Anda di halaman 1dari 12

BAB 1 PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Kunjungan Antenatal Care (ANC) adalah kunjungan ibu hamil ke bidan atau dokter
sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan
antenatal. Pada setiap kunjungan antenatal care (ANC), petugas mengumpulkan dan
menganalisis data mengenai kondisi ibu melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk
mendapatkan diagnosis kehamilan intrauterine, serta ada tidaknya masalah atau komplikasi
(Saifudin,dkk., 2002).
Berdasarkan data dan penelitian tentang kualitas penduduk indonesia 2011 tercatat angka
kematian ibu (AKI atau MMR) masih sebesar 228/100.000 kelahiran hidup. Kementrian
Kesehatan menargetkan, sampai tahun 2014 ini akan menurunkan jumlah menjadi 118/100.000
kelahiran hidup dan tahun 2015 akan diupayakan menjadi 102/100.000 kelahiran hidup. Depkes
menargetkan angka kematian ibu pada tahun 2010 sekitar 226 orang, dan pada tahun 2015
menjadi 102 orang pertahun. Untuk mewujudkan hal ini, salah satu upaya terobosan dan terbukti
mampu meningkatkan keadaan ini masih jauh dari target harapan yaitu 75% atau 125/100.000
kelahiran hidup (Eko Sutriyanto, 2012). Tujuan pelayanan Antenatal Care adalah:
a) Mempromosikan dan menjaga kesehatan fisik dan mental ibu dan bayi dengan memberikan
pendidikan gizi, kebersihan diri dan proses kelahiran bayi. b) Mendeteksi dan menatalaksanakan
komplikasi medis, bedah ataupun obstetri selama kehamilan. c) Mengembangkan persiapan
persalinan serta rencana kesiagaan menghadapi komplikasi. d) Membantu menyiapkan ibu untuk
menyusui dengan sukses, menjalankan puerperium normal, dan merawat anak secara fisik,
psikologi dan social (Kusmiyati, et al., 2008). Berdasarkan salah satu tujuan di atas maka
pelaksanaan ANC puskesmadan BPM diharapkan mampu melakukan deteksi dini komplikasi
sehingga bias mengurangi terjadimya kegawatan pada ibu yang berujung pada kematian
. Tingginya angka kematian ibu di Indonesia kemungkinan terjadi pada ibu hamil yang
berisiko tidak terdeteksi secara dini. Untuk itu bidan harus mampu dan terampil memberikan
pelayanan sesuai dengan standart yang ditetapkan khususnya bidan desa sebagai ujung tombak,
dengan peran serta yang proaktif dari petugas supervise sebagai penyelia untuk bidan di desa
diharapkan percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia serta meningkatkan
cakupan : kunjungan pertama ibu hamil (K1), kunjungan ke empat ibu hamil (K4), dan semua
persalinan harus ditolong oleh tenaga kerja terlatih, semua komplikasi obstetric mendapat
pelayanan rujukan yang adekuat, semua perempuan dalam usia reproduksi mendapat akses
pencegahan dan penatalaksanaan kehamilan yang tidak diinginkan dan aborsi yang tidak aman
(Linda, 2007).
Pelayanan antenatal berkualitas mempunyai kedudukan penting dalam upaya
menurunkan angka kematian ibu dan perinatal, karena melalui pelayanan antenatal yang
profesional dan berkualitas, ibu hamil memperoleh pendidikan tentang cara menjaga diri agar
tetap sehat, mempersiapkan kelahiran bayi yang sehat, serta meningkatkan kesadaran dan

pengetahuan tentang kemungkinan adanya risiko atau terjadinya komplikasi dalam kehamilan,
sehingga dapat dicapai kesehatan yang optimal dalam menghadapi persalinan dan nifasnya
(Wijayanti YT, 2001).
Penerapan standar pelayanan akan sekaligus melindungi masyarakat, karena penilaian
terhadap proses dari hasil pelayanan dapat dilakukan dengan dasar yang jelas, sehingga
masyarakat akan mempunyai kepercayaan yang lebih mantap terhadap pelaksanaan
pelayanan. Standar pelayanan perlu dimiliki oleh setiap pelaksana pelayanan karena
fungsinya yang penting dalam pelaksanaan, pemeliharaan dan penilaian kualitas pelayanan.

