Anda di halaman 1dari 16

1.

Latar Belakang Pentingnya Pendidikan Karakter


Pendidikan karakter akhir-akhir ini semakin banyak diperbincangkan di
tengahtengah masyarakat Indonesia, terutama oleh kalangan akademisi. Sikap
dan perilaku masyarakat dan bangsa Indonesia sekarang cenderung mengabaikan
nilai-nilai luhur yang sudah lama dijunjung tinggi dan mengakar dalam sikap
dan perilaku sehari-hari. Nilai-nilai karakter mulia, seperti kejujuran,
kesantunan, kebersamaan, dan religius, sedikit demi sedikit mulai tergerus oleh
budaya asing yang cenderung hedonistik, materialistik, dan individualistik,
sehingga nilai-nilai karakter tersebut tidak lagi dianggap penting jika
bertentangan dengan tujuan yang ingin diperoleh.
Sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki peradaban yang mulia
dan peduli dengan pendidikan bangsa, sudah seyogyanya kita berupaya untuk
menjadikan nilai-nilai karakter mulia itu tumbuh dan bersemi kembali menyertai
setiap sikap dan perilaku bangsa, mulai dari pemimpin tertinggi hingga rakyat
jelata, sehingga bangsa ini memiliki kebanggaan dan diperhitungkan
eksistensinya di tengah-tengah bangsa-bangsa lain. Salah satu upaya ke arah itu
adalah melakukan pembinaan karakter di semua aspek kehidupan masyarakat,
terutama melalui institusi pendidikan.
Membangun karakter bangsa membutuhkan waktu yang lama dan harus
dilakukan secara berkesinambungan. Karakter yang melekat pada bangsa kita
akhir-akhir ini bukan begitu saja terjadi secara tiba-tiba, tetapi sudah melalui
proses yang panjang. Potret kekerasan, kebrutalan, dan ketidakjujuran anak-anak
bangsa yang ditampilkan oleh media baik cetak maupun elektronik sekarang ini
sudah melewati proses panjang. Budaya seperti itu tidak hanya melanda rakyat
umum yang kurang pendidikan, tetapi sudah sampai pada masyarakat yang
terdidik, seperti pelajar dan mahasiswa, bahkan juga melanda para elite bangsa
ini.
Pendidikan harus mampu melakukan perbaikan karakter bangsa kita. Karena
itu, pendidikan kita perlu direkonstruksi ulang agar dapat menghasilkan lulusan
yang lebih berkualitas dan siap menghadapi dunia masa depan yang penuh
dengan problema dan tantangan serta dapat menghasilkan lulusan yang memiliki
karakter mulia. Dengan kata lain, pendidikan harus mampu mengemban misi
pembentukan karakter (character building) sehingga para peserta didik dan para

lulusannya dapat berpartisipasi dalam mengisi pembangunan di masa-masa


mendatang tanpa meninggalkan nilai-nilai karakter mulia.
Salah satu upaya untuk mewujudkan pendidikan seperti di atas, para peserta
didik (siswa dan mahasiswa) harus dibekali dengan pendidikan khusus yang
membawa misi pokok dalam pembinaan karakter mulia. Pendidikan seperti ini
dapat memberi arah kepada para peserta didik setelah menerima berbagai ilmu
maupun

pengetahuan

dalam

bidang

studi,

sehingga

mereka

dapat

mengamalkannya di tengah-tengah masyarakat dengan tetap berpatokan pada


nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang universal.
Arah dan tujuan pendidikan nasional kita, seperti diamanatkan oleh UUD
1945, adalah peningkatan iman dan takwa serta pembinaan akhlak mulia para
peserta didik yang dalam hal ini adalah seluruh warga negara yang mengikuti
proses pendidikan di Indonesia. Amanat konstitusi kita ini dengan tegas
memberikan perhatian yang besar akan pentingnya pendidikan karakter (akhlak
mulia) dalam setiap proses pendidikan dalam membantu membumikan nilai-nilai
agama dan kebangsaan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi yang diajarkan
kepada seluruh peserta didik. Keluarnya undang-undang tentang sistem
pendidikan nasional (sisdiknas), yakni UU no. 20 tahun 2003, menegaskan
kembali fungsi dan tujuan pendidikan nasional kita. Pada pasal 3 UU ini
ditegaskan, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Misi besar
pendidikan nasional seperti di atas menuntut semua pelaksana pendidikan di
memiliki kepedulian yang tinggi akan masalah moral atau karakter.
2. Pengertian Pendidikan Karakter dan Pemuda
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
kepada manusia yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, atau
kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap
Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan
sehingga menjadi insan kamil. Jadi banyak aspek yang terkait dengan nilai-nilai
pendidikan karakter menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

