Anda di halaman 1dari 23

A.

Asuhan Kehamilan Kunjungan Awal Kunjungan awal adalah suatu kunjungan


yang dilakukan pertama kali ibu hamil dari awal kehamilan hingga minggu ke-36.
Tujuan Kunjungan adalah sebagai berikut: 1. Membina hubungan saling percaya
antara bidan dan ibu 2. Mendeteksi masalah yang dapat diobati 3. Mencegah
masalah dan penggunaan praktek tradisional yang merugikan. 4. Memulai
persiapan persalinan dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi. 5. mendorong
perilaku yang sehat. a. Pengkajian Data Kesehatan Ibu Hamil 1. Riwayat
Kesehatan Social, Riwayat Kebidanan, Keluarga, Penyakit. Riwayat kesehatan
merupakan identifikasi keluhan sekarang, penyakit umum yang pernah diderita,
serta penyakit yang dialami saat masa sebelum kehamilan maupun saat kehamilan.
a. Sosial 1. Kumpulan keluarga Informasi tentang keluarga klien harus mencakup
asal keluarga, tempat lahir, orang-orang yang tinggal bersama klien, individu yang
dianggap keluarga, dan individu yang dapat diandalkan dalam memperoleh
dukungan,tentang status klien saat ini, dan klien tinggal dengan siapa klien
tinggal.hal ini menunjukan bahwa bidan menyadari tidak semua wanita hamil
terikat dan sanggup untuk sendiri menghadapi semua keadaan saat ia hamil. 2.
Situasi tempat tinggal Dapatkan informasi tentang tempat tinggal klien, seberapa
kali ia pindah, seperti apa rumahnya, jumlah individu, keamanan lingkungan, dan
jika diindikasikan, apakah tersedia cukup makanan didalam rumah,dan keadaan
lingkungan sekitar, diharapkan tetap bersih dan terhindar dari berbagai sumber
penyakit. 3. Pekerjaan Mengetahui pekerjaan klien adalah penting untuk
mengetahui apakah klien berada dalam keadaan utuh dan untuk mengkaji potensi
kelainan premature dan pajanan terhadap bahaya lingkungan kerja, yang dapat
merusak janin. 4. Pendidikan, minat, hobi, dan tujuan Tanyakan pendidikan
tertinggi yang klien tamatkan juga minat, hobi, dan tujuan jangka panging.
Informasi ini membantu klinis memahami klien sebagai individu dan memberi
gambaran kemampuan baca-tulisnya. Kadang-kadang bahaya potensial dari hobi,
seperti melukis, memahat, mengelas, membuat mebel, piloting, balap, menembak,
membuat keramik, dan berkebun akan diidentifikasi. 5. Pilihan agama Tanyakan
pilihan agama klien dan berbagai praktik terkait-agama yang harus
diobservasi.Informasi ini dapat menuntun ke suatu diskusi tentang pentingnya
agama dalam kehidupan klien, tradisi keagamaan dalam kehamilan dan kelahiran,
perasaan tentang jenis kelamin tenaga kesehatan, dan pada beberapa kasus,
penggunaan produk darah. 6. Hewan peliharaan Tanyakan jenis dan jumlah hewan
peliharaan ditempat tinggal klien.Hewan peliharaan yang berpotensi menimbulkan
bahaya dan penyakit harus didiskusikan. 7. Sumber dukungan dan perencanaan
kehamilan Tanyakan siapa yang dapat klien andalkan untuk memberinya
dukungan.Pada saat tertentu wanita mungkin menjawab tidak seorangpun. Dengan
demikian , kunjungan yang lebih lama dan lebih sering serta berfokus pada upaya
mencari dukungan emosional dan menjalin hubungan dengan sumber komunitas

yang tepat harus dijadwalkan jika memungkinkan dan tanyakan pada klien apakah
kehamilan ini direncanakan atau tidak. 8. Sumber stress Faktor-faktor yang umum
menjadi sumber steres pada wanita hamil ialah biaya, pemukiman, kenakalan
anak, dan masalah hubungan dengan pasangan atau anggota keluarga
lain.pertanyaan, apakah sumber utama stress anda saat ini? akan memb antu
klinisi memahami beberapa factor yang mempengaruhi kehidupan dan kehamilan
klien. 9. Kebiasaan yang meningkatkan kesehatan Informasi tentang pola hidup
sehat klien akan bermanfaat untuk mengidentifikasi bidang pendidikan kesehatan
yang butuhkan, baik saat ini maupun pada masa pascapartum, seperti kebiasaan: a.
Merokok b. Alkohol c. Obat terlarang dan obat rekreasional 10. Keamanan
Tanyakan klien apakah biasa mengenakan sabuk pengaman dan persenling,
pelindung dan apakah ia terlibat dalam kegiatan olahraga, jika ia melakukan
kegiatan tersebut anjurkan pada klien untuk selalu menjaga keselamatan dirinya
dan mengurangi kegiatan yang dapat mengancam keselamatan ibu dan janin. b.
Riwayat Kebidanan 1. Riwayat menstruasi Gambaran riwayat menstruasi klien
yang akurat biasanya membantu penetapan tanggal perkiraan kelahiran (estimated
date of delivery-EDD) yang sering disebut taksiran partus. Perhitungan dilakukan
dengan menambahkan 9 bulan dan 7 hari pertama haid terakhir (HPHT) atau
dengan mengurangi bulan dengan 3, kemudian menambahkan 7 hari dan 1 tahun.
Rumus Naegele (h+7 b-3 + x + 1mg) untuk siklus 28 + x hari.Informasi tambahan
tentang siklus menstruasi yang harus diperoleh mencakup frekuensi haid dan lama
pendarahan. 2. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu, Kehamilan:
Adakah gangguan seperti perdarahan, muntah yang sangat (sering), toxaemia
gravidarum. Persalinan:Spontan atau buatan, aterme atau premature, perdarahan,
ditolong oleh siapa (bidan, dokter). Nifas:Adakah panas atau perdarahan,
bagaimana laktasi. Anak:Jenis kelamin, hidup atau tidak, kalau meninggal umur
berapa dan sebabnya meninggal, berat badan waktu lahir. 3. Riwayat kontrasepsi
Riwayat kontrasepsi diperlukan karena kontrasepsi hormonal dapat
mempengearuhi EDD, dan karena penggunaan metode lain dapat membantu
menangalli kehamilan ketika seorang wanita menghabiskan pil berisi hormone
dalam tablet kontrasepsi oral, periode selanjutnya akan mengalami disebut
withdrawal bleed. Dan terkadang ada kalanya kehamilan terjadi ketika IUD
masih terpasang.Apabila ini terjadi, lepas IUD jika talinya tampak.Prosedur ini
dapat dilakukan oleh perawat praktik selama trimester I, tetapi lebih baik dirujuk
kedokter bila kehamilan sudah berusia 13 minggu.Pelepasan IUD menurunkan
resiko keguguran, sedangkan membiarkan IUD terpasang meningkatkan aborsi
septik pada pertengahan trimester.Riwayat pengunaan IUD terdahulu
meningkatkan resiko kehamilan ektopik.Dan tanyakan kepada klien lamanya
pemakaian alat kontrasepsi dan jenis kontrasepsi yang digunakan. 4. Riwayat
obstetric Informasi esensial tentang kehamilan terdahulu mencakup bulan dan

tahun kehamilan tersebut berakhir, usia gestasi pada saat itu itu, tipe persalinan
(spontan, forsep, ekstrasi vakum, atau bedah sesar), lama persalinan (lebih baik
dihitung dari kontraksi pertama), berat lahir, jenis kelamin, dan komplikasi
lain.ketika menggambarkan kehamilan yang berakhir sebelum minggu ke 20,
bedakan antara aborsi spontan, elektif, terapeutik, dan kehamilan ektopik. 5.
Riwayat ginekologi Riwayat penyakit atau kelainan ginekologi serta
pengobatannya dapat memberi keterangan penting, terutama operasi yang pernah
dialami. 6. Riwayat seksual Riwayat seksual adalah bagian dari data dasar yang
lengkap karena riwayat ini member informasi medis yang penting sehingga klinis
dapat lebih memahami klien dan mendapat kesempatan untuk : a.
Mengidentifikasi riwayat penganiayaan seksual b. Menawarkan informasi yang
dapat mengurangi kecemasan dan menghilangkan mitos c. Menawarkan anjurananjuran untuk memperbaiki fungsi seksual d. Membuat rujukan apabila tercatat
disfungsi seksual atau masalah emosional. c. Riwayat Keluarga Informasi tentang
keluarga klien penting untuk mengidentifikasi wanita yang beresiko menderita
penyakit genetic yang dapat memengaruhi hasil akhir kehamilan atau beresiko
memiliki bayi yang menderita penyakit genetik. d. Penyakit 1. Penyakit Organik
Meskipun tidak setiap penyakit dan gangguan akan mempengaruhi atau
dipengaruhi kehamilan, penting juga menanyakan setiap penyakit tersebut supaya
diperoleh data yang lengkap. Wanita yang juga memiliki riwayat kesehatan yang
kronis atau lemah juga wanita yang menderita penyakit, seperti hipertensi kronis,
SLE, diabetes mellitus tergantung insulin, penyakit jantung, paru-paru dan
anemia, pemeriksaan kadar TSH (thyroid stimulating hormone). 2. Human
Papilloma Virus (HPV) HPV adalah virus yang mudah menular dan sering
menyebabkan kondiloma akuminata, kadang-kadang disebut kutil venereal.Kutil
ini biasanya ditemukan di seviks dan dinding vagina, uretra, bokong, anus dan alat
genetalia ekterna.Selama masa hamil, pengobatan kutil venereal dilakukan setiap
minggu dengan mengoleskan salep teratogenik. 3. Penyakit Radang Panggul
Klinis harus mengetahui riwayat PID sedini mungkin pada masa kehamilan
karena PID mingkatkan risiko kehamilan ektopik tujuh kali lipat (Oregon health
division, 1995).Setiap kram atau perdarahan pada wanita yang memiliki riwayat
penyakit ini perlu diperiksa menggunakan ultrasonografi untuk memastikan
bahwa kehamilan terjadi di uterus. 4. Penyakit yang Menyertai Kehamilan a.
Kehamilan disertai penyakit jantung Kehamilan yang desertai penyakit jantung
selalu saling mempengaruhi karena kehamilan memberatkan penyakit jantung dan
penyakit jantung dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin
dalam rahim. Keluhan utama yang dikemukakan : 1. Cepat merasa lelah 2.
Jantung nya berdebar-debar 3. Sesak nafas apalagi disertai terjadi
sianosis(kebiruan) 4. Edema tungkai atau terasa berat pada kehamilan muda 5.
Mengeluh tentang bertambah besarnya rahim yang tidak sesuai. b. Hipertensi