2. Tujuan

Mengetahui gambaran pelaksanaan pelayanan antenatal care di komunitas.


Mengkaji pelaksanaana pelayanan anrenatal care terkait evidence base dan prosedur
serta permasalahan yang sering muncul.
Memberikan saran perbaikan mtu pelayanan antenatalcare.

BAB 2
PEMBAHASAN
1. Gambaran pelaksanaan ANC di Indonesia pada komunitas (Puskesmas dan BPM)
Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia pada tahun 2002/2003 adalah sebesar 307/100
ribu kelahiran hidup (SDKI, 2002/2003). Angka tersebut telah mengalami penurunan pada
tahun 2005 menjadi 290,8/ 100 ribu kelahiran hidup (Depkes RI, 2005). Target yang
diharapkan pada tahun 2010 adalah angka kematian ibu (AKI) menjadi 125/100 ribu kelahiran
hidup melalui pelaksanaan MPS (Making Pregnancy Safer) dengan salah satu pesan kunci yaitu
setiap komplikasi obstetri dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat (Depkes RI, 2007).
Salah satu bentuk pelayanan yang adekuat selama proses kehamilan adalah pelayanan
antenatal care (ANC) dalam rangka menurunkan dan pemeliharaan kesehatan terhadap ibu
hamil. Kehamilan merupakan satu ujian berat bagi ibu hamil, dan menimbulkan ketakutanketakutan tertentu. Ketakutan itu antara lain berupa kerisauan yang disebabkan oleh
kelelahan dan kesakitan jasmaniah, jadi bingung, kecemasan karena tidak mendapatkan
dukungan emosional, mengembangkan reaksi-reaksi kecemasan terhadap cerita dan takhayul
yang mengerikan, atau takut akan keadaan janinnya. Sehingga ibu hamil takut untuk
melakukan aktivitas yang dianggap membahayakan kehamilannya, seperti pemeriksaan
kehamilan (ANC). (Sloane, 1997).
Secara nasional jumlah cakupan pelayanan antenatal pada tahun 2005 cukup
meningkat yakni 69,25% dari target 75% dibandingkan dengan delapan tahun sebelumnya yang
berjumlah 65,72%. Namun jumlah tersebut belum menggembirakan kendati jumlah tenaga
kesehatan pelayanan antenatal terus bertambah. Sementara di Propinsi Lampung jumlah
cakupan pelayanan antenatal pada tahun 2005 sebanyak 124.751 kunjungan (69,39%) dari
target yang diharapkan sebesar 179.768 kunjungan 90%. Ini berarti masih jauh dari yang
diharapkan (Depkes RI, 2006).

Pelayanan antenatal dalam penerapan operasionalnya dikenal dengan standar minimal


