Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Uraian Tumbuhan Kembang Bulan

2.1.1 Habitat
Tumbuhan Kembang bulan (Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray)
umumnya tumbuhan liar di tempat-tempat curam, misalnya di tebing-tebing, tepi
sungai dan selokan. Sekarang banyak ditanam sebagai tanaman hias karena warna
bunganya yang kuning indah dan sebagai pagar untuk mencegah kelongsoran
tanah. Juga merupakan tumbuhan tahunan yang kerap tumbuh di tempat terang
dan banyak sinar matahari langsung. Tumbuh dengan mudah di tempat atau di
daerah berketinggian 5-1500 m di atas permukaan laut. (Didik dan Sulistijowati,
2001; Watt, 1962).
2.1.2 Morfologi
Tumbuhan kembang bulan (Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray)
merupakan tumbuhan perdu yang tegak dengan tinggi lebih kurang 5 m.
Batang tegak, bulat, berkayu hijau. Daunnya tunggal, berseling, panjang 26-32
cm, lebar 15-25 cm, ujung dan pangkal runcing, pertulangan menyirip, hijau.
Bunga merupakan bunga majemuk, di ujung ranting, tangkai bulat, kelopak
bentuk tabung, berbulu halus, hijau, mahkota lepas, bentuk pita, halus, kuning,
benang sari bulat, kuning, putik melengkung, kuning.Buahnya bulat, jika masih
muda berwarna hijau setelah tua berwarna coklat.Bijinya bulat, keras, dan
berwarna coklat. akarnya berupa akar tunggang berwarna putih kotor (Hutapea,
dkk., 1994).

Universitas Sumatera Utara

2.1.3 Sistematika tumbuhan


Tumbuhan kembang bulan memiliki sistematik (Hutapea, 1994) sebagai
berikut :
Divisi

:Spermatophyta

Sub divisi

:Angiospermae

Kelas

:Dicotyledoneae

Bangsa

:Asterales

Suku

:Asteraceae

Marga

:Tithonia

Jenis

: Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray

2.1.4 Nama lain


Tumbuhan kembang bulan memiliki nama lain yaitu :
Sinonim

: Mirasolia diversifolia Hemsley (Hutapea, 1994).

Nama daerah : Rondose-moyo, Harsaga (Jawa), Kirinyu (Sunda), Kayu Paik


(Minang) (Agusta, 2000; Didik dan Sulistijowati, 2001).
Nama asing

: Mary Gold, Shrub Sunflower, Mexican Sunflower (Inggris),


Mirasol (Guatemala), Yellow Flower (Portugis) (Anonim, 2003;
Anonim, 2004)

2.1.5 Khasiat dan penggunaan


Tumbuhan kembang bulan (Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray)
umum digunakan sebagai obat luka atau luka lebam, dan sebagai obat sakit perut
kembung.Banyak juga digunakan sebagai obat lepra, penyakit lever, obat diabetes
dan dapat digunakan sebagai penggugur kandungan (Anonim, 2004; Hutapea,
1994).

Universitas Sumatera Utara

2.2

Metode Ekstraksi
Ekstraksi adalah suatu cara untuk menarik satu atau lebih zat dari bahan

asal dengan menggunakan pelarut (Syamsuni, 2006). Zat aktif yang terdapat
dalam simplisia tersebut dapat digolongkan ke dalam golongan minyak atsiri,
alkaloid, flavonoid dan lain - lain (Depkes, 2000).Tujuan utama ekstraksi ini
adalah untuk mendapatkan atau memisahkan sebanyak mungkin zat - zat yang
memiliki khasiat pengobatan (Syamsuni, 2006).
Metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut dapat dilakukan dengan
beberapa cara :
1. Maserasi
Maserasi berasal dari kata macerare artinya melunakkan. Maserat
adalah hasil penarikan simplisia dengan cara maserasi, sedangkan maserasi adalah
cara penarikan simplisia dengan merendam simplisia tersebut dalam cairan
penyari dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperature
kamar, sedangkan remaserasi merupakan pengulangan penambahan pelarut
setelah dilakukan penyaringan maserat pertama, dan seterusnya (Depkes, 2000).
Keuntungan dari metode maserasi yaitu prosedur dan peralatannya sederhana
(Agoes, 2007).
2. Perkolasi
Perkolasi berasal dari kata colare, artinya menyerkai dan per =
through, artinya menembus. Dengan demikian, perkolasi adalah suatu cara
penarikan memakai alat yang disebut perkolator dimana simplisia terendam
dalam cairan penyari, zat-zat akan terlarut dan larutan tersebut akan menetes

