Anda di halaman 1dari 12

ASESMEN ALTERNATIVE DAN ASESMEN KINERJA

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Evaluasi Pendidikan IPA
yang dibina oleh Bapak Dr. Hadi Suwono, M.Si

Oleh:
Kelompok 4
Destik Widiyawati

(120341421959)

Zerlinda Mara Ditta

(120341421950)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Januari 2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Asesmen
Alternative dan Asesmen Kinerja dengan baik dan lancar. Shalawat dan salam
kepada baginda nabiullah Muhammad SAW selaku tokoh reformasi yang
mengajarkan kepada kebenaran khususnya bagi umat muslim yang telah
menunjukan kepada jalan kebenaran dan kebaikan.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas yang telah diberikan oleh
dosen pengampu dan penulis juga tidak lupa menyampaikan terima kasih atas
segala bantuan yang telah diberikan terutama kepada:
1. Dr. Hadi Suwono, M.Si, selaku dosen pembimbing matakuliah Evaluasi
Pendidikan.
2. Para asisten dosen Evaluasi pendidikan yang juga ikut membantu dan
berpartisipasi dalam perkuliahan dan membantu dalam penyelesaian makalah.
3. Teman-teman yang telah berbagi ilmu selama masa perkuliahan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu segala saran dan masukan sangat diperlukan guna lebih baik untuk
penulisan makalah selanjutnya. Harapan penulis semoga makalah ini bisa
bermanfaat baik bagi penulis maupun pihak-pihak lain.

Malang, Januari 2015

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini istilah asesmen banyak digunakan dalam kegiatan evaluasi,
terutama setelah diberlakukannya kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum ini
memiliki

karakteristik

pelaksanaan

tertentu

pembelajaran,

baik

maupun

dalam

perencanaan

evaluasi

pembelajaran,

pembelajaran.

Dengan

diberlakukannya Kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi), membawa


implikasi terhadap model pendekatan pembelajaran dan teknik penilaian.
Penilaian terdiri atas penilaian eksternal dan penilaian internal. Penilaian eksternal
merupakan penilaian yang dilakukan oleh pihak lain yang tidak melaksanakan
proses pembelajaran dan dilakukan oleh suatu lembaga, dimaksudkan antara lain
untuk pengendali mutu. Sedangkan penilaian internal adalah penilaian yang
direncanakan dan dilakukan oleh guru pada saat proses belajar mengajar
berlangsung untuk penjaminan mutu pembelajaran. Penilaian hasil belajar peserta
didik dilakukan oleh guru untuk memantau proses, kemajuan, perkembangan hasil
belajar peserta didik sesuai dengan potensi yang dimiliki dan kemampuan yang
diharapkan secara berkesinambungan. Penilaian juga dapat memberikan umpan
balik kepada guru agar dapat menyempurnakan perencanaan dan proses
pembelajaran.Dalam kegiatan evaluasi pembelajaran, kurikulum ini tidak hanya
mempersyaratkan penggunaan tes formal seperti halnya yang baisa digunakan
selama ini, melainkan juga evaluasi alternative yang dinamakan dengan asesmen
portofolio (autentik) maupun asesmen kinerja (performance).
Dari uraian di atas, maka penulis menyusun makalah yang berjudul
Asesmen Alternative dan Asesmen Kinerja yang nantinya diharapkan dapat
menambah pengetahuan kita mengenai asesmen alternative dan kinerja beserta
prosedur penerapannya dengan baik.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah makalah


adalah sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan asesmen alternative dan asesmen kinerja?
2. Bagaimana cara mengembangkan indikator kinerja?
3. Bagaimana cara menyusun format penilaian kinerja?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penulisan makalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud asesmen alternative dan asesmen
kinerja
2. Untuk mengetahui cara mengembangkan indikator kinerja.
3. Untuk mengetahui cara menyusun format penilaian kinerja.
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan ini antara lain sebagai berikut :
1. Bagi mahasiswa, dapat menambah wawasan tentang asesmen alternative
dan asesmen kinerja, memberikan pengetahuan yang berkaitan dengan
deskripsi asesmen, cara menyusun format penilaian kinerja, dan juga cara
mengembangkan indicator kineja, dan menyusun format penilaian kinerja
2. Bagi pendidik, dapat menambah pengetahuannya manfaat dari asesmen
alternativ dan asesmen kinerja
3. Bagi masyarakat, dapat menambah wawasan tentang asesmen alternative
dan asesmen kinerja

