Anda di halaman 1dari 7

ISSN 2805-2754

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK


DENGAN MALNUTRISI (ENERGI DAN PROTEIN)
Oleh : Isnani Nurhayati, SKM
ABSTRAK
Defisiensi gizi dapat terjadi pada anak yang kurang mendapatkan masukan makanan dalam
waktu lama. Istilah dan klasifikasi gangguan kekurangan gizi amat bervariasi dan masih merupakan
masalah yang pelik. Walaupun demikian, secara klinis digunakan istilah malnutrisi energi dan protein
(MEP) sebagai nama umum. Penentuan jenis MEP yang tepat harus dilakukan dengan pengukuran
antropometri yang lengkap (tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas dan tebal lipatan kulit), dibantu
dengan pemeriksaan laboratorium.
I. Definisi
Kwashiorkor adalah MEP berat yang
disebabkan oleh defisiensi protein. Penyakit
kwashiorkor pada umumnya terjadi pada anak
dari keluarga dengan status sosial ekonomi
yang rendah karena tidak mampu menyediakan
makanan yang cukup mengandung protein
hewani seperti daging, telur, hati, susu dan
sebagainya. Makanan sumber protein
sebenarnya dapat dipenuhi dari protein nabati
dalam kacang-kacangan tetapi karena
kurangnya pengetahuan orang tua, anak dapat
menderita defisiensi protein.
Marasmus adalah MEP berat yang
disebabkan oleh defisiensi makanan sumber
energi (kalori), dapat terjadi bersama atau
tanpa disertai defsiensi protein. Bila
kekurangan sumber kalori dan protein terjadi
bersama dalam waktu yang cukup lama maka
anak dapat berlanjut ke dalam status marasmik
kwashiorkor.
II. Klasifikasi
Untuk kepentingan praktis di klinik
maupun di lapangan klasifikasi MEP ditetapkan
dengan patokan perbandingan berat badan
terhadap umur anak sebagai berikut:
1) Berat badan 60-80% standar tanpa edema :
gizi kurang (MEP ringan)
2) Berat badan 60-80% standar dengan edema :
kwashiorkor (MEP berat)
3) Berat badan < 60% : marasmus (MEP berat)
4) Berat badan < 60% : marasmik kwashiorkor
(MEP berat)
(Ngastiyah, 1997)

III. Gambaran Klinik dan Diagnosis


Gambaran klinik antara Marasmus dan
Kwashiorkor sebenarnya berbeda walaupun
dapat terjadi bersama-sama (Ngastiyah, 1997)
A. Gambaran Klinik Kwashiorkor:
1. Pertumbuhan terganggu (berat badan
dan tinggi badan kurang dari standar)
a. Perkiraan Berat Badan (Kg)
1). Lahir 3,25
2). 3-12 bulan (bln + 9) / 2
3). 1-6 tahun (thn x 2) + 8
4). 6-12 tahun {(thn x 7) 5} / 2
(Soetjiningsih, 1998, hal. 20)
b. Perkiraan Tinggi Badan (Cm)
1). 1 tahun 1,5 x TB lahir
2). 4 tahun 2 x TB lahir
3). 6 tahun 1,5 x TB 1 thn
4). 13 tahun 3 x TB lahir
5). Dewasa 3,5 x TB lahir = 2 x TB 2 thn
(Soetjiningsih, 1998, hal. 21)
2. Perubahan mental (cengeng atau apatis)
3. Edema, yang dapat terjadi di seluruh
tubuh, wajah sembab dan membulat,
mata sayu, rambut tipis, kemerahan
seperti rambut jagung, mudah dicabut
dan rontok, cengeng, rewel dan apatis,
pembesaran hati, otot mengecil
(hipotrofi), bercak merah ke coklatan di
kulit dan mudah terkelupas (crazy
pavement dermatosis), sering disertai
penyakit infeksi terutama akut, diare dan
anemia.
3. Pada sebagian besar anak ditemukan
edema ringan sampai berat)
4. Gejala gastrointestinal (anoreksia, diare)
5. Gangguan pertumbuhan rambut
(defigmentasi, kusam, kering, halus, jarang
dan mudah dicabut)

