Anda di halaman 1dari 18

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM
ASAL-USUL KEMISTISAN SINDEN JAWA MELALUI PENDEKATAN
HISTORIS DAN PSIKOLOGIS
BIDANG KEGIATAN:
PKM PENELITIAN

Diusulkan oleh:
Mei Handayani
Dinna Amelia
Yosua Prawira Gunawan
Luthfi Irawan Prihatmadi

15112080
15112032
13613022
16914011

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG


BANDUNG
2014

2012
2012
2013
2014

PENGESAHAN LAPORAN KEMAJUAN PKM-PENELITIAN


1 Judul Kegiatan

: Asal-usul Kemistisan Sinden Jawa


melalui Pendekatan Historis dan
Psikologis

2 Bidang Kegiatan

: PKM-P

3 Ketua Pelaksana Kegiatan


a. Nama Lengkap
b. NIM
c. Jurusan
d. Universitas
e. Alamat Rumah dan No Tel./HP

:
:
:
:
:

f. Alamat email

Mei Handayani
15112080
Teknik Geodesi dan Geomatika
Institut Teknologi Bandung
Jl. Adi Kamboja No.3 Perum Bumi
Adipura 1, Gedebage, Bandung, Jawa
Barat / 085649566160
: Mei.handayani.1706@gmail.com

4 Anggota Pelaksana Kegiatan /Penulis : 3 orang


5 Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar
b. NIDN
c. Alamat Rumah dan No. Tel/HP

: Prof. Ir. Indratmo Sukarno, M.Sc, Ph.D.


: 0020095702
: Jalan Base Ball No.2 Arcamanik Endah,
Bandung/08122017450

6 Biaya Kegiatan Total


a. Dikti
b. Sumber lain

: Rp 10.180.000,00
: Rp 0,00

7 Jangka waktu pelaksanaan

: 4 bulan

Bandung, 9 April 2015

Menyetujui,
Ketua Jurusan

Ketua Pelaksana Kegiatan

Dr. Ir. Kosasih Prijatna, M.Sc.


19600702 198810 1 001

Mei Handayani
15112080

ii

Kepala Lembaga Kemahasiswaan

Dosen Pendamping

(Brian Yuliarto, Ph.D)


197507272006041005

Prof. Ir. Indratmo Sukarno, M.Sc, Ph.D.


19570920 198403 1 001

DAFTAR ISI
Halaman Pengesahan .......................................................................................
Daftar Isi ..........................................................................................................
Ringkasan .........................................................................................................
Bab 1 Pendahuluan ....................................................................................
Bab 2 Tinjauan Pustaka .............................................................................
2.1. Karawitan.......................................................................................

ii
iv
v
1
1
1

2.2. Sinden.............................................................................................
2.3. Mistis .
Bab 3 Metode Penelitian .................................................................... .......
3.1. Metode Pendekatan Historis .........................................................
3.2. Metode Pendekatan Psikologis .....................................................
Bab 4 Hasil yang Dicapai ...............................................................
4.1 Pendekatan Historis ......................................................................
4.2 Pendekatan Psikologis ..................................................................
Bab 5 Rencana Tahapan Selanjutnya ........................................................

2
2
3
3
3
3
3
5
8

Daftar Pustaka
Lampiran-Lampiran .....................................................................................
Lampiran 1. Penggunaan Dana.........................................................
Lampiran 2. Bukti-bukti Pendukung Kegiatan.................................................

9
11
11
12

RINGKASAN
Sinden merupakan suara yang indah untuk menghiasi musik gamelan. Sinden berasal dari
iii dan anggono berarti pilihan. Penelitian
kata waranggana yang mana wara berarti iv
suara
mengenai sinden didekati dengan dua metode yaitu pendekatan historis dan psikologis.
Secara pendekatan historis, fakta membuktikan bahwa secara teori sindenan, tidak ada satu
teori pun yang memunculkan adanya unsur mistis. Satu-satunyaunsur mistis dalam sinden
terdapat dalam liriknya yang memuja, berserah, dan merintih kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Secara budaya, memang ada beberapa ritual melenceng yang dilakukan pesinden. Kesan
mistis pada sinden terbukti didukung dengan adanya logika mistis yang dimiliki masyarakat
Indonesia serta film horror. Secara psikologi suara, suara akan mempengaruhi emosi
seseorang. Namun, berdasarkan penelitian yang didapat, emosi yang ditimbulkan tergantung
terhadap persepsi seseorang memandang jenis music yang dipedengarkan. Simpulannya,
factor mistis pada sinden terwujud diantaranya karena factor logika mistis dan persepsi yang
berkembang di Indonesia.