Yang dimaksud hipertensi disertai kehamilan adalah hipertensinyang telah ada


atau sebelumnya kehamilan. Apabila dalam kehamilan disertai dengan protenuria
dan udem maka disebut pre-eklampsia yang tidak murni atau superimposed preek-lampsia. Penyebab utama hipertensi pada kehamilan adalah hipertensi esensial
dan penyakit ginjal. c. Penyakit paru-paru dan kehamilan Sikap bidan dalam
mengahadapi kehamilan dengan penyakit tuberculosis paru sebaiknya adalah
melakukan konsultasi ke dokter untuk memastikan penyakitnya. Pada penyakit
batuk menahun/tuberculosis yang tenang bidan dapat melanjutkan pengawasan
hamilsampai persalinan setempat, sedangkan pada penyakit asma pada kehamilan,
kadang- kadang bertambah berat atau malah berkurang dalam batas yang wajar,
penyakit asma tidak banyak pengaruhnya terhadap kehamilan. Pemeriksaan fisik
pada kunjungan awal prenatal difokuskan untuk mengidentifikasi kelainan yang
sering mengontribusi morbiditas dan mortalitas dan untuk mengidentifikasi
gambaran tubuh yang menunjukkan gannguan genetik. Pemeriksaan harus
mencakup penetapan tinggi dan berat badan, pengukuran tekanan drah (TD) dan
nadi, dan pemeriksaan kulit, kelenjar tiroid, jantung, paru, payudara, ekstremitas
dan abdomen, serta pemeriksaan pelvis. 2. Pemeriksaan Fisik a. Pemeriksaan fisik
umum 1. Tinggi badan Tubuh yang pendek dapat menjadi indikator gangguan
genetik. Karena tinggi yang pasti sering kali tidak diketahui dan tinggi badan
berubah seiring peningkatan usia wanita, tinggi badan harus diukur pada saat
kunjungan awal. 2. Berat badan Berat badan ditimbang pada kunjungan awal
untuk membuat rekomendasi penambahan berat badan pada eanita hamil dan
untuk membatasi kelebihan atau kekurangan berat. Selama bertahun-tahun banyak
saran telah diajukan tentang penambahan berat ideal pada wanita hamil. Salah
satu sumber pedoman terbaru dari Institute of Medicine menggunakan Indeks
Massa Tubuh (IMT) untuk menentukan penambahan berat yang
direkomendasikan. IMT diperoleh dengan menghubungkan tinggi badan klien
dengan berat badannya saat hamil (Apendiks K). 3. Tanda-tanda vital: tekanan
darah, nadi, suhu, respirasi b. Kepala dan leher 1. Edema di wajah 2. Ikterus pada
mata 3. Mulut pucat 4. bibir pecah-pecah 5. Leher meliputi pembengkakan pada
saluran limfe/pembesaran kelenjar tiroid c. Tangan dan kaki 1. Edema pada jari
tangan 2. Kuku jari pucat 3. Varices vena 4. Refleks d. Payudara 1. Ukuran,
simetris 2. puting payudara: masuk/menonjol 3. keluarnya kolostrum atau cairan
lain 4. retraksi, dimpling 5. massa 6. nodul axilla e. Abdomen 1. Luka bekas
operasi 2. Tinggi fundus uteri 3. Letak, presentasi, posisi dan penurunan kepala
(jika >36 minggu) 4. DJJ (jika> 18 minggu) f. Genital luar 1. Varices 2.
Perdarahan 3. Luka 4. Cairan yang keluar 5. Pengeluaran dari uretra dan skene 6.
Kelenjar bartholin : bengkak, massa, cairan yang keluar g. Genital dalam 1.
Serviks : cairan yang keluar, luka, kelunakan, posisi, mobilitas, tertutup/membuka
2. Vagina : cairan yang keluar, luka, darah 3. Ukuran adneksa: bentuk, posisi,

nyeri, kelunakan, masssa (pada TW I) 4. Uterus : ukuran, bentuk, posisi,


mobilitas, kelunakan, massa (pada TW I) 3. Pemeriksaan Panggul Tanda-tanda
menimbulkan perasangka panggul sempit ialah : 1. Pada primigravida kepala
belum turun pada bulan terakhir. 2. Pada multipara jika dalam anamnesa, ternyata
persalinan-persalinan yang dulu sukar (riwayat obstetric yang jelek). 3. Jika
terdapat kelainan letak hamil tua. 4. Jika badan penderita menunjukkan kelainan
seperti kyphose, scoliose, kaki pendek sebelah/pincang, cebol. 5. Kalau ukuranukuran luar sempit. Jika ada prasangka panggul sempit baiknya dikonsulkan
kepada seorang dokter ahli. Kita biasanya memeriksa dan mengukur panggul
sekali dalam kehamilan ialah dengan toucher karena ukuran-ukuran dalamlah
yang menentukan luasnya jalan lahir. a. Biasanya dilakukan pada kehamilan 8
bulan, yang diperiksa ialah : 1. Conjugate diagonalis. 2. apakah lineainnominata
teraba seluruhnya/hanya sebagian. 3. Keadaan sacrum apakah concaaf dalam arah
atas bawah dari kiri k kanan. 4. Keadaan dinding samping panggul apakah
lurus/convergent. 5. Apakah spinae ischiadicae menonjol 6. Keadaan os pubis
adakah exostose 7. Keadaan arcus pubis. b. Peluang calon ibu agar bisa
melahirkan normal berdasarkan bobot bayi: 1. Panggul sempit, panggul jenis ini
hanya bisa mengeluarkan bayi berbobot 2,5 kg ke bawah. 2. Panggul sedang, bisa
mengeluarkan bayi berbobot 2,5 kg s/d 3,5 kg. 3. Panggul luas, panggul jenis ini
bisa mengeluarkan bayi berukuran besar 3,5 kg s/d 3,9 kg. c. Ukuran panggul
rata-rata dan terkategori normal: 1. Pintu atas panggul (pelvic inlet) minimal
memiliki diameter 22 cm. 2. Pintu tengah panggul (mid pelvic) diameter
minimalnya adalah 20 cm. 3. Pintu bawah panggul, panjang diameter normalnya
rata-rata minimal 16 cm. d. Panggul Luar : 1. Distansia Spinarum: Jarak antara
spina iliaca anterior superior kiri dan kanan, normalnya 23-26 cm 2. Distansia
Cristarum: Jarak yang terjauh antara crista iliaca kanan dan kiri, normalnya 26-30
cm 3. Conjugata Eksterna: Jarak antara pinggir atas sympisis dan ujung prosessus
spinosus ruas tulang lumbal ke-V, normalnya 18-20 cm 4. Lingkar Panggul: Dari
pinggir atas sympisis ke pertengahan antara spina iliaca anterior superior dan
trochanter major sepihak dan kembali melalui tempat-tempat yang sama di pihak
yamg lain, normalnya 80-90 cm e. Panggul Dalam : 1. Conjugata Diagonalis 2.
Promontorium, Linea Innominata 3. Spina Isiadika, Kelengkungan Sakrum,
Dinding Samping Pelvis 4. Arkus Pubis, Mobilitas Tulang Coccygeus 4.
Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Laboratorium merupakan pemeriksaan
untuk menunjang diagnosis penyakit, guna mendukung atau menyingkirkan
diagnosis lainnya. Pemeriksaan laboratorium merupakan penelitian perubahan
yang timbul pada penyakit dalam hal susunan kimia dan mekanisme biokimia
tubuh (perubahan ini bisa penyebab atau akibat). Pemeriksaan laboratorium juga
sebagai ilmu terapan untuk menganalisa cairan tubuh dan jaringan guna
membantu petugas kesehatan dalam mendiagnosis dan mengobati pasien. Pada

umumnya diagnosis penyakit dibuat berdasarkan gejala penyakit (keluhan dan


tanda), dan gejala ini mengarahkan dokter pada kemungkinan penyakit penyebab.
Hasil pemeriksaan laboratorium dapat menunjang atau menyingkirkan
kemungkinan penyakit yang menyebabkan, misalnya dalam pemeriksaan biakan
darah pada demam tifoid, jika positif amat mendukung diagnosis, tapi bila negatif
tak menyingkirkan diagnosis demam tifoid jika secara klinis dan pemeriksaan lain
(misalnya pemeriksan WIDAL) menyokong. Dalam diagnosis penyakit kadangkadang tidaklah mudah, terutama pada permulaan penyakit, gejala klinis
penyebabnya masih berupa kemungkinan, meski dokter biasanya dapat
menetapkan kemungkinan yang paling tinggi. Karena itu, pada tahap permulaan
dokter tidak selalu dapat menentukan diagnosis penyakit. Diperlukan data-data
tambahan dari pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lain.
Menurut Henry dan Howanitz, para dokter memilih dan mengevaluasi uji-uji
laboratorium dalam perawatan pasien sekurang-kurangnya satu dari alasan-alasan
berikut ini: 1. Untuk menunjang diagnosis klinis 2. Untuk menyingkirkan
kemungkinan suatu diagnosis atau penyakit 3. Untuk digunakan sebagai pedoman
terapi atau manajemen 4. Untuk digunakan sebagai panduan prognosis 5. Untuk
mendeteksi suatu penyakit (uji saring) Dari lima hal di atas dapat disimpulkan
bahwa pemeriksaan laboratorium memiliki fungsi dan manfaat sebagai berikut: 1.
Skrining atau uji saring adanya penyakit subklinis, dengan tujuan menentukan
resiko terhadap suatu penyakit dan mendeteksi dini penyakit terutama bagi
individu beresiko tinggi (walaupun tidak ada gejala atau keluhan). 2. Konfirmasi
pasti diagnosis, yaitu untuk memastikan penyakit yang diderita seseorang,
berkaitan dengan penanganan yang akan diberikan dokter serta berkaitan erat
dengan komplikasi yang mungkin saja dapat terjadi. 3. Menemukan kemungkinan
diagnostik yang dapat menyamarkan gejala klinis 4. Membantu pemantauan
pengobatan 5. Menyediakan informasi prognosis atau perjalanan penyakit, yaitu
untuk memprediksi perjalanan penyakit dan berkaitan dengan terapi dan
pengelolaan pasien. 6. Memantau perkembangan penyakit, yaitu untuk memantau
perkembangan penyakit dan memantau efektivitas terapi yang dilakukan agar
dapat meminimalkan komplikasi yang dapat terjadi. Pemantauan ini sebaiknya
dilakukan secara berkala. 7. Mengetahui ada tidaknya kelainan atau penyakit yang
banyak dijumpai dan potensial membahayakan 8. Memberi ketenangan baik pada
pasien maupun klinisi karena tidak didapati penyakit Berikut ini merupakan
beberapa contoh Pemeriksaan Laboratorium, yaitu : 1. Pemeriksan laboratorium
dilakukan melalui prosedur pemeriksaan khusus dengan mengambil bahan atau
sample dari penderita, yang dapat berupa darah, urine (air kencing), faeces,
sputum (dahak), atau sample dari hasil biopsy. 2. Pemeriksaan Hematologi, dapat
berupa: Panel pemeriksaan demam, untuk mengetahui adanya penyakit infeksi
yang dapat menimbulkan demam. 3. Pemeriksaan fungsi hati dan pertanda