7T yang terdiri dari:
1. Timbang badan dan tinggi badan dengan alat ukur yang terstandar.
Penimbangan dilakukan setiap kali ibu hamil memeriksakan diri, karena hubungannnya erat
dengan pertambahan berat badan lahir bayi. Berat badan ibu hamil yang sehat akan
bertambah antara 10-12 Kg sejak sebelum hamil (Nadesul, 2006). Tinggi badan hanya diukur
pada kunjungan pertama. Ibu dengan tinggi <145cm perlu diperhatikan kemungkinan
panggul sempit sehingga menyulitkan pada saat persalinan (Depkes RI, 1998).
2. Mengukur tekanan darah dengan prosedur yang benar.
Pengukuran tekanan darah harus dilakukan secara rutin dengan tujuan untuk melakukan
deteksi dini terhadap terjadinya tiga gejala preeklamsi. Tekanan darah tinggi, protein urin
positif, pandangan kabur atau oedema pada ekstremitas. Apabila tekanan darah mengalami
kenaikan 15 mmHg dalam dua kali pengukuran dengan jarak 1 jam atau tekanan darah >
140/90 mmHg , maka ibu hamil mengalami preeklamsi. Apabila preeklamsi tidak dapat
diatasi maka akan menjadi eklamsi (Mufdlillah, 2009).
3. s Mengukur Tinggi fundus uteri dengan prosedur yang benar.
Pengukuran tinggi fundus uteri dilakukan secara rutin untuk mendeteksi secara dini terhadap
berat badan janin. Indikator pertumbuhan janin intrauterin, tinggi fundus uteri juga dapat
digunakan untuk mendeteksi terhadap terjadinya molahidatidosa, janin ganda atau
hidramnion (Nadesul, 2006)
4. Pemberian imunisasi tetanus toksoid (TT) lengkap (sesuai jadwal).
Pemberian imunisasi TT untuk mencegah terjadinya penyakit tetanus.
Tabel 2. Jadwal pemberian imunisasi TT
Antige
n

Interval (selang waktu


minimal)

Lama
Perlindungan

%
perlindungan

TT1

Pada kunjungan antenata


pertama

TT2

4 minggu setelah TT1

3 tahun *

80

TT3

6 bulan setelah TT2

5 tahun

95

TT4

1 tahun setelah TT3

10 tahun

99

TT5

1 tahun setelah TT4

25 tahun/seumur
hidup

99

Ket : * artinya apabila dalam waktu 3 tahun WUS tersebut melahirkan, maka bayi yang dilahirkan akan
terlindung dari TN (Tetanus Neonatorum) sumber: (Prawirohardjo, 2006).

5. Pemberian Tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan.


Pemberian tablet tambah darah dimulai setelah rasa mual hilang satu tablet setiap hari,
minimal 90 tablet. Tiap tablet mengandung FeSO4 320 mg (zat besi 60 mg) dan asam folat
500 g. Tablet besi sebaiknya tidak minum bersama kopi, teh karena dapat mengganggu
penyerapan (Prawirohardjo, 2006).
6. Tes laboratorium (rutin dan khusus).
Pemeriksaan laboratorium rutin mencakup pemeriksaan hemoglobin, protein urine, gula
darah, dan hepatitis B. Pemeriksaan khusus dilakukan didaerah prevalensi tinggi dan atau
kelompok perilaku terhadap HIV, sifilis, malaria, tubercolusis, cacingan dan thalasemia.
(Meilani, et al., 2009).
7. Temu wicara (konseling).
Memberikan penyuluhan sesuai dengan kebutuhan seperti perawatan diri selam hamil,
perawatan payudara, gizi ibu hamil, tandatanda bahaya kehamilan dan janin sehingga ibu dan
keluarga dapat segera mengambil keputusan dalam perawatan selanjutnya dan
mendengarkan keluhan yang disampaikan (Meilani, et al., 2009)
Penelitian yang dilakukan oleh Febri (2012) mengenai gambaran pelayanan ANC oleh bidan di
puskesmas memberikan gambaran pelayanan yang Pemeriksaan TFU, TD, BB, Pemberian Tablet
Besi, Menghitung Nadi dan Temu Wicara Untuk Rujukan Ibu Hamil. Berdasarkan penelitian
yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Baitussalam Kabupaten Aceh Besar menunjukkan
bahwa dari 31 bidan yang diwawancarai diperoleh bahwa keseluruhan (100%) bidan selalu
melakukan pemeriksaan TFU (Tinggi Fundus Uteri) terhadap ibu hamil. Pengukuran TFU dapat
membantu mengidentifikasi faktor-faktor resiko tinggi. Tinggi fundus yang stabil atau menurun
dapat mengindikasikan retardasi pertumbuhan intra uterin, peningkatan yang berlebihan dapat
menunjukkan adanya kehamilan kembar atau hidramnion. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa pengukuran TFU memegang peranan penting dalam pemeriksaan kehamilan (Anonim,
2010).berdasarkan penelitan Febri (2012) keseluruhan bidan selalu melakukan pemeriksaan
TFU. Pemeriksaan TFU ini sangat penting karena dapat memperkirakan usia kehamilan secara
kasar dan dapat membantu mengidentifikasi faktor-faktor resiko tinggi.
Seorang wanita yang belum pernah mengidap hipertensi, tekanan darahnya bisa naik ketika
sedang hamil. Kondisi ini disebut hipertensi gestasional (hipertensi akibat kehamilan) dan
menjadi masalah yang sering terjadi selama kehamilan. Meskipun tekanan darah meningkat
selama kehamilan, namun akan kembali normal setelah kehamilan usai. Hipertensi gestasional
menjadi penyebab kedua terbesar kematian ibu. Angka kejadiannya 5-10 % dari kehamilan.
Kelainan ini hampir selalu terjadi pada kehamilan pertama, karena itulah tekanan darah ibu hamil
harus selalu dipantau. Pengukuran dilakukan sambil duduk untuk mendapatkan gambaran
tekanan darah yang sebenarnya. Saat berbaring hasil pengukuran tekanan darah lebih rendah
(Ifey, 2012). Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Baitussalam
Kabupaten Aceh Besar menunjukkan bahwa dari 31 bidan yang diwawancarai diperoleh bahwa