Universitas Sumatera Utara

secara beraturan (Syamsuni, 2006). Prosesnya terdiri dari tahapan pengembangan


bahan,

tahap

perendaman

antara,

tahap

perkolasi

sebenarnya

(penetesan/penampungan perkolat) sampai diperoleh ekstrak (Depkes, 2000).


Keuntungan dari metode perkolasi ini adalah proses penarikan zat
berkhasiat dari tumbuhan lebih sempurna, sedangkan kerugiannya adalah
membutuhkan waktu yang lama dan peralatan yang digunakan mahal (Agoes,
2007).
3.

Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya,

selama waktu tertentu dan pelarut akan terdestilasi menuju pendingin dan akan
kembali ke labu (Depkes, 2000).
4. Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi kontinu menggunakan alat soklet, dimana
pelarut akan terdestilasi dari labu menuju pendingin, kemudian jatuh membasahi
dan merendam sampel yang mengisi bagian tengah alat soklet setelah pelarut
mencapai tinggi tertentu maka akan turun ke labu destilasi, demikian berulangulang (Depkes, 2000).
5. Infus
Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati
dengan air pada suhu 90C selama 15 menit (Depkes, 2000).

2.3

Sterilisasi
Steril merupakan keadaan suatu zat yang bebas dari mikroba hidup, baik

yang menimbulkan penyakit maupun tidak menimbulkan penyakit, sedangkan

Universitas Sumatera Utara

sterilisasi adalah suatu proses untuk membuat ruang atau benda menjadi steril
(Syamsuni,2006).
Peralatan yang dipergunakan dalam uji antibakteri harus dalam keadaan
steril, artinya pada peralatan tersebut tidak didapatkan bakteri, baik yang akan
merusak media dan proses yang sedang berlangssung.
Steril didapatkan melalui sterilisasi, cara sterilisasi yang umum dilakukan
antara lain :
1. Sterilisasi secara fisik, misalnya dengan pemanasan menggunakan sinar
gelombang pendek seperti sinar X, sinar gama dan sinar ultra violet.
2. Sterilisasi secara kimiawi, dengan menggunakan desinfektan dan larutan
alkohol (Suriawira, 2005).
Selain itu, ada beberapa macam sterilisasi yang dapat digunakan
(Syamsuni, 2006) yaitu :
1. Sterilisasi dengan pemanasan secara kering
Pemanasan secara kering menggunakan alat yang dinamakan dengan oven,
yaitu lemari pengering dengan dinding ganda, dilengkapi dengan termometer dan
lubang tempat keluar masuknya udara, dan dipanaskan dengan gas atau listrik
(Depkes, 1979).Selain dengan oven, sterilisasi dengan pemanasan secara kering
biasanya dilakukan dengan pemijaran. Pemijaran dilakukan dengan memakai api
gas dengan nyala api tidak berwarna atau api dari lampu spiritus. Cara ini sangat
sederhana, cepat dan menjamin sterilisasi bahan atau alat yang disterilkan, tetapi
penggunaannya terbatas hanya untuk beberapa alat atau bahan saja.Biasanya alatalat yang disterilkan dengan pemijaran ini antara lain benda-benda logam (pinset,
penjepit krus), tabung reaksi, mulut wadah seperti erlemeyer, botol dan

Universitas Sumatera Utara

lainnya.Sedangkan mortar dan stamfer disiram dengan alkohol kemudian dibakar


(Syamsuni, 2006).
2. Sterilisasi dengan pemanasan secara basah
Sterilisasi dengan pemanasan secara basah menggunakan temperatur di
atas 100C dilakukan dengan uap yaitu menggunakan autoklaf.Prinsip autoklaf
adalah terjadinya koagulasi protein yang cepat dalam keadaan basah dibandingkan
keadaan kering (Pratiwi, 2008).Siklus sterilisasi dengan pemanasan secara basah
meliputi fase pemanasan, pemaparan uap, pembuangan dan pengeringan (Lukas,
2006).
Sterilisasi ini biasanya digunakan untuk mensterilkan baju operasi dengan
suhu 134C selama 3 menit, sediaan injeksi dan suspensi dengan suhu 121C
selama 15 menit (Lukas, 2006).

