Anda di halaman 1dari 24

AUDITING II

PENGUJIAN PADA SIKLUS PENJUALAN DAN


PENAGIHAN : PIUTANG DAGANG.

Oleh:
1.

Ayu Astrid A

(118694201)

2.

M. Faried Maulana (118694214)

3.

Harsela Dwi A.K. (118694222)

S1 AKUNTANSI 2011 AA

UNIVERSITAS
NEGERI
SURABAYA
FAKULTAS
2014
EKONOMI
JURUSAN
AKUNTANSI

1. Metodologi Desain Pengujian Perincian Saldo


Metodologi desain pengujian perincian saldo yang menggunakan
model resiko audit
digunakan para auditor dalam mendesain pengujian yang tepat
untuk saldo piutang
dagang. Dalam metodologi tersebut berkaitan dengan kertas kerja
perencanaan bukti
yang diperkenalkan dalam bab materialitas dan resiko.
Bukti yang memadai yang akan dipakai dalam pengujian
perincian saldo harus
diputuskan berbasis dengan tujuan dengan tujuan (objective-by-objective)
. Pengambilan
keputusan ini menjadi kompleks karena adanya beberapa interaksi
yang mempengaruhi
atas bukti tersebut. Contohnya auditor harus mengevaluasi
pelanggaran dan
mempertimbangkan risiko bawaan (inherest risk). Potensi dan resiko ini
dapat bervariasi
sesuai dengan tujuannnya, seperti halnya hasil pengujian pengendalian
identifikasi risiko,
yang bervariasi sesuai dengan tujuan.Auditor itu harus pula
mempertimbangkan hasil
pengujian subtantif dari penjualan dan penerimaan kas.
Dalam mendesain pengujian perincian saldo piutang dagang, auditor
harus memenuhi
delapan tujuan perincian saldo. Delapan tujuan umum ini sama untuk
seluruh akun, yang
disebut tujuan audit yang terkait dengan saldo piutang Kedelapan
dagang. tujuan
tersebut adalah sebagai berikut :
a) Piutang dagang dalam neraca saldo sesuai dengan jumla pada
berkas utama, dan
jumlah totalnya secara tepat ditambahkan sesuai dengan buku
besar (kecocokan
perincian).
b) Perincian piutang dagang yang terjadi (Keberadaan).
c) Seluruh piutang dagang sudah dihitung (Kelengkapan).
d) Jumlah piutang dagang yang tepat (Akurasi).
e) Piutang dagang diklasifikasikan dengan benar (Klasifikasi).
Kolom
menggunakan
Piutang
dalam
dagang
kertas
faktor-faktor
dinyatakan
kerja perencanaan
yang
dalam
ada untuk
nilai
bukti
yang
membantu
termasuk
dapat direalisasikan
mengetahui
tujuan audit (Nilai
f)dagang
Pisah
batas
waktu
dagang
yang tepat (pisah batas)
g)
h)
terkait
resiko
Terealisasi)
Klien
deteksi
saldo.auditor
yang
memiliki
terencana,
piutang
hakpiutang
atas
sesuai
piutang
tujuannya.
dagang

Mengidentifikasi Risiko Bisnis Klien yang Mempengaruhi Piutang


Dagang (Tahap
I)
Pengujian atas piutang dagang didasarkan pada prosedur penilaian
resiko audit agar
auditor memahami bisnis dan industri klien. Sebagai bagian dari
pemahaman tersebut,
auditor mempelajari lingkungan bisnis dan industri klien serta
mengevaluasi tujuan
manajemen dan proses bisnis yang mengidentifikasi risiko bisnis secara
signifikan dapat
mempengaruhi pelaporan keuangan, termasuk piutang dagang.
Risiko bisnis klien yang mempengaruhi piutang dagang oleh auditor
dianggap sebagai
resiko tak terhindarkan dan dijadikan bukti perencanaan untuk
piutang dagang.
Contohnya, sebagai hasil dari perubahan lingkungan ekonomi
dalam industri, auditor
bisa meningkatkan risiko bawaan dalam nilai realisasi bersih piutang
dagang.
Mengidentifikasi Salah Saji yang Dapat diterima dan Mengevaluasi
Resiko Bawaan
(Tahap I)
Auditor terlebih dahulu memberikan penilaian awal mengenai
materialitas untuk
keseluruhan laporan keuangan, lalu mengalokasikan jumlah yang
dianggap material
untuk setiap akun neraca, termasuk piutang dagang. Alokasi ini disbut
penentuan salah
saji yang dapat diterima ( tolerable mistatement
).Piutang dagang biasanya merupakan
salah satu bagian terpenting dari pelporan keuangan bagi perusahaan
dengan penjualan
kredit. Meskipun saldo piutang dagang tersebut kecil, transaksi dalam
siklus penjualan
dan penagihan yang memengaruhi saldo tersebut biasanya berjumlah
besar.
Auditor mentukan resiko tak terhindarkan untuk masing-masing akun
(misalnya puitang
dagang) dengan mempertimbangkan resiko bisnis dan industri
(SA
dalam
resiko
dagangan,
segaja
316)
pengakuan
tersebut
maupun
mengindikasikan
dan
batas
untuk
tidak
pendapatan.
penetapan
sengaja
tujuan:
bahwa
slah
eksistensi,
Hal
cadangan
auditor
menetapkan
ini biasanya
harus
batas
kerugian
bisa
cadangan
waktu
memengaruhi
piutang.
mengidentifikasi
penjualan,
atas
Klien
piutang
perusahaan
klien.
PSA
70
risiko
evaluasi
pengembalian
biasanya
tak
realisasi
tertagih
pelanggaran
bersih)
baik
auditor
(nilai
secara
barang
karena
trhadap
sulitnya menentukan jumlah yang tepat.

