah ya ! rintihnya
Wah, kagok dong Neng kalo gini mah, ayo dong dikit-dikit pasti bisa kok ! kata
Pak Usep
Nanti juga enak kok Neng, sakitnya bentar aja ! timpal Mang Obar
Beberapa kali Pak Usep menekan tubuh Ivana juga menghentakkan pinggulnya,
akhirnya masuk juga penis itu ke vaginanya, mata Ivana sampai berair menahan
sakit. Pak Usep mulai menggoyangkan tubuhnya
Arrgghh.uuhhh.sempit amat.enak ! gumam Pak Usep di tengah kenikmatan
penisnya dipijat vagina Ivana.
Sementara Mang Obar meraih kepala Ivana, wajahnya mendekat dan
hup.mulut mereka bertemu, lidahnya menerobos masuk mempermainkan lidah
Ivana,
dia hanya pasrah saja menerimanya, dengan mata terpejam dia coba
menikmatinya lidahnya, entah secara sadar atau tidak turut beradu dengan lidah
lawannya.
Limabelas menit lamanya batang Pak Usep yang perkasa menembus vagina
Ivana, runtuhlah pertahanan Ivana, sekali lagi badannya mengejang dan
mengeluarkan cairan kewanitaan membasahi penis Pak Usep dan sofa di
bawahnya (untung sofanya bahan kulit jadi gampang dibersihkan). Ivana
memeluk
erat-erat kepala Mang Obar yang sedang mengenyot payudaranya.
Sekonyong-konyong terlihat cairan putih meleleh dari selangkangan Ivana,
rupanya
Pak Usep juga telah orgasme. Desahan mereka mulai reda, keduanya
melemas kembali. Nampak olehku ketika Pak Usep melepas penisnya, dari
vagina
Ivana menetes cairan sperma yang telah bercampur cairan cintanya. Waktu
beristirahat baginya cuma sebentar karena Mang Obar langsung menyambar
tubuhnya, menindihnya, dan mengarahkan senjatanya ke liang kenikmatan.
Segera saja tubuhnya memacu naik-turun diatasnya. Ivana menggelinjang
setiap kali dia menghentakkan tubuhnya. Saat itu Mang Nurdin dan Pak
Andang mendekati keduanya untuk menonton lebih dekat adegan panas itu.
Mereka menyoraki temannya yang sedang berpacu diatas tubuh mantan
pacarku
itu seperti menonton pertandingan olahraga saja.
Setelah itu aku kehilangan sedikit adegan karena sedang mengantar Santi
ke kamar mandi, maka adegan yang hilang ini kuceritakan berdasarkan
penuturan Mang Nurdin yang kuanggap paling akurat. Dari sofa, Mang Obar
menurunkan Ivana ke karpet, dia berlutut di antara paha Ivana dan terus
menyodoknya. Mang Nurdin membungkuk agar bisa mengemut payudara yang
menggiurkan itu. Pak Andang berlutut di samping kepalanya dan menjejalkan
penisnya ke mulutnya, sambil diemut dia memegangi payudara Ivana.
Endang dan Pak Usep yang nganggur kembali mendatanginya, merekapun ikut
bergabung mengerjai Ivana. Tangan-tangan hitam kasar menggerayangi tubuh
mulus itu, ada yang mengelus pahanya, ada yang meremas payudaranya, ada
yang memelintir putingnya, beberapa diantaranya sedang dikocok penisnya oleh
Ivana. Ikat rambutnya sudah terbuka sehingga rambutnya tergerai sebahu lebih.
Pemandangan itulah yang kulihat ketika keluar dari kamar mandi.
Lebih dari lima menit dia menjadi objek seks kelima buruhku. Mulanya aku
sangat menikmati tontonan ini, terlebih ketika sperma mereka muncrat di
tubuhnya, ada yang nyemprot di dada, perut, dan mukanya. Namun aku mulai
merasa kasihan ketika mereka memaksanya membersihkan penis-penis mereka
dengan mulutnya, beberapa bahkan menjejalkan paksa ke dalam mulutnya, aku
terpaksa turun tangan menyudahinya ketika kulihat air matanya mulai menetes.
Aku tahu semasa pacaran denganku dulu dia memang tidak terlalu suka oral
seks dan menelan sperma, jijik katanya, apalagi sekarang dengan yang hitam-
hitam gitu, tentu saja aku tidak tega melihatnya dipaksa-paksa sampai
menangis.
Udah-udah Mang, cukup.jangan diterusin lagi, nangis nih dia ! kataku
membubarkan mereka
Kemudian aku sandarkan dia di kaki sofa dan memberinya minum, kulap sperma
yang membasahi mukanya. Dia memelukku dan menangis sesegukan, aku balas
memeluknya dan menenangkannya, tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang
masih lengket-lengket.
Duh.maaf banget Neng, abis tadi kita kirain Neng nikmatin, ga taunya nangis
beneran ! kata Mang Obar
Iya, kalo tau Neng ga suka ngemut kontol, kita juga ga maksa, tadi Neng
reaksinya malu-malu sih, jadi kita juga tambah nafsu tambah Pak Usep
Sori, sori, Na gua lupa bilang tadi, abis mandi lu pulang aja yah ! hiburku
mengelus-elus rambutnya
Ngga, ga papa kok Win, gua enjoy, cuma tadi gua kaget aja dipaksa-paksa gitu,
gua kan ga suka oral katanya setelah lebih tenang sambil membersihkan air
mata.
Legalah kami mendengar dia berkata begitu, kami kira dia bakal trauma atau
shock. Aku lalu menyuruhnya mandi dan membantunya bangkit, dia pun berjalan
sempoyongan ke kamar mandi. Aku dan para buruhku duduk-duduk di ruang
tamu merenggangkan otot, kupersilakan mereka menyantap snack dan
minuman sambil menunggu Sandra. Aku ngobrol-ngobrol tentang pendapat
mereka sekalian memberi pengarahan apa yang harus dilakukan untuk
menghukum Sandra yang terlambat nanti. Sandra memang bukan type yang
malu-malu seperti Ivana, tapi aku tetap harus memperingatkan mereka agar
tidak bertindak kelewatan, aku tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
gara-gara mewujudkan fantasi gilaku.
Win, Ivana diapain aja sampe nangis gitu ? terdengar suara Santi bertanya dari
belakang, dia berjalan ke arahku dengan handuk kuning terlilit di tubuhnya,
rambutnya masih agak basah
Ga kok, cuma belum biasa dikeroyok aja, jadi sedikit.ya gitulah ! jawabku sambil
meraih pinggangnya mengajak duduk di sebelahku.
Mang Nurdin mengajak Santi duduk disebelahnya saja, tapi Santi menolaknya
Nggak ah Pak, mending simpen tenaga aja buat si Sandra ! tolaknya
Ketika kami ngobrol-ngobrol ada yang misscall ke HP-ku, si Sandra, semenit
kemudian disusul bunyi bel, nah pasti ini dia, pikirku.
Aku menyuruh buruh-buruhku sembunyi di dapur dengan membawa pakaian
masing-masing, aku berencana membuat surprise sekaligus hukuman baginya.
Kupakai celana pendekku untuk menyambutnya (iya dong, kalau ternyata bukan
Sandra, masa aku menyambutnya memakai celana dalam).
Hai, sori yah telat katanya begitu pintu terbuka gua jadi ga usah main sama
buruh-buruhlu yah
Udah malam gini, kita baru aja bubar, masuk ! ajakku
Ngapain aja seharian tadi ?
Nge-bowling di BSM, pada minta nambah game melulu sih, kan ga enak
kalo gua pulang dulu, sori banget
Sandra orangnya cantik, rambut panjang kemerahan direbound, tinggi kurang
lebih 160cm, dadanya tegak membusung 34B, lebih montok daripada Ivana dan
Santi, tampangnya sedikit mirip Vivian Chow, artis HK tahun 90an itu loh, dengan
modal itu dia pantas bekerja paruh waktu sebagai SPG.
Hari itu dia memakai baju putih lengan panjang dengan dada rendah dan rok
selutut dari bahan jeans.
Sandra
Hi, baru lembur nih ! sapanya pada Santi
Kubiarkan mereka berbasa-basi sebentar sampai aku menarik rambutnya dari
belakang sehingga dia merintih kaget
Udah arisannya nanti lagi, kaya ga tau lu punya salah aja !
Aww.aduh, ngapain sih sakit tau ! rintihnya
Mohon pembaca jangan salah paham mengira aku ini psikopat atau apa, dalam
bermain sex dengannya aku memang sering memakai cara kasar, karena dia
juga menikmati dikasari, cuma sebatas main jambak dan tampar sih, tidak
sampai masokisme dengan pecut, lilin, dan sejenisnya. Karena dia suka variasi
seks kasar inilah aku mengajukan tantangan padanya.Aku mendekapnya dan
menciumi bibir dan lehernya habis-habisan sampai nafasnya mulai memburu.
Dia pun mulai meraba selangkanganku. Setelah memberi syarat dengan gerakan
tangan ke arah dapur, mendadak aku melepas ciumanku dan menepis
tangannya dari selangkanganku
Heh, dasar gatel, datang-datang udah pengen kontol, kalo lu mau kontol gua
kasih lu lima sekaligus ! makiku sambil mendorong tubuhnya hingga tersungkur
di lantai
Dia menjerit kecil dan begitu menengok ke belakang disana sudah berdiri para
buruhku yang bugil yang senjatanya sudah di reload, mengacung tegak siap
untuk pertempuran selanjutnya. Sebelum sempat bangun dia sudah diterkam
kelima orang itu.
Heeaaa.sikat ! seru mereka sambil menyerbunya
Win.sialan lu, gila !! jeritnya
Huehehehe.tenang San, gua masih nyisain buat lu kok, kan lu suka dikasarin,
coba deh biar tau rasanya diperkosa, dijamin sensasional abis ! aku menyeringai
padanya
Sandra meronta-ronta, tapi dia tidak bisa menghindar karena kedua kaki dan
tangannya dipegangi mereka, malah itu hanya menambah nafsu mereka.
Mereka tertawa-tawa sambil mengeluarkan komentar jorok bagaikan
gerombolan serigala melolong-lolong sebelum menyantap mangsanya.
Keributan disini memancing Ivana melongokkan kepalanya dari kamar mandi
untuk melihat apa yang terjadi, kupanggil dia, tapi dia bilang nanti, mandinya
belum selesai. Pak Usep meremasi payudaranya yang masih terbungkus pakaian
Waw.teteknya gede nih, asyik ! komentarnya
Mang Obar dan Pak Andang yang memegangi kakinya juga tak mau kalah,
mereka menyingkap roknya sehingga terlihatlah celana dalamnya yang warna
hitam dan pahanya yang putih mulus, tangan-tangan mereka segera mengelus-
elus pahanya dan terus naik ke pangkal pahanya, bukan cuma itu, jari-jari itu
juga mulai menyelinap lewat pinggir celana dalam itu menggerayangi
kemaluannya. Mang Nurdin menyusupkan tangannya lewat bawah kaosnya
sehingga dada kirinya menggelembung dan ada yang bergerak-gerak. Si Endang
meraih tangan Sandra dan menggenggamkannya pada penisnya.
Kocok Neng, kocokin yang saya ! suruhnya
Erwin.mhhpphh.Win.gua.mmm ! desahnya di tengah cecaran bibir Pak Usep
yang akhirnya melumat bibirnya.
Aku menyaksikan adegan ini dari jarak satu meteran sambil duduk merangkul
Santi.
Win, dasar kelainan seks lu, tega amat lu ngeliat kita digituin tiko! katanya
sambil mencubit pahaku
Tapi lu suka kan, gua liat tadi lu hot gitu goyangnya, ngaku lo ! sambil
memencet payudaranya.
Buka ah handuknya ngehalangin aja ! kutarik lepas handuk yang melilit
badannya
Lu juga dong buka, biar adil ! balasnya sambil melepasi pakaianku
Sepongin San, sambil nonton si Sandra dismack down nih ! suruhku
Dengan posisi duduk di sebelahku, dia merunduk menservis penisku, jilatan dan
kulumannya menyemarakkan acara yang sedang kusaksikan, seperti popcorn
yang menemani nonton di bioskop. Sambil menikmati liveshow dan sepongan,
tanganku memijati payudaranya dan menelusuri lekuk-lekuk tubuhnya.