hepatitis, untuk mengetahui adanya radang hati dan adanya gangguan pada fungsi
hati 4. Pemeriksaan fungsi ginjal dan pemeriksaan kimia darah, untuk faal ginjal
5. Pemeriksaan metabolisme gula, untuk diagnosis dan follow up kadar gula darah
6. Pemeriksaan metabolisme lemak, untuk mengetahui kadar lemak darah untuk
mendeteksi resiko terhadap kejadian penyakit. 7. Pemeriksaan elektrolit darah 8.
Pemeriksaan Imunoserologi 9. Pemeriksaan Radiologi: meliputi pemeriksaan
rontgen, ultrasonografi (USG), computed tomography (CT Scan), magnetic
resonance imaging (MRI), intravenous pyelography (IVP), dan sebagainya.
Dengan berbagai macam pemeriksaan radiologi ini dapat diketahui adanya
anomali organ, massa, peradangan, perdarahan, sampai pada penilaian fungsi
ekskresi dan kerusakan struktur organ. 10. Pemeriksaan urine 11. Pemeriksaan
laboratorium pada kehamilan, pemeriksaan laboratorium pra-nikah 12.
Pemeriksaan feses 13. Pemeriksaan analisa cairan otak 14. Pemeriksaan analisa
getah lambung, duodenum, dan cairan empedu 15. Pemeriksaan laboratorium
lainnya seperti analisa sperma, batu empedu, cairan pleura, batu ginjal, sputum.
Perlu diingat bahwa penentuan diagnosis suatu penyakit harus dilihat pada
penemuan klinis yang didapat, bukan hanya dari pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium hanya sebagai pemeriksaan penunjang untuk diagnosis
suatu penyakit. 5. Pengkajian Emosional a. Trimester Pertama Selama bulan
pertama hingga ketiga, suasana emosi ibu hamil biasanya gampang sekali
berubah. Pergolakan emosi menyebabkan anda sensitif, mudah menangis,
gampang lelah, takut bila terjadi keguguran, lebih merasakan sakit dari pada
hamil. Perubahan emosi anda lebih disebabkan adanya aktifitas hormonal yang
meningkat pesat dan sebagai faktor fisik. Misalnya kelelahan, mual, muntah,
morning sickness atau perubahan bentuk tubuh. b. Trimester kedua Pada usia
kehamilan ini, emosi anda jauh lebih baik dan tidak banyak keluhan yang anda
rasakan pada trimester sebelumnya. Oleh karena itu, periode ini bisa disebut
periode keemasan. Anda mulai bisa menyesuaikan diri dengan perubahan
hormonal kehamilan. Selain itu, tidak banyak muncul keluhan keluhan fisik.
Inilah yang membuat anda bisa menjalani kehamilan dengan lebih enak dan tidak
sedramatis sebeumnya. c. Trimester tiga Memasuki trimester akhir ini, kondisi
perut anda akan semakin besar dan mengakibatkan anda susah bergerak, cepat
lelah, mudah lupa dan gampang cemas. Emosi kembali sukar untuk dikendalikan,
bahkan anda menjadi lebih sensitif. Tetapi seiring bertambahnya usia kehamilan,
anda menjadi lebih siap mental untuk mempersiapkan persalinan dan kelahiran
buah hati yang telah dilahirkan. Tips Menghadapi Perubahan Emosi: 1.
Mengetahui perubahan emosi yang anda rasakan adalah normal dan bisa
membantu 2. Berbagi pengalaman dan perasaan dengan pasangan serta menjalani
komunikasi yang lebih terbuka 3. Makan maknan yang bergizi sert berolahraga
teratur juga bisa membantu anda untuk membentuk pola pikir positif tentang

kondisi anda 4. Mengikuti kelas kehamilan bersama dengan pasangan 5. Berbagi


pengalaman dengan orang yang pernah mengalami kondisi serupa dengan anda 6.
Memperbanyak pengetahuan dan informasi tentang kehamilan dari buku, internet,
majalah atau sumber lain. b. Pengkajian Fetal 1. Gerakan Janin a. Pengertian Pola
gerakan janin adalah tanda reliabel tentang kesejahteraan janin,dimana gerakan
janin yang mengikuti pola teratur dari waktu ketika gerakan ini dirasakan. Data
sedikitnya 10 gerakan perhari dianggap lazim. Perhitungan gerakan janin harus
dimulai pada usia kehamilan34-36minggu bagi wanita yang berisiko rendah
mengalami insufisiensi utero plasenta. Sedangkan pada wanita yang faktor
resikonya telah diidentifikasi, perhitungan gerakan janin dilakukan pada usia
kehamilan 28 minggu.Gerakan janin normal yaitu sekelompok atau beberapa
kelompok aktivitas tungkai dan tubuh janin yang menunjukan normalitas.Gerakan
janin pada grimigravida dirasakan pada kehamilan 18minggu, sedangkan pada
multigravida pada kehamilan 16 minggu. b. Hal yang mempengaruhi gerakan
janin a. Kapan gerakan muncul b. Usia kandungan c. Kadar glukosa d. Stimulus
suara e. Status prilaku janin f. Penggunaan obat-obatan dan kebiasaan merokok g.
Hipoksia h. Asidemia i. Polihidramnion j. Oligohidramnion c. Cara menghitung
gerakan janin Pengkajian riwayat merupakan langkah yang penting. Klien sering
melaporkan penurunan gerakan janin karena mereka lupa merasakan aktifitas
janin selama periode waktu tertentu dan juga tidak terlalu menaruh perhatian
terhadap hal ini.Anjurkan klien untuk fokus pada aktifitas janin selama periode
waktusatu jam, terutama saat ia sedang beristirahat, dalam kondisi gizi baik,dan
asupan cairan cukup.Apabila klien mampu membaca dan memahami prosedur
grafik dasar,maka dapat menggunakan metode count to ten (menghitung
sampai10): 1. Jadwalkan satu sesi perhitungan perhari 2. Jadwalkan sesi pada
waktu yang sama setiap hari 3. Catat berapa lama biasanya dibutuhkan untuk
merasakan 10 kali gerakan 4. Setidaknya harus terdapat 10 kali gerakan
teridentifikasi dalam 10 jam Apabila gerakan kurang dari 10 kali dalam 10 jam,
jika dibutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai 10 kali gerakan, atau jika tidak
terasa gerakan dalam 10 jam maka hubungi bidan. Kelebihan metode ini yaitu:
mudah digunakan, singkat dan mudah diinterpretasi. 2. DJJ a. Pengertian Denyut
jantung janin normal adalah frekuensi denyut rata-rata wanita tidak sedang
bersalin, atau diukur diantara dua kontraksi. Rentang normal adalah 120 sampai
160 denyut/menit. Bunyi denyut jantung janin seperti bunyi detik jam dibawah
bantal. b. Cara Mendengarkan Denyut Jantung Janin 1. Dengan menggunakan
Stetoskop Pinard a. Tempat mendengarkan harus tenang, agar tidak mendapat
gangguan dari suara lain. b. Ibu hamil diminta berbaring terlentang, kakinya lurus,
bagian yang tidak perlu diperiksa ditutup, pintu atau jendela ditutup. c. Alat
disediakan. Pemeriksaan ini sebagai lanjutan dari pemeriksaan palpasi. d. Mencari
daerah atau tempat dimana kita akan mendengarkan.Setelah daerah ditemukan,