keseluruhan bidan (100%) selalu melakukan pemeriksaan TD (Tekanan Darah) terhadap ibu
hamil.
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada
trimester 1 dan 3 atau kadar < 10,5 gr% pada trimester 2. Anemia defisiensi besi merupakan
anemia yang disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh sehingga kebutuhan zat besi untuk
erithropoesis tidak cukup yang ditandai dengan gambaran sel darah merah hipokrom-mikrositer,
kadar besi serum dan transverin menurun, kapasitas ikat besi total meninggi, dan cadangan besi
dalam sumsum tulang serta ditempat yang lain sangat kurang atau tidak ada sama sekali. Anemia
defisiensi besi pada wanita hamil merupakan problema kesehatan yang dialami oleh wanita
diseluruh dunia terutama di negara berkembang (Ningrum, 2009). Berdasarkan penelitian yang
dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Baitussalam Kabupaten Aceh Besar menunjukkan bahwa
dari 31 bidan yang diwawancarai diperoleh bahwa keseluruhan bidan (100%) selalu memberikan
tablet besi (FE) terhadap ibu hamil.
Melakukan penimbangan berat badan ibu hamil secara teratur mempunyai arti klinis penting,
karena ada hubungan yang erat antara pertambahan berat badan selama kehamilan dengan berat
badan lahir bayi. Pertambahan berat badan hanya sedikit menghasilkan rata-rata berat badan lahir
bayi yang lebih rendah dan risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya bayi BBLR (Bayi Berat
Lahir Rendah) dan kematian bayi, pertambahan berat badan ibu selama kehamilan dapat
digunakan sebagai indikator pertumbuhan janin dalam rahim (Eka, 2009). Menurut asumsi
peneliti tentang kinerja bidan dalam penimbangan berat badan di wilayah kerja Puskesmas
Baitussalam Aceh Besar sudah baik. Setiap ibu hamil yang datang ke puskesmas selalu dilakukan
penimbangan berat badan secararutin oleh bidan untuk memantau kondisi kesehatan ibu dan
bayi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Baitussalam
Kabupaten Aceh Besar menunjukkan bahwa dari 31 bidan yang diwawancarai diperoleh bahwa
keseluruhan bidan (100%) selalu melakukan penimbangan berat badan (BB) terhadap ibu hamil.
Temu wicara (persiapan rujukan)dilakukan untuk memberikan konsultasi atau melakukan
kerjasama terhadap penanganan kesehatan ibu hamil. Tindakan yang harus dilakukan bidan
dalam temu wicara antara lain : 1) Merujuk ke dokter untuk konsultasi, menolong ibu
menentukan pilhan yang tepat. 2) Melampirkan kartu kesehatan ibu beserta surat rujukan. 3)
Meminta ibu untuk kembali setelah konsultasi dan membawa surat hasil rujukan. 4) Meneruskan
pemantauan kondisi ibu dan bayi selama kehamilan. 5) Memberikan asuhan antenatal. 6)
Perencanaan dini jika tidak aman melahirkan di rumah. 7) Menyepakati diantara pengambil
keputusan dalam keluarga tentang rencana proses kelahiran. 8) Persiapan dan biaya persalinan
(Daffmox, 2010). Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas
Baitussalam Kabupaten Aceh Besar menunjukkan bahwa dari 31 bidan yang diwawancarai
diperoleh bahwa 15 orang bidan (48,4 %) jarang melakukan temu wicara terhadap ibu hamil.
Seperti yang kita ketahui, kunjungan K1 adalah kunjungan pertama ibu hamil ke puskesmas
untuk mendapatkan standar pelayanan kesehatan Berdasarkan penelitian yang dilakukan di
Wilayah Kerja Puskesmas Baitussalam Kabupaten Aceh Besar menunjukkan bahwa dari 31
bidan yang diwawancarai diperoleh bahwa keseluruhan bidan (100%) telah memenuhi target K1
dalam hal jumlah cakupan kunjungan ibu hamil. Pemeriksaan kehamilan dapat dilaksanakan
dengan kunjungan ibu hamil. Kunjungan ibu hamil adalah kontak antara ibu hamil dengan

