Anda di halaman 1dari 51

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM PROSES KIMIA

Materi :
Hidrolisa Minyak Jarak

Disusun Oleh
Kelompok 8 Selasa
Anggara Eka P.

21030112120030

Febiani Dwi U.

21030112130083

Rahmat Hidayat

21030112130040

LABORATORIUM PROSES KIMIA


TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2014

HIDROLISA MINYAK JARAK

HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Praktikum Proses Kimia berjudul Hidrolisa Minyak Jarak ini telah disahkan
Hari, tanggal

Juni 2012

Nama/NIM

: Anggara Eka Permana

21030112120030

Febiani Dwi Utari

21030112130083

Rahmat Hidayat

21030112130040

Kelompok

8/Selasa

Judul Materi

Hidrolisa Minyak Jarak

Dosen Pembimbing,

Dr. Istadi, S.T., M.T.


NIP.197103011997021001

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

Semarang, Juni 2014


Asisten,

Satrio Eko Trianto


NIM. 21030111130051

ii

HIDROLISA MINYAK JARAK

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan
rahmat, taufik dan kurnia-Nya, sehingga pada akhirnya penyusun dapat menyelesaikan tugas
laporan resmi ini, yang ditujukan sebagai tugas dari mata kuliah Praktikum Proses Kimia.
Laporan resmi ini dibuat berdasarkan hasil percobaan serta laporan percobaan dari penyusun,
yakni percobaan Hidrolisa Minyak Jarak kelompok 8 Selasa.
Selain bertujuan sebagai tugas mata kuliah praktikum, penyusunan laporan resmi ini
dibuat untuk menambah referensi pembaca untuk melakukan percobaan Hidrolisa Minyak
Jarak. Penyusun menyadari bahwa bimbingan dari semua pihak, membuat penyusunan
laporan resmi ini berjalan lancar. Oleh karena itu pada kesempatan ini, penyusun
menyampaikan ucapan terimakasih kepada ;
1. Dosen Pengampu Laboratorium Proses Kimia
2. Segenap Asisten Labotaratorium selaku pengampu materi praktikum
3. Segenap Laboran Laboratorium Proses kimia
4. Masing-masing orang tua dari anggota kelompok 8 Selasa
5. Teman-teman angkatan 2012 Jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro
Penyusun menyadari bahwa penyusunan laporan resmi ini masih jauh dari sempurna,
untuk itu penyusun dengan lapang dada menerima kritik, saran dan masukan yang bersifat
membangun demi kesempurnaan penyusunan yang lebih baik dimasa yang akan datang. Akhir
kata semoga laporan resmi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Semarang,

Juni 2014

Penyusun

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

iii

HIDROLISA MINYAK JARAK

DAFTAR ISI
Halaman pengesahan ............................................................................................................. ii
Kata pengantar....................................................................................................................... iii
Daftar isi ................................................................................................................................ iv
Daftar gambar ........................................................................................................................ v
Daftar tabel ............................................................................................................................ vi
Intisari .................................................................................................................................... vii
Summary................................................................................................................................ viii
BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang...............................................................................................1
2. Tujuan Percobaan ..........................................................................................1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
1. Landasan Teori yang Mendukung .................................................................2

BAB III

METODE PERCOBAAN
1. Bahan dan Alat yang Digunakan ...................................................................9
2. Gambar Alat ..................................................................................................10
3. Variabel Operasi ............................................................................................10
4. Respon Uji Hasil............................................................................................11
5. Prosedur Percobaan .......................................................................................11

BAB IV

HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


1. Hasil Percobaan .............................................................................................13
2. Pembahasan ...................................................................................................14

BAB V

PENUTUP
1. Kesimpulan....................................................................................................18
2. Saran ..............................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................19
LAMPIRAN
A. Lembar Perhitungan Reagen .....................................................................................A-1
B. Lembar Perhitungan ..................................................................................................B-1
C. Laporan Sementara ....................................................................................................C-1
D. Referensi
E. Lembar Asistensi
LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

iv

HIDROLISA MINYAK JARAK

DAFTAR GAMBAR
Gambar II.1 reaksi hidrolisa tirgliserida.................................................................................... 7
Gambar III.1 Rangkaian alat hidrolisa .....................................................................................10
Gambar IV.1 grafik hubungan waktu percobaan dengan konversi pada variabel perbandingan
mol pereaktan ......................................................................................................................... 14
Gambar IV.2 grafik hubungan waktu percobaan dengan nilai k(konstanta laju reaksi) pada
variabel perbandingan mol pereaktan..................................................................................... 15

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

HIDROLISA MINYAK JARAK

DAFTAR TABEL
Tabel II.1 Tabel komponen dan komposisi trigliserida dalam minyak jarak ........................... 8
Tabel IV.1 Data percobaan variabel I perbandingan mol pereaktan (20:1) .............................13
Tabel IV.2 Data percobaan variabel II perbandingan mol pereaktan (15:1) ............................13
Tabel IV.3 Data percobaan variabel III perbandingan mol pereaktan (10:1)...........................13

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

vi

HIDROLISA MINYAK JARAK

INTISARI
Lemak dan minyak adalah trigliserida atau triester dari gliserol. Zat ini berada pada minyak
jarak. Untuk mendapatkan asam lemak bebas dari trigliserida minyak jarak, dilakukan hidrolisa
dengan katalis asam salah satunya asam klorida. Hidrolisa dilakukan untuk mengetahui pengaruh
variable perbandingan mol reaktan terhadap konversi hidrolisa, konstanta laju reaksi dan konstanta
kesetimbangan.
Hidrolisa minyak jarak menjadi asam asam lemak bebas dan gliserol dilakukan dengan
pemanasan serta penambahan katalis asam. Faktor-faktor yang mempengaruhi hidrolisa minyak jarak
yakni suhu, katalisator, pencampuran, perbandingan zat reaksi.
Bahan yang digunakan saat hidrolisa antara lain minyak jarak, aquadest, HCl 25%, NaOH
0,3N dalam 1L, PP, alkohol berupa etanol 96%, dan surfaktan. Langkah awal ialah mengukur
densitas katalis HCl dan minyak jarak. Lalu analisa kadar awal asam lemak bebas dengan
penambahan minyak jarak dan etanol yang dititrasi dengan NaOH. Lalu selanjutnya penghidrolisaan
pada variabel perbandingan mol reaktan antara mol air:mol minyak jarak yaitu 20:1; 15:1; 10:1
dengan penambahan HCl serta aquadest dan emulsifier. Pengambilan sampel minyak jarak yang
dihidrolisa dalam interval waktu 5 menit selam 20 menit. Sampel diambil untuk dianalisa kadar asam
bebasnya.
Pada hasil percobaan diketahui ketika perbandingan mol air terhadap mol minyak semakin
besar, maka konversi reaksi hidrolisa minyak jarak juga meningkat, sehingga konversi pada
perbandingan mol air :mol minyak sebesar 20:1 lebih besar dibanding dengan perbandingan mol
15:1 dan 10:1 karena jumlah reaktan air yang berlebih(excess) mempengaruhi kesetimbangan reaksi
ke arah produk sesuai dengan azas Le Chatelieur. Laju reaksi yang meningkat karena adanya
penambahan jumlah mol air di dalam reaktor, menyebabkan nilai konstanta laju reaksi (k) pada
perbandingan mol air:mol minyak jarak sebesar 20:1 lebih besar dibandingan dengan perbandingan
mol 15:1 dan 10:1.Hal ini sesuai dengan persamaan kinetika Arrhenius. Ketika laju reaksi meningkat
maka akan nilai konversi (XA) meningkat pula yang dapat dinyatakan dalam persamaan
=1
.
Pada percobaan dapat disimpulkan bahwa kenaikan nilai perbandingan mol air terhadap mol
minyak jarak akan meningkatkan nilai konversi, meningkatkan laju reaksi, serta menggeser
kesetimbangan ke arah produk. Saran yang perlu dilakukan pada saat percobaan adalah menjaga
suhu operasi tetap konstan selama hidrolisa berlangsung, suhu titrasi dijaga pada 60oC, Amati
perubahan warna pada saat TAT dengan teliti.

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

vii

HIDROLISA MINYAK JARAK

SUMMARY
Fats and oils are triglycerides or triesters of glycerol . This would be the castor oil .
To get a free fatty acid from castor oil triglycerides , hydrolysis performed with one acid
catalyst hydrochloric acid . Hydrolysis was conducted to determine the effect of variables on
conversion of the reactant mole ratio of hydrolysis , the reaction rate constants and
equilibrium constants.
Acid hydrolysis of castor oil into free fatty acids and glycerol made by heating and the
addition of an acid catalyst . Factors affecting the castor oil hydrolysis temperature , catalyst
, mixing , reaction substances comparison .
Materials used when hydrolysis include castor oil , distilled water , 25 % HCl , 0.3 N
NaOH in 1L , PP , alcohol such as ethanol 96 % , and surfactant . The initial step is to
measure the density of catalyst HCl and castor oil . Then the analysis of the initial levels of
free fatty acids with the addition of castor oil and ethanol were titrated with NaOH . Then
next penghidrolisaan variable reactant mole ratio between water mole : mole of castor oil is
20:1 ; 15:1 ; 10:1 with the addition of HCl and distilled water and emulsifiers . Sampling
hydrolyzed castor oil in the interval 5 minutes subs 20 minutes . Samples were taken for
analysis of free acid levels .
In the experimental results are known when the mole ratio of water to oil mole getting
bigger , then the conversion of castor oil hydrolysis reaction also increases , thus converting
the mole ratio of water : oil at 20:1 mole larger than the mole ratio of 15:1 and 10:1 for the
amount of excess water reactant (excess ) affect the equilibrium of the reaction towards the
products in accordance with the principle of Le Chatelieur . The reaction rate is increased
due to the increase in the number of moles of water in the reactor , causing the value of the
reaction rate constant ( k ) in the mole ratio of water : castor oil at 20:1 mol larger compared
with the mole ratio of 15:1 and 10:1 . This according to the Arrhenius kinetics equation .
When the reaction rate increases, the value of the conversion ( XA ) increased as well which
can be expressed in the equation X_A = 1 - e ^ ( - kt ) .
In the experiments it can be concluded that the increase in the value of the mole ratio
of water to oil mole distance will increase the value of the conversion , increasing the reaction
rate , and shift the equilibrium towards the product . Advice needs to be done at the time of
the experiment is to maintain the operating temperature remains constant during the
hydrolysis takes place , the temperature is maintained at 60 C titration , Observe the color
change when the TAT carefully .

