Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan jumlah penduduk Indonesia setelah kemerdekaan
terjadi sangat cepat. Penduduk Indonesia yang diawal kemerdekaan (pada
tahun lima puluh) hanya 60 juta jiwa terlah berkembang menjadi lebih dari
150 juta jiwa pada tahun delapan puluh (Utomo, 1989). Sejalan dengan
pertambahan penduduk terjadilah peningkatan kebutuhan hidup, baik secara
kuantitas maupun kualitas. Sedangkan ketersediaan sumber daya lahan,
dimana manusia mendapat pemuasan kebutuhan hidup tetap dan sangat
terbatas. Sehingga pada saat ini terjadi tekanan penggunaan lahan yang
melebihi daya dukung lahan.
Degradasi lahan umumnya juga dipercepat dengan adanya sistem
pengelolaan lahan yang tidak memakai konsep dan teknik-teknik konservasi
tanah, lahan-lahan yang dikelola dan dimanfaatkan tanpa memperhatikan
kemampuan dari lahan itu sendiri. Lahan-lahan yang sesuai untuk dijadikan
areal hutan sering digunakan untuk areal pemukiman dan pertanian intensif
sehingga proses penghanyutan tanah oleh aliran permukaan (run off) akan
menimbulkan erosi yang sangat berbahaya terhadap kelestarian tanah,
sehingga dengan sendirinya terjadi kerusakan lahan akibat terjadinya
penurunan (degradasi) kualitas fisik dan kimia lahan. Utomo (1989)
mengatakan bahwa proses erosi diawali dengan penghancuran agregatagregat tanah sebagai akibat pukulan air hujan yang mempunyai energi yang
lebih besar dari daya tanah. Hancuran tanah ini akan menyumbat pori-pori
tanah, sehingga kapasita infiltrasi tanah akan menurun dan akan
mengakibatkan air mengalir di permukaan tanah yang dikenal dengan
limpasan permukaan. Jika tenaga limpasan sudah tidak mampu lagi
mengangkut bahan-bahan hancura tersebut, maka bahan-bahan ini akan
diendapkan. Dengan demikian ada tiga proses yang bekerja secara berurutan
dalam erosi yaitu diawali dengan penghancuran agregat tanah, pengangkutan,
dan diakhiri dengan pengendapan.
Erosi umumnya dipengaruhi oleh iklim, tanah, lereng, vegetasi, dan
aktivitas manusia dalam hubungannya dengan pemakaian tanah. Factor iklim
yang berperan adalah curah hujan dan lamanya hari hujan. Curah hujan yang
mempunyai intensitas tinggi dan waktu yang relative lama akan menimbulkan
erosi yang sudah mengarah kepada kerusakan tanah. Demikian pula halnya
dengan kondisi tanah, kemiringan lereng, pola penggunaan lahan untuk
1