2.4

Uji Efek Antibakteri


Pengujian aktivitas antibakteri dapat dilakukan dengan cara 3 cara yaitu

2.4.1 Cara difusi


Sebagai pencadang dapat digunakan cakram kertas, silinder gelas,
porselen, logam dan pencetak lubang (punch hole).
1. Cara tuang
Media agar yang telah diinokulasikan dengan suspensi bakteri uji
dituangkan ke dalam cawan petri, dan dibiarkan memadat.Ke dalam cakram yang
digunakan di teteskan zat antibakteri, kemudian diinkubasikan pada suhu 37C
selama 18-24 jam. Daerah bening yang terdapat di sekeliling cakram kertas atau

Universitas Sumatera Utara

silinder menunjukkan hambatan pertumbuhan bakteri, diamati dan diukur


(Stainer, et al., 1982)
2. Cara sebar
Media agar dituangkan ke dalam cawan petri kemudian dibiarkan
memadat, lalu suspensi bakteri uji disebarkan. Media dilubangi dengan alat
pencetak lubang (punch hole), ke dalamnya diteteskan zat antibakteri, didiamkan,
diinkubasikan pada suhu 37C selama 18-24 jam. Zona hambat diukur yaitu
daerah bening disekitar lubang dengan menggunakan jangka sorong (Lay, 1994).
2.4.2 Cara turbidimetri
Pada cara ini digunakan media cair, yaitu dilakukan penuangan media ke
dalam tabung reaksi, ditambahkan suspensi bakteri, kemudian dilakukan
pemipetan larutan uji, dan inkubasi. Selanjutnya dilakukan pengukuran
kekeruhan, kekeruhan yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri diukur dengan
menggunakan instrument yang cocok, misalnya nephelometer setelah itu
dilakukan penghitungan potensi antimikroba (Depkes,1995).
2.4.3 Cara dilusi
Cara ini digunakan untuk menentukan KHM (kadar hambat minimum) dan
KBM (kadar bunuh minimum) dari obat antimikroba. Prinsip dari metode dilusi
adalah sebagai berikut :
Menggunakan satu seri tabung reaksi yang diisi media cair dan sejumlah
tertentu sel mikroba yang diuji.Kemudian masing-masing tabung diuji dengan
obat yang telah diencerkan secara serial.Seri tabung diinkubasi pada suhu 37oC
selama 18-24 jam dan diamati terjadinya kekeruhan pada tabung.Konsentrasi
terendah obat pada tabung yang ditunjukkan dengan hasil biakan yang mulai

Universitas Sumatera Utara

tampak

jernih

(tidak

ada

pertumbuhan

mikroba)

adalah

KHM

dari

obat.Konsentrasi terendah obat pada biakan padat yang ditunjukkan dengan tidak
adanya pertumbuhan koloni mikroba adalah KBM dari obat terhadap bakteri uji
(Pratiwi, 2008).

2.5

Uraian Bakteri
Bakteri adalah mikroorganisme yang bersel satu, berkembang biak dengan

cara membelah diri, serta demikian kecilnya sehingga hanya dapat dilihat dengan
menggunakan mikroskop (Dwijoseputro, 1978).
2.5.1 Klasifikasi Bakteri
Berdasarkan bentuk morfologinya, maka bakteri dapat di bagi atas tiga
bagian (Pratiwi, 2008) yaitu :
1. Bentuk Basil
Basil dari kata bacillus, merupakan bakteri yang bentuknya menyerupai
batang atau silinder, membelah dalam satu bidang, basil dapat berupa batang
tunggal, berpasangan atau bentuk rantai pendek atau panjang. Bentuk basil ini
dapat dibedakan atas :
a) Bentuk tunggal, yaitu basil yang terlepas satu sama lain dengan ujungujungnya yang tumpul.
b) Diplobasil, yaitu basil yang bergandengan dua-dua dengan ujung-ujungnya
yang tumpul.
c) Streptobasil, yaitu basil yang bergandeng-gandengan panjang dengan ujungujungnya yang tumpul.
2. Bentuk kokus