Mengevaluasi Risiko Pengendalian dalam Siklus penjualan dan


penagihan (Tahap
I)
Pengendalian internal atas penjualan dan bukti penerimaan kas
yang berhubungan
dengan piutang dagang biasanya berlangsung secara efektif di banyak
perusahaan karena
manajemen sangat peduli dengan pencatatan yang akurat untuk menjaga
hubungan baik
dengan pelanggan. Auditor umumnya memperhatikan tiga aspek
pengendalian internal,
yaitu:
1. Pengendalian untuk menghindari atau mendeteksi pencurian.
2. Pengendalian atas penetapan pisah batas.
3. Pengendalian yang berhubungan dengan cadangan piutang tidak
tertagih.
Auditor harus menghubungkan risiko pengendalian atas tujuan audit
terkait transaksi dan
tujuan audit terkait saldo, terutama untuk merencanakan risiko
deteksi dan bukti-bukti
yang akan digunakan dalam pengujian perincian saldo.hubungan
dua hal ini biasanya
mudah ditemukan.Pada figur 14-2 menunjukkan hubungan antara kedua
transaksi untuk
siklus penjualan dan penagihan. Sebagai contoh, auditor
menyimpulkan risiko
pengendalian untuk transaksi penjualan dan penerimaan kas adalah
rendah dalam hal
akurasi saldonya. Dengan demikian, auditor menyimpulkan bahwa
pengendalian untuk
akurasi saldo piutang dagang adalah efektif karena transaksi satusatunya yang
mempengaruhi piutang dagang adalah penjualan dan penreimaan
kas. Tentunya jika
pengembalian barang dagangan, penetapan cadangan, dan
pengapusan piutang tak
tertagih jumlah signifikan, maka perlu dipertimbangkan risiko
pengendaliauntuk jenis
transaksi tersebut.
Kedua aspek yang berhubungan dalam figur 14-2 disebutkan di bawah
ini, yaitu :
1.
Untuk penjualan, tujuan audit terait keterjadian transaksi
related
penreimaan
terkait
kelengakapan
meningkatkan
dagang.
berbeda
keberadaan
kelengkapan
audit
Sebagai
dengan
saldo.
kas,
objective)
transaksi.
piutang
tujuan
tujuan
contoh,
Pencatatan
saldo.
dagang,
audit-terkait
memengaruhi
audit-terkait
Alasan
pencatatan
Hubungan
penerimaan
namun
dari ketrejadian
penjualan
kesimpulan
keterjadian
yang
tujuan
penerimaan
kas sama
tidak
audit
(yang
transaksi
transaksi
ini
juga
hanya
kas
terkait
adalah
sebetulnya
terjadi
menurunkan
akan
dan
karena
tujuan
pada
(occurrence
transactionkeberadaan
memengaruhi
tujuan
kenaikan
saldo
tidak
audit-terkait
berbeda
terjadi)
piutang
audit-terkait
dengan
penjualan
saldo.Untuk
akan
tujuan
tujuanaudit-

audit-terkait keterjadian transaksi, tetapi juga berbeda dengan


tujuan audit-terkait
kelengkapan saldo karena piutang dagang yang masih belum
dibayar tidak termasuk
dalam pencatatan tersebut.
2. Nilai realisasi dan tujuan audit-terkait saldo piutang dagang,
seperti halnya tujuan
audit-terkait penyajian dan pengungkapan, tidak dipengaruhi oleh
evaluasi risiko
pengendalian di luar tujuan-tujuan audit diatas, auditor harus
mengidentifikasi dan
melakukan pengujian terpisah.
Figur 14-7 mencantumkan tiga baris evaluasi tiga baris evaluasi
resiko pengendalian:
satu untuk penjualan, satu untuk penerimaan kas, dan satu untuk
pengendalian tambahan
sehubungan dengan saldo piutang dagang. Sumber dari resiko
pengendalian untuk
penjualan dan penreimaan kas adalah matriks risiko pengendalian yang
mengansumsikan
bahwa hasil pengujian pengendalian mendukung mendukung
pengujian awal. Auditor
membuat evaluasi resiko pengendalian yang terpisah untuk tujuan yang
hanya berkaitan
dengan piutang dagang atau untuk penyajian dan pengungkapan.

Mendesain dan Melakukan Mengujian Pengendalian dan


Pengujian Subtantif atas
Transaksi (Tahap II)
Hasil pengujian pengendalian menentukan apakah resiko
pengendalian atas penjualan
dan penerimaan kas perlu direvisi.Auditor menggunakan hasil
pengujian subtantif atas
transaksi untuk menentukan apakahrisiko pengendaliam atas penjualan
dan penerimaan
kas perlu direvisi.auditor menggunakan hasil pengujian subtantif
atas transaksi untuk
mentukan apakah perencanaan resiko deteksi sudah memenuhi untuk
setiap tujuan audit
terkait saldo piutang dagang.
mencatatneraca,
Prosedur
tanggal
menimbulkan
analitis
seluruh
analitis
keinginan
namun
biasanya
transaksi
umumnya
untuk
sebelum
dilakuikan
selama
dialkukan
melakukan
dilakukan
tahun
dalam
tersebut
selama
ekstensifikasi
tiga
pengujian
tahap
dan menyelesaikan
audit
pengujian
perincian
prosedur
: selama
Mendesain
dan
Melakukan
Prosedur
Analitis
(Tahap
III)
perencanaan,
pelaksanaan
diselesaikan
saldo.
analitis
laporan
Hal
sebelum
keuangan.
ini
pengujian
setelah
saat
klien terperinci dan saat menyelesaikan audit.

Auditor menjalankan prosedur analitis untuk seluruh siklus


penjualan dan penagihan,
tidak hanya piutang dagang. Hal ini perlu dilakukan karena terdapat
hubungan erat antara
laporan laba rugi dengan akun-akun pada neraca. Jika auditor
mengidentifikasi adanya
kesalahan penyajian dalam penjualan atau pengembalian barang
dagangan dengan
menggunakan prosedur analitis, piutang dagang kemungkian besar
akan menutupi
kesalahan tersebut.
Sebagai tambahan untuk prosedur analitis pada tabel 14-1, auditor
perlu menelaah
piutang dagang yang jumlahnya besar atau tidak lazim, seperti saldo
yang besar.rekening
yang tidak tertagih dalam waktu lama, piutang dari perusahaan yang
terfiliasi, karyawan,
direktur atau pihak-pihak lain, dan saldo kredit.Untuk
mengidentifikasi jumlah ini,
auditor perlu menlaah daftar rekeningpada tanggal neraca untuk
menentukan akun mana
yang perlu diselidiki lebih lanjut.
Tabel 14-1 Prosedur analitis untuk siklus penjualan dan penagihan:
Prosedur analitis

Salah saji yang mungkin terjadi

Membandingkan presentasi laba kotorLebih saji atau kurang saji penjualan


dengan tahun sebelumnya (sesuai lini

dan piutang dagang

produk)
Membandingka penjualan bulanan Lebih saji atau kurang saji penjualan
(sesuai lini produk)

dan piutang dagang

Membandingkan retur dan potongan


Lebih saji atau kurang saji retur dan
penjualan sebagai presentasi dan

potongan penjualan dan piutang

penjualan kotor dengan angka tahun

dagang

sebelumnya (sesuai lini produk)


individu sebagai
tertentu
Membandingkan
sebelumnya
tertagih
dengan
yang melebihi
angka
presentase
saldo tahun
piutang
pelanggan
jumlah
tidak
dari

Piutang
Salah saji
dagang
akun
belum
pada
laporan
tersedia
yang
piutang
tak
laba/rugi
tertagih
dagang
terkait
yang
dan

penjualan kotor dengan angka tahu


sebelumnya
Membandingkan jumlah hari
peredaran piutang dagang dengan
angka tahun sebelumnya dan
perputaran dengan piutang dagang
terkait

Lebih saji atau kurang saji pada


cadangan kerugian dan piutang tak
tertagih ; hal ini dapat
mengindikasikan adanya piutang
dagang fiktif

Membandingkan ketegori umur

Lebih saji atau kurang saji pada

piutang sebagai presentase dari

cadangan kerugian piutang dan

piutang dagang dengan angka tahun

piutang tak tertagih

sebelumnya.
Membandingkan cadangan kerugian
piutang sebagai sebagai presentase
dari piutang dagang dengan angka

Lebih saji atau kurang saji pada


cadangan kerugian piutang dan
piutang tak tertagih

tahun sebelumnya
Membandingkan penghapusan
piutang tak tertagih sebagai
presentase dari total piutang dagang

Lebih saji atau kurang saji pada


cadangan kerugian piutang dan
piutang tak tertagih

dengan angka tahun sebelumnya

Kesimpulan auditor mengenai prosedur analitis subtantif untuk


siklus penjualan dan
penagihan terhubungkan dengan kertas kerja perencanaan bukti yang
terdapat pada figur
14-7 baris ketiga dari bawah.Oleh karena prosedur analitis
subtantif,
Jika
fluktuasi
Tanggapan
mengenai
prosedur
tidak
fluktuasi
maka
dari
analitis
manajemen
biasa,
prosedur
tersebut
maka
dalam
ini
perlu
dan
auditor
siklus
mengurangi
mampu
dievaluasi
penjualan
perlu
menunjukkan
tugas
meminta
dengan
dan
auditor
kritis,
penagihan
informasi
buktidalam
apakahkepada
merupakan
pengujian
melakukan
perincian
mengungkapkan
manajemen.
mampu
pendukungnya.
menjelaskan
saldo,
pengujian
jika
adanya
hasil dari prosedur tersebut memuaskan.

