Anda di halaman 1dari 8

Q1.

Apakah perbedaan dari Polis Asuransi Kebakaran dengan Polis Asuransi Property All
Risk / Industrial All Risk ?
A1. Di dalam Polis Asuransi Kebakaran disebutkan risiko-risiko apa saja yang dijamin secara
spesifik , yaitu :
1. Risiko utama (main coverage) : Fire (kebakaran) , Lightning (Petir), Explosion
(Ledakan), Impact of Aircraft (Kejatuhan biasa disingkat dengan FlexasPesawat
Terbang) dan Smoke (Asap)
2. Risiko perluasan (extended coverage) : seperti Kerusuhan (RSMD), Banjir, dsb.
3. Risiko yang dikecualikan (pengecualian/exclusion).
Sehingga polis Asuransi Kebakaran dinamakan Named Perils Policy.
Sedangkan di dalam Polis Property All Risk /Industrial All Risk tidak secara tegas disebutkan
risiko-risiko apa saja yang dijamin. Di dalam polis Property All Risk / Industrial All Risk yang
disebutkan secara specific adalah Exclusion atau Pengecualiannya. Jadi dengan kalta lain polis
Property All Risk /Industrial All Risk menjamin semua risiko sepanjang risiko tersebut tidak
dikecualikan.
Sehingga polis Property All Risk / Industrial All Risk dinamakan Unnamed Perils Policy.
Q2. Apa saja yang menjadi Exclusion atau Pengecualian dalam polis Property All Risk
/Industrial All Risk ?
A2.Ada 2 jenis Exclusion (Pengecualian) dalam polis Property All Risk / Industrial All Risk
yaitu :
1. General Exclusions :
o Perang, kerusuhan, huru-hara, penjarahan, revolusi, pengambilalihan kekuasaan,
terorisme.
o Radiasi, ionisasi, kontaminasi radioaktif nuklir.
o Kesengajaan/kecerobohan tertanggung atau yang mewakili tertanggung.
o Penghentian pengerjaan sebagian maupun keseluruhan.
2. Special Exclusions:
o Property dalam masa konstruksi.

o Property dalam masa perbaikan, pembersihan, renovasi.


o Property dalam perjalanan melalui darat, kereta, udara atau air (diasuransikan
dengan polis asuransi pengangkutan /marine cargo).
o Kendaraan darat, laut, udara, air ruang angkasa,lokomotif dan sejenisnya.
o Perhiasan, batu berharga, medallion, barang-barang langka/karya seni.
o Pohon kayu, hewan, gunung, ikan, tanaman.
o Tanah, jalanan, rel kereta, bendungan, kanal, kabel, terowongan, jembatan, pipapipa, pelabuhan, tambang, offshore property.
o Barang sewa, kredit dan sejenisnya..
o Langsung/tidak langsung disebabkan oleh :

Keterlambatan, hilangnya pasar, kegagalan pemasangan.

Ketidakjujuran, kecurangan, penipuan.

Hilang, lenyap, susut yang tidak diketahui sebabnya.

Tangki air dan perlengkapannya yang jebol, luber, dilepaskan atau bocor
ketika tempat itu tida digunakan.

Karat, aus, korosi, jamur, kutu, basah, kering, larva serangga.

Polusi, kontaminasi.

Peraturan mengenai konstruksi, perbaikan atau pemusnahan pada


bangunan yang dipertanggungkan.

Pengerutan,perubahan warna/rasa/texture, kehilangan berat.

Perubahan temperatur, kelembaban, atau kegagalan operasi pada sistem


pendingin atau pemanas.

Angin, hujan, hujan es, salju, banjir atau debu yang merusak benda
bergerak di tempat terbuka, pagar atau pekarangan.

Biaya-biaya pemeliharaan/perawatan.

Biaya-biaya perbaikan, desain, faulty workmanship.