Definisi pemuda adalah individu yang bila dilihat secara fisik sedang
mengalami perkembangan dan secara psikis sedang mengalami perkembangan
emosional, sehingga pemuda merupakan sumber daya manusia pembangunan
baik saat ini maupun masa datang. Sebagai calon generasi penerus yang akan
menggantikan generasi sebelumnya. Secara internasional,WHO menyebut
sebagai young people dengan batas usia 10-24 tahun, sedangkan usia 10-19
tahun disebut adolescenea atau remaja. International Youth Year yang
diselenggarakan tahun 1985, mendefinisikan penduduk berusia 15-24 tahun
sebagai kelompok pemuda.
3. Faktor Pembentukan Karakter
Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi terbentuknya sebuah karakter.
Dari sekian banyak faktor tersebut, para ahli menggolongkannya ke dalam dua
bagian, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.
1) Faktor Intern
Terdapat banyak hal yang mempengaruhi faktor internal ini, diantaranya
adalah:
a. Insting atau Naluri
Insting adalah suatu sifat yang dapat menumbuhkan perbuatan yang
menyampaikan pada tujuan dengan berfikir lebih dahulu kearah tujuan itu
dan tidak didahului latihan perbuatan itu. Setiap perbuatan manusia lahir dari
suatu kehendak yang digerakkan oleh naluri (Insting). Oleh karenanya
pengaruh naluri pada diri seseorang sangat besar, tergantung pada bagaimana
seseorang tersebut menyalurkannya. Naluri dapat menjerumuskan manusia
kepada kehinaan (degradasi), sebaliknya naluri juga dapat mengangkat
derajat manusia, jika naluri tersebut disalurkan kepada hal yang positif.
b. Adat atau Kebiasaan
Salah satu faktor penting dalam tingkah laku manusia adalah kebiasaan,
karena sikap dan perilaku yang menjadi akhlak (karakter) sangat erat sekali
dengan kebiasaan, yang dimaksud dengan kebiasaan adalah perbuatan yang
selalu diulang-ulang sehingga mudah untuk dikerjakan.
c. Kehendak atau Kemauan
Kemauan ialah keinginan untuk melangsungkan segala ide dan segala yang
dimaksud, walau disertai dengan berbagai rintangan dan kesukaran, namun
sekali-kali tidak mau tunduk pada rintangan-rintanagn tersebut. Salah satu
kekuatan yang berlindung dibalik tingkah laku adalah kehendak atau

kemauan keras. Itulah yang menggerakkan dan merupakan kekuatan yang


mendorong manusia dengan sungguh-sungguh untuk berprilaku baik
(berakhlak).
d. Suara Hati atau Hati Nurani
Nurani adalah suatu benih yang telah diciptakan oleh Allah dalam jiwa
manusia. Nurani dapat tumbuh berkembang serta berbunga karena pengaruh
pendidikan, dia akan statis bila tidak ditumbuh kembangkan.
e. Hereditas atau Keturunan
Hereditas merupakan sifat-sifat atau ciri yang diperoleh oleh seorang anak
atas dasar keturunan atau pewarisan dari generasi ke generasi melalui sebuah
benih
2) Faktor Ekstern
a) Pendidikan
Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan
karakter seseorang, sehingga baik dan buruknya akhlak seseorang sangat
tergantung pada pendidikan. Hal tersebut sesuai dengan tujuan dari
pendidikan itu sendiri, salah satu diantaranya ialah menjadikan manusia
sebagai insan kamil.
b) Lingkungan
Lingkungan dengan teman-teman yang jahat mempunyai pengaruh yang
negatif terhadap perkembangan anak, bukan hanya perkataannya saja
tetapi seluruh perilaku atau perbuatannya. Jadi dapat dikatakan bahwa
lingkungan pergaulan mempunyai pengaruh yang sangat dominan
terhadap perkembangan anak.
4. Nilai-nilai Karakter yang Ditargetkan
Nilai-nilai karakter yang ditargetkan kepada generasi muda adalah sebagai
berikut.
1. Ketaatan beribadah, yakni pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang
diupayakan untuk selalu menjalankan ajaran agamanya.
2. Kejujuran, yakni sikap dan perilaku seseorang yang didasarkan pada upaya
menjadikan dirinya selalu dapat dipercaya dalam perkataan dan perbuatannya.
3. Tanggung jawab, yakni sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan
tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, baik
terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, negara, maupun Tuhan YME.
4. Kedisiplinan, yakni sikap dan perilaku yang menunjukkan ketertiban dan
kepatuhan terhadap berbagai ketentuan dan peraturan.
5. Etos kerja, yakni sikap dan perilaku seseorang yang menunjukkan semangat
dan kesungguhan dalam melakukan suatu pekerjaan. Karakter inilah yang

