Anda di halaman 1dari 15

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Undang-Undang Pokok Kepegawaian


2.2
a. Materi Pokok yang Diatur dalam
Kepegawaian

Undang-Undang

Pokok

Dalam usaha meningkatkan pembinaan kepegawaian di negera Indonesia


oleh pemerintah telah ditetepkan Undang-undang No. 8 Tahun 1974. Undangundang ini untuk meningkatkan UU No.18 Tahun 1961 tentang ketentuanKetentuan Pokok Kepegawaian.
Undang-undang No.8 Tahun 1974 dikeluarkan oleh pemerintah dengan
suatu harapan agar dapat dijadikan landasan yang kuat bagi penyempurnaan
Pegawai Negri Sipil, yang dapat digunakan sebagai dasar untuk, antara lain:
1. Menyempurnakan dan menyederhanakan peraturan perundangundangan di bidang kepegawaian.
2. Melaksanakan pembinaan pegawai negri sipil atas dasar sistem karier
dan sistem prestasi kerja.
3. Memungkinkan peraturan kebijaksanaan yang sama bagi segenap
pegawai negri sipil.
4. Memungkinkan usaha-usaha untuk pemupukan jika karsa yang bulat dan
pembinaan ketentuan serta kekompakan segenap pegawai negri sipil.
Adapun susunan dan materi pokok yang diatur dalan UU No.8 Tahun 1974
adalah sebagai berikut:
1. Undang-undang ini terdiri dalam 6 bab yang terdiri dari 41 pasal.
Ditetapkan pada tanggal 6 November 1974.
2. Susunannya adalah:
Bab I, membuat kepentingan-kepentingan,
Bab II, membuat ketentuan umum yang meliputi:
Keudukan,
Kewajiban,
Hak,
Pejabat Negara,
Bab III, membuat ketentuan tentang pembinaan pegawai negri sipil
yang meilputi:
a. Tujuan pembinaan,
b. Kebijaksanaan pembinaan,

c. Formasi dan pengadaan,


d. Kepanggkatan, jabatan, pengangkatan,
pemberhentian,
e. Sumpah, kode etik, dan peraturan disiplin,
f. Pendidikan dan latihan,
g. Kesejahteraan,
h. Penghargaan,
i. Penyelenggaraan pembinaan,
j. Peradilan kepegawaian,
k. Lain-lain.

pemindahan,

dan

Bab IV, membuat ketentuan tentang pembinaan anggota ABRI.


Bab V, membuat ketentuan penutup.
b. Pengertian Pegawai Negri
Menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974, Pasal 1 dan 2 antara lain
menyatakan:
Pegawai Negri ialah mereka yang setelah memenuhi syarat yang ditentukan
dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, diangkat oleh pejabat yang
berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri atau diserahi tugas
negara lainnya yang ditetapkan berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
Pegawai Negri terdiri dari:
1. Pegawai Negri Sipil.
2. Anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia .
Pegawai Negri Sipil terdiri dari:
1. Pegawai Negri Sipil Pusat
2. Pegawai Negri Sipil Daerah
3. Pegawai Negri Sipil yang lain yang ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah.
Pegawai Negri Sipil Pusat adalah Pegawai Negri Sipil yang gajinya
dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang bekerja pada
departemen, lembaga pemerintah non departemen, kesekretariatan atau lembaga
tertinggi/ tinggi negara, instansi vertikal di daerah, dan kepaniteraan pengadilan.
Pegawai Negri Sipil daerah adalah pegawai negri sipil pada daerah otonomi
di lingkungan Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pegawai Negri Sipil
Pusat yang ada dapat dibedakan dalam beberapa jenis ialah:

1. Pegawai Negri Sipil Pusat yang bekerja di lingkungan Departemen


Pendidikan dan Kebudayaan baik di tingkat pusat maupun daerah
(dalam hal ini di Kantor Pusat Jakarta, Kantor Wilayah, Universitas/
Institut/ Sekolah Tinggi/ Akademik. Kopertis, Sekolah-sekolah maupun
di UPT-UPT yang lain).
2. Pegawai Negri Sipil pusat yang diperbantukan/ dipekerjakan pada
daerah otonom. Misal: guru/ penjaga sekolah dasar.
3. Pegawai Negri Sipil pusat yang diperbantukan/ dipekerjakan pada
yayasan Persekolahan/ Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Misal: guru/
pegawai pada sekolah swasta dosen PTS.
4. Pegawai Negri Sipil pusat yang diperbantukan/ dipekerjakan kepada
instansi lain baik di dalam negri maupun di luar negri. Misal: pegawai
Departemen P dan K yang bekerja di Departemen Keuangan, Bappeda,
atau yang bekerja di Malaysia, Unesco, Asean dan lain-lain.
5. Pegawai Negri Sipil pusat yang menjabat sebagai pejabat negara. Misal:
anggota DPR/ DPRD, bupati, gubernur, mentri dan sebagainya.
c. Kedudukan Pegawai Negri
Berdasarkan Pasal 3 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974, kedudukan
Pegawai Negri adalah undur Aparatur Negara, Abdi Negara dan Abdi Masyarakat
yang penuh kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar
1945, Negara dan Pemerintah menyelenggarakan tugas pemerintahan dan
pembangunan.
Rumusan kedudukan Pegawai Negri sebagai tersebut di atas bertolak dari
pokok pikiran, bahwa pemerintah tidak hanya menjalankan fungsi umum
pemerintahan, tetapi juga harus mampu melaksanakan fungsi pembangunan atau
dengan perkataan lain, pemerintah bukan hanya menyelenggarakan tertib
pemerintah, tetapi juga harus mempu menyelenggarakan dan memperlancar
pembangunan untuk kepentingan rakyat banyak.
Agar Pegawai Negri Sipil sebagai unsur Aparatur Negara, dan Abdi
Masyarakat dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka ia mempunyai
kesetiaan dan ketaatan penuh terhadap Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945,
Negara dan Pemerintah, sehingga dengan demikian dpat memusatkan segala daya
dan tenaganya untuk menyelenggarakan tugas pemerintah dan pembangunan
secara berdaya guna dan berhasil guna.
Kesetiaan dan ketaatan pernuh tersebut mengandung pengertian bahwa
Pegawai Negri Sipil sepenuhnya di bawah pimpinan pemerintah. Hal ini perlu
ditegaskan untuk menjamin kesatuan pimpinan dan garis pimpinan yang jelas dan
tegas.

d.Kewajiban dan Hak Pegawai Negri Sipil


a. Kewajiban Pegawai Negri Sipil berdasarkan Undang-undang Nomor 7
Tahun 1974 ditentukan sebagai berikut:

1. Sebelum menjatuhkan hukuman disiplin wajib mengadakan


pemeriksaan.
2. Pemeriksaan dilakukan secara lisan dan tertulis.
3. Pemeriksaan dilakukan secara tertutup.
4. Pejabat yang berwenag dapat:
a) Mendengar atau meminta keterangan dari orang lain.
b) Memerintahkan pejabat bawahan untuk memerikasa.
b. Penjatuhan Hukuman.
1. Secara lisan
2. Secara tertulis.
g. Keberatan dan Hukuman
1. Hukuman disiplin ringan tidak dapat diajukan keberatan.
2. Hukuman sedang dan berat dapat diajukan (dalam jangka waktu 14
hari).
3. Keberatan diajukan secara tertulis melalui saluran hierarkhi.
h. Berlakunya Keputusan Hukuman Disiplin
1.
2.
3.
4.
5.

Pada hari/ sejak tanggal disampaikan.


Pada hari kelima apabila tidak ada keberatan.
Terhitung mulai tanggal keputusan atas keberatan.
Sejak tanggal keberatan.
Hari ketigapuluh, apabila Pegawai Negri Sipil tidak hadir pada waktu
penyempaian.
2.3 Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (PP No. 10 Tahun 1979)
a. Pengertian dan Tujuan Daftar Penilaian Pekerja (DP3)
1. Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerja (DP3) adalah suatu daftar
yang membuat hasil penilaian pelaksanaan pekerja seseorang
pegawai negri sipil dalam jangka waktu 1 tahun yang dibuat ol,eh
Pejebat Penilai.
2. Tujuan Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan adalah untuk
memperoleh bahan-bahan pertimbangan yang objektif dalam
pembinaan Pegawai Negri Sipil berdasarkan sistem karier dan
sistem prestasi kerja.
3. Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan, sesuai dengan tujuan, harus
dibuat seobjektif dan seteliti mungkin berdasrkan data yang

