Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN

Pada akhir tahun 2002, UNAIDS memperkirakan di seluruh dunia


terdapat 42 juta orang yang hidup dengan HIV; 19,2 juta di antaranya
perempuan dan 3,2 juta anak di bawah usia 15 tahun. Selama tahun 2002
terdapat 800.000 kasus baru dan 610.000 kematian anak yang menderita
HIV.

Sebagian

besar

(91%)

anak

tersebut

tertular

HIV

dari

ibunya.Diperkirakan setiap tahunnya terdapat 600.000 kasus HIV baru akibat


penularan vertikal dari ibu ke anaknya. 1
Jumlah kasus HIV-AIDS pada kehamilan di Indonesia dan di dunia
semakin meningkat. Hal ini diakibatkan oleh meningkatnya kasus pada
penggunaan narkoba suntikan yang pada umumnya digunakan pada usia
subur (usia reproduksi). Penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Pelita Ilmu
dan Bagian Kebidanan FKUI di daerah pemukiman kumuh di Jakarta
menunjukkan bahwa infeksi HIV-AIDS di kalangan ibu hamil yang mengikuti
layanan testing dan konseling sukarela melebihi 2%.2
Di Indonesia, menurut Ditjen PPM dan PL Departemen Kesehatan
tercatat 3568 kasus HIV/AIDS pada akhir bulan Desember 2002, 20 kasus
tertular dari ibunya. Kharbiati, dkk dari Yayasan Pelita Ilmu bekerjasama
dengan

Bagian

Kebidanan

FKUI/RSCM

selama

tahun

1999-2001

mendapatkan pada 558 ibu hamil di daerah miskin di Jakarta (Kampung


Melayu, Tanah abang, Petamburan) yang melakukan tes HIV sebanyak 16
orang (2,86%) dinyatakan positif. 1Jumlah kasus baru sejak tahun 2000
meningkat tajam dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya karena
penambahan kasus baru akibat penularan melalui penggunaan narkoba
suntikan mencapai 21,8%.1
1

Permasalahan kesehatan reproduksi semakin rumit pada pengguna


narkoba yang terinfeksi HIV-AIDS. Apalagi sebagian besar yang terinfeksi
HIV-AIDS adalah remaja usia subur yang berumur antara 15-25 tahun,
sehingga dapat diperkirakan jumlah kehamilan yang disertai infeksi HIV akan
semakin meningkat. Di sisi lain HIV akan menurunkan infertilitas. Penelitian
Gray, dkk di Uganda menunjukkan bahwa perempuan yang positif HIV
mempunyai kemungkinan hamil yang lebih rendah, terutama dalam keadaan
simptomatik. 1
Perjalanan penyakit bayi yang tertular HIV dari ibunya lebih progresif
dibandingkan dengan penderita dewasa karena paparan pertama terjadi
pada saat respons imun masih dalam tahap perkembangan. Kelainan
respons imun yang timbul antara lain limfopenia CD4, berbagai defek limfosit
B dan T, hipergamaglobulinemia poliklonal. 3
Selain itu infeksi HIV juga akan mempengaruhi tumbuh kembang anak
selanjutnya. Anak yang menderita HIV dilaporkan lebih sering mengalami
penyakit infeksi bakteri ataupun virus. Anak yang tertular HIV dari ibunya
juga mengalami keterlambatan pubertas dibandingkan anak seusianya. 4
Oleh karena itu infeksi HIV pada kehamilan menjadi sangat penting
dengan dasar pertimbangan efek terhadap kehamilan, lebih dari 90% kasus
HIV anak ditularkan dari ibunya, anak yang akan dilahirkan akan menjadi
yatim piatu dan sebagian besar wanita yang terinfeksi HIV-AIDS berada pada
usia subur. 1
Gallo

dan

Montagnier

(2003)

mengemukakan

bahwa

sindroma

acquired immunodeficiency ini dikenal pertama kali tahun 1987 pada


sekelompok penderita yang mengalami gangguan pada imunitas seluler dan
menderita infeksi Pneumocystis carini. Steinbrook dkk (2004) pada tahun
2003 jumlah penderita AIDS diperkirakan 40 juta dengan tambahan 5 juta
kasus baru pertahun serta angka kematian yang berhubungan dengan HIV2

AIDS sekitar 3 juta jiwa pertahun. Centre for Disease Control and Preventions
(2002b) memperkirakan bahwa di US pada tahun 2001 terdapat 1.3 1.4
juta pasien yang terinfeksi oleh HIV dan lebih dari 500.000 juta diantaranya
meninggal dunia. Centre for Disease Control and Preventions (2004)
mengemukakan

bahwa

kasus

HIV-AID

berasal

dari

penularan

heteroseksual. Dan pada10 tahun terakhir ini, transmisi perinatal menurun


sebanyak 90%. Saat ini, dengan adanya terapi antiretroviral yang sangat
efektif dapat meningkatkan angka kehidupan penderita infeksi HIV yang
kronis.
BAB II
HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS (HIV)

A. ETIOLOGI
Virus penyebab defisiensi imun yang dikenal dengan nama Human
Immunodeficiency Virus (HIV) ini adalah suatu virus RNA dari famili
Retrovirus dan subfamily Lentiviridae. Sampai sekarang baru dikenal dua
serotype HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2 yang juga disebut lymphadenopathy
associated virus type-2 (LAV-2) yang sampai sekarang hanya dijumpai pada
kasus

AIDS

atau

orang

sehat

di

Afrika.

Spektrum

penyakit

yang

menimbulkannya belum banyak diketahui. HIV-1, sebagai penyebab sindrom


defisiensi imun (AIDS) yang tersering, dahulu dikenal juga sebagai human T
cell-lymphotropic virus type III (HTLV-III), lymphadenipathy-associated virus
(LAV) dan AIDS-associated virus.

5,6

Secara morfologik, virus ini berbentuk bulat, terdiri dari bagian inti
(core) yang berbentuk silindris dan selubung (envelope) yang berstruktur
lipid bilayer yang membungkus bagian core, dimana didalam core ini
terdapat RNA virus ini. Karena informasi genetik virus ini berupa RNA, maka
3

virus ini harus mentransfer informasi genetiknya yang berupa RNA menjadi
DNA sebelum diterjemahkan menjadi protein-protein. Dan untuk tujuan ini
HIV memerlukan enzim reverse transkriptase.6
Pada selubung (envelope) terdapat glikoprotein permukaan, terdiri dari
dua protein yang mengkordinasi masuknya HIV kedalam sel. Glikoprotein
yang lebih besar dinamakan gp 120, adalah komponen yang menspesifikasi
sel yang diinfeksi. gp 120 ini terutama akan berikatan dengan reseptor CD4,
yaitu suatu reseptor yang terdapat pada permukaan sel T helper, makrofag,
monosit, sel-sel langerhans pada kulit, sel-sel glial, dan epitel usus (terutama
sel-sel kripta dan sel-sel enterokromafin). Glikoprotein yang besar ini adalah
target utama dari respon imun terhadap berbagai sel yang terinfeksi.
Glikoprotein yang lebih kecil, dinamai gp 41 atau disebut juga protein
transmembran, dapat bekerja sebagai protein fusi yaitu protein yang dapat
berikatan dengan reseptor sel lain yang berdekatan sehingga sel-sel yang
berdekatan tersebut bersatu membentuk sinsitium.8
Gambar 1.1 Genome dan protein HIV15
B. PATOFISIOLOGI
HIV

mempunyai target

sel utama

yaitu sel limfosit

T4, yang

mempunyai reseptor CD4. Setelah masuk ke dalam tubuh, HIV akan


menempel pada sel yang mempunyai molekul CD4 pada permukaannya.
Molekul CD4 ini mempunyai afinitas yang sangat besar terhadap HIV,
terutama terhadap molekul gp 120 dari selubung virus. Diantara sel tubuh
yang memiliki CD4, sel limfosit T memiliki molekul CD4 yang paling banyak.
Oleh karena itu, infeksi HIV dimulai dengan penempelan virus pada limfosit T.
Setelah penempelan, terjadi diskontinuitas dari membran sel limfosit T yang
disebabkan oleh protein gp41 dari HIV, sehingga seluruh komponen virus
harus masuk ke dalam sitoplasma sel limfosit-T, kecuali selubungnya.5

Setelah

masuk

ke

dalam

sel,

akan

dihasilkan

enzim

reverse

transcriptase. Dengan adanya enzim reverse transcriptase, RNA virus akan


diubah menjadi suatu DNA. Karena reverse transcriptase tidak mempunyai
mekanisme proofreading (mekanisme baca ulang DNA yang dibentuk) maka
terjadi mutasi yang tinggi dalam proses penerjemahan RNA menjadi DNA ini.
Dikombinasi dengan tingkat reproduktif virus yang tinggi, mutasi ini
menyebabkan HIV cepat mengalami evolusi dan sering terjadi resistensi
yang berkelanjutan terhadap pengobatan.7
Bersamaan dengan enzim reverse trancriptase, akan dibentuk RNAse.
Akibat aktivitas enzim ini, maka RNA yang asli dihancurkan. Sedangkan
seuntai DNA yang tadi telah terbentuk akan mengalami polimerisasi menjadi
dua untai DNA dengan bantuan enzim polymerase. DNA yang terbentuk ini
kemudian pindah dari sitoplasma ke dalam inti sel limfosit T dan menyisip ke
dalam DNA sel penjamu dangan bantuan enzim integrase, dan DNA ini
disebut sebagai provirus. Provirus yang terbentuk ini tinggal dalam keadaan
laten atau dalam keadaan replikasi yang sangat lambat, tergantung pada
aktivitas dan diferensiasi sel penjamu (T-CD4) yang diinfeksinya, sampai
kelak terjadi suatu stimulasi yang dapat memicu DNA ini untuk keluar dari
DNA inang dan menjadi aktif, serta selanjutnya terjadi replikasi dalam
kecepatan yang tinggi. Keadaan laten ini dapat berlangsung selama 1
sampai 12 tahun dari infeksi awal HIV dan dalam keadaan ini pasien tidak
mempunyai gejala (asimptomatik). Pada stadium laten ini, HIV dan respon
imun anti HIV dalam tubuh pasien dalam keadaan steady state.2,5
Infeksi akut dengan cepat meningkatkan viral load dan menyebabkan
viremia yang ringan sampai moderat. Walaupun viral load cenderung
menurun dengan cepat setelah infeksi akut pada orang dewasa, viral load
menurun lebih lambat pada anak-anak yang terinfeksi secara vertical (2-3
bulan setelah terinfeksi, jumlah viral load dalam tubuh mereka menetap
sekitar 750.000/mL) dan dapat tidak mencapai level steady state sampai
5

mereka berumur 4-5 tahun. Hal ini disebabkan karena imaturitas sistem
imun mereka. Walaupun bayi-bayi mempunyai sejumlah antigen presenting
cell dan sel-sel efektor lebih banyak daripada orang dewasa, produksi
sitokin, proliferasi dan sitotoksisitas sel-sel tersebut pada mereka jauh lebih
berkurang karena infeksi HIV ini.4,8
Gambar 2. Siklus Replikasi HIV16
Infeksi HIV pada limfosit T-CD4 diatas mengakibatkan perubahan pada
fungsi

dan

penghancuran

sel

T-CD4,

hingga

populasinya

berkurang.

