Anda di halaman 1dari 12

NILAI ETIKA KEANEKARAGAMAN HAYATI

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas Mata kuliah Biokonservasi
Yang dibimbing oleh bapak Prof. Dr. Suhadi M.Si

Oleh :
Kelompok 1 / off G 2013

Alifia Yulianita

(130342603487)

Mirza Yanuar Rizki

(130342615308)

Try Yuni Andromeda

(130342603482)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
S1 BIOLOGI
FEBRUARI 2015

Bab 1
Pendahuluan
Latar belakang
Pada umumnya manusia bergantung pada keadaan lingkungan disekitarnya
yaitu berupa sumber daya alam yang dapat menunjang kehidupan sehari-hari.
Sumber daya alam yang utama bagi manusia adalah tanah, air, dan udara. Tanah
merupakan tempat manusia untuk melakukan berbagai kegiatan. Air sangat
diperlukan oleh manusia sebagai komponen terbesar dari tubuh manusia. Untuk
menjaga keseimbangan, air sangat dibutuhkan dengan jumlah yang cukup banyak
dan memiliki kualitas yang baik. Selain itu, udara merupakan sumber oksigen
yang alami bagi pernafasan manusia. Lingkungan yang sehat akan terwujud
apabila manusia dan lingkungannya dalam kondisi yang baik.
Krisis lingkungan hidup yang dihadapi manusia modern merupakan akibat
langsung dari pengelolaan lingkungan hidup yang nir-etik. Artinya, manusia
melakukan pengelolaan sumber-sumber alam hampir tanpa peduli pada peran
etika. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa krisis ekologis yang dihadapi
umat manusia berakar dalam krisis etika atau krisis moral. Umat manusia kurang
peduli pada norma-norma kehidupan atau mengganti norma-norma yang
seharusnya dengan norma-norma ciptaan dan kepentingannya sendiri. Manusia
modern menghadapi alam hampir tanpa menggunakan hati nurani. Alam begitu
saja dieksploitasi dan dicemari tanpa merasa bersalah. Akibatnya terjadi
penurunan secara drastis kualitas sumber daya alam seperti lenyapnya sebagian
spesies dari muka bumi, yang diikuti pula penurunan kualitas alam. Pencemaran
dan kerusakan alam pun akhirnya mencuat sebagai masalah yang mempengaruhi
kehidupan sehari-hari manusia.

Rumusan Masalah :
1. Apa yang dimaksud dengan Etika Lingkungan dan prinsip etika
lingkungan?
2. Apa saja prinsip etika lingkungan?
3. Apa yang dimaksud nilai keanekaragaman hayati?
4. Apa saja macam nilai keanekaragaman hayati?
Tujuan :
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Etika Lingkungan dan prinsip
etika lingkungan
2. Mengetahui apa saja prinsip etika lingkungan
3. Mengetahui apa yang dimaksud nilai keanekaragaman hayati
4. Mengetahui macam-macam nilai keanekaragaman hayati

Bab II
Pembahasan
I. Pengertian Etika Lingkungan dan prinsip etika lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang
mempengaruhi kelangsungan kehidupan kesejahteraan manusia dan makhluk
hidup lain baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
Etika berasal dari Bahasa Yunani ethikos (kata sifat) yang berarti
muncul dari kebiasaan, dan ethos (kata benda) yang berarti watak kesusilaan
atau adat (Barthes, 1983; Syamsuri, 1996). Dalam perkembangannya, etika
merupakan cabang dari filsafat yang bersifat normatif, yang mengkaji mengenai
standar dan penilaian moral(Bhs. Latin mores = adat/cara hidup). MagnisSuseno (1987) menjelaskan bahwa etika merupakan pemikiran kritis dan
mendasar tentang ajaran dan pandangan moral. Dengan demikian, etika mencakup
analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung
jawab. Oleh karena etika merupakan cabang filsafat yang normative dan terkait
dengan moral, maka etika berperan sebagai penuntun moral yang datang dari
dalam diri manusia itu (Syamsuri, 1996).
Etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam
bergaul dengan lingkungannya.etika lingkungan diperlukan agar setiap kegiatan
yang

menyangkut

lingkungan

dipertimbangkan

secara

cermat

sehingga

keseimbangan lingkungan tetap terjaga.


