Anda di halaman 1dari 10

BAB 4.

SEDIAAN GALENIK

Tujuan Pembelajaran :
Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa mampu :
a. Menjelaskan definisi sediaan galenik
b. Menjelaskan jenis jenis sediaan galenik
c. Menjelaskan teknologi ekstraksi meliputi proses pembuatan ekstrak
dan metode ekstraksi

a. Latar Belakang
Sediaan galenik adalah sediaan yang diperoleh dengan cara melakukan
penyarian zat-zat yang bermanfaat bagi manusia, dari tumbuhan atau hewan
menggunakan cairan penyari yang sesuai. Dalam Permenkes No
246/Menkes/Per/V/1990, sediaan galenik didefinisikan sebagai : hasil
ekstraksi bahan atau campuran bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan
atau hewan.
Zat-zat yang tersari (berkhasiat) biasanya terdapat dalam sel-sel bagian
tumbuh-tumbuhan yang umumnya dalam keadaan kering. Cairan penyari
masuk kedalam zat-zat berkhasiat utama dari pada simplisia yang akan di
ambil sarinya,kemudian, zat berkhasiat tersebut akan terbawa larut dengan
cairan penyari, setelah itu larutan yang mengandung zat berkhasiat
dipisahkan dari bagian simplisia lain yang kurang bermanfaat.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan galenik
diantaranya sebagai berikut:
1) Derajat kehalusan
Derajat kehalusan ini harus di sesuaikan dengan mudah atau tidaknya
obat yang terkandung tersebut untuk disari.semakin halus simplisianya itu
akan mempermudah proses penyarian, ataupun sebaliknya semakin
sukar disari maka simplisia harus di buat semakin halus.
2) Temperatur suhu dan lamanya waktu
Suhu harus di sesuaikan dengan sifat dari obat, apakah bmudah
menguap atau tidak, mudah tersari atau tidak
3) Bahan penyari dan cara menyari
Setiap simplisia atau bahan obat mempunyai cara dan bahan penyari
yang berbeda-beda, Oleh karena itu cara ini harus di sesuaikan dengan
sifat kelarutan obat dan daya serap bahan penyari ke dalam simplisia.
4) Konsentrasi/kepekatan
b. Jenis-jenis Sediaan galenik (definisi sesuai dengan yang tertera dalam FI III
& IV) :
b.1 Infusa / Infus
Adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati
dengan air pada suhu 90 selama 15 menit. (Farmakope Indonesia
Edisi III halaman 12 & Farmakope Indonesia Edisi IV, halaman 9).

21

Analisa obat tradisional 22

b.2 Tinctura / Tingtur


Adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi
simplisia nabati atau hewani atau dengan cara melarutkan senyawa
kimia dalam pelarut yang tertera pada masing-masing monografi.
Kecuali dinyatakan lain, tingtur dibuat menggunakan 20% zat khasiat
dan 10% untuk zat khasiat keras (Farmakope Indonesia Edisi III
halaman 32).
b.3 Ekstrak
Dalam buku (Farmakope Indonesia Edisi III hal. 9 & Farmakope
Indonesia Edisi IV hal. 7), disebutkan bahwa :
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat
aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut
yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan
massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga
memenuhi baku yang telah ditetapkan.
Sebagian besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku obat
secara perkolasi. Seluruh perkolat biasanya dipekatkan secara destilasi
dengan pengurangan tekanan agar bahan sesedikit mungkin terkena
panas.
Ekstrak cair adalah sediaan cair simplisia nabati, yang mengandung
etanol sebagai pelarut atau sebagai pengawet atau sebagai pelarut dan
pengawet. Jika tidak dinyatakan lain pada masing-masing monografi,
tiap ml ekstrak mengandung bahan aktif dari 1 g simplisia yang
memenuhi syarat.
Ekstrak cair yang cenderung membentuk endapan dapat didiamkan dan
disaring
Ekstrak tumbuhan obat yang dibuat dari simplisia nabati dapat
dipandang sebagai bahan awal, bahan antara atau bahan produk jadi(3).
1. Ekstrak sebagai bahan awal dianalogkan dengan komoditi
bahan baku obat yang dengan teknologi fitofarmasi diproses
menjadi produk jadi.
2. Ekstrak sebagai bahan antara berarti masih menjadi bahan
yang dapat diproses lagi menjadi fraksi-fraksi, isolat senyawa
tunggal ataupun tetap sebagai campuran dengan ekstrak lain.
3. Ekstrak sebagai produk jadi berarti ekstrak yang berada dalam
sediaan obat jadi siap digunakan oleh penderita.
b.3.1

Teknologi Ekstraksi(3)
1. Proses pembuatan Ekstrak
1.1 Pembuatan serbuk simplisia dan klasifikasinya
Proses awal pembuatan ekstrak adalah tahapan
pembuatan serbuk simplisia kering (penyerbukan ).
Dari simplisia dibuat serbuk simplisia dengan peralatan
tertentu sampai derajat kehalusan tertentu. Proses ini
dapat mempengaruhi mutu ekstrak dengan dasar
beberapa hal sebagai berikut :
Makin halus serbuk simplisia, proses ekstraksi
makin efektif-efisien, namun makin halus serbuk,

Analisa obat tradisional 23

1.2

maka makin rumit secara teknologi peralatan untuk


tahapan filtrasi.
Selama penggunaan peralatan penyerbukan
dimana ada gerakan dan interaksi dengan benda
keras (logam dll), akan timbul panas (kalori) yang
berpengaruh pada senyawa kandungan. Hal ini
dapat dikompensasi dengan penggunaan nitrogen
cair.

Cairan pelarut
Cairan pelarut dalam proses pembuatan ekstrak
adalah pelarut yang baik (optimal) untuk senyawa
kandungan yang berkhasiat atau yang aktif, dengan
demikian senyawa tersebut dapat terpisahkan dari
bahan dan dari senyawa kandungan lainnya, serta
ekstrak hanya mengandung sebagian besar senyawa
kandungan yang diinginkan. Dalam hal ekstrak total,
maka cairan pelarut dipilih yang melarutkan hampir
semua metabolit sekunder yang terkandung.
Faktor utama untuk pertimbangan pada pemilihan
cairan penyari adalah sbb :
Selektivitas
Kemudahan bekerja dan proses dengan cairan
tersebut
Ekonomis
Ramah lingkungan
Keamanan
Pada prinsipnya cairan pelarut harus memenuhi syarat
kefarmasian atau dalam perdanganan dikenal dengan
kelompok spesifikasi pharmaceutical grade. Sampai
saat ini berlaku aturan bahwa
pelarut yang
diperbolehkan
adalah air
dan etanol serta
campurannya. Jenis pelarut lain seperti metanol (gol.
alkohol), heksana (gol. hidrokarbon alifatik), toluen (gol.
hidrokarbon aromatik), kloroform (dan segolongannya)
dan aseton umumnya digunakan sebagai pelarut untuk
tahap separasi dan tahap pemurnian (fraksinasi).
Khususnya metanol, dihindari penggunaannya karena
sifatnya yang toksik akut dan kronik.

1.3

Separasi dan pemurnian


Tujuan dari tahapan ini adalah menghilangkan
(memisahkan) senyawa yang tidak dikehendaki
semaksimal mungkin tanpa berpengaruh pada
senyawa kandungan yang dikehendaki, sehingga
diperoleh ekstrak yang lebih murni. Sebagai contoh
adalah senyawa tanin, pigmen-pigmen dan senyawasenyawa lain yang akan berpengaruh pada stabilitas
senyawa kandungan, termasuk juga dalam hal ini
adalah sisa pelarut yang tidak dikehendaki. Proses-

Analisa obat tradisional 24

proses pada tahapan ini adalah pengendapan,


pemisahan dua cairan tak campur, sentrifugasi,
dekantasi, filtrasi serta proses adsorbsi dan penukar
ion.
1.4

Pemekatan / penguapan (evaporasi / vaporasi)


Pemekatan berarti peningkatan jumlah partial solute
(senyawa terlarut) secara penguapan pelarut tanpa
sampai menjadi kondisi kering, ekstrak hanya menjadi
kental/pekat.

1.5

Pengeringan ekstrak
Pengeringan berarti menghilangkan pelarut dari bahan
sehingga menghasilkan serbuk , masa kering-rapuh,
tergantung proses dan peralatan yang digunakan. Ada
berbagai proses pengeringan ekstrak yaitu dengan
cara :
* Evaporasi (pemekatan)
* Kontak
* Vaporasi (penguapan)
* Radiasi
* Sublimasi
* Dielektrik
* Konveksi

1.6

Rendemen
Rendemen adalah perbandingan antara ekstrak yang
diperoleh dengan simplisia awal.

2. Metode Ekstraksi(3)
2.1 Ekstraksi dengan menggunakan pelarut
2.1.1 Cara dingin : maserasi, perkolasi
2.1.2 Cara panas : refluks, soxhlet, digesti, infus,
dekok
2.2 Destilasi uap
2.3 Cara ekstraksi lain :
2.3.1 Ekstraksi berkesinambungan
2.3.2 Superkritikal karbondioksida
2.3.3 Ekstraksi ultrasonik
2.3.4 Ekstraksi energi listrik
Maserasi
Adalah proses pengekstraksian simplisia dengan menggunakan pelarut dengan
beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar).
Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian
konsentrasi pada keseimbangan. Maserasi kinetik berarti dilakukan pengadukan
yang kontinu (terus menerus). Remaserasi berarti dilakukan pengulangan
penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama dan
seterusnya.
Prinsip metode ini adalah pencapaian konsentrasi pada keseimbangan,cairan
penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang

Analisa obat tradisional 25

mengandung zat aktif. Cairan penyari yang dapat digunakan adalah air, etanol,
air-etanol atau pelarut lain.
Keuntungan cara maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang
digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Kerugian cara maserasi adalah
pengerjaan lama dan penyariannya kurang sempurna
Maserasi dilakukan dengan cara
10 bagian simplisia dengan derajat halus yang sesuai dimasukkan ke dalam
bejana, kemudian ditambahkan 75 bagian cairan penyari, ditutup dan
dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil berulang-ulang diaduk.
Setelah 5 hari, diserkai, ampas diperas
Ampas ditambah cairan penyari secukupnya diaduk dan diserkai sehingga
diperoleh seluruh sari sebanyak 100 bagian
Bejana ditutup dan dibiarkan ditempat sejuk terlindung dari pengaruh
langsung cahaya selama 2 hari, kemudian endapan yang terjadi dipisahkan
Pengadukan pada cara maserasi ditujukan untuk meratakan konsentrasi
larutan di luar butir serbuk simplisia sehingga dengan pengadukan tersebut
tetap terjaga adanya perbedaan konsentrasi yang sekecil-kecilnya antara
larutan di dalam sel dengan larutan di luar sel
Hasil sari dengan cara maserasi perlu dibiarkan 2 hari untuk mengendapakan
zat-zat yang tidak diperlukan tetapi ikut terlarut dalam cairan penyari
Cara maserasi ini ditujukan untuk membuat tingtur
Jika diinginkan menjadi ekstrak maka dapat dilanjutkan dengan pemekatan
tingtur tersebut dengan cara penyulingan atau penguapan pada tekanan
rendah dan suhu 50C hingga konsentrasi yang dikehendaki
Penguapan dengan tekanan rendah menyebabkan cairan penyari akan
menguap di bawah titik didihnya, sehingga waktu penguapan akan lebih
cepat
Alat yang biasa digunakan yaitu alat penguap vakum berputar
Modifikasi yang sering dilakukan terhadap cara maserasi adalah digesti, yaitu
cara maserasi dengan menggunakan pemanasan lemah, yaitu pada suhu
4050C
Cara maserasi ini hanya dapat dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya
tahan terhadap pemanasan
Umumnya kelarutan zat aktif akan meningkat dengan peningkatan suhu
Maserasi juga dapat dimodifikasi dengan menggunakan mesin pengaduk
Proses maserasi dengan mesin pengaduk yang berputar terus menerus
membuat waktu maserasi dapat dipersingkat menjadi 6 sampai dengan 24
jam
Remaserasi dapat dilakukan dengan cara cairan penyari dibagi dua
Seluruh serbuk simplisia dimaserasi dengan cairan penyari pertama
Sesudah dienap tuangkan dan diperas, ampas dimaserasi lagi dengan cairan
penyari yang kedua

Analisa obat tradisional 26

Gambar 1. Contoh Tinctur Hasil Maserasi

Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna
(exhaustive extraction) yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan.
Proses terdiri dari tahapan pengembangan bahan, tahap maserasi antara, tahap
perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak), terus menerus sampai
diperoleh ekstrak (perkolat) yang jumlahnya 1-5 kali bahan.
Prinsip perkolasi adalah serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana
silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari
atas ke bawah melalui serbuk tersebut. Kelebihan cara perkolasi aliran cairan
penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang terjadi dengan larutan
yang konsentrasinya lebih rendah, sehingga meningkatkan derajat perbedaan
konsentrasi. Alat perkolasi disebut percolator. Cairan yang digunakan untuk
menyari disebut cairan penyari atau menstrum. Larutan zat aktif yang keluar dari
perkolator disebut sari atau perkolat
Bentuk perkolator ada 3 macam yaitu:
perkolator berbentuk tabung
Paruh
Corong
Pemilihan bentuk perkolator:
Tergantung pada jenis serbuk simplisia yang akan disari
Ukuran perkolator tergantung jumlah bahan yang akan disari tidak lebih
dari tinggi perkolator

Analisa obat tradisional 27

Cara Perkolasi:
Membasahi 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat
halus yang sesuai menggunakan 2,5-5 bagian cairan penyari
Campuran dimasukkan dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya
selama 3 jam
Selama 24 jam sambil cairan penyari dibiarkan menetes dengan
kecepatan 1mL/s
Kemudian cairan penyari ditambah berulang-ulang
Hasil akhir perkolasi dapat dilakukan dengan pemeriksaan zat aktif
secara kualitatif pada perkolat terakhir
Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama
waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya
pendingin balik. Umumnya dilakukan pengulangan proses pada residu pertama
sampai 3-5 kali sehingga dapat termasuk proses ekstraksi sempurna.
Soxhlet
Soxhlet adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya
dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah
pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Alat ekstraksi terdiri dari
labu, tabung soxhlet dan pendingin balik
Proses ekstraksi:
cairan penyari dalam labu dipanaskan hingga mendidih, uap cairan penyari
naik ke atas melalui pipa samping, kemudian diembunkan kembali oleh
pendingin tegak
Cairan turun ke labu melalui tabung yang berisi serbuk simplisia melarutkan
zat aktif serbuk simplisia
Karena adanya sifon, seluruh cairan akan turun kembali ke labu
Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada temperatur
yang lebih tinggi dari temperatur ruangan (kamar), yaitu secara umum dilakukan
pada temperatur 40-50C.
Infus
Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air (bejana
infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur terukur 96-98C selama
waktu tertentu (15-20 menit).
Proses pembuatan infusa:
Simplisia dicampur bahan dengan air secukupnya dalam sebuah panci
Dipanaskan di dalam tangas air selama 15 menit, dihitung mulai
temperatur di dalam panci mencapai 90C sambil sekali-sekali diaduk
Infus diserkai pada waktu panas melalui kain flanel
Ditambahkan air mendidih melalui ampasnya jika kekurangan air
Infus yang mengandung minyak atsiri harus diserkai dalam keadaan
dingin
Infus asam jawa dan simplisia yang berlendir tidak boleh diperas
Infus kulit kina ditambah dengan asam sitrat sepersepuluh bobot simplisia

Analisa obat tradisional 28

Infus simplisia yang mengandung glikosida antrakinon ditambahkan


natrium karbonat sebanyak sepersepuluh dari bobot simplisia

Gambar 2. Pembuatan Infus


Dekok
Modifikasi infusa dikenal dengan nama dekok yaitu infus dengan waktu yang
lebih lama ( 30 menit ) dan temperatur sampai titik didih air
Destilasi uap
Destilasi uap adalah ekstraksi senyawa kandungan menguap (minyak atsiri) dari
bahan (segar atau simplisia) dengan uap air berdasarkan peristiwa tekanan
parsial senyawa kandungan menguap dengan fase uap air dari ketel secara
kontinu sampai sempurna dan diakhiri dengan kondensasi fase uap campuran
(senyawa kandungan yang menguap ikut terdestilasi) menjadi destilat air
bersama senyawa kandungan yang memisah sempurna atau memisah sebagian.
Destilasi uap, bahan (simplisia) benar-benar tidak tercelup ke air yang mendidih,
namun dilewati uap air sehingga senyawa kandungan menguap ikut terdestilasi.
Destilasi uap dan air, bahan (simplisia) bercampur sempurna atau sebagian
dengan air mendidih, senyawa kandungan menguap tetap kontinu ikut
terdestilasi.

Analisa obat tradisional 29

Gambar 3. Alat Distilasi dengan Pompa Vakum


Ekstraksi berkesinambungan
Proses ekstraksi yang dilakukan berulangkali dengan pelarut yang berbeda atau
resirkulasi cairan pelarut dan prosesnya tersusun berturutan beberapa kali.
Proses ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi (jumlah pelarut) dan dirancang
untuk bahan dalam jumlah besar yang terbagi dalam beberapa bejana ekstraksi.
Superkritikal karbondioksida
Penggunaan prinsip superkritik untuk ekstraksi serbuk simplisia dan umumnya
digunakan gas karbondioksida. Dengan variabel tekanan dan temperatur akan
diperoleh spesifikasi kondisi polaritas tertentu yang sesuai untuk melarutkan
golongan senyawa kandungan tertentu. Penghilangan cairan pelarut dengan
mudah dilakukan karena karbondioksida menguap dengan mudah, sehingga
hampir langsung diperoleh ekstrak.
Ekstraksi ultrasonik
Getaran ultrasonik (> 20.000 Hz) memberikan efek pada proses ekstraksi
dengan prinsip meningkatkan permiabilitas dinding sel, menimbulkan gelembung
spontan (cavitation) sebagai stres dinamik serta menimbulkan fraksi interfase.
Hasil ekstraksi tergantung pada frekuensi getaran, kapasitas alat dan lama
proses ultrasonifikasi.
Ekstraksi energi listrik
Energi listrik digunakan dalam bentuk medan listrik, medan magnet serta
electric-discharges yang dapat mempercepat proses dan meningkatkan hasil
dengan prinsip menimbulkan gelembung spontan dan menyebarkan gelombang
tekanan berkecepatan ultrasonik.

Analisa obat tradisional 30

c. Ringkasan
1. Jenis-jenis Sediaan galenik (definisi sesuai dengan yang tertera dalam FI
III & IV) yaitu infusa, tincture dan ekstrak
2. Teknologi ekstraksi terdiri dari proses pembuatan ekstrak dan metode
ekstraksi
3. Metode Ekstraksi dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu :
1. Ekstraksi dengan menggunakan pelarut
1.1 Cara dingin : maserasi, perkolasi
1.2 Cara panas : refluks, soxhlet, digesti, infus, dekok
2. Destilasi uap
3. Cara ekstraksi lain :
3.1 Ekstraksi berkesinambungan
3.2 Superkritikal karbondioksida
3.3 Ekstraksi ultrasonik
3.4 Ekstraksi energi listrik
d. Pertanyaan
1. Sebutkan macam macam sediaan galenik !
2. Jelaskan cara pembuatan serbuk simplisia dan klasifikasinya?
3. Jelasan cara pembuatan ekstraksi dengan metode superkritikal
karbondioksida ?
Pustaka :
1. Bambang Sutrisno. 1993. Analisis Jamu. Jakarta : Fakultas
Universitas Pancasila, hal. 9-10.
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1986. Sediaan
Jakarta : Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2000. Parameter
Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta : Direktorat
Pengawasan Obat dan Makanan.

Farmasi
Galenik.
Standar
Jenderal