Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini, Indonesia semakin mendekatkan diri dengan keadaan bonus
demografi yakni keadaan dimana proporsi penduduk usia produktif lebih tinggi
dibandingkan dengan usia nonproduktif. Hal ini dibuktikan dengan hasil survei
beberapa tahun terakhir mengenai angkatan siap kerja di Indonesia. Terdapat kurang
lebih 118,05 juta, sebanyak 82,10 juta adalah lulusan Sekolah Dasar, 38,57 juta lulusan
SMP, 27,65 juta lulusan SMA, 13,54 juta lulusan SMK, 3,87 lulusan Diploma dan 8,17
juta lulusan Sarjana siap kerja dan diterjunkan ke masyarakat setiap tahun ajaran baru.
Salah satu penyumbang lulusan siap kerja tersebut adalah sekolah dan perguruan
tinggi dengan jurusan kesehatan. Jurusan tersebut melahirkan pendidik dan praktisi
seperti perawat, bidan, dan dokter yang banyak diminati masyarakat. Berbanding lurus
dengan kebutuhan masyarakat akan pendidikan, sekolah-sekolah kesehatan pun terus
bermunculan dan semakin luas tersebar di daerah-daerah. Sekolah akademi kebidanan
juga diantarnya .
Terdapat sekitar 726 akademi kebidanan, 3 universitas dengan jurusan S-1
kebidanan dan 2 instansi untuk S-2, maka ada 29.000 bidan baru di Indonesia setiap
tahunnya. Fakta tersebut manjadi dasar Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Bidan
Indonesia yang menyatakan bahwa pada tahun 2015 akan terjadi surplus bidan.
Hal ini menjadi penting dikarenakan masalah klise yang berjalan beriringan
dengan bonus demografi, yakni tingginya angka pengangguran. Akibat lapangan kerja
yang terbatas di Indonesia, menyebabkan semakin ketatnya persaingan fresh graduate
dalam memperoleh pekerjaan. Menurut hasil survey yang dilakukan, diperoleh angka
sebanyak lebih dari 7,24 juta orang pengangguran. Kenyataan menunjukkan bahwa
tidak sedikit pengangguran bergelar sarjana terkatung-katung di luar sana, dan termasuk
juga lulusan akademi kebidanan. Dilihat dari pengertian bidan menurut IBI, lulusan
akademi kebidanan adalah seorang perempuan yang telah lulus dari pendidikan bidan
yang diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah Negara Republik Indonesia
Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
1

serta memiliki kompetensi dan kualifikasi. Lulusan Akademi Kebidanan pada umumnya
memiliki harapan bahwa setelah menempuh pendidikan sesuai waktu yang ditentukan,
mereka akan bekerja sebagai pegawai, baik pegawai dibawah naungan pemerintahan
ataupun swasta. Mindset yang terbentuk dan tertanam selama pendidikan tersebut,
akhirnya mencetak lulusan akademi kebidanan menjadi kurang berkembang di bidang
lain dan kurang berani mencoba hal baru di luar comfort zone mereka. Mengingat
sukarnya keadaan saat ini, stampel berkompetensi dan berkualifikasi pun dirasa tetap
rapuh untuk bertahan, jika tanpa usaha dan keterampilan- keterampilan lain.
Kewirausahaan atau entrepreneurship adalah satu dari sekian jawaban atas
keadaan saat ini. Semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam
menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan serta
menerapkan cara kerja,teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam
rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang
lebih besar, merupakan bagian dari seorang wirausaha. Sekalipun tidak terlepas dari
jatuh bangun kegagalan, namun ciri-ciri tersebut menjadikan wirausahawan dirasa dapat
bertahan dan menghadapi masa sulit saat ini.
Ketatnya persaingan angkatan kerja di Indonesia untuk memperoleh pekerjaan
sesuai, dapat menjadi dasar bagi lulusan akademi kebidanan untuk mulai membuka diri
dalam bidang kewirausahaan atau entrepreneurship. Bidan entrepreneur yang kompeten,
kualitatif, mampu bersaing dan mandiri di lapangan pekerjaan, kini menjadi harapan
lulusan akademi kebidanan. Modal awal yang perlu dimiliki seorang entrepreneur
adalah mindset entrepreneur, sehingga langkah awal yang perlu dilakukan adalah
merubah mindset kewirausahaan lulusan kebidanan dengan pola out of the box, yang
mulanya menjadi pegawai menjadi seorang wirausaha.
Mengarahkan lulusan akademi kebidanan menjadi wirausahawan yang sukses,
perlu melewati serangkaian perubahan. Berpikir out of the box dari zona nyaman
sebagai bidan tentu tidak sederhana, namun bukan berarti tidak bisa. Dengan latar
belakang tersebutlah, maka penulis akan dikupas lebih dalam, penulis membuat
makalah ini agar dapat mengupas lebih dalam mengenai mindset out of the box, bidan,
kewirausahaan, dan Cara Merubah Mindset Kewirausahaan Lulusan Kebidanan
dengan Pola Out Of The Box.
Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
2

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah pengertian Bidan.
2. Bagaimana kewenangan bidan di Indoensia.
3. Bagaimana keberadaan bidan di Indonesia.
4. Apakah pengertian Mindset.
5. Apakah pengertian mindset out of the box.
6. Apakah pengertian Kewirausahaan.
7. Apakah manfaaat Kewirausahaan.
8. Apakah fungsi kewirausahaan.
9. Apakah prinsip kewirausahaan.
10. Apakah karekteristik wirausahawan.
11. Bagaimana mindset kewiraushaan.
12. Bagaimana cara merubah mindset kewirausahaan pola out of the box.
1.3 Tujuan Umum:
Mengetahui cara merubah mindset kewirausahaan lulusan kebidanan dengan pola
out of the box.
Tujuan khusus:
1. Untuk mengetahui pengertian Bidan
2. Untuk mengetahui kewenangan bidan di Indoensia.
3. Untuk mengetahui keberadaan bidan di Indonesia.
4. Untuk mengetahui pengertian Mindset.
5. Untuk mengetahui pengertian mindset out of the box.
6. Untuk mengetahui pengertian Kewirausahaan.
7. Untuk mengetahui manfaaat Kewirausahaan.
8. Untuk mengetahui fungsi kewirausahaan.
9. Untuk mengetahui prinsip kewirausahaan.
10. Untuk mengetahui karekteristik wirausahawan.
11. Untuk mengetahui mindset kewiraushaan.
12. Untuk mengetahui cara merubah mindset kewirausahaan.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Bidan
2.1.1Pengertian Bidan

Pengertian bidan menurut IBI (Ikatan Bidan Indonesia)

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
3

Seorang perempuan yang telah lulus dari pendidikan bidan yang diakui
pemerintah dan organisasi profesi di wilayah Negara Republik Indonesia serta
memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk diregister,sertifikasi dan atau secarah

sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan.