sekarang terwujud dalam bentuk kerja sama, yakni sikap dan perilaku yang
menunjukkan upaya dalam melakukan suatu pekerjaan bersama-sama secara
sinergis demi tercapainya tujuan.
6. Kemandirian, yakni sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada
orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
7. Sinergi, yakni sikap dan perilaku yang menunjukkan upaya-upaya untuk
memadukan berbagai pekerjaan yang dilakukan.
8. Kritis, yakni sikap dan perilaku yang berusaha untuk menemukan kesalahan
atau kelemahan maupun kelebihan dari suatu perbuatan.
9. Kreatif dan inovatif, yakni berpikir dan melakukan sesuatu untuk
menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki.
10. Visioner, yakni pandangan, wawasan, dan kemampuan seseorang untuk
membangun kehidupan masa depan yang lebih baik.
11. Kasih sayang dan kepedulian, yakni sikap dan perilaku seseorang yang
menunjukkan suatu perbuatan atas dasar cinta dan perhatian kepada orang lain
maupun kepada lingkungan dan proses yang terjadi di sekitarnya.
12. Keikhlasan, yakni sikap dan perilaku seseorang untuk melakukan suatu
perbuatan dengan ketulusan hatinya.
13. Keadilan, yakni sikap dan perilaku seseorang yang menunjukkan upaya
untuk melakukan perbuatan yang sepatutnya sehingga terhindar dari perbuatan
yang semena-mena dan berat sebelah.
14. Kesederhanaan, yakni sikap dan perilaku yang menunjukkan kesahajaan dan
tidak berlebihan dalam berbagai hal.
15. Nasionalisme, yakni cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan
kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan
fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya.
16. Internasionalisme, yakni cara berpikir, bersikap, dan berbuat seseorang yang
menunjukkan bahwa bangsa dan negaranya merupakan bagian dari dunia
sehingga terdorong untuk mempertahankan dan memajukannya sehingga dapat
berkiprah di dunia internasional.
5. Pentingnya Pendidikan Karakter
Eksistensi suatu bangsa sangat ditentukan oleh karakter yang dimilikinya.
Hanya bangsa yang memiliki karakter kuat yang mampu menjadikan dirinya
sebagai bangsa yang bermartabat dan disegani oleh bangsa-bangsa lain. Oleh
karena itu menjadi bangsa yang berkarakter adalah impian bangsa Indonesia.
Meskipun sudah bukan hal yang baru lagi, namun harus diakui bahwa fenomena
globalisasi adalah dinamika yang paling strategis dan membawa pengaruh dalam

tata nilai dari berbagai bangsa termasuk bangsa Indonesia. Sebagian kalangan
menganggapnya sebagai ancaman yang berpotensi untuk menggulung tata nilai
dan tradisi bangsa kita dan menggantinya dengan tata nilai yang popular di
negara asing. Di era globalisasi yang tidak mampu menahan derasnya arus
informasi dari dunia manapun, membuat generasi muda dengan mudah
mengetahui dan menyerap informasi dan budaya dari negara lain, demikian
sebaliknya negara manapun dapat dengan mudah mendapatkan segala bentuk
informasi dan budaya dari negara kita, disinilah karakter bangsa diperlukan
karena apabila karakter bangsa tidak kuat maka globalisasi akan melindas
generasi muda kita. Generasi muda diharapkan dapat berperan menghadapi
berbagai macam permasalahan dan persaingan di era globalisasi yang semakin
ketat sekarang ini.
Untuk membentengi generasi muda khususnya pelajar agar tidak terlindas
oleh arus globalisasi maka diperlukan pembangunan karakter yang kuat.
Membangun karakter tidaklah segampang membalikkan telapak tangan,
meskipun tidak mudah tetapi membangun karakter sangat penting, apalagi bagi
generasi muda yang merupakan komponen bangsa Indonesia yang paling rentan
dalam menghadapi terpaan arus globalisasi. Karena bagaimanapun juga generasi
muda kita adalah cerminan karakter bangsa Indonesia. Apabila generasi muda
kita tidak menjunjung tinggi nilai dan norma menurut falsafah Pancasila maka
dapat dikatakan karakter bangsa kita memudar dan hilang, bila karakter suatu
bangsa hilang maka tidak ada lagi nama bangsa Indonesia di peta dunia.
Dewasa ini karakter bangsa kita dipandang sebelah mata oleh negara lain,
bahkan banyak orang-orang Indonesia tidak mau mengakui bahwa dirinya
berasal dari Indonesia, mereka malu menjadi orang Indonesia. Hal ini mereka
akui karena banyaknya kasus yang terjadi di Indonesia. Mereka takut negara lain
memandang mereka berasal dari negara teroris, atau negara para koruptor,
negara yang memiliki segalanya tetapi tidak mampu mengolah sumber daya
alamnya, negara bodoh, negara penonton, negara majemuk yang masyarakatnya
sering ricuh antar etnis, mementingkan diri sendiri dan sukunya tanpa
mempedulikan orang lain, kasus korupsi, kolusi dan nepotisme, atau negara yang
tidak memiliki kualitas dalam bidang apapun. Dalam menghadapi era
globalisasi, pendidikan sangat diperlukan untuk membangun karakter bangsa.
Baik itu dari pendidikan formal, informal maupun non formal. Semua