kembali keatas^
Q3. Dapatkah kita minta agar yang dikecualikan (Pengecualian) di dalam polis Property
All Risk / Industrial All Risk dapat dijamin pula di dalam polis?
A3. Ada beberapa yang dapat, yaitu dengan mencantumkan Extension Clause (Klausula
Perluasan) yang menerangkan bahwa Risiko yang sebenarnya dikecualikan tersebut menjadi
dijamin.
Contohnya adalah Jaminan Kerusuhan dan Huru-hara (RSMD 4.1ACC), di mana dalam standard
polis Property All Risk / Industrial All Risk sebenarnya RSMD 4.1ACC adalah dikecualikan.
Jadi agar risiko tsb termasuk ke dalam yang dijamin di dalam polis, maka dalam polis tsb
dicantumkan Klausula Endorsement RSMD4.1ACC.
Contoh lain adalah Penghentian pengerjaan sebagian maupun keseluruhan (Silent Risk) yang
tercantum dalam General Exclusion. Agar risiko tsb dijamin maka dicantumkan Klausula Silent
Risk.
Q4. Apakah yang dimaksud dengan Endorsement dan Klausula itu ?
A4. Endorsement adalah lampiran perubahan-perubahan di dalam polis, yaitu bisa memperluas
jaminan atau bisa juga mempersempit jaminan.
Sedangkan Klausula adalah suatu tambahan yang dilekatkan pada suatu polis yang dapat
memperluas jaminan atau mempersempit jaminan dan memuat ketentuan-ketentuan yang harus
dilakukan Tertanggung.
Q5. Di dalam polis Property All Risk / Industrial All Risk, Gempa Bumi tidak disebutkan
sebagi salah satu yang dikecualikan. Apakah Gempa Bumi dijamin dalam polis PAR/IAR ?
A5. Pada awalnya Gempa Bumi memang dijamin di dalam polis Property All Risk / Industrial
All Risk, namun dengan melihat kecenderungan makin seringnya risiko Gempa Bumi yang
terjadi di Indonesia , akhirnya pada sekitar tahun 2002 risiko Gempa Bumi dijamin di dalam
polis tersendiri yang didukung (diback-up) oleh Pool Reasuransi Gempa Bumi Indonesia
(PRGBI, sekarang bernama Maipark).
Untuk itu, untuk menerangkan bahwa polis Property All Risk / Industrial All Risk tersebut tidak
menjamin Gempa Bumi, maka pada polis tersebut dilekatkan Earthquake Exclusion Clause
(Klausula Pengecualian Gempa Bumi).
Q6. Bagaimana apabila polis Property All Risk / Industrial All Risk ingin diperluas dengan
Gempa Bumi dan bagaimana dengan ratenya ?
A6. Apabila polis Property All Risk / Industrial All Risk ingin diperluas dengan jaminan Gempa
Bumi, maka akan dibuat dalam polis tersendiri. Di mana Rate, Deductible dan kondisi lainnya
harus mengikuti standard yang sudah di atur oleh Pool Reasuransi Gempa Bumi Indonesia
(PRGBI, sekarang bernama Maipark).
Q7. Apakah rate untuk polis Gempa Bumi sama untuk semua obyek pertanggungan ?

A7. Tidak sama.


Berbeda dengan polis Property All Risk / Industrial All Risk, rate polis Gempa Bumi selain
ditentukan oleh penggunaan bangunan ditentukan pula oleh Zona letak dari Obyek
Pertanggungan berada dan juga oleh konstruksi bangunan.
Q8. Apakah ada batasan Harga Pertanggungan agar suatu Obyek Pertanggungan dapat
dicover dengan polis Property All Risk / Industrial All Risk ?
A8. Sebenarnya di dalam Wording Polis tidak diatur HargaPertanggungan yang dapat dicover
dengan polis Property All Risk / Industrial All Risk, namun hal tsb dikembalian kepada
kebijaksanaan tiap-tiap perusahaan asuransi.. Di dalam kebijaksanaan u/w ASM, diatur bahwa
batasan Nilai Pertanggungan yang bisa dicover dengan polis Property All Risk / Industrial All
Risk adalah Rp. 10.000.000.000,-, namun karena melihat kondisi pasar saat ini terutama bisnisbisnis dari broker, maka pada perkembangannya Harga Pertanggungan di bawah Rp.
10.000.000.000,- bisa dicover dengan polis Property All Risk / Industrial All Risk, tapi biasanya
yang bisa dicover dengan Property All Risk / Industrial All Risk adalah Harga Pertanggungan di
atas Rp. 2.000.000.000,-.
Q9. Apakah untuk penutupan Asuransi Property All Risk / Industrial All Risk harus
dilakukan survey terlebih dahulu atas Obyek Pertanggungan tsb ?
A9. Di dalam General Condition pada polis Property All Risk / Industrial All Risk diatur
mengenai Right of Inspection, di mana Wakil Penanggung (Surveyor) berhak menginspeksi
(mensurvey) dan mengkaji risiko yang akan dicover, dan Tertanggung harus memberikan kepada
Surveyor semua keterangan rinci dan penilaian risiko.
Hal ini sejalan dengan Prinsip asuransi Utmost Good Faith. Terutama untuk bisnis-bisnis yang
memiliki risiko tinggi, seperti pabrik textil, wood working, pabrik bahan kimia atau untuk bisnis
yang Harga Pertanggungannya besar.
Di mana dengan melakukan survey, menjadi dasar bagi bag. underwriting untuk menentukan
rate, menentukan share, menentukan deductible (risiko sendiri), mencantumkan Warranty atau
untuk menentukan apakah risiko tersebut akan diterima atau tidak.
Q10. Apakah Warranty itu ?
A10. Warranty adalah suatu janji atau persyaratan yang melengkapi polis yang memuat suatu
keadaan yang harus dipenuhi oleh Tertanggung yaitu untuk melakukan sesuatu atau tidak
melakukan sesuatu, di dalam polis biasanya disebutkan sebagai Klausula Kewajiban
Tertanggung.
Contohnya : Warranty mengenai keberadaan Alat-alat Pemadam Api Ringan
Yang berbunyi :
KLAUSULA KEWAJIBAN TERTANGGUNG (WARRANTY)
MENGENAI KEBERADAAN ALAT-ALAT PEMADAM API RINGAN (APAR)
Dengan ini Tertanggung menegaskan telah menerima penjelasan secukupnya mengenai