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

viii

HIDROLISA MINYAK JARAK

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Lemak dan minyak adalah trigliserida yang berarti triester (dari) gliserol. Perbedaan
antara suatu lemak adalah pada temperature kamar, lemak akan berbentuk padat dan minyak
berbentuk cair. Sebagian besar gliserida pada hewan merupakan lemak yang biasa disebut
lemak hewani. Sedangkan gliserida dalam tumbuhan cenderung berupa minyak dan disebut
sebagai minyak nabati.
Pohon jarak (Ricinus communis) merupakan salah satu

jenis tanaman penghasil

nonedible oil. Hasil utama dari pohon jarak adalah bijinya, apabila dikeringkan biji jarak akan
menghasilkan minyak jarak. Hidrolisa minyak jarak menjadi asam lemak dan gliserol
dilakukan dengan cara memanaskan campuran minyak jarak dan sedikit asam sulfat. Asam
lemak yang diperoleh dari hidrolisis suatu minyak atau lemak umumnya mempunyai : rantai
karbon panjang dan tidak bercabang.
Penggunaan langsung minyak jarak terbatas pada industri genteng, obat-obatan, minyak
rem, dan minyak lincir.
I.2. Tujuan Percobaan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa mampu menjelaskan mengenai beberapa
hal berikut:
1. Pengaruh variabel perbandingan mol pereaktan terhadap konversi minyak jarak.
2. Pengaruh variabel perbandingan mol pereaktan terhadap nilai konsatanta kecepatan
reaksi hidrolisa minyak jarak ( k ).
3. Pengaruh variabel perbandingan mol pereaktan terhadap arah kesetimbangan reaksi
hidrolisa minyak jarak (K).
I.3. Manfaat Percobaan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa memperoleh beberapa manfaat sebagai
berikut:
1. Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh variabel perbandingan mol pereaktan terhadap
konversi minyak jarak.

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

HIDROLISA MINYAK JARAK

2. Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh variabel perbandingan mol pereaktan terhadap


nilai konstanta kecepatan reaksi hidrolisa minyak jarak (k).
3. Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh variabel perbandingan mol pereaktan terhadap
arah kesetimbangan reaksi hidrolisa minyak jarak (K).

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

HIDROLISA MINYAK JARAK

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Landasan Teori
A. Hidrolisa Minyak secara Umum
Hidrolisa merupakan pengikatan gugus hidroksil (-OH) oleh suatu senyawa.
Gugus OH dapat diperoleh dari air. Hidrolisis dapat digolongkan menjadi hidrolisis
murni, hidrolisis katalis asam, hidrolisis katalis basa, gabungan alkali dengan air dan
hidrolisis dengan katalis enzim. Berdasarkan fase reaksi hidrolisis dikelompokkan
menjadi hidrolisis fase cair dan fase uap.
Hidrolisa minyak nabati dapat dilakukan pada tekanan rendah akan tetapi
reaksinya berlangsung lambat sehingga diperlukan katalisator, misalnya H 2SO4.
Katalisator tidak diperlukan, jika hidrolisis dilakukan pada tekanan sangat tinggi yaitu
700 psia dan 485oF (Groggins,1985) dan konversi yang dicapai >90%. Pada proses
hidrolisis, air memecah gugus alkil dalam trigliserida minyak menjadi asam lemak dan
gliserol.
Pada reaksi dengan air reaksi dimungkinkan terjadi pada fase cair dan fase
minyak, akan tetapi menurut Lascaray (1949) reaksi pada fase minyaklah yang
dominan sehingga kinetika reaksi ditentukan oleh kecepatan difusi air ke dalam fase
minyak dan reaksi antara air dan minyak di fase minyak yang dapat disajikan ke dalam
persamaan matematik
-

Kecepatan difusi air ke fase minyak:

-rA = k1a (CA* - CA1)

mgrek/gminyak/menit

(1)

Dengan :
CA = konsentrasi air di fase minyak yang seimbang dengan konsentrasi air difase air
atau CA* = k CA2
CA1 = konsentrasi air di fase minyak , mgrek / g minyak
CA2 = konsentrasi air di fase air
k1a = konstanta kecepatan difusi air ke fase minyak, menit-1
-

Kecepatan reaksi di fase minyak:


rA = rB = kr CA1 CB

(2)

dengan : CA1 = konsentrasi air di fase minyak


LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

HIDROLISA MINYAK JARAK

CB

= konsentrasi minyak / trigliserida

Untuk mencari langkah yang mengontrol pada kinetika reaksi, disusun neraca
massa air dan neraca massa minyak di fase minyak sebagai berikut :
Neraca massa air dalam fase minyak :
= k1a (CA* - CA1) kr CA1 CB

(3)

Asumsi : dengan adanya pengadukan, kecepatan transfer massa pada persamaan di


atas [k1a (CA* - CA1)] dianggap jauh lebih besar daripada kecepatan reaksi kimia [kr
CA1 CB] maka dianggap hanya kecepatan reaksi kimia saja yang menentukan
kecepatan reaksi keseluruhan.
Neraca massa minyak dalam fase minyak :
= kr CA1 CB

(4)

Bila jumlah air berlebihan dan transfer massa air ke fase minyak sangat cepat,
maka fase minyak dianggap selalu jenuh dengan air, maka C A1 = CA* yang bernilai
konstan pada suhu tertentu, k1 CA1 = k sehingga :
-rB = -k CB
= -k CB
= - k
ln

(5)

= - k t

(6)

dimana :
CB0 = banyaknya trigliserida mula mula , mgrek/gr minyak
CB= banyaknya trigliserida suatu saat = CB0 banyaknya asam lemak bebas yang
terjadi, mgrek/gr minyak
Bila X =

, maka

X=

(7)
=

= (1 X)

ln (1-X) = - k t

(8)
(9)

dimana:
k = konstanta kecepatan reaksi tingkat satu, j-1
LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

HIDROLISA MINYAK JARAK

t = waktu reaksi, j
Nilai konstanta kecepatan reaksi kimia sebagai fungsi suhu dapat dinyatakan dengan
persamaan Arrhenius :
k = Ae-Ea/RT
dimana :
k = konstanta kecepatan reaksi, j-1
T = suhu oK
R = tetapan gas
Ea = energi aktivasi
B. Minyak Jarak
Minyak jarak merupakan minyak nabati yang diperoleh dengan cara pemerasan
dari tanaman Ricinus communis, kegunaan langsung minyak jarak terbatas pada
industry genteng, obat obatan , minyak rem, minyak lincir.
Sifat fisik dari minyak jarak adalah cairan tidak berwarna atau berwarna kuning
pucat, bau lemak, rasa sedikit menggigit, viscositas tinggi dan bilangan asam akan
tinggi sesuai dengan waktu yang ditandai dengan biji rusak dan cara pemerasan yang
tidak baik.
Sifat kimia dari minyak jarak adalah mengandung 46 53% minyak. Minyak
jarak mengandung 80% gliserida, asam asinolat, stearat isoresinolat, dihidroksi stearat
dan palmiat. Minyak jarak juga mengandung 20% protein, 0,2 alkaloid piridin
beracun, risinin serta enzim lipase minyak jarak mengandung zat toksin risin.
C. Hidrolisa Minyak Jarak
Hidrolisa minyak jarak menjadi asam asam lemak dan gliserol dilakukan dengan
cara memanaskan campuran minyak jarak dan sedikit asam sulfat di dalam sebuah
labu leher tiga. Pemanasan dilangsungkan sampai suhu yang diinginkan sebelum air
panas dimasukkan. Contoh diambil setiap waktu tertentu (10 menit) untuk dianalisa
asam bebasnya, kecepatan hidrolisis terutama ditentukan oleh kecepatan reaksi antara
air dan trigliserida di fase minyak. Penggunaan air yang berlebihan memungkinkan
fase minyak

selalu jenuh dengan air sehingga reaksi hidrolisis bertingkat satu semu

terhadap konsentrasi gliserida.

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

HIDROLISA MINYAK JARAK

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hidrolisa Minyak Jarak


1.

Suhu
Kenaikan suhu akan memperbesar nilai konstanta kecepatan reaksi Suhu yang

semakin tinggi akan memperbesar kelarutan air di dalam fase minyak, sehingga
makin banyak pula trigliserida yang bereaksi. Menurut Rahayu (1999) hubungan
antara konstanta kecepatan reaksi dengan suhu dapat dinyatakan dengan
persamaan :
k = 1,2515 . 108 e-8022/T = 1,2515 e-15939/RT
Dengan:
k = konstanta kecepatan reaksi
T = suhu absolut oK
R = tetapan gas = 1,987 cal/gmol oK
2.