petugas kesehatan yang memberi pelayanan antenatal untuk mendapatkn pemeriksaan


kehamilan. Istilah kunjungan, tidak mengandung arti bahwa selalu ibu hamil yang dikunjungi
petugas kesehatan dirumahnya atau diposyandu (Prawirohardjo, 2002). yaitu 7T.
Seperti yang kita ketahui, kunjungan K1 dan K4 sama-sama penting karena dengan kunjungan
ini si ibu dapat memantau kondisi kehamilannya dan melihat sejak dini apabila ada komplikasi
terhadap kehamilan si ibu.Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas
Baitussalam Kabupaten Aceh Besar menunjukkan bahwa dari 31 bidan yang diwawancarai
diperoleh bahwa keseluruhan bidan telah memenuhi target K4 dalam hal jumlah cakupan
kunjungan ibu hamil.
2.

Pelaksanaana Pelayanan Anrenatal Care Terkait Evidence Base Dan Prosedur Serta
Permasalahan Yang Sering Muncul.

Salah satu aspek yang harus dipenuhi dalam memberikan asuhan kebidanan yang
bertanggung jawab adalah dengan mengacu pada hasil penelitiann yang paling up to date. Hasil
penelitian yang didapatkan besrta rekomendasidari peneliti dijadikan sebagi acuan dalam
memberikan pelayanan. Praktik kebidanan sekarang lebih didasarkan pada bukti ilmiah hasil
penelitian dan pengalaman praktik dari para praktisi dari seluruh penjuru dunia. Praktik
berdasarkan penelitian merupakan penggunaan yang sistematik, ilmiah dan eksplisit dari
penelitia terbaik saat ini dalam pengambilan keputusan tentang asuhan pasien secara individu.
Hal ini menghasilkan asuhan yang efektif dan tidak selalu memerlukan intervensi. Kajian ulang
intervensi secara historis memunculkan asumsi bahwa sebagian besar komplikasi obstetri yang
mengancam jiwa bisa diprediksi atau dicegah.
Menurut MNH ( Maternal Neonatal Health ) asuhan antenatal merupakan prosedur rutin
yang dilakukan oleh petugas kesehatan ( dokter/bidan/perawat ) dalam membina suatu hubungan
dalam proses pelayanan pada ibu hamil untuk persiapan persalinannya.
Sesuai dengan evidence based practice, pemerintah telah menetapkan program kebijakan
asuhan kehamilan sebagai berikut:
1. Kunjungan ANC minimal 4 kali Kunjungan
No
1.

Trimester
Trimester I

Waktu
Sebelum empat
(4) minggu.

