Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam pemasangan instalasi listrik baik itu komersial maupun non
komersia perlu diutamakan keselamatan dan kenyamanan konsumen pengguna
listrik. Etika lingkungan sangat dibutuhkan karena setiap pesangan instalasi listrik
harus sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan dan berlku di Negara kita.
PUIL 2000 salah satu patokan dalam setiap pekerjaan instalasi listrik.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu antara lain :
1. Mampu merancang instalasi listrik dengan baik dan benar sesuai PUIL
2000.
2. Penggunaan komponen-komponen instalasi sesuai standar SNI.
3. Dapat menggunakan alat pengukuran instalasi sesuai dengan fungsi dan
prisip kerjan masing-masing.
1.3 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini yaitu antara lain :
1. Perancangan instalasi listrik rumah sederhana sesuai dengan PUIL 2000
serta berdasarkan etika lingkungan.
2. Komponen-komponen instalasi yang digunakan berstandar SNI dengan
melihat faktor ekonomis dan teknis.
3. Pengukuran serta pemeriksaan instalasi menggunakan alat ukur listrik.
1.4 Batasan Masalah
Dalam penulisan makalah ini hanya membahas bagaimana merancang
instalasi listrik rumah sederhana sesuai dengan PUIL 2000 dan standar SNI bagi

komponen-komponen yang digunakan guna menunjang instalasi listrik yang baik


dan benar.
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari beberapa bab yaitu berisi tentang :
BAB I PENDAHULUAN

pada bab ini berisi tentang latar belakang,


tujuan, rumusan masalah, batasan masalah
serta sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

pada bab ini berisi penjelasan bagaimana


merancang instalasi yang baik dan benar
serta

penggunaan

instalasi

listrik

pengukuran

dan

komponen-komponen
yang

berstandar

pemeriksaan

instalasi

dengan berasas peraturan yang ada.


BAB III PENUTUP

dan

pada bab ini berisi kesimpulan dan saran.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Instalasi Rumah Tinggal Sesuai Dengan Etika Lingkungan


Dalam merencanakan instalasi rumah tinggal perlu diketahui bahwasanya
harus sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan oleh PUIL 2000. Etika
lingkungan dalam segala aspek memang perlu diperhatikan baik dalam
pemasangan instalasi rumah tinggal. Sebelum melakukan pemasangan Instalasi
listik langkah awal yang dilakukan yaitu dengan meninjau lokasi rumah yang
akan dipasang instalasinya dan selanjutnya dapat dilakukan penggambaran denah
instalasi yang terdiri dari:
1. Gambar single line diagram
2. Gambar pengawatan instalasi
3. Diagram daya
Dari ketiga hal tersebut diatas sangat penting dalam menunjang pemasangan
instalasi. Dan konsumen atau pelanggang dapat melihatnya serta dapat
menentukan tata letak peralatan instalasi yang akan ditempatkan sesuai dengan
fungsinya masing-masing.
2.2 Bahan dan Peralatan yang digunakan
Adapun bahan dan peralatan yang digunakan dalam pemasangan instalasi
listrik rumah tinggal yaitu antara lain :

Bahan instalasi listrik

1. Kabel, adalah media untuk menyalurkan energi listrik. Kabel disini harus sesuai
dengan peraturan atau persyaratan yang telah ditentukan dengan mengikuti PUIL
2000. Serta penggunaannya dalam instalasi listrik dimana harus sesuai dengan
peralatan yang membutuhkannya.
Kabel instalasi rumah tinggal yang biasa digunakan yaitu NYM, NYA,
NGA dan lain-lain. Dalam pemasangan instalasi rumah tinggal perlu dilihat
apakah rumah tersebut adalah kontruksinya terbuat dari kayu atau beton. Kalau
kayu maka dapat dibenarkan tidak menggunakan pipa tetapi kalau kontruksinya
dari beton maka harus menggunakan pipa. Karena melihat estetika yang pas
digunakan.
Adapun kuat hantar arus(KHA) kabel dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.1.1 KHA