stetoskop pinard di pakai bagian yang berlubang luas ditempatkan ke atas tempat
atau daerah dimana kita akan mendengarkan. Sedangkan bagian yang
luasnyasempit ditempatkan pada telinga kita, letakkan tegak lurus. e. Kepala
pemeriksa dimiringkan, perhatian dipusatkan pada denyut jantung janin. Bila
terdengar suatu detak, maka untuk memastik anapakah yang terdengar itu denyut
jantung janin, detak ini harus disesuai dengan detak nadi ibu. Bila detakkan itu
sama dengan nadi ibu, yang terdengar bukan jantunt janin, tetapi detak aorta
abdominalis dari ibu. f. Setelah nyata bahwa yang terdengar itu betul-betul denyut
jantung janin maka dihitung untuk mengetahui teraturnya dan frekuensinya
denyut jantung janin itu. 2. Dengan menggunakan Doppler a. Nyalakan doppler,
untuk memeriksa apakah doppler dapat digunakan. b. Usahakan jelly pada
abdomen ibu, tepet pada daerah yang telah ditentukan. Kegunaan jelly adalah
sebagai kontak kedap udara antara kulit abdomen dengan permukaan sensor. c.
Tempatkan sensor pada daerah yang akan didengarkan,kemudian tekan tombol
start untuk mendengarkan denyut jantung janin. d. Lakukan penyesuaian volume
seperlunya dengan menggunakan tombol pengatur volume. e. Lihat denyut
jantung janin pada angka yang ditujukan melalui monitor. c. Cara menghitung
denyut jantung janin Menghitung denyut jantung janin (DJJ) yaitu dengan
mendengarkan 3x5 detik dikalikan dengan 4. Contohnya : 5 detik 5 detik 5 detik
Kesimpulan 11 12 11 - 4 (11 + 12 +11) = 136/menit. Teratur dan janin baik. 10 14
9 - 4 (10 + 14 + 9) = 132/m. Tak teratur dan janin asphyxia 8 7 8 - 4 (8 + 7 + 8) =
92/m. Tak teratur dan janin asphyxia. 3. Non Stress Test (NST) Pemeriksaan ini
dilakukan untuk menilai hubungan gambaran DJJ dan aktivitas janin. Cara
pemeriksaan ini dikenal juga dengan nama aktokardiografi, atau fetal activity
acceleration determination (FAD; FAAD). Penilaian dilakukan terhadap frekuensi
dasar DJJ, variabilitas, dan timbulnya akselerasi yang menyertai gerakan janin. a.
Tehnik pemeriksaan NST : 1. Pasien berbaring dalam posisi semi-Fowler, atau
sedikit miring ke kiri. Hal ini berguna untuk memperbaiki sirkulasi darah ke janin
dan mencegah terjadinya hipotensi. 2. Sebelum pemeriksaan dimulai, dilakukan
pengukuran tensi, suhu, nadi, dan frekuensi pernafasan ibu. Kemudian selama
pemeriksaan dilakukan, tensi diukur setiap 10-15 menit (hasilnya dicatat pada
kertas KTG). 3. Aktivitas gerakan janin diperhatikan dengan cara: a. Menanyakan
kepada pasien. b. Melakukan palpasi abdomen. c. Melihat gerakan tajam pada
rekaman tokogram (kertas KTG). 4. Bila dalam beberapa menit pemeriksaan tidak
terdapat gerakan janin, dilakukan perangsangan janin, misalnya dengan
menggoyang kepala atau bagian janin lainnya, atau dengan memberi rangsang
vibro-akustik (dengan membunyikan bel, atau dengan menggunakan alat khusus
untuk keperluan tersebut). 5. Perhatikan frekuensi dasar DJJ (normal antara 120
160 dpm). 6. Setiap terjadi gerakan janin diberikan tanda pada kertas KTG.
Perhatikan apakah terjadi akselerasi DJJ (sediktinya 15 dpm). 7. Perhatikan

variabilitas DJJ (normal antara 5 25 dpm). 8. Lama pemeriksaan sedikitnya 20


menit. b. Interpretasi NST 1. Reaktif: a. Terdapat gerakan janin sedikitnya 2 kali
dalam 20 menit, disertai dengan akselerasi sedikitnya 15 dpm. b. Frekuensi dasar
djj di luar gerakan janin antara 120 160 dpm. c. Variabilitas djj antara 5 25
dpm. 2. Non-reaktif: a. Tidak terdapat gerakan janin dalam 20 menit, atau tidak
terdapat akselerasi pada gerakan janin. b. Frekuensi dasar djj abnormal (kurang
dari 120 dpm, atau lebih dari 160 dpm). c. Variabilitas djj kurang dari 2 dpm. 3.
Meragukan: a. Gerakan janin kurang dari 2 kali dalam 20 menit, atau terdapat
akselerasi yang kurang dari 15 dpm. b. Frekuensi dasar djj abnormal. c.
Variabilitas djj antara 2 5 dpm. Hasil NST yang reaktif biasanya diikuti dengan
keadaan janin yang baik sampai 1 minggu kemudian (spesifisitas 95%
99%).Hasil NST yang non-reaktif disertai dengan keadaan janin yang jelek
(kematian perinatal, nilai Apgar rendah, adanya deselerasi lambat intrapartum),
dengan sensitivitas sebesar 20%.Hasil NST yang meragukan harus diulang dalam
waktu 24 jam. Oleh karena rendahnya nilai sensitivitas NST, maka setiap hasil
NST yang non-reaktif sebaiknya dievaluasi lebih lanjut dengan contraction stress
test (CST), selama tidak ada kontraindikasi. 4. Amniosentesis Amniosintesis
adalah metode untuk mendapatkan cairan amnion dengan memasukkan trocar halu
dan kanula yang steril ke dalam cavitas amnii melewati dinding abdomen dan
dinding uterus.Sel-sel fetus dilepaskan kedalam amnion dan dapat dikaji untuk
penentuan jenis kelamin dan kesehatan fetus.Untuk alasan yang sudah jelas, maka
letak plasenta harus ditetapkan sebelum amniosentesis. Kajian-kajian berikutnya
akan dilakukan pada specimen cairan yang di aspirasi antara umur kehamilan 14
sampai 18 minggu. Hasil analisis biasanya baru diperoleh setelah paling cepat 3
minggu.Dan uji dagnostik yang lebih baru telah dirancang untuk menghindari
hasil yang terlalu lama ini. c. Menentukan Diagnosa 1. Menetapkan Normalitas
Kehamilan adalah kehamilan dimana ibu dalam keadaan sehat, tidak ada riwayat
obstetrik buruk, ukuran uterus sama/sesuai usia kehamilan serta hasil pemeriksaan
fisik dan laboratorium normal. Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai
partus adalah kira-kira 280 hari (40 minggu), dan tidak lebih dari 300 hari (43
minggu). Kehamilan 40 minggu ini disebut kehamilan matur (cukup bulan). Bila
kehamilan lebih dari 43 minggu disebut kehamilan postmatur. Kehamilan antara
28 dan 36 minggu disebut kehamilan prematur. Kehamilan yang terakhir ini akan
mempengaruhi viabilitas (kelangsungan hidup) bayi yang dilahirkan, karena bayi
yang terlalu muda mempunyai prognosis buruk. 2. Membedakan Antara
Ketidaknyamanan dalam Kehamilan dan Kemungkinan Komplikasi Tidak semua
wanita mengalami ketidaknyamanan akibat kehamilan yang disebutkan dibawah
ini, akan tetapi tidak sedikit juga wanita yang mengalami ketidaknyamanan
tersebut. a. Rasa letih Rasa letih sering terjadi selama trimester pertama tanpa
diketahui penyebabnya. Salah satu sangkaan yang diajukan ialah penurunan awal

dalam laju metabolik dasar pada awal-awal kehamilan, tetapi mengapa hal itu
terjadi tidaklah jelas. Untunglah hal ini hanya merupakan ketidaknyamanan yang
terbatas, biasanya akan lenyap pada akhir trimester pertama. Namun, hal tersebut
bisa mempunyai efek meningkatkan intensitas respon psikologis yang dialami
wanita selama masa tersebut. b. Punggung Atas Sakit (bukan karena penyakit)
Sakit punggung bagian atas bisa terjadi selama trimester pertama oleh karena
pertambahan ukuran dan akibat beratnya payudara, yang juga merupakan pertanda
presumtif kehamilan. c. Kram Kaki Alasan-alasan fisiologis dari kram di kaki ini
tidaklah jelas diketahui. Selama sekian tahun, kram di kaki dianggap disebabkan
oleh kurangnya atau terganggunya konsumsi kalsium atau ketidakseimbangan
dalam perbandingan kalsium-fosfor didalam tubuh, tetapi semua penyebab ini
sekarang tidak lagi dinyatakan demikian dalam literatur-literatur saat ini. Satu
aliran lain menganggap bahwa uterus yang membesar memberikan tekanan pada
pembuluh-pembuluh darah panggul, dan dengan demikian mempengaruhi
sirkulasi, atau pada syaraf saat mereka meresap melalui foramen obturator dalam
perjalanannya ke tungkai bagian bawah. d. Edema Tungkai Edema (penimbunan
cairan atau bengkak) tungkai adalah akibat sirkulasi vena yang terganggu serta
tekanan vena yang meningkat didalam tungkai bagian bawah. Gangguangangguan sirkulasi ini adalah disebabkan tekanan dari uterus yang membesar pada
pembuluh-pembuluh vena panggul pada saat wanita tersebut sedang duduk atau
berdiri serta pada vena cava inferior ketika wanita tersebut berbaring
menggeletak. e. Varikositas/varises Edema (penimbunan cairan atau bengkak)
tungkai adalah akibat sirkulasi vena yang terganggu serta tekanan vena yang
meningkat didalam tungkai bagian bawah. Gangguan-gangguan sirkulasi ini
adalah disebabkan tekanan dari uterus yang membesar pada pembuluh-pembuluh
vena panggul pada saat wanita tersebut sedang duduk atau berdiri serta pada vena
cava inferior ketika wanita tersebut berbaring menggeletak. 3. Mengidentifikasi
Tanda dan Gejala Penyimpangan dari Keadaan Normal Deteksi dini terhadap
komplikasi kehamilan adalah upaya penjaringan yang dilakukan untuk
menemukan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. Berikut ini merupakan
tanda dan gejala bahaya yang menyimpang dari keadaan normal atau mengarah
pada komplikasi, yaitu: 1. Perdarahan pervaginam 2. Sakit kepala yang hebat,
menetap dan tidak hilang 3. Perubahan visual secara tiba-tiba (mata berkunangkunang) 4. Pembengkakan pada wajah dan tangan 5. Sakit abdomen atau nyeri
pada ulu hati yang hebat 6. Pergerakan bayi berkurang tidak seperti biasanya atau
bahkan tidak ada pergerakan 4. Mengidentifikasi Kemungkinan Kebutuhan
Belajar Pada setiap kunjungan antenatal bidan harus mengajarkan kepada ibu
bagaimana mengenali tanda-tanda bahaya ini, dan menganjurkan untuk datang ke
klinik dengan segara jika ia mengalami tanda-tanda bahaya tersebut. Dari
beberapa pengalaman, akan lebih baik memberikan pendidikan kepada ibu dan