Mendesain dan melakukan Pengujian Perincian Saldo Piutang


dagang (Tahap III)
Pengujian perincian yang tepat terhadap saldo bergantung pada f
aktor -faktor yang
disebutkan dalam kertas kerja perencanaan bukti.Resiko deteksi
yang terncana untuk
setiap tujuan audit terkait saldo piutang dagang ditampilkan pada baris
kedua.Keputusan
ini secara subjektif ditentukan auditor untuk setiap faktor yang
disebutkan dalam baris
tersebut.
Tugas menggabungkan faktor-faktor penentu risiko deteksi terencana
cukup kompleks
karena pengukuran untuk setiap faktor bisa saja salah dan penentuan
bobot untuk setiap
faktor sifatnya sangat subjektif.Sebaliknya, hubungan abtar faktor
dan resiko deteksi
terencana biasanya mudah dilakukan. Sebagai contoh, Auditor tahu
risiko tinggi yang tak
terhindrkan atau resiko pengendalian menurunkan risiko deteksi
terencana, sedangkan
hasil yang baik untuk pengujian substantif atas transaksi
meningkatkan risiko deteksi
terencana dan menurunkan pengujian subtantif ter necana lainnya.

2. Mendesain Pengujian Perincian Saldo


Meskipun auditor menekankan akun-akun neraca dalam pengujian
perincian saldo, akun
laporan laba-rugi tidak dilupakan karena akun laporan laba/rugi
diuji sebagai produk
sampingan dari pengujian neraca. Sebagai contoh, jika auditor
mengkonfirmasi saldo
piutang dagang dan menemukan lebih saji yang disebabkan karena
kesalahan dalam
penagihan ke pelanggan, maka baik piutang dagang maupun
penjualan menjadi lebih
saji.
Dalam membahas pengujian perincian saldo piutang dagang, kita
berfokus pada tujuan
audit terkait saldo. Kita akan mengasumsikan dua hal, yaitu:
1. Auditor telah melengkapi kertas kerja.
2. Auditor
Piutang
Pada
berdasarkan
umumnya,
Dagang
neraca
telah
pengujian
Ditambahkan
menetapkan
saldo. atas
Sebuah
piutang
secara
risiko
neraca
dagang
deteksi
Tepat
saldo
dan
dan
terencana
menyajikan
Sesuai
cadangan
dengan
untuk
kerugian
saldo
pengujian
audit-terkait
Berkas
Buku
piutang
Besar
dilakukan
dagang
Utama
atas
saldo.
pada
dan
tujuan

tanggal neraca termasuk data saldo piutang untuk setiap pelanggan


disertai perincian
saldo untuk kurun waktu antara tanggal penjualan dan tanggal ner aca.
Biasanya, auditor melakukan pengujian atas informasi yang
didapatkan dari kecocokan
perincian (detail tie-in)
dalam neraca saldo, sebelum melakukan pengujian lainnya. Hal
ini dilakukan untuk mengetahui apakah populasi yang diuji sama
dengan buku besar dan
piutang dagang pada berkas utama. Total kolom dan kolom yang
berkaitan dengan umur
piutang harus diuji dan total pada neraca saldo dibandingkan dengan
buku besar. Sebagai
tambahan, auditor harus menelusuri sampel untuk saldo masingmasing dokumen
pendukung, seperti duplikat bukti penjualan untuk mencocokkan nama
pelanggan, saldo,
dan penghitungan umur piutang yang tepat. Perluasan pengujian
terhadap kecocokan
perincian bergantung pada jumlah rekening, tingkat pengujian atas
berkas utama sebagai
bagian dari uji pengendalian dan pengujian substantive atas
transaksi, dan tingkat
pengujian yang dilakukan oleh auditor internal atau pihak
independen lain sebelum
auditor. Auditor sering kali menggunakan peranti lunak audit untuk
menjumlah ke bawah
(foot) dan ke samping (cross-foot)
pada neraca saldo dan menghitung ulang taksiran
umur piutang.
Piutang Dagang Dicatat Sesuai Keberadaannya
Konformasi atas saldo tagihan pelanggan merupakan pengujian
paling penting untuk
menentukan keberadaan piutang dagang yang dicatat. Ketika
pelanggan tidak
menanggapi konfirmasi, maka auditor perlu memeriksa dokumen
pendukung untuk
mengecek pengiriman barang , juga menguji bukti penerimaan kas
selama masa tenggat
(subsequent) untuk mengetahui apakah pembayaran sudah dilakukan. Biasanya,
auditor
tidak menguji dokumen pengiriman atau bukti penerimaan kas
dalam sampel yang
dikonfirmasi, melainkan memperluas penggunaan dokumen tersebut
sebagai alternative
Bagi
kecuali
jika
kemungkinan
auditor,
bergantung
tanpa
sulit
halsengaja
ini
pada
untuk
akan
pertimbangan
tidak
melakukan
dapat
memasukkan
dideteksi
data
pengujian
piutang
ketika
piutang
saldo
dagang
auditor
dagang
rekening
di berkas
pada
di
buktiklien
bagi
konfirmasi
yang
tidak
ditanggapi.
Piutang
luar
utama.
neraca
melakukan
neraca
Contohnya,
saldo,
Dagang
penjumlahan
saldo,Dicatat secara
ke
Lengkap

