Anda di halaman 1dari 10

Percobaan penapisan fitokimia

Percobaan Penapisan Fitokimiawi bertujuan untuk menentukan cara penapisan


fitokimi dan menganalisis golongan kimia tumbuhan. Prinsip yang mendasari percobaan ini
adalah analisis golongan kimia tumbuhan dengan ujji-uji spesifik. Metode yang digunakan
dalam percobaan ini adalah dengan penambahan reagen-reagen yang memberikam reaksi
positif terhadap golongan kimia dari tanaman. Penapisan fitokimia dalam percobaan ini
digunakan pada golongan kimia sekunder dari tumbuhan yaitu alkaloid, saponin, flavonoid,
tanin, kuinon, dan steroid/triterpenoid. Karena golongan kimia ini yang merupakan senyawa
aktif dan dapat digunakan sebagai obat. Simplisia yang digunakan adalah kencur. Simplisia
kencur sebelum digunakan di iris-iris terlebih dahulu hingga halus. Hal ini dilakukan agar
kencur memiliki luas permukaan yang besar sehingga sehingga mempermudah reaksi
terhadap penambahan reagen. Kencur diangin-anginkan agar zat-zat pengotor atau kandungan
H2O hilang. Karena jika masih banyak terkandung H2O maka golongan kimia (yaitu alkaloid,
saponin, flavonoid, tanin, kuinon, dan steroid/triterpenoid) yang terkandung dalam kencur
akan sedikit. Karena terikat oleh zat-zat pengotor H2O tersebut.
6.1. Uji Alkaloid
Uji alkaloid bertujuan untuk mengetahui apakah pada simplisia kencur
mengandung golongan senyawa alkaloid. Alkaloid merupakan senyawa nitrogen
heterosiklik yang bersifat polar, sedikitnya mengandung sebuah N dalam cincin.
Kencur yang sudah dihaluskan dilarutkan dalam ammonia, yang bertujuan untuk
melarutkan senyawa alkaloid agar dapat terpisah dari simplisia. Alkaloid yang bersifat
polar akan larut dalam amonia yang juga bersifat polar. Hal ini sesuai dengan prinsip
like dissolve like. Amonia digunakan sebagai pelarut karena amonia mangandung atom
N dimana alkaloid juga mengandung atom N sehingga kelarutannnya menjadi lebih
besar. Selain itu, amonia juga berfungsi untuk memutus ikatan glikosida pada alkaloid.
Ikatan glikosida adalah ikatan karbon dioksida (1 karbon dalam atom) dimana 1 karbon
terikat pada 2 gugus OR dan cara pemutusan ikatan glikosida adalah dengan penambahan
ammonia dimana H dari NH3 akan masuk menggantikan R pada OR.

Reaksinya adalah sebagai berikut :


H
O

O
O-CH3

metil salisilat

+ N

OH

+ NH2 + CH3

Alkaloid

(Fessenden, 1999)
Kloroform berfungsi untuk melarutkan ikatan glikosida yang terputus akibat
penambahan ammonia. Prinsip yang mendasari adalah like dissolve like. Karena sifat
kloroform yang semipolar, selain bisa melarutkan senyawa polar kloroform juga bisa
melarutkan senyawa non polar seperti glikosida.
Penyaringan digunakan untuk memisahkan filtrat yang mengandung alkaloid dari
residunya. Filtrat yang diperoleh kemudian ditambah dengan HCl yang bertujuan unttuk
membentuk garam ammonium R3NH+Cl-.
Reaksi yang terjadi :
R3 N

+ HCl

Alkaloid

R3NH+Clgaram amonia

(Fessenden, 1999)
Penambaahan HCl dilakukan dengan proses ekstraksi agar alkaloid dapat
terdistribusi secara optimal dalam larutan HCl yang bersifat polar. Ekstraksi dilakukan
sebanyak 2 kali agar alkaloid terdistribusi sepenuhnya pada HCl. Pada proses ekstraksi
diperoleh 2 lapisan, lapisan atas merupakan lapisan HCl dengan senyawa organik bersifat
polar (alkaloid) dan lapisan bawah merupakan kloroform. Lapisan kloroform berada
dibawah karena memiliki berat jenis (yaitu 1,484 g/mL) lebih besar dari pada HCl (yaitu
1,268 gmL)
(Markham, 1988)
Filtrat (lapisan HCl) diambil untuk diuji kandungan alkaloidnya, karena
diperkirakan golongan alkaloid banyak terdapat didalam lapisan HCl. Filtrat tersebut
dibagi menjadi 2 bagian untuk diuji kandungan alkaloidnya. Filtrat pertama ditambahkan
pereaksi Dragendroff yang mengandung ion Bi3+ dan HI, dimana uji positif jika terbentuk
endapan merah bata.