Alasan perlu kunjungan


1.mendeteksi masalah yang dapat
ditanagni sebelum membahayakan
jiwa.
2.mencegah masalah, misal :
tetanus neonatal, anemia, dan
kebiasaan tradisional yang
berbahaya.
3.membangun hubungan saling
percaya .
4. memulai persiapan kelahiran
dan kesiapan mengahdapi

2.

Trimester 2

14-28 minggu

3.

Trimester 3

I.28-36 minggu
II.>36 minggu

komplikasi
5.mendorong perilaku sehat
( nutrisi, kebersihan, olahraga,
istirahat, seks, dll)
Sama sengan trimester I , ditambah
: kewaspadaan khusus terhadap
hipertesi kehamilan ( deteksi
gejala pre-eklampsi, pantau
tekanan darah, evaluasi edema,
proteinuria ).
-sama dengan trimester
sebelumnya ditambah deteksi
kehamilan ganda.
-sama dengan trimester
sebelumnya, ditambah kelainan
letak atau kondisi yang
memerlukan persalinan di rumah
sakit

2. Pemberian suplemen mikronutrien


Tablet yang mengandung FeSO4, 320 mg ( setara dengan zat besi 60 mg ) dan asam folat
500 gr. Sebanyak 1 tablet per hari segera setelah rasa mual hilang. Pemberian selama 90 hari ( 3
bulan ). Ibu hamil harus dinasehati agar tidak meminumnya bersama dengan teh/ kopi agar tidak
mengganggu penyerapannya. Berdasarkan penelitian yang ada, suplemen mikronutrien berguna
untuk mengurangi angka kesakitan ( morbiditas ) dan kematian ( mortalitas ) ibu hamil secara
langsung yakni dengan mengobati penyakit pada kehamilan atau secara tidak langsung dengan
menurunkan risiko komplikasi saat kehamilan dan persalinan.
3. Imunisasi TT 0,5 cc
Imunisasi adalah proses untuk membangun kekebalan sebagai upaya untuk pencegahan
ter hadap infeksi tetanus. Vaksin tetanus yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan
kemudian dimurnikan.
TT
Interval
Lama Perlindungan % Perlindungan
TT 1
Kunjungan ANC
pertama
TT 2
4 minggu setelah
3 tahun
80%
TT 1
TT 3
6 Bulan betelan
5 tahun
95%
TT 2
TT 4
1 Tahun setelah
10 tahun
99%
TT 3
TT 5
1 Tahun setelah
25 tahun / seumur
99%
TT 4
hidup

4. 10 T dalam pemeriksaan kehamilan dan 4 Terlalu


Pada pemeriksaan kehamilan bidan wajib memeriksa dan memberikan 10 T ( Depker RI, 2009 )
yaitu:
a.

Timbang berat badan dan ukur tinggi badan

b. Tablet Fe
c.

Tekanan darah

d. Tetanus Toksoid ( suntik TT )


e.

Tentukan status gizi ( mengukur LILA )

f.

Tinggi Fundus Uteri

g. Tentukan presentasi Janin dan DJJ


h. Temu wicara
i.

Tes PMS

j.

Tes Laboratorium

Bidan juga harus melakukan konseling pada saat kehamilan atau mengadakan
penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya 4 terlalu, yaitu:
a.

Terlalu muda

Dimana ibu hamil dengan usia terlalu tua atau kurang dari 20 tahun
b.

Terlalu sering hamil

Ibu yang hamil dengan jarak tiap anak kurang dari 2 tahun.
c.

Terlalu banyak anak

Ibu hamil dengan jumlah anak lebih dari 4 anak,


d.

Terlalu tua hamil

Ibu hamil dengan usia saat kehamilan lebih dari 35 tahun.


4 terlalu dapat mengakibatkan komplikasi pada kehamilan, seperti cacat pada janin, perdarahan,
bahkan sampai kematian ibu dan janin (Manuaba, 2010).

