Anda di halaman 1dari 11

ANATOMI MARMUT (Cavia porcellus)

Oleh:
Nama

: Audilla

Choriamurti
NIM
: B1J013153
Rombongan : V
Kelompok
:4
Asisten
: Ilham Amrulloh

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR HEWAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Marmut atau Cavia porcellus merupakan hewan yang termasuk
dalam

kelompok

mamalia.

Marmut

merupakan

Rodentia

(hewan

pengerat) dan merupakan salah satu hewan yang banyak dipelihara oleh
manusia. C. porcellus mempunyai badan pendek, kuat, dan bertelinga
pendek. Marmut mempunyai glandula mammae yang menghasilkan air
susu

yang

diberikan

kepada

anak-anaknya.

Hewan

ini

dalam

mengandung cukup lama yaitu sembilan minggu. C. porcellus paling


banyak makan sayur-sayuran tetapi ada juga yang makan rumput
(Brotowijoyo, 1990).
Menurut Hildebrand (1995), marmut atau C. porcellus termasuk ke
dalam infraclass eutharia yaitu hewan-hewan yang disebut mamalia
berplasenta, istilah ini menyesatkan karena plasenta adalah organ yang
menyempurnakan pertukaran fisiologis antara induk dan fetus. Pembuluhpembuluh darah eutharia terdapat pada selaput allanthois dan beberapa
eutharia tidak memiliki perdaran darah allanthois. Rodentia merupakan
salah satu ordo dalam kelas mamalia yan paling besar.
Marmut memiliki tubuh yang lebih berat dibandingkan dengan
hewan lain dari famili bajing. Panjangnya dapat mencapai 30-60 cm dan
beratnya sampai 7 kg, tungkainya pendek tapi kuat. Ekor yang biasanya
sepertiga panjang badannya agak kasar, warnanya coklat dalam berbagai
nuansa (Brotowijoyo, 1990).
Ordo Rodentia merupakan ordo terbesar dari mamalia, diantaranya
tupai, tikus-tikus besar, tikus-tikus kecil, babi, muskrat landak, dan
sebagainya. Hewan pengerat memiliki sepasang gigi pemotong di setiap
rahang bawah dan rahang atas untuk mengerat. Gigi pemotong tumbuh
semasa hidup (Guyer dan Lane, 1964).
Alasan digunakan marmut dalam Praktikum Struktur Hewan kali ini
adalah karena marmut mudah didapatkan, secara ekonomis relatif
murah, susunan anatominya sudah lengkap sehingga mudah untuk
diamati dan mampu mewakili ordo rodentia lainnya.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum Struktur Hewan

kali

ini adalah untuk

mempelajari dan mengamati morfologi dan anatomi marmut (Cavia


porcellus).

II. TINJAUAN PUSTAKA


Mamalia adalah vertebrata yang tubuhnya tertutupi oleh rambut.
Kelenjar mamae dipunyai oleh hewan betina yang tumbuh baik untuk
menyusui anaknya. Anggota gerak depan dapat bermodifikasi untuk
berlari, menggali lubang, berenang dan terbang. Pada kulitnya terdapat
kelenjar keringat dan kelenjar minyak (Brotoatmojo, 1990).
Mamalia merupakan kelompok hewan yang menduduki peringkat
tertinggi dalam dunia hewan. Tubuh mamalia hampir seluruhnya ditutupi
oleh rambut dan berdarah panas. Mamalia dapat hidup di berbagai
habitat, bentuk tubuh mamalia bermacam-macam dan dapat dibagi
menjadi caput, cervix dan truncus (Manter, 1989).
Mamalia diduga berasal dari reptil sinadom (periode triassik) yang
giginya berdiferensiasi. Mamalia berespirasi melalui paru-paru yang
mengandung banyak bagian kecil-kecil. Paru-paru berada di ruang
pleural. Mamalia mempunyai dua fragmen muscular, pada larinknya
terdapat pita suara, mempunyai jantung dengan empat ruang yang
terbagi secara sempurna yaitu dua serambi dan dua bilik. Lubang
genitalia dan anus terpisah, baik pada jantan maupun betina. Mamalia
juga mempunyai organ intronitten. Mamalia merupakan hewan vivipar
(Brotowijoyo, 1990).
Hewan