bawah terhadap piutang dagang di neraca saldo, kemudian melakukan


rekonsiliasi saldo
melalui akun pengntrol di buku besar.
Jika seluruh penjualan kepada pelanggan tidak dimasukkan dalam jurnal
penjualan, maka
kurang saji pada piutang dagang tidak dapat diungkap melalui pengujian
perincian saldo.
Sebagai contoh, auditor jarang mengirimkan konfirmasi piutang
dagang kepada
pelanggan dengan saldo nol, sebagian karena hasil penelitian
menyebutkan bahwa
pelanggan biasanya tidak merespons permintaan konfirmasi yang
menunjukkan saldo
mereka kurang. Sebagai tambahan, penjualan yang tidak tercatat kepada
pelanggan baru
akan sulit diidentifikasi dalam konfirmasi karena nama pelanggan
tersebut tidak masuk
dalam berkas utama. Kurang saji atas penjualan dan piutang dagang
lebih baik dideteksi
dari prosedur analitis dan pengujian substantive atas transaksi
pengiriman yang
dilakukan, tetapi tidak dicatat (tujuan kelengkapan atas pengujian
transaksi penjualan).
Akurasi Piutang Dagang
Konfirmasi rekening yang diambil dari neraca saldo merupakan
bentuk pengujian
perincian saldo yang paling umum dilakukan untuk mengetahui akurasi
piutang dagang.
Bila pelanggan tidak merespons permintaan konfirmasi, auditor
dapat melihat data
pendukung untuk memperoleh keyakinan atas keberadaan piutang
tersebut. Auditor
melakukan pengujian debet dan kredit pada saldo pelanggan individu
dengan memeriksa
dokumen pendukung untuk pengiriman dan penerimaan kas.
Piutang Dagang Diklasifikasikan dengan Benar
Umumnya, auditor dapat mengevaluasi klasifikasi piutang dagang
dengan mudah, yaitu
dengan menelaah neraca saldo untuk piutang yang jumlahnya
material dari afiliasi,
karyawan, direktur, atau pihak terkait lainnya. Auditor perlu mengecek
apakah piutang
yang sifatnya
jangka
panjang
sudah
dipisahkan
dari
piutang
kredit
Terdapat
terkait,
tujuan
mengklasifikasikan
menetapkan
pada
audit-terkait
penyajian
hubungan
piutang
apakah
atas
piutang
klasifikasi
erat
piutang
dagang
pemahamannya,
antara
dagang
dari
yang
saldo,
tujuan
pihak
jumlahnya
secara
auditor
audit-terkait
terkait
danbenar.
tujuan
harus
besar
telah
Sebagai
dipisahkan
klasifikasi
menetapkan
diklasifikasikan
contoh,
saldo
di
dagang
biasa,
dan Untuk
saldo mencapai
kembali
utang
dengan
pengungkapannya.
apakah
auditor
neraca
dagang.
saldo.
klien
akan
klasifikasi
menjadi
telah
Untuk

memenuhi persyaratan penyajian dan pengungkapan, auditor harus


memastikan bahwa
klasifikasi disajikan secara benar dengan menentukan apakah
transaksi antara pihakpihak yang terkait dengan perusahaan telah dicatat secara tepat dalam
laporan keuangan
selama menyelesaikan tahapan audit.
Penetapan Pisah Batas (Cutoff) Piutang Dagang secara Tepat
Salah saji akibat pisah batas (Cutoff Misstatement)
terjadi ketika transaksi dalam
waktu berjalan dicatat selama jeda waktu antara pembuatan pelaporan
dan waktu audit,
atau sebaliknya. Tujuan pengujian pisah batas, tanpa
memperhatikan jenis transaksi,
adalah untuk melihat apakah transaksi yang terjadi di akhir
periode akuntansi dicatat
pada periode yang tepat. Hal ini adalah salah satu tujuan terpenting
dari siklus karena
salah saji dalam pisah batas memengaruhi laba periode berjalan.
Sebagai contoh,
kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja dalam
menetapkan penjualan yang
terjadi setelah tanggal neraca sebagai penjualan periode berjalan,
atau kesalahan tidak
memasukkan pembelian barang dagangan pada periode berjalan,
akan menyebabkan
lebih saji laba bersih secara material.
Salah saji akibat penetapan pisah batas terjadipenjualan,
pada
retur dan cadangan
barang dagangan, serta penerimaan
Untuk
kas. masing-masing hal tersebut, auditor
perlu melakukan tiga pendekatan dalam menetapkan kewajaran pisah
batas, yaitu:
1. Menetapkan kriteria pisah batas yang tepat.
2.
Mengevaluasi apakah klien telah melakukan prosedur yang
memadai untuk
menentukan tingkat kewajaran pisah batas.
3.

Menguji apakah pisah bats yang ditetapkan adalah tepat.

Pisah Batas
Penjualan.
Sebagian
besar
klien
yang
bergerak
dipengiriman
bidang
dan
secara
manufaktur
perusahaan
sebelum
memulai
tepat
pengiriman,
pengiriman
pada
mencatat
mencatat
periode
atau
(seperti
faktur
penjualan
berjalan,
selama
pada
dalam
berdasarkan
pengiriman
maka
saat
kasus
perpindahan
metode
barang
berlangsung.
kriteria
yangyang
digunakan
kepemilikan,
diproduksi
Agarperdagangan
harus
barang.
yang
khusus),
pengukuran
mengikuti
Akuntansi
diterapkan
dapat
Beberapa
pada
Prinsip
secara
Berterima
dilakukan
terjadi
saat
konsisten.
Umum(Generally Accepted Accounting Principles/GAAP)
dan

Bagian terpenting pada evaluasi metode klien dalam menetapkan pisah


batas adalah saat
menentukan prosedur apa yang digunakan. Jika klien menerbitkan
dokumen pengiriman
secara urut nomor, maka auditor akan sangat mudah mengevaluasi
dan menguji pisah
batasnya. Pemisahan tugas antara fungsi pengiriman dan penagihan
juga menguatkan
kecenderungan untuk mencatat transaksi pada periode yang tepat.
Bagaimana pun juga,
jika pengiriman dilakukan oleh armada perusahaan, jika pencatatan
pengiriman tidak
diberi nomor, dan jika orang yang melakukan pengiriman dan
penagihan tidak
independen satu sama lain, maka auditor akan sulit memastikan bahwa
pisah batas yang
ditetapkan adlah akurat.
Ketika pengendalian internal klien dianggap memadai, maka
auditor biasanya dapat
melakukan verifikasi pisah batas dengan memeriksa nomor dokumen
pengiriman pada
saat pengiriman terakhir di akhir periode, lalu membandingkan
nomor ini dengan
pencatatan penjualan selama periode berjalan dan periode jeda
(subsequent). Sebagai
ilustrasi, diasumsikan nomor dokumen pengiriman untuk pengriman
terakhir periode
berjalan adalah 1489. Seluruh penjualan yang dicatat sebelum
akhir periode harus
diawali dengan dokumen nomor 1490 dan tidak ada penjualan
dicatat dan dikirimkan
selama periode jeda yang bernomor 1489 atau lebih kecil. Seorang
auditor dapat menguji
hal ini dengan membandingkan catatan penjualan dan dokumen
pengiriman terkait untuk
beberapa hari terakhir pada periode berjalan, dan beberapa hari di awal
periode jeda.
Pisah Batas Retur dan Cadangan Penjualan.
GAAP mensyaratkan r etur penjualan harus dibandingkan dengan
penjualan terkait jika
jumlahnya material. Sebagai contoh, jika pengiriman pada periode
berjalan dikembalikan
pada periode jeda (subsequent period), maka retur penjualan
seharusnya dianggap
sebagai persediaan periode berjalan). Di kebanyakan perusahaan, retur
penjualan dicatat
padaauditor
yaitu
Pendekatan
menyediakan
Jika
maka
menguji
periode
pengujian
adanya
dokumen
ini
yakin
akuntansi
cadangan,
saling-hapus
pisah
dapat
pendukung
bahwa
batas
diterima
dimirip
mana
klien
bias
(offsetting)
sebagai
dengan
transaksi
dilakukan
selama
mencatat
cadangan
sampel
jumlah
jumlahnya
inidengan
seluruh
terjadi,
untuk
piutang
pada
mudah
dengan
retur
tidak
awal
tak
dan
dan
penjualan
material.
tertagih,
asumsi
dan
cadangan
langsung.
akhir
periode
Beberapa
untuk
yang
tepat
Auditor
penjualan
hamper
diperkirakan
pada
jumlah
dapat
akuntansi.
yang
perusahaan
waktunya,
sama,
retur terjadi selama periode jeda.

