Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu
indicator keberhasilan layanan kesehatan di suatu negara (Depkes RI, 2007). Angka Kematian
Ibu (AKI) di Indonesia relative tinggi dengan Negara lain di ASEAN. Pada tahun 2013 Angka
Kematian Ibu (AKI) berkisar menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2013
(DetikHealth, 2014). Oleh karena itu, pemerintah memerlukan upaya yang sinergis dan terpadu
untuk mempercepat penurunan AKI dan AKB di Indonesia khususnya dalam mencapai target
Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015 yaitu AKI sebesar 102/100.000
kelahiran hidup (KH). Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menyebutkan 28 %
kematian ibu karena perdarahan dan laporan rutin Pemantauan Wilayah Sekitar (PWS) tahun
2007 sebesar 39 %. Salah satunya anemia yang akan memingkatkan terjadinya kematian
dibandingkan dengan ibu yang tidak anemia (Kemnentrian Kesehatan RI, 2009).
Terkait dengan pelayanan kesehatan ibu hamil, hasil Riskesdas 2013 menunjukkan
cakupan pelayanan antenatal bagi ibu hamil semakin meningkat. Hal ini memperlihatkan
semakin membaiknya akses masyarakat terhadap pelayanan antenatal oleh petugas kesehatan.
Cakupan pelayanan antenatal pertama kali tanpa memandang trimester kehamilan (K1 akses)
meningkat dari 92,7% pada tahun 2010 menjadi 95,2% pada tahun 2013. Peningkatan akses ini
juga sejalan dengan cakupan ibu hamil yang mendapat pelayanan antenatal pertama pada
trimester pertama kehamilan (K1 Trimester 1), yaitu dari 72,3% pada tahun 2010 menjadi 81,3%
pada tahun 2013. Demikian pula pada tahapan selanjutnya, cakupan pelayanan antenatal
sekurang-kurangnya empat kali kunjungan (K4) juga meningkat dari 61,4% pada tahun 2010
menjadi 70,0% pada tahun 2013.
Potret yang cukup menggembirakan juga tampak pada profil kesehatan ibu bersalin dan
nifas. Proporsi ibu yang persalinannya ditolong tenaga kesehatan meningkat dari 79,0% pada
tahun 2010 menjadi 86,9% pada tahun 2013. Pada tahun 2013, sebagian besar (76,1%)
persalinan juga sudah dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan dan Poskesdes/Polindes dan
hanya 23,7% ibu bersalin yang masih melahirkan di rumah. Angka peningkatan yang cukup
1

drastis terlihat pada cakupan pelayanan kesehatan ibu nifas (KF1), yaitu dari 46,8% pada tahun
2010 menjadi 81,7% pada tahun 2013.
Di samping peningkatan akses dan kualitas masyarakat yang semakin membaik, upaya
peningkatan kesehatan ibu masih menghadapi berbagai tantangan. Tantangan pertama adalah
bagaimana menurunkan proporsi anemia pada ibu hamil. Berdasarkan Riskesdas 2013, terdapat
37,1% ibu hamil anemia, yaitu ibu hamil dengan kadar Hb kurang dari 11,0 gram/dl, dengan
proporsi yang hampir sama antara di kawasan perkotaan (36,4%) dan perdesaan (37,8%). Sekitar
80% kasus anemia pada masa hamil merupakan anemia tipe defisiensi besi (Arias, 1993). Dua
puluh persen (20%) sisanya mencakup kasus anemia herediter dan berbagai variasi anemia
didapat, termasuk anemia defisiensi asam folat, anemia sel sabit dan talasemia.
Pemerintah mempunyai upaya pencegahan dan penanggulangan anemia dapat dilakukan
denngan pemberian tablet tambah darah (TTD) yang mengandung besi-asam folat, disamping
asupan gizi yang cukup, meskipun program pemberian TTD sudah dilakukan tetapi tetap tidak
bisa dipungkiri bahwa kejadian anemia pada ibu hamil masih tinggi. hal ini dipengaruhi oleh
kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet besi (Kementrian Kesehatan, RI)
Dari data survey diatas, kami yang merupakan salah satu calon tenaga kesehatan tertarik
untuk membahas makalah mengenai anemia pada ibu hamil.

1.2 Rumusan masalah


Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan rumusan masalah adalah bagaimana asuhan
keperawatan pada ibu hamil dengan anemia?
1.3 Tujuan
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan anemia
2. Tujuan khusus
a. Mahasiswa dapat mengetahui apa pengertian anemia pada ibu hamil
b. Mahasiswa dapat mengetahui penyebab anemia pada ibu hamil
c.

Mahasiswa mampu mengetahui diagnosa-diagnosa yang mungkin muncul pada


anemia pada ibu hamil

d. Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan pada pasien dengan anemia pada


ibu hamil

1.4 Manfaat
1.

Kepada ibu hamil diharpakan dapat menambah wawasan sehingga dapat menjaga
kondisi kehamilan agar kondisi bayinya tetap sehat dan dapat mecegah atau mengatasi
anemia pada masa kehamilan.

2. Bagi penyusun dapat menambah pengetahuan, wawasan, serta keterampilan dalam


melaksanakan asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan anemia.

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Anemia Pada Ibu Hamil


2.1.1 Pengertian
Anemia dalam khamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin di bawah
11 gr% pada trimester I dan III atau kadar hemoglobin < 10,5 gr% pada trimester II (Depkes
RI, 2009). Anemia adalah kondisi dimana sel dearah merah menurun atau menurunnya
hemoglobin, sehingga kapasitas daya angkat oksigen untuk kebutuhan organ-organ vital pada
ibu dan janin menjadi berkurang. selama kehamilan, indikasi anemia adalah jika konsentrasi
hemoglobin kurang dari 10,50 sampai dengan 11,00 gr/dL (Vanney, 2006). Cutt off point
yang umum dipakai ialah kriteria WHO tahun 1968, ibu hamil dinyatakan anemia bila kadar
hemoglobin < 11 g/dL. Kadar Hb 11 gr% tidak anemia, kadar Hb 9-10 gr % anemia ringan,
kadar Hb 7-8 gr% anemia sedang, kadar Hb < 7 gr% anemia berat.
Anemia merupakan suatu keadaan adanya penurunan kadar hemoglobin, hematokrit, dan
jumkah eritrosit dibwah nilai normal. pada penderita anemia, lebih sering disebut kurang
darah, kadar sel darah merah (Hemoglobin/Hb) dibawah nilai normal. Penyebabnya bisa
karena kurangnya zat gizi untuk pembentukan darah, misalnya zat besi, asam folat dan
vitamin B12. tetapi yang sering terjadi adalah anemia karena kekurangan zat besi (Yulianti,
2010).
2.1.2

Penyebab
Menurut Marmi (2011) anemia umumnya disebabkan oleh:
a. Kurang gizi (malnutrisi),
b. Kurang zat besi dalam diet,
c. Malabsorbsi
d. Kehilangan darah yang banyak; pesalinan yang lalu, haid, dll
Dalam kehamilan jumlah darah bertambah (hiperemia / hipervolumia) karena itu

terjadi pengencaran darah karena sel-sel darah tidak sebanding pertambahannya dengan
plasma darah. Perbandingan pertambahan tersebut adalah:
4