Etika lingkungan (etika ekologi) adalah pendekatan terhadap lingkungan
yang melihat pentingnya memahami lingkungan sebagai keseluruhan kehidupan
yang saling menopang, sehingga semua unsur mempunyai arti dan makna yang
sama. Prinsip etika lingkungan adalah: semua bentuk kehidupan memiliki nilai
bawaan dan karena itu memiliki hak untuk menuntut penghargaan karena harga
diri, hak untuk hidup dan hak untuk berkembang.

Etika lingkungan dapat dikategorikan kedalam etika pelestarian dan etika


pemeliharaan.

Etika

pelestarian

adalah

etika

yang

menekankan

pada

mengusahakan pelestarian alam untuk kepentingan manusia, sedangkan etika


pemeliharaan dimaksudkan untuk mendukung usaha pemeliharaan lingkungan
untuk kepentingan semua mahluk. Etika lingkungan dapat dibedakan menjadi
etika lingkungan dangkal (shallow environmental ethics),
Sumber etika lingkungan
Etika

lingkungan

berfungsi

dalam

dua

hal.

Pertama,

sebagai

pengimbangan atas hak dan kewajiban manusia terhadap lingkungan. Kedua,


membatasi tingkah laku dan upaya untuk mengendalikan berbaai kegiatan agar
tetap berada dalam batas kelentingan lingkungan (Syamsuri, 1996). Lingkungan
hidup terbagi menjadi tiga yaitu lingkungan alam fisik (tanah, air,udara) dan
biologis (tumbuhanhewan), lingkungan buatan (sarana prasarana), dan
lingkungan manusia (hubungan sesama manusia, meliputi aspek sosial dan
budaya). Bentuk perilaku terhadap lingkungan hidup juga mencakup ketiga
macam lingkungan hidup tersebut.
Oleh karena itu, ruang lingkup etika lingkungan mencakup apa yang harus
dilakukan oleh manusia terkait dengan lingkungan alam fisik, biologis, buatan,
dan

lingkungan manusia. Dengan demikian etika lingkungan pada dasarnya

adalah menerapkan etika tidak hanya untuk kepentingan manusia, tetapi untuk
keberlanjuta ekologi (Rolston, 2003).
Paradigma Etika Lingkungan
Holmes Rolston (2003) menyatakan bahwa etika lingkungan merupakan
teori dan praktik terkait tindakan tepat yang didasari oleh nilai-nilai untuk
menjaga alam. Namun demikian, tindakan yang tepat masih bersifat relatif.
Banyak orang yang memiliki pandangan berbeda terkait tindakan yang tepat
terhadap lingkungan. Dari sinilah muncul ragam pola terkait hubungan, cara
pandang, cara pikir, dan cara tindak manusia terkait dengan alam. Secara teoretis,
terdapat tiga model teori etika lingkungan, yaitu yang dikenal sebagai shallow
environmental ethics, intermediate environmental ethics, dan deep environmental