Katalisator
Katalisator yang dipakai dapat berupa enzim atau asam. Katalisator pada

percobaan ini dipilih katalisator asam. Semakin banyak katalis asam yang
ditambahkan, konversi akan semakin besar demikian juga terhadap konstanta
kecepatan reaksinya. Bila katalisator makin banyak, makin banyak pula molekul
molekul trigliserida yang teraktifkan.
Menurut Rahayu (1999) hubungan antara konstanta kecepatan reaksi (Kc)
dengan konsentrasi asam (c) mgmol H2SO4/ grminyak dapat dinyatakan dengan
persamaan :
Kc = 0,14525 c13
Dengan c = mgmol H2SO4/ grminyak
3.

Pencampuran
Agar zat dapat saling bertumbukan dengan baik, maka perlu adanya

pencampuran. Untuk proses batch, hal ini dapat dicapai dengan bantuan
pengaduk. Apabila prosesnya kontinyu maka pengadukan dilakukan dengan cara
mengatur aliran dalam reaktor agar terjadi olakan.
4.

Perbandingan Zat Pereaksi


Bila salah satu zat pereaksi berlebihan jumlahnya, maka kesetimbangan dapat

bergeser ke sebelah kanan dengan baik, begitu pula sebaliknya, jika produk
diambil, maka reaksi akan bergeser ke kanan.

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

HIDROLISA MINYAK JARAK

E. Mekanisme Hidrolisa Minyak Jarak


Hidrolisa adalah suatu proses menggunakan air untuk memecah senyawa. Minyak
jarak merupakan trigliserida dari lemak, yang apabila dihidrolisa oleh air akan
menghasilkan asam lemak bebas dan gliserin. Dengan rumus bangun seperti gambar di
bawah ini:

Gambar II.1 Reaksi Hidrolisa Trigliserida


Mekanisme hidrolisa minyak jarak dengan katalis mengikuti pemecahan ester.
Radikal asam lemak bebas dipindahkan dari molekul gliserida, sehingga pemecahan
lemak tidak berjalan sempurna. Pemecahan terjadi antara permukaan minyak dan
lemak yang merupak reaksi homogen melalui oksidasi air yang dilarutkan dalam fase
minyak.
(Fessenden. 1984:135)
F. Pengaruh Surfaktan
Pada hidrolisa minyak jarak surfaktan yang digunakan ialah emulsifier berupa
sabun. Molekul surfaktan memiliki gugus yang bersifat hidrofilik dan lipofilik
sehingga dapat mempersatukan campuran minyak dan air. Molekul yang bersifat
hidrofilik (suka air) dan molekul yang bersifat lipofilik (suka minyak). Umumnya
bagian nonpolar (lipofilik) merupakan rantai alkil panjang dan bagian yang polar
(hidrofilik) mengandung gugus hidroksil.
Di dalam molekul surfaktan salah satu gugus harus dominan jumlahnya. Bila
gugus polar lebih dominan maka molekul surfaktan akan di absorpsi lebih kuat ke air
dibanding minyak. Akibatnya tegangan permukaan menurun sehingga kedua fase
mudah menyebar dan menjadi fase kontinyu. Demikian pula sebaliknya bila gugus
non polar lebih dominan maka molekul surfaktan akan diabsorpsi lebih kuat oleh
minyak dibanding air.
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17135/4/chapter%2011.pdf)
LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

HIDROLISA MINYAK JARAK

G. Fungsi Etanol sebagai Pelarut


Etanol disebut juga etil alkohol yang dipasaran lebih dikenal sebagai alkohol
merupakan senyawa organik dengan rumus kimia C2H5OH. Dalam kondisi kamar,
etanol berwujud cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, dan tidak berwarna
(Safaatul & Prima, 2010).
Seperti yang telah dijelaskan dalam Jurnal Safaatul M. & Prima A.H. tahun 2010
mengenai ekstraksi minyak daun jeruk purut (Citrus hystrix D.C) dengan pelarut
etanol dan n-heksana, bahwa syarat suatu senyawa dijadikan pelarut antara lain harus
memiliki sifat inert, dapat melarutkan namun tidak bereaksi dengan kompenen
minyak, pelarut tidak mudah terbakar serta memiliki titik didih yang cukup rendah,
agar pelarut mudah diuapkan tanpa menggunakan suhu tinggi.
H. Komponen dan komposisi Trigliserida dalam Minyak Jarak
Komposisi asam lemak penyusun trigliserida dari minyak jarak dapat dilihat pada
tabel di bawah ini :
Jenis Asam Lemak

Sifat dan Komposisi

Komposisi(%)

Asam Oleat

Tidak jenuh, C18:1

35-64

Asam Linoleat

Tidak jenuh, C18:2

19-42

Asam Linolenat

Tidak jenuh, C18:3

2-4

Asam Palmitat

Jenuh, C16:0

12-17

Asam Stearat

Jenuh, C18:0

5-10

Tabel II.1 Tabel Komponen dan Komposisi Tligliserida Dalam Minyak Jarak

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

HIDROLISA MINYAK JARAK

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

III.1

Bahan dan Alat yang Digunakan


1. Bahan yang Digunakan
a. Minyak jarak
b. Aquadest
Menggunakan H2O dari proses Reverse Osmosis (RO).
c. Katalis
Katalis yang digunakan adalah HCl dengan kemurnian 25%.
d. NaOH
Menggunakan NaOH teknis berbentuk kristal dan berwarna putih, diproduksi
oleh PT. BRATACO CHEMIKA.
e. Alkohol
Menggunakan etanol dengan kemurnian 96%
f. Surfaktan
Menggunakan Sunlight yang diproduksi oleh PT. UNILEVER Tbk.
g. Indikator titrasi
Menggunakan PP
2. Alat Percobaan
a. Labu leher tiga
b. Statif
c. Klem
d. Buret
e. Heater, magnetic stirrer
f. Thermometer
g. Pendingin balik
h. Waterbath
i. Erlenmeyer

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

HIDROLISA MINYAK JARAK

III.2

Gambar Alat

Gambar III.1 Rangkaian Alat Hidrolisa


Keterangan gambar :

III.3

1. Statif

6. Stirer

2. Klem

7. Termometer

3. Pendingin balik

8. Input air

4. Labu leher tiga

9. Output air

5. Kompor + magnetic stir

10. waterbath

Variabel Operasi
a. Variabel tetap
1. Basis campuran total

: 300 ml

2. Volume emulsifier

: 5 ml

3. Interval waktu

: 5 menit

4. Konsentrasi NaOH

: 0,3 N 1000 ml

5. Suhu titrasi

: 60C

6. Katalis

: HCl 25% 0,5 N

7. Alkohol

: etanol 96% @ 15 ml

8. Indikator

: PP @ 3 tetes

9. Volume minyak jarak yang dititrasi : @ 5ml.

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

10

HIDROLISA MINYAK JARAK

b. Variabel berubah
Perbandingan mol pereaktan.
Mol air : mol minyak = 20 : 1; 15 : 1; 10 : 1
III.4

Respon Uji Hasil


Respon yang diambil berupa kadar asam lemak bebas yang terbentuk sebagai hasil
dari hidrolisa minyak jarak, sehingga besarnya konversi dan konstanta kecepatan
reaksi dapat ditentukan.

III.5

Prosedur Percobaan
A. Menghitung densitas
Densitas Minyak Jarak
Timbang picnometer kosong (m1), masukkan minyak jarak kedalam picnometer
yang telah diketahui volumenya (V), timbang beratnya (m2). Hitung densitas
minyak jarak.

Densitas Katalis
Timbang picnometer kosong (m1), masukkan HCl teknis dilaboratorium kedalam
picnometer yang telah diketahui volumenya (V), timbang beratnya (m2). Hitung
densitas katalis HCl.
B. Analisa Kadar Asam Lemak dalam Bahan Baku
1. Masukkan 5 mL minyak jarak ke dalam Erlenmeyer.
2. Menambahkan 15 mL etanol 96% dan memanaskannya sambil diaduk hingga
suhu 60oC.
3. Menambahkan 3 tetes indikator PP dan menitrasi dengan NaOH sampai warna
berubah menjadi merah muda.
4. Mencatat kebutuhan titran.
C. Hidrolisa Minyak Jarak
1. Memasukkan minyak jarak ke dalam labu leher tiga
2. Memasukkan katalis HCl 0.5 N ke dalam labu leher tiga
3. Mengalirkan air pendingin selama proses hidrolisa

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

11

HIDROLISA MINYAK JARAK

4. Memanaskan campuran tersebut sampai suhu 60 oC kemudian menambahkan


aquadest yang telah dipanaskan ke dalam labu leher tiga,dan emulsifier (sabun) 5
ml
5. Mengambil sampel dalam selang waktu 5 menit untuk dianalisa asam lemak dan
asam total selama 20 menit.
D. Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas
1. Memasukkan 5 mL minyak jarak yang telah dihidrolisa ke dalam Erlenmeyer
2. Menambahkan etanol 96% 15 mL dan dipanaskan sambil diaduk hingga suhu
60oC
3. Menitrasi dengan NaOH, penambahan 3 tetes indikator PP, kemudian dititrasi
sampai warna merah muda.
4. Mencatat kebutuhan titran.

