Anda di halaman 1dari 13

PENDAHULUAN

Glaukoma berasal dari kata Yunani glaukos yang berarti hijau kebiruan, yang memberikan
kesan warna tersebut pada pupil penderita glaukoma. Glaukoma adalah penyakit mata yang
ditandai oleh meningkatnya tekanan intraokuler yang disertai oleh pencekungan diskus optikus
dan pengecilan lapang pandang.1
Di Amerika Serikat, kira-kira 2.2 juta orang pada usia 40 tahun dan yang lebih tua mengidap
glaukoma, sebanyak 120,000 menyebabkan kebutaan oleh penyakit ini. Banyaknya Orang
Amerika yang terserang glaukoma yang diperkirakan akan meningkat sekitar 3.3 juta pada tahun
2020. Tiap tahun, ada lebih dari 300,000 kasus glaukoma yang baru dan kira-kira 5400 orangorang menderita kebutaan. Glaukoma akut (sudut tertutup) merupakan 10-15% kasus pada orang
Kaukasia. Persentase ini lebih tinggi pada orang Asia, terutama pada orang Burma dan Vietnam
di Asia Tenggara. Glaukoma pada orang kulit hitam, lima belas kali lebih menyebabkan kebutaan
dibandingkan orang kulit putih.2
Peroperatif dalam kasus glaukoma adalah penting untuk mencegah kenaikan tekanan intra
okuler (TIO) sebelum sayatan bedah dimulai. Ini adalah peran dokter anestesi untuk memastikan
bahwa TIO dipertahankan pada tingkat yang rendah atau normal sebelum sayatan bedah dimulai.
Tekhnik anestesi dan penggunaan obat bius yang salah dapat menyebabkan kenaikan TIO, yang
dapat menyebabkan kerusakan permanen pada mata. Oleh karena itu, sangat penting bagi dokter
untuk mengetahui faktor-faktor fisiologis dan farmakologis yang mempengaruhi TIO selama
periode perioperatif.14
Dengan semakin berkembangnya tehnik anestesi dan tersedianya obat-obat anesthesi yang
relatif lebih aman, maka seorang ahli anestesi dapat melakukan tindakan/prosedur anesthesi yang
tepat dan aman sehingga kondisi pasien tersebut dapat optimal untuk dilakukan pembedahan
tertentu, sehingga kondisi pasca operasi akan dapat tercapai seperti yang diharapkan.
Pada referat ini kami akan membahas tentang tatalaksana anestesi umum pada glaukoma
termasuk didalamnya juga dibahas tentang tekanan intra ocular, efek sistemik obat mata dan
perioperatifnya.

TINJAUAN PUSTAKA
I.

ANATOMI MATA
Bola mata mempunyai diameter sekitar 24 mm. Bola mata bersama ligamentum, fascia,

dan otot-otot ekstra okuler berada dalam ruang orbita yang berbentuk seperti piramida yang
tersusun atas tulang frontalis, zygomaticum, sphenoidalis, maksilaris, palatinus, lakrimalis, dan
ethmoidalis. Bagian tepi atas orbita ada lekukan atau kanal dekat akhir medial untuk transmisi
syaraf supra orbita dan foramen di bawah tepi bagian bawah untuk transmisi syaraf infraorbita.
Penunjuk ini digunakan untuk prosedur blok retrobulber, peribulber atau teknik blok yang lain
dan untuk injeksi obat anestesi lokal yang akan memblok di daerah syaraf tersebut.4,5
Bola mata terdiri dari 3 lapisan yaitu :
1. Lapisan paling luar fibrosa sklera yang berhubungan ke depan dengan kornea dan
keduanya ditutup oleh konjunctiva yang merupakan permukaan dalam dari pelpebra.
Fungsi dari sklera sebagai proteksi, memberikan rigiditas untuk memberi bentuk bola
mata.
2. Lapisan tengah yaitu lapisan vaskuler tersusun oleh koroid di bagian posterior, badan
silier dan iris di bagian anterior.
3. Lapisan dalam syaraf retina. 4,5
Struktur penting lainnya yang mengelilingi bola mata adalah otot-otot ekstraokuler.
Gerakan bola mata dimungkinkan dengan adanya otot-otot bola mata yang terdiri dari :
1. Muskulus rektus medialis.
2. Muskulus rektus lateralis.
3. Muskulus rektus superior.
4. Muskulus rektus inferior.
5. Muskulus oblikus superior.
6. Muskulus oblikus inferior.
Keempat muskulus rektus berorigo pada anulus fibrosus pada apeks orbita dan insersionya pada
sklera membentuk ruangan berupa konus otot berisi syaraf, arteri dan vena. 4
Otot-otot bola mata mendapatkan persyarafan dari nervus kranialis adalah sebagai berikut
:

1. Nervus okulomotorius (N III) mempersyarafi : muskulus rektus medialis, muskulus


rektus superior, muskulus rektus inferior, muskulus oblikus inferior dan muskulus levator
palpebra superior,
2. Nervus troklearis (N IV) bersifat motorik mempersyarafi muskulus oblikus superior,
3. Nervus abdusens (N VI) bersifat motorik mempersyarafi muskulus rektus lateralis. 4,6
II.

FISIOLOGI AQUOEUS HUMOR


Aquoeus humor adalah suatu cairan jernih yang mengisi kamera anterior dan posterior

mata. Volumenya adalah sekitar 250 ul, dan kecepatan pembentukannya yang bervariasi diurnal
adalah 1,5-2 uL/menit.2
Aquoeus humor diproduksi oleh korpus siliare. Setelah memasuki kamera posterior,
aquoeus humor mengalir melalui pupil ke kamera anterior lalu ke jalinan trabekular di sudut
kamera anterior.2
Kontraksi otot siliaris melalui insersinya ke dalam jalinan trabekula memperbesar ukuran
pori-pori di jalinan tersebut sehingga kecepatan drainase aquoeus humor juga meningkat.2
Aliran aquoeus humor ke dalam kanalis Schlemm bergantung pada pembentukan saluransaluran transelular siklik di lapisan endotel. Saluran eferen dari kanalis Schlemm menyalurkan
cairan ke dalam sistem vena. Sejumlah kecil aquoeus humor keluar dari mata antara berkas otot
siliaris dan lewat sela-sela sklera (aliran uveoskleral).2

(dikutip dari http://www.ahaf.org/glaucoma/about/AqueousHumor.htm )


III.

PATOFISIOLOGI GLAUKOMA
Tingginya tekanan intraokuler tergantung pada besarnya produksi aquoeus humor oleh

badan siliar dan pengaliran keluarnya. Besarnya aliran keluar aquoeus humor melalui sudut bilik
mata depan juga tergantung pada keadaan sudut bilik mata depan, keadaan jalinan trabekulum,

keadaan kanal Schlemm dan keadaan tekanan vena episklera. Tekanan intraokuler dianggap
normal bila kurang daripada 20 mmHg pada pemeriksaan dengan tonometer aplanasi. Pada
tekanan lebih tinggi dari 20 mmHg yang juga disebut hipertensi oculi dapat dicurigai adanya
glaukoma. Bila tekanan lebih dari 25 mmHg pasien menderita glaukoma (tonometer Schiotz).2,7,8
Mekanisme utama penurunan penglihatan pada glaukoma adalah atrofi sel ganglion difus,
yang menyebabkan penipisan lapisan serat saraf dan inti bagian dalam retina dan berkurangnya
akson di saraf optikus. Iris dan korpus siliar juga menjadi atrofi, dan prosesus siliaris
memperlihatkan degenerasi hialin.2
Diskus optikus menjadi atrofi disertai pembesaran cekungan optikus diduga disebabkan
oleh; gangguan pendarahan pada papil yang menyebabkan degenerasi berkas serabut saraf pada
papil saraf optik (gangguan terjadi pada cabang-cabang sirkulus Zinn-Haller), diduga gangguan
ini disebabkan oleh peninggian tekanan intraokuler. Tekanan intraokuler yang tinggi secara
mekanik menekan papil saraf optik yang merupakan tempat dengan daya tahan paling lemah
pada bola mata. Bagian tepi papil saraf optik relatif lebih kuat daripada bagian tengah sehingga
terjadi cekungan pada papil saraf optik2,7

