Anda di halaman 1dari 6

30

5. PATHWAY
Faktor Pencetus

Alergi

Edema dinding
bronkiolus

Idiopatik

Spasme otot polos


bronkiolus

Diameter
bronkiolus
mengecil

Intoleransi Aktivitas

Gangguan pertukaran
gas

Dispnea

Perfusi paru tidak cukup


mendapat ventilasi

Gambar 2.1 Pathway Asma Bronkial (Corwin, 2009)


Keterangan :
: Masalah Keperawatan
: Menyebabkan

Sekresi mukus
kental didalam
lumen bronkiolus

Bersihan jalan
nafas tidak efektif

Bronkospasme

Pola nafas tidak


efektif

31

6. KOMPLIKASI
Status asmatikus adalah keadaan spasme bronkiolus berkepanjangan yang
mengancam jiwa yang tidak dapat dipulihkan dengan pengobatan dapat terjadi
pada beberapa individu. Pada kasusu ini. Kerja pernafasan sangat meningkat.
Karena individu yang mengalami serangan asma tidak dapat memenuhi
kebutuhan oksigen normalnya, individu semakin tidak sanggup memenuhi
kebutuhan oksigen yang sangat tinggi yang dibutuhkan untuk berinspirasi dan
berekspirasi melawan spasme bronkiolus, pembengkakan bronkiolus, dan
mucus yang kental. Situasi ini dapat menyebabkan pnuemothoraks akibat
besarnya tekanan untuk melakukan ventilasi. Apabila individu kelelahan, dapat
terjadi asidosis respiratotik, gagal nafas, dan kematian. (Corwin, 2009)
7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Pengukuran Fungsi Paru (Spirometri)
Pengukuran ini dilakukan sebelum dan sesudah pemberian
brokodilatator aerosol golongan adrenergic. Peningkatan FEV (Forced
Expiratory volume) atau FVC (Forced vital capacity) sebanyak lebih dari
20% menunjukkan diagnosis asma.
b. Tes Provokasi Bronhus
Tes ini dilakukan pada spirometri internal. Penurunan FEV sebesar
20% atau lebih setelah tes provokasi dan denyut jantung 80-90% dari
maksimum dianggap bermakna bila menimbulkan penurunan PEFR (Peak
Expiratory Flow Rate) 10% atau lebih.

32

c. Pemeriksaan Kulit
Untuk menunjukkan adanya antibody IgE hipersensitif yang spesifik
dalam tubuh.
d. Pemeriksaan Laboratorium
1. Analisa Gas Darah (AGD/Astrup)
Hanya dilakukan pada serangan asma berat karena terdapat
hipoksemia, hiperkapnea, dan asidosis respiratorik.
2. Sputum
Adanya badan kreola adalah karakteristik untuk serangan asma
yang berat, karena hanya reaksi yang hebat saja yang menyebabkan
transudasi dari edema mukosa, sehingga terlepaslah sekelompok sel sel
epitel dari perlekatannya. Pewarnaan gram penting untuk melihat adanya
bakteri, cara tersebut kemudian diikuti kultur dan uji resistensi terhadap
beberapa antibiotic.
3. Sel eosinofil
Sel eosinofil pada pasien dengan status asmatikus dapat mencapai
1000-1500/mm3 baik asma intrinsik ataupun ekstrinsik, sedangkan
hitungan sel eosinofil normal antara 100-200/mm3. Perbaikan fungsi paru
disertai penurunan hitung jenis sel eosinofil menunjukkan pengobatan
telah tepat.

4. Pemeriksaan darah rutin dan kimia.

33

Jumlah sel leukosit lebih dari 15.000/mm3 terjadi karena adanya infeksi.
SGOT dan SGPT meningkat disebabkan kerusakan hati akibat hipoksia
atau hiperkapnea.
e. Pemeriksaan Radiologi
Hasil pemeriksaan radiologi pada pasien dengan asma bronkial
biasanya normal, tetapi prosedur ini harus tetap dilakukan untuk
menyingkirkan kemungkinan adanya proses patologi diparu atau komplikasi
asma seperti pneumothoraks, pneumomediastinum, atelektasis, dan lain
lain. (Arif, 2008)

8. PENATALAKSANAAN
Menurut Djodjodibroto (2009) pengobatan asma secara garis besar
dibagi dalam pengobatan non farmakologik dan pengobatan farmakologik.
b.
Pengobatan non Farmakologik
1. Penyuluhan
Penyuluhan ini ditujukan pada peningkatan pengetahuan
pasien tentang penyakit asma sehingga pasien secara sadar
menghindari faktor faktor pencetus, serta menggunakan obat
secara benar dan berkonsultasi pada tim kesehatan. Menghindari
faktor pencetus.
2. Menghindari faktor pencetus
Pasien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus serangan
asma yang ada pada lingkungannya, serta diajarkan cara
menghindari

dan

mengurangi

faktor

pemasukan cairan yang cukup bagi pasien.


3. Fisioterapi

pencetus,

termasuk

34

Fisioterapi dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran


mukus. Ini dapat dilakukan dengan drainage postural, perkusi dan
c.

fibrasi dada.
Pengobatan farmakologik
1. Agonis beta
Bentuk aerosol bekerja sangat cepat diberikan 3-4 kali
semprot dan jarak antara semprotan pertama dan kedua adalah 10
menit. Yang termasuk obat ini adalah metaproterenol (Alupent,
metrapel).
2. Metil Xantin
Golongan metil xantin adalah aminophilin dan teopilin,
obat ini diberikan bila golongan beta agonis tidak memberikan
hasil yang memuaskan. Pada orang dewasa diberikan 125 200
mg empat kali sehari.
3. Kortikosteroid
Jika agonis beta dan metil zantin tidak memberikan respon yang
baik, harus diberikan kortikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol
( beclometason dipropinate) dengan dosis 800 mg empat kali
semprot tiap hari. Karena pemberian steroid yang lama
mempunyai efek samping maka yang mendapat steroid jangka
lama harus diawasi dengan ketat.
4. Kromolin
Kromolin merupakan obat pencegah asma, khususnya anak
anak. Dosisnya berkisar 1-2 kapsul empat kali sehari.
5. Ketotiden
Efek kerja sama dengan kromolin dengan dosis 2 x 1 mg
perhari. Keuntungannya dapat diberikan secara oral.
6. Iprutropium bromide (atroven)
Atroven adalah antikolenergik, diberikan dalam bentuk aerosol
dan bersifat bronkodilatator..

35

d.

Pengobatan selama serangan status asmatikus


1. Infus RL : D5 = 3 : 1 tiap 24 jam.
2. Pemberian oksigen 4 liter/menit melalui nasal kanul.
3. Aminophilin bolus 5 mg/kg bb diberikan pelan pelan selama 20
menit dilanjutkan drip RL atau D5 maintenance ( 20 tetes/menit)
dengan dosis 20 mg/kg bb/24jam.
4. Terbutalin 0,25 mg/6jam secara sub kutan.
5. Dexamatason 10 20 mg/6jam secara intra vena.
6. Antibiotik spektrum luas (Pedoman penatalaksanaan status
amatikus UPF paru RSUD Dr. Soetomo Surabaya).