Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN STUDI KASUS STASE ILMU PENYAKIT DALAM

RUMAH SAKIT ISLAM MALANG

Disusun untuk Memenuhi Tugas Clerkship

Oleh:
Indri Ari Ningtyas

(209.121.0034)

Pembimbing:
Dr. VH. Pratomo

KEPANITERAAN KLINIK MADYA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah,
serta inayah-nya kepada penyusun sehingga laporan studi kasus stase ilmu
penyakit dalam ini dapat diselesaikan sesuai dengan rencana yang diharapkan.
Tujuan penyusunan laporan ini adalah sebagai ujian kasus guna memenuhi
tugas Clerkship serta melatih keterampilan klinis dan komunikasi dalam
menangani kasus kedokteran keluarga secara holistik dan komprehensif.
Penyusun menyadari bahwa laporan makalah ini belum sempurna. Untuk
itu, saran dan kritik dari para dosen dan pembaca sangat diharapkan demi
perbaikan laporan ini. Atas saran dan kritik dosen dan pembaca, penyusun
ucapkan terima kasih.
Semoga Laporan Studi Kasus ini bermanfaat bagi dosen, penyusun,
pembaca serta rekan-rekan lain yang membutuhkan demi kemajuan ilmu
pengetahuan khususnya di bidang kedokteran.

Penyusun

Indri Ari Ningtyas

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR
...................................................................................................................
2
DAFTAR ISI
...................................................................................................................
3
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
.................................................................................................
4
I.2 Tujuan
.................................................................................................
4
I.3 Manfaat
.................................................................................................
5
BAB II LAPORAN KASUS
2.1 Anamnesa
...........................................................................................
6
2.2

Pemeriksaan

fisik

9
2.3

Pemeriksaan

penunjang

11
2.4

Diagnosis

Kerja

12
2.5

Penatalaksanaan
13

2.6

Kedokteran

Keluarga

13
BAB III TINJAUAN PUSTAKA
3.1
Anatomi
dan
Fisiologi
.................................................................................................
28
3.2

Patofisiologi

.................................................................................................
39
BAB V PEMBAHASAN
4.1

Dasar
Penegakan
Diagnosa
.................................................................................................
25

4.3

Dasar
Rencana
Penatalaksanaan
.................................................................................................

27
BAB VI PENUTUP
6.1
Kesimpulan
.................................................................................................
36
6.2
Saran
.......................................................................................................
36
DAFTAR
PUSTAKA
..............................................................................................................
37

LAPORAN STUDI KASUS STASE ILMU PENYAKIT DALAM

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Apendisitis akut adalah satu masalah kegawatdaruratan yang umum
didapat dimasyarakat. Insiden berkisar 1,5-1,9/1000 populasi perempuan dan lakilaki umumnya muncul pada dewasa muda, usia 20-30 tahun. Apendisitis terjadi
karena proses obstruksi di lumen apendiks, penyabab tersering adalah karena

penyumbatan kelenjar limfoid. Gejala dan tanda apendisitis akut adalah sakit perut
kuadran kanan bawah disertai mual, muntah, dan tidak nafsu makan.
Karena berlatar belakang tingginya insiden apendisitis dan kebutuhan
penegakan diagnosis yang cepat inilah, penulis mengangkat kasus ini sebagai
pembelajaran dalam upaya pendekatan kedokteran keluarga terhadap penanganan
apendisitis akut pada Nn.N
1.2 TUJUAN
Tujuan penyusunan laporan ini adalah untuk melatih keterampilan
berkomunikasi mahasiswa dalam berhadapan langsung dengan pasien, guna
mencari informasi sebanyak-banyaknya yang berhubungan dengan penyakit
pasien untuk menunjang diagnosis kasus penyakit dalam yang terjadi pada Nn.N,
dengan upaya pendekatan kedokteran keluarga yang bersifat holistik dan
komprehensif.
1.3 MANFAAT
1.

Manfaat Keilmuan
- Diharapkan makalah

ini

dapat

memberikan

tambahan

ilmu

pengetahuan tentang keluhan yang terjadi pada Nn.N antara lain


etiologi, patofisiologi, gejala dan tanda, komplikasi, prognosis, serta
penanganannya.

2. Manfaat Praktis
- Diharapkan dapat memberikan tambahan literatur dalam menghadapi
-

keluhan yang terjadi pada Nn.N


Sebagai media pembelajaran dan evaluasi terhadap aspek kedokteran
keluarga dalam penanganan serta pencegahannya

LAPORAN STUDI KASUS STASE ILMU PENYAKIT DALAM

BAB II
LAPORAN KASUS
2.1 IDENTITAS
2.1.1 Identitas Pasien
Nama

: Nn.N

Umur

: 18 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Jl. Gajayana no.50 malang

Agama

: Islam
6

Tanggal MRS

: 01 Oktober 2013

No. RM

: 15-68-69

2.1.1 Identitas orangtua


Identitas ayah
Nama ayah

: Tn.S

Umur

:-

Jenis kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan

: Petani

Pendidikan

: STM

Agama

: Islam

Alamat

: Dusun Gendilmalang, Blitar

Identitas ibu
Nama ibu

: Ny.S

Umur

:-

Jenis kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Petani

Pendidikan

: SD

Alamat

: Dusun Gendilmalang, Blitar


1. Keluhan Utama

: Diare lebih dari 10x

Harapan

: Diare menghilang dan mengatahui penyebabnya.

Kekhawatiran

: Penyakitnya parah.

Riwayat Penyakit Sekarang


Nn.N, 21 tahun datang dengan keluhan diare lebih dari 10 kali. Diare mulai
dirasakan sejak hari Kamis, 31 oktober 2013. Diare terus-menerus disertai
dengan mual, muntah dan pusing. Keluhan lain disangkal.
3. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat alergi obat


Riwayat magh
Riwayat alergi makanan
Hiperkolesterol

: (-)
: (-)
: (-)
: (-)

Diabetes mellitus
Hipertensi
Riwayat konstipasi
Riwayat diare

: (-)
: (-)
: (-)
: (+)

4. Riwayat Pengobatan

Riwayat MRS

: (-)

Riwayat operasi

: (-)

Riwayat konsumsi obat

: kotrimozazol, diagit, asam mefenamat,

sanmag
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat keluarga dengan penyakit serupa
: (-)
Riwayat gangguan saluran pencernaan pada keluarga
: (-)
Riwayat Alergi
: (-)
Riwayat DM
: (-)
Riwayat hipertensi
: (-)
6. Riwayat Gizi
Sehari-hari pasien makan 3 kali di warung sekitar kampusnya. Untuk jenis
makanan tidak terlalu diperhatikan, dan lebih sering memakan lalapan.
7. Riwayat Kebiasaan Pasien dan Keluarga
Riwayat merokok : (-)
Riwayat : (-)
Riwayat pengisian waktu luang

digunakan untuk beristirahat.