BAB 1 PENDAHULUAN
Judul proposal PKM Penelitian ini adalah Asal-usul Kemistisan Sinden Jawa melalui
Pendekatan Historis dan Psikologis di Era Globalisasi. Penelitian ini dibuat pada awalnya
karena rasa empati terhadap kelangsungan tradisi persindenan di Indonesia. Sinden Jawa
merupakan seni asli lahir dari masyarakat Jawa Indonesia. Banyak paradigma dan persepsi
muncul mengenai kemistisan sinden di kalangan masyarakat sehingga seni sinden yang
dulunya diumpamakan bidadari berubah mendapatkan kesan menakutkan. Apabila kondisi
tersebut berlanjut, maka profesi sinden dapat terancam punah di negeri sendiri. Oleh karena
itu, penelitian ini dilakukan untuk menjawab satu tujuan utama yaitu untuk mengetahui asalusul pergeseran paradigma masyarakat Indonesia akan eksistensi sinden yang awalnya
menyerupai bidadari menjadi seorang pemanggil hal-hal mistis. Luaran yang ingin dicapai
pada penelitian ini yaitu mengetahui faktor-faktor penyebab kemistisan sinden baik dari segi
konstruksi masa lampau sinden maupun psikologis masyarakat Indonesia akan eksistensi
sinden. Selain itu, harapannya melalui faktor-faktor kemistisan sinden dapat menjadi kunci
mengeksistensikan keberadaan sinden di dunia seni Indonesia dan menekan paradigma mistis
di aspek sosial masyarakat. Harapannya melalui penelitian ini dapat teridentifikasi faktorfaktor penyebab kemistisan sinden. Sebagai upaya pelestarian seni sinden, hasil penelitian ini
dapat dijadikan sarana pendorong untuk untuk menemukan metode yang lebih sistematis
maupun inovatif dalam karya-karya sinden baru.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Karawitan Jawa
Alat musik tradisional yang digunakan sebagai pelengkap berbagai kegiatan ritual,
kesenian, dan hiburan oleh masyarakat suku bangsa Jawa sekarang dikenal sebagai gamelan.
Pada dasarnya gamelan adalah kumpulan dari sejumlah ricikan atau instrumen musik. Seni
memainkan alat-alat tersebut disebut dengan istilah karawitan jawa.
Keberadaan alat musik tradisional di pulau Jawa sudah dibuktikan, meskipun sampai
saat ini masih diperhentakkan asal-usulnya, setidak-tidaknya sejak abad ke-7 bahkan lebih tua
lagi. Sejumlah pakar sejarah menyatakan bahwa alat musik tradisional Jawa sebagian tidak
berasal dari Pulau Jawa, melainkan berasal dari semenanjung Melayu atau lebih jauh berasal
dari daratan Cina. Pendapat ini didasarkan pada teori perpindahan bangsa-bangsa.
Adapun jenis-jenis ricikan standar atau instrumen Jawa standar yang harus ada dalam
suatu pagelaran adalah bonang barung, bonang penerus, gender, saron, gambang, kenong,
kethuk, kempyang, kempul, kendhang, siter, slenthem, gong dan rebab. Dalam hal ini, suara
sinden akan mengikuti nada dari gender. Namun apabila gender tidak ada dalam pagelaran
tersebut, maka nada yang dijadikan acuan sinden adalah nada slenthem.
Secara umum dalam bahasa Jawa, tangga nada bisa disebut titilaras. Titilaras adalah
suatu notasi tulis, huruf, angka, atau lambang yang menunjuk pada rincian tanda-tanda nada
menurut suatu tangga nada tertentu. Titilaras dibedakan menjadi dua jenis, yaitu titilaras
slendro dan titilaras pelog. Tangga nada slendro terdiri atas nada 1,2,3,5,6 dan titilaras pelog
terdiri atas nada 1,2,3,4,5,6,7. Laras slendro akan menghasilkan suasana yang bersifat ringan,

2
riang, gembira, dan terasa lebih ramai, sedangkan laras pelog akan menghasilkan suasana
yang bersifat seram, memberikan kesan gagah, agung, keramat, dan sakral.
2.2.