persyaratan pemberian potongan premi asuransi kebakaran sebesar 2% (dua setengah persen)
sehubungan dengan keberadaan alat-alat pemadam api ringan (APAR) sebagai berikut :
1. Untuk setiap 250 meter persegi (m) dari lantai bangunan harus disediakan, pada
tempat yang mudah dijangkau, MINIMAL 1 (satu) dari salah satu unit tabung APAR
tersebut di bawah ini :
9 kg jenis gas CO2 (carbondioxide) pemadam
4.5 kg jenis kimia kering (dry powder) pemadam
3 kg jenis gas HALON (halogenated hydrocarbon) pemadam
10 liter jenis busa pemadam
10 liter air pemadam
Tabung APAR berukuran lebih kecil boleh dipakai asal keseluruhan jumlah berat
(kilogram) atau isi (liter) sama dengan tabung APAR yang digantikannya.
2. Setiap tabung APAR berada dalam kondisi baik, siap pakai dan terpelihara serta selalu
mentaati petunjuk pabrikan mengenai pengisian kembali.
Selanjutnya Tertanggung, dengan ini menyatakan setuju bahwa apabila pada saat terjadi
kebakaran ternyata APAR tidak ada atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya
disebabkan kelalaian dan/atau kesalahan Tertanggung dalam pemeliharaan dan/atau
dalam mengikuti petunjuk pabrikan, maka Perusahaan Asuransi/Penanggung tidak
bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi.
Q11. Kapan berlakunya Warranty dan bagaimana apabila Warrant tsb tidak dipenuhi oleh
Tertanggung ?
A11. Warranty berlaku selama masa pertanggungan asuransi. Apabila warranty ini tidak dipenuhi
atau tidak dilaksanakan oleh Tertanggung sehingga mengakibatkan risiko menjadi meningkat,
maka kerugian yang mungkin terjadi tidak akan dibayarkan.
Q12. Bagaiman cara menentukan Harga Pertanggungan pada Polis ?
A12. Harga Pertanggungan dari property yang diasuransikan harus menunjukkan nilai penuh
(tidak lebih kecil) dari harga yang sebenarnya / harga pasar pada saat berlakunya asuransi dan
selama periode asuransi berlangsung, karena pada saat property hancur/rusak maka Penanggung
akan mengganti dengan yang baru atau membangun kembali dengan kondisi yang sama tetapi
tidak lebih baik atau lebih luas dari bangunan sebelumnya.
Q13. Bolehkah Tertanggung mengasuransikan isi bangunan tanpa mengasuransikan
bangunannya ?
A13. Pada dasarnya di dalam polis tidak memuat ketentuan bahwa yang disuransikan harus
beserta bangunannya, namun biasanya perusahaan asuransi tidak mau menerima apabila yang
diasuransikan hanya isi bangunannya saja tanpa bangunannya, karena risiko yang terbesar justru

biasanya dari isi bangunannya . Kecuali apabila bangunan nya sewa atau bangunannya tsb sudah
diasuransikan sendiri.
Q14. Apakah setelah terjadinya kerugian sebagian, Harga Pertanggungan menjadi
berkurang ?
A14. Setelah terjadinya kerugian sebagian, Harga Pertanggungan memang menjadi berkurang
sebesar kerugiannya tsb, jadi setelah terjadi kerugian Harga Pertanggungannya harus
dikembalikan seperti posisi semula di mana Tertanggung harus membayar proporsi premi
tambahan sampai dengan berakhirnya masa pertanggungan.
Untuk itu di dalam polis akan dilekatkan klausula Reinstatement Additional Premium.

1. 3. Jenis Klausula Asuransi


Dalam perjanjian asuransi sering dimuat janji-janji khusus yang dirumuskan secara tegas dalam
polis, yang lazim disebut Klausula asuransi yang maksudnya untuk mengetahui batas tanggung
jawab penanggung dalam pembayaran ganti kerugian apabila terjadi peristiwa yang
menimbulkan kerugian. Jenis-jenis asuransi tersebut ditentukan oleh sifat objek asuransi itu,
bahaya yang mengancam dalam setiap asuransi. Klausula-klausula yang dimaksud antara lain:
a. Klausula Premier Risque
Klausula ini menyatakan bahwa apabila pada asuransi dibawah nilai benda terjadi kerugian,
penanggung akan membayar ganti kerugian seluruhnya sampai maksimum jumlah yang
diasuransikan (Pasal 253 ayat 3 KUHD). Klausula ini biasa digunakan pada asuransi
pembongkaran dan pencurian, asuransi tanggung jawab.
b. Klausula All Risk
Klausula ini menentukan bahwa penanggung memikul segala resiko atau benda yang
diasuransikan. ini berarti penanggung akan mengganti semua kerugian yang timbul akibat
peristiwa apapun, kecuali kerugian yang timbul karena kesalahan tertanggung sendiri (Pasal 276
KUHD) dan karena cacat sendiri bendanya (Pasal 249 KUHD).
1. Klausula Total Loss Only (TLO)

Klausula ini menentukan bahwa penanggung hanya menanggung kerugian yang merupakan
kerugian keseluruhan/total atas benda yang diasuransikan.
1. d. Klausula Sudah Diketahui (All Seen)
Klausula ini digunakan pada asuransi kebakaran. Klausula ini menentukan bahwa penanggung
sudah mengetahui keadaan, konstruksi, letak dan cara pemakaian bangunan yang diasuransikan.
1. e. Klausula Renunsiasi (Renunciation)
Menurut Klausula penanggung tidak akan menggugat tertanggung, dengan alasan pasal 251
KUHD, kecuali jika hakim menetapkan bahwa pasal tersebut harus diberlakuan secara jujur atau
itikad baik dan sesuai dengan kebiasaan. berarti apabila timbul kerugian akibat evenemen
tertanggung tidak memberitahukan keadaan benda objek asuransi kepada penanggung, maka
penanggung tidak akan mengajukan pasal 251 KUHD dan penanggung akan membayar klaim
ganti kerugian kepada tertanggung.
1. Klausula Free Particular Average (FPA)
Bahwa penaggung dibebaskan dari kewajiban membayar ganti kerugian yang timbul akibat
peristiwa khusus di laut (Particular Average) seperti ditentukan dalam pasal 709 KUHD dengan
kata lain penanggung menolak pembayaran ganti kerugian yang diklaim oleh tertanggung yang
sebenarnya timbul dari akibat peristiwa khusus yang sudah dibebaskan klausula FPA.
1. g. Klausula Riot, Strike & Civil Commotion (RSCC)
Riot (kerusuhan) adalah tindakan suatu kelompok orang, minimal sebanyak 12 orang, yang
dalam melaksanakan suatu tujuan bersama menimbulkan suasana gangguan ketertiban umum
dengan kegaduhan dan menggunakan kekerasan serta pengrusakan harta benda orang lain, yang
belum dianggap sebagai huru-hara.
Strike (pemogokan) adalah tindakan pengrusakan yang disengaja oleh sekelompok pekerja,
minimal 12 orang pekerja atau separuh dari jumlah pekerja (dalam hal jumlah seluruh pekerja
kurang dari 24 orang),yang menolak bekerja sebagaimana biasanya dalam usaha untuk memaksa
majikan memenuhi tuntutan dari pekerja atau dalam melakukan protes terhadap peraturan atau
persyaratan kerja yang diberlakukan oleh majikan.
Civil Commotion (huru-hara) adalah keadaan di suatu kota dimana sejumlah besar massa secara
bersama-sama atau dalam kelompok-kelompok kecil menimbulkan suasana gangguan ketertiban
dan keamanan masyarakat dengan kegaduhan dan menggunakan kekerasan serta rentetan
pengrusakan sejumlah besar harta benda, sedemikian rupa sehingga timbul ketakutan umum,
yang ditandai dengan terhentinya lebih dari separuh kegiatan normal pusat
perdagangan/pertokoan atau perkantoran atau sekolah atau transportasi umum di kota tersebut
selama minimal 24 jam secara terus menerus yang dimulai sebelum, selama atau setelah kejadian
tersebut.

1. 4. Hal yang harus diperhatikan:


Bankers Clause atau Klausula Bank adalah suatu klausula yang tercantum dalam Polis yang
hanya dicantumkan atas permintaan pihak Bank dimana dalam polis secara tegas dinyatakan
bahwa Pihak Bank adalah sebagai penerima ganti rugi atas peristiwa yang terjadi atas obyek
pertanggungan sebagaimana disebutkan dalam perjanjian asuransi (polis).
Klausula ini muncul sebagai akibat adanya hubungan hutang piutang antara Debitur dan Kreditur
dimana obyek pertanggungan adalah menjadi jaminan Bank; sehingga klausula ini bukan
merupakan standard yang pada umumnya tercantum dalam Polis.