Anda di halaman 1dari 41

KELOMPOK 6

1.
2.
3.
4.

Sri Puspita Sari

Bareh Catur Astuti


Seno

Entin prakartini

PENGERTIAN BENCANA..

peristiwa atau rangkaian peristiwa yang


mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik
oleh faktor alam dan/ atau faktor non alam
maupun faktor manusia sehingga menyebabkan
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda dan dampak
psikologis (undang-undang no 24 tahun

2007)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (20122015) bencana merupakan sesuatu yang
menyebabkan (menimbulkan) kesusahan,
kerugian, atau penderitaan; kecelakaan.

Dalam buku yang diterbitkan oleh Lembaga


Penelitian dan Pembangunan Sosial KWI (LPPSKWI) (2001) Bencana ialah kerusakan pada polapola kehidupan normal, bersifat merugikan
kehidupan manusia, struktur sosial serta
munculnya kebutuhan masyarakat.

Sedangkan menurut kamus depkes (2013)


bencana merupakan suatu kejadian secara alami
maupun karna ulah manusia, terjadi secara
mendadak ataupun berangsur-angsur,
menimbulkan akibat yang merugikan sehingga
masyarakat dipaksa untuk melakukan tindakan
penanggulangan.

JENIS-JENIS BENCANA..
Undang-undang no 24 tahun 2007
1. Bencana Alam
bencana yang diakibatkan oleh peristiwa
atau serangkaian peristia yang disebabkan
oleh alam antara lain berupa :
A. Gempa bumi, adalah getaran atau
guncangan yang terjadi dipermukaan bumi
yang disebabkan oleh tumbukan antar
lempeng bumi, patahan aktif, aktivitas
gunung api atau runtuhan batuan.

B. Tsunami adalah serangkaian gelombang ombak laut


raksasa yang timbul karena adanya pergeseran di dasar
laut akibat gempa bumi.contoh tsunami di NAD akhir
tahun 2014
C. Gunung meletus atau letusan gunung api merupakan
bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah
erupsi. Bahaya letusan gunung api dapat berupa awan
panas, lontaran material (pijar), hujan abu lebat, lava, gas
racun, tsunami dan banjir lahar.
D.
Banjir, adalah peristiwa atau keadaan dimana
terendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air
yang meningkat. Banjir bandang, adalah banjir yang
datang secara tiba-tiba dengan debit air yang besar yang
disebabkan terbendungnya aliran sungai pada alur sungai
E. Kekeringan, adalah ketersediaan air yang jauh dibawah
kebutuhan air untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan
ekonomi dan lingkungan

F. Angin Puting Beliung adalah angin kencang yang


datang secara tiba-tiba, mempunyai pusat bergerak
melingkar menyerupai spiral dengan kecepatan 40-50
km/jam hingga menyentuh permukaan bumi dan akan
hilang dalam waktu singkat (3-5 menit).
G. Tanah longsor merupakan salah satu jenis gerakan
massa tanah atau batuan, ataupun pencampuran
keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat
terganggu nya kestabilan tanah atau batuan penyusun
lereng.
2. Bencana non alam
bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian
peristiwa non alam yang lain, antara lain berupa gagal
teknologi, gagal modernisasi, epidemi dan wabah
penyakit.

Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau


meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang
bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam
kurun waktu tertentu.
Contoh lain penerbangan maskapai pesawat di akhir tahun
2014
3. Bencana sosial
bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang diakibatkan oleh manusia melalui konflik
sosial antar kelompok atau antarkomunitas masyarakat
dan teror.
A. Konflik sosial atau kerusuhan atau huru hara adalah
suatu gerakan massal yang bersifat merusak tatanan dan
tata tertib sosial yang ada, yang dipicu oleh kecemburuan
sosial, budaya dan ekonomi yang biasanya dikemas sebagai
pertentangan antar suku, agama, ras (SARA).
Contoh lain aliran ISIS, terorisme dll