Tabel 2.1.2 KHA kabel

Apabila ketika melakukan pemasangan instalasi, kabel yang digunakan


tidak sesuai dengan kebutuhan peralatan listrik atau persyaratan yang telah
ditentukan yang diharuskan harus kabel berstandar SNI dan tidak benar
pemasangannya maka akan membahayakan orang yang berada didalam rumah.
2. Pipa, merupakan peralatan instalasi yang digunakan untuk meletakkan kabel
instalasi didalamnya agar tak terlihat. Pipa digunakan harus berstandar SNI untuk
mencegah temperature kabel didalammya. Jika pipa yang digunakan tidak standar
maka dikhawatirkan suhu didalam pipa akan meningkat maka akan terjadi bahaya
kebakaran.
3. MCB, merupakan alat yang digunakan untuk mengamankan instalasi listrik dari
gangguan beban lebih. Pemilihan MCB sendiri harus berstandar SNI agar
penggunannya tahan lama serta dapat bekerja sesuai dengan fungsi dan prinsip

kerjanya sebagai pengaman. Serta MCB memiliki fungsi utama yaitu sebagai
pembatas pemakaian daya listrik.
4. Saklar, merupakan alat yang digunakan untuk memutus dan menyambung arus
listrik yang terhubung ke lampu. Dalam pemilihan saklar sendiri harus juga
berstandar SNI, agar penggunaannya tahan lama dan ekonomis.
5. Lampu, merupakan alat yang digunakan untuk menerangi ruangan yang telah
disuplay arus listrik melalui kawat filamen (lampu pijar) atau gas neon (lampu
TL). Dalam pemilihan lampu harus sesuai kebutuhan sebuah ruangan agar tidak
merusak mata ketika menatapnya. Misalnya, pencahayan lampu pada kamar tidur
sebaiknya 20/25 Watt dan dikamar mandi sebaiknya 10/15 Watt. Ketika
membangun sebuah rumah tinggal pasti memerlukan adanya pencahayaan yang
tepat dan sesuai dengan interior ruangan tersebut.
6. Fiting, merupakan alat yang digunakan untuk penempatan lampu atau sebagai
media penghubung antara arus listrik dengan lampu. Fiting sendiri ada yang
bermacam-macam sesuai dengan permintaan pelanggan serta sesuai dengan
kondisi rumah tersebut.
7. Stopkontak (KKB), merupakan media untuk menghubungkan arus listrik yang
dibutuhkan oleh beban/peralatan. Contohnya, TV, RaceCooker, dan lain-lain.
Pemelihan KKB sendiri harus berstandar SNI karena jika pemilihan tidak tepat
maka akan membahayakan perlatan yang digunakan. Misalnya, terjadinya hubung
singkat karena pemasangannya tidak kencang yang dapat menyebabkan
kebakaran.
8. Kotak Sambung, merupakan tempat untuk menyambung kabel listrik. Dalam
penyambungan kabel instalasi harus diperhatikan tidak boleh penyambungan
dilakukan didalam pipa. Apabila terdapat penyambungan didalam pipa maka

dikhawatirkan akan menyebabkan kebakaan karena didalam pipa suhu akan


meningkat.
9. Isolasi, berfungsi untuk mengisolasi bagian yang telah disambung atau
memisahka bagian yang bertegangan dan bagian yang tidak bertegangan. Dalam
mengisolasi sambungan kabel harus benar-benar rapat.
Peralatan Instalasi Listrik
Adapun peralatan instalasi listrik yang digunakan yaitu antara lain :
1. Tang, merupakan alat yang digunakan untuk memotong dan melilit kabel
sambungan. Dalam melilit kabel sambungan yang harus diperhatikan tidak boleh
longgar dalam memplintir karena dapat menyebabkan korsleting listrik yang
dapat menyebabkan terjadinya hubung singkat yang pada nantinya akan
menyebabkan bahaya kebakaran.
2. Obeng, merupakan alat yang digunakan untuk mengecangkan sekrup baik pada
saklar, fiting, KKB, dan lain-lain. Obeng ada yang ples. Mines dan ada yang dapat
mendeteksi arus/tegangan pada sebuah penghantar atau yang biasa disebut
Tespen.
3. Gergaji, merupakan alat yang digunakan untuk memotong pipa listrik. Dalam
pengukuran pemotongan pipa listrik harus diperhatikan bahwa ketika memotong
harus diukur berapa panjang pipa yang dibutuhkan sesuai dengan kondisi rumah
tersebut.
4. Palu, merupakan alat yang digunakan untuk memukul klem pipa atau paku guna
memperkuat pipa listrik.
5. Dan lain-lain.