Reaksinya :
R3 N

+ Bi3+ + H+ + 4I-

Alkaloid

R3N.HBiI4
endapan merah bata

(Harbone, 1977)
Filtrat kedua ditambahkan dengan pereaksi mayer yang mengandung Hg2+ dan KI. Uji
positif jika terbentuk putih.
Reaksinya :
R3 N

+ Hg2+ + 2K+ + 4I-

R3N.K2H3I4

Alkaloid

endapan putih

(Harbone, 1977)
Berdasarkan hasil percobaan, filtrat I dan II tidak mengalami perubahan dan
warna larutan tetap bening keruh. Hal ini menunjukan bahwa senyawa alkaloid tidak
terkandung dalam kencur. Dengan kata lain uji ini menghasilkan uji negatif pada kencur.

6.2. Uji Saponin


Uji saponin bertujuan untuk mengetahui adanya saponin yang terkandung pada
simplisia kencur. Saponin merupakan suatu glikosida dengan gugus hidroksil pada
molekulnya dengan rumus C32H18O7. Saponin mempunyai sifat seperti sabun, dimana
ketika dilarutkan dalam air akan terbentuk busa atau buih. Metode pengujian saponin
dilakukan dengan mendidihkan kencur yang telah dihaluskan ke dalam air. Tujuan
pendidihan ini adalah untuk memperbesar kelarutan saponin dalam air.
Penyaringan dilakukan dalam keadaan panas, hal ini dilakukan agar kandungan
saponin tidak berkurang bila suhu menurun. Penyaringan ini bertujuan untuk
memisahkan saponin dari simplisia dan senyawa lain yang terkandung didalamnya seperti
alkaloid, steroid, flavonoid. Filtrat yang dihasilkan kemudian dikocok secara vertikal
hingga terbentuk busa. Hal ini disebabkan saponin merupakan senyawa yang bersifat
seperti sabun, dimana memiliki gugus hidrofil dan hidrofob yang dapat bertindak sebagai
permukaan aktif dalam pembentukan busa.
Uji positif untuk saponin adalah dengan terbentuknya busa yang stabil. Saponin
dapat larut dalam air karena adanya gugus hidrofil (OH) yang dapat membentuk ikatan
hidrogen dengan molekul air.

Gugus saponin

OH

HC

Gugus saponin

(Fessenden, 1999)
Penambahan HCl dilakukan untuk menguji kestabilan busa. Penambahan HCl dilakukan
dalam jumlah yang sedikit karena apabila ditambahkan dalam jumlah yang banyak dapat
menurunkan permukaan aktif sabun.
Dalam percobaan ini memberikan hasil yang negatif karena tidak terbentuknya
busa atau buih pada larutan tersebut. Larutan tersebut hanya menghasilkan larutan keruh.
Hal ini menunjukan bahwa didalam kencur tidak mengandung saponin, hal ini mungkin
disebabkan karena masih terkandung zat pengotor/air pada lapisan kencur.

6.3. Uji flavonoid


Uji flavonoid bertujuan untuk mengetahui adanya flavonoid dalam simplisia
kencur. Flavonoid adalah senyawa polifenol yang mempunyai 15 atom kuinon, terdiri
dari 2 cincin benzena yang dihubungkan menjadi rantai linear yang terdiri dari 3 atom
karbon. Penentuan uji flavonoid dilakukan dengan menambahkan serbuk Mg dan larutan
HCl pada filtrat saponin. Pada proses penambahan ini terjadi reaksi eksoterm yaitu reaksi
yang melepaskan panas yang ditandai dengan terbentuknya gelembung-gelembung gas
dan pelepasan kalor pada permukaan tabung reaksi. Gelembung gas yang terbentuk ini
adalah gas H2.
Reaksi yang terjadi :
Mg2+ + 2Cl- + H2

Mg + 2HCl

(Markham, 1988)
Produk yang dihasilkan pada reaksi diatas adalah MgCl2 dan H2. Dimana MgCl2 berada
dalam kesetimbangan. Reaksi :
MgCl2 (aq)

MgCl+

(aq)

+ Cl- (aq)
(Markham, 1988)

MgCl+ akan bereaksi dengan gugus karbonil pada flavon yang mengalami resonansi,
sehingga akan terbentuk ikatan baru yaitu pelepasan ikatan rangkap dan pembentukan
gugus hidroksil.

Reaksi yang terjadi :


H
C

H
C

+ MgCl +

OH

M gCl
amilalkohol

f lavon

(Markham, 1988)
Reaksi yang terjadi merupakan pembentukan ikatan baru dimana adanya MgCl + mampu
melarutkan flavon sehingga flavonoid dapat dipisahkan dari golongan kimia lain.
Penambahan amilalkohol berfungsi untuk melarutkan flvonoid. Hal ini disebabkan
flavonoid merupakan senyawa polar sehingga amilalkohol yang juga bersifat polar
mampu memisahkan flavonoid dari senyawa-senyawa yang bersifat non polar, misalnya
kuinon.
Larutan dikocok dengan tujuan untuk memperbesar distribusi flavonoid ke dalam
amilalkohol. Uji positif untuk flavonoid adalah terbentuknya larutan berwarna merah
lembayung.
Setelah dikocok, terbentuk 2 lapisan. Lapisan atas berwarna keruh dan lapisan
bawah bening. Hal ini menunjukan bahwa didalam kencur tidak mengandung flavonoid,
hal ini mungkin disebabkan karena masih terkandung zat pengotor/air pada lapisan
kencur.

6.4. Uji Tanin


Uji tanin bertujuan untuk adanya tanin dalam simplisia kencur. Tanin merupakan
senyawa yang mengandung gugus hidroksi (turunan benzena) yang dapat larut dalam air
karena adanya ikatan hidrogen antara gugus hidroksil yang dimiliki tanin dengan molekul
air. Oleh karena itu penentuan tanin pada kencur dilakukan dengan penambahan air pada
kencur kemudian didihkan. Tanin yang bersifat polar akan larut dalam air yang bersifat
polar, hal ini sesuai dengan prinsip like dissolve like. Kelarutan tanin yang tinggi
terjadi dalam keadaan panas karena alasan inilah maka dilakukan proses pendidihan agar
tanin yang terlarut semakin banyak. Selain itu proses pendidihan juga berfungsi untuk
memecah ikatan-ikatan pada tanin sehingga dihasilkan bentuk monomer-monomer tanin
bebas. Kemudian dilakukan pendinginan untuk mengendapkan senyawa-senyawa
pengotor yang tidak larut pada suhu rendah, misalnya saponin. Selanjutnya adalah

penyaringan yang bertujuan untuk memisahkan tanin dari simplisia dan senyawa lain
yang terkandung didalamnya seperti alkaloid, steroid, flavonoid. Larutan/filttrat dibagi
menjadi 3 bagian.
Filtrat pertama ditambahkan FeCl3 1%. Penambahan FeCl3 berfungsi sebagai
sumber atom pusat, dimana tanin merupakan ligan yang membutuhkan atom pusat untuk
membentuk kompleks yang stabil, sehingga terbentuklah kompleks antara atom pusat
Fe3+ dengan ligan tanin. Uji positif yaitu terbentuk larutan berwarna cokelat kehitaman.
Reaksi yang terjadi :
O

Fe3+

Fe

2+

H+

Kompleks warna (cokelat kehitaman)

(Markham, 1988)
Dari percobaan menunjukan hasil negatif karena larutan tetap berwarna kuning. Hal ini
menunjukan bahwa didalam kencur tidak mengandung tanin, hal ini mungkin disebabkan
karena masih terkandung zat pengotor/air pada lapisan kencur.
Filtrat kedua ditambahkan dengan gelatin dan pereaksi steasny, untuk mengujji
keberadaan tanin katekat.Tanin katekat merupakan kelompok tanin yang tidak dapat
terhidrolisis dan merupakan polimer kondensasi katekin. Uji positif adalah terbentuk
endapan putih.
Pada perobaan ini, setelah larutan ekstrak ditambahkan gelatin tidak terjadi
perubahan apa-apa, yaitu larutan tetap berwarna kuning. Penambahan gelatin berfungsi
untuk menunjukan adanya keberadaan tanin tertentu yaitu tanin katekat. Kemudian
ditambahkan pereaksi steasny. Pereaksi steasny akan menunjukan keberadaan tanin
katekat tanpa tanin dibentuk terlebih dahulu menjadi senyawa kompleks dengan Fe3+
tetapi dalam percobaan ini menunjukan uji negatif karena larutan tetap berwarna kuning.
Hal ini menunjukan bahwa didalam kencur tidak mengandung tanin katekat, hal ini
mungkin disebabkan karena masih terkandung zat pengotor/air pada lapisan kencur.
Filtrat ketiga, ditambahkan dengan Na-asetat dari FeCl3 untuk mengetahui
keberadaan tanin galat pada simplisia kencur. Tanin galat merupakan kelompok tanin

yang dapat terhidrolisis menghasilkan asam galat. Uji positif adalah terbentuk warna
hitam pada larutan tersebut.
Penambahan Na-asetat bertujuan untuk mengikat molekul air sehingga larutan menjadi
lebih jenuh dan dilanjutkan dengan penambahan FeCl3 untuk membentuk kompleks
dengan atom pusat Fe3+ dari FeCl3 dan ligan tanin. Hasil percobaan ini menunjukan uji
negatif karena larutan tetap berwarna kuning. Hal ini menunjukan bahwa didalam kencur
tidak mengandung tanin galat, hal ini mungkin disebabkan karena masih terkandung zat
pengotor/air pada lapisan kencur.

6.5. Uji Kuinon


Uji kuinon bertujuan untuk mengetahui adanya kuinon dalam simplisia kencur.
Kuinon merupakan senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar seperti kromofor
pada benzakuionon yang terdiri dari 2 gugus karbonil yang berkonjugaasi dengan R
ikatan rangkap karbon.
Penentuan adanya kuinon dilakukan dengan mendidihkan kencur dalam air.
Pendidihan berfungsi untuk memperbesar kelarutan kuinon dalam air. Selanjutnya
dilakukan pendinginan pada temperatur kamar yang bertujuan untuk mengendapkan
pengotor (misalnya alkaloid, saponin dan kuinon) yang tidak larut pada suhu rendah.
Setelah itu larutan disaring untuk memisahkan residu kencur dari filtrat yang
diperkirakan terdapat kuinon.
Filtrat hasil penyaringan ditambahkan NaOH. Penambahan NaOH berfungsi
untuk mendeprotonasi gugus fenol pada kuinon sehingga terbentuk ion enolat. Ion enolat
tersebut akan mampu mengadakan resonansi antar elektron pada ikatan rangkap , karena
terjadinya resonansi ini ion enolat dapat menyerap cahaya tertentu dan memantulkan
warna.
Reaksi pembentukan enolat:
OH

Fenol pada kuinon

NaOH

Na+

H 2O

ion f enolat terkonjugasi

(Fessenden, 1999)

Uji positif terhadap keberadaan kuinon yaitu jika larutan memberikan warna merah. Pada
percobaan ini terbentuk dua lapisan yaitu lapisan atas bening dan lapisan bawah berwarna
kuning keruh. Hal ini menunjukan bahwa pada percobaan ini menghasilkan uji negatif,
karena tidak menghasilkan larutan berwarna merah. Hal ini menunjukan bahwa didalam
kencur tidak mengandung senyawa kuinon, hal ini mungkin disebabkan karena masih
terkandung zat pengotor/air pada lapisan kencur.

6.6. Uji steroid/triterpenoid


Uji

steroid/triterpenoid

bertujuan

untuk

mengetahui

adanya

kandungan

steroid/triterpenoid pada simplisia kencur. Tahap pertama yang dilakukan adalah


maserasi terhadap kencur halus ke dalam eter selama 1 jam. Maserasi merupakan proses
perendaman selama beberapa waktu agar zat (steroid/triterpenoid) yang terkandung
dalam simplisia kencur dapat keluar atau terekstrak. Maserasi dilakukan selama 1 jam
karena waktu 1 jam adalah waktu yang optimum untuk mengeluarkan atau mengekstrak
steroid/triterpenoid yang terkandung dalam simplisia. Pelarut yang digunakan adalah eter
yang bersifat nonpolar karena steroid merupakan senyawa organik yang memiliki sifat
nonpolar sehingga steroid dapat larut dalam pelarut nonpolar seperti eter.
Larutan yang telah dimaserasi kemudian disaring dengan tujuan untuk
memisahkan residu kencur dari filtrat. Filtrat yang diperoleh kemudian diuapkan.
Penguapan berfungsi untuk menghilangkan pelarut eter yang tersisa pada filtrat. Residu
yang diperoleh dari penguapan kemudian ditambah dengan asam asetat anhidrat dimana
asam asetat anhidrat akan bereaksi dengan steroid melalui reaksi asetilasi menghasilkan
kompleks asetil steroid.
Reaksi yang terjadi :
O
CH 3

Gugus steroid

OH

C
O

CH 3

- CH3COOH

Steroid

senyawa kompleks
O

CH3

asetil steroid

(Fessenden, 1999)
Penambahan H2SO4 pekat bertujuan untuk mendekstruksi kompleks asetil steroid. H2SO4
pekat lebih bersifat reaktif jika bereaksi dengan steroid dibandingkan dengan asam asetat
anhidrat. Hal ini dikarenakan kemampuan H2SO4 yang lebih mudah masuk mengatasi

efek sterik yang besar dari molekul steroid sehingga senyawa kompleks yang dihasilkan
lebih stabil dari kompleks asetil steroid.
Uji positif terhadap steroid adalah jika terbentuk larutan berwarna biru.
Sedangkan uji positif terhadap triterpenoid adalah jika terbentuk kristal/endapan
berwarna merah kecoklatan.
Pada percobaan ini menghasilkan kristal/endapan berwarna merah kecoklatan.
Hal ini menunjukan bahwa kencur mengandung triterpenoid.

VII. KESIMPULAN
1. Penentuan kandungan senyawa kimia dalam tumbuhan dilakukan dengan penapisan
kimia dalam suatu simplisia.
2. Analisis golongan kimia tumbuhan dengan uji spesifik terhadap alkaloid, saponin,
flavonoid, tanin, kuinon, dan steroid/triterpenoid.
3. Pada simplisia kencur mengandung senyawa kimia golongan triterpenoid yaitu ditandai
dengan terbentuknya endapan merah kecoklatan.
4. Alkaloid, tanin, flavonoid, saponin dan kuinon tidak ditemukan dalam kencur
(memberikan hasil yang negatif).

VIII. DAFTAR PUSTAKA

Basri, 1996, Kamus Kimia, PT Rineka Cipta, Jakarta


Budavani, 1989, The Merck Index, Thr Merck Index Co, USA
Daintith, 1994, Kamus Lengkap Kimia, Erlangga, Jakarta
Fessenden, 1999, Kimia Organik, Erlangga, Jakarta
Harbone, 1977, Progress in Photochemistry, Pergamon Press, Oxford
Herbert, 1995, The Biosynthesis of Secondary Metabolites, Chapman and Hall, London
Leswara, 2005, Buku ajar Kimia Organik, Ari Cipta, Jakarta
Linder, 1985, Nutritional Biochemistry and Metabolism, Elsevier Science Publishing
Company Inc, New York
Manitto, 1981, Biosintesis Produk alami, IKIP Semarang Press, Semarang
Markham, 1988, Cara Mengidentifikasi Flavonoid, ITB Press, Bandung
Rahway, 1960, The Merk Index : An Encyclopedia of Chemical Drugs and Biologicals,
Merk Index Co Ink, New Jersey
Yutian, 2005, Pharmaceutical Metabolite Research, School of Pharmacy Second Military
Medical University, Shanghai, China