tersedia. Untuk ini maka setiap pejabat penilai wajib membuat dan
memelihara catatan menegenai Pegawai Negri Sipil yang berada
dalam lingkungannya.
b. Unsur-Unsur yang Dinilai
1. Unsur yang dinilai:
Kesetiaan
Prestasi kerja
Tanggung jawab
Ketaatan
Kejujuran
Kerjasama
Prakarssa
Kepemimpinan
2. Kesetiaan
Adalah tekad dan kesanggupan mentaati, melaksanakan dan
mengamalkan sesusatu yang ditaati dengan penuh kesadaran dan
tanggung jawab.
3. Prestasi kerja.
Adalah hasil kerja yang dicapai oleh oleh seorang Pegawai Negri
Sipil dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya.
Prestasi kerja dipengeruhi oleh kecakapan, keterampilan,
pengalaman dan kesanggupan Pegawai Negri Sipil yang
bersangkutan.
4. Tanggung jawab.
Adalah kesanggupan pegawai negri sipil menjalankan pekerjaan
yang diserahkan kepadanya dengan sebaik-baiknya dan tepat pada
waktunya serta berani mengambil resiko atas keputusan yang
diambilnya atau tindakan yang dilakukannya.
5. Ketaatan.
Adalah kesanggupan seorang Pegawai Negri Sipil untuk mentaati
segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan
yang berlaku serta kesanggupan untuk tidak melanggar larangan
yang ditentukan.
6. Kejujuran.
Adalah ketulusan hati seorang Pegawai Negri Sipil dalam
melaksanakan tugas dan kempunan untuk tidak menyalahgunakan
wewenang yang diberikan kepadanya.
7. Kerjasama.
Adalah kemampuan seorang Pegawai Negri Sipil untuk beekerja
sama dengan orang lain dalam menyelesaikan suatu tugas yang
ditentukan.
8. Prakarsa.

Adalah kemampuan seorang Pegawai Negri Sipil untuk mengambil


keputusan, langkah-langkah atau melaksanakan suatu tindakan
yang diperlukan dalam melaksanakan tugas pokok tanpa
menggangu perintah atasan.
9. Kepemimpinan.
Adalah kemampuan seorang Pegawai Negri Sipil untuk
meyakinkan orang lain sehingga dapat dikerahkan secara maksimal
untuk melaksanakan tugas pokoknya.
c. Pejabat Penilai
1. Pejabat Penilai adalah atasan langsung Pegawai Negri Sipil yang
dinilai dengan ketentuan serendah-rendahnya kepala urusan,
kecuali ditentukan lain oleh mentri.
2. Pejabat penilai wajib menilai lagsung Pegawai Negri Sipil yang
berada dibawahnya.
3. Pejabat penilai barulah dapat memberikan penilaian setelah
membawahi Pegawai Negri Sipil yang bersangkutan sekurangkurangnya 6 bulan.
4. Penilaian dilakukan pada bulan Desember tiap tahun. Jangka waktu
penilaian adalah bulan Januari sampai dengan bulan Desember.
5. Setiap pejabat penilai wajib mengisi dan memelihara buku catatan
penilaian, dan yang dicatat adalah tingkah laku/ perbuatan yang
menonjol baik ataupun yang negatif.
6. Hasil penilaian pejabat dituangkan dalam daftar penilaian
pelaksanaan pekerjaan.
Daftar ini harus diisi sendiri oleh pejabat penilai.
d. Tata Cara Penilaian
1. Nilai
Nilai pelaksanaan pekerjaan dinyatakan dalam rangka sebagai
berikut:
a. Amat Baik
= 91- 100
b. Baik
= 76 90
c. Cukup
= 61 75
d. Sedang
= 51 60
e. Kurang
= 50 ke bawah
2. Pedoman Penilaian
a. Dalam pemberian nilai dalam Daftar Penilaian Pelakssanaan
Pekerjaan harus berpedoman kepada lampiran PP No. 10 Tahun
1979.
b. Setiap unsur penilaian harus ditentukan dulu nilainya dalam
angka, kemudian nilai dalam sebutan.
3. Penyampaian Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan

a. Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan yang sudah dibuat dan


ditandatangani oleh pejabat diserahkan langsung kepada
Pegawai Negri Sipil yang dinilai.
b. Pegawai Negri Sipil yang dinilai wajib mencantumkan tanggal
penerimaan Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekjerjaan yang
diberikan.
c. Apabila menyetujui, ia menadatangani Daftar Penilai
Pelaksanaan Pekerjaan tersebut dan mengembalikan kepada
atasan.
d. Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan yang sudah
ditandatangani oleh Pegawai Negri Sipil yang bersangkutan
segera dikirim kepada atasan pejabat nilai untuk mendapat
pengesahan.
4. Pengajuan Keberatan.
a. Pegawai Negri Sipil yang berkeberatan atas nilai dalam Daftar
Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan dapat mengajukan keberatan
secara tertulis disertai alasan-alasan kepada atasan pejabat
penilai melalui hierarki (ditulis dalam Daftar Penilaian
Pelaksanaan Pekerjaan ruang yang deisediakan).
b. Keberatan harus sudah diajukan dalam jangka waktu 14 hari
terhitung mulai menerima Daftar Penilaian Pelaksanaan
Pekerjaan.
c. Meskipun ia keberatan dalam nilai Daftar Penilaian Pelaksanaan
Pekerjaan ia tetap harus membubuhi tanda tangan.
d. Setelah menerima keberatan, pejabat penilai membuat
tanggapan secara tertulis. Ditulis dalam Daftar Penilaian
Pelaksanaan Pekerjaan ruang yang disediakan.
5. Atasan pejabat penilai
a. Atasan pejabat penilai wajib memeriksa Daftar Penilaian
Pelaksanaan Pekerjaan yang diberikan kepadanya.
b. Bila ada keberatan dari Pegawai Negri Sipil yang dinilai, maka
atasan pejabat penilai wajib memeriksa dan memperhatikan
dengan seksama keberatan yang diajukan dan tanggapan yang
diberikan.
c. Apabila ada alasan yang cukup, atasan pejabat penilai dapat
mengubah nilai yang diberikan pejabat penilai.
d. Perubahan nilai dicantumkan dalam Daftar Penilaian
Pelaksanaan Pekerjaan dengan mencoret nilai yang lana dan
mencantumkan nilai yang baru.
e. Sifat dan Penggunaan
1. Sifat

Rahasia hanya dapat diketahui oleh Pegawai Negri Sipil yang


dinilai, pejabat penilai dan atasan pejabat penilai atau pejabat lain
yang karena tugasnya ia mengetahui Adftar Penilaian Pelaksanaan
Pekerjaan tersebut.
2. Penggunaan
a. Sebagai bahan dasar dalam pelaksanaan pembinaa Pegawai
Negri Sipil.
b. Bahan pertimbangan dalam menetapkan suatu mutasi
kepegawaian dalam tahun berikutnya.
f. Penyimpanan Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan
1. Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan disiapkan dan dipelihara
dengan baik oleh pejabat-pejabat yang diserahi urusan-urusan
kepegawaian.
2. Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan disimpan untuk selama 5
tahun. Umpamanya Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan yang
dibuat pada akhir tahun.
1981 disimpan sampai dengan akhir tahun 1986;
1982 disimpan sampai dengan akhir tahun 1987;
Dan seterusnya.
3. Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan yang telah lebih dari 5
tahun tidak dipergunakan lagi.
4. Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan bagi Pegawai Negri Sipil.
a. Yang berpangkat Pembina golongan ruang IV/a ke atas dibuat
dalam dua rangkap, yaitu:
Satu rangkap untuk arsip instansi yang bersangkutan.
Satu rangkap dikirim kepada Kepala Badan Administrasi
Kepegawaian Negara.
b. Yang berpangkat Penata Tingkat I golongan ruang III/d ke
bawah dibuat satu rangkap.
2.4 Kode Etik Tenaga Keguruan
Kode etik tenaga keguruan pada umumnya ialah:
1. Untuk mencapai tujuan sebagaimana termaktub dalam preambule, maka
diperlukan syarat-syarat pokok dari setiap guru, yaitu keperibadian,
berilmu serta terampil di dalam melaksanakan tugasnya.
2. Guru adalah setiap orang yang bertugas dan berwenang dalam dunia
pendidikan dan pengajaran pada lembaga pendidikan formal.
3. Untuk melaksanakan tugasnya, maka prinsip-prinsip tentang tingkah laku
yang diinginkan dan diharapkan oleh setiap guru dalam jabatannya
terhadap orang lain dalam semua situasi pendidikan adalah berjiwa
Pancasila, berilmu pengetahuan serta terampil dalam menyampaikannya,