(dikutif dari http://www.ahaf.org/glaucoma/about/Aqueous_BuildUp.htm)


IV.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TEKANAN INTRA OKULER


Tekanan intra okuler normal berkisar antara 10-20 mmHg. Faktor yang paling

mempengaruhi TIO adalah pergerakan humor akuos, perubahan pada volume darah koroidal,
tekanan vena sentral (CVP), dan tonus otot ekstraokuler. Penentu fisiologis TIO adalah
keseimbangan antara produksi humor akuos, yang merupakan cairan yang diproduksi korpus
siliaris di kamera okuli posterior, dan eliminasinya melalui sistem vena episkleral melalui spaces
of fontana dan canalis schlem pada sudut iridokorneal. 3,4

Tabel 1. Faktor- faktor yang mempengaruhi TIO 3,4,6

Faktor yang meningkatkan TIO

Mekanisme

Obat midriatik

Menutup sudut iridokorneal

Gerakan pasien, batuk, mengejan, muntah, kongesti

Meningkatkan CVP sehingga meningkatkan aliran darah

vena

koroidal (CBV)**

Peningkatan otot tonus ekstraokuler

Mempengaruhi pusat pengatur TIO di diencephalon

Hipertensi

Meningkatkan CBV

Injeksi cairan 8-10 ml ke orbita (misalnya.


peribulbar blok)

Asidosis respiratorik dan hiperkarbia, hipoksia

Peningkatan tekanan di koroidal

Vasodilatasi pembuluh darah koroidal sehingga


meningkatkan CBV

**:Penyebab Peningkatan Tekanan vena sentral14


Faktor-faktor berikut dapat menyebabkan peningkatan tekanan vena sentral:
Dengan anestesi lokal
Kecemasan
kandung kemih penuh
Batuk
Muntah
mengejan
Gelisah.
Di bawah anestesi umum
Obstruksi jalan napas
Batuk
ETT dipasang dengan cuff yang terlalu ketat
Penekanan masker wajah selama preoksigenasi
Faktor yang menurunkan TIO

Depresan SSP (barbiturat, agen anestesi volatil)

Mekanisme

Mendepresi pusat TIO di diencephalon

Manitol, ganglionik bloker

Asetazolamid

Hipotensi (sistolik <90 mmHg)

Menurunkan enzym karbonik anhidrase yang


dibutuhkan untuk pembentukan humor akuos

Menurunkan CBV

Vasokonstriksi pembuluh darah koroidal dan

Hipokarbia

menurunkan karbonik anhydrase

Posisi head up

V.

Menurunkan CBV

Menurunkan CBV

Pengaruh Obat Anestesi Pada TIO


Banyak obat anestesi menurunkan atau tidak berefek pada TIO 3. Agen inhalasi anestesi