Sinden
Secara susunan bahasa, sinden berasal dari kata sendhu-ing yang dapat berubah
menjadi sendhon. Kata sendhon artinya nyendu atau tidak berbunyi di semua waktu, jadi
hanya memotong di tengah-tengah kalimat. Akan tetapi, dalam praktiknya sinden dapat
dimulai juga di tengah-tengah gendhing. Gendhing
adalah notasi dasar lagu Jawa.
1
Adapun orang yang melakukan sinden disebut pesinden bahkan ada juga yang
menyebut waranggana. Sebab-sebab mengapa disebut demikian, konon menurut buku
Ichtisar Teori Sindhenan, pada malam yang gembira, Batara Guru, raja Gunung Mahendra
memerintahkan para bidadari supaya ambedhoyo sehingga bidadari-bidadari tersebut
sebagian menari dan menyanyi (yang menyanyi disebut waranggana) diiringi gamelan
Lokanata. Loka berarti jagad dan nata berarti raja. Oleh karena itu, waranggana dapat
diartikan seorang bidadari yang melagukan sinden mengiringi gamelan Lokanata pada zaman
Kaendran.
Akhirnya istilah waranggana makin populer di kalangan seniman Jawa tetapi pada
umumnya digunakan sebutan pesinden. Di zaman sekarang, pesinden juga dapat disebut
swarawati, namun sinden memiliki makna berbeda dengan ledhek. Ledhek adalah sinden
wanita yang bernyanyi sambil menari tayub.
Seorang pesinden juga memiliki etika ketika mengiringi gamelan Jawa. Adapun etikaetika tersebut yaitu berpakaian pantas, mengatur raut muka, bermake-up tidak berlebihlebihan, duduk bersila, dan bertoleransi.
Secara garis besar, sinden dibedakan menjadi dua golongan, yaitu sinden bedoyo
srimpi dan sinden gendhing. Sinden gending memiliki fungsi mengisi lagu sesuai aturan
gending yang dibawakan. Sinden bedoyo srimpi memiliki fungsi sebagai pemulai lagu pada
tempat-tempat wangsalan yang tidak terikat kenong dan gatra. Wangsalan adalah kata-kata
yang diimbuhkan sinden di sela-sela permainan gamelan. Gatra adalah aturan baris dalam
gending Jawa.
2.3. Mistis
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, mistis merupakan hal-hal yang bersifat
mistik. Secara terminologi, mistik berasal dari Bahasa Yunani, mystikos yang berarti rahasia.
Pada sekitar abad ke-5, kata mistik ditujukan untuk suatu corak teologi yang hanya
mengindahkan pendekatan yang melampaui akal dan pengalaman manusia. Apabila
dihubungkan antara kata seni dan mistik, maka dapat disimpulkan bahwa seni mistis adalah
upaya untuk melihat sisi mistik/misteri/rahasia terhadap suatu obyek. Dalam proposal ini,
obyek tersebut adalah sinden Jawa.
Yang dimaksud mistik dalam proposal ini tidak ada kaitannya dengan uji makhluk
ghoib ataupun penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut. Mistis yang dimaksud dalam
proposal ini sebagaimana disampaikan oleh H. Clark seorang ahli Psikologi (1969) yaitu
pengalaman subyektif kekuatan kosmik atau kekuatan yang lebih besar dari dirinya.
Pengalaman tersebut bersifat intuitif dan kurang mengandalkan indera atau rasional.

BAB 3 METODE PENELITIAN


3.1.

Metode Pendekatan Historis


Metode ini akan dilakukan dengan sistem komparatif terhadap bahan-bahan tertulis
kuno dan terbaru serta wawancara mengenai sinden serta karawitan. Selain itu, metode ini
juga meliputi analisis statistik terhadap trend selera musik masyarakat Indonesia. Sebagai
pelengkap data, wawancara langsung akan dilakukan dengan pakar seni sinden dan karawitan
serta masyarakat umum Jawa dan non-Jawa.
Adapun urutan langkah-langkah yang akan dilakukan pada metode ini adalah
heuristic, verifikasi, interpretasi, dan historiografi.
3.2.

Metode Pendekatan Psikologis


Metode
pendekatan
psikologis
akan
dilakukan
dengan
sistem
komparatif/perbandingan daya toleran masyarakat Indonesia terhadap penampilan sinden,
baik dari segi wiraga, wirama, dan wirasa atau penampilan raga, irama, dan rasa. Metode ini
juga akan meneliti pengaruh nada-nada yang digunakan sinden atau tinggi rendahnya
frekuensi suara sinden terhadap psikologis pendengar.
Adapun untuk metode pendekatan psikologis akan dilakukan melalui langkah-langkah
pengumpulan data, verifikasi, interpretasi, dan simpulan.