Olahraga : jarang

8. Riwayat Sosial Ekonomi


Ayah pasien dan ibu pasien bekerja sebagai petani dan orang tua pasien
sebagai anggota masyarakat biasa, tidak memiliki jabatan khusus di
masyarakat.
Review of Sistem
1

Kulit
2
3
4
5
6
7
8
9

: kulit gatal (-), bintik merah di kulit (-)


Kepala
: pusing (+), rambut rontok (-), luka (-), benjolan (-)
Mata
: merah (-/-), katarak (-/-)
Hidung
: tersumbat (-/-), mimisan (-/-), sekret/rhinorrea (-/-)
Telinga
: Cairan (-/-), nyeri (-/-)
Mulut
: Sariawan (-), mulut hiperemis (-)
Tenggorokan: Sakit menelan (-), serak (-), ada rasa tersendat (-)
Pernafasan : Sesak nafas (-), batuk (-), mengi (-)
Kardiovaskuler
: Berdebar-debar (-), nyeri dada (-),
8

10 Gastrointestinal

: Mual (+), muntah (+), diare (+),

nyeri perut (-), kembung (-)


11 Genitourinaria
: BAK normal
12 Neurologic
: Kejang (-), lumpuh (-), kaki
kesemutan (-)
13 Muskuluskeletal

a
b
c
d

: Kaku sendi (-), nyeri sendi (-), nyeri

otot (-)
14 Ekstremitas :
Atas kanan : bengkak (-), hangat (-), pucat (-), luka (-), dingin (-)
Atas kiri
: bengkak (-), hangat (-), pucat (-), luka (-), dingin (-)
Bawah kanan: bengkak (-),hangat (-), pucat (-), luka (-), dingin (-)
Bawah kiri : bengkak (-),hangat (-), pucat (-), luka (-), dingin (-)

2.3 PEMERIKSAAN FISIK


1. Keadaan Umum
Tampak sakit sedang (jalan membungkuk), kesadaran compos mentis
(GCS 456), status gizi kesan cukup.
2. Tanda Vital dan Status Gizi
Tanda Vital
Tensi

: 110/70 mmHg

Nadi

: 88 x/menit, reguler, isi cukup, simetris

Pernafasan

: - x/menit

Suhu

: -o C

Status gizi
Berat badan

: 63 kg

Panjang badan

: 171 cm

3. Kulit

: Ikterik (-), sianosis (-)

4. Kepala

DBN

5. Mata

Conjunctiva hiperemi

(-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor (-/-). Mata


cowong (-/-)
6. Hidung

Nafas cuping hidung

(-), sekret (-), epistaksis(-), deformitas hidung (-)

7. Mulut

Bibir pucat (-), bibir

kering (-), gusi berdarah (-)


8. Telinga

9. Tenggorokan

DBN
:

Tonsil membesar (-),

Trakea

pharing hiperemis (-)


10. Leher

ditengah,

pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran kelenjar


limfe (-)
11. Thoraks
Simetris, retraksi interkostal (-), retraksi subkostal (-)
- Cor :I : Ictus cordis tak tampak
P : Tidak dilakukan
P : Tidak dilakukan
A: BJ III intensitas normal, regular, bising (-)
- Pulmo:
I : Pengembangan dada kanan = kiri
P : Tidak dilakukan
P : Sonor / sonor
A: Suara dasar vesikuler

(+ /+ )

suara tambahan RBK (-/-), wheezing (-/-)


Abdomen
I :Dinding perut sejajar dengan dinding dada
A :Bising usus (-)
Pal :nyeri tekan (-)
Per :Meteorismus (-)
12. Sistem Collumna Vertebralis
I :Deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-)
P :Tidak dilakukan
P :Tidak dilakukan
13. Ektremitas: Tidak dilakukan
14. Pemeriksaan Neurologik
Fungsi Luhur

: Tidak dilakukan

10

Fungsi Vegetatif : Tidak dilakukan


Fungsi Sensorik : Tidak dilakukan
Fungsi motorik : Tidak dilakukan
Berdasarkan anamnesis dan data pemeriksaan fisik didapatkan:
Differential diagnosis/Diagnosis banding pada Nn.N adalah:
1. Apendisitis akut
2. Gastroenteritis
2. Urolitiasis dextra
3. Colesistitis akut
4. Pancreatitis akut

2.4 Pemeriksaan Penunjang


Hematologi
Pemeriksaan
-

Jumlah sel darah


Hemoglobin (g/dl)
-hematokrit (%)
-leukosit (ribu/uL)
-trombosit (ribu/uL)
-eritrosit (juta/uL)
-PDW (fL)
-MPV (fL)
-PCT (%)
Index
-MCV (%)
-MCH (pg)
-MCHC (%)
Differential
-Basofil (%)
-Eosinofil (%)
-Limfosit (%)
-Monosit (%)
-Netrofil (%)

02 Oktober 2013
(>)
(>)
(<)
(>)
-

USG Abdomen (Senin, 04 November 2013): didapatkan hasil apendisitis akut.

11

RESUME

Nn.N datang dengan keluhan diare lebih dari 10 kali (Jumat, 01


November 2013). Diare mulai dirasakan sejak hari Kamis, 31 Oktober
2013. Diare terus-menerus disertai dengan mual, muntah dan pusing.
Keluhan lain disangkal.

Pemeriksaan fisik Sdr. FS didapatkan Nyeri tekan (+)

Pemeriksaan laboratorium didapatkan leukosistosis, MCV menurun, pada


diff count basofil, monosit, dan netrofil mengalami peningkatan.

Sedangkan limfosit mengalami penurunan. LED meningkat.