5. Perkiraan hemoglobin pada kehamilan


Dalam kehamilan normal akan terjadi penurunan kadar hemoglobin. Kadar Hb terendah
terjadi sekitar pada umur kehamilan 30 minggu. Oleh karena itu pemeriksaan Hb harus dilakukan
pada kehamilan dini untuk melihat data awal, lalu diulang pada sekitar 30 minggu. Untuk saat ini
anemia dalam kehamilan di Indonesia ditetapkan dengan kadar Hb <11g%. Pada Trimester I dan
III atau Hb <10,5g% pada trimester II. Apabila hanya terjadi anemia ringan, sebab yang paling
sering adalah difisiensi zat besi dan dapat diobati secara efektif dengan suplementasi besi 60
mg/hari elemental besi dan 50g asam folat untuk profilaksi anemia. Program Kemenkes RI
memberikan 90 tablet bsi selama 3 bulan. Semua ibu hamil yang dapat suplementasi besi harus
menghindari tembakau, teh dan kopi serta dipastikan mereka mengonsumsi makanan kaya
protein dan vitamin C.
6. Perkiraan Tinggi Fundus Uteri
.
Pengukuran Tinggi Fundus UteriTinggi fundus uteri adalah tinggi puncak tertinggi rahim
sesuai usia kehamilan. Biasanya pengukuran inidilakukan saat pemeriksaan abdomen ibu hamil
tepatnya saat melakukan Leopold 1. Dari pengukuranTFU dapat diketahui taksiran usia gestasi
dan taksiran berat badan janin. Pengukuran TFU menggunakan jari pemeriksa sebagai alat
ukurnya, namun kelemahannya tiap orang memiliki ukuran jari yang berbeda.TFU lebih baik
diukur menggunakan metylen dengan satuan cm, ujung metylen ditempelkan padasimfisis pubis
sedangkan ujung lain ditempelkan di puncak rahim.
a.

TFU untuk mengetahui tafsiran usia kehamilan (UK).


Jika Fundus belum melewati pusat : UK (minggu) = Hasil ukur + 4
Jika Fundus sudah melewati pusat : UK (minggu ) = hasil ukur + 6

b. TFU untuk taksiran Berat Badan Janin.


TBJ ( gram ) = (TFU 12) X 155 gram
Terdapat variasi yang lebar antara operator yang melakukan pengukuran TFU dengan cara
tradisional ( jari tangan ). Menggunakan pita ukur untuk mengukur jarak antara tepi atas simpisis
pubis dengan fundus uteri dalam centimeter adalah metoda yang dapat diandalkan untuk
memperkirakan TFU. Jarak tersebut ( dalam cm ) sesuai dengan umur kehamilan ( dalam minggu
) setelah umur kehamilan 24 minggu.

7.. Hipotensi Pada Saat Berbaring Terlentang.