Menurut Kepmenkes No. 900/MENKES/SK/VII/2002, bidan adalah seorang
wanita yang telah mengikuti program pendidikan kebidanan dan lulus ujian

sesuai dengan persyaratan yang berlaku.1


Pengertian bidan menurut ICM (International Confederation Of Midwives)
Bidan adalah seseorang yang telah mengikuti program pendidikan bidan yang
diakui di negaranya, telah lulus dari pendidikan tersebut, serta memenuhi
kualifikasi untuk didaftar (register) dan atau memiliki ijin yang sah

(lisensi)untuk melakukan praktik kebidanan.


Pengertian bidan menurut WHO
Bidan adalah seseorang yang telah mengikuti program pendidikan bidan yang
diakui di negaranya, telah lulus dari pendidikan tersebut, serta memenuhi
kualifikasi untuk didaftar (register) dan atau memiliki izin yang sah (lisensi)
untuk melakukan praktik bidan.2

2.1.2 Kewenangan Bidan di Indonesia


Berdasarkan

Peraturan

Menteri

Kesehatan

(Permenkes)

Nomor

1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan,


kewenangan yang dimiliki bidan meliputi:

1. Kewenangan normal:
Pelayanan kesehatan ibu
Pelayanan kesehatan anak
Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana.
2. Kewenangan dalam menjalankan program Pemerintah
3. Kewenangan bidan yang menjalankan praktik di daerah yang tidak memiliki
dokter
Kewenangan normal adalah kewenangan yang dimiliki oleh seluruh bidan.
Kewenangan ini meliputi:
1
2

Estiwidani D. et-al, Konsep Kebidanan, 2008: 7


http://bidanendah.blogspot.com/2013/06/pengertian-bidan-menurut-ibi-icm-serta.html

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
4

1. Pelayanan Kesehatan Ibu.


Ruang Lingkup
Pelayanan konseling pada masa pra hamil
Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
Pelayanan persalinan normal
Pelayanan ibu nifas normal
Pelayanan ibu menyusui
Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan
Kewenangan
Episiotomi
Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II
Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan
Pemberian tablet Fe pada ibu hamil
Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas
Fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini (IMD) dan promosi air susu
ibu (ASI) eksklusif
Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan postpartum
Penyuluhan dan konseling
Bimbingan pada kelompok ibu hamil
Pemberian surat keterangan kematian
Pemberian surat keterangan cuti bersalin
2. Pelayanan kesehatan anak
Ruang lingkup:
Pelayanan bayi baru lahir
Pelayanan bayi
Pelayanan anak balita
Pelayanan anak pra sekolah.
Kewenangan
Melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk resusitasi,
pencegahan hipotermi, inisiasi menyusu dini (IMD), injeksi vitamin K 1,
perawatan bayi baru lahir pada masa neonatal (0-28 hari), dan perawatan
tali pusat
Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk
Penanganan kegawatdaruratan, dilanjutkan dengan perujukan
Pemberian imunisasi rutin sesuai program Pemerintah
Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita dan anak pra sekolah
Pemberian konseling dan penyuluhan
Pemberian surat keterangan kelahiran
Pemberian surat keterangan kematian.
3. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana
Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi perempuan
dan keluarga berencana
Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
5

Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom

Selain kewenangan normal sebagaimana tersebut di atas, khusus bagi bidan


yang menjalankan program Pemerintah mendapat kewenangan tambahan untuk
melakukan pelayanan kesehatan yang meliputi:
1. Pemberian alat kontrasepsi suntikan, alat kontrasepsi dalam rahim, dan
memberikan pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit
2. Asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus penyakit kronis
tertentu (dilakukan di bawah supervisi dokter)
3. Penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai pedoman yang ditetapkan
4. Melakukan pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan ibu dan
anak, anak usia sekolah dan remaja, dan penyehatan lingkungan
5. Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak pra sekolah dan anak
sekolah
6. Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas
7. Melaksanakan deteksi dini, merujuk dan memberikan penyuluhan terhadap
Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk pemberian kondom, dan penyakit
lainnya
8. Pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya
(NAPZA) melalui informasi dan edukasi
9. Pelayanan kesehatan lain yang merupakan program Pemerintah.
Khusus untuk pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit, asuhan antenatal
terintegrasi, penanganan bayi dan anak balita sakit, dan pelaksanaan deteksi dini,
merujuk, dan memberikan penyuluhan terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS)
dan penyakit lainnya, serta pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika
dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA), hanya dapat dilakukan oleh bidan yang telah
mendapat pelatihan untuk pelayanan tersebut.
Selain itu, khusus di daerah (kecamatan atau kelurahan/desa) yang belum
ada dokter, bidan juga diberikan kewenangan sementara untuk memberikan
pelayanan kesehatan di luar kewenangan normal, dengan syarat telah ditetapkan
oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kewenangan bidan untuk
memberikan pelayanan kesehatan di luar kewenangan normal tersebut berakhir
dan tidak berlaku lagi jika di daerah tersebut sudah terdapat tenaga dokter.3
3

http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/archives/171

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
6

2.1.3 Keberadaan Bidan di Indonesia


Kebutuhan bidan yang idal adalah 1 bidan untuk 1.000 warga. Dengan
perkiraan populasi Indonesia pada tahun 2012 adalah 250 juta jiwa, maka
kebutuhan pada saat itu adalah 250 ribu orang tenaga bidan untuk
didistribusikan ke seluruh Indonesia.
Menurut catatan PP IBI, saat ini sudah ada sekitar 200.000 lulusan kebidanan
dan sudah 101.000 yang terdaftar sebagai anggota PP IBI. Indonesia memiliki
sekitar 726 akademi kebidanan, 3 universitas dengan jurusan S-1 kebidanan dan
2 instansi untuk S-2 sehingga setiap tahun ada 29.000 bidan baru yang siap
bekerja.4

Tabel 2.1

http://health.detik.com/read/2012/02/02/132912/1832424/763/indonesia-akanmengalami-surplus-bidan-pada-2015
4

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
7

Tabel 2.2 Jumlah Lulusan Tenaga Kesehatan Tahun 2002-2009

Tabel 2.3 Rekapitulasi Pengangkatan Bidan Pegawai Tidak Tetap (PTT)