USG: didapatkan hasil apendisitis perforasi letak retrocaecal.
*data rekam medik 17 Oktober 2013 RSI UNISMA

2.4 FLOW SHEET


Nama

: Sdr. FS

Diagnosis : Periapendikular Infiltrate


NO
1

Tanggal
17/10/2013

Vital Sign
-

Keluhan

Rencana

Nyeri perut
tembus ke
bagian
belakang
(punggung)

Profenid supp
Infus NS 35 tpm
Ranitidin 2x1 amp IV
Cefotaxim 2x1 amp
IV
Antrain
Urine lengkap
Darah lengkap
Faat hati dan ginjal
USG Abdomen
Faktor pembekuan
darah
Serologi darah (widal)

TD: 120/80
N: 88x/menit
S: -oC
Rr: -

12

12.30
(pre-op)

14.00
(post-op)

14.15
2

18/10/2013

TD: 120/70
N: 92x/menit
S: 37C
Rr:99% (PO2)
TD: 110/70
N: 84x/menit
S: 36C
Rr:99% (PO2)
TD:120/70
N: 90x/menit
S: 36C
Rr:99% (PO2)

- Infus
cairan
sisa
OK+RDS 1500 cc
s/d Sabtu jam 18.00
- Pasien
terpasang
kateter dan drainase
- Antibiotik: Ranitidin
2x1 amp IV dan
ketorolac 3x30 mg
IV
- Jika sakit: fentanyl
100 mcg IV perlahan
- Jika mual dan muntah:
perimperon inject 1
amp IV
- Jika
gatal:
Dexamethasone
2
amp IV
- Pasien diperbolahkan
minum jam 20.00
pada hari Jumat dan
makan jam 06.00
pada hari Sabtu

2.6 DIAGNOSIS HOLISTIK


Diagnosis Holistik UI
Diagnosis dari segi biologis
Working diagnosis: Apendisitis Perforasi letak Retrocaecal.
Differential diagnosis:
1. Urolitiasis dextra
2. Colesistitis akut
3. Pancreatitis akut
Diagnosis dari segi psikososial
Hubungan Sdr. FS dengan keluarganya harmonis, saling mendukung dan
perhatian.
3. Diagnosa dari segi sosial
Ayah pasien dan ibu pasien bekerja sebagai petani dan orang tua pasien
sebagai anggota masyarakat biasa, tidak memiliki jabatan khusus di
masyarakat.
1.

Diagnosis Holistik UNS


Aspek Personal
Keluhan Utama
: Nyeri perut dibagian depan menjalar ke belakang
Harapan
: Nyeri perut menghilang dan mengatahui
penyebabnya.
: Penyakitnya parah.

Kekhawatiran
2. Aspek Klinis
Apendisitis Perforasi letak Retrocaecal.
3. Aspek Resiko Internal

13

Umur pasien 21 tahun (20-30 tahun merupakan umur yang memiliki

potensi paling besar untuk mengalami apendisitis)


Laki-laki (Insiden laki-laki > wanita)
Meminum obat tanpa anjuran dokter (obat magh >> sehingga
menyebabkan sdr. FS diare dan meningkatkan faktor risiko terjadinya

perforasi)
4. Aspek Resiko Eksternal
Lingkungan tempat tinggal yang mengharuskan Sdr. FS membeli
makanan kurang berserat (lalapan)
5. Aspek Fungsional
Derajat 3 Pasien kurang mampu melakukan aktivitas sehari-hari seperti
sebelum sakit.
2.7 PENATALAKSANAAN HOLISTIK
2.7.1 Non farmakoterapi
Memberikan pengertian dan pemahaman kepada pasien dan keluarga
pasien mengenai sakit yang dialami sdr. FS (definisi, etiologi, gejala dan
tanda, pengobatan, komplikasi, prognosis, serta pencegahan agar tidak

terulang).
Memberikan masukan dan pengertian bahwa dukungan dan peran aktif
dari keluarga dan orang sekitar (teman) sangat diperlukan untuk membantu
pemulihan keadaan sdr. FS

Analisa dan Pola Pengaturan Gizi :


Perhitungan AMB (Angka Metabolisme Basal) menurut rumus Harris
Benedict:
Laki-laki = 66 + (13,7 x BB) + (5 x TB) (6,6 x U)
= 66 + (13,7 x 63) + (5 x 171) (6,6 x 21)
= 66 + 863,1 + 855 + 138,6
= 1922,7
Kebutuhan kalori terkait aktivitas dan stress:
-

Aktifitas istirahat di tempat tidur (faktor: 1,3)


Kalori = AMB x faktor aktifitas
= 1922,7 x 1,3
= 2499,5 kkal

Kalori ini dibagi dalam 3 porsi besar dan 2 porsi tambahan, yakni:
1. Makan pagi 20% = 499,9 kalori
2. Makan siang 30% = 749,9 kalori
14

3. Makan malam 25% = 624,9 kalori


4. Asupan di sela makan pagi dan siang 10% = 249,9 kalori
5. Asupan di sela makan siang dan malam 15% = 374,9 kalori
Panduan diet gangguan saluran cerna: Mudah dicerna, dengan porsi
makanan yang kecil dan sering.
Distribusi Makanan Setiap Waktu Makan
Waktu makan
Pagi
499,9 kalori
Siang
749,9 kalori
Malam
624,9 kalori

Karbohidrat 65%

Protein 25%

Lemak 10%

324,9 kalori

125 kalori

5 kalori

487,4 kalori

187,5 kalori

75 kalori

406,2 kalori

156,2 kalori

62,5 kalori

2.7.2 Farmakoterapi
R/ injeksi
Ranitidin 2x1 amp IV
Ranitidin HCL 50 mg
Indikasi: pengobatan jangka pendek untuk ulkus/tukak duodenum aktif,
ulkus/tukak lambung aktif, ulkus gastrik ringan, ulkus yang menyertai
pada pemberian AINS, hiperasiditas, ulkus pasca operasi, profilaksis ulkus
karena stress pada penyakit berat, profilaksis hemorage berulang pada
penderita perdarahan ulkus peptik, gejala refluks esofagitis, terapi
pemeliharaan setelah penyembuhan tukak duodenum dan lambung,
sindrom Zolinger-Ellison
Kontraindikasi: Hipersensitifitas
Dosis: IM 50 mg tiap 6-8 jam (tanpa pengenceran), IV bolus intermitten
50 mg (2 ml) tiap 6-8 jam (larutkan dalam larutan infus). Infus IV kontinu:
150 mg diencerkan dalam 250 ml larutan infus IV kecepatan 6,25 mg/jam
selama 24 jam.
Sediaan: ampul 25 mg/ml x 2 x 5 (jenis ranitidin yang lain: 30 x 150 mg

tablet, 30 x 300 mg tablet)


