Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyambungan logam sudah ada sejak 5000 tahun yang lalu, orang sudah dapat
melakukan penyambungan logam dengan cara memanasi dua buah logam tersebut sampai
suhu kritis. Kemudian keduanya ditumpangkan dan setelah itu dipalu yang akhirnya
membentuk ikatan yang kuat. Api pemanas untuk penyambungan diperoleh dari
pembakaran kayu atau arang kayu. Dapat dibayangkan, berapa lama waktu yang
dibutuhkan untuk mencapai suhu yang dapat memasakkan logam sampai suhu kritis. Tentu
cara semacam ini tidaklah efektif untuk digunakan dalam pengerjaan pengelasan yang
sangat banyak dan bervariasi.
Seiringdengankemajuanzamandanperkembanganteknologikhususnya
bidangpenyambunganlogam

di
yang

sekaranginitelahditemukandandigunakansepertimesinlaslistrikbertenaga motor danlistrik


yang

praktis,

efektifdanefisiensehinggabisamempercepatkerjadanmeringankankerjakaryawan.

1.2 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan dari praktikum pengelasan listrik ini adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui cara kerja pengelasan dengan menggunakan las listrik.
b. Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh pada proses pengelasan dengan las listrik.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Las Listrik
Pengelasan (welding) adalah salah salah satu teknik penyambungan logam dengan cara
mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan
dengan atau tanpa logam penambah dan menghasilkan sambungan yang kontinyu.
Berdasarkan definisi dari DIN (Deutch Industrie Normen), las adalah ikatan metalurgi pada
sambungan logam paduan yang dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Dari definisi
tersebut dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa las adalah sambungan setempat dari beberapa
batang logam dengan menggunakan energi panas.
Lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam kontruksi sangat luas, meliputi
perkapalan, jembatan, rangka baja, bejana tekan, pipa pesat, pipa saluran dan sebagainya.
Selain untuk pembuatan, proses las dapat juga dipergunakan untuk reparasi misalnya untuk
mengisi lubang-lubang pada coran, membuat lapisan las pada perkakas mempertebal
bagian-bagian yang sudah aus dan macam macam reparasi lainnya. Salah satu teknik
pengelasan yang banyak digunakan adalah las listrik.
Las busur listrik adalah salah satu cara menyambung logam dengan jalan
menggunakan nyala busur listrik yang diarahkan ke permukaan logam yang akan
disambung. Pada bagian yang terkena busur listrik tersebut akan mencair, demikian juga
elektroda yang menghasilkan busur listrik akan mencair pada ujungnya dan merambat terus
sampai habis. Logam cair dari elektroda dan dari sebagian benda yang akan disambung
tercampur dan mengisi celah dari kedua logam yang akan disambung, kemudian membeku
dan tersambunglah kedua logam tersebut.
Busur listrik yang terjadi akan menimbulkan energi panas yang cukup tinggi sehingga
akan mudah mencairkan logam yang terkena. Elektroda atau logam pengisi dipanaskan
sampai mencair dan diendapkan pada sambungan sehingga terjadi sambungan las. Mulamula terjadi kontak antara elektroda dan benda kerja sehingga terjadi aliran arus, kemudian
dengan memisahkan penghantar timbullah busur. Energi listrik diubah menjadi energi panas
dalam busur dan dapat mencapai suhu 5500 0C.

2.2 Jenis-jenis Las Listrik

2.2.1 Las Listrik Dengan Elektroda Karbon


Busur listrik yang terjadi diantara ujung elektroda karbon dan logam atau diantara
dua ujung elektroda karbon akan memanaskan dan mencairkan logam yang akan dilas.
Sebagai bahan tambah dapat dipakai elektroda dengan fluksi atau elektroda yang berselaput
fluksi.

Gambar 2.1 Las Listrik dengan Elektroda Karbon


2.2.2 Las Listrik Dengan Elektroda Berselaput ( SMAW )

Las tistrik ini menggunakan elektroda berselaput sebagai bahan tambah. Busur listrik
yang terjadi diantara ujung elektroda dan bahan dasar akan mencairkan ujung elektroda dan
sebagian bahan dasar. Selaput elektroda yang turut terbakar akan mencair dan
menghasilkan gas yang melindungi ujung elektroda, kawah las, busur listrik dan daerah las
di sekitar busur listrik terhadap pengaruh udara luar. Cairan selaput elektroda yang
membeku akan menutupi permukaan las yang juga berfungsi sebagai pelindung terhadap
pengaruh luar.
Gambar berikut adalah sirkuit las listrik dengan elektroda berselaput dimana G adalah
sumber tenaga arus searah dan elektroda dihubungkan ke terminal negatif sedang bahan ke
terminal positif.