pendidikan intinya adalah membawa perubahan karakter menjadi lebih baik dan
lebih baik lagi.
Sehubungan dengan hal tersebut karakter bangsa masih dapat diselamatkan
dan ditumbuh kembangkan melalui pembelajaran yang kontinyu. Proses
pembelajaran membawa siswa kepada sosok generasi bangsa yang tidak sekedar
memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki moral yang mencerminkan nilainilai luhur yang tertanam dalam benak siswa. Seiring denga era globalisasi dan
kemajuan dunia informasi, bangsa indonesia tengah dilanda krisis nilai-nilai
luhur yang menyebabkan martabat bangsa Indonesia dinilai rendah oleh bangsa
lain. Oleh karena itu, karakter bangsa Indonesia saat ini perlu dibangun kembali.
Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang
maknanya ialah universal. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan,
kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi
mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial,
atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa
dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan
kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas
geografis, ekonomi dan budaya masyarakat. Di sisi lain, ada yang melihat
globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa,
sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya.
Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk
yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan
mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya
karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar
terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain
seperti budaya dan agama.
Faktor pendukung utama arus globalisasi adalah teknologi informasi dan
komunikasi. Perkembangan teknologi dewasa ini begitu cepat sehingga segala
informasi dengan berbagai bentuk dapat tersebar luas ke seluruh dunia.Oleh
karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya. Akibat globalisasi
tentunya membawa pengaruh terhadap suatu negara termasuk Indonesia,
khususnya terhadap perkembangan moral peserta didik Pengaruh negatif
globalisasi yang berkaitan dengan perkembangan moral peserta didik antara lain
dalam bidang budaya dan sosial, banyak dikalangan remaja telah hilang nilai-

nilai nasionalisme bangsa kita, misalnya sudah tidak kenal sopan santun, cara
berpakaian, dan gaya hidup mereka cenderung meniru budaya barat. Munculnya
sikap individualisme, kurang peduli terhadap orang lain sehingga sikap gotong
royong semakin luntur. Berdasarkan uraian di atas maka perlu langkah-langkah
untuk mengantisipasi pengaruh negatif arus globalisasi terhadap nilai-nilai
nasionalisme bangsa kita, khususnya terhadap perkembangan moral peserta
didik
Langkah-langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif arus globalisasi
perkembangan moral peserta didik antara lain:
1. Menanamkan sikap kepada peserta didik untuk mencintai produk dalam
negeri melalui pembelajaran di sekolah.
2. Menumbuhkembangkan nilai-nilai pancasila yang merupakan dasar negara
kita terhadap peserta didik.
3. Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama tidak hanya tanggung jawab
guru agama, melainkan merupakan tanggung jawab oleh semua guru bidang
studi.
4. Menginformasikan kepada peserta didik untuk menyeleksi arus globalisasi
dalam segala bidang, melalui pembelajaran.
Dengan cara mengantisipasi pengaruh negatif arus globalisasi terhadap
perkembangan moral peserta didik, diharapkan peserta didik yang nantinya
merupakan sumber daya manusia yang akan datang terhindar dari budaya barat
yang tidak relevan dengan nilai-nilai nasionalisme dan cita-cita luhur bangsa kita
yang telah digariskan dalam Undang-Undang Negara Republik Indonesia.
6. Membangun Karakter Generasi Muda di Era Globalisasi
Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di
kalangan remaja. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda begitu kuat. Pengaruh
globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan
kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dalam kehidupan
sehari-hari, misalnya dalam cara berpakaian, selera makan. Yang lebih
memprihatinkan adalah pergaulan bebas antar remaja. Pada Era globalisasi
dewasa ini dekadensi moral tidak hanya terjadi di kalangan remaja saja, namun
banyak terjadi pula dikalangan orang dewasa. Hal ini tidak bisa kita pungkiri
lagi, ternyata di negeri tercinta yang berdasarkan Pancasila ini telah menodai
nilai-nilai luhur dari Pancasila itu sendiri. Hal ini terbukti semakin maraknya
korupsi hampir di setiap departemen yang ada di negeri kita ini.