dicatat selama periode jeda sampai tanggal penutupan untuk


menentukan tanggal
penjualan. Jika auditor melihat bahwa jumlah yang dicatat selama
periode jeda secara
signifikan berbeda dari retur dan cadangan penjualan di awal periode
audit, maka mereka
perlu melakukan penyesuaian. Sebagai contoh, suatu perusahaan
bisa mengalami
kenaikan retur penjualan saat melakukan penjualan melalui internet. Hal
ini disebabkan
karena pembeli tidak bisa memeriksa produk sebelum dibeli.
Sebagai tambahan, jika
evaluasi pengendalian internal atas pencatatan retur dan cadangan
penjualan hasilnya
tidak efektif, maka lebih banyak sampel dibutuhkan untuk melakukan
verifikasi terhadap
pisah batas.
Pisah Batas Penerimaan Kas.
Dalam audit, biasanya penentuan pisah batas penerimaan kas tidak terlalu
dianggap
penting dibandingkan pisah batas untuk penjualan, retur, dan cadangan
penjualan. Hal ini
disebabkan karena penentuan pisah batas penerimaan kas yang kurang
tepat hanya akan
memengaruhi saldo kas dan piutang dagang, bukan laba. Jika salah saji
tersebut material,
maka hal tersebut dapat memengaruhi penyajian wajar atas akunakun ini, terutama
ketika jumlah kas kecil atau bersaldo negative.
Pengujian untuk salah saji pisah batas penerimaan kas (biasanya disebut
holding the cash
receipts book )open
cukup mudah dilakukan, yaitu dengan menelusuri pencatatan
penerimaan kas ke setoran bank pada periode jasa yang terdapat di
laporan bank. Jika
beberapa hari tertunda, maka terdapat indikasi salah saji dalam
penentuan pisah
batas.Pada tingkat tertentu, auditor dapat mengandalkan konfirmasi atas
piutang dagang
untuk menemukan salah saji pada pisah batas penjualan, retur, dan
cadangan penjualan,
dan penerimaan kas. Sulit membedakan salah saji pisah batas dari
beda waktu
suatu
(timing difference) normal yang terjadi karena pengiriman dan
pembayaran dalam
perjalanan
pembayaran
sedangkan
pembeli
melainkan
untuk
jawaban
penyelidikan
menentukan
dan
konfirmasi
pada
terdapat
klien
cek
lebih
klien
akhir
kepada
menerima
lanjut,
beda
akan
apakah
dijadikan
periode.
klien
waktu
misalnya
berbeda
situasi
dan
untuk
Sebagai
sehubungan
sumber
mencatatnya
pada
dengan
seperti
rekening
contoh,
informasi.
tanggal
pemeriksaan
ini
dengan
yang
jika
tanggal
disebut
31belum
pembeli
waktu
Situasi
Desember.
salah
2dokumen
dibayar
pengiriman.
Januari,
tersebut
sajiHal
atau
mengirimkan
tanggal
maka
ini
Sulit
beda
membutuhkan
pendukung.
bukan
bagi
waktu,
pencatatan
30auditor
Desember
salah
jika
dansaji,
mencatat
oleh

Piutang Dagang Dinyatakan dalam Nilai Terealisasi


GAAP mensyaratkan perusahaan mencatat piutang dagang dalam
jumlah tertinggi yang
dapat ditagih. Nilai terealisasi piutang dagang sama dengan jumlah total
piutang dagang
dikurangi dengan cadangan piutang tak tertagih. Untuk menghitung
cadangan, klien
mengestimasi jumlah total piutang dagang yang diperkirakan tidak
dapat ditagih.
Prediksi ini tentunya tidak dapat dilakukan secara tepat, tetapi
auditor perlu
mengevaluasi apakah klien sudah menetapkan cadangannya secara
masuk kal dengan
mempertimbangkan semua fakta. Untuk melakukan evaluasi ini,
auditor sering kali
menyiapkan skedul audit yang menganalisis cadangan piutang tak
tertagih.
Untuk memulai evaluasi cadangan atas piutang tak tertagih, auditor
menganalisis hasil
pengujian pengendalian mengenai kebijakan kredit klien. Jika
kebijakan ini tidak
berubah dan hasil pengujian kebijakan kredit dan persetujuan kredit
konsisten dengan
tahun sebelumnya, maka perubahan saldo cadangan piutang tak
tertagih seharusnya
hanya merefleksikan perubahan kondisi ekonomi dan volume penjualan.
Jika kebijakan
kredit klien berubah secara signifikan, maka auditor harus berhatihati dalam
mempertimbangkan dampak dari perubahan ini.
Auditor sering kali mengevaluasi kecukupan cadangan dengan
memeriksa akun-akun
jangka panjang pada neraca saldo secara hati-hati untuk menentukan
mana yang belum
dibayar setelah tanggal neraca. Besaran saldo dan umur piutang
yang belum dibayar
dapat dibandingkan dengan informasi serupa tahun-tahun
sebelumnya untuk
mengevaluasi apakah jumlah piutang jangka panjang meningkat
atau menurun selama
kurun waktu tersebut. Auditor dapat juga menilai kolektibilitas
piutang dagang dengan
memeriksa berkas-berkas kredit, mendiskusikan dengan manajer kredit
dan menganalisis
berkas korespondensi klien. Prosedur ini sangat penting jika
terdapat hanya sedikit
Auditor
dengan
mereka
beberapa
berjalan
akun
diabaikan.
inimengabaikan
memeriksa
dengan
menghadapi
akun
secara
Untuk
initahun-tahun
progresif
jelas-jelas
menghindari
saldo
tingkat
dua
jangka
kesalahan
tidak
tak
kecukupan
sebelumnya
tertagih.
dua
tertagih
panjang
kesalahan
yang
cadangan
Kedua,
dalam
selama
secara
biasa
tersebut,
sulit
basis
terjadi
untuk
beberapa
individu
untuk
yang
akun
dalam
klien
tidak
tahun,
pada
jangka
dapat
rekening
bersaldo
tingi
yang
tidak
tterbayarkan
dengan
basis
regular.
mengevaluasi
neraca
pendek,
membandingkan
terstruktur.
maka
menyusun
akun
saldo.
meskipun
Jika
sejarah
iniPertama,
cadangan
akuntelah
hasil tahun

penghapusan piutang tak tertagih ( bad debt write-offs


) selama kurun waktu tertentu
sebagai referensi dalam mengevaluasi cadangan tahun berjalan.
Sebagai contoh, klien
dapat menetapkan 2% dari akun berjalan, 10% dari akun berumur 3090 hari, dan 35%
dari semua saldo yang berumur lebih dari 90 hari dianggap tidak
tertagih. Auditor dapat
memberlakukan persentase ini ke neraca saldo dan membandingkan
hasilnya dengan
saldo pada akun cadangan. Auditor tentunya harus memverifikasi
kewajaran dari
persentase yang digunakan dan berhati-hati dalam memperhitungkan
perubahan kondisi.
Piutang Tak Tertagih
Setelah auditor puas dengan akun cadangan, mudah baginya
untuk memeriksa piutang tak tertagih. Diasumsikan bahwa:

Saldo awal akun cadangan diverifikasi sebagai bagian dari audit


sebelumnya.