menurunkan TIO sesuai dengan tingkat kedalaman anestesi. Penurunannya dikarenakan banyak
faktor; penurunan tekanan darah menurunkan volume koroidal, relaksasi otot ekstraokuli
menurunkan tegangan dinding bola mata dan kontraksi pupil menyebabkan aliran keluar humor
aqueous semakin lancar. 3
Kebanyakan obat anestesi menurunkan TIO. Secara umum mereka merelaksasikan otot
ekstraokuler, mendepresi SSP (diencephalon), memperbaiki aliran keluar humor akuos,
menurunkan CVP dan tekanan arteri sistemik. Hanya suksinilkolin dan ketamin yang
meningkatkan TIO. Laringoskopi dan intubasi endotrakeal juga meningkatkan TIO. 3,4
Atropin, skopolamin, dan glikopirolat yang diberikan intramuskuler untuk premedikasi
tidak menimbulkan efek bermakna pada TIO. Tetapi pemberian antikolinergik secara topikal
yang menyebabkan midriasis dapat meningkatkan TIO. Diazepam dan midazolam pada dosis
besar dapat menyebabkan midriasis. Hal ini harus dihindari pada pasien dengan glaukoma sudut
sempit. Morfin intramuskuler atau intravena menurunkan TIO, demikian juga dengan opioid
sintetik pada pemberian intravena. 4

Suksinilkolin meningkatkan TIO sekitar 5-10 menit tetapi secara bermakna meningkatkan
TIO 6-12 mmHg. Mekanismenya belum jelas, kemungkinan berhubungan dengan fasikulasi otot.
Pemberian prekurarisasi, diazepam, dan lidokain akan mengurangi peningkatan TIO. 4,6
Laringoskopi dan intubasi dapat meningkatkan TIO 40-50 mmHg. Pemberian obat seperti
lidokain intravena (1,5 mg/kg) atau opioid (seperti remifentanyl 0,5-1 g/kg atau alfentanyl 20
g/kg) dapat menghilangkan respon TIO pada intubasi. 3,9
VI.I. Agen Inhalasi Anestesi 10,11,12
Pada pasien dengan nafas spontan, halothane, enflurane dan isoflurane menurunkan TIO
20-30%5. Penurunan TIO ini dihasilkan oleh proses peningkatan aliran humor aqueous dan
penurunan tonus otot ekstraokuli dan mempengaruhi efek sentral di daerah dienchepalon.
VI.II. Benzodiazepine, Barbiturat, Etomidate, Propofol, Opioid 4,10,11
Diazepam dan midazolam menurunkan TIO ketika diberikan sebagai premedikasi.
Diazepam 0,2 mg/kg peroral tidak berefek pada TIO, sementara IV 0,15 mg/kg dan dosis
ekuipoten midazolam 0,03 mg/kg secara bermakna menurunkan TIO. Diazepam dan Midazolam
pada dosis besar dapat menyebabkan midriasis, hal ini harus dihindari pada pasien glaucoma
sudut sempit.
Thiopental 3 mg/kg menurunkan TIO, sedangkan propofol 2 mg/kg akan menurunkan
TIO sebesar 40 %. Thiopental dan metohexithal juga menurunkan TIO melalui efek pada pusat
control di hypothalamus. Meskipun terdapat myoclonus, pemberian etomidate menurunkan TIO
ketika digunakan sebagai agen induksi dan infus secara kontinyu. Dosis induksi propofol 2
mg/kgBB menurunkan TIO sekitar 40% yang setara dengan penurunan TIO oleh sodium
thiopental dosis 4,9 mg/kgBB. Intramuskuler dan intravena opioid menurunkan TIO.
VI.III. Ketamin 4,10,11,13
Pada penelitian awal disimpulkan bahwa ketamin im 5 mg/kg meningkatkan TIO sekitar
37 % dibanding penilaian sebelum injeksi ketamin. Sedangkan pada penelitian lain ketamin intra
muskuler menurunkan TIO pada pediatrik, tidak disebutkan pada dosis berapa.
Ketamin

bila diberikan setelah premedikasi dengan diazepam dan meperidin tidak

berefek pada TIO. Efek samping ketamin berupa blepharospasm dan nystagmus dan insidensi
yang meningkat terhadap PONV lebih lanjut dikontraindikasikan pada operasi pada mata.
Ketamin tidak direkomendasikan sebagai agen induksi pada trauma mata.
VI.IV. Antikolinergik/Antisiologog

Antikolinergik bila diberikan topikal menyebabkan midriasis dan meningkatkan TIO.


