Anda di halaman 1dari 3

DIAZEPAM

Farmakokinetik
Absorpsi
Apabila digunakan untuk mengobati kecemasan atau gangguan tidur, sedativehipnotika biasanya diberikan secara oral. Kecepatan absorpsi oral diazepam lebih cepat
dibanding benzodiazepine pada umumnya. Bioavailibilitas dari diazepam setelah pemberian
intramuscular tidak dapat dipercaya. Berdasarkan lama kerja, diazepam termasuk golongan
benzodiazepine yang bekerja dengan t lebih lama dari 24 jam. Diazepam diabsorpsi dengan
baik di saluran cerna. Secara Oral onsetnya 30 menit, dengan waktu puncak 1-2 jam dan
durasi 2-3 jam. Secara Intra Vena onsetnya 1-5 menit, waktu puncaknya 15 menit dan durasi
15-60 menit. Pada pemberian secara Intra Muskular onsetnya 15 menit, waktu puncaknya 3090 menit dengan durasi yang sama 30-90 menit. Plasma konsentrasi dari diazepam adalah
antara 0,02-1,01 microgram/ml. Pada pemberian oral atau per rectal, konsentrasi plasma rataratanya 76 & 81%. Bioavailibilitas lebih rendah pada peberian suppositoria.
Distribusi
Transpor sedative-hipnotika di dalam darah merupakan proses dinamis dimana
molekul-molekul obat masuk dan keluar jaringan pada kecepatan yang bergantung pada
aliran darah, perbedaan konsentrasi, dan permeabilitas. Kelarutan dalam lipid memegang
peranan penting dalam menentukan kecepatan dimana sedative-hipnotika tertentu memasuki
system saraf pusat. Diazepam lebih mudah larut didalam lipid sehingga mula kerjanya pada
system saraf pusat lambat. Kecepatan transformasi metabolis dan eliminasi dari diazepam
pada manusia sangat lambat jika dibanding terhadap waktu yang relative singkat untuk
mengakhiri semua efek farmakologis utama.
Semua sedative-hipnotika menembus sawar darah-plasenta selama kehamilan: Laju
keseimbangan konsentrasi darah ibu dengan janin lebih lambat dibandingkan laju
keseimbangan antara darah ibu dengan system saraf pusat, karena rendahnya aliran darah
menuju plasenta. Jika sedative-hipnotika diberikan pada masa-masa sebelum kehamilan, obat
ini bisa menyebabkan depresi pada fungsi-fungsi vital neonates. Sedatif-hipnotika dapat
dideteksi di dalam air susu dan dapat mengakibatkan efek-efek depresan terhadap fungsi
sitem saraf pusat pada bayi yang mengonsumsi air susu ibu tersebut.
Diazepam dan sebagian besar sedative-hipnotika lainnya berikatan kuat dengan
protein plasma. Kekuatan ikatannya berhubungan erat dengan sifat lipofiliknya, pada
diazepam adalah 99%. Kadarnya pada cairan serebrospinal kira-kira sama dengan kadar obat
bebas di dalam plasma. Diazepam akan mengalami akumulasi pada penggunaan dosis
berulang.

Metabolisme
Obat golongan benzodiazepine dimetabolisme secara ekstensif oleh kelompok enzim
sitokrom P450di hati, terutama CYP3A4 dan CYP2C19. Beberapa benzodiazepine seperti
oksazepam, dikonjugasi langsung dan tidak dimetabolisme oleh enzim tersebut.
Transformasi metabolis menjadi metabolit yang lebih mudah larut di dalam air
sanagta diperlukan bagi klirens seluruh obat dari tubuh. Sistem enzim pemetabolisme obat
mikrosomal dari hati adalah sangat penting dalam hal ini. Karena beberapa sedative-hipnotika
dieksresikan dari tubuh dalam bentuk tidak berubah, waktu-paruh eliminasinya terutama
bergantung pada transformasi metabolismenya.
Metabolisme hepatis menentukan klirens atau eliminasi dari diazepam dan seluruh
benzodiazepine. Diazepam mengalami oksidasi mikrosomal (reaksi fase I), metabolit
selanjutnya dikonjugasi (reaksi fase II) oleh glucuronosyltransferase membentuk glucuronide
yang dieksresi urine. Banyak metabolit benzodiazepine fase I adalah aktif dengan waktu
paruh yang lebih panjang daripada obat induknya. Desmethyldiazepam yang memiliki waktu
paruh eliminasi lebih dari 40 jam, merupakan metabolit aktif dari diazepam.
Desmethyldiazepam selanjutnya mengalami biotransformasi menjadi senyawa aktif
oxazepam, selain itu juga diubah menjadi temazepam. Temazepam selanjutnya mengalami
metabolism sebagian menjadi oxazepam.
Ekskresi
Diazepam diekskresi melalui urine, baik dalam bentuk bebas maupun terkonjugasi.
Diazepam di eksresi dalam urine sebagai glucuronides atau oxidized metabolites. Waktu
eliminasi plasma akan memanjang pada neonates, geriatric, dang pasien dengan gangguan
liver. Pada sebagian besar kasus, perubahan fungsi ginjal tidak memiliki efek yang kuat
terhadap eliminasi obat induk. Sangat sedikit yang dikeluarkan melalui hemodialisa.