BAB 4. HASIL YANG DICAPAI


4.1 Pendekatan Historis
Penelitian asal-usul sinden melalui pendekatan historis telah mencapai lebih dari 85%
dari capaian yang diinginkan. Adapun tahapan yang sudah dilakukan untuk metode
pendekatan ini antara lain heuristik baik melalui telaah pustaka maupun wawancara dengan
penikmat seni, pelaku seni, dan ahli seni. Verifikasi dilakukan dengan membandingkan
keontetikan sumber maupun dengan menelusuri jejak narasumber yang diwawancarai.
Interpretasi dilakukan dengan diskusi baik dengan kelompok maupun ke ahli seni.
Historiografi dilakukan dengan menyusun data-data yang telah terverifikasi sesuai dengan
tingkatan waktu sehingga terbentuk kisah perkembangan sinden dan tren musik Indonesia
secara sistematis namun belum hingga ke bentuk bagan.
4.1.1 Perkembangan Sinden sebagai Instrumen Karawitan
Sinden merupakan suara yang indah untuk menghiasi musik gamelan. Sinden berasal
dari kata waranggana yang mana wara berarti suara dan anggono berarti pilihan. Tidak
semua wanita bisa menjadi sinden namun hanya mereka wanita pilihan yang bisa
menghubungkan ketepatan alunan dengan nada yang dihasilkan oleh gamelan dan peralatan
kerawitan lainnya.
Berdasarkan sumber-sumber yang didapat, banyak versi mengenai kapan dan
bagaimana munculnya seni karawitan Jawa. Berdasarkan Serat Kandha Karawitan Jawa
karya Bram Palgunadi, karawitan Jawa setidaknya-tidaknya muncul sejak abad ke-tujuh
bahkan mungkin lebih tua lagi. Berdasarkan keterangan dari berbagai pakar seni karawitan
dari ISI Surakarta, karawitan Jawa muncul sejak adanya orang Jawa di tanah Nusantara.
Menurut Suraji, dosen Program Studi Karawitan ISI Surakarta, menyatakan bahwa karawitan

berasal dari bahasa jawa rawit berarti rumit, halus, cantik, berliku-liku dan enak. Kata jawa
karawitan khususnya dipakai untuk mengacu kepada musik gamelan, musik Indonesia yang
bersistem nada nondiatonis (dalam laras slendro dan pelog) yang garapan-garapannya
menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, dan vokal yang indah didengar.
Sinden merupakan instrument dalam karawitan Jawa. Sinden bukanlah sentral dalam
gamelan, begitu pula gamelan bukan pengiring sindhen. Sinden merupakan instrument yang
membangun suatu karakter atau suasana gamelan. Peran sindhen yang merupakan instrumen
dari kerawitan yaitu melantunkan tembang-tambang jawa. Munculnya paradigma bahwa
sinden merupakan vocal dalam karawitan yaitu 3sejak lahirnya jenis music campursari. Istilah
campursari di dunia musik nasional mengacu pada campuran beberapa genre musik
kontemporer Indonesia. Istilah campursari dikenal pada awal tahun 1970-an ketika RRI
Stasiun Surabaya memperkenalkan acara baru, yaitu lagu-lagu yang diiringi musik paduan
alat musik berskala nada pentatonis dan diatonis.
Sinden bernyanyi dalam tatanan aturan nada slendro dan pelog. Tidak hanya
keindahan suara, sinden juga memiliki aturan keindahan busana dan perilaku. Saat sindhen
pentas, sindhen memakai sanggul, berpakaian kebaya panjang, menggunakani jarik, dan
tentunya menutup aurat. Cara dudukpun juga rapi, sopan dan tidak melakukan interaksi
dengan penonton apalagi tertawa terbahak-bahak.
Namun perlu diketahui, karawitan dapat dipentaskan baik saat pagi, siang, maupun
larut malam. Hal tersebut menuntut seorang pesinden, yang merupakan seorang wanita, juga
harus siap bekerja hingga larut malam. Tak jarang sinden juga harus mengiringi wayang
hingga dini hari. Sebagai sosok wanita Jawa yang pada umumnya pemalu dan dipingit di
keluarga, jam kerja tersebut membuat pesinden harus siap memiliki berbagai berita miring di
masyarakat.
Secara teori, lirik sinden memang mengandung kesan mistis. Namun bukan mistis
dalam bidang perdukunan maupun perkuntilanakan. Kemistisan dalam lirik sinden terkait
dengan arti liriknya yang sering memuja, berserah, dan mengagungkan Tuhan Yang Maha
Esa. Dalam praktiknya, ritual perdukunan di kalangan sinden memang ada, dilakukan untuk
menambah laris, sebagai contoh adalah ritual sinden saat 1 Muharam di Gunung Batu,
Magetan, Jawa Timur, namun, sudah jarang ditemui. Berdasarkan keterangan dari berbagai
sinden yang didapat, justru semakin tinggi tingkat kesindenannya, semakin tinggi tingkat
kedekatan sinden tersebut terhadap pencipta-Nya.
4.1.2 Perkembangan Sinden dari Trend Musik Indonesia
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, dalam seni musik kerawitan terdapat beberapa
instrumen pendukung yang salah satunya adalah sindhen. Dalam perkembangannya di
masyarakat, sindhen juga sering disebut sebagai tledek. Tledhek itu berarti meledek atau
menggoda. Menggoda di sini memiliki arti menggoda dengan estetika dan keindahan suara.
Segala sesuatu yang berhubungan dengan sindhen mulai dari tata busana, suara, interaksi
dengan orang lain, dan perikalu sinden semua serba indah.
Tren sindhen sejak masuknya pengaruh Hindu-Budha di Indonesia tercatat bagus.
Lirik-lirik yang dilantunkan oleh sinden secara keseluruhan berupa pesan, pitutur, kritik,
maupun cerita. Lagu-lagu sinden juga memiliki kesustraan yang sangat tinggi di Jawa.
Sehingga banyak masyarakat yang ikut andil dalam budaya ini, baik yang berperan langsung