Rontaan Sandra semakin lemah, dia sudah pasrah bahkan hanyut menikmati
ulah mereka. Aku berasumsi dia sudah tenggelam dalam hasrat seksualnya,
hasrat terliar dalam dirinya, dia menikmati pagutan bibir Mang Nurdin tanpa ada
paksaan, mengocok penis Endang dengan sukarela, juga ketika Pak Usep
menempelkan penisnya ke mulutnya, tanpa diminta dia sudah menjilat dan
mencium penis itu.
Telanjangin euy, biar kita bisa ngeliat bodinya ! kata salah seorang dari mereka
Iya bugilin, bugilin, ewe.ewe !! timpal yang lain
Mereka bersorak-sorak dan mulai melucuti baju Sandra, pakaiannya beterbangan
kesana-kemari hingga akhirnya tak satupun tersisa di tubuhnya yang indah
selain arloji, cincin, dan gelang kakinya. Kelimanya memandangi tubuh telanjang
Sandra tanpa berkedip.
Anjrit, kulitnya mulus banget, cantik lagi ! komentar seseorang
Wih, teteknya.jadi ga tahan pengen netek eemmm.! sahut Mang Nurdin yang
langsung melahap payudara kanannya
Sebelah sini juga bagus sahut Pak Andang membuka lebar kedua belah pahanya.
Bersama Mang Obar dia memandangi daerah kemaluan Sandra yang berbulu
lebat dengan tengahnya yang memerah. Keduanya menjilati vaginanya yang
mulai becek. Tubuhnya menggelinjang hebat merasakan dua lidah menggelikitik
vaginanya. Endang menciumi leher, bahu dan sekitar ketiak, sambil jarinya
memilin-milin putingnya. Pak Usep menjilati bagian pinggir tubuhnya sambil
tangannya menelusuri punggung dan pantatnya. Sandra hanya bisa menggeliat-
geliat dikerubuti lima buruh kasar, mulutnya mengeluarkan suara desahan. Saat
itu Ivana baru selesai mandi, dia menjatuhkan
pantatnya di sebelahku, seperti Santi tadi dia juga memakai handuk melilit
badannya, rambutnya masih agak basah.
Buka ah ! ngapain sih malu-malu gitu ! kataku menarik lepas handuknya
Bekas cupangan memerah masih nampak pada kulit payudara dan lehernya
yang putih, kurangkul tubuhnya yang mulus itu di sisi kiriku. Santi tidak terlalu
menghiraukan kedatangan Ivana, dia terus saja menjilat penisku dengan
gerakan perlahan sambil memijat lembut buah pelirnya
Kasian ih, masa lu tega si Sandra dikeroyok gitu ! kata Ivana
Santai aja Na, Sandra kan ga kaya lu, dia sih enjoy aja dikasarin gitu, dah biasa
jawabku santai
Ooo.ga kaya gua yah ! sehabis berkata dia langsung menyambar putingku dan
menggigitnya
Adawww.!! jeritku refleks menepis kepalanya.
Jahat ih, keras gitu masa gigitnya, putus nanti kataku mengelus-elus putingku
yang
nyut-nyutan digigitnya.
Dia malah tertawa melihatku begitu, si Santi juga ikutan ketawa.
Lho, kan ke Sandra lu bilang suka main kasar, baru digituin aja dah kaya
disembelih hihihi ! Santi mengejekku
Ini sih bukan kasar, tapi sadisme gila gerutuku.
Dah ah, lu terusin aja sana, jangan ngeledek ah ! kutekan kepalanya ke bawah
Sini lo ! kusambar tubuh Ivana yang masih cekikikan ke pelukanku
Dengan bernafsu kupaguti lehernya dan payudaranya kuremas-remas sehingga
dia mendesah-desah kenikmatan.
Bukan cuma menjilat, Mang Obar juga memasukkan jarinya ke liang vagina
Sandra, diputar-putar seperti mengaduknya sementara lidahnya terus menjilati
bibir vaginanya. Setelah puas menjilat, Mang Obar menyuruh Pak Andang
menyingkir, dia angkat sedikit pinggul Sandra dan menekankan penisnya pada
belahan kemaluan itu, dia melenguh ketika kepala penisnya sudah mulai masuk,
lalu ditekan lagi dan lagi. Sandra menahan nafas dan menggigit bibir merasakan
benda sebesar itu menyeruak ke vaginanya.
Aaakkhh ! erangan panjang keluar dari mulut Sandra saat penis Mang Obar
masuk seluruhnya dengan satu hentakan kuat.
Penis itu keluar-masuk dengan cepatnya, suara desahan Sandra seirama dengan
ayunan pinggul Mang Obar. Desahan itu sesekali teredam bila ada yang
mencium atau memasukkan penis ke mulutnya.
Hehehe.liat tuh teteknya goyang-goyang, lucu ya ! sahut Pak Usep
memperhatikan payudara yang ikut tergoncang karena tubuhnya terhentak-
hentak
Mulutnya enak, hangat, terus Neng, mainin lidahnya ! kata Endang yang lagi
keenakan penisnya diemut Sandra.
Uuuhh.uuhh.iyahh ! jerit klimaks Mang Obar, penisnya dihujamkan dalam-dalam
dan menyemprotkan spermanya di dalam sana.
Posisi Mang Obar segera digantikan oleh Pak Andang, dia melakukannya dalam
posisi sama dengan rekannya tadi sambil tangannya menggerayangi pahanya
dengan liar. Sementara Endang mengerang lebih panjang, wajahnya mendongak
ke atas dan meringis. Rupanya dia telah orgasme dan spermanya ditumpahkan
ke mulut Sandra, dia menyedotnya, namun sebagian meleleh keluar bibirnya,
dikeluarkannya sebentar untuk dikocok dan diperas, maka sperma itu pun
nyiprat ke wajahnya. Kemudian dijilatnya lagi penis Endang yang mulai
menyusut membersihkannya dari sisa-sisa sperma. Tugas Sandra menjadi sedikit
lebih ringan setelah dua orang yang telah dibuatnya orgasme menyingkir,
keduanya kini terduduk di pinggirnya, memulihkan tenaga sambil sesekali
megang-megang tubuhnya. Tubuh Sandra menggelinjang merasakan sensasi
yang selama ini belum dia rasakan, tangannya yang menggenggam penis Pak
Usep nampak semakin gencar mengocoknya sehingga pemiliknya melenguh
keenakan.
Aahhh.emm.gitu Neng, enak.oohhh ! sambil tangannya meremasi payudaranya.
Mang Nurdin yang tadi menyusu sekarang mulai menciumi perut Sandra yang
rata, tangan kirinya memainkan putingnya, tangan kanannya mengelus
pantatnya.
Saat itu aku sedang menikmati penisku dipijati oleh cengkraman vagina Ivana
yang duduk di pangkuanku dengan posisi membelakangi. Aku membiarkannya
mengendarai penisku sementara aku menikmati Sandra digangbang, menonton
sambil melakukan, suatu kenikmatan seks yang sejati. Kudekatkan wajahku ke
lehernya dan kuhirup aroma tubuhnya, hhmmwangi, habis mandi sih, di lehernya
masih membekas cupangan mereka, tapi aku tak peduli, kulit lehernya yang
mulus kuemut dan kugigiti pelan membuatnya semakin mendesah kesetanan.
Tangan kiriku mendekap Santi sambil memutar-mutar
putingnya, tapi kemudian Santi bangkit dan berdiri di hadapan kami, dia
dekatkan kemaluannya pada Ivana, tanpa disuruh Ivana menjilatinya.
Santi mendesah menikmatinya, dipeganginya kepala Ivana, seolah meminta dia
tidak melepaskannya. Aneh si Ivana ini, kalau diminta mengoral punya cowok
susah, harus dibujuk-bujuk baru terpaksa diiyakan, tapi ini ke sesama jenisnya
tanpa disuruh kok mau, mungkin sih akibat terlalu horny, tapi peduli amat ah,
yang penting enjoy aja (emang iklan LA Light ?).
Kuminta Santi menepi sedikit karena sempat menghalangi pandanganku
terhadap Sandra. Ruang tamuku jadi dipenuhi oleh desah birahi yang sahut
menyahut.
Sandra kembali orgasme oleh genjotan Mang Obar, badannya lemas bercucuran
keringat, namun mereka terus menggumulinya. Gerakan Mang Obar semakin
cepat dan menggumam-gumam tak jelas, tapi sebelum spermanya keluar, dia
mencabut penisnya dan langsung menaiki dadanya.
Misi, minggir dulu dong, tanggung nih, pengen ngentot pake teteknya sebelum
ngecret !
Segera dia jepitkan penisnya diantara dua gunung kembar itu lalu digesek-
gesekkannya penisnya disana dengan lancar karena sudah licin oleh cairan
cinta. Tak sampai tiga menit spermanya sudah muncrat, cipratannya berceceran
di dada, leher, wajah dan sebagian rambut Sandra. Setelahnya dia menyuruh
Sandra menjilati penisnya hingga bersih mengkilat. Dua orang lagi yang masih
menggumulinya, Mang Nurdin dan Pak Usep, mengangkat tubuhnya dan
membaringkannya ke kasur udara tempat Santi digarap. Mang Nurdin
membalikkan tubuh Sandra hingga telungkup, pantatnya diangkat hingga
menungging, dengan posisi ini dia memasukkan penisnya ke vagina Sandra dari
belakang. Disodokkannya benda itu berkali-kali dengan keras, sehingga Sandra
mengerang makin histeris.
Pak Usep tidak meneruskan aktivitasnya dengan Sandra, dia meninggalkannya
berduaan dengan Mang Nurdin. Sementara dia sendiri menghampiri kami dan
kedua tangan gemuknya melingkari perut Santi dari belakang, agaknya dia
masih penasaran karena belum sempat menikmati Santi. Telapak tangannya
bergerak ke atas membelai payudara Santi, sedangkan yang satunya ke bawah
membelai kemaluannya, mulutnya mencupangi bahunya. Santi memejamkan
mata menghayati setiap elusan tangan kasar itu pada bagian-bagian sensitifnya,
desahan pelan keluar dari mulutnya. Tangannya lalu menarik wajah Santi ke
belakang, begitu dia menoleh bibirnya langsung dipagut.
Keduanya terlibat percumbuan yang panas, sedotan-sedotan kuat dan
permainan lidah terlibat di dalamnya. Dengan terus berciuman tangan kanannya
beraksi di kemaluan Santi, jari-jari itu menggosok-gosok belahan kemaluannya,
kadang juga masuk dan berputar-putar di dalamnya. Permainan jari Pak Usep
yang lihai membuat tubuh Santi bergetar dan vaginanya melelehkan cairan.
Sedangkan tangan kirinya meraba-raba bagian tubuh lainnya, lengan, dada,
perut, paha, pantat, dll. Setelah mencumbunya selama beberapa menit, lidah
Pak Usep kini menjilati lehernya dan menggelikitik telinganya.
Di pihakku, Ivana menaik-turunkan tubuhnya dengan lebih kencang,
diantara desahannya terdengar kata-kata tak jelas, tanganku juga diraih dan
diremaskan ke payudaranya, gelagat ini menunjukkan dia sudah di ambang
orgasme.
Aaahh.Win, dikit lagi nih.enak ! erangnya sambil meremas tanganku.
Akupun merasa mau keluar juga saat itu, maka kupacu juga pinggulku sampai
sofanya ikut goyang, penisku menusuk makin keras dan dalam padanya.
Penisku serasa diperas oleh jepitan vaginanya, himpitannya makin lama makin
kencang saja. Akhirnya cairan nikmat itu keluar dibarengi desahan yang
panjang, aku pun mendapat orgasmeku lima detik setelahnya. Sperma
bercampur lendirnya meleleh keluar dari sela-sela vaginanya membasahi
selangkangan kami dan sofa di bawahnya. Kami saling berpelukan tersandar
lemas di sofa, kubelai-belai lembut rambut dan wajahnya selama cooling down.
Goyangan lu tambah asyik nih say, bersihin dong pake mulut, boleh ya ? pujiku
sekaligus memintanya melakukan cleaning service.