yang dapat dipertanggungjawabkan secara didaktis dan metodis


sehingga tujuan pendidikan dapat dicapai.
4. Berdasarkan prinsip-prinsip umum diatas, maka petunjuk-petunjuk yang
merupakan tata cara akhlak itu wajib diamalkan oleh setiap guru dalam
antar hubungan dengan manusia lain dalam lingkungan jabatannya.
a. Hubungan Guru dengan Murid-Murid
Berikut ini merupakan norma-norma yang tampak paling sering
mendapat perhatian kode-kode etik yang ada. Menurut norma ini guru
hendaknya:
1. Mengakui bahwa kesejahteraan anak didik ialah kewajiban guru.
2. Memoerlakukan anak didik secara benar dan adil tanpa memandang
sifat-sifat fisik, mental, politik, ekonomi, sosial rasial atau agama.
3. Bersikap ramah dan sopan terhadap anak didiknya.
4. Mengakui perbedaan antara murid-murid dan berusaha untuk
memenuhi kebutuhan-kenutuhan individual.
5. Memegang baik keterangan-keterangan yang bersifat rahasia tentang
murid-muridnya dan mempergunakannya secara profesional.
6. Menghindarkan untuk mendasarkan keyakinan-keyakinan agama
atau politik partainya kepada muridnya.
7. Guru selaku pendidik hendaknya selalu menjaddi dirinya suri
menjadi teladan bagi anak didiknya.
8. Di dalam melaksanakan tugasnya harus dijiwai dengan kasih sayang,
adil serta menumbuhkannya dengan tanggung jawab.
9. Guru wajib menjunjung tinggi harta diri setiap murid.
10. Guru seyogianya tidak memberi pelajaran tambahan kepada
muridnya sendiri dengan memungut bayaran.
Di dalam praktek terbukti banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran
terhadap norma tersebut. Di antara pelanggaran-pelanggaran yang paling
sering terjadi, termasuk sikap dasar dan kurang sopan terhadap murid.seperti
menggunakan bahasa yang mengejek, membenci murid, perlakuan yang tak
benar dan tak adil, kesukaan mempunyai anak kesayangan, tiada kesediaan
guru untuk mempertimbangkan perbedaan-perbedaan di antara murid-murid
dan kegagalan untuk memegang dan menggunakan keterangan yang bersifat
rahasia tentang murid secara profesional.
b. Hubungan Guru dan Teman Sekerja
Dalam kategori ini asas yang paling sering dicantumkan kode etik
yang ada, menghendaki supaya guru menjalankan kewajiban-kewajiban
beriku:

1. Membantu dalam menentukan dan menjalankan kebijakan-kebijakan


sekolah.
2. Membantu teman-temannya dengan nasihat-nasihat yang kontruktif
dan pikiran pikiran yang membantu.
3. Menghargai dengan ikhlas bantuan yang diterima dan kemajuankemajuan yang dicapai.
4. Membantu teman-teman untuk memperoleh promosi yang patut
dicapai.
5. Menjauhkan diri campur tangan perkara-perkara antara guru-guru
dan murid-murid, kecuali jika kedudukan yang resmi mengharuskan.
6. Menjauhkan ocehan atau kecaman yang bersifat menentang tentang
guru-guru lain.
7. Berbicara secara konstruktif tentang guru-guru lain, akan tetapi
melaporkan secara jujur kepada pejabat-pejabat yang berwenang
dalam perkara-perkara yang menyangkut kesejahteraan murid-murid,
sekolah dan pejabat.
8. Menggabungkan diri dengan aktif dalam organisasi-organisasi guru.
9. Di dalam pergaulan sesama guru hendaknya berterus terang, jujur
dan sederajat.
10. Diantara sesama guru hendaknya selalu ada kesediaan untuk
memberikan saran, nasihat dalam rangka menumbuhkan jabatan
masing-masing.
11. Di dalam menjalankian tugas dan memecahkan persoalan bersama
hendaknya saling tolong menolong dan penuh toleransi.
12. Guru hendaknya mencegah pembicaraan yang sifatnya sensitif yang
berhubungan dengan sesama guru.
Juga terhadap asas-asas ini sering terjadi pelanggaran-pelanggaran. Di
antara norma-norma itu menunjukan bahwa ocehan dan kecaman yang
bersifat menentang terhadap teman-teman guru lainnyatermasuk
pelanggaran-pelanggaran yang paling sering dilaporkan. Rupa-rupanya tidak
semua guru memahami manfaat dan menjunjung asas ini dalam praktek.
Mungkin mereka tidak sadar akan kerugian yang dibuat mereka terhadap
status guru dengan mengijinkan ocehan dan kritik tentang teman-teman
sekerja itu menjalar ke dalam masyarakat.
Mengingat ini tidak mengherankan bahwa banyak organisasi guru di
berbagai negara sangat memperhatikan asas ini. Sebaiknya terlalu banyak
tekanan pada masalah ini terkadang-kadang mungkin menyediakan
perlindungan yang tak layak bagi pejabat pimpinan yang otokratis dan
efektif. Guru hendaknya mempunyai hak profesional dan bahkan kewajiban
dengan disertai fakta-fakta mengancam merekan dalam kedudukan

pimpinan yang menjalankan praktek-praktek yang menyesalkan atau


merugikan. Asal dijaga supaya kecaman tidak keluar dari kelompok
profesional.
Ini dapat dicapai dengan sukses dan etis, jika alat-alat atau saluransaluran administrasi disediakan secara legal di dalam organisasi sekolah itu
untuk melayani pengaduan dan kritik yang benar. Seringkali pelanggarpelanggar terhadap asas ini disebabkan oleh ketidaksediaan dari pimpinan
untuk secara jujur dan berani menghadapi kenyataan tentang kebijaksanaan
yang berpandangan sempit dan praktek otoriter.
c. Hubungan Guru dengan Jabatan
Dalam kategori ini beberapa tanggung jawab yang diharapkan akan
dijalankan oleh anggota-anggota organisassi profesi guru ialah:
1. Memperhatikan kebanggaan yang sejati dalam jabatan guru.
2. Mendukung dan membantu usaha-usaha untuk meninggikan syaratsyarat memasuki jabatan.
3. Membuat jabatan guru demikian menarik dalam cita-cita dan
praktek-praktek sehingga anak-anak muda yang cakap dan
bersungguh-sungguh akan ingin memasukinya.
4. Berusaha memperoleh pertumbuhan profesional secara kontinu
dengan kegiatan-kegiatan yang memperluas pandangan pendidikan
dan meninggikan kecakapan-kecakapan untuk mengajar.
5. Bekerja kearah tercapai kondisi-kondisi materiil yang diperlukan
bagi pengabdian profesional yang bermutu.
6. Melaporkan kepada yang berwajib praktek-praktek yang korup dan
tak hormat yang diketahui.
Di dalam kode etik yang ada pada umumnya asas-asas mengenai
kewajiban guru untuk tumbuh dalam jabatan diberi tekanan yang sangat.
Pengalaman-pengalaman telah membuktikan dengan tegas bahwa pekerjaan
mengajar tak dapat mencapai status profesional yang betul-betul, kecuali
jika guru-guru bersedia untuk memupuk perhatian yang sungguh-sungguh
terhadap perkembangan-perkembangan pendidikan dan untuk tetap
mengikuti gerakan-gerakan baru dalam bidang pendidikan dengan jalan
belajar, dengan ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan in-rer-vice training
berparetisipasi dalam konferensi-konferensi, membaca buku-buku dan
masalah pendidikan, dan dengan menggabungkan diri dalam organisasiorganisai guru.
d. Hubungan Guru dengan Rumah dan Masyrakat