maupun sebagai penikmat saja. Sayangnya antusias masyarakat untuk melestarikan dan
menerapkan nilai ataupun pesan-pesan yang disampaikan melalui lirik sindhen mulai pudhar.
Hal ini terjadi sejak masuknya bangsa barat ke Indonesia. Masuknya bangsa barat atau biasa
disebut masa kolonialisme di Indonesia ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap
perkembangan musik di Indonesia. Para pendatang ini juga memperkenalkan berbagai alat
musik dari negeri mereka seperti biola, cello (selo), gitar, seruling (flute), dan ukulele.
Mereka pun membawa sistem solmisasi (do re mi fa sol la si do) dalam berbagai karya lagu.
Pada saat inilah cikal bakal terbentuknya musik modern di Indonesia.
Dewasa ini perkembangan musik di Indonesia semakin meningkat. Seiring dengan
berkembangnya ilmu dan teknologi atau biasa disebut zaman globalisasi, media elektronik
semakin mudah masuk ke Negara-negara berkembang. Salah satunya negara Indonesia. Pada
era ini masuk pula berbagai jenis musik barat, seperti pop, jazz, blues, rock, R&B dan musikmusik negeri India yang banyak diperkenalkan melalui film-filmnya. Dari perkembangan ini,
terjadilah pergeseran penikmat musik yang dulunya sebagai penikmat musik gamelan (musik
dalam negeri) beralih menjadi penikmat aliran musik modern yang dibawa oleh bangsa barat.
Bahkan peminat sindhen di era ini menjadi sangat sedikit.
Seiring dengan perkembangan zaman ini, sepertinya masyarakat kita mulai lupa
dengan budayanya sendiri, khususnya sindhen. Sejak musik modern berkembang di
Indonesia, mulai timbul berbagai paradigma negatif mengenai keeksisan sindhen. Pada
pandangan masyarakat, sindhen sering kali dikaitkan dengan hal-hal yang mistis dan hal-hal
kurang baik yang biasa dihubungkan dengan wanita penghibur. Tak jarang hal ini yang
menyebabkan para pelaku sinden ragu untuk melanjutkan profesi tersebut. Berdasarkan
penelitian yang kami lakukan selama ini, kami memiliki hipotesis bahwa paradigma sindhen
itu mistis mulai ada sejak digunakannya tembang jawa yang berjudul Lingsir Wengi sebagi
lagu pemanggil makhluk halus pada film Kuntilanak tahun 2006 yang diperankan oleh Julie
Estelle.
Realita yang ada di masyarakat mengenai paradigma sindhen semakin mengarah ke
hal-hal yang bersifat negatif. Hal ini dikarenakan jarang sekali masyrakat yang mau untuk
memaknai dan mempelajari budaya tersebut. Padahal sindhen merupakan budaya asli
Indonesia dan hanya ada di Indonesia. Hakikat sindhen yang memberikan pesan moral, nilainilai kehidupan, serta keindahan suara mulai tidak diindahkan lagi. Hal ini menunjukkan
bahwa masyarakat Indonesia mulai lupa dengan budaya atau kepribadian mereka sendiri. Ini
merupakan masalah yang serius jika bangsa ini tidak ingin kehilangan budayanya sendiri. Ini
juga masalah yang mendesak jika bangsa ini tidak ingin kehilangan kepribadiannya sendiri.
Maka dari itu sudah selayaknya kita mempertahankan dan melestarikan norma-norma budaya
khusunya dalam sinden sehingga totalitas bersinden akan tercermin yang mewujudkan
keagungan dan keluhuran budaya di Indonesia.
4.2 Pendekatan Psikologis
4.2.1 Psikologi Suara
Kenikmatan dalam musik mengacu kepada emosi estetikanya tentang penilaian
terhadap sifat akustik dan penyusun musik formal (ritme, harmoni, scale, tempo, dsb). Jadi,
kenikmatan dalam musik sangat tergantung kepada faktor individual yang terdiri dari 3 hal.