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

12

HIDROLISA MINYAK JARAK

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

IV.1

Hasil Percobaan
Tabel IV.1 Data Percobaan Variabel I Perbandingan Mol Pereaktan (20:1)
t(menit)
0
5
10
15
20

Volume
NaOH
(ml)
4,9
6
6,4
7,0
7,8

CA
Hidrolisa

CA
Terbentuk

XA

0,33
0,40
0,43
0,47
0,52

0,31
0,38
0,41
0,45
0,50

0,28
0,34
0,37
0,40
0,44

0
0.083
0.046
0.031
0,029

Tabel IV.2 Data Percobaan Variabel II Perbandingan Mol Pereaktan (15:1)


t(menit)
0
5
10
15
20

Volume
NaOH
(ml)
5,7
5,8
6,3
6,4
6,8

CA
Hidrolisa

CA
Terbentuk

XA

0,38
0,39
0,42
0,43
0,45

0,37
0,38
0,41
0,42
0,44

0,33
0,34
0,37
0,37
0,40

0
0.083
0.046
0.030
0,025

Tabel IV.3 Data Percobaan Variabel III Perbandingan Mol Pereaktan (10:1)
t(menit)
0
5
10
15
20

Volume
NaOH
(ml)
6
6,1
6,2
6,4
6,5

CA
Hidrolisa

CA
Terbentuk

XA

0,40
0,41
0,42
0.43
0,44

0,39
0,40
0,41
0,42
0,43

0,35
0,36
0,37
0,38
0,38

0
0.089
0.046
0.032
0,024

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

13

HIDROLISA MINYAK JARAK

IV.2

Pembahasan
1. Hubungan Variabel Perbandingan Mol Pereaktan dengan Konversi
0,5

konversi (XA)

0,4
0,3

variabel 1 (20;1)

0,2

variabel 2 (15:1)
0,1

variabel 3 (10:1)

0
0

10
waktu (menit)

15

20

Gambar IV.1 Grafik Hubungan Waktu Percobaan dengan Konversi pada Variabel
Perbandingan Mol Pereaktan
Berdasarkan grafik di atas dapat diketahui bahwa pada variable 1 yaitu
perbandingan mol pereaktan 20:1(mol air : mol minyak) didapatkan nilai konversi
yang lebih besar dibandingkan nilai konversi pada variable 2 (15:1) dan variable
3(10:1). Hal ini disebabkan adanya hubungan antara konsentrasi reaktan dengan
konversi yang dapat dijelaskan dengan Azas Le Chatelier. Jika konsentrasi salah
satu komponen diperbesar maka system bereaksi untuk mengurangi komponen
tersebut, dan sebaliknya jika konsentrasi komponen diperkecil maka system
bereaksi untuk menambah komponen tersebut. Berikut persamaan reaksi hidrolisa
minyak :

Ketika konsentrasi reaktan air bertambah banyak (excess) maka reaksi


kesetimbangan diatas akan bergeser ke arah kanan (produk) yaitu pembentukan
asam lemak bebas dan gliserol, sehingga nilai konversi minyak jarak menjadi
produk berupa asam lemak dan gliserol bertambah besar(Reni, 2011).
LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

14

HIDROLISA MINYAK JARAK

2. Hubungan Variabel Perbandingan Mol Pereaktan dengan Laju Reaksi


0,12
variabel 1 (20:1)

0,1

-ln (1-XA)

variabel 2 (15:1)

0,08
y = 0,004x

variabel 3 (10:1)

0,06
0,04

y = 0,002x

0,02
y = 0,001x
0
0

10
waktu (menit)

15

20

Gambar IV.2 Grafik Hubungan Waktu Percobaan dengan nilai k (konstanta laju
reaksi) pada Variabel Perbandingan Mol Pereaktan
Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai dari konstanta laju reaksi
hidrolisa minyak meningkat seiring dengan bertambahnya konsentrasi air didalam
reaktor. Untuk memperoleh nilai konstanta laju reaksi dapat menggunakan
persamaan :

= .

(1

ln(1

)=

Dengan menggunakan pendekatan least square maka diketahui :


)=

ln(1
Maka nilai k sama dengan

Nilai k pada variable 1,2,3 berturut-turut adalah 0,0048 min-1; 0,002 min-1; 0,0009
min-1. Nilai k meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah air, hal ini dapat
dijelaskan dengan persamaan Arrhenius :
LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

15

HIDROLISA MINYAK JARAK

Dimana :
k = konstanta kecepatan reaksi

A = faktor frekuensi atau faktor pre-exponensial


Ea = energi aktivasi
R = konstanta gas
T = suhu, kelvin
Dimana dengan bertambahnya jumlah air, secara langsung menambah jumlah
partikel air yang ada didalam reaktor. Dengan bertambahnya jumlah partikel air
maka akan meningkatkan nilai faktor frekuensi tumbukan(A) antara partikel air
dengan partikel minyak didalam reaktor, sehingga nilai konstanta kecepatan
reaksi(k) dari reaksi tersebut akan meningkat juga, karena nilai konstanta
kecepatan rekasi(k) berbanding lurus dengan nilai dari faktor frekuensi
tumbukan(A) (Rahayu, S.S., 2009).
Seperti penjelasan pada pembahasan nomor 1 mengenai hubungan variabel
perbandingan mol pereaktan dengan konversi, fenomena nilai ln (1

) pada

variabel 3 (10:1) lebih besar dibandingkan dengan variabel 2 (15:10) dan variabel

1 (20:1) dapat dijelaskan dengan kadar asam lemak bebas mula-mula pada proses
hidrolisa. Pada variabel 3 dengan volume minyak yang lebih banyak menyebabkan
kadar asam lemak bebas lebih besar sehingga membutuhkan volume titran NaOH
yang lebih banyak pula. Sehingga nilai dari konversi hidrolisa mula-mula pada
variabel 3(10:1) saat t=0,5,10 menit lebih besar dibandingkan dengan variabel
2(15:1) dan 1(20:1).
3. Hubungan k (konstanta laju reaksi) dengan konversi
Hubungan antara k (konstanta laju reaksi) dengan konversi adalah sebagai berikut :

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

(1

= .

=
16

HIDROLISA MINYAK JARAK

ln(1
1

)=

=1

Nilai k pada variable 1,2,3 berturut-turut adalah 0,0048 min-1; 0,002 min-1; 0,0009
min-1. Sesuai dengan persamaan diatas, bahwa
bertambah besar maka nilai XA juga semakin besar.

=1

. Ketika nilai k

4. Mekanisme kerja katalis


Katalis merupakan substansi yang menambah nilai dari konstanta laju reaksi
tetapi tidak mengubah konstanta kesetimbangan reaksi. Mekanisme kerja katalis
secara umum dapat dibagi menjadi dua. Pertama katalis bergabung dengan
reaktan(substrat) membentuk suatu intermediate(kompleks) kemudian terurai
membentuk katalis dan produk. Katalis menurunkan energi aktivasi (Ea) dengan
mengubah proses mekanisme. Katalis menurunkan Ea dengan meningkatkan
energi intermediate sehingga energi yang harus dilewati untuk menjadi produk
menjadi kecil. Kedua, katallis bereaksi dengan membentuk radikal bebas, sehingga
menjadi reaksi berantai. Radikal bebas sangat reaktif karena berenergi bebas tinggi
sehingga kecepatan reaksi menjadi besar (Dhadhang,2012).

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

17

HIDROLISA MINYAK JARAK

BAB V
PENUTUP

V.1

Kesimpulan
1.

Semakin besar nilai perbandingan mol air dengan mol minyak maka akan
menaikkan nilai konversi minyak dikarenakan reaksi bergerak ke arah produk
(asam lemak dan gliserol). Hal ini sesuai dengan Azas Le Chatelier.

2.

Nilai konstanta laju reaksi bertambah besar seiring kenaikan nilai perbandingan mol
air dengan mol minyak sesuai dengan persamaan Arrhenius dikarenakan jumlah
partikel air di dalam reaktor semakin banyak yang menyebabkan nilai dari faktor
frekuensi tumbukan partikel air dengan minyak meningkat.

3.

Nilai konstanta laju reaksi (k) semakin besar dengan bertambahnya nilai konversi
reaksi sesuai dengan persamaan

=1

V.2 Saran
1.

Suhu operasi dijaga konstan selama hidrolisa berlangsung, sehingga tidak


mempengaruhi hasil hidrolisa minyak yang diperoleh.

2.

Suhu titrasi dijaga konstan 60oC.

3.

Amati perubahan warna saat TAT, karena warna merah muda yang muncul di awalawal akan menghilang. Pastikan warna merah muda yang timbul tidak hilang ketika
titrat dikocok.