Tahun 20095
2.2 Konsep Mindset
5

Ditjen Dikti KemDikBud 2011

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
8

2.2.1 Pengertian Mindset


Pola pikir atau mindset (atau kadang-kadang disebut paradigma) adalah jumlah
total keyakinan, nilai, identitas, harapan, sikap, kebiasaan, keputusan, pendapat, dan
pola-pola pemikiran, baik tentang diri sendiri, orang lain, dan bagaimana kehidupan
bekerja. Ini adalah saringan yang dengannya manusia menafsirkan apa yang dilihat
dan dialami. Pola pikir membentuk kehidupan dan menarik kepada pemikir hasilhasil yang merupakan refleksi pasti pola pikir itu. Pikiran adalah magnet yang
sangat kuat. Apa pun yang diberitahukan pola pikir kepada adalah apa yang tarik,
baik menyadarinya atau tidak. Saat menciptakan pola pikir sendiri, pada saat yang
sama, pola pikir pulalah yang menciptakan diri seseorang.
Pola dapat diidentifikasikan sebagai bentuk atau patron atau model atau juga
cara. Pikiran adalah alat ukur yang digunakan manusia untuk memilih sesuatu yang
dinilai lebih baik dan menjamin masa depan diri dan keluarganya. Pikiran
merupakan kekuatan pendorong setiap perbuatan dan dampaknya. Kekuatan yang
ditimbulkan mampu menentukan kondisi jiwa, tubuh, kepribadian dan rasa percaya
diri6.
Pola Pikir atau mindset adalah sekumpulan kepercayaan (belief) atau cara
berpikir yang mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang, yang akhirnya akan
menentukan level keberhasilan hidupnya7.
Pola pikir sebenarnya adalah bentuk pikir atau cara berpikir yang
disebut Mindset terdiri dari dua kata yakni mind dan set. Definisi Mind dalam
kamus electronica Encarta merupakan sumber pikiran dan memori atau pusat
kesadaran yang menghasilkan pikiran, perasaan, ide dan menyimpan pengetahuan
dan memori tentang segala macam hal hal yang pernah dilakukan sendiri maupun
kejadian apa saja yang dibaca, dilihat, dan dilakoni diri sendiri maupun orang lain.
Sedangkan set adalah kepercayaan kepercayaan yang mempengaruhi sikap
seseorang atau suatu cara berpikir yang menentukan perilaku dan pandangan, sikap
dan masa depan seseorang. Dengan demikian pola piker adalah kepercayaan (belief)
6
7

Ibrahim Elfiky,2009 : 1
Adi W. Gunawan dalam Yoga, 2008 : 1

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
9

atau sekumpulan kepercayaan (set of belief) atau cara berpikir yang mempengaruhi
perilaku (behavior) dan sikap (attitude) seseorang yang akhirnya menentukan level
keberhasilan (nasib) hidupnya8.
Pikiran bawah sadar adalah pusat kekuatan yang paling menakjubkan. Pikiran
itu adalah sisi spiritual diri manusia, dan beberapa orang bahkan menyebutnya
jiwa. Pikiran bawah sadar mengekspresikan diri melalui perasaan dan intuisi. Ia
tidak memiliki batas-batas kecuali yang ditempatkan atasnya oleh pikiran sadar
Pikiran bawah sadar tidak memiliki kemampuan untuk menyensor atau menolak
informasi. Ia langsung bertindak atas perintah apa pun yang diberikan padanya.
Pikiran bawah sadar tidak dapat mengetahui perbedaan antara sesuatu yang benarbenar terjadi dan sesuatu yang dibayangkan dengan jelas.
2.2.2 Pengertian Mindset Out of The Box
Berpikir di luar kotak (out of the box) adalah suatu bentuk pemikiran
yang berani untuk menantang kebiasaan berpikir konvensional, berani melawan
arus dari pola pikir manusia pada umumnya. Berpikir di luar kotak sangat jarang
dilakukan, kebanyakan sudah merasa nyaman dengan pola pikir konvensional,
sebenarnya

jika

mampu

dan

berani

menerapkannya dapat

membawa lompatan revolusioner dalam kemajuan manusia.9


Berpikir di luar kotak adalah cara berpikir di luar batasan masalah yang ada
ataupun cara berpikir dengan menggunakan perspektif yang baru. Yang dimaksud
kotak dalam hal ini adalah perumpamaan pembatasan diri seseorang pada saat
melihat suatu permasalahan. Dalam definisi yang lebih luas, berpikir di luar kotak
dideskripsikan sebagai suatu cara pikir baru di luar kebiasaan dari cara berpikir
yang sebelumnya, cara berpikir yang berbeda dari orang-orang pada umumnya, cara
berpikir kreatif, di luar kemampuan diri dan kelompok, dan cara berpikir yang
mungkin tidak pernah terpikirkan oleh siapapun sebelumnya. Pada intinya, berpikir
di luar kotak berarti berani untuk berpikir lebih jauh, tidak terfokus hanya pada apa

Adi W Gunawan, 2007 : 2

http://addiegoddie.blogspot.com/berpikir-di-luar-kotak.html

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
10

yang dihadapi dan apa yang biasanya orang pikirkan, tapi untuk bisa berfikir lebih
jauh dari kemampuan dan kebiasaan yang ada dan orang-orang pada umumnya.
Satu hal yang paling sering dipertanyakan banyak orang adalah bagaimana
caranya untuk bisa berpikir di luar kotak. Berikut beberapa hal yang dapat
dilakukan seseorang untuk mampu berpikir di luar kotak dan akhirnya menemukan
suatu hal yang baru dan berbeda dari apa yang pernah dialami dan diterima orang
kebanyakan.
1. Keluar dari zona aman
Setiap orang cenderung menikmati dan terbuai akan zona aman yang
sudah dimilikinya pada saat ini, namun itu akan menjadi penghalang dari
sebuah inovasi. Karena pada saat seseorang menikmati posisinya di dalam
kotak yang ia anggap sudah sangat nyaman, ia tidak akan pernah bisa
melihat adanya peluang di luar sana untuk menemukan suatu terobosan
baru atau sebuah peningkatan atas level hidupnya. Maka itu jika seseorang
ingin bisa melihat dan berpikir di luar kebiasaan dan kerangka masalah
yang ada, beranikan diri untuk keluar dari zona aman.
2. Tinggalkan keraguan
Seringkali keraguan berhasil membuat seseorang kembali berpikir di
dalam kotak, karena adanya keraguan apakah hal-hal yang ada di luar
kotak itu benar akan membawa peningkatan dalam kehidupan, apakah halhal di luar kotak bisa memberikan suatu inovasi baru dalam pekerjaan.
Keragu-raguan itu harus ditinggalkan, sebab perlu diketahui bahwa tidak
ada satupun hal di dunia ini yang tidak memiliki resiko. Jika seseorang
ingin mengalami peningkatan dan terobosan dalam hidup, maka selain
mulai keluar dari zona aman tersebut, yakinlah untuk memanjat kotak
tersebut, dan segeralah keluar dari dalamnya, maka hal-hal baru yang tidak
pernah terbayangkan akan ditemui.
3. Dengarkan orang lain, terbuka, dan menerima
Orang-orang yang berpikir di dalam kotak adalah orang-orang yang tidak
pernah mau menerima ide-ide yang bermunculan di sekitarnya. Mereka
selalu memandang ide-ide tersebut tidak akan bekerja. Oleh karena itu,
seorang yang mau untuk berpikir di luar kotak harus memiliki kerendahan
hati untuk membuka dirinya, menerima pendapat dan ide-ide dari orang
Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
11

