Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Masa remaja merupakan masa transisi, dimana anak memiliki rasa keingintahuan yang
tinggi dan juga keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru. Hal tersebut menyebabkan tidak
sedikit remaja-remaja menyalurkan dengan media yang salah dalam bentuk kenakalan remaja.
Kenakalan remaja sangat meningkat baik kuantitas maupun kualitas, hal ini sangat
mengkhawatirkan kita semua , mulai dari tawuran, pembajakan bis, pemalakan, pencurian,
pelecehan seksual ,kapak merah, dll. Keadaan demikian sangat memprihatinkan mengingat
kenakalan remaja sudah melampaui batas yang wajar, bahkan sudah sama dengan bentuk
kejahatan yang dilakukan oleh orang dewasa.
Kenakalan remaja bukan hanya melanda keluarga kelas menengah kebawa saja, namun
juga keluarga menengah ke atas seperti : pencurian barang keluarga akibat kecanduan narkoba
Kekhwatiran orang tua sangat beralasan mungkin saja anaknya terlibat dalam kenakalan yang
melampaui batas ,karena pergaulan yang kurang baik seperti: tawuran pelajar dan juga
lingkungan yang negative penuh dengan anak nakal, merokok dan narkoba.
Bentuk-bentuk kenakalan remaja beraneka ragam mulai berani membangkang terhadap
orang tua, sering bolos sekolah, aksi corat-coret gedung dan fasilitas umum, memalak pelajar
lain,merokok, minuman beralkohol, sex bebas, tindak pencabulan, narkoba, tawuran remaja
sampai perampokan dan pembajakan bis dengan kekerasan dan ancaman senjata tajam.
Kehadiran geng motor melengkapi salah satu bentuk kenakalan remaja yang cukup
meresahkan, setelah selama ini masyarakat sudah banyak dipusingkan aksi dalam bentuk lain,
seperti tawuran antar pelajar, pembajakan angkutan umum, sampai hal-hal yang menjurus
kriminal. Dari fenomena-fenomena sosial tersebut banyak orang menyatakan bahwa perilaku
destruktif remaja ini erat kaitannya dengan model pendidikan saat ini, yang cenderung
mengedepankan nilai akademik, daripada penanaman budi pekerti.
Pengertian Geng Motor adalah sekumpulan atau sekelompok orang memiliki hobi
bersepeda motor yang membuat kegiatan berkendara sepeda motor secara bersama sama baik
tujuan konvoi maupun touring dengan sepeda motor. Pembentukan kelompok diawali dengan
1

adanya perasaan yang sama dalam memenuhi kebutuhan. Setelah itu akan timbul motivasi untuk
memnuhinya, sehingga ditentukanlah tujuan yang sama dan akhirnya interaksi yang terjadi akan
membentuk sebuah kelompok. Interaksi yang terjadi suatu saat akan memunculkan konflik.
Perpecahan yang terjadi biasanya bersifat sementara karena kesadaran arti pentingnya kelompok
tersebut, sehingga anggota kelompok berusaha menyesuaikan diri demi kepentingan kelompok.
Akhirnya setelah terjadi penyesuaian, perubahan dalam kelompok mudah terjadi.
Dalam makalah ini saya lebih banyak membahas pada geng motor ditinjau dari aspek
psikologik dan psikiatrik. Dalam ilmu psikologi, perkembangan masa remaja menjadi salah satu
pembahasan yang penting karena masa remaja adalah salah satu puzzle rangkaian dari masamasa hidup manusia yang tidak dapat terpisahkan. Oleh karena itu, saya mencoba memahami
bagaimana kenakalan remaja berdasarkan fenomena komunitas geng motor dapat terbentuk dan
bagaimana penanganannya menggunakan pendekatan teori psikologi perkembangan.
1.2 Tujuan Penulisan
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan geng motor ditinjau dari aspek
psikologik dan psikiatrik.
1.3 Metode penulisan
Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan studi kepustakaan dari literatur
yang ada, baik di perpustakaan maupun di internet.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Aspek-Aspek Perkembangan Pada Masa Remaja
2.1.1