1. Plasma darah bertambah : 30%


2. Sel-sel darah bertambah : 18%
3. Hemoglobin bertambah : 19%
Secara fisiologis, pengenceran darah ini adalah untuk membantu meringankan
kerja jantung (Marmi, 2011). Anemia pada kehamilan yang disebabkan kekurangan zat
besi mencapai kurang lebih 95%. Terjadinya peningkatan volume darah menyebabkan
hemodilusi atau pengenceran darah sehingga kadar Hb mengalami penurunan dan
menyebabkan anemia (Varney, 2007). Hemodilusi dianggap sebagai penyesuaian diri
secara fisiologis dalam kehamilan untuk meringankan beban jantung yang harus bekerja
lebih berat dalam massa hamil (Hudono, 2007). Kebutuhan zat bezi ibu selama kehamilan
ialah 800mg, diantaranya 300mg untuk janin plasenta dan 500mg untuk pertambahn
eritrosit ibu. Dengan demikian ibu membutuhkan tambahan sekitar 2-3mg besi/hari. Perlu
diingat ada beberapa kondisi yang menyebabkan defisiensi kalori- besi, misalnya infeksi
kronik, penyakit hati dan thalasemia (Saifudin, 2009). Menurut Varney (2007), terdapat
sejumlah faktor yang menjadi penyebab anemia seperti status ekonomi mempunyai efek,
status ekonomi yang lebih rendah menimbulkan angka nutrisi buruk yang lebih tinggi dan
sehingga mengakibatkan angka anemia defisiensi zat besi lebih tinggi. Ras

juga

memainkan peranan sebagai contoh rata-rata orang kulit hitam kadar hemoglobinnya
lebih rendah daripada orang kulit putih tanpa memperhatikan tingkat sosio-ekonomi
2.1.3

Patofisiologi
Selama

kehamilan

terjadi

peningkatan

volume

darah

(hypervolemia).

Hypervolemia merupakan hasil dari peningkatan volume plasma dan eritrosit (sel darah
merah) yang berada dalam tubuh tetapi peningkatan ini tidak seimbang yaitu volume
plasma peningkatannya jauh lebih besar sehingga memberi efek yaitu konsentrasi
hemoglobin berkurang dari 12 g/100 ml (Sarwono, 2009).
Pengenceran darah (hemodilusi) pada ibu hamil sering terjadi dengan peningkatan
volume plasma 30%-40%, peningkatan sel darah 18%-30% dan hemoglobin 19%. Secara
fisiologis hemodilusi untuk membantu meringankan kerja jantung.
Hemodilusi (pengenceran darah) terjadi sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai
puncaknya pada kehamilan 32-36 minggu. Bila hemoglobin ibu sebelum hamil berkisar
5

11 gr% maka dengan terjadinya hemodilusi akan mengakibatkan anemia hamil fisiologis
dan Hb ibu akan menjadi 9,5-10 gr%
2.1.4

Klasifikasi
Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut Winkjosastro (2005), yaitu:
a. Anemia defisiensi besi
Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai ialah anemia akibat
kekurangan zat besi, kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya
unsur besi dengan makanan karena gangguan reabsorpsi, gangguan penggunaan
atau karena terlampau banyaknya besi keluar dari badan, misalnya pada
perdarahan.
b. Anemia megaloblastik
Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folik (
pteroyglutamic acid ), jarang sekali karena defisisensi vitamin B12.
c. Anemia hypoblastik
Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sumsum tulang kurang
mampu membuat sel-sel darah baru, dinamakan anemia hipoblastik dalam
kehamilan.
d. Anemia hemolitik
Disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari
pembuatannya, wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila ia
hamil, maka anemia biasanya menjadi lebih berat.

2.1.5

Tanda dan gejala


Gejala yang seringkali muncul pada penderita anemia diantaranya (Hellen, 1996):
a. Lemah, letih, lesu, mudah lelah, dan lunglai.
b. Wajah tampak pucat.
c. Mata berkunang-kunang.
d. Nafsu makan berkurang.
e. Sulit berkonsentrasi dan mudah lupa.
f. Sering sakit.
6

Keluhan lemah, pucat, mudah pingsan sementar tekanan darah masih dalam batas
normal, perlu dicurigai anemia defisiensi. Secara klinik dapat dilihat tubuh yang
malnutrisi atau pucat (Saifuddin, 2009). Salah satu dari tanda yang paling sering
dikaitkan dengan anemia adalah pucat. Keadaan ini umumnya diakibatkan dari
berkurangnya volume darah, berkurangnya hemoglobin, dan vasokonstriksi untuk
memaksimalkan pengiriman O2 ke organ-organ vital. Warna kulit bukan merupakan
indeks yang dapat dipercaya untuk pucat karena dipengaruhi pigmentasi kulit, suhu, dan
keadaan serta distribusi bantalan kapiler. Bantalan kuku, telapak tangan dan membrane
mukosa mulut serta konjungtiva merupakan indikator yang lebih baik untuk menilai
pucat. Pada anemia berat, gagal jantung kongestif dapat terjadi karena otot jantung yang
anoksik tidak dapat beradaptasi terhadap beban kerja jantung yang meningkat. Pada
anemia berat dapat juga timbul gejala-gejala saluran cerna seperti anoreksia, mual,
konstipasi atau diare, dan stomatitis (nyeri pada lidah dan membran mukosa mulut),
gejala-gejala umumnya disebabkan oleh keadaan defisiensi, seperti defisiensi zat besi
(Price, 2005).
Menurut Varney (2002) berkurangnya konsentrasi hemoglobin selama masa
kehamilan mengakibatkan suplay oksigen ke seluruh jaringan tubuh berkurang sehingga
menimbulkan tanda dan gejala anemia secara umum, sebagai berikut: lemah, mengantuk,
pusing, lelah, malaise, sakit kepala, nafsu makan turun, mual dan muntah, konsentrasi
hilang dan nafas pendek (pada anemia berat).
2.1.6

Pengaruh anemia pada ibu hamil


Seorang wanita hamil yang memiliki kadar Hb kurang dari 11 gr/dLdisebut
menderita anemia pada kehamilan atau kekurangamn kadar hemoglobin dalam darah
dapat mengakibatkan abortus, partus prematurus, partus lama karena inertia utein,
perdarahan post partum. Anemia berat dengan Hb kurang dari 4 gr/dL dapat
mengakibatkan decompensatio cordis (Prawirohardjo, 2005)
Anemia dapat terjadi pada setiap ibu hamil, karena itulah kejadian ini harus selalu
diwaspadai. Anemia yang terjadi saat ibu hami Trimester I akan dapat mengakibatkan
abortus dan kelainan congenital. Anemia pada kehamilan kedua pada trimester II akan
dapat menyebabkan persalinan prematus, perdarahan antepartum, gangguan

pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia intrauterine sampai kematian, BBLR dan
mudah terkena infeksi.
Saat inpartus anemia dapat menimbulkan gangguan his baik primer maupun
sekunder, janin akan lahir dengan anemia, dan persalinan dengan tindakan yang
disebabkan karena ibu cepat lelah. Saat postpartum anemia dapat menyebabkan
atonia uteri, retensio plasenta, perlukaan susah sembuh, dan gangguan involusio uteri
(Notobroto,2003).
Adapun menurut manuba (2003):
1. Pada trimester pertama berkaitan dengan abortus
2. Pada trimester II-III

perdarahan premaur

perdarahan anepartum

BBLR

IQ rendah

3. Inpartus

janin lahir dengan anemia

4. Pascapartus

2.1.7

Infeksi puerperium

Perlukaan sukar sembuh: perdarahan

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium dasar ditemui:
1. Pemeriksaan Hb sahli, kadar Hb < 10 mg/%
2. Kadar Ht menurun (normal 37%- 41%)
3. Peningkatan bilirubin total (pada anemia hemolitik)
4. Terlihat retikulositosis dan sferositosis pada apusan darah tepi.
5. Terdapat pansitopenia, sum- sum tulang kosong diganti lemak.
8