Nggak mau, lu sendiri aja ! jawabnya sambil manyun
Ayo dong say, lu kan baik, please dikit aja, yah.! mohonku lagi memencet
putingnya
Ok, tapi cuma bersihin aja yah, ga lebih katanya sambil turun dari pangkuanku
Dia berjongkok diantara kedua kakiku, dipegangnya penisku, kemudian mulai
menjilati sisa-sisa cairan pada penisku hingga bersih. Di kasur sana, Mang Nurdin
menyetubuhi Sandra dengan ganasnya dengan doggie style.
Mata Sandra merem-melek dan mendesah tak karuan akibat sodokan-sodokan
yang diberikan Mang Nurdin. Mang Obar menghampiri mereka lalu duduk
mekangkang di depan Sandra. Tangannya menjenggut rambut Sandra dan
menjejalkan penisnya ke dalam mulutnya, tentu saja benda sebesar dan
berdiameter selebar itu tidak muat di mulut Sandra yang mungil. Susah payah
Sandra berusaha menyesuaikan diri, pelan-pelan kepalanya mulai naik-turun
mengisap benda itu. Desahan tertahan masih terdengar dari mulutnya, pada
dinding pipinya kadang terlihat tonjolan dari penis Mang Obar yang bergerak
maju-mundur. Mang Obar mengelus punggung dan dadanya sambil menikmati
penisnya dikulum Sandra. Mang Nurdin hampir klimaks, genjotannya semakin
cepat, tak lama kemudian dia mendesah panjang dengan mencengkram erat
bongkahan pantatnya, spermanya menyemprot di dalam vaginanya, ketika dia
cabut penisnya, nampak cairan kental itu masih menjuntai seperti benang laba-
laba, sebagian meleleh di sekitar pangkal paha Sandra.
Melihat vagina Sandra nganggur, Mang Obar menyuruhnya menghentikan
kulumannya dan naik ke pangkuannya. Sandra yang klimaksnya tertunda karena
Mang Nurdin sudah keluar duluan segera menaiki penis Mang Obar. Sebelum
mulai, pria kurus itu meminta tissue basah pada Endang untuk mengelap
ceceran sperma di sekujur tubuh Sandra. Sandra menaik-turunkan
pinggulnya dengan gencar di atas penis Mang Obar, payudaranya pun ikut
terayun-ayun seiring gerak badan. Pemandangan itu membuat Mang Obar tidak
tahan
untuk tidak melumatnya, mulutnya menangkap payudara yang kanan dan
mengenyot-ngeyotnya, sementara tangannya bergerilya menyusuri lekuk-lekuk
tubuh yang indah itu. Keringat sudah bercucuran membasahi tubuh Sandra
yang sudah bekerja keras melayani lima pria sekaligus, rambutnya sudah
acak-acakan, namun itulah yang menambah pesonanya. Desahan nikmat Sandra
memacu Mang Obar untuk terus melahap dada, leher, dan ketiaknya.
Setelah puas melakukan foreplay bersama Santi, Pak Usep menyuruhnya
nungging, masih dalam posisi berdiri, Santi mencondongkan badan ke depan
dengan tangan bertumpu pada kepala sofa. Santi yang sudah horny berat
itu pun tanpa sungkan-sungkan mengulurkan tangan ke belakang membuka
bibir vaginanya, gatel minta ditusuk. Mang Obar mengerti bahasa tubuh
Santi, dia pun segera melesakkan penisnya masuk ke lubang itu.
Aarrghh.enak Mang, terus.terus ! jerit Santi
Adegan ini berlangsung tepat di sebelahku sehingga aku dapat mengamati
ekpresi wajah Santi yang sedang menikmati sodokan penis Mang Obar, dia
merintih-rintih dan sesekali menggigit bibir bawah. dari belakangnya
Mang Obar menggerayangi tubuhnya sambil terus menggenjotinya, payudaranya
tampak berayun-ayun menggodaku iseng meremas salah satunya. Beberapa
kali tubuh Santi tersentak-sentak kalau Mang Obar memberikan sodokan
keras padanya. Aku suka sekali melihat wajahnya yang seksi saat itu.
Ivana yang tadi membersihkan penisku kini sudah diajak Pak Andang
memulai babak berikutnya. Dia berdiri memeluk Ivana dengan kedua tangan
kasarnya, mendekapkan tubuh Ivana ke tubuhnya hingga dada mereka saling
melekat
Neng Ivana, mmm dengan bernafsu dia memagut bibirnya dan melumatnya
Ivana juga balas menciumnya hingga lidah mereka saling melilit, mengeluarkan
suara lenguhan, sepertinya dia mau membalas membuatku terbakar api
cemburu seperti ketika aku mencumbu Santi di depannya waktu baru datang
tadi. Tangan Pak Andang meremas payudaranya dan tangan satunya mengelus
punggung hingga pinggulnya. Kemudian dia mengangkat satu kaki Ivana dan
menempelkan penisnya di bibir vagina Ivana. Secara refleks Ivana melingkarkan
tangan ke leher Pak Andang menahan badannya. Pelan-pelan Pak Andang
mendorong pantatnya ke depan hingga penisnya menyeruak ke dalam vagina
Ivana. Mereka mendesah hampir bersamaan saat penis itu menerobos dan
menggesek dinding vagina Ivana.
Lima menit setelah mereka berpacu dalam posisi berdiri, Pak Andang
menghentikan genjotannya sejenak, lalu dia angkat kaki Ivana yang satunya.
Sambil menggendong Ivana, dia meneruskan lagi kocokannya, dengan begini
tusukan-tusukan yang diterima Ivana semakin terasa hujamannya, kedua
payudaranya tampak seksi tergoncang-goncang. Kata Dr.sexBoyke gaya ini
disebutmonyet memanjat pohon kelapa, hebat juga Pak Andang ini sampai tahu
variasi seks yang satu ini. O iya, masukan buat pembaca nih, kalau mau coba
gaya yang satu ini kudu liat-liat kondisi loh, kalau cowoknya kurus kecil
sedangkan badan ceweknya lebih besar atau bahkan gendut sebaiknya jangan
deh, bisa-bisa bukannya nikmat yang didapat malah patah tulang, hehehe.Aku
kagum oleh stamina Pak Andang ini, di usianya yang senja dia masih sanggup
melakukan gaya ini cukup lama, aku sendiri tidak yakin bisa selama itu, sampai
Ivana dibuat orgasme dalam gendongannya. Badannya mengejang dan
kepalanya menengadah ke belakang serta mendesah panjang, dari
selangkangannya cairan hasil persenggamaannya menetes-netes ke lantai.
Tubuhnya yang lunglai mungkin sudah jatuh kalalu tangan Pak Andang yang
kokoh tidak memeganginya.
Pada saat yang sama, Mang Obar baru menuntaskan hajatnya terhadap Sandra.
Keduanya klimaks bersamaan, dia mencabut penisnya lalu isinya ditumpahkan
ke wajah Sandra, tidak sebanyak sebelumnya memang tapi lumayan membasahi
wajahnya. Endang yang sudah siap bertarung lagi mendatanginya, dipeluknya
Sandra dan dicium-cium bagian-bagian tubuh sensitifnya sambil memberinya
waktu untuk mendinginkan vaginanya yang kepanasan. Mang Nurdin
menghampiri Santi yang sedang dikerjai Pak Usep.
Yuk Pak, siap action lagi nih ? gabung aja ! kataku mempersilakannya bergabung
dengan mereka.
Iya dong, bos, saya kan belum sempat nyoblos si Neng ini tadi, hehehe.! katanya
berkalakar
Dia menyusup dan duduk di antara Santi dan sofa, tangan Santi dipindahkan ke
bahunya yang lebar. Mulutnya menangkap salah satu payudara Santi yang
berayun-ayun, dengan nikmatnya dia menyedot-nyedot benda itu sambil
meraba-raba tubuhnya. Di sisi lain, Ivana sedang sibuk melayani Pak Andang dan
Mang Obar, tubuhnya terbaring di sofa dijilati dan digerayangi mereka.
Aku duduk sambil mengocok penisku menyaksikan pertempuran tiga mahasiswi
melawan lima buruh kasar itu. Sungguh pemandangan yang membangkitkan
nafsu, pembaca bisa bayangkan tiga orang cewek muda keturunan Chinese,
cantik, putih, sexy, dan high class sedang digumuli buruh-buruh kasar, hitam,
beda ras dan beda status sosial sungguh pemandangan yang sensual bagiku.
Kami melupakan sejenak harga diri, martabat, dan perbedaan lainnya demi
kesenangan seksual. My fantasy has come true, demikian kataku dalam hati.
Tidak puas hanya dengan menonton sementara yang lain melakukan, aku pun
mendekati Sandra yang sedang bergaya woman on top diatas Endang. Kupeluk
dia dari belakang dan kupegang kedua payudaranya yang bergoyang-goyang.
Gimana San rasanya digangbang sama mereka San ? tanyaku dekat kupingnya
Sadis.mhh.but it’s pretty cool.aah ! jawabnya terengah-engah
Win lu-lu.masukin lewat.uuhh.belakang.yah !
Mereka berhenti sebentar agar aku bisa memasukkan penisku ke pantat Sandra,
kudorong tubuhnya ke depan hingga agak menelungkup. Aku meringis ketika
memasukkan penisku ke duburnya karena sempit sehingga rasanya sedikit ngilu,
hal yang sama pun dirasakan oleh Sandra, namun setelah masuk rasanya jadi
enak banget. Sandra mendesah-desah merasakan dua penis yang memompa
dua lubangnya. Desahannya bertambah seru karena si Endang menjilati
payudaranya yang menggantung itu dijilati Endang dari bawah, sedangkan
rambutnya kujambak seperti mengendarai kuda. Tanganku yang satu tidak
tinggal diam, kadang meremas payudaranya, kadang mengelus punggung dan
pantatnya, serta sesekali kutampar pantatnya hingga dia menjerit.
Harder.harder please, Mang juga dong nyodoknya kencengin !
Detik-detik terakhir menjelang orgasme, gerakan Sandra semakin liar saja,
sodokanku pun kupercepat sesuai yang dimintanya. Akhirnya ditengah sodokan
kami yang belum menunjukkan tanda-tanda berhenti dia orgasme yang ke
sekian kalinya. Kami terus menggenjotnya tanpa mempedulikannya yang sudah
kecapean. Pada akhirnya aku dan Endang menyiram tubuhnya dengan sperma
kami, Endang menyiram dada dan perutnya, sedangkan aku menyiram mukanya
sampai rambutnya juga kena.
Kulihat sekelilingku yang lain juga sudah hampir selesai. Mang Nurdin bersadar
di sofa sambil menengadahkan kepala, di pahanya Santi yang tergolek lemas
menyandarkan kepala dengan mata setengah terpejam, tak jauh disebelah
mereka Pak Usep juga terduduk lemas memangku betis Santi di pahanya, sambil
mengatur nafas, dia mengelusi betisnya yang mulus. Pak Andang tidak terlihat
karena sedang ke toilet. Pertempuran terakhir pun selesai tak lama kemudian,
Mang Obar menumpahkan spermanya ke punggung Ivana setelah ber-doggie
style di sofa. Yang tampangnya paling semerawut ya si Sandra, dia sudah
dikeroyok dan digilir lima orang ditambah aku lagi, tubuhnya sudah berlumuran
keringat, sperma, dan ludah, belum lagi pantatnya ada bekas tamparanku tadi.
Kasihan juga sih melihatnya, tapi dia sepertinya menikmati kok, dia menggosok-
gosokkan sperma itu pada beberapa bagian tubuhnya, juga menjilati yang
menempel di jari-jarinya.
Ya, pesta telah berakhir, jam tanpa terasa telah menunjukkan jam delapan
kurang sepuluh. Aku memberi uang rokok pada kelima buruhku sebelum mereka
berpamitan pulang.
Ivana dan Santi terpaksa harus mandi lagi karena badannya berkeringat dan
lengket-lengket lagi. Agar tidak mengantri kamar mandi, aku memakai kamar
mandi di kamar papa-mamaku yang ada bath tub marmernya, itulah kamar
mandi terbesar di rumahku. Asyik deh rasanya, berendam di bath tub bersama
ketiga cewek cantik ini, disana kami saling gosok badan, ciuman, pegang-
pegangan, di-Thai massage lagi sama si Santi, wah serasa jadi kaisar aja deh.
