Anda di halaman 1dari 8

Konsep semi rigid segmental spinal instrumentation

Biomekanik :

Stabilisasi dilakukan di daerah posterior (tension site) sehingga kesembuhan lebih baik,
lordosis tulang belakang lebih mudah dipertahankan, meningatkan daya tahan terhadap

beban axial.
Instrumentasi :
Rod yang dipakai kuntcher nail berbentuk tubular sangat efektif yaitu dengan sedikit
bahan didapatkan rigiditas yang maksimal. Rod dipasang di lamina yang sangat sedikit
terpengaruh oleh bone turn over sehingga dapat dipakai pada tulang yang osteoporotik.
Teknik yang digunakan berupa sublaminar wiring sehingga masih dimungkinkan terjadi
gerakan antara rod dengan vertebra sehingga bebanyang dihasilkan optimal, stabilitas
tetap terjaga. Stabilisasi dilakukan pada dua vertebra di bwah dan di atas fraktur
berfungsi sebagai distributor gaya sehingga gaya yang diterima setiap segmen vertebra
lebih sedikit. Konfigurasi C bertujuan menambah resistensi terhadap beban axial. Figure
of eight pada ujung konstruksi vaskuler berfungsi menjadikan konstruksi SRSSI menjadi
satu kesatuan.

Biofisik :

Sesuai dengan hukum wolf dimana tulang mengalami deposisi jika menerima beban dan
mengalami resorpsi bila beban dihilangkan.

sesuai dengan teori Piezoelektrik dimana beban menyebabkan tuang bermuatan listrik
yang mempengaruhi lingkungan dan menimbulkan perubahan seluler. Sisi konkaf dan
tempat frktur bermuatan negative terjadi deposisi tulang. Sisi konveks bermuatan positif
terjadi resorpsi tulang -terjadi remodeling.

Biomolekuler :

SRSSI menimbulkan beban optimal sehingga menyebabkan bipotensial

yang

mempengaruhi sel proosteogenitor dan lingkungannya sehingga terjadi replikasi DNA


yang mengakibatkan terjadi mutasi osteoblast dan fibroblast, sehingga produksi protein
collagen dan osteoid meningkat.

Beban kompresi akan menurunkan viskositas hidroksi apatid - terjadi presipiasi


kalsium bone mineral density bertambah dan trabekula menebal.

Aspek biomolekuler pada spinal cord injury


a. Calcium entrance
Pada spinal cord injury terjadi ca influx yang menyebabkan peningkatan kadar kalsium di
dalam sel, sehingga mengaktifkan enzim fosfolipase C dan A2 serta edem intracellular
yang menyebabkan kerusakan spinal cord sekuder. Peningatan kadar kalsium disebabkan
oleh :

Pelepasan

neurotransmitter

yang

bersifat

spasmogen

seperti

glutamate,

katekolamin, serotonin, acetilcholin, vasopressin, IL-1, neuropeptida gamma,


endothelin-1, dll.

Pemecahan eritrosit menjadi satu molekul Hb 4 molekul bilirubin bilirubin


bergabung dengan ATP Ca influx spasme pembuluh darah.

b. Releasing opiate like substance


Terjadi pelepasan opiate like substance yang merangsang :

Reseptor kappa GABA depolarisasi dan Ca influx cedera spinal cord


sekunder dengan jalan pemecahan free fatty acid.

Reseptor dan delta repolarisasi.

c. Pengaruh pengumpulan darah


Perdarahan menyebabkan pelepasan Fe2+ dan Cu

2+

oleh eritrosit yang berperan sebagai

katalisator terbentuk hidroksi radikal. Eritrosit bereaksi dengan lipid membentuk


peroksidase lipid kerusakan otak lebih lanjut.
Stadium Wound Healing :
a. Stadium Inflamasi
Stadium vaskuler vasokonstriksi pembuluh darah berfungsi sebagai hemostasis. Hal
ini disebabkan oleh mediator kimia serotonin dan tromboksan yang dikeluarkan trombosit
yang terpapar dengan kolagen pembuluh darah yang terbuka. Kemudian terjadi
vasodilatasi yang dicetuskan histamine dan trombosit, sel mast, dan basofil. Terjadi
kenaikan permeabiltas kapiler transudasi cairan edema dan migrasi sel2 radang ke
daerah luka. Neutrofil merupakan se radang pertama yang tiba di daerah radang dan

berfungsi sebagai fagosit dan mucose binding. Sel radang berupa monosit dan makrofag
berfungsi sebagai fagisitik juga mengatur fase ploriferasi penyembuhan luka.
b. Stadium Proliferasi

terjadi ploriferasi dan migrasi fibroblast membentuk serabut kolagen, glikoprotein,

dan elastin.
kontraksi ukuran luka semakin mengecil akibat retraksi massa granulasi
angiogenesis terbentuk pembuluh darah baru pada jaringan yang sebelumnya

avaskuler akibat aktivitas endothelium


c. Stadium Maturasi
terjadi remodeling jaringan ikat yang terbentuk pada luka, beberapa enzim yang aktif
dalam proses ini hyaluronidase, activator plasminogen, kolagenase, elastase.
6. Gambaran patologi dan klinis spinal cord syndrome

Brown Sequard Syndrome


Terjadi cedera pada hemicord dengan paralisis ipsilateral hilangnya propioseptif dan
sensasi raba, serta hipestesia terkadang nyeri dan suhu pada sisi kontralateral. Prognosis
baik.