GEOGRAFIS INDONESIA
terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik, rawan
tsunami
bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk
vulkanik (volcanic arc) dari pulau sumatra, jawa nusa
tenggara, sulawesi
yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan
daratan rendah yang sebagian didominasi oleh rawarawa.
Wilayah pantai wilayah yang rawan terjadi bencana
tsunami
Wilayah Indonesia terletak di daerah iklim tropis dengan
dua musim yaitu panas dan hujan

laju pembangunan mengakibatkan


peningkatan akses masyarakat terhadap
ilmu dan teknologi.
kurang tepatnya kebijakan penerapan
teknologi, sering terjadi kegagalan
teknologi yang berakibat fatal seperti
kecelakaan transportasi, industri dan
terjadinya wabah penyakit
Pertumbuhan penduduk yang tinggi bila
tidak di imbangi dengan kebijakan dan
pembangunan
ekonomi,
sosial
dan
infrastruktur yang merata dan memadai

PENGELOLAAN
ORGANISASI
PENGENDALIAN
BENCANA SKALA LOKAL
DAN NASIONAL

Undang-undang no 24 tahun 2014


Pemerintah dan pemerintah daerah menjadi penanggunng
jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.
Perpres No 83 tahun 2005
kegiatan manajemen penanggulangan bencana di Indonesia
dipandu oleh organisasi Badan Koordinasi Nasional
Penanganan Bencana (Bakornas PB).
bertanggungjawab langsung kepada presiden
memiliki tugas :
Mengkoordinasikan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan
penanganan bencana dan kedaruratan secara terpadu
Melaksanakan penanganan bencana dan kedaruratan mulai
dari sebelum, pada saat dan setelah terjadi bencana yang
meliputi pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan darurat
dan pemulihan

Pelaksanaan tugas tersebut diselengarakan melalui


fungsi :
A. Perumusan dan penetapan kebijakan nasional di
bidang penanganan bencana dan kedaruratan;
B. Koordinasi kegiatan dan anggaran lintas
sektoral serta fungsi dalam pelaksanaan tugas di
bidang penanganan bencana dan kedaruratan;
C. Pemberian pedoman dan arahan terhadap usaha
penanganan bencana dan kedaruratan;
D. Pemberian dukungan, bantuan dan pelayanan di
bidang sosial, kesehatan, sarana dan prasarana,
informasi dan komunikasi, transportasi dan
keamanan serta dukungan lain terkait dengan
masalah bencana dan kedaruratan

STRUKTUR ORGANISASI
BAKORNAS PBP

Bakornas PBP

Satkorlak PB

Satlak PB
Satgas PB

Lakhar Bakornas
Lakhar Satkorlak
Lakhar Satlak PB

Pembiayaan
aktivitas/kegiatan
manajemen
penanggulangan bencana yang dijalankan oleh
Bakornas PB dan Lakhar Bakornas PB dibebankan
kepada APBN
Sedangkan pembiayaan administrasi pembinaan
dan operasional Satkorlak PB dan Satlak PB
dibebankan
kepada
APBD
masing-masing
propinsi/kota/kabupaten
Prinsip manajemen penangulangan bencana di
Indonesia pada dasarnya mencakupi berbagai
aktivitas/kegiatan yang bersifat preventif selain
kuratif.

suatu sistem koordinasi yang baik harus


memperhatikan beberapa hal yaitu :
1. Keikutsertaan dari semua pemangku
kepentingan yang terlibat dalam situasi darurat
bencana
2. Tidak berpihak kepada sesuatu (imparsial).
3. Harus dilakukan secara transparan
4. Harus bermanfaat bagi masyarakat yang
terkena bencana maupun pemangku kepentingan
lainnya

DEFINISI :
Bencana adalah rangkaian peristiwa yang
terjadi secara mendadak/tidak terencana
tetapi berlanjut yang menimbulkan dapak
terhadap pola kehidupan normal atau
kerusakan sehingga diperlukan tindakan
darurat dan luar biasa untuk menolong
dan menyelamatkan korban baik manusia
maupun lingkungannya (DepKes RI,
2006).