Habis makan malam Ivana pulang menumpang mobil Santi karena sudah
ditelepon dari rumahnya. Sandra juga tadinya mau pulang, tapi kuminta dia
nginap saja disini supaya bisa menemaniku yang sehari-hari kesepian ini,
mumpung dia anak kost dan besoknya libur hari kemerdekaan. Akhirnya dia
setuju juga setelah kumohon-mohon. Malam itu kami tidur telanjang di bawah
selimut yang lembut, tapi tidak ML, cuma pegang-pegangan dan ciuman saja,
cape kan tadi sore sudah lembur gitu, setelah ngobrol-ngobrol dikit langsung
tertidur. Keesokan harinya libur, aku banyak menghabiskan waktu bersamanya,
bangun pagi-pagi kami sudah melakukannya di kamar mandi, sepanjang hari itu
kami telanjang bulat di rumah dan sebagian besar terisi dengan permainan seks
di segenap pelosok rumah, mulai dari kamar, dapur, taman belakang hingga
meja makan. Sejak mengadakan liveshow itu aku sebenarnya ingin mengadakan
kembali acara seperti itu tapi sebaiknya jangan sering-sering deh takutnya kalau
banyak yang tahu tidak baik juga buatku dan teman-teman cewekku itu.

Derita Nafsu Seorang Istri


Posted by admin on May 26, 2008 – 4:17 pm
Filed under Cerita Dewasa

Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us

saya adalah seorang ibu rumah tangga yang baik dan tanpa cacat (menurut saya
lho). Umur saya 42 tahun. Saya memiliki dua orang anak keduanya laki-laki.
Anak saya terbesar Tony berumur 15 tahun di kelas tiga SMP, sedangkan sikecil
Sandy masih berusia 4 tahun. Suami saya bekerja di suatu instansi pemerintah
dan kami hidup normal dan bahagia. Saya sendiri seorang sarjana dari
perguruan tinggi ternama di negara ini tetapi memilih tidak bekerja. Saya taat
beragama dan mengenakan jilbab hingga sekarang.
Tetapi sejak kejadian-kejadian ini, saya merasa sebagai wanita berdosa yang
tidak lagi mampu menghindari dosa bersetubuh dengan laki-laki yang bukan
suami sendiri. Membayangkan kejadian-kejadian tersebut saya selalu ingin
menangis tetapi pada saat yang sama saya juga didera oleh nafsu birahi
membara yang tidak mampu saya atasi.
Kejadiannya adalah sebagai berikut. Saat itu sore hari sekitar jam tiga dan saya
baru saja bangun tidur dan Sandy masih tertidur di sebelah saya. Sedangkan
suami saya masih bekerja di kantor nya.
Dari dalam kamar saya dapat mendengar suara komputer yang dimainkan anak
saya Tony di ruang tengah yang berbatasan langsung dengan kamar tidur saya.
Kami berlangganan internet (saya sering juga browsing di internet dan mahir
menggunakan komputer) dan sedangkan Tony sering sekali menggunakan
komputer, tetapi saya tidak tahu persis apa yang dimainkan. Saya kira dia hanya
main game saja. Pintu kamar saya agak terbuka.
Saya bermaksud untuk keluar dari kamar, tetapi ketika saya menarik pintu, apa
yang terlihat membuat saya tertegun dan mengurungkan niat tersebut. Apa
yang terlihat dari balik pintu membuat hati saya betul-betul terguncang. Walau
agak kurang jelas, saya masih dapat melihat di layar komputer tampak sosok
wanita kulit putih telanjang tanpa busana dengan posisi terlentang dan kaki
terbuka dengan kemaluan yang tampak jelas. Saya menjadi kesal karena Tony
yang masih anak-anak melihat hal-hal yang sangat terlarang tersebut. Tetapi
yang kemudian membuat saya shock adalah setelah saya menyadari bahwa
Tony sedang mengurut-urut penisnya. Dari dalam kamar saya dapat melihat
resleting celana Tony terbuka dan celananya agak turun. Tony sedang duduk
melihat layar sambil mengusap-usap penisnya yang tampak berdiri tegang dan
kaku.
Sejak dia disunat lima tahun yang lalu saya, hampir tidak pernah lagi melihat
anak saya itu telanjang. Tony sudah dapat mengurus dirinya sendiri. Tinggi Tony
sekitar 158 cm dan sudah hampir sama dengan tinggi saya yang sekitar 162 cm.
Samar-samar saya dapat melihat rambut kemaluannya yang tampaknya masih
sedikit. Saya betul-betul tercengang melihat semua ini. Kemaluannya memang
tidak berukuran besar tetapi melihat demikian kakunya batang anak ini
membuat saya tanpa sadar berdebar. Batang kemaluannya tampak berwarna
coklat kemerahan dengan urat-urat yang menonjol kebiruan. Samar-samar saya
dapat mendengar napasnya yang terengah. Tony sama sekali tidak menyadari
bahwa saya sudah bangun dan melihat kelakuannya dari balik pintu.
Kejadian Tony membelai-belai kemaluannya ini berlangsung terus selama lebih
kurang empat-lima menit lamanya. Yang mengagetkan adalah reaksi kewanitaan
tubuh saya, ternyata jantung saya terasa berdebar keras menyaksikan batang
kemaluan yang demikian kaku dan berwarna semakin merah, terutama bagian
kepalanya. Pandangan saya beralih-alih dari kemaluan wanita telanjang di layar
komputer ke batang anak saya sendiri yang terus diusap-usapnya. Gerakan
tangannya semakin cepat dan mencengkeram bagian kemaluannya dengan
muka yang tampak tegang memandangi layar monitor. Kepala batang yang
mengeras itu tampak diremas-remasnya. Astaga .., dari lubang di kemaluannya
berleleran keluar cairan bening. Cairan kental bening tersebut diusap-usap oleh
jari Tony dan dioles-oleskan ke seluruh kemaluannya. Kini ia juga menekan-
nekan dan meremas kantung pelir dan dimainkannya bolanya. Kemaluan itu kini
tampak basah dan berkilap. Napas Tony terdengar sangat keras tetapi tertahan-
tahan. Saya merasa napsu birahi saya muncul, tubuh saya mulai gemetar dan
darah mengalir di dalam tubuh dengan deras. Napas sayapun mulai tak teratur
dan saya berusaha agar napas saya tak terdengar oleh Tony.
Apa yang saya lihat selanjutnya membuat saya sangat tergetar. Tubuh Tony
tampak mengejang dengan kakinya agak terangkat lurus kaku, sementara
tangannya mencengkeram batang kemaluan itu sekuat-kuatnya.
“Eeegh, heeggh .”, Tony mengerang agak keras, dan ya ampun …, yang
tidak saya sangka-sangka akhirnya terjadi juga. Dari lubang di kepala batang
kemaluannya terpancar cairan putih kental. Tony yang saya anggap anak kecil
itu memuncratkan air mani. Cairan kental itu memuncrat beberapa kali.
Sebagian jatuh ke perutnya tetapi ada juga yang ke lantai dan malah sampai ke
keyboard komputer. Tangan Tony mencengkeram kontol yang memerah itu dan
menariknya sekuatnya ke pangkal batang. Ohhh .., kontol itu tampak kaku,
tegang, urat-urat menonjol keluar, mani muncrat keatas. Melihat air mani
muncrat seperti itu segera saja saya merasakan lonjakan birahi yang luar biasa
di sekujur tubuh saya. Memek saya terasa menjadi basah dan napas saya
menjadi tersengal sengal
Saya berusaha mengendalikan diri dari rangsangan birahi sebisa-bisanya, ada
semacam perasaan tidak enak dan bersalah yang tumbuh menyaksikan anak
saya dan terutama atas reaksi tubuh saya seperti ini. Tony masih terus
mengurut-urut batang kontolnya dan air mani yang tersisa tampak mengalir
sedikit-sedikit dari lubang kencing di kepala kontolnya. Tony melumuri
permukaan kontolnya dengan air mani tadi dan terus menggosok-gosok
kontolnya. Kini kontol itu tampak diselimuti oleh mani berwarna keputihan.
Samar-samar saya dapat mencium bau mani yang bertumpahan karena jarak
saya dengan Tony sebetulnya sangat dekat hanya dua meteran.
Tony tampak mulai tenang dan napasnya semakin teratur. Kontol yang
berleleran air mani mulai mengendur. Ia menghela napas panjang dan tampak
lega terpuaskan. Kontol itu sekarang tampak terkulai kecil dan lemah berwarna
kecoklatan, sangat berbeda dengan kejadian beberapa menit yang lalu. Tony
kemudian berdiri dan menuju ke kamar mandi. Ia masuk ke kamar mandi dan
menutup pintunya.
Seolah-olah ada yang menuntun, saya berjingkat menuju komputer tanpa
menimbulkan bunyi. Saya memandang lekat ke layar komputer, mengagumi
tubuh wanita muda berkulit putih (orang Barat) yang telah mengundang nafsu
anak saya. Tanpa sadar saya menghela napas melihat kemaluannya. Rambut
jembutnya berwarna kecoklatan tampak tertata seperti pernah dicukur. Sesuatu
yang tidak pernah saya lakukan pada rambut kemaluan saya dan tak pernah
terpikirkan untuk melakukannya. Pandangan saya beralih ke tetesan-tetesan
mani yang tampak di dekat keyboard. Saya mengusap mani tersebut dengan jari
dan entah mengapa saya mencium dan menjilati jari tangan saya yang
berleleran dengan mani. Rasanya asin dan baunya terasa lekat, tetapi nafsu
birahi saya terbangkit lagi. Saya tidak ingin Tony curiga. Dari layar komputer
saya melihat address internetnya adalah ………. (tidak perlu saya sebutkan)
dan saya catat saja di dalam hati. Saya berjingkat masuk kamar dan
membaringkan tubuh. Tak lama saya dengar Tony kembali ke komputernya dan
saya kira ia sedang membersihkan sisa-sisa mani yang tadi ia muncratkan.
Kemudian saya dengar ia bermain game (kedengaran dari bunyi nya).
Lima belas menit kemudian saya pura-pura baru saja terbangun dan keluar dari
kamar. Sikap Tony tampak agak canggung tetapi saya kira ia yakin bahwa
kejadian tadi tidak saya ketahui. Saya sendiri bersikap seolah-olah tidak pernah
terjadi apa-apa.
Sejak saat itu saya merasa ada perubahan luar biasa pada diri saya. Sebelumnya
saya melakukan hubungan sex dengan suami hanyalah sebagai suatu hal yang
rutin saja. Kejadian Tony melakukan onani didepan computer membuat saya
menemukan sesuatu yang baru dalam hal soal sex. Sesuatu yang
menggairahkan, nafsu birahi yang menggelegak, tetapi sekaligus perasaan dosa,
karena ini dibangkitkan oleh kejadian yang dilakukan anak saya sendiri. Apa
yang dilakukan anak saya membuat saya shock, tetapi yang juga mengerikan
adalah justru anak saya sendiri membangkitkan nafsu birahi saya yang menyala-
nyala. Tony yang selalu saya anggap anak masih kecil dan tidak mungkin
berhubungan dengan hal hal yang berbau sex dan porno. Selalu terbayang di
mata saya wajah Tony dengan napas terengah engah dan muka tegang, kocokan
tangannya, batang kontol yang berwarna kemerahan sangat tegang dengan urat
yang menonjol. Air mani yang memuncrat-muncrat dari lubang kontolnya. Ya
Tuhan .. , KONTOL itu adalah milik anak saya.
Sejak kejadian itu saya sering terbayang penis Tony yang sedang memuncrat –
muncratkan air maninya. Penis yang kaku itu tidak berukuran besar, menurut
saya tidak terlalu panjang dan besar menurut usianya. Tetapi yang tidak dapat
saya lupakan adalah warnanya yang kemerahan dengan urat-urat hijau kebiruan
yang menonjol. Saat itu penis itu begitu tegang berdiri hampir menyentuh
perutnya. Jika mengingat dan membayangkan kejadian itu, birahi saya mendidih,
terasa ada cairan merembes keluar dari lubang kemaluan saya.
Hal lain yang memperparah keadaan adalah, sejak hari kejadian itu, saya mulai
berkenalan dengan dunia baru yang tidak pernah saya datangi sebelumnya.
Saya sudah biasa browsing di Yahoo ataupun yang lain. Tetapi sejak mengenal
“Cerita Dewasa” saya mulai mengarungi dunia lain di internet. Sehari
sesudah kejadian Tony onani, saya mulai membuka-buka situs “Cerita
Dewasa” Tentu saja itu saya lakukan pada saat tidak ada orang di rumah.