Untuk menumbuhkan karakter positif pada anak, orang tua perlu


mengenalkan pada mereka tokoh-tokoh atau pahlawan yang bisa mereka jadikan
idola. Usaha menumbuhkan karakter positif pada anak dapat dimulai sedini
mungkin, misalnya melalui mendongeng atau dengan contoh lain. Dalam dunia
pendidikan, para guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan
strategi pembelajaran moral perlu mengupayakan peningkatan kemampuan siswa
yang berkaitan dengan moral, misalnya melalui pemberian tugas, diskusi
kelompok, atau bermain peran tentang seorang pahlawan atau sebaliknya, serta
mencari contoh-contoh seorang pahlawan yang sesuai dengan idola mereka. Guru
hendaknya menanggapi dengan serius segala persoalan moral dalam bentuk
apapun, agar merangsang proses pemikiran mereka tentang pentingnya moral.
Salah satu upaya untuk mengatasi masalah-masalah moral di kalangan remaja
adalah mengembangkan teori-teori dan model-model atau strategi pembelajaran
moral yang berpijak pada karakteristik siswa dan budayanya. Hal ini akan
memudahkan pemahaman siswa terhadap kualitas moral seseorang, karena
karakteristik siswa merupakan kemampuan awal yang telah dimiliki siswa untuk
kepentingan pembelajaran moral termasuk pemahaman moral dan tindakan moral
yang tercermin pada peran sosialnya. Karakter tidak dapat dilepaskan dari
konteks sosial budaya karena karakter terbentuk dalam lingkungan sosial budaya
tertentu. Dalam hal ini para guru di sekolah dan orang tua harus saling mengisi
untuk menumbuhkan karakter positif pada anak melalui pembelajaran yang
berkaitan dengan pendidikan agama sehingga generasi mendatang bangsa kita
menjadi bangsa yang beriman berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia.
7. Peran Pemerintah
Pemerintah merupakan komponen yang sangat penting dalam kegiatan
pembentukan karakter bangsa. Para aparatur negara sebagai penyelenggara
pemerintahan merupakan pengambil dan pelaksana kebijakan
menentukan

yang ikut

berhasilnya pembangunan karakter bangsa, baik pada

tataran

informal, formal maupun nonformal. Terkait dengan ini maka pemerintah harus
secara intens melibatkan diri dalam pendidikan karakter ini dengan berbagai
regulasi, menetapkan berbagai peraturan daerah yang dapat mendukung
pelaksanaan pembentukan karakter bangsa.

Bagi pemerintah pusat perlu ada political will, menopang dengan berbagai
kebijakan umum yang memperkuat pengembangan program pendidikan
karakter. Melalui Kementerian Pendidikan Nasional, kemudian mengeluarkan
berbagai pedoman melalui para ahli untuk pelaksanaan pendidikan karakter
bangsa di berbagai daerah, termasuk sudah barang tentu dukungan dana
(sekalipun dalam bentuk kebijakan). Sementara itu Pemerintah Daerah dapat
mengeluarkan berbagai peraturan daerah (Perda) untuk memback-up pelasanaan
pendidikan karakter di daerah. Misalnya perda yang terkait dengan peraturan
berlalu lintas, Perda tentang kost para pelajar mahasiswa, tentang ketertiban dan
kebersihan lingkungan, tentang mass media. Kemudian secara fisik, pemerintah
menyediakan dana untuk menciptakan lingkungan yang kondusif untuk
berlangsung pembentukan karakter bagi individu, masyarakat, termasuk warga
belajar. Misalnya pemasangan banner-banner, spanduk, papan nama yang berisi
pesan-pesan atau slogan agar seseorang atau masyarakat berperilaku baik dalam
kegiatan sehari-hari. Pemerintah menguasahakan lingkungan yang bersih dan
indah, yang membawa nuansa lingkungan hidup yang rapi, sehat, dan nyaman.
Perlu ditambahkan bahwa dalam pengembangan pendidikan karakter perlu
keteladanan. Dalam hal ini pemerintah memiliki peranan yang sangat strategis.
Pemerintah sebagai aparatur negara dan penyelenggara pemerintah dikenal
sebagai pemimpin masyarakat akan selalu dicontoh. Oleh karena itu, pemerintah
memiliki peran keteladanan yang amat kuat. Dengan demikian para elit
pimpinan, elit politik haruslah berperilaku sebagai teladan dalam berbagai hal.
Dengan prinsip keteladanan ini akan diharapkan pengembangan pendidikan
karakter bagi masyarakat dapat berjalan efektif.
8. Peran Agama
Untuk menjadikan manusia memiliki karakter mulia (berakhlak mulia),
manusia berkewajiban menjaga dirinya dengan cara memelihara kesucian lahir
dan batin, selalu menambah ilmu pengetahuan, membina disiplin diri, dan
berusaha