tanaman yang diusahakan oleh manusia. Pada daerah-daerah yang


mempunyai kemiringan lereng yang cukup curam, kalau pengelolaan lahan
pada kondisi lereng tersebut tidak mengacu pada teknik-teknik konservasi
tanah, maka jelas akan kelestarian dari tanah dalam mendukung proses
kehidupan dimuka bumi.
Daerah gunung padang terletak di Kelurahan Mato Air Kecamatan
Padang Selatan Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat. Berdasarkan peta
Geologi lembar Padang skala 1 : 250.000 satuan batuan disekitar Gunung
Padang tergolong pada aliran yang tak teruraikan berumur pliosen samapi
awal holosen berupa lahar, konglomerat, dan endapan koluvial, serta andesit
dan tuff (Q Ta) yang berumur akhir plistosen sampai awal holosen, berupa,
andesit, dan tuff yang berselingan atau andesit sebagai intrusi didalam tuff.
Morfologi daerah gunung pada merupakan perbukitan dengan
ketinggian sedang serta memiliki lereng yang sedang sampai sangat curam
(kemiringan lereng rata-rata 300-650). Pola penggunaan lahan di daerah
gunung padang di dominasi oleh permukiman dan pertanian. Pemukiaman
penduduk didaerah gunung padang menyebar didaerah-didaerah yang
seharusnya hutan, tapi akibat desakan pertambahan penduduk, daerah-daerah
yang seharusnya hutan tersebut dijadikan awal permukiman. Sedang pola
penggunaan hutan yang terdapat pada daerah tersebut tergolong pada lahan
pertanian holtikultura dan kebun campuran, serta lahan-lahan yang digunakan
untuk hutan relatif kecil. Dengan kondisi topografi dan geomorfologi daerah
yang cukup mendukung terjadinya proses erosi dan degradasi fisik lahan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka dapat dirumuskan permasalahan
penelitian sebagai berikut :
1. Berapa nilai Erosi yang Diperbolehkan (Edp) daerah Gunung Padang
Sumatera Barat?
2. Bagaimana tingkat degradasi tanah daerah Gunung Padang Sumatera
Barat?
3. Apakah terdapat kaitan antara erosi yang diperbolehkan (Edp) dengan
degradasi fisik tanah daerah Gunung Padang Sumatera Barat?
C. Tujuan Masalah
Berdasarkan perumusan masalah penelitian, maka tujuan penelitian ini
adalah untuk mendapatkan informasi dan membahas tentang :
1. Besarnya nilai erosi yang diperbolehkan (Edp) daerah Gunung Padang
Sumatera Barat.
2. Tingkat degradasi tanah daerah Gunung Padang Sumatera Barat.
2

3. Kaitan antara erosi yang diperbolehkan dengan degradasi fisik tanah


daerah Gunung Padang Sumatera Barat.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, maka penelitian ini diharapkan
bermanfaat untuk :
1. Pengembangan ilmu pengetahuan untuk menambah pengetahuan
tentang erosi yang diperbolehkan (Edp) dan degradasi fisik tanah
2. Memberikan konstribusi bagi masyarakat yang bertempat tinggal
disekitar daerah gunung padang tentang cara-cara pengelolaan lahan
yang baik untuk menjaga kelestarian tanah.
3. Memberikan konstribusi dan pengatahuan bagi pemerintah kota
padalang dalam rangka penerapan konservasi dan reklamasi lahan di
Daerah Gunung Padang.

BAB II
ISI
Erosi Yang Diperbolehkan (Edp) dan Degradasi Fisik Tanah Gunung Padang
Sumatera Barat
Erosi merupakan peristiwa hilang atau terkikisnya tanah atau bagian tanah
dari suatu tempat yang terangkut ke tempat yang lain, baik yang disebabkan oleh
pergerakan air maupun oleh angin. Di daerah tropika basah, seperti di Indonesia,
erosi yang terjadi umumnya disebabkan oleh air. Erosi air timbul apabila terdapat
3

aksi disperse dan tenaga pengangkut oleh air hujan yang mengalir di permukaan
tanah. Selama terjadi hujan, limpasan permukaan berubah terus dengan cepat, tapi
pada waktu mendekati akhir hujan, limpasan permukaan berkurang dengan laju
yang sangat rendah, sehingga bahan-bahan tersebut diendapkan.
Menurut Yunianto (1994) erosi disebabkan oleh curah hujan yang
intensitasnya relatif tinggi dengan waktu hujan yang relatif lama. Ukuran butir
hujan juga sangat berperan dalam menentukan erosi, energi kinetic merupakan
penyebab utama dalam menghancurkan agregat tanah. Besarnya energi kinetik
hujan tergantung pada jumlah hujan, intensitas hujan, dan kecepatan jatuh hujan.
Kecepatan jatuhnya hujan itu sendiri ditentukan oleh ukuran butir hujan.
Kemudian Evans (1980) juga menambahkan bahwa terdapat interaksi antara butirbutir hujan, kecepatan hujan, bentuk butir, dan lamanya hujan akan
mempengaruhi kekuatan hujan dalam menimbulkan erosi. Makin besar ukuran
butir hujan , momentum akibat jatuhnya butir hujan semakin meningkat,
khususnya pada saat energy kinetic mencapat maksimum, yaitu pada intensitas
hujan antara 50-100 mm/jam dan diatas 250 mm/jam, sehingga kekuatan untuk
merusak agregat tanah semakin meningkat.
Listyarini (1988) menambahkan selain hujan, karekteristik tanah dan
kemiringan lereng juga dapat menentukan besat kecilnya intensitas erosi yang
terjadi. Agregat tanah yang mantap cukup tahan terhadap pemecahan oleh butirbutir air hujan, dimana tanah-tanah yang mempunyai agregat yang mantap
mempunyai sifat akibat porous akibat banyak mengandung bahan organik tanah,
sehingga kecepatan infiltrasi cukup tinggi dan run off akan kecil. Selain itu peran
kemiringan lereng dan panjang lereng juga mempunyai peran yang cukup besar
dalam menentukan intensitas erosi. Semakin panjang lereng, maka volume
kelebihan air yang berakumulasi diatasnya juga akan besar dan kemudian
semuanya akan turun dengan volume dan kecepatan yang meningkat. Tanah-tanah
dibagian bawah lereng mengalami erosi yang cukup besar dari tanah-tanah bagian
atas lereng, karena semakin kebawah, air yang terkumpul semakin banyak dan
kecepatan aliran juga akan semakin meningkat, sehingga daya erosi akan semakin
besar.
Selain hujan, tanah, dan lereng, vegetasi dan aktivitas manusia juga
mempunyai peran yang cukup besar dalam mempengaruhi terjadinya peristiwa
erosi. Vegetasi mempengaruhi erosi karena vegetasi melindungi tanah terhadap
kerusakan tanah oleh butir-butir hujan. Pada dasarnya tanaman mampu
mempengaruhi erosi karena adanya ;
1. Intersepsi air hujan oleh tajuk dan adsorpsi melalui air hujan, sehingga
memperkecil erosi.
4