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Asesmen Alternative dan Asesmen Kinerja
Asesmen merupakan proses mendokumentasi, melalui proses pengukuran,
pengetahuan, keterampilan, sikap, dan keyakinan peserta didik. Dapat dinyatakan

pula bahwa asesmen merupakan sistematik untuk memperoleh informasi tentang


apa yang diketahui, dilakukan, dan dikerjakan oleh peserta didik. Berikut
disajikan beberapa pengertian asesmen yang disampaikan oleh pakar asesmen
pembelajaran:
a. Khan, Hardas, dan Ma (2005) menyatakan bahwa asesmen merupakan
proses

mendokumentasikan

pengetahuan,

keterampilan,

sikap,

dan

keyakinan.
b. NAEYC (1990) menyatakan bahwa asesmen merupakan proses pengamatan,
pencatatan dan selanjutnya pendokumentasian pekerjaan yang dikerjakan
peserta didik dan cara-cara peserta didik mengerjakannya, untuk dijadikan
sebagai dasar dari berbagai pembuatan keputusan pendidikan yang
mempengaruhi anak.
c. Dodge dan Bickart (1994) menyatakan bahwa asesmen merupakan proses
memperoleh informasi tentang anak untuk membuat keputusan tentang
pendidikannya.
d. Hills (1992) menyatakan bahwa asesmen terdiri atas tahap pengumpulan
data tentang perkembangan dan belajar peserta didik, menentukan
kebermaknaan tujuan program, memadukan informasi kedalam perencanaan
program, dan mengkomunikasikan temuan kepada orang tua dan pihakpihak yang berkepentingan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa assessmen merupakan istilah
yang tepat untuk penilaian proses belajar siswa. Namun meskipun proses belajar
siswa merupakan hal penting yang dinilai dalam assesmen, faktor hasil belajar
juga tetap tidak dikesampingkan.

Asesmen Altenative
Asesmen yang diterapkan di sekolah umumnya menggunakan test formal.
Implementasi ujian seperti ini banyak menimbulkan pertanyaan karena tidak
mampu memberikan indikator terhadap apa yang telah dipelajari oleh peserta
didik, dan seringkali peserta didik membuat terkaan atas butir soal pilihan ganda,
sehingga peserta didik tidak belajar berpartisipasi di dunia nyata. Pendekatan
alternatif untuk menilai peserta didik dewasa ini lebih banyak melibatkan peserta

didik di dalam proses evaluasi yang dipandang mampu meningkatkan minat dan
motivasi belajar.
Test standar umumnya digunakan untuk memungkinkan sekolah untuk
membuat standar yang jelas dan konsisten terhadap peserta didik. Test tersebut
akhir-akhir ini digunakan untuk berbagai tujuan di luar evaluasi kelas. Test
tersebut digunakan untuk menempatkan peserta didik di kelas tertentu,
membimbing peserta didik untuk membuat keputusan mengenai berbagai mata
pelajaran, dan untuk akuntabilitas terhadap keefektivan penyelenggaraan
pendidikan di sekolah berdasarkan kinerja peserta didik.
Apabila tuntutan hasil test peserta didik harus tinggi, pendidik cenderung
mengajarkan materi pembelajaran yang akan diujikan untuk memperbaiki kinerja
peserta didik. Apabila suatu ujian dimaksudkan untuk menilai ketramplan yang
diiinginkan dan untuk menggambarkan penguasaan materi pembelajaran, hal ini
bukan menjadi masalah. Namun demikian, test standar umumnya menggunakan
bentuk pertanyaan yang menggunakan jawaban pendek atau pilihan ganda karena
memberikan peluang pengolahan hasil evaluasi lebih efisien. Teknik evaluasi
seperti ini biasanya mengukur ketrampilan kognitif tingkat rendah, sementara itu
peserta didik perlu menggunakan ketrampilan yang lebih kompleks ketika mereka
berada di luar kelas.
Untuk mendorong peserta didik menggunakan keterampilan kognitif tingkat
tinggi dan mengevaluasi peserta didik secara lebih komprehensif, ada beberapa
assesmen alternatif yang dapat digunakan. Umumnya assesmen alternatif itu
menggunakan teknik evaluasi non standar untuk menilai proses berpikir
kompleks. Asesmen alternatif tersebut meliputi asesmen berbasis kinerja dan
asesmen acuan patokan.
Asesmen berbasis kinerja ( performance based assesment) merupakan bentuk
ujian dimana peserta didik menjawab suatu pertanyaan atau membuat produk atau
mendemonsrasikan ketrampilan atau menampilkan kemampuan atau pengetahuan.
Dapat juga dinyatakan bahwa assesmen berbasis kinerja merupakan assesmen
yang mengaharuskan peserta didik membuat respon terhadap suatu persoalan.
Penerapan asesman berbasis kinerja ini mempersyaratkan peserta didik secara
aktif menyelesaikan tugas-tugas kompleks dengan menggunakan pengetahuan dan
ketrampilan tingkat tinggi yang telah dimiliki dalam memecahkan masalah yang
bersifat realistik atau autentik. Beberapa jenis assesmen kinerja itu adalah tugas-