Ketorolac 3x30 mg IV
Ketorolac inj 10 mg atau 30 mg/ml
Indikasi: ketorolac parenteral diindikasikan untuk penatalaksanaan jangka
pendek (maksimal 2 hari) terhadap nyeri akut derajat sedang-berat segera
setelah operasi.
Dosis: Dosis awal ketorolac (untuk pasien dewasa): 10 mg diikuti dengan
peningkatan dosis 10-30 mg setiap 4-6 jam bila diperlukan. Setiap pasien

15

harus diberikan dosis efektif terendah yang sesuai dengan tingkat nyeri
dan respon dari masing-masing pasien. Dosis maksimal untuk pasien
dewasa 90 mg/hr. Pasien lanjut usia, dengan gagal ginjal ringan, BB<50
kg: 60 mg/hr. Terapi kombinasi dengan analgetik opioid (morfin dan
phetidine) untuk mendapatkan efek analgetik yang optimal pada periode
paska bedah awal dapat dilakukan jika nyeri bertambah hebat, karena
ketorolac tidak mengganggu penyerapan analgetik opioid dan dapat
menurunkan dosis opioid yang diperlukan.
Kontraindikasi: alergi terhadap ketorolac, ulkus peptikum aktif, pasien
yang menderita atau diduga mengidap penyakit serebrovaskular, diatesis
hemoragic (gangguan hemostasis) antara lain gangguan koagulasi, karena
ketorolac menghambat agregasi trombosit sehingga dapat memperpanjang
waktu perdarahan, hipovolemi akibat dehidrasi, gangguan ginjal sedangberat (kreatinin >160 mmol/L), kehamilan, persalinan, melahirkan atau
laktasi, anak <16 tahun, bila diberikan secara epidural atau intratekal.
Sediaan: 2 ml x 6 amp 10 mg/ml, 30 mg/ml

Fentanyl 100 mcg IV perlahan


Fentanil 50 mcg/ml
Indikasi: Suplement analgesik narkotik pada anastesi regional atau general.
Kontraindikasi: depresi saluran pernafasan, cedera kepala, alkoholisme
akut, serangan asma akut, intoleransi, wanita hamil, laktasi
Efek
samping:
depresi
nafas,
kekakuan
otot,

hipotensi,

bradikardialaringospasme, mual, muntah, menggigil, tidak bisa istirahat,


halusinasi pasca op, pergerakan mioklonik, pusing, apnea, reaksi alergi.
Perhatian: usia lanjut dan pasien lemah, disfungsi hati dan ginjal, penyakit
paru, penurunan cadangan pernafasan, anak < 2 tahun, hipotiroidisme,
hipertrofi prostat, syok, gangguan obstruksi usus.
Interaksi obat: dengan obat anatesi lain meningkatkan efek anastesi, obat
yang menekan SSP.
Dosis: pramedikasi: 100 mcg secara IM 30-60 sebelum op. Tambahan
pada anastesi regional: 50-100 mcg scr IV/IM lambat selama 1-2 jam bila
perlu. Sebagai analgesik tambahan terhadap anastesi umum: dosis rendah
2 mcg/kgBB, dosis tinggi 20-50 mcg/kgBB; sebagai zat anastesi 50-100
mcg/kgBB
Sediaan: ampul 10 ml
16

Perimperon inject 1 amp IV


Indikasi: untuk keluhan mual dan muntah
Dexamethasone 2 amp IV
Deksametason 0,5 mg/tablet; 5 mg/ml injeksi
Indikasi: imunosupresan/anti alergi, anti inflamasi, gangguan kolagen,
gangguan dermatologic, dan pernafasan.
Efek jangka panjang: tukak lambung, hipoglikemia, atropi kulit, lemah
otot, menstruasi tidak teratur, sakit kepala.
Kontraindikasi: ulkus peptikum, osteoporosis, psikosis
Dosis: dewasa 0,5-0,9 mg dalam dosis terbagi
Sediaan: Dus 10 x 10, 10 ampul 1 ml
LAPORAN STUDI KASUS STASE BEDAH

BAB III
PEMBAHASAN
ASPEK KEDOKTERAN KELUARGA
IDENTIFIKASI FUNGSI KELUARGA
5.1 Identifikasi fungsi keluarga
No
1
2
3
4
5

Nama
Tn.G
Ny.S
Sdr.
FS
An.A
An.I

Kedudukan

L/
P

Umur

Pendidikan

Pekerjaan

Pasien

Ket.

klinik

Ayah

STM

petani

tidak

Ibu

SD

petani

Tidak

Anak 1

20th

S1

Pelajar

Ya

Anak 2

S1

Pelajar

Tidak

Anak 3

15 th

SMP

Pelajar

Tidak

Sumber: data primer, 21 Oktober 2013


Kesimpulan: An.R tinggal inde kost di malang dan orangtuanya tinggal bersama
nenek (ibu dari bapak)
5.2 Fungsi Holistik
1. Fungsi Biologis

17

Sdr. FS adalah pasien dengan apendisitis perforasi letak retrocaecal. Dalam


struktur keluarga, kepala keluarga adalah ayah pasien Tn.S. Pasien
merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.
2. Fungsi Psikologis
Pasien memiliki hubungan baik dengan keluarga
3. Fungsi Sosial
Keluarga ini tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam
masyarakat, hanya sebagai anggota masyarakat biasa.
Fungsi Fisiologis dengan Alat APGAR Score
Untuk menilai fungsi fisiologis digunakan APGAR score. APGAR score
adalah skor yang digunakan untuk menilai fungsi keluarga ditinjau dari sudut
pandang setiap anggota keluarga terhadap hubungannya dengan anggota keluarga
yang lain. APGAR score meliputi :

Adaptation : kemampuan anggota keluarga tersebut beradaptasi


dengan anggota keluarga yang lain, serta penerimaan, dukungan, dan

saran dari anggota keluarga yang lain.