melakukan

perbuatan-perbuatan

terpuji

serta

menghindarkan

perbuatan-perbuatan tercela. Setiap orang harus melakukan hal tersebut dalam


berbagai aspek kehidupannya, jika ia benarbenar ingin membangun karakternya.
Sebagai salah satu agama samawi (bersumber dari wahyu Tuhan), Islam
memberikan pembelajaran yang tegas tentang karakter atau akhlak. Apa yang
dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw., selaku pembawa agama Islam, harus

diteladani oleh semua pengikutnya (umat Islam). Nabi Muhammad Saw. berhasil
membangun karakter umat Islam setelah menempuh waktu yang lama (sekitar
13 tahun) dan dengan kerja keras yang takkenal lelah. Nabi memulainya dengan
pembinaan agama, terutama pembinaan akidah (keimanan). Dalam konsep
Islam, akhlak atau karakter mulia merupakan hasil dari pelaksanaan seluruh
ketentuan Islam (syariah) yang didasari dengan fondasi keimanan yang kokoh
(akidah). Seorang Muslim yang memiliki akidah yang kuat pasti akan mematuhi
seluruh ketentuan (ajaran) agama Islam dengan melaksanakan seluruh perintah
agama dan meninggalkan seluruh larangan agama. Inilah yang disebut takwa.
Dengan pelaksanaan ketentuan agama yang utuh baik kuantitas dan kualitasnya,
seorang Muslim akan memiliki karakter mulia seperti yang sudah dipraktikkan
oleh Nabi Muhammad beserta para sahabatnya.
Dengan demikian, agama memiliki peran besar dalam pembangunan karakter
manusia. Agama menjamin pemeluknya memiliki karakter mulia, jika ia
memiliki komitmen tinggi dengan seluruh ajaran agamanya. Sebaliknya, jika
pemeluk agama memiliki agama hanya sebagai formalitas belaka tanpa
memperhatikan dan mematuhi ajaran agamanya, maka yang terjadi sering kali
agama tidak bisa mengantarkan pemeluknya berkarakter mulia, malah agama
sering menjadi tameng di balik 6 ketidakberhasilan membangun karakter
pemeluknya. Karena itulah, tidak sedikit orang yang lari dari agama dan ingin
membuktikan bahwa ia mampu berkarakter tanpa agama. Inilah opini sebagian
masyarakat yang sebenarnya keliru. Sebab karakter yang dibangun tanpa agama
adalah karakter yang tidak utuh. Bagaimana orang dikatakan baik atau buruk
karakternya jika ukurannya hanyalah berbuat baik kepada manusia saja dan
mengabaikan hubungan vertikalnya (ibadah) kepada Tuhan.
Pembinaan karakter (akhlak) juga harus dilakukan dengan masyarakat pada
umumnya yang bisa dimulai dari kolega atau teman dekat, teman kerja, dan
relasi lainnya. Dalam pergaulan kita di masyarakat bisa saja kita menjadi bagian
yang tidak terpisahkan dengan mereka, entah sebagai anggota biasa maupun
sebagai pemimpin. Sebagai pemimpin, kita perlu menghiasi dengan akhlak yang
mulia. Karena itu, pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat mulia, seperti
memiliki kemampuan, berilmu pengetahuan agar urusan ditangani secara
profesional, memiliki keberanian dan kejujuran, lapang dada, penyantun, serta
tekun dan sabar. Dari bekal sikap inilah pemimpin akan dapat melaksanakan

tugas dengan amanah dan adil, melayani dan melindungi rakyat, dan
bertanggung jawab serta membelajarkan rakyat. Sedangkan sebagai rakyat kita
berkewajiban patuh, memberi nasihat kepada pemimpin jika ada tanda-tanda
penyimpangan.
Di samping itu, pembinaan akhlak juga harus dilakukan terhadap makhluk
lain, seperti dengan binatang, tumbuhan, dan lingkungan sekitarnya. Akhlak
yang dikembangkan adalah cerminan dari tugas kekhalifahan manusia di bumi,
yakni untuk menjaga agar setiap proses pertumbuhan alam terus berjalan sesuai
dengan fungsi ciptaan-Nya. Dalam kondisi apa pun (di masa perang atau damai)
manusia dilarang 7 merusak binatang dan tumbuhan kecuali terpaksa. Semua
sudah diciptakan dan diatur sesuai dengan hukum alamnya masing-masing dan
disesuaikan dengan tujuan dan fungsi penciptaan.
9. Peran Lingkungan
Pembudayaan karakter mulia perlu dilakukan demi terwujudnya karakter
mulia yang merupakan tujuan akhir dari suatu proses pendidikan. Budaya atau
kultur yang ada di lembaga, baik sekolah, kampus, maupun yang lain, berperan
penting dalam membangun karakter mulia di kalangan sivitas akademika dan
para karyawannya. Karena itu, lembaga pendidikan memiliki tugas dan tanggung
jawab untuk melakukan pendidikan karakter (pendidikan moral) bagi para
peserta didik yang didukung dengan membangun lingkungan yang kondusif baik
di lingkungan kelas, sekolah, tempat tinggal peserta didik, dan di tengah-tengah
masyarakat.
Untuk merealisasikan karakter mulia sangat perlu dibangun budaya atau
kultur yang dapat mempercepat terwujudnya karakter yang diharapkan. Kultur
merupakan kebiasaan atau tradisi yang sarat dengan nilai-nilai tertentu yang
tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai aspek
kehidupan. Kultur dapat dibentuk dan dikembangkan oleh siapa pun dan di mana
pun.
Terdapat ttujuh macam kebajikan yang dapat membentuk manusia berkualitas
di mana pun dan kapan pun, yaitu sebagai berikut.
Empati merupakan inti emosi moral yang membantu anak memahami
perasaan orang lain. Kebajikan ini membuatnya menjadi peka terhadap
kebutuhan dan perasaan orang lain, mendorongnya menolong orang yang