tugas membuat proyek individual atau kelompok, contoh tulisan atau karangan,
memecahkan masalah terbuka, wawancara atau presentasi lisan, eksperimen
ilmiah, simulasi komputer, pertanyaan yang membutuhkan kontruksi jawaban, dan
portofolio . asesmen kinerja ini umumnya mendekati kehidupan nyata, dimana
peserta didik harus mengerjakan tugas dalam batas waktu tertentu.
Asesmen Kinerja
Asesmen autentik merupakan jenis asesmen kinerja. Nama autentik itu
diperoleh dari fokus teknik evaluasi yang digunakan untuk mengukur tugas-tugas
kompleks, relevan, dan di dalam duna nyata. Asesmen autentik dapat berbentuk
karya ilmiah dan memperbaiki karya tulis ilmiah, memberikan analisis tentang
peristiwa-peristiwa secara tertulis atau lisan, berkolaborasi dengan orang lain
dalam melaksanakan perdebatan dan melaksanakan penelitian. Tugas-tugas
tersebut mempersyaratkan peserta didik mensintesis pengetahuan dan membuat
jawaban dengan benar. Validitas asesmen autentik didasarkan pada relevansi
materi yang tersaji di dalam kurikulum dengan keterterapannya di dalam dunia
nyata. Asesmen autentik itu dapat memperoleh reliabilitas tinggi apabila
menggunakan kriteria evaluasi yang telah ditentukan sebelumnya.
Asesmen kinerja memiliki kemampuan untuk mengetahui minat peserta didik,
memperbaiki prestasi belajar peserta didik, meningkatkan standar akademik, dan
meningkatkan pengembangan kurikulum yang lebih terpadu. Untuk melaksanakan
asesmen kinerja itu, berikut tahap-tahap yang harus dilalui.
a.

Identifikasi hasil pembelajaran. Hasil pembelajaran itu diperoleh dari


tujuan pembelajaran. Pertanyaannya adalah apakah yang ingin diketahui
oleh peserta didik dan apa yang dapat mereka kerjakan? Misalnya, dalam
pelajaran IPS, pendidik menghendaki agar peserta didik memahami dan
menerapkan prinsip-prinsip demokratis, seperti perlindungan hak-hak

sipil.
b. Kembangkan tugas-tugas yang dapat dilakukan oleh peserta didik dalam
mempelajari tujuan pembelajaran. Setelah mengidentifikasi hasil belajar,
pertanyaaan berikutnya adalah apakah yang akan dilakukan oleh peserta
didik dalam mempelajari tujuan pembelajaran. Dalam hal ini peserta
didik belajar dan mendemonstrasikan tujuan pembelajaran dengan