Pembantu saya, setelah melakukan tugas didalam rumah, biasanya selalu
mendekam dikamarnya. Tony belum pulang dari sekolahnya, sedangkan Suami
saya masih di kantornya. Saya hanya berdua dengan Sandy yang biasanya lebih
senang bermain di kamar tidur.
Saat itulah saya mulai mencoba-coba “Cerita Dewasa” Saya tidak
menyangka ada suatu situs internet menyajikan cerita dan gambar pornografi
yang seperti itu. Saya membuka – buka gambar wanita-wanita telanjang yang
tampak tidak malu-malu memperagakan bagian kewanitaannya yang
seharusnya ditutup rapat rapat. Mereka tampaknya menikmati apa yang mereka
lakukan dengan mempertontonkan bagian tubuhnya yang terlarang.
Pada hari itu saya mulai juga menemukan situs-situs lain yang lebih porno. Ada
sekitar 3 jam saya berpindah-pindah dan mempelajari dunia sexual penuh nafsu
yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Laki-laki dan perempuan
bersetubuh dengan berbagai macam cara yang tidak pernah saya bayangkan
sebelumnya dan yang tidak pernah saya praktekkan sebelumnya dengan suami.
Ada perempuan yang menghisap penis berukuran sangat besar (kelihatannya
lebih besar dari penis suami saya) hingga penis itu memuntahkan air maninya.
Astaga, perempuan itu membiarkan mani itu muncrat sampai membasahi
wajahnya, berleleran, dan bahkan meminumnya tanpa ada rasa jijik.
Sejak saat itu setiap hari saya menjelajahi internet. Saya mempelajari semua
bentuk sex yang ada di situs-situs itu. Penis orang negro yang hitam legam dan
panjang agak mengerikan bagi saya, tetapi juga membangkitkan birahi saya.
Membayangkan penis hitam panjang itu menembus kemaluan wanita, panas
dingin saya membayangkannya. Yang betul-betul baru buat saya adalah anal-
sex. Saya meraba-raba dubur saya dan berpikir apakah tidak menyakitkan.
Tetapi wanita-wanita dengan lubang dubur yang menganga dan tertembus penis
itu tampaknya terlihat nikmat nikmat saja.
Tetapi yang paling membangkitkan birahi saya adalah persetubuhan orang
Jepang. Mungkin karena mereka sama-sama orang Asia, jadi tampak lebih real
dibandingkan dengan wanita kulit putih. Dan mungkin ada kesan surprise juga
bagi saya, bahwa orang-orang Jepang yang tampak sopan itu dapat begitu
bernafsu di dalam sex. Saya memang bukan orang keturunan Chinese, tetapi
kulit saya cukup putih untuk ukuran orang Indonesia. Jadi saya melihat semacam
ada kesamaan antara diri saya dengan wanita Jepang itu walau tentunya kulit
saya tidak seputih mereka. Yang agak surprise adalah rambut kemaluan wanita
wanita Jepang yang cenderung hitam lebat, tidak dicukur seperti kebanyakan
orang kulit putih. Wanita Jepang juga memiliki kulit kemaluan, bibir-bibir memek
yang berwarna gelap kecoklatan, mirip seperti kemaluan saya sendiri (Ya Allah,
saya sampai menuliskan hal-hal seperti ini, ampun ya Allah).
Saya juga mendapatkan suatu situs (kalau tidak salah dari ……..com) di mana
wanita-wanita muda Jepang mengisap penis hingga muncrat dan air mani yang
sangat banyak berleleran di mukanya yang berkulit putih. Saya selalu panas
dingin melihat itu, dan tanpa sadar saya membayangkan lagi penis kecil Tony
yang tegang dan memuncratkan air maninya.
Kehidupan sex internet yang paling memabukkan saya adalah cerita-cerita nafsu
di “Cerita Dewasa” dan melebihi segala suguhan gambar sex yang ada.
Saya sangat terangsang membaca cerita-cerita menakjubkan itu. Tidak saya
sangka bahwa kehidupan sex orang-orang Indonesia dapat seliar dan juga
seindah itu. Yang paling merangsang dan membuat saya agak histeris adalah
cerita sex antara orang yang masih sedarah, seperti antara tante dengan
keponakan, antara sepupu, saudara ipar, atau malah antara anak dan mertua.
Mungkin ini karena perasaan saya terhadap Tony anak saya. Di situs lain, saya
pernah membaca cerita sexual antara anak dengan ibunya. Saya sampai
menangis membaca cerita itu, tetapi juga sekaligus merasakan birahi yang luar
biasa. Ini tidak berarti bahwa saya berniat menyetubuhi anak saya sendiri, saya
takut atas dosanya. Namun tidak dapat saya pungkiri, bahwa saya terkadang
membayangkan kontol Tony yang sangat kaku itu masuk ke dalam memek saya.
Saya selalu mohon ampun di tiap doa dan sembahyang, tetapi pada saat sama
saya juga tak berdaya. Saya mulai membayangkan laki-laki dari keluarga dekat
saya, ipar-ipar saya. Saya kira kejadian berikutnya yang akan saya ceritakan
adalah takdir yang tidak dapat saya hindarkan. Saya begitu lemah dari godaan
setan dan sangat menikmati apa yang saya perbuat.
Kejadian itu adalah pada sore hari sekitar jam setengah empat, beberapa
minggu setelah kejadian saya memergoki Tony beronani, kalau tidak salah dua
atau tiga hari menjelang bulan puasa Ramadhan. Saya baru saja selesai Ashar.
Sebelumnya saya baru menutup internet, membaca cerita-cerita di “Cerita
Dewasa” Dengan shalat saya merasa agak tenang. Pada saat shalat itu akan
selesai, saya mendengar ada ketukan pintu, ada tamu. Apa boleh buat, si tamu
harus menunggu saya selesai.
Sesudah selesai shalat saya intip dari dalam, ternyata dia adalah Budi. Ia adalah
suami dari ipar (adik suami) saya. Saya sangat dekat dengan Dian, istri Budi.
Saya juga mempunyai hubungan baik dengan Budi. Ia berumur kira-kira 36
tahun, berwajah tampan dengan kulit putih dan kuakui lebih tampan dari suami
saya. Perawakannya tidak tinggi, hanya sekitar 164 cm, hampir sama dengan
tinggi saya. Dia bekerja di instansi yang sama dengan suami saya (mungkin hasil
kkn ya ?)
Melihat Budi di luar saya jadi agak terburu-buru. Biasanya saya menemui orang
yang bukan suami dan anak (atau wanita) selalu dengan mengenakan pakaian
wanita rapi dan tertutup rapat. Karena terburu-buru dan tanpa saya sadari, saya
hanya mengenakan baju tidur berkain halus warna putih sebatas lutut berlengan
pendek dengan kancing-kancing di depan. Untung saya masih sempat
mengenakan secarik kain selendang warna hitam untuk menutup kepala, bukan
jilbab, tetapi seperti selendang tradisional yang diselempangkan di kepala hanya
untuk menutup rambut. Leher saya terbuka dan telinga saya terlihat jelas. Apa
boleh buat saya tidak dapat membiarkan Budi menunggu saya didepan rumah
terlalu lama.
Saya membuka pintu. Budi tersenyum melihat saya walaupun saya tahu dia
agak heran melihat saya tidak berpakaian seperti biasanya.
“Apa kabar kak Win”, sapanya, “Saya membawakan titipan pakaian
dari Dian, untuk Sandy “.
“Eh, ayo masuk Bud, baru dari kantor ya ?”, dan saya persilakan dia
masuk.
Saya lalu mengambil barang yang dibawa Budi dan meletakkannya di meja
makan. Meja makan terletak di ruang tengah tidak jauh dari meja komputer.
Ruang tengah berhubungan langsung tanpa pembatas dengan ruang tamu di
bagian depan dan dapur di bagian kiri. Dapur dapat terlihat jelas dari ruang
tamu.
Sambil duduk di sofa ruang tamu, Budi mengatakan “Saya tadi ketemu kak
Kamal di kantor katanya baru pulang jam enam nanti”. Kamal adalah suami
saya. “Mana anak-anak, Win ?”, kata Budi lagi.
“Tony sedang main ke rumah teman dari siang tadi dan katanya mungkin
baru pulang agak malam” kata saya. Tiba-tiba saya menyadari bahwa kami
hanya berdua saja. Terus terang, Budi dan Dian adalah kerabat yang paling saya
sukai karena perangai mereka berdua yang sopan dan terbuka.
Saya duduk di sofa di seberang agak ke samping dari kursi sofa yang diduduki
Budi. Pada saat saya mulai duduk saya baru menyadari agak sulit untuk duduk
dengan rapi dan tertutup dengan pakaian yang saya kenakan. Posisi alas duduk
sofa cukup rendah sehingga pada saat duduk lutut terasa tinggi dibandingkan
dengan pantat. Jadi bagian bawah paha saya agak terangkat sedikit dan agak
sulit tertutup sempurna dengan pakaian seperti yang saya kenakan dan pada
saat duduk ujung pakaian tertarik sedikit ke atas lutut. Budi tampak agak
terkesiap melihat saya. Sekilas ia melirik ke lutut dan paha saya yang memang
putih dan tidak pernah kena sinar matahari (saya selalu berpakaian muslim ke
luar rumah). Saya agak malu dan canggung (saya kira Budi juga tampak agak
canggung). Tetapi kami sudah bukan remaja lagi dan dapat menguasai diri.
“Apa kabar Dian, Bud”, tanya saya.
“Dian beberapa hari ini kurang sehat, kira-kira sudah semingguan lah”,
kata Budi.
“Bagaimana Tony, Win ?, apa enggak ada pelajaran yang tertinggal ?”,
Budi balik bertanya.
“Yah, si Tony sudah mulai oke koq dengan pelajarannya. Mudah-mudahan
saja sih prestasinya terus-terusan bagus”, saya jawab.
Tiba-tiba Budi bilang ” Wah, kayak-kayaknya Tony semakin getol main
komputernya yah Win, kan sudah hampir SMA”. Deg perasaan saya, semua
pengalaman internet jadi terbayang kembali. Terutama terbayang pada Tony
saat ia beronani di depan komputernya.
“Eh, kenapa kak Win, koq kaya seperti orang bingung sih ?”, Budi melihat
perubahan sikap saya.
“Ah, tidak apa-apa kok. Tapi si Tony memang sering sekali main
komputer.” kata saya. Saya mendadak merasakan keberduaan yang
mendalam di ruangan itu. Saya merasa semakin canggung dan ada perasaan
berdebar. Untuk menghindar dari perasaan itu saya menawarkan minum pada
Budi, “Wah lupa, kamu mau minum apa Bud ?”.
“Kalau tidak merepotkan, saya minta kopi saja deh”, kata Budi. Saya tahu,
Budi memang paling suka minum kopi.
Saya bangkit berdiri dari sofa. Tanpa saya sengaja, paha dan kaki saya sedikit
terbuka pada saat saya bangun berdiri. Walaupun sekilas, saya melihat
pandangan mata Budi melirik lagi ke paha saya, dan tampak agak gugup.
Apakah dia sempat melihat bagian dalam paha saya, pikir saya di dalam hati.
“Tunggu sebentar ya..”, kata saya ke Budi. Sebelum membuat kopi untuk
Budi, saya ke kamar tidur dulu untuk menengok Sandy. Sambil menuju ke kamar
saya melirik sebentar ke arah Budi. Budi tampak tertunduk tetapi tampak ia
mencuri pandang ke arah saya.
Saya tersadar bahwa penampilan pakaian saya yang tidak biasanya telah
menarik perhatiannya. Terutama sekali mungkin karena posisi duduk saya tadi
yang sedikit menyingkap bagian bawah pakaian saya. Saya yang terbiasa
berpakaian muslim tertutup rapat, ternyata dengan pakaian seperti ini, yang
sebenarnya masih terbilang sopan, telah mengganggu dan menggugah
(sepertinya) perhatian Budi. Menyadari ini saya merasa berdebar-debar kembali,
dan tubuh saya terasa seperti dialiri perasaan hangat.