Mekanisme disfungsi dan penurunan jumlah sel limfosit T-CD4 ini diduga
melalui proses pengaruh sitopatik langsung HIV (single cell killing),
pembentukkan sinsitium, respon imun spesifik, limfosit T sitolitik yang
spesifik untuk HIV, mekanisme autoimun dan anergi.
Dengan menurunnya jumlah dan fungsi sel T-CD4 yang merupakan
orchestrator dari suatu sistem imun, maka individu yang terinfeksi HIV akan
lebih berisiko untuk terkena infeksi opportunistik, infeksi sistemik berat,
penyakit sistem organ yang kemudian berakhir dengan kematian.5
Proses imuno-supresi menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik dan
neoplasma. Target utama adalah

Thymus-derived

lymphocytes

(T-

lymphocytes) , yang secara fenotipikal disebut sebagai CD4 surface antigen.


CD4 site bertindak sebagai reseptor virus. Sheffield dkk (2005) menyatakan
bahwa agar dapat terjadi infeksi diperlukan co-receptor dan untuk itu
dikenal adanya 2 jenis chemokine receptor yaitu CCR 5 dan CXCR4. Setelah
infeksi pertama, tingkat viremia segera merosot sampai titik tertentu dan
pasien dengan beban virus terbesar saat itu dengan cepat mengalami AIDs
dan meninggal. Selama beberapa waktu, jumlah sel T merosot secara tajam
sehingga terlihat gejala imunosupresi. Kehamilan diperkirakan berakibat
minimal terhadap CD4+ , jumlah sel T dan jumlah HIV-RNA. Kenyataan adalah
bahwa

jumlah

HIV-RNA

meningkat

pada

bulan

pasca

persalinan
6

dibandingkan dengan jumlah sebelum kehamilan. Makrofag-monosit juga


terinfeksi dan infeksi sel mikroglia otak dapat menyebabkan kelainan
neuropsikiatri pada pasien yang terinfeksi HIV. Selain itu tercatat pula
kejadian Kaposi sarcoma, Lymphoma B-cell dan non-Hodgkin dan sejumlah
bentuk karsinoma lain.
C. CARA PENULARAN
Penularan

HIV

dapat

terjadi

melalui

hubungan

seksual,

secara

horizontal maupun vertikal (dari ibu ke anak).


1. Melalui hubungan seksual
Baik secara vaginal, oral ataupun anal dengan seorang pengidap. Ini
adalah cara yang umum terjadi, meliputi 80-90% dari total kasus sedunia.
Lebih mudah terjadi penularan bila terdapat lesi penyakit kelamin dengan
ulkus atau peradangan jaringan seperti herpes genitalis, sifilis, gonore.
Resiko pada seks anal lebih besar dibandingkan seks vaginal dan resiko juga
lebih besar pada yang reseptive daripada yang insertie. Diketahui juga epitel
silindris pada mukosa rektum, mukosa uretra laki-laki dan kanalis servikalis
ternyata mempunyai reseptor CD4 yang merupakan target utama HIV. 9
2.

Transmisi

horisontal

(kontak

langsung

dengan

darah/produk

darah/jarum suntik):
o Tranfusi darah/produk darah yang tercemar HIV, risikonya sekitar 0,5-1%
dan telah terdapat 5-10% dari total kasus sedunia. 9
o Pemakaian jarum tidak steril/pemakaian bersama jarum suntik pada para
pecandu narkotik suntik. Resikonya sangat tinggi sampai lebih dari 90%.
Ditemukan sekitar 3-5% dari total kasus sedunia.9
o Penularan lewat kecelakaan tertusuk jarum pada petugas kesehatan.
Resikonya sekitar kurang dari 0,5% dan telah terdapat kurang dari 0,1%
dari total kasus sedunia.9
7

Kurang lebih 10% penularan HIV terjadi melalui transmisi horizontal. 8


3. Infeksi HIV secara vertikal terjadi pada satu dari tiga periode
berikut :

Intra uterin

:Terjadi sebelum kelahiran atau pada masa awal kehamilan

sampai trimester kedua, yang mencakup kira-kira 30-50% dari


penularan

secara

vertikal.

Janin

dapat

terinfeksi

melalui

transmisi virus lewat plasenta dan melewati selaput amnion,


khususnya bila selaput amnion mengalami peradangan atau
infeksi.8

Intra partum: Transmisi vertikal paling sering terjadi selama persalinan,


kurang lebih 50-60%, dan banyak faktor-faktor mempengaruhi
resiko untuk terinfeksi pada periode ini. Secara umum, semakin
lama dan semakin banyak jumlah kontak neonatus dengan
darah ibu dan sekresi serviks dan vagina, maka semakin besar
risiko penularan. Bayi prematur dan BBLR mempunyai resiko
terinfeksi lebih tinggi selama persalinan karena barier kulitnya
yang lebih tipis dan pertahanan imunologis pada mereka lebih
lemah.8

Post partum : Bayi baru lahir terpajan oleh cairan ibu yang terinfeksi dan
bayi dapat tertular melalui pemberian air susu ibu yang
terinfeksi HIV kira-kira 7-22%.
Lebih dari 90% penularan HIV dari ibu ke anak terjadi selama dalam

kandungan, persalinan dan menyusui.8

D. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis infeksi HIV sangat luas spektrumnya, karena itu ada
beberapa macam klasifikasi. Yang paling umum dipakai adalah klasifikasi
yang dibuat oleh Center for Disease Control (CDC), USA,10 sebagai berikut:

Stadium awal infeksi HIV

Stadium tanpa gejala

Stadium ARC (AIDS related compleks)

Stadium AIDS

Stadium gangguan susunan saraf pusat

MASA INKUBASI
Masa inkubasi adalah waktu terjadinya infeksi sampai munculnya
gejala pertama pada pasien. Pada infeksi HIV hal ini sulit diketahui. Dari
penelitian pada sebagian besar kasus dikatakan masa inkubasi rata-rata 5-10
tahun, dan bervariasi sangat lebar, yaitu antara 6 bulan sampai lebih dari 10
tahun. rata-rata 21 bulan pada anak-anak dan 60 bulan pada orang dewasa
walaupun belum ada gejala, tetapi yang bersangkutan telah dapat menjadi
sumber penularan.

Stadium Awal Infeksi


Gejala ini serupa dengan gejala infeksi virus umumnya yaitu berupa

demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, mialgia, pembesaran kelenjar dan


rasa lemah. Pada sebagian orang, infeksi dapat berat disertai kesadaran
menurun.10 Sindrom ini akan menghilang dalam beberapa minggu. Dalam
waktu 3-6 bulan kemudian tes serologi baru akan positif, karena telah
terbentuk antibodi. Masa 3-6 bulan ini disebut window periode, dimana
9

penderita dapat menularkan namun secara laboratorium hasil tes HIV-nya


negatif.10

10

Stadium Tanpa Gejala


Fase akut akan diikuti fase kronik asimptomatik yang lamanya bisa

bertahun-tahun (5-7 tahun). Virus yang ada didalam tubuh secara pelanpelan terus menyerang sistem pertahanan tubuhnya. Walaupun tidak ada
gejala, kita tetap dapat mengisolasi virus dari darah pasien dan ini berarti
bahwa selama fase ini pasien juga infeksius. Tidak diketahui secara pasti apa
yang terjadi pada HIV pada fase ini. Mungkin terjadi replikasi lambat pada
sel-sel tertentu dan laten pada sel-sel lainnya. Tetapi jelas bahwa aktivitas
HIV terjadi dan ini dibuktikan dengan menurunnya fungsi sistem imun dari
waktu ke waktu. Mungkin sampai jumlah virus tertentu tubuh masih dapat
mengantisipasi sistem imun. 9,10

Stadium AIDS Related Compleks


Stadium ARC (AIDS Related Complex) adalah bila terjadi 2 atau lebih

gejala klinis yang berlangsung lebih dari 3 bulan, antara lain :

Berat badan turun lebih dari 10%

Demam lebih dari 380C

Keringat malam hari tanpa sebab yang jelas

Diare kronis tanpa sebab yang jelas

Rasa lelah berkepanjangan

Herpes zoster dan kandidiasis mulut

Pembesaran

kelenjar

limfe,

anemia,

leucopenia,

limfopenia,

trombositopenia

Ditemukan antigen HIV atau antibodi terhadap HIV.9,10

11

Stadium AIDS
Dalam stadium ini kekebalan tubuh penderita telah demikian rusaknya,

sehingga pada tahap ini penderita mudah diserang infeksi oportunistik


antara lain : TBC, kandidiasistoxoplasmosis, pneumocystis, disamping itu
juga dapat terjadi sarkoma kaposi (kanker pembuluh darah kapiler) dan
limfoma. 9,10
Gejala AIDS dikatakan lengkap bila gejala ARC ditambah dengan satu
atau lebih penyakit oportunistik seperti pneumonia pneumocystis carinii,
sarcoma Kaposi, infeksi sitomegalovirus.
Orang dewasa dicurigai menderita AIDS bila dijumpai minimal 2 gejala
mayor dan 1 gejala minor. 3 Gejala-gejala mayor tersebut adalah:

Penurunan berat badan lebih dari 10%

Diare kronik lebih dari 1 bulan

Demam lebih dari 1 bulan (terus-menerus/intermitten)

Sedangkan yang termasuk gejala-gejala minor yaitu:

Batuk lebih dari 1 bulan

Dermatitis

Herpes zoster rekuren

Kandidiasis orofaring

Limfadenopatia umum

Herpes simpleks diseminata yang kronik & progresif

12

Anak-anak diduga menderita AIDS bila didapati minimal 2 gejala mayor


dan minor dengan catatan tidak ada riwayat imunosupresi, misalnya kanker
atau malnutrisi berat. 3
Adapun gejala mayor tersebut yaitu:

Penurunan berat badan atau pertumbuhan lambat dan abnormal.