Partnership : menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling
mengisi antara anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami

oleh keluarga tersebut


Growth : menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru

yang dilakukan anggota keluarga tersebut


Affection : menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi

antar anggota keluarga


Resolve : menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang
kebersamaan dan waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga
yang lain.

Penilaian :

o Hampir selalu

: 2 poin

o Kadang kadang

: 1 poin

o Hampir tak pernah

: 0 poin

Penyimpulan :
o Nilai rata-rata < 5

: kurang

o Nilai rata-rata 6-7

: cukup/sedang
18

o Nilai rata-rata 8-10

: baik

Tabel 5.2 APGAR score Sdr. FS.D=10


APGAR
A
P
G
A
R

Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya


bila saya menghadapi masalah
Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan
membagi masalah dengan saya
Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan
mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan
baru atau arah hidup yang baru
Saya puas dengan cara keluarga
saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon
emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll
Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya
membagi waktu bersama-sama

Sering/

Kadang-

selalu

kadang

Jarang/
Tidak

Kesimpulan: total 9 (APGAR baik)


Fungsi Patologis
Fungsi patologis dari keluarga An.R dinilai dengan menggunakan alat
S.C.R.E.E.M sebagai berikut.
Tabel 5.7 SCREEM keluarga penderita
SUMBER

PATOLOGIS

Social

Hubungan dengan teman-teman Sdr. FS kurang berjalan


lancar karena padatnya kegiatan kampus dan pondok.

Culture

Menggunakan adat-istiadat Jawa, bahasa Jawa, serta bahasa


Indonesia secara sopan dengan sesama anggota keluarga dan
orang lain dikehidupan sehari-hari. Anggota keluarga juga
telah mengikuti perubahan zaman dan tergolong modern.

Religious

Keluarga Tn.S memiliki agama yang kuat diperlihatkan


dengan pendidikan anak-anaknya yang dilandasi kehidupan
pesantren.

Economic

Penghasilan keluarga yang relatif cukup dan tergolong


cukup.

Educational

Tingkat pendidikan keluarga kurang, pendidikan terakhir


orang tua Sdr. FS adalah STM dan SD. Oleh karena itu
keluarga tidak begitu mengetahui penyakit yang dialami

19

anaknya.
Medical

Dalam mencari pelayanan kesehatan, keluarga Sdr. FS pergi


ke RSI hanya pada saat tidak bisa menangani permasalahan
kesehatan sendiri. Orang tua berkemampuan cukup untuk
membiayai
pelayanan
kesehatan
sehingga
proses
pembayaran secara mandiri.

Kesimpulan: Keluarga Sdr. FS memiliki fungsi patologis dalam bidang


edukasi.
1.4 Pola interaksi keluarga
Diagram 1. Pola interaksi keluarga An. Z
Ny.S

Tn.S

An. D

Sdr. JS
An.T

Keterangan:
: hubungan baik
: hubungan kurang baik

: laki-laki
: perempuan
: pasien

Kesimpulan
Hubungan antara An.R dengan semua anggota keluarga baik.
1.5 Genogram
Alamat lengkap : : Jl. Tegal Waru kecamatan Dau, Malang
Bentuk keluarga : Nuclear Family

Keterangan:
: meninggal dunia
: laki-laki
: perempuan

: tinggal dalam satu rumah


: pasien

20

5.6. Identifikasi Faktor-faktor yang Mempengaruhi kesehatan


Prilaku

Nonprilaku

Pengetahuan
Lingkungan
Keluarga ini kurang mengerti masalah kesehatan
Kamar kos Sdr.JS bersih dan rapi, pencahayaan cukup, ventil

ap
uarga ini sangat peduli dengan kesehatan anggota keluarga satu
sama lain
Pelayanan
kesehatan
Cukup dekat dengan tempat tinggal An.R

Sdr.JS

Tindakan
Keturunan
Keluarga segera menjenguk Sdr.JS yang MRS
Keluarga pasien tidak pernah menderita sakit serupa

Kesimpulan:
Identifikasi faktor perilaku dan non perilaku keluarga Sdr. FS cukup mendukung
kesehatan pasien karena meskipun terdapat kekurangan dipengetahuan keluarga,
keluarga tetap memberikan perhatian dan kepedulian terhadap penyakit yang
diderita Sdr. FS.

5.7 Identifikasi lingkungan rumah


5.7.1 Lingkungan Luar Rumah
Keluarga Sdr. FS tinggal di rumah berdekatan dengan rumah lainnya. Diluar
rumah memiliki pekarangan rumah dan pagar pembatas. Namun Sdr. FS sedang
menjalani perkuliahan sehingga menetap di kos.
5.7.2 Lingkungan Dalam Rumah
Status kepemilikan hunian : menumpang/kontrak/hibah/milik sendiri

21

Daerah perumahan

: kumuh/padat bersih/berjauhan/mewah

Karakteristik Rumah
Luas tanah: - m2
Jumlah penghuni dalam satu rumah : 4 orang
Jarak antar rumah: - meter
Tidak bertingkat
Lantai rumah: berubin
Dinding rumah: tembok
Jamban : ada (WC)
Kamar mandi : ada (1 kamar mandi)
Dapur : ada (1 dapur)
Tempat bermain : Penerangan listrik : cukup memadai
Ketersediaan air bersih : sumur yang berdekatan dengan kamar mandi
Kondisi umum rumah (kamar): Memiliki halaman dengan rumah yang
tertata bersih dan rapi
Tempat pembuangan sampah : Pembuangan sampah di rumah di buang
di belakang rumah dan dibakar.

Kesimpulan
Pasien tinggal
di rumah
dengan kondisi
yang baik,
hanya saja
sumur sebagai
sumber air
bersih letaknya
terlalu
berdekatan
dengan kamar
mandi.

