Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Masalah kematian dan kesakitan ibu di Indonesia masih merupakan masalah besar. Angka
kematian ibu (AKI) bukan saja merupakan indikator tingkat kesehatan wanita, tetapi juga
menggambarkan tingkat akses, integritas, dan efektivitas sektor kesehatan. Oleh karena itu, AKI
juga sering dipergunakan sebagai indikator tingkat kesejahteraan dari suatu negara. Selain angka
kematian ibu (AKI) terdapat indikator lain yang digunakan dalam menilai status kesehatan
masyarakat suatu bangsa, yakni angka kematian bayi (AKB)1,2,3.
Definisi kematian ibu berdasarkan International Statistical Classification of Disease,
Injuries, and Causes of Death, Edition X (ICD-X), adalah kematian seorang perempuan yang
terjadi selama kehamilan sampai 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tanpa memperhatikan
lama dan tempat terjadinya kehamilan, yang disebabkan oleh atau dipicu oleh kehamilannya atau
penanganan kehamilannya, tetapi bukan karena kecelakaan/ruda paksa. Sedangkan AKB adalah
banyaknya kematian bayi sebelum dilahirkan atau dikeluarkannya hasil konsepsi secara lengkap
dari ibunya, berapapun usia kehamilannya.
Saat ini Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih
tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Menurut data Survei Demografi Kesehatan
Indonesia (SKDI) 2007, AKI masih mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB masih
34 per 1.000 kelahiran hidup. Fakta tersebut masih jauh dari target sasaran Millenium
Developmental Goals (MDGs), yaitu 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB harus mencapai
23 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2015
Dalam upaya penurunan AKI, sejak akhir tahun 1980-an telah dimulai program Safe
Motherhood Initiative. Kemudian secara konseptual pada akhir tahun 1990-an telah
diperkenalkan lagi suatu program Making Pregnancy Safer (MPS) yang dicanangkan oleh
pemerintah pada tahun 2000. MPS ini terdiri dari tiga pesan kunci dan empat strategi yang
ditujukan dalam mempertajam strategi dan intervensi dalam mempercepat penurunan AKI1.
Tiga pesan kunci MPS adalah:
1. Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih.
2. Setiap komplikasi obstetri dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat.
1

3. Setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap upaya pencegahhan kehamilan
yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran.
Empat Strategi MPS adalah:
1. Peningkatan kualitas dan akses pelayanan kesehatan ibu dan bayi dan balita di tingkat
dasar dan rujukan.
2. Membangun kemitraan yang efektif
3. Mendorong pemberdayaan perempouan, keluarga, dan masyarakat.
4. Meningkatkan sistem surveilans, pembiayaan, monitoring, dan informasi KIA.
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan
untuk ibu selama masa kehamilannya, yang dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan
antenatal yang ditetapkan dalam standar pelayanan kebidanan (SPK). Pelayanan standar yang
dimaksud yakni minimal diberikan pelayanan antenatal sedikitnya empat kali selama kehamilan
yang terdiri dari pelayanan minimal sekali pada triwulan pertama, pelayanan minimal sekali pada
triwulan kedua dan pelayanan minimal dua kali pada triwulan ketiga, kemudian dilakukan
pemeriksaan yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik (umum dan kebidanan), pemeriksaan
laboratorium rutin dan khusus, serta intervensi umum dan khusus sesuai risiko yang ditemukan
dalam pemeriksaan. Selain itu juga melakukan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk
menilai apakah perkembangan kehamilan berlangsung normal, mengenal kehamilan risiko tinggi
seperti adanya anemia, kurang gizi, hipertensi dan infeksi, memberikan pelayanan imunisasi,
memberikan nasehat dan penyuluhan kesehatan, dan juga melakukan pencatatan data dalam
setiap kunjungan. Menurut WHO, Antenatal Care adalah suatu program yang terencana berupa
observasi, edukasi, dan penanganan medik pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses
kehamilan serta persalinan yang aman dan memuaskan.
Dalam penerapannya di puskesmas dikenal standar minimal 5T, yang meliputi timbang
berat badan dan ukur tinggi badan, pengukuran tekanan darah,tinggi fundus uteri, imunisasi
Tetanus Toksoid (TT) bila diperlukan, dan pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama
kehamilan. Menurut Depkes RI dalam Standar Pelayanan Minimal dikeluarkan pengertian
terbaru yaitu ditambah menjadi 7T yaitu ditambah dengan temu wicara (konseling) dan tes
laboratorium sederhana (Hb, Protein urin) dan atau berdasarkan indikasi (HbSAg, Sifilis, HIV,
Malaria, TBC). Namun dalam praktek, standar baku 5T masing tetap digunakan4.

1.2. Indikator keberhasilan program pelayanan antenatal di tingkat pusat :


1.2.1.

Indikator Dampak

1.2.1.1. Penurunan angka kematian ibu menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup.
1.2.1.2. Penurunan angka kematian neonatal menjadi 15 per 1.000 kelahiran hidup.
1.2.1.3. Eliminasi tetanus neonatorum sebesar < 1.
1.2.1.4. Jumlah ibu hamil dengan anemia menurun menjadi < 20%.
1.2.2.

Indikator Keluaran

1.2.2.1. Cakupan kunjungan ibu hamil K-1, termasuk cakupan Fe1 dan TT1 sebesar 95%.
1.2.2.2. Cakupan kunjungan ibu hamil K-4, termasuk cakupan Fe3 dan TT2 sebesar 90%.
1.2.2.3. Cakupan deteksi ibu hamil dengan risiko tinggi oleh masyarakat sebesar 5%.
1.2.2.4. Cakupan deteksi ibu hamil dengan risiko tinggi oleh tenaga kesehatan sebesar
10%.
1.2.2.5. Persentase Drop out rate TT1 - TT2 sebesar < 10%.
1.3. Tujuan
1.3.1.

Tujuan Umum

Untuk mendapatkan gambaran mengenai pelaksanaan dan pencapaian program ANC


(Antenatal Care) di Puskesmas Kelurahan Pademangan Barat 2.
1.3.2.

Tujuan Khusus

1.3.2.1. Mengetahui gambaran pelaksanaan dan pencapaian program pelayanan antenatal


1.3.2.2. Menilai masukan, proses, keluaran, dampak, umpan balik, dan lingkungan dari
program pelayanan antenatal.
1.3.2.3. Untuk mengetahui adanya kendala atau masalah dalam pelaksanaan program
ANC.
1.3.2.4. Memberi saran dan solusi yang mampu laksana untuk perbaikan pembuatan
perencanaan serta pelaksanaan kegiatan program ANC di masa mendatang sehingga
dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan ANC.

BAB II
KERANGKA EVALUASI
2.1 Kerangka Teori
Pendekatan yang digunakan dalam evaluasi kinerja Puskesmas digambarkan dalam skema
di bawah ini :
4) LINGKUNGAN

MASUKAN

2) PROSES

3) KELUARAN

6) DAMPAK

5) UMPAN BALIK

Keterangan :
1. Masukan

:Tenaga, dana, sarana (medis dan non medis), dan metode (medis dan non

medis).
2. Proses

:Perencanaan,

pengorganisasian,

pelaksanaan,

pencatatan

dan

pelaporan,serta pengawasan.
3. Keluaran

:Cakupan pelayanan dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan.

4. Lingkungan

:Lingkungan fisik dan non-fisik.

5. Umpan balik :Rapat meliputi pembahasan laporan dan kegiatan serta laporan dari
instansi lain ataupun masyarakat.
6. Dampak

:Penurunan angka kematian ibu akibat komplikasi selama kehamilan,

persalinan, dan masa nifas.