2.1.8

Penatalaksanaan
1. Medis
- Terapi oral
- Pemberian tablet zat besi mengandung ferosulat, besi glukonat
- Asam folik 15- 30 mg perhari
- Vitamin B12 3x1 tablet perhari
- Sulfas ferosus 3x1 tablet perhari
- Terapi parenteral Secara intramuscular di injeksikan dextran besi(imferon)
atau sorbitol besi.
2. Keperawatan
- Memberikan penyuluhan klien dan keluarga mengenai supplement besi
-

dan peningkatan sumber- sumber besi dalam makanan sesuai indikasi.


Pada klien yang menderita thalasemia atau pembawa sifat tersebut, beri
dukungan khususnya jika wanita tersebut telah mengetahui bahwa ia

pembawa. Juka kaji apakah ada tanda- tanda infeksi selama kehamilan.
Pada klien yang menderita sel sabit, kaji simpanan besi dan folat, dan
hitung retikulosit; skrining lengkap untuk hemolisis; berikan konseling
diet dan supplement asam folat; dan observasi apakah ada tanda- tanda

infeksi.
Pada klien yang menderita G-6-PD, berikan supplement besi dan asam
folat dan konseling nutrisi, dan jelaskan kebutuhan menghindari obat-

obatan oksidasi.
Memberitahu ibu

tentang

tanda-tanda

bahaya

kehamilan

seperti

perdarahan, sakit klepala lebih dari biasanya, dan menetap, pandangan


kabur, nyeri ulu hati dan lainnya. Jika ibu mendapatkan keluhan tersebut
-

segera datang ke pelayanan kesehatan terdekat.


Memberitahu keluarga kemungkinan komplikasi perdarahan post partum
sehingga ibu hasus disediakan darah untuk persiapan transfuse
postpartum.

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan


Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh
(Boedihartono, 1994).

Pengumpulan data klien baik subjektif maupun objektif pada gangguan sistem reproduksi
sehubungan dengan anemia tergantung pada penyebab dan adanya komplikasi pada
penderita. Pengkajian keperawatan anemia

meliputi anamnesis riwayat penyakit,

pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik dan pengkajian psikososial.


A. Pengkajian
1. Identitas Klien dan keluarga (penanggung jawab) :
a.

Nama

b.

Umur

c.

Jenis kelamin
Biasanya wanita lebih cenderung mengalami anemia ,disebabkan oleh

kebutuhan zat besi wanita yang lebih banyak dari pria terutama pada saat hamil.
d.

Pekerjaan
Pekerja berat dan super ekstra dapat menyebabkan seseorang terkena

anemia dengan cepat seiring dengan kondisi tubuh yang benar-benar tidak fit.
e.
Hubungan klien dengan penanggung jawab
f.
agama
g.
Suku bangsa
h.
Status perkawinan
i.
Alamat
j.
Golongan darah
2. Keluhan Utama
keluhan utama meliputi 5L, letih, lesu, lemah, lelah lalai, pandangan berkunangkunang.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Biasanya keluhan utama pada ibu hamil anemia yaitu merasa lemah sepanjang
hari dan sulit melakukan aktivitas serta pertolongan apa yang sudah dilakukan
sebelum dirawat di rumah sakit.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit yang diderita klien sebelum hamil
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit darah merupakan salah satu
faktor predisposisi terjadinya anemia yang cenderung diturunkan secara genetik
(Ignatavicius, Donna D, 1995).
6. Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran
klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan
10

sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat (Ignatavicius, Donna


D, 1995)
7. Riwayat KB terakhir
Jenis kontrasepsi yang digunakan dan lamanya penggunaan kontrasepsi, jika
dilepas apa alasan dilepasnya, dukungan keluarga, pengambilan keputusan dalam
keluarga.
8.

Rencana persalinan
Tempat, penolong saat melahirkan

9. Kebiasaan hidup
Apakah klien merokok, mengkonsumsi minuman keras atau obat-obatan terlarang
baik sebelum hamil maupun saat hamil.

Beban pekerjaan dan adat istiadat selama

hamil.
10. Pola Aktivitas Sehari-hari
Kebiasaan makan biasanya nafsu makan menurun, mual/ muntah, berat badan
menurun, nyeri / kenyamanan, lokasi nyeri terutama di daerah abdomen dan kepala.
Pola eliminasi, riwayat pielonenepritis, gagal ginjal, flatulen, sindrom malabsobsi,
hematemesi, melana, diare atau konstipasi. Pola aktivitas dan istirahat, biasanya klien
mengalami keletihan, kelemahan, malaise umum, kehilangan produktifitas,
penurunan semangat untuk bekerja, toleransi terhadap latihan rendah, kebutuhan
untuk istirahat dan tidur lebih banyak. Gaya hidup serta aktivitas seksual perubahan
menstuasi misalnya menoragia, amenore, menurunnya fungsi seksual, impotent.
11. Pemeriksaan Fisik
1) Pengkajian TTV menunjukkan frekuensi nadi

menurun dari frekuensi

normal,tekanan darah menurun dari tekanan darah normal.


2) Antropometri
Pada kasus anemia pada ibu hamil pengkajian antropometri lebih berpaku pada
berat badan dan tinggi badan disertai dengan penghitungan IMT pada ibu hamil,
nilai IMT normal pada ibu hamil 19,6 26,0.
3) Pemeriksaan secara garis besar
Perhatikan kesimetrisan bentuk wajah, kaji apakah terjadi kerontokan rambut,
warna konjungtiva merah muda, mata cekung, kulit kering, turgor kurang baik,
kesimetrisan bentuk payudara, penonjolan putting, warna areola, pada abdomen