lain, kemudian mengolahnya dengan cara-cara di luar kerangka berpikir


yang pada umumnya.
4. Keterbukaan untuk melakukan hal yang berbeda, dan melakukan suatu hal
dengan cara yang berbeda
Albert Einstein mengatakan hanya orang-orang gila yang mengharapkan
hasil berbeda akan tetapi menggunakan cara-cara yang sama. Intinya harus
bisa untuk selalu berinovasi dan berpikir kreatif.
5. Berpikirlah terbalik
Dengan merubah rutinitas kecil sehari-hari tidak seperti biasa misalnya
jika biasanya pergi bekerja melalui rute A, rubahlah melalui rute B, atau
jika biasanya membaca koran dari halaman depan, cobalah untuk mulai
dari halaman belakang, dan lain sebagainya, dengan begitu akan
didapatkan pengalaman baru dari hal-hal baru yang dilakukan sehari-hari.
6. Jangan remehkan kemampuan otak sendiri
Saat seseorang memberitahu cara melakukan sesuatu, sering kali kita
dengan mudah melakukan sesuai petunjuk dari orang tersebut, cobalah
untuk memikirkan dengan cara anda sendiri untuk melakukan hal tersebut
secara efektif dan lebih mudah.
7. Catatlah ide-ide yang ditemukan
Disaat menemukan sebuah ide, catatlah di notebook atau di handphone,
dan susunlah menjadi sebuah buku yang berisi ide-ide kreatif, sehingga
akan lebih mudah mencari ide-ide yang dibutuhkan di kemudian hari. Dan
ingatlah "Kerjakan yang anda catat, dan catatlah apa yang anda kerjakan".
8. Kegagalan bukanlah sesuatu yang "gagal"
Cobalah memandang bahwa dalam setiap kegagalan yang temui pasti
ada pegalaman,hikmah, bahkan suatu keberhasilan yang tidak pernah
pikirkan.
9. Ispirasikan diri dari lingkungan ser.
Buatlah diri

peka terhadap lingkungan, perhatikan hal-hal kecil yang

dilakukan orang lain sebagai inspirasi.

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
12

10. Bersedia untuk selalu mencoba.


Jika menemui hal baru yang menarik untuk dicoba, jangan ragu-ragu
untuk mencobanya, karena jika tidak pernah mencoba

tidak akan

menemukan suatu pengalaman dan pengetahuan mengenai hal tersebut. 10:

2.3 Konsep Kewriausahaan


2.3.1 Pengertian Wirausaha dan Kewirausahaan
Dari etimologi, wirausaha

berasal dari kata wira dan usaha. Wira berarti:

pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan
berwatak agung. Usaha, berarti perbuatan amal, bekerja, berbuat sesuatu. Jadi
wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuatsesuatu. 11
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, wirausaha adalah orang yang pandai
atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru,menyusun
operasi untuk mengadakan produk baru, mengatur permodalan operasinya serta
memasarkannya.12
Dalam lampiran Keputusan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusahan Kecil
Nomor 961/KEP/M/XI/1995, dicantumkan bahwa:
1. Wirausaha adalah orang yang mempunyai semangat, sikap, perilaku dan
kemampuan kewirausahaan.
2. Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang
dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari,
menciptakan serta menerapkan cara kerja,teknologi dan produk baru dengan
meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik
dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Entrepreneur berarti orang yng memulai (The originator) suatu usaha bisnis
baru. Atau seorang manajer (digaris bawahi oleh kami), yang berupa memperbaiki
sebuah unit keorganisasian melalui serangkaian perubahan-perubahan produktif.
10

Rozaki Z., The Big 4 In Life, 2011

11

Priyadi, D. A et-al, Kewirausahaan Untuk Mahasiswa Kebidanan, 2011: 1

12

Kamus Besar Bahasa Indonesia

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
13

Rumusan yang dikemukakan oleh Stoner dan Edward Freman dalam buku mereka
yang berjudul Management menjelaskan kepada bahwa seorang manajer dapat pula
namanakn

seorang

entrepreneur,

apabila

ia

dianggap

sanggup

melaksanakanperubahan-perubahan yang berisfat inovatif dalam proses produksi


yang dimanaje olehnya.
Secara sederhana arti wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa
berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan.
Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai
usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. 13
John J.Kao (1993) mendefinisikan berkewirausahaan sebagai usaha untuk
menciptakan nilai melalui pengenalan kesempatan bisnis, manajemen pengambilan
resiko yang tepat, dan melalui keterampilan komunikasi dan manajemen untuk
memobilisasi manusia, uang, dan bahan-bahan baku atau sumber daya lain yang
diperlukan untuk menghasilkan proyek supaya terlaksana dengan baik.
Menurut Robert D. Hisrich et al. (2005) adalah proses dinamis atas penciptaan
tambahan kekayaan. Kekayaan diciptakan oleh individu yang berani mengambil
resiko utama dengan syarat-syarat kewajaran, waktu, dan atau komitmen karier atau
penyediaan nilai untuk berbagai barang dan jasa. Produk dan jasa tersebut tidak atau
mungkin baru atau unik, tetapi nilai tersebut bagaimanapun juga harus dipompa oleh
usahawan dengan penerimaan dan penempatan kebutuhan keterampilan dan sumbersumber daya.
Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang
dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari,
menciptakan, menerapkan cara kerja baru, teknologi, dan produk baru dengan
meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan
atau memperoleh keuntungan yang lebih besar14.
2.3.2 Manfaat Kewirausahaan
Kewirausahaan memiliki 4 manfaat sosial,yaitu:

13
14

Kasmir, Kewirausahaan, 2007:18


Instruksi Presiden RI No. 4 Tahun 1995

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
14

1. Memperkuat pertumbuhan ekonomi: menyediakan pekerjaan barudalam


ekonomi. Ekonomi saat ini adalah tanah yang subur bagiwirausahawan
misalnya: permintaan pelayanan sektor jasa meledak
2. Meningkatkan produktivitas: kemampuan untuk menghasilkan lebihbanyak
barang dan jasa dengan TK dan input lain yang lebih sedikit.
3. Menciptakan teknologi, produk dan jasa baru: komputer digital, mesin fotokopi,
laser, power steering.
4. Mengubah dan meremajakan persaingan pasar: pasar internasionalmenyediakan
peluang kewirausahaan.
Thomas W. Zimmerer et al. (2005) merumuskan manfaat kewirausahaan adalah
sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Memberi peluang dan kebebasan untuk mengendalikan nasib sendiri


Memberi peluang melakukan perubahan
Memberi peluang untuk mencapai potensi diri sepenuhnya
Memiliki peluang untu meraih keuntungan seoptimal mungkin
Memiliki peluang untuk berperan aktif dalam masyarakat dan mendapatkan
pengakuan atas usahanya.