5.7.3 Denah Rumah


Ruang
belajar

Dapur

Ruang tamu

Kamar
tidur

Kamar
tidur
Kamar
tidur
Kamar
tidur

Keterangan:
Indoor : - Luas rumah : - m 2
- Lantai : Keramik
- Pencahayaan dan ventilasi: Cukup

Halam
an
Sumur
Kamar
mandi

Outdoor : - Halaman rumah : memiliki halaman rumah


-

Sumber air bersih : Sumur


Saluran pembuangan air : Langsung menuju selokan
Saluraan jamban : menuju septic tank
Pembuangan sampah : di belakang rumah dan dibakar

5.7.4 Lingkungan Kost sdr. FS


Rumah tempat kost Sdr. FS berada dikawasan padat penduduk. Memiliki
halaman yang tidak terlalu luas dengan delapan kamar di dalam rumah. Setiap
kamar diisi oleh satu orang dengan dua kamar mandi yang tersedia. Luas kamar

22

sdr. FS sekitar 2,5 x 2,5 m2 dengan lantai keramik dan dinding tembok. Memiliki
pencahayaan yang cukup dari lampu dan ventilasi yang sedikit kurang karena hanya
memiliki satu jendela. Air yang digunakan untuk keseharian menggunakan PDAM, dan
sampah dibuang ditempat pembuangan sampah di depan rumah.

LAPORAN STUDI KASUS STASE BEDAH

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

4.1 Apendisitis
4.1.1 Anatomi dan Fisiologi Apendiks
Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm
(kisaran 3-15), dan berpangkal di sekum. Lumennya sempit di bagian proksimal
dan melebar di bagian distal. Namun demikian, pada bayi, apendiks berbentuk
kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit kearah ujungnya. Keadaan ini
mungkin menjadi sebab rendahnya insidens apendisitis pada usia itu.

23

Secara histologi, struktur apendiks sama dengan usus besar. Kelenjar


submukosa dan mukosa dipisahkan dari lamina muskularis. Diantaranya berjalan
pembuluh darah dan kelenjar limfe. Bagian paling luar apendiks ditutupi oleh
lamina serosa yang berjalan pembuluh darah besar yang berlanjut ke dalam
mesoapendiks. Bila letak apendiks retrosekal, maka tidak tertutup oleh peritoneum
viserale.
Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n.vagus yang mengikuti
a.mesenterika superior dan a.apendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal
dari n.torakalis X. Oleh karena itu, nyeri viseral pada apendisitis bermula di
sekitar umbilikus.
Pendarahan apendiks berasal dari a.apendikularis yang merupakan arteri
tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena thrombosis pada infeksi,
apendiks akan mengalami gangrene
Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya
dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran
lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada pathogenesis apendisitis.
Imunoglobulin sekreator yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid
tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks, ialah IgA.
Imunoglobulin

ini

sangat

efektif

sebagai

pelindung

terhadap

infeksi.

Namundemikian, pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh


karena jumlah jaringan limfe di sini kecil sekali jika dibandingkan dengan
jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh

24

Gambar: Apendiks
4.1.2 Definisi dan Klasifikasi Apendisitis
Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis. Apendisitis
akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran kanan bawah
rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat.
Apendisitis adalah kondisi dimana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus
ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan
laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat,
angka kematian cukup tinggi dikarenakan oleh peritonitis dan syok ketika umbai
cacing yang terinfeksi hancur.
Klasifikasi Apendisitis
Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis,
yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis purulenta difusi yaitu
sudah bertumpuk nanah.
Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial,
setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu
apendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua.

25

4.1.3 Etiologi
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Berbagai hal berperan
sebagai faktor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang
diajukan sebagai faktor pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe, fekalit,
tumor apendiks, dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab
lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks
karena parasit seperti E. Histolytica.
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan
rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi
akan menaikkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan
fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa.
Semuanya ini akan mempermudah timbulnya apendisitis akut.
4.1.4 Morfologi Apendisitis
Pada stadium paling dini, hanya sedikit eksudat neutrofil ditemukan di
seluruh mukosa, submukosa, dan muskularis propria. Pembuluh subserosa
mengalami bendungan dan sering terdapat infiltrat neutrofilik perivaskular ringan.
Reaksi peradangan mengubah serosa yang normalnya berkilap menjadi membran
yang merah, granular, dan suram. Perubahan ini menandakan apendisitis akut dini
bagi dokter bedah. Kriteria histologik untuk diagnosis apendisitis akut adalah
infiltrasi neutrofilik muskularis propria. Biasanya neutrofil dan ulserasi juga
terdapat di dalam mukosa.
2.1.5 Patofisiologi
Apendisitis kemungkinan dimulai oleh obstruksi dari lumen yang
disebabkan oleh feses yang terlibat atau fekalit. Penjelasan ini sesuai dengan
pengamatan epidemiologi bahwa apendisitis berhubungan dengan asupan serat
dalam makanan yang rendah.
Pada stadium awal dari apendisitis, terlebih dahulu terjadi inflamasi mukosa.
Inflamasi ini kemudian berlanjut ke submukosa dan melibatkan lapisan muskular
dan serosa (peritoneal). Cairan eksudat fibrinopurulenta terbentuk pada

26

permukaan serosa dan berlanjut ke beberapa permukaan peritoneal yang


bersebelahan, seperti usus atau dinding abdomen, menyebabkan peritonitis lokal.
Dalam stadium ini mukosa glandular yang nekrosis terkelupas ke dalam
lumen, yang menjadi distensi dengan pus. Akhirnya, arteri yang menyuplai
apendiks menjadi bertrombosit dan apendiks yang kurang suplai darah menjadi
nekrosis atau gangren. Perforasi akan segera terjadi dan menyebar ke rongga
peritoneal. Jika perforasi yang terjadi dibungkus oleh omentum, abses lokal akan
terjadi.
2.1.6 Gambaran Klinis
Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh
radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai
maupun tidak disertai rangsang peritoneum lokal. Gejala klasik apendisitis ialah
nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah
epigastrium di sekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang ada
muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan
berpindah ke kanan bawah ke titik Mc. Burney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam
dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Kadang
tidak ada nyeri epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa
memerlukan obat pencahar. Tindakan itu dianggap berbahaya karena bisa
mempermudah terjadinya perforasi.
Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, karena letaknya terlindung
oleh sekum, tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak tanda
rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih ke arah perut sisi kanan atau nyeri timbul
pada saat berjalan karena kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal.
Apendiks yang terletak di rongga pelvis, bila meradang, dapat
menimbulkan gejala dan tanda rangsangan sigmoid atau rektum sehingga
peristaltis meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan
berulang-ulang. Jika apendiks tadi menempel ke kandung kemih, dapat terjadi
peningkatan frekuensi kencing karena rangsangan dindingnya.