Langkah langkah dalam evaluasi program di wilayah Puskesmas adalah sebagai berikut:

1. Mencari data primer dan sekunder mengenai indikator kegiatan program ANC yang
ditemukan di Puskesmas, kemudian dibandingkan dengan standar target yang digunakan
untuk mendapatkan masalah.
2. Mencari data primer dan sekunder mengenai masukan, proses, umpan balik, dan
lingkungan yang dilaksanakan di Puskesmas Pademangan Barat 2 pada tanggal 24 Juli
2012 26 Juli 2012 kemudian dibandingkan dengan standar target yang digunakan untuk
mendapatkan penyebab masalah.
Data primer didapatkan melalui observasi dan wawancara dengan kepala Puskesmas
Puskesmas Kelurahan Pademangan II dr.Murniasi H, serta bidan yang bertugas di KIA,
yaitu Bidan Rusi. Selain itu juga didapatkan status pasien ANC periode April 2012 Juni
2012 (didapatkan data kunjungan ibu hamil K1, K4, jumlah ibu hamil yang mendapatkan
TT1 dan TT2, jumlah ibu hamil yang mendapatkan Fe1 dan Fe 3, serta jumlah ibu yang
diperiksakan darahnya, serta skrining terhadap kelompok risiko tinggi).
Lalu dilakukan pengecekan status Balai Pengobatan Umum periode April 2012 Juni
2012 terhadap pasien ibu hamil dengan usia kehamilan lebih atau sama dengan 9 bulan,
lalu dilakukan pengecekan silang terhadap status kehamilannya di bagian KIA.
3. Menyimpulkan penyebab masalah utama yang mengakibatkan tidak terpenuhinya target
keluaran/dampak dari segi kinerja puskesmas.
4. Memberikan saran yang mampu dilaksanakan.
2.2 Kerangka Konsep (terlampir)

BAB III
ANALISA SITUASI

3.1. Data Umum dan Data Khusus


3.1.1.

Data Umum

3.1.1.1. Data geografis.


Puskesmas kelurahan Pademangan Barat II terletak Jalan Waspada Raya Gang B2, RT
001/RW 015 Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Transportasi menuju puskesmas
cukup mudah didapatkan, hanya puskesmas terletak didalam gang, dan berjarak
kurang lebih 3 rumah dari pintu masuk gang ke Puskesmas. Akses transportasi untuk
mencapai gang Puskesmas dapat ditempuh dengan berjalan kaki, sepeda motor, bajaj,
becak, dan mobil (Namun tidak ada angkutan umum dalam bentuk mobil/bis yang
melewati). Akan tetapi, untuk masuk ke dalam gang hanya dapat diakses dengan
berjalan kaki atau sepeda motor. Jalan sudah diaspal. Puskesmas mudah ditemukan
karena adanya petunjuk jalan dijalan utama Budi Mulia.
3.1.1.2. Data kependudukan kelurahan Pademangan Barat II tahun 2011
3.1.1.2.1.

Jumlah penduduk (Berdasarkan data BPS) :

31.248 jiwa (35,95 %

terhadap jumlah penduduk kelurahan Pademangan Barat).


3.1.1.2.2.

Jumlah keluarga : 8320 keluarga (71% terhadap kelurahan Pademangan

Barat)
3.1.1.2.3.

Jumlah penduduk wanita : 15.549 jiwa (49,8 %)

3.1.1.2.4.

Jumlah penduduk wanita usia 15-49 tahun : 8431 jiwa (54,22 % dari

semua jumlah penduduk wanita)


3.1.1.2.5.

3.1.2.

Jumlah Posyandu dan kader aktif : 13 Pos dan 110 kader

Data khusus
3.1.2.1.

Fasilitas kesehatan
6

Tabel 1 Fasilitas Kesehatan di Kelurahan Pademangan Barat

Jenis Fasilitas Kesehatan


Rumah sakit umum
Puskesmas perawatan
Puskesmas non perawatan
Rumah bersalin
Dokter praktek
Klinik kesehatan
Bidan praktek
Dukun beranak
Posyandu
Kader aktif
3.1.2.2.

Jumlah
0
1
1
6
8
9
1
1
13

110 orang

Angka kematian ibu (tahun 2011) : 0 jiwa

3.2. Metode Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan pada periode bulan Maret 2012 hingga Agustus 2012 (6
bulan) di Puskesmas Kelurahan Pademangan Barat II. Metode pengumpulan data dapat
dilihat dibagian lampiran.
3.3. Penyajian Data
Tabel 2 Jumlah kunjungan ibu hamil (Bumil) dengan usia kehamilan 9 bulan dalam periode
Maret 2012-Agustus 2012 di Puskesmas Kelurahan Pademangan Barat II

No.
1
2
3
4
5
6

Bulan
Maret 2012
April 2012
Mei 2012
Juni 2012
Juli 2012
Agustus 2012
Total

Kunjungan bumil dengan usia kehamilan 9 bulan


4
6
8
4
7
9
38

Tabel 3 Data Bumil usia kehamilan kehamilan 9 bulan dalam periode Maret 2012-Agustus 2012
di Puskesmas Kelurahan Pademangan Barat II

Data Bumil usia kehamilan kehamilan 9 bulan dalam periode Maret 2012Agustus 2012 di Puskesmas Kelurahan Pademangan Barat II
Jumlah Bumil
Jumlah Bumil yang melakukan kunjungan pertama kali (K-1)
Jumlah Bumil yang melakukan K-4

Jumla
h
38
38
26
7

Pemberian tablet besi Fe-1


Pemberian tablet besi Fe-3
Pemberian imunisasi TT-1
Pemberian imunisasi TT-2
Jumlah Bumil dengan resiko tinggi yang dirujuk oleh masyarakat ke tenaga

38
30
36
34
0

kesehatan
Jumlah Bumil dengan resiko tinggi yang ditemukan oleh tenaga kesehatan

18

Data kematian ibu maternal tahun 2011 : nol


Data kematian bayi baru lahir tahun 2011 : nol
Data kejadian penyakit tetanus neonatorum : nol

BAB IV
PERUMUSAN MASALAH
Perumusan masalah berdasarkan indikator pemantauan program pelayanan antenatal.
INDIKATOR KELUARAN:
4.1. Cakupan kunjungan ibu hamil K-1
4.1.1. Definisi operasional:

Cakupan ibu hamil yang mendapat pelayanan antenatal sesuai standar yang pertama kali
pada masa kehamilan di Puskesmas Kelurahan Pademangan Barat II pada periode Maret
2012 - Agustus 2012.
4.1.2.Rumus:

Jumlah kunjungan bumil pertama kali


x 100
jumlah seluruhbumil usia kehamilan 9 bulandalam waktu 6 bulan

Keterangan : jumlah seluruh bumil usia kehamilan 9 bulan dalam waktu 6 bulan
selama periode Maret 2012 - Agustus 2012, data pendukung didapat dari hasil mengolah data
register harian bumil yang mendapat pelayanan antenatal dan kartu status ibu hamil, lahir dan
nifas (F-KIA-001)
4.1.3.Target

: 95%

4.1.4.Data

38
x 100 =100
38

4.2. Cakupan kunjungan ibu hamil K-4


4.2.1.

Definisi operasional :

Cakupan ibu hamil yang mendapat pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit
empat kali, dengan distribusi pemberian pelayanan minimal satu kali pada triwulan
pertama, satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur
kehamilan di Puskesmas Kelurahan Pademangan Barat II pada periode Maret 2012 Agustus 2012.
4.2.2.

Rumus:
Jumlah kunjungan bumil k 4
x 100
jumlah seluruhbumil usia kehamilan 9 bulandalam waktu 6 bulan

Data pendukung didapat dari hasil mengolah data register harian bumil yang mendapat
pelayanan antenatal dan kartu status ibu hamil, lahir dan nifas (F-KIA-001).

4.2.3.

Target : 90%

4.2.4.

Data

26
x 100 =77.7
38

4.3. Pemberian tablet besi Fe-1


4.3.1.

Definisi operasional :
9

Ibu hamil yang mendapatkan 30 tablet Fe (suplemen zat besi) selama periode
kehamilannya di Puskesmas Kelurahan Pademangan Barat II pada periode Maret 2012 Agustus 2012.
4.3.2.

Rumus:
Jumlah bumil yang mendapatkan Fe1
x 100
jumlah seluruhbumil usia kehamilan 9 bulandalam waktu 6 bulan

Data pendukung didapat dari hasil mengolah data register harian bumil yang mendapat
pelayanan antenatal dan kartu status ibu hamil, lahir dan nifas (F-KIA-001)
4.3.3.

Target : 95%

4.3.4.

Data

38
x 100 =100
38

4.4. Pemberian tablet besi Fe3


4.4.1.

Definisi operasional :

Ibu hamil yang mendapatkan 90 tablet Fe (suplemen zat besi) selama periode
kehamilannya di Puskesmas Kelurahan Pademangan Barat II pada periode Maret 2012 Agustus 2012.
4.4.2.