Universitas Sumatera Utara

Kokus adalah bakteri yang berbentuk bulat atau oval, ada yang hidup
sendiri dan ada yang dijumpai hidup berpasangan, kubus atau membentuk rantai
panjang, bergantung pada caranya membelah diri kemudian melekat satu sama
lain setelah pembelahan. Bentuk kokus ini dapat dibedakan atas :
a) Diplokokus, yaitu kokus yang bergandengan dua-dua.
b) Tetrakokus, yaitu kokus yang mengelompok berempat.
c) Stapfilokokus, yaitu kokus yang mengelompok merupakan suatu untaian.
d) Streptokokus, yaitu kokus yang bergandeng-gandengan panjang seperti rantai.
e) Sarsina, kokus yang mengelompok serupa kubus.
3. Bentuk Spiral
Kelompok bakteri ini terdiri atas beraneka ragam bentuk bakteri berbentuk
silinder, yang bukan lurus seperti basil melainkan melingkar. Bakteri bentuk spiral
ini dibedakan menjadi beberapa jenis antara lain :
a) Vibrio, yaitu bakteri yang benbentuk batang melengkung menyerupai koma,
ada yang tumbuh sebagai benang-benang membelit atau berbentuk s.
b) Spiril, yaitu dari kata spirilium yang menyerupai spiral atau lilitan yang
sebenarnya.
c) Spirochaeta, yaitu merupakan bakteri spiral, tetapi bakteri ini memiliki spiril
yang bersifat fleksibel (mampu melenturkan dan melekukkan tubuhnya sambil
bergerak).
Berdasarkan tempat kedudukan flagel, maka bakteri dapat diklasifikasikan
sebagai berikut (Waluyo, 2004) :
a) Monotrik, jika flagel hanya satu dan melekat pada ujung sel.
b) Lofotrik, jika flagel yang melekat pada salah satu ujung sel banyak.

Universitas Sumatera Utara

c) Amfitrik, jika flagel melekat pada kedua ujung sel masing-masing satu flagel.
d) Peritrik, jika flagel tersebar dari ujung sampai ke sisi-sisi sel.
e) Atrik, jika spesies tidak mempunyai flagel sama sekali.
Berdasarkan pengecatan gram, maka bakteri dapat dibedakan menjadi dua
bagian (Lay, 1994) yaitu :
1. Bakteri gram positif, yaitu bakteri yang dapat mengikat zat warna pertama
(kristal violet) akan memberikan warna ungu dan setelah dicuci dengan
alkohol, warna ungu tersebut akan tetap kelihatan. Kemudian ditambahkan zat
warna kedua (safranin), warna ungu pada bakteri tidak berubah.
2. Bakteri gram negatif, yaitu bakteri yang kehilangan warna dari kristal violet
ketika dicuci dengan alkohol dan setelah diberi zat warna kedua (safranin),
bakteri akan memberikan warna merah muda

2.5.2 Struktur bakteri


Struktur bakteri terbagi menjadi dua (Lay, 1994) yaitu :
1.

Struktur dasar (dimiliki oleh hampir semua jenis bakteri)

a)

Dinding sel tersusun dari peptidoglikan yaitu gabungan protein dan


polisakarida (ketebalan peptidoglikan membagi bakteri menjadi bakteri gram
positif bila peptidoglikannya tebal dan bakteri gram negative bila
peptidoglikannya tipis).

b) Membrane plasma adalah membrane yang menyelubungi sitoplasma tersusun


atas lapisaan fosfolipid dan protein. Membran plasma merupakan barier yang
fungsinya mengatur keluar masuknya bahan-bahan dari dalam sel atau dari
luar sel, dan hanya bahan-bahan tertentu saja yang dapat melewatinya
sehingga menghasilkan energi.