Memiliki peluang untuk melakukan sesuatu yang disukai dan menumbuhkan rasa
senang dalam mengerjakannya. 15
2.3.3 Fungsi Kewirausahaan
Setiap wirausaha memiliki fungsi pokok dan fungsi tambahan sebagai berikut:
1. Fungsi pokok wirausaha, yaitu:
a. Membuat keputusan-keputusan penting dan mengambil risiko tentang tujuan
b.
c.
d.
e.

dan sasaran perusahaan.


Memutuskan tujuan dan sasaran perusahaan
Menetapkan bidang usaha dan pasar yang akan dilayani
Menghitung skala usaha yang diinginkannya
Menentukan permodalan yang diinginkannya (modal sendiri dan modal dari

luar)
f. Memilih dan menetapkan kriteria pegawai/karyawan dan memotivasinya
g. Mengendalikan secara efektif dan efisien
Thomas W. Zimmerer et-al, Pengantar Kewirausahaan dan Manajemen Bisnis Kecil :
2005
15

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
15

h. Mencari dan menciptakan berbagai cara baru


i. Mencari terobosan baru dalam mendapatkan masukan atau input, serta
mengolahnya menjadi barang atau jasa yang menarik
j. Memasarkan barang dan atau jasa yang menarik
k. Memasarkan barang dan atau jasa tersebut untuk memuaskan pelanggan dan
sekaligus dapat memperoleh dan mempertahankan keuntungan maksimal.
2. Fungsi tambahan wirausaha, yaitu:
a. Mengenali lingkungan perusahaan dalam rangka mencari dan menciptakan
peluang usaha.
b. Mengendalikan lingkungan ke arah yang menguntungkan bagi perusahaan.
c. Menjaga lingkungan usaha agar tidak merugikan masyarakat maupun
merusak lingkungan akibat dari limbah usaha yang mungkin dihasilkannya.
d. Meluangkan dan peduli atas CSR (Corporate Social Responsibility). Setiap
pengusaha harus peduli dan turut serta bertanggung jawab terhadap
lingkungan sosial di sernya.
Fungsi yang bersifat spesifik bagi para entrepreneur adalah kemampuan unutk
mengumulakn factor-faktor produksi, yakni tenaga-tenaga kerja, modal, dan
kemudian meanfaat kan merea unutk memproduksi barang-barang dan jasa-jasa
baru
2.3.4 Prinsip-Prinsip Kewirausahaan
Dari

prinsip-prinsip entrepreneurship yang

diungkapkan

oleh

Dhidiek

D.

Machyudin, Khafidlul Ulum dan Leonardus Saiman, maka prinsip-prinsip


berwirausaha dapat disempurnakan menjadi 14 prinsip, antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Mulailah dan jangan takut gagal;


Penuh semangat;
Kreatif dan inovatif;
Sabar, tekun, tabah;
Optimis;
Membangun relasi dan network dengan sesama wirausahawan;
Bertindak dengan penuh perhitungan;
Pantang menyerah;
Ambisius;
Peka terhadap pasar;
Berbisnis dengan standar etika;
Mandiri;
Jujur; dan

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
16

14. Peduli terhadap lingkungan merupakan modal penting dalam mencapai kunci
sukses berwirausaha.
2.3.5 Karakteristik Kewirausahaan
Menurut McGrath dan MacMillan (2000) dalam Rambat (2004), lima
karakteristik yang umumnya dimiliki pengusaha adalah :
1. Pengusaha sangat bersemangat melihat peluang-peluang baru.
2. Pengusaha mengejar peluang dengan disiplin yang kuat.
3. Pengusaha hanya mengejar peluang yang sangat baik dan menghindari
mengejar peluang yang lain yang belum jelas.
4. Pengusaha berfokus pada pelaksanaan.
5. Pengusaha mengikutsertakan energi setiap orang yang berada dalam
jangkauan mereka.
Drucker (1998) dalam KAdjatmiko & Gana (2001) berpandangan bahwa inovasi
sesungguhnya bersumber pada suatu yang eksis di perusahaan, dan diluar
perusahaan. Ducker(1998) dalam Kadjatmiko & gama (2001) menyatakan bahwa
inovasi yang efektiv adalah sederhana, focus, menerima apa ang dikatakan orang,
spesifik, jelas, dimulai dari tang kecil dan design aplikasi yang hati-hati.
Cirri utama wirausahawan (Drucker, 1983) dalam purnomo (1999), adalah
mereka yang selalu mencari perubahan , berusaha mengikuti dan menyesuaikan
pada perubahan itu, serta memanfaatkannya sebagai peluang serta mampu memilih
dan mengambil keputusan alternative yang paling tinggi produktivitasnya. Terdapat
Sembilan ciri pokok keberhasilan, dan bukan ciriciri pribadi (personal traits):
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Dorongan prestasi yang tinggi,


Bekerja keras, tidak tinggal diam,
Memperhatikan kualitas produknya, baik barang maupun jasa,
Bertanggung jawab penuh,
Berorientasi pada imbalan yang wajar,
Optimis,
Berorientasi pada hasil karya yang baik (excellence oriented),
Mampu mengorganisasikan, dan
Berorientasi pada uang.16

2.3.6 Mindset Kewirausahaan

16

http://sondix.blogspot.com/2014/01/pengertian-dan-proses-kewirausahaan.html

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
17

Menurut Neal Thornberry, Pola pikir wirausaha melibatkan 10 kualitas, sebagai


berikut:
1. Memiliki Locus of Control internal.
Menggambarkan bagaimana seseorang berpikir tentang kendali hidupnya.
2. Memiliki toleransi untuk ambiguitas.
Seorang wirausaha memiliki toleransi untuk berbuat berbeda dan melanggar
hal-hal yang dianggap pakem. Sebagai contoh: pakem yang umum buat
mereka yang ingin membuka restoran adalah; bukalah di tempat yang ramai.
Namun demikian, saat ini sudah banyak contohnya dimana restoran yang
dibuka di tempat terpencil justru diserbu pelanggannya. Begitu pula dengan
pendirian sebuah BPS maupun Klinik bersalin, tidak harus di tempat yang
ramai,
3. Kesediaan untuk mengaji orang yang lebih cerdas dari dirinya.
Seorang Bidan yang membuka praktek mandiri maupun klinik bisa bekerja
sama dengan bidan lain maupun dokter spesialis kebidanan dan anak
sehingga bersinergi.
4. Konsistensi untuk selalu berkreativitas, membangun dan mengubah berbagai
hal.
Sebagai contoh: Dalam menjalankan praktek sebagai penolong persalinan
seorang bidan bukan hanya menolong persalinan saja tetapi juga menawarkan
jasa lain satu paket dengan jasa persalinan dengan tarif tertentu. Misalnya:
Paket A :`Tarif1.000.000 dengan layanan sebagai berikut: persalinan normal
2 hari+ biaya mecuci ari-ari+biaya mengurus akte lahir bayi+ biaya pijat ibu
dan bayi.
5. Dorongan yang kuat untuk peluang dan kesempatan
Bidan selaku wirausahawan selalu awas terhadap peluang-peluang baru.
Bidan dengan kemampuan intuisinya yang selalu ditempa mampu membaca
trend jaman.
6. Rasa urgenitas yang tinggi.
Para tokoh bisnis sering mengatakan pameo ini inovasi atau mati. Apa
artinya. Artinya adalah bahwa inovasi sudah merupakan sesuatu harga mati,
ini adalah sesuatu yang urgen dan tidak bisa ditunda-tunda lagi.
7. Perseverance
Usaha untuk menemukan ide baru kemudian berusaha mematangkan dan
mewujudkannya.
8. Resilience (ketahanan)
Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
18