Perkembangan fisik
Perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan

ketrampilan motorik. Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh,
pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh
remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh
orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya
semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif
2.1.2 Perkembangan Kognitif
Seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara
biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif
mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema
kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih
penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja
tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara
berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori,
menalar, berpikir, dan bahasa. Pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari
struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi
memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Tahap perkembangan kognitif ini disebut juga
sebagai tahap operasi formal.
Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir
secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman
yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan
fleksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan
tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang
hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja
3

berpikir secara hipotetis. Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa
rencana atau suatu bayangan. Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada
saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang.
Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya,
termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya. Pada tahap ini, remaja juga
sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan
sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga
dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai
mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan
untuk mencapai suatu tujuan di masa depan.
Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya
ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme. Egosentrisme di sini
adalah ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain Elkind mengungkapkan
salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fabel.
Personal fabel adalah suatu cerita yang kita katakan pada diri kita sendiri engenai diri
kita sendiri, tetapi [cerita] itu tidaklah benar . Kata fabel berarti cerita rekaan yang tidak
berdasarkan fakta, biasanya dengan tokoh-tokoh hewan. Personal fabel biasanya berisi keyakinan
bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini
benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya. Papalia dan Olds
(2001) dengan mengutip Elkind menjelaskan personal fable sebagai berikut :
Personal fable adalah keyakinan remaja bahwa diri mereka unik dan tidak terpengaruh oleh
hukum alam. Belief egosentrik ini mendorong perilaku merusak diri [self-destructive] oleh
remaja yang berpikir bahwa diri mereka secara magis terlindung dari bahaya. Misalnya seorang
remaja putri berpikir bahwa dirinya tidak mungkin hamil [karena perilaku seksual yang
dilakukannya], atau seorang remaja pria berpikir bahwa ia tidak akan sampai meninggal dunia di
jalan raya [saat mengendarai mobil], atau remaja yang mencoba-coba obat terlarang [drugs]
berpikir bahwa ia tidak akan mengalami kecanduan. Remaja biasanya menganggap bahwa halhal itu hanya terjadi pada orang lain, bukan pada dirinya.
Beyth-Marom, dkk (1993) kemudian membuktikan bahwa ternyata baik remaja maupun orang
dewasa memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang
berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan adanya derajat yang sama
4

antara remaja dan orang dewasa dalam mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian,
kecenderungan melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri invulnerable
menurut Beyth-Marom, dkk., pada remaja dan orang dewasa adalah sama.
2.1.3. Perkembangan Kepribadian dan Sosial
Perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia
dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam
berhubungan dengan orang lain. Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja
adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses
menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup.
Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya
dibanding orang tua. Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan
kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman.
Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar. Pada diri
remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja
telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya
sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari
kelompok teman sebaya. Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan
keputusan seorang remaja tentang perilakunya.
Kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal
persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi
sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film
apa yang bagus, dan sebagainya.
2.2 Kenakalan Remaja
Menurut Santrock (2002), kenakalan remaja (juvenile delinquency) mengacu kepada
suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial
(seperti bertindak berlebihan di sekolah), pelanggaran (seperti melarikan diri dari rumah) hingga
tindakan-tindakan kriminal (seperti mencuri). Kartono sebagai ilmuan sosiologi menyatakan
bahwa kenakalan remajamerupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh

satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang
menyimpang.
Perilaku nakal remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal)
maupun faktor dari luar (eksternal).
2.2.1 Faktor internal:
1.

Krisis identitas. Perubahan biologis dan


sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama,
terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas
peran.Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.

2.

Kontrol diri yang lemah. Remaja yang


tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak
dapat diterima akan terseret pada perilaku nakal. Begitupun bagi mereka yang telah
mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol
diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

2.2.2 Faktor eksternal:


1.

Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar
anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di
keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau
penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.