Pertama, keakraban dengan musik yang ia dengarkan, misalnya pada lagu-lagu yang ia telah
kenal dan sukai otomatis akan membuat orang tersebut menikmati musik tersebut. Kedua,
kepribadian dari orang tersebut, orang yang mempunyai kepribadian lemah lembut cenderung
untuk menyukai musik bertempo lambat dan nada-nada minor. Para ahli saraf membuktikan
bahwa ada keterkaitan antara karakter seorang individu dengan kesukaannya pada suatu
musik yang biasa dikelompokkan dalam genre-genre musik. Sehingga ada hubungan timbal
balik antara kepribadian seseorang dengan seleranya dalam musik. Ketiga, suasana hatinya
pada saat itu. Contohnya ketika sedang berada dalam tekanan, beberapa orang tersebut
cenderung untuk mendengarkan musik yang pelan untuk mendapatkan ketenangan,
sendangkan beberapa lainnya memilih untuk mendengarkan musik keras sebagai wujud
pemberontakan.
Dari pembahasan diatas, peneliti mempunyai hipotesa bahwa kemistisan sinden tidak
berasal dari nada-nada yang dimainkan oleh sinden ataupun dari musiknya. Hal tersebut
didapatkan dengan mengacu kepada penelitian Joseph LeDoux, dokumen-dokumen
hubungan antara suara dan emosi, dan sumber-sumber lainnya. Jika dilihat dari sisi psikologi
suara, penyebab kemistisan sinden yang ada pada masyarakat bukan karena sinden memiliki
atau memainkan nada-nada yang mempunyai kekuatan untuk memberikan rasa mistis kepada
individu tersebut tetapi akibat adanya faktor luar.
Faktor luar yang dimaksud adalah faktor yang tidak berkaitan dengan suara yang
dihasilkan tetapi memengaruhi presepsi seseorang terhadap sinden. Sehingga, kesimpulan
yang didapatkan dari hasil penelitian psikologi suara adalah kemistisan sinden datang saat
alunan-alunan suara yang dikeluarkan oleh pesinden dan musik yang mengiringinya disertai
dengan sesuatu yang lain yang dapat memberikan inputan kepada indera manusia untuk
memberikan presepsi mistis tersebut.
Contohnya, musik sinden yang dilaksanakan saat pagelaran-pagelaran sinden yang
berjalan seperti biasa tidak akan membuat presepsi negatif kepada individu. Berbeda dengan
kondisi tersebut, musik sinden yang dimainkan pada film-film horror akan menimbulkan
presepsi negatif (mistis) karena pada saat musik tersebut dimainkan, ditunjukkan gambargambar menyeramkan yang memberikan emosi ancaman kepada individut tersebut. Semua
hal tersebut dipengaruhi oleh impresi awal setiap individu mengenai sinden lalu
keberjalanannya.
5.2.2 Psikologi Sosial
Kesan mistis yang terdapat pada diri sinden pada hakikatnya merupakan sebuah
persepsi. Persepsi ini ditularkan dari suatu individu kedalam kelompoknya di masyarakat,
lalu menyebar pula ke kelompok lainnya melalui berbagai media yang menjadi wahana
interaksi. Persepsi sendiri merupakan proses yang digunakan individu untuk mengelola dan
menafsirkan kesan indera mereka dalam rangka memberikan makna kepada lingkungan
mereka. Meski demikian apa yang dipersepsikan seseorang dapat berbeda dari kenyataan
yang obyektif (Robbins, 2006). Pendapat lain mengatakan bahwa persepsi merupakan proses
menyadari adanya sesuatu hal dan memberikan suatu tanggapan (Roucek,1987:22). Sehingga
dapat disimpulakan bahwa persepsi merupakan suatu proses yang dialami oleh individu
dalam menerima rangsangan melalui indera, mengolah rangsangan tersebut di otak kemudian
memberikan makna serta respon terhadap rangsangan tersebut.
Adapun persepsi terbentuk ada seseorang dikarenakan oleh 2 hal , yaitu faktor
7
eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal berhubungan dengan objek yang menjadi
perhatian, sedangkan faktor internal berkaitan dengan individu itu sendiri.
a Faktor eksternal