kesusahan atau kesakitan, serta menuntutnya memperlakukan orang dengan


kasih sayang.
Hati nurani adalah suara hati yang membantu anak memilih jalan yang benar
daripada jalan yang salah serta tetap berada di jalur yang bermoral; membuat
dirinya merasa bersalah ketika menyimpang dari jalur yang semestinya.
Kontrol diri dapat membantu anak menahan dorongan dari dalam dirinya dan
berpikir sebelum bertindak, sehingga ia melakukan hal yang benar, dan kecil
kemungkinan mengambil tindakan yang berakibat buruk. Kebajikan ini
membantu anak menjadi mandiri karena ia tahu bahwa dirinya bisa
mengendalikan tindakannya sendiri. Sifat ini membangkitkan sikap mural dan
baik hati karena ia mampu menyingkirkan keinginan memuaskan diri serta
merangsang kesadaran mementingkan keperluan orang lain.
Rasa hormat mendorong anak bersikap baik dan menghormati orang lain.
Kebajikan ini mengarahkannya memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin
orang lain memperlakukan dirinya, sehingga mencegahnya bertindak kasar, tidak
adil, dan bersikap memusuhi. Dengan ini ia akan memerhatikan hak-hak serta
perasaan orang lain.
Kebaikan hati membantu anak menunjukkan kepeduliannya terhadap
kesejahteraan dan perasaan orang lain. Dengan mengembangkan kebajikan ini,
ia lebih berbelas kasih terhadap orang lain dan tidak memikirkan diri sendiri,
serta menyadari perbuatan baik sebagai tindakan yang benar.
Toleransi membuat anak mampu menghargai perbedaan kualitas dalam diri
orang lain, membuka diri terhadap pandangan dan keyakinan baru, dan
menghargai orang lain 9 tanpa membedakan suku, gender, penampilan, budaya,
agama, kepercayaan, kemapuan, atau orientasi seksual. Dengan toleransi ia akan
memperlakukan orang lain dengan baik dan penuh pengertian, menentang
permusuhan, kekejaman, kefanatikan, serta menghargai orang-orang berdasarkan
karakter mereka.
Keadilan menuntun anak agar memperlakukan orang lain dengan baik, tidak
memihak, dan adil, sehingga ia mematuhi aturan, mau bergiliran dan berbagi,
serta mendengar semua pihak secara terbuka sebelum memberi penilaian apa
pun. Ia juga terdorong untuk membela orang lain yang diperlakukan tidak adil
dan menuntut agar setiap orang diperlakukan setara.
Membangun kultur atau lingkungan yang mendukung terwujudnya tujuan
pendidikan, yakni karakter mulia, sangatlah penting. Tiga lingkungan utama

peserta didik, yakni lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, dan lingkungan