Anak saya Sandy masih tertidur nyenyak dengan damainya. Tanpa sengaja saya
melihat cermin lemari pakaian dan menyaksikan penampilan saya di kaca yang
membuat saya terkesiap. Ternyata pakaian yang saya kenakan tidak dapat
menyembunyikan pola pakaian dalam (bra dan celana dalam) yang saya
kenakan. Celana dalam yang saya pakai terbuat dari bahan (agak tipis) berwarna
putih sedangkan kutangnya berwarna hitam. Karena pakaian yang saya kenakan
berwarna putih dan terbuat dari bahan yang agak halus maka celana dalam dan
bh tadi tampak terbayang dari luar. Ya ampun ., saya tidak menyadari, dan
tentunya Budi dapat melihat dengan leluasa. Saya menjadi merasa agak jengah.
Tetapi entah mengapa ada perasaan lain yang muncul, saya merasa sexy dan
ada perasaan puas bahwa Budi memperhatikan penampilan saya yang sudah
cukup umur ini. Tubuh saya tampak masih ramping dengan kulit yang putih.
Kecuali bagian perut saya tampak ada sedikit berlemak. Budi yang saya anggap
sopan dan ramah itu ternyata memperhatikan tubuh dan penampilan saya yang
sebetulnya sudah tidak muda lagi. Saya merasa nakal dan tiba-tiba perasaan
birahi itu muncul sedikit demi sedikit. Bayang-bayang persetubuhan dan sex di
internet melingkupi saya. Oh., bagaimana ini.. Aduh ., birahi ini, apa yang harus
dilakukan.
Saya jadi tidak bisa berpikir lurus. Saya berusaha menenangkan diri tetapi tidak
berhasil. Akhirnya saya putuskan, saya akan melakukan sedikit permainan, dan
kita lihat saja apa nanti yang akan terjadi. Saya merasa jatuh ke dalam takdir.
Dengan dada berdebar, perasaan malu, perasaan nakal, dan tangan agak
gemetar, saya membuka kancing baju saya yang paling bawah. Bagian bawah
dari baju saya sekarang tersibak hingga 15 cm di atas lutut. Mungkin bukan
seberapa, tetapi bagi saya sudah lebih dari cukup untuk merasakan kenakalan
birahi. Satu lagi kancing baju yang paling atas saya buka sehingga bagian atas
yang mulai menggunduk dari susu saya mulai terlihat. Payudara saya tidak
besar, berukuran sedang-sedang saja. Sambil berdebar-debar saya keluar kamar
menuju dapur.
“Wah maaf ya Bud, agak lama, sekarang saya buat dulu kopinya.” kata
saya. Saya dapat merasakan Budi memandang saya dengan perhatian yang
lebih walaupun tetap sangat sopan. Ia tersenyum, tetapi lagi-lagi pandangannya
menyambar bagian bawah tubuh saya. Saya tahu bahwa untuk setiap langkah
saya, pakaian bawah saya tersibak, sehingga ia dapat melihat bagian paha saya
yang mulai sangat memutih, kira-kira 20 cm di atas lutut. Saya merasa sangat
sexy dan nakal, dibarengi dengan birahi. Saat itu saya tidak ingat lagi akan
suami dan anak. Pikiran saya sudah mulai diselimuti oleh nafsu berahi.
Saya berpikir untuk menggoda Budi. Saya membuka lemari dapur dan
membungkuk untuk mengambil tempat kopi dan gula. Saya sengaja
membungkukkan pinggang ke depan dengan menjaga kaki tetap lurus. Baju
saya bagian belakang tertarik ke atas sekitar 20 cm di atas lipatan lutut dan
celana dalam tercetak pada baju karena ketatnya. Saya dapat merasakan Budi
memandangi tubuh saya terutama pantat dan paha saya. Kepuasan melanda
saya yang dapat menarik perhatian Budi. Saya merasa Budi selalu melirik-lirik
saya ke dapur selama saya menyiapkan kopi.
Secangkir kopi yang masih panas saya bawa ke ruang tamu. Tepat di depan sofa
ada meja pendek untuk meletakkan penganan kecil atau pun minuman. Saya
berjongkok persis di seberang Budi untuk meletakkan kopi. Saya berjongkok
dengan satu lutut di lantai sehingga posisi kaki agak terbuka. Samar-samar saya
mendengar Budi mendesis. Sambil meletakkan kopi saya lirik dia, dan ternyata
ia mencuri pandang ke arah paha-paha saya. Saya yakin ia dapat melihat nyaris
ke pangkal paha saya yang tertutup celana dalam putih. Sambil berjongkok
seperti itu saya ajak dia ngobrol.
“Ayo di minum kopinya Bud, nanti keburu dingin”, kata saya.
“Oh, ya, ya, terima kasih”, kata Budi sambil mengambil kopi yang memang
masih panas, sambil kembali pandangannya menyambar ke arah bagian dalam
paha saya.
“Apa tidak berbahaya terlalu banyak minum kopi, nanti ginjalnya kena”,
tanya saya untuk mengisi pembicaraan.
“Memang sih, tetapi saya sudah kebiasaan”, kata Budi. Sekitar tiga
menitan saya ngobrol dengan Budi membicarakan masalah kopi, sambil tetap
menjaga posisi saya. Saya lihat Budi mulai gelisah dan mukanya agak pucat.
Apakah ia terangsang, tanya saya dalam hati.
Saya kemudian bangkit dan duduk di sofa di tempat semula saya duduk. Saya
duduk dengan menyilangkan kaki dan menumpangkan paha yang satu ke atas
paha yang lain. Saya melihat lagi Budi sekilas melirik ke bagian tubuh saya .
“Hemmhhh ..”, saya mendengar Budi menghela napas. Bagian bawah baju
saya tertarik jauh ke atas hingga setengah paha, dan saya yakin Budi dapat
melihat paha saya yang terangkat (di atas paha yang lain) hingga dekat ke
pantat saya.
Kami terdiam beberapa saat. Secara perlahan saya merasakan memek saya
mulai berdenyut. Suasana ini membuat saya mulai terangsang. Pandangan saya
tanpa terasa menyaksikan sesuatu yang mengguncang dada. Saya melihat mulai
ada tonjolan di celana Budi di bagian dekat pangkal paha. Dada saya berdebar-
debar dan darah terasa mendesir. Saya tidak sanggup mengalihkan pandangan
saya dari paha Budi. Astaga, tonjolan itu semakin nyata dan membesar hingga
tercetaklah bentuk seperti batang pipa. Oh., ukuran tonjolan itu membuat saya
mengejang. Saya merasa malu tetapi juga dicengkeram perasaan birahi. Muka
saya terasa memerah. Saya yakin Budi pasti menyaksikan saya memandangi
tonjolan kontolnya.
Untuk memecahkan suasana diam saya berusaha mencari omongan.
Sebelumnya saya agak menyandar pada sofa dan menurunkan kaki saya dari
kaki yang lain. Sekarang saya duduk biasa dengan paha sejajar agak terbuka.
Bagian bawah baju saya tertarik ke atas.
“Ehhheeehh”, terdengar desah Budi. Kini ia dapat melirik dan menyaksikan
dengan leluasa kedua belah paha saya hingga bagian atas. Sebagai seorang ibu
yang sudah beranak, paha saya cukup berisi dengan sedikit lemak dan berwarna
putih. Budi seolah tidak dapat mengalihkan pandangannya dari paha saya.
Ohhhh .., saya lihat tonjolan di celananya tampak berdenyut. Saya merasakan
nafsu yang menggejolak dan pumya keinginan untuk meremas tonjolan itu.
“Eh .. Bud, kenapa kamu? Kamu kok kayaknya pucat lho”, astaga suara
saya terdengar gemetar.
“Ah.., kak Win .., enggak … apa-apa kok”, suara Budi terputus-putus,
wajahnya agak tersipu, merah dan tampak pucat.
“Itu kok ada tonjolan, memangnya kamu kenapa?”, kata saya sambil
menggangukkan kepala ke tonjolan di celananya. Ahh, saya malu sekali waktu
mengucapkan itu, tapi nafsu saya mengalahkan semua pikiran normal.
“Ehh.., euuuh., oh yahh ., ini lho, penampilan kak WIN beda sekali dengan
biasanya” kata Budi jujur sambil terbata-bata. Saya paksakan diri untuk
mengatakan.
“Apa Budi tertarik . terangsang .. melihat kak Win?”.
“Ahh, saya nggak bisa bohong, penampilan kak Win .. eh . tidak biasanya.
Kak Win mesti sudah bisa lihat kalau saya terangsang. Kita kan sudah bukan
anak kecil lagi” kata Budi.
Tiba-tiba saja Budi berdiri dan duduk di sebelah saya.
“Kak Win, . eh saya mohon mohon maaf, tapi saya tidak sanggup menahan
perasaan. Kak Win jangan marah … ” begitu saja meluncur kata-kata itu dari
Budi. Ia mengucapkan dengan sangat perasaan dan sopan. Saya terlongong-
longong saja mendengar kata – katanya..
“Ahh .. Bud .”, hanya itu kata yang terucap dari mulut saya. Dengan
beraninya Budi mulai memegang tangan kanan saya dan mengusap-usapnya
dengan lembut. Diangkatnya tangan saya dan diciumi dengan lembut. Dan yang
menggairahkan saya, jari-jari tangan saya dijilat dan dihisapnya. Saya terbuai
dan terangsang oleh perbuatannya. Tiba-tiba saja diletakkannya tangan saya
tepat di atas kontolnya yang menonjol. Tangan saya terasa mengejang
menyentuh benda yang keras dan liat tersebut. Terasa kontol Budi bergerak-
gerak menggeliat akibat sentuhan dan remasan tangan saya.
“Eehhmm.” Budi mendesah. Tanpa terasa saya mulai meremas-remas
tonjolan itu, dan kontol batang Budi terasa semakin bergerak-gerak.
“Oooh kak Win, eeehhhmmm … ohhgg, nikmaat sekali .”, Budi
mengerang.
“Eeehhh . jangan terlalu keras kak meremasnya, ahh .. diusap-usap saja,
saya takut tidak kuat nahannya”, bisik Budi dengan suara gemetar.
Budi mulai membelai kepala saya dengan kedua tangannya. “Kak Win
lehernya putih sekali”, katanya lagi. Saya merasa senang mendengar
ucapannya. Dibelainya rambut saya dengan lembut sambil menatap muka saya.
Saya bergetar memandang tatapannya dan tidak mampu melawan
pandangannya. Budi mulai menciumi pipi saya. Dikecupnya kedua mata saya
mesra. Digesek-gesekkannya hidungnya ke hidung saya ke bibir saya berlama-
lama bergantian. Saat itu tidak hanya birahi yang melanda saya .. tetapi juga
perasaan sayang yang muncul.
Ditempelkannya bibirnya ke bibir saya dan digesek-gesekkan. Rasa geli dan
panas terasa menjalar merambat dari bibir saya ke seluruh tubuh dan bermuara
ke daerah selangkangan. Saya benar-benar terbuai. Saya tidak lagi mengusap-
usap kontolnya dari balik celana, tetapi kedua lengan saya sudah melingkari
lehernya tanpa sadar. Mata saya terpejam erat-erat menikmati cumbuannya.
Tiba-tiba terasa lidahnya menerobos masuk mulut saya dan dijulurkannya
menyentuh ujung lidah saya. Dijilatinya lidah saya dengan lidahnya.
“Eenggghh ..” Tanpa sadar saya menjulurkan lidah saya juga. Kini kami
saling menjilat dan napas saya tersengal-sengal menikmati kelezatan
rangsangan pada mulut saya. Air ludah saya yang mengalir dijilati oleh Budi.
Seperti orang kehausan, ia menjilati lidah dan daerah bibir saya.
“Aaauungghh .. ooohhhh…”, saya mulai mengerang-erang. Napas Budi
juga terdengar memburu, “Heeeghh… hhnghh”, ia mulai mendesah-
desah. Muka kami sekarang berlepotan ludah, bau ludah tercium tetapi sangat
saya nikmati. Dikenyot-kenyotnya lidah saya kini sambil menjelajahkan lidahnya
di rongga mulut saya. Saya membuka mulut saya selebar-lebarnya untuk
memudahkan Budi. Sekali-kali ia menghirup cairan ludah saya. Saya tidak
menyangka, laki-laki yang sehari-hari tampak sopan ini sangat menggila di
dalam sex. Dijilat-jilatnya juga leher saya. Sekali-kali leher saya digigit-gigit.