27

LAPORAN STUDI KASUS STASE BEDAH

BAB V
PEMBAHASAN

28

5.1 Dasar Penegakan Diagnosis


5.1.1 Anamnesis
Pada anamnesis penderita akan mengeluhkan nyeri atau sakit perut. Ini
terjadi karena hiperperistaltik untuk mengatasi obstruksi dan terjadi pada seluruh
saluran cerna, sehingga nyeri viseral dirasakan pada seluruh perut. Muntah atau
rangsangan viseral akibat aktivasi n.vagus. Obstipasi karena penderita takut untuk
mengejan. Panas akibat infeksi akut jika timbul komplikasi. Gejala lain adalah
demam yang tidak terlalu tinggi, antara 37,5-38,5 C. Tetapi jika suhu lebih tinggi,
diduga sudah terjadi perforasi.
5.1.2 Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik yaitu pada inspeksi, penderita berjalan
membungkuk sambil memegangi perutnya yang sakit, kembung bila terjadi
perforasi, dan penonjolan perut bagian kanan bawah terlihat pada apendikuler
abses.
Pada palpasi, abdomen biasanya tampak datar atau sedikit kembung.
Palpasi dinding abdomen dengan ringan dan hati-hati dengan sedikit tekanan,
dimulai dari tempat yang jauh dari lokasi nyeri. Status lokalis abdomen kuadran
kanan bawah:

Nyeri tekan (+) Mc. Burney. Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan
kuadran kanan bawah atau titik Mc. Burney dan ini merupakan tanda
kunci diagnosis.

Nyeri lepas (+) karena rangsangan peritoneum. Rebound tenderness


(nyeri lepas tekan) adalah nyeri yang hebat di abdomen kanan bawah saat
tekanan secara tiba-tiba dilepaskan setelah sebelumnya dilakukan
penekanan perlahan dan dalam di titik Mc. Burney.

Defens muskuler (+) karena rangsangan m. Rektus abdominis. Defence


muscular

adalah

nyeri

tekan

seluruh

lapangan

abdomen

yang

menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale.

Rovsing sign (+). Rovsing sign adalah nyeri abdomen di kuadran kanan
bawah apabila dilakukan penekanan pada abdomen bagian kiri bawah, hal
29

ini diakibatkan oleh adanya nyeri lepas yang dijalarkan karena iritasi
peritoneal pada sisi yang berlawanan.

Psoas sign (+). Psoas sign terjadi karena adanya rangsangan muskulus
psoas oleh peradangan yang terjadi pada apendiks.

Obturator sign (+). Obturator sign adalah rasa nyeri yang terjadi bila
panggul dan lutut difleksikan kemudian dirotasikan ke arah dalam dan
luar secara pasif, hal tersebut menunjukkan peradangan apendiks terletak
pada daerah hipogastrium.
Pada perkusi akan terdapat nyeri ketok. Auskultasi akan terdapat

peristaltik normal, peristaltik tidak ada pada illeus paralitik karena peritonitis
generalisata akibat apendisitis perforata. Auskultasi tidak banyak membantu
dalam menegakkan diagnosis apendisitis, tetapi kalau sudah terjadi peritonitis
maka tidak terdengar bunyi peristaltik usus. Pada pemeriksaan colok dubur
(Rectal Toucher) akan terdapat nyeri pada jam 9-12. Selain itu, untuk
mendiagnosis apendisitis juga dapat digunakan skor Alvarado, yaitu:
Skor Alvarado
Migrasi nyeri dari abdomen sentral ke fossa iliaka kanan
1
Anoreksia
1
Mual atau Muntah
1
Nyeri di fossa iliaka kanan
2
Nyeri lepas
1
Peningkatan temperatur (>37,5C)
1
Peningkatan jumlah leukosit 10 x 109/L
2
Neutrofilia dari 75%
1
Total
10
Pasien dengan skor awal 4 sangat tidak mungkin menderita apendisitis dan tidak memerlukan
perawatan di rumah sakit kecuali gejalanya memburuk.

5.1.3 Pemeriksaan Penunjang


Pada pemeriksaan laboratorium darah, biasanya didapati peningkatan
jumlah leukosit (sel darah putih). Urinalisa diperlukan untuk menyingkirkan
penyakit lainnya berupa peradangan saluran kemih. Pada pasien wanita,
pemeriksaan dokter kebidanan dan kandungan diperlukan untuk menyingkirkan
diagnosis kelainan peradangan saluran telur/kista indung telur kanan atau KET
(kehamilan diluar kandungan).

30

Pemeriksaan radiologi berupa foto barium usus buntu (Appendicogram)


dapat membantu melihat terjadinya sumbatan atau adanya kotoran (skibala)
didalam lumen usus buntu. Pemeriksaan USG (Ultrasonografi) dan CT scan bisa
membantu dakam menegakkan adanya peradangan akut usus buntu atau penyakit
lainnya di daerah rongga panggul.
Namun dari semua pemeriksaan pembantu ini, yang menentukan diagnosis
apendisitis akut adalah pemeriksaan secara klinis. Pemeriksaan CT scan hanya
dipakai bila didapat keraguan dalam menegakkan diagnosis. Pada anak-anak dan
orang tua penegakan diagnosis apendisitis lebih sulit dan dokter bedah biasanya
lebih agresif dalam bertindak.
5.1.3

Diagnosis Banding
Pada keadaan tertentu, beberapa penyakit perlu dipertimbangkan sebagai

diagnosis banding, seperti:

Gastroenteritis: Pada gastroenteritis, mual, muntah, dan diare mendahului


rasa sakit. Sakit perut lebih ringan dan tidak berbatas tegas.
Hiperperistaltis sering ditemukan. Panas dan leukositosis kurang menonjol
dibandingkan dengan apendisitis akut.

Demam Dengue: Dapat dimulai dengan sakit perut mirip peritonitis. Di


sini didapatkan hasil tes positif untuk Rumpel Leede, trombositopenia, dan
hematokrit meningkat.

Kelainan ovulasi: Folikel ovarium yang pecah (ovulasi) mungkin


memberikan nyeri perut kanan bawah pada pertengahan siklus menstruasi.

Infeksi panggul: Salpingitis akut kanan sering dikacaukan dengan


apendisitis akut. Suhu biasanya lebih tinggi daripada apendisitis dan nyeri
perut bagian bawah perut lebih difus.