Rumus:
Jumlah bumil yang mendapatkan Fe3
x 100
jumlah seluruhbumil usia kehamilan 9 bulandalam waktu 6 bulan

Data pendukung didapat dari hasil mengolah data register harian bumil yang mendapat
pelayanan antenatal dan kartu status ibu hamil, lahir dan nifas (F-KIA-001)
4.4.3.

Target : 90%

4.4.4.

Data

30
x 100 =78.9
38

4.5. Pemberian imunisasi TT1


4.5.1.

Definisi operasional :

Pemberian imunisasi TT pertama kali pada ibu hamil saat kunjungan pelayanan
antenatal pertama atau sedini mungkin setelah ibu diketahui hamil.
10

4.5.2.

Rumus:
Jumlah bumil yang mendapatkan TT1
x 100
jumlah seluruhbumil usia kehamilan 9 bulandalam waktu 6 bulan

Data pendukung didapat dari hasil mengolah data register harian bumil yang mendapat
pelayanan antenatal dan kartu status ibu hamil, lahir dan nifas (F-KIA-001).
4.5.3.

Target : 95%

4.5.4.

Data

36
x 100 =94.7
38

4.6. Pemberian imunisasi TT2


4.6.1.

Definisi operasional :

Pemberian imunisasi TT dengan selang waktu pemberian minimal 4 minggu setelah


TT1.
4.6.2.

Rumus:
Jumlah bumil yang mendapatkanTT 2
x 100
jumlah seluruhbumil usia kehamilan 9 bulandalam waktu 6 bulan

Data pendukung didapat dari hasil mengolah data register harian bumil yang mendapat
pelayanan antenatal dan kartu status ibu hamil, lahir dan nifas (F-KIA-001)
4.6.3.
4.6.4.

Target : 90%
Data

34
x 100 =89.4
38

4.7. Cakupan deteksi ibu hamil risiko tinggi oleh masyarakat


4.7.1.

Definisi operasional :

Cakupan ibu hamil dengan faktor risiko atau komplikasi yang ditemukan oleh
masyarakat atau kader atau dukun bayi serta dirujuk ke tenaga kesehatan di Puskesmas
Kelurahan Pademangan Barat II pada periode Maret 2012 - Agustus 2012.

11

4.7.2.

Rumus:
Jumlah bumil risti yang dirujuk oleh masayarakat , kadet , dukun bayike tenagakesehatan
x 100
jumlah seluruh bumil usia kehamilan 9 bulandalam waktu 6 bulan

Keterangan : masyarakat dapat berupa keluarga ataupun ibu hamil, bersalin dan nifas itu
sendiri. Data pendukung didapat dari hasil mengolah data register harian bumil yang
mendapat pelayanan antenatal dan kartu status ibu hamil, lahir dan nifas (F-KIA-001)
4.7.3.
4.7.4.

Target : 5%
Data

0
x 100 =0
38

4.8. Cakupan deteksi ibu hamil risiko tinggi oleh tenaga kesehatan
4.8.1.

Definisi operasional :

Cakupan ibu hamil dengan faktor risiko atau komplikasi yang ditemukan oleh tenaga
kesehatan di Puskesmas Kelurahan Pademangan Barat II pada periode Maret 2012 Agustus 2012.
4.8.2.

Rumus:
Jumlah bumil risti yang ditemukan tenaga kesehatan
x 100
jumlah seluruhbumil usia kehamilan 9 bulandalam waktu 6 bulan

Data pendukung didapat dari hasil mengolah data register harian bumil yang mendapat
pelayanan antenatal dan kartu status ibu hamil, lahir dan nifas (F-KIA-001).
4.8.3.

Target : 10%

4.8.4.

Data

18
x 100 =47.3
38

4.9. Drop out rate TT1-TT2


4.9.1.

Definisi operasional :

Ibu hamil yang tidak mendapat total jumlah dua kali imunisasi TT selama periode
kehamilannya dengan mendeteksi ibu hamil yang mendapat imunisasi TT1 tetapi tidak
mendapat imunisasi TT2 di Puskesmas Kelurahan Pademangan Barat II pada periode
Maret 2012 - Agustus 2012.
12

(TT 1TT 2)
x 100
Rumus:
TT 1

4.9.2.

Data pendukung didapat dari hasil mengolah data register harian bumil yang mendapat
pelayanan antenatal dan kartu status ibu hamil, lahir dan nifas (F-KIA-001).
4.9.3.

Target : <10%

4.9.4.

Data

(3634)
x 100 =5.56
36

INDIKATOR DAMPAK
4.10. Penurunan angka kematian ibu
4.10.1.

Definisi operasional

Jumlah kematian ibu dalam periode satu tahun per 100.000 kelahiran hidup.
4.10.2.

Target : 102 per 100.000 kelahiran hidup.

4.10.3.

Data

: 0 (nol)

4.11. Penurunan angka kematian neonatal


4.11.1.

Definisi operasional

Jumlah kematian neonatal per 1.000 kelahiran hidup


4.11.2.

Target : 15 per 1.000 kelahiran hidup

4.11.3.

Data

:0

4.12. Eliminasi tetanus neonatroum


4.12.1.

Definisi operasional

Menurunnya angka kesakitan dan kematian pada bayi akibat penyakit tetanus
neonatorum sampai pada batas tertentu, sehingga penyakit tersebut tidak merupakan
masalah kesehatan lagi
4.12.2.

Target : < 1

4.12.3.

Data

:0

4.13. Jumlah ibu hamil dengan anemia


4.13.1.

Definisi operasional
13

Jumlah ibu hamil dengan kadar hemoglobin dalam sel-sel darah merah yang rendah,
yaitu kurang dari 11 g %
4.13.2.

Target : < 20%

4.13.3.

Data

5
x 100 =13.2
38

Tabel 4 Rekap indikator pelayanan antenatal di Puskesmas Kelurahan Pademangan Barat II pada
periode Maret 2012 Agustus 2012

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Kriteria
Kunjungan K-1
Kunjungan K-4
Fe-1
Fe-3
Imunisasi TT1
Imunisasi TT2
Deteksi bumil resti oleh masyarakat
Deteksi bumil resti oleh nakes
Drop out rate TT
Angka Kematian Ibu
Angka Kematian Neonatal
Tetanus Neonatorum
Bumil dengan anemia

Target
95 %
90 %
95 %
90 %
95 %
90 %
5%
10 %
< 10 %
102/100.000 lahir hidup
15/1,000 lahir hidup
<1
< 20%

Hasil
100 %
77.7%
100%
78.9 %
94.7%
89.4%
0%
47.3%
5.56%
0
0
0
13.2 %

Masalah
+
+
+
+
+
-

BAB V
PEMBAHASAN
5.1. Perumusan Masalah
Beberapa masalah yang dapat dirumuskan berdasarkan pengumpulan data dan perhitungan
indikator di atas sebagai berikut:
1. Cakupan kunjungan ibu hamil K-4 masih masih belum mencapai target.
2. Cakupan ibu hamil yang mendapatkan tablet besi Fe3 masih belum mencapai target.
14

3. Target cakupan ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT1 masih belum mencapai
target.
4. Target cakupan ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT2 masih belum mencapai
target.
5. Cakupan deteksi ibu hamil risiko tinggi oleh masyarakat masih rendah dan belum
mencapai target.
5.2. Penjelasan Skoring Masalah
Prioritas masalah ditetapkan dengan sistem skoring atau pembobotan. Dalam sistem ini
masalah dianalisa dan diberi skor atau bobot. Masalah yang diprioritaskan ialah masalah
dengan skor yang berjumlah lebih tinggi.
Dalam menentukan prioritas masalah, dapat digunakan parameter sebagai berikut:
5.2.1.

Besarnya masalah dihitung dari kesenjangan antara pencapaian dan target

Perhitungan dengan rumus


Dimana :

G=

EO
x 100
E

G = Gap / Kesenjangan
E = Expected / Target yang ingin dicapai
O = Output / Hasil yang terjadi di lapangan

Skor

5 = 80 100 %
4 = 60 79.9 %
3 = 40 59.9 %
2 = 20 39.9 %
1 = 0 19.9 %

5.2.2.
Skor

Berat ringannya masalah terkait dengan akibat yang ditimbulkan


5 = Berat sekali

4 = Ragu-ragu antara 3-5


3 = Sedang
2 = Ragu-ragu antara 1-2
1 = Ringan

15

5.2.3.