vertebrata

ini

memiliki

kelenjar

mamae

yang

menghasilkan air susu yang diberikan kepada anaknya sebagai minuman


pertama setelah mereka lahir. Hampir seluruh tubuhnya tertutup oleh
rambut, memiliki kelenjar minyak dan bau untuk memikat lawan jenisnya,
dan mempunyai daun telinga. Umumnya mamalia melahirkan anaknya
(vivipar). Mamalia memiliki kemampuan termoregulasi internal yaitu
kemampuan untuk mengontrol temperatur tubuh (Radiopoetro, 1986).
Telur mamalia berukuran sangat kecil. sebagian besar makanan
untuk embrio berasal dari badan induk yang dilakukan oleh suatu organ
pertukaran ialah placenta dan tali pusar. Tidak berhubungan langsung
antara sistem sirkulasi induk dengan sirkulasi embrio atau fetus. Ketika
lahir, anaknya menerima secara terus menerus makanan dari induknya

dalam bentuk air susu. Pertukaran udara pada mamalia terjadi di paruparu disempurnakan oleh gerak rongga dada dan diagframa pada
mamalia, septum jantung bersifat sempurna, dan memberi empat kamar
yang benar-benar terpisah. Atrium kanan menerima darah miskin oksigen
dari badan dan ventrikel kanan memompa darah yang kuat ke paru-paru
untuk melepaskan karbondioksida dan mengambil persedian oksigen
kembali ke atrium kiri dan dipompa keluar dengan kuat kesemua organ
dan jaringan tubuh (Kimball, 1986).
Pembagian

klasifikasi

marmut

(Cavia

porcellus)

menurut

Radiopoetro (1977), adalah sebagai berikut :


Kingdom
Phylum

: Animalia
: Chordata

Subphylum : Vertebrata
Superclass

: Tetrapoda

Class

: Mammalia

Subclass

: Theria

Infraclass

: Eutharia

Ordo

: Rodentia

Familia

: Cavidae

Genus

: Cavia

Species

: Cavia porcellus

Marmut memiliki jantung beruang empat, yakni dua atrium dan


dua ventrikel dengan sekat pemisah yang sudah sempurna dan paru-paru
hewan ini terdiri dari tujuh lobi, memiliki diafragma yang merupakan
pembatas rongga dada dan perut (Kimball, 1991). Marmut atau C.
porcellus merupakan hewan pengerat, makanannya tumbuh-tumbuhan
dan mempunyai gigi pemotong seperti pahat yang berguna untuk
pemotong dan mengerat (Djuhanda, 1982).
C. porcellus merupakan hewan yang tidak berekor (rudiment),
berjari-jari cakar (pentadactyl), satu incisivus pada tiap bedah rahang,
berbentuk padat, dapat tumbuh terus, tidak ada dentes caciini, jumlah
dentes premolars dan dentes molars ialah variabel, lengan bawah dapat
berpronasi dan bersupinasi (Radiopoetro, 1986).
Rambut pada mamalia termasuk C. porcellus menutupi hampir
seluruh tubuh kecuali telapak kaki, kuku, glants penis, hubungan
mukocutaneus dan putting susu pada beberapa spesies. Kuku bersifat

lentur, menghasilkan bentuk keratin oleh folikel rambut. Folikel rambut


terbentuk dari pertumbuhan ectoderm ke mesoderm embrio dibawahnya.
Pertumbuhan ke bawah pada epitel terbentuk saluran dari sel-sel
sekitarnya berdiferensiasi menjadi beberapa lapis atau selubung yang
mengelilingi akar rambut (Dellman dan Ester, 1992).
Marmut (C. porcellus) tubuhnya tersusun oleh caput, cervix,
truncus, extrimitas anterior, extrimitas posterior, dan cauda yang tumbuh
rudimenter. Kaki depan biasanya lebih pendek daripada kaki belakang
dan berfungsi untuk memegang makanan. Marmut termasuk hewan
herbivora dan mempunyai sebuah caecum yang besar dan tumbuh
sempurna dan berfungsi untuk menyimpan makanan. Selain itu di sini
juga terjadi pencernaan oleh bakteri (Manter dan Miller, 1959).

III.