Diare kronik lebih dari 1 bulan

Demam lebih dari 1 bulan

o Sedangkan yang termasuk gejala-gejala minor yaitu:

Limfadenopatia umum

Kandidiasis orofaring

Infeksi umum (otitis, faringitis)

Batuk persisten

Dermatitis umum

Infeksi HIV maternal

a. Stadium Gangguan Susunan Saraf Pusat

Virus AIDS selain menyerang sel limfosit T4 yang merupakan sumber


kekebalan tubuh, ternyata juga menyerang organ-organ tubuh lain. Organ
yang paling sering adalah otak dan susunan saraf lainnya. Selain itu akibat
infeksi oportunistik juga dapat menyebabkan gangguan susunan saraf pusat.
9,10

KEHAMILAN DAN INFEKSI HIV


I. Pengaruh Kehamilan Pada Perjalanan Penyakit HIV
13

Kehamilan tidak secara signifikan mempengaruhi risiko kematian,


progresitivitas menjadi AIDS atau progresitivitas penurunan sel CD 4 pada
wanita yang terinfeksi HIV. 3
Pengaruh kehamilan terhadap sel CD 4 pertama kali dilaporkan oleh
Burns, dkk. Pada kehamilan normal terjadi penurunan jumlah sel CD 4 pada
awal kehamilan untuk mempertahankan janin. Pada wanita yang tidak
menderita

HIV,

presentase

sel

CD4

akan

meningkat

kembali

mulai

trisemester ketiga hingga 12 bulan setelah melahirkan. Sedangkan pada


wanita yang terinfeksi HIV penurunan tetap terjadi pada kehamilan dan
setelah melahirkan walaupun tidak bermakna secara statistik. Namun
penelitian dari European Collaborative Study dan Swiss HIV Pregnancy
Cohort dengan jumlah sample yang lebih besar, menunjukkan presentase
penurunan sel CD4 selama kehamilan sampai 6 bulan setelah melahirkan
tetap stabil. 1
Kehamilan ternyata hanya sedikit meningkatkan kadar virus (viral load)
HIV.

Kadar

virus

HIV

meningkat

terutama

setelah

tahun

persalinan,walaupun secara statistik tidak bermakna. 2


Kehamilan juga tidak mempercepat progresitivitas penyakit menjadi
AIDS. Italian Seroconversion Study Group membandingkan wanita terinfeksi
HIV dan pernah hamil ternyata tidak menunjukkan perbedaan resiko menjadi
AIDS atau penurunan CD4 menjadi kurang dari 200. 1
II. Pengaruh Infeksi HIV pada Kehamilan
Penelitian di negara maju sebelum era anti retrovirus menunjukkan
bahwa HIV tidak menyebabkan peningkatan prematuritas, berat badan lahir
rendah atau gangguan pertumbuhan intra uterin.

Sedangkan di negara

berkembang, infeksi HIV justru meningkatkan kejadian aborsi, prematuritas,


gangguan pertumbuhan intra uterin dan kematian janin intra uterin terutama
14

pada stadium lanjut. Selain karena kondisi fisik ibu yang lebih buruk juga
karena kemungkinan penularan perinatalnya lebih tinggi. 1
III.Transmisi Vertikal HIV
Tanpa intervensi, risiko penularan HIV dari ibu ke janinnya yang
dilaporkan berkisar antara 15% - 45%. Risiko penularan ini lebih tinggi di
negara berkembang dibandingkan dengan negara maju (21% - 43%
dibandingkan 14% - 26%). Penularan dapat terjadi pada intra uterin,
intrapartum dan post partum. Sebagian besar penularan terjadi intra partum.
Pada ibu yang tidak menyusui, 24%-40% penularan terjadi intra uterin dan
60% - 75% terjadi selama persalinan. Sedangkan pada ibu yang menyusui
bayinya, sekitar 20% - 25% penularan terjadi intra uterin, 60% - 70% intra
partum dan saat awal menyusui dan 10% - 15% setelah persalinan. Risiko
infeksi intra uterin, intra partum dan pasca persalinan adalah 6%, 18% dan
4% dari keseluruhan kelahiran ibu dengan HIV positif. 1,2
a. Transmisi Intra Uterin
Kejadian transmisi HIV pada janin kembar dan ditemukannya DNA HIV,
IgM anti-HIV dan antigen p24 pada neonatus pada minggu pertama
membuktikan bahwa transmisi dapat terjadi selama kehamilan. 1
Walaupun masih belum jelas, mekanismenya diduga melalui plasenta.
Pemeriksaan patologi menemukan HIV dalam plasenta ibu yang terinfeksi
HIV. Sel limfosit atau monosit ibu yang terinfeksi HIV atau virus HIV itu
sendiri

dapat

sinsitiotrofoblas,

mencapai
atau

janin

secara

secara

tidak

langsung

langsung

melalui

melalui

lapisan

trofoblas

dan

menginfeksi sel makrofag plasenta (sel Houfbauer) yang mempunyai


reseptor CD4. 1
Plasenta diduga juga mempunyai efek anti HIV-1 dengan mekanisme
yang masih belum diketahui. Salah satu hormon plasenta yaitu human
15

chorionic gonadotropin (hCG) diduga melindungi janin dari HIV-1 melalui


beberapa cara, seperti menghambat penetrasi virus ke jaringan plasenta,
mengkontrol replikasi virus di dalam sel plasenta, dan menginduksi apoptosis
sel-sel yang terinfeksi HIV-1. 1
Menurut Pediatric Virology Committee of the AIDS Clinical Trials Group
(PACTG), transmisi dikatakan intra uterin/infeksi awal, jika tes virology positif
dalam 48 jam setelah kelahiran dan tes berikutnya juga positif. 1
Beberapa penelitian mengemukakan faktor-faktor yang berperan pada
transmisi antepartum seperti yang tercantum pada table 1. Malnutrisi yang
seringkali ditemukan pada wanita dengan HIV-AIDS akan meningkatkan
resiko

transmisi

karena

akan

menurunkan

imunitas,

meningkatkan

progresivitas penyakit ibu, meningkatkan resiko berat badan lahir rendah


dan prematuritas dan menurunkan fungsi imunitas gastrointestinal dan
integritas fetus. Pada penelitian prospektif random terkontrol, defisiensi
vitamin A (kurang dari 1,05 mol/L) yang dihubungkan dengan gangguan
fungsi sel T dan sel B ternyata berhubungan dengan peningkatan transmisi
HIV. Namun penelitian Dreyfuss, dkk tidak dapat membuktikan bahwa
defisiensi mikronutrien akan meningkatkan transmisi antepartum atau
sebaliknya.1
b. Transmisi Intrapartum
Transmisi intrapartum/infeksi lambat didiagnosis jika pemeriksaan
virologis negatif dalam 48 jam pertama setelah kelahiran dan tes 1 minggu
berikutnya menjadi positif dan bayi tidak menyusui. 1
Selama

persalinan,

bayi

dapat

tertular

darah

atau

cairan

servikovaginal yang mengandung HIV melalui paparan trakheobronkial atau


tertelan pada jalan lahir. HIV ditemukan pada cairan servikovaginal wanita
terinfeksi HIV-AIDS sekitar 21% dan pada cairan aspirasi lambung bayi yang
16

dilahirkan

sekitar

10%.

Terdapatnya

HIV

pada

cairan

servikovaginal

berhubungan dengan duh tubuh vagina abnormal, kadar sel CD4 yang
rendah dan defisiensi vitamin A. Selain menurunkan imunitas, defisiensi
vitamin A akan menurunkan integritas plasenta dan permukaan mukosa
jalan lahir, sehingga akan memudahkan terjadi trauma pada jalan lahir dan
transmisi HIV secara vertikal. 1
Besarnya paparan pada jalan lahir juga dikaitkan dengan ulkus serviks
atau vagina, korioamnionitis, ketuban pecah sebelum waktunya, persalinan
prematur, penggunaan elektrode pada kepala janin, penggunaan vakum atau
forceps, episiotomi dan rendahnya kadar CD4 ibu. Ketuban pecah lebih dari 4
jam sebelum persalinan akan meningkatkan resiko transmisi antepartum
sampai dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah kurang dari 4 jam
sebelum persalinan. 1
Diantara faktor-faktor tersebut, kadar HIV ibu pada saat persalinan
atau menjelang persalinan merupakan prediktor paling penting. Karena itu,
resiko penularan lebih tinggi terjadi pada ibu hamil dengan infeksi HIV
primer. Namun, belum ada angka pasti pada kadar HIV berapa penularan
dapat terjadi. Penelitian dari Women and Infants Transmission Study
menunjukkan pada kadar HIV ibu <> 1,2 Garcia, dkk melaporkan 21%
penularan HIV pada ibu dengan kadar HIV menjelang atau saat persalinan
<100.000>100.000

kopi/mL

penularan

yang

terjadi

63%. 1

John,

dkk

menemukan penularan empat kali lebih tinggi pada ibu dengan kadar
HIV>43.000 kopi/mL. Namun, kadar HIV yang rendah atau tidak terdeteksi
tidak menjamin bahwa bayi tidak akan tertular karena pada beberapa kasus
penularan tetap terjadi. John, dkk pada penelitiannya mengemukakan
transmisi yang terjadi pada tiga orang ibu dengan kadar HIV<5000>1 juta
kopi/mL. Selain itu, kadar HIV ibu sebelum dan saat persalinan juga akan
menentukan

kadar

HIV

pada

bayi

yang

ditularkannya.

Wiener,

dkk

17

mengemukakan hubungan linier kadar HIV ibu dan kadar HIV bayi pada 3
bulan pertama kehidupannya. 1
Selain faktor ibu, faktor janin ternyata juga mempengaruhi transmisi
perinatal. Prematuritas dan berat badan lahir rendah diduga berperan karena
sistem imunitas pada bayi tersebut belum berkembang baik. Beberapa
penelitian menghubungkan kelahiran prematur dengan stadium penyakit HIV
ibu, penggunaan kokain atau opiat. Pada bayi kembar, urutan kelahiran juga
memegang peranan. Menurut Duliege, dkk bayi yang lahir pertama kali
mempunyai resiko penularan dua kali lebih tinggi dibandingkan bayi yang
lahir kedua. Hal tersebut disebabkan bayi yang lahir pertama lebih lama
berada dijalan lahir dan biasanya berukuran lebih besar, sehingga secara
tidak langsung membersihkan jalan lahir untuk bayi yang lahir berikutnya. 1
c. Transmisi Post Partum
Air susu ibu diketahui mengandung HIV dalam cukup banyak.
Konsentrasi median sel yang terinfeksi HIV pada ibu yang menderita HIV
adalah 1 per 104 sel. Partikel virus dapat ditemukan pada komponen sel dan
non-sel air susu ibu. Pada penelitian Nduati, dkk HIV ditemukan pada 58%
pemeriksaan kolostrum dan air susu ibu. Kadar HIV tertinggi dalam air susu
ibu terjadi mulai minggu pertama sampai tiga bulan setelah persalinan. HIV
dalam konsentrasi rendah masih dapat dideteksi pada air susu ibu sampai 9
bulan setelah persalinan. Resiko penularan pada bayi yang disusui paling
tinggi pada enam bulan pertama, kemudian menurun secara bertahap pada
bulan-bulan berikutnya. 1,11
Kadar HIV pada air susu ibu dipengaruhi kadar serum ibu, sel CD4 ibu,
defisiensi vitamin A. Semba, dkk mengemukakan bahwa kadar HIV di dalam
air susu ibu lebih tinggi pada ibu yang anaknya terinfeksi HIV daripada yang
tidak terinfeksi HIV. 1