11

kaji adakah striae dan luka bekas operasi, , periksa keadaan genital terutama
vagina.
12. Data psikologis
Kaji status emosi, pola koping, gaya komunikasi dan konsep diri serta tinngkat
kecemasan yang dialami bumil.
13. Data social
Kaji hubungan klien dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya.
14. Data Spiritual
Kaji kegiatan ibadah klien dan yang menjadi motivasi bagi klien.
15. Data penunjang
1) Jumlah darah lengkap (JDL) : hemoglobin dan hemalokrit menurun.
2) Jumlah eritrosit : menurun (AP), menurun berat (aplastik); MCV (volume
korpuskular rerata) dan MCH (hemoglobin korpuskular rerata) menurun dan
mikrositik dengan eritrosit hipokronik (DB), peningkatan (AP). Pansitopenia
(aplastik).
3) Jumlah retikulosit : bervariasi, misal : menurun (AP), meningkat (respons
sumsum tulang terhadap kehilangan darah/hemolisis).
4) Pewarna sel darah merah : mendeteksi perubahan warna dan bentuk (dapat
mengindikasikan tipe khusus anemia).
5) LED : Peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi, misal : peningkatan
kerusakan sel darah merah : atau penyakit malignasi.
6) Masa hidup sel darah merah : berguna dalam membedakan diagnosa anemia,
misal : pada tipe anemia tertentu, sel darah merah mempunyai waktu hidup lebih
pendek.
7) Tes kerapuhan eritrosit : menurun (DB).
8) SDP : jumlah sel total sama dengan sel darah merah (diferensial) mungkin
meningkat (hemolitik) atau menurun (aplastik).
9) Jumlah trombosit : menurun caplastik; meningkat (DB); normal atau tinggi
(hemolitik)
10) Hemoglobin elektroforesis : mengidentifikasi tipe struktur hemoglobin.
11) Bilirubin serum (tak terkonjugasi): meningkat (AP, hemolitik).
12) Folat serum dan vitamin B12 membantu mendiagnosa anemia sehubungan dengan
defisiensi masukan/absorpsi
13) Besi serum : tak ada (DB); tinggi (hemolitik)
14) TBC serum : meningkat (DB)
15) Feritin serum : meningkat (DB)
16) Masa perdarahan : memanjang (aplastik)
17) LDH serum : menurun (DB)
18) Tes schilling : penurunan eksresi vitamin B12 urine (AP)
12

19) Guaiak : mungkin positif untuk darah pada urine, feses, dan isi gaster,
menunjukkan perdarahan akut / kronis (DB).
20) Analisa gaster : penurunan sekresi dengan peningkatan pH dan tak adanya asam
hidroklorik bebas (AP).
21) Aspirasi sumsum tulang/pemeriksaan/biopsi : sel mungkin tampak berubah dalam
jumlah, ukuran, dan bentuk, membentuk, membedakan tipe anemia, misal:
peningkatan megaloblas (AP), lemak sumsum dengan penurunan sel darah
(aplastik).
22) Pemeriksaan andoskopik dan radiografik : memeriksa sisi perdarahan :
perdarahan GI (Doenges, 1999).
B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan perfungsi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai oksigen ke
jaringan atauke sel
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan
suplaioksigen
4. Risiko cedera terhadap janin b/d penurunan kadar Hb pada ibu
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan pengetahuan mengenai
anemia
C. Intervensi Keperawatan
Dx 1 : Gangguan perfungsi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai oksigen ke
jaringan/ke sel
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1x24 jam,perfusi ke jaringan/ke
sel efektif
Kriteria hasil : -Tidak terdapat perubahan karakteristik kulit (rambut, kuku, kelembaban)
-Tidak terdapat kebiruan pada kulit-CRT dalam batas normal (kembali
dalam kurun waktu kurang dari 2 detik)
Intervensi :
1. Perhatikan status fisiologis ibu, status sirkulasi dan volume darah.
R: Kejadian perdarahan potensial merusak hasil kehamilan kemungkinan
menyebabkan hipovolemia atau hipoksia uteroplasenta
2. Lakukan pemeriksaan fisik CRT dengan menekan kuku pasien.
R: Keadaan capillary refill test yang tidak kembali dalam waktu kurang dari 2
dapat menandakan anemia.
3. Auskultasi dan laporkan DJJ, catat bradikardi, atau takikardi. Catat perubahan pada
aktivitas janin (hipoaktif atau hiperaktif).
13

R: Mengkaji berlanjutnya hipoksia janin. Pada awalnya janin berespon pada


penurunan kadar oksigen dengan takikardia dan peningkatangerakan.
4. Catat kehilangan darah ibu dan adanya kontraksi uterus.
R: Bila kontraksi uterus disertai dilatasi serviks, tirah baring dan medikasimungkin
tidak efektif dalam mempertahankan kehamilan. Kehilangandarah ibu secara
berlebihan menurunkan perfusi plasenta.
5.Anjurkan tirah baring pada posisi miring kiri
R: Menghilangkan tekanan vena kava inferior dan meningkatkan sirkulasi plasenta
atau janin dan pertukaran oksigen.
5. Kolaborasi dalam pemberian oksigen pada klien
R: Meningkatkan ketersediaan oksigen untuk ambilan janin, sehingga kapasitas
oksigen yang dibawa janin meningkat.
Dx 2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dengan
kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan absorpsi
nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.
Tujuan : Setelah dialkukan tindakan keperawatan selama 7x24 jam, kebutuhan nutrisi
klien terpenuhi.
Kriteria hasil : - Menunujukkan peningkatan/mempertahankan berat badan dengan nilai
laboratorium normal.
-

Tidak mengalami tanda mal nutrisi.


Menununjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan
dan atau mempertahankan berat badan yang sesuai.

Intervensi
1. Kaji riwayat nutrisi termasuk makanan yang disukai
R: Mengidentifikasi defisiensi, memudahkan intervensi
2. Observasi dan catat masukan makanan klien
R: Mengawasi masukkan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan
3. Timbang berat badan 1 minggu sekali
R: Mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi nutrisi
4. Berikan makan sedikit dengan frekuensi sering
R: Menurunkan kelemahan, meningkatkan pemasukkan dan mencegah distensi gaster
5. Tinjau ulang frekuensi dan beratnya mual muntah.

14

R: Mual muntah trimester pertama dapat berdampak negatif pada statusnutrisi


pranatal, khususnya pada periode kritis perkembangan janin.
6. Berikan pendidikan kesehatan mengenai nutrisi untuk ibu hamil yang kaya akan zat
besi
R: Membantu dalam rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual, terutama
dalam pemenuhan nutrisi yang dibutuhkan bagi ibu hamil dengan komplikasi anemia
7. Kolaborasi sesuai indikasi (misalnya, pada ahli gizi), dan kolaborasi pemeriksaan
laboratorium.
R: Mungkin diperlukan bantuan tambahan terhadap pilihan nutrisi. Mengidentifikasi
adanya anemia dan potensial penurunan kapasitas pembawa oksigen ibu. Klien
dengan kadar Hb kurang dari 12 g/dL ataukadar Ht kurang atau sama dengan 37 %
dipertimbangkan anemia pada trimester pertama.

Dx 3 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara kebutuhan


dan suplaioksigen.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pasien dapat
beraktivitas dengan baik.
Kriteria hasil : -Nadi dan tekanan darah dalam batas normal (nadi 60-100x/menit, TD
90/60-140/90mmHg)
-Pasien tidak mengeluh lemah dan lelah
Intervensi :
1. Jelaskan alasan perlunya tirah baring, penggunaan posisi rekumben lateral
kiri/miring, dan penurunan aktivitas.
R : Tindakan ini ditujukan untuk mempertahankan janin jauh dari serviksdan
meningkatkan perfusi uterus. Tirah baring dapat menurunkan pekarangsang
uterus.
2. Berikan tindakan kenyamanan seperti gosokan punggung, perubahan posisi, atau
penurunanstimulus dalam ruangan (mis. Lampu redup)
R : Menurunkan tegangan otot dan kelelahan serta meningkatkan rasanyaman.
3. Berikan latihan gerak pada pasien secara bertahap (aktif dan pasif).
R : Aktivitas dan latihan sangat penting bagi pasien yang mengalamiintoleransi
aktivitas karena kurang latihan akan menyebabkan ototmenjadi atrofi.
4. Berikan periode untuk istirahat atau tidur.
R : Meningkatkan istirahat, mencegah kelelahan, dan dapat meningkatkan relaksasi.
5. Berikan aktivitas pengalihan, seperti membaca, mendengarkan radio, dan menonton
televisi,atau kunjungan dengan teman yang dipilih atau keluarga.
15

R : Membantu klien dalam koping dengan penurunan aktivitas.