anggota keluarga khususnya pembuat keputusan utama, sehingga si ibu akan


didampingi untuk mendapatkan asuhan. Enam tanda-tanda bahaya selama periode
antenatal adalah: a. Perdarahan vagina b. Sakit kepala yang hebat, menetap yang
tidak hilang c. Perubahan visual secara tiba-tiba (pandangan kabur, rabun senja) d.
Nyeri abdomen yang hebat e. Bengkak pada muka atau tangan f. Bayi kurang
bergerak seperti biasa d. Mengembangkan Perencanaan Asuhan yang
Komprehensif 1. Menetapkan Kebutuhan Test Laboratorium Tujuan test
laboratorium adalah untuk mendeteksi komplikasi-komplikasi dalam kehamilan.
Macam test laboratorium dalam asuhan kehamilan yang merupakan kompetensi
bidan adalah: a. Tes hemoglobin darah (Hb) Tujuan: untuk mengetahui kadar Hb
pada ibu hamil dan untuk mendeteksi anemia gravidarum. b. Tes urin protein
Tujuan: untuk mengetahui kadar protein dalam urin dan untuk mendeteksi pre
eklamsia dalam kehamilan. c. Tes glukosa urin Tujuan: untuk mengetahui kadar
glukosa dalam urin dan untuk mendeteksi diabetes mellitus gravidarum 2.
Menetapkan Kebutuhan Belajar Penuntun belajar digunakan untuk melatih
keterampilan dalam pencapaianelemen-elemen kompetensi oleh mahasiswa secara
individual.Mulai dari latihandi laboratorium keterampilan sampai saat
melaksanakan praktik klinik kebidanan.Bimbingan keterampilan untuk mencapai
kompetensi di laboratoriumketerampilan asuhan kebidanan baru bisa dilaksanakan
atau diikuti oleh seorangmahasiswa bila mahasiswa tersebut telah mengikuti
perkuliahan seluruh materikuliah asuhan kehamilan (mata kuliah asuhan ibu I).
Dalam perkuliahan tersebutmahasiswa mendapat teori tentang teori tentang
fisiologi kehamilan, pertumbuhankehamilan dari bulan ke bulan, kebutuhan fisik
dan psikologis ibu selamakehamilan, perubahan fisik dan psikologis ibu selama
hamil, perubahan fisik dan psikologis ibu dalam masa kehamilan, teori tentang
pendekatan dalam asuhankehamilan (Manajemen Varney) dan dokumentasi
asuhan kehamilan. Dalam perkuliahan juga dilakukan demonstrasi dan simulasi
keterampilan yangmendukung kompetensi yang akan dilatih atau dipelajari. 3.
Menetapkan Kebutuhan untuk Komplikasi Ringan Pengobatan yang diberikan
oleh bidan pada dasarnya bersifat pertolongan sementara sebelum dirujuk ke
dokter, atau tindak lanjut pengobatan sesuai advis dokter. Pemberian obat yang
bersifat sementara pada penyakit ringan diperbolehkan, sepanjang sesuai dengan
obat-obatan yang sudah ditetapkan dan segera merujuk pada dokter. Bidan
diperkenankan menyerahkan obat kepada pasien sepanjang untuk keperluan
darurat dan sesuai dengan protap. Berdasarkan Permenkes HK 02.02/149/ 2010
dalam beberapa kasus, bidan dalam menghadapi ketidaknyamanan dalam
kehamilan yang masih dalam batasan fisiologis diperbolehkan memberikan
pengobatan dengan obat-obat bebas, seperti vitamin, paracetamol dan asam
mefenamat. Pemberian asam folat sangat diperlukan pada kehamilan trimester 1
ini. Pemberian tablet Fe diperlukan, namun bila ibu merasa mual, sebaiknya

diundur hingga mualnya hilang. Dalam menetapkan kebutuhan untuk pengobatan


komplikasi ringan dalam kehamilan harus berdasarkan Kep Menkes No 900 tahun
2002 tentang registrasi dan kewenangan praktik bidan dan standar pelayanan
kebidanan (SPK). Di antaranya yaitu penanganan abortus iminens, pre eklamsia,
Hyperemesis gravidarum dan anemia dalam kehamilan. 4. Menetapkan
Kebutuhan Konsultasi atau Rujukan pada Tenaga Profesional lainnya Pelayanan
kebidanan rujukan yaitu merupakan pengalihan tanggung jawab pelayanan oleh
bidan kepada sistem pelayanan yang lebih tinggi atau lebih kompeten ataupun
pengambil alihan tanggung jawab pelayanan atau menerima rujukan dari
penolong persalinan lainnya seperti rujukan atau tanggung jawab dokter. Dalam
situasi dimana rujukan yang di lakukan oleh bidan kepada dokter untuk
menangani klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam
pengalihan tanggung jawab diserahkan sepenuhnya kepada dokter. 1. Tujuan
rujukan a. Agar setiap klien mendapat perawatan dan pertolongan yang lebih baik
b. Menjalin kerjasama dengan cara merujuk klien atau mendapatkan perlengkapan
laboratorium yang memiliki fasilitas lebih lengkap upaya mendapatkan hasil test
laboratorium yang lebih meyakinkan. 2. Hal-hal yang dapat dirujuk a.
Memberikan asuhan kebidanan pada klien dengan resiko tinggi dan pertolongan
pertama pada kegawat daruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi antar
dokter b. Rujukan atas kasus-kasus patologik pada kehamilan, persalinan dan
nifas c. Merujuk klien yang sedang menghadapi kasus atau masalah reproduksi,
seperti kasus ginekologi atau kontrasepsi yang memerlukan penanganan spesialis.
3. Hasil informasi dari kegiatan rujukan a. Membahas secara lengkap data-data
medis klien yang telah dikirim dan advis rehabilitas kepada unit yang mengirim b.
Menjalin kerjasama sistem pelaporan tentang data-data medis pada umumnya dan
data-data parameter pelayanan kebidanan khususnya mengenai kematian maternal
dan periental 5. Menetapkan Kebutuhan untuk Konseling Spesifik atau
Anticipatory Guidence Konseling asuhan kehamilan merupakan suatu proses
pemberian bantuan oleh bidan kepada ibu hamil, yang dilaksanakan lewat tatap
muka dalam bentuk wawancara, dengan tujuan untuk memecahkan permasalahan
yang berkaitan dengan kehamilannya, pemahaman diri tentang permasalahan yang
sedang dihadapi, dan penyusunan rencana pemecahan masalah yang sesuai
dengan kemampuan yang dimilikinya. Panduan antisipasi (anticipatory guidance)
selama periode antepartum sangat berhubungan dengan ketidaknyamanan yang
umum dirasakan selama kehamilan dan cara penangannannya, persiapan menjadi
orang tua, tanda bahaya, perubahan perubahan secara fisik dan psikologis, serta
pertumbuhan dan perkembangan janin. Beberapa informasi wajib diketahui,
namun tidak semua informasi harus diberikan sekaligus, sesuaikan dengan
kebutuhan ibu dan tanyakan kepada ibu hal hal yang ingin ia ketahui. Joyce
Roberts menyarankan untuk menggunakan urutan prioritas sebagai berikut : a.

Informasi merupakan tanggapan dari pertanyaan tertentu yang diberikan oleh ibu
b. Informasi penting yang wajib diketahui karena berhubungan dengan keamanan
diri dan bayinya c. Panduan antisipasi yang akan memfasilitasi upaya wanita
untuk mrnghadapi kehamilannya d. Informasi tambahan yang berhubungan
dengan perkembangan kehamilan, kebijakan institusi yang dapat membantu tetapi
tidak berkaitan dengan wanita itu sendiri Dalam menetapkan kebutuhan untuk
konseling spesifik, harus di sesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi oleh
ibu hamil berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan
penunjang yang telah di lakukan oleh bidan. Beberapa kebutuhan konseling yang
perlu diberikan pada setiap ibu hamil pada kunjungan awal adalah pendidikan
kesehatan tentang: a. Tanda bahaya dalam kehamilan b. Gizi pada ibu hamil c.
Persiapan persalinan d. Imunisasi TT e. Olahraga f. Istirahat g. Kebersihan h.
Pemberian ASI i. Aktifitas seksual j. Kegiatan sehari-hari dan pekerjaan k. Obatobatan dan merokok l. Body mekanik m. Pakaian dan sepatu 6. Menetapkan
Kebutuhan Konseling HIV/PMS Konseling adalah kebutuhan proses komunikasi
dengan pembahasan masalah-masalah antara individu dengan konselor (orang
yang sudah mengikuti pembelajaran untuk mengatasi masalah PMS). Untuk
menetapkan kebutuhan konseling HIV/PMS hanya diberikan pada ibu hamil
dengan riwayat maupun resiko HIV/PMS. AIDS adalah Penyakit Menular Seksual
yang paling sering didengar yang disebabkan oleh HIV (Human Imunodeficiency
Virus), virus ini menyerang manusia dan menyerang sistem kekebalan (imun)
tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi dengan kata lain
kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan defisiensi (kekurangan)
sistem imun. Selama ini ketakutan orang tentang AIDS sangat besar karena sejauh
ini belum dapat disembuhkan oleh obat-obatan yang dapat membantu perawatan
mereka tetapi obat-obatan yang ada pada saat ini belum bisa menyembuhkan
hanya dapat menghambat kerja virus. Di Indonesia bayi maupun orang dewasa
banyak yang sudah mengidap penyakit AIDS karena itu kita harus waspada
terhadap bahaya penularan AIDS. Catatan khusus tentang HIV/AIDS: 1. Kita
tidak bisa melihat apakah seseorang terkena HIV/ AIDS hanya berdasarkan
penampilannya. 2. AIDS tidak dapat dicegah dengan obat-obatan, suntikan atau
jamu-jamuan. 3. AIDS belum dapat disembuhkan dan dapat berakibat kematian. 4.
AIDS dapat menular dengan cara yang sama dengan PMS yang lainnya. 5.
Penampakan AIDS sama seperti penyakit yang mengenai orang biasa, seperti
TBC, Tumor, Radang paru, Infeksi saluran pencernaan dll. 6. AIDS dapat dicegah
dengan cara hanya berhubungan seks dengan seorang pasangan yang juga hanya
berhubungan seksual dengan kita, atau dengan menggunakan kondom setiap kali
berhubungan seksual. 7. Menetapkan Jadwal Kunjungan Sesuai dengan
Perkembangan Kehamilan a. Menurut WHO Kunjungan Waktu Informasi penting
Trimester pertama Sebelum minggu ke 16 (pada akhir bulan ke empat) 1.