ANCAMAN & RESIKO


Ancaman / bahaya (hazard) adalah suatu fenomena
fisik, atau aktivitas manusia yang berpotensi
merusak, yang bisa menyebabkan hilangnya
nyawa atau cidera, kerusakan harta-benda,
gangguan sosial dan ekonomi atau kerusakan
lingkungan (ISDR, 2004 dalam MPBI, 2007).
1. Biological Hazard (bahaya biologi)
2. Chemical Hazard (bahaya kimia),
3. Ergonomic Hazard (bahaya ergonomi)
4. Physical Hazard (bahaya fisika)
5. Psychological Hazard (bahaya psikososial)

FAKTOR RESIKO YANG DAPAT TERJADI


SAAT BENCANA (LANGAN & JAMES, 2005) :
Kurangnya persiapan untuk bencana.
Keparahan dan durasi paparan dan kehidupan dirasakan ancaman, kerugian, cedera.
Paparan kematian mengerikan atau besar, pertempuran, kekerasan, perusakan, cedera
tubuh, kehilangan anggota tubuh atau cacat, kehilangan orang-orang terkasih.
Kerusakan lingkungan yang ekstrim, isi rumah, posisi atau jabatan, struktur masyarakat.
Tuntutan emosional, kehilangan komunikasi atau rasa isolasi dari sistem pendukung,
stigma, diskriminasi atau pengalaman.
Kelelahan ekstrim, kurang tidur, atau paparan trauma lain.
Kemiskinan, tunawisma, pengangguran, stres perkawinan, ketidakstabilan keluarga.
Perasaan bersalah atau harus bisa berbuat lebih banyak, perasaan stres berat.
Usia seperti orang tua atau anak-anak, terutama jika dipisahkan dengan orang-orang
terkasih atau orang tua.
Penyakit atau cacat yang didapat dari bencana.
Riwayat trauma masa kecil atau penyalahgunaan.
status hubungan, wanita yang sudah menikah atau orang tua tunggal lebih rentan,
mungkin karena orang lain bergantung pada mereka.
Paparan kontaminasi racun.
Hilangnya pekerja atau ketidak mampuan tubuh untuk bekerja.

KERENTANAN
Kerentanan (vulnerability) adalah kondisi-kondisi
yang ditentukan oleh faktor-faktor atau prosesproses fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan
yang meningkatkan kecenderungan
(susceptibility) sebuah komunitas terhadap
dampak bahaya (ISDR, 2004 dalam MPBI, 2007).

Penilaian risiko bencana dapat dilakukan dengan


pendekatan ekologi (ekological approach) dan
pendekatan keruangan (spatial approach)
berdasarkan atas analisa ancaman (hazard),
kerentanan (vulnerabiliti) dan kapasitas
(capacity) sehingga dapat dibuat hubungannya
untuk menilai risiko bencana dengan rumus
(MPBI, 2015) :
RB = H x V/C
RB = resiko bencana
H = hazard (bahaya)
V = vulnerability (kerentanan)
C = capacity (kemampuan)

MASALAH YANG DAPAT TERJADI


DALAM PENGELOLAHAN BENCANA
1. Masalah Kelembagaan
a. Bentuk, Tugas dan Fungsi Lembaga BPBD
b. Unsur Pengarah
c. Keterbatasan Sumber Daya Manusia
(SDM)
d. Anggaran BPBD
2. Masalah Defenisi dan Status Bencana
3. Masalah Kerjasama Antar Daerah dalam
Penanggulangan Bencana