18

Berbagai macam faktor lain yang dapat mempertinggi resiko transmisi


HIV melalui air susu ibu antara lain mastitis atau luka diputing susu, abses
payudara, lesi dimukosa mulut bayi, prematuritas dan respon imun bayi. 1

19

Tabel 3.1. Faktor yang berhubungan dengan tingginya resiko


penularan vertikal HIV dari ibu ke anak.
Periode
Antepartum

Faktor
Kadar HIV ibu, jumlah CD4 ibu, defisiensi
vitamin A, mutasi ko-reseptor HIV gp120
dan

gp160,

pengambilan
Intrapartum

malnutrisi,
sample

perokok,

vili

korion,

amniosentesis.
Kadar HIV pada cairan servikovaginal ibu,
cara persalinan, ketuban pecah sebelum
waktunya,

persalinan

prematur,

penggunaan elektrode pada kepala janin,


penyakit ulkus genital aktif, laserasi vagina,
korioamnionitis,

episiotomi,

persalinan

dengan vakum atau forceps


Pascapersali Air susu ibu, mastitis
nan
Selain faktor-faktor yang sudah disebutkan diatas, risiko transmisi juga
dipengaruhi jenis virus. Transmisi vertikal pada ibu yang menderita HIV-2
jauh lebih rendah daripada HIV-1, hanya 1%. Demikian juga angka kematian
bayi yang terinfeksi HIV-1 lebih tinggi daripada bayi yang terinfeksi HIV-2. 1,2,3
o DIAGNOSIS INFEKSI HIV
Seperti
berdasarkan

penyakit

lain,

anamnesis,

diagnosis

pemeriksaan

infeksi
klinis

HIV
dan

juga

ditegakkan

hasil

penemuan

laboratorium. Anamnesis yang mendukung kemungkinan adanya infeksi HIV


misalnya :

20

1. Lahir dengan ibu risiko tinggi.


2. Lahir dari ibu dengan pasangan resiko tinggi.
3. Penerima tranfusi darah atau komponennya, terutama bila berulang
dan tanpa uji HIV.
4. Penggunaan obat parenteral atau intravena secara keliru (biasanya
pecandu narkotika)
5. Homoseksual atau biseksual.
6. Kebiasaan seksual yang keliru.
Gejala klinis yang mendukung misalnya infeksi oportunistik, penyakit
menular seksual, infeksi yang berulang atau berat, terdapat gagal tumbuh,
adanya ensefalopati yang menetap atau progresif, penyakit paru interstitiel,
keganasan sekunder, kardiomiopati dan lain-lainnya. Untuk diagnostik yang
pasti dikerjakan pemeriksaan laboratorium mulai dari yang relatif sederhana
hingga yang relatif sulit dan mahal, yaitu mulai dari menentukan adanya
antibodi anti-HIV misalnya dengan ELISA (Enzyme Linked Immunosorbant
Assay) yang dilanjutkan dengan uji yang lebih pasti seperti Western blot
assay dan lain-lainnya.5
o PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Umumnya pemeriksaan laboratorium untuk HIV/AIDS dibagi atas tiga
kelompok, yaitu9 :
1. Pembuktian adanya antibodi atau antigen HIV
2. Pemeriksaan status imunitas
3. Pemeriksaan terhadap infeksi oportunistik dan keganasan
A. Pembuktian adanya Antibodi atau Antigen HIV
HIV terdiri dari selubung, kapsid dan inti. Masing-masing terdiri dari
protein yang bersifat sebagai antigen dan menimbulkan pembentukkan
antibodi dalam tubuh yang terinfeksi. Jenis antibodi yang telah diketahui
banyak sekali, tetapi yang penting untuk diagnostik adalah : antibodi gp41.
gp120 dan p24.
21

Teknik pemeriksaan adalah sebagai berikut :


1. Tes untuk menguji antibodi HIV
Terdapat
Immunosorbent

berbagai

macam

cara

yaitu:

Assay),

Western

Blot,

RIPA

ELISA

(Enzyme

Linked

(RadioImmunoPresipitation

Assay) dan IFA (ImmunoFluorescence Assay). 9


2. Tes untuk menguji antigen HIV
Dapat dengan cara : pembiakan virus, antigen p24, dan Polymerase
Chain Reaction (PCR). 9
Yang praktis dan umum dipakai adalah tes ELISA, karena tes memiliki
sensitivitas yang tinggi. Oleh karena itu untuk menghindari adanya hasil tes
yang positif palsu, tes ELISA perlu dikonfirmasi dengan tes Western Blot yang
mempunyai spesifisitas yang tinggi. Setiap tes positif dengan ELISA I akan
diulangi dengan ELISA II dari sampel yang sama, dan bila tes kedua positif
lalu dilakukan tes Western Blot. Dengan konfirmasi tes Western Blot ini, hasil
tes dikatakan positif. 9
SUDS (Single Use Diagnostic System) adalah tes antibodi HIV yang
cepat yang tersedia di United State. Pada beberapa penelitian, SUDS
dilaporkan mempunyai rata-rata false (+) sekitar 50% sehingga hal ini
mempersulit untuk diagnosa.10
B. Tes Yang Menunjukkan Adanya Defisiensi Imun
Untuk ini dapat dilakukan pemeriksaan Hb, jumlah leukosit, trombosit,
jumlah limfosit dan sediaan apus darah tepi atau sumsum tulang. Pada
pasien

AIDS

dapat

ditemukan

anemia,

leukopenia

atau

limfopenia,

trombositopenia, dan displasia sumsum tulang normo atau hiperseluler. 9


Dapat dilakukan perhitungan jumlah sel limfosit T, limfosit B, sel limfosi
CD4 dan CD8. Dikatakan terjadi gangguan sistem imun bila telah terjadi
22

penurunan jumlah sel limfosit, sel CD4 dan menurunnya ratio CD4/CD8. Tes
kulit DTH (Delayed Type Hypersensitivity) untuk tuberkulin dan kandida yang
hasilnya negatif atau anergi menunjukkan kegagalan imunitas seluler.
Mungkin saja jumlah CD4 masih normal, tetapi fungsinya sudah menurun.
Dapat terjadi poliklonal hipergammaglobulinemia (IgA dan IgG) yang
menunjukkan adanya rangsangan non apesifik terhadap sel B untuk
membentuk imunitas seluler. 9

23

C. Tes Untuk Infeksi Oportunistik Atau Kanker


Setiap infeksi oportunistik atau kanker sekunder yang ada pada pasien
AIDS diperiksa sesuai dengan metode diagnostik penyakitnya masingmasing. Misalnya pemeriksaan untuk kandidiasis, PCP, TBC paru, dan
sebagainya. Kadang-kadang perlu pemeriksaan penunjang lain, seperti
laboratorium rutin, serologis, radiologis, USG, CT scann, bronkoskopi,
pembiakan, histopatologi dan sebagainya. 9
o Diagnosis Infeksi HIV Pada Wanita
Infeksi HIV pada wanita seringkali terdeteksi pada masa kehamilan,
waktu dilakukan uji saring HIV antenatal. Uji serologis HIV-1 antibodi spesifik
IgG merupakan tes dengan spesifikasi yang tinggi. Sera yang reaktif
terhadap anti HIV pada uji saring, sebaiknya diuji ulang dan hasilnya
dikonfirmasikan dengan sistem uji lainnya. Untuk diagnostik, contoh sera
harus diambil ulang untuk mengkonfirmasi ada tidaknya infeksi. Pada
umumnya wanita yang terinfeksi menampilkan kondisi sera yang reaktif 6-8
minggu setelah infeksi, meskipun pada beberapa kasus antibodi tersebut
tidak timbul setelah 6-9 bulan kemudian. 6
Hasil negatif tes antibodi berarti wanita tersebut tidak terkena infeksi
HIV lebih dari 6 bulan yang lalu, tetapi dapat juga berarti uji negatif palsu
(false negatif), bila wanita itu diuji pada waktu periode jendela (window
periode) antara infeksi dan serokonversi. 6
o Diagnosis Infeksi HIV Pada Anak
Pada bayi pemeriksaan serologis standar seperti IgG anti-HIV dan
Western Blot tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis sebelum
24

usia 18 bulan. Hal ini disebabkan masih dapat ditemukannya IgG anti-HIV ibu
yang melewati plasenta di darah bayi, bahkan sampai usia 24 bulan.
Sedangkan IgA dan IgM anti-HIV tidak dapat melewati plasenta, sehingga
dapat digunakan untuk konfirmasi diagnosis bila ditemukan pada bayi. Akan
tetapi, sensitivitas kedua pemeriksaan ini masih rendah. 2
Pada bayi di bawah usia 18 bulan, pemeriksaan yang dapat dilakukan
antara lain kultur HIV, teknik PCR (Polymerase chain Reaction) untuk
mendeteksi DNA atau RNA HIV dan deteksi antigen p24. 1 Infeksi HIV
ditegakkan bila dua sample dari dua kali pemeriksaan yang berbeda dengan
kultur, DNA HIV atau RNA HIV menunjukkan hasil positif. Disebut tidak
terinfeksi bila dua macam sampel tes yang berbeda menunjukkan hasil
negatif. 1,2
Pada

bayi

usia

18

bulan

keatas,

infeksi

HIV

ditegakkan

jika

pemeriksaan antibodi menetap atau bayi meninggal akibat penyakit terkait


HIV. Disebut tidak terinfeksi bila dua kali pemeriksaan antibodi menunjukkan
negatif. Pemeriksaan antibodi ini kemudian dilanjutkan dengan konfirmasi
pemeriksaan Western Blot.1,3
Bila timbul kecurigaan anak terinfeksi HIV, penting untuk melakukan
konseling pada ibunya dan meminta persetujuan sebelum melakukan tes
darah ibu. Bila ibu positif terinfeksi, maka perlu juga melakukan tes pada
suaminya. Selanjutnya konseling pasca tes juga diperlukan bila hasilnya
pada

anaknya

terbukti

positif

agar

orangtua

mengetahui

gambaran

mengenai penyakit anaknya, cara melakukan perawatan di rumah, menjaga


kualitas hidup anak sebaik mungkin, cara pencegahan penularan perinatal
pada anak selanjutnya dan bekerja sama dengan pihak-pihak lain seperti
psikolog, lembaga sosial, tokoh agama dan petugas-petugas kesehatan
lainnya.11

25

Di Indonesia untuk mendefinisikan kasus HIV pada anak dipakai kriteria


WHO/UNAIDS :5

Anak berumur 18 bulan atau kurang :


Ditemukan 2 gejala mayor yang berkaitan dan 2 gejala minor dengan

ibu yang HIV positif. Gejala ini bukan disebabkan oleh keadaan lain yang
tidak berkaitan dengan infeksi HIV.