Gambar 2.2 Las Listrik dengan Elektroda Berselaput


2.2.3 Las Listrik TIG
Las Iistrik TIG menggunakan elektroda wolfram yang bukan merupakan bahan
tambah. Busur listrik yang terjadi antara ujung elektroda wolfram dan bahan dasar adalah
merupakan sumber panas untuk pengelasan. Titik cair dari elektroda wolfram sedemikian
tingginya sampai 34100C sehingga tidak ikut mencair pada saat terjadi busur listrik.

Tangkai las dilengkapi dangan nosel keramik untuk penyembur gas pelindung yang
melindungi daerah las dari pengaruh luar pada saat pangelasan.
Sebagai bahan tambah dipakai elektroda tanpa selaput yang digerakkan dan
didekatkan ke busur listrik yang terjadi antara elektroda wolfram dengan bahan dasar.
Sebagai gas pelindung dipakai argon, helium atau campuran dari kedua gas tersebut yang
pemakaiannya tergantung dari jenis logam yang akan dilas.
2.2.4 Las Listrik MIG
Las listrik MIG adalah juga las busur listrik dimana panas yang ditimbulkan oleh
busur listrik antara ujung elektroda dan bahan dasar, karena adanya arus listrik.
Elektrodanya adalah gulungan kawat yang berbentuk rol yang gerakannya diatur oleh
pasangan roda gigi yang digerakkan oleh motor listrik.
Kecepatan gerakan elektroda dapat diatur sesuai dengan keperluan. Tangkai las
dilengkapi dengan nosal logam untuk menyemburkan gas pelindung yang dialirkan dari
botol gas malalui selang gas. Gas yang dipakai adalah CO2 untuk pengelasan baja lunak dan
baja, argon atau campuran argon dan helium untuk pengelasan aluminium dan baja tahan
karat. Proses las MIG ditunjukkan oleh gambar berikut dimana elektroda keluar melalui
tangkai las bersama dengan gas pelindung.

Gambar 2.3 Las Listrik MIG


2.2.5 Las Listrik Submerged
Las listrik submerged yang umumnya otamatik atau semi otomatik menggunakan
fluksi serbuk untuk pelindung dari pengaruh udara luar. Busur listrik diantara ujung

elektroda dan bahan dasar berada di dalam timbunan fluksi serbuk sehingga tidak terjadi
sinar las keluar separti biasanya pada las listrik lainnya. Dalam hal ini operator las tidak
perlu menggunakan kaca pelindung mata (helm las).
Pada waktu pengelasan, fluksi serbuk akan mencair dan membeku menutup lapisan
las. Sebagian fluksi serbuk yang tidak mencair dapat dipakai lagi setelah dibersihkan dari
terak-terak las.
Elektroda yang merupakan kawat tanpa selaput berbentuk gulungan (rol) digerakkan
maju oleh pasangan roda gigi yang diputar oleh motor listrik dan kecepatannya dapat diatur
sesuai dengan kebutuhan pengelasan.

Gambar 2.4 Las Listrik Submerged

BAB 3
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat dan bahan:

3.1.1

Alat
- Palu
- Topeng Las
- Seperangkat Alat las

3.1.2

Bahan:
- Elektroda
- Besi Bekas

3.2 Skema Kerja

Penyiapan Besi Bekas

Persiapan Alat Las

Pengelasan rangkaian besi bekas


hingga menjadi jemuran pakaian
Pengecekan dan
penguatan rangkaian
rangkaian

BAB 4
HASIL PRAKTIKUM

No.
Prosedur
1 Persiapan pengelasan

Proses pengelasan dalam membuat jemuran pakaian

Pengamatan

BAB 5
PEMBAHASAN

BAB 6
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
Adila, Kharisma Putri and Kusnadi. 2014. Laporan Teknik Perawatan Modul Las Listrik.
Bandung : s.n., 2014.
Hakim, Muchamad Lutfi. 2014. Laporan Praktek Pengelasan. [Online] Maret 09, 2014.
[Cited: April 08, 2015.] http://lek-lut16.blogspot.com/2014/03/laporan-praktekpengelasan.html.
Hambali, Wahid. Laporan Praktek Kerja Las Listrik. Academia.edu. [Online] [Cited: April
08, 2015.] http://www.academia.edu/8418453/Laporan_Praktek_Kerja_Las_Listrik.