Apakah dapat ditanggulangi dengan sumber daya yang ada ?

Skor

5 = Dapat ditanggulangi

4 = Ragu-ragu antara 3-5


3 = Kurang dapat ditanggulangi
2 = Ragu-ragu antara 1-2
1 = Tidak dapat ditanggulangi

5.2.4.

Keuntungan sosial dapat diperoleh, apakah menarik masyarakat ?

Skor :

5 = Keuntungan sosial tinggi

4 = Ragu-ragu antara 3-5


3 = Keuntungan sosial sedang
2 = Ragu-ragu antara 1-2
1= Keuntungan sosial rendah

5.3. Skoring Masalah


5.3.1.

Besarnya masalah dihitung dari kesenjangan antara pencapaian dan target

Tabel 5 Skoring masalah berdasarkan kesenjangan


No

Masalah

Skor

Cakupan K-4

90 %

77.7 %

13.7 %

Cakupan Fe-3

90 %

78.9 %

12.3 %

Cakupan TT-1

95 %

94.7 %

0.3%

Cakupan TT-2

90 %

89.4 %

0.7 %

16

Cakupan deteksi bumil resti oleh masyarakat

5%

0%

100 %

5.3.2. Berat ringannya masalah terkait dengan akibat yang ditimbulkan

5.3.2.1. Cakupan kunjungan ibu hamil K-4 rendah


K-4 dapat menilai cakupan pelayanan antenatal secara lengkap (memenuhi standar
pelayanan dan menepati waktu yang ditetapkan), yang menggambarkan tingkat
perlindungan ibu hamil. Upaya cakupan K-4 berkaitan erat dengan upaya
penurunan AKI karena pelayanan antenatal yang mencapai K-4 dapat memantau
kondisi kesehatan ibu semasa kehamilan, mengenali faktor resiko atau tanda bahaya
kehamilan dan perencanaan persalinan agar ditolong oleh tenaga kesehatan ahli.
Sehingga komplikasi dan kematian maternal dapat dicegah sedini mungkin. Maka
kunjungan K-4 ini diberi skor 5.
5.3.2.2. Cakupan ibu hamil yang mendapat tablet besi Fe-3 masih rendah
Pemberian tablet Fe berkaitan dengan mengurangi kejadian anemia pada
kehamilan. Anemia pada kehamilan, terutama anemia berat (Hb < 8 gr/dL) dapat
menimbulkan komplikasi semasa kehamilan, persalinan maupun berdampak pada
kesehatan bayi dalam kandungan. Anemia dapat mengakibatkan badan terasa
lemah, lesu hingga payah jantung, keguguran, kelahiran prematur, perdarahan saat
persalinan dan berat badan lahir rendah serta pertumbuhan janin terganggu. Namun
zat besi tidak mutlak diperoleh dari tablet Fe saja, namun dapat melalui makanan.
Maka cakupan Fe3 diberi skor 3
5.3.2.3. Cakupan ibu hamil yang mendapat imunisasi TT-1 dan TT-2 masih rendah
Pemberian imunisasi TT ditujukan sebagai upaya untuk mengeliminasi tetanus
neonatal dan maternal dimana insiden/angka kejadian tetanus pada masyarakat
kurang dari 1 tetanus neonatorum (TN) dalam 1.000 kelahiran hidup. Risiko tetanus
neonatal dan maternal selalu ada sehingga spora tetanus tidak dapat dilenyapkan
dari lingkungan. Oleh karena itu, untuk menjaga status eliminasi harus terus
dilakukan upaya pencegahan salah satunya melalui imunisasi TT ini. Dengan
pemberian imunisasi TT sebanyak tiga dosis kepada semua WUS (wanita usia
17

subur) termasuk wanita hamil akan diperoleh kekebalan terhadap tetanus kurang
lebih selama 10 tahun. Namun jika ibu tidak mendapatkan imunisasi TT2 sewaktu
hamil tetapi mendapatkan imunisasi TT1 dan TT calon pengantin sebelum menikah
di KUA, sebenarnya telah terbentuk kekebalan terhadap tetanus ini hanya saja
masih kurang optimal. Selain dengan imunisasi ada juga beberapa cara untuk
mencegah terjadinya tetanus neonatorum yakni mendapatkan persalinan yang
bersih dan aman dibantu oleh tenaga kesehatan yang terampil. Setelah dilihat dari
beratnya masalah yang dikaitkan dengan akibat yang ditimbulkan maka pemberian
imunisasi TT1 diberi skor 3 dan TT2 diberi skor 2.
5.3.2.4. Cakupan deteksi ibu hamil risiko tinggi oleh masyarakat masih sangat rendah
Angka kematian ibu dan bayi di Indonesia masih tinggi. Oleh sebab itu diperlukan
deteksi dini ibu hamil yang memiliki risiko tinggi baik baik oleh tenaga kesehatan
maupun masyarakat. Dengan ikut berpartisipasinya masyarakat dalam deteksi dini
ibu hamil yang memiliki risiko tinggi diharapkan komplikasi pada ibu hamil yang
mungkin terjadi dan mengancam jiwa dapat dicegah sehingga angka kesakitan dan
kematian ibu sebagai dampak utama akibat proses reproduksi yakni hamil, bersalin
dan nifas dapat ditekan. Semakin cepat ibu hamil yang berisiko tinggi ditemukan
maka tindakan penanganan selanjutnya seperti rujukan ke fasilitas kesehatan dapat
segera mungkin dilakukan. Tetapi dalam deteksi dini oleh masyarakat ini
diperlukan pengetahuan masyarakat mengenai apa saja yang termasuk dalam faktor
risiko tinggi dan bagaimana cara mengenalinya. Jika masyarakat kurang
mengetahui dan mengerti cara mendeteksi dini ibu hamil dengan risiko tinggi maka
hal yang terjadi adalah hal sebaliknya, yaitu ditemukan berbagai komplikasi yang
mengancam jiwa yang berdampak pada kematian ibu. Dari beratnya masalah yang
dikaitkan dengan akibat yang ditimbulkan maka deteksi ibu hamil risiko tinggi oleh
masyarakat diberi skor 2

5.3.3.Apakah dapat ditanggulangi dengan sumber daya yang ada ?


5.3.3.1. Cakupan kunjungan ibu hamil K-4 rendah

18

Masalah ini dapat ditanggulangi dengan pemanfaatan tenaga kesehatan yang ada di
Puskesmas (bidan, perawat, dokter yang bertugas) dan dapat dibantu oleh tenaga
non-kesehatan setempat (kader) yang dapat melakukan penyuluhan mengenai
pentingnya kunjungan minimal 4 kali selama kehamilan, keuntungan yang
diperoleh melalui kunjungan rutin tersebut, bahaya yang dapat timbul, dan
peningkatan risiko kematian bila tidak melakukan kunjungan. Dikatakan bahwa
faktor yang berperan besar dalam meningkatkan cakupan kunjungan antenatal
adalah dengan meningkatkan pengetahuan ibu5. Dengan demikian masalah ini
diberi skor 5.
5.3.3.2. Cakupan ibu hamil yang mendapat tablet besi Fe-3 masih rendah

Cakupan yang rendah dalam pemberian tablet Fe3 berhubungan dengan kunjungan
ibu hamil yang tidak berkesinambungan sehingga total tablet Fe yang diterima
bumil tidak sesuai yang ditargetkan. Hal ini dapat ditanggulangi dengan
memberikan pengertian melalui penyuluhan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan
dan dapat dibantu oleh tenaga non-kesehatan mengenai pentingnya kunjungan
pemeriksaan kehamilan yang teratur dan hal-hal bermanfaat apa saja yang
didapatkan dalam kunjungan tersebut, termasuk tablet Fe, yang berfungsi mencegah
anemia. Berdasarkan wawancara dengan bidan yang bertugas di KIA, persediaan
tablet Fe selalu mencukupi dan tidak pernah kekurangan. Adanya penjelasan dari
petugas kesehatan di Puskesmas mengenai rasa dan efek samping yang dapat timbul
dari pemberian tablet ini dapat mengurangi rasa keengganan ibu untuk
mengkonsumsi tablet besi tersebut. Oleh karena masalah ini dapat ditanggulangi
dengan sumber daya yang ada maka diberi skor 5.
5.3.3.3. Cakupan ibu hamil yang mendapat imunisasi TT-1 dan TT-2 masih rendah