Anak berumur diatas 18 bulan :


Menunjukkan tes HIV yang positif, dan sekurang-kurangnya didapatkan

2 gejala mayor dan 2 gejala minor dibawah ini dengan ibu HIV positif dan
gejala tersebut bukan disebabkan oleh keadaan lain yang tidak berkaitan
dengan infeksi HIV.
o Gejala mayor :
1. Berat badan menurun atau gagal tumbuh
2. Diare terus menerus atau berulang dalam waktu lebih dari 1 bulan
3. Demam terus menerus atau berulang dalam waktu lebih dari 1
bulan
4. Infeksi saluran pernafasan bagian bawah yang parah atau menetap
o Gejala minor :
1. Limfadenopati generalisata atau hepatosplenomegali
2. Kandidiasis oral atau tenggorokan
3. Infeksi bakteri dan/atau virus yang berulang (misalnya otitis media
akut, faringitis
4. Batuk kronis
5. Dermatitis yang luas
6. Ensefalitis.
Manifestasi lain yang mungkin timbul tetapi tidak termasuk dalam
kriteria

diagnosis,

perkembangan,

antara

pembesaran

lain

masalah

kelenjar

parotis

persarafan,
pada

keterlambatan

kedua

sisi,

abses

berulang, meningitis dan herpes simplex yang berulang dan persisten.

26

o PENATALAKSANAAN INFEKSI HIV


A. PENCEGAHAN
Menghindari Faktor Risiko
Menghindari faktor-faktor risiko tersebut antara lain dengan cara12:
1. A = Abstinence (jauhi seks), maksudnya menghindari hubungan
seksual di luar pernikahan dengan siapapun.
2. B = Be faithful (setia dengan pasangan), maksudnya hindari bergantiganti pasangan dalam melakukan hubungan seksual.
3. C = condom, pakailah kondom setiap melakukan hubungan seksual
penetratif (terutama bagi lesbian yang menggunakan alat-alat bantu)
yaitu melakukan hubungan kelamin, baik secara anal, vaginal maupun
oral. Karena kondom dapat mencegah pertukaran cairan tubuh yang
mungkin mengandung HIV.
4. Hindari hubungan dengan tuna susila (wanita maupun pria) meskipun
di daerah yang dikatakan bebas AIDS. Kita tidak dapat mengetahui
apakah seseorang mengidap AIDS dari penampilannya saja. Orang
yang terinfeksi virus AIDS seringkali merasa sehat dan dari luar
tampak sehat.
5. Perhatikan cara sterilisasi bila kita menggunakan alat-alat seperti
jarum, jarum suntik, alat tusuk untuk tato, tindik. Hindari perilaku
pemakaian jarum suntik secara bergantian atau bersamaan.
Peranan konseling tes HIV sangat diperlukan melihat banyaknya faktorfaktor risiko untuk terjadinya HIV-AIDS. Konseling dan tes HIV sebaiknya
dilakukan oleh setiap pasangan.
Konseling dan tes

HIV sukarela

atau sering disebut Voluntary

counseling and testing (VCT) adalah kegiatan melakukan konseling dan tes
HIV secara sukarela atas kemauan pasien sendiri. Di dalam VCT ada 2
kegiatan utama yaitu konseling dan tes HIV. Konseling dalam rangka VCT
terutama dilakukan sebelum dan sesudah tes HIV.. Konseling setelah tes HIV
27

dapat dibedakan menjadi dua yakni konseling untuk hasil tes positif dan
konseling untuk hasil tes negatif. Namn demikian sebenarnya masih banyak
jenis konseling lain yang sebenarnya perlu diberikan kepada pasien
berkaitan dengan hasil VCT yang positif, seperti konseling pencegahan,
konseling kepatuhan berobat, konseling keluarga, konseling berkelanjutan,
konseling menghadapi kematian dan konseling untuk masalah psikiatris yang
menyertai klien/keluarga dengan HIV-AIDS.12
Meskipun VCT adalah sukarela namun utamanya diperuntukkan bagi
orang-orang yang sudah terinfeksi HIV-AIDS dan keluarganya, atau semua
orang yang mencari pertolongan karena merasa telah melakukan tindakan
berisiko di masa lalu dan mereka yang tidak mencari pertolongan namun
berisiko tinggi.12

28

Ada beberapa prinsip yang harus dipatuhi dalam pelayanan VCT, yakni :
a. Dilakukan dengan sukarela, tanpa paksaan
b. Dengan persetujuan klien (informed consent)
c. Adanya proses konseling
d. Tidak boleh dilakukan tanpa adanya konselor atau dilakukan diamdiam
e. Tes dilakukan dengan menjaga kerahasiaan
Bagaimana jika prinsip-prinsip di atas dilanggar?UNAIDS dan pihak
terkait merekomendasikan seseorang boleh menolak tes HIV jika12:
a.
b.
c.
d.

Mendapatkan tekanan
Tanpa adanya persetujuan dari pasien sendiri.
Tanpa melalui proses konseling
Kerahasiaan tidak terjamin
Pada wanita hamil deteksi dini infeksi HIV tergantung saat yang tepat

seorang

wanita

mengetahui

status

HIV

nya.

Sehingga

perlu

di

pertimbangkan peran konseling dan tes HIV bagi ibu hamil. Dukungan
psikososial sangat penting untuk wanita yang diidentifikasi sebagai penderita
HIV semasa kehamilan yang secara emosional akan terganggu.
1. Kapan, dimana dan bagaimana konseling dan tes HIV sukarela
dilaksanakan para ibu hamil ?
Sejak pertama kali seorang perempuan dirinya hamil dan mengunjungi
bidan, puskesmas, klinik bersalin, bagian kebidanan rumah sakit, maupun
dokter kandungan untuk memeriksakan kandungannya maka disaat itulah
peranan konselor, petugas kesehatan, dan para penolong persalinan untuk
memberikan

informasi

dan

pendidikan

HIV/AIDS.

Informasi

mengenai

HIV/AIDS sangatlah tepat disisipkan pada kunjungan pemeriksaan kehamilan


tersebut. Setelah mendapat penyuluhan dan konseling, tes HIV secara
29

sukarela

juga

dapat

disertakan

atas

persetujuan

ibu

dalam

paket

pemeriksaan darah lainnya.12


2. Konseling pra dan pasca tes HIV
Konseling pra dan pasca tes bagi perempuan hamil menyangkut beberapa
hal di bawah ini12 :
a. Konseling pra tes
o Informasi mengenai penularan HIV melalui hubungan seksual
dan bagaimana mencegahnya
o Informasi mengenai penularan HIV dari ibu ke anak dan
bagaimana penanggulangannya
o Jaminan kerahasiaan dan bagaimana mendiskusikan kerahasiaan
dan kemungkina konseling bagi pasangan
o Implikasi dari tes negatif : termasuk program promosi menyusui
dengan ASI
o Implikasi dari tes positif : keuntungan dan kerugiannya intervensi
yang di pilih
b. Konseling pasca tes
Hasil tes negatif :
o Informasi untuk mencegah penularan masa depan
o Dianjurkan untuk melakukan tes kembali
o Promosi ASI eksklusif kepada ibu hamil yang tidak terdeteksi HIV
Hasil tes positif :
o

Informasi

mengenai

piliha-pilihan

untuk

terapi

termasuk

pengobatan untuk dirinya dan untuk pencegahan penularan ke


bayi. Perlu juga di ketahui mengenai kondisi keuangan dan harga
terapi anti retrovirus.
o Konseling yang menyangkut
dukungan

finansial

untuk

pilihan-pilihan

susu

formula,

pemberian
ada

stigma

ASI,
dari

masyarakat dan keluarga.


30

o Informasi
o

dan

konseling

kehamilan masa depan.


Konseling pemberitahuan

mengenai
pada

KB

dan

pasangan

kemungkinan
dan

masalah

kerahasiaan Informasi dan layanan rujukan untuk dukungan,


perawatan, pengobatan juga persalinan.

31

B. Pemberian Antiretrovirus (ART)


Antiretrovirus direkomendasikan untuk semua wanita yang terinfeksi
HIV-AIDS yang sedang hamil untuk mengurangi resiko transmisi perinatal.
Hal ini berdasarkan bahwa resiko transmisi perinatal meningkat sesuai
dengan kadar HIV ibu dan resiko transmisi dapat diturunkan hingga 20%
dengan terapi antiretrovirus. 1,3
Tujuan

utama

pemberian

antiretrovirus

pada

kehamilan

adalah

menekan perkembangan virus, memperbaiki fungsi imunologis, memperbaiki


kualitas hidup, mengurangi morbiditas dan mortalitas penyakit yang
menyertai HIV.13 Pada kehamilan, keuntungan pemberian antiretrovirus ini
harus dibandingkan dengan potensi toksisitas, teratogenesis dan efek
samping jangka lama. Akan tetapi, efek penelitian mengenai toksisitas,
teratogenesis, dan efek samping jangka lama antiretrovirus pada wanita
hamil masih sedikit. Efek samping tersebut diduga akan meningkat pada
pemberian kombinasi antiretrovirus, seperti efek teratogenesis kombinasi
antiretrovirus dan antagonis folat yang dilaporkan Jungmann, dkk. Namun
penelitian terakhir oleh Toumala, dkk menunjukkan bahwa dibandingkan
dengan monoterapi, terapi kombinasi antiretrovirus tidak meningkatkan
resiko

prematuritas,

berat

badan

lahir

rendah

atau

kematian

janin

intrauterine. Kategori Food and Drug Administration (FDA) tentang ART dapat
dilihat pada table 2. 6,7
A. Monoterapi Zidovudine
Obat antiretrovirus yang pertama kali diteliti untuk mengurangi resiko
transmisi

perinatal

adalah

zidovudin

(ZDV).