2.

Teman sebaya yang kurang baik

3.

Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik

2.3 Geng Motor


Perlu dibedakan antara geng motor dengan Club Motor. Geng motor adalah kumpulan orangorang pecinta motor yang doyan kebut-kebutan, tanpa membedakan jenis motor yang dikendarai.
Sedangkan Club Motor biasanya mengusung merek tertentu atau spesifikasi jenis motor tertentu
dengan perangkat organisasi formal, seperti HDC (Harley Davidson Club), Scooter (kelompok
pecinta Vesva), kelompok Honda, kelompok Suzuki, Tiger, Mio. Ada juga Brotherhood
6

kelompok pecinta motor besar tua. Tapi kalau soal aksi jalanan, semuanya sama saja.
Kebanyakan sama-sama merasa jadi raja jalanan, tak mau didahului, apalagi disalip oleh
pengendara lain.
Ada empat geng motor yang paling besar di Bandung yakni Moonraker , Grab on Road
(GBR), Exalt to Coitus (XTC) dan Brigade Seven (Brigez). Keempat geng itu sama- sama eksis
dan memiliki anggota di atas 1000 orang. Kini mereka mulai menjalar ke daerah- daerah
pinggiran Jawa Barat, seperti Tasikmalaya, Garut, Sukabumi, Ciamis, Cirebon dan Subang. Kita
mulai saja dengan Moonraker. Inilah konon ruh dari semua geng motor di Bandung. Moonraker
lahir pada tahun 1978. Sel-sel komunitas ini, dirajut oleh tujuh orang pemuda yang sama-sama
hobi balap.
Sekarang geng-geng motor udah berada dalam taraf berbahaya, tak segan mereka tawuran
dan tak merasa berdosa para geng tersebut membunuh. Perbedaan jelas dari geng motor
dan club motor dan motor community adalah :
1.

Kebanyakan anggota geng motor tidak memakai perangkat safety seperti helm, sepatu
dan jaket.

2.

Membawa senjata tajam yang dibuat sendiri atau udah dari pabriknya seperti samurai,
badik hingga bom Molotov.

3.

Biasanya hanya muncul malam hari dan tidak menggunakan lampu penerang serta
berisik.

4.

Jauh dari kegiatan sosial, tidak pernah membuat acara-acara sosial seperti sunatan masal
atau kawin masal, mereka lebih suka membuat acara membunuh masal.

5.

Anggotanya lebih banyak kepada kaum lelaki yang sangar, tukang mabok, penjudi dan
hobi membunuh, sekalipun tidak menutup kemungkinan ada kaum hawa yang ikut geng
motor biasanya hanya dijadikan budak nafsu.

6.

Motor yang mereka gunakan tidak lengkap, tidak ada spion, sein, hingga lampu utama,
yang penting buat mereka adalah kencang dan mampu melibas orang yang lewat.

7.

Visi dan misi mereka jelas, hanya membuat kekacauan dan ingin menjadi geng terseram
diantara geng motor lainnya hingga sering terjadi tawuran diatas motor.

8.

Tidak terdaftar di kepolisian atau masyarakat setempat.

9.

Kalau nongkrong, lebih suka di tempat yang jauh dari kata terang. Lebih memilih
tempat sepi, gelap dan bau busuk.
7

10.

Kalau pelantikan anak baru biasanya bermain fisik, disuruh berantem dan menenggak
minuman keras sampai jackpot (muntah-muntah).
Sedangkan untuk club dan komunitas motor, penjelasan di atas jelas bukan ciri-ciri mereka,

namun sekarang perlu diwaspadai karena ada geng motor yang berkedok club motor. Berpakaian
rapi, safety dan penuh perlengkapan berkendaraan namun arogan, anarkis dan egois kalau dijalan
serta tak segan mereka membuat rusuh bila merasa diganggu. Selama AD/ART mereka jelas dan
terdaftar dipihak kepolisian, club motor tidak bakal berubah menjadi geng motor.
Dari keterangan di atas, geng motor yang kebanyakan beranggotakan remaja biasanya
melakukan juvenile deliquency dalam bentuk ngebut-ngebutan dan pelanggaran lalu lintas
disebabkan karena selain keinginan untuk coba-coba yaitu karena mereka menganggap
semuanya itu sekedar permainan tanpa pikir panjang sebelumnya bagaimana konsekuensi yang
akan