Dx 4 : Risiko cedera terhadap janin b/d penurunan kadar Hb pada ibu
Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan risiko cedera pada janin dapat
tertanggulangi
Kriteria hasil : -Denyut jantung bayi dalam batas normal (120-160 x/menit)
-Hasil USG tidak menunjukan tanda tanda abnormalitas.
-Tinggi fundus arteri sesuai umur kehamilan
Intervensi
1. Perhatikan kondisi ibu yang berdampak pada sirkulasi janin.
R: Faktor yang mempengaruhi atau menurunkan sirkulasi atau oksigenasi ibu
mempunyai dampak yang sama pada kadar oksigen janin atau plasenta. Janin
yangtidak mendapatkan cukup oksigen untuk kebutuhan metabolisme anaerob
yangmenghasilkan asam laktat yang menimbulkan kondisi asidosis.
2. Ajari ibu untuk mengobservasi gerakan janin
R: Secara normalnya dalam kandungan janin bergerak dan merupakantanda yang
sehat pada janin. Jika janin tidak bergerak perlu diwaspai terjadi cedera pada janin
akibat kekurangan nutrisi.
3. Bantu dalam screening dan kelainan genetik.
R: Kelainan seperti anemia sel sabit mengharuskan tindakan yang khususuntuk
mencegah efek negatif dalam pertumbuhan janin.
4. Diskusikan efek negatif yang potensial terjadi akibat kelainan genetik
R: Retardasi pertunbuhan intrauterus/pascanatal, malformasi dan retardasimental
dapat terjadi.
5. Lakukan pemeriksaan leopod untuk mengetahui keadaan janin terutama mengukur
tinggifundus.
R: Tinggi fundus sesuai usia kehamilan merupakan satu tanda bahwa pertumbuhan
janin dalam kandungan ibu tidak mengalami gangguan.
6. Kolaborasi dalam pemeriksaan USG
R: Penyakit anemia dapat mengakibatkan IUGR.
Dx 5 Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan pengetahuan mengenai
anemia
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pengetahuan
pasien mengenai anemia menjadi adekuat.
Kriteria hasil : -Dapat menjelaskan kembali mengenai pengertian anemia
16

-Dapat mengikuti instruksi dan prosedur perawatan


-Dapat menunjukkan prilaku kesehatan yang positif untuk menanggulangi
anemia
Intervensi :
1. Kaji kesiapan klien untuk belajar.
R : Faktor-faktor seperti ansietas atau kurang kesadaran tentang kebutuhan terhadap
informasi dapat mempengaruhi kesiapan untuk belajar. Penyerapan informasi
ditingkatkan bila klien termotivasi dan siapuntuk belajar.
2. Libatkan orang terdekat dalam proses belajar-mengajar.
R : Dukungan dari orang terdekat dapat membantu menghilangkanansietas yang
nantinya menguatkan prinsip-prinsip belajar danmengajar.
3. Berikan informasi tentang perawatan tindak lanjut bila klien pulang.
R : Klien mungkin perlu kembali untuk keteraturan pemantauan dan/atautindakan.
4. Anjurkan pemberian intake yang adekuat, banyak nutrisi untuk kebutuhan ibu dan
janin.
R : Intake nutrisi yang adekuat dapat memenuhi kebutuhan nutrisi ibu dan janin
terutama zat besi, asam folat, vit. B 12, dll. Dan berikan informasi kepada
pasiententang dampak obat-obatan terutama yang dapat menyebabkan mual dan
muntah olehkarena itu ajarkan cara memakan obat dengan benar misalnya
mengkonsumsi buah-buahanyang mengandung vitamin C untuk membantu
mempercepat reabsorpsi obat danmenganjurkan pasien untuk tidak meminum kopi
atau teh selama meminum obat karenaakan memperlambat reabsorpsi obat.
D. EVALUASI
1. Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
2. Tidak terdapat perubahan karakteristik pada kulit (rambut, kuku,dan kelembapan)
3. Pasien dapat beraktivitas dengan baik dengan tidak mengeluh lemah dan lelah
4. Tidak adanya risiko cedera pada janin dengan tinggi fundus sesuai kehamilan
5. Pengetahuan pasien mengenai anemia menjadi adekuat dengan mengikuti tindakan
dan prosedur perawatan

17

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Uraian Kasus
Data Subjektif:
Ny. A 25 tahun datang tanggal 22-03-2009 pukul 10.00 WIB, ibu mengaku hamil pertama
tidak pernah melahirkan dan keguguran sebelumnya, usia kehamilan saat ini adalah 6 bulan,
HTPT 28-09-2008 TP 05-07-2009. ibu mengeluh pusing, cepat lelah, agak pucar, mata
berkunang-kunang apalagi ketika baru bangun dari duduk dan nafsu makan berkurang serat
ektremitas terasa dingin. ibu mengaku keluhan ini dirasa dari sejak awal kehamilan.
Data objektif:
keadaan secara umum terlihat baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosional stabil,
tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 70x/menit, suhu 36,6 0C, pernapasan 20x/menit.
Pemeriksaan fisik secara keseluruhan tidak ada kelainan kecuali wajah ibu terlihat pucat,
mata (konjungtiva) anemis. palpasi abdomen: Leopold : 21 : 3,5 = usia kehamilan dalam
bulan = 6 bulan (TFU 21 cm), fundus uteri teraba 1 bagian besar bundar, keras, melenting
(kepala). Leopold II kanan: terdapat tahanan besar teraba bagian keras memanjang seperti
papan (punggung), kiri: terdapat tahanan kecil teraba bagian-bagian kecil (Ektremitas).
Leopold III teraba I bagian kurang bundar, lunak, kurang melenting (bokong) masih dapat
digoyangkan. Leopold IV konvergen. Taksiran berat janin (21-13)x 155 = 1240 gram.
Auskultasi denyut jantung janin: funktum maksimum kuadran kanan 3 jari diatas pusat
frekuensi 140x/menit teratur. Pemeriksaan lab: Hb 9 gr%, golongan darah B.

3.2 Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
1. Pengumpulan data
a. Identitas klien
Nama
Status
Jenis kelamin

: Ny. A
: Istri
: Perempuan
18

Usia
Agama
Pendidikan
Suku/bangsa
Pekerjaan
Status Marital
Golongan Darah
Tanggal Masuk
Tanggal Pengkajian
No. Medrek
Diagnosa Medis

: 25 tahun
: Islam
: SMA
: Sunda/Indonesia
: Ibu Rumah Tangga
: Menikah
:B
: 22 maret 2009
: 23 maret 2009
: 022-60000001
: Anemia

b. Riwayat kesehatan
1) Keluhan utama masuk rumah sakit :
Klien mengeluh sering merasakan lemah dan lemah dirasakan sejak awal
kehamilan dan dirasakan semakin parah. Karena lemah klien pun tidak dapat
melakukan kegiatan sehari-harinya dengan baik, maka klien memeriksakan
keadaannya ke Rumah Sakit dan klien disarankan untuk dirawat.
2) Keluhan utama saat dikaji
Klien mengeluh lemah di seluruh tubuh, lemah dirasakan semakin
bertambah jika klien beraktifitas dan berkurang saat klien beristirahat, lemah
dirasakan seperti sesudah melakukan aktifitas yang begitu

berat, dan lemah

dirasakan hampir di setiap waktu.