Pada

Pediatric

Virology

Committee of the AIDS Clinical Trials Group (PACTG) 076, zidovudin yang
diberikan peroral mulai minggu ke-14 kehamilan, dilanjutkan zidovudin

32

intravena pada saat intrapartum untuk ibu, diikuti dengan zidovudin sirup
yang diberikan pada bayi sejak usia 6-12 jam sampai 6 minggu.1,7
Tabel 5.1. Regimen pemberian Zidovudine berdasarkan PACTG
076
Antepartum : Zidovudine oral dari kehamilan 14-34 minggu 5x100mg/hari
Intrapartum : Zidovudine intravena, dosis awal 2mg/kgBB/jam, dilanjutkan
infus 1mg/kgBB sampai 1 hari setelah melahirkan
Postpartum : Zidovudine sirup, 2 mg/kgBB, dimulai 8-12 jam postpartum
dan diteruskan sampai 6 minggu
Pada penelitian ini bayi tidak mendapat air susu ibu. Cara ini ternyata
efektif menurunkan transmisi perinatal dari 25,5% pada kelompok kontrol
menjadi 8,3%. Penelitian ini kemudian dilanjutkan dengan PACTG 185 yang
menambahkan imunoglobulin spesifik HIV intravena yang diberikan tiap
bulan pada ibu mulai minggu ke 20 - 30 hingga persalinan, kemudian
dilanjutkan pemberian pada bayi dalam 12 jam pertama. Namun ternyata
hiperimunoglobulin tidak memberikan efek protektif tambahan seperti yang
diharapkan.
Kesulitannya, protokol PACTG 076 ini cukup rumit, membutuhkan
kepatuhan yang baik dan memerlukan biaya yang besar. Penelitian
retrospektif oleh Wade, dkk di New York menunjukkan kepatuhan orang
dengan HIV-AIDS mengikuti protokol ini seringkali tidak komplit. Transmisi
yang terjadi 6,1% jika terapi dimulai antepartum, 10,0% jika dimulai
intrapartum dan 5,9% jika hanya diberikan pada bayi dalam 12 jam pertama.
Jika zidovudin baru diberikan setelah usia 48 jam, kejadian transmisi menjadi
lebih tinggi 18,4%.1

33

Beberapa penelitian mencoba menggunakan zidovudin dalam jangka


waktu yang lebih singkat dengan regimen yang lebih sederhana dan murah.
Makin

lama

penggunaan

antiretrovirus,

makin

besar

kemungkinan

penurunan resiko transmisi HIV. Joao, dkk mengungkapkan pada bayi yang
tidak tertular HIV, rata-rata lama penggunaan antiretrovirus pada ibunya
16,63 minggu dibandingkan dengan lama penggunaan antiretrovirus ibu
6,28 minggu pada kelompok bayi yang tertular HIV. 1
Selain monoterapi dengan zidovudin, regimen lain yang sudah diteliti
alah monoterapi dengan nevirapin dan terapi kombinasi zidovudin dan
lamivudin. Lallement, dkk juga sedang meneliti kombinasi zidovudin dan
nevirapin. 1
Saat ini di Indonesia beberapa antiretrovirus tersebut sudah tersedia
dalam bentuk generik dengan harga yang lebih murah antara lain zidovudin,
lamivudin, nevirapin dan stavudin.1
B. Nevirapin
Dapat diberikan dosis tunggal 200 mg bagi ibu pada saat melahirkan
disertai pemberian nevirapin 2 mg/kgBB dosis tunggal bagi bayi pada usia 2
atau 3 hari. Selain karena harga obat generiknya yang cukup murah,
seringkali

wanita

hamil

terinfeksi

HIV-AIDS

baru

dating

pada

saat

melahirkan.1
Tabel 5.2. Kategori FDA antiretrovirus untuk digunakan pada
kehamilan1,7
Golongan

Obat

Kategori FDA

34

C
C
B
C
C
C
B
C
C
C
C
B
B
B
C
C

Nukleosida
Reverse o Zidovudin/ZDV/AZT
Transcriptase Inhibitor (NRTI) o Zalsitabin/ddC
o Didanosin/ddl
o Stavudin/d4T
o Lamivudin/3TC
o Abacavir/ABC
o Tenofovir/DF
Non
Nukleosida
Transcriptase
(NNRTI)

Reverse o Nevirapin
Inhibitor o Delavirdin

Protease Inhibitor (PI)

Golongan lain

o
o
o
o
o
o
o

Efavirenz
Indinavir
Ritonavir
Saquinavir
Nelvinafir
Amprenavir
Lopinavir

Hidroksiurea

Keterangan :
Kategori B : Tidak terdapat resiko untuk janin pada penelitian pada
hewan, namun belum terdapat penelitian pada wanita hamil; atau penelitian
pada hewan menunjukkan efek samping yang yang tidak sesuai dengan
penelitian kontrol pada wanita hamil trisemestar pertama (dan tidak beresiko
pada trisemester berikutnya).
Kategori C : Pada penelitian hewan ditemukan efek samping pada
janin (teratogenik atau embrisiodal atau lainnya) dan belum terdapat
penelitian kontrol pada wanita hamil atau belum terdapat penelitian efek
samping obat pada hewan ataupun wanita hamil. Obat kategori ini hanya
diberikan jika keuntungannya melebihi resiko potensial pada janin.
Kategori D : Terdapat bukti positif resiko efek samping pada janin
manusia,

namun

keuntungan

pada

wanita

hamil

dapat

diterima

dibandingkan resikonya terutama untuk penyelamatan jiwa.


Berdasarkan penelitian-penelitian Perinatal HIV Guidelines Working
Group di Amerika Serikat mengajukan rekomendasi pemberian antiretrovirus.

35

Rekomendasi ini tidak berbeda dengan yang direkomendasikan British HIV


Association. Rekomendasi yang dianjurkan yaitu : 1,7
1. Situasi kehamilan : Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang
belum pernah menggunakan antiretrovirus sebelumnya.
Rekomendasi : Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS menjalani
pemeriksaan klinis, imunologis dan virologis standar. Pertimbangan inisiasi
dan pemilihan antiretrovirus sama dengan wanita yang terinfeksi HIV-AIDS
yang tidak hamil dengan pertimbangan efek terhadap kehamilan.
Regimen zidovudin tiga bagian seperti tercantum dalam tabel 5.1,
direkomendasikan setelah trimester pertama tanpa memandang kadar HIV
ibu. Regimen kombinasi direkomendasikan pada wanita hamil yang terinfeksi
HIV-AIDS yang status klinis, imunologis, dan virologisnya berat atau kadar
HIV > 1000 kopi/mL. Jika wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS datang pada
trimester pertama kehamilan, pemberian antiretrovirus dapat ditunda
sampai usia kehamilan 10-12 minggu.
2. Situasi Kehamilan : Wanita hamil yang terinfeksi HIV- AIDS yang
sedang mendapatkan antiretrovirus.
Rekomendasi : Jika kehamilan diketahui setelah trimester pertama,
terapi antiretrovirus sebelumnya diteruskan, sebaiknya dengan menyertakan
zidovudin.
Jika kehamilan diketahui pada trimester pertama, wanita hamil yang
terinfeksi HIV- AIDS diberikan konseling tentang keuntungan dan resiko
antiretrovirus pada trimester pertama. Jika wanita hamil yang terinfeksi HIV
AIDS memilih menghentikan antiretrovirus selama trimester pertama, semua
obat harus dihentikan untuk kemudian diberikan secara simultan setelah
trimester

pertama

untuk

mencegah

resistensi

obat.

Tanpa

36

mempertimbangkan

regimen

sebelumnya,

zidovudin

dianjurkan

untuk

diberikan selama intrapartum dan pada bayi.


3. Situasi Kehamilan : Wanita hamil yang terinfeksi HIV- AIDS datang
pada saat persalinan dan belum mendapat antiretrovirus.
Rekomendasi : Ada beberapa regimen yang dianjurkan :
o Nevirapin dosis tunggal pada saat persalinan dan dosis tunggal pada bayi
pada usia 48 jam
o Zidovudin dan lamivudin oral pada persalinan, diikuti zidovudin/lamivudin
pada bayi selama seminggu
o Zidovudin intravena intrapartum, diikuti zidovudin pada bayi selama 6
minggu
o Dua dosis nevirapin dikombinasi dengan zidovudin intravena selama
persalinan diikuti zidovudin pada bayi selama 6 minggu.
Segera setelah persalinan, wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS
menjalani pemeriksaan seperti CD4 dan kadar HIV untuk menentukan
apakah antiretrovirus akan dilanjutkan.
4. Situasi Kehamilan : Jika bayi dari ibu wanita hamil yang terinfeksi
HIV-AIDS

datang

setelah

persalinan,

sedangkan

ibu

belum

mendapatkan antiretrovirus selama kehamilan atau intrapartum.


Rekomendasi : Zidovudin sirup diberikan pada bayi selama 6 minggu,
dimulai secepatnya dalam 6-12 jam setelah kelahiran.
Beberapa
antiretrovirus

dokter

lain,

dapat

terutama

memilih
jika

ibunya

kombinasi
diketahui

zidovudin
resisten

dengan
terhadap

zidovudin. Namun, efikasi regimen ini belum diketahui dan dosis untuk anak
belum sepenuhnya diketahui.

37

Segera setelah persalinan, wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS


menjalani pemeriksaan seperti CD4 dan kadar HIV untuk menentukan
apakah

antiretrovirus

akan

dilanjutkan.

Bayi

menjalani

pemeriksaan

diagnostik awal agar antiretrovirus dapat diberikan sesegera mungkin jika


ternyata HIV positif.
PENATALAKSANAAN OBSTERIK
Untuk mengurangi resiko transmisi HIV yang terutama terjadi pada
saat intrapartum, beberapa peneliti mencoba membandingkan transmisi
antara wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang menjalani seksio sesarea
dengan partus pervaginam. Persalinan dengan seksio sesarea dipikirkan
dapat

mengurangi

paparan

bayi

dengan

cairan

servikovaginal

yang

mengandung HIV.3
Penelitian

awal

dari

European

Collaborative

Study

melaporkan

transmisi HIV yang lebih rendah pada wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS
yang menjalani seksio sesarea dibandingkan partus pervaginam (11,7 %
dibandingkan 17,6 % ) tanpa membedakan seksio elektif dan seksio
emergensi.

