Anda di halaman 1dari 6

1

AnakAnakBahagia

HappyChild,Source:Google

Dalam tulisanku seminggu yang lalu, aku menulis mengenai bagaimana aku mulai menyadari bahwa
ternyata selama ini aku hidup sebagai orang yang cacat (batinnya), orang yang hidup dibalik topeng
senyuman dan kehilangan dirinya sendiri (tulisan
lengkap:http://floramarcella.blogspot.com/2012/09/kisah-anak-yang-kehilangan-dirinya.html)
Beberapa hari setelah aku mengetahui hal ini, banyak kejadian yang berlangsung di kepala dan
hatiku. Aku mengalami kebingungan dan ketakutan. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di
kepalaku, Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana memperbaiki semua kekacauan ini?
Bagaimana aku bisa melengkapi hatiku yang berlubang?Bagaimana aku bisa melepaskan diri dari
amarah dan kesedihanku?Bagaimana aku bisa menemukan diriku yang sebenarnya?Bagaimana
caranya supaya aku bisa hidup terbebas dari semua tekanan ini?dan pertanyaan-pertanyaan lainnya
yang betul betul membuat aku stress.
Mengetahui kenyataan bahwa selama ini aku memiliki luka hati yang parah, memiliki amarah
terpendam, dan menghidupi hidup pura-pura, tidaklah mudah. Aku butuh waktu berhari-hari untuk
akhirnya dapat memahami kondisiku. Aku tidak yakin apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki
hidupku, namun aku telah membuat keputusan! Aku akan mengakhiri kehidupan penuh tekanan yang
selama ini kuhidupi, aku mau berhenti berpura-pura. Berhenti bersembunyi dibalik topeng senyuman.
Aku bertekad untuk menyembuhkan luka hatiku, memenuhi kebutuhan emosiku serta menemukan
cara untuk hidup lebih bahagia. Aku yakin aku bisa melakukannya.

2
Lewat tulisanku di blog ini, aku akan merekam pengamatanku terhadap diriku sendiri: perjalanan
pikiranku dan perubahan yang terjadi dalam diriku semenjak aku menyadari keadaan diriku yang
cacat batin. Cerita ini bisa jadi cukup panjang, maka aku akan membaginya dalam beberapa bagian
yang saling berkaitan.
Inspirasiku dalam menulis tulisan ini adalah Ibu Miranda Suryadjaja, seorang lifecoach dan ahli
komunikasi, lalu Dave Pelzer, penulis buku trilogi bestseller A Child Called It-The lost Boy dan A Man
Named Dave juga sebuah buku yang juga direkomendasi Ibu Miranda, berjudul 'The Drama of the
Gifted Child/ The Search for the True Self'/Prisoners of Childhood yang ditulis oleh seorang penulis
dan psychoanalyst dari Jerman bernama Alice Miller.
Aku persembahkan tulisan ini untuk diriku sendiri, adik-adiku, orang tuaku dan siapa saja yang
mengalami hal yang aku alami.

TheDramaoftheGiftedChildbyAliceMiller
source:Googlesearch

Sebelum memasuki kisah pengalaman pribadiku (sepertinya pada postblog yang akan datang), aku
akan mengawali tulisanku dengan membagikan pemahamanku mengenai hubungan orang tua
dengan anak-anak. Sumber tulisan ini adalah gabungan dari pengamatan, pengalaman,
penelusuranku di dunia maya dan buku-buku, serta training publik komunikasi efektif yang baru-baru
ini aku ikuti:

3
Seorang bayi manusia, menurut penelitian merupakan salah satu bayi yang paling rapuh dibanding
bayi mahluk hidup lain. Ketergantungan mereka terhadap induk/orang tua mereka terbilang paling
lama. Bayi binatang hanya butuh beberapa bulan untuk bisa berjalan, mencari makan sendiri,
merumput, atau berburu. Sementara, bayi manusia butuh +/- 1 tahun untuk bisa mulai berjalan, dan
umumnya butuh dukungan sampai sekitar 17 tahun sampai akhirnya manusia muda ini bisa
memenuhi kebutuhannya sendiri atau kasarnya bisa cari makan sendiri.
Maka kira-kira selama 17 tahun, kehidupan anak manusia ini disokong penuh oleh orang tuanya. Bagi
anak-anak, sumber kehidupan dan harapan mereka adalah orang tuanya, apalagi bagi anak-anak
yang masih bayi&balita.
Orang tua bagi mereka adalah pusat kehidupan: makan-minum dan kelangsungan hidup mereka
tergantung pada penyediaan orang tua, perlindungan mereka dari berbagai bentuk bahaya adalah
orang tua mereka. Tempat anak-anak untuk bergantung, bersandar, meminta petunjuk dan bimbingan
adalah orang tua. Aku tekankan disini bahwa bagi anak-anak, di hidup-mati mereka berada tangan
orang, dan orang tua memiliki kuasa untuk menentukan nasib anak-anak mereka ini. Memiliki kuasa
atas hidup manusia lain (walaupun manusia kecil), adalah tanggung jawab yang besar dan gampanggampang-susah untuk dijalani.

Mother&Baby|source:Google

Aku menyimpulkan secara umum, ada dua tipe orang tua. Ya. Hanya dua.

4
Kalau dia bukan orang tua yang 'ideal' dia adalah orang tua yang 'tidak ideal' , kalau dia bukan
orang tua yang 'baik' dia adalah orang tua yang ' tidak baik', kalau dia bukan orang tua 'pengasih'
berarti dia 'tidak pengasih' dan lain-lain dan seterusnya.
Orang tua yang baik dan ideal menurutku, adalah orang tua yang bahagia dan sehat rohaninya.
Orang tua yang mengetahui siapa dirinya dan hidup sebagai dirinya sendiri.
Orang tua yang sudah menemukan 'inner peace' atau minimal penuh rasa syukur /contented.
Mereka tidak mengandalkan orang lain untuk bahagia.
Mereka orang-orang tulus dan ikhlas. Mereka bukan orang sempurna yang tanpa cela, tapi mereka
memiliki pemikiran dan hati yang terbuka, mereka tipe orang yang bisa menerima bahwa mereka juga
bisa salah dan bisa berbesar hati untuk mengakui kesalahan mereka lalu merubah diri.
Mereka memiliki ketegaran sejati dalam menghadapi kesulitan&kehidupan, mereka tidak
menyalahkan keadaan, orang lain atau anak-anak mereka.
Mereka mengetahui cara menyelesaikan amarah dan kesedihan mereka tanpa merusak orang-orang
disekeliling mereka yang mereka kasihi.
Mereka penerima dan pemberi sejati.
Tidak menyalah gunakan kekuasaan mereka untuk mengatur, memanipulasi atau menuntut anak
mereka.
Orang tua yang seperti inilah yang akan mampu memberikan kasih sayang tanpa menuntut balasan.
Memberi cinta tanpa syarat. Orang tua seperti ini-lah yang menurutku akan mampu memberikan rasa
aman, rasa diterima, rasa penting, rasa berharga. Memenuhi kebutuhan emosi dasar seorang bayi
manusia.
Bayi-bayi ini karena dicintai dan diterima apa adanya, menjadi sangat polos dan jujur. Emosi apapun
yang mereka rasakan, mereka akan pada saat itu juga SEGERA mengekspresikannya.
Saat mereka merasa senang, mereka akan tersenyum, saat mereka melihat sesuatu yang lucu,
mereka akan tertawa tebahak-bahak, saat mereka melihat orang yang pura-pura lucu, mereka akan
diam saja, bahkan menangis, saat mereka lapar dan marah mereka akan berteriak, saat mereka
kehausan mereka akan menangis tersedu-sedu, saat mereka mereka merasa tidak nyaman, mereka
akan merengek-rengek, sampai orang tua mereka memberikan respon yang mereka mau, mereka
akan terus mengekspresikan diri mereka, lalu setelah mereka menerima apa yang mereka butuhkan,
mereka akan tidur pulas dengan tenang, wajah mereka penuh kedamaian seperti tidak terjadi apaapa, anak-anak yang tadinya menangis marah karena lapar, sesaat setelah mereka disuapi makanan
kesukannya, akan berhenti menangis, sebaliknya dia akan mengunyah dengan semangat, sambil
tersenyum ceria dan tertawa-tawa, awan gelap dan hujan badai yang berlangsung sebelumnya
lenyap tak berbekas dipenuhi cahaya matahari yang hangat dan ceria.
Anak-anak itu begitu spontan dan ekspresif. Mereka memiliki kejujuran berekspresi dan kemurnian
yang membuat mereka sangat menarik bagaikan magnet.
Anak-anak ini tidak memendam perasaan, tidak menyembunyikan emosi, tidak berpura-pura supaya
kelihatan lebih baik, mereka tidak berusaha mengimpresi atau menyenangkan siapapun, mereka

5
menjadi diri mereka sendiri, melakukan yang mereka mau dan tidak mau melakukan apa yang tidak
mereka mau, jujur dan apa adanya. Kita merasa aman dan nyaman berada di dekat anak-anak ini
karena kita tahu tidak ada yang mereka sembunyikan, tidak ada maksud lain dibalik maksud mereka
yang sesungguhnya, tidak ada komentar-komentar tambahan dibalik perkataan yang mereka
perkatakan.
Anak-anak yang menerima keutuhan perhatian dan kasih sayang orang tua yang demikian, dalam
bayangan saya akan menjadi anak yang mampu memahami keadaan dirinya, percaya diri, positif, dan
tidak takut berekspresi, karena mereka tahu mereka bisa jadi apapun yang mereka mau, sesuai
minat, karakter dan talenta mereka namun tetap dicintai tanpa syarat. Mereka bisa melakukan
kesalahan namun tetap dimaafkan dan diberi bimbingan untuk memperbaiki kesalahan mereka untuk
menjadi lebih baik.
Mereka bisa memiliki kekurangan namun diterima apa adanya oleh orang tua mereka sehingga
mereka bisa melihat bahwa sesungguhnya kekurangan itu adalah bagian dari kelebihan mereka
juga.
Mereka boleh memilih apa yang mereka mau, tanpa dipaksakan kehendaknya oleh orang tua
mereka. Mereka bebas dan maksimal, bahagia hidup sebagai diri sendiri, mereka bisa bertumbuh,
berkembang dan mencapai kemaksimalan hidup mereka dan mampu mengubah dunia dengan
karya-karya mereka. Dan yang paling penting mereka akan melahirkan dan mendidik anak-anak
mereka, generasi masa depan, dengan ketulusan dan cinta sejati seperti yang diteladankan oleh
orang tua mereka.

AnakyangDidengarkanOrangTuanyaketikabercerita
source:Googlesearch

Mimpiku adalah, bisa melihat semakin banyak orang-orang tua sejati yang bisa mendidik anak-anak
mereka dengan keteladanan dan mencintai tanpa syarat. Sehingga, anak-anak lain nanti tidak harus
mengalami penderitaan fisik dan batin. Penderitaan yang lukanya tersembunyi di dasar hati,
seringkali tidak terdeteksi dan membuat hidup mereka tidak sempurna dan menghambat mereka

6
untuk bisa mencapai kemaksimalan hidup mereka.
Apakah itu mungkin?Apakah impian ini realistis?mungkinkah seorang manusia bisa jadi sebaik itu?
setidak egois itu?semurni dan se-tak bersyarat itu?
Bagi saya itu mungkin saja. Saya melihat kecenderungan yang dilakukan orang-orang di dunia saat
ini adalah untuk berusaha, berjuang supaya bisa lebih baik dari sebelumnya, dalam dunia pekerjaan,
dalam bisnis dan berkarya, orang-orang mencoba meraih kesempurnaan. Jadi saya rasa, kita pun
bisa berusaha mencoba menjadi orang terbaik yang kita bisa, untuk nantinya bisa menjadi orang tua
terbaik yang kita bisa:D Saya percaya, semuanya diawali oleh setitik kemauan.

Catatan: Lantas bagaimana dengan tipe orang tua yang satunya? Apa yang dialami anak-anak
mereka? nantikan tulisanku selanjutnya ;)