6. Kulit kering, bersisik, hiperpigmentasi dan


sering ditemukan gambaran crazy
pavement dermatosis.
7. Pembesaran hati (kadang sampai batas
setinggi pusat, teraba kenyal, licin
dengan batas yang tegas)
8. Anemia akibat gangguan eritropoesis.
9. Pada pemeriksaan kimia darah
ditemukan hipoalbuminemia dengan
kadar globulin normal, kadar kolesterol
serum rendah.
10. Pada biopsi hati ditemukan perlemakan,
sering disertai tanda fibrosis, nekrosis
dan infiltrasi sel mononukleus.
11. Hasil autopsi pasien kwashiorkor yang
berat
menunjukkan
terjadinya
perubahan degeneratif pada semua
organ (degenerasi otot jantung, atrofi
fili usus, osteoporosis dan sebagainya).
B. Gambaran Klinik Marasmus:
Pertumbuhan berkurang atau terhenti, otototot atrofi
sangat kurus, tampak tulang terbungkus
kulit, wajah seperti orang tua, cengeng dan
rewel, kulit keriput, jaringan lemak
sumkutan minimal/tidak ada, perut cekung,
iga gambang, sering disertai penyakit
infeksi dan diare.
Perubahan mental (cengeng, sering
terbangun tengah malam)
Sering diare, warna hijau tua, terdiri dari
lendir dengan sedikit tinja.
Turgor kulit menurn, tampak keriput karena
kehilangan jaringan lemak bawah kulit
Pada keadaan marasmik yang berat, lemak
pipi juga hilang sehingga wajah tampak
lebih tua, tulang pipi dan dagu
kelihatan menonjol
Vena superfisial tampak lebih jelas
Perut membuncit dengan gambaran usus
yang jelas.

PATOFISIOLOGI
Kekurangan energi protein dan kalori (KEP) adalah
manifestasi dari kurangnya asupan protein dan
energi, dalam makanan sehari-hari yang tidak
memenuhi angka kecukupan gizi (AKG), dan
biasanya juga diserta adanya kekurangan dari
beberapa nutrisi lainnya. Disebut malnutrisi primer

bila kejadian KEP akibat kekurangan asupan nutrisi,


yang pada umumnya didasari oleh masalah sosial
ekonomi, pendidikan serta rendahnya pengetahuan
dibidang gizi.Malnutrisi sekunder bila kondisi
masalah nutrisi seperti diatas disebabkan karena
adanya penyakit utama, seperti kelainan bawaan,
infeksi kronis ataupun kelainan pencernaan dan
metabolik, yang mengakibatkan kebutuhan nutrisi
meningkat, penyerapan nutrisi yang turun
dan/meningkatnya kehilangan nutrisi.Makanan yang
tidak adekuat, akan menyebabkan mobilisasi
berbagai cadangan makanan untuk menghasilkan
kalori demi penyelamatan hidup, dimulai dengan
pembakaran cadangan karbohidrat kemudian
cadangan lemak serta protein dengan melalui proses
katabolik. Kalau terjadi stres katabolik (infeksi) maka
kebutuhan akan protein akan meningkat, sehingga
dapat menyebabkan defisiensi protein yang relatif,
kalau kondisi ini terjadi pada saat status gizi masih
diatas -3 SD (-2SD--3SD), maka terjadilah
kwashiorkor
(malnutrisi
akut/decompensated
malnutrition). Pada kondisi ini penting peranan
radikal bebas dan anti oksidan. Bila stres katabolik
ini terjadi pada saat status gizi dibawah -3 SD, maka
akan terjadilah marasmik-kwashiorkor. Kalau kondisi
kekurangan ini terus dapat teradaptasi sampai
dibawah -3 SD maka akan terjadilah marasmik
(malnutrisikronik/compensated malnutrition). Dengan
demikian pada KEP dapat terjadi : gangguan
pertumbuhan, atrofi otot, penurunan kadar albumin
serum, penurunan hemoglobin, penurunan sistem
kekebalan tubuh, penurunan berbagai sintesa enzim.

IV. Konsep Asuhan Keperawatan MarasmikKwashiorkor


A. Riwayat Keperawatan
1. Riwayat Keluhan Utama
Pada umumnya anak masuk rumah sakit
dengan keluhan gangguan pertumbuhan
(berat badan semakin lama semakin turun),
bengkak pada tungkai, sering diare dan
keluhan lain yang menunjukkan terjadinya
gangguan kekurangan gizi.
2. Riwayat Keperawatan Sekarang
Meliputi pengkajian riwayat prenatal, natal
dan post natal, hospitalisasi dan
pembedahan yang pernah dialami, alergi,
pola
kebiasaan,
tumbuh-kembang,
imunisasi, status gizi (lebih, baik, kurang,
buruk), psikososial, psikoseksual, interaksi
dan lain-lain. Data fokus yang perlu dikaji
dalam hal ini adalah riwayat pemenuhan