ethics (Keraf, 2005). Dalam istilah lain, tiga teori tersebut secara berturut-turut
dikenal sebagai antroposentrisme, biosentrisme, dan ekosentrisme (Gudolf &
Huchingson, 2010).
Antroposentrisme dikenal sebagai pandangan yang bersifa thuman
centered, artinya manusia sebagai pusat pertimbangan terhadap lingkungan
(Stanford Encyclopedia of Philosophy, 2008). Pandangan ini disebut pula sebagai
shallow environmental ethics (etika lingkungan yang dangkal). Atroposentrisme
terbagi atas egosentrime (kepentingan pribadi sebagai pijakan nilai) dan
homosentrisme (kepentingankelompok sebagai pijakan nilai) (Gudolf &
Huchingson, 2010).
Pandangan kedua adalah biosentrisme yang disebut juga sebagai lifecentered ethics. Artinya, konsep etika berpusat pada komunitas hidup, meliputi
manusia, flora, dan fauna. Dalam hal ini manusia adalah anggota dari komunitas
kehidupan. Dalam pandangan ini, manusia dan makhluk hidup adalah kesatuan
ekosistem yang saling berada dalam ketergantungan. Tiap makhluk hidup
memiliki hidupnya sendiri dan memiliki sifat serta kemampuan yang tidak
dimiliki oleh makhluk lainnya (Syamsuri, 1996). Dengan demikian, perlu adanya
upaya saling dukung dan saling melengkapi antarmakhluk hidup.
Pandangan ketiga adalah ekosentrisme. Padangan ini merupakan
kelanjutan dari pandangan biosentrisme. Pandangan ini menekankan bahwa
penerapan etika tidak hanya pada komunitas hidup (biotik), tetapi juga mencakup
komunitas ekosistem secara menyeluruh. Pandangan ini melihat ekosistem
sebagai the land ethic, atau tempat penerapan etika (Rulston, 2003). Etika
ekosentris mendasarkan diri pada kosmos, di mana lingkungan secara keseluruhan
dinilai pada dirinya sendiri. Menurut ekosentrisme hal yang paling penting adalah
tetap bertahannya semua yang hidup yang yang tidak hidup sebagai komponen
ekosistem yang sehat, seperti halnya manusia, semua benda kosmis memiliki
tanggung jawab moralnya sendiri (Sudriyanto, 1992).

II.

Prinsip Etika Lingkungan

Beberapa prinsip yang dapat menjadi pegangan dan tuntunan bagi perilaku
manusia dalam berhadapan dengan alam:
1. Sikap Hormat terhadap Alam (Respect For Nature). Hormat terhadap alam
merupakan prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari alam semesta
seluruhnya. Setiap anggota komunitas ekologis, termasuk manusia,
berkewajiban menghargai dan menghormati setiap kehidupan dan spesies
serta menjaga keterkaitan dan kesatuan komunitas ekologis.
2. Prinsip Tanggung Jawab (Moral Responsibility For Nature). Manusia
mempunyai tanggung jawab terhadap alam semesta (isi, kesatuan,
keberadaan dan kelestariannya).
3. Solidaritas Kosmis (Cosmic Solidarity). Prinsip solidaritas muncul dari
kenyataan bahwa manusia adalah bagian yang menyatu dari alam semesta
dimana

manusia

sebagai

makhluk

hidup

memiliki

perasaan

sepenanggungan dengan alam dan dengan sesama makhluk hidup lain.


4. Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian terhadap Alam (Caring For
Nature). Manusia digugah untuk mencintai, menyayangi, dan melestarikan
alam semesta dan seluruh isinya, tanpa diskriminasi dan tanpa dominasi
yang muncul dari kenyataan bahwa sebagai sesama anggota komunitas
ekologis, semua makhluk hidup mempunyai hak untuk dilindungi,
dipelihara, tidak disakiti, dan dirawat.
5.

Prinsip tidak merugikan alam secara tidak perlu,

6.

Prinsip hidup sederhana dan selaras dengan alam

7. Prinsip keadilan
8. Prinsip demokrasi

9.
III.

Prinsip integritas moral


Pengertian Nilai Keanekaragaman Hayati
Nilai Keanekaragaman Hayati memiliki beragam nilai atau arti bagi