Tetapi bila digunakan sebagai antisiologog dan diberikan secara im atau iv (atropine,
scopolamine dan glycopiroilate ) tidak berefek pada TIO.3,13
Penggunaan neostigmin dan atropine sebagai reverse terhadap pelumpuh otot
nondepolarisasi tidak meningkatkan TIO. 10
VI.V. Pelumpuh otot.
Pelumpuh otot yang ideal mempunyai onset yang cepat, durasi yang pendek dan tidak ada
fasikulasi 11. Pilihan obat pelumpuh otot dengan resiko terjadinya aspirasi karena lambung penuh
dan ekstrusi isi bola mata (trauma bola mata ) telah lama terjadi perdebatan. Succynil cholin
meningkatkan secara bermakna TIO 10-20 mmHg selama 6 menit

13

. Mekanisme yang jelas

bagaimana suksinil kolin meningkatkan TIO belum sepenuhnya dimengerti. Beberapa teori
menyebutkan karena peningkatan tekanan otot-otot ekstraokuler, dilatasi sistem vaskuler di
koroidal, kontraksi otot polos ekstraokuler, dan bertambahnya resistensi aliran keluar 13.
Obat pelumpuh otot golongan nondepolarisasi menurunkan TIO dengan cara relaksasi
otot ekstraokuler. Tehnik rapid sequence diperoleh dengan menggunakan dosis maksimal, seperti
vecuronium 0,2 mg/kgBB, rocuronium 1,2 mg/kgBB menghasilkan relaksasi cepat ( 60-90
detik ) untuk tindakan intubasi

13

. Meskipun secara teori suksinil kolin meningkatkan TIO,

namun tidak didapatkan laporan klinis yang menyebabkan kerusakan bola mata, keluarnya
humor vitreous atau komplikasi lain karena penggunaan suksinil kolin

13

. Keputusan untuk

memilih jenis pelumpuh otot didasarkan pada kerusakan lebih lanjut trauma bola mata karena
suksinil kolin atau resiko aspirasi dan memanjangnya durasi juga kemungkinan intubasi sulit
karena penggunaan golongan nondepolarisasi.
VI.VI. Laringoscopy dan Intubasi.
Laringoscopy dan intubasi meningkatkan TIO 10-20 mmHg yang dihubungkan dengan
respon simpatis kardiovaskuler

10

. Beberapa cara digunakan untuk menumpulkan respon saat

intubasi dan laryngoscopy bahkan mencegah peningkatan TIO; Lidocaine IV (1,5 mg/kgBB ),
sufentanyl ( 0,05-0,15 mg/kgBB ), Fentanyl 1-3 g/kgBB yang diberikan 3-5 menit sebelum
induksi. 10,11
VI.VII. Laryngeal Mask Airway.
Pengunaan LMA yang didahului induksi dengan propofol dapat menjaga TIO dalam batas
normal 13.

Tabel 2, menjelaskan efek obat anestesi terhadap TIO 3.


Obat
Anestesi Inhalasi
Agen Volatil
Nitrous Oxida
Anestesi Intravena
Barbiturat
Benzodiazepin
Ketamin
Narkotik
Pelumpuh Otot
Depolarisasi ( Succinyl Cholin )
Nondepolarisasi

VI.