Wirausaha yang tangguh memiliki sikap seperti boneka anak-anak yang jika
dipukul selalu kembali ke posisi semula. Inilah sikap ketahanan yang perlu
dimiliki setiap yang sadar bahwa hidup adalah perjuangan, dan perjuangan
selalu memerlukan kekuatan untuk bangkit setelah jatuh dan bangun setelah
terjerambab oleh kerasnya kehidupan.
9. Optimis.
Secara sederhana dapat diartikan sebagai lompatan dari satu aktivitas ke
aktivitas lain, tanpa kehilangan antusiasme. Optimis adalah juga bentuk
keyakinan bahwa tujuan akan tercapai dan target akan terpenuhi dengan
kekuatan sendiri.
10. Rasa humor tentang diri sendiri.
Ini adalah bentuk rasa besar hati. Kemampuan mentertawakan diri sendiri
adalah bentuk kapabilitas untuk mengkoreksi bahkan mengkritik diri sendiri.
Ini adalah sebuah rasa legowo untuk tidak menilai diri sendiri sudah
mencapai prestasi yang optimal.
Sebagai mindset , kewirausahaan mewakili pola pikir, asumsi dasar, nilai atau
yang mendasari pemikiran . Ia adalah sesuatu yang berbeda diantara stimulus dan
respon. Ia adalah pembeda antara seorang individu dengan individu lainnya.
Mindset adalah hal yang berpotensi mewarnai pemikiran-pemikiran dan tindakantindakan . Mindset wirausaha dalam hal ini adalah pola pikir positif, pantang
menyerah, selalu berusaha melihat peluang.17
2.3.7 Merubah Mindset Kewirausahaan
1.

Brainwashing
Merubah anggapan bahwa wirausaha merupakan bakat yang tidak semua
orang dapat lakukan. Berani mengambil resiko, cepat dalam memutuskan,
jujur, kreatif dan lain-lain. Selain itu, harus men-switch bawah sadar
menjadi bermental wira-usaha. Perlu diketahui bahwa sebagian besar
perilaku sangat dipengaruhi oleh aktivitas bawah sadar ini. Jadi, jika ingin
mengubah perilaku dan kesadaran, maka ubah dulu yang berada di bawah

2.

17

sadar.
Temukan Alasannya

Neal Thornberry. 2006. Lead Like an Entrepreneur. McGraw-Hill Company

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
19

Ada rumus lagi berkaitan dengan bawah sadar, bahwa bawah sadar lebih
mementingkan mengapa, bukan bagaimana. Maksudnya, gambarkan
dalam imajinasi apa yang mendorong sehingga ingin berwira-usaha. Bukan
bagaimana caranya berwira-usaha. Dengan melakukan secara rutin
penggambaran mental tersebut, dapat meningkatkan motivasi diri untuk
mencapai apa yang

gambarkan itu. Selain itu, menurut Hukum Tarik

Menarik apa yang dipikirkan, akan memancarkan ke alam semesta, yang


selanjutnya alam semesta akan mengirim balik frekuensi pikiran tersebut
kepada pemiliknya dalam bentuk berbagai hal yang dapat mewujudkan isi
pikiran tersebut. Singkatnya, apa yang dipikirkan, alam akan membantu
3.

mewujudkan pikiran tersebut.


Fokuskan Potensi
Selain membangkitkan kekuatan bawah sadar, harus mengelola otak sadar
dan tenaga. Dunia wira-usaha terbentang sangat luas. Banyak pilihan ada di
sana. Banyaknya pilihan seringkali membingungkan new comers. Orangorang yang mau berwira-usaha seringkali kebingungan mereka akan
bergerak di bisnis apa. Jika tidak pandai menyikapi banyaknya pilihan ini
bisa membuat seorang wira-usahawan mondar-mandir tanpa pernah
mencapai hasil sukses. Oleh karena itu, sebelum memulai berbisnis,
mantapkan lebih dahulu, mengambil bidang apa. Setelah itu, pelajari segala
liku-liku dari bisnis tersebut. Pelajari peluang-peluangn, kesulitan-kesulitan,

4.

dan berapa modal minimal yang dibutuhkan untuk bisa berhasil.


Belajar dari sang ahli
Yang dimaksud ahli di sini adalah orang-orang yang telah sukses di bisnis
tertentu. Orang yang telah sukses di dunia bisnis adalah orang-orang yang
telah berhasil mengatasi berkali-kali kegagalan, rintangan maupun
kesalahan pada bisnis tersebut. Selain itu, mereka juga telah menemukan
jalan rahasia bagi kesuksesannya pada bisnis yang digelutinya. Maka,
merupakan langkah yang sangat tepat untuk belajar menjadi pengusaha
sukses pada mereka.
Pelajari langkah-langkah apa yang telah mereka lakukan dalam membangun
bisnisnya; tanyakan sikap mental apa yang mereka kembangkan sehingga
mereka menjadi sukses; bagaimana cara mereka mengatasi masalahmasalah bisnis yang dihadapinya; dan hal-hal lain yang penting.

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
20

5.