Membina hubungan saling percaya antara bidan dan ibu 2. Mendeteksi masalah
yang dapat diobati sebelum menjadi bersifat mengancam jiwa 3. Mencegah
masalah seperti tetanus neonatorum, anemia defisiensi zat besi, penggunaan
praktek tradisional yang merugikan 4. Memulai persiapan persalinan dan kesiapan
untuk menghadapi komplikasi 5. Mendorong perilaku yang sehat (nutrisi, latihan
dan kebersihan, istirahat, dsb) Trimester kedua 24-28 minggu (bulan ke-6 7)
Sama seperti diatas, ditambah dengan kewaspadaan khusus mengenai preeklamsi
(tanyakan ibu mengenai gejala preeklamsi, pantau tekanan darah, kaji adanya
edema dan lakukan pemeriksaan urine) Trimester ketiga 32 minggu (bulan ke-8)
Sama seperti diatas ditambah palpasi abdomen untuk mendeteksi adanya
kehamilan ganda Trimester ketiga 36 minggu (bulan ke-9) Sama seperti diatas,
ditambah dengan deteksi adanya kelainan letak atau kondisi lain yang
memerlukan kelahiran di rumah sakit b. Jadwal kunjungan menurut Departemen
Kesehatan a. Trimester I kehamilan : 1 kali kunjungan b. Trimester II kehamilan :
1 kali kunjungan c. Trimester III kehamilan : 2 kali kunjungan c. Jadwal
kunjungan ulang sebaiknya a. Sampai dengan 28 minggu usia kehamilan, setiap 4
minggu b. Antara 28-36 minggu usia kehamilan, setiap 2 minggu c. Antara 36
minggu sampai kelahiran, setiap minggu d. Menurut NICE Antenatal Guideline
tahun 2008 Jadwal kunjungan antenatal dapat disesuaikan dengan keadaan ibu,
bagi wanita nulipara dengan kehamilan normal 10 kali pertemuan dianggap sudah
cukup adekuat, bagi wanita multipara normal 7 kali pertemuan dianggap adekuat.
Jadwal kunjungan yang dianjurkan adalah : 1. Kunjungan ke-1/Booking
apointment : idealnya pada usia kehamilan 10 minggu 2. Kunjungan ke-2 : pada
usia kehamilan 16 minggu 3. Kunjungan ke-3 : pada usia kehamulan 18 20
minggu 4. Kunjungan ke-4 : usia kehamilan 25 minggu (pada wanita nulipara) 5.
Kunjungan ke-5 : usia kehamilan 28 minggu 6. Kunjungan ke-6 : usia kehamilan
31 minggu (pada wanita nulipara) 7. Kunjungan ke-7 : usia kehamilan 34 minggu
8. Kunjungan ke-8 : usia kehamilan 38 minggu 9. Kunjungan ke-9 : usia
kehamilan 40 minggu 10. Kunjungan ke-10 : usia kehamilan 41 minggu e.
Mengevaluasi Penemuan Masalah yang Terjadi, Aspek-aspek yang Menonjol pada
Wanita Hamil e. Aspek menonjol pada wanita hamil 1. Amenorea (= tidak dapat
haid). Gejala ini sangat penting karena umumnya wanita hamil tidak dapat haid
lagi. Penting diketahui tanggal hari pertama haid terakhir, supaya dapat ditentukan
tuanya kehamilan. dan bila persalinan diperkirakan akan terjadi. 2. Nausea (enek)
dan emesis (muntah). Enek terjadi umumnya pada bulan-bulan pertama
kehamilan, disertai kadang-kadang oleh emesis. Sering terjadi pada pagi hari,
tetapi tidak selalu. Keadaan ini lazim disebut morning sickness. Dalam batas-batas
tertentu keadaan ini masih fisiologik. Bila terlampau sering, dapat mengakibatkan
gangguan kesehatan dan disebut hiperemesis gravidarum. 3. Mengidam
(mengingini makanan atau minuman tertentu). Mengidam sering terjadi pada

bulan-bulan pertama akan tetapi menghilang dengan makin tuanya kehamilan. 4.


Pingsan. Sering dijumpai bila berada pada tempat-tempat ramai. Dianjurkan untuk
tidak pergi ke tempat-tempat ramai pada bulan-bulan pertama kehamilan. Hilang
sesudah kehamilan 16 minggu. 5. Mammae menjadi tegang dan membesar.
Keadaan ini disebabkan oleh pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang
duktuli dan alveoli di mamma. Glandula Montgomery tampak lebih jelas. 6.
Anoreksia (tidak ada nafsu makan). Pada bulan-bulan pertama terjadi anoreksia,
tetapi setelah itu nafsu makin timbul lagi. Hendaknya dijaga jangan sampai salah
pengertian makan untuk "dua orang", sehingga kenaikan berat badan tidak sesuai
dengan tuanya kehamilan. 7. Sering kencing terjadi karena kandung kencing pada
bulan-bulan pertama kehamilan tertekan oleh uterus yang mulai membesar. Pada
triwulan kedua umumnya keluhan ini hilang olch karena uterus yang membesar
keluar dari rongga panggul. Pada akhir triwulan gejala bisa timbul karena janin
mulai masuk ke ruang panggul dan menekan kemball kandung kencing. 8.
Obstipasi terjadi karena tonus otot menurun yang disebabkan oleh pengaruh
hormon steroid. 9. Pigmentasi kulit terjadi pada kehamilan 12 minggu ke atas.
Pada pipi, hidung dan dahi kadang-kadang tampak deposit pigmen yang
berlebihan, dikenal sebagai kloasma gravidarum. Areolae mammae juga menjadi
lebih hitam karena didapatkan deposit pigmen yang berlebih. Daerah leher
menjadi lebih hitam. Demikian pula linea alba di garis tengah abdomen menjadi
lebih hitam (= linea grisea). Pigmentasi ini terjadi karena pengaruh darl hormon
kortiko-steroid plasenta yang merangsang melanofor dan kulit. 10. Epulis adalah
suatu hipertrofi papilla ginggiva . Sering terjadi pada triwulan pertama. 11.
Varises. Sering dijumpai pada triwulan terakhlr. Didapat pada daerah genitalia
eksterna, fossa poplitea, kaki dan betis. Pada multigravida kadang-kadang varises
ditemukan pada kehamilan yang terdahulu, timbul kemball pada triwulan
pertam2. Kadang-kadang timbulnya vanises merupakan gejala pertama kehamilan
mucla. f. Contoh masalah: Deskripsi konstipasi Konstipasi adalah gangguan rasa
nyaman yang umum terjadi pada trimester pertama kehamilan, ini merupakan
msalah nutrisi yang umum terjadi pada kehamilan Konstipasi cenderung terjadi
pada kehamilan akibat tekanan pada peristaltik usus dari uterus yang terus
membesar, pengaruh hormon relaksin plasenta, dan kemungkinan akibat
menngkatnya kadar progesteron. Konstipasi menyebabkan rasa begah dan penuh
serta hilang nafsu makan. g. Temuan Pengkajian Konstipasi 1. Adanya rasa begah
dan penuh pada abdomen 2. Hilang nafsu makan 3. Perubahan pola eliminasi usus
h. Implikasi Keperawatan Konstipasi 1. Kaji nutrisi klien dan pola eliminasi yang
mungkin menjadi faktor penyebab 2. Anjurkan klien untuk mengosongkan
ususnya secara teratur 3. Anjurkan pada klien untuk meningkatkan kandungan
serat dalam makanan dengan mengkonsumsi buah dan sayuran dan minum air
dalam jumlah lebih dari biasanya setiap hari 4. Jika klien mengkonsumsi

suplemen besi oral, daripada melarang klien mengkonsumsi suplemen tersebut


yang berguna untuk menambah simpanan besi, lebih baik kita membantu klien
untuk konstipasi melalui cara lain 5. Ingatkan klien untuk tidak mengkonsumsi
obat umum untuk mencegah konstipasi, terutama minyak mineral yang akan
mengganggu absorpsi vitamin larut lemak yang diperlukan bagi pertumbuhan
janin dan kesehatan ibu 6. Beri tahu klien untuk menghindari enema karena
tindakan ini dapat mencetuskan persalinan 7. Anjurkan klien untuk menghindari
obat-obatan yang dijual bebas selama kehamilan kecuali diresepkan oleh dokter 8.
Berikan pelunak feses, laksatif ringan dan supositora sesuai instruksi 9.
Nasehatkan klien untuk menghindari makanan pembentuk gas, seperti kubis atau
buncis, sehingga flatus dapat dikontrol f. Anamnesa Kunjungan Awal a. Tahap
preinteraksi 1. Menyambut klien dengan ramah 2. Perawat mengenalkan diri 3.
Mempersilakan klien duduk dan komunikatif 4. Perawat tanggap terhadap reaksi
klien 5. Perawat sabar terhadap reaksi klien b. Tahap interaksi 1. Mengkaji
riwayat kehamilan sekarang 2. Riwayat haid a. HPHT b. Gerakan janin dirasakan
kapan c. Tanda-tanda bahaya atau penyulit yang dialami d. Keluhan utama e. Obat
yang dikonsumsi/termasu jamu f. Kekhawatiran khusus 3. Mengkaji riwayat
kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu a. Jumlah kehamilan b. Jumlah anak
yang lahir hidup c. Jumlah kelahiran prematur d. Jumlah keguguran e. Riwayat
persalinan dengan tindakan (SC/Forcep/Vacum) f. Riwayat perdarahan pada
persalinan atau pasca persalinan 4. Riwayat kesehatan/penyakit yang diderita
Semarang dan lalu a. Penyakit jantung b. Hipertensi c. Malaria d. Penyakit
kelamin e. Diabetes f. Lain-lain 5. Menanyakan riwayat perkawinan 6.
Menanyakan respon klien dan keluarga terhadap kehamilannya 7. Menanyakan
riwayat KB 8. Menanyakan pola nutrisi dan eliminasi 9. Menanyakan pola
aktifitas dan istirahat 10. Menanyakan kebiasaan merokok, minuman keras,
konsumsi obat terlarang 11. Dokumentasi c. Penampilan 1. Perawat menanyakan
secara sistematis 2. Menggunakan bahasa yang muda dimengerti 3. Memberikan
perhatian pada setiap jawaban 4. Penuh percaya diri dan tidak ragu-ragu g. Praktik
Pemeriksaan 1. Fisik dan Leopold e. Pemeriksaan Fisik f. Kepala, muka dan leher
Lihatlah wajah atau muka pasien, adakah cloasma gravidarum, pucat pada wajah
adalah pembengkakan pada wajah. Bila terdapat pucat pada wajah periksalah
konjungtiva dan kuku pucat menandakan bahwa ibu menderita anemia, sehingga
memerlukan tindakan lebih lanjut. g. Mulut klien, perhatikan: pucat pada bibir,
pecah-pecah, gigi berlubang, dan bau mulut. h. Dada dan payudara Lihat dan raba
payudara, pada kunjungan pertama pemeriksaan payudara terhadap kemungkinan
adanya benjolan yang tidak normal. Lihatlah apakah payudara simetris atau tidak,
putting susu menonjol atau datar atau bahkan masuk. i. Abdomen Lakukan
pemeriksaan inspeksi, palpasi dan auskultasi pada perut ibu. Tujuan pemeriksaan
abdomen adalah untuk menentukan letak dan presentasi janin, turunnya bagian