Namun,

ternyata

penelitian-penelitian

selanjutnya

tidak

menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik. Women and


Infants Transmission Study mengemukakan bahwa lamanya ketuban pecah
sebelum

persalinan

lebih

bermakna

daripada

seksio

sesarea

untuk

menurunkan transmisi vertikal ( resiko relatif 1,81 dibandingkan 1,13 ). 1


Selanjutnya beberapa penelitian membandingkan resiko transmisi
pada partus pervaginam, seksio sesarea emergensi dan seksio elektif.
European

Mode

of

Delivery

Collaboration

membandingkan

transmisi

perinatal pada wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang melahirkan


pervaginam dan seksio sesarea elektif. Ternyata seksio sesarea elektif dapat
menurunkan resiko transmisi hingga 80 % dibandingkan partus pervaginam
(1,8 % dibandingkan 10,5%). Demikian juga hasil metaanalisis dari the
38

International Perinatal HIV Group terhadap 15 penelitian dengan lebih dari


8000 sampel di berbagai negara. 1
Seksio sesarea elektif akan lebih bermakna jika disertai dengan
pemberian antiretrovirus. Resiko transmisi akan berkurang sekitar 87 %.
Karena itu, saat ini seksio sesarea dianggap hanya mempunyai efek proteksi
parsial terhadap transmisi HIV vertikal.14
Untuk lebih mengurangi kemungkinan transmisi intrapartum, Towers,
dkk mencoba teknik seksio sesarea dengan perdarahan minimal. Namun,
pada penelitian tersebut tersebut ternyata efek seksio sesarea dengan
perdarahan

minimal

hampir

sama

dengan

pemberian

antiretrovirus

(transmisi HIV 6,3 % dibanding 7,9 %). Cara ini mungkin dapat menjadi
alternatif pada ibu yang tidak mendapat terapi antiretrovirus. 1
Namun, pertimbangan untuk melakukan seksio sesarea tanpa indikasi
obstetric lain harus dilakukan dengan hati-hati, mengingat komplikasi seksio
yang mungkin terjadi pada wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS, terutama
pada stadium lanjut. Laporan PACTG 185 menyebutkan bahwa komplikasi
minor seksio sesarea seperti endometritis, infeksi luka, dan infeksi traktus
urinarius lebih banyak terjadi pada wanita yang terinfeksi HIV-AIDS
dibandingkan dengan kelompok non-HIV. Namun, tidak ada perbedaan
kejadian komplikasi mayor seperti pneumonia, efusi pleura, ataupun sepsis. 1
Selain seksio sesarea, berbagai cara telah dicoba untuk menurunkan
resiko transmisi intrapartum pada wanita yang terinfeksi HIV-AIDS . Salah
satunya adalah pencucian jalan lahir dengan kassa yang direndam dengan
0,25% klorheksidin. Ternyata cara ini tidak dapat mengurangi resiko
transmisi partus pervaginam. 1

39

Perinatal HIV Guidelines Working Group di Amerika Serikat mengajukan


rekomendasi penatalaksanaan obstetrik untuk mengurangi transmisi HIV
vertikal. Rekomendasi yang dianjurkan adalah: 1
1. Cara Persalinan : Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang datang
pada kehamilan di atas 36 minggu, belum mendapat antiretrovirus,
dan sedang menunggu hasil pemeriksaan kadar HIV dan CD4 yang
diperkirakan adasebelum persalinan.
Rekomendasi : Ada beberapa regimen yang harus didiskusikan dengan
jelas. Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS harus mendapat terapi
antiretrovirus seperti regimen PACTG 076. Wanita hamil yang terinfeksi HIVAIDS dilakukan konseling tentang seksio sesarea untuk mengurangi resiko
transmisi dan resiko komplikasi pascaoperasi, anestesi, dan resiko operasi
lain padanya. Jika diputuskan seksio sesarea, seksio direncanakan pada
minggu ke-38 kehamilan,. Selama seksio, wanita hamil yang terinfeksi HIVAIDS mendapat zidovudin intravena yang dimulai 3 jam sebelumnya, dan
bayi

mendapat

zidovudin

sirup

selama

minggu.

Keputusan

akan

meneruskan antiretrovirus setelah melahirkan atau tidak tergantung pada


hasil pemeriksaan kadar virus dan CD4.
2. Cara Persalinan : Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang datang
pada kehamilan awal, sedang mendapat kombinasi antiretrovirus, dan
kadar HIV tetap di atas 1000 kopi/mL pada minggu ke 36 kehamilan.
Rekomendasi

Regimen

antiretrovirus

yang

digunakan

tetap

diteruskan. Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS harus mendapat konseling


bahwa kadar HIV-nya mungkin tidak turun sampai kurang dari 1000 kopi/mL
sebelum persalinan, sehingga dianjurkan untuk melakukan seksio sesarea.
Demikian juga dengan resiko komplikasi seksio yang meningkat, seperti
infeksi pascaoperasi, anestesi, dan operasi. Jika diputuskan seksio sesarea,
seksio direncanakan pada minggu ke-38 kehamilan. Selama seksio, wanita
40

hamil yang terinfeksi HIV-AIDS mendapat zidovudin intravena yang dimulai


minimal 3 jam sebelumnya. antiretrovirus lain tetap diteruskan sebelum dan
sesudah persalinan. Bayi mendapat zidovudin sirup selama 6 minggu.
3. Cara Persalinan : Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang sedang
mendapat kombinasi antiretrovirus, dan kadar HIV tidak terdeteksi
pada minggu ke 36 kehamilan.
Rekomendasi : Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS diberikan
konseling bahwa kemungkinan transmisi jika kadar HIV tidak terdeteksi
mungkin kurang dari 2 %, bahkan pada persalinan pervaginam. Pemilihan
cara persalinan harus mempertimbangkan keuntungan dan resiko komplikasi
seksio.
4. Cara Persalinan : Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang sudah
direncanakan seksio sesarea elektif, namun datang pada awal
persalinan atau setelah ketuban pecah.
Rekomendasi : Zidovudin intravena segera diberikan. Jika kemajuan
persalinan cepat, wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS ditawarkan untuk
menjalani persalinan pervaginam. Jika dilatasi serviks minimal dan diduga
persalinan akan berlangsung lama, dapat dipilih antara zidovudine intravena
dan melakukan seksio sesarea atau memberikan pitosin untuk mempercepat
persalinan.

Jika

diputuskan

untuk

menjalani

persalinan

pervaginam,

elektrode kepala, monitor invasive dan alat bantu lain sebaiknya dihindari.
Bayi sebaiknya mendapat zidovudin sirup selama 6 minggu.
PENATALAKSANAAN PASCA PERSALINAN
I. Pemberian Air Susu Ibu
Penularan HIV melalui air susu ibu diketahui merupakan faktor penting
transmisi pasca persalinan dan meningkatkan resiko transmisi dua kali lipat.
41

Miotti,

dkk

pada

penelitian

di

Malawi

membuktikan

air

susu

ibu

meningkatkan insidens transmisi HIV 0,7% per bulan pada usia 0 sampai 5
bulan; 0,6% pada usia 6-11 bulan; 0,3% per bulan pada usia 12-17 tahun.
Penelitian di Nairobi yang membandingkan bayi dari ibu dengan HIV yang
disusui dengan air susu ibu dibandingkan dengan susu formula menunjukkan
probabilitas kumulatif infeksi HIV pada usia 24 bulan 36,7% dibandingkan
20,5%. Namun angka kematian setelah 2 tahun pada kedua kelompok
ternyata sama. Penelitian Leroy, dkk di berbagai negara menyebutkan resiko
transmisi HIV melalui air susu ibu yang diperkirakan adalah 3,2 per 100
anak-tahun. 1,10
Di negara maju, upaya untuk menghindari menyusui bayi dari ibu
penderita HIV seperti yang dianjurkan tidak mengalami kendala. Namun, hal
tersebut sulit dilakukan di negara berkembang mengingat keterbatasan dana
untuk membeli susu formula, kesulitan mencari air bersih dan menyediakan
botol yang bersih, selain norma-norma di masyarakat tertentu.
Ternyata tidak selamanya susu formula lebih efektif daripada air susu
ibu

untuk

mencegah

penularan

HIV,

tetapi

tergantung

dari

cara

pemberiannya. Penelitian Coutsoudis, dkk di Afrika Selatan menunjukkan


bahwa bayi yang mendapat air susu eksklusif selama 3 bulan mempunyai
resiko transmisi HIV lebih rendah (14,6%) dibandingkan dengan bayi yang
mendapat air susu formula dan air susu ibu (24,1%), bahkan menyamai
resiko pemberian susu formula saja. Hal ini diperkirakan karena air dan
makanan terkontaminasi yang diberikan pada bayi yang menerima dua
macam susu tersebut merusak usus bayi, sehingga HIV dari air susu ibu
dapat masuk ke tubuh bayi. 1,10
Karena hal-hal tersebut, WHO, Unicef dan UNAIDS mengeluarkan
rekomendasi untuk menghindari air susu ibu yang terkena HIV jika alternatif
susu lain tersedia dan aman. Pada bayi yang terinfeksi HIV in utero, air susu
ibu eksklusif dianjurkan kecuali jika keadaan ibu yang tidak memungkinkan.
42

Keadaan penyakit ibu juga perlu diperhatikan karena wanita yang terinfeksi
HIV-AIDS menyusui mempunyai resiko kematian yang lebih tinggi daripada
yang tidak menyusui. 3,10
II. Pilihan Untuk Hamil Pada Wanita Yang Terinfeksi HIV-AIDS
Seperti

yang

sudah

ditunjukkan

berbagai

penelitian

dengan

antiretrovirus, penatalaksanaan obstetrik yang tepat dan pemilihan susu


yang sesuai, kemungkinan transmisi HIV dari ibu ke bayinya dapat dikurangi,
namun tidak dapat sama sekali dihilangkan. Selain itu, intervensi-intervensi
ini belum tersedia luas di negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Banyak wanita hamil yang belum menjalani konseling yang sesuai, serta
pelayanan antenatal dan obstetrik di tempat-tempat yang menyediakan
antiretrovirus. Karena itu, timbul pertanyaan apakah keinginan wanita yang
terinfeksi HIV-AIDS dan pasangannya untuk mempunyai keturunan sendiri
lebih penting daripada resiko menularkan penyakit serius seperti HIV kepada
bayinya? 1,14
Selain kemungkinan tertular HIV, anak yang dilahirkan wanita yang
terinfeksi HIV-AIDS juga mempunyai kemungkinan menjadi yatim piatu pada
usia muda karena kematian ibunya akibat AIDS. Kematian orangtuanya
akibat

AIDS

akan

menyebabkan

anak

berada

pada

situasi

yang

membahayakan. Anak yang tidak mempunyai orang tua lagi cenderung


menjadi malnutrisi dan terlambat tumbuh kembangnya dibandingkan
dengan anak yang dibesarkan dengan orang tua. Mereka juga cenderung
kurang mendapatkan pendidikan dan layanan kesehatan dibandingkan anak
lainnya. Belum lagi akibat isolasi sosial dari masyarakat karena dilahirkan
dari ibu yang terinfeksi HIV-AIDS. 14
Seseorang dengan HIV-AIDS yang mempunyai pasangan sebaiknya
menjalani konseling tentang pilihan reproduksi mereka, apakah mempunyai
anak atau tidak. Selanjutnya, keputusan tetap di tangan mereka. Alternatif
43

terbaik adalah tidak mempunyai anak atau adopsi. Namun, jika pasangan
suami istri tersebut memutuskan untuk mempunyai anak sendiri dengan
kemungkinan infeksi yang sudah disadari, pasangan tersebut sebaiknya
pergi ke fasilitas kesehatan yang menyediakan konseling. Evaluasi, terapi
dan pemantauan penularan perinatal HIV. Beberapa alternatif yang dapat
dilakukan adalah pemakaian antiretrovirus, inseminasi dan pencucian
sperma bagi suami, operasi seksio sesarea dan tidak menyusui bayi.12
Pencegahan

dan

Penatalaksanaan

Infeksi

Oportunistik

Selama Kehamilan
Infeksi oportunistik

terjadi

karena

kekebalan tubuh

yang amat

menurun. Pola infeksi oportunistik berbeda di berbagai negara tergantung


pola mikroba yang ada dalam tubuh atau lingkungan penderita. Infeksi ini
dapat disebabkan oleh kuman yang semula komensal, reaktivasi kuman atau
parasit yang telah ada dalam tubuh pasien atau infeksi baru. 1,3
Terapi

profilaksis

dan

terapi

terhadap

infeksi

Mycobacterium

tuberculosis, pneumocystis carinii, M avium complex, Toxoplasma gondii dan


virus Herpes simplex pada wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS tidak
berbeda dengan wanita terinfeksi HIV-AIDS yang tidak hamil. Namun
profilaksis primer terhadap infeksi sitomegalovirus, kandida dan infeksi
jamur invasif tidak dianjurkan secara rutin mengingat toksisitas obatnya.
Flukonazol misalnya, diketahui dapat menyebabkan deformitas skeletal dan
kraniofasial pada pemakaian jangka lama selama kehamilan. Vaksinasi
hepatitis B, influenza dan pneumokokus tetap dapat diberikan selama
kehamilan. Sebaiknya vaksinasi tersebut diberikan sesudah kadar HIV turun
sampai tidak terdeteksi untuk mencegah peningkatan kadar HIV RNA setelah
vaksinasi. 1,4
PROGNOSIS