c. Riwayat kehamilan sekarang
Paritas
: G1P0A0
HPHT
: 28-09-2008
TP
: 05-07-2009
Siklus Haid
: 28 hari
Pergerakan janin terakhir
: belum dapat dirasakan oleh ibu
Pergerakan yang dirasakan terakhir
: belum dapat dirasakan oleh ibu
Tanda-tanda bahaya atau penyulit: sering merasa lemah sejak awal
kehamilan
: tidak ada
: belum dilakukan
: belum dilakukan
: tidak ada

Obat yang di konsumsi


Imunisasi
: TT1, tanggal
TT2, tanggal
Kekhawatiran-kekhawatiran khusus
d. Riwayat kehamilan, persalinan yang lalu
No

Waktu

Usia

Jenis

Penolong

19

Penyulit

Keadaan

Anak

persalian

persalinan

persalinan

nifas

JK

BB

H/M

Kelainan

e. Riwayat kesehatan/penyakit dahulu


Klien mengatakan memiliki tekanan darah rendah sebelum hamil.
f. Riwayat kesehatan keluarga
Klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit keturunan
maupun penyakit menular.
g. Riwayat sosial ekonomi
1) Status perkawinan
: Menikah
2) Umur istri waktu menikah : 24 lamanya pernikahan : 1 tahun
3) Umur suami waktu menikah : 26 lamanya pernikahan : 1 tahun
4) Untuk istri pernikahan yang ke
: satu
5) Untuk suami pernikahan yang ke
: satu
6) Respon ibu dan keluarga terhadap kehamilan ibu: senang
h. Riwayat KB terakhir
Jenis kontrasepsi
Lamanya
Alasan dilepas
Dukungan keluarga

: belum pernah
: belum pernah
: belum pernah
: keluarga sangat mendukung penuh atas kehamilan

yang klien jalani


Pengambilan keputusan dalam keluarga : Suami
i. Rencana persalinan
Tempat
Penolong

: Rumah Sakit Kasih Ibu


: Dokter

j. Kebiasaan hidup
Merokok
Minuman keras
Beban pekerjaan
Adat istiadat selama hamil

: tidak pernah
: tidak pernah
: ringan
: tidak ada

k. Pola Aktivitas Sehari-hari


No
1

Aktivitas
Nutrisi
Makan
Frekuensi
Jenis
Jumlah
Keluhan

Sebelum hamil
3x sehari
Nasi, telur, sayur
250 gr
Tidak ada keluhan

Minum
Jenis dan frekuensi

Air putih : 6-8 gelas/ hari Air putih hangat : 5-6


20

Selama Hamil
2x sehari
Nasi, lauk-pauk, baso
100 gr
Nafsu makan menurun

(1 gelas = 250 ml)

gelas / hari (1 gelas =


250 ml)

Eliminasi
BAK
Frekuensi
Warna
Bau
Keluhan
BAB
Frekuensi
Konsistensi
Warna
Bau
Keluhan
Istirahat Tidur
Malam
Jumlah
Pola
Keluhan
Siang
Jumlah
Pola
Keluhan
Personal Hygiene
Mandi
Frekuensi
Cara Pemenuhan
Gosok Gigi
Frekuensi
Cara Pemenuhan
Keramas
Frekuensi
Cara Pemenuhan
Vulva hygiene
Perawatan Payudara
Ganti pakaian dalam
Jenis bahan

Pola aktivitas

5-6 x sehari
Kuning
Bau Amoniak
Tidak ada keluhan

2-3 x sehari
Kuning
Bau Amoniak
Tidak ada keluhan

1 x sehari
Lembek
Kuning
khas
Tidak ada keluhan

3 hari sekali
Keras
Kuning
khas
Sulit BAB

6-7 jam
21.00-04.00
Tidak ada keluhan

6-7 jam
21.00-04.00
Tidak ada keluhan

1 jam
13.00-14.00
Tidak ada keluhan

1 jam
13.00-14.00
Tidak ada keluhan

2 x sehari
mandiri

1x sehari
mandiri

2 x sehari
Mandiri

1x/hari
mandiri

2 hari sekali
Belum pernah selama di
Mandiri
rawat di RS
Hanya dibasuh air
Hanya dibasuh air
Dilakukan saat mandi,
Bersamaan saat mandi
tanpa pijatan dan prosedur
tanpa tindakan khusus
khusus
2x sehari
2x sehari
Kain katun
Kain katun
Melakukan
pekerjaan Tidak
melakukan
rumah tangga dan tidak pekerjaan
pernah

melakukan dan

olahraga

tidak

sehari-hari
pernah

olahraga karena lemas


21

Hubungan Seksual

3x seminggu

l. Pemeriksaan Fisik
ii. Keadaan Umum:
Kesadaran
Tanda-Tanda Vital

1x seminggu

: Compos Mentis ( E=4 , M=6 , V=5 )


: TD
= 90/60 mmHg ;
Nadi
Respirasi
Suhu

iii. Antropometri : Tinggi Badan

= 70x/menit ;
= 20x/menit;
= 36,5oC
: 156 cm

Berat Badan Sebelum Hamil : 50 Kg


Berat Badan Sekarang
: 50 Kg
IMT
: 20.54 ( termasuk kategori
normal )
iv. Pemeriksaan per sistem
a) Sistem Reproduksi
Payudara:
Payudara kiri dan kanan simestris, puting susu menonjol, konsistensi padat
dan keras, tidak terdapat pengeluaran cairan pada payudara, terdapat
hiperpigmentasi pada kedua payudara.
Abdomen;
Pada abdomen tidak ada bekas luka.
Vulva dan Vagina:
Pada kedua kedua labia berwarna pucat, tidak terdapat pembesaran kelenjar
bartholini, tidak terdapat varises, tidak terdapat perlukaan, tidak terdapat
pengeluaran darah atau nanah dari pembuluh skene dan tidak terdapat
pengeluaran cairan. Portio teraba lunak.
b) Sistem Pernafasan
Hidung simetris, Selaput mukosa hidung merah muda, tidak ada pernafasan
cuping hidung, bentuk dada simetris, pengembangan otot pernapasan simetris,
tidak ada retraksi intercosta, frekuensi napas 20x/menit.
c) Sistem Kadiovaskuler
Conjungtiva pucat, palpebra cekung, akral teraba agak dingin, tidak ada
pembesaran vena jugularis, tidak terlihat PMI pada intercosta 5,

terdengar

bunyi jantung S1 dan S2, tidak terdapat bunyi murmur, gallop, maupun
pericardial friction rub. CRT >3 detik ,TD 90/60 mmHg, nadi 70x/menit.
d) Sistem Gastrointestinal