Ohhh .., alangkah nikmatnya, saya sangat menikmati yang ia lakukan pada saya.
Tiba-tiba Budi menghentikan aktivitasnya, “Kak Win, pakaiannya saya buka
yaahh”. Tanpa menunggu jawaban saya, ia mulai membuka kancing-kancing
baju dari atas hingga ke bawah. Dilepaskannya baju saya. Sekarang saya
tergolek bersandar di sofa hanya dengan BH dan celana dalam saja beralaskan
baju yang sudah terlepas.
“Indah sekali badan kak Win. Putih sekali”, katanya. Diusap-usapnya perut
saya.
“Ahh, kak Win sudah tua dan tidak langsing lagi kok Bud”, kata saya agak
sedikit malu, karena perut saya sudah agak gemuk dan mulai membusung
dengan adanya lemak-lemak. Tetapi Budi tampak tidak perduli. Diciumnya
lembut perut saya dan dijilatnya sedikit pusar saya. Rasa geli dan nikmat
menjalar dari pusar dan kembali bermuara di daerah kemaluan saya.
Budi mengalihkan perhatiannya ke susu saya. Diusap-usapnya susu saya dari
balik BH. Perasaan geli tetapi nyaman terasa pada susu saya. Tanpa diminta
saya buka BH saya. Kini kedua susu saya terpampang tanpa penutup. Bayu
memandangi kedua gundukan di dada saya dengan muka serius. Susu saya
tidaklah besar dan kini sudah agak menggantung dengan pentil berwarna coklat
muda. Kemudian ia mulai membelai-belai kedua susu saya. Merinding nikmat
terasa susu saya. Semakin lama belaiannya berubah menjadi pijitan-pijitan
penuh nafsu. Kenikmatan terasa menerjang kedua susu saya. Saya mengerang-
erang menahan rasa nikmat ini. Kini dijilatinya pentil susu yang sebelah kanan.
Tidak puas dengan itu dikenyotnya pentil tadi dalam-dalam sambil meremas-
remas susu. Saya tidak dapat menahan nikmat dan tanpa terasa tubuh saya
menggeliat-geliat liar. Cairan terasa merembes keluar memek saya dan
membasahi celana dalam yang saya kenakan. Kini Budi berpindah ke susu dan
pentil saya yang sebelah kiri dan melakukan hal yang sama. Dikenyutnya pentil
saya sambil digigit-gigit, dan diremas-remasnya pula kedua susu saya. Perasaan
nikmat membakar susu saya dan semakin lama rasa nikmat itu menjalar ke
lubang memek saya. Memek saya terasa basah kuyup oleh cairan yang keluar.
Saya mengerang-erang dan mengaduh-aduh menahan nikmat, “Oooohh
Buuuud..”.
Tangan Budi sekarang menjalar ke bagian celana dalam saya. “Ahhh, kak
Win celananya sudah basah sekali”, kata Budi. “Enghh, iya Buud.., kak Win
sudah sangat terangsang, ooohhh, nikmat sekali”, kata saya. Tepat di bagian
depan memek saya, jari-jarinya membelai-belai bibir memek melalui celana
dalam. Rasa geli bercampur nimat yang luar biasa menerjang memek saya. Saya
tidak dapat menahan rasa nikmat ini, dan mengerang -erang.
Kemudian Budi menarik dan melepas celana saya. Kini saya tergeletak
menyandar di sofa tanpa busana sama sekali.
“Ohh, indah sekali”, kata Budi. Diusap-usapnya rambut jembut saya yang
hitam lebat.
“Lebat sekali kak, sangat merangsang”, kata Budi. Dibukanya kedua belah
paha saya, dan didorong hingga lutut saya menempel di perut dan dada. Bibir-
bibir memek saya kini terbuka lebar dan dapat saya rasakan lubang memek saya
terbuka. Saya merasa ada cairan merembes keluar dari dalam lubang memek.
Saya sudah sangat terangsang. Tiba-tiba saja Budi berlutut di lantai dan ohhhhh,
diciumnya memek saya.
“Ahh, jangan Bud, malu…, di situ kan bau”, kata saya kagok.
“Bau nikmat kak”, kata Budi tidak perduli. Dijilatinya memek saya.
Perasaan nikmat menyerbu daerah selangkangan saya. Saya tidak dapat berkata
apa-apa lagi dan hanya menikmati yang dia lakukan. Dijilatinya kelentit saya,
dan sekali-sekali dijulurkannya lidahnya masuk ke lubang memek yang sudah
sangat basah itu. Ujung lidah Budi keluar masuk lubang kenikmatan saya,
kemudian berpindah ke kelentit, terus berganti-ganti. Tangan Budi meremas-
remas susu saya dengan bernafsu. Slerp, slerp .., bunyi lidah dan mulutnya di
memek saya. Kenikmatan semakin memuncak di memek saya, dan terasa
menembus masuk hingga ke perut dan otak saya. Saya tidak mampu lagi
menahannya. Kedua kaki saya mengejang-ngejang, saya menjepit kepala Budi
dengan tangan dan saya tarik sekuat-kuatnya ke memek saya. Saya gosok-
gosokkan mukanya ke memek saya. “Oooh, Buuud, kak Win keluar,
ooooohhh …, nikmat sekali, oohhhh” saya menjerit dan mengerang tanpa
saya tahan lagi.
Rasa nikmat yang tajam seolah menusuk-nusuk memek dan menjalar ke seluruh
tubuh. Terpaan nikmat itu melanda, dan tubuh saya terasa mengejang beberapa
saat. Sesudah kenikmatan itu lewat, tubuh saya terasa lemah tetapi lega dan
ringan. Kaki saya terjuntai lemah. Budi sudah berdiri. Ia kini melepas seluruh
bajunya. Celana panjang dipelorotkannya ke bawah dan dilepas bersama dengan
celana dalamnya.
Oohhhhh, tampak pemandangan yang luar biasa. Budi ternyata memiliki kontol
yang besar, tidak sesuai dengan badannya yang sedang-sedang ukurannya.
Kontol itu berwarna coklat kemerahan. Suami saya bertubuh lebih besar dari
Budi, tetapi kontol Budi ternyata luar biasa. Astaga, ia mengocok-kocok kontol
itu yang berdiri kaku dan terlihat mengkedut – kedut. Kepala kontolnya tampak
basah karena cairan dari lubang kencingnya. Tanpa saya sadari, tangan saya
menjulur maju dan membelai kontol itu. Ogghhh besarnya, dan alangkah
kerasnya. Saya remas kepalanya, oohhhh .. Keras sekali, saya peras-peras
kepalanya. Budi mengejang-ngejang dan keluar cairan bening menetes-netes
dari lubang di kepala kontolnya.
“Ahhhhh, jangan kak Win, saya nggak tahan, nanti saya muncrat keluar”,
bisiknya sambil mengerang.
“Saya mau keluarkan di dalam memek kak Win saja, boleh yahhh Kak ?”,
kata Budi lagi.
“Ahh, iya, Buud .., cepetan masukin ke memek kak Win, ayoohh”, kata
saya. Kontol yang keras itu saya tarik dan tempelkan persis di depan lubang
memek saya yang basah kuyup oleh cairan memek dan ludah Budi. Tidak sabar
saya rangkul pantat Budi, saya jepit pula dengan kedua kaki saya, dan saya
paksa tekan pinggulnya. Ahhhhh, lubang memek saya terasa terdesak oleh
benda yang sangat besar, ohhhh dinding-dinding memek saya terasa meregang.
Kenikmatan mendera memek saya kembali. Kontol itu terus masuk menembus
sedalam-dalamnya. Dasar lubang memek saya sudah tercapai, tetapi kontol itu
masih lebih panjang lagi. Belum pernah saya merasakan sensasi kenikmatan
seperti ini. Saya hanya tergolek menikmati kebesaran kontol itu. Budi mulai
meremas-remas susu saya dengan kedua tangannya. Tiba-tiba kontol itu
mengenjot memek saya keluar masuk dengan cepatnya. Saya tidak mampu
menahannya lagi, orgasme kembali melanda, sementara kontol itu tetap keluar
masuk dipompa dengan cepat dan bertenaga oleh Budi.
“Aduuuhh, Buud, nikmat sekali.., aku nggak kuat lagi ..”. Saya merengek-
rengek karena nikmatnya.
“Hheehhhheh, sebentar lagi saya keluaaaar kaak ..”, kata Budi.
Kocokannya semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba terasa tubuhnya menegang.
“Ahhhuuuggh, saya keluar kaaaak .”, erang Budi tertahan-tahan. Kontol
Budi terbernam sedalam-dalamnya. Crut .. cruutt . crutt, saya merasakan ada
cairan hangat menyemprot jauh di dalam memek saya seolah tanpa henti. Budi
memeluk saya erat-erat sambil menyemprotkan cairan maninya didalam
memekku. Mukanya tampak menegang menahan kenikmatan. Ada sekitar satu
menit ia meregang nikmat sambil memeluk saya.
Sesudah itu Budi menghela napas panjang. “Saya tidak tahu apakah saya
menyesal atau tidak, … tapi yang tadi sangat nikmat. Terima kasih kak Win”.
Diciuminya muka saya. Saya tidak dapat berkata apa-apa. Air mata saya
menetes keluar. Saya sangat menyesali yang telah terjadi, tetapi saya juga
menikmatinya sangat mendalam. Saat itu saya juga merasakan penyesalan
Budi. Saya tahu ia sangat menyayangi Dian istrinya. Tetapi nasi sudah menjadi
bubur.
Sejak kejadian itu, kami hanya pernah mengulangi berzina satu kali. Itu kami
lakukan kira-kira di minggu ketiga bulan puasa, pada malam hari. Yang kedua itu
kami melakukannya juga dengan menggebu-gebu. Sejak itu kami tidak pernah
melakukannya lagi hingga kini. Kami masih sering bertemu, dan berpandangan
penuh arti. Tetapi kami tidak pernah sungguh-sungguh untuk mencari
kesempatan melakukannya. Budi sangat sibuk dan saya harus mengurusi Ilham
yang masih kecil.
Saya masih terus didera nafsu sex setiap hari. Saya masih terus bermain dengan
internet dan menjelajahi dunia sex internet. Saya terus berusaha menekan
birahi, tetapi saya merasa tidak mampu. Mungkin suatu saat saya nanti saya
akan melakukannya lagi dengan Budi, dengan segala dosa yang menyertai.
Garap kakak, garap adik
Posted by admin on June 5, 2008 – 6:19 am
Filed under Cerita Dewasa

Cerita 17tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us

Ini adalah cerita sesungguhnya tapi nama-nama dalam tokoh ini hanya samaran
belaka. Bermula dari keluguan saya mengenai wanita dan saya beberapa kali
dipermainkan dalam bercinta , timbul dihati untuk membalas sakit hati. Setelah
itu saya berfikiran memacari cewek hanya untuk mencari kesenangan dan sex.
Sudah beberapa cewek yang menjadi korban, walaupun saya bukan orang yang
ganteng sekali dan juga bukan anak orang kaya tapi cewek-cewek yang berhasil
saya gaet bukan orang sembarangan, selain cewek yang cantik juga kaya dan
mempunyai orang tua yang terpandang. Dan sudah menjadi syarat cewek yang
menjadi pacar saya harus sudah pernah tidur dengan saya paling lambat 1 bulan
setelah resmi pacaran.
Dari sekian banyak cewek koleksi saya hanya ada satu yang paling menarik
perhatian, yaitu Ika, dia berusia 1 tahun dibawah saya dan satu kampus dengan
saya. Ika mempunyai body bagus sekali, orangnya putih dan rambutnya hitam
sepundak. Walau baru kenal seminggu kami sudah resmi berpacaran, saat itu
saya kos didekat kampus dan Ika tinggal di Bogor. Saya sengaja cari tempat kos
yang bebas untuk menerima tamu wanita untuk masuk. Pertama kali saya
mencium Ika pada saat saya menyatakan cinta dan Ika menerima, sebagai
kebahagiannya dia yang mencium saya pertamakali dan saya membalasnya
dengan mesra. Setelah pulang dari kampus Ika selalu mampir ke tempat kos dan
kami hanya berciuman saja sampai puas, tapi setelah seminggu saya berniat
mengembangkan permainan, saat berciuman saya mulai meraba-raba toketnya,
awalnya dia menepiskan tangan saya, katanya dia belum pernah toketnya
dipegang cowok. Sementara saya mengalah dengan memindahkan tangan saya
dari dadanya, tapi beberapa saat kemudian saya bikin dia betul-2 terangsang
dengan ciuman dibibir dan dilehernya dan saya mencoba lagi untuk menjamah
toketnya dan kali ini saya berhasil meremas-remas malah sekarang dia yang
membantu saya untuk meremasnya kuat-kuat sambil mengerang keenakan .