Cakupan bumil yang diimunisasi TT1 dan TT2 masih rendah disebabkan oleh
karena kurangnya kesadaran dan pengetahuan ibu hamil untuk melakukan
kunjungan antenatal rutin dan pentingnya mendapatkan imunisasi TT secara
lengkap. Kebanyakan ibu hamil masih belum mengetahui manfaat dan dampak
yang timbul bila tidak diimunisasi, sehingga motivasi ibu hamil untuk datang
memeriksakan diri dan mendapat imunisasi menjadi rendah. Masalah ini dapat
19

ditanggulangi dengan memberikan penyuluhan kepada ibu hamil oleh petugas


kesehatan ataupun kader aktif, yang dapat dilakukan secara perorangan atau
kelompok, sehingga diberi skor 4
5.3.3.4. Cakupan deteksi ibu hamil risiko tinggi oleh masyarakat masih sangat rendah

Cakupan deteksi ibu hamil dengan risiko tinggi oleh masyarakat masih rendah
disebabkan oleh karena kurangnya motivasi untuk berpartisipasi aktif serta
minimnya pengetahuan mengenai faktor risiko tinggi pada kehamilan dan cara
mengenalinya. Masalah ini dapat ditanggulangi dengan melakukan pelatihan bagi
masyarakat dan penyuluhan mengenai faktor risiko tinggi pada ibu hamil.
Deteksi risiko tinggi tidak dapat dilakukan oleh masyarakat sendiri karena masalah
keterampilan medis dan ketersediaan alat medis, misalnya hipertensi perlu dideteksi
menggunakan tensimeter dan diperlukan pula stetoskop, pemeriksaan gemeli,
sungsang, anemia, dan penyakit kronis lainnya seperti diabetes memerlukan
peranan tenaga medis terlatih. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan pelatihan
bagi para kader untuk dapat menggunakan alat tensimeter, serta pemeriksaan dasar
untuk deteksi risiko tinggi bagi ibu hamil.
Selain itu, melalui Posyandu dan beberapa kader yang aktif didalamnya, tentunya
penemuan ibu hamil dengan risiko tinggi dapat meningkat, apalagi dengan
menggiatkan program Gerakan Sayang Ibu. Dari beratnya masalah yang dikaitkan
dengan sumber daya yang ada maka deteksi ibu hamil risiko tinggi oleh masyarakat
diberi skor 2.
5.3.4.

Keuntungan sosial dapat diperoleh, apakah menarik masyarakat ?

5.3.4.1. Cakupan kunjungan ibu hamil K-4 rendah


Dengan melakukan kunjungan antenatal yang rutin dan sesuai jadwal yang
ditentukan dengan minimal kunjungan K-4, sebenarnya banyak sekali yang
diperoleh ibu hamil, diantaranya adalah kehamilan yang sehat dimana ibu dapat
mengikuti dan mengetahui keadaan kesehatan ibu dan janin termasuk berbagai
informasi mengenai cara mengenali secara dini risiko tinggi dalam kehamilan yang
memerlukan penanganan segera ke fasilitas kesehatan, memperoleh tablet besi
penambah darah dan suntikan imunisasi tetanus serta obat-obatan lain yang
20

diperlukan, informasi mengenai cara perawatan diri selama hamil, kebutuhan


makanan, tanda bahaya dan persiapan persalinan nantinya. Oleh sebab itu diberi
skor 5
5.3.4.2. Cakupan ibu hamil yang mendapat tablet besi Fe-3 masih rendah
Keuntungan sosial yang didapatkan oleh masyarakat dengan pemberian tablet besi
secara lengkap dianggap tinggi, karna mampu menurunkan angka kejadian anemia
pada ibu hamil yang dapat mengakibatkan tingginya resiko BBLR, keguguran,
maupun kematian. Jika anemia tidak terjadi, maka komplikasi yang timbul akibat
persalinan juga akan tertekan, hal ini akan mengurangi beban baik bagi keluarga maupun
masyarakat sekitar, baik secara fisik maupun materi. Namun dikarenakan adanya efek
samping gastrointestinal dari tablet besi maka diberi skor 3

5.3.4.3. Cakupan ibu hamil yang mendapat imunisasi TT-1 dan TT-2 masih rendah
Keuntungan sosial yang didapatkan dari imunisasi TT1 dan TT2 adalah penurunan
angka kejadian tetanus neonatorum. Namum hal ini kurang langsung dapat
dirasakan oleh masyarakat. Selain itu, hal ini dapat dicegah dengan dilakukannya
persalinan yang steril. Oleh karena itu, keuntungan sosial yang dapat dirasakan ini
diberikan skor 2.

5.3.4.4. Cakupan deteksi ibu hamil risiko tinggi oleh masyarakat masih sangat rendah
Keuntungan sosial yang didapatkan dari deteksi dini ibu hamil dengan risiko tinggi
oleh non-tenaga kesehatan adalah dapat mengenali secara dini tandatanda risiko
tinggi pada kehamilan tanpa ibu hamil tersebut mengeluarkan biaya. Kemudian jika
ditangani secara dini, maka dapat mencegah terjadinya komplikasi maupun
kematian pada bumil. Penanganan masalah ini jelas akan memberikan keuntungan
bagi bumil, dan lebih lanjutnya dapat berkontribusi terhadap penurunan AKI dan
AKB. Namun hal ini butuh waktu dan kesediaan masyarakat dan kader untuk
berperan serta dalam penyelesaian masalah. Oleh karena itu diberikan skor 3

21

Tabel 6 Penentuan prioritas masalah


N

Masalah

Kesenjangan

Berat

Dapat

Keuntungan

Total

(G)

Ringan

ditanggulangi

sosial

16

Cakupan kunjungan ibu

masalah
5

hamil K-4 rendah


Cakupan ibu hamil

12

10

12

yang mendapat tablet


3

besi Fe-3 masih rendah


Cakupan ibu hamil
yang mendapat
imunisasi TT-1 masih

rendah
Cakupan ibu hamil
yang mendapat
imunisasi TT-2 masih

rendah
Cakupan deteksi ibu
hamil risiko tinggi oleh
masyarakat masih
sangat rendah

Dari tabel tersebut, maka masalah yang menjadi prioritas adalah cakupan kunjungan K-4 yang
rendah.
5.4. Penyebab Masalah
Berikut akan dirinci penyebab masalah cakupan K-4 yang masih rendah.
Tabel 7 Rincian penyebab masalah berdasarkan masukan

Variabel

Data Puskesmas

Tenaga
Bidan : 1 orang
Tugas :

Ada, 2 orang. Tugas terlaksana dengan baik,

1.Pelaksanaan pelayanan KIA (ANC,

namun belum ada pembagian tugas yang

KB, Imunisasi), Gizi, Posyandu

jelas dan tertulis.

2.Membuat pelaporan dan pencatatan di


dalam kartu ibu, kohort ibu, kartu bayi,

bidan memiliki tugas merangkap, dan


22

kohort bayi, kohort anak balita, kohort

memegang beberapa program.

KB, dan buku KIA. Pencatatan

Tidak adanya jadwal kunjungan rumah dan

dilakukan setelah bidan melakukan

Posyandu GSI yang tertulis

pelayanan.
Kader : 5 orang / Posyandu

Ada. Jumlah kader yang ada cukup banyak

Tugas :

berjumlah 110 orang (data bulan Juni 2012),

Menjalankan program Posyandu

menangani 13 Posyandu, hanya saja kader

Melaksanakan kunjungan rumah

kurang aktif dan belum dapat bekerja secara

Deteksi dini gejala anemia

mandiri dan masih perlu bimbingan petugas

Pencatatan dan pelaporan

puskesmas agar kegiatan berjalan lancar.

Mendukung program Puskesmas

Serta pemanfaatan program Gerakan Sayang


Ibu juga belum dijalankan dengan
maksimal. Serta belum ada edukasi
mengenai cara memeriksa kelompok risiko
tinggi ibu hamil bagi kader.