CONTOH YANG DIALAMI SAAT


PERMASALAHAN BENCANA :
bencana yang dialami Dampak kejadian bencana banjir pada bulan
januari dan februari 2014 mengakibatkan pengungsian penduduk.
Berdasarkan pendataan petugas matra puskesmas di lokasi bencana,
terdapat pengungsi sebanyak 13.719 KK / 43.454 jiwa. Distribusi
kelompok rentan pada pengungsi yaitu: 3.278 balita, 367 ibu hamil
dan 3.278 lansia, dengan kurang lebih 30 titik pengungsian. Puncak
pengungsian terjadi pada tanggal 15 januari s/d 18 januari 2013
dengan 5 wilayah puskesmas terbanyak yaitu: Puskesmas
Tanjungpura, Pakisjaya, Cikampek, Batujaya, Wadas. Korban akibat
kejadian bencana banjir yang ditangani pos kesehatan bencana pada
bulan Januari dan Februari 2014 yaitu sebanyak 102 jiwa, dengan
korban luka ringan sebanyak: 81 orang, luka sedang sebanyak 16
orang dan luka berat sebanyak 5 orang. Korban luka terjadi pada
kejadian bencana banjir periode Januari 2014, yaitu sebanyak 102
orang sedangkan pada bulan Februari tidak ada korban luka
(PromKes, DinKes Karawang. 2014).

PERATURAN PERUNDANGAN
Perpres NO.8 tahun 2008 tentang BNPB
( Badan Nasional Penanggulangan Bencana)
PP NO. 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana
PP NO. 23 tahun 2008 tentang peran serta
lembaga internasional
Keputusan Menteri Kesehatan RI NO. 145/
Menkes/Sk/I/2007 tentang Pedoman
penanggulangan bencana dibidang kesehatan

BNPB ( BADAN NASIONAL


PENANGGULANGAN BENCANA )
Mengkoordinasikan perencanaan dan
pelaksanaan kegiatan penanganan bencana dan
kedaruratan sebelum, saat dan setelah bencana
meliputi pencegahan, kesiapsiagaan, dan
pemulihan
Salah satu tugas pokok BNPB yaitu menyusun
pedoman pembentukan BPBD

PP NO.21 TAHUN 2008 PASAL 69


TENTANG PELAYANAN KESEHATAN
(1) Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat
(1) huruf e , ditujukan untuk membantu masyarakat yang terkena
dampak bencana dalam rangka memulihkan kondisi kesehatan
masyarakat.
(2) Kegiatan pemulihan kondisi kesehatan masyarakat terkena
dampak bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
melalui upaya-upaya :
a. membantu perawatan korban bencana yang sakit dan mengalami
luka;
b. membantu perawatan korban bencana yang meninggal;
c. menyediakan obat-obatan;
d. menyediakan peralatan kesehatan;
e. menyediakan tenaga medis dan paramedis; dan
f. merujuk ke rumah sakit terdekat

KMK RI NO. 145/MENKES/ SK/I/2007


TENTANG
PEDOMAN
PENANGGULANGAN BENCANA DI
BIDANG KESEHATAN

Secara terstruktur dan terkoordinasi dengan lintas


sektoral dan lintas program mulai dari pemerintahan
Pusat sampai Daerah pelaksanaan kegiatan dibagi
menjadi tiga tahap :
1. pra bencana
2. saat bencana
3. pasca bencana

1. PRA BENCANA
Kegiatan pada tahap ini meliputi:
1.
Standar-standar penanggulangan bencana
2.
Standar dan mekanisme penerimaan bantuan
dalam dan luar negeri
3.
Mengadakan pelatihan setiap unit dan petugas
yang terlibat dalam penanggulangan bencana
4.
Membentuk tim reaksi cepat
5.
Gladi posko dan gladi lapang, membuat jalur
evakuasi
6.
Koordinasi lintas program dan sektoral ttg
sinkronisasi kegiatan dari Pusat sampai Daerah