Posisi terlentang mempengaruhi fisiologi ibu dan janin. Setiap ibu hamil hendaknya
menghindari posisi terlentang terutama pada kehamilan lanjut. Hal ini disebabkan karena apabila
berbaring terlentang akan terjadi penekanan oleh uterus pada vena pelvis major dan vena cava
inferior yang akan mengurangu sirkulasi darah ke jantung bagian kanan dan akan
mengakibatkan pengaliran oksigen ke otak dan akan mengakibatkan pingsan.
Keadaan tersebut lebih terkenal dengan supine hypotensif syndrome yang dapat
mengakibatkan denyut jantung janin ( DJJ ) abnormal. Namun apabila posisi terlentang
dibutuhkan maka dianjurkan untuk meletakkan bantal kecil dibawah sisi kiri punggung bawah.
Secara ringkas penelitian menunjukan hasil:
1. Posisi terlentag mempengaruhi fisiologi ibu dan janin.
2. Setiap ibu hamil hendaknya menghindari posisi terlentang terutama pada kehamilan lanjut.
3. Bila posisi terlentang dibutuhkan maka dianjurkan untuk meletakkan bantal kecil dibawah
sisi kiri punggung bawah.
8. Pentingnya Deteksi Penyakit Bukan Penilaian/Pendekatan Risiko.
Pendekatan risiko yang mempunyai rasionalisasi bahwa asuhan antenatal adalah
melakukan screening untuk memprediksi faktor-faktor resiko untuk memprediksi suatu
penyakit, tetapi berdasarkan hasil study di Zaire membuktikan bahwa 71% persalinan macet
tidak bisa diprediksi , 90% ibu yang diidentifikasi beresiko tidak pernah mengalami komplikasi
dan 88% dari wanita yang mengalami perdarahan pasca persalinan tidak memiliki riwayat yang
prediktif.
Pendekatan risiko mempunyai nila prediksi lebih buruk, oleh karena itu tidak dapat
membedakan mereka yang akan mengalami dan yang mengalami komplikasi, juga keamanan
palsu oleh karena banyak ibu yang dimasukan dalam risiko rendah mengalami komplikasi,
namun mereka tidak pernah mendapat informasi mengenai komplikasi kehamilan dan cara
penanganannya. Bila terpaku pada ibu rrisiko tinggi makan pelayanan kehamilan ( pada wanita
hamil ) yang sebetulnya bisa berisiko akan terabaikan.
Dapat dikatakan bahwa wanita hamil mempunyai risiko untuk mengalami komplikasi dan
haruus mempunyai akses terhadap asuhan ibu bersalin yang berkualitas. Bahkan wanita yang
digolongkan dalam risiko rendah bisa saja mengalami komplikasi.
Jadi pendekatan risiko bukan merupakan strategi yang efisien ataupun efektif untuk menurunkan
angka mortalitas ibu karena:
a. Faktor risiko tidak dapat memperkirakan komplikasi, biasanya bukan penyebab langsung
terjadinya komplikasi.

b. Apa yang akan anda lakukan bila megidentifikasi pasien beresiko tinggi dan apa yang harus
dilakukan pada pasien dengan risiko rendah?
c. Mortalitas ibu relatif rendah pada populasi yang beresiko ( semua wanita usia subur ). Faktir
risiko secara relatif adalah umum pada populasi yang sama, faktir risiko tersebut bukan
merupakan indikator yang baik dimana para ibu mungkin akan mengalami komplikasi.
d. Mayoritas ibu yang mengalami komplikasi dianggap berisiko rendah, sebagian besar ibu
yang dianggap berisiko rendah melahirkan bayinya tanpa komplikasi.
e. Setiap wanita hamil berisiko mengalami komplikasi dan harus mempunyai akses terhadap
asuhan ibu bersalin yang berkualitas , sehingga pendekatan risiko tidak efektif.
f. Bahkan wanita berisiko rendah pun bisa mengalami komplikasi.
g. Tidak ada jumlah penapisan yang bisa membedakan wanita mana yang akan membutuhkan
asuhan kegawatdaruratan dan mana yang tidak memerluka asuhan tersebut.
Atas dasar itu dianjurkan untuk memberikan intervensi yang berorientasi pada tujuan
yang akan memberikan kerangkan asuhan antenatal yang efektif meliputi:
a. Deteksi dini penyakit
b. Konseling dan promosi kesehatan
c. Persiapan persalinan
d. Kesiagaan menghadapi komplikasi
Permasalahan dengan pendekatan risiko meliputi:
1. Mempunyai nilai prediksi yang buruk dan tidak bisa membedakan ibu yang akan mengalami
komplikasi dan mana yang tidak.
2. Memakai sumber daya yang jarang didapat-anyak ibu yang dimasukan dalam kelompok
risiko tinggi tidak pernah mengalami komplikasi tetapi memakai sumber daya yang jarang
didapat.
3. Keamanan palsu, banyak ibu yang dimasukan dalam kelompok risiko rendah mengalami
komplikasi tapi tidak pernah diberi tahu bagaimana cara mengetahui atau cara menangani
komplikasi tersebut.
4. Sumber daya dialihkan jauh dari perbaikan pelayanan untuk semua ibu.