Central Cord Syndrome

Akibat trauma hiperekstensi, dislokasi faset joint, burst fraktur, dan odontoid. Kerusakan
pada sentral medulla spinalis. Secara klinis flasid paralisis pada upper extremity &
spastic paralysis pada lower extremity dengan sacral sparing. Prognosis 50%.

Anterior Cord Syndrome


Kelainan pada 2/3 bagian anterior segmen edulla spinalis sehingga terjadi kerusakan pada
traktus spinotalamikus lateral, traktur kortikospinalis & cornu anterior. Klinis hilangnya
sensasi nyeri, suhu, hilangnya kekuatan motorik. Sensasi raba dan propioseptif masih
ada. Prognosis baik jika terjadi perbaikan dalam 24 jam. Jika lebih dari 24 jam tidak
terjadi perbaikan fungsi hanya akan kembali + 10 %.

Posterior Cord Syndrome


Hilangnya sensasi tekan yang dalam, nyeri yang dalam dan propioseptif. Kekuatan
volunteer penuh, sensasi nyeri dan suhu masih utuh.

Indikasi terapi konservatif fraktur thorakolumbal

Instability coefficient < 2


Sudut kifosis < 30 menurut COBB
Sudut skoliosis < 10 menurut COBB
Loss of body length <50%

Canal enchroachment <30%


Tidak ada deficit neurologis

7.a. Screw Home Mechanism


Merupakan rotasi automatic tibia pada saat flexi dari lutut, pada extensi sendi lutut terjadi
gerakan rotasi external tibia terhadap femur, pada saat gerakan flexi sendi lutut terjadi
gerakan internal rotasi tibia terhadap lutut.
Sendi tibiofemoral bukan merupakan hinge joint yang sederhana tetapi memiliki gerakan
spiral dan helikoic. Gerakan spiral selama extensi dan flexi karena bentuk anatomi kondilus
medial femur dimana condylus medialis besar, lebih panjang dari condylus lateral,
menambah stabilitas lutut pada saat ekstensi. Pada saat tibia bergeser terhadap femur dari
posisi flexi ke extensi maka tibia bergerak turun dan naik sesuai dengan kelengkungan
condylus medial.

flexi

ekstensi

internal rotasi

eksternal rotasi
Gb. Screw Home Mechanism

b. Four Joint Chain System


ACL, PCL, & tulang tibia serta femur membentuk suatu mekanisme pertalian yang
mempertautkan gerakan relative pada kedua tulang tersebut satu sama lain selama ekstensi
dan flexi sesuai gambaran berikut.

AB & CD merupakan dua pertalian antara ACL & PCL sementara dua pertalian lain AD &
BC merupakan garis yang menghubungkan insersi dan origo kedua ligamentum. Perubahan
sudut flexi sendi pada femur dan link AD pada tibia akan mengubah bentuk pertalian
dimana pertalian ligamentum berotasi pada titik insersi dan origo pada kedua tulang
tersebut. Titik yang dibetuk oleh persilangan ACL dan PCL disebut instantaneous center of
the linkage.
AB = ACL
CD = PCL
B

Roll
8. Cartilage Transplantation
Merupakan transplantasi cartilage terutama pada sendi lutut dimana jika terjadi defek cartilage
pada bagian tertentu dari sendi lutut maka akan diambil cartilage pada sisi yang sehat untuk
dikembangkan selama beberapa minggu secara laboratory. Kemudian dengan menggunakan
arthroscopy, cell yang telah dikembagkan tersebut dikembalikan pada daerah defek dan
dibungkus dengan tulang tibia. Non weight bearing untuk beberapa waktu dengan posisi
ekstensi.
10.a. PC Fix
Merupakan alat untuk internal fixasi dengan karakteristik kontak minimal dengan
periosteum dan tulang, minimalisasi kerusakan potensial dan stabilitas dari lock screw
monocortically. Dengan PC Fix kerusakan pada pembuluh darah menurun. Formasi kalus
dan union tulang menjadi lebih cepat daripada implant biasa. Merupakan desain
berdasarkan LC-DCP dan eksternal fixator.
b. Biodegradable material

Bahan yang mengalami penguraian apabila ditempatkan pada suatu lingkungan biologis.
Uatu bahan dapat bersifat biodegradable pada keadaan fisiologis tertentu, pada keadaan
fisiologis yang lain tidak biodegradable.
c. Biologic osteosynthesis
Teknik osteosynthesis yang tidak menyebabkan kerusakan jaringan lunak dan system
vascular lebih lanjut sehingga tidak menyebabkan proses penyembuhan tulang dan dapat
mempercepat pembentukan callus dan union tulang.