Efek terhadap TIO

0/

General Anestesi pada glaukoma


Pemilihan antara anestesi umum dan lokal harus diputuskan bersama pasien,

anestesiologis, dan operator. Belum ada kesimpulan prosedur mana yang lebih aman. Anestesi
lokal dapat menyebabkan ketakutan pasien karena tetap sadar selama operasi atau nyeri yang
tidak tertangani secara adekuat. Anestesi umum diindikasikan untuk pasien yang tidak
kooperatif, karena gerakan kepala sedikit saja dapat berbahaya pada pembedahan mikro, dan
pada tehnik pembedahan dimana anestesi lokal dikontraindikasikan. 3
Perioperatif dan periapan anestesi14
Pemeriksaan fisik dan riwayat penyakit dahulu
Hal ini penting untuk mengidentifikasi masalah medis yang secara signifikan
meningkatkan risiko anestesi dengan data riwayat penyakit dahulu yang lengkap dan
pemeriksaan klinis yang menyeluruh. Sebuah pertanyaan spesifik tentang gangguan perdarahan
atau penggunaan obat antikoagulan adalah wajib. Dokter anestesi harus tahu atau mencari tahu
dari pasien rejimen obat saat diberikan untuk glaukoma, karena sebagian besar obat ini memiliki
efek sistemik topikal yang merugikan

Persiapan Pasien14
Optimalisasi pra operasi kondisi medis (kontrol gula darah, tekanan darah, dll) diperlukan
sebelum pasien bisa di masukkan ke ruang operasi yang elektif. Terapi obat harus dilanjutkan
pada sebagian besar pasien terutama obat jantung, antihipertensi, bronkodilator dan
kortikosteroid.
Pasien pada obat Antikoagulan dan antiplatelet14
Dalam sebuah penelitian retrospektif sebelumnya, peningkatan kejadian hyphema
ditemukan pada pasien yang memakai aspirin tetapi tidak mempengaruhi outcome bedah.
Antikoagulan perioperatif dan tekanan intraokular pra operasi yang tinggi merupakan faktor
risiko potensial untuk komplikasi perdarahan pada pasien yang menjalani operasi glaukoma.
Perioperatif Pengurangan TIO14
Penggunaan 20% Mannitol 1 sampai 2 grm / kg IV. Onset kerjanya adalah 20 sampai 60
menit. Kerjanya dengan mengurangi volume vitreous. Mekanisme penyusutan vitreous
umumnya dianggap hasil dari gradien osmotik antara darah dan okular jaringan, yang awalnya
menarik cairan dari mata. Hipotesis lain sebagai agen osmotik dalam mengurangi TIO adalah
melalui sistem saraf pusat, yang mungkin berasal dari pengaruh hipotalamus dan dimediasi oleh

serat eferen pada saraf optik. Efek samping utama dari Mannitol adalah ketidakseimbangan
cairan dan elektrolit Efek samping lain yang mungkin ditemui meliputi mual, muntah, edema
paru, CHF, takikardia, pusing dan sakit kepala.
Indikasi operasi glaukoma untuk Anestesi Umum14
Semua pasien kelompok usia anak
Penolakan Pasien untuk LA
Alergi terhadap agen anestesi lokal
Pasien dengan gangguan perilaku atau kejiwaan, gelisah atau pasien fobia
gerakan kepala karena penyakit Parkinson , ystonia, tremor, dll
pasien sangat cemas dan tidak kooperatif
pikun demensia
gangguan faktor koagulasi
batuk keras
kesulitan komunikasi karena hambatan bahasa atau tuli
VII.I. Premedikasi
Pasien yang akan menjalani pembedahan mata dapat beragam, khususnya yang akan
menjalani prosedur multipel dan kemungkinan terjadi kebutaan permanen. Pasien dewasa
seringkali tua dengan berbagai penyakit sistemik (hipertensi, DM, penyakit arteri koroner).
Semua faktor tersebut harus dipertimbangkan dalam pemilihan obat premedikasi. 3
Premedikasi yang ideal harus bisa mengendalikan ansietas dan PONV tanpa
mempengaruhi TIO. Tidak ada bukti pemberian atropin i.m. akan meningkatkan TIO, meskipun
pada pasien glaukoma. Benzodiazepin seperti midazolam dan diazepam adalah ansiolisis yang
efektif serta mempunyai kemampuan amnestik. Tetapi harus dihindari dosis yang besar karena
dapat menyebabkan midriasis, hal ini harus dihindari pada pasien glaukoma sudut sempit.
Midazolam 2-4 mg i.m.30 menit preoperatif atau 1-2 mg i.v. segera sebelum retrobulber blok
atau sebagai alternatif diazepam 5-10 mg p.o. 1 jam preoperatif bisa digunakan dan sangat efektif
digunakan. 9
Narkotik, jika digunakan harus diberikan dengan kombinasi antiemetik seperti
promethazine (phenergan), hidroksizin (vistaril), atau droperidol. Barbiturat memberikan tingkat