MATERI DAN METODE

A. Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum adalah bak preparat, sarung
tangan, gunting bedah dan jarum penusuk.
Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah marmut (Cavia
porcellus), tissue dan kloroform.
B. Metode
1. Marmut dibius dengan menggunakan kloroform, kemudian letakkan
marmut dalam baki preparat dengan posisi ventral diatas.
2. Sebelum pembedahan dilakukan, rambut pada bagian

ventral

dibasahi dulu supaya pada waktu dibedah rambut-rambut tidak


beterbangan dan mengotori.
3. Kulit dipotong dengan gunting mulai dari posterior di muka penis atau
clitoris menuju anterior mengikuti garis medio ventral badan sampai
di ujung mandibula.
4. Kulit dibuka kesamping sampai kelihatan otot-otot daerah abdomen
dan thorax.
5. Selaput-selaput yang tidak diperlukan dipotong supaya strukturstruktur yang akan diamati tampak jelas dan pendarahan sedapat
mungkin dihindari agar tidak terganggu.

6. Pembedahan daerah abdomen dimulai dari daerah inguinal menuju


anterior

sampai

xiphisternum

mengikuti

garis

median

badan,

kemudian dilanjutkan ke lateral menyusuri difragma, sehingga otototot pada bagian abdomen dapat dikuakkan dan organ-organ yang
ada pada rongga abdomen dapat dilihat dengan jelas.
7. Pembedahan daerah thorax dilakukan dengan memotong rusuk-rusuk
di kiri sternum pada bagian anterior dekat pangkal leher (sampai
rusuk pertama), kemudian dilanjutkan ke lateral pada bagian anterior
sampai daerah ketiak (aksiler), sedangkan sebelah posterior digunting
lateral menyusuri diafragma.
8. Setelah pembedahan selesai, semua organ diamati terlebih dahulu
tanpa mengubah tempat masing-masing.
9. Setelah memperhatikan viscera Insitu, saluran pencernaan makanan
direntangkan dengan hati-hati, kemudian dipelajari dan gambar yang
ada didiktat diberi keterangan.

B. Pembahasan
Tubuh marmut terdiri dari caput (kepala), cervic (leher), truncus
(badan), extrimitas anterior, extrimitas posterior dan cauda (ekor) yang
tumbuh rudimenter. Caput marmut menunjang sebuah mulut yang lebar
untuk mengambil makanan. Terdapat dua lubang hidung, dua mata
berbentuk bola, dan di sebelah posterior mata terdapat gendang telinga
atau membran timpani. Akhir dari badan terdapat anus sebagai alat
pengeluaran. Hal itu sesuai dengan pernyataan Djuhanda (1982), bahwa
tubuh marmut dibagi menjadi caput (kepala), cervix (leher), truncus
(badan), extrimitas anterior, extrimitas posterior, serta cauda (ekor) yang
tumbuh rudimenter. Caput marmut menunjang sebuah mulut yang lebar
untuk mengambil makanan. Dua lubang hidung, dua mata berbentuk
bola, dan di sebelah posterior mata terdapat gendang telinga atau
membran timphany. Akhir dari badan terdapat anus.
Marmut mempunyai anggota badan bersifat pentadactyl, jarijarinya mempunyai cakar. Hewan ini memiliki satu dens incisivus pada
tiap rahang dan dapat tumbuh terus (Radiopoetro, 1986). Kepala C.

porcellus terdapat mulut yang sebelah depannya dibatasi oleh bibir atas
dan bawah. Bibir atas di tengahnya bercelah sehingga gigi serinya dapat
terlihat dari luar. Mulut marmut pada bagian atasnya terdapat lubang
hidung dan di sekitar mulut. Pada hidung terdapat rambut-rambut peraba
(vivrisae). Mata marmut ada sepasang yang dilengkapi dengan kelopak
mata (Djuhanda, 1982).
Tubuh marmut dilindungi oleh rambut, kulit banyak mengandung
bermacam-macam kelenjar, tengkorak mempunyai dua kondil oksipital,
pada rahang tertanam gigi di dalam kantung gigi (alveolar) yang
berbentuk dan besarnya berbeda-beda dalam satu individu (heterodon),
kaki teradaptasi untuk berjalan, memanjat, menggali tanah, berenang
atau

terbang.