2. SAAT BENCANA
RUMAH SAKIT

PUSKESMAS

Persiapan IGD dan ruang perawatan untuk


menerima rujuakan dari lokasi bencana

Melakukan sistem rujukan dengan RS Provinsi

Melakukan pengaturan jalur evakuasi

Menyiapkan dan mengirimkan tenaga kesehatan


serta peralatan kesehatan ke lokasi bencana

Puskesmas wilayah mengirimkan


tenaga kesehatan dan peralatan
kesehatan ke lokasi bencana

Mengirimkan ambulance/alat
trasnportasi lainnya ke lokasi
bencana dan penampungan

Membantu melakukan perawatan dan


evakuasi korban

3. PASCA BENCANA
Melakukan koordinasi dengan lintas sektoral :
1.
Untuk pemulihan atau rehabilitasi
sarana/prasarana kesehatan yang mengalami
kerusakan
2.
Pemulihan kehidupan masyarakat ke arah
kehidupan normal secara fisik, mental dan
psikososial dalam bentuk konseling
3.
Mendukung upaya pelayanan kesehatan
dasar ; KLB, pemberantasan penyakit menular,
perbaikan gizi dipenampungan, epidemiologi,
promosi kesehatan, sanitasi dasar.

PENGORGANISASIAN
PENGELOLAAN
BENCANA SKALA
INTERNASIONAL

Di tingkat negara
Organisasi-organisasi PBB
bekerja
dalam
kemitraan
dengan
organisasi-organisasi
penanggulangan
bencana
nasional
dan
dengan
kementerian
kementerian
terkait masing-masing

Di tingkat global
Telah dibentuk sembilan cluster dengan BadanBadan yang ditunjuk untuk mengetuai cluster yang
bertanggung jawab kepada IASC (Komite Tetap AntarLembaga ). Di tingkat negara, cluster diketuai oleh
para wakil tingkat negara yang bertanggung jawab
kepada UNRC ( Resident Coordinator PBB ) atau HC
(Humanitarian Coordinator ).

MEKANISME KOORDINASI TINGKAT


INTERNASIONAL ( OCHA, 2008 )
MEKANISME TINGKAT GLOBAL
1. Emergency Relief Coordinator (ERC)
2. Komite Tetap Antar-Lembaga (IASC)
MEKANISME TINGKAT NEGARA
1. Resident and Humanitarian Coordinator
(RC/HC)
2. Tim Kemanusiaan tingkat Negara (HCT)
MEKANISME PENJEMBATAN
1. Pendekatan Cluster
2. Kantor Koordinasi untuk Urusan-Urusan
Kemanusiaan (OCHA)

( OCHA,2008, p.
32 )

PENDEKATAN CLUSTER

CLUSTER merupakan pengelompokan IASC


terhadap badan-badan operasional sesuai
sektor masing masing dalam aksi
kemanusiaan
Dalam pemerintahan masing-masing cluster
bekerjasama sesuai dengan kementerian
terkait

( OCHA, 2008 ,p.


33 )

( OCHA,2008,p.
34 )

ORGANISASI-ORGANISASI DAN FORUMFORUM ANTAR PEMERINTAH DI


TINGKAT REGIONAL
1. Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN),
Pusat
ASEAN untuk Koordinasi Bantuan
Kemanusiaan (AHA Centre) tentang
penanggulangan bencana dan Forum Regional
ASEAN (ARF)
2. Asosiasi Asia Selatan untuk Kerjasama Regional
(SAARC)
3. Forum Kepulauan Pasifik (PIF)10
4. Sekretariat Masyarakat Pasifik (SPC)11
5. Konferensi Tingkat Tinggi Asia Timur (EAS)
6. Masyarakat Ekonomi Asia Pasifik (APEC)
( OCHA, 2008 )

ORGANISASI-ORGANISASI NONPEMERINTAH
LSM NASIONAL
LSM INTERNASIONAL : CARE,Catholic Relief
Services, Mercy Corps, Oxfam, Save the Children,
International Rescue Commitee, dan World Vision
SEKTOR SWASTA