mereka

dapat. Pendapat

Elkind

bahwa

remaja

memiliki

semacam

perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian
yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku
berisiko yang dilakukan remaja (Beyth-Marom, dkk., 1993). Umumnya dikemukakan bahwa
remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu bahwa mereka dapat
melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.
2.4 Penanganan Kenakalan Remaja (Geng Motor)
Dalam pendekatan psikologi penanganan kenakalan remaja memiliki banyak cara yang
bervariasi namun dalam pembahasan fenomena komunitas geng motor kita memfokuskan
menggunakan 2 metode, yaitu: (1) Behavioural methods, (2) Cognitive-behavioral (CBT)
methods.
Metode Penanganan Juvenile Delinquency
1.

Behavioural Methods
Penanganan kenakalan remaja geng motor dengan menggunakan metode ini adalah dengan
mencoba untuk mengubah perilaku remaja tersebut. Behavioural methods akan lebih terlihat
hasilnya ketika diiringi dengan multimodal interventions (Henggeler dalam Herbert, 2005).
Penanganannya termasuk:
8

- Training komunikasi
- Feedback
- Positive interruption
- Problem-solving
- Membentuk pemikran rasional
- Happy talk
- Positive request
- Non-blaming communication
- Training keahlian negosiasi
- Meningkatkan dialog
- Permainan-permainan dalam keluarga
Selain cara-cara diatas terdapat beberapa training dan program rehabilitasi yang berbeda, antara
lain:
- The Reasoning and Rehabilitation Programme, dikembangkan oleh Ross and Fabiono dalam
Herbert (2005).
Dalam fenomena komunitas geng motor perlu diadakannya program rehabilitasi dan penalaran
untuk para anggota geng sesuai dengan prosedur rehabilitasi tersebut untuk mengubah perilaku
ngebut-ngebutan dan melanggar lalu lintas menjadi pemakai jalan raya yang beradab.
- Agression Replacement Training (ART) (Glick & Goldstein dalam Herbert, 2005) terdiri dari
tiga pendekatan utama untuk mengubah perilaku: bentuk pembelajaran keahlian sosial, training
mengkontrol kemarahan atau emosi, dan pendidikan moral.
Anggota geng motor perlu memahami untuk berinteraksi sosial yang seharusnya. Selain itu,
mengontrol emosi atau kemarahan adalah aspek penting yang harus dilakukan anggota geng
tersebut karena biasanya gejolak emosi yang berlebihan itulah yang menyebabkan seorang
9

remaja menyalurkan dalam bentuk juvenile deliquency. Pendidikan formal juga faktor penting
yang harus didapatkan oleh para remaja.
1.

Cognitive-behavioural (CBT) Methods


Pendekatan CBT sebagai intervensi untuk kenakalan remaja biasanya terdiri dari beberapa