Take Action18

http://rohadientrepreneurship.blogspot.com/2011/02/membangun-mindsetwirausaha.html
18

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
21

BAB II
PEMBAHASAN
Adalah lulusan akademi kebidanan yang saat ini keberadaannya menjadi sorotan
di Indonesia. Mengapa demikian? Seperti yang masyarakat tahu, bidan merupakan
seorang perempuan yang telah lulus dari pendidikan bidan baik Diploma III,
Diploma IV, S-1 hingga S-2, yang kemudian diakui oleh Negara Republik Indonesia
serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk mendapat lisensi menjalankan
praktik kebidanan. Berbekal syarat-syarat yang sah dalam menjalankan praktik
kebidanan, bidan memiliki batas-batas kewenangan dan perijinan yang cukup luas di
bidangnya. Dibawah payung Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor
1464/Menkes/Per/X/2010, bidan memiliki tiga kewenangan dan perijinan. Pertama
kewenangan normal, yakni kewenangan dalam: pelayanan kesehatan ibu; kesehatan
anak; kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana. Kedua kewenangan
dalam menjalankan program pemerintah, seperti layanan alat kontrasepsi KB dan
pemantauan tumbuh kembang anak. Ketiga kewenangan bidan yang menjalankan
praktik di daerah yang tidak memiliki dokter. Latar belakang tesebut menjadikan
bidan sebagai ujung tombak kesehatan ibu dan anak di Indonesia.
Keberadaan bidan begitu dekat dengan masyarakat dan menjadi role-model yang
cukup disegani. Masyarakat pun mulai berasumsi bahwa bidan merupakan salah
satu profesi yang menjanjikan dimasa mendatang, sehingga selain tenaga kesehatan
dokter dan perawat, profesi bidan kini banyak diminati dan diburu masyarakat luas.
Seiring dengan hal tersebut, kebutuhan masyarakat akan pendidikan formal
kebidanan pun turut meningkat. Peluang ini dibaca baik oleh banyak pihak,
sehingga mereka memutuskan untuk mendirikan akademi-akademi kebidanan di
berbagai daerah. Hingga saat ini sudah terdapat sekitar 726 akademi kebidanan, 3
universitas dengan jurusan S-1 kebidanan dan 2 instansi untuk S-2, maka ada 29.000
bidan baru di Indonesia setiap tahunnya. Sekolah-sekolah ini terus bermunculan dan
dan melahirkan bidan-bidan kompeten di Indonesia, dan melihat perhitungan
tersebut Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia menyatakan bahwa
pada tahun 2015 akan terjadi surplus bidan. Inilah mengapa lulusan akademmi
kebidanan kini menjadi highlight di Indonesia.

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
22

Belum beranjak dari istilah surplus, selain profesi bidan terdapat pula jurusan
angkatan kerja lain yang mengalami surplus. Hasil survei di Indonesia menunjukan
bahwa lebih dari 118,05 juta, sebanyak 82,10 juta adalah lulusan Sekolah Dasar,
38,57 juta lulusan SMP, 27,65 juta lulusan SMA, 13,54 juta lulusan SMK, 3,87
lulusan Diploma dan 8,17 juta lulusan Sarjana siap kerja. Bersama dengan angkatan
siap kerja yang lain, lulusan akademi kebidanan harus bersaing ketat guna selamat
dari 7,24 juta orang pengangguran lainnya. Sementara jumlah lapangan pekerjaan
Indonesia yang semakin terbatas, tentu menuntut para fresh-garduate menjadi lebih
dari yang lain, termasuk juga lulusan akademi kebidanan.
Pandangan masyarakat mengenai profesi bidan pada umunya adalah sama, yakni
setelah berjerih lelah menempuh pendidikan tiga tahun atau lebih, lulusan akademi
kebidanan akan menjadi pegawai di bawah naungan pemerintah atau swasta dengan
gaji tetap. Mindset yang merupakan sekumpulan kepercayaan (belief) atau cara
berpikir yang mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang ini, barang tentu
mengakar dalam benak orang tua dan mahsiswi akademi kebidanan itu sendiri. Pola
pikir menjadi pegawai, nampaknya terbentuk sebagai salah satu motivasi untuk tetap
berjuang dijalurnya, namun melihat saat ini tidak sedikit sarjana yang masih
tergantung nasibnya setelah lulus bangku kuliah, lulusan akademi kebidanan perlu
berpikir lebih dari angkatan kerja lainnya.
Berpikir Out of the Box merupakan cara berpikir diluar kebiasaan, diluar cara
konvensional yang selama ini masih dipertahankan. Memang tidak mudah untuk
berpikir diluar kebiasaan, namun untuk tetap bertahan pada masa sulit seperti ini
banyak hal positif yang masih dapat dicoba. Langkah pertama untuk berpikir out of
the box adalah keluar dai zona nyaman karena pada saat seseorang menikmati
posisinya di dalam kotak yang ia anggap sudah sangat nyaman untuk menemukan
suatu terobosan baru atau sebuah peningkatan atas level hidupnya. Kedua,
tinggalkan keraguan, sebab perlu diketahui bahwa tidak ada satupun hal di dunia ini
yang tidak memiliki resiko. Ketiga, mendengarkan orang lain, terbuka, dan
menerima ide-ide baru. Keempat, adalah keterbukaan untuk melakukan hal yang
berbeda. Kelima, berpikir terbalik dengan merubah rutinitas kecil sehari-hari
sehingga akan didapatkan pengalaman baru dari hal-hal yang baru. Keenam, jangan
remehkan kemampuan otak sendiri, untuk melakukan hal-hal secara efektif dan
Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
23

lebih mudah. Ketujuh, mencatat ide-ide yang ditemukan. Kedelapan, kegagalan


bukanlah sesuatu yang "gagal" sebab dalam setiap kegagalan yang temui pasti
ada pegalaman dan hikmah, bahkan suatu keberhasilan yang tidak pernah pikirkan.
Kesembilan, inspirasikan diri dari lingkungan sekitar, dan kesepuluh bersedia untuk
selalu mencoba.
Berpikir diluar kotak tentu dapat bermanfaat dalam segala bidang, dengan
harapan mendapat pengalaman baru dan bertahan di era global. Melalui mindset out
of the box ini, banyak orang beralih dari seorang pegawai menjadi seorang
wirausaha. Wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani
mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan. Berjiwa
berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha,
tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. Harapan
dengan memilih kewirausahaan adalah mendapat peluang dan kebebasan untuk:
mengendalikan nasib sendiri; melakukan perubahan; mencapai potensi diri
sepenuhnya; meraih keuntungan seoptimal mungkin; dan memiliki peluang untuk
berperan aktif dalam masyarakat dan mendapatkan pengakuan atas usahanya.
Disamping manfaat kewirausahaan diatas, terdapat fungsi pokok dan tambahan yang
mengikuti kewirausahaan. Prinsip-prinsip serta karakteristik yang kuat dari seorang
wirausahawan,yakni mulai dan tidak takut gagal; penuh semangat; kreatif dan
inovatif; sabar, tekun, tabah; optimis; membangun relasi dan network dengan
sesama wirausahawan; bertindak dengan penuh perhitungan; pantang menyerah;
ambisius; peka terhadap pasar; berbisnis dengan standar etika; mandiri; jujur; dan
peduli terhadap lingkungan merupakan modal penting dalam mencapai kunci sukses
berwirausaha, dirasa mampu bertahan dan mandiri.
Tentu tidak diragukan lagi kompetensi dan kualifikasi yang dimiliki bidan di
Indonesia, namun guna mengkokohkan diri dalam menghadapi masa sukar
mendatang tidak ada salahnya untuk mulai membuka diri dalam bidang
kewirausahaan atau entrepreneurship. Bidan entrepreneur yang kompeten, kualitatif,
mampu bersaing dan mandiri di lapangan pekerjaan, kini menjadi harapan lulusan
akademi kebidanan.