kehidupan. Ia tidak hanya bermakna sebagai modal untuk menghasilkan produk


dan jasa saja (aspek ekonomi) karena keanekargaman hayati juga mencakup aspek
sosial, lingkungan, aspek sistem pengtahuan, dan etika.
Kearifan dalam Menjaga Lingkungan
Pada saat ini fenomena lingkungan memasuki kondisi krisis, baik krisis
lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.Indikasinya adalah tanah pertanian
makin tidak produktif, flora dan fauna makin punah akibat eksploitasi sumber
daya alam dengan tidak memikirkan daya dukung lingkungan. Fenomena tersebut
seharusnya menyadarkan kita untuk mengoreksi tindakan yang salah pada masa
lalu. Terus berusaha memperbaiki lingkungan masa depan yang berbentuk
tindakan baik pada tingkat afektif, kognitif, psikomotorik, maupun bersifat teoritis
dan praktis. Bagaimanapun, narasi besar mengatakan bahwa persoalan lingkungan
jelas berkaitan dengan watak manusia, terutama sebagai konsekuensi interaksi
manusia dengan alam lingkungan.
Secara sederhana, kearifan lokal ( indigenous knowledge atau local
knowledge) dapat dipahami sebagai pengetahuan kebudayaan yang dimiliki oleh
masyarakat tertentu yang mencakup di dalamnya sejumlah pengetahuan
kebudayaan yang berkaitan dengan model-model pemanfaatan dan pengelolaan
sumberdaya alam secara lestari (Zakaria, 1994: 56). Orang-orang yang memiliki
kepedulian alam ini kemudian menciptakan aturan-aturan sederhana yang pada
awalnya didapatkan melalui proses trial & error dengan cara meneruskan aktivitas
yang diyakini dapat melestarikan alam dan meninggalkan praktek-praktek yang
berujung pada kerusakan (Mitchell, 2003: 299). Aturan atau ketentuan dalam
format kearifan lokal tersebut diciptakan oleh masyarakat dalam terminologi
pantangan yang bercorak religius-magis dan aturan adat (Lubis, 2005: 251).

IV. Macam-Macam Nilai Keanekaragaman Hayati


a) Nilai Eksistensi
Merupakan nilai yang dimiliki oleh keanekaragaman hayati karena
keberadaannya (Ehrenfeld, 1991). Nilai ini tidak berkaitan dengan potensi suatu
organisme
1.Faktor

tertentu,
hak

tetapi

hidupnya

berkaitan
sebagai

dengan
salah

beberapa
satu

bagian

factor
dari

berikut:
alam;

2.Faktor yang dikaitkan dengan etika, misalnya nilainya dari segi etika agama.
Berbagai agama dunia menganjurkan manusia untuk memelihara alam ciptaan
Tuhan;
3.Faktor estetika bagi manusia, Misalnya, banyak kalangan, baik pecinta alam
maupun wisatawan, bersedia mengeluarkan sejumlah uang untuk mengunjungi
taman-taman nasional guna melihat satwa di habitat aslinya, meskipun mereka
tidak mendapatkan manfaat ekonomi dari kegiatan tersebut.
b) Nilai Jasa Lingkungan
Nilai jasa lingkungan yang dimiliki oleh keanekaragaman hayati ialah
dalam bentuk jasa ekologis bagi lingkungan dan kelangsungan hidup manusia.
Sebagai contoh jasa ekologis ,misalnya, hutan, salah satu bentuk dari ekosistem
keanekaragaman hayati, mempunyai beberapa fungsi bagi lingkungan sebagai:
1. pelindung keseimbangan siklus hidrologi dan tata air sehingga menghindarkan
manusia dari bahaya banjir maupun kekeringan;
2. penjaga kesuburan tanah melalui pasokan unsur hara dari serasah hutan;
3. pencegah erosi dan pengendali iklim mikro.Keanekaragaman hayati bisa
memberikan manfaat jasa nilai lingkungan jika keanekaragaman hayati dipandang

sebagai satu kesatuan, dimana ada saling ketergantungan antara komponen di


dalamnya.

c) Nilai Warisan
Nilai warisan adalah nilai yang berkaitan dengan keinginan untuk menjaga
kelestarian keanekaragaman hayati agar dapat dimanfaatkan oleh generasi
mendatang. Nilai ini acap terkait dengan nilai sosio-kultural dan juga nilai pilihan.
Spesies atau kawasan tertentu sengaja dipertahankan dan diwariskan turun
temurun untuk menjaga identitas budaya dan spiritual kelompok etnis tertentu
atau

sebagai

cadangan

pemenuhan

kebutuhan

mereka

di

masa

datang.
d) Nilai Pilihan
Potensi keanekaragaman hayati dalam memberikan keuntungan bagi
masyarakat di masa datang ini merupakan nilai pilihan (Primack dkk.,1998). Nilai
pilihan, yang juga dapat diartikan sebagai tabungan, memungkinkan manusia
untuk mengembangkan pilihannya dalam upaya beradaptasi menghadapi
perubahan lingkungan fisik maupun sosial.
e) Nilai Konsumtif
Manfaat langsung yang dapat diperoleh dari keanekaragaman hayati
disebut nilai konsumtif. Sebagai contoh Dari nilai komsumtif ini ialah
pemanfaatan keanekaragaman hayati untuk pemenuhan kebutuhan sandang,
pangan maupun papan.
f) Nilai Produktif