Tabel 8 Rincian penyebab masalah berdasarkan proses

Jenis
-Perencanaan dan

Hasil
Tidak semua puskesmas kelurahan di wilayah kecamatan

Pelaksanaan penyuluhan

pademangan memiliki perencanaan dan melaksanakan

kelompok berkala.

kegiatan ini.

Perencanaan dan

Penyuluhan secara individu bagi setiap ibu hamil belum

pelaksanaan konseling

berjalan dengan baik, terutama untuk ibu hamil yang akan

individu

melahirkan di luar wilayah kerja Puskesmas. Petugas belum


mengedukasi pasien untuk datang kembali ke Puskesmas
setelah melahirkan dengan tetap membawa buku KIA hingga
setelah kelahiran.
Edukasi juga tidak diberikan bagi suami atau keluarga ibu
hamil, dan hal ini menyebabkan berkurangnya angka
23

partisipasi keluarga untuk mendukung dan menemani ibu


hamil untuk memeriksakan kehamilannya, merencanakan
bersama mengenai tempat dan penolong kelahiran dan
memberikan kesempatan bagi ibu hamil untuk dapat
mengambil keputusan mengenai pemeriksaan kehamilannya.
Perencanaan dan

Ada. Namun tidak ada jadwal tetap pembinaan kader, serta

Pelaksanaan Pembinaan

tidak aktifnya petugas Puskesmas dalam menggandeng

Posyandu

program GSI di posyandu dalam melaksanakan kegiatan


antenatal. Hal ini perlu didukung dengan pelatihan ibu kader
untuk mendeteksi gejala-gejala risiko tinggi bagi bumil, cara
mengukur berat dan tinggi badan yang baik, penjelasan
mengenai gejala-gejala yang muncul jika terdapat risiko tinggi
pada ibu hamil.
Cakupan K-4 Rendah

umil tidak merasa ada masalah dengan kehamilannya


5.5. Pohon Masalah

Kurangnya jumlah petugas

1 petugas dapat menjadi penanggung jawab beberapa progra

Kurangnya pengetahuan ibu akan pentingnya


Promosi
ANCKesehatan Kurang
Tidak ada pembagian kerja yang tertulis

Penyuluhan Tidak
individu
pernah
tidakdilakukan
efektif
Tidak penyuluhan
ada pembinaan
kelompok
kader dalam masalah ANC

yuluhan diberikan pada


Penyuluhan
saat kunjungan
diberikan
di puskesmas
bila terdapat komplikasi / penyulit

24

5.6. Penyelesaian Masalah


5.6.1.Masalah: Tidak ada rencana kerja tertulis dan pembagian kerja antar personel
Penyelesaian: Pembagian jadwal kerja yang teratur
Pelaksana (Who)
Waktu (When)
Tempat (Where)
Materi (What)

Petugas puskesmas.
Setiap awal bulan
Puskesmas di Wilayah Kecamatan Pademangan
Jadwal dinas luar, pembagian tugas jaga sistem shift, dan tugas
pengganti bagi yang dinas luar setiap hari untuk berjaga-jaga,
pembuatan jadwal kunjungan rumah dan jadwal pembinaan kader untuk

Sasaran (Who)
Tujuan (Why)

tiap-tiap wilayah serta jadwal pengadaan kelas ibu hamil


Petugas Puskesmas
Meningkatkan kinerja puskesmas dengan menaikkan kualitas dan
kuantitas kerja sehingga lebih efektif dan efisien. Diharapkan dengan
adanya petugas, pelayanan ANC dapat selalu di akses oleh bumil
sehingga menarik bumil untuk mau melakukan ANC di puskesmas.
Selain itu, adanya jadwal kunjungan rumah dan pelatihan kader

25

terhadap pemeriksaan ANC meningkatkan cakupan ibu hamil oleh


tenaga kesehatan

5.6.2.

Masalah: tidak ada jadwal penyuluhan kelompok serta penyuluhan terhadap

keluarga bumil mengenai pentingnya kunjungan antenatal.


Penyelesaian: Penjadwalan penyuluhan kelompok ataupun penyuluhan terhadap
keluarga.
Pelaksana (Who)
Waktu (When)
Tempat (Where)
Materi (What)

Kader didampingi petugas puskesmas


Pertengahan bulan
Posyandu
Apa itu kunjungan antenatal, apa saja yang dilakukan, apa manfaatnya,
dan kerugian bila tidak mengikuti kunjungan antenatal secara lengkap.
Melalui penyuluhan kelompok dan keluarga juga diharapkan
masyarakat berperan serta dalam promosi kesehatan mengenai

Sasaran (Who)
Tujuan (Why)

kunjungan antenatal kepada keluarga ataupun lingkungan sekitar


Masyarakat terutama keluarga yang memiliki Pasangan Usia Subur
Meningkatkan pengetahuan masyarakat akan pentingnya kunjungan
antenatal, apa saja yang dilakukan dalam kunjungan antenatal,
keuntungan yang didapat, serta kerugiannya bila tidak melakukan
kunjungan antenatal lengkap.

5.6.3.

Masalah: Tidak ada pembinaan kader mengenai kunjungan antenatal maupun

pelatihan dalam penyuluhan terhadap masyarakat


Penyelesaian: Menjadwalkan program pembinaan kader 4 bulan sekali.
Pelaksana (Who)
Waktu (When)
Tempat (Where)
Materi (What)

Penanggungjawab program serta bidan yang bertugas


4 bulan sekali (3x/tahun)
Puskesmas
Apa itu kunjungan antenatal, manfaat apa saja yang didapat, pelatihan
ketrampilan pemeriksaan antenatal seperti mengukur tekanan darah,
tinggi badan, berat badan, serta diberikan pelatihan dalam melakukan

Sasaran (Who)
Tujuan (Why)

penyuluhan kepada masyarakat


Kader
Meningkatkan partisipasi kader mengingat jumlah kader yang cukup
banyak untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat serta
diharapkan dapat meningkatkan jumlah deteksi bumil dengan resti oleh
masyarakat.

26

BAB VI
PENUTUP
6.1. Kesimpulan
Kinerja Puskesmas Kelurahan Pademangan Barat II dalam pelaksanaan program Pelayanan
Antenatal periode Maret 2012 - Agustus 2012 dapat dikatakan belum optimal. Hal ini,
terlihat dari beberapa indikator keluaran program yang belum mencapai target yang
ditentukan, seperti cakupan kunjungan ibu hamil K-4, cakupan pemberian tablet besi Fe3,
cakupan imunisasi TT1 dan TT2 dan cakupan deteksi ibu hamil risiko tinggi oleh
masyarakat yang masih rendah.
Dengan mempertimbangkan besarnya masalah, akibat yang ditimbulkan, sumber daya
yang tersedia dan keuntungan sosial yang diperoleh, maka ditetapkan suatu masalah yang
diprioritaskan yaitu: cakupan kunjungan ibu hamil K-4 yang masih rendah. Kendala utama
cakupan kunjungan K-4 yang masih rendah adalah promosi kesehatan mengenai pelayanan
antenatal yang belum berjalan dengan baik sehingga motivasi ibu hamil untuk melakukan
kunjungan antenatal juga rendah karena ibu hamil masih belum mengerti pentingnya
melakukan kunjungan antenatal selama periode kehamilannya.
Adapun masalah-masalah lain yang ditemukan dalam pelaksanaan program pelayanan
antenatal yang belum diatasi adalah mengenai imunisasi TT, pemberian tablet besi Fe3.
27

Hal ini terjadi dikarenakan kurangnya informasi yang disampaikan kepada ibu hamil
terutama mengenai manfaat dan pentingnya imunisasi TT dan kegunaan tablet besi
penambah darah. Diharapkan dengan meningkatnya cakupan kunjungan antenatal K-4
dimana jumlah kunjungan minimal 4 empat kali selama periode kehamilan, maka cakupan
imunisasi TT dan pemberian tablet Fe3 juga dapat meningkat.