Tentang norma- norma dalam hubungan ini yang berikut termasuk


yang sering disebut dalam kode-kode etik yang ada. Dalam hal ini guru
hendaknya:
1. Menghormati tanggung jawab dasar dari orang tua terhadap anakanaknya.
2. Menciptakan dan memelihara hubungan-hubungan yang ramah dan
kooperatif dengan rumah.
3. Membantu memperkuat kepercayaan murid terhadap rumahnya
sendiri dan menghindarkan ucapan yang mungkin merusak
kepercayaan itu.
4. Menghormati masyarakat di mana ia bekerja dan setia kepala
sekolah, masyarakat, bangsa, dan negara.
5. Ikut beserta secara aktif dalam kehidupan masyarakat.
e. Hubungan Guru dengan Badan-Badan Komersial
Hubungan-hubungan tertentu antara guru dengan badan komersial
mendapat perhatian yang cukupdi dalam kode etik yang telah ada. Di
dalamnya sering dicantumkan bahwa guru hendaknya:
1. Menjauhkan diri dari penerimaan uang komisi atau barang berharga
apa pun dari badan-badan penerbit dan badan komersial lainnya.
2. Menghindarkan untuk menerima kewajiban-kewajiban yang tak
pantas atau uang juru yang tak patut dan badan penerbit.
3. Menjauhkan diri dari praktek-praktek memesan atau menyetujui
buku-buku atau alat-alat pengajaran dengan maksud memperkaya
diri.
Bahwasannya asas-asas ini sering dilanggar, orang-orang telah lama
bekerja di kalangan pendidikan sekolah kiranya dapat memberikan
kesaksian mereka.
f. Hubungan Guru dengan Atasnnya
1. Guru wajib melaksanakan perintah dan kebijaksanaan atasnnya.
2. Guru wajib menghormati hierarki jabatan.
3. Guru wajib menyimpan rahasia jabatan.
4. Setiap saran dan kritik kepada atasan harus diberikan melalui
prosedur dan forum yang semestinya.
5. Jalinan hubungan antara guru dan atasan hendaknya selalu diarahkan
untuk meningkatkan mutu dan pelayanan pendidikan yang menjadi
tanggung jawab bersama.
g. Hubungan Guru dengan Pegawai Tata Usaha
1. Hubungan antara guru dengan pegaai tata usaha terjamin oleh
kedudukan kepala sekolah di dalam sistem kelembagaan sekolah.

2. Setiap guru berkewajiaban untuk selalu memelihara semangat korp


dan meningkatkan rasa kekeluargaan dengan pegawai tata usaha
dalam hal yang dapat mengganggu martabat masing-masing.
3. Guru hendaknya bersikap terbuka dan demokratis dalam
hubungannya dengan pegawai tata usaha dan sanggup menempatkan
diri sesuai dengan hierarki jabatan.
4. Setiap guru hendaknya bersikap toleran dalam menyelesaikan setiap
persoalan yang timbul atas dasar musyawarah dan mufakat demi
kepentingan bersama.
5. Hubungan guru dengan pegawai tata usaha hendaknya merupakan
ikatan moral dan bersikap kooperatif edukatif.
PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) dalam kongresnya
menyatakan bahwa:

Guru berjiwa Pancasila


Guru harus melaksanakan UUD 1945
Guru harus penuh pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
Bangsa dan Tanah Air.

Karena tanggung jawab yang sangat berat tapi itulah, maka seorang
guru wajib berpedoman hal-hal berikut:
1. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk
membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila.
a. Guru menghormati hak individu, Agama dan Kepercayaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa dari anak didiknya masingmasing.
b. Guru menghormati dan membimbing kepribadian anak
didiknya.
c. Guru menyadari bahwa Inteligensi, Moral dan Jasmani adalah
tujuan utam pendidikan.
d. Guru melatih anak didik memecahkan masalah-masalah dan
membina daya kreasinya agar dapat menjunjung masyarakat
yang sedang membangun.
e. Guru membantu sekolah di dalam usaha menanamkan
pengetahuan dan keterampilan kepada anak didik.
2. Guru memiliki kejujuran profesional dalam menerapkan
kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
a. Guru menghargai dan memperhatikan perbedaan dan
kebutuhan anak didiknya masing-masing.
b. Guru hendaknya fleksibel di dalam menerapkan kurikulum
sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.