Kehamilan di luar kandungan: Hampir selalu ada riwayat terlambat haid


dengan keluhan yang tidak menentu. Jika ada ruptur tuba atau abortus
kehamilan di luar rahim dengan pendarahan, akan timbul nyeri yang
mendadak difus di daerah pelvis dan mungkin terjadi syok hipovolemik.

31

Kista ovarium terpuntir: Timbul nyeri mendadak dengan intensitas yang


tinggi dan teraba massa dalam rongga pelvis pada pemeriksaan perut,
colok vaginal, atau colok rektal.

Endometriosis ovarium eksterna: Endometrium di luar rahim akan


memberikan keluhan nyeri di tempat endometriosis berada, dan darah
menstruasi terkumpul di tempat itu karena tidak ada jalan keluar.

Urolitiasis pielum/ ureter kanan: Adanya riwayat kolik dari pinggang ke


perut menjalar ke inguinal kanan merupakan gambaran yang khas.
Eritrosituria sering ditemukan.

Penyakit saluran cerna lainnya: Penyakit lain yang perlu diperhatikan


adalah peradangan di perut, seperti divertikulitis Meckel, perforasi tukak
duodenum atau lambung, kolesistitis akut, pankreatitis, divertikulitis
kolon, obstruksi usus awal, perforasi kolon, demam tifoid abdominalis,
karsinoid, dan mukokel apendiks.

5.2 Penatalaksanaan
Pengobatan tunggal yang terbaik untuk usus buntu yang sudah
meradang/apendisitis akut adalah dengan jalan membuang penyebabnya (operasi
appendektomi). Pasien biasanya telah dipersiapkan dengan puasa antara 4 sampai
6 jam sebelum operasi dan dilakukan pemasangan cairan infus agar tidak terjadi
dehidrasi. Pembiusan akan dilakukan oleh dokter ahli anastesi dengan pembiusan
umum atau spinal/lumbal. Pada umumnya, teknik konvensional operasi
pengangkatan usus buntu dengan cara irisan pada kulit perut kanan bawah di atas
daerah apendiks.
Perbaikan keadaan umum dengan infus, pemberian antibiotik untuk kuman gram
negatif dan positif serta kuman anaerob, dan pemasangan pipa nasogastrik perlu
dilakukan sebelum pembedahan.
Alternatif lain operasi pengangkatan usus buntu yaitu dengan cara bedah
laparoskopi. Operasi ini dilakukan dengan bantuan video camera yang
dimasukkan ke dalam rongga perut sehingga jelas dapat melihat dan melakukan
appendektomi dan juga dapat memeriksa organ-organ di dalam perut lebih
lengkap selain apendiks. Keuntungan bedah laparoskopi ini selain yang disebut

32

diatas, yaitu luka operasi lebih kecil, biasanya antara satu dan setengah sentimeter
sehingga secara kosmetik lebih baik (Sanyoto, 2007).
5.3 Komplikasi
Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi, baik berupa
perforasi bebas maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami
perdindingan sehingga berupa massa yang terdiri atas kumpulan apendiks, sekum,
dan letak usus halus.
Komplikasi usus buntu juga dapat meliputi infeksi luka, perlengketan,
obstruksi usus, abses abdomen/pelvis, dan jarang sekali dapat menimbulkan
kematian.
Selain itu, terdapat komplikasi akibat tidakan operatif. Kebanyakan
komplikasi yang mengikuti apendisektomi adalah komplikasi prosedur intraabdomen dan ditemukan di tempat-tempat yang sesuai, seperti: infeksi luka, abses
residual, sumbatan usus akut, ileus paralitik, fistula tinja eksternal, fistula tinja
internal, dan perdarahan dari mesenterium apendiks.
5.4 Prognosis
Kebanyakan pasien setelah operasi appendektomi sembuh spontan tanpa
penyulit, namun komplikasi dapat terjadi apabila pengobatan tertunda atau telah
terjadi peritonitis/peradangan di dalam rongga perut. Cepat dan lambatnya
penyembuhan setelah operasi usus buntu tergantung dari usia pasien, kondisi,
keadaan umum pasien, penyakit penyerta misalnya diabetes mellitus, komplikasi
dan keadaan lainya yang biasanya sembuh antara 10 sampai 28 hari.
Alasan adanya kemungkinan ancaman jiwa dikarenakan peritonitis di
dalam rongga perut ini menyebabkan operasi usus buntu akut/emergensi perlu
dilakukan secepatnya. Kematian pasien dan komplikasi hebat jarang terjadi karena
usus buntu akut. Namun hal ini bisa terjadi bila peritonitis dibiarkan dan tidak
diobati secara benar.

33

LAPORAN STUDI KASUS STASE BEDAH

BAB VI
PENUTUP
1.

6.1 KESIMPULAN HOLISTIK


Diagnosis dari segi biologis
Working diagnosis: Apendisitis Perforasi letak Retrocaecal.
Differential diagnosis:
1. Urolitiasis dextra

34

2. Colesistitis akut
3. Pancreatitis akut
2. Diagnosis dari segi psikososial
Hubungan Sdr. FS dengan keluarganya harmonis, saling mendukung dan
perhatian.
3. Diagnosa dari segi sosial
Ayah pasien dan ibu pasien bekerja sebagai petani dan orang tua pasien
sebagai anggota masyarakat biasa, tidak memiliki jabatan khusus di
masyarakat.
6.2 SARAN KOMPREHENSIF
1. Memberikan pengertian dan pemahaman kepada pasien dan keluarga
pasien mengenai sakit yang dialami sdr. FS (definisi, etiologi, gejala dan
tanda, pengobatan, komplikasi, prognosis, serta pencegahan agar tidak
terulang).
2. Memberikan masukan dan pengertian bahwa dukungan dan peran aktif
dari keluarga dan orang sekitar (teman) sangat diperlukan untuk membantu
pemulihan keadaan sdr. FS

DAFTAR PUSTAKA
1. Guyton and Hall, 1996. Textbook of medical physiology. 9 th Ed. W. B Saunders
Company. Philadelphia.
2. Sjamsuhidayat and Jong, de wim. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. EGC.
Jakarta
3. Scanlon, Valerie C.Essentials of anatomy and physiology/Valerie C. Scanlon,
Tina Sanders. 5th ed. ISBN13: 978-0-8036-1546-5 ISBN10: 0-80361546-9: 2006.

35