Universitas Sumatera Utara

c)

Sitoplasma adalah cairan sel

d) Ribosom adalah organel yang tersebar dalam sitoplasma, tersusun atas protein
dan RNA.
e)

Granula penyimpanan, karena bakteri menyimpan cadangan makanan yang


dibutuhkan.

2.

Struktur tambahan (dimiliki oleh jenis bakteri tertentu)

a.

Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri
tertentu, bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut
lapisan lendir. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air.

b.

Flagellum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral
yang menonjol dari dinding sel. Flagela tersusun dari protein yang disebut
flagelin.

c.

Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang
menonjol dari dinding sel, pilus mirip dengan flagellum tetapi lebih pendek,
kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat
pada bakteri gram negative. Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih
pendek daripada pilus. Pilus yang berfungsi sebagai alat untuk menempelkan
dirinya pada sel hospes disebut colonizing factor.

d.

Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membrane plasma dan
mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis.
Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis.

e.

Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis

f.

Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram
positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan

Universitas Sumatera Utara

bagi kehidupan bakteri. Endospora mengandung sedikit sitoplasma, materi


genetic dan ribosom. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan
menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan, radiasi cahaya, suhu
tumbuh menjadi sel bakteri baru.
2.5.3 Reproduksi bakteri
Bakteri pada umumnya berkembang biak dengan membelah diri (binary
fission). Pada waktu akan membelah sel bakteri membesar 2 kali semula
kemudian membelah menjadi 2. Masing-masing sel bakteri yang baru menerima
sitoplasma dan bahan genetic dalam jumlah yang sama. Dalam lingkungan yang
ideal bakteri membelah engan sangat cepat. Jika bakteri bereproduksi setiap 20
menit, maka akan terbentuk suatu koloni bakteri yang terdiri atas lebih dari 2 juta
bakteri selama 7 jam, jika makanannya masih cukup. Ada beberapa bakteri yang
berkembang biak secara konjugasi. Konjugasi terjadi antara bakteri yang sama
jenisnya, jika satu bakteri mempunyai plasmid yang lainnya tidak. Bakteri jantan
dan betina yang sama jenisnya saling melekatkan diri dengan membuat jembatan
sitoplasma (pilus penghubung) dan selanjutnya terjadi pertukaran material
genetic. Konjugasi sebetulnya jarang terjadi dan hanya pada beberapa spesies
bakteri (Pratiwi, 2008).
2.5.4 Fase pertumbuhan bakteri
Ada 4 fase pertumbuhan bakteri, di antaranya :
1. Fase Lambat (lag phase), yaitu fase yang terjadi antara beberapa jam
tergantung pada umur dari sel inokulum, spesies, dan lingkungannya. Waktu
pada fase lag ini dibutuhkan untuk penyesuaian diri terhadap kondisi
pertumbuhan lingkungan yang baru.

Universitas Sumatera Utara

2. Fase Cepat (Log phase), yaitu setelah beradaptasi terhadap kondisi baru, sel
sel ini akan tumbuh dan membelah diri secara eksponensial sampai jumlah
maksimum yang dapat dicapai sesuai kondisi lingkungan.
3. Fase Tetap (Stationary phase), populasi bakteri jarang dapat tetap tumbuh
secara eksponensial dengan kecepatan tinggi untuk jangka waktu yang lama.
Setelah 48 jam, pertumbuhan eksponensial bakteri dengan waktu pembelahan
20 menit akan menghasilkan sebesar 2,2 x 1031 bakteri. Pertumbuhan populasi
mikroorganisme biasanya dibatasi oleh habisnya nutrisi yang tersedia,
akibatnya kecepatan pertumbuhan menurun dan pertumbuhan akhirnya
terhenti, fase ini dikatakan sebagai fase tetap (stationary phase). Komposisi
sel-sel pada fase ini berbeda dibandingkan dengan saat fase eksponensial dan
umumnya lebih tahan terhadap perubahan panas, dingin maupun radiasi.
4. Fase Kematian (death phase), yaitu sel-sel pada fase tetap, akhirnya akan mati
bila tidak di pindahkan ke media segar yang lain. Sebagaimana pertumbuhan,
kematian sel juga secara eksponensial dan karenannya dalam bentuk
logaritmis, fase menurun atau kematian ini merupakan penurunan secara garis
lurus yang digambarkan oleh jumlah sel-sel yang hidup terhadap waktu.
Kecepatan kematian berbeda-beda tergantung dari lingkungan dan spesies
mikroorganisme (Waluyo, 2004).
2.5.5 Faktor faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri
1. Nutrisi
Semua mahluk hidup memerlukan bahan makanan untuk keperluan
hidupnya.Bahan makanan ini diperlukan untuk sintesis bahan sel dan untuk
mendapatkan energi.Demikian juga dengan mikroorganisme, untuk kehidupannya