Jantung

beruang

empat

dengan

sekat-sekat

yang

sempurna, lengkung aorta hanya satu yaitu pada sebelah kiri, paru-paru
relatif besar dan kenyal terdapat di rongga dada. Antara rongga dada dan
perut

terdapat

Pernapasan

sekat

rongga

menggunakan

tubuh

pulmo,

yang

larink

dinamakan

mempunyai

difragma.
tali

suara,

mempunyai difragma anticus sempurna yang memisahkan pulmo dan cor


dengan rongga abdominalis (Djuhanda, 1982).
Lidah marmut dilapisi oleh selaput lendir dan tonjolan-tonjolan kecil
yang banyak mengandung sel-sel indra perasa yang berhubungan
dengan saraf. Tubuh marmut dapat dibedakan secara jelas antara caput,
cervix, truncus, dan cauda. Mulut, lubang hidung, mata dan lubang
telinga pada marmot terdapat pada bagian caput. Telinga marmot
dilengkapi daun telinga (pina auricula), pada mulut terdapat labium
inferior dan labium superior (Radiopoetro, 1986). Menurut Djuhanda
(1982), marmut tidak memiliki gigi taring dan tempat yang kosong antara
gigi seri dan geraham pertama pada rahang dinamakan diastema.
Rongga mulut bagian belakang disebut farings, merupakan persilangan
antara jalan nafas dengan jalan makanan.
Sistem pencernaan makanan pada marmut terdiri atas saluran
pencernaan makanan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan
terdiri atas rongga mulut, pharing, kerongkongan, lambung, usus halus,
(terdiri atas jejenum dan illeum), usus buntu (caecum) berbentuk kantung
besar yang di dalamnya terjadi pencernaan selulosa oleh bakteri, dan
usus besar. Kelenjar pencernaan terdiri atas kelenjar ludah, kelenjar pada
mucosa usus halus, pancreas, hepar, dan empedu (Mulyono, 1989).

Sistem pencernaan marmut dimulai dari rima oris, dalam rima oris
bermuara kelenjar saliva, diantaranya yang terbesar adalah glandula
parotis. Sistem pencernaan marmut di mulai dari rima oris, oesophagus,
gastrum, jejunum, ileum, caecum, colon, rectum, dan berakhir di anus
(Djuhanda, 1982). Gastrum mempunyai kelenjar yang menghasilkan HCL
dan pepsin, gastrum terdiri dari tiga bagian yaitu : pars cardiac, fundus,
dan pars pylorica (Hildebrand, 1976). Gastrum pada marmut berbentuk
cembung dan cekung. Bagian cembung gastrum biasanya disebut
curvatura mayor, sedangkan yang cekung disebut curvatura minor.
Intestinum terdiri dari : duodenum (berbentuk U terdapat pada ductus
pancreaticus dan glandula pancreaticus), jejunum, ileum, Caecum yang
tumbuh dengan sempurna, bagian yang berbentuk seperti kantungkantung disebut haustrae, sedangkan lapisan yang membatasinya
disebut

incisura

(Dellman

dan

Ester,

1992).

colon

(ascenden,

transversum, descenden, dan sigmoideum), rectum yang merupakan


muara keluar melalui anus terletak terminal pada ujung cauda humerus.
Hepar merupakan penghasil empedu yang disimpan dalan vesica felea
(Hildebrand, 1976).
Sistem

urogenitalia yang

terdiri

dari

sistem urinaria yaitu

sepasang ren yang berwarna merah tua dan berbentuk seperti kacang
terletak di daerah lumbo dorsal dan rongga abdomen. Sepasang ureter
yang tertanam dan hillus dari ren berperan untuk mengalirkan urin.
Vesica urinaria berfungsi sebagai tempat penampungan urin sementara
(Radiopoetro, 1977). Menurut Brotowidjoyo (1993), ren mamalia bertipe
metanephros dengan dua ureter yang mengeluarkan kemih langsung ke
kandung kemih. Tidak ada vena portal renal, dan eksretnya berbentuk
cairan. Lubang genital dan anus terpisah, baik jantan maupun betina.
Fertilisasi terjadi secara internal.
Menurut Radiopoetro (1977), sistem genitalia pada marmut jantan
maupun betina sudah berkembang dengan sempurna, kedua bagian kiri
dan

kanan

sudah

berkembang

dan

sama-sama

produktif.