2.
3.
4.
5.

Pengaruh terhadap struktur tanah melalui penyebaran akar-akarnya.


Pengaruh terhadap limpasan permukaan.
Peningkatan aktivitas biologi dalam tanah.
Peningkatan kecepatan kehilangan air karena proses transpirasi (Arsyad,
1983).

Morgan (1979) mengemukakan bahwa erosi aliran permukaan akan


terjadi akibat terlampaunya nilai kapasitas infiltrasi atau kapasitas simpan air
tanah, baik oleh intensitas maupun oleh lamanya hujan. Pada dasarnya erosi
merupakan proses perataan kulit bumi. Jadi selama kulit bumi tidak rata, erosi
akan tetap terjadi dan tidak mungkin untuk menghentikan erosi. Oleh karena itu,
usaha konservasi tanah tidak berusaha untuk menghentikan erosi, tapi hanya
mengendalikan laju erosi ke suatu nilai tertentu yang tidak merugikan. Nilai erosi
ini dikenal dengan erosi yang diperbolehkan (Edp) yang dalam bahasa inggris
disebut permissible erosion, acceptable erosion, atau tolerate limit erosion.
Edp tidak boleh melebihi prose pembentukan tanah. Pembentukan tanah
merupakan proses yang sangat kompleks dan merupakan fungsi berbagai variable
yang saling berinteraksi. Dalam teori pembentukan tanah, tanah merupakan fungsi
dari bahan induk, iklim, topografi, vegetasi, dan manusia. Dengan kecepatan
kehilangan tanah lebih kecil dari laju pembentukan tanah, maka diharapkan
produktivitas tanah tidak menurun. Mc. Cormack (1979) memberi batasan erosi
yang diperbolehkan, yaitu kecepatan maksimum kehilangan tanah pertahun yang
diperbolehkan akibat prokdutivitas tanah dapat mencapai tingkatan optimum
dalam waktu yang lama. Wischmeirer dan Smith (1978) mengatakan bahwa dalam
penentuan Edp harus mempertimbangkan :
1. Ketebalan lapisan tanah atas.
2. Sifak fisik tanah
3. Pencegahan terjadinya selokan atau gully.
4. Penurunan bahan organik tanah.
5. Kehilangan zat hara tanaman.
Hammer (1981) mengusulkan bahwa untuk daerah-daerah di Indonesia,
nilai edp dapat dihitung berdasarkan kedalaman ekuivalen tanah dan kelestarian
sumberdaya tanah (umur). Kedalaman diperoleh dengan mengalikan data
kedalaman tanah (pengukuran di lapangan) dengan factor kedalaman. Dalam
metode yang dikembangkan hammer (1981), dikenal tiga istilah kedalaman tanah,
yaitu kedalaman efektif tanah, faktor kedalaman tanah equivalent. Yang dimaksud
dengan kedalaman tanah efektif adalah kedalaman tanah sampai terjadi
penghambatan pertumbuhan akar tanaman, data ini diperoleh dari pengukuran
lapangan. Faktor kedalaman tanah adalah faktor modifikasi yang didasarkan pada
risiko kerusakan tanah sebagai fungsi kedalaman. Kedalaman tanah equivalent
5