berbagai cara, misalnya, dengan cara membaca, berbicara, berdiskusi,


bermain peran, menulis, pembuatan keputusan, atau pemecahan masalah.
c. Identifikasi hasil belajar tambahan yang didukung oleh tugas. Tugas
yang kompleks adalah lebih dari sekedar mendemonstrasikan dan
menerapkan pengetahuan, misalnya hak-hak sipil sebagai suatu prinsipprinsip demokratis. Tugas seperti ini mempersyaratkan beberapa tugas,
termasuk di dalamnya ketrampilan dasar seperti membaca, memperoleh
informasi, menulis, dan ketrampilan berpikir kritis, mengevaluasi data
dan menarik kesimpulan. Karena tugas kinerja itu bersifat autentik, maka
tugas itu lebih banyak mendukung belajar dan lebih dari satu tujuan
belajar.
d. Rumusan kriteria dan tingkat kinerja untuk mengevaluasi kinerja peserta
didik. Dalam tahap ini, pertanyannya adalah bagaimana pendidik
mengetahui kualitas kegiatan peserta didik? Salah satu cara untuk
mengakses kinerja peserta didik adalah mengembangkan krteria yang
dapat digunakan untuk menilai dan mendeskrepsikan tingkat kinerja.
2.2 Mengembangkan indikator kinerja
Indikator keberhasilan pembelajaran melekat kepada sejauh mana tujuan
pembelajaran telah tercapai. Tujuan umum setiap mata pelajaran telah tercantum
di dalam Standar Isi. Tujuan umum tersebut selanjutnya dijabarkan Hukum
Ekonomi Pencemaran Lingkungan Komunikasi SDM lebih rinci dalam tujuan
pembelajaran, yaitu dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk setiap
atau beberapa pertemuan. Dalam prakteknya oleh guru tujuan pembelajaran
dirumuskan berdasarkan SK, KD, dan Indikator yang telah ditentukan. Rumusan
tujuan tersebut biasanya lebih rinci dari KD dan Indikator, dan pada saat-saat
tertentu rumusan indikator sama dengan tujuan pembelajaran, karena indikator
sudah sangat rinci sehingga tidak dapat dijabarkan lagi.
Identifikasi

keberhasilan

pembelajaran

dari

aspek

siswa,

desain

pembelajaran dan pelaksanaannya. Setiap hasil pembelajaran memiliki suatu


indikator. Indikator-indikator tersebut menjawab pertanyaan, bagaimana kita dapat
mengetahui bahwa siswa sudah dapat mencapai hasil pembelajarannya. Guru akan
menggunakan indikator sebagai dasar penilaian bagi siswa. Indikator menjelaskan

gagasan kunci tentang kinerja siswa yang dapat ditunjukan melalui tulisan,
presentasi dan kinerja dalam tes atau tugas yang dihasilkan siswa.
Sebuah indikator dapat dijaring dengan beberapa soal/tugas, selain itu,
sebuah

tugas

dapat

dirancang

untuk

menjaring

informasi

tentang

ketercapaian beberapa indikator. Kriteria ideal untuk masing-masing indikator


minimal 75%. Namun satuan pendidikan dapat menetapkan kriteria atau tingkat
pencapaian indikator, apakah 50 %, 60% atau 70%. Penetapan itu disesuaikan
dengan kondisi sekolah, seperti kemampuan peserta didik dan guru serta
ketersediaan prasarana dan sarana. Bagi peserta didik yang belum berhasil
mencapai kriteria tersebut dapat diberi kesempatan untuk mengikuti kegiatan
remedial yang berupa tatap muka dengan guru atau diberi kesempatan untuk
belajar sendiri, kemudian dilakukan evaluasi dengan cara: menjawab pertanyaan
sesuai dengan topiknya, membuat rangkuman pelajaran, atau mengerjakan tugas
mengumpulkan data.
Sebagai sistem, desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem
pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk
meningkatkan mutu belajar. Sebagai proses, desain pembelajaran merupakan
pengembangan sistematis tentang spesifikasi pembelajaran dengan menggunakan
teori belajar dan pembelajaran untuk menjamin mutu pembelajaran. Desain
pembelajaran merupakan proses keseluruhan tentang kebutuhan dan tujuan belajar
serta sistem penyampaiannya, termasuk pengembangan bahan dan kegiatan
pembelajaran, penilaian bahan, serta pelaksanaan pembelajarannya.
Rencana
menggambarkan

Pelaksanaan
prosedur

Pembelajaran
dan

(RPP)

pengorganisasian

adalah

rencana

pembelajaran

yang
untuk

mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan telah
dijabarkan dalam silabus. Lingkup RPP paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi
dasar yang terdiri atas 1 (satu) atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali
pertemuan atau lebih. Untuk menghasilkan tamatan yang mempunyai kemampuan
utuh seperti diharapkan pada kurikulum berbasis kompetensi, peserta didik
diharapkan menguasai kompetensi yang ditetapkan. Berkaiatan dengan hal
tersebut, diperlukan pengembangan pembelajaran/pelatihan kompetensi secara
sistematis dan terpadu, agar peserta didik dapat menguasai setiap kompetensi