Sistem

reproduksinya terdiri atas kelenjar kelamin atau gonad dan saluran


kelamin. Gonad betina dinamakan ovarium, dan gonad jantan disebut
testis. Oogenesis terjadi di dalam ovarium yang diakhiri dengan
terjadinya ovulasi.

Marmut

bernafas

menggunakan

paru-paru.

Jantung

marmut

mempunyai empat ruang dengan sekat yang sempurna. Hal itu sesuai
dengan pernyataan Manter dan Miller (1959), bahwa mamalia bernafas
dengan paru-paru yang terdapat dalam rongga dada. Percabangan paruparu mengalami percabangan lagi sehingga percabangan terkecil tidak
lagi diperkuat oleh cincin tulang rawan, tetapi berakhir pada ujung buntu
yang disebut alveolus yang berfungsi memperluas permukaan paru-paru,
sehingga memperbesar kemungkinan pertukaran udara oleh kapilerkapiler pada dinding alveolus. Selain itu, diantara rongga dada dan perut
terdapat sekat rongga tubuh yang dinamakan difragma. Pernapasan
menggunakan pulmo, larink mempunyai tali suara, mempunyai difragma
anticus sempurna yang memisahkan pulmo dan cor dengan rongga
abdominalis (Djuhanda, 1982).

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan

tujuan

dan

pembahasan,

maka

dapat

diambil

kesimpulan sebagai berikut :


1. Marmut mempunyai anggota badan bersifat pentadactyl, jari-jarinya
mempunyai cakar dan memiliki satu dens incisivus pada tiap rahang
dan dapat tumbuh terus .
2. Marmut merupakan hewan mamalia yang memiliki ciri-ciri yaitu :
mempunyai glandula mammae, tubuhnya diselimuti oleh rambut,
memiliki banyak kelenjar, dan mempunyai dua telinga.
3. Tubuh marmut umumnya dapat dibedakan dengan nyata, yaitu caput
(kepala), cervix (leher), truncus (badan), extrimitas (anggota badan),
dan cauda (ekor).
4. Sistem pencernaan pada marmut terdiri atas cavum oris, lidah, gigi,
pharing, intestinum dibagi lagi ke dalam duodenum, jejunum dan
ileum, intestinum crassum dibagi ke dalam colon dan rectum yang
bermuara pada anus.
5. Sistem pernafasan pada marmut terdiri atas hidung, nares externa,
laryng,

trachea,

broncus,

bronchiolus,

bronchiolus respiratorius,

ductus alveolaris, sacculus alveolaris, alveolus.


6. Sistem ekskresi marmut terdiri dari sepasang ginjal, ureter, vesica
urinaria yang kemudian berakhir di anus.
7. Sistem genitalia betina pada marmut terdiri atas sepasang ovaria,
satu uterus dan satu vagina. Sedangkan sistem genitalia jantan pada
marmut terdiri atas testis, copus adiposum, kelenjar prostat dan
penis.
B. Saran
Saran untuk praktikum kali ini adalah untuk preparat sebaiknya
yang diberikan kepada setiap kelompok masih dalam keadaan belum
dibedah sehingga praktikan dalam mempraktikan cara pembedahan
preparat sendiri.

DAFTAR REFERENSI
Brotowidjojo, M. D. 1990. Zoologi Dasar. Erlangga, Jakarta.
. 1993. Zoologi Dasar. Erlangga, Jakarta.
Dellman, H. D. and Ester, M. B. 1992. Buku teks Histologi Veteriner.
Universitas Indonesia
Press, Jakarta.
Djuhanda. 1982. Anatomi Dari Empat Spesies Hewan Vertebrata. Armico,
Bandung.
Guyer and Lane . 1964 . Animal Biology .Herper and Row , New York.
Hildebrand, M. 1976. Analysis of Vertebrate Structure. Unite State
Copyright, California.
Kimball, J.W. 1986. Biologi. Erlangga, Jakarta.
. 1991. Biologi. Erlangga, Jakarta.
Manter, H. W. and Miller. 1959. Introduction to Zoology. Harpers and
Brothers, New York.
Manter, H. W. 1989. Introduction of Zoology. Harper and Row Publishers,
New York.
Mulyono, S. 1989. Biologi. Setiaji, Surakarta.
Radiopoetro. 1977. Zoology. Erlangga, Jakarta.
. 1986. Zoology. Erlangga, Jakarta.