Jumlah tak tertagih yang dihapus diverifikasi sebagai bagian


dari pengujian
substantive atas transaksi.

Saldo akhir akun cadangan diverifikasi untuk berbagai


tujuan.Piutang tak tertagih
merupakan saldo sisa yang diverifikasi dari perhitungan kembali.
Klien Berhak atas Piutang Dagang
Hak klien atas piutang dagang biasanya tidak menyebabkan
masalah audit karena
piutang umumnya memang milik klien. Dalam beberapa kasus, ada
bagian dari piutang
dagang yang dijadikan jaminan, ditujukan untuk pihak lain, atau dijual
dengan nilai lebih
rendah. Umumnya, pelanggan tidak tahu-menahu tentang hal
tersebut, sehingga
konfirmasi piutang pun tidak dapat memberikan kejelasan. Untuk
mendapatkan
informasi mengenai keterbatasan hak klien atas piutangnya, auditor
perlu mendiskusikan
dengan klien, melakukan konfirmasi ke bank, atau memeriksa
kontrak utang sebagai
bukti bahwa piutang dagang dipakai sebagai jaminan, dan
Pengujian
sebagai
pengungkapan
pengujian
mengevaluasi
bagian
penjualan
dari
kewajaran
dilakukan
dari
keempat
penyelesaian
danuntuk
tujuan
kebijakan
piutang
memenuhi
audit-terkait
tahapan
dagang
klien audit.
tujuan
atas
dilakukan,
penyajian
pengakuan
Beberapa
audit-terkait
auditor
dan
pengujian
pendapatan
saldo.
harus
memeriksa
berkas
korespondensi.
Penyajian
pengungkapan
atas
Contohnya,
memahami
untuk
penuajian
mengetahui
dan
ketika
dandan
dilakukan
Pengungkapan Piutang dagang

pengungkapannya secara wajar dalam laporan keuangan. Auditor juga


perlu memutuskan
apakah klien secara wajar telah menghitung saldo dan menyajikan
informasi dari pihakpihak terkait. Untuk mengevaluasi kecukupan penyajian dan
pengungkapan tersebut,
auditor perlu memiliki pemahm SAK dan persyar atan penyajian
dan pengungkapan
secara menyeluruh.
Bagian penting dari evaluasi meliputi keputusan apakah klien telah
memisahkan hal-hal
material yang memerlukan pengungkapan terpisah dalam laporan
keuangan. Contohnya,
piutang dari pegawai atau perusahaan afiliasi harus dipisahkan dari
piutang dengan
pelanggan lainnya, jika jumlahnya material. Dengan cara yang
serupa, SEC
mensyaratkan juga bahwa perusahaan harus memisahkan
pengungkapan penjualan dan
asset dari segmen bisnis yang berbeda. Buku besar gabungan dalam
laporan keuangan
juga perlu memisahkan saldo akun-akun yang tidak relevan dengan
pengguna eksternal
laporan. Jika seluruh akun gabungan yang dimasukkan dalam buku
besar diungkapkan
secara terpisah dalam laporan, maka hal ini akan membingungkan
pengguna laporan.
3. KonfirmasiPiutangDagang
Persyaratan Standard Auditing
Standard audit mensyaratkan konfirmasi piutang dagang dalam kondisi
normal. PSA 07
(SSA 330) menyebutkan tiga pengecualian terhadap persyaratan
konfirmasi tersebut,
yaitu :
1.

Piutang dagang jumlahnya tidak material


. Hal ini biasa terjadi pada perusahaan

tertentu, misalnya totko diskon dengan penjualan tunai dan kartu kredit.
2.

Auditor mempertimbangkan bahwa konfirmasi merupakan bukti yang


tidak efektif
karena tingkat respon yang rendah atau tidak dapat diandalkan
. Dalam industry
tertentu,
bukti
memiliki
siklus
melakukan
Kombinasi
substantive
penjualan
seperti
pengendalian
pengujian
rumah
dari
dan
laintingkat
penagihannya,
sakit,
pengendalian,
dapat
internal
tingkat
risiko
diakumulasikan
efektif
bawaan
respon
pengujian
maka
dan risiko
untuk
dan
auditor
sebagai
substantive
risiko
bawaan
konfirmasi
perlu
pengendalian
bukti
yang
memenuhi
atas
ituyang
sangat
cukup
adalah
3.
rendah.
cukup
rendah
persyaratan
transaksi,
analitis.
rendah
terhadap
dan
dengan
dan
prosedur
. Jika klien

Jenis-jenis Konfirmasi
1.

Konfirmasi positif

Konfirmasi positif adalah konfirmasi yang ditujukan kepada debitur


untk meminta
konfirmasi secara langsung apakah saldo yang disebutkan dalam
konfirmasi tersebut
benar atau salah.
Formulir konfirmasi adalah
kosongjenis konfirmasi positif yang tidak menyebutkan
jumlah yang dikonfirmasi, tetapi mensyaratkan penerima untuk mengisi
jumlahnya atau
memasukkan informasi lain. Formulir kosong ini jarang digunakan
dalam praktik karena
biasanya tingkat responnya lebih rendah.
Konfirmasi tagihan
adalah bentuk lain dari konfirmasi positif yang merupakan
konfirmasi individual, bukan saldo keseluruhan piutang pelanggan.
Banyak pelanggan
menggunakan system voucher
sehingga mereka bisa mengkonfirmasi tagihan individual,
tetapi bukna informasi saldo keseluruhan. Akibatnya, penggunaan
konfirmasi tagihan ini
menaikkan tingkat respon.
2.

Konfirmasi negative

Konfirmasi negative juga ditujukan kepada debitur, tetapi hanya


meminta respon jika
debitur tidak menyetujui jumlah yang dinyatakan dalam konfirmasi.
Konfirmasi positif merupakan bukti yang lebih dapat diandalkan
karena auditor dapat
melakukan prosedur lain jika respon tidak diperoleh dari debitur.
Dengan konfirmasi
negative, pelanggan bisa saja tidak merespon dan dianggap
menyetujui jumlah yang
dikonfirmasi, meskipun mungkin sebenarnya pelanggan
mengabaikan permintaan
konfirmasi.
risikoKombinasi
Auditor
berdasarkan
2.
tidak
berhak
dapat
fakta
menentukan
antara
dikatakan
dalam
risiko
audit.
rendah
jenis
pengendalian
PSA
konfirmasi
jika07
pengendalian
menyatakan
dan
yang
risiko
akan
internal
bawaan
digunakan,
bahwatidak
adalah
dan
hal iniPiutang
konfirmasi
dilakukan
1.
rendah.
efektif
sebaiknya
atau
Kombinasi
hanya
terdapat
negative
dagang
jika tiga
terdiri
dapat
kondisi
dari sejumlah
berikut dipenuhi.
besar akun bersaldo kecil.

kemungkinan salah saji. Jika audit tahun sebelumnya


mengindikasikan bahwa piutang
dagang sering tidak akurat, maka konfirmasi negative tidak tepat untuk
dilakukan.
3.
Jika diyakini bahwa penerima konfirmasi tidak mengabaikan
konfirmasi yang
diminta. Misalnya, jika tingkat respon konfirmasi positif tahun-tahun
sebelumnya sangat
tinggi atau jika terdapat tingkat respon yang tinggi pada klien yang
sama.