Universitas Sumatera Utara

membutuhkan energi dari lingkungannya.Bahan tersebut dinamakan nutrisi (zat


gizi) (Waluyo, 2004).
Semua mikroorganisme memerlukan nutrisi sebagai sumber energi dan
pertumbuhan selnya.Unsur unsur dasar tersebut adalah karbon, nitrogen, sulfur,
zat besi dan sejumlah kecil logam-logam lainnya.Kekurangan sumber nutrisi ini
dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba hingga pada akhirnya dapat
menyebabkan kematian (Gaman, 1992).
Pembiakan bakteri dalam laboratorium memerlukan media yang berisi zat
hara serta lingkungan pertumbuhan yang sesuai bagi bakteri.Zat hara diperlukan
untuk pertumbuhan, sintesis sel, keperluan energi dalam metabolisme dan
pergerakan.Lazimnya, media biakan mengandung air, sumber energi, zat hara
sebagai sumber karbon, nitrogen, sulfur, fosfat, oksigen dan hidrogen.Dalam
bahan dasar media dapat pula ditambahkan faktor pertumbuhan berupa asam
amino dan vitamin. Media biakan dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori,
yaitu:
1)

Berdasarkan asalnya, media dibagi atas:

a)

Media sintetik yaitu media yang kandungan dan isi bahan yang ditambahkan
diketahui secara terperinci. Contoh: glukosa, kalium fosfat, magnesium
fosfat.

b) Media non-sintetik yaitu media yang kandungan dan isinya tidak diketahui
secara terperinci dan menggunakan bahan yang terdapat di alam. Contohnya:
ekstrak daging dan pepton (Lay, 1994).
2) Berdasarkan kegunaannya, dapat dibedakan menjadi:

Universitas Sumatera Utara

a) Media selektif
Media selektif adalah media biakan yang mengandung paling sedikit satu
bahan yang dapat menghambat perkembang biakan mikroorganisme yang
tidak diinginkan dan membolehkan perkembang biakan mikroorganisme
tertentu yang ingin diisolasi.
b) Media diferensial
Media ini digunakan untuk menyeleksi suatu mikroorganisme dari berbagai
jenis dalam suatu lempengan agar.
c)

Media diperkaya
Media ini digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme yang diperoleh
dari lingkungan alami karena jumlah mikroorganisme yang ada terdapat
dalam jumlah sedikit (Irianto, 2006).

3) Berdasarkan konsistensinya, dibagi atas (Irianto, 2006):


a)

Media padat/ solid

b) Media semi solid


c)

Media cair

2. Temperatur
Bakteri sangat peka terhadap suhu atau temperatur dan daya tahannya
tidak sama untuk semua spesies. Bakteri dapat diklasifikasikan menjadi tiga
kelompok berdasarkan suhu pertumbuhan yang diperlukan, di antaranya :