22

Bibir kering, mukosa pucat, dan tidak ada lesi. Gigi berjumlah 32 dan tidak
ada karies. Gusi berwarna pucat, tidak terdapat pembengkakan, dan tidak
terdapat perdarahan. Terdapat refleks menelan, bising usus 12x/menit.
e) Sistem persarafan
Klien dapat merasakan sensasi rasa panas, dingin, tajam, tumpul.
f) Sistem Endokrin
Tidak teraba pembesaran kelenjar tiroid,dan paratiroid.
g) Sistem perkemihan
Tidak terdapat distensi kandung kemih, klien mengatakan tidak ada keluhan
sealma berkemih
h) Sistem Muskuloskeletal
Bentuk dan ukuran extremitas bawah simetris, tidak ada edema, reflek patela
+1 /+1 , reflek bisep +2/+2, reflek trisep +2/+2, pada ekstrimitas bawah tidak
terdapat varises, kuku jari tangan dan kaki bersih. Postur tubuh tidak terdapat
kifosis,lordosis, maupun skoliosis.
i) Sistem Integumen
Warna kulit sawo matang, tidak ada edema, tidak terdapat cloasma
glavidarum, terdapat striae gravidarum, warna kulit wajah tampak pucat.
j) THT
Telinga kanan dan kiri simetris, tidak terdapat pengeluaran cairan pada lubang
telinga, klien dapat mendengar suara detik jam pada jarak 2 cm, gesekan
rambut dan bisikan perawat pada jarak 30 cm. Hidung kanan dan kiri simetris,
tidak terdapat pengeluaran cairan pada hidung, klien dapat mencium bau kopi,
the dan minyak kayu putih pada kedua hidungnya. Tenggorokan klien tidak
terdapat peradangan.
k) Sistem Penglihatan
Mata kanan dan kiri simetris, alis kanan dan kiri simetris, konjungtiva
berwarna pucat, sclera putih, tidak terdapat edema pada kelopok mata,
terdapat refleks berkedip, pupil mengecil hingga 3 mm saat diberi cahaya,
klien dapat membaca nametag perawat pada jarak 30 cm, klien dapat
mengikuti gerakan pada 8 arah pandangan.
m. Data psikologis
1) Status emosi
2) Pola koping

: Klien mengatakan dapat mengendalikan emosinya


dengan baik, emosi klien stabil.
: Klien mengatakan jika mempunyai masalah klien
membicarakan kepada suaminya.
23

3) Pola komunikasi
4) Konsep diri
Gambaran diri

: Verbal dan non verbal klien lancar


: Klien bangga dengan dirinya karena klien akan menjadi
seorang ibu, klien menyukai semua anggota tubuhnya dan
tidak mempermasalahkan perubahan bentuk tubuhnya

Peran diri
Ideal diri
Harga diri

karena kehamilan.
: Klien sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga
: Klien berharap anaknya lahir dengan selamat dan sehat
: Klien merasa bangga sebagai wanita karena dapat menjadi

seorang istri yang dapat memberikan keturunan


Identitas diri
: Klien bernama Ny.A, klien seorang wanita yang berusia
22 tahun
n. Data social
Dengan keluarga dan tetangga :
Klien mengatakan hubungan klien dengan keluarga dan tetangga baik.
Dengan petugas :
Klien mengatakan hubungan klien dengan petugas kesehatan baik.
Dengan sesama pasien :
Klien mengatakan hubungan klien dengan pasien yang lain baik.
o. Data Spiritual
Klien beragama Islam dan sembahyang teratur dan klien yakin atas kebesaran Tuhan
bahwa dirinya dapat sembuh.
p. Data penunjang
Hasil laboratorim
Pemeriksaan Hematologi
Jenis
Hasil
Hemoglobin
9 gr/Dl
Leukosit
8000 L
Hematokrit
34 %
Trombosit
280.000 L
Eritrosit
4,6 juta/L
q. Data terapi
1) Penkes tentang anemia dan nutrisi yang dibutuhkan untuk klien anemia
2) Kolaborasi sulfas ferosus dengan dosis 3 x 20 mg per oral
2. Analisa Data
N

Data

o
1

DS: klien mengeluh sering


pusing

Kemungkinan penyebab

dan

Kadar Hb kurang dari

mengalami

Normal
24

Masalah
Gangguan
perfusi jaringan

kelemahan.
DO:
- kulit pasien

Kemampuan mengikat
tampak

pucat
Hb normal 9 g/dL
ekstremitas teraba agak

dingin
pasien tampak lemah

oksigen berkurang

Kadar oksigen dalam


darah sedikit

Suplay oksigen
kejaringan berkurang

Gangguan perfusi

DS:
Klien mengatakan nafsu
makannya menurun
DO:
- klien tampak lemah
- makan hanya habis 1/2
porsi

jaringan
Kadar Hb dalam tubuh
berkurang

Pengikatan 02 ke

Gangguan
pemenuhan
nutrisi

jaringan berkurang

Transportasi 02 ke
jaringan menurun

Berkurangnya
oksigenasi SSP

kegagalan untuk
mencerna atau ketidak
mampuan mencerna

DS:
klien mengatakan sering
merasa lemah sepanjang
hari dan tidak mampu
beraktivitas seperti
biasanya
DO:
- klien tampak lemah
- kadar HB 9 g/dl
- TD : 90/60 mmHg
- nadi : 70 x/menit

makanan
Kadar Hb dalam darah
berkurang

Suplay oksigen
berkurang

Pembentukan ATP
terganggu

Energi yang dihasilkan


sedikit
25

Intoleransi
aktivitas


Klien merasa lemah

Imtoleransi aktivitas
3. Diagnosa keperawatan berdasarkan prioitas
a. Gangguan perfungsi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai oksigen ke
jaringan atauke sel
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan
untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang
diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan
suplai oksigen

4. Perencanaan Keperawatan
No

DX
ke

Tujuan

Intervensi
Perencanaan

26

Rasional

Setelah diberikan

- Perhatikan status

Kejadian perdarahan

asuhan keperawatan

fisiologis ibu,

potensial merusak hasil

selama 1x24

status sirkulasi dan

kehamilan kemungkinan

jam,perfusi ke

volume darah.

menyebabkan

jaringan/ke sel

hipovolemia atau

efektif. Dengan

hipoksia uteroplasenta

Kriteria hasil :
- Tidak terdapat

- Lakukan

test yang tidak kembali

perubahan

pemeriksaan fisik

karakteristik kulit

CRT dengan

(rambut, kuku,

menekan kuku

kelembaban)
- Tidak terdapat
kebiruan pada

Keadaan capillary refill


dalam waktu kurang dari
2 dapat

menandakan

anemia.

pasien.
-

kulit-CRT dalam

hipoksia janin. Pada

Auskultasi dan

awalnya janin berespon

laporkan DJJ,

batas normal

pada penurunan kadar

catat bradikardi,

(kembali dalam

oksigen dengan

atau takikardi.

kurun waktu

takikardia dan

Catat perubahan

kurang dari 2

peningkatangerakan

pada aktivitas

detik)

Mengkaji berlanjutnya

janin (hipoaktif
atau hiperaktif).
.- Catat kehilangan
darah ibu dan
adanya kontraksi

Bila kontraksi uterus


disertai dilatasi serviks,
tirah baring dan
medikasimungkin tidak
efektif dalam

uterus.

mempertahankan
kehamilan.
Kehilangandarah ibu
secara berlebihan
menurunkan perfusi
-

Anjurkan tirah
27

plasenta.

baring pada
posisi miring kiri

Menghilangkan tekanan
vena kava inferior dan
meningkatkan sirkulasi
plasenta atau janin dan

pertukaran oksigen.