44

Prognosis HIV-AIDS menyangkut masa lamanya AIDS, kemungkinan


terjadi komplikasi, harapan terjadi kesembuhan, angka keberhasilan hidup,
angka kematian dan kemungkinan-kemungkinan lainnya yang menyangkut
prognosis dari HIV-AIDS. 10
Prognosis untuk HIV-AIDS pada beberapa tahun terakhir ini, angka
prognosis telah meningkat secara signifikan, hal ini karena adanya obatobatan yang baru, dan penyuluhan dalam hal-hal yang berhubungan dengan
pencegahan. Angka rata-rata keberhasilan hidup sekarang ini adalah 35,7
tahun dan di California Utara 37,9 tahun. Angka kematian HIV adalah 15.245
kematian pada tahun 2000 dan di Amerika pada tahun 1999 dilaporkan
terjadi kematian sekitar 14.802. 10
Infeksi HIV pada bayi menyebutkan prognosis yang sangat buruk
dengan angka harapan hidup setelah didiagnosis 9,4 bulan. Namun
penelitian selanjutnya menunjukkan angka harapan hidup yang lebih baik
(median 60-120 bulan). Tanpa obat pencegahan, dua pertiga bayi yang
tertular HIV dari ibunya tetap asimptomatik sampai usia sekolah dan
perjalanan penyakitnya perlahan-lahan; 20-30% sisanya penyakit lebih
progresif dan sudah bermanifestasi pada tahun pertama. Infeksi oportunistik
yang berat seperti

pneumocystis

carinii, ensefalopati

dan gangguan

pertumbuhan sudah tampak pada bayi tersebut. 1


Para peneliti juga telah meneliti 2 jenis kelainan pada anak-anak yang
menderita HIV, sekitar 20% menderita penyakit yang serius pada tahun
pertama kehidupan, dan kebanyakan anak tersebut meninggal pada umur 4
tahun. Sekitar 80% anak yang terinfeksi HIV mempunyai angka progresivitas
yang rendah dan kebanyakan tidak menderita penyakit-penyakit yang serius
sebelum masuk sekolah sampai masa dewasa. Ada laporan dinegara Eropa
dimana anak-anak yang menderita HIV akan tetap hidup sampai umur 9
tahun. Penelitian lainnya kurang lebih 42 anak yang terinfeksi HIV, yang
mempunyai survival rate sampai umur 9 tahun ditemukan kurang lebih
45

seperempat anak tersebut tidak bergejala dengan sistem pertahanan tubuh


yang baik. 10
Pada wanita yang menderita infeksi HIV yang dideteksi secara awal
dan mendapat pengobatan yang sesuai akan bertahan hidup seperti pada
laki-laki. Pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan HIV
menunjukkan masa hidup yang lebih sebentar dibandingkan laki-laki. Hal ini
disebabkan karena pada wanita lebih jarang terdeteksi secara dini. Pada
analisis yang mengikutsertakan 4.500 orang dengan infeksi HIV, ternyata
perbandingan angka kematian antara wanita dan laki-laki adalah 3:1. Para
peneliti tidak dapat mengidentifikasikan alasan penyebab dari kematian
tersebut. Namun mereka menduga bahwa hal ini disebabkan karena akses
yang lebih sulit dalam menggunakan pelayanan kesehatan dibandingkan
dengan laki-laki, adanya kekerasan rumah tangga, tidak mempunyai tempat
tinggal dan kurangnya dukungan sosial yang merupakan faktor yang paling
penting. Pada orang yang lebih tua dengan HIV, hidupnya tidak selama
dibandingkan orang yang lebih muda. 10
Jika tidak ada pencegahan transmisi ibu ke anak dilaporkan terjadi
pada sekitar 25% kelahiran, dan bisa dikurangi sekitar 8% dengan
pengobatan antiretrovirus seperti zidovudine. Kombinasi terapi antiretroviral,
sectio caesarea, menghindari pemberian ASI akan lebih mengurangi resiko
transmisi ibu ke anak sekitar 1%. Di Inggris rata-rata transmisi ibu keanak
sekitar 19,6% pada tahun 1993 dan menurun sampai 22,2% pada tahun
1998. 10
Penelitian terbaru juga menegaskan bahwa suatu kehamilan tidak
mempunyai efek terhadap pertumbuhan AIDS, penyakit yang berhubungan
dengan AIDS atau terjadi imunosupresi yang berat sampai 1 tahun setelah
kelahiran ataupun aborsi. 10

46

Semakin cepat kita memulai pengobatan maka peluang untuk hidup


akan lebih lama.

47

BAB VII
KESIMPULAN
Penularan

HIV

dapat

melalui

hubungan

seksual,

terjadi

secara

horizontal maupun vertikal (dari ibu ke anak). Transmisi horisontal dapat


terjadi melalui darah (diantaranya transfusi darah atau produk darah yang
tercemar
kesehatan,

HIV,penggunaan
penggunaan

alat
alat

yang
yang

tidak
tidak

steril
steril

disarana

pelayanan

dilayanan

kesehatan

tradisional ) dan melalui hubungan seks (misalnya pelecehan seksual pada


anak, pelacuran anak ). Kurang lebih 10% penularan HIV terjadi melalui
transmisi horizontal. Dan yang cukup penting adalah penularan secara
vertikal dari ibu ke anak. Penularan vertikal dapat terjadi selama intra
uterine, intra partum maupun post partum.
Penatalaksanaan
dikembangkan

untuk

klinis

penyakit

menekan

HIV

transmisi

pada

secara

kehamilan
vertikal.

terus

Pemberian

antiretrovirus bertujuan untuk mengurangi viral load agar menjadi sangat


rendah atau dibawah tingkat yang dapat terdeteksi untuk jangka waktu yang
lama. Rekomendasi cara persalinan dikeluarkan oleh Perinatal HIV Guidelines
Working Group di Amerika Serikat untuk mengurangi transmisi HIV dari ibu
ke anak dan persalinan dengan seksio sesarea dipikirkan dapat mengurangi
paparan bayi dengan cairan servikovaginal yang mengandung HIV. Selain itu
WHO, Unicef dan UNAIDS mengeluarkan rekomendasi untuk menghindari air
susu ibu yang terkena HIV jika alternatif susu lain tersedia dan aman.
Cara yang efektif untuk mengurangi resiko penularan HIV dari ibu ke
anak tergantung pada saat kapan wanita tersebut mengetahui status HIVnya sehingga dapat ditentukan penatalaksanaannya secepat mungkin. Oleh

48

karena itu peranan konseling dan tes HIV bagi ibu hamil sangatlah penting
sebagai salah satu cara untuk deteksi dini terhadap infeksi HIV.

49

DAFTAR PUSTAKA
1. McFarland, Elizabeth J. Human Immunodeficiency Virus (HIV) Infection
in : Current Pediatric Diagnosis&Treatment. 16th edition. 2003.
McGraw&Hill Company. Singapore (1140-50).
2. Yunihastuti E, Wibowo N, Djauzi S, Djoerban Z. Kelompok Studi Kasus
AIDS FKUI/RSUPN dr.Ciptomangunkusumo. Infeksi HIV pada Kehamilan.
2003. FKUI. Jakarta (1 32).
3. Volderding A, Sande A.. The Medical Management of AIDS. 4th edition.
1995. WB Saunders Company. United State of America . (22-4, 614-32).
4. Behrman, Kliegman, Jenson. Acquired Immunodeficiency Syndrome
(Human Immunodeficiency Virus). in: Nelson Textbook of Pediatrics.
17th Edition. 2004. WB Saunders Company. Philadelpia. (1109-20).
5. Suwendra, Putu.. Human Immunodeficiency Virus. Dalam : Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Anak Infeksi&Penyakit Tropis. Edisi Pertama. 2001.
IDAI. Jakarta (281-301).
6. Maslow S. AIDS in Gynocology in Gynecology and Obstetrics Sciarra.
Volume 1 Edisi Revisi.1995. J.B Lippincott Company 46. Philadelphia (112).
7. Walker K, Stratton P. Human Immunodeficiency Virus (HIV) In Non
Pregnant Women in Text Book of Gynecology. 2th edition. 2000. WB
Saunders Company. United State of America (895 902).
8. Djauzi, Samsuridjal&djoerban, Zubairi. Penatalaksanaan Infeksi HIV di
Pelayanan Kesehatan Dasar. Edisi kedua. 2003. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.Jakarta (1, 3-4, 8-10, 19-20, 26-48).
9. Murati T P. Acquired Immunodeficiency Syndrome. Dalam Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi Ketiga. 1996. FKUI. Jakarta. (543-50).
10.
http://www.google.com . HIV and AIDS. 2002.
11.
Direktorat
Jenderal
Pemberantasan
Penyakit
Menular&Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI.. Pedoman
Nasional Perawatan, Dukungan dan Pengobatan Bagi ODHA. 2003.
Departemen Kesehatan RI Jakarta (4-6, 21-7, 68-104).
12.
http://www.google.com. Konseling HIV-AIDS. 2000
13.
Berek S. Human Immunodeficiency Virus (HIV). in Novaks
Gynecology. 13th edition. 2003. Lippincott William&Wilkins Wloter
Kluwer Company. Philadelpia (465-7).
14.
De Cherney H, Nathan L. Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Infection. in Current Obstetric&Gynecologyc Diagnosis&Treatment. 9th
Edition. Mc Graw-Hill Companies. United State (745-8).
15.
http://www.yahoo.com. Image. Genom dan protein HIV.
50

16.

http://www.yahoo.com. Image. Siklus Replikasi Virus HIV

51