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

18

HIDROLISA MINYAK JARAK

DAFTAR PUSTAKA
Agra, S. B. dan Warnijati S. 1972. Hidrolisis Minyak Kelapa Dengan Katalisator Asam.
Forum Teknik.2 (1). Hal 31 40.
Dhadhang W.K. 2012. Katalisis. Unsoed : Laboratorium Farmasetika,
Dwi, Ardiana. Kinetika Reaksi Esterifikasi Asam Formiat dengan Etanol pada Varian Suhu
dan Konsentrasi Katalis
Griflin, R. C. 1927. Technical Method of Analysis. 2nd ed. P. 307 311. Mc Graw Hill Book
Company, Inc. New York.
Rahayu, S. 1999. Hidrolisis Minyak Jarak Dengan Katalisator Asam Sulfat. Presiding
Seminar Nasional Rekayasa Dan Proses.
Rahayu, S.S., 2009. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecepatan Reaksi. http://www.chemis-try.org/materi_kimia/kimia-industri/teknologi-proses/faktor-faktor-yangmempengaruhi-kecepatan-reaksi-2/. Diakses pada tanggal 31 Juni 2014 pukul 20.00
WIB.
Reni B.I. 2011. Kesetimbangan kimia. Universitas Islam Indonesia : DIII kimia analisa,
FMIPA.
Safaatul & Prima A.S. 2010. Ekstraksi Minyak Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C.)
dengan Pelarut Etanol dan N-heksana. Semarang : Progam studi Teknik Kimia,
Universitas Negeri Semarang.
Sven, Tj And Chien, T.P. 1941. Reaction Mechanism Of The Acid Hydrolysis Of Fatty Oils.
Ind. Eng. Chem, 33.1893.

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

19

HIDROLISA MINYAK JARAK

LEMBAR PERHITUNGAN REAGEN


-

Perhitungan NaOH 0,3 N dalam 1000 ml


=

0,3 =
-

40

= 12

1000

1000

1000

Perhitungan Katalis HCl 25% 0.5 N


Berat Picnometer kosong

: 23,24 gram

Berat Picnometer + HCl

: 51,99 gram

51,99 23,24
= 1,15
25
.
.
=
.%
. 1000.
=

0,5.36,5.300
1,15. 25 100 . 1000.1

Volume HCl = 19, 04 ml


-

Perhitungan minyak jarak


Berat picnometer kosong
: 23,24 gram
Berat picnometer + MJ

45,54 23,24
= 0,89
25
=
=

300

+
+
+ 19,04 +

275,96 =
-

: 45,54 gram

+5

= 275,96

Variabel I :

= 20 1

= 20 1

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

A-1

HIDROLISA MINYAK JARAK

1
18

0,0555

0,89
851,56

= 0,021

0,0555 275,96
= 200,23

= 0,021

= 275,96 200,23 = 75,73

Variabel II :

1
18

0,0555

= 15 1

0,89
851,56

= 0,0157

0,0555 275,96
= 215,14

= 20 1

= 15 1

= 15 1

= 0,0157

= 275,96 215,14 = 60,82

Variabel III :

1
18

0,0555

= 10 1

0,89
851,56

= 0,0105

0,0555 275,96
= 232,16

= 10 1

= 10 1

= 0,0105

= 275,96 232,16 = 43,8

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

A-2

HIDROLISA MINYAK JARAK

LEMBAR PERHITUNGAN

A.

Analisa Kadar Asam Lemak dalam Minyak


=
=

( )
( )

(0,2 0,3)
(0,89 5)

10

851,56
= 1,15%
10

Kadar gliserida = Bahan Baku Asam Lemak Bebas Awal dalam bahan baku
= 100% -1,15% = 98,85%
Perhitungan Asam Lemak Bebas
=

( )
( )

98,85%
0,013 = 1,12
1,15%

Mol Gliserida Awal

B.

Perhitungan Asam Lemak Bebas Setelah Hidrolisa


=

C.

( )
( )

0,013

Menghitung Konversi (XA)


=

E.

( 0,3)
( 0,3)
=
(0,89 5)
4,45

Perhitungan CB Terbentuk
=

D.

(0,2 0,3)
= 0,013
(0,89 5)

1,12

Perhitungan Nilai Konstanta Laju Reaksi

= .

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

B-1

HIDROLISA MINYAK JARAK

(1

)=

ln(1
=

F. Hasil Percobaan
1.

Variabel 1 (mol air : mol minyak = 20 : 1)


V NaOH

CA

CA

(ml)

Hidrolisa

Terbentuk

4,9

0.33

10

XA

x2

ln(1- XA )(y)

x.y

0.31

0.28

0,33

0.40

0.38

0.34

25

0,42

2,1

6,4

0.43

0.41

0.37

100

0,46

4,6

15

7,0

0.47

0.45

0.40

225

0,51

7,65

20

7,8

0,52

0,50

0,44

400

0,58

11,6

750

2,3

25,95

t(x)

50

2.

( )

5 25,95 50 2,3
= 0,0048 = 4,8 10
5 750 25,95

Variabel 2 (mol air : mol minyak = 15 : 1)


V NaOH

CA

CA

(ml)

Hidrolisa

Terbentuk

5,7

0,38

5,8

10

XA

x2

ln(1- XA )(y)

x.y

0,37

0,33

0,40

0,39

0,38

0,34

25

0,41

2,06

6,3

0,42

0,41

0,37

100

0,46

4,60

15

6,4

0,43

0,42

0,37

225

0,47

7,02

20

6,8

0,45

0,44

0,40

400

0,51

10,14

750

2,25

23,80

t(x)

50


5 23,80 50 2,25
=
= 0,002 = 2 10
( )
5 750 23,80

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

B-2

HIDROLISA MINYAK JARAK

3.

Variabel 3 (mol air : mol minyak = 10 : 1)


V NaOH

CA

CA

(ml)

Hidrolisa

Terbentuk

0,40

6,1

10

XA

x2

ln(1- XA )(y)

x.y

0,39

0,35

0,43

0,41

0,40

0,36

25

0,44

2,2

6,2

0,42

0,41

0,37

100

0,45

4,5

15

6,4

0,43

0,42

0,38

225

0,46

7,0

20

6,5

0,44

0,43

0,38

400

0,477

9,55

750

2,26

23,25

t(x)

50


5 23,25 50 2,26
=
= 0,0009 = 9 10
( )
5 750 23,25

LABORATORIUM PROSES KIMIA 2014

B-3

LAPORAN SEMENTARA
PRAKTIKUM PROSES KIMIA

Materi :
Hidrolisa Minyak Jarak

Disusun Oleh :
Kelompok 8 Selasa
1. Anggara Eka P.
2. Febiani Dwi U.
3. Rahmat Hidayat

21030112120030
21030112130083
21030112130040

LABORATORIUM PROSES KIMIA


TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2014
C-1

I.

Tujuan Percobaan
1. Pengaruh variabel suhu operasi terhadap konversi hidrolisa minyak jarak.
2.

Pengaruh variabel suhu operasi terhadap nilai konsatanta kecepatan reaksi hidrolisa
minyak jarak ( k ).

3.

Pengaruh variabel suhu operasi terhadap arah kesetimbangan reaksi hidrolisa minyak
jarak ( K ).

II. Percobaan
2.1 Bahan yang Digunakan
1. Minyak Jarak
2. Aquadest
3. Katalis Asam , HCl
4. NaOH
5. Alkohol
6. Surfaktan
7. PP
2.2 Alat yang Digunakan
1. Labu leher tiga
2. Statif
3. Klem
4. Buret
5. Heater Magnetic Stirer
6. Thermometer
7. Pendingin Balik
8. Waterbath
9. Erlenmeyer
2.3 Variabel Percobaan
Suhu 60oC, 70oC dan 80oC
Reaktan 1:3
NaOH 0,2N 100ml
Volume 300ml
HCl 0,2N

C-2

2.4 Cara Kerja


A. Menghitung densitas
Densitas Minyak Jarak
Timbang picnometer kosong (m1), masukkan minyak jarak kedalam picnometer
yang telah diketahui volumenya (V), timbang beratnya (m2). Hitung densitas
minyak jarak.

Densitas Katalis
Timbang picnometer kosong (m1), masukkan HCl teknis dilaboratorium kedalam
picnometer yang telah diketahui volumenya(V), timbang beratnya (m2). Hitung
densitas katalis HCl.
B. Analisa Kadar Asam Lemak dalam Bahan Baku
1. Masukkan 5 mL minyak jarak ke dalam Erlenmeyer.
2. Menambahkan 15 mL alkohol 96% dan memanaskannya sambil diaduk pada
suhu 60oC.
3. Menambahkan 3 tetes indicator PP dan menitrasi dengan NaOH sampai warna
berubah menjadi merah muda.
4. Mencatat kebutuhan titran.
C. Hidrolisa Minyak Jarak
1. Memasukkan minyak jarak ke dalam labu leher tiga
2. Memasukkan katalis HCl 0.2N ke dalam labu leher tiga
3. Mengalirkan air pendingin selama proses hidrolisa
4. Memanaskan campuran tersebut sampai suhu 60 oC kemudian menambahkan
aquadest yang telah dipanaskan ke dalam labu leher tiga,dan emulsifier (sabun) 5
ml
5. Mengambil sampel dalam selang waktu 5 menit untuk dianalisa asam lemak dan
asam total selama 15 menit.
D. Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas
1. Memasukkan 5 mL minyak jarak yang telah dihidrolisa ke dalam Erlenmeyer
2. Menambahkan alcohol 96% 15mL dan dipanaskan sambil diaduk pda suhu 60oC
3. Menitrasi dengan NaOH : penambahan 3 tetes indicator PP, kemudian dititrasi
sampai warna merah muda.
4. Mencatat kebutuhan titran
C-3

2.5 Hasil Percobaan


1. Variabel 1 (20:1)
t(menit)
0
5
10
15
20

Volume NaOH (ml)


4,9
6
6,4
7,0
7,8

2. Variabel 2 (15:1)
t(menit)
0
5
10
15
20

Volume NaOH (ml)


5,7
5,8
6,3
6,4
6,8

3. Variabel 3 (10:1)
t(menit)
0
5
10
15
20

Volume NaOH (ml)


6
6,1
6,2
6,4
6,5

Semarang,

2014

Mengetahui
Asisten

Satrio Eko Trianto


NIM. 21030111130051

C-4

KATALISIS
Dhadhang Wahyu Kurniawan
@Dhadhang_WK
Laboratorium Farmasetika Unsoed

11/20/2012

Pengertian Katalis
Katalis/katalisator adalah substansi yang
menambah konstanta kecepatan reaksi tetapi
tidak mengubah konstanta kesetimbangan
reaksi
reaksi.
Katalis adalah substansi yang mempengaruhi
kecepatan reaksi tanpa dirinya sendiri
menjadi berubah secara kimiawi.
Katalis
dikonsumsi
dalam
keseluruhan
reaksi,tidak
maksudnya
setelah
dikonsumsi
akan
dilepaskan
11/20/2012

Pengertian Katalis
Katalis memberikan efeknya karena dapat
berinteraksi baik secara kovalen atau nonkovalen
dengan reaktan
Katalis yang menurunkan kecepatan reaksi
adalah katalis negatif.
Katalis mungkin berubah secara permanen
selama reaksi inhibitor
Selama katalis tidak berubah pada akhir reaksi
tidak mengubah keseluruhan G, di mana G =
R.T. ln K
11/20/2012

Bagaimana katalis beroperasi???