6.2. Saran
Sebagai

penyelesaian

prioritas

masalah,

terdapat

beberapa

saran

yang

dapat

diimplementasikan, yaitu dengan membuat suatu rencana kerja yang teratur, dijadwalkan
adanya penyuluhan yang ditujukan bagi masyarakat baik di dalam gedung maupun di luar
gedung, meningkatkan pembinaan kader dan posyandu

DAFTAR PUSTAKA
1. [Depkes] Departemen Kesehatan, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat dan
Kesehatan Ibu. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWSKIA). Jakarta: Depkes; 2009.
2. [Depkes] Departemen Kesehatan, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat dan
Kesehatan Keluarga. Materi Ajar Penurunan Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir. Jakarta:
Depkes; 2006.
3. [Depkes] Departemen Kesehatan, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Pedoman
Sistem Rujukan Maternal dan Neonatal di Tingkat Kabupaten/Kota. Jakarta: Depkes; 2007.
4. [Depkes] Departemen Kesehatan, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Standar
Pelayanan Kebidanan. Jakarta: Depkes; 2003.
5. Titaley CR, et al. Factors associated with underutilization of antenatal care services in
Indonesia: results of Indonesia Demographic and Health Survey 2002/2003 and 2007. BMC
Public Health 2010,10:485.

28

LAMPIRAN
Tabel 9 Indikator input
Jenis
Tenaga

Target
Dokter umum : 1 orang
Tugas :

Melakukan pemeriksaan dan pengobatan


Bidan : 2 orang
Tugas :

1.Pelaksanaan pelayanan KIA (ANC, KB, Imunisasi), Gizi, Posyandu


2.Membuat pelaporan dan pencatatan di dalam kartu ibu, kartu bayi, kohort bayi,
kohort anak balita, kohort KB, dan buku KIA. Pencatatan dilakukan setelah bidan
melakukan pelayanan.
Kader : 5 orang / Posyandu
Tugas :
Menjalankan program Posyandu
Melaksanakan kunjungan rumah
Deteksi dini gejala anemia
Pencatatan dan pelaporan
Mendukung program Puskesmas
29

Dana
Sarana

Bantuan dana tidak diberikan dalam bentuk uang tapi dalam bentuk barang
Alat-alat untuk pemeriksaan ANC ada dan berfungsi baik, yang terdiri atas :

medis

Inventaris :
1.Tensimeter 1 buah
2.Timbangan berat badan dan pengukur tinggi badan 1 buah
3.Stetoskop 1 buah
4.Laenec 1 buah
5.Pita sentimeter 1 buah
6.Alat penyimpanan vaksin lemari es dan termos es ) 1 buah
7.Alat laboratorium (untuk periksa Hb dan protein urine) masing-masing 1 buah
Yang habis pakai:
1.Vaksin TT
2.Spuit disposable
3.Kapas
4.Alkohol 70%
5.Obat-obatan :
a.Tablet besi
b.Vit B1
c.Vit B6
d.Vit B complex
e.Vit C
f.Lancet
Keterangan : Barang-barang tersebut diatas dalam keadaan baik , stok ada dan

Sarana

tidak pernah kosong


Tidak habis pakai

non-medis

- Gedung
- Kamar periksa ( Meja, kursi, tempat tidur, bantal, tirai pembatas )
- Lemari tempat peralatan
-Tempat cuci tangan, sabun, kain lap, air kran
-Alat-alat penyuluhan ( Flip chart, poster, leaflet )
- Buku panduan untuk program ANC

30

Yang habis pakai:


-KMS Ibu Hamil ( KMS Bumil )
-Kartu ibu
-Register kohort ibu
- Kertas resep
- Alat-alat administrasi lain (Alat tulis, buku catatan, laporan harian)
Keterangan : Barang-barang tersebut diatas dalam keadaan baik , stok ada dan
tidak pernah kosong
Metode

A.Metode pemeriksaan Antenatal, pemeriksaan medik meliputi :

medis

a.Anamnesis, mengenai : identitas ibu, keluhan utama, hal-hal yang berkaitan


dengan fungsi reproduktif, hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan saat ini,
riwayat kehamilan dan persalinan dahulu.
b.Pemeriksaan fisik diagnostik, meliputi : berat badan, tinggi badan, lingkar
lengan atas, tekanan darah, nadi, frekuensi pernafasan, suhu tubuh, pucat/tidak,
adanya cacat tubuh lain.
c.Pemeriksaan obstetrik, meliputi :
1.Pemeriksaan perabaan perut (Palpasi Leopold I,II,III,IV) untuk menentukan
umur kehamilan, taksiran berat janin, letak janin, dan turunnya bagian terendah
janin, juga menentukan apakah pembesaran abdomen sesuai dengan usia
kehamilannya.
2.Pemeriksaan denyut jantung janin
d.Pemeriksaan Diagnostik penunjang meliputi :
1.Pemeriksaan Hb, untuk menentukan kadar Hb dan derajat anemia.
2.Pemeriksaan urin, untuk pemeriksaan protein urine
B.Metode screening bagi ibu hamil dengan faktor resiko yang dilakukan oleh
tenaga kesehatan, yaitu :
-Umur ibu kurang dari 20 tahun
-Umur ibu lebih dari 35 tahun
-Jumlah anak 4 orang atau lebih
31

-Jarak dengan anak sebelumnya kurang dari 2 tahun


-Tinggi badan kurang dari 145 cm
-Lingkar lengan atas kurang dari 23,5 cm
-Hb < 11 gram%
C.Ibu pernah mengalami kehamilan dan persalinan dengan salah satu keadaan berikut:

Perdarahan

Kejang-kejang

Demam tinggi

Persalinan lama (lebih dari 12 jam)

Melahirkan dengan cara operasi

Bayi yang dilahirkan meninggal

D.Metode screening ibu hamil beresiko tinggi dengan kriteria sebagai berikut :

Hb < 8 gram%

Tekanan darah tinggi (>140/90 mmhg)

Edema yang nyata

Preeklampsia dan Eklampsia

Perdarahan pervaginam

Ketuban pecah dini

Letak lintang pada trimester akhir

Letak sungsang pada primigravid

Infeksi berat/ sepsis

Persalinan premature

Kehamilan ganda

Janin yang besar

Penyakit kronis pada ibu

Riwayat obstetrik buruk

32

E.Metode intervensi dasar meliputi :

1.Pemberian Tetanus Toxoid (TT)


Metode pemberian Vaksin
Vaksin : TT Dosis
Usia

: 0,5 cc

: bumil

Jumlah : 2x
Interval : 4 minggu
Cara

: IM

Lokasi

: lengan kiri

2.Pemberian Tablet Fe/zat besi dan asam folat untuk mencegah dan pengobatan
anemia. Metode pemberiannya adalah minimal 90 tablet selama kehamilan
3.Metode pemberian tablet multivitamin dan mineral
F.Metode intervensi khusus untuk ibu dengan faktor resiko dan komplikasi
kehamilan
G.Metode rujukan bagi ibu hamil beresiko tinggi dengan surat rujukan

H.Metode penyimpanan vaksin


Cold chain :
o

Vaksin TT disimpan pada suhu 2 8oC

Semua vaksin harus dihindarkan dari matahari

Vaksin TT tidak boleh membeku

Kulkas penyimpanan harus diperiksa suhunya sehari 2 kali, yaitu pagi


waktu ambil vaksin dan siang waktu mengembalikan vaksin.

Metode

o
Kartu pencatatan suhu diisi dengan baik
Metode Penyuluhan

non medis

Isi penyuluhan :
1.

Perawatan diri selama kehamilan terutama perawatan payudara untuk


persiapan laktasi

2.

Perlunya pemeriksaan kehamilan berkala (kunjungan berulang)

3.

Perlunya imunisasi ulang


33

4.

Keluhan-keluhan pada masa kehamilan

5.

Tanda-tanda resiko tinggi dalam kehamilan

6.

Perkembangan kehamilan dan taksiran persalinan serta tanda-tanda


persalinan

7.

Perlunya makanan bergizi dan jenis-jenisnya untuk perbaikan gizi ibu


hamil

8.

Penyuluhan tentang KB

Metode Pembinaan peran serta masyarakat dengan cara :

1.

Pembinaan posyandu

2.

Pembinaan kader dan dukun bersalin

3.

Gerakan sayang ibu

4.

Menggalakan program siaga

Metode pencatatan dan pelaporan dengan :

1.

KMS ibu hamil

2.

Kartu ibu

3.

Register kohort ibu

4.

Laporan harian, bulanan, tahunan PWS-KIA

Catatan : berhasil, bila semua metode ADA dan DILAKSANAKAN dengan sesuai.