janin yang terbawah, tinggi fundus uteri dan denyut jantung janin. j. Pemeriksaan
punggung dibagian ginjal Tepuk punggung di bagian ginjal dengan bagian sisi
tangan yang dikepalkan. Bila ibu merasa nyeri, mungkin terdapat gangguan pada
ginjal atau salurannya. k. Genetalia Terdapat juga tanda-tanda kehamilan pada
genitalia yaitu sebagai berikut: a. Tanda Chadwick adalah warna ungu/biru pd
vulva & vagina. b. Tanda Goodell adalah melemahnya serviks. c. Tanda
Hegar adalah melemahnya isthmus uteri ( segmen bwh rahim ). l. Panggul Cara
pemeriksaan panggul yaitu dengan: a. Inspeksi, dilihat apakah terdapat dugaan
kesempitan panggul atau kelainan panggul. b. Palpasi, klien dapat diduga
mempunyai kelainan atau kesempitan panggul atau tidak bila pada primigravida
pada kehamilan 36 minggu atau lebih kepala belum masuk pintu atas panggul
(PAP). c. Perasat Osborn positif d. Pemeriksaan dengan menggunakan pengukuran
ukuran panggul luar. e. Ekstremitas, periksa adanya oedema yang paling mudah
dilakukan pretibia dan mata kaki, dengan cara menekan jari beberapa titik. f.
Pemeriksaan lutut (patella), minta ibu duduk dengan tungkai tergantung bebas.
Jelaskan apa yang hendak dilakukan. Raba tendon dibawah lutut. Dengan
menggunakan hammer ketuklah tendon pada lutut bagian depan. Tungkai bawah
akan bergerak sedikit ketika tendon ditekuk. Bila reflek lutut (-) kemungkinan
klien kekurangan B1. Bila gerakan berlebihan dan cepat, hal ini menunjukkna
preeklamsia. f. Pemeriksaan Leopold Pemeriksaan Leopold dilakukan pada
kehamilan cukup bulan setelah pembesaran uterus yang dapat membedakan
bagian melalui palpasi. a. Leopold I digunakan untuk menentukan usia kehamilan
dan bagian apa yang ada dalam fundus uteri. b. Leopold II digunakan untuk
menentukan letak punggung janin dan letak bagian kecil pada janin. c. Leopold III
digunakan untuk menentukan bagian apa yang terdapat dibagian bawah dan
apakah bagian bawah janin sudah atau belum masuk PAP. d. Leopold IV
digunakan untuk menentukan apa yang menjadi bagian bawah dan seberapa
masuknya bagian bawah tersebut kedalam rongga panggul. 2. Pemeriksaan
Laboratorium Pemeriksaan Laboratorium merupakan pemeriksaan untuk
menunjang diagnosis penyakit, guna mendukung atau menyingkirkan diagnosis
lainnya. Hasil pemeriksaan laboratorium dapat menunjang atau menyingkirkan
kemungkinan penyakit yang menyebabkan, misalnya dalam pemeriksaan biakan
darah pada demam tifoid, jika positif amat mendukung diagnosis, tapi bila negatif
tak menyingkirkan diagnosis demam tifoid jika secara klinis dan pemeriksaan lain
(misalnya pemeriksan WIDAL) menyokong. Dalam diagnosis penyakit kadangkadang tidaklah mudah, terutama pada permulaan penyakit, gejala klinis
penyebabnya masih berupa kemungkinan, meski dokter biasanya dapat
menetapkan kemungkinan yang paling tinggi. Karena itu, pada tahap permulaan
dokter tidak selalu dapat menentukan diagnosis penyakit. Diperlukan data-data
tambahan dari pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lain. 3. HB

Sahli Alat cek hemoglobin HB Sahli Haemometer Superior atau


haemoglobinometer adalah intstrumen laboratorium untuk menentukan kadar
hemoglobin dalam darah berdasarkan sastuan warna (colorimetric). Metode yang
digunakan adalah membandingkan warna sample darah dengan warna merah
standar. Warna sample darah didapatkan pada pemisahan globin dari hemoglobin
dengan penambahan HCL (asam klorida) untuk menghasilkan asam hematin yang
warnanya diukur oleh colorimetry. Pemeriksaan Hb adalah salah satu upaya untuk
mendeteksi anemia pada ibu hamil. 4. Urine Reduksi Dilakukan pemeriksaan urin
reduksi hanya kepada ibu dengan indikasi penyakit gula/DM atau riwayat
penyakit gula pada keluarga ibu dan suami. Bila hasil pemeriksaan urin reduksi
positif perlu di ikuti pemeriksaan gula darah untuk memastikan adanya DMG.
DMG pada ibu hamil dapat mengakibatkan adanya penyakit berupa preeklampsi,
polihidramnion,bayi besar (Saefudin, 2000). 5. Protein Urine Pemeriksaan ini
berguna untuk mengetahui adanya protein dalam urin ibu hamil. Adapun
pemeriksaannya dengan asam asetat 2 3 % di tujukan pada ibu hamil dengan
riwayat tekanan darah tinggi, kaki odema. pemeriksaan urin protein ini untuk
mendeteksi ibu hamil kearah preeklamsi. B. Asuhan Kehamilan Kunjungan Ulang
Kunjungan ulang adalah setiap kali kunjungan antenatal yang dilakukan setelah
kunjungan antenatal pertama sampai memasuki persalinan. a. Mengevaluasi Data
Dasar Data dasar adalah kumpulan data yang berisikan mengenai status kesehatan
klien, kemampuam klien untuk mengelola kesehatan dan keperawatannya
terhadap dirinya sendiri, dan hasil konsultasi dari medis atau profesi kesehatan
lainnya. Bidan mengevaluasi data dasar yang dipertimbangkan dalam menegakkan
diagnosis pada kunjungan pertama, evaluasi tersebut dapat dicermati pada table
berikut ini: Data Dasar Pertimbangan untuk Amenore Diagnosis kehamilan
Tanggal menstruasi terakhir Diagnosis kehamilan Keluhan yang disampaikan
pasien Pemberian konseling Hasil pemeriksaan fisik: Kenaikan BB Tes urine
kehamilan (tes HCG) positif Cloasma gravidarum Perubahan pada payudara Linea
nigra Tanda Chadwick Tanda hegar Diagnosis kehamilan b. Mengevaluasi
Keefektifan Manajemen atau Asuhan Tafsiran dari hasil tindakan yang telah di
ambil adalah penting untuk menilai keefektifan asuhan yang diberikan. Analisa
dari hasil yang dicapai menjadi fokus dari penelitian ketepatan tindakan. Kalau
kriteria tujuan tidak tercapai, proses evaluasi dapat menjadi dasar untuk
mengembangkan tindakan alternatif sehingga dapat mencapai tujuan. 1.
Pengertian Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang
digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan
berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, ketrampilan dalam rangkaian
tahapan logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien.
Manajemen kebidanan menyangkut pemberian pelayanan yang utuh dan
menyeluruh dari kepada kliennya, yang merupakan suatu proses manajemen

kebidanan yang diselenggarakan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas


melalui tahapan-tahapan dan langkah-langkah yang disusun secara sistematis
untuk mendapatkan data, memberikan pelayanan yang benar sesuai dengan
keputusan tindakan klinik yang dilakukan dengan tepat, efektif dan efisien. 2.
Standar 7 langkah Varney, yaitu : Langkah I : Pengkajian Pada langkah ini bidan
mengumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber
yang berkaitan dengan kondisi klien, untuk memperoleh data dapat dilakukan
dengan cara: a. Anamnesa b. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan
pemeriksaan tanda-tanda vital c. Pemeriksaan fisik d. Pemeriksaan penunjang Bila
klien mengalami komplikasi yang perlu di konsultasikan kepada dokter dalam
penatalaksanaan maka bidan perlu melakukan konsultasi atau kolaborasi dengan
dokter. Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah
berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang di hadapi akan
menentukan proses interpretasi yang benar atau tidak dalam tahap selanjutnya,
sehingga dalam pendekatan ini harus yang komprehensif meliputi data subjektif,
objektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi / masukan
klien yang sebenarnya dan valid. Kaji ulang data yang sudah di kumpulkan
apakah sudah tepat, lengkap dan akurat. Langkah II : Merumuskan
masalah/masalah kebidanan Pada langkah ini identifikasi terhadap diagnosa atau
masalah berdasarkan interpretasi yang akurat atas data-data yang telah
dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga
dapat merumuskan diagnosa dan masalah yang spesifik. Rumusan diagnosa dan
masalah keduanya digunakan karena masalah tidak dapat didefinisikan seperti
diagnosa tetapi tetap membutuhkan penanganan. Masalah sering berkaitan dengan
hal-hal yang sedang dialami wanita yang diidentifikasioleh bidan sesuaidengan
hasil pengkajian. Masalah juga sering menyertai diagnosa. Diagnosa kebidanan
adalah diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktik kebidanan dan
memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan. Langkah III : Mengantisipasi
diagnosa/masalah kebidanan Pada langkah ini mengidentifikasi masalah potensial
atau diagnose potensial berdasarkan diagnosa/masalah yang sudah diidentifikasi.
Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan.
Pada langkah ketiga ini bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah
potensial tidak hanya merumuskan masalah potensial yang akan terjadi tetapi juga
merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosa potesial tidak terjadi.
Langkah IV : Menetapkan kebutuhan tindakan segera Mengidentifikasi perlunya
tindakan segera oleh bidan/dokter dan/untuk dikonsultasikan atau ditangani
bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.
Langkah ini mencerminkan kesinambungan dari proses penatalaksanaan
kebidanan. Jadi, penatalaksanaan bukan hanya selama asuhan primer periodik atau
kunjungan prenatal saja tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan terus-