1 Kontras
2 Perubahan intensitas
3 Pengulangan
4 Sesuatu yang baru
5 Sesuatu yang menjadi perhatian orang banyak.
b Faktor internal
1 Pengalaman atau pengetahuan
2 Harapan / ekspektasi
3 Kebutuhan
4 Motivasi
5 Emosi
6 Budaya
Terkait kemistisan sinden, individu menerima rangsangan yang berkenaan dengan
sinden dalam suatu hal yang diinterpretasikan mistis oleh otak, sehingga persepsi yang
dihasilkan terkait sinden menjadi punya kesan mistis. Setelah persepsi tersebut terbentuk,
individu akan menyebarkan persepsi yang dihasilkannya kepada individu lain pada kelompok
di lingkungannya melalui berbagai media dan metode interaksi. Individu-individu dalam
kelompok di lingkungan tersebut tentunya memiliki persepsi masing-masing. Dalam hal ini,
persepsi yang memiliki kekuatan lebih untuk mempengaruhi individu lain adalah persepsi
yang dominan. Dominansi persepsi dari lingkungan akan mempengaruhi hasil interpretasi
pada individu. Jika lingkungan dominan memiliki persepsi mistis tentang sinden, maka
persepsi tentang sinden yang akan terbentuk pada individu di lingkungan tersebut pun akan
cenderung mistis.
Akan tetapi, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tidak hanya faktor dominansi
saja yang mempengaruhi pembentukan persepsi. Terdapat faktor seperti pengetahuan dan
pengalaman serta budaya, juga pengulangan. Perbedaan pengetahuan dan pengalaman pada
individu akan menghasilkan persepsi yang berbeda walaupun dominansi persepsi yang ada
pada lingkungan sama. Seperti halnya seorang ahli seni yang mengetahui sejarah dan seluk
beluk sinden, tentunya akan memiliki persepsi yang berbeda tentang sinden dibandingkan
dengan orang awam yang belum pernah mengenal sinden atau hanya sekedar tahu. Budaya
juga sangat mempengaruhi. Masyarakat yang di lingkungannya sudah mengenal sinden atau
sering terdapat pagelaran yang melibatkan sinden, tentu memiliki persepsi yang berbeda
tentang sinden dengan masyakakat yang memiliki budaya berbeda. Selain itu, pengulangan
dapat pula mempengaruhi persepsi. Seseorang yang telah berkali-kali menyaksikan
penampilan sinden akan memiliki persepsi berbeda dengan orang yang baru pertama kali
menyaksikan, dan perbedaan tampilan sinden yang didapat oleh tiap individu pun
mempengaruhi proses pembentukan persepsi. Berdasarkan faktor-faktor yang ada, peneliti
dapat membuat hipotesis bahwa 4 faktor yang telah dijelaskan sebelumnya merupakan faktor
yang dominan dalam membentuk persepsi mistis tentang sinden di masyarakat.

BAB 5. RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA

5.1 Pendekatan Historis


5.1.1 Menghubungkan dengan pendekatan psikologis
Mengkaitkan penelitian unsur sejarah dengan perkembangan psikologi masyarakat
Indonesia.
5.1.2 Menambah data fakta
Memastikan kembali bahwa hasil penelitian sesuai dengan seharusnya baik dengan
survey lapangan maupun menambah telaah pustaka.
5.2 Pendekatan Psikologis
5.2.1 Survey Lapangan
Adapun kesan mistis yang melekat pada diri sinden, tentunya tidak datang dengan
sendirinya. Seharusnya ada faktor utama yang menyebabkan persepsi tersebut muncul.
Sejauh ini, penliti telah melakukan pengumpulan data dengan metode studi literatur. Namun,
untuk dapat mengetahui penyebab munculnya persepsi mistis pada sinden di masyarakat,
khususnya di lingkungan kampus ITB , selanjutnya akan dilakukan pembagian kuisioner
kepada mahasiswa ITB untuk mengetahui hal-hal apa saja yang membuat sinden memiliki
kesan mistis dan media yang mengenalkan mereka kepada sinden serta bentuk dan waktu
pengenalannya. Pembagian dan pengisian kuisioner ini akan dilakukan dengan rentang 1
minggu terhitung dari tanggal 13-19 April 2015.