Universitas Sumatera Utara

a) Bakteri Psikrofil, yakni mikroorganisme yang dapat hidup baik pada suhu 020C, dengan suhu optimumnya adalah 10-20C. kebanyakan golongan ini
tumbuh di tempat dingin.
b) Bakteri Mesofil, mikroorganismeyang dapat hidup dengan baik pada suhu 560C, dan memiliki suhu pertumbuhan optimal antara 20-45C. Umumnya
mikroba ini hidup dalam saluran pencernaan.
c) Bakteri Termofil, mikroorganisme dapat hidup baik pada suhu 45-80C. Suhu
optimumnya antara 50-60C, mikroba ini terutama terdapat di tempat yang
bertemperatur tinggi (Gaman, 1992).
3. Oksigen
Bakteri dapat dibedakan menjadi 4 kelompok berdasarkan kebutuhan
oksigen selama pertumbuhan, antara lain :
a) Aerob yaitu bakteri yang membutuhkan oksigen di dalam pertumbuhannya.
b) Anaerob yaitu bakteri yang tidak membutuhkan oksigen di dalam
pertumbuhannya, bahkan oksigen ini dapat menjadi racun bagi bakteri
tersebut.
c) Anaerob fakultatif yaitu bakteri yang dapat hidup tumbuh dengan atau tanpa
adanya oksigen.
d) Mikroaerofilik yaitu bakteri yang memerlukan hanya sedikit oksigen dalam
pertumbuhannya (Pratiwi, 2008).
4. pH
Pertumbuhan bakteri juga memerlukan pH tertentu, namun umumnya
bakteri memiliki jarak pH yaitu sekitar pH 6,5-7,5 atau pada pH netral (Waluyo,

Universitas Sumatera Utara

2004). Untuk tiap mikroorganisme dikenal nilai pH minimum, optimum, dan


maksimum.
Atas dasar daerah, pH bagi kehidupan mikroba, dibedakan adanya 3
golongan besar (Suriawira, 2005) yaitu :
a) Mikroba yang asidofilik, yaitu yang dapat tumbuh pada pH antara 2,0-5,0
b) Mikroba yang netrofilik, yaitu yang dapat tumbuh pada pH antara 5,5-8,0
c) Mikroba yang alkalifilik, yaitu yang dapat tumbuh pada pH antara 8,7-9,5
5. Tekanan Osmosis
Osmosis merupakan perpindahan air melewati membrane semipermiabel
karena ketidakseimbangan material terlarut dalam media. Pada larutan hipotonik
air akan masuk ke dalam sel mikroorganisme sedangkan dalam larutan hipertonik
air akan keluar dari dalam sel mikroorganisme sehingga membran plasma
mengkerut dan lepas dari dinding sel (plasmolisis), serta menyebabkan sel secara
metabolik tidak aktif. Mikroorganisme halofil mampu tumbuh pada lingkungan
hipertonik dengan kadar garam yang tinggi, contohnya Halobacterium halobium
(Dwidjoseputro, 1988).
2.5.6 Uraian Staphylococcus aureus
Sistematika Staphylococcus aureus (Dwidjoseputro, 1988) yaitu :
Divisi

: Protophyta

Klas

: Schizomycetes

Bangsa

: Eubacteriales

Suku

: Micrococcaceae

Marga

: Staphylococcus

Jenis

: Staphylococcus aureus

Universitas Sumatera Utara

Staphylococcus aureus adalah jenis kuman yang terutama menimbulkan


penyakit pada manusia.Setiap jaringan maupun alat tubuh dapat diinfeksi olehnya
dan menimbulkan timbulnya penyakit dengan tanda-tanda yang khas.Bentuk
klinisnya tergantung dari bagian tubuh yang terkena infeksi.Staphylococcus
aureus merupakan kokus gram positif, aerobik atau anaerobik fakultatif.Nama ini
berasal dari bahasa Yunani staphyle yang berarti setandan anggur.Staphylococcus
aureus ditemukan sebagai flora normal pada kulit, selaput lendir, bisul, luka,
saluran pencernaan.
Sel bakteri Staphylococcus aureus berbentuk bola dengan diameter ratarata 0,7-1,2 m tersusun dalam kelompok-kelompok. Pada biakan cair ditemukan
dalam bentuk berpasangan, rantai pendek dan kokus yang tunggal.Kokus muda
bersifat gram positif.Bakteri Staphylococcus aureus tidak bergerak dan tidak
membentuk spora.Bakteri ini tumbuh baik pada suhu 37C. Pertumbuhan terbaik
dan khas adalah pada suasana aerob, bersifat anaerob fakultatif dan pH optimum
untuk pertumbuhan adalah 7,4. Koloni bakteri ini berbentuk bulat, cembung, dan
mengkilap.Warna khas adalah kuning keemasan (Pelczar, 1988).
2.5.7 Uraian Pseudomonas aeruginosa
Sistematika Pseudomonas aeruginosa (Dwidjoseputro, 1988) yaitu :
Divisi