menerus. Pada penjelasan diatas menunjukkan bahwa bidan dalam melakukan


tindakan harus sesuai dengan prioritas masalah/kebutuhan yang dihadapi kliennya.
Setelah bidan merumuskan tindakan yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi
diagnosa/masalah potensial pada langkah sebelumnya, bidan juga harus
merumuskan tindakan emergency/segera untuk segera ditangani baik ibu maupun
bayinya. Dalam rumusan ini termasuk tindakan segera yang mampu dilakukan
secara mandiri, kolaborasi atau yang bersifat rujukan. Langkah V : Merencanakan
asuhan secara menyaluruh Pada langkah ini direncanakan asuhan yang
menyeluruh yang ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini
merupakan kelanjutan penatalaksanaan terhadap masalah atau diagnosa yang telah
teridentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data yang tidak
lengkap dapat dilengkapi. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi
apa-apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari masalah yang
berkaitan tetapi juga dari krangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut
seperti apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan
penyuluhan konseling dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah-masalah
yang berkaitan dengan sosial ekonomi-kultural atau masalah psikologi. Setiap
rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu oleh bidan dan
klien agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien juga akan melaksanakan
rencana tersebut. Semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan
menyeluruh ini harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan pengetahuan dan
teori yang up to date serta sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan dilakukan
klien. Langkah VI : Implementasi Pada langkah ke enam ini rencana asuhan
menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah ke lima dilaksanakan
secara aman dan efisien. Perencanaan ini dibuat dan dilaksanakan seluruhnya oleh
bidan atau sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walaupun
bidan tidak melakukannya sendiri, bidan tetap bertanggung jawab untuk
mengarahkan pelaksanaannya. Dalam kondisi dimana bidan berkolaborasi dengan
dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan
bidan dalam penatalaksanaan asuhan bagi klien adalah tetap bertanggung jawab
terhadap terlaksananyarencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut.
Pelaksanaan yang efisien akan menyangkut waktu dan biaya serta meningkatkan
mutu dan asuhan klien Langkah VII : Evaluasi Pada langkah ini dilakukan
evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan
kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan
kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasidi dalam diagnosa dan masalah.
Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar-benar efektif dalam
pelaksanaannya. Langkah-langkah proses penatalaksanaan umumnya merupakan
pengkajian yang memperjelas proses pemikiran yang mempengaruhi tindakan
serta berorientasi pada proses klinis, karena proses penatalaksanaan tersebut

berlangsung di dalam situasi klinik dan dua langkah terakhir tergantung pada klien
dan situasi klinik c. Pengkajian Data Fokus Pengkajian adalah merupakan suatu
proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk
mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien. Pengkajian merupakan
dasar utama dalam memberikan asuhan, oleh karena itu pengkajian harus yang
akurat, lengkap, sesuai dengan kenyataan, kebenaran data sangat penting dalam
merumuskan suatu diagnosa keperawatan dan memberikan pelayanan
keperawatan sesuai dengan respon individu. Data fokus adalah data tentang
perubahan-perubahan atau respon klien terhadap kesehatan dan masalah
kesehatannya serta hal-hal yang mencakup tindakan yang dilaksanakan pada
klien. 1. Riwayat untuk Deteksi Komplikasi dan Ketidaknyamanan a. Riwayat 1.
Menanyakan bagaimana perasaan pasien sejak kunjungan terakhirnya 2.
Menanyakan apakah pasien mempunyai pertanyaan atau kekhawatiran yang
timbul sejak kunjungan terakhir 3. Gerakan janin dalam 24 jam terakhir b. Deteksi
ketidaknyamanan 1. Menanyakan keluhan - keluhan yang biasa dialami oleh ibu
hamil 2. Menanyakan kemungkinan tanda - tanda bahaya yang dialami oleh ibu 2.
Pemeriksaan Fisik Pada tiap kunjungan ulang antenatal pemeriksaan fisik berikut
dilakukan untuk mendeteksi tiap tanda-tanda keluhan ibu dan evaluasi pada janin :
a. Janin : 1. Denyut jantung janin. Normal DJJ 120-160 kali per menit. Apabila
kurang dari 120 x atau menitdisebut bradikardi, sedang lebih dari 160 x per menit
disebut tathicardi. 2. Ukuran janin 3. Dengan cara Mc. Donald untuk mengetahui
TFU dengan pita ukur kemudian dilakukan penghitungan tafsiran berat janin
dengan rumus( TFU dalam cm ) n x 155 = gram. Bila kepala diatas atau pada
ishiadica maka n = 12. Bila kepala dibawah spina ishiadica maka n = 11 4. Letak
dan presentasi Letak dan presentasi dapat diketahui dengan menggunakan palpasi.
Salah satu cara palpasi yang sering digunakan adalah menurut Leopold.
a. Leopold I : Untuk mengetahui tinggi fundus uteri dan bagian ya
berada pada bagian fundus b. Leopold II : Untuk mengetahui letak janin
memanjang atau melintang dan bagian janin yang teraba disebelah kiri
atau kanan c. Leopold III : Untuk menentukan bagian janin yang ada
dibawah (presentasi) d. Leopold IV : Untuk menentukan apakah bagian
bawah janin sudah masuk panggul b. Aktivitas/ gerakan janin Dikenal
adanya gerakan 10, yang artinya dalam waktu 12 jam normal gerakan
janin minimal 10 kali. c. Ibu 1. Tekanan darah 2. Berat badan 3. Tandatanda bahaya 4. Tinggi Fundus Uteri 5. Umur kehamilan 6. Pemeriksaan
vagina 3. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium awal
pada wanita dengan risiko ringan meliputi tes darah berikut : golongan

darah dan factor rhesus (Rh), skrining antibody, hitung darah lengkap atau
hematokrit, rapid plasma regain (RPR), atau tes lain untuk mendeteksi sifilis, titer
rubella, HBSAg, dan HIV. Banyak klinisi juga melakukan kultur urine. Seiring
kemajuan kehamilan, tes tambahan, seperti skrining tripel serum maternal, juga
diperlukan. Laboratorium dan pemeriksaan terkait merupakan komponen penting.

Semua uji dan pemeriksaan dilakukan sebagai bagian sekrining rutin yang
bervariasi usia klien, status resikonya ( misalnya bila jika ia terpejan penyakit
menular seksual tuberkulosis ), dan apakah ia sedang hamil. Pada tingkat minimal,
untuk semua usia dan tanpa memindahkan status kehamilan klien, suatu
pengkajian harus dilakukan untuk manskrining inveksi vagina atau penyakit
menular seksual. Selain itu juga perlu dilakukan uji laboratorium dan pemeriksaan
terkait berikut : 1. Hemoglobin atau hematokrit 2. Kolestrol total 3. Urinalisis 4.
Pap smear Wanita yang berusia lebih tua juga harus menjalani uji laboratorium
dan penelitian terkait: 1. Darah samar 2. Mammografi 3. Trigliserida dan profil
lipid selain kolestrol plasma. 4. Penelitian kelenjar tiroid 5. Proktosigmoidoskopi
(setiap 3-5 tahun) d. Mengembangkan Rencana Sesuai dengan Kebutuhan dan
Perkembangan Kehamilan 1. Jelaskan mengenai ketidaknyamanan normal yang
dialaminya. 2. Sesuai dengan usia kehamilan ajarkan ibu tentang materi
pendidikan kesehatan pada ibu. 3. Diskusikan mengenai rencana persiapan
kelahiran dan jika terjadi kegawat daruratan. 4. Ajari ibu untuk mengenal tanda tanda bahaya, pastikan untuk memahami apa yang dilakukan jika menemukan
tanda bahaya. 5. Buat kesepakatan untuk kunjungan berikutnya. BAB III
PENUTUP A. KESIMPULAN Kunjungan awal adalah suatu kunjungan yang
dilakukan pertama kali ibu hamil dari awal kehamilan hingga minggu ke-36.
Sedangkan kunjungan ulang yaitu setiap kali kunjungan antenatal yang dilakukan
setelah kunjungan antenatal pertama sampai persalinan. B. SARAN Sebaiknya ibu
hamil rajin memeriksakan kehamilannya untuk mendeteksi dini jika terjadi
komplikasi pada kehamilannya, sehingga keselamatannya dan janinnya tidak
terancam. DAFTAR PUSTAKA Kusmiyati, Yuni. 2010. Penuntun Praktikum
Asuhan Kehamilan. Yogyakarta: Fitramaya. Mufdalifah. 2009. Panduan Asuhan
Kebidanan Ibu Hamil. Yogyakarta: Nuha Medika Mochtar, Rustam. 2001.
Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC. Pantrikawati, Ika dan Saryono. 2010. Asuhan
Kebidanan I (Kehamilan). Yogyakarta: Nuha Medika. Posted by sur yana at 20:44
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest Newer
Post Older Post Home Subscribe to: Post Comments (Atom) cinta cinta proud
proud religion religion IBN 8 IBN 7 IBN 3 visitors [click] kunjungan counters
yanna chatbox jam Kalender Powered by Calendar Labs iklan 2 iklan 4 Powered
By Blogger About Me My Photo sur yana my name is suryana, and i'm a moslem.
my father name is subakri, my mother name is marni. im twins, my twins name is
suryani. i also have one brother, his name is teguh basuki. View my complete
profile IBI IBI plend plend cuaca widgeo.net Fish earth Blog Archive 2015
(20) 2014 (98) 2013 (14) November (2) makalah askeb kehamilan
kunjungan awal dan ulang makalah perubahan anatomi dan fisiolog ibu hamil m...
October (3) September (8) July (1) IBN 1 IBN 2 IBN 6 IBN 4 IBN 5
iklan 3 iklan 1 Translate Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ Copy and WIN :
http://ow.ly/KNICZ Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ Copy and WIN :
http://ow.ly/KNICZ
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