2.3 Pemasangan Instalasi


Sebelum melakukan pemasangan instalasi listrik harus diperhatikan bahwa
bahan dan perlatan yang akan digunakan telah disediakan guna mempermudah

pemasangan instalasi. Setelah bahan dan peralatan telah ada semua maka dapat
melakukan pemasangan. Langkah-langkah dalam melakukan pemasangan
instalasi listrik rumah sederhana yaitu antara lain :
1. Menggambar gambar instalasi rumah.
2. Menyediakan bahan dan peralata instalasi.
3. Memasang bahan yang mudah dipasang terlebih dahulu, misalnya pipa.
4. Kemudian memasang kabel instalasi serta melakukan penyambungan.
5. Selanjutnya memasang bahan yang lain misalnya saklar, KKB, fiting, dan
lampu.
2.4 Pengukuran dan Pemerikasaan Instalasi Listrik
Setelah melakukan pemasangan komponen-komponen instalasi listrik,
maka dilakukan pengukuran dan pemeriksaan instalasi apakah sesuai dengan
pesyaratan yang telah ditentukan oleh PUIL 2000. Tetapi sebelum itu terlebih
dahulu membersihkan bahan dan perlatan yang digunakan ketika melakukan
pemasangan instalasi. Misalnya potongan-potongan kabel yang berserakan
dilantai yang dapat membahayakan instalatur maupun pemilik rumah tersebut,
serta meletakkan peralatan yang digunakan pada tempatnya yang telah disediakan.
Setelah semua melakukan pemasangan komponen instalasi maka dapat dilakukan
pengukuran dan

pemeriksaan insatalasi. Pengukuran dapat dilakukan dengan

mengukur arus, tegangan, serta tahanan isolasi kabel dan tahanan pembumian
instalasi listrik. Adapun alat pengukuran instalasi listrik yang biasa digunakan
yaitu antara lain :
1. Ampere Meter, merupakan alat ukur listrik yang berfungsi untuk
mengukur arus listrik.
2. Volt Meter, merupakan alat ukur listrik yang digunakan untuk mengukur
tegangan listrik baik input maupun output.

3. Watt Meter, merupakan alat ukur listrik yang berfungsi untuk mengukur
daya yang terpasang atau yang digunakan pada beban listrik.
4. Megger, merupakan alat ukur listrik yang digunakan untuk mengukur
tahanan kabel listrik.
5. Eart Tester, merupakan alat ukur listrik yang digunakan untuk mengukur
tahanan pembumian. Apakah tahananny sesuai dengan ketentun yang telah
ditentuan atau tidak. Tahanan pembumian yang telah ditentukan oleh PLN
yaitu 0,8 ohm.
Setelah melakukan pengukuran dan pemeriksaan instalasi dan telah disetujui
bahwa pemasangan yang dilakukan telah sesuai dengan persyaratan instalasi
(PUIL 2000). Maka langkah selanjutnya yaitu pengetesan instalasi listrik.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat kita ambil dalam penulisan makalah
perancangan instalasi listrik rumah tinggal sesuai dengan etika lingkungan yaitu
antara lain :
1. Sebelum

melakukan

pemasangan

instalasi

listrk

terlebih

dahulu

digambarkan gambar diagram instalasi.


2. Kemudian menyediakan bahan dan alat guna menunjang pemasangan
instalasi.
3. Memasang bahan instalasi sesuai dengan gambar instalasi yang
sebelumnya telah disetujui oleh pihak pelanggan.
4. Pengukuran dan pemeriksaan instalasi listrik.
5. Pengetesan atau pengujian instalasi.
3.2 Saran
Semoga dalam penulisan makalah ini dapat menjadi acuan dan patokan
kepada penulis dan kawan-kawan seperjuangan ketika membacanya. Serta
meningkatkan disiplin ilmunya sesuai dengan jurusannya yaitu teknik elektro.
Trimakasih

DAFTAR PUSTAKA

Suryatmo,F(1983). Teknik Listrik Instalasi Penerangan. Bandung: Offset Alumni


Suryatmo,F (1997). Dasar-dasar Teknik Listrik. Jakarta: PT RINEKA CIPTA