DAFTAR PUSTAKA
B.A., Sulaiman Gitosaprodjo, IctisarTeori Sindhenan.Malang: Keluarga Karawitan Studio
RRI Malang. 1971.
Palgunadi, Bram. Serat Kandha Karawitan Jawi. Bandung: Penerbit ITB. 2002.
Malaka, Tan. 2014. MADILOG Materialistik, Dialektika, dan Logika.Yogyakarta : Penerbit
NARASI
Santa, Iwan Aji. 2009. Metode Pendekatan Psikologi. Tugas Akhir Fakultas Psikologi
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Pereira, dkk. November 2011. Music and Emotion in the Brain. Jurnal Artikel: San Francisco.
Lesiuk, Teresa, dkk. April-Juni 2009. Personality, Mood and Music Listening of Computer
Information Systems. Jurnal Artikel : United States.
Fox, Donna Brink. September 2000. Music and the baby's brain: Early experiences. Jurnal
artikel. National Association for Music Education
Wilcox, Ella. Februari 2000. Music, Brain Research, and Better Behaviour. Jurnal artikel :
Praken Publication, Inc.
Paulus, dr. Anam Ong Sp.S, dkk. Critical Function. Slide Presentasi. RSHS FKUP.
http://www.amplifon.co.uk/resources/impact-of-sound-on-the-brain/ 7-4-2015 pukul 13.00
WIB
https://blog.bufferapp.com/music-and-the-brain 7-4-2015 pukul 14.00 WIB
http://www.livescience.com/28642-music-inspires-universal-brain-response.html
pukul 14.30 WIB

8-4-2015

psychology.about.com, 29 Maret 2015 pukul 19.30 WIB


repository.usu.ac.id, 29 Maret 2015 pukul 20.17 WIB
Annonymous.
2010.
Sejarah
dan
perkembangan
Musik
Indonesia.
http://phinxgranger4jc.blogspot.com/2010/05/sejarah-dan-perkembangan-musik.html diakses
tanggal 30 September 2015 pukul 13.40 WIB.

Annonymous.
2013.
Sruti
Respati
dan
Musim
Sinden
Naik
Daun.
http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/03/130303_sruti_musik diakses tanggal 2
April 2015 pukul 09.50 WIB.
Pryanto, Yoga Tri. 2014. Lima Lagu yang dianggap paling seram dan berbau mistis.
http://www.merdeka.com/artis/5-lagu-yang-dianggap-paling-seram-dan-berbau-mistis/lingsirwengi.html diakses tanggal 2 April 2014 pukul 10.20 WIB.

10

LAMPIRAN

Penggunaan dana
Rincian Pengeluaran Dana PKM
N
o

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Tanggal

Jenis Pengeuaran
Februari

1/2/2015
1/2/2015
3/2/2015
19/2/201
5
13/2/201
5
13/2/201
5
14/2/201
5
15/2/201
5
15/2/201
5
15/2/201
5
22/2/201
5

Konsumsi
Upah Pemateri (Febby Rossa)
Fotokopi Dokumen

3/3/2015
14/3/201
5
16/3/201
5
18/3/201
5
19/3/201
5
19/3/201
5
19/3/201
5
20/3/201
5
20/3/201
5
20/3/201
5

Materai (administrasi)

Jumlah (Rupiah)
45.500,00
750.000,00
15.000,00

Fotokopi Dokumen

6.900,00

Masuk tol

8.000,00

Bensin

15.000,00

Bensin

100.000,00

Bensin

100.000,00

Bensin

170.000,00

pah Pemateri (Bram Palgunadi)


Konsumsi Air saat diskusi

1.000.000,00
5.500,00

Maret
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

21.000,00

Tiket Bdg-Madiun

107.500,00

Tiket Madiun-Bdg

492.500,00

Oleh-oleh Pemateri

92.500,00

Transport bus

75.000,00

Konsumsi

12.000,00

Upah Pemateri (Suprapti)

750.000,00

Sovenir+Konsumsi Pemateri

41.500,00

Sovenir+Konsumsi Pemateri

101.000,00

Transport bensin

10.000,00

22
23
24
25
26
27
28

20/3/201
5
20/3/201
5
20/3/201
5
20/3/201
5
21/3/201
5
21/3/201
5
21/3/201
5

Transport bensin

15.000,00

Transport bensin

20.000,00

Konsumsi

18.500,00

Upah Pemateri (Suraji)

1.000.000,00

Sovenir+Konsumsi Pemateri

36.000,00

Konsumsi Diskusi

57.500,00

Upah Pemateri (Edy)

1.000.000,00
April

29

1/4/2015

Materai (administrasi)

14.000,00

Total Pengeluaran

6.079.900,00

Bukti-bukti pendukung kegiatan

11

(a)

(b)

(b)

(d)

Gambar 1. Foto wawancara narasumber (a) Suprapti (b) Suraji (c) Edy (d) Febby Rossa

12

Beri Nilai