Biasanya, jika konfirmasi negative dilakukan, maka auditor akan


memberikan penekanan
pada efektifitas pengendalian internal, pengujian substantive dan
prosedur analitis
sebagai bukti kewajaran piutang dagang, dan mengasumsikan bahwa
mayoritas penerima
konfirmasi akan membaca dengan seksama dan merespon permintaan
konfirmasi.
Konfirmasi negative biasanya digunakan untuk audit rumah sakit,
toko ritel, bank, dan
industry lain yang piutang dagangnya berhubungan dengan
masyarakat umum.
Kombinasi konfirmasi negative dan konfirmasi positif juga biasa
dilakukan dengan
mengirimkan konfirmasi positif kepada debitur dengan saldo besar
dan menggunakan
konfirmasi negative kepada debitur bersaldo kecil.
Pilihan konfirmasi oleh auditor dipengaruhi oleh materialitas dari total
piutang dagang,
jumlah dan ukuran setiap akun, risiko pengendalian, risiko yang
tak terhindarkan,
efektifitas dari konfirmasi sebagai bukti audit, dan ketersediaan bukti
audit lain.
Penetepan Waktu
Bukti yang paling dapat diandalkan dari konfirmasi diperoleh saat
konf irmasi tersebut
dikirimkan sesegera mungkin setelah penutupan tanggal neraca. Dengan
ini auditor dapat
secara langsung menguji saldo piutang dagang dari laporan
keuangan tanpa perlu
memperhatikan
transaksi
yang
terjadi
antara
tanggal
konfirmasi
Selain
Jika
maka
auditor
auditor
itu, untuk
memutuskan
tersebut
melakukan
biasanya
untuk
audit
menyiapkan
mengkonfirmasi
berbasis
skedul
ketepatan
ke
piutang
depan
waktu,
dagang
untuk dan
tanggal
neraca.
biasanyadagang
konfirmasi
sebelum
merekonsiliasi
piutang
Keputusan
akhir
diperlukan
akun-akun
Pengambilan
saldo
tahun,
pada tanggal
selama
Sampel
neraca.
tanggal intermin.

Jumlah sampel
Factor utama yang mempengaruhi jumlah sampel dalam melakukan
konfirmasi piutang
dagang terbagi menjadi beberapa kategori, yaitu:

Salah saji yang dapat diterima.

Risiko yang tak terhindarkan (ukuran relative dari total


piutang dagang, jumlah
akun, hasil pengujian tahun sebelumnya, dan ekspektasi salah saji).

Risiko pengendalian.

Risiko deteksi yang diperoleh dari pengujian substantive


lainnya (perluasan dan
hasil dari pengujian substantive atas transaksi, prosedur analitis,
dan pengujian detail
lainnya).

Tipe konfirmasi (konfirmasi negative biasanya membutuhkan


sampel lebih
banyak).
Pemilihan Sampel Pengujian
Beberapa tingkatan sampel diperlukan bagi hamper seluruh jenis
konfirmasi. Dalam
melakukan pendekatan untuk memilih tingkatan sampel, auditor
perlu
mempertimbangkan besaran nominal akun per individu dan jangka
waktu peredaran
piutang dagang. Dalam banyak kasus, auditor mengambil sampel
seluruh akun diatas
jumlah nominal tertentu dan memilih sampel acak atas sisanya.
Menjalankan Pengendalian
Setelah sampel konfirmasi ditentukan, auditor perlu melakukan
pengendalian konfirmasi
hingga dikembalikan dari pelanggan. Jika klien membantu
seperti
Surat
bukti
merupakan
konfirmasi
audit.
memasukkan
bukti
Misalnya,
yang
audit.surat
tidak
Sama
tidakdikembalikan
konfirmasi
halnya
ada tanggapan
dengan
keoleh
dalam
konfirmasi
atas
pelanggan
amplop
konfirmasi
negative,
tidak
tertutup,
positif
dapat
jika
menyiapkan
konfirmasi,
atau amplop,
pada
Tindak
dianggap
bukan
tidak
melekatkan
ada
berarti
Lanjut
respon
sebagai
auditor
Bila
capTidak
harus melakukan
Ada Tanggapan
pengawasan ketat.

maka auditor tidak boleh menyimpulkan bahwa pelanggan


menerima permintaan
konfirmasi dan membenarkan permintaan informasi.
Jika menggunakan konfirmasi positif, PS 07 mensyaratkan prosedur
tindak lanjut bila
terdapat konfirmasi yang tidak diatnggapi. Biasanya, tindak lanjut
dilakukan dengan
mengirimkan permintaan konfirmasi kedua atau bahkan ketiga. Jika
pelanggan tetap
tidak mengembalikan surat konfoirmasi, maka perlu dilakukan
tindak lanjut dengan
prosedur alternative. Tujuan dari prosedur alternative adalah
menentukan, tanpa
konfirmasi, apakah akun yang tidak dijawab memang benar ada, dan
disajikan dengan
benar pada tanggal konfirmasi. Untuk setiap konfirmasi positif yang
tidak dikembalikan,
auditor dapat memeriksa dokumen untuk menguji keberadaan dan
akurasi transaksi
penjualan individu yang tercantum dalam saldo akhir piutang dagang.
Analisis Perbedaan
Ketika permintaan konfirmasi dikembalikan oleh pelanggan, auidtor
harus menentukan
alasan jika ditemukan perbedaan. Dalam banyak kasus, perbedaan
tersebut disebabkan
oleh beda waktu antara pencatatan klien dan pelanggan. Beda
waktu perlu dipisahkan
dari pengecualian (exeption), yang merupakan salah saji atas saldo
piutang dagang. Jenis
perbedaan yang biasa terjadi pada hasil konfirmasi meliputi :
Pembayaran yang dilakukan
Perbedaanbiasanya terjadi ketika pelanggan sudah
melakukan pembayaran sebelum tanggal konfirmasi, tetapi klien
belum menerima
pembyaran saat pencatatan sebelum tanggal konfirmasi. Hal ini perlu
diselidiki dengan
saksama dengan seksama untuk mengetahui kemungkinan salah saji
akibat pisah batas
penerimaan kas, penggelapan dengan mengguhkan pencatatan
penerimaan kas (lapping),
atau pencurian kas.
Barang
Belum
diterima
Perbedaan
ini
timbul
karena
klien
mencatat
karena
pada
Waktu
penerimaan
tanggal
ketika
beda
barang
waktu
pengiriman
barang
atau
atau
dalam
kesalahan
salah
danmasa
pelanggan
sajibiasanya
pengiriman
akibat
pencatatan
mencatat
pisah
menyebabkan
retur
batas
pembelian
dan
pada
cadangan
catatan
perbedaan
pada
saat penjualan
barang diterima.
pelaporan
Pengembalian
pelanggan.
penjualan.
dengan
perbedaan
tanggal
SamaBarang
halnya
lain,
Kesalahan
hal ini klien
perlu diselidiki.
dalam mencatat memo kredit dapat terjadi