teknik yang mana merupakan akar dari terapi kognitif (persuasion, challenging, debate,
hypothesizing, cognitive restructuring, and internal debate) yang digabungkan dengan terapi
prilaku (operant procedure, desentization, social skills training, role play, behaviour rehearsal,
modelling, relaxation exercise, self monitoring).
Program penganan didesain seperti urutan dibawah ini:
- Training relaksasi, yaitu remaja anggota geng motor tersebut perlu mengikuti training
relaksasi ataupun menggunakan teknik-teknik atau cara-cara yang dapat membuat mereka tenang
dan nyaman. Hal ini disebabkan dengan hati yang panik dan penuh gejolak akan menyebabkan
seseorang salah dan tidak awas untuk mengambil suatu tindakan. Selain itu, dalam keadaan
tenang dan nyaman akan mempermudah seseorang dimana dalam konteks ini remaja anggota
geng motor untuknmenerima perlakuan-perlakuan lainnya.
- Modelling dan reinforcement tingkahlaku, yaitu dengan memberikan mereka model dan
penguatan yang dapat mereka tiru. Hal ini penting karena biasanya remaja yang terjebak oleh
kenakalannya tidak dapat membedakan apakah tindakan mereka itu baik atau buruk. Oleh karena
itu, dengan adanya contoh dan penguatan baik itu reward atau punishment akan memberi arahan
bagi remaja anggota geng motor tersebut.
- Menumbuhkan lebih banyak pikiran-pikiran positif (kognisi) dan atribusi diri untuk alter
maladaptive beliefs, yaitu dengan memberi sugesti-sugesti positif apa yang seharusnya
dilakukan. Sehingga para komunitas geng motor tersebut dapat bepikir bahwa tindakan mereka
itu tidak benar.
- Self-appraisal
- Pengalaman kegiatan yang menyenangkan, yaitu mengganti tindakan mereka yang tidak
mematuhi norma-norma sosial dengan kegiatan lain yang menyenangkan namun itu tidak
10

bertentangan dengan norma-norma yang ada seperti permainan balapan motor, atau pertandingan
balap motor F1, atau dengan kegiatan-kegiatan yang lain.
- Menggunakan operant conditioning untuk mengembangkan perilaku prososial dan
mengembangkan keahlian sosial, yaitu menggunakan reinforcement untuk menimbulkan
perilaku yang dapat diterima sosial.
Selain dua metode di atas Santrock (1999) memberikan strategi-strategi untuk mengembangkan
kehidupan remaja, diantaranya:
o

Lebih mengembangkan harapan-harapan positif untuk remaja


Dengan mengembangkan harapan-harapan positif kepada remaja akan membuat remaja
merasa dirinya tidak dipandang hanya sebagai sumber kenakalan dan perusak. Janganlah
melihat remaja saat dia melakukan kerusakan dan krisis. Lihatlah sewaktu evaluasi dan
membuat komitmen tentang dirinya.

Buatlah sekolah yang lebih baik untuk remaja


Sekolah

untuk

para

remaja

membutuhkan

pengembangan

sosioemosional

sebaik

pengembangan kognitif.
o

Sukseskan program untuk remaja dalam menghadapi bahaya


Dua komposisi terpenting untuk menyukseskan program untuk remaja dalam bahaya, yaitu:

1.

Tumbuhkan atensi individu

2.

Kembangkan koordinasi komunitas-jaringan luas

11

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kenakalan remaja mengacu kepada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku
yang tidak dapat diterima secara sosial (seperti bertindak berlebihan di sekolah), pelanggaran
(seperti melarikan diri dari rumah) hingga tindakan-tindakan kriminal (seperti mencuri). Kartono
sebagai ilmuan sosiologi menyatakan bahwa kenakalan remaja merupakan gejala patologis sosial
pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka
mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Perilaku nakal remaja bisa disebabkan oleh
faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).

12

DAFTAR PUSTAKA
Soedjono Dirdjosisworo, Penanggulangan Kejahatan, cetakan Ketiga, Alumni, Bandung, 1983
Ninik Widiyanti-Yulus Waskita, Kejahatan Dalam Masyarakat dan Pencegahannya, Bina Aksara,
Jakarta, 1987
Marlina, Peradilan Pidana Anak di Indonesia: Pengembangan Konsep Diversi dan Restrorative
Justice, Refika Aditama, Medan, 2009
http;//m.kompasiana.com/post/4cd6acc89bc1d45330000/prihatin-brutal-dan-tidakmanusiawi/
http://gunardia.wordpress.com/geng-motor-dan-patologi-sosial/
http://mulyanihasan.wordpress.com/20or-di-bandung/.
http://tawvic.wordpress.com/2009/01/07/perbedaan-geng-motor-club-motor-danmotorcommunity/

13