kebutuhan nutrisi anak (riwayat kekurangan


protein dan kalori dalam waktu relatif lama).
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi
keluarga, lingkungan rumah dan komunitas,
pendidikan dan pekerjaan anggota
keluarga, fungsi dan hubungan angota
keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku
yang dapat mempengaruhi kesehatan,
persepsi keluarga tentang penyakit klien
dan lain-lain.
4. Pengkajian Fisik
Meliputi
pengkajian
pengkajian
komposisi keluarga, lingkungan rumah
dan komunitas, pendidikan dan
pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan
hubungan angota keluarga, kultur dan
kepercayaan, perilaku yang dapat
mempengaruhi kesehatan, persepsi
keluarga tentang penyakit klien dan
lain-lain.Pengkajian secara umum
dilakukan dengan metode head to too
yang meliputi: keadaan umum dan
status kesadaran, tanda-tanda vital,
area kepala dan wajah, dada,
abdomen, ekstremitas dan genitourinaria.
Fokus pengkajian pada anak dengan
Marasmik-Kwashiorkor
adalah
pengukuran antropometri (berat badan,
tinggi badan, lingkaran lengan atas dan
tebal lipatan kulit).
Tanda dan gejala yang mungkin
didapatkan adalah:
pemeriksaan laboratorium, anemia
selalu ditemukan terutama jenis
normositik normokrom karenaadanya
gangguan sistem eritropoesis akibat
hipoplasia kronis sum-sum tulang di
samping karena asupan zat besi yang
kurang dalam makanan, kerusakan hati
dan gangguan absorbsi. Selain itu
dapat ditemukan kadar albumin serum
yang menurun. Pemeriksaan radiologis
juga perlu
Penurunan ukuran
antropometri
Perubahan rambut (defigmentasi,
kusam, kering, halus, jarang dan
mudah dicabut)
Gambaran wajah seperti orang tua
(kehilangan lemak pipi), edema
palpebra

Tanda-tanda
gangguan
sistem
pernapasan (batuk, sesak, ronchi,
retraksi otot intercostal)
Perut tampak buncit, hati teraba
membesar, bising usus dapat
meningkat bila terjadi diare.
Edema tungkai
Kulit kering, hiperpigmentasi, bersisik
dan
adanya
crazy
pavement
dermatosis terutama pada bagian
tubuh yang sering tertekan (bokong,
fosa popliteal, lulut, ruas jari kaki, paha
dan lipat paha)
Pemeriksaan Penunjang
Dapat dilakukan untuk menemukan adanya
kelainan pada paru.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin dapat
ditemukan pada anak dengan MarasmikKwashiorkor adalah:
1.
Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak
adekuat, anoreksia dan diare.
2.
Kekurangan volume cairan b/d
penurunan asupan peroral dan
peningkatan kehilangan akibat diare.
3.
Gangguan
pertumbuhan
dan
perkembangan b/d asupan kalori dan
protein yang tidak adekuat.
4.
Risiko aspirasi b/d pemberian
makanan/minuman personde dan
peningkatan sekresi trakheobronkhial.
5.
Bersihan jalan napas tak efektif b/d
peningkatan sekresi trakheobronkhial
sekunder terhadap infeksi saluran
pernapasan
C. RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa : Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak
adekuat, anoreksia dan diare.
Tujuan : Klien akan menunjukkan peningkatan status gizi.
Kriteria:
1. Keluarga klien dapat menjelaskan
penyebab gangguan nutrisi yang
dialami klien, kebutuhan nutrisi
pemulihan, susunan menu dan
pengolahan makanan sehat seimbang.
2. Dengan bantuan perawat, keluarga
klien
dapat
mendemonstrasikan

pemberian diet (per sonde/per oral)


sesuai program dietetik.

Intervensi
o

Intervensi
1. Jelaskan kepada keluarga tentang
penyebab malnutrisi, kebutuhan nutrisi
pemulihan, susunan menu dan
pengolahan makanan sehat seimbang,
tunjukkan contoh jenis sumber
makanan ekonomis sesuai status
sosial ekonomi klien
2. Tunjukkan cara pemberian makanan
per sonde, beri kesempatan keluarga
untuk melakukannya sendiri.
3. Laksanakan pemberian roborans
sesuai program terapi.
4. Timbang berat badan, ukur lingkar
lengan atas dan tebal lipatan kulit
setiap pagi.
Rasional
1. nutrisi
klien.
Meningkatkan
pemahaman
keluarga
tentang
penyebab dan kebutuhan nutrisi untuk
pemulihan klien sehingga dapat
meneruskan upaya terapi dietetik yang
telah diberikan selama hospitalisasi.
2. Meningkatkan partisipasi keluarga
dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi
klien, mempertegas peran keluarga
dalam upaya pemulihan status
3. Roborans meningkatkan nafsu makan,
proses absorbsi dan memenuhi defisit
yang menyertai keadaan malnutrisi.
4. Menilai perkembangan masalah klien.
Diagnosa Kekurangan volume cairan b/d
penurunan asupan peroral dan peningkatan
kehilangan akibat diare.
Tujuan : Klien akan menunjukkan keadaan
hidrasi yang adekuat.
Kriteria:
1. Asupan cairan adekuat sesuai
kebutuhan ditambah defisit yang
terjadi.
2. Tidak ada tanda/gejala dehidrasi
(tanda-tanda vital dalam batas normal,
frekuensi defekasi 1 x/24 jam dengan
konsistensi padat/semi padat).