Kolaborasi dalam
pemberian

Meningkatkan

oksigen pada

ketersediaan oksigen

klien

untuk ambilan janin,


sehingga kapasitas
oksigen yang dibawa
janin meningkat

Setelah dialkukan

- Kaji riwayat nutrisi -

Mengidentifikasi

tindakan

termasuk makanan

defisiensi, memudahkan

keperawatan selama

yang disukai

intervensi

7x24 jam,
kebutuhan nutrisi

- Observasi dan catat

klien terpenuhi

masukan makanan

dengan kriteria :

klien

Mengawasi masukkan
kalori atau kualitas
kekurangan konsumsi
makanan

- Menunujukkan
-

peningkatan/me
mpertahankan
berat badan

- Timbang berat badan


1 minggu sekali

berat badan atau


efektivitas intervensi
nutrisi

dengan nilai
laboratorium

Mengawasi penurunan

- Berikan makan
28

normal.
- Tidak mengalami

sedikit dengan

frekuensi sering

meningkatkan

tanda mal nutrisi.1.


- Menununjukkan 2.

pemasukkan dan
- Tinjau ulang

perilaku,

mencegah distensi gaster

frekuensi dan

perubahan pola

beratnya mual

hidup untuk
meningkatkan

Menurunkan kelemahan,

muntah.

Mual muntah trimester


pertama dapat

3.

berdampak negatif pada

dan atau

statusnutrisi pranatal,

mempertahankan

khususnya pada periode

berat badan yang

kritis perkembangan

sesuai.

- Berikan pendidikan

janin.

kesehatan
-

mengenai nutrisi

Membantu dalam
rencana diet untuk

untuk ibu hamil

memenuhi kebutuhan

yang kaya akan zat

individual, terutama

besi

dalam pemenuhan nutrisi


yang dibutuhkan bagi
- Kolaborasi sesuai

ibu hamil dengan

indikasi (misalnya,

komplikasi anemia

pada ahli gizi),


dan kolaborasi
pemeriksaan
laboratorium.

Mungkin diperlukan
bantuan tambahan
terhadap pilihan nutrisi.
Mengidentifikasi adanya
anemia dan potensial
penurunan kapasitas
pembawa oksigen ibu.
Klien dengan kadar Hb
kurang dari 12 g/dL

29

ataukadar Ht kurang atau


sama dengan 37 %
dipertimbangkan anemia
pada trimester pertama..

Setelah dilakukan

Jelaskan alasan

Tindakan ini ditujukan

tindakan

perlunya tirah

untuk mempertahankan

keperawatan selama

baring,

janin jauh dari

3x24 jam klien

penggunaan

serviksdan

mampu beraktivitas

posisi rekumben

meningkatkan perfusi

kembali dengan

lateral

uterus. Tirah baring

kriteria :

kiri/miring, dan

dapat menurunkan

penurunan

pekarangsang uterus.

- nadi dan tekanan


darah dalam
batas normal

aktivitas
-

(nadi 60-

Berikan tindakan
kenyamanan

100x/menit, TD

otot dan kelelahan serta

seperti gosokan

90/60-140/90

meningkatkan

punggung,

mmHg)
- klien tidak

Menurunkan tegangan

rasanyaman.

perubahan posisi,
atau

mengeluh lemah

penurunanstimulu

dan lelah

s dalam ruangan
(mis. Lampu
redup)

Berikan latihan
gerak pada pasien
30

Aktivitas dan latihan

secara bertahap

sangat penting bagi

(aktif dan pasif)

pasien yang
mengalamiintoleransi
aktivitas karena kurang
latihan akan

Berikan periode

menyebabkan

untuk istirahat

ototmenjadi atrofi.

atau tidur.
-

Meningkatkan istirahat,

Berikan aktivitas

mencegah kelelahan, dan

pengalihan,

dapat meningkatkan

seperti membaca,

relaksasi.

mendengarkan
radio, dan

Membantu klien dalam

menonton

koping dengan

televisi,atau

penurunan aktivitas.

kunjungan
dengan teman
yang dipilih atau
keluarga.

BAB IV
KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan
31

Anemia adalah kondisi dimana sel dearah merah menurun atau menurunnya
hemoglobin, sehingga kapasitas daya angkat oksigen untuk kebutuhan organ-organ vital
pada ibu dan janin menjadi berkurang. Kejadian anemia pada ibu hamil harus selalu
diwaspadai mengingat anemia dapat meningkatkan risiko kematian ibu, angka
prematuritas, BBLR dan angka kematian bayi.
Untuk mengenali kejadian anemia pada kehamilan, seorang ibu harus mengetahui
gejala anemia pada ibu hamil, yaitu cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, malaise,
lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang, napas pendek (pada anemia parah)
dan keluhan mual muntah lebih hebat pada kehamilan muda. Apabila seorang wanita mengalami
anemia selama hamil, kehilangan darah pada saat ia melahirkan, bahkan kalaupun minimal, tidak
ditoleransi dengan baik. Ia berisiko membutuhkan transfusi darah. Sekitar 80% kasus anemia
pada masa hamil merupakan anemia tipe defisiensi besi (Arias, 1993). Dua puluh persen (20%)
sisanya mencakup kasus anemia herediter dan berbagai variasi anemia didapat, termasuk anemia
defisiensi asam folat, anemia sel sabit dan talasemia.
Berbagai penyebab dapat mengakibatkan anemia pada ibu hami, namun pada umumnya
anemia pada ibu hamil lebih sering terjadi karena anemia defisiensi zat besi. Dengan berbagai
tanda dan gejala anemia pada ibu hamil yang ada, maka berbeda pula lah penyebabnya.
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada anemia ibu hamil yaitu ada penatalaksanaan medis,
maupun non medis.

4.2 Saran
Sebagai mahasiswa maka perlu lah kami kiranya untuk memahami bagaimana asuha
keperawatan pada ibu hamil dengan anemia, oleh karena itu upaya pencegahan perlu di
tekankan dan kejadian anemia pada ibu hamikl ini perlu diwaspadai. Penyusun berharap agar
para pembaca dapat menggunakan makalah ini dengan baik dan kiranya dapat menambah
referensi lain, yang dapat menambah pebgetahuan pembaca selain dari isi makalah yang
sederhana ini. Demikianlah makalah ini kami buat kami mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca agar pada pembuatan makalah kami selanjutnya akan jauh lebih baik.

32

DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. IBG, Manuba. 2003. Pengantar kuliah obstetri. penerbit buku kedokteran EGC
Bothamley, judy dan Maureen boyle. 2011. Patofisiologi Dalam Kebidanan. Jakarta:
EGC
Farrer , Helen. 1996. Perawatan Maternitas. Penerbit buku kedokteran EGC
Wiknjosastro, H. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
Doenges, M.E ( 2001). Rencana Perawatan Maternal/ Bayi Pedoman Untuk Perencanaan &
Dokumentasi Perawatan Klien. Edisi 2. Jakarta : EGC
Rukiyah, Ai Yeyeh. 2010. Kebidanan 4 (patologi). Jakarta: TIM
Sulaimnan, Reza. 2013. Angka kematian ibu tinggi bkkbk serukan 4 jangan dan 3 terlambat,
[online], (http://health.detik.com/read/2014/01/29/170552/2482304/763/angka-

kematian-ibu-tinggi-bkkbn-serukan-4-jangan-dan-3-terlambat, diakses 14 maret


2015)

33

Admin. 2013. Kesehatan Ibu, [online], (http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/archives/,


diakses 14 maret 2015

34