masyarakat hendaklah dibangun yang sinergis dan bersama-sama mendukung
proses pendidikan dan pembelajaran. Lingkungan yang jelek tidak hanya
menghalangi tercapainya tujuan pendidikan, akan tetapi juga akan merusak
karakter peserta didik yang dibangun melalui proses pembelajaran.
10. Peran Kearifan Lokal
Sejarah menunjukkan, masing-masing etnis dan suku memiliki kearifan lokal
sendiri. Misalnya saja suku Batak kental dengan keterbukaan, Jawa nyaris
identik dengan kehalusan, suku Madura memiliki harga diri yang tinggi, dan
etnis Cina terkenal dengan keuletan. Lebih dari itu, masing-masing memiliki
keakraban dan keramahan dengan lingkungan alam yang mengitari mereka.
Kearifan lokal itu tentu tidak muncul serta-merta, tapi berproses panjang
sehingga akhirnya terbukti, hal itu mengandung kebaikan bagi kehidupan
mereka. Keterujiannya dalam sisi ini membuat kearifan lokal menjadi budaya
yang mentradisi, melekat kuat pada kehidupan masyarakat. Artinya, sampai
batas tertentu ada nilai-nilai perenial yang berakar kuat pada setiap aspek
lokalitas budaya ini. Semua, terlepas dari perbedaan intensitasnya, mengeram
visi terciptanya kehidupan bermartabat, sejahtera dan damai. Dalam bingkai
kearifan lokal ini, masyarakat bereksistensi, dan berkoeksistensi satu dengan
yang lain.
Masyarakat Indonesia sudah sepatutnya untuk kembali kepada jati diri
mereka melalui pemaknaan kembali dan rekonstruksi nilai-nilai luhur budaya
mereka. Dalam kerangka itu, upaya yang perlu dilakukan adalah menguak
makna substantif kearifan lokal. Sebagai misal, keterbukaan dikembangkan dan
kontekstualisasikan menjadi kejujuran dan seabreg nilai turunannya yang lain.
Kehalusan diformulasi sebagai keramahtamahan yang tulus. Harga diri
diletakkan dalam upaya pengembangan prestasi; dan demikian seterusnya. Pada
saat yang sama, hasil rekonstruksi ini perlu dibumikan dan disebarluaskan ke
dalam seluruh masyarakat sehingga menjadi identitas kokoh bangsa, bukan
sekadar menjadi identitas suku atau masyarakat tertentu. Untuk itu, sebuah
ketulusan, memang, perlu dijadikan modal dasar bagi segenap unsur bangsa.
Ketulusan untuk mengakui kelemahan diri masing-masing, dan ketulusan untuk

membuang egoisme, keserakahan, serta mau berbagi dengan yang lain sebagai
entitas dari bangsa yang sama.
Para elit di berbagai tingkatan perlu menjadi garda depan, bukan dalam
ucapan, tapi dalam praksis konkret untuk memulai. kearifan lokal yang digali,
dipoles, dikemas dan dipelihara dengan baik bisa berfungsi sebagai alternatif
pedoman hidup manusia Indonesia dewasa ini dan dapat digunakan untuk
menyaring nilai-nilai baru/asing agar tidak bertentangan dengan kepribadian
bangsa dan menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Sang Khalik,
alam sekitar, dan sesamanya (tripita cipta karana). Dan sebagai bangsa yang
besar pemilik dan pewaris sah kebudayaan yang adiluhung pula, bercermin pada
kaca benggala kearifan para leluhur dapat menolong kita menemukan posisi
yang kokoh di arena global ini.
Anak bangsa di negeri ini sudah sewajarnya diperkenalkan dengan
lingkungan yang paling dekat di desanya, kecamatan, dan kabupaten, setelah
tingkat nasional dan internasional. Melalui pengenalan lingkungan yang paling
kecil, maka anak-anak kita bisa mencintai desanya. Apabila mereka mencintai
desanya mereka baru mau bekerja di desa dan untuk desanya. Kearifan lokal
mempunyai arti sangat penting bagi anak didik kita. Dengan mempelajari
kearifan lokal anak didik kita akan memahami perjuangan nenek moyangnya
dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Pendidikan berbasis kearifan lokal dapat digunakan sebagai media untuk
melestarikan potensi masing-masing daerah. Kearifan lokal harus dikembangkan
dari potensi daerah. Potensi daerah merupakan potensi sumber daya spesifik
yang dimiliki suatu daerah tertentu.
Para siswa yang datang ke sekolah tidak bisa diibaratkan sebagai sebuah
gelas kosong, yang bisa diisi dengan mudah. Siswa tidak seperti plastisin yang
bisa dibentuk sesuai keinginan guru. Mereka sudah membawa nilai-nilai budaya
yang dibawa dari lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Guru yang bijaksana
harus dapat menyelipkan nila-nilai kearifan lokal mereka dalam proses
pembelajaran. Pendidikan berbasis kearifan lokal tentu akan berhasil apabila
guru memahami wawasan kearifan lokal itu sendiri.
Pendidikan merupakan wahana yang tepat untuk menumbuhkembangkan
karakter bangsa yang baik. Melalui Pendidikan dapat membangun karakter generasi
muda dalam menghadapi era globalisasi. Karena di dalam pendidikan ada proses

pembelajaran yang pada akhirnya diharapkan terjadi transformasi yang dapat


menumbuhkembangkan karakter positif, serta mengubah watak dari yang tidak baik
menjadi baik. Peran penting dari generasi muda dalam menghadapi berbagai
permasalahan di era globalisasi ini adalah sebagai pembangun kembali karakter
(character enabler), Pemberdayaan karakter (character builders) dan Perekayasa
karakter (character enginee).