Farmakodinamik
Hampir semua efek benzodiazepine merupakan hasil kerja golongan ini pada SSP
dengan efek utama: sedasi, hypnosis, pengurangan terhadap rangsangan emosi/ ansietas,
relaksasi otot, dan anti konvulsi. Hanya dua efek saja yang merupakan kerja golongan ini
pada jaringan perifer: vasodilatasi koroner setelah pemberian dosis terapi secara IV dan
blockade neuromuscular yang hanya terjadi pada pemberian dosis tinggi.
Target dari kerja benzodiazepine adalah reseptor GABA. Reseptor ini terdiri dari
subunit , , dan dimana berkombinasi dengan lima atau lebih dari membrane postsinaptik.
Benzodiazepine meningkatkan efek GABA dengan berikatan ke tempat yang spesifik dan
afinitas tinggi. Reseptor ionotropik ini, suatu protein heteroligometrik transmembran yang
berfungsi sebagai kanal ion klorida, yang diaktivasi oleh neurotransmitter GABA inhibiotrik.
Benzodiazepin meningkatkan frekuensi pembukaan kanal oleh GABA. Pemasukan ion
klorida tersebut menyebabkan hyperpolarisasi kecil yang menggerakkan potensial postsinaps
menjauh dari threshold sehingga menghambat kejadian potensial aksi.

Diazepam digunakan dalam jangka pengobatan jangka pendek untuk ansietas berat,
hypnosis untuk manajemen sementara insomnia, sebagai sedative dan premedikasi, sebagai
anti konvulsan, dalam pengontrolan spasme otot, dan pada manajemen gejala putus obat.

Dosis dan sediaan


1

2
3

Pada penggunaan untuk anti ansietas, relaksasi otot nuskusekletal


PO: dewasa: 2-10 mg terbagi 2-4 kali/ hari
Geriatrai: 2,5 mg dalam 2 kali/ hari
Anak: 0,12-0,8 mg/KgBB/ hari terabgi dalam beberapa dosis, tiap 6-8 jam
IV dan IM: dewasa: 2-10 mg diulang 3-4 jam
Anak: 0,04-0,3 mg/kg/ dosis tiap 2-4 jam, maksimum: 0,5 mg/kg dalam 8 jam
Untuk Preanastesia
IV: dewasa, geriatric: 5-15 mg dalam 5-10 menit sebelum dimulai
Anak: 0,2-0,2 mg/kg maksimum 10 mg
Gejala withdrawal
PO: dewasa, geriatric: 10 mg 3-4 kali selama 24 jam pertama, lalu diturunkan 5-10
mg 3-4 kali/ hari jika perlu
IV,IM: dewasa, geriatric: mulanya 10 mg, diikuti 5-10 mg tiap 3-4 jam
Status Epileptikus
IV: dewasa, geriatric: 5-10 mg tiap 10-15 menit hingga 30 mg/ 8 jam
Anak 5 tahun : 0,05-0,3 mg/kg/dosis tiap 15-30 menit, maksimum 10 mg/dosis
Anak < 5 tahun: 0,05-0,3 mg/kg/dosis tiap 15-30 menit, maksimum 5 mg/ dosis
Rectal gel: dewasa, anak 12: 0,2 mg/kg bisa diulang dalam 4-12 jam.
Anak 6-11 tahun: 0,3 mg/kg bisa diulang dalam 4-12 tahun
Anak 2- 5 tahun: 0,5 mg/kg bisa diulang dalam 4-12 jam.

Diazepam tersedia dalam beberapa bentuk yaitu solusio injeksi IM/IV (5mg/ml, 2ml),
Gel Rektal (5mg/ml, 1,2,3,4, ml), Solusio Oral (5mg/5ml, 500 ml), Tablet Oral (2mg, 5mg,
10 mg).
Efek Samping
Efek samping yang sering dapat muncul pada penggunaan diazepam adalah sedasi,
kelemahan otot, dan ataxia. Efek samping yang jarang timbul vertigo, sakit kepala, bingung,
depresi, disartria, perubahan libido, tremor, gangguan visual, retnsi urin atau inkontinensia
urin, gangguan GIT, perubahan salvias dan amnesia. Efek samping yang sangat jarang,
jaundice (ikterik), gangguan darah, reaksi hipersensitivitas. Pada dosis tinggi dan penggunaan
parenteral dapat terjadi depresi nafas dan hipotensi. Pda penggunaan secara IV efek samping
yang mungkin timbul nyeri dan tromboflebitis. Overdosis dapat menyebabkan depresi SSP,
koma atau paradoxical eksitasi, tetapi jarang menyebabkan kematian. Penggunaan pada
kehamilan trimester ke 3 dapat menyebabkan malformasi pada janin.
Interaksi dengan makanan
Jus jeruk dapat meningkatkan kadar dalam darah dan efek dari diazepam.