Katanya dia sekarang betul terangsang, segera saja saya buka kemejanya
sambil terus menciumnya di bibir terus keleher dan sampai ke dada, saya buka
juga BH nya ternyata Ika mempunyai toket yang betul-2 indah dan sepertinya
belum pernah ada yang menjamahnya. Lalu saya cium pentilnya yang masih
kecil dan coklat itu, dia mulai mengerang lagi dan kali ini lebih keras lagi.
Ahhhh ..aaaaahhhh . Bennnn . Enak sekali .. terus Benn jangan berhenti .ini enak
sekali . Ternyata Ika sangat terangsang sekali, sambil terus menjilati putingnya,
tangan saya terus menjalar kecelana jinsnya dan saya buka ikat pinggangnya,
sepertinya Ika sudah tidak perduli lagi mau diapakan dia. Saya terus menciumi
dadanya sampai terus turun ke perut, dia semakin mengerang kegelian sambil
tangan saya membuka celana dan sekarang dia sudah betul-2 telanjang, saya
sempat diam beberapa saat karena terpesona, Ika mempunya body yang bagus
sekali dan kulit yang putih bersih serta bulu-bulu mem*k yang halus dan sedikit.
Terus saya menciumi lagi bagian perutnya hingga turun sampai ke selangkangan
dan lidah saya mulai menjilati bulu mem*knya, tapi Ika masih merapatkan
selangkangannya sambil memandang saya ragu, saya terus berusaha untuk
membuka selangkangannya perlahan-lahan. Saya bilang kedia “Kamu enggak
usah takut .setiap orang pacaran pasti melakukan kaya gini.” Kata saya sambil
merayu.ternyata berhasil Ika mulai merenggangkan selangkangannya dan
tampaklah mem*k yang indah dan merah basah serta masih rapat sekali, saya
mulai menciumi itilnya, bau khas mem*k semakin membuat saya bergairah
menjilati. Sambil terus mengerang kakinya mengejang saat saya jilat itilnya,
terus berulang-ulang sampai memakin memburu suara eranggannya.
Aaahhh.ahhh..Benn rasanya saya enggak …kuat lagi .aahhhh..Lalu kakinya
mengejang keras dan ahhhh…. Ika ternyata sudah mencapai puncaknya, sengaja
saya biarkan dia mencapai puncaknya dulu.
Sambil mengatur nafas yang terengah-engah Ika memeluk saya dengan
kerasnya. Ben saya belum pernah mengalami hal seperti ini, katanya. Tapi saya
terus langsung mencium bibirnya lagi dengan lembut. kont*l saya yang dari tadi
sudah mengeras semakin gatal saja, sambil mencium bibirnya saya buka kemeja
dan celana, sekarang kami sudah sama-sama tidak mengenakan apa-apa lagi.
Saya lalu meremas-2 toketnya yang sekarang sudah mulai mengeras lagi sambil
saya bimbing tanganya untuk memegang kont*l saya. Ika mulai mengocok-
ngocok kont*l saya, semakin gatal saja rasanya. Lalu saya bilang ” Ika saya
masukin yaaa ini saya ke itu kamu”.”Tapi Ben .Ika masih takut “.”Enggak usah
takut nanti kalau kenapa-kenapa saya akan tanggung jawab .”. Lalu Ika diam
sambil memeluk saya, saya pegang lagi mem*knya ternyata sudah basah, dan
terus mengarahkan kont*l saya ke lobang mem*knya. Begitu sampai di bibir
mem*k saya menggoyang kepala kont*l biar kena lendir yang keluar dari mem*k
supaya gampang masuknya. Saya mulai mendorong masuk kepala kont*l
kedalam mem*k, Ika memejamkan mata sambil menggigit bibirnya menahan
sakit, mem*knya masih sempit sekali sehingga saya pun susah memasukkannya,
tapi sedikit demi sedikit mulai masuk kepala kont*l saya kedalam mem*knya Ika.
Pelukkannya semakin kencang.”Bennn ahhh…sakit sekali.”.”Enggak apa-apa
pelan-pelan saja.. nanti kalu sudah masuk pasti enggak sakit lagi..”kataku.
Kepala kont*lku terus sedikit demi sedikit saya dorong keluar masuk, walau baru
kepala kont*lku yang masuk saya merasa ada sesuatu yang mengganjal kepala
kont*l untuk masuk, saya yakin pasti itu selaput dara yang masih utuh dan
keras. Lalu dengan sedikit dorongan lagi akhirnya kont*lku masuk ke dalam
mem*knya. Ika lebih mengencangkan pelukannya sambil menangis,”Ben …kamu
sekarang sudah memiliki saya sepenuhnya”.”Ya”, kataku. Sepertinya rasa
nyerinya sudah mulai hilang, saya mulai menarik keluar masuk kont*l di dalam
mem*knya Ika, rasanya enak sekali, dan Ika pun mulai menggoyangkan
pantatnya terus menerus.
Sampai lebih dari 10 menit Ika mulai mengerang keras lagi “Ben ….kayanya saya
mau keluar lagi …”.”Sama ….Ka…saya juga udah mau ….mau…mau….ahhhh ”
Belum sempat berkata lagi Ika sudah kejang sambil memejamkan mata dan saya
merasa mem*knya sudah banjir didalam, saya sendiri juga menambah cepat
gerakan, dan akhirnya saya juga sampai.”Aaahhhh….Ka….saya juga sudah
..sampai” Crott …crott…crott..air mani saya keluarkan didalam mem*knya Ika.
Lemas rasanya…. masih posisi menindih Ika, kami berpelukan dan kont*l saya
masih tetap berada didalam mem*knya Ika.
Semenjak itu kami sering sekali melakukannya, dan semakin hari Ika semakin
pandai sekali melakukannya. Belum pernah bosan saya sama cewek satu ini,
kalau dengan cewek lain saya pacaran hanya beberapa bulan, tapi dengan Ika
sekarang sudah berjalan 4 tahun.
Terus terang saja kalau yang namanya ngent*t saya memang paling gila, enggak
pandang siang – malam, dimana saja kalau sudah bertemu Ika saya pasti minta
dilayaninya dan Ika juga enggak pernah mengecewakan saya. Sekarang saya
dan Ika sudah bertunangan, masing-2 keluarga sudah saling mengenal. Ika anak
pertama dan adiknya juga cewek namanya Julie, Julie sudah menganggap saya
sebagai kakak, sehingga dia dekat sekali dengan saya. Sekarang Julie kelas 3
SMU tapi dia belum punya pacar karena enggak boleh pacaran dulu sebelum
kakaknya menikah.
Beberapa bulan yang lalu saya melakukan yang biasa saya lakukan sama Ika
tapi kali ini Julie adiknya Ika. Saya juga enggak tahu kenapa bisa sampai
melakukannya sama Julie. Ceritanya begini…Beberapa bulan kemarin Julie
beberapa kali bolos sekolah sehingga dia mendapat surat dari guru untuk
dikasihkan keorang tua , dia sangat takut sekali kalau sampai dimarahi,
kebetulan saya lagi datang kerumah Ika tapi ternyata Ika tidak ada karena
sedang kekampus hanya ada Ibunya saja yang berada dirumah , Begitu Jullie
sampai dirumah langsung surat dari guru diberikan keibunya . Marah sekali
Ibunya begitu membaca surat tersebut. Julie menangis dikursi ruang tamu tanpa
bisa berbuat apa-apa. Karena terlalu kesal akhirnya ibunya pergi yang kebetulan
mau pergi arisan. Sambil terisak-2 Julie saya nasehatkan supaya tidak membolos
lagi, dia terharu sekali sampai akhirnya dia memeluk saya dan saya bun
membelai rabutnya dengan sayang seperti kakak dan adiknya, tapi enggak tahu
kenapa begitu memeluk Julie tiba-2 burungku jadi mengeras dan berhasrat sekali
untuk melakukan sesuatu, sambil memeluk saya cium pipinya terus sampai
kebibir, yang tadinya menangis terisak-2 sekarang mulai berhenti dan sepertinya
malah menikmati ciuman saya. Saya yakin Julie memang belum pernah punya
pacar apalagi dicium cowok. Terus saya cium dia sambil memainkan lidah, dia
semakin terangsang dan memejamkan matanya, sementara tangan saya
membuka kancing baju seragamnya, ohhhh….indahnya toketnya masih sangar
segar .saya mulai mencium pentil toketnya dan terdengan bunyi erangannya
aaahh….aaahhhhh.. Kak jangan Teruskan…..kasihan kak Ika ….katanya sambil
gemetar, tapi saya sudah tidak memperdulikan lagi omongannya , saya tetap
terus menjilati pentil toketnya kiri dan kanan bergantian, erangannya semakin
bertambah keras . Kak…geli aaahhhh .. aaaahhhh . Sambil ikut memegang
toketnya sendiri dia menggoyang-2kan. Tangan saya terus pindah dari dada ke
pahanya, karena memakai rok sekolah jadi saya bebas meraba semua bagian
pahanya yang putih. Saya terus mengisep toketnya sambil tangan kanan
menyibakkan roknya , begitu saya pegang celana dalamnya sudah basah, terus
saya masukkan tangan kedalam celana dalamnya.. Kak ..jangan kak …. aaahhhh
…. walaupun dia takut tapi sepertinya tidak kuasa untuk menahan rangsangan
yang hebat. Akhirnya saya buka juga CD nya sehingga kelihatan bulu-bulu
jembutnya yang hitam justru lebih banyak dari kakaknya Ika. Tangan kanan saya
mulai menggesek-gesekkan ke itilnya , Julie semakin berteriak keenakan, saya
lepaskan pelukannya dan pindah kebagian bawah, terus saya cium mem*knya
yang merah dan bau yang enak sekali, lidah saya mulai menjilati itilnya dan
kakinya mengejang setiap kali lidah saya menyentuh itilnya sambil
mengerang ..kak enak kak….terusin kak..enak.. Sampai beberapa menit saya
terus menjilati itilnya keringetnya mulai keluar saya tahu pasti engga lama lagi
mau sampai puncaknya makanya saya juga enggak mau nunda-2 waktu takut
ketahuan, saya buka celana saya terus mengeluarkan kont*l yang dari tadi udah
keras langsung aja saya masukkin kemem*knya hanya dengan sekali dorongan
langsung masuk semua bersamaan dengan itu Julie merintih kesakitan….. Kak
sakit sekali .. . Kak …. Aduhhhh .. sakit langsung air matanya meleleh…Sudah
sebentar lagi juga enggak sakit kok bujukku….. lalu saya teruskan menggoyang
pantat mendorong keluar masuk kont*lku di mem*k yang sempit ini, rasany ada
yang mijit-2 didalam mem*k….kak …Julie udah mau ngeluarin nih ahhhh
.aahhahh, langsung kakinya mengejang dan mengencangan pelukan itu
tandanya dia sudah sampai puncaknya, tapi saya belum…masih tanggung, saya
mempercepat gerakan sampai akhirnya saya juga seperti sudah mau
mengeluarkan..aahhh…..aahhhh…..aahhhh crot….crot…..crot…..akhirnya saya
mengeluarkan juga didalam mem*knya Julie . keringat sudah bercucuran
membasahi kaos ..Langsung saya minta Julie buru-buru membersihkan
mem*knya jangan sampai ada air mani saya yang ketinggalan, buru-buru Julie ke
kamar mandi, begitu dia bangun dari sofa tempat bercinta tadi saya lihat ada
noda darah pasti itu darah perawan Julie calon adik iparku. Setelah
memebersihkan darah disofa saya terus tidur di sofa itu seolah tidah pernah
terjadi apa-apa. Beberapa jam kemudian Ika pacarku pulang dari kampus dan
membangunkan ku dengan ciuman yang mesra……
Sampai sekarang ini menjadi rahasia saya berdua dengan Julie karena dia tidak
mau hubungan saya dengan kakaknya hancur.