o
o

Lakukan/observasi pemberian cairan


per infus/sonde/oral sesuai program
rehidrasi.
Jelaskan kepada keluarga tentang
upaya rehidrasi dan partisipasi yang
diharapkan dari keluarga dalam
pemeliharan
patensi
pemberian
infus/selang sonde
Kaji
perkembangan
keadaan
dehidarasi klien.
Hitung balans cairan

Rasional
o

o
o

Upaya rehidrasi perlu dilakukan untuk


mengatasi
masalah
kekurangan
volume cairan.
Meningkatkan pemahaman keluarga
tentang upaya rehidrasi dan peran
keluarga dalam pelaksanaan terpi
rehidrasi.
Menilai perkembangan masalah klien.
Penting untuk menetapkan program
rehidrasi selanjutnya.

Diagnosa : Gangguan pertumbuhan dan


perkembangan b/d asupan kalori dan protein
yang tidak adekuat
Tujuan : Klien akan mencapai pertumbuhan dan
perkembangan sesuai standar
Kriteria:
Pertumbuhan fisik (ukuran antropometrik) sesuai
standar usia.
Perkembangan motorik, bahasa/ kognitif dan
personal/sosial sesuai standar usia.
Intervensi
o Ajarkan kepada orang tua tentang standar
pertumbuhan fisik dan tugas-tugas
perkembangan sesuai usia anak.
o Lakukan pemberian makanan/ minuman
sesuai program terapi diet pemulihan.
o Lakukan pengukuran antropo-metrik secara
berkala.
o Lakukan stimulasi tingkat perkembangan
sesuai dengan usia klien.
o Lakukan rujukan ke lembaga pendukung
stimulasi pertumbuhan dan perkembangan
(Puskesmas/Posyandu)
Rasional

o
o

Meningkatkan pengetahuan keluarga


tentang keterlambatan pertumbuhan dan
perkembangan anak.
Diet khusus untuk pemulihan malnutrisi
diprogramkan secara bertahap sesuai
dengan kebutuhan anak dan kemampuan
toleransi sistem pencernaan.
Menilai perkembangan masalah klien.
Stimulasi diperlukan untuk mengejar
keterlambatan perkembangan anak dalam
aspek motorik, bahasa dan personal/sosial.
Mempertahankan kesinambungan program
stimulasi pertumbuhan dan perkembangan
anak dengan memberdayakan sistem
pendukung yang ada.

Diagnosa : Risiko aspirasi b/d pemberian


makanan/minuman personde dan peningkatan
sekresi trakheobronkhial
Tujuan : Klien tidak mengalami aspirasi.
Kriteria:
Pemberian makan/minuman per sonde dapat
dilakukan tanpa mengalami aspirasi.
Bunyi napas normal, ronchi tidak ada.
Intervensi
o Periksa dan pastikan letak selang sonde
pada tempat yang semestinya secara
berkala.
o Periksa residu lambung setiap kali sebelum
pemberian makan-an/minuman.
o Tinggikan posisi kepala klien selama dan
sampai 1 jam setelah pemberian
makanan/minuman.
o Ajarkan/demonstrasikan
tatacara
pelaksanaan
pemberian
makanan/
minuman per sonde, beri kesempatan
keluarga
melakukan-nya
setelah
memastikan keamanan klien/kemampuan
keluarga.

o Observasi tanda-tanda aspirasi.


Rasional
o Merupakan
tindakan
preventif,
meminimalkan risiko aspirasi.
o Penting untuk menilai tingkat kemampuan
absorbsi saluran cerna dan waktu
pemberian makanan/minuman yang tepat.
o Mencegah refluks yang dapat menimbulkan
aspirasi.
o Melibatkan keluarga penting bagi tindak
lanjut perawatan klien.
o Menilai perkembangan masalah klien.
Diagnosa : Bersihan jalan napas tak efektif b/d
peningkatan sekresi trakheobronkhial sekunder
terhadap infeksi saluran pernapasan
Tujuan : Klien akan menunjukkan jalan napas
yang efektif.
Kriteria:
Jalan napas bersih dari sekret, sesak napas
tidak ada, pernapasan cuping hidung tidak ada,
bunyi napas bersih, ronchi tidak ada.
Intervensi
o Lakukan fisioterapi dada dan suction secara
berkala.
o Lakukan pemberian obat mukolitik
/ekspektorans sesuai program terapi.
o Observasi irama, kedalaman dan bunyi
napas.
Rasional
o Fisioterapi dada meningkatkan pelepasan
sekret.
o Suction diperlukan selama fase hipersekresi
trakheobronkhial.
o Mukolitik memecahkan ikatan mukus;
ekspektorans mengencerkan m,ukus.
o Menilai perkembangan maslah klien.