merupakan hasil perkalian antara kedalaman efektif tanah dengan faktor


kedalaman efektif tanah dengan faktor kedalaman.
Proses erosi yang terjadi yang melebihi nilai Edp akan menimbulkan
terjadinya degradasi fisik tanah. Degradasi fisik tanah merupakan peristiwa yang
mengkondinisikan tanah mengalami penurunan sifat-sifat fisika tanah, terutama
tekstur, struktur, permeabilitas, bahan organic, dan lain sebagainya.
Menurut Yurnianto (1994) sifat-sifat fisika tanah yang bersifat untuk
mendukung daya tahan tanah terhadap erosi adalah tekstur, agregat tanah, bahan
organik tanah, dan infiltrasi tanah. Partikel-partikel yang berukuran kasar akan
tahan terhadap erosi karena partikel-partikel ini sukar diangkut. Disamping itu,
tanah-tanah yang bertekstur kasar mempunyai kapasitas dan laju infiltrasi yang
tinggi, sehingga jika tanah tersebut mempunyai solum yang dalam maka erosi
dapat diabaikan. Arsyad (1983) menambahkan bahwa ada dua aspek sturktur
tanah yang penting dalam kaitannya dengan erosi, yaitu sifat fisiko-kimia liat
yang mendukung terbentuknya kemantapan agregat dan adanya bahan-bahan
pengikat yang dapat membentuk butir-butir primer menjadi agregat yang mantap.
Bahan organic dalam pembentukan dan pemantapan agregat sangat besar
sekali. Selain itu, bahan organik yang telah mengalami pelapukan mempunyai
kemampuan untuk menghisap dan memegang air yang tinggi, sehingga dapat
meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah. Dengan demikian proses erosi dapat
berkurang karena berkurangnya aliran permukaan dan secara fisika tanah
mempunyai daya tahan yang baik terhadap penghancuran dan penghanyutan.
(seta, 1987).
Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : abney level, bor tanah,
ring sampel, yallon, pita ukur, cangkul/sekop, kamera, plastik, oven, timbangan
analitik, cawan, siever, gelas ukur, gelas piala, stereoskop cermin, permeameter,
computer, dan printer. Sedangkan bahan-bahan yang diperlukan dalam penelitian
ini adalah peta geologi, peta topografi, peta lereng daerah gunung padang, peta
bentuk lahan, peta penggunaan lahan daerah gunung padang, dan data curah hujan
dalam waktu 10 tahun terakhir.
Jalanya Penelitian

Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan yaitu : tahap pra-lapangan,