Tabel 10 Indikator proses


Jenis
Perencanaan

Target
Perencanaan persiapan, meliputi:
-Perencanaan pendataan jumlah sasaran ibu hamil.
-Perencanaan pembuatan peta wilayah.
-Perencanaan penentuan target.
-Perencanaan penentuan keperluan logistik untuk pelayanan antenatal (Vaksin,
tablet Fe, alat, dll ).
34

Perencanaan Pelayanan antenatal, meliputi :


-Perencanaan pemeriksaan bumil dengan metode yang ada, dengan minimal
pemeriksaan adalah 5T.
-Perencanaan pemberian imunisasi TT bagi bumil.
-Perencanaan pemberian tablet besi bagi Bumil.
-Perencanaan pemeriksaan laboratorium yaitu Hb dan protein urin bagi bumil.
-Perencanaan penjaringan bumil dengan resiko tinggi.
-Perencanaan rujukan bumil dengan resiko tinggi .
Perencanaan penyuluhan, meliputi:
-Perencanaan penyuluhan kelompok berkala.
-Perencanaan penyuluhan individual.
Perencanaan Pembinaan Peran Serta Masyarakat, meliputi :
-Perencanaan pembinaan Posyandu
-Gerakan Sayang Ibu

sian

Perencanaan pembinaan dukun bayi dan kader


Struktur organisasi tertulis
Pembagian tugas tertulis jelas, ada dan dijalankan

Pelaksanaan

Pelaksanaan persiapan, meliputi:

Pengorganisa

-Pelaksanaan pendataan jumlah sasaran ibu hamil 1x / tahun.


-Pelaksanaan pembuatan peta wilayah 1x/tahun
-Pelaksanaan penentuan target 1x/tahun
-Pelaksanaan penentuan keperluan logistik untuk pelayanan antenatal (Vaksin,
tablet Fe, alat, dll)
Pelaksanaan pelayanan antenatal, meliputi :
-Pelaksanaan pemeriksaan bumil dengan metode yang ada, dengan minimal
pemeriksaan adalah 5T setiap hari kerja.
-Pelaksanaan pemberian imunisasi TT bagi bumil, setiap hari kerja, meliputi
pemberian TT 1, TT 2, dan TT ulang
-Pelaksanaan pemberian tablet besi bagi Bumil minimal 3 x 30 tablet selama
kehamilan
35

-Pelaksanaan pemeriksaan laboratorium yaitu Hb (pada saat K1 dan pada


kehamilan 28 minggu) dan protein urin
-Pelaksanaan penjaringan bumil dengan resiko tinggi
-Pelaksanaan rujukan bumil resiko tinggi
Pelaksanaan Penyuluhan, meliputi :
-Pelaksanaan penyuluhan kelompok berkala
- Pelaksanaan penyuluhan individual
Pelaksanaan pembinaan peran serta masyarakat, meliputi
-Pelaksanaan pembinaan Posyandu dan Kader frekuensi minimal 12 x / tahun
-Pelaksanaan pembinaan dukun bayi, frekuensi minimal 12x / tahun untuk
Pencatatan

tiap bulan
Pencatatan dan pelaporan mengenai jumlah sasaran bumil dan target spesifik

dan

wilayah tersebut.

pelaporan

Pencatatan bumil pada register kohort


Pencatatan bumil pada KMS bumil, kartu ibu, dan buku laporan harian.
Laporan bulanan mengenai pelaksanaan kegiatan perawatan antenatal.

Pengawasan

Laporan tahunan mengenai pelaksanaan kegiatan perawatan antenatal


Supervisi dari puskesmas kecamatan 4x/tahun

dan

Pengawasan dari kepala puskesmas

Supervisi
Tabel 11 Indikator umpan balik

Umpan balik

Rapat kerja membahas laporan kegiatan 12x/tahun

Tabel 12 Indikator Lingkungan


Lingkungan

Lokasi : mudah dicapai


Transportasi : mudah didapat, jalan sudah diaspal, murah,
dengan jalan kaki atau kendaraan umum
Fasilitas kesehatan lain: kerjasama dengan instansi
36

kesehatan lain terjalin dengan baik

Tabel 13 Jenis dan metode pengambilan data


Jenis Data serta

Cara Pengambilan

Sumber Data

Data dan Instrumen

Variabel

DATA PRIMER
Status pasien ANC

Melihat dokumen dan

(F-KIA-001)

melakukan pencatatan

Nomor register ibu hamil

Identitas ibu hamil (nama ibu,


nama

suami,

usia,

alamat,

pendidikan)

K1,K4, TT1,TT2, Fe1,Fe3, LILA

Hasil laboratorium (jika dilakukan


pemeriksaan)

Risiko tinggi (jika ditemukan oleh


tenaga kesehatan atau oleh kader)

Observasi

Melakukan
pengamatan
pencatatan

dan

Tenaga

Dana

Sarana medis dan non medis

Metode medis dan non medis

Proses:

perencanaan,

pengorganisasian,

pelaksanaan,

pencatatan

dan

pelaporan,

pengawasan

Umpan balik dan lingkungan


37

Penanggung

Jenis kegiatan ANC yang telah

kepala Puskemas (dr.

dilakukan
Kegiatan penyuluhan per orangan

jawab Melakukan

program ANC

wawancara
Murniasi

dengan
Hutapea)

dan Bidan Rusi

dan per kelompok


Proses pelaksanaan ANC
Pencatatan dan pelaporan
Kendala dalam pelaksananaan

DATA SEKUNDER
Registrasi harian ANC

Melihat dokumen

No register, nama ibu hamil dan umur


kehamilan ibu hamil yang melakukan
antenatal care pada bulan April 2012
sampai

Juni

2012

dengan

usia

kehamilan 9 bulan.
Profil

kesehatan Melihat dokumen dari

Kelurahan

kelurahan

Pademangan Barat II Pademangan

Data

kependudukan

REK.KEL.R/I/KS/08, terlampir)
Laporan Tahunan 2011 Kelurahan
Pademangan

tahun 2011

(form

Barat

Kecamatan

Pademangan
Fasilitas kesehatan yang melakukan

pelayanan ANC
Angka kematian ibu

Tabel 14 Data hasil olahan kartu status ibu hamil, lahir dan nifas (F-KIA-001)
N
o
1
2

Nama
Umi maesaroh
Sugi

Usi
a
33
30

No.
Reg
02.12
105.12

Kunjungan
terakhir
Agustus
Juli

K
1
v
v

K
4
v
-

Fe
1
v
v

Fe
3
v
v

TT
1
v
v

TT
2
v
v

Resiko
tinggi
-

38

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38

Jubaedah
Uput mimin
Juju junaeti
Dewi
Tri utami
Dedeh
Tama
Rohimah
Dewi tri lestari
Nani
Nuraini
Teguh
susilowati
Linda
Mini
Nuna
Mulyani
Hartati
Wiwik s
Asnawati
Warni
Maryati
Iis
Siti maemunah
Husni
Siti barokah
Siti masitoh
Titin
Neni nuraini
Siti sutihat
Mimi
widyawati
Minkhatus sania
Nur ubaya
Hasanah
warni
Imas nurjanah
Nia kurnia

37
38
30
27
20
32
34
35
31
37
17

99.12
05.12
226.11
293.11
295.11
274.11
07.12
12.12
53.12
239.11
294.11

Juli
Juli
April
Mei
Juni
Juni
Juli
Juli
Juni
Mei
Mei

v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
v
v
v
v
v
v

28

04.12

Mei

35
21
22
36
30
26
39
38
34
31
28
24
18
29
29
29
22

276.11
238.11
214.11
247.11
248.4
253.11
72.12
281.11
52.12
37.12
118.12
51.12
49.12
35.12
80.12
31.12
8.12

Mei
Maret
Maret
Maret
April
April
April
Maret
Agustus
Juli
Agustus
Agustus
April
Mei
Mei
Juli
Agustus

v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v

22

127.12

Agustus

22
19
36
21
21
22

19.12
30.12
285.12
16.12
46.12
11.12

Agustus
Agustus
Juni
Mei
April
Agustus

v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
v

v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
v

v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
v
v

usia tua
usia tua
anemia
anemia
PEB

usia muda

anemia
usia tua
Usia tua
G>4
G>4
anemia
usia muda

TB 136
selang <2
usia muda
usia tua

Anemia

39