Kesalahan Klerikal dan Jumlah yang Dipertentangkan


Perbedaan yang terjadi dalam
laporan pencatatan klien biasanya terjadi ketika pelanggan
menyatakan terjadinya
kesalahanatas harga barang , kerusakan jumlah
barang,barang yang tidak diterima, dan
lain-lain. Perbedaan ini perlu diselidiki untuk menentukan apakah
klien melakukan
kesalahan dan berapa jumlah keslahan yang terjadi.
Dalam banyak kasus, auditor akan meminta klien merekonsiliasi
perebdaan tersebut,
dan jika perlu, akan mengkomunikasikan dengan pelanggan untuk
menyelesaikan
perbedaan tersebut. Auditor perlu berhati-hati dalam melakukan
verifikasi kesimpulan
klien untuk setiap perbedaan yang signifikan.
Pengambilan Kesimpulan
Ketika masalah perbedaan sudah diselesaikan, termasuk perbedaan yang
ditemukan saat
melakukan prosedur alternatif, auditor harus melakukan evaluasi
ualng terhadap
pengendalian internal. Setiap salah saji harus harus dianalisis untuk
menentukan apakah
hal ini konsisten atau tidak konsisten dengan tingkat yang
ditetapkan dalam resiko
pengendalian. Jika terdapat jumlah salah saji yang signifikan dan tidak
konsisten dengan
evaluasi resiko pengendalian, maka perlu dilakukan revisi terhadap
evaluasi dan
mempertimbangkan dampak revsisi tersebut terhadap audit. Auditor
pada perusahaan
publik harus juga mempertimbangkan implikasi dari audit
pengendalian internal atas
pelaporan keuangan.
Selain itu, perlu dipastikan bahwa sampel yang diambil dapat mewakili
populasi dengan
benar. Meskipun jumlah salah saji dalam sampel tidak signifikan dalam
mempengaruhi
laporan keuangan, auditor perlu mempertimbangkan jika salah saji itu
menjadi material
dalam populasi. Generalisasi hasil sampel ke populasi dapat
dialakukan melalui teknik
pengambilan sampel sacara statistik atau non statistik.
Auditorpiutang
dalam
Bahkan,
untuk
Keputusan
memadai
sampel,
harus
jika
telah
akhir
salah
dagang,
selalu
tampa
diperoleh
tentang
saji
mengevaluasi
memperhatikan
salah
yang
piutang
melalui
diestimasi
saji dagang
yang
pengujian
kondisi
nominal
ditemukan
lebih
dankualitatif
pengendalian
penjualan
kecil
salah
dalam
dari
saji
danadalah
salah
populasi
sampel
salah
dan saji
saji
yang saja
bisa
gejala
mengenai
pengujian
ditemukan
diestimasi.
dapat
darimerupakan
apakah
subtantif
masalah
diterima
bukti
yang
atas lebih serius.

transaksi , prosedur analitis, prosedur pisah batas, konfirmasi, dan


pengujian subtantif
lain untuk menguatkan pengambilan keputusan mengenai kebenaran
saldo yang
disajikan.

4. MengembangkanPengujianAtas Program Audit Perinci


Untuk lebih mempermudah pemahaman maka dalam membahas
subbab ini, maka akan
digunakan contoh kasus pada PT Perkakas Prima guna mengilustrasikan
pengembangan
prosedur program audit untuk pengujian perincian dalam siklus
penjualan dan penagihan.
Prosedur ini ditentukan atas dasar pengujian pengendalian dan
pengujian substantive atas
transaksi.
Mira Abadi, seorang auditor senior, menyiapkan kertas kerja
perencanaan bukti sebagai
panduan dalam memutuskan seberapa luas pengujian perincian
saldo tersebut.
Informasinya adalah sebagai berikut:

Salah saji yang dapat diterima


. Ketentuan awal atas materealitas adalah diatas Rp

442.000.000 (sekitar 6% dari laba operasi sebesar Rp 7.370.000.000). Ia


mengalokasikan
Rp 265.000.000 ke audit piutang dagang.

Risiko audit yang bias diterima


. Mira menentukan risiko audit yang dapat diterima

adalah tinggi, karena perusahaan dalam kondisi keuangan yang


bagus, stabilitas
keuangan yang tinggi, dan pengguna laporan keuangan yang hanya
sedikit.

Risiko .bawaan
Mira menentukan bahwa tingkatan risiko yang tak terhindarkan
adalah medium untuk keberadaan dan pisah batas karena hal-hal yang
perlu diperhatikan
mengenai pengakuan pendapatan. Mira juga menentukan risiko
yang tak terhindarkan
adalah medium untuk nilai realisasi. Pada tahun-tahun sebelumnya,
klien membuat
penyesuaian audit atas cadangan piutang tak tertagih karena terbukti
kurang saji. Risiko
bawaan untuk tujuan lain ditetapkan rendah.
dengan
hasil
setiap
Prosedur
Risiko
transaksi
Pengujian
tujuan
standar
pengendalian
deteksi
berdasarkan
analitis
untuk
yang
substantive
. Penentuan
terencana
setiap
ada.
. kesimpulan
tujuan
atas
risiko
danaudit
hasil
bukti
pengendalian
dari
sesuai
transaksi
.audit
dua
Penentuan
dengan
baris
terencana
untuk
. lainnya.
Dua
pengujian
standar
setiap
baris yang
ini
tujuan
substantive
ditujukan
ada.
audit sesuai
untuk
atas

Tabel 14-5
Program Audit Untuk Pengujian Perincian Saldo PT PERKAKAS
PRIMA Siklus
Penjualan dan Penagihan (Format Kinerja)
1. Menelaah neraca saldo piutang dagang untuk piutang yang
saldonya besar dan
tidak lazim.
2. Membuat prosedur analitis yang diindikasikan dalam skedul audit
ke depan (tidak
termasuk) dan menindaklanjuti setiap perubahan penting dari tahun
sebelumnya.
3. Menelaah piutang dalam daftar neraca saldo untuk wesel dan
piutang pada pihak
terkait.
4.
Melakukan tanya jawab dengan manajemen apakah ada
piutang kepada pihak
tekait, wesel, atau piutang jangka panjang yang termasuk dalam neraca
saldo.
5.
Menelaah notulensi rapat pimpinan dan melakukan tanya
jawab dengan
manajemen jika ada utang yang dijaminkan.
6. Menelusuri 10 akun dari neraca saldo ke piutang dagang untuk
menghitung umur
piutang dan saldonya.
7.
Menjumlah ke bawah, saldo dari dua halaman neraca saldo
pada kolom
perhitungan umur piutang dan saldo.
8.

Menelusuri saldo ke buku besar.

9. Menelusuri 5 akun dari berkas utama piutang dagang ke neraca


saldo.
10. Melakukan konfimasi positif atas piutang dagang

DAFTAR PUSTAKA

Alvin, Arens. 2011. Jasa Audit dan Assurance


: Pendekatan Terpadu (Adaptasi Indonesia)
Buku 2.Jakarta: Salemba Empat.