:Bacteria

Sub Divisi

: Proteobacteria

Kelas

: Gamma Proteobacteria

Bangsa

: Pseudomonadales

Universitas Sumatera Utara

Suku

:Pseudomonadaceae

Marga

:Pseudomonas

Spesies

:Pseudomonas aeruginosa
Pseudomonas aeruginosa dapat menginfeksi seseorang yang mengalami

gangguan pada sistem pertahanan tubuhnya, misalnya pada orang yang menderita
luka bakar, pada orang yang mengalami gangguan metabolisme dan pada
penderita yang mendapat pengobatan radiasi.Bakteri ini dapat menginfeksi hampir
seluruh jaringan tubuh yang masuk melalui lesi lokal yang ada di permukaan
tubuh. Selanjutnya akan memasuki pembuluh darah dan menyebar pada jaringan
tubuh yang lain. Bakteri ini adalah bakteri gram negatif aerob obligat, berkapsul,
mempunyai flagella polar sehingga bakteri ini bersifat motil, berukuran sekitar
0,5-1,0 m, tidak menghasilkan spora dan tidak dapat menfermentasikan
karbohidrat. Pada uji biokimia, bakteri ini menghasilkan hasil negatif pada uji
indol, merah metil, dan voges-proskauer.Bakteri ini secara luas dapat ditemukan
di alam, contohnya di tanah, air, tanaman, dan hewan.Pseudomonas aeruginosa
adalah pathogen oportunistik.Bakteri ini merupakan penyebab utama infeksi
pneumonia nosokomial.Meskipun begitu, bakteri ini dapat berkolonisasi pada
manusia normal tanpa menyebabkan penyakit. Ketika bakteri ini ditumbuhkan
pada media yang sesuai, bakteri ini akan menghasilkan pigmen nonfluoresen
berwarna kebiruan, piosianin. Beberapa strain Pseudomonas juga mampu
menghasilkan pigmen fluoresen berwarna hijau, yaitu pioverdin. Pseudomonas
aeruginosa memproduksi katalase, oksidase, dan amonia dari arginin (Pelczar,
1988).

Universitas Sumatera Utara

2.5.8 Uraian Propionibacterium acnes


Sistematika Propionibacterium acnes ((Dwidjoseputro, 1988) yaitu :
Divisi

: Bacteria

Sub Divisi

: Actinobacteria

Kelas

: Actinobacteridae

Bangsa

: Actinomycetales

Suku

: Propionibacteriaceae

Marga

: Propionibacterium

Jenis

: Propionibacterium acnes
Propionibacterium acnes adalah berbentuk batang tak teratur yang terlihat

pada pewarnaan gram positif.Bakteri ini dapat tumbuh di udara dan tidak
menghasilkan endospora.Bakteri ini dapat berbentuk filament bercabang atau
campuran antara bentuk batang/filamen dengan bentuk kokoid.Propionibacterium
acnes memerlukan oksigen mulai dari aerob atau anaerob fakultatif sampai ke
mikroerofilik atau anaerob.Beberapa bersifat patogen untuk hewan dan tanaman.
Propionibacterium

acnes

termasuk

dalam

kelompok

bakteri

orynebacteria.Bakteri ini termasuk flora normal kulit, berperan pada pathogenesis


jerawat dengan menghasilkan lipase yang memecah asam lemak bebas dari lipid
kulit.Asam lemak ini dapat mengakibatkan inflamasi jaringan ketika berhubungan
dengan sistem imun dan mendukung terjadinya akne.Propionibacterium acnes
termasuk bakteri yang tumbuh relatif lambat. Bakteri ini tipikal bakteri anaerob
gram positif yang toleran terhadap udara (Pelczar,1988).

BAB III

Universitas Sumatera Utara

Beri Nilai