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
24

Mencetak lulusan akademi kebidanan menjadi wirausahawan yang sukses, perlu


melewati serangkaian perubahan. Modal awal yang perlu dimiliki seorang
entrepreneur adalah mindset entrepreneur, sehingga langkah awal yang perlu
dilakukan adalah merubah mindset kewirausahaan lulusan kebidanan dengan pola
out of the box, yang mulanya menjadi pegawai menjadi seorang wirausaha. Lalu
bagaimana caranya?
Pertama brainwashing, yakni swisth mindset atau pola pikir bahwa menjadi
seorang wirausaha, harus belajar bisnis atau terlahir dengan bakat entrepreneur.
Selama ada kemauan dan kerja keras lulusan akademi kebidanan juga bisa menjadi
wirausahawan.
Kedua adalah menemukan alasan untuk berwirausaha. Alasan tersebut akan
menjadi motivasi terbesar lulusan akademi kebidanan untuk berjuang dan mencapai
tujuan. Sehingga setiap kali mengalami jatuh bangun dimasa mendatang, alasan
tersebut akan memberi semangat untuk bangkit kembali.
Ketiga memfokuskan pilihan. Kenali potensi diri sendiri, dari sekian banyak
talenta pasti ada yang paling digemari dan ingin digeluti lebih dalam. Oleh karena
itu, sebelum memulai berbisnis, mantapkan lebih dahulu, mengambil bidang apa.
Setelah itu, pelajari segala liku-liku dari bisnis tersebut. Pelajari peluang-peluangn,
kesulitan-kesulitan, dan berapa modal minimal yang dibutuhkan untuk bisa berhasil.
Keempat adalah belajar dari sang ahli. Mengapa mereka mengambil jalan
wirausaha dan menjadi sukses. Maka, merupakan langkah yang sangat tepat untuk
belajar menjadi pengusaha sukses pada mereka melalui buku, seminar, wawancara
dan banyak hal disekitar.
Langkah terakhir adalah berakasi. Selama proses itu berjalan memantapkan
mindset kewirausahaan, yakni: memiliki locus of control internal (menggambarkan
bagaimana seseorang berpikir tentang kendali hidupnya); memiliki toleransi untuk
ambiguitas (seorang wirausaha memiliki toleransi untuk berbuat berbeda dan
melanggar hal-hal yang dianggap pakem); kesediaan untuk mengaji orang yang
lebih cerdas; konsistensi untuk selalu berkreativitas, membangun dan mengubah
berbagai hal; dorongan yang kuat untuk peluang dan kesempatan; rasa urgenitas
Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
25

yang tinggi; perseverance (usaha untuk menemukan ide baru kemudian berusaha
mematangkan dan mewujudkannya); resilience (ketahanan kekuatan untuk bangkit
setelah jatuh dan bangun setelah terjerambab oleh kerasnya kehidupan); optimis;
dan rasa humor tentang diri sendiri (ini adalah sebuah rasa legowo untuk tidak
menilai diri sendiri sudah mencapai prestasi yang optimal).
Indonesia memiliki potensi yang luas bagi lulusan akademi kebidanan dan
pemuda-pemudinya untuk berkarya. Merubah mindset kewirausahaan memang sulit,
namun bukan berarti tidak bisa. Selama memiliki kemauan, kerja keras, dan
kepercayaan kuat, menjadi wirausahawan sukses bukan tidak mungkin dicapai
lulusan akademi kebidanan. Mari berjuang lulusan akademi kebidanan!
Artikel salah satu bidan berwirausaha sukses di Indonesia.

(Gambar 3.1)
(Gambar 3.2)
Bidan Sunarti melakukan usaha di luar bidang profesinya yaitu dengan
mengembangkan potensi ekonomi dan sumber daya di wilayah Kokap, Kulonprogo,
Yogyakarta dengan mengembangkan usaha pemberdayaan jamur. Beliau juga
mengajari ibu-ibu di wilayahnya untuk ikut kreatif dalam usaha pemberdayaan
jamur ini. Tujuan bidan Sunarti tidak hanya semata finansial saja, beliau juga
mengaplikasikan usahanya ini untuk meningkatkan status gizi masyarakat di
sekitarnya. Atas dasar ini pula lah bidan Sunarti memperoleh penghargaan Srikandi
Award yaitu penghargaan bagi bidan inspiratif.

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
26

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bidan merupakan seorang perempuan yang telah lulus dari pendidikan bidan
yang diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah Negara Republik
Indonesia serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk diregister,sertifikasi dan
atau secarah sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan. Memiliki
kewenangan terbatas menurut Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor
1464/Menkes/Per/X/2010. Seorang lulusan akademi kebidanan bersaing dengan
29.000 teman sejawat bidan setiap tahunnya untuk memperoleh pekerjaan sebagai
pegawai negeri maupun swasta. Demi bertahan dan berjuang lulusan akademi
kebidanan perlu berpikir lebih dari angkatan kerja lainnya. Berpikir Out of the box
menjadi seorang bidan berwirausaha manjadi salah satu jawabannya. Wirausaha atau
entrepreneur adalah orang dengan sikap, perilaku dan kemampuan kewirausahaan
yang dirasa mampu bersaing dimasa kini. Modal awal yang harus dimiliki adalah
mindset kewirausahaan, sehingga lulusan akademi kebidanan perlu merubah
mindset mereka sebagai pegawai menjadi pengusaha. Melalui brainwashing;
menemukan alasan berwirausaha; memfokuskan pilihan; belajar dari sang ahli; dan
beraksi. Sepanjng ada kemauan, kerja keras, dan kepercayaan untuk sukses, maka
bukan tidak mungkin lulusasn akademi kebidanan menjadi bidan berwirausaha yang
sukses.
3.2 Saran
Diharapkan kepada seluruh mahasiswi akademi kebidanan, lulusan akademi
kebidanan yang saat ini telah menjadi bidan maupun yang masih berjuang, dengan
konsep kewirausahaan yang saat ini semakin berkembang, dapat menjadi motivasi
untuk mecoba hal-hal baru, merasakan tantangan baru, dan berani mengambil risiko
menjadi bidan entrepreneur sukses. Diharapkan pula kepada akademi-akademi
kebidanan yang tersebar luas di Indonesia, untuk terus menanamkan dan
mengembangkan konsep kewirausahaan kepada mahasiswi-mahasiswi kebidanan
menurut talenta atau bakat yang dimilikinya. Sehingga jiwa entrepreneur muda akan
melekat dan membawa mereka siap bersaiang diluar tembok kuliah.

Merubah Mindset Kewirausahaan bagi Lulusan Akademi Kebidanan dengan Pola Out of
The Box. Citta Diana. 2014
27