Nilai produktif adalah nilai pasar yang didapat dari perdagangan


keanekaragaman hayati di pasar lokal, nasional maupun internasional. Pada
umumnya, nilai keanekaragaman hayati lokal belum terdokumentasikan dengan
baik sehingga sering tidak terwakili dalam perdebatan maupunperumusan
kebijakan mengenai keanekaragaman hayati di tingkat global (Vermeulen dan
Koziell, 2002).
Bab III
Penutup
Kesimpulan
1. Etika lingkungan (etika ekologi) adalah pendekatan terhadap lingkungan
yang melihat pentingnya memahami lingkungan sebagai keseluruhan
kehidupan yang saling menopang, sehingga semua unsur mempunyai arti
dan makna yang sama.
2. Prinsip etika lingkungan adalah: semua bentuk kehidupan memiliki nilai
bawaan dan karena itu memiliki hak untuk menuntut penghargaan karena
harga diri, hak untuk hidup dan hak untuk berkembang.
3. Nilai Keanekaragaman HayatiKeanekaragaman hayati memiliki beragam
nilai atau arti bagi kehidupan.Ia tidak hanya bermakna sebagai modal
untuk menghasilkan produk dan jasa saja (aspek ekonomi) karena
keanekargaman hayati juga mencakup aspek sosial, lingkungan, aspek
sistem pengtahuan, dan etika.
4. ada 6 nilai keanekaragaman hayati yang bisa diuraikan, yaitu: nilai
eksistensi, nilai jasa lingkungan, nilai warisan, nilai pilihan, nilai
konsumtif, dan nilai produktif.

Daftar Pustaka
Buku,Wilayah Kritis Keanekaragaman Hayati Di Indonesia: Instrumen Penilaian
Dan Pemindaian Indikatif/Cepat Bagi Pengambil Kebijakan
Berten, K., 1993. Etika.Jakarta: Gramedia.
Gudorf, C & Huchingson, J.E. 2010. Boundaries: a Casebook in Environmental
Ethics. Washington: Georgetown University Press.
Keraf, A. Sonny. 2005. Etika Lingkungan. Jakarta. Penerbit Buku Kompas.
Lubis, Zulkifli B. 2005.Menumbuhkan (Kembali) Kearifan Lokal Dalam
Pengelolaan Sumberdaya Alam di Tapanuli Selatan.Jurnal Antropologi
Indonesia.Departemen

Antropologi

Fisipol

Universitas

Indonesia

Jakarta.Volume 29 No. 3 Tahun 2005.


Magnis-Suseno, Franz. 1987. Etika Dasar. Yogyakarta. Kanisius.
Murdiyarso, Daniel. 2003. CDM: MekanismePembangunan Bersih. Jakarta.
Penerbit Buku Kompas.
Ritzer, George. & Douglas J. Goodman. 2004.Teori Sosiologi Modern. Jakarta:
Kencana.
Redaksi Buletin Tata Ruang. 2008. Kampung Naga: Masyarakat Adat
Yang Menjaga Pelestarian Lingkungan. Buletin Tata Ruang. NovemberDesember.
Salim, Emil. 1987. Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Mutiara.
Setyowat iDL, Qomarudin, Hendro AW, Dany M. 2013. Kearifan Lokal dalam
Menjaga Lingkungan Perairan, Kepulauan, Pegunungan.Semarang: CV.
Sanggar Krida Aditama.
Syahrin, Alvi. 2011. Kearifan Lokal Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada
Kerangka Hukum Nasional. Makalah. Surakarta: USU.