tahap lapangan, dan tahap pasca lapangan. Pada tahap pra lapangan dilakukan
studi pustaka untuk mengumpulkan bahan-bahan penelitian, menyiapkan alat-alat
penelitian, interpretasi peta-peta penelitian untuk membuat peta satuan lahan
lokasi penelitian, dan penetuan titik-titik sampel masing-masing satuan lahan.
Tahap lapangan kegiatan dilakukan adalah melakukan survey pendahuluan untuk
mencocokan peta satuan lahan sementara dengan keadaan yang sesungguhnya di
lapangan. Setelah peta satuan lahan sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya di
lapangan barulah dilakukan pengamatan dan pengukuran lapangan. Penentuan
posisi titk sampel di lapangan, digunakan GPS yang berfungsi untuk mencari
koordinat yang tepat dan sesuai di lapangan dengan koordinat dipeta.
Data Penelitian
Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data
perimer diperoleh secara langsung dilapangan dan di laboratorium, sedangkan
data sekunder adalah data pendukung yang diperoleh dari instansi terkait. Data
primer yang diamati dilapangan berupa ; (1) tekstur tanah, (2) tingkat
perkembangan struktur tanah, (3) porositas tanah, (4) bulkdensity, (5) kedalaman
solum tanah, (6) erodibilitas tanah. Data sekunder yang dibutuhkan dalam
penelitian ini adalah : (1) data curah hujan dan temperatur, (2) data jenis tanah
dari peta jenis tanah skala 1:50.000, (3) kedalaman solum tanah equivalent, (4)
faktor kedalaman solum tanah , (5) kelestarian tanah.
Veriable Penelitian
Variable dalam penelitian ini dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
erosi yang diperbolehkan (Edp) dan degradasi fisik tanah. Nilai erosi yang
diperbolehkan yang diukur adalah : (1) kedalaman solum tanah, (2) kedalaman
solum tanah equivalent, (3) ordo tanah, (4) faktor kedalaman solum tanah, (5)
kelestarian tanah. Degradasi fisik tanah yang diukur adalah : (1) tekstur tanah, (2)
perkembangan struktur tanah, (3) porositas tanah, (4) bulkdensity, (5) erodibilitas
tanah.
Kriteria Penentuan Nilai Erosi yang Diperbolehkan (Edp)
Dalam penentuan nilai erosi yang diperbolehkan (Edp) adalah menurut
formula yang diusulkan oleh Hammer (1981).
Indikator Penentu dalam Penentuan Nilai Erosi yang
7

Diperbolehkan (Edp) menurut Hammer (1981)


No

Indikator

Kriteria

Kelestarian Tanah

100 tahun dengan Edp 4,2


to/ha/tahun

Kedalaman Solum Tanah

Ditentukan setelah selesai


pengukuran solum di lapangan

Faktor Kedalaman Solum


Tanah

Ordo
Tanah

Nilai Indikator

3.1

Ultisols

0,80

3.1.1

Humult*

1,00

3.2

Oksisols

0,90

3.2.1

Humox*

1,00

3.3

Aridisols

0,70

3.4

Molisols

0,90

3.4.1

Alboll*

0,75

3.5

Spodosols

0,95

3.6

Alfisols

0,90

3.7

Inceptisols

1,00

3.7.1

Aquept*

0,95

3.8

Andisols

1,00

3.9

Vertisols

1,00

3.10

Entisols

0,90

3.11

Histosols

0,90

Sumber : Hammer (1981); Utomo (1989)


Ket : *kecuali
Teknik Analisis Data
Analisis data untuk menentukan nilai erosi yang diperbolehkan adalah
menurut formula yang dikembangkan oleh Hammer (1981), yaitu :
8

Nilai Edp = kedalaman Solum tanah


Equivalent
Kelestarian Tanah

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Erosi merupakan peristiwa hilang atau terkikisnya tanah atau bagian
tanah dari suatu tempat yang terangkut ke tempat yang lain, baik yang
disebabkan oleh pergerakan air maupun oleh angin. Pada dasarnya erosi
merupakan proses perataan kulit bumi. Jadi selama kulit bumi tidak rata, erosi
akan tetap terjadi dan tidak mungkin untuk menghentikan erosi. Oleh karena
itu, usaha konservasi tanah tidak berusaha untuk menghentikan erosi, tapi
hanya mengendalikan laju erosi ke suatu nilai tertentu yang tidak merugikan.
Nilai erosi ini dikenal dengan erosi yang diperbolehkan (Edp) yang dalam
9

bahasa inggris disebut permissible erosion, acceptable erosion, atau tolerate


limit erosion.
B. Saran
Dari penjabaran diatas diharapkan kritik dan sarannya yang
membangun, sehingga nantinya dalam pemahaman erosi yang diperbolehkan
itu seperti apa dan bagaimana cara pengapikasianya ke lapangan. Pada
pembaca aga memberikan saran yang membangun dari makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
Hermon, Dedi dan Khairani. 2009. Geografi Tanah Suatu Tinjauan Teroritis,
Metodologis, dan Aplikasi Proposal Penelitian. Padang : Yayasan Jihadul
Khair Center.
Hermon, Dedi. 2006. Buku Ajar Geografi Tanah. Padang : Fakultas Ilmu Sosial
UNP.

10