c. Guru memberikan pelajaran di dalam dan di luar sekolah


berdasarkan kurikulum yang berlaku tanpa membeda-bedakan
jenis dan posisi orang tua muridnya.
3. Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh
informasi, tentang anak didik tetapi menghindarkan diri dari
segala bentuk penyalahgunaan.
a. Komunikasi Guru dan anak didik di dalam dan di luar sekolah
dilandaskan pada rasa kasih sayang.
b. Untuk berhasilnya pendidikan, guru harus mengetahui
kepribadian anak dari latar belakang keluarganya.
c. Komunikasi hanya diadakan semata-mata untuk kepentingan
pendidikan anak didik.
4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah memelihara
hubungan-hubungan dengan orang tua murid dengan sebaikbaiknya bagi kepentingan anak didik.
a. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah sehingga anak
didik betah berada dan belajar di sekolah.
b. Guru menciptakan hubungan baik dengan orang tua sehingga
dapat terjalin pertukaran informasi timbal balik untuk
kepentingan anak didik.
c. Guru senantiasa menerima dengan dada lapang tiap kritik
membangun yang disampaikan orang tua murid/ masyarakat
terhadap kehidupan sekolahnya.
5. Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar
sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan
pendidikan.
a. Guru memperluas pengetahuan masyarakat mengenai profesi
keguruan.
b. Guru menyebarkan dan turut merumuskan program-program
pendidikan kepada dan dengan masyarakat sekitarnya,
sehingga sekolah tersebut berfungsi sebagai pusat pembinaan
dan pengembangan kebudayaan di tempat itu.
c. Guru harus berperan agar dirinya dan sekolahnya dapat
berfungsi sebagai pembaru bagi kehidupan dan kemajuan
daerahnya.
d. Guru turut bersama-sama masyarakat sekitarnya di dalam
berbagai aktivitas.
e. Guru mengusahakan terciptanya kerjasama yang baik antara
sekolah, orang tua murid, dan masyarakat bagi kesempatan
usaha pendidikan atas dasar kesadaran bahwa pendidikan
merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang
tua murid dan masyarakat.

6. Guru secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama berusaha


mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
a. Guru melanjutkan studinya dengan:
1. Membaca buku-buku.
2. Mengikuti workshop/ seminar, konferensi dan pertemuanpertemuan pendidikan dan keilmuan lainnya.
3. Mengikuti penataran.
4. Mengadakan kegiatan-kegiatan penelitian.
b. Guru selalu bicara, bersikap dan bertindak sesuai dengan
martabat profesinya.
7. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antar sesama guru
baik berdasarkan lingkungan kerja maupun di dalam hubungan
keseluruhan.
a. Guru senantiasa saling bertukar informassi/ pendapat, saling
menasihati dan bantu membantu satu sama lain baik dalam
hubungan kepentingan pribadimaupun dalam penunaian tugas
profesi.
b. Guru tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan
nama baik rekan-rekan seprofesinya dan menunjang martabat
guru baik secara pribadi maupun secara keseluruhan.
8. Guru secara bersama-sama memelihara, membina dan
meningkatkan organisasi guru profesional (PGRI) sebagai sarana
pengabdian.
a. Guru menjadi anggota dan membantu organisasi guru yang
bermaksud membina profesi dan pendidikan pada umumnya.
b. Guru senantiasa berusaha menciptakan persatuan di antara
sesama pengabdi pendidikan.
c. Guru senantiasa berusaha agar menghindarkan diri dari sikapsikap, ucapan-ucapan, dan tindakan-tindakan yang merugikan
organisasi.
9. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan
kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.
a. Guru senantiasa setia terhadap kebijaksanaan dan ketentuanketentuan pemerintah dalam bidang pendidikan kepada orang
tua murid dan masyarakat sekitarnya.
b. Guru berusaha membantu menyebarkan kebijaksanaan
kepemimpinan pendidikan di lingkungan atau di daerahnya
sebaik-baiknya.