secara tuntas. Caroll (1963) berpendapat pembelajaran seorang peserta didik


adalah fungsi perbandingan waktu yang sebenarnya digunakan untuk belajar
dengan waktu sebenarnya yang diperlukan untuk mempelajari sesuatu tema
pembelajaran. Ia menyatakan bahwa kesuksesan pembelajaran tuntas tergantung
kepada kriteria tertentu inidividu peserta didik dan pengajaran guru. Kriteria itu
mencakup ketekunan, waktu untuk belajar, kadar pembelajaran, mutu kegiatan
pembelajaran, dan kemampuan memahami petunjuk kegiatan.
Penjelasan hal itu adalah sebagai berikut. Pertama ketekunan. Ketekunan
adalah waktu dan kemauan yang sanggup disediakan oleh seseorang peserta didik
untuk belajar. Jadi peserta didik perlu mempunyai ketekunan dan ketabahan untuk
menguasai sesuatu yang dipelajari walaupun mereka perlu mengambil waktu yang
lama.
Kedua, waktu untuk belajar. Peserta didik memerlukan waktu yang cukup
untuk menguasai sesuatu yang dipelajari. Setiap peserta didik mempunyai tahapan
kemahiran dan usaha yang berbeda.
Ketiga, kadar pembelajaran. Kadar pembelajaran berbeda untuk setiap
peserta didik yang berlainan dan juga bergantung kepada sikap, mutu
penyampaian guru dan usahanya memahami sesuatu pelajaran.
Keempat, mutu kegiatan pembelajaran. Penyampaian guru yang menarik
sangat perlu untuk memudahkan peserta didik menguasai suatu mata pelajaran.
penyampaian pembelajaran akan bermakna bila penjelasan dan penyampaian
pembelajaran memungkinkan peserta didik untuk menguasai suatu mata pelajaran
secara optimal. Pengajaran dan pembelajaran yang bermutu akan memungkinkan
peserta didik untuk menguasai suatu tema pembelajaran dalam waktu yang
singkat.
Kelima, kemampuan peserta didik memahami petunjuk guru. Kemampuan
peserta didik memahami suatu mata pelajaran yang dipelajari tergantung kepada
cara guru menyampaikannya. Penjelasan guru yang jelas dan bahan pembelajaran
yang sesuai serta pengetahuan yang dimiliki peserta didik dapat lebih
meningkatkan pemahaman peserta didik. Dengan pendekatan belajar tuntas
diharapkan peserta didik dapat menguasai kompetensi-kompetensi secara utuh,
sesuai dengan kecepatan belajarnya. Kebanyakan masalah pembelajaran timbul

karena tidak adanya tindakan yang diambil untuk mengatasi kelemahan peserta
didik dari awal. Oleh karena itu, pembelajaran yang dirancang oleh tutor
sebaiknya mempunyai mekanisme untuk membetulkan kelemahan yang ada,
sehingga peserta didik dapat menguasai pembelajaran dengan baik.
2.3 Menyusun format penilaian kinerja
Dalam melaksanakan suatu penilaian kinerja, maka dibutuhan suatu
lembar penilaian yang mana di dalamnya memuat aspek-aspek yang harus
dipenuhi dan juga skor dalam mencapai suatu tujuan pembelajarannya. Format
penilaian yang dipakai sesuai dengan macam penilaian atau asesmen yang
gunakan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang dipaparkan di atas, maka kesimpulan
dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Asesmen alternative adalah suatu penilaian terhadap siswa yang mana
menggunakan tes formal.
Asesmen kinerja adalah merupakan bentuk ujian dimana peserta didik
menjawab suatu pertanyaan atau membuat produk atau mendemonsrasikan
ketrampilan atau menampilkan kemampuan atau pengetahuan.
2. Cara mengembangkan indikator adalah harus melihat dan sesuai dengan
Standart Kompetensi dan kompetensi dasar.

3. Cara menyusun format penilaian kerja adalah memuat aspek-aspek yang


harus

dipenuhi

dan

juga

skor

dalam

mencapai

suatu

tujuan

pembelajarannya.
3.2 Saran
1. Sebaiknya dalam pemberian jangka waktu pengumpulan tugas lebih lama.
2. Sebaiknya dalam menyusun makalah lebih diperbanyak kajian literatur yang
digunakan, agar isi makalah lebih lengkap.

DARTAR RUJUKAN
Caroll, J.B. 1963. A Model of Schooling Learning. Teachers College Record
Darkuni, M. Noviar. 2012. Pengetahuan Dasar Kegiatan Mengajar. Universitas
Negeri Malang
Karnai. 2003. Bagaimana Menyusun Kriteria dan Indikator Keberhasilan
Pendidikan dan Pembelajaran, (online) ubhara.blogspot.com, diakses
pada 15 Januari 2015