sedasi yang bervariasi dengan durasi yang panjang tetapi tidak memberikan analgesia, amnesia,
atau pengendalian ansietas. 9
Table 4 disebutkan strategi mencegah peningkatan TIO 3:
Hindari Penekanan langsung pada bola mata
Lindungi kedua bola mata dengan bantalan yang lunak
Tidak melakukan injeksi pada retrobulbar dan peribulbar
Lakukan face mask secara hati-hati
Hindari Peningkatan Tekanan Vena Sentral
Cegah batuk selama induksi dan intubasi
Yakinkan kedalaman anestesi dan relaksasi sebelum intubasi1
Hindari posisi head down
Ekstubasi dalam1
Hindari Pemakaian Obat-obat yang dapat meningkatkan TIO
Succinyl cholin
Ketamin
1

Tidak direkomendasikan pada pasien lambung penuh.

VII.II. Induksi
Pemilihan tehnik induksi untuk operasi mata biasanya tergantung lebih ke arah kondisi
medis pasien daripada penyakit matanya atau tipe pembedahannya. Batuk selama intubasi harus
dihindari dengan anestesi yang dalam dan paralisis yang cukup. Respon TIO terhadap
laringoskopi dan intubasi endotrakeal dapat dihindari dengan pemberian lidokain i.v. 1,5 mg/kg
atau fentanyl 3-5 g/kg. Pelumpuh otot non depolarisasi bisa digunakan untuk menggantikan
suksinilkolin. 3,4,9
VII.III. Ekstubasi dan Pemulihan
Walaupun materi untuk penjahitan modern dan tehnik penutupan luka mengurangi resiko
dehisensi, pemulihan yang smooth tetap dibutuhkan. Batuk selama ekstubasi dapat dicegah
dengan ekstubasi selama pasien masih teranestesi dalam. Pada saat operasi berakhir obat
pelumpuh otot direverse dan nafas spontan akan kembali. Agen anestesi diteruskan selama
penyedotan jalan nafas, N2O dihentikan dan lidokain i.v. 1,5 mg/kg dapat diberikan untuk
menumpulkan refleks batuk. Ekstubasi membutuhkan waktu 1-2 menit setelah lidokain diberikan
dan selama respirasi spontan 100% oksigen. Kontrol airway yang tepat sangat penting sampai
refleks batuk dan menelan kembali. Tetapi tehnik ini tidak tepat untuk pasien dengan resiko
aspirasi. 3,4,9
Nyeri post operatif yang berat tidak lazim pada operasi mata. Dosis kecil narkotik i.v.
dapat diberikan (mis. 15-25 mg meperidin untuk dewasa) biasanya cukup. Nyeri yang berlebihan
merupakan tanda hipertensi intraokuler, abrasi kornea, atau komplikasi pembedahan yang lain. 3

KESIMPULAN

Pemahaman tentang Patofisiologi TIO serta efek obat anestesi perlu dipahami untuk dasar
anestesi pada glaucoma

Tersedia berbagai macam obat untuk tetap mengendalikan TIO saat induksi, tindakan
laringoscopy, intubasi, maintaining operasi dan ekstubasi.

Pengendalian tekanan intraokuler perioperatif maupun selama operasi sangat penting


pada tindakan-tindakan pembedahan intraokuler.

Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan tekanan intraokuler, dengan menguasai


pengetahuan tersebut dan mempersiapkan pasien yang baik, melakukan monitoring yang
baik serta kerjasama dengan operator maka akan didapatkan outcome yang optimal bagi
pasien