1. Katalis bergabung dengan reaktan (substrat)
membentuk suatu intermediet (kompleks)
kemudian terurai membentuk katalis dan
produk.
Katalis menurunkan energi aktivasi (Ea)
d
b h proses mekanisme.
k i
dengan mengubah
Katalis menurunkan Ea dengan
meningkatkan energi intermediet sehingga
energi yang harus dilewati untuk menjadi
produk menjadi kecil.
11/20/2012

Bagaimana katalis beroperasi??


2. Katalis mungkin bereaksi dengan
membentuk radikal bebas, sehingga terjadi
reaksi berantai.
Radikal bebas sangat reaktif karena
berenergi bebas tinggi sehingga kecepatan
reaksi menjadi besar.
Inhibitor berlaku sebagai pemutus rantai
(antiknock agents). Inhibitor diperlukan
dalam reaksireaksi eksplosif.
11/20/2012

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi


Kata Kunci: energi aktivasi, heterogen, katalis
Ditulis oleh Suparni Setyowati Rahayu pada 10-09-2009

1.

Kecepatan Reaksi dipengaruhi oleh ukuran partikel/luas permukaan zat.


Semakin luas permukaan maka semakin banyak tempat bersentuhan untuk berlangsungnya reaksi. Luas
permukaan zat dapat dicapai dengan salah satu cara yaitu memperkecil ukuran zat tersebut.

2.

Kecepatan Reaksi dipengaruhi oleh suhu.


Semakin tinggi suhu reaksi, kecepatan reaksi juga akan makin meningkat sesuai dengan teori Arhenius.

3.

Kecepatan Reaksi dipengaruhi oleh katalis.


Adanya katalisator dalam reaksi dapat mempercepat jalannya suatu reaksi. Kereakifan dari katalis
bergantung dari jenis dan konsentrasi yang digunakan.

Energi Aktivasi
Tumbukan-tumbukan akan menghasilkan reaksi jika partikel-partikel bertumbukan dengan energi yang
cukup untuk memulai suatu reaksi. Energi minimum yang diperlukan disebut dengan reaksi aktivasi energi.

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/teknologi-proses/faktor-faktor-yangmempengaruhi-kecepatan-reaksi-2/ diakses pada tanggal 31 Juni 2014 pukul 20.00 WIB.

BAB II

TINJAUANPUSTAKA

2.1 Deskripsi Tanaman Jarak


Tanaman jarak pagar termasuk famili Euphobiaceae satu famili dengan karet
dan ubi kayu.Tanaman jarak pagar berupa perdu dengan tinggi 1-7 m, bercabang
tidak teratur. Batangnya berkayu ,bulat dan tebal, kulit batang berwarna abu-abu dan
kemerah-merahan, silindris, dan bila terluka mengeluarkan getah. Deskripsi tanaman
jarak pagar sebagai berikut :

Kingdom

: plantae

Subkingdom

: Tracheobionta (tumbuhan vaskular)

Superdivisio

: Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Divisio

: Magniliaphyta (tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (dicotyledonae)

Ordo

: Euphorbiaes

Famili

: Uuphorbiaceae

Genus

: Jatropha Curcas

Spesies

: Jatropha curcas Linn

Universitas Sumatera Utara

2.2 Minyak jarak


2.2.1 Komposisi kimia jarak
Biji jarak diperoleh dari pohon jarak yang menghasilkan biji. Biji jarak pagar (Jatropa
curcas Linn) terdiri dari 60% berat kernel (daging biji) dan 40% berat kulit
(Hambali,dkk.,2006).Beberapa penelitian menyebutkan dalam satu daging biji
terkandung sekitar 45-60% minyak sehingga dapat diekstraksi secara mekanis
maupun ekstraksi pelarut dan sisanya berupa ampas yang bisa digunakan sebagai
pupuk kaya nitrogen. Karena kandungan minyaknya yang tinggi , daging biji jarak
pagar mudah diekstraksi. Komposisi asam lemak penyusun trigliserida dari minyak
jarak pagardapat dilihat pada tabel 2.1.

Tabel 2.1.Komposisi Asam Lemak dari Minyak Jarak Pagar


Jenis Asam Lemak

Sifat dan Komposisi

Komposisi ( % )

Asam Oleat

Tidak Jenuh, C18:1

35-64

Asam Linoleat

Tidak Jenuh C18:2

19-42

Asam Linolenat

Tidak Jenuh C18:3

2-4

Asam Palmitat

Jenuh C16:0

12-17

Asam Stearat

Jenuh C18:0

5-10

(Sudrajat, R. 2006)
2.2.2 Sifat Fisika dan Kimia Minyak Jarak
Minyak jarak pagar merupakan jenis minyak yang memiliki komposisi trigliserida
yang mirip dengan kacang. Tidak seperti dengan jarak kaliki (Ricinus communis),
kandungan asam lemak essensial dalam minyak jarak pagar cukup tinggi sehingga
unan polimer alami dan sintetik.

Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

M ATERI
Fakultas
Program Studi
Kode Matakuliah
Nama Matakuliah
Dosen

:
:
:
:
:

FM-UII-AA-FKA-07/R0

MAT AKULIAH

MIPA
DIII Analis Kimia
21400332
Kimia Anorganik II
Reni Banowati Istiningrum, S.Si.

Pertemuan ke
Modul ke
Jumlah Halaman
Mulai Berlaku

: 3 (tiga)
: III (tiga)
: 7 (tujuh)
: 2011

MODUL III
KESETIMBANGAN KIMIA

I.

Petunjuk Umum

1. Kompetensi Dasar
1) Mahasiswa memahami Asas Le Chatelier
2) Mahasiswa mampu menjelaskan aplikasi reaksi kesetimbangan dalam dunia industry
3) Mahasiswa memahami konsesp kelarutan dan hasil kali kelarutan
2. Materi Perkuliahan
1) Asas Le Chatelier
2) Reaksi Kesetimbangan dalam Industri
3) Kesetimbangan Kelarutan
4) Kelarutan dan Ksp
3. Indikator Pencapaian
1) Mahasiswa mampu menjelaskan bagaimana Asas Le Chatelier pada kesetimbangan
kimia dan memberikan contoh pergeseran kesetimbangan akibat faktor luar
2) Mahasiswa mampu menjelaskan reaksi kesetimbangan pada industri sintesis amoniak
3) Mahasiswa memahami konsep kelarutan
4) Mahasiswa mampu membuat persamaan Ksp dari reaksi kimia yang diberikan dan
mampu menentukan nilai Ksp
4. Referensi
Chang, R., 2005, Kimia Dasar : Konsep-Konsep Inti, Jilid 2, Penerbit Erlangga, Jakarta
Keenan, Kleinfelter, Wood, 1980, Kimia untuk Universitas, Edisi ke-6 Jilid 1 dan 2, Erlangga,
Jakarta
5. Strategi Pembelajaran
Pembelajaran dilakukan dengan penyampaian materi perkuliahan secara interaktif yang
melibatkan partisipasi dosen dan mahasiswa selama satu kali tatap muka setiap 1 pekan dengan
bobot 2 SKS.
6. Lembar Kegiatan Pembelajaran
1) Berusaha mempelajari materi sebelum perkuliahan dimulai
2) Memahami materi setelah mengikuti perkuliahan
3) Melakukan kegiatan belajar mandiri melalui tugas yang diberikan
4) Melakukan latihan dalam memecahkan permasalahan dan mendiskusikannya
7. Evaluasi
1) Post test
2) UTS

Versi : 1

Revisi : 0

Halaman : 1

dari 7

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

M ATERI
Fakultas
Program Studi
Kode Matakuliah
Nama Matakuliah
Dosen

:
:
:
:
:

FM-UII-AA-FKA-07/R0

MAT AKULIAH

MIPA
DIII Analis Kimia
21400332
Kimia Anorganik II
Reni Banowati Istiningrum, S.Si.

Pertemuan ke
Modul ke
Jumlah Halaman
Mulai Berlaku

: 3 (tiga)
: III (tiga)
: 7 (tujuh)
: 2011

II. Materi Kuliah


Pergeseran Kesetimbangan
Telah disampaikan sebelumnya bahwa, sekali keadaan kesetimbangan tercapai maka ini akan
berlangsung terus-menerus. Akan tetapi dalam banyak kasus keadaan kesetimbangan ini
bersifat rentan, atau mudah berubah oleh faktor luar yang dikenakan pada sistem tersebut.
Berubahnya keadaan kesetimbangan ini disebut Pergeseran Kesetimbangan.
a. Kesetimbangan dikatakan bergeser ke kanan jika produknya bertambah banyak atau reaktan
berkurang.
b. Kesetimbangan dikatakan bergeser ke kiri jika reaktannya bertambah atau produknya
berkurang.
Asas Le Chatelier (Le Chatelier Principle)
Pada tahun 1884 Henri Louis Le Chatelier memberikan suatu aturan umum tentang bagaimana
memprediksi arah pergeseran kesetimbangan jika suatu keadaan kesetimbangan dikenai faktor
luar seperti konsentrasi, tekanan, suhu, dan volume.
jika suatu keadaan kesetimbangan dikenai tindakan eksternal, maka sistem ini akan
menyesuaikan diri sedemikian rupa sehingga mengurangi pengaruh tindakan eksternal tersebut
a. Perubahan konsentrasi
Jika konsentrasi salah satu komponen diperbesar maka sistem bereaksi untuk mengurangi
komponen tersebut, dan sebaliknya jika konsentrasi komponen diperkecil maka sistem bereaksi
untuk menambah komponen tersebut. Konsep ini akan lebih jelas dengan mempelajari reaksi
kesetimbangan berikut :
Fe3+(aq)
kuning pucat

SCN-(aq)

FeSCN

tidak berwarna

merah

3+

Gambar 1. Posisi kesetimbangan dari reaksi Fe

2+

+ SCN

(aq)

FeSCN

Jika ke dalam sistem ditambahkan NaSCN maka NaSCN akan terionisasi menjadi Na + dan SCNyang berarti konsentrasi SCN bertambah. Sistem akan bereaksi untuk mengurangi pertambahan
3+
konsentrasi ini yaitu dengan cara Fe bereaksi dengan SCN sehingga kesetimbangan bergeser
ke kanan yang dapat diamati dari warna larutan yang bertambah merah (merah tua). Dan
terbentuk kesetimbangan baru.
l kali kelarutan untuk senyawa ionic sukar larut berikut AxBy

Jurnal Kompetensi Teknik Vol. 2, No.1, Novemberi 2010

73
73

Ekstraksi Minyak Daun Jeruk Purut


(Citrus hystrix D.C.) Dengan Pelarut Etanol dan N-Heksana
Safaatul Munawaroh & Prima Astuti handayani Program
Studi Teknik Kimia, Universitas Negeri Semarang
primatk@staff.unnes.ac.id

Abstrak : Indonesia memiliki sumber alam yang kaya akan minyak atsiri. Salah satu sumber
alam yang potensial adalah jeruk purut yang dapat dimanfaatkan sebagai flavor dalam makanan.
Pengambilan minyak atsiri daun jeruk purut menggunakan metode ekstraksi pelarut mudah
menguap. Tujuan penelitian untuk mempelajari pengaruh pelarut n-heksana dan etanol
terhadap rendemen dan kadar sitronellal dalam daun jeruk purut.
Ekstraksi minyak daun jeruk purut dengan pelarut n-heksana dan etanol, menggunakan
ekstraktor soxhlet, pemanas listrik, penangas minyak, dan termometer. Daun jeruk purut yang
tua dilayukan, dipotong kecil-kecil dibungkus dengan kertas saring dan diletakkan dalam soxhlet.
Pelarut sebanyak 100 mL dimasukkan dalam labu alas bulat ekstraktor yang dilengkapi
pendingin. Ekstraksi dilakukan pada suhu dan waktu tertentu tergantung dari jenis pelarut yang
digunakan, sampai dihasilkan warna pelarut kembali seperti semula. Filtrat dimurnikan dengan
ekstraktor soxhlet, sehingga diperoleh minyak daun jeruk purut terpisah dari pelarutnya. Minyak
atsiri kemudian dilakukan uji GCMS untuk mengetahui komponen yang terkandung dalam
minyak atsiri.
Hasil penelitian diperoleh ekstraksi daun jeruk purut dengan pelarut etanol menghasilkan
rendemen 13,39% dan kadar sitronellal 65,99%, sedangkan untuk ekstraksi daun jeruk purut
dengan pelarut n-heksana menghasilkan rendemen 10,50% dan kadar sitronellal 97,27%.
Sehingga n-heksana pelarut terbaik dalam pengambilan minyak daun jeruk purut dibandingkan
etanol.
Kata kunci : minyak atsiri, daun jeruk purut, ekstraksi, n-heksana, etanol

1. Pendahuluan

1.2. Tujuan

1.1. Latar Belakang


Indonesia memiliki banyak sumber daya
alam dalam bidang agrobisnis. Salah satu
sumber daya alam yang potensial adalah
jeruk
purut.Jeruk purut termasuk suku
Rutaceae yang berasal dari Asia Tenggara
yang banyak ditanam di beberapa negara
termasuk
Indonesia.
Tanaman
ini
berpotensi sebagai penghasil minyak atsiri.
Daun jeruk purut mengandung sabinena
dan limonena yang berguna untuk
kosmetik, aromaterapi, pencuci rambut,
antelmintik, obat sakit kepala, nyeri
lambung dan biopestisida. Daunnya juga
sering digunakan sebagai rempah yang
berfungsi untuk memberi aroma yang khas
pada masakan.

1. Mengetahui rendemen yang diperoleh


dari minyak atsiri daun jeruk purut
(Citrus hystrix D.C.) melalui ekstraksi
soxhlet dengan pelarut etanol dan nheksana.
2. Mengetahui pelarut yang terbaik antara
etanol dan n-heksana.
3. Mengetahui komponen terbesar yang
terdapat dalam minyak daun jeruk purut.
1.3. Tinjauan Pustaka
Jeruk (atau limau/limo) purut (Citrus hystrix
D.C.) merupakan tumbuhan perdu yang
dimanfaatkan terutama buah dan daunnya
sebagai bumbu penyedap masakan. Dalam
perdagangan internasional dikenal sebagai
kaffir lime.

Jurnal Kompetensi Teknik Vol. 2, No.1, Novemberi 2010

74
74

Gambar 1. TanamanJeruk Purut


1.3.1. Minyak Atsiri dalam Daun Jeruk
Purut
Pada mulanya istilah minyak atsiri adalah
istilah yang digunakan untuk minyak yang
bersifat mudah menguap, yang terdiri dari
campuran zat yang mudah menguap,
dengan komposisi dan titik didih yang
berbeda-beda. Minyak atsiri yang mudah
menguap terdapat di dalam kelenjar minyak
yang harus dibebaskan sebelum disuling
yaitu dengan merajang/memotong jaringan

tanaman dan membuka kelenjar minyak


sebanyak mungkin, sehingga minyak dapat
dengan mudah diuapkan (Suryaningrum,
2009). Minyak atsiri banyak digunakan
dalam industri sebagai pemberi aroma dan
rasa. Nilai jual dari minyak atsiri sangat
ditentukan oleh kualitas minyak dan kadar
komponen utamanya. Minyak atsiri yang
berasal dari daun jeruk purut disebut
combava petitgrain (dalam bahasa afrika)
yang banyak digunakan dalam industri
makanan, minuman, farmasi, flavor, parfum,
pewarna dan lain-lain. Misalnya dalam
industri pangan banyak digunakan sebagai
pemberi cita rasa dalam produk-produk
olahan. Minyak daun jeruk purut dalam
perdagangan internasional disebut kaffir
lime oil. Minyak atisiri ini banyak diproduksi
di Indonesia dengan output beberapa ton
per tahun. Harga kaffir lime oil asal
Indonesia yaitu sebesar USD 65,00-75,00
per kilogram (Feryanto, 2007).

Tabel 1. Komponen Minyak Daun Jeruk Purut


Komponen
Prosentase
Sitronelal
81,49%
Sitronelol
8,22%
Linalol
3,69%
Geraniol
0,31%
Komponen lain
6,29%
(Sumber: Koswara, 2009)

1.3.2. Sitronellal (C10H18O)


Sitronellal merupakan senyawa monoterpena yang mempunyai gugus aldehida,
ikatan rangkap dan rantai karbon yang
memungkinkan untuk mengalami reaksi
siklisasi
aromatisasi.
Struktur
kimia
sitronellal adalah sebagai berikut (Ketaren,
1985):
O
CH3 CHCH2 CH2 CH2 CH CH2 C H
CH3

CH3

Gambar 2. Struktur Kimia Sitronellal

1.3.3. Pengolahan Minyak Atsiri dengan


Metode Ekstraksi Pelarut Mudah
Menguap
Prinsip ekstraksi adalah melarutkan minyak
atsiri dalam bahan dengan pelarut organik
yang mudah menguap. Proses ekstraksi
biasanya dilakukan dalam wadah (ketel)
yang disebut extractor. Ekstraksi dengan
pelarut organik umumnya digunakan untuk
mengekstraksi minyak atsiri yang mudah
rusak oleh pemanasan dengan uap dan air,
terutama untuk mengekstrak minyak dari
bunga-bungaan misalnya bunga cempaka,
melati, mawar, kenanga, lily, dan lain-lain.
Pelarut yang biasanya digunakan dalam
ekstraksi yaitu: petroleum eter, benzena,
dan alkohol (Guenther, 1987).

Jurnal Kompetensi Teknik Vol. 2, No.1, Novemberi 2010

Syarat pelarut yang digunakan (Guenther,


1987) sebagai berikut:
1. Harus dapat melarutkan semua zat
wangi bunga dengan cepat dan
sempurna,
dan
sedikit
mungkin
melarutkan bahan seperti: lilin, pigmen,
serta pelarut harus bersifat selektif.
2. Harus mempunyai titik didih yang cukup
rendah, agar pelarut mudah diuapkan
tanpa menggunakan suhu tinggi.
3. Pelarut tidak boleh larut dalam air.
4. Pelarut harus bersifat inert, sehingga
tidak bereaksi dengan komponen minyak
bunga.
5. Pelarut harus mempunyai titik didih yang
seragam, dan jika diuapkan tidak akan
tertinggal dalam minyak.
6. Harga pelarut harus serendah mungkin,
dan tidak mudah terbakar.
Pelarut yang digunakan dalam proses
ekstraksi adalah sebagai berikut:
1. Etanol
Etanol disebut juga etil alkohol yang di
pasaran lebih dikenal sebagai alkohol
merupakan senyawa organik dengan
rumus kimia C2H5OH. Dalam kondisi
kamar, etanol berwujud
cairan yang
mudah menguap, mudah
terbakar, tak
berwarna.

75
75

menghubungkan
atom-atom
karbon
tersebut. Dalam keadaan standar senyawa
ini merupakan cairan tak berwarna yang
tidak larut dalam air.

Tabel3.SifatFisikadanKimian-heksana
Karakteristik
Bobot molekul
Warna
Wujud
Titik lebur
Titik didih
Densitas

Syarat
86,2 gram/mol
Tak berwarna
Cair
-95C
69C (pada 1 atm)
0,6603 gr/ml pada 20C

(Sumber: Kastianti dan Amalia, 2008)


1.3.4. Perlakuan Bahan Sebelum
Ekstraksi
Perlakuan pendahuluan terhadap bahan
yang mengandung minyak umumnya dapat
dilakukan dengan beberapa cara, yaitu
dengan cara pengecilan ukuran bahan dan
pengeringan atau pelayuan (Ketaren,
1985).

Sumber: Rizani, 2000)

Proses pengecilan ukuran dan pengeringan


bahan berminyak yang bersifat permiabel
(mudah ditembus zat cair dan uap) kadangkadang dilakukan dengan tujuan untuk
mengekstraksi minyak dalam waktu yang
relatif lebih singkat. Sebelum bahan olah
tersebut diekstraksi sebaiknya dirajang
terlebih dahulu menjadi potongan-potongan
lebih kecil. Proses perajangan ini bertujuan
agar kelenjar minyak dapat terbuka
sebanyak mungkin sehingga pada proses
ekstraksi laju penguapan minyak atsiri dari
bahan menjadi cukup cepat. Selama proses
perajangan, akan terjadi penguapan
komponen minyak bertitik didih rendah.
Oleh karena itu, jika diinginkan rendemen
dan mutu minyak yang baik, maka hasil
rajangan harus segera diekstraksi (Ketaren,
1985).

2. n-heksana
Heksana
adalah
sebuah
senyawa
hidrokarbon alkana dengan rumus kimia
C6H14 . Awalan heks- merujuk pada enam
karbon atom yang terdapat pada heksana
dan akhiran -ana berasal dari alkana, yang
merujuk pada ikatan tunggal yang

Perlakuan pendahuluan dengan cara


pengeringan bahan akan mempercepat
proses ekstraksi, memperbaiki mutu minyak
dan mengurangi kadar air yang terkandung
dalam
bahan,
akan
tetapi
selama
pengeringan kemungkinan sebagian minyak
akan hilang karena penguapan dan oksidasi
oleh oksigen udara (Ketaren, 1985).

Tabel2.SifatFisika dan Kimia Etanol


Karakteristik
Syarat
Rumus Molekul
C2H5OH
Massa molekul relative 46,07 g/mol
Titik leleh
114,3C
Titik didih
78,32C
3
Densitas pada 20C
0,7893 g/cm
Kelarutan dalam air Sangat larut
20C
Viskositas pada 20C
1,17 cP
Kalor spesifik pada 0,579 kal/gC
20C

76
76

Jurnal Kompetensi Teknik Vol. 2, No.1, Novemberi 2010

2. Bagian Inti
2.1. Metode
Bahan penelitian antara lain : daun jeruk
purut, n-heksana dan etanol. Alat yang
dipergunakan ekstraktor soxhlet, pemanas
listrik, penangas minyak, termometer dan
pompa aquarium. Penelitian ini dilakukan
dua variasi pelarut yaitu n-heksana dan
etanol. Prosedur penelitian antara lain
:1).Daun jeruk purut tua bersih kemudian
dijemur di bawah sinar matahari selama 2
hari kemudian dipotong kecil-kecil, 2).Daun
jeruk purut yang telah kering kemudian
dibungkus dengan kertas saring dan
dimasukkan dalam soxhlet.3).Daun jeruk
purut dalam soxhlet diekstraksi dengan 100
mL etanol 96% pada suhu 81-96C (suhu
pemanas) sampai warna pelarut kembali
menjadi
seperti
semula.4).Setelah
dilakukan proses ekstraksi, diperoleh filtrat
minyak daun jeruk purut. Filtrat minyak
daun jeruk purut yang diperoleh kemudian
dimurnikan dengan ekstraktor soxhlet pada
suhu 81-96C sampai pelarutnya tidak
menetes lagi dan diperoleh minyak daun
jeruk purut murni. Dilakukan langkah 1-4
untuk pelarut n-heksana dengan suhu 7286oC.
2.2. Hasil dan Pembahasan
Pada ekstraksi minyak daun jeruk purut
(Citrus hystrix D.C) dengan pelarut etanol
dan n-heksana meliputi beberapa tahapan
yaitu: perlakuan bahan, proses ekstraksi
minyak daun jeruk purut, proses pemurnian
minyak dan hasil produknya. Pada proses
perlakuan bahan, bahan yang digunakan
adalah daun jeruk purut yang tua dan
kering, digunakan bahan yang tua karena
kandungan minyak atsirinya lebih banyak
daripada
bahan
yang
muda
serta
mengandung kadar air yang rendah.
Penggunaan bahan yang kering bertujuan
agar kadar air dalam daun jeruk purut
berkurang sehingga pada ekstraksi daun
jeruk purut dapat menghasilkan minyak
daun jeruk purut yang relatif banyak. Bahan
kemudian dipotong kecil-kecil sebesar 1x1
cm, proses pengecilan ukuran ini bertujuan
agar kelenjar minyak dapat terbuka
sebanyak mungkin sehingga pada proses

ekstraksi laju penguapan minyak atsiri dari


bahan menjadi cukup cepat.
Proses ekstraksi dan pemurnian minyak
daun jeruk purut menggunakan alat
ekstraktor soxhlet karena efisiensi waktu,
serta proses pengambilan dengan pelarut
diperoleh rendemen yang relatif lebih
banyak. Pada ekstraksi daun jeruk purut
menggunakan dua macam pelarut yaitu
etanol dan n-heksana. Pemilihan etanol
sebagai pelarut, karena etanol dapat
digunakan untuk mengekstraksi bahan
kering, daun-daunan, batang, dan akar.
Sedangkan pemilihan n-heksana sebagai
pelarut, karena n-heksana bersifat stabil
dan mudah menguap, selektif dalam
melarutkan zat, mengekstraksi sejumlah
kecil lilin serta dapat mengekstrak zat
pewangi dalam jumlah besar. Proses
pemurnian
minyak
bertujuan
untuk
memisahkan minyak atsiri dengan pelarut
sehingga dihasilkan minyak atsiri yang
absolut.
2.2.1. Ekstraksi Minyak Daun Jeruk
Purut dengan Pelarut Etanol
Pada proses ekstraksi daun jeruk purut
dengan menggunakan pelarut etanol
sebanyak 100 mL, ekstraksi berlangsung
pada kondisi operasi 81-96C karena titik
didih etanol 78,32C sehingga diharapkan
pada kondisi operasi tersebut etanol dapat
menguap dan minyak dapat terambil
semaksimal mungkin. Proses ekstraksi
suhu dijaga tidak lebih dari 100C karena
titik didih sitronellal adalah 112C, jika suhu
ekstraksinya berlangsung lebih dari 100C
di khawatirkan minyak atsiri ikut menguap.
Proses ekstraksi dihentikan sampai warna
pelarut kembali menjadi seperti semula.
Siklus yang terjadi pada ekstraksi daun
jeruk purut mencapai 18 siklus dengan
waktu 25,5 jam. Pada percobaan
diperoleh minyak daun jeruk purut yang
berwarna hijau tua sampai kehitaman. Hal
ini dikarenakan etanol dapat melarutkan
pigmen-pigmen yang terdapat dalam daun
jeruk purut misalnya pigmen klorofil.
Ekstraksi daun jeruk purut dengan pelarut
etanol menghasilkan rendemen 13,39%,
sedangkan penelitian yang dilakukan
Koswara (2009) dengan menggunakan

Diperiksa
No
1.

Tanggal
11 Juni 2014

2.

12 Juni 2014

Keterangan
